Liburan ke Aek Sijornih, Padangsidimpuan dengan Mertua


Hello World!

Padangsidimpuan, Juli 2019

Salah satu “culture shock” yang dialami Mertua, Loraine dan Thimo ketika berada di Indonesia ialah pengemudi Indonesia yang ugal-ugalan terutama pengemudi angkutan umum serta mini bis. Mereka sangat ketakutan terutama ketika pengemudi membawa mobil melebihih kecepatan 80 km per jam. Bahkan perjalanan dari Payakumbuh ke Padangsimpuan dengan travel itu menyiksa dan membuat mereka kapok sekapok-kapoknya untuk memakai kendaraan umum berbentuk mobil bis mini atau angkot. Begitu juga saat aku mengajak mereka untuk main air di air terjun yang lumayan terkenal di kampungku yaitu Aek Sijornih karena ke Aek Sijornih ini lokasinya cukup jauh dari rumah sekitar 1 jam dan kami perginya dengan angkot. Merak amikir0mikir kesana dengan angkotnya!!

Dengan berat hati, Mertua, Loraine dan Thimo mau juga aku ajak ke Air Terjun karena bosan selama di Kampungku hanya bantu-bantu persiapan resepsi pernikahan kami. Sebelum ke Aek Sijornih, kami sempat dilarang jauh-jauh main katanya “pamali” sebelum pesta sudah jalan-jalan. Namanya orang Barat yang tidak percaya dengan tahayul maka kami tetap pergi ke Aek Sijornih tapi diam-diam 😀

Sebelum memutuskan kunjungan ke Aek Sijornih, aku sempat ragu karena penyakit dari tempat wisata di sekitar Padangsidimpuan, Sumatera Utara ini yaitu tiket masuknya itu penjaganya banyak, bayarnya juga banyak. Aku juga sempat bertanya kepada teman yang baru saja ke wisata ini pas Lebaran dan katanya “tiket masuk Rp50.000”. Pas tahu harganya segitu, aku sempat ragu-ragu untuk mengunjungi Aek Sijornih karena air terjunnya bagus cuma kalau hanya ingin lihat air terjun dengan harga segitu rasanya “mikir-mikir”. Untung sepupuku Kak Fitri menjelaskan kalau harga biasa tidak semahal itu dan Aek Sijornih sudah bagus sekali kondisinya. Harga slima puluh ribu itu hanya pas Hari libur saja.

Aku sendiri terakhir mengunjungi Aek Sijornih tahun 2012 bersama keluarga. Waktu itu masih tahap pembangunan dan air terjunnya masih alami. Kami juga perginya ke Aek Sijornih dengan mobil pribadi bukan dengan transportasi umum. Jadi cara ke Aek Sijornih dengan transportasi umum baru pertama aku lakukan dan itupun langsung bawa keluarga baruku. Untung ada Kak Fitri yang menjelaskan bagaimana cara ke Aek Sijornih dengan transportasi umum.

Transportasi Umum ke Aek Sijornih

Cara ke Aek Sijornih dari Padangsidimpuan sangatlah mudah. Kebetulan saya berangkat dari Aek Tampang, Padangsidimpuan dengan angkot tujuan Palopat dengan biaya angkot Rp4.000/orang kemudian turun di terminal Palopat lalu dilanjutkan dengan angkutan umum ke Aek Sijornih dengan biaya Rp10.000 per orang. Ini adalah opsi pertama.

Nah ternayata kalau ke Aek Sijornih bisa juga berhenti di Padangmatinggi (nama daerah di Padangsidimpuan) dan langsung ke Aek Sijornih bahkan biayanya lebih murah (Ini opsi kedua).

Tapi kami mengambil opsi pertama dari via Palopat. Katanya kalau opsi kedua lebuh murah hanya Rp7.000 saja.

Saat naik angkot, Mertua sangat takut tapi mereka sudah terbiasa. Sementara Loraine naik motor dengan Kka Fitri ke Aek Sijornih. Di dalam angkutan umum, lagu dipasang keras sekali dan lagu yang diputar saat itu ialah lagu “sayur kol”. Asli ya ketika Mertua mdengera lagunya tiba-tiba mengikuti lagu Sayur kol itu dan aku hanya tersenyum, sementara suami merasa malu melihat tingkah laku Mertua. Tapi disitu jadi lucu, lucu melihat tingkah lakunya!!

Belum lagi kehebohan penumpang lain di dalam angkot karena jarang melihat orang asing sehingga mereka melihat secara seksama mulai dari atas sampai bawah seperti melihat Alien. Mertua sendiri suka memphoto hal yang dianggap tidak biasa, “semua ingin diphoto” beliau bahkan anak sekolahan di dalam angkot saja di photoin. Katanya di Negaranya anak sekolahan tidak pakai seragam. Mungkin saking penasaran sekaligus takjum dnegan perbedaan, karena aku juga begitu di Negara orang 🙂

Aek Sijornih

Aek Sijornih merupakan salah satu wisata yang adai Padangsidimpuan. Aek Sijornih berasal artinya air yang bersih karena saking jernihnya airnya makanya disebut Aek Sijornih (jornih = bening). Aek Sijornih meiliki bentuk yang bertingkat dengan pepohonan disekitarnya yang rimbun serta airnya yang dingin. Menariknya Aek Sijornih pernah dikunjungi oleh program My Trip My Adventure, padahal tidak pernah aku mengira bakalan di liput di stasiun TV, tempat wisata yang sering aku kunjungi sewaktu kecil ini.

Kami sampai ke Aek Sijornih jam 2 siang, setelah dalam perjalanan 1 jam. Kalau zaman dulu ke Aek Sijornih setiap lewat satu area maka banyak uang yang dibayar maka sekarang tidak lagi. Dulu bisa sampai 7 kali yang minta uang padahal baru juga lewat beberapa meter, disini yang membuat malas ke Aek Sijornih.

Saat kami mengunjungi Aek Sijornih berubah jadi wisata pemandian dengan pemilik satu orang saja dan dipagar. Minusnya keindahan dari Aek Sijornih berkurang karena sudah dibeton dan dibuat kolam. Kelebihannya ialah harganya yang tetap dan tidak ada pemalakan yang membuat orang malas berkunjung. Ada plus minusnyaa!!

Saat kami tiba, kami melewati jembatan kayu. Mertua sangat takut melewati jembatan kayu dan anaknya malahan memainkan kayu-kayu itu. Udah tahu orang tua takut, eh malah kerjain. Dasar anak durhaka 😛

Aku sendiri takut naik jembatan itu, tapi pura-pura tidak takut. Soalnya kalau aku bilang takut ntar malahan si Suami suka mengerjai. Nah setelah dari jembatan maka kami berjalan sekitar 10 menitan maka sampaialah di gerbang Aek Sijornih. Tiket masuk ke Aek Sijornih itu Rp10.000/orang. Karena kami orang lokal, Alhamdulillah biaya masuk kami yang Rp60.000 jadinya hanya Rp40.000 saja. Lumayan dapat diskon Rp20.000. Thimo sempat bertanya kok bisa 40rb, salah kembalian ya. Terus kami langsung  mendumel “emang mau bayar mahal?”, terus langsung dijawab “no”, sama dia.

Saat memasuki Gerbang, Aek Sijornih banyak berubah terutama di kolamnya dan adanya Gazebo. Hanya saja untuk penggunaan Gazebo bayar lagi Rp20.0000. Saat memasuki Aek Sijornih, kondisinya sudah banyak berubah. Airnya tetap hanya saja kealamiannya sudah berkurang. Mertua dan Loraine sangat suka dengan air terjun di Aek Sijornih karena bersih bahkan langsung nyebur dan mandi di Aek Sijornih. Air terjun seperti ini tidak ada di Eropa, beda jenisnya katanya. Tapi tetap airnya segar dan asik untuk berenang. Selain itu sudah ada fasilitas mandi dan ganti pakaian yang semuanya free sudah termasuk biaya tadi. Aku bahkan mengatakan kalau dulu lebih canTik lagi karena alami. Setelah mandi, kami sempat keliling untuk meliaht-lihat keadaan. Loraine dan mertua sempatheran dengan pohon nangka karena mereka belum pernah lihat sebelumnya. Betapa kita sebagai orang Indonesia beruntung ya karena tanah Indonesia subur dan banyak tanam-tanaman.

Kami di Aek Sijornih hanya 2 jam saja tapi lumayan puas. Namun pas pulangnya kami semua terkena diare padahal kami tidak makan apa-apa. Katanya itu karena tidak mendengarkan nasehat orang tua,tapi kami tetap beranggapan ada hubungannya. Karena yang pentinng meski pulangnya basah kami senang .

Aek Sijornih

Jam Buka Aek Sijornih

Buka setiap hari, tutup jam 5:30 sore

Harga tiket masuk ke Aek Sijornih

Rp10.000 +Rp20.000 (jika pakai Gazebo)

Lokasi Aek Sojornih

Jalan Trans Sumatera Bukittinggi – Padang Sidempuan, Aek Libung, Sayur Matinggi, Aek Libung, Sayur Matinggi, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara

Salam

Winny

Pengalaman Nikah Campur Indonesia-Perancis dengan Resepsi Adat Batak Angkola


Hello World!

Padangsidimpuan, 21 Juli 2019

Pertanyaan yang paling membosankan yang sering ditanyakan kepadaku ialah pertanyaan “kapan kawin?”.

Iya pertanyaan yang menurut sebagian orang lumrah di tanyakan ini sungguh membosankan ditanyakan disetiap bertemu bahkan setiap pulang kampung. Lama-lama pertanyaan ini menjengkelkan menurutku, kok jadi banyak orang “nyinyirin hidup gue”…. Anggap aja artis jadi banyak yang kepo 😛

Yang lucu saat orang yang vocal bertanya itu dikasih undangan nikah, boro-boro kasih kado, datang aja KAGAK!! Basa-basi yang BASIIIIII banget.

Jadi buat teman-teman di luar sana yang belum menikah, belum mendapatkan jodohnya kalau ditanya kapan kawin please jangan dimasukkan ke hati, tutup aja telinga kalian dengan “ear plug” karena belum tentu juga yang nanya datang ke nikahanmu, mereka mah “KEPO” doang, seperti pengalamanku. Lagian perkara menikah itu bukanlah mudah karena begitu banyak pertimbangan. Jangan sampai salah pilih, yang bener pilih aja belum tentu awet apalagi pasangan seumur hidup, jadi pikirkan matang-matang. Masa bodoh aja dengan orang yang nanya doang karena mereka gak ada gunanya dalam hidupmu. Apalagi jangan menikah karena alasan umur karena buat prinsip dalam hidup saja “emas itu mahal keles”. Anggap diri emas karena emas itu pantas dibeli sama yang berusaha mendapatkannya. ❤

Meski aku terlambat menikah namun aku tidak pernah menyesali “keterlambatan” itu karena namanya jodoh itu datangnya dari Maha Kuasa. Terlambat bukan berarti “gak laku” atau “perawan tua”. Malahan yah karena aku lebih “selective” dan memang jika waktunya menikah maka akan menikah juga.

Aku sendiri sudah pernah 2x mengalami gagal nikah dan sudah jatuh bangun untuk mendapatkan jodoh. Aku pernah mengalami namanya “jatuh terpuruk sepuruk-puruknya” dalam percintaan, dan entah kenapa aku tidak seberuntung seperti dalam kehidupan pekerjaan atau pendidikan. Uniknya ternyata jodohku adalah orang yang tidak pernah ada di dalam benakku untuk berumah tangga dengannya karena jodohku ini adalah teman baikku, malahan aku pernah mengecewakannya. Dan memang standar aku ingin menikah itu aku ingin menikah “dipabuat”, artinya dalam Batak Angkola pihak lelaki harus datang ke rumah secara baik-baik untuk melamarku dan dibawa keluar dari rumahku secara baik-baik. Aku dari Padangsidimpuan yang termasuk Batak Angkola sehingga persata pernikahannya pakai adat Batak Angkola.

Flashback tahun 2011 ketika aku memiliki target menikah di umur 25 tahun dan waktu itu aku memiliki mantan namanya John. Alhamdulillah, Allah memiliki cara tersendiri untuk menunjukkan bahwa mantanku itu bukanlah jodohku. Kemudian patah hati bertubi-tubi sejadi-jadinya karena “udahlah tukar cincin, udah dibayar mahar” eh batal nikahnya.

Kemudian aku menjalin hubungan lagi dengan pria asal Palembang dan waktu itu aku minta maharnya 40 juta dan menyuruhnya menabung. Karena aku memiliki keinginan ketika menikah “pakai adat Batak Angkola” entah kenapa ingin rasanya memakai “Gulang” dan memilki tempat burangir (tempat daun sirih) dengan nama sendiri.

Alhamdulillah, ketika tabungan si mantan udah ada, eh nikahnya ama orang lain. Asli jagain jodoh orang 4 tahun itupun pas aku kasih undangan ada yang bilang gini “Untung ninggalin Andi ya Win, akhirnya dapat bule”. iiiIh asli yang ngomong itu sampah banget pengen rasanya aku masukin cabe karena dia hanya bisa ngejudge tanpa tahu gimana rasanya proses sakit hatiku ditinggal nikah dengan undangan yang disebar cuma dari whatsapp seolah kenanganku dengannya itu hanya angin lalu. Bahkan si orang nyinyir ini gak tahu juga gimana kami putus gak jelas hanya karena masalah membahas pernikahan. Tapi ya sudahlah , mantanku itu memang baik tapi bukan jodohku, udah gitu aja. Terus orang yang berkata itu mungkin hanya asbun saja 😛

Pernikahan Indonesia-Perancis dengan Adat Batak Angkola

Dari pria Palembang, aku menjalin hubungan dengan lelaki asal Bukittingi berdarah Minang+Jawa yang merupakan cinta pertama yang berujung aku ke Psikolog karena stress berat. Disini aku mengalami yang namanya dibutakan cinta “goblok segoblok-gobloknya”.

Tapi aku bersyukur telah bertemu dengan mantan-mantan ini karena berkat merekalah aku mendapatkan pelajaran dan lebih mencintai diriku sendiri. Dan khusus yang mantan terakhir itu, benar-benar memberikan “pengalaman hidup yang sangat berharga” saking berharganya dia menyadarkanku untuk menghargai “orang yang cinta kepadaku dan menghargai perjuangan seseorang” (wuiiiidiih aku curhat hihi :D)

Jadi itulah curhat kecolonganku mengenai keputusanku akhirnya menikah dengan sahabat sendiri karena pernah gagal 2x “ingin menikah” dan gak mau gagal yang ketiga kali.

Nah dibalik semua pengalaman cinta yang gagal, Allah itu sangat menyanyangiku karena memberikan jodoh yang terbaik padaku. Sewaktu gagal dengan cinta pertama bhakan pindah ke Sumbar demi dia eh terus dia kagak jelas, aku sempat dekat dengan dua orang. Keduanya sangat baik dan dari segi keluarga juga baik sekali. Namun bukan jodoh karena aku lebih condong ke suamiku.

Meski suamiku berasal dari Perancis, dia rela meninggalkan pekerjaannya demiku dan pindah ke Indonesia. Suamiku pernah mengajak ke Negaranya tapi aku terlalu cinta terhadap Indonesia sampai suami akhirnya mengalah dan hidup bersamaku.

Untuk urusan mahar, ada teman yang sempat penasaran“berapa maharku”. Maharku hanyalah “seperangkat alat sholat” saja. Murah kan? Karena prinsipku sebaik-biak wanita ialah yang maharnya murah. Murah bukan berarti murahan. Maharku hanyalah seperangkat sholat, namun suami membayar biaya pesta yang aku inginkan karena dia tahu bahwa impianku ialah menikah dengan adat Batak Angkola. Dia juga tahu meski aku punya uang namun aku ogah membayar nikahanku sendiri karena bagiku standar lelaki itu harus bisa membayar biaya nikahnya sendiri tanpa bantuan orang tua, meski orang tuanya sanggup. Alhamdulillah suami membayar resepsi pernikahan kami dengan uangnya sendiri.

That’s my man!!

Selain mendapat suami yang jadi sahabat sendiri, aku juga mendapat Mertua yang baik sekali. Bahkan Mertua sangat open minded meski anaknya jadi Muallaf dan memulai hidup dari “Nol” bersamaku.

Awalnya Mertua khawatir apalagi perbedaan budaya yang sangat jauh namun akhirnya Mertua melihat betapa sayangnya anaknya kepadaku sehingga mereka sangat mendukung. Bahkan Mertua bela-belain beli tiket dari Perancis dan datang ke pernikahan kami. Tidak hanya itu, Mertua juga membuat resepsi pernikahan kami di Perancis tahun 2020 saking senangnya akhirnya anaknya menikah karena Mertua gak pernah menyangka anaknya bakalan menikah. Jangankan Mertua, aku juga tidak menyangka menikah dengan anaknya. Karena tidak ada dalam benakku untuk menikah dengan anaknya, tapi itulah jodoh Rahasia Ilahi. Allah itu mudah membolak-balikkan hati 🙂

Rencana pernikahan kami tanggal 21 Juli 2019 namun kami sudah melakukan akad tanggal 28 Juni 2019. Kami memilih resepsi di bulan Juli karena Mertuaku baru ada liburnya di atas tanggal 14 Juli.

Mertua datang ke Padang karena ingin melihat kehidupan kami di Sumatera Barat. Baru dari Sumatera Barat kami ke Padangsidimpuan dengan naik travel seharga Rp750.000/5 orang dan dijemput langsung ke Payakumbuh.

Saat naik travel dengan kecepatan diatas 80km/jam, Mertua ketakutan luar biasa dan mereka tak percaya bagaimana orang Indonesia mengemudi serta kok masih hidup dengan bawa mobil seperti itu. Maklum negaranya taat aturan, berbeda dengan negara kita. Bagiku itu biasa saja, tapi percayalah Mertua kapok naik bis mini dengan pengendara yang super gila menurut mereka.

Kami berangkat dari Payakumbuh jam 8 malam dan sampai di Padangsidimpuan jam 4 pagi dan kami langsung tepar ketika sampai di kampung halamanku. Setelah istirahat cukup, meski baru sampai dikampungku, kami langsung bantu-bantu apa saja pekerjaan untuk pernikahan adat Batak karena pada malam hari akan ada Marfokat untuk pernikahan kami.

Acara Marfokat

Marfokat adalah acara yang diadakan sebelum pernikahan diadakan serta acara penerimaan suami menjadi Batak. Dalam marfokat ini akan dimusyawarahkan siapa yang akan bertanggung jawab dalam pernikahan serta penjelasan proses pemberian Marga.

Karena aku Boru Regar, rencana awal akan mengadopsi Marga Harahap buat Suami namun karena di Gang rumah sudah jarang “Harajaon” dan “Hatobangon” (Raja dan Tertua Adat di Kampung) maka akhirnya Suamiku diberi Marga “Nasution”.

Dalam marfokat ini ada keluagaku dan Mertua juga. Marfokat ini kami menyediakan “burangir” (sirih) kepada Raja yang ada. Kami juga menyediakan rokok dan “sipulut” (ketan dengan gula merah) untuk acara ini. Kalau waktu setelah akad kami habis Rp1.000.000 maka acara marfokat ini habis Rp2.000.000 karena aku kasih ke sepupu untuk ini dan Rp500.000 untuk dibagikan kepada peserta yang datang.

Disini suami mengejek “kenapa ya marfokat itu harus merokok padahal dia sendiri tidak merokok dan dia pula yang bayar orang merokok tersebut”. Aku pun hanya terdiam karena jujur saja pas acara pernikahan resepsi ini aku sempat mengeluarkan air mata karena semuanya aku sendiri yang mempersiapkan dan dibantu oleh sepupuku dengan uang suami.

Kegiatan sebelum resepsi

Sebelum resepsi pernikahan banyak sekali yang dipersiapkan. Mulai dari membeli bahan-bahan makanan hingga apa saja yang dibutuhkan untuk acara nikahan ini sampai hal terkecil seperti bayar listrik buat keyboard (nyanyi). Untuk dekorasi pas pernikahan saja kami mengeluarkan uang Rp10.000.000 dan memilih CV Arisan. Dekorasi yang diberikan cukup memuaskan karena sesuai dengan keinginan kami dengan mengusung Adat Batak Angkola. Kami tidak mau menggunakan dekorasi kekinian yaitu bangku manik-manik dengan bunga-bunga. Kalau kata suami “terlalu blink-blink”. Lucunya kebanyakan pernikahan “kekinian” di kampungku itu menurutku dan suami ity=u kampungan. Aku lebih memilih pernikahan yang sederhana dan dengan tema adat. Aku menikah saja tidak memakai emas kecuali cincin nikahku. Biasanya orang menikah di kampungku itu akan seperti “toko berjalan” tapi aku tidak mau meski di cap “miskin”. Lah memang bukan kaya raya kok, ngapain show up, better be a simple. Karena ngapain aku seperti toko emas berjalan, toh pakaian yang aku pakai saja sudah menor, tapi ituhanya aku sih, and I do not want to please anyone, it is my wedding, so I can do whatever I want without any objection 🙂

Kami sempat mendapat dua vendor dan awalnya budget hanya 7 juta saja. Namun karena vendor yang lain tidak bisa memberikan “tema adat batak Angkola” akhirnya tidak apalah habis 10 juta walau dalam hatiku tidak ikhlas. Untuk CV Arisan ini lumayan bagus tapi penyakitnya ya sebelum uang muka di transfer baiknya gak ketolongan eh habisdibayar uang muka 50%, orangnya itu dihubungi susahnya minta ampun. Bahkan tidak terima “complain”. Yang paling tidak menyenangkan ialah make up alias tata rias pernikahanku karena tebal sekali dan itupun sudah aku request biar tidak tebal.

Yang lucu saat pernikahan, aku tidak mau dipakaikan “mahkota” ala-ala meski kecil. Bahkan aku bilang ke yang merias aku “ya udah Kak, kalau pakai mahkota ini mending jilbab aku buka sekalian”. Asli si kakak ini kayaknya stress menghadapi penganten sepertiku. Karena aku ingin di rias sederhana dan tidak pakai Mahkota yang menurutku kampungan. Sorry its just opinion, i do not like it, but you do not have to follow me because if you like it, you can use fake crown in your head on your wedding but not me!!

Selain persiapan dekorasi, yang paling menyita pikiranku ialah pritilan alias yang kecil-kecil. Ada-ada saja kurangnya dan rasanya udah dibayar eh kurang lagi. Kurang minyaklah, kurang air kemasalah, kurang ini itu. Bahkan uang yang aku berikan itu tidak jelas kemana perginya, sampai sekarang rincian gak ada. Disini yang benar-benar membuatku banyak-banyak “istighfar”. Maklum biaya dari suami dan tipikal Bule itu jika mengeluarkan uang itu harus jelas kemana. Bukan karena tidak percaya tapi itulah Budaya BULE. Mereka sangat bijak dalam mengeluarkan uang, meski seribu harus jelas kemana uangnya habis. Namun yasudahlah toh pernikahan kami juga berjalan meski ada beberapa hal yang tidak diinginkan terjadi.Dan itu biasa dalam pernikahan, pasti ada “setan” yang datang 😀

Markobar

Markobar adalah acara yang dibuat untuk acara adat. Pada hari pernikahan kami, acara Markobar berbeda tempat dengan tempatku dan suami menunggu. Biaya adat ini kami membayar Rp3.650.000. Dalam acara Markobar ini kambing disembelih demi Marga Batak. Dengan demikian suami resmi memiliki marga Nasution. Dalam Markobar ini hanya orang tuaku dan Uwakku (Bibi) dan Harajaon serta Hatobangan yang ikut serta. Intinya Markobar ini tentang mangupa keluargaku serta diberi petuah. Barulah setelah Markobar selesai, tamu berdatangan.

Mertua dan Keluargaku

Aku cukup beruntung mendapatkan Mertua karena baiknya minta ampun, Yang lucu Mertuaku tiba-tiba jadi artis dadakan karena rata-rata orang ingin berphoto dengan mereka.

Mertua Perempuan malahan ikut membersihkan beras ke Sungai dengan “Uma-Uma” (ibu-ibu) kampungku. Sementara Mertua laki-laki, beliau memarut kelapa secara manual. Mertuaku bisa berbaur dengan warga kampungku bahkan tiba-tiba jadi favorit. Maklum Bule masuk kampung 🙂

Untuk bicara dengan keluarga itu cukup unik, kalau suami gabung dengan Mertua maka keluarlah Bahasa Perancis, sementara kalau aku dengan keluarga berbahasa Batak. Jadi ada dua bahasa dalam satu forum. Keluargaku dan Mertua berbicara dengan bahasa isyarat, atau kalau Suami kesulitan dia akan memanggilku untuk menerjemahkannya. Saat dia bilang “Winny Helps”, itu sangat lucu.

Lucky me!!

Acara Pesta Pernikahan Batak Angkola

Acara resepsi kami dimulai jam 9 pagi karena kami sudah melakukan akad sebelumnya. Pas pernikahan aku mendapatkan karangan bunga dari Bang Peterus dan Guru SMP 5 Pasid. Dekorasi kami sudah siap sehari sebelum pesta. Tapi make up ku datangnya jam 8:30 akhirnya make up nya buru-buru. Disini aku merasa tidak puas dengan riasan pengantinku karena aku mintanya natural eh tebalnya minta ampun, tidak sesuai dengan janji manis vendor CV. Arisan.

Bukan kesalahan si kakak yang rias telat karena dia juga baru tahu pas hari H jadi tidak ada persiapan. Untuk pernikahan ini aku memakai “Gulang”, yaitu nama yang ada di kepalaku seperti Mahkota ala-ala. Kata suami pas nikah aku seperti “Christmass tree” dan dia “Santa Clause” karena warnanya merah.

Dalam pernikahan ini aku 3x ganti baju dan dua kali memakai Gulang. Yang paling kasihan suami karena dia harus menahan rasa panas dan gerahnya baju serta pas nikahan dia sedang diare. Ditambah orang yang datang itu kebanyakan berphoto, mungkin karena pengantennya “Bule”. Kata temanku “Bule memakai Gulang”!! 🙂

Bahkan orang mendingan berphoto dulu daripada makan kali ya hehe 🙂

Disini suami tersiksa, sedangkan aku cukup pusing dengan beratnya “gulang”. Entah berapa orang yang datang pas pernikahan kami, tapi yang pasti kami tidak sempat makan. Aku sempat khawatir kalau makanan yang disediakan tidak cukup, tapi Alhamdulillah cukup.

Sayangnya pas pernikahan adikku lupa membawa souvenir pernikahan kami, akhirnya pernikahanku tidak ada souvenirnya. Meski akhirnya karena bersalah dia membeli souvenir pernikahan lagi. Jadinya souvenir nikahanku berlebih dan tidak terbagi 😦

Pas pernikahan kami aku juga melihat saudara sepupuku yang sangat lelah dalam pernikahan kami. Serta aku juga melihat kebahagiaan keluarga yang bernyanyi saat di pentas. Aku juag bertemu dengan teman-teman lama di pernikahanku ini, meski temanku kebanyakan adanya di Perantauan karena aku kelamaan Merantau. Temanku di Padangsidimpuan hanyalah sedikit, paling banyak yang aku undang palingan 50 saja. Sementara yang datang kebanyakan yang datang tidak aku kenal sama sekali.

Yang paling ramai itu dari jam 11 ke jam 2 siang, itu asli kami berdua disalam dan berphoto dengan tamu yang datang ke pesta. Suami yang tidak suka berphoto bahkan rela berphoto. Sampai Mertua bilang gini ke aku “My son really loves you, he is not the photos person”.

Beberapa teman SD, SMP, dan SMA ku datang bahkan Tama dari Bali datang ke nikahanku serta Afri si Boreg datang dari Jakarta. Dari pihak suami yang datang ialah temannya Loraine dari China. Dari keluarga suami hanya Mertua saja yang datang karena tahun depan dilaksanakan juga di Perancis. Meski pernikahan kami ada kerikil dan drama, tapi lumayan senang saat melihat kebahagiaan dari keluarga, teman, warga sekampung serta undangan yang datang kenikahan kami.

Dan yang paling penting, pas nikahan tidak ada hujan. Sebelum ada yang menyuruhku membayar Rp600.000 buat penangkal hujan hanya dengan memberikan secarik kertas nama kami tapi aku tidak ubris alias aku cuwekin orang tersebut karena yaelah emang aku mau musrik apa!!!

Mertuaku juga sangat senang dengan pernikahan kami karena beda sekali dengan pernikahan di Perancis. Mertua mengatakan kalau pernikahan kami begitu banyak yang datang serta Mertua mendapatkan pengalaman berbeda. “Your wedding is huge and amazing”, begitu kata Mertua.

Rere Marere

Sekitar jam 5 sore setelah tamu pulang dari pernikahan kami, maka acara beriktunya ialah “rere marere”, artinya aku “boru” (penganten perempuan”, dibawa pulang Mertua dan Suami pergi. Dalam Rere ini kami diberi nasehat dan makan nasi “pangupa”.

Pangupa artinya memberikan makanan yang didokan yang berisi telur, ayam, ikan Sungai yang memiliki arti dari makanan tersebut seperti Ikan Sungai yang berarti agar kami mencari rezeki di jalan yang baik. Dalam rere ini kami diberikan nasehat dari orang tua, kemudian dari Hatobangon dan Harajaon serta keluargaku yang terdiri dari “Mora”, “Kahanggi” dan “Anak boru” (Dalihan Natolu).

Dalam pemberian nasehat ini, kami diberikan nasehat terlebih kepadaku agar membimbing suami karena dia Muallaf serta diberikan nasehat lainnya. Dalam acara puncak marhata (memberi pesan) ini, pandongani (yang menemani) disampingku itu ialah keponakanku Vivi dan Taufik. Kami juga sempat memberikan respon atas nasehat yang telah diberikan kepada kami.

Setelah kata-kata nasehat diberikan, baru lah, aku, Suami dan Mertua makan nasi pangupa kami. Lalu setelah makan nasi pangupa barulah kami pergi meninggalkan rumah. Logikanya dibawa pulang suami ke rumahnya 🙂

Budget Resepsi Pernikahan Batak Angkola

Awalnya rencana budget nikah kami itu haya Rp25.000.000 dengan undangan maksimal hanya 500 orang. Aku sempat ingin menyerahkan semuanya ke catering yang hanya Rp18.000.000 dan terima beres. Tapi mau gimana banyak intervensi dari keluarga, yang ujung-ujungnya aku menyesal menikah di rumahan karena biayanya jauh lebih mahal daripada menikah di Hotel. Adikku sempat menyarankan untuk biaya menikah di Hotel saja dengan biaya Rp23.000.000 untuk 300 orang di Medan namun aku tidak mendengarkan malahan aku tetap mempertahankan Ego agar aku menikah secara “dipabuat” (maksudnya menikah secara adat Batak Angkola dengan Mertua dan suami datang ke rumah).

Namun yang terjadi ialah saling berantem dan biaya yang kami keluarkan bengkak sekali. Belum lagi undangan yang datang itu aku tidak tahu sama sekali siapa saja dan boro-boro ada bantuan dari keluarga. Tapi tidak apa-apa, dari pernikahan ini terlihat jelas sekali belang dari keluarga sendiri. Ironisnya orang lain itu lebih banyak membantuku dari pada keluarga sendiri. Memang tidak semua keluargaku separah itu karena ada juga beberapa keluargaku yang membantu dan sangat berjasa dalam pernikahan kami. Namun resepsti Batak Angkola yang jadi mimpiku ini akhirnya sebagai pembelajaran khususnya menikah di rumahan. Aku sempat makan hati, tapi begitulah nasib jika memiliki keluarga yang complicated. Tapi Alllah memberikan keluarga baru yang tidak secocor bebek keluargaku. Di nikahan ini sih kelihatan benar yang benar-benar tulus serta yang ada maunya bahkan yang “speak” doang, bantu kagak. Beberapa keluargaku sedikit yang memberikan bantuan secara materi, kebanyakan secara immateri, dan itu aku sangat bersyukur. Yang paling tidak mereka ikut membantu pernikahanku.

Dengan keluarga

Meski habis Rp60.000.000 dalam pernikahan kami yang harusnya mewah dengan budget segitu tapi yasudahlah. Alhamdulillah Amplop yang aku dapat dari lebih dari 1500 undangan alias tamu yang datang totalnya Rp1.000.000 saja. Iya sejuta, karena amplop yang aku dapatkan kebanyakan itu isinya Rp5000 dan bahkan ada yang isi dua ribu bahkan tega memberikan Amplop kosong.

Namun aku anggap saja sedekah dan aku anggap pernikahan yang hbais 60 juta itu sedang “jalan-jalan ke Mesir”, toh aku jalan-jalan juga habis lebih dari segitu. Bukan uangku juga namun aku kasihan ama suamiku karena keinginanku menikah secara Batak Angkola uangnya habis 60 juta. Padahal bisa kan beli kebutuhan nikah atau Haji berdua.

Tapi… yasudah “SEDEKAH”!!!

Pernikahan Indonesia-Perancis dengan Adat Batak Angkola
What to buy for married Expenses
Rings Rp3.250.000
Praying Set Rp500.000
Wedding invitation Rp500.000
Batak culture ceremony Rp3.650.000
Akad Rp600.000
Wedding outfit Rp2.000.000
Photographer Rp.550.000
Music Tools Rp2.500.000
Decoration Rp10.000.000
Souvenir Rp500.000
Bread Rp500.000
Makeup Rp800.000
Akad gathering Rp1.000.000
Marfokat Rp500.000
Money for the chief city Rp200.000
Fabric to family Rp400.000
Food Rp20.000.000
Rice
Wood
Meat
Gado-gado
Drinks
Kerupuk
Food for people who works Rp670.000
Washing plate, cooking meals Rp550.000
Chicken Rp2.000.000
Cleaning the rice and jack fruits Rp3.538.000
Electricity, and ingredients Rp500.000
Cousin Rp7.100.000
Total Rp61.708.000

Meski habis Rp60.000.000 dalam pernikahan kami dan Alhamdulillah Amplop yang aku dapat dari lebih dari 1.500 undangan yang aku tidak tahu kebanyakan itu hanya Rp1.000.000 saja. Iya sejuta, karena amplop yang aku dapatkan kebanyakan itu isinya Rp5000 dan bahkan ada yang amplop kosong. Namun aku anggap saja sedekah dan aku anggap aja jalan-jalan ke Mesir, toh aku jalan-jalan juga habis lebih dari segitu. Cuma sayang sekali uang suami habis segitu karena keinginanku menikah secara Batak Angkola.

Begitulah pengalaman pernikahanku secara Adat Batak Angkola dengan Suami dari Perancis. Meski sempat menitikkan air mata, habis uang 60 juta tapi aku bersyukur karena pernikahanku berjalan dengan baik serta banyak yang datang ke pernikahan kami.

Aku juga berterimakasih kepada teman-teman yang sudah mendoakan kami dalam pernikahan dan teman-teman yang telah memberikan kado pernikahan kami, keluarga yang membantu dan orang-orang yang bertanya kapan kawin tapi pas diundang tidak datang.

Akhirmya aku “malakka matua bulung” dan semoga yang baca jika belum menikah mendapatkan jodohnya.

Amin!!

Salam

Winny

Pengalaman Bersama Mertua Keliling Wisata Sumatera Barat


Hello World!

Padang, 15 Juli 2019

Karena resepsi pernikahanku tanggal 21 Juli 2019, akhirnya Mertua datang dari Perancis. Ini pertama kali bagi Mertua datang ke Indonesia dan mereka sebenarnya takut berkunjung ke Indonesia, alasannya karena mereka menganggap transportasi di Indonesia masih buruk. Kalau bukan aku menikah dengan anaknya, kemungkinan mengunjungi Indonesia itu pilihan terakhir.

Mertua datang tanggal 15 Juli 2019, aku dan suami langsung ke Bandara Minang Kabau Internasional untuk menjemput. Tidak hanya Mertua yang datang untuk melihat resepsi pernikahan kami, teman suami dari Irlandia yang kebetulan tinggal di China juga datang. Kedatangan Mertua dan Loraine (teman suami) bersamaan sehingga kami menjemput ketiganya sekalian. Kedatangan mereka jam 4 sore dan kami belum tahu apakah akan menginap di Padang atau langsung ke Payakumbuh karena tanggal 16 malamnya kami harus ke Padangsidimpuan untuk “marfokat” di tanggal 17 Juli. Oh ya arti “marfokat” itu musyawarah mengenai resepsi pernikahan kami karena kami menggunakan adat Batak Angkola dan suamiku diberi Marga.

Pas pertemuan dengan Mertua dan Loraine sangat hangat, meski Mertua sangat capek karena mereka dari Perancis dan sedikit jetlag. Kami langsung ke Payakumbuh karena keterbatasan waktu serta cuma sehari untuk menjelajah wisata Payakumbuh.

Sebelumnya aku sudah mencari penginapan di Payakumbuh untuk Mertua sementara Loraine setuju menginap dengan kami. Cara kami dari Padang ke Payakumbuh dengan menyewa travel dari Bandara. Maklum Mertua sudah lelah sekali setelah perjalanan panjang, jadi wajar ingin transportasi yang nyaman. Biasanya kalau aku ke Payakumbuh dari BIM naik kereta Rp10.000 turun di Tabing terus naik mobil travel Rp25.000 jadinya total Rp35.000. Tapi ini kami berlima bayar Rp350.000 ke Payakumbuh, lumayan mahal buatku tapi karena dibayarin suami aku sih slow saja. Sebelumnya aku sudah memesan penginapan di Hotel Bundo Kanduang di Payakumbuh untuk Mertua. Lama perjalanan Padang-Payakumbuh 4 jam dan kami tiba sekitar jam 8 malam.

Nah selama mertua di Payakumbuh ada beberapa pengamalan yang aneh bin ajaib yaitu

1.Disuruh Batal Menginap

Sumatera Barat

Jadi Mertuaku itu bawa barang banyaknya minta ampun, ada 3 koper plus embel-embel. Kami yang harusnya bayar 5 kursi jadinya 6 kursi.  Sesampai di penginapan di Payakumbuh, nah yang anak Empunya Hotel minta buku nikah Mertua. Padahal ya Mertua gak ada buku nikah kayak kita di Indonesia. Untungnya aku sebelumnya minta dibawain buku keluarga Mertua karena keperluan Capil. Kalau tidak mana mungkin dibawa Mertua buku keluarga. Saat ditanya begitu, Mertuaku  kaget, “kok minta buku nikah”.

Kami sempat menjelaskan bahwa orang luar tidak semua memiliki buku nikah dan si anak yang punya hotel tetap kekeh akhirnya keluar kala “stupid”. Karena kata “stupid” ini kami ulang,  si anak langsung tersinggung dan menyuruh cari hotel lain aja. “Mbak kalau gak suka, cari hotel lain saja, saya tersinggung begitu katanya”!!

What the…….???? So cocky!!

Kalau aku mungkin digituan amit-amit tapi mau gimana Mertua barangnya banyak dan gak mungkin nyari tempat lain lagi kalau gak ogah nginap di Hotel ini.  Untung ada Loraine yang menjelaskan “stupid tidak hanya artinya bodoh tapi bisa silly”.

Baru juga Mertua sampai ke Indonesia sudah ada “bad welcome”. Bukan apa-apa, boleh aja itu hotel tidak menerima yang bukan pasangan tapi masa iya udah jelas-jelas itu Mertua dan anaknya ada samaku dan tidak semua negara yang membawa buku nikah atau ada buku nikah kayak kita bukan berarti mereka tidak menikah. Mungkin si anak ini jalannya kurang jauh, makanya seperti katak dalam tempurung dan perilakunya cukup bikin elus dada buat “sabar”.

Ini benar-benar pengalaman buruk pertamaku dalam dunia perhotelan/penginapan. Untungnya si anak ini akhirnya memberikan fasilitas kamar yang harga Rp400.000 meski bayarnya Rp250.000 karena harusnya Mertua di lantai 2. Tapi entah kenapa tetap bagiku yang sering jalan-jalan dan bukan sekali dua kali menginap di hotel pelayanannya sangat buruk padahal “service is priority” meskipun misalnya si konsumen bikin sakit hati.

So big NOOO for this hotel!!

2.Ke Air Terjun Murai

air terjun murai harau

Setelah kejadian yang tidak menyenaNgkan dengan penginapan, di hari kedua kami berencana keliling wisata Payakumbuh. Kami menyewa mobil seharian Rp450.000 dengan tujuan Harau.  Kami memulai perjalanan jam 10 pagi dan langsung menuju ke Harau. Harga tiket masuk ke Harau Rp5.000 dan tujuan kami ke air terjun.

Eh ternyata sesampai di Harau, kami tidak jadi ke air terjun yang hendak kami kunjungin karena Pak Wan yang akan jadi turguide kami sibuk. Akhirnya kami ke air terjun Murai, air terjun yang sebelumnya sudah pernah aku dan suami datangin.  Mertua dan Loraine sangat suka dengan air terjun Murai apalagi dengan kejernihan dan dinginnya air terjun. Suamiku mandi di Murai ini, sementara kami berlima hanya duduk santai saja. Aku meski sudah dua kali ke  Murai tetap suka namun kami hanya sampai di dasar saja tidak sampai ke tingkat ke tujuh air terjun.

3. Ikan Larangan Ikan Banyak

Dari air terjun Murai kami ke Mudiak untuk melihat ikan larangan ikan banyak. Ini pertama kalinya aku ke Mudiak dan baru tahu kalau ada wisata ikan banyak di Lima Puluh Kota.

Dulu sekitar tahun 2017 aku ke ikan larangan di Siais, Sumatera Utara. Ternyata aku bisa melihat ikan larangan lain di Sumatera Barat.

Perjalanan ke ikan larangan di Mudiak itu cukup jauh tapi pemandangan Mudiak cukup indah. Menariknya kami tidak perlu bayar pas masuk ke Ikan banyak. Free, dan kami suka itu!! 🙂

Ikan banyak berada di Sungai, dan tidak ada satupun masyarakat yang berani mengambil ikan tersebut. ikannya berwarna hitam dan bergerombolan. Kami sempat membeli makanan ikan seharga Rp5000 dan memberi makan ikan tersebut. Ikan tersebut akan berlomba merbut makana yang kami taburim. Mertua sangat suka dengan wisata ini apalagi Mertua laki yang langsung ngasih makan ikan.  Dan disinilah kami makan siang karena sebelumnya kami sudah melakukan persiapan dengan membeli bekal makanan di perjalanan.

Lokasi Objek wisata Ikan Banyak :

Di Nagari Pandam Gadang,

Kecamatan Gunuang Omeh,

Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat

4. Kebun Jeruk Koto Tinggi

Dari ikan banyak waktu menunjukkan jam 2 padahal jam 6 sore kami sudah memesan travel ke Padangsidimpuan. Mertua awalnya pengen pulang saja karena sudah lelah tapi akhirnya kami ke Kebun Jeruk yang ada di Gunung Omeh. Kami sempat ke Balai Godang Koto Tinggi Kecamatan Gunuang Omeh lalu balik lagi ke perkebunan jeruk di Sungai Siriah, Kenagarian Koto Tinggi, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat.

Untuk menuju ke kebun Jeruk Koto Tinggi, kami melewati Nagari dengan rumah Gadang. Rumah Gadang yang teruntai indah dan aku suka dengan design dari rumah Gadang. Dari kampung ini kami berjalan ke kebun jeruk/limau. Jalan kaki ke Kebun Limau itu tidak jauh, hanya 20 menit saja lalu kami sempat membeli jeruk seharga Rp20.000 baru melanjutkan pulang. Untuk kesan ke kebun jeruk,  Mertua dan Loraine tidak begitu antusias karena mereka sudah terbiasa melihatnya beginian dinegaranya. Cuma menikmati jeruk dari kebunnya seru juga, aku sendiri pernah ke Kebun Jeruk di Berastagi.

5. Tabrakan dan Penahanan di sekitar area Gunung Omeh

Rumah Gadang

Setelah dari kebun jeruk kami pun pulang. Nasib malang menyertai kami, mobil kami mengalami tabrakan.  Sebenarnya bukan tabrakan tapi mobil yang kami sewa kejatuhan anak, jadi menurut Mertua laki-laki yang kebetulan duduk di depan, seorang anak yang membawa motor tanpa helm tiba-tiba ingin menghindar dari mobil dan jatuh ke mobil yang kami tumpangin. Aku sendiri pas kejadian tidak melihat bagaimana alurnya karena aku tidur dan berada di posisi paling belakang.

Entah panic atau apa, driver kami hendak lari tapi tiba-tiba Mertua, Loraine dan suami ingin mengetahui keadaan si anak. Pas si anak jatuh sampai berdarah tiba-tiba muncul warga serame-ramenya. Karena melihat yang keluar dari monil itu Bule langsung aku mendengar teriakan warga “oh Bule ini yang nabrak”. Padahal mereka tidak tahu kalau Bule yang mereka maksud adalah penumpang bukan driver. Coba kalau mereka yang mengendarai, bisa di bacok massal kali ya!!. Inilah alasan suamiku tidak mau mengendarai mobil di Indonesia katanya “driver Indonesian is crazy, no rules and dangerous”.

Kesialan tidak sampai disitu, meski driver kami hendak membawa ke Rumah Sakit ternyata ada satu warga yang bawa parang dan menyuruh paksa salah satu dari kami turun sebagai tawanan. Nyuruhnya pake ngancam dan golok tajamnya sambil dimainkan kearah kami, padahal situasi sedang panik-paniknya ditambah orang yang tidak tahu cara berperilaku sopan santun. Aku sih tidak takut, kalau misalnya di bacok di waktu itu. paling itu orang masuk penjara, kalau aku mati toh gak tau juga apa yang terjadi, mati tinggal di kubur. Tidak dengan suamiku, Mertua serta Loraine mereka panik luar biasa. Mereka terkejut dan tidak menyangka perlakuan “main hakim sendiri” datang di keadaan genting seperti itu. Akhirnya daripada yang bawa golok makin kesetanan, akhirnya aku keluar dari mobil dan suami ikut keluar karena dia tidak mau aku sendirian di kampung  yang tidak aku tahu namanya. Suamiku khawatir denganku padahal aku mah biasa aja.

Gunung Omeh

Lalu Mertua, Loraine, driver dan anak yang jatuh itu menuju ke Suliki dan dari belakang diiikuti warga sekitar. Sementara aku dan suami jadi tahanan warga, alasannya biar meyakinkan kalau anak ini akan di bawa ke Rumah sakit. Sungguh pemikiran yang sangat primitive karena jelas-jelas sudah ada yang mengikuti dari belakang dan entah kenapa aku dan suami jadi “tahanan” untuk hal yang bukan kesalahan kami.

Saat ditahan suami mukanya sangat BETE sekali, kalau aku lebih tenang dan tidak takut. Iya di dunia ini aku tidak takut dengan manusia, apalagi bukan salahku. Dan sorry aku bahkan tidak takut diancam begitu karena menurutku perilaku seperti itu norak dan tidak berkelas. Tapi aku tidak mau juga petentengan alias uji coba melewan orang seperti itu. Not my class!!

Setelah kami ditahan beberapa saat, dan situasi sudah mulai membaik, warga sekitar akhirnya menawarkan untuk masuk ke rumahnya tapi kami menolak karena penahanan ini sangat tidak masuk akal. Kemudian aku menjelaskan bahwanya anak tadi itu bukan tertabrak tapi dia kaget lalu jatuh ke mobil pas mobil berhenti dan itu adalah penjelasan suamiku. Aku menjelaskan bahwa kami itu hanya menyewa mobil tersebut dan jam 6 harus ke Padangsidimpan dan karena kejadian membuat kami berpisah dengan Mertua. Aku tahu pasti bhawa Mertua khawatir dan kami tidak tahu kabar mereka. Belum lagi tidak ada jaringan di Nagari yang kami ditahan, sempurnalah hidupku dan suamiku.

Setelah cerita duduk perkara permasalahan yang terjadi serta seluk beluk kejadian, akhirnya warga membolehkan kami pulang karena merasa kasihan katanya, tapi dengan memberikan jasa motor ke Suliki tempat anak ini bawa, namun bayar Rp20.000 per motor. Sontak suami gak mau, katanya “they hosted us and now asked for money, so really educated. But Never”.

Gunung Omeh

Akhirnya setelah warga pulang dan bubar, kami berdua menolak tawaran manis itu dan jalan kaki dari Nagari yang membuat kami sangat kecewa. Aku tidak pernah melihat suamiku marah, tapi kelihatan betul dimatanya betapa tidak sukanya dia dengan perlakuan orang di Nagari tersebut. Untung dari kecil sudah terbiasa melihat parang, jadi udah besar begini sudah kebal. Yang kasihan sih suami karena trauma banget. But bad things sometimes happened in life, did not it??

Kemudian tidak mau berlama-lama di Nagariyang aku tidak tahu namanya, kami berdua meninggalkan kampung itu, Katanya ke Suliki hanya 20km saja dan kami memilih jalan kaki daripada tetap di tempat tersebut. Beruntungnya aku memiliki ilmu “numpang” saat backpackeran. Aku aplikasikan untuk mencari cara keluar jauh-jauh dari tempat itu. Dari sekian banyak orang jahat, maka sekian banyak juga orang baik. Kami menemukan orang baik yang mau memberikan tumpangan kepada kami. Aku dan suami menumpang di mobil pick up dan menuju ke Suliki. Mobil pick up yang kami tumpangi itu menampung pasir dan suamiku duduknya jongkok di dalam mobi pick up saking tidak pernahnya naik mobil pick up. Aku sungguh iba padanya, hidupnya susah karena “Kecintaanku kepada Indonesia ini”.

Oh ya mobil pertama yang kami tumpangin, tak jauh dari Nagari yang masyrakatnya menahan kami karena tujuan mobil yang kami tumpangi dekat saja. Lalu kamipun menumpang lagi mobil kedua dan lagi-lagi dengan mobil pick up tapi kali ini cukup beruntung karena sampai ke Suliki dan duduk didepan. Aku bercerita ke Bapak tersebut kejadian yang barusan kami alami, kejadian yang belum pernah aku alami meski sudah menjelajah kemana-mana.

Jam 6 sore kami sampai di RS Suliki dan langsung bertemu dengan Mertua dan Loraine yang mengkhawatirkan kami. Setelah mendapat signal, aku langsung menelpon travel untuk menunda keberangkatan jam 7 malam ke Padangsidimpuan dan Alhamdulilah bisa. Setelah menyelesaikan permsalahan ke kampungku, titik terang berdatangan, pemiliki mobil datang untuk menyelesaikan permasalahan sehingga anaknya yang driver kami bisa membawa kami menuju ke Payakumbuh. Padahal si anak masih di RS, tapi karena kami mau pergi akhirnya yang mengurus permasalahan ialah Bapak pemilik mobil.

Itulah pengalamanku dengan Mertua di Sumatera Barat dengan kejadian yang aneh bin ajaib. Memang katanya pas mau acara nikah itu, darah itu panas entah apa maksudnya. Yang pasti kami masih harus melakukan perjalanan ke Padangsidimpuan selama 10 jam dan melupakan kejadikan tabrakan dan penahanan untuk sesaat. Hati kami lelah dan cukup memiliki hari yang berat.

Salam

Winny

Liburan ke Genting Highlands, Malaysia


Hello World!

Genting, Juli 2019

Sudah beberapa kali mengunjungi Malaysia namun tidak pernah memiliki kesempatan ke Genting. Untuk itu ketika suami mengajak ke Malaysia, aku mengajaknya ke Genting. Padahal di tahun 2017 aku sempat mendapatkan kesempatan untuk meliput Genting Resort, sayangnya karena waktu itu sibuk di kerjaan sehingga tidak bisa bergabung. Yah hidup terkadang seperti itu, tidak semulus wajah korea :D.

Misalnya waktu kerja di swasta dari segi keuangan Alhamdulillah lebih dari cukup, tapi tidak begitu banyak waktu untuk jalan-jalan ibaratnya “ada uang tapi tidak ada waktu”, nah pekerjaan sekarang malahan kebalikan “ada banyak waktu tapi uangnya gak ada”. Tapi aku bersyukur paling ngak aku dapat jodoh di kerjaan sekarang dan masih bisa juga kok jalan-jalan.

Sebenarnya meski sudah beberapa kali ke Malaysia, aku belum khatam Negara tetangga kita ini. Akupun makin sering ke Malaysia karena menemani suami untuk proses visa, karena suami harus keluar dari Indonesia setelah 2 bulan, maklum pernikahan campuran itu sangat ribet, terus “paper work Indonesia” itu parah banget.

Beruntungnya tiket dari Padang ke Kuala Lumpur jauh lebih murah daripada beli tiket ke Kuala lumpur. Makanya aku lebih sering ke Kuala lumpur daripada ke Jakarta. Tuhan itu baik sekali kepadaku karena masih memberikan kesempatan untuk menemani suami untuk urusan administrasi.

Trip ke Genting ini juga sudah aku rencanakan karena suami bertanya apa yang ingin aku kunjungin di Kualalumpur. Selain jembatan di tengah hutan di Bukit Nanas, Kualalumpur maka pilihan ke Genting ini pun terjadi. Suamiku emang orangnya “iyaan”, makanya pas aku minta ke Genting langsung disetujuin sama dia.

Kami berangkat ke Genting jam 10 pagi dari Pudu Sentral, kebetulan kami menginap didekat area Bukit Bintang jadi mudah kemana-mana. Meski awalnya aku hendak berangkat dari KL Sentral tapi karena tahu dari Pudu Sentral juga bisa naik bis ke Genting, akhirnya kami berjalan ke Pudu Sentral.

Di dalam terminal Pudu Sentral kami bertanya lokasi pembelian tiket bis dan lokasinya berada paling ujung dengan nama “Go Genting”. Tiket yang kami beli menuju ke Genting sekalian tiket Sky Arwana (berupa Gondola) ke Genting. Tujuanku ke Genting sebenarnya untuk melihat Kasino, iya jauh-jauh ke Malaysia eh malah melihat Kasino, kan gak ada kerjaan 😀

Untuk tiket pulang ke Kuala Lumpur kami memilih jam 5 sore karena dari Kuala Lumpur ke Genting hanya kurang lebih 1 jam dengan bis dan kami sampai di Genting jam 12 siang. Sesampai di Arwana Terminal (nama bis perhentian di Genting), kami pun sempat ke FamilyMart, tempat favorit suami dan aku kalau jajan karena banyak cemilan ala Jepang.

Kasino Genting

Sesampai di Mall, kami pun sarapan ala FamilyMart lalu menuju Arwana Sky untuk menuju ke Kasino. Kalau menuju ke Kasiona bisa dengan Gondola bernama Arwana Sky berupa Gondola atau bis dengan bis kalau takut ketinggian. Karena sudah beli tiket dengan Arwana Sky akhirnya kami dengan Gondolo dan menuju ke antrian di dalam Mall. Antrian Gondola itu antiannya panjang pas kami datang.

Pas sampai di depan Gondola aku super takut, maklum phobia ketinggian. Untung yang kami beli tiket Gondola yang bawahnya tertutup jadi tidak terlihat jelas bawahnya. Saat Gondola mulai jalan aku memegang bangkuku sangat kuat sekali sampai-sampai aku dilihatin oleh tiga penumpang dari Malaysia dan 1 dari Singapura. Kami dalam Gondola berjumlah 6 orang. Pengalaman naik Gondola di Genting sukses membuatku super ketakutan luar biasa. Sementara misua santainya gak ketulungan bikin iri.

https://www.instagram.com/p/BzbLkckB22F/

Sesampai di Mall tempat Kasino, kami turun dari Gondola dan aku langsung berkata kepada suami “im relief” yang membuatnya senyum-senyum sendiri. Terus dari Mall eh langsung mencari Kasino karena aku sangat penasaran ngapain sih orang di Kasino.

Kasino Genting berada di lantai 2 dan 1 dekat dengan Skytropolis (semacam theme park di dalam Mall). Untuk masuk ke dalam Kasino gratis tapi tidak boleh membawa handphone maupun kamera. Karena kami berdua membawa tas dan kalau menitip tas di loker biayanya 9 RM akhirnya suami menyuruhku masuk kedalam Kasino sendirian dan tas aku titip ke suami. Aku gak mau rugi bayar jasa loker 😛

Misua yang super baik mau jagain tasku pas aku masuk ke dalam Kasino, padahal cuma lihat doang gak niat gambling, hanya sekedar kepo saja.

Pas masuk ke dalam Kasino, penjagaan ketat dan jantungku dag dig dug tak karuan. Lalu akupun melihat orang yang berjudi di dalam Kasino. Aku mengamati orang-orang yang duitnya banyak sampai berjudi dan rata-rata yang main di Kasiono itu teman-teman  kita keturunan Chines. Dalam hati, “kenapa uangnya samaku aja ya”.

Pas mengamati yang ada kebanyakan kalah atau aku aja yang ngerti gimana caranya yang pasti akyak di film-film judi dengan chips, kartu dan ada yang tebak angka. Aku kurang paham nama-namanya yang pasti banyak sekali meja judinya dan banyak juga pegawainya serta banyak juga yang ikutan di Kasino.

Aku mengamati orang “gambling” di Kasino dan aku tidak mengerti apa-apa tentang apa yang mereka lakukan apalagi model “game” nya. Aku mengamati 1 jam an di dalam Kasino dengan pakaian yang buluk sekali. Baru setelah mengamati orang yang berjudi di Kasino akupun keluar dan mengajak suami untuk pulang.

Wwkkwkwk gitu amat ya? Bayangin naik bis jauh-jauh eh ujungnya hanya sejam saja di Kasino.

So how is the Casino?”, tanya suami

“It’s crazy”, kataku

Akhirnya suami pun mengajakku ke Chin Swee Caves Temple yang kebetulan berada di Genting. Temple ini bisa dilihat pas berada di Gondola. Jam 1 siang kami menuju ke Chin Swee Tempe turun dengan Gondola serta menuruni anak tangga.

Sesampai di Chin Swee Caves Temple kami keliling dan melihat apa saja yang ada di dalam Chin Swee Caves Temple. Menariknya masuk ke Chin Swee Caves Temple tidak bayar alias gratis dan tidak ada memalak seperti objek wisata di Indonesia yang kebanyakan “tukang palak”.

Di dalam komplek Chin Swee Caves Temple terdapat patung Buddha, patung kera sakti hingga patung tentang neraka dalam agama Buddha. Aku dan suami juga sempat naik ke dalam temple sampai ke lantai 3 kemudian ke bawah dan melihat kolam penuh dengan kura-kura dan katak.

Cukup lama aku dan suami di Chin Swee Caves Temple dan kami cukup suka dengan suasana serta bersantai di Chin Swee Caves Temple. Akhirnya kami memutuskan kembali ke Terminal Arwana karena bis kami akan berangkat jam 5 sore. Jadi kami keliling Genting Higlands dengan suami selama 7 jam dan cukup puas.

Dan aku cukup beruntung bisa liburan ke Genting Highlads dengan suami 🙂

chin swee temple, genting

Jadwal bis dari Pudu Sentral, Kuala Lumpur ke Genting, Malaysia

Jam 7:30, 09:00, 10:00, 11:00, 11:30, 12:00, 13:30, 14:00, 15:30, dan 19:00

Harga tiket bis dari Pudu Sentral, Kuala Lumpur ke Genting, Malaysia

Untuk dewasa 5,20 RM sekali jalan dan tiket bis anak-anak dan lansia 3,9RM sekali jalan.

Jadwal bis dari Awana Bis Terminal di Genting ke Pudu Sentral, Malaysia

Jam  09:00, 10:30, 11:30, 11:30, 13:30, 14:30, 16:00, 16:30, 17:00 , 18:30 dan 20:30

Harga tiket bis dari Genting ke Pudu Sentral

Untuk dewasa 5,20 RM sekali jalan dan tiket bis anak-anak dan lansia 3,9RM sekali jalan.

Skyway Tiket 9 RM sekali jalan

chin swee temple, genting

Tips ke Genting

  1. Banyak restoran dan tidak perlu khawatir untuk mendapatkan makanan
  2. Selain kasino dan Chin Swee Caves Temple ada juga beberapa tempat yang bisa dikunjungi seperti taman, kebun madu hanya saja harus naik mobil lagi kesana
  3. Sebaiknya memilih Gondola yang biasa kalau takut ketinggian
  4. Bisa menginap di Genting jika ingin bermalam karena ada hotel di Genting
  5. Jika ingin ke Chin Swee Caves Temple sebaiknya menggunakan sepatu yang nyaman karena akan banyak jalan kaki

Salam

Winny

Biaya Menikah Campur WNI dengan WNA Perancis Secara Islam di Indonesia


Hello World!

Padangsidimpuan, 28 Juni 2019

Bonjour!

Akhirnya di kepala tiga aku berjodoh dengan pria yang berasal dari Perancis.  Penuh perjalanan berliku serta mengalami up and down dalam hidupku lalu bertemu dengan suamiku. Nah ternyata pernikahan campur dengan WNA Perancis yang dilaksanakan di Indonesia secara Islam itu penuh perjuangan mulai dari persiapan dokumen serta proses pernikahannya. Persiapan pernikahan yang panjang, “paper work” banget dan harus memiliki kesabaran tingkat tinggi.

Alhamdulillah, setelah menjalani keribetan Birokrasi proses pernikah kami berjalan dengan baik dan aku menikah dengan suamiku tepat pada hari Ulang Tahun suamiku. Selain itu aku mendapatkan bantuan dari Geraldine, dialah yang paling berjasa dalam pernikahanku dengan suami terutama informasi seputar dokumen. Aku sering nanya-nanya bagaimana prosesnya dia dulu menikah dengan suaminya (yang berasal dari Belanda) dan jika ada kesulitan aku langsung tanya Geraldine. Thank you so much Gerald 🙂

Kami memutuskan menikah di bulan Desember 2018 dan kami baru bisa menikah di bulan Juni 2019, 6 bulan perjalanan proses pernikahan campuran dan berkutat dengan DOKUMEN.

Terus bagaimana proses pernikahan campur dengan WNA Perancis secara Islam di Indonesia?

1.PERSIAPAN PERNIKAHAN

Menikah Secara Islam dengan WNA Perancis di Indonesia dilakukan di KUA namun bagi yang non Muslim dilakukan di Kantor Catatan Sipil. Karena aku Muslim, dan suami non Muslim maka proses terberat untuk memutuskan menikah ialah dari segi agama. Namun Alhamdulillah suami akhirnya menjadi Muallaf di bulan Desember 2018.  INGAT kalau menikah di Indonesia secara Islam dengan calon asing wajib memiliki sertifikat Muallaf.

Suamiku mendapat sertifikat Muallaf dari mualaf dot com atau bisa check IG nya di @mualafcenterindonesia.

Syarat dokumen menjadi Muallaf

WNI:
1. Copy KTP / SIM
2. Copy Akta Lahir / KK
3. Copy Surat Babtism (hanya dari kristen / katolik)
4. Pas foto 3X4: 1 lbr
5. Materai: 2 lbr

WNA / Foreigner:
1. Copy Passport
2. Copy Visiting VISA or KITAS
3. Copy birth certificate or Baptism letter
4. Driving License or Social Card or Citizen Card
5. Photo 3 X 4: 1 exp
6. Indonesian Duty Stamp: 2 exp

Proses pengurusan dokumen Muallaf untuk WNA / foreigner, pengurusan dokumen antara 5 – 10 hari kerja dan registrasi dengan mengirimkan datanya ke whatsapp di +62-811-885-998. Biaya untuk pengurusan dokumen? GRATIS / FREE namun jika ingin bersedekah bisa di Bank: BTN Cabang: Depok, Nomor Account: 0025-4015-0001-7445, atas nama: Yayasan Mualaf Center Indonesia.

Untuk biaya surat Muallaf waktu itu aRp300,000 (ini seikhlas hati) karena bapaknya baik banget sampai kirim ke rumah untuk dokumen. Kami dari segi waktu juga sangat efisien.

Nikah Campur di KUA

Nah langkah kedua setelah suami mendapat sertifikat muallaf untuk menikah dengan Warga Negara Perancis dengan Warga Negara Indonesia yang sering disebut dengan nikah campur dan dilaksanakan di Indonesia yang kami lakukan yaitu pengurusan Surat Izin Menikah dari kedutaan Perancis. Surat Izin Menikah ini sangat penting yang harus di publikasikan dari Kantor Walikota tempat tinggal pasangan berada dan di buat oleh Kedutaan Perancis dan Publikasi berlangsung selama 10 hari.

Untuk pengurusan surat izin atau disebut CNI (Certificate of No Impediment), yaitu surat keterangan yang menyatakan bisa menikah dan akan menikah dengan WNI. Surat ini dikeluarkan oleh instansi yang berwenang di negaranya, seperti kedutaan. Langkah ini sangat tricky karena berlaku hanya 3 bulan sebelum pernikahan dilaksanakan. Untuk pengurusan ini suami yang mengurus di Kedutaan  Perancis tapi waktu itu suami meminta dokumenku berupa:

  • Fotokopi surat keterangan dari kelurahan (Model N1, N2 dan N4) untukku dan didapatkan dengan menyertakan Fotokopi KTP, KK, dan surat keterangan dari RT. Proses ini kami mulai dari Maret 2019 dan karena KTP ku Padangsidimpuan sementara aku tinggal di Payakumbuh maka yang mengurus pernikahanku aku minta tolong sepupu dan biaya NI1,N2,N4 itu Rp350.000 hanya untuk N1, N2 saja dan itu sempat salah nama karena nama suami yang memiliki aksen tersendiri. Disini aku sempat stress karena masalah administrasi. Sumpah harusnya biayanya gratis malah dipalak eh salah lagi. Sempat membuat geram dan esmosi.
  • Lalu untuk persyaratan dari calon istri atau suami yang WNA dapat dikirim melalui email kecuali akte kelahiran, kedutaan menginginkan akte kelahiran yang asli, dan dapat dikirim dan ditujukan langsung ke bagian konsuler, kedutaan Perancis.
  • Formulir dari Konsuler Perancis dan bisa menghubungi Ibu Cempaka di email cempaka.siata@diplomatie.gouv.fr. atau bisa langsung menghubungi kedutaan ke bagian konsuler pernikahan Kedutaan Perancis.

PS: CNI suami yang mengurusnya dari kedutaan Perancis di Jakarta dan bisa melalui email, dan suami mengurus dari Maret, surat baru selesai dan dikirim ke kami di bulan Mei 2019

Menikah di KUA dengan WNA Perancis

SYARAT MENGURUS CNI (Certificate of No Impediment)

– Akta kelahiran terbaru (asli), punyaku dan punya suami
– Fotokopi kartu identitas (KTP) dari negara asal, ini dari kedua calon mempelai
– Fotokopi paspor
– Bukti tempat tinggal atau surat domisili (bisa berupa fotokopi tagihan telepon atau listrik)
– Formulir pernikahan dari kedutaan yang bersangkutan
Nikah Campur

Oh ya ini syarat-syarat dokumen untukku dan suami dalam melakukan pernikahan campur

SYARAT DOKUMEN PERNIKAHAN UNTUK WNI (Mempelai Perempuan)

1. Surat pernyataan belum pernah menikah (masih gadis/jejaka) di atas segel/materai bernilai Rp.6000,- (enam ribu rupiah) diketahui RT, RW dan Lurah setempat.
2. Surat pengantar dari RT-RW setempat.
3. Surat Keterangan Nikah (N1, N2, N4) dari Kelurahan/Desa tempat domisili. Surat ini didapat setelah menyerahkan surat keterangan belum atau tidak menikah.
4. Surat Rekomendasi/Pindah Nikah (dikenal juga sebagai Surat Numpang Nikah) bagi yang bukan penduduk asli daerah tersebut.
5. Fotokopi KTP, KK/Keterangan Domisili, Akta Kelahiran dan Ijazah, masing-masing 2 lembar. Fotokopi KTP orang tua.
6. Fotokopi keterangan vaksin/imunisasi TT (Tetanus Toxoid) bagi catin wanita.
7. Akta Cerai Asli bagi janda/duda yang sebelumnya bercerai hidup.
8. Surat Keterangan/Akta Kematian suami/istri dan kutipan akta nikah terdahulu bagi janda/duda karena meninggal dunia.
9. Pasfoto 2 x 3 dan 3 x 4 latar belakang biru, masing-masing 4 lembar. Bagi anggota TNI/Polri harus mengenakan seragam kesatuan
10. Ijin dari komandan (dari kesatuannya) bagi anggota TNI /Polri.
11. Ijin dari orangtua (N5) bagi catin yang belum berusia 21 tahun.
12.Taukil wali secara tertulis dari KUA setempat bagi wali nikah (dari pihak perempuan) yang tidak dapat menghadiri akad nikah.
13. Surat keterangan memeluk Islam bagi mualaf.
14. Persetujuan kedua calon pegantin (N3). Formulir N3 dari KUA. Surat ini berisi persetujuan dari kedua mempelai dan harus ditandatangani oleh keduanya.
15. Buku nikah orang tua, hanya dibutuhkan bila kamu adalah anak pertama
16. Data diri 2 orang saksi pernikahan beserta fotokopi KTP dari keduanya, keterangan ini juga harus ditandatangani keduanya.
17. Prenup (perjanjian pra nikah).
18. Bukti pembayaran PBB (Pajak Bumi Bangunan) terakhir
19. Data orangtua calon mempelai
Nikah Campur di KUA

SYARAT DOKUMEN UNTUK WNA PERANCIS (Mempelai pria)

1. Izin dari kedutaan/konsulat perwakilan di Indonesia.
2. Fotokopi pasport yang masih berlaku.
3. Fotokopi VISA/KITAS yang masih berlaku.
4. Surat tanda melapor diri (STMD) atau SKLD dari kepolisian dan Surat Keterangan dari Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil apabila yang bersangkutan menetap di Indonesia.
5. Fotokopi Akta Kelahiran.
6. Akta Cerai bagi janda/duda cerai.
7. Pasfoto terpisah 2 x 3 dan 3 x 4 background biru, masing-masing 4 lembar.
8. Surat keterangan mualaf
9. Surat keterangan domisili WNA
10. Surat ijin menikah yang dikeluarkan kedutaan asal WNA atau yang disebut CNI (Certificate of No Impediment)
11. Fotokopi kartu identitas (KTP) WNA
12. Surat keterangan tidak sedang dalam status kawin
Nikah Campur di KUA

Setelah CNI dapat dari Kedutaan Perancis kami, juga mengurus dokumen berupa prenup.

PRENUP/Prenuptial Agreement (Perjanjian Pranikah) 

Prenup adalah perjanjian yang berisi ketentuan atau aturan yang disepakati dan ditandatangani oleh kedua belah pihak (secara bersamaan di hadapan notaris) sebelum melangsungkan pernikahan. Secara umum isi prenup adalah pemisahan harta antara suami dan istri, yang mana harta-harta yang dimiliki sebelum dan semasa dalam pernikahan tetap menjadi kepunyaan masing-masing pihak dan tidak akan dibagi dua jika terjadi perceraian.

Kenapa pake perjanjian nikah segala?

Karena jika ingin menikah dengan WNA, Prenup atau perjanjian pranikah itu penting. Apabila WNI berjodoh dengan orang luar, maka WNI yang menikah dengan WNA bisa kehilangan haknya untuk memiliki tanah di Indonesia. WNI tersebut akan “disamakan” statusnya dengan WNA, meski di atas kertas tetap sebagai warga negara Indonesia yang sah. Hal ini berdasarkan Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) Indonesia yang menyebutkan:

Undang-Undang Pokok Agraria
Pasal 21 Ayat 3

Orang asing yang sesudah berlakunya Undang-undang ini memperoleh hak milik karena pewarisan tanpa wasiat atau percampuran harta karena perkawinan, demikian pula warga-negara Indonesia yang mempunyai hak milik dan setelah berlakunya Undang-undang ini kehilangan kewarga-negaraannya wajib melepaskan hak itu di dalam jangka waktu satu tahun sejak diperolehnya hak tersebut atau hilangnya kewarga-negaraan itu. Jika sesudah jangka waktu tersebut lampau hak milik itu dilepaskan, maka hak tersebut hapus karena hukum dan tanahnya jatuh pada Negara, dengan ketentuan bahwa hak-hak pihak lain yang membebaninya tetap berlangsung.

Undang-Undang Perkawinan No. 1 Tahun 1974
pasal 35 ayat 1
“Harta benda yang diperoleh selama perkawinan menjadi harta bersama.” 

Jadi karena ada UU tersebut, maka WNI yang melakukan pernikahan dengan WNA harus melepaskan hak atas tanah yang telah dimilikinya sebelum menikah maupun yang diperoleh dalam masa pernikahan. WNI yang menikah dengan WNA tanpa prenup akan kesulitan saat membeli atau menjual propertinya. Sehingga kami memutuskan untuk membuat prenup.

Prenup dapat berlaku di kedua negara pasangan, khusus yang  dari kedutaan Prancis di Jakarta, prenup yang dibuat di Indonesia berlaku juga di Prancis, dengan cara menyertakan copy prenup ke kedutaan ketika akan menikah dan ketika melaporkan pernikahan. Nanti keterangan prenup akan ditulis di buku keluarga yang dikeluarkan oleh catatan sipil Prancis. Sementara prrenup yang dibuat di luar negeri dapat berlaku di Indonesia.
Langkah yang harus ditempuh adalah menerjemahkan prenup ke dalam bahasa Indonesia dan dilegalisir oleh KBRI. Selanjutnya prenup dilegalisasi oleh Kementerian Kehakiman dan Kementrian Luar Negeri di Indonesia. Setelah itu dicatatkan ke KUA atau Catatan Sipil sebelum menikah.

Kami memutuskan membuat prenup di Payakumbuh dengan biaya prenup Rp500.000. Jenis prenup yang kami buat itu pemisahan harta. Nah proses prenup ini juga berliku karena kami mencari alterntaif dan menemukan yang murah. Saat janjian dengan Notaris, sempat notarisnya janjian hari Senin tapi pas kami ke kantornya dia gak ada. Suami sampai bilang “Indonesian doesnot care about time“. Bener juga perkatannya.

Oh ya bagi yang mungkin berjodoh dengan orang asing, jika belum membuat prenup bisa membuat postnup seperti pada keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) dengan Nomordi 69/PUU-XIII/2015, yang menyatakan bahwa perjanjian perkawinan dapat dilangsungkan sebelum dan selama masa perkawinan. Jangan sampai tidak buat prenup!

Mix Marriage

Setelah prenup selesai maka yang paling penting ialah menerjemahkan dokumen suami ke dalam Bahasa Indonesia dan harus dari penerjemah tersumpah.

PENERJEMAH TERSUMPAH

Dokumen suami yang terdiri dari:

  1. Id Card : Fotocopy Carte Nationale d’Identite / Id Card WN Prancis
  2. Paspor
  3. Akte lahir : INTEGRALE Acte de Naissance / Akte lahir calon suami ASLI yang bisa didapat di kantor mairie tempat kelahiran suami. Berlaku 3 bulan sebelum submit dokumen ke kedutaan.*Untuk mendapatkan copie integrale acte de naissance (kutipan akte lahir) bisa secara online di website mairie atau langsung datang ke mairie tempat kelahiran calon suami. Akte kelahiran mereka ada batas waktunya yaitu hanya 3 bulan. Dan Kedutaan meminta copie integrale acte de naissance yang masih berlaku 3 bulan sebelum dokumen di submit ke kedutaan (jadi bukan 3 bulan sebelum hari-H menikah). Dan karena Kedutaan meminta akte yang asli, maka akte tersebut harus dikirim langsung dari Prancis
  4. Surat keterangan domisili Perancis

Dokumen ini di terjemahkan dengan biaya Rp250.000/lembar dari Bahasa Perancis ke Bahasa Indonesia. Kami menerjemahkan sebanyak 7 halaman @ Rp 250rb = Rp 1,750,000 ditambah biaya JNE reguler plus handling feenya Rp 60rb.

Total biaya terjemahan tersumpah Bahasa Perancis ke Bahasa Indonesia
 =  Rp 60rb + Rp 1750 rb = Rp1,810,000

Oh ya bagai yang ingin menerjemah bisa email ke : worldnet.andrew@gmail.com, rekomended. Proses transalte ku cepat hanya 3 hari kerja. Padahal waktu itu kami mengurus di bulan puasa eh sampai sehari sebelum Lebaran.

KUA

2. MELAKUKAN PERNIKAHAN

MENENTUKAN LOKASI AKAD NIKAH

Hal yang sempat membuat kami berdua galau itu ialah lokasi Akad nikah karena KTP ku masih KTP kampungku Padangsidimpuan, Sumatera Utara. Kami hendak mengurus izin pindah nikah di Padang, Sumatera Barat eh pas ditanya bagian pegawainya malah meminta dokumen yang tidak ada di persyaratan pernikahan. Sumpah malas banget!! Akhirnya kami memutuskan menikah di Padangsidimpuan.

DOKUMEN DAN SYARAT PENGAJUAN PERNIKAHAN DI KUA PADANGSIDIMPUAN

Hal yang paling membuat aku dan suami itu gemes dan geram itu ketika mendaftarkan pernikahan dI KUA Padangsidimpuan, Sumatera Utara. Kami memang berencana menikah di Balai KUA pada jam kerja supaya pernikahan kami gratis. Ingat pendaftaran pernikahan harus 10 hari sebelum pernikahan. Awalnya aku dan suami ingin menikah tanggal 14 Juni 2019 namun karena dokumen kami baru lengkap tanggal 6 Juni 2019 sementara itu kantor buka tanggal 10 Juni, akhirnya kami mendafatarkan pernikahan kami tanggal 14 Juni 2019.

Nah pengalaman kami saat ingin mendaftarkan pernikahan kami di KUA Padangsidimpuan itu kami harus bolak-balik dari tanggal 14-17 Juni 2019. Alasannya tidak pernah ada yang nikah campur di Padangsidimpuan, bahkan dokumen apa saja yang diperlukan mereka tidak tahu. Sumpah aku dan suami bisa elus dada saking kesalnya. Bayangkan kami yang memberikan dokumen persyaratan apa saja yang kami tahu dari internet, kemudian pas kami kasih dokumen persyaratan pernikahan itu mereka bolak-balik tanya. Ada 5 petugas yang bertanya dan pertanyaannya diulang, boro-boro dibaca dulu dokumen kami, mereka asik bertanya bahkan seperti tidak mengerti akan pekerjaannya. Menghadapi orang-orang yang tidak mengerti pekerjannya itu sungguh menjengkelkan.

Barulah setelah ke 3 x kami datang itupun setiap kami datang diintrogasi selama 2 jam baru dokumen kami diterima baru juga mereka kasih UU tentang pernikahan, memberikan fotocopy UU pernikahan pas di hari ketiga kami datang. Seperti kami diribetkan dengan urusan birokrasi hiks 😦

BAB VIII PERKAWINAN CAMPURAN

Bagian kesatu Pencatatan Perkawinan Warga Negara Indonesia dengan Warga Negara Asing

Pasal 23

1.Perkawinan campuran antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan beragama Islam yang berbeda kewarganegaran salah satu kewarganegaraan Indonesia dicatat sesuai dengan ketentuan peraturan

2. Perkawinan campuran sebagaimana dimaksud pada ayat 1 dicatat pada KUA Kecamatan atau kantor perwakilan Republik Indonesia di luar negeri

Pasal 24

Persyaratan perkawinan campuran bagi warga negara asing:

a. Izin kedutaan/perwakilan dari negara bersangkutan

b. dalam hal seorang warga negara asing tidak terdapat kedutaan negaranya di Indonesia, izin sebagaimana dimaksud dalam huruf a dapat diminta dari instansi yang berwenang negata yang bersangkutan

c. izin poligami dari pengadilan agama atai instansi yang berwenang pada negara asal calon pengantin bagi suami yang hendak yang beristri lebih dari seorang

d. Melampirkan fotocopi akta kelahiran

e. Melampirkan akta cerai

f. Surat kematian duda dan janda dari negara calon pengantin

g. Melampirkan fotocopy paspor

h. Melampirkan dara kedua orang tua warga negara asing sesuai dengan data pada akta perkawinan

i. Semua dokumen yang berbahasa asing harus diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh penerjemah resmi

Nikah Campur

Pada saat pemeriksaan CNI si bapak kepala KUA Padangsidimpuan tidak tahu kalau itu surat izin, bahkan sampai ditanya kepada pihak Audit. Terus yang paling mengesalkan ketika surat di CNI kami itu alamatku yang Sumatera Barat padahal dia gak tahu mengurus CNI ini butuh waktu 3 bulan. Suami sampai bilang “KTP apa sih yang kalian punya gak berlaku secara Nasional”.

Inilah hal yang tidak menyengkan pada pernikahan kami.

AKAD

Kami mendaftar pernikahan hari Jumat tanggal 28 Juni 2019 di kantor KUA. Awalnya kami mendaftar jam 8 pagi tapi KUA nya memberikan jadwal jam 16:00 karena katanya penuh. Untuk pernikahanku dengan wali Hakim. Pernikahanku sangat sederhana karena hanya di saksikan oleh keluarga terdekatku saja. Untuk baju bahkan aku pakai baju wisuda pas Magister dan pakai sandal gunung ke KUA serta tas selempang kayak backpackeran. Kalau bisa baju biasa, aku pakai baju biasa tapi keluarga mengatakan “oi Winny, nikah seumur hidup banyak uangmu tapi biasa aja kau nikah”, begitu katanya 😀

Kami ke KUA dengan mobil ke Padangmatinggi, Padangsidimpuan dengan dua mobil beserta saksi dari lingkungan kami. Keponakanku sempat membuat live akad nikah kami di IG ku @winnymarlina.

Sebelum akad, 2 hari sebelumnya kami kembali lagi ke KUA untuk mengajari suamiku cara akad.

Untuk maharku itu “SEPERANGKAT ALAT SHOLAT”, yang sempat membuat adikku kesel sambil berkata “ih murah kali”. Padahal kan sebaik-baik wanita ialah yang tidak memberatkan. Lagian dari semua perjuangan suami kepadaku, kalau bisa dipermudah ngapain dipersulit.

Kemudian pas hari H ternyata suami sempat mengulang 1x akad dan akhirnya “SAH”. Alhamdulillah kami resmi menjadi suami istri setelah porsedur panjang ❤

Pas setelah AKAD, buku nikah kami belum di cetak karena petugasnya khawatir salah dalam penulisan nama SUAMI, dan suamiku lalu mengecheck namanya kembali.

BIAYA NIKAH

PP No. 48 Tahun 2014 biaya pernikahan di KUA adalah gratis pada jam kerja KUA. Diluar jam kerja biaya Rp600.000,-. Namun kami dipalak oleh kepala KUA dengan biaya Rp600.000. Beliau sudah minta dari jauh hari alasannya biaya administrasilah, biaya wali hakim lah, biaya urus sana-urus sini. Yang paling menyebalkan dia minta undertable money dan tidak ada kwitansi. Mintanya langsung kepada suami, sungguh tidak tahu malu, Saking kesalnya aku sempat menanyakan ke akun resmi KEMENTRIAN AGAMA, sayangnya tidak ada hasil. Jadi mimpi kami menikah di KUA gratis pada jam kerja dan pada Balai KUA itu hanya mimpi belaka.

NIKAH KAMI DI KUA TIDAK GRATIS MESKI NIKAH PADA JAM KERJA!

Disini aku sedih!!!

SYUKURAN PERNIKAHAN

Setelah melaksanakan akad, malamnya kami melakukan syukuran kecil-kecilan kepada lingkungan kami untuk mengabarkan pernikahan kami. Syukuran kami itu mengundang 20 orang saja dengan biaya Rp1.000.000 (dalam hal ini yang masak sepupuku), biaya dari suami.

Syukuran Pernikahan

Total Biaya Menikah Campur WNI dengan WNA Perancis Secara Islam di Indonesia

  1. Biaya Sertifikat Muallaf = Rp300.000
  2. Biaya N1,N2,N3,N4 = Rp350.000
  3. Biaya prenup = Rp500.000
  4. Biaya terjemahan = Rp1.850.000
  5. Biaya nikah di KUA (dipalak karena nikah pada jam kerja) = Rp600.000
  6. Biaya Syukuran Rp1.000.000.

Total = Rp4,600,000

Biaya tersebut belum biaya resepsi kami, dan proses setelah menikah masih banyak prosedur yang dilaksanakan seperti memvalidasi surat nikah kami ke tiga Kementrian yaitu KEMENAG, KEMENLU DAN KEMENHUKAM

Nikah Campur ternyata RIBET dan kudu SABAR!! Bersyukurnya suamiku itu sangat baik.

Kalau kata teman-teman yang nikah campur “welcome to the jungle” 😀

NB: Bagi teman-teman yang ingin datang ke resepsi pernikahanku bisa datang ke Padangsidimpuan tanggal 21 Juli 2019

Salam

Winny

9 Hal yang bisa dilakukan saat Travelling ke Melaka, Malaysia


Hello World!
Malaysia, 2018

https://www.instagram.com/p/BuWgPJ3Hqak9E_oNnV_ZaxrV6t5n8mGtjuCO2M0/

Pertama kali ke Melaka tahun 2013 via Singapura  ala solo traveling. Dan aku tidak menyangka akan kembali lagi ke Melaka di tahun 2019 pas 6 tahun berlalu sejak kunjungan pertama ke Melaka. Masih ingat betul waktu pertama kali ke Melaka, aku ketinggalan bis dari terminal Melaka tepat di depanku saat mau ke Singapura sehingga membayar tiket lagi. Alhasil kenangan ke Melaka itu membekas sekali, membekas ketinggalan bis di depan mata. Itu dodolnya gak ketolongan banget. Selain itu waktu pertama kali ke Melaka aku berkenalan dengan dua cowok di Melaka tapi keduanya bukan penduduk asli Melaka, satu dari China dan satu dari India. Yang dari China, aku kenal di penginapan dan satu lagi dari CS. Keduanya menemani keliling sekitar kawasan Red Square Melaka hingga sekitar Melaka River. Yang lucu keduanya itu tidak saling suka sehingga tidak nyaman jalan berdua dengan mereka, tapi waktu itu aku merasa seperti putri kayangan dengan dua bodyguard hahah :). Padahal yah waktu itu gaya jalan-jalannya kere yaitu ala backpacker. Boleh budget minim, tapi masih ada dua dayang-dayang yang menemani 😛

Nah khusus yang perjalanan kedua ke Melaka itu aku beruntung karena melakukan trip dengan Antoine dan orang tua. Berbeda dengan trip pertama untuk cara ke Melaka, trip kedua Melaka kami dari Bandara Kuala Lumpur 2 dengan harga tiket bis 24 RM/orang dengan lama perjalanan Bandara KLIA 2 ke Melaka kurang lebih 3 jam. Bis yang kami naikipun sangat nyaman dan ada pijit-pijitnya di bangku bis. Asli aku kayak orang kampung pas tahu ada mesin pijit ototmatis di bisnya, gak salah sih bayar mahal. Namun yah itu saat menunggu bis lama telat sampai 1,5 jam. Lalu kami sampai di Melaka jam 6 sore dan langsung sewa Grab ke Kota Melaka. Kalau dulu aku niak bis, ini tinggal pesan naik Grab sampe deh di penginanapan. Meski sedih saat drivernya mengatakan kalau aku anak pungut dari keluarga Antoine karena kulitnya gelat.

Di Melaka, kami menginap di river One residence, lumayan dengan dengan kawasan Req Square Melaka bahkan dari balkon penginapan kelihatan langsung Sungai Melaka.  Untuk makan malam kami makan di Wild Coriander Cafe, persis di dekat penginapan dan rasa karinya enak sekali. Nah kami berada di Melaka selama 2 hari, 1 malam.

https://www.instagram.com/p/BunXxqqnhBBT9F5ugkbgMp9VCR2bVGnXQahPw00/

Saat kunjungan keduaku ke Melaka selama 2 hari, 1 malam hal yang kami lakukan yaitu:

1. Mencoba kuliner Melaka

Saat kunjungan pertama ala backpacker sehemat mungkin maka kunjungan kedua keren karena kami makan di restoran yang belum aku coba saat kunjungan pertama. Wild Coriander Cafe merupakan cafe pertama yang kami coba dan sangat rekomendasi dengan kari cuminya yang nikmat. Setelah itu kami berjalan menelusuri Sungai Melaka pada malam hari lalu mencoba Rock Cafe Melaka. Untuk di Rock Cafe Melaka aku hanya duduk saja karena sudah kenyang. Aku mengira awalnya pertama kali memgunjungi Rock Cafe ternyata yang kedua setelah Rock Cafe di Jakarta. Restoran yang tak kalah enaknya ialah Geographer Cafe Melaka dan aku mencoba pizza di Cafe ini. Saat di Geographer Cafe Melaka sempat baper melihat pasangan yang super romantis makan bersama. Selain itu aku juga mencoba Laksa di dekat museum Baba Nyonya Heritage. Kari dan Laksa adalah dua menu yang patut dicoba di Melaka, rasanya makjus.

2. Melaka Heritage City Tour

Saat kunjunganku pertama ke Melaka, aku sudah mengunjungi area red square yang disebut juga sebagai Dutch Square yang menjadi ikoniknya Melaka karena dindingnya dari bata dan gaya bangunan Eropa klasik. Di kawasan ini ada Christ Church Melaka yang berdiri sejak tahun 1753, ada Stadthuys beralih fungsi menjadi Museum Sejarah dan Etnografi yang dulunya sebagai kantor gubernur pada masa penjajahan Belanda, Victoria Fountain di depan gereja, Menara Jam Tan Beng Swee (clock tower), dan miniatur kincir angin (windmill) Belanda. Aku juga mengunjungi St, Paul Hill dan Church. Nah pada kunjungan kedua ke Melaka aku juga mengunjungi tempat ini tapi yang Christ Church kami sampai masuk kedalam. Bedanya untuk wisata yang area ikonik Melaka ini kami kunjungi di siang hari. Rata-rata kami mengunjunginya dengan berjalan kaki, karena wisata Melaka bisa dilakukan dengan jalan kaki. Bagi yang malas bisa menggunakan becak ala Melaka dengan hiasan seperti Hello Kitty, Doraemon dan sebagainya.

3. Mengunjungi Museum di Melaka

Kalau kunjungan pertama aku tidak masuk kedalam Museum di Melaka maka kunjungan kedua aku mengunjungi beberapa museum. Kunjungan pertama tidak mengunjungi museum karena terbatas pada biaya. Untuk kunjungan kedua aku, Antoine, Isebelle dan Thierry mengunjungi Baba dan Nyonya Heritage Museum. Sebenarnya aku tidak terlalu tertarik dengan museum ini karena harga masuknya saja Rp79.000 an tapi karena ikut saja akhirnya aku nikmatin saja. Baba dan Nyonya Heritage Museum Melaka ini menceritakan bagaimana sejarah China datang ke Melaka dan ketika tour  di dalam Museum tidak boleh diphoto kecuali area depan saja. Di Museum Babab dan Nyonya berisi tentang sejarah Baba Nyonya di Melaka dan kesemunya ada di dalam brosur yang diberikan. Sayangnya aku tidak terlalu tertarik karena menurutku biasa saja.

Kami juga mengunjungi Muzium Samudera di hari kedua dengan harga tiket yang lumayan mahal juga. Tapi bedanya dulu melihat kapal Melaka dari luar saja pas kunjungan kedua baru bisa melihat isi dalamnya yang menarik karena aku bisa melihat miniatur kapal di dalamnya.

Untuk Melaka Sultanate Palace Museum kami tidak mengunjunginya karena hanya replika saja dan biaya masuk ke dalam buat turis sebesar 5 RM. Biaya masuk ke dalam Melaka Maritime Museum untuk turis 10 RM, biaya masuk Melaka History and Ethnography Museum untuk turis 10 RM, dan biaya masuk kedalam Melaka Art Gallery 3 RM. Kami hanya mengunjungi 2 museum saja dan itu dalam sehari.

3. Mengunjungi Pecinan Melaka

Melaka memang terkenal dengan Pecinannya. Aku paling suka berjalan dan melihat bangunan jadulnya. Bagi yang suka Pecinan maka Melaka bisa menjadi pilihan. Kedatangan kami pas Februari tepat berdekatan dengan perayaan Imlek sehingga dekorasi Chiness nya kental banget, mulai dari lampion hingga bangunan dengan nuansa warna merah. Bahkan bagi yang suka masakan Chiness mudah banget di dapat di Melaka.

4. Ikut River Melaka Cruise

Aku tidak pernah menyangka akan ikut merasakan River Cruise nya Melaka karena biayanya yang lumayan mahal. Tiket untuk River Cruise itu 30 RM, dengan lama 45 menit keliling 9 km dengan kapal. Kami menaiki River Crusie Melaka di hari kedua dari Muara Jetty dekat dengan pintu Museum Maritim dan adanya replika Kapal Portugis. Kalau kunjungan pertama cuma bisa lihat orang naik kapal sambil mengitari Sungai Malaka, maka kunjungan kedua aku bisa merasakan naik kapal. Menariknya dari Kapal terlihat jelas perubahan dari Melaka mulai dari art street yang dulu di tahun 2013 belum ada, maka sekarang Melaka full dengan art street di dinding rumah penduduknya. Bahkan dengan River Cruise ini kami juga sempat melihat perkampungan dengan perumahan mini ala Melayu yang unik dan baru aku lihat. Kapal yang kami naikai akan kembali ke tempat awal kami menaiknya. Bagi yang ingin dapat “feel” Melaka naya maka kalau ada uang berlebih, cobalah River Cruise Melaka itu worth it banget.

5. Wisata Religi Melaka

Melaka itu multi culture karena banyak sekali peninggalan Belanda, Portugis bahkan Inggris di Melaka. Tak heran banyak wisata religi mulai dari Masjid, Klenteng hingga Gereja. Nah saat kunjungan pertama aku mengunjungi masjid, melihat gereja, klenteng tapi dari luar saja. Nah kunjungan kedua aku melihat Masjdi Kampung Hulu dan masuk kedalam Gereja Christ dan Gereja Portugis di Melaka. Uniknya itu terlihat bahwa tempat ibadah ini umurnya sudah tua alias dari zaman bahelak mulai dari lantai dan tanda yang ada di dalam bangunan. Buat yang pertama kali ke Melaka, maka 2 hari cukup untuk keliling Melaka tapi kalau ingin menjelajah lebih puas maka butuh 3 hari sampai 1 minggu.

6. Belanja Oleh-oleh di Jonker Street Melaka

Jonker Street adalah salah satu pusat belanja baik oleh-oleh maupun makanan yang ada di Melaka. Tak hanya di Jonker Street tapi bisa juga belanja disekitar area Red Square Melaka. Untuk souvenir harganya bervariatif begitu juga makanan. Sayangnya kunjungan kedua aku tidak membeli oleh-oleh maupun souvenir karena kunjungan pertama itu aku sudah heboh dalam membeli gantungan kunci ala Melaka. Kunjungan kedua lebih menikmati Melaka dan melihat hal lain yang belum aku lihat sebelumnya.

7. Mengunjungi  Night Market Melaka

Tahun 2013 belum ada namanya Night Market Melaka (waktu itu sudah atau tidak atau mungkin aku kurang jelajah saja) tapi pas kunjungan kedua ada. Kami tahu ada Night market dari Ibu yang punya penginapan dimana kami menginap. Aku senang sekali karena bisa cuci mata meski terlalu ramai. Untuk Night Market Melaka ini mirip seperti Pasar malam atau jualan malam dan dimulai dari Jonker Street. Jualan bervariasi mulai dari makanan hingga pakaian. Kami berempat melihat dari ujung ke ujung meski kami tidak membeli apapun, ujungnya kami malah makan di Geographer Cafe Melaka. Oh ya Night Market Melaka cukup ramai dan mirip seperti pasar Asia pada umumnya.

8. Berburu tempat Instagramable dengan Jalan kaki keliling Melaka

A Famosa Melaka

Jalan kaki keliling Melaka merupakan pilihan yang tepat meski itu panas sekali. Menariknya di kunjungan kedua aku menemukan banyak spot photo alias titik photo instagramable banget apalagi sekarang banyak art street di Melaka dan warna rumah masyarakat di cat semenarik mungkin. Kami saja berjalan kaki mulai dari pagi hingga sore, keren kan? Padahal kalau ingat panasnya, duh bukan aku banget. Aku kuat sih jalan tapi tidak saat panas.

Di kunjungan kedua ini meski aku katakan pada Antoine bahwa Melaka “B” aja alias biasa tapi pada kenyataannya aku tetap mendapatkan kejutan, kejutan dari makanan, tempat yang belum pernah aku kunjungi meski sudah pernah kesana dan yang terakhir mengubah persepsiku yang bosanan ke suatu tempat yang sudah pernah dikunjungin menjadi “tidak ada salahnya mengunjungi tempat yang sama ” apalagi bersama keluarga.

Lokasi

Salam
Winny

Traveling ke Air Terjun Murai di Harau, Sumatera Barat


Hello World!

Payakumbuh, Mei 2019

Wisata Sumatera Barat khususnya Payakumbuh dan Lima Puluh Kota memiliki banyak wisata alam tersembunyi apalagi di Lembah Harau. Setidaknya ada 7 tempat wisata yang hendak aku kunjungi yang rata-rata air terjun. Salah satunya ialah Air Terjun Murai atau dalam Bahasa Minang “Sarasah Murai”. Sarasah Murai ini air terjun yang tersembunyi, jarang didatangi dan berlokasi di pedalaman Lembah Harau. Di pedalaman Lembah Harau setidaknya ada tiga air terjun yaitu Air Terjun Sarasah Aka Barayun, Air Terjun Sarasah Aie Luluih dan Air Terjun Sarasah Bunta. Khusus Sarasah Murai berjarak lebih kurang 1 Km dari Sarasah Bunta, tapi aku belum pernah ke Sarasah Bunta. Tujuan kami ke air terjun Murai, lucu namanya kan?

Jalan ke Sarasah Murai

Kami memulai perjalanan sekitar jam 1 siang dari Payakumbuh. Aku bersama Antoine, Rico dan Marcus dengan dua sepeda motor. Dari Payakumbuh Kota ke Lembah Harau lumayan dekat, hanya sekitar 30 menit saja. Untuk tiket masuk ke dalam lembah Harau Rp5000/orang. Lalu kami menuju ke pedalaman Lembah Harau dari 10 km dari pintu masuk Lembah Harau. Untuk menuju ke Air Terjun Murai itu jalannya berbatu dan penuh tantangan. Walau motor yang kami naiki matic tapi Marcus dan Rico mahir membawa motor sehingga kami aman saja sampai di gerbang menuju ke Sarasah Murai.

Kami tiba di pintu awal trekking sekitar jam 2 siang dan seorang pemuda menghampiir kami setelah motor di parking.

"Ongkos parkir Rp10.000/2 motor", katanya

"Sudah termasuk tiket kebersihan"

"Ok nanti kami bayar", kataku

"Tumben ibu mau bayar," kata Markus

Ya begitulah biasanya aku malas membayar retribusi dadakan begini apalagi tidak ada tiketnya. Namun karena dia mau menjaga sepeda motor kami jadi masih masuk akal untuk memberikan uang kepadanya.

"What did he say?", tanya Antoine

"Asking money", jawabku

"Oh, Indonesia", katanya

Emang sih image wisata Indonesia ini buruk sangat gara-gara segelintir orang. Paling malas ke tempat wisata yang tiba-tiba ada bayaran dadakan ke orang lokal seperti memalak alias preman. Apalagi tanahnya gak tahu milik siapa. Tapi ya sudahlah! Anggap aja sedekah…

Dari pintu masuk kami berempat trekking ke Sarasah Murai. Di depan pintu kami sempat melihat seorang bocah yang memancing ikan. Aku salut dengan anak kecil itu karena dia begitu gigih dan pintar. Dia memberikan umpannya berupa cacing dan lumayan banyak hasil pancingannya. Katanya ikan itu buat digoreng padahal ikannya kecil-kecil.

Kemudian kami memulai trekking dengan jalanan yang lumayan berat. Yang paling berat saat mendaki, benar-benar manjat. Dari gerbang pintu masuk ke dalam air terjun itu tidak terlalu jauh. Dekat tapi caranya kesana itu susah karena bebatuan itu. Tapi pas tiba di depan airnya jernih dan bagus.

Pas sampai disana ada 2 pengunjung yang sedang mandi. Langsung Rico dan Marcus menanyakan

"Darimana Pak", tanya Markus

"Dari Riau", kata mereka

Wow aku sempat kaget karena orang Riau saja tahu air terjun ini. Aku juga cukup beruntung sih karena bisa mengenal warga lokal jadi bisa dibawa ke tempat wisata tersembunyi.

Air Terjun Murai itu ada 7 tingktan dan airnya jernih, saking jernihnya dasar Sungai kelihatan jelas. Aku sempat menikmati air terjun lalu Markus mengajak trekking ke tingkat ke 3. Rico kondisi puasa namun bisa juga traveling ke air terjun ini meski tenaganya setengah saja dan hampir saja dia menyerah. Hal ini wajar karena treknya sulit, melalui bebatuan dan aku sampai merangkak menuju ke atas. Akhirnya kami sampai di tingkat ke tiga. Sayangnya kami tidak tahu cara ke tingkat berikutnya karena sekeliling kami lihat ialah bukit. Akhirnya kami santai di tingkat ke tiga. Antoine paling lucu karena dia langsung mandi ketika sampai di tingkat ke tiga. Sementara aku, Rico dan Markus lebih memilih bersantai.

Nah pas kami santai tiba-tiba hujan deras. Kami sempat kewalahan pas turun karena jalannya itu salah sedikit sampingnya jurang, bisa jatuh ke air terjun. Sisi positive dari air terjun ini alami banget, ditengah hutan rimba dan udaranya segar.

Akhirnya dengan perjuangan kami sampai di tingkat dasar dari Air Terjun Murai. Markus akhirnya ikut mandi dengan Antoine sementara aku dan Rico memilih tidak mandi walau kami sudah basah juga. Kami berada di air terjun hanya 1 jam tapi seru dan aku senang karena air terjunnya “rancak” alias cantik.

Pulangnya kami melewati jalan yang berbeda. Arah ini kami tahu dari si Bapak tadi yang minta uang. Kalau dipikir-pikir dia niat betul menunggu kami padahal hujan demi Rp10.000. Untungnya dia kasih jalan yang belum pernah aku lewati dengan pemandangan tak kalah indahnya. Lembah Harau dengan bukitnya yang mempesona. Yang lucu pas tadi kami trekking ke air terjun hujan, pas pulangnya eh cuaca sudah cerah. hahahaha 😀

Kayak ngusir banget dari Air terjun. Tapi Alhamdulillah kami bisa menikmati air terjun dan menariknya sampah dia ir terjun tidak ada dan semoga tetap bersih seperti ini 🙂

PS: Masih banyak tempat wisata di sekitar Harau yang belum dijelajah dan dikunjungi orang

Harau

Tips Air Terjun Murai

1. Sebaiknya memakai sandal gunung/ sepatu karena trekkingnya lumayan berat

2. Tidak ada penjual makanan sehingga bawa sendiri makanana dan minuman tapi jaga kebersihan

3. Bisa mandi di air terjun

4. Bawa tourguide bagi yang tidak tahu cara ke air terjun

5. Bawa obat-obatan

Lokasi Air Terjun Murai

Salam

Winny

Kids Zaman Now


Hello World!

Payakumbuh, 14 Mei 2019

Indonesia

Mei 2018, setahun telah berlalu sejak aku memutuskan untuk berhenti bekerja di Loreal Indonesia sebagai Manager Supply Chain Customer Care dan menjadi seorang Dosen di salah Universitas di Indonesia tepatnya berada di Payakumbuh.

Orang yang pertama sekali yang mendukungku menjadi Dosen itu adalah ibuku karena dia juga adalah seorang Guru. Yang paling menolak keras adalah adikku karena melihat gaji yang menggiurkan di swasta.

Memang kalau dibandingkan dengan gaji serta fasilitas bekerja di swasta yang notabenenya bonafit dengan sebagai Dosen itu bagai langit dan bumi. Apalagi menjadi Manajer di usia muda merupakan impianku dan anehnya aku begitu saja menyerah dengan impian itu karena mengikuti ibuku dan personal reason. Satu lagi kenapa jadi dosen karena ilmu yang diajarkan dan namanya “aktualisasi diri”. Aku mencapai tahap tertinggi Maslow di usia yang belia. Lagian setiap pekerjaan ada plus minus. Bedanya bekerja di swasta dengan jabatan yang ok, Alhamdulillah hidupku makmur dari segi materi bahkan aku bisa keliling dunia, mencapai impian yang aku inginkan sewaktu kuliah yang kalau aku flashback tidak mungkin anak kampung dari keluarga super miskin sepertiku bisa mewujudkan impianku. Itulah buah dari belajar. Aku sangat bersyukur karena aku bisa hidup mandiri tanpa biaya orang tua sejak wisuda, artinya aku tidak menyusahkan orang tua. Sementara menjadi Dosen itu kebalikan dari kehidupanku di kerjaan swasta. Tapi yang namanya passion dan ikut serta dalam mencerdaskan hidup Berbangsa itu beda cerita. Meski downgrade yang dulunya ke RS elit ke Puskesmas, yang fasilitas lengkap ke minim fasilitas tapi hati tetap senang menjalaninya.

Memang aku cukup beruntung dalam dunia pendidikan karena aku sangat suka belajar, bahkan belajar itu hobi. Dulu kalau aku tidak juara aku merasa frustasi padahal dengan seiring berjalannya hidup dan pengalaman, nyatanya dunia kerja dan kehidupan itu tidak membutuhkan nilai akademik yang didapat di sekolah tapi ilmu dan keterampilan serta cara bersikap. Nilai itu hanya pemanis saja dan kau tidak butuh nilai karena bukan kunci kesuksesan. Kunci sukses itu dari kedisiplinan diri, kemauan tinggi serta motivasi diri dan terus belajar tanpa menyerah dengan keadaan.

Lalu apakah aku menyesal telah resign dari pekerjaan lama ku? Tidak. Karena dengan mengajar aku belajar serta bekerja secara ikhlas. Karena niat yang tulus itu pahalanya dari Allah. Bayangkan ya di kerjaan lama feels like a boss, datang ke kantor itu jamnya fleksibel, ruangan ber AC, kantornya elit yang keluar langsung Mall, terus kalau sakit gak perlu khawatir karena ada asuransi jadi bebas milih Rumah Sakit manapun terus ada hampers alias produk gratis, ada training, nonton film gratis, pedi medi gratis, jalan-jalan gratis, sampai makan siang aja gratis.

Terus pas jadi dosen betapa culture shock diriku, boro-boro ruangan ber AC, tempat duduk buat bekerja tak ada. Tapi aku tidak mengeluh karena aku adalah tipe orang ketika aku memutuskan sesuatu maka aku akan totalitas dan menerima segala resikonya. Karena bekerja dimanapun harus lah profesional. Bahkan ketika aku sudah komitmen maka aku akan jalankan dengan sebaik mungkin.

Selama menjadi Dosen itu aku memiliki pengalaman berwarna. Meski merupakan Dosen baru tapi aku terkenal dengan “Dosen Killer”, “Dosen perfeksionis” bahkan dikenal sebagai “Dosen Congkak”.

Khusus sebutan nama yang terakhir aku kekeh, “sumpah” karena aku merasa bukan congkak karena apalah yang aku congkakkan. Ke kampus saja jalan kaki sampe dikira miskin kali padahal iya karena gaji dosen itu sungguh bikin elus dada. Bahkan gajiku 7 thn lalu lebih gede dari gaji dosen. Namanya aja “DO” “SEN”.

Yang lucu selama 1 tahun bekerja jadi Dosen, tabunganku gak bertambah tapi syukurnya gak berkurang. Tapi aku masih hidup juga tapi tak se-ekslusive yang dulu. Pembelajarannya agar rendah diri dan biar tidak sombong. Itu adalah cara Tuhan bagiku untuk selalu mawas diri. Kalau tidak, enak banget hidup aku. Saking enaknya untuk membeli sesuatu tidak berpikir ulang.

Terus kenapa bisa dibilang dosen perfeksionis dan killer?

Karena aku mengubah sistem yang mana untuk mendapatkan nilai itu memang dengan usaha keras dan belajar sungguh-sungguh. Terus apabila mahasiswa telat ngasih laporan maka nilainya 0 dan mahasiswa diwajibkan untuk tahu pelajaran sebelum memasuki kelas. Karena kebetulan aku mengajar di Fakultas Ekonomi Jurusan Managemen jadi aku perhatikan anak-anaknya santai. Tidak suka diberi tugas tapi mengharapkan nilai A atau minimal B. Sementara yang mengikuti kelasku sudah ngerjakan tapi syukur-syukur dapat C eh ada yang gagal lagi. Padahal kalau mahasiswa gagal itu Dosennya juga gagal.

Kenapa begitu?

Karena mereka terbiasa dengan kuliah yang santai tapi nilai bagus, mereka tidak mengenal yang namanya perjuangan. Memang tidak etis membandingkan saat aku kuliah di Teknik dulu, karena anak Teknik itu laporan mahasiswaku yang jadi sumber kebencian kepadaku itu dikerjakan 1 Semester tapi bagi anak Teknik itu dikerjakan hanya dalam 1 minggu saja. Laporan dan gagal bagi kami anak Teknik itu biasa. Akibatnya mental kami itu sudah ditempa dengan baik sehingga ketika tamat kami bisa bekerja dimanapun karena kami bukan anak culas, manja maupun cengeng. Bahkan teman yang biasa aja itu tetap usaha dengan sebaik mungkin. Makanya teman-temanku rata-rata bekerja di perusahan yang ok.

Sangat jauh berbeda dengan kids zaman now yang suka ngeluh dan maunya instan. Bahkan tidak disiplin. Meski diingatin tapi tetap ya nasehat tidak diindahkan, pas gagal baru stres sendiri. Tapi dalam hal ini saya tidak akan mengeneralkan karena tidak semua mahasiswaku seperti itu. Ada bahkan mahasiswa yang sungguh ketika dia nilainya turun berjuang keras sehingga memang akhirnya dia dapat nilai A di kelasku. Aku bahkan sangat bangga dengan anak itu. Beberapa malahan mahasiswa bandel tapi mau berusaha dan menghargai orang lain.

Biasanya anak-anak pemalas itu akan stress di kelasku sementara yang rajin suka. Tapi entahlah! Karena terkadang manusia itu baik di depan tapi dibelakang menusuk dan itu lumrah dimanapun bekerja.

Untuk nilai sendiri aku bukannya pelit, kalau memang layak A sekelas pasti aku kasih A karena nilai selalu transparan. Yang aku sayangkan adalah pola pikir dan mental sebagain mahasiswa yang pernah mengikuti kuliahku itu mentalnya masih orientasi “nilai” bukan “hasil” atau “ilmu”. Sepertinya paradigmanya menghalalkan segala cara yang penting dapat nilai bagus. Mereka tidak tahu kalau zaman sekarang harus benar-benar belajar karena dunia semakin cepat. Kadang aku prihatin dengan kondisi mahasiswa yang semester akhir pas ditanya pelajaran malah blank jadi sia-sia belajar dari Semester awal itu karena semua yang dipelajari masuk telinga kiri keluar telinga kanan. Pas dinasehatin memberontak, disitu tantangan jadi Dosen. Ternyata jadi Dosen itu tidak seindah yang dibayangkan, bahkan lebih susah dari bekerja di perusahaan karena mendidik manusia dengan latar belakang serta budaya dan cara pikir berbeda penuh tantangan.

Ironisnya ada juga mahasiswa dengan kepribadian ganda yang kalau di depan manis semanis madu tapi dibelakang menusuk. Bahkan tidak bicara langsung ketika tidak suka sesuatu dan kadang berpikir tidak panjang. Malahan karena tidak berani speak up membuat forum ketidak sukaan atau istilahnya cari teman. Ini jelas menjadi isu kontemporer. Kalau aku karena memang dari suku Batak ketika aku tidak suka dengan seseorang aku akan langsung mengatakannya tanpa harus memprovokasi orang lain. Karena ketika bicara dari belakang itu namanya ” coward”. Dulu bahkan kepada Direktur sendiri ketika tidak suka, aku akan bilang tidak suka. Padahal jelas-jelas aku bisa dipecat tapi pada kenyataan Direktur tempatku bekerja di perusahan lama malahan senang dan katanya aku kritis hihi. Beliau juga shock kok bisa aku terjun ke dunia Birokrasi yang terkenal pemalas karena Bos lamaku ini tahunya aku bekerja on time, dan berkulitas meski agak cocky katanya. Tapi balik lagi namanya “amal jariah”

Dengan kedatangan diriku seperti setan bahkan didoakan “stroke” loh! Nampak kali mereka tidak pernah menikmati pahitnya empedu kehidupan. Padahal kampus kecil ini tidak seberapa, bahkan anak-anak kuliah Jawa itu belajar emang sebagai kebutuhan bukan paksaan. Disini iba melihat mahasiswa Sumatera khususnya di tempatku itu dari pengetahuan dan keterampilan sangat minim. Saingan mereka banyak tidak hanya di Sumatera tapi secara Global. Sayangnya mereka tidak terbiasa, tidak mau dan tidak perduli.

Aku bahkan prihatin karena kasihan orang tua nya menyekolahkan anak tinggi-tinggi tapi ke kampus buat gaya-gayaan saja. Bahkan belajar itu malas-malasan, padahal merekalah generasi penerus bangsa.

Lalu apakah dengan kebencian mahasiswa dengan sistem yang aku buat maka harus berubah? Jawabannya tidak, karena You will face your greatest opposition when you are closest to your biggest miracle. Anytime you try to do something great with your life, there are always going to be others trying to bring you down. …No matter what form hate takes, it is always hard to deal with.

Jadi kalau dalam bekerja pasti ada yang suka dan tidak suka dan tentu saja can not please anyone.

Terus buat kumpulan pembenci? Biarkan saja artinya mereka kelebihan waktu. Sayang waktu yang banyak itu bukan untuk belajar dan berkarya.

Lagian dari yang tidak suka tentu ada juga yang suka karena masih banyak mahasiswa yang haus akan ilmu dan memiliki etika dan pemikiran kritis.

Justru itu adalah tantangan sebagai Dosen, karena mendidik itu suatu tantangan.

Dan motto dalam hidupku itu jangan terlalu benci sesuatu berlebihan karena bisa jadi kamu benci sesuatu tapi itu baik bagimu. (Al-Baqarah: 216).

Salam

Winny

Drama Trekking ke Air Terjun Lubuk Batang di Kapur IX, Sumatera Barat


Hello World!
Lima Puluh Kota, 28 April 2019

Ada 6 tempat wisata yang ingin aku kunjungin di Payakumbuh dan Lima Puluh Kota yang semua rata-ratanya adalah air terjun.

Bucket List:
1. Sarasah Kayu Putiah di Dekat Kayu Kolek
2. Air Terjun Sialang di Situjuah
3. Sarasah Murai
4. Lubuk Bulan di Mungka
5. Lubuk Batang di Kapur ix
6. Mata Air Nyarai di Lubuk Alung😁

Sejak tinggal di Sumatera Barat selama 1 tahun, ternyata banyak sekali tempat wisata di Sumatera Barat yang alami dan tersembunyi yang belum aku kunjungin dan bukan turistik banget. Beruntungnya aku dipenuhi oleh orang-orang yang suka jalan-jalan. Walau dulu aku jarang suka hiking atau trekking ke alam namun sejak di Sumatera jadi doyan ke alam, seperti semesta ikut berpartisipasi.

Nah untuk 6 tempat wisata yang belum aku kunjungin itu aku dikasih tahu oleh Dian dan Markus.

https://www.instagram.com/p/Bw1wT9cHbhe_6uPcXF8uMN7Bw31qoFu9b91lFU0/

"Bu, sudah ke Air Terjun Lubuk Batang 
di Kapur IX belum", tanya Markus

"Belum", jawabku

Aku mulai penasaran dengan Air Terjun Lubuk Batang di Kapur IX

"Tanggal 27 April kita jalan-jalan ke 
Air Terjun Lubuk Batang di Kapur IX " 

"Ayo", jawabku

Itulah awal kami jalan-jalan ke air terjun setelah jalan-jalan ke air terjun Sarasah Donat.

"Besok kita berangkat jam 9 ya Bu", kata Markus kepadaku

Akupun mengajak Antoine ke Air Terjun Lubuk Batang di Jurong 2 Kec. Kapur Sembilan Kab., Koto Bangun, Kapur IX, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat.

Aku juga mengajak Henny, sayangnya dia tidak bisa ikut.

Air Terjun Batang IX
Air Terjun Batang IX

Tentu saja Thimo datang ontime jam 9 pagi. Namun sayangnya kami baru berangkat jam 12 siang. Gileee 3 jam molor dari janji, hikss

"Are you sure we are going to waterfall"
"Is it Indonesia always late?, tanya Antoine kepadaku
"So sorry", jawabku

Benar-benar membuatku merasa malu karena Antoine sudah bangun cepat dan datang tepat waktu sementara perginya teralmbat 3 jam. Jam karet banget emang, kebangetan jam karetnya!

Belum lagi pas jam 9 pagi si Markus susah dihubungi. Dia baru bisa dihubungi jam 10 pagi. Dia datang dan langsung merasa bersalah.

"Bilanglah ke Mr itu aku minta maaf katanya", dengan muka bersalah

"Kami ada kegiatan tadi Bu", katanya

Kami sih maklum aja, habis kami nebeng sih. Yang ikut trip ke Air Terjun Lubuk Batang di Kapur IX yaitu aku, Antoine, Rico, Marcus, Umrah, Hafiz dan Ronald berangkat dari Payakumbuh pas matahari terik sekali dengan motor. Kami berangkat dengan 4 motor, dan perjalanan sungguh lama dan melelahkan. Meleleh daku saat di motor, pantat rasanya tepos. Aku kasihannya ama Antoine yang mukanya gosong kayak babi panggang gegara matahari.

Saat berangkat kami membeli makan terlebih dahulu buat bekal saat trekking. Pas sebelum Kelok 9, malangnya motor Rico yang membonceng Antoine bannya pecah. Mau tidak mau, kami berhenti sejenak sementara Hafiz dan Ronal sudah berangkat terlebih dahulu dan sampai di Kelok 9. Untung ada Markus jadi kami tahu kalau Rico motornya bermasalah.  Yup, perjalanan yang dimulai dengan dramaa!!

Markus menghubungi Hafiz dan janjian bertemu di simpang 3 Pangkalan. Aku, Antoine, Rico dan Marcus di bengkel memperbaiki motor Rico sambil makan gorengan bapak ala Rp1000. Setelah diperbaiki sekitar 30 menit, kami lalu melanjutkan perjalan kami.

Kami baru sampai di Kapur IX jam setengah 4. Kami melakukan perjalanan dari Payakumbuh selama 4 jam untuk sampai ke Kapur IX yang menurutku sangat jauh.

"Why do you go to waterfall with takes 4 hours?", tanya Antoine

Antoine tidak habis pikir kenapa bisa kami jauh banget ke Air Terjun Batang kayak gak ada air terjun di dekat Payakumbuh.

Kapur IX
Kapur IX

Oh ya saat kami masuk ke dalam gang ke Batang Kapur IX, ada seorang Bapak bernama Irfan menghadang kami. Beliau mengaku warga lokal dan meminta Rp10.000 perorang.

"Kalau mau ke dalam Rp10.000/orang", katanya

"Kenapa kami harus bayar Pak", tanyaku?

Karena Hafiz sudah 4 kali ke Air Terjun Batang IX dan tidak pernah diminta uang. Begitu juga Markus yang sudah dua kali ke Batang IX.

Cara si Bapak sungguh tidak elegan dan menghadang. Awalnya mengikuti kami terus meminta uang. Aku benar-benar esmosi saat si Bapak meminta uang ala preman.

Air Terjun Batang, Kapur IX
"Pak, kalau mau kami bayar mana karcisnya?", tanyaku
"Gak ada karcis, biasa memang bayar," katanya
"Oh ya kalau gitu mana KTP Bapak biar kami bayar," jawabku

Sumpah sebenarnya ini hati deg-degan saat melawan si Bapak. Tapi aku tidak suka caranya. Ahirnya dia bilang ke kami bayar seikhlasnya dan aku tidak mau. Dia sempat menghadang kami untuk tidak melewati jembatan dan mengancam kami. Tapi aku tidak mau sama sekali karena orang-orang seperti ini yang merusak citra parawisata Indonesia.

"Ada nomor HP saya, ini saya kasih," jawabnya 

"Pak saya gak butuh nomor HP bapak lagian bukan jalan Bapak"

 "Tapi kami yang buat jalan ini", jawabnya

Apalagi karena dia lihat kami dengan Bule makanya jadinya seenak hidung minta uang. Kalau misalnya retribusi daerah aku pasti mau bayar, tapi ini diminta KTP nya saja dia takut. Padahal ya aku cuma gertak sambal aja minta KTP. Dan saat melawan si Bapak dalam hati aku takut wkkwkwkwk aku mah cuma kelihatan ganas diluar saja, hatiku ‘kan “soft” seperti Hello Kitty 😛

"Emang Bapak siapa?"
"Saya warga lokal sini", kalau mau tidak bayar awas saja, jawabnya 
"NGAK, jawabku

Inilah drama ke 2 dari perjalanan kami, ketemu warga lokal sok preman tapi gak mempan samaku 😀

Untung aku gak digorok ya?

"Ibu, keras juga ya", kata Markus 

Setelah jantungan melewati si Bapak dan melewati jembatan kayu, kamipun melanjutkan perjalanan kami. Untuk sampai ke Air Terjun Lubuk Batang jalannya sungguh menantang. Jalanan setapak dan penuh liku. Jalanannya sudah di aspal oleh masyarakat dengan uang sendiri dari warga sekitar.

Jalanannya hanya cukup dengan satu sepeda motor saja dan kecil, disisi lainnya jurang. Motor yang kami bawa adalah motor matic yang tidak cocok dengan trekking ini. Kebanyakan warga lokal membawa motor kedalam dan aku sungguh takjub dengan kehandalan mereka membawa orang di trek yang jalannya super kecil. Benar-benar hebat!

Jalanan yang kami lewati itu melewati kebun orang, jalanan jelek, dan becek. Lalu sampai ke jembatan yang mentok motor tidak bisa lewat barulah kami parkir motor. Itupun karena gak mungkin bisa masuk lagi karena jalannya susah.

Dari tempar parkir motor gratisan, aku sempat terpana dengan jernihnya air yang ada di Kapur IX ini. Saking jernihnya dasar air kelihatan. Padahal saat diboncengan demi menuju ke sini itu yaitu “Mamakuu, itu kataku saat diboncengan Ronal”. Terus lihat jernihnya air aku lupa itu, wkwkkw 😀

Awalnya aku sempat was-was takut si Bapak tadi mau merusak motor kami. Namun akhirnya menanyakan warga sekitar apakah aman memarkirkan motor. Aku juga sempat menanyakan apakah memang masuk ke dalam air terjun bayar ke beberapa pengunjung. Dan ternyata benar gratis. Bapak yang tadi memang benar-benar hanya mengambil keuntungan dari kami. Alias mengambil keuntungan sesuka hatinya.

"Cherry, thats man is shithead", kataku

Setelah motor di parking lalu kami harus jalan kaki sekitar 20-30 menit dengan jalanan menurun. Trek jalannya lumayan susah dan licin tai masih bisa dilewati. Akhirnya jam empat kami sampai di air terjun yang sangat indah sekali.

"Alna, its worth it for riding for so long", kata Antoine

Air Terjun Batang di Kapur IX di Lima Puluh Kota sangat indah. Warna pasirnya putih, tebingnya seperti Green Canyon dengan balutan warna hijau. Sungguh drama yang kami lalui terbayar ketika sampai di Air Terjun Batang di Kapur IX . Rasa lelah, patat tepos terbayar lihat tebing cakep.

Kami langsung mandi, dan makan siang merangkap sore 😀

"Kus, sayang kita sampai sore ya, kalau siang cakep", kataku

"Bagusnya pagi kak, sinar datang", kata Hafiz

Ah aku jatuh cinta dengan air terjun ini, apalagi tebingnya itu indahnya kebangetan!!

Nah saat di Air Terjun Batang di Kapur IX, banyak sekali coret-coretan. Dan Ronal sempat menambah dan langsung aku lerai.

"Jangan Ronald", kataku

Dia sedikit malu, tapi harus begitu untuk menjaga keindahannya. Dan tebing di Air Terjun Batang di Kapur IX sudah banyak coret-coretan tangan jahil. Jadi please jika mengunjungi suatu wisata jangan merusaknya. Cukup ambil kenangan dan biarkan tetap bersih ya!

Air Terjun Batang IX
Air Terjun Batang, Kapur IX

Setelah mandi dan makan, jam 5.30 kami meninggalkan air terjun yang indah ini. Kami membawa kembali sampah yang kami bawa dan pulang dari Air Terjun Batang, Kapur IX, pesona tersembunyi.

Pulangnya aku dan Ronal jatuh dari motor dan ini drama ke tiga dan yang drama ke empat sempat motor Ronal mati di tengah jalan. Namun meski banyak drama saat ke Air Terjun Batang di Kapur IX tetap aku tidak menyesal kesana, aku hanya menyesal terlalu lama berangkatnya.

Lokasi Air Terjun Lubuk Batang

Salam
Winny

Trekking Ampang river waterfalls


Hello Everyone, today I would like to write a small article (long overdue) about a really nice place I’ve got the chance to explore: Ampang river waterfalls.

I went there with some of my coworkers, we drove from Kuala Lumpur to a side of a road near ATV adventures and Kombat zone (paintball). Truth is the trek is not well indicated at all but the track is used a lot by the ATVs from ATV adventures, so if you don’t know where to start, asking around will put you back on the good tracks.

Ampang fall track
Ampang fall track

The trek itself is a nice short and relatively easy one, why do I say “relatively”, few reasons to that:
– The trek is also used by ATVs, with mean you need to pay attention to them (and sadly, you may forget about the peaceful/wild experience.
– Some parts of the trek are quite steep and slipery. You don’t need a rope but you need to mind your steps

Other than that, it was a nice little trek, not stressful that can easily be enjoyed by anyone.

Ampang falls
Ampang falls

Once we’ve been through the trekking part, we arrived at the falls. It’s not grandiose like the chamang falls I wrote about in a previous post but it’s a cute little place, sadly the main part was crowded with ATVs users and other tourists. If you are looking for more intimacy, I recommand you to follow the track that goes to the top of the falls. Little less impressive, but a lot quieter and in my opinion much nicer.

You can also go down the stream but it is, in my opinion much less interesting and doesn’t really worth a go.

Ampang fall upper section
Ampang fall upper section

The upper section is quite short (sadly) but you have some nice shallow pools where you may have a dip and have what I like to call “water massage” (it basically means sitting under rapid current to feel the water pressing on your back), I know it’s a bit silly but I quite like that.

 

You also have weird construction if you go all the way up the stream. I dunno what it is but the fact that it is here gives the whole place some kind of athmosphere that makes you feel that you are alone in the whole world (not in a scary way).

Truth to be told I heard quite bad reviews about the waterfalls around Kuala Lumpur, saying it was polluted and full of leeches; and maybe it is true about most of them.

Ampang falls upper section
Ampang falls upper section

But this one is not so bad. There were some rotten remains of a barbecue when i went there and a few other rubbish here and there, but overall the place was relatively clean. As for the leeches… sadly… there were some tiny little ones hidding here and there but they stay away from the sun and rapid water, so better get there when the sun is shiny. But if you’ve been to Taman negara or other places where leeches are even bigger, you’ll not be bothered by thoses. Truth is there are so small that you hardly notice them.

I’d still redo it with a lot of pleasure and if you are not looking for a spotless place (if you are, Malaysia overall is not a great pick) or a place with absolutely no leeches (Malaysia is not a great pick for this one either); you’ll have a good time and shouldn’t be bothered much by either of those (sadly) constant problems in Malaysia.

Trekking ke Sarasah Donat di Harau, Sumatera Barat


Hello World!

Harau, 13 April 2019

“Kak udah pernah ke Sarasah Donat belum?”, tanya Isna padaku

“Belum, yuk kesana tapi jangan PHP ya,” kataku kepadanya

Itulah percakapan singkat diantara kami saat acara kuliah umum di kampus. Tak hanya Isna, ada juga Dian, Markus, Yudhi dan Narinsyah.

"Betul ya kesana kita", kataku memastikan sekali lagi
"iya, betul kak", janji mereka

Dari percakapan itu kami berencana mengunjungi Sarasah Donat di Harau. Percakapan kami itu di hari Jumat dan  tanpa berpikir panjang, kami berangkat tepat keesokan harinya. Aku juga sempat mengajak Henny untuk traveling bersamaku ke Sarasah Donat.

Henny ini ialah teman yang aku kenal saat Diklat, orangnya suka jalan-jalan sama sepertiku dan kebetulan kami tinggal di daerah yang sama, jadinya kalau aku jalan aku ajaklah dia. Orangnya mau an juga sama kayak aku, pantang diajak ke alam hehehe 🙂

Sarasah Donat dalam Bahasa Minang artinya Air Terjun Donat. Disebut Donat karena bentuknya seperti Donat, air terjunnya mengalir di tengah batuan dengan membentuk bulatan persis seperti Donat. Aku tidak tahu mengenai air terjun ini sampai adik-adik ini memberitahukanku.

Aku sempat terkesan karena ternyata banyak sekali wisata alam di Payakumbuh dan sekitarnya, rata-rata wisata alamnya itu masih alami dan jarang diketahui oleh turis, terutama turis lokal. Biasanya kalau orang liburan ke Payakumbuh dan Lima Puluh Kota pasti tahunya hanya Lembah Harau saja, padahal banyak sekali wisata alam disekitar Harau  yang belum terjamah terutama air terjun. Wisatanya yang tidak begitu diketahui aslinya cakep banget 🙂

Sarasah Donat

Anehnya saat usiaku masih 20an aku sangat suka dengan wisata museum, wisata heritage atau sekedar jalan-jalan di Kota Besar namun setelah umur memasuki 30an eh hobiku malah ke  alam, aku suka trekking bahkan berkemah. Padahal dulu waktu tinggal di Jakarta, aku mah ogah diajak hiking eh setelah tinggal di Sumatera Barat, aku malah  ketagihan main ke alam.

Mungkin karena semesta mendukung kali ya!

Karena Sumatera Barat itu memang masih alami banget mulai dari banyaknya pepohonan, hutan dan udaranya bersih bahkan tidak ada bangunan pencakar langit seperti di Jakarta. Disini aku merasa bersyukur bahwa Tuhan memberikanku begitu banyak pengalaman di dalam hidup, salah satunya bisa bertemu dengan orang lain dan keluar dari zona nyamanku. Aku termasuk manusia yang beruntung mengenai itu 🙂

Pemandangan ke Sarasah Donat

Sejak tinggal di Sumatera Barat, aku semakin doyan ke alam, jadi kalau di ajak ke alam rasanya sulit menolaknya. Padahal baru saja dari Ngalau 1000,eh di bulan yang sama main ke Sarasah Donat.

Sarasah Donat ini dari Payakumbuh tidak terlalu jauh, hanya sekitar 30-45 menit dengan motor. Kami berangkat dari Payakumbuh jam 13.30 bersama Markus, Dian, Isna, David dan Narinsyah. Belajar dari pengalaman trekking ke Ngalau 1000, kali ini kami mempersiapkan bekal makanan meski aku sudah makan siang sebelumnya. Kami membeli bekal kami di Tanjung Pati, dekat Harau. Menariknya harga nasi bungkus itu murah di Tanjung Pati yaitu Rp7000 saja dan rasanya enak.

Kami sampai di Sarasah Donat sekitar jam 14:30, agak sore memang kedatangan kami. Maklum yang menjadi guide kami harus ikut pembekalan KKN dulu, jadinya baru berangkat jam 2 siang padahal rencananya jam 11 siang 😀

Harau

Untungnya akses menuju ke Sarasah Donat cukup mudah dan dekat, jadi meski sudah sore masih sempat untuk trekking. Yang paling aku suka itu ketika ke Sarasah Donat tidak perlu membayar alias gratis. Lokasi dari Sarasah Donat ini tidak sampai ke Lembah Harau tapi masih di Harau, masuk ke dalam Gang dengan petunjuk seadanya dengan tulisan “Sarasah Donat”. Dari Gang ke dalam air terjun itu sekitar 10 menit dengan sepeda motor kemudian saat di tempat parkir, kami langsung melihat air terjun.

Saat kedatangan kami, kami melihat beberapa anak kecil mandi di air terjun. Aku iri melihat anak kecil ini, hidupnya tanpa beban!

“Kak kita bisa lanjut?”, tanya Markus kepadaku 
yang terpana melihat tingkah laku bocah yang mandi di air terjun
Sarasah Donat

Ternyata air terjun itu tidak hanya sampai disitu, untuk menuju Sarasah Donat itu perlu trekking lagi, jadi kalau mau melihat air terjun  mengalir di sebuah Goa, kami harus melalui tangga dari besi. Disinilah letak tantangan menuju ke Sarasah Donat. Tangga yang kami naiki itu vertical dan lumayan membuat tangan gemetar saat menaikinya. Apalagi diriku yang takut ketinggian, untungnya aku pernah melawan rasa takut saat di Purwakarta ketika naik Gunung via verata. Henny juga ternyata takut ketinggian, begitu juga Narisnyah. Isna, David, Markus dan Dian mah santai saat trekking. Maklum mereka anak petualang sih 🙂

Pas naik tangga besi untuk menuju ke Sarasah Donat ini hatiku tetap gemetar apalagi pas naik tangga, asli jantung rasanya deg-degan!!

Trekking ke Sarasah Donat memang tidak sejauh saat ke Ngalau 1000, tapi ternyata cukup menguras keringat karena harus melalui tangga vertical dari besi, itulah yang membuat treknya susah. Untuk jarak dari air terjun di parkiran ke air terjun yang mengalir di Goa itu kami perlu jalan kaki lagi sekitar 30-45 menit. Kami juga sempat nyasar mengenai arah ke Sarasah Donat karena tempatnya itu melewati kebun, dedaunan liar serta jalan sempit yang sebelahnya itu merupakan jurang. Markus sempat salah jalan, udah benar jalannya ragu eh terus kembali ke jalan itu lagi. Isna dan Markus pernah ke Sarasah Donat ini di tahun 2017.

Menariknya trekking ke Sarasah Donat ini menyenangkan karena udaranya bersih.  Saat trekking ke Sarasah Donat, aku sempat heran dengan Isna, Narinsyah, Dian, David dan Markus yang memakai sandal, sedangkan aku dan Henny memakai sepatu, ternyata trekkingnya memang melewati air dan jalanan yang lumayan becek makanya mereka memakai sandal agar praktis. Kalau ke Sarasah Donat sebaiknya memakai sandal gunung agar lebih fleksibel. Aku yang memakai sepatu harus buka pasang sepatu ketika melewati aliran air. Next time kalau ke Sarasahg Donat aku mau memakai sandal gunung saja 🙂

Sarasah Donat

Sarasah Donat ini berada di sebuah Goa yang Goa ini terdiri dari bebatuan besar. Kemudian di tengah bebatuan ini ada lubang yang mengalir air. Sampai di Sarasah Donat ini kami langsung duduk di pasir dan makan sore. Dian dan Markus yang niat banget, mereka berdua ini manjat ke atas. Kalau kami malah asik piknik 😀

Sayangnya pas melihat batu di Sarasah Donat ini sudah dicoret-coret, disini aku merasa sedih ketika tangan nakal merusak alam. Coretan ini merusakan kealamian bebatuan di Sarasah Donat. Jadi buat pembaca, tolong kalau mengunjungi alam “tangannya di kondisikan” agar tetap menjaga ke alamian alam.

Kami hanya 1 jam saja di Sarsah Donat lalu kami pulang. Tidak banyak yang kami dilakukan di Sarasah Donat tapi airnya jernih dan bersih, kalau membawa baju ganti aku ingin sekali mandi di Sarasah Donat. Terus saat menuju ke Sarasah Donat ini aku terbayang akan perjalanan ke Laos, jauh-jauh ke Luang Prabang eh cantiknya juga sama seperti di Harau.

Tips ke Sarasah Donat ini sebaiknya trekking dari pagi hari, jangan seperti kami yang datangnya sore, kalau datang lebih pagi pasti lebih cakep pemandangannya. Dan anehnya pas kami kesana tidak begitu ada orang, hanya kami saja yang main di air terjun ini.

Sarasah Donat

Oh ya yang paling aku suka dari air terjun ini saat basah-basahan di air terjunnya, rasanya keringat yang berjalan 45 menit tadi terbayar. Debit airnya juga epik dibalut dengan pepohonan!

Jam 5 sore kami meninggalkan Sarasah Donat dan melalui tangga besi vertical itu. Ini merupakan piknik dan trekking tercepat  namun rasanya seru!

“Win, aku lagi mikir gimana turunnya ini”, kata Henny
Trekking ke Sarasah Donat

Benar saja,  saat turun jauh lebih sulit daripada saat naik. Namun saat pulang jauh terasa lebih dekat dan pas melewati tangga kamipun ngesot hingga sampai ke parkiran.  Kecuali Dian yang melewati tangga vertical itu santai persis seperti makan kerupuk. Ya ialah dia kan Bolang, jadi yang seperti itu sudah mainannya.

Trekking ke Sarasah Donat

Hujan pun turun saat kami sampai ke parkiran dan kami harus melewati air hujan. Sungguh suatu perjalanan yang menyenangkan ke Air Terjun Donat, air terjun yang mirip Donat!

PS: Kalau liburan ke Sumatera Barat, jangan lupa kontak aku ya 🙂

Salam

Winny

Trekking ke Ngalau 1000 Sumatera Barat


Hello World!

Lima Puluh Kota, April 2019

Aku tahu tentang Ngalau 1000 di Lima Puluh Kota, Sumatera Barat dari Bara, salah satu Travel Blogger di Indonesia. Sayangnya waktu itu karena ada kendala jadi tidak ikut bergabung dengan mereka. Kesampaian trekking ke Ngalau 1000 baru di April ini itupun bersama teman dan dua mahasiswa. Awalnya aku mengira kalau Ngalau 1000 itu adalah Ngalau di Payakumbuh ternyata berbeda, Ngalau 1000 itu berada di Harau, salah satu wisata andalan di Sumatera Barat tepatnya di Lima Puluh Kota.

Ngalau dalam bahasa Minang berarti Goa, artinya ada jumlah 1000 gua. Aku tidak pernah menyangka wisata Goa di Harau, dan menariknya itu ada di Lembah Harau.

Aku ke Ngalau 1000 bersama Firman, Yudhi dan Henny. Kami berangkat dari Payakumbuh jam 9 pagi dengan dua sepeda motor. Kami sempat sarapan dulu baru berangkat ke Harau. Sewaktu mengajak Firman dan Yudhi ke Ngalau 1000 juga iseng karena tujuan kami ke air terjun tapi malahan beneran ke Ngalau 1000. Yudhi dan Firman yang tahu tourguide tapi waktu itu hanya niat bertanya saja.

Untuk ke Ngalau 1000 maka harus masuk ke Harau dengan biaya masuk Rp5.000/orang kemudian sampai ke ujung Harau. Aku tidak pernah bosan dengan pemandangan Harau, selalu apik!

Kami tiba di Pesanggarahan jam 10 siang. Tourguide kami ialah Pak Uwan, yang sudah lama jadi tourguide ke Ngalau 1000. Rumah Pak Wan berada di paling ujung, tak jauh dari tempat pendakian Ngalau 1000. Kami sempat minum teh sambil memandangi persawahan dan pemandangan Harau, serta sesekali belajar bermain seruling. Firman dan Pak Uwan yang memainkan seruling.

Kami baru trekking ke Ngalau 1000 jam 10.30.

"Kita akan kembali jam 3 sore, trekking sekitar 5 jam", kata Pak Uwan

Benar saja, jam 10.30 kami sudah memulai trekking kami. Sayangnya karena keasikan  mencari jalan kami berempat lupa membeli bekal untuk trekking di Ngalau 1000. Untungnya kami sudah membeli cemilan saat trekking.

Jalur trekking yang kami mulai sungguh luar biasa. Jalur yang kami daki itu vertical dan tidak ada jalan melandai. Aku, Henny, dan Firman paling sering berhenti, saking tidak terbiasanya mendaki. Aku paling salut dengan Pak Uwan, usianya 60 tahun tapi fisiknya sangat kuat. Beliau sudah menjadi tourguide dari usia muda, bahkan yang sering ke Ngalau 1000 itu orang asing, jarang wisatawan lokal. Di rumah Pak Uwan sendiri banyak photonya dengan wisatawan asing dan yang paling sering ialah turis dari Perancis.

Saat trekking kebetulan ada rombongan 3 bule yang berasal dari Belanda, dan Swedia. Kami lebih dulu trekking tapi mereka dapat mengejar kami. Bahkan mereka lebih duluan sampai dari kami. Rute ke Ngalau 1000 itu berat, apalagi yang jarang naik Gunung, padahal ini bukan Gunung hanya Bukit saja. Tapi naik sedikit sudah ngos-ngosan. Henny dan Firman saat mendaki badannya tidak fit, bahkan Firman sampai muntah 2x. Kami kurang persiapan, untuk itu jika ingin mendaki maka harus terlebih dahulu banyak istirahat.

Aku sendiri saat trekking ke Ngalau 1000 itu jatuh sampai 2x karena licin. Tapi pemandangan di Ngalau 1000 itu sungguh indah. Trekking terpayah saat 3 jam pertama, setelah sampai puncak jalanannya landai. Pemandangan di puncak Ngalau begitu indah, dan terbayar oleh capeknya kami melakukan trekking. Menariknya saat di hutan kami melihat tanaman Kantong semar. Betapa senangnya melihat kantong semar di hutan. Bahkan kami juga dikasih tahu Pak Uwan tumbuhan yang bisa menyembuhkan segala obat, sayang kami tidak tahu nama tanamannya dan benar saja saat aku rebus terus air rebusan diminum, pahitnya minta ampun.

https://www.instagram.com/p/Bv4NHYwHDY2ZkafD3q1oIPu-x7uAnSeRoOtiYg0/

Sepanjang menuju ke puncak kami dimanjakan dengan pemandangan alam yang luar biasa. Aku sangat suka dengan udara di hutan, segar. Nah sama seperti namanya Ngalau 1000 itu memiliki lebih dari 1000 Goa yang terbuat dari batu. Bebatuan ini membentuk Goa dan di Goa ini lah kami beristirahat. Goa ini bisa dijadikan tempat berkemah dan udara dalam Goa itu sejuk. Kami sempat makan di Goa dan bertemu dengan turis asing.

Saat di Goa itu ada akar pohon yang umurnya berkisar 200 tahun dan akar lain yang menuju ke batu. Ketiga bule wanita ini sempat manjat dan melakukan atraksi sampai Firman mengatakan “ndak talok”, artinya tak terlawan.

Dalam trekking ini juga kami dihadiahi oleh Uwak Wan sebuah gelang dari akar pohon. Gelangnya unik dan bahkan turis asing yang bukan dalam rombongan kami juga diberikan gelang oleh Pak Uwan.

Dan yang lucu saat trekking Pak Uwan selalu mentakan “15 menit lagi sampai” yang pada kenyataannya itu kami sampai 1 jam kemudian 🙂

Ngalau 1000, Pasanggrahan

Untuk jalur turun lebih mudah, kami hanya butuh waktu 45 menit saja. Tapi kaki kami cukup sakit dalam menahan badan kami. Tapi meski badan lelah, hati senang apalagi pas sampai puncak pemandangan yang tiba-tiba ada signal Handhpone, kami bisa melihat Gunung Singgalang. Sayang kami datangnya tidak pagi, kalau pagi mungkin Gunung Merapi juga bisa kami lihat. Pemandangan di atas itu menawan, lembah Harau yang menawan serta flora yang bervariatif. Meski aku bukan fans trekking tapi untuk kedua kali ke Ngalau 1000 aku mau lagi.

Saat turun kami terkena hujan dan jam 4 sore kami sudah sampai si rumah Uwak Wan. Trekking kami begitu melelahkan tapi seru, seru bermain di alam!

Trekking to ngalau 1000

Salam

Winny