Keliling PARIS


Fighting has been enjoined upon you while it is hateful to you. But perhaps you hate a thing and it is good for you; and perhaps you love a thing and it is bad for you. And Allah Knows, while you know not.

AlBaqarah;216

Hello World!

Paris, 29 Maret 2017

"What else can we do in Paris?", tanyaku kepada Thimo
"Paris has plenty tourists attraction, you give it to me", jawabnya

Ternyata benar sebagai tuan rumah di Negerinya, Thimo tahu betul tentang seluk beluk Paris meski dia bukanlah berasal dari Paris. Buktinya meski aku hanya 2 hari di Paris, Perancis sewaktu trip 1 bulan di Eropa sendirian, aku dapat mengelilingi Kota Paris, itu semua berkatnya. Mulai dari bangunan yang mirip Taj Mahal ala Paris hingga ke Eiffel. Setelah kami berjalan kaki mengitari Eiffel dari ujung ke ujung, maka kami melanjutkan perjalanan dengan Metro menuju ST. Paul.

Baca juga tentang pengalaman di Menara Eiffel

Peta Metro di Paris

Dari St Paul kami mencati toko teh yang merupakan tempat favorite Thimo. Kata dia sih “memiliki teh dari seluruh dunia”. Sebagai penyuka teh, tentu aku sangat antusias dibawa ke toko teh di Paris. Nah sesampai di Toko itu hal pertama yang aku lakukan adalah menanyakan jika ada teh dari Indonesia.

"Do you have tea from Indonesia?", tanyaku kepada pemilik toko teh

Memang kalau pas jalan-jalan di Luar NEGERI sono entah kenapa jadi jiwa Nasionalismenya tinggi. Padahal ya pas di toko teh cuma nanya doang alias basa-basi. “Beli?, kagak”!

"Yes we have from Java, kata pemilik toko"

Langsung aku kegirangan melihat teh dari Indonesia itu. Sampai si Thimo tertawa melihat tingkahku

"Well, you are in Paris, but you are looking for tea from Indonesia?"
tanyanya tak percaya

Setelah itu barulah dia menunjukkan teh kesuakaan dia. Walau aku lupa sih teh darimana yang dia suka. Yang pasti seingatku teh di toko itu lumayan lengkap bahkan ada juga dari India tepatnya teh darjeeling. Namun karena ada dari Indonesia aku anggap teh toko di Paris ini kece. Sisi lainnya aku jadi tahu tempat kesukaannya membeli teh di Paris. Disini aku merasa beruntung jadi orang Indonesia karena begitu gampangnya menemukan teh, bahkan di warung sebelah rumah aja tinggal sebut merek langsung deh dapat teh bahkan sehari-hari biasa minum teh manis, teh tawar. Kalau di Paris harus nyari ke “toko serba teh”, kan ribet ya?

Toko Teh di Paris

Dari toko teh bernama “Mariage Freres”, yang terletak di Mariage Frères, 30 Rue du Bourg Tibourg, 75004 Paris, France, kami naik Metro lagi menuju Palais Garnier – Opera National de Paris. Sayangnya kami melihat Opera Paris dari jauh saja sambil melihat nama-nama yang ada di bangunan. Padahal Operas Paris ini merupakan bangunan yang ada sejak abad ke 19 dan dibangun sekitar tahun 1669 dan dibangun oleh Charles Garnier. Bangunanya sendiri menurutku unik dengan hiasan emas di ujungnya serta kata di bangunannya itu loh “ACADEMIE NATIONALE DE MUSIQUE”, jadi gregetan pengen masuk.

Namun karena diuber waktu serta kondisi keuangan yang ala kadarnya, jadi mimpi menonton Opera kapan-kapan sajalah. Habis mahal cin, harga masuk ke Opera House Paris itu 15.5 Euro sih! Disini hayati sedih, untung hayati tidak pengagum musik kalau tidak bisa sakit hati gegara gagal nonton konser opera.

Di depan Opera House Paris

Setelah puas melihat opera dari kejauhan, sama kayak Cinta pertama yang tidak bisa dimiliki, akhirnya aku diajak lagi mengunjungi wisata Paris lainnya. Dalam hatiku ya “banyak juga wisata Paris ini”.

“Winny, lets go to see Tomb of Napoleon”, ajak Thimo

Karena memang aku anaknya ngikut saja akhirnya aku iyain aja, kalaupun dibawa nyasar kagak tahu.  Eh ternyata kuburan Napoleon itu ada di Museum Army.

Musée de L’Armée atau Army Museum – Tomb of Napoleon in Paris didirikan pada tahun 1905. Awalnya sebagai rumah sakit dan tempat tentara penyandang cacat yang dibangun oleh Louis XIV. Hal menarik dari Musée de L’Armée atau Army Museum – Tomb of Napoleon in Paris adalah Makam Napoléon di Museum ini. Napoléon meninggal tahun1821, di Pulau St Helena sampai Raja Louis-Philippe memerintahkan mengembalikan jenazahnya ke Paris tanggal 15 Oktober tahun 1840. Tapi makam Napoleon baru ada sejak tanggal 2 April 1861. 

Untuk masuk harga tiket masuk ke dalam Museum Army harus membayar 11 Euro, namun karena kami datangnya sore sehingga museumnya sudah tutup maka kami gagallah mengeluarkan uang 11 Euro.  Arsitek dari Museum ini sangat bagus serta aku suka sekali dengan lapangannya yang luas bahkan sampai-sampai museum ini memiliki penjagaan yang lumayan ketat, seketat hati abang itu.

Meski tidak jadi masuk ke dalam dan gak mau rugi, akhirnya photo dari luar saja cukup membahagiakanku 😀

Khusus Musée de L’Armée atau Army Museum aku sangat tertarik masuk karena penasaran dengan makam Napoléon  namun sayang aku belum berjodoh dengan Napoléon  hihi 😀

Notre Dome

Dari Museum Army Paris, akhirnya perjalanan kami lanjutkan menuju ke Notre Dome, Paris.  Tentu saja lagi-lagi dengan Metro di Paris. Maklum sudah beli Metro pass selama 2 hari sehingga harus dimaksimalkan penggunannya. Kan lumayan harga Metro pass 2 hari 18.5 Euro!

Kalau penjelasan Thimo katanya Notre Dome ini adalah Pulau buatan namun entahlah itu benar atau tidak. Yang pasti aku sudah mengunjungi salah satu contoh arsitek gothic Perancis terbaik “Notre Dame de Paris”. Notre Dome Paris berada di sebelah timur Île de la Cité di Paris, Perancis.

Karena kedatangan kami pas sore hari di Notre Dome, Paris sehingga tidak bisa masuk ke dalam. Kami hanya melihat dari luar saja bersama turis lainnya. Nah menariknya pas di depan Notre Dome kami melihat grup musik memainkan alat musik dengan piawai. Saking piawainya menjadi pusat perhatian turis. Kami kan heran “kok banyak kali orang berkumpul dengan musik”, jadi kami penasaranlah apa yang dilihat turis itu. Kok rame-rame? Nah ternyata gegara abang-abang dan kakak-kaka yang main musik di depan Katedra.

"Winny, do you know how to distinguish them and musician in Metro?" tanyanya

"Well, they are good selecting place in tourist area", jawabku
"Nope, they play well and with their heart", jawabnya

Disinilah aku melihat sisi lain dari Paris yang katanya KOTA FASHION, KOTA GLAMOUR namun tetap saja masalah metropolitan adalah sama dimanapun berada “metropolitan tetaplah metropolitan”.

Banyak imigran di Ibukota Negara demi mengais rezeki!

Pengamen juga ada bok di Paris, namun pengamennya tidak seperti di Jakarta kalau tidak dikasih uang bisa BETE, disini mah,  “main musik yah main musik aja “, kalau ada yang ngasih syukur, gak ada juga gak apa. Tidak hanya di depan Notre Dome saja aku melihat pengamen, di Metro juga banyak pengamen. Bedanya di Metro sedikit yang memberikan uang, sementara di tempat turis seperti Notre Dome banyak turis memberikan yang kepada musisi jalanan Paris mulai dari 1 Euro, 5 Euro bahkan ada yang ngasih 20 Euro. Sementara di Metro pas aku lirik uang di sekitarnya paling recehan Euro. Kasihan sih melihatnya, ternyata hidup di PARIS itu keras!

Sisi lain di Paris yang aku lihat selain pengamen adalah para penjual buah di Metro yang ketika polisi datang langsung berlari sambil membawa barang dagangannya terus pas polisinya tidak ada kembali lagi berjualan. Ini mengingatkanku akan satpol PP yang main kucing-kucingan dengan pedagang asongan. Ironisnya dari beberapa pedagang di stasiun Metro beberapa dari mereka meninggalkan daganganya yang penting dia tidak kena RAZIA. “MEMANG HIDUP ITU PERJUANGAN! UNTUK ITU SERING-SERINGLAH BERSYUKUR”

Lagi shooting di dekat Sungai Seine

Paris ini ibarat pembelajaran sekaligus mimpi bagiku. Pembelajaran bahwa jangan selalu menganggap kalau EROPA bakalan tajir semua, itu salah besar. Karena di Paris ada juga pengamen!

Nah kenapa aku mengatakan Paris adalah mimpi bagiku karena aku dapat melihat Sungai Seine, terutama ketika pulang dari Notre Dome Paris. Memang impianku adalah berjalan mengitari Sungai Seine.

Dulu pernah buat status seperti ini “waiting for me in Seine River“!!

Alhamdullilah ternyata kata-kata itu adalah DOA dan akhirnya gadis kampung sepertiku bisa juga menginjakkan kaki di Paris dan melewati Seine River bahkan sampai ke Thames River hingga ke Danube.

Selain melewati Sungai Seine seperti impianku, hal menariknya aku temukan di Paris ketika pas jalan melewati jembatan, tak jauh dari Notre DOME eh malah melihat ada orang shooting. Alhasil aku pura-pura lewat dong manatahu ikut kena shoot hahha 😀

Niat ngartis banget ya? Disini aku kelihatan norak banget dan kampungan hehehe “D

Padahal ocehanku pada Thimo waktu itu “does it posibble to see Chris Evan, Captain America shooting in Paris?”, harapku. Eh malah ketemu tante berambut pirang yang shooting.

Tapi lumayanlah melihat orang shooting di Paris sampai-sampai aku kemarok pengen masuk shooting juga.

Kami hampir 30 menit juga melihat orang shooting lalu memutuskan kembali ke Menara Eiffel karena aku masih penasaran dengan Paris di malam hari dari Menara Eiffel.

Masjid di Paris

Oh ya satu lagi di Paris itu ada Masjid juga loh dengan Naik Metro ke La Grande Mosque de Paris. Lumayan banyak tempat makanan halal di area La Grande Mosque de Paris sehingga tidak usah khawatir mencari makanan halal di Paris.  Buatku sendiri La Grande Mosque de Paris adalah OASE di Paris.

Nah kalau dipikir-pikir 1 Hari di Paris ternyata aku bisa menjelajah banyak tempat sekaligius.

Catatan tentang Paris

1. Harga turis pass Paris untuk 2 hari buat Dewasa (2 DAYS PARIS ADULT PASS) €135, remaja €83, anak-anak €46.

2. Harga turis pass Paris untuk 3 hari buat Dewasa (3 DAYS PARIS ADULT PASS) €169, remaja €99, anak-anak €52.

3. Harga turis pass Paris untuk 4 hari buat Dewasa (4 DAYS PARIS ADULT PASS) €199, remaja €109, anak-anak €58.

4.Harga turis pass Paris untuk 6 hari buat Dewasa (6 DAYS PARIS ADULT PASS) €239, remaja €129, anak-anak €75.

5. Turis Paris Pass adalah semacam tiket untuk turis termasuk ke museum, free entry to Top Paris attraction include bus tour. Karena jika ingin lama di Paris ingin masuk semua ke wisatanya akan lebih murah beli “turis pass”. Namun karena aku turis begpacker ke Eropa aja modal 10 juta sebulan, jadi aku kagak beli turis pass adanya pengen beli abang pas aja tapi kagak dapat-dapat,  😀

Salam

Winny

Iklan

Cerita di Eiffel Tower, Paris Perancis


So many of our dreams at first seem impossible, then they seem improbable, and then, when we summon the will, they soon become inevitable.”
By Christopher Reeve

Hello World

Paris, 29 Maret 2017

Masih  segar diingatanku ketika pertama kali melihat Tokyo Tower saat berada di Tokyo, Jepang 8 Maret 2015 silam. Kala itu dalam hatiku “Yah ALLAH hari ini aku melihat Tokyo Tower yang mirip dengan Eiffel Tower, dan semoga suatu saat nanti bisa melihat Eiffel Tower juga”.

Keinginan untuk ke Menara Eiffel di Paris, Perancis lantaran penasaran dengan bentuknya dan design serta rangkanya yang sebelas dua belas. Tapi karena baru melihat Tokyo Tower maka kala itu aku berandai suatu saat bisa ke Paris agar bisa membandingkan langsung kedua menara itu.

Dan Alhamdullilah impian itu terwujud 2 tahun kemudian untuk mengunjungi Menara Eiffel di Paris, Perancis.

Baca juga perjalanan Trip Tokyo Tower

Aku di Tokyo Tower Jepang

Saat di Paris, memang tidak akan afdol rasanya kalau tidak mengunjungi ‘EIFFEL TOWER”, landmarknya KOTA PARIS. Kan biasa kalau tidak ke icon nya, tidak berasa berada di Kotanya. Kalau istilahnya “no pic, hoax”.

Namun meski demikian ekspektasiku tidaklah ketinggian mengenai MENARA EIFFEL. Aku hanya penasaran membandingkannya dengan TOKYO TOWER, apakah mirip Tokyo Tower dengan Eiffel Tower? Akhirnya pertanyaan diri sendiripun terjawab ketika sampai di Paris.

Aku mengunjungi Eiffel Tower di hari ketiga di Perancis. Bersama Thimo yang merupakan warga lokal Perancis menemaniku selama di Perancis bahkan dengan kebaikannya aku diajak ke wisata Paris dengan waktu singkat serta banyak tempat yang dikunjungi di Paris. Sampai-sampai ke tempat yang tidak masuk dalam daftar kunjunganku di Paris saja aku dibawa, kalau aku jalan sendirian di Paris, tidak mungkin kesana.

Baca juga perjalanan antimainstream di Paris

Setelah dari Avenue des Champs-Élysées (famous street in the world), kami pun naik Metro dari Opera Paris ke Restoran Jepang Rue St Anne untuk makan siang. Memang karena aku Muslim, Thimo sangat waspada untuk memastikan makanan yang aku makan itu halal. Setelah memutar beberapa restauran di area entah berantah yang  hanya Thimo saja tahu, akhirnya kami makan di restauran Jepang dengan menu shirashi+teriyaki seharga 24 Euro/2 orang. Setelah dari pagi keliling Paris maka istirahat sejenak untuk makan siang rasanya begitu menyenangkan. Barulah setelah kenyang kami melanjutkan mencari Metro terdekat menuju Metro Pyramid-Concorde-Metro Champs de Mars demi melakukan tour Eiffel. 

Tulip di Paris

Dari Metro Champs de Mars kami berjalan kaki ke arah Menara Eiffel. Dari kejauhan Menara Eiffel sudah terlihat lalu pas sampai di bawah Menara Eiffel yang menarik perhatianku adalah “TULIP”.

Hahhhh Tulip??

Iya Tulip, jadi aku pertama kali kegirangan itu bukan melihat Menara Eiffel namun Tulip dekat dengan Taman di bawah kaki Menara Eiffel.

Kok bisa malah tertarik dengan tulip bukan Menara Eiffel?

Jawabannya sederhana karena aku mengira kalau Tulip hanya ada di Belanda dan karena saat backpacker di Belanda aku tidak menemukan tulip karena aku malah mencari Kincir Angin BELANDA.

Padahal misi di Belanda itu ada 2 yaitu melihat kincir angin dan melihat tulip. Satu misi berhasil maka ada satu misi lagi yang tidak berhasil. Habis  kalau mau lihat tulip itu mesti bayar di Taman Keukenhof, Amsterdam. Jadi karena harus bayar akhirnya  aku tidak ke Taman Keukenhof. Habis dalam hati ‘yaelah bunga doang, mending ke TAMAN BUNGA CISARUA”(terus dilempar handuk hehehe”.

Nah kebayang kan kenapa pas nemun TULIP gratisan betapa bahagianya aku apalagi nemunya persis di bawah Menara Eiffel langsung deh wajahku seperti bocah kecil yang mendapatkan uang haha 😀

"Here we are, and this is EIFFEL TOWER, and what do you think?" 
kata Thimo dengan semangat

"So so, kataku 

Mendengar jawabanku langsung muka kecut di muka Thimo. Dari situ aku belajar bahwa jangan pernah sekali-kali mengatakan biasa saja mengenai Menara Eiffel kepada orang lokal Perancis. Karena mereka memiliki jiwa Nasionalisme tinggi.

Do not you think its incredible? tanya Thimo lagi

Just imagine how they built it at that time, lanjutnya

Terus akupun berpikir mengenai pernyataan Thimo serta setuju dengan pendapatnya. Aku malah berpikir kira-kira berapa ya jumlah besi yang dibutuhkan serta jumlah orang untuk membangun menara Eiffel dengan keterbatasan peralatan dimasanya? Disini aku merasa bahwa betapa orang-orang zaman dahulu betapa pintarnya. Karena bangunan setinggi ini dibangun tahun 1889 merupakan sesuatu yang patut di acungi jempol.

Eiffel Tower, Paris

Saat berbicara dengan Thimo mengenai Eiffel, kami berjalan kakimencari tempat pengambilan photo Eiffel terbaik. Waktu itu kami datang siang hari dan cuaca lumayan terik meski suhunya tetap dingin buatku. Seperti biasa di tempat-tempat kesukaan turis, maka Menara Eiffel juga banyak sekali turis sehingga mau berjalan sejauh apapun “manusia” dimana-mana. Mereka rata-rata ingin berphoto dengan latar belakang Menara Eiffel. Jadi sabar-sabarlah mencari titik pengambilan photo MENARA EIFFEL agar tidak ada orangnya.

Beruntungnya aku pergi dengan Thimo karena sebagai warga lokal dia tahu persis dimana titik pengambilan photo Menara Eiffel terbaik. Sisi terbaik untuk melihat Eiffel berada di sebuah Taman yang lumayan agak jauh karena jarang ada turis kesana. Tentu saja tempat melihat sisi Menara Eiffel aku tahunya dari Thimo.

Itulah sebenarnya manfaat kita mengenal warga lokal dan memiliki banyak teman di manapun, karena percayalah orang-orang inilah yang akan membantu kita. Serta selalulah berbuat baik kepada orang lain karena mungkin bukan orang itu yang akan membalas kebaikan kita namun bisa saja kebaikan itu akan dibalas dari tangan orang lain.

Jadi berbuat baiklah 🙂

Sayangnya kami tidak masuk ke dalam Menara Eiffel karena bayar dan memang aku anti bayar. Aku cukup bersyukur sudah berada persis di bawah kaki Eiffel mulai dari jarak paling dekat hingga paling jauh sekali. Dan memang misi Menara Eiffel bukanlan menyentuhnya melainkan melihatnya saja. Cukup melihat dari luar saja membuatku bahagia kok 🙂

Lucunya walau awalnya aku mengatakan Menara Eiffel itu biasa saja namun ujung-ujungnya aku minta kembali ke Menara Eiffel pada malam harinya karena belum puas berlama-lama di Menara Eiffel, Paris. Disini lah aku dibully abis karena mengatakan “biasa” saja eh padahal “balik lagi ke Eiffel”.

Aku di Perancis

Eiffel Tower dalam bahasa Perancis adalah Tour Eiffel, /tuʀ ɛfɛl adalah ikon global Perancis dan menari terkenal di dunia yang dibangun diarea Champ de Mars di tepi Sungai Seine, Paris. Menara Eiffel ini dibuka pertama kali tanggal 31 Maret 1889.  

Padahal Eiffel Tower pada mulanya dibangun untuk menjadi bagian dari pameran mahakarya dunia l’Exposition Universelle yang bertepatan dengan 100 tahun Revolusi Perancis. Lama pengerjaan Menara Eiffel 2 tahun dari tahun 1887 yang namanya sendiri dari nama arsiteknya “Gustave Alexandre Eiffel”. Walau Menara Eiffel bukanlah rancangannya si Eiffel melainkan rancangan anak buahnya bernama Maurice Koechlin dan Emile Nouguier. Yah mirip kaya pribahasa “kerbau punya susu, sapi punya nama”.

Menara Eiffel bahkan sampai tahun 1930 merupakan menara tertinggi di dunia. Menara memiliki berat 15 ribu ton, dengan 3 lantai serta memiliki ketinggian 312,27 meter, ditambah tinggi antena menjadi 324 meter. Lantai pertama pada ketinggian 57 meter, lantai kedua 115 meter, dan lantai ketiga 276 meter.

Oh wow, untuk bangunan yang ada sejak tahun 1889 sungguh keberadaan menara ini memukau!

Menara Eiffel

Jadwal masuk ke Menara Eiffel

Jam 9:30-23:00

Setiap Jumat dan Sabtu di bulan September sampai jam 00:00

Tiket ke Menara Eiffel

Kalau dari luar saja gratis namun jika ingin masuk dan naik ke Menara khususnya Top Eiffel maka bayar.

Harga masuk ke Eiffel Tower dengan lift sampai lantai 2

-Untuk dewasa 11 Euro

-Wisatawan umur 12-24 tahun 8,5 Euro

-Wisatawan umur 4-11 tahun 4 Euro

Harga masuk ke Eiffel Tower dengan naik tangga

-Untuk dewasa 7 Euro

-Wisatawan umur 12-24 tahun 5 Euro

-Wisatawan umur 4-11 tahun 3 Euro

Harga untuk naik ke Top Eiffel Tower

-Dewasa 17 Euro

-Wisatawan umur 12-24 tahun 14,5 Euro

-Wisatawan umur 4-11 tahun 8,5 Euro

Cara ke Eiffel Tower

1. Dengan Metro

-M9 turun di Trocadéro dan jalan kaki 5 menit

-M8 turun di École militaire jalan kaki 5 menit

-M6 turun di Bir-Hakeim jalan kaki 3 menit

2. Dengan RER

Turun di Champs de mars jalan kaki 1 menit

3. Dengan Perahu

Turun di Eiffel Tower dengan perahu via Seine

4. Dengan Sepeda

5. Dengan mobil

Cara ke Eiffel (Source: Toureiffel.paris website)

Alamat Eiffel Tower

Champ de Mars,

5 Avenue Anatole France,

75007 Paris, France

Baca juga perjalanan lengkap di Eropa

Salam

Winny

Menelusuri Jalanan Terkenal di Dunia, Avenue des Champs-Élysées, Paris


Keep Going. Your hardest times often lead to the greatest moments of your life. Keep going. Tough situations build strong people in the end.

By Roy T. Bennett

Aku di Avenue des Champs-Élysées

Hello World

Paris, Maret 2017

Beruntung!

Aku yang tidak tahu jalanan di Paris beruntung karena Thimo menemaniku keliling wisata Paris. Padahal kalau berbicara Paris aku tahunya Eiffel atau Arch de triomphe. Lucunya aku ingin sekali ke bangunan simpang lima di Kediri yang mirip Arch de Triomphe, PARIS, namun malah ke Arch de triomphe beneran.

Alhamdulillah rezeki anak soleh 🙂

Metro Paris

Waktu masih jam 9 pagi ketika kami meninggalkan Basilique du Sacré-Cœur, kemudian naik Metro ke Porte Maillot. Jauh-jauh kami ke Metro Porte Maillot untuk mencicipi makan pastry seharga coklat 1,2 Euro/bijinya. Nama toko yang kami cari itu bernama  A la Reine Astrid’s Paris sebuah took kecil yang berada di avenue de la Grande Armée (17th arr).

"You have to try it, its chocolate “caviar,” really delicious one, kata Thimo dengan semangat"

Sebagai penyuka cokelat, akhirnya ajakannya pasti aku iyakan. Toh aku sendiri juga backpackeran di Eropa ini. Dan jujur aku tak paham jalanan Paris, kalau bukan bantuan Thimo mungkin aku sudah nyasar-nyasar di Paris.

Paris

Keluar dari Metro kami berjalan ke sebuah toko kue. Toko kecil dengan beraneka ragam macam kue dan cokelat. Kue-kue disusun rapi, dan sang penjaga toko membolehkanku mengicip kuenya. Apalagi ketika dia mengetahui aku dari Indonesia dan seorang diri melakukan trip di Eropa, seolah bersemangat menyambutku. Langsung deh aku ditawarin icip kue mungil-mungil padahal harga kuenya cukup fantastis buatku. Tapi karena gratisan nyoba tester kuenya, aku mah senang-senang aja. Lagian siapa sih turis yang ke Paris nyari kue? 

It’s me!

Kalau dipikir-pikir dengan harga 1 kue itu aku bisa makan pecal, nasi goreng di Indonesia. Disitu bathinku bergejolak saat melakukan perjalanan jauh, aku akan rindu dengan makanan Indonesia. Namun bagaimanapun juga aku tetap menikmati icip-icip kue cokelat di Paris, toh udah niat juga nyari tokonya yang jauh dari kata “turis”. Mungkin hanya orang lokal saja yang tahu tempat ini, kalau aku sendirian belum tentu kesini.

Thimo membeli 5 pastry dan yang paling aku suka yang rasa cokelat. Lucunya kami makan pastry itu berdiri di pinggir jalan. Untung lagi di Paris, jadi tidak kelihatan gembelnya 😀

Barulah setelah itu kami melanjutkan perjalan keliling Paris menuju Arc de Triomphe. Transportasi yang kami gunakan ialah Metro, karena kami sudah membeli Metro pass selama 2 hari artinya bebas menggunakan Metro selama 2 hari dan dipastikan lebih murah jika ingin keliling Paris.

Arc de Triomphe

Arc de Triomphe atau Arc de triomphe de l’Étoile merupakan salah satu monumen paling terkenal di Paris yang dibangun atas perintah Napoleon Bonaparte untuk menghormati jasa tentara kebesarannya yang berada di area Champs-Élysées.

Sewaktu aku sampai di Arc de Triomphe, pengunjung lumayan banyak. Tak heran karena arsiteknya yang unik serta sudah ada sejak zaman dahulu. Padahal hanyalah sebuah monument dan sekelilingnya jalanan biasa. Tapi begitu menarik perhatian. Bahkan untuk masuk lebih dekat harus bayar lagi. Karena aku adalah pejalan kere karena backpacker ke Eropa modal nekat dengan membawa uang 600 Euro untuk 1 bulan, akhirnya memandangi dan photo dari jauh dengan  Arc de Triomphe cukup membuatku bahagia kok.

Aku kan anaknya mudah bahagia 🙂

Avenue des Champs-Élysées
Winny, you follow me, I will show you famous street in the world, kata Thimo
What is the that?, tanyaku
Its, Avenue des Champs-Élysées, kata Thimo

Akhirnya aku mengikutinya menuju Avenue des Champs-Élysées, tak jauh dari Arc de Triomphe.

Benar saja pas sampai di Avenue des Champs-Élysées, toko branded berjajar bahkan ada sebuah show cabaret. Tapi beda ya kabaretnya bukan seperti yang ada di Thailand. Hampir aku penasaran dan membeli tiket, kapan lagi melihat show megah di jalanan megah. Namun aku ingat akan kondisi keuangan yang tipis. 

Sebenarnya menurutku jalanannya sih biasa saja, hanya saja Avenue des Champs-Élysées, ibarat surganya shopping.

Dalam hati “this is really Paris“.

Untung aku bukan anak yang doyan shopping, kalau tidak mak, aku akan khilap.

Avenue des Champs-Élysées merupakan Paris must-see terdiri dari restaurant hingga toko ternama yang berada diantara Place de la Concorde dan the Arc de Triomphe.

Kesan ketika menginjakkan kaki di avenue terkenal di dunia, merasa bak model tapi perasaanku saja sih. Habis orang Paris pakai baju biasa saja tapi kelihatan keren. Apalagi pakai baju yang wow ya?

Gak heran sih Kota fashion 🙂

Avenue des Champs-Élysées

Rincian Biaya Pengeluaran di Paris, 29 Maret 2017

08:00-09:00 Jalan kaki ke Basilique du Sacré-Cœur, kemudian naik Metro ke Porte Maillot untuk makan pastry coklat 1,2 Euro

09:00-20:00 Jalan keliling Paris mulai dari Arc de Triomphe, jalan ke Avenue des Champs-Élysées (famous street in the world), kemudian naik Metro dari Opera Paris ke Restoran Jepang Rue St Anne untuk makan siang seharga 24 Euro/2orang (makan shirashi+teriyaki), jalan ke Metro Pyramid-Concorde-Metro Champs de Mars kemudian tour Eiffel, jalan ke hotel des invalids kemudian ke Metro St. Paul untuk nyobain teh dari segala penjuru dunia kemudian ke Notre Dome. Makan kebab 5 Euro, mencoba es krim 4,6 Euro untuk ukuran regular di Latin distrik kemudian balik ke Eiffel lagi sampai malam. Sempat membeli postcard dan gantungan kunci Eiffel 3 Euro.

Tempat wisata Paris yang didatangi pada pada hari-6 di Eropa

Eiffel, Metro Dome, Arc de Triomphe, Avenue des Champs, Basilique du Sacré-Cœur

Biaya yang dikeluarkan di hari-6 di Eropa = 1,2 Euro + 5 Euro + 4,6 Euro + 3 Euro = 13,8 Euro

Salam

Winny

Bertemu Monalisa di Museum Louvre, Paris


Anyone who loves in the expectation of being loved in return is wasting their time. 

By Unknown

Hello World

Paris, Mare 2017

"You have to visit Louvre, Winny!
Yes its expensive but its a must!"

Begitulah saran Thimo mengenai apa yang harus aku kunjungi di Paris. Padahal dibenakku Paris itu tak jauh dari Menara Eiffel. Aku juga tidak tahu apa itu di dalam Louvre, yang aku tahu salah satu tempat yang paling banyak dan dibicarain oleh dunia di dunia perwordpresan adalah Louvre.

Belum lagi pengucapan bahasa Prancis dengan aksen sengaunya membuatku tidak bisa menangkap atau bahkan sekedar meniru kata Louvre dalam aksen Prancis.

Musee le Louvre

Untuk Thimo karena merupakan Guru maka masuk ke Museum Louvre adalah gratis sementara aku yang hanya turis biasa diperharuskan membayar €15 untuk tiket masuk ke dalam Museum Louvre.

You will not regret it, you could see Monalisa and Roman emphire there!
For €15 its worth at all!
Musée du Louvre

Memdengar Monalisa berada di Louvre membuatku ingin masuk ke dalam. Akhirnya mendengar saran Thimo maka Museun Louvre masuk ke dalam daftar wisata Paris yang aku kunjungi. Menurut Thimo untuk mengunjungi Museum Louvre diperlukan waktu seharian.

Kami berangkat jam 8 pagi dengan kereta Paris. Jangan ditanya bagaimana aku sampai ke Museum Louvre karena aku hanya mengikuti Thimo. Tapi seingatku untuk ke Museum Louvre turun di stasiun Louvre.

Louvre Museum

Dari luar museum Louvre, Paris seperti piramida dengan kaca tembus. Piramida kaca ini sebenarnya sudah sering saya lihat di berbagai photo orang. Namun saya tidak menyangka saya bisa mengunjungi Museum Louvre, museum dengan bergaya piramida kaca ala Prancis.

Sekitar jam 9 kami sudah sampai di depan Louvre dan turun ke bawah dengan eskalator. Sebelumnya kami harus melewati security untuk mengecek bawaan kami. Museum Louvre, Paris begitu mewahnya. Bak mall!

Lalu kami berjalan ke tempat pembelian tiket masuk Museum Louvre. Dan antrian masuk ke dalam Museum Louvre itu “panjang”!!! Bahkan sampai 1 jam aku menunggu antrian ke dalam Museum Louvre. Barulah setelah antrian panjang aku diberikan peta Museum Louvre dan tiket masuk.

Musée du Louvre
Musée du Louvre

Tempat pertama yang kami kunjungi adalah area peninggalan Yunani. Dimana patung-patung zaman dulu berjejer di Museum Louvre.

Sungguh luas museum ini dan aku heran bagaimana mereka bisa mengumpulkan berbagai koleksi berharga seperti itu. Kemudian dari area Patung kami ke tempat karya lukisan yang berisi lukisan dari berbagai peluksi terkenal. Lukisan-lukisan terpajang sepanjang koridor lalu ditengah koridor ada jalanan serta beberapa bangku buat pengunjung.

Lukisan-lukisannya pun berbagai macam bahkan kisah Isa ada di dalam lukisan.

Musée du Louvre, Paris, France

Awalnya aku begitu takjub dengan lukisan-lukisan yang tak hanya di dinding bahkan di atap museum.

Hingga akhirnya kami masuk ke dalam satu ruangan yang penuh dengan orang. Ternyata di ruangan tersebut adalah Lukisan Monalisa yang fenemonal serya dibelakangnya lukissn saat Jamuan Yesus.

Musée du Louvre, Paris, France

Pas melihat lukisan Monalisa yang ada dibenakku “buset Lukisan Monalisa kecil amat”!!!

Itupun untuk berphoto di depannya antriannya panjang. Lukisan Monalisa karya Leonardo da Vinci ini di taruh dalam satu kaca dengan pembatas. Pengunjung hanya boleh sampai pembatas kecuali ada izin khusus serta sudah dijaga ketat.

Ah siapa sangka aku bisa melihat senyum maut Monalisa beneran di Museum Louvre. Senyum kecut Monalisa biasanya hanya bisa aku lihat di TV atau gambar atau buku.

Well im just lucky!!
Musée du Louvre, Paris, France
Musée du Louvre, Paris, France
Monalisa
Louvre Museum, Paris

Dari lukisan Monalisa kami lalu melanjutkan ke ruangan pamer. Kali ini kami ke ruangan pamer yang berisi koleksi dari Mesir. Koleksi Mesir Museum Louvre cukup lengkap mulai dari peti mati Mesir hingga kepada Mumi beneran.

Musée du Louvre, Paris, France

Mengunjungi ruang pamer Mesir di Museum Louvre seperti berada di Negara Mesir. Aje gila belum juga ke Mesir tapi seolah udah di Mesir.

How come you guys got these collections? tanyaku dengan naif
These should belong to Egypt, lanjutku.
Well who collect them in the past? 
Musée du Louvre, Paris, France
Musée du Louvre, Paris, France
Louvre Museum, Paris

Louvre Museum, Paris

Tidak hanya koleksi Mesir bahkan koleksi peradaban islam juga ada. Mulai dari koleksi dari Shiraz hingga koleksi Alquran. Namun memang koleksi Islam tidak terlalu lengkap di Museum Louvre.

Musée du Louvre, Paris, France

Kami mengelilingu Museum Louvre sampai jam 5 sore sampai museum hendak tutup. Kalau tidak tutup mungkin aku masih betak keliling Museum Louvre yang menjadi salah satu museum terindah dan terlengkap yang pernah aku kunjungi dalam hidupku.

Tidak sia-sia sih menghabiskan €15 ke dalam Museum Louvre karena banyak kolkesi berharga dari era masa lampau masih ada di dalam museum Louvre.

Musée du Louvre, Paris, France
Louvre Museum, Paris
Louvre Museum, Paris
Louvre Museum, Paris

Bahkan Museum Louvre ini sudah aja sejak zamannya Isa loh. Dulu merupakan istana dan melihat sejarah Museum Louvre membuatku berdecak kagum. Hanya saja untuk bangunan ala Mesirnya itu memang baru saja dibuat.

Kalau yang sedang berada di Paria ada baiknya mengunjungi Museum Louvre, selain bisa bertemu Monalisanjuga bertemu Mummi beneran. Dan jangan lupa luangkan waktu seharian mengelilinginya.

Louvre Museum, Paris

Paris, 30 Maret 2017

08:00-09:00 Belanja di Franprix roti dan minuman 6,65 Euro

09:00-10:00 Naik METRO Ke de Louvre. Antri satu jam dan harga tiket masuk ke dalam de Louvre 15 Euro.

10:00-18:00 keliling Louvre seharian

18:00-20:00 Naik Metro ke La Grande Mosque de Paris kemudian nyari makan disekitar Masjid akhirnya makan kebab 20 Euro/2 orang

20:00-22:00 Balik ke penginapan

Tempat wisata Paris yang didatangi 

Museum de Louvre dan La Grande Mosque de Paris.

Total pengeluaran di Paris, Eropa = 6.65 Euro + 20 Euro + 15 Euro = 41,65 Euro

Salam

Winny

Pemandangan Indah di Paris dari Sacré-Cœur, Taj Mahal ala France


I’m a big believer that your life is basically a sum of all the choices you make. The better your choices, the better opportunity to lead a happy life

By Karen Salmansohn

 

Hello World!

Paris, Maret 2017

"We have a building similar to Taj Mahal in Paris", Winny!

Itulah kalimat antusias dari Thimo ketika menemaniku di Paris untuk mengunjungi wisata yang ada di Paris. Tempat yang ingin di tunjukkan di pagi hari bernama Sacré-Cœur Basilica sebuah Gereja Katolik Roma yang terletak di butte Montmartre, tempat tertinggi di Kota Paris. Melihat antusiasnya aku sangat penasaran seperti apa bangunan yang mirip dengan Taj Mahal. Jujur aku tidak pernah bayangkan ada tempat seperti Taj Mahal di Paris dan ini bukan Masjid seperti di India tapi Gereja.

Well, i will make advice if that similar to Taj Mahal or not, 
since i have been to Taj Mahal, kataku padanya

Pagi hari kami berjalan kaki dengan menaiki tangga yang lumayan menguras tenaga. Melihat suasana Paris di pagi hari merupakan hal baru bagiku. Karena aku tidak membayangkan aku bisa menginjakkan kaki di Eropa. Maklum imipian ke Eropa merupakan impian dari sejak kuliah. Memang benar ketika kita memiliki mimpi maka mimpi itu akan terwujud sepanjang berusaha dan percaya mimpi itu akan terwujud.  Aku juga cukup beruntung karena bertemu dengan orang-orang baik selama di Eropa. Untuk di Paris, Thimolah yang menjadi guide gratisan serta menemani menelusuri Negaranya, kalau tidak aku tidak bayangkan bagaimana berbicara dengan orang Perancis, mengingat aku tidak bisa berbahas Perancis.

Hal menarik lainnya menuju ke Sacré-Cœur Basilica aku melihat bunga indah yang mulai bersemi. Memang kedatanganku ke Paris kebetulan pas musim Semi, sehingga mengingatkanku perjalanan Jepang ketika musim semi. Dan di Paris juga banyak cherry bermekaran saat musim semi. Ah betapa menyenangkan melakukan perjalanan pelarian dari rutinitas, sesekali aku mencubit pipi sendiri dan mengatakan pada diri sendiri, “Winny, ini nyata dan tidak mimpi”.

Sesampai di Sacré-Cœur Basilica, ternyata memang bentuknya sepintas mirip dengan Taj Mahal walau tidak seperti Taj Mahal total.

“Hanya bentuknya saja”

Siapa sangka Paris memiliki tempat indah, karena dalam bayanganku Paris tak jauh-juah dari Menara Eiffel atau Kota “Fashion” katanya. Namun Paris tak sekedar Eiffel, Paris itu memiliki tempat yang membuatku kaget. Bahkan dari 12 Negara yang aku kunjungi selama 1 bulan di Eropa, Paris di Perancis telah mencuri hatiku. Suka dengan Kotanya serta penataannya yang rapi 🙂

Bersama Thimo kami antri untuk masuk kedalam Gereja. Pengamanannya cukup ketat dan barang bawaaan diperiksa oleh petugas yang mirip dengan Polisi Perancis itu. Hal ini wajar, karena masuk ke dalam Sacré-Cœur Basilica Paris tidak perlu membayar. Disinilah letak kekeranan di Perancis, rata-rata masuk ke dalam Gereja gratis berbeda dengan Inggris yang beberapa Gereja harus bayar terutama Gereja terkenal. Namun di Perancis masuk ke Museum itu bayar, sementara di Inggris kebanyakan museum itu gratis.

Di dalam Sacré-Cœur Basilica Paris, beberapa turis beribadah sehingga pengunjung harus menjaga ketenangan. Di dalam Gereja seperti gereja pada umumnya perbedaannya hanyalah interior di dalamnya dengan gambar Yesus di atasnya berbentuk lonjong. Gambar ini mengingatkanku akan Istanbul, “Hagia Sophia”. Tentu saja mozaiknya berbeda, dan entah kenapa aku malah mengingat mozaic di Hagia Sophia.

So, what do you think, is not it beautiful?, tanya Thimo kepadaku

Well, trust me its good, but Hagia Sophia is more wonderful, jawabku

Emang aku agak kurang ajar, padahal Thimo sudah semangat malah aku mengatakan perbandingan yang tak sama. Padahal dari sejarah Sacré-Cœur Basilica Paris sendiri lumayan menarik. Walau demikian dipastikan di dalam Sacré-Cœur Basilica Paris aku hanya bisa bertahan 5 menit saja. Padahal menunggu antrian masuk 30 menit padahal masih pagi hari.

Sacré-Cœur Basilica Paris

Keluar dari Sacré-Cœur Basilica Paris, pemandangan Paris di pagi hari sungguh “menghipnotis”. Itulah pemandangan terindah yang pernah aku lihat selama di Eropa. Langsung membuatku bahagia melihat dedaunan dari pepohonan serta pemandangan Kota Paris dari atas.

Ah, aku jatuh cinta pada pemandangan KOTA PARIS dari Sacré-Cœur Basilica!

Bahkan tempat Sacré-Cœur Basilica Paris sering dijadikan tempat lokasi shooting di beberapa film. Di depannya bahkan ada sebuah patung yang kalau tidak seksama aku berpikir itu patung. Ternyata bukan, itu adalah seorang ibu yang dicat mukanya berwarna putih berdiri bak Patung. Terus aku teringat akan manusia patung di Kota Tua, ternyata di Paris ada juga.

Menikmati pagi hari dengan melihat Kota Paris dari atas merupakan awal yang menarik untuk menjelajah Paris. Yah aku senang, senang bisa memiliki kesempatan menikmati Pemandangan Indah di Paris dari Sacré-Cœur, Taj Mahal ala France 🙂

King Saint Louis Statue

Alamat The Sacre Coeur Basilica

35 Rue du Chevalier de la Barre,

75018 Paris, France

Jadwal Buka Sacré-Cœur

Setiap hari jam : 06:00 – 22:30

Salam

Winny

Fortification de Rocroi Kota Berbentuk Pentagon di France


Learn from yesterday, live for today, hope for tomorrow. The important thing is not to stop questioning

By Albert Einstein

Hello World!

France, March 2017

Take a look trees everywhere, Winny!

Begitulah kata Thimo kepadaku ketika mengendarai mobilnya ketika kami melakukan perjalanan dari Revin menuju ke Belgia.

Well, somehow i think these threes are amazing, kataku

C'mon if you see this everyday, trust me you will die in boredom, katanya

Pernyataan Thimo ini tentulah masuk akal, bisa saja aku yang orang asing baru melihat sisi Eropa dengan pohon disepanjang jalan kelihatan keren, namun bagi mereka yang terbiasa hidup dengan melihat pohon setiap hari apalagi kalau kebetulan pohonnya mati pasti membosankan.

Aku sempat berpikir bagaimana tinggal di Eropa yang jauh dari Kota dengan sumber daya alam terbatas?

Well, paling tidak di kampungku Padangsidempuan masih ada persawahan, penduduknya masih ramai, tanahnya subur dan lempar tongkat sudah jadi tanaman, namun di Kota kecil ini yang hanya ada kayu tok tentu aku tidak bisa banyangkan.

Pantas saja kalau ada turis dari Perancis dimana itu Revin mereka kelihatan bingung sendiri.

Apakah saking gak terkenalnya Revin ini atau memang tidak ada di peta Perancis?

Ternyata karena pengucapanku yang salah karena aku membacanya REVIN dengan kata datar seperti membaca HURUF R-E-V-I-N sementara aksen Perancis itu jelas-jelas SENGAU seolah pengucapannya REVANG’.

Entah benar pengucapanku, namun yang pasti belajar BAHASA PERANCIS adalah hal tersulit dalam hidupku. Bahkan kata Thimo aksen Perancisku merupakan akses terburuk yang pernah dia dengar. Hahahha 😀

Sisi positivenya, walau bahasa Perancisku merupakan terburuk, toh akhirnya aku merupakan orang beruntung bisa juga sampai ke Revin, salah satu Kota di Perancis yang jarang ada turisnya. Disitu aku merasa senang dengan keantimainstreaman dapat mengunjungi tempat yang orang Perancis belum tentu kunjungi.

Revin
You  know Winny, i will bring you the place 
that really you "heritage" and "old town", kata Thimo dengan semangat

It's on the way to Belgium and its nearby, katanya lagi

Sebagai penumpang yang baik budi, tentu saja aku mengikuti ajakannya. Toh aku juga tidak tahu jalan, ditambah tidak bisa bahasa Perancis. Dibawa jalan dengannya saja sudah membuatku senang, apalagi hratisan terus dia bersedia menampungku yang rencana melakukan perjalanan solo traveling di Eropa sebulan lamanya.

Memang aku cukup beruntung karena si Thimo ini baiknya kebangetan, dan dia merupakan best of the best person that i ever know. Bisa dibilang aku sudah mengenalnya sejak tahun 2010 dan siapa sangka ada juga kesempatan mengunjungi kediamannya di Perancis.

Sepanjang perjalanan, aku “anteng” sekali menikmati perjalanan sambil mengamati bentuk rumah ala Perancis yang aku sukai. Designnya unik, sederhana namun dari bata sehingga kesan sederhana, elegan dan vintage terasa sekali di Perancis. Tidak hanya itu Gereja di Perancis pun kelihatan tua juga dari warna dan bentuknya yang menurutku hampir sama. Pertama kali melihat aku langsung berkata “wow”, sampai si Thimo tertawa sambil ngeledikin “semua wow yah” namun  lama kelaaman di Eropa terakhir malah membuatku merasa “bosan”.

Yah begitulah manusia kesan pertama begitu menggoda kemudian bisa berubah 90 derajat.

Fortification de Rocroi
Winny, this is place that i told you, Fortification de Rocroi, kata Thimo

Kemudian Thimopun mencari tempat parkir untuk mobilnya lalu kami berjalan kaki ke arah bukit.

Kota ini menurutku sangat antik dan tua. Bangunannya serta ada Gereja tua menjualang tinggi bahkan tidak ada cat warna di rumah penduduk, warna rumah asli dari warna bata/batu penyusun rumah. Lantai jalananpun bukan dari tanah sehingga kesan heritage begitu kental di KOTA Fortification de Rocroi.

Lalu  kamipun menaiki sebuah bukit yang tertutupi rumput, melalui jalanan setapak yang bersih. Dari bukit, disinilah aku melihat keunikan dari Fortification de Rocroi, salah satu wisata di Perancis.

Dari sejarah, sekitar pada pertengahan abad ke-16 raja Prancis Henry II memerintahkan agar kota Rocroi diperkuat untuk melawan benteng Charlemont yang sedang dibangun oleh Kaisar Charles. Orang Prancis membangun sebuah benteng yang kokoh dalam bentuk pentagon (lima sisi) di sekitar kota. Kegunaan Banteng ini untuk pertahanan Kota dari musuh.

Pada tahun 1643 Spanyol berusaha menyerang Prancis, mengepung Rocroi dengan kekuatan besar. Sebuah kekuatan yang dipimpin oleh Duc d’Enghien bertemu dengan pasukan Spanyol tepat di sebelah selatan kota, tempat Prancis mengalahkan Spanyol pada Pertempuran Rocroi. Terlepas dari kemenangan Prancis pada tahun 1643, orang Spanyol memang menduduki Rocroi dari tahun 1653 sampai 1659.
Pada tahun 1673, ketika Vauban mengunjungi Rocroi, dia menyesuaikan kembali pertahanan tersebut dan menambahkan beberapa pekerjaan tambahan.

Kota ini berbentuk pentagon biasa, dengan lima benteng.

Ada dua pintu masuk ke kota: Porte de Bourgogne terletak di timur laut antara Bastion du Roi dan Bastion de Petit dan Porte de France terletak di barat daya (menghadap ke arah Prancis) antara Bastion de Nevers dan Bastion de Montmorency.

Fortification de Rocroi

Pas mengunjungi Fortification de Rocroi yang terbayang olehku adalah Banten Lama.

Dalam hatiku “aje Gilee ini mah mirip Kaibon dan Suwosowan yang ada di Banten lama”.

Apalagi pas melihat dindingnya yang terbengkalai serta nuansa Kota Rocroi.

Hijau rumputnya, warna bangunanya yang tua.

Ini apakah pikiran yang salah atau gimana ya, jauh-jauh ke Perancis yang aku bayangkan malah Kota Banten 😉

Bedanya di Fortification de Rocroi kotanya memang berbentuk pentagon alias lima sisi.

Disini aku berandai memiliki drone pasti asik mengambil photo Kota Rocroi dari atas agar terlihat sisi limanya.

Yang pasti dari bukit kelihatan betuk lima sisi dari Rocroi. Tidak hanya itu dari papan informasi mengenai Fortification de Rocroi, maka diketahui umur masing-masing dari sisa bangunan. Mulai dari dinding hingga bentuk seperti terowongan, namun yang pasti benteng ini pernah menjadi pertahanan Kota Rocroi. Dan yang paling tua sekitar tahun 1600an.

Untuk akses ke Kota Rocroi tidak bisa dengan kereta, hanya bisa dengan bis dari kota terdekat seperti Charleville atau Hirson. Dengan jalan darat, kota ini mudah dijangkau dari Charleville, dan akan sesuai dengan kunjungannya ke Givet, Dinant, atau salah satu benteng Pré Carré di daerah tersebut.
Benteng hampir terbuka untuk umum, tanpa biaya, jadi bisa sepuasnya bersantai ria di benteng. Bahkan disekitar daerah Kota Rocroi ada hotel tua lengkap dengan pasar.

Hanya saja, entah kenapa aku merasa Kota ini kesannya agak “mati” saking sepinya. Entah karena kedatangan kami yang pagi hari atau memang orangnya memang sedikit. Yang pasti saat menaiki bukit Kota Rocroi pengunjungnya hanya aku dan Thimo saja. 

Winny, this part is my favorite, tunjuk Thimo kepada bangunan tua dari Rocroi

Dan benar, naik ke tempat itu merupakan sisi terbaik dari Fortification de Rocroi karena bisa melihat langsung Kota Rocroi dari atas dengan susunan rumuah tua dengan Gereja. Dikelilingi pembatas membentuk sisi lima, dengan warna hijau.

Cukup manrik untuk piknik dadakan di Kota Rocroi!

Tak lama-lama kami berada di Kota Rocroi namun meninggalkan kesan tersendiri, paling tidak aku mengunjungi Kota Banten Lama rasa Perancis. Meski terbengkalai namun siapa sangka ada tempat semenarik ini yang tak jauh dari Revin, salah satu yang menjadi daftar kunjunganku selama melakukan backpacker ke Eropa.

Salam

Winny

Backpackeran ke Eropa sebulan 12 Negara (Nederland, France, Belgium, England, Scotland, Germany, Czech, Austria, Hungary, Kosovo, Italy, Vatican)


Stay true to yourself, yet always be open to learn. Work hard, and never give up on your dreams, even when nobody else believes they can come true but you. These are not cliches but real tools you need no matter what you do in life to stay focused on your path.

By Phillip Sweet

Hello World!

Eropa, Maret-April 2017

Bawa uang berapa ke Eropa untuk satu bulan Win? 
Itulah pertanyaan kak Bijo kepadaku

Mungkin 15 juta doang kak dengan target 15 negara,
jawabku dengan polos

Apa????? Kamu gila? Mana cukup, kata kak Bijo

Aku aja habis 40 jt, kak Emmy aja habis 80 juta berdua, lanjutnya

Itulah sepenggal percakapanku dengan kak Bijo mengenai persiapanku sebelum keberangkatan ke Eropa untuk satu bulan lamanya. Memang perjalanan ke Eropa kali ini termasuk perjalanan paling nekat sepanjang sejarah perjalananku, karena uang yang dibawa pas-pasan terus cita-cita muluk, mau menaklukkan 15 negara.

Itupun pas di hari-H perjalanan ke Eropa ternayat uang yang dibawa malah tidak sampai 15 juta karena akhirnya aku hanya membawa uang cash 600 Euro dan uang cadangan 300 dollar Amerika dan tanpa kartu kredit sama sekali. Mau gimana pas pergi belum gajian (curcol dikit)

Nekat kan?

Namun ternyata Tuhan itu sangat baik kepadaku, karena selama 1 bulan di Eropa, aku bisa survive dengan uang seadanya. Selama di Eropa aku bertemu banyak sekali orang baik yang membantuku mulai dari penginapan gratis, traktir makanan hingga ada yang traktir ke tempat wisata.

Rome

Terus habis berapa 1 bulan di Eropa?

Aku menghabiskan uang di Eropa selama 1 bulan sebanyak 550 Euro + 100 dollar Amerika untuk 12 negara dan sudah termasuk makan, oleh-oleh, ke tempat wisata selama di Eropa, transportasi antar negara di Eropa dan masih banyak lagi.

Seperti yang aku bilang sebelumnya tanpa ada kartu kredit, dan tabungan terbatas. Namun sebelumnya aku sudah membeli tiket pesawat dari Indonesia ke Belanda serta Visa Schengen dan Visa Inggris telah aku dapatkan.

Jadi bersihnya selama sebulan di Eropa bawa 600 euro dan 300 Dollar tadi, Alhamdulillah masih sisa 50 Euro dan 200 Dollar Amerika. 😉

Terus kemana saja di Eropa?

Selama jalan-jalan sebulan di Eropa aku dapat mengunjungi mulai dari negara di Eropa Barat, ke Inggris sampai ke Eropa Timur bahkan daerah Balkan pun dapat aku kunjungi.

Untuk Kota yang aku kunjungi selama 32 hari di Eropa secara berurut dimulai dari Amsterdam, Brussel, Revin, Paris, London, Edinburgh, Bremen, Prague alias Praha, Vienna, Budapest, Phristina, Venice, Pisa, Rome dan Vatican. Terus selama perjalanan antar negara aku sempat melewati Hamburg, Belgrade, Slovakia, Slovenia, Croatia, dan Casanova.

Terus apa rahasia jalan murah ke Eropa?

Mungkin banyak yang bertanya-tanya kok bisa sih murah gitu ke Eropa 1 bulan kena kurang lebih Rp10 juta saja?

(Iya bisa soalnya itu diluar tiket dari Indonesia dan Visa, tok biaya hidup selama di Eropa untuk 1 bulan, terus berpikir keras bagaimana caranya harus uang segitu pas mulai dari makan, penginapan sampai transportasi).

Kok bisa semurah itu?

Gak jual diri kan?

Tenang itu semua bermain taktik.

Aku tidak sampai jual diri kok, jual murah aja tidak laku apalagi jual mahal haha 🙂 (korelasinya apa coba).

Yang pasti aku bisa jalan hemat ke Eropa sebulan karena turun tahta saja dari Backpacker ke Begpacker.

Bayangkan BACKPACKER berubah jadi BEGPACKER!!

Semua dijabani, mulai dari jalan kaki, ngeteng sana-sini, fakir wifi sampai hemat makan roti “tok” sampai eneg makan roti tiap hari.

Disini aku tidak malu menjadi begpacker karena memang bukannya aku minta tapi memang rezeki anak soleh saja banyak yang mentraktir selama di Eropa. Bukan hanya itu aku tertolong banyak di penginapan karena memang rata-rata penginapan aku banyak menumpang di rumah orang namun pernah juga merasakan tinggal di hotel juga sih.

Terus saking hematnya bersepeda dengan £2  di London seharian padahal sepatu lagi rusak terus udara yang suhunya 5 derajat sementara baju salah kostum, hingga jalan kaki di wisata Vienna karena ogah bayar transportasi, belum lagi di Budapest bawa tas 15 kg kemana-mana karena diusir halus oleh hostnya, belum lagi aku tidak ke Keukenhof Belanda karena sayang uang 15 Euro semua itu demi menghemat perjalanan.

Sisi kerennya perjalananku di Eropa meski kere aku bisa juga makan di Restauran Michelin 6 tahun berturut-turut dengan harga 50 Euro sekali makan, bisa masuk juga ke Louvre Paris meski 15 Euro.

So, Perjalanan ke Eropa benar-benar gado-gado, seru karena komplit antara perpaduan suka, duka, tantangan, dan bagaimana caranya hidup di Eropa dengan budget pas-pasan.

Memang Tuhan itu akan melindungi orang baik. Hehe 😀

Praha

Yah seenggak-enggaknya pengalaman sebulan di Eropa merupakan perjalananku terlama selama ini, dan memang kalau diniatin cukup maka cukuplah.  Terus aku melakukan travelling ke Eropa itu tanpa rincian perjalanan Eropa alias itinerary Eropa seperti biasa.

Jadi ke Eropa nya go show.

Pemilihan nengaranya pun sesuka hatiku, kalau negaranya aku suka aku lamain kalau biasanya saja, yah aku pindah ke Negara lain. Backpacking ke Eropa selama sebulan membuatku sadar, ternyata aku bisa juga menikmati perjalanan sendirian tanpa harus mengejar target.

AKU LEBIH MENIKMATI PERJALANAN!

Terus lebih realistis!

Iya aku ke Eropa selama sebulan sendirian alias solo travelling ke Eropa.

And i made it 😉

Habis mau gimana awalnya hendak pergi dengan teman eh malah dua temanku batal, karena sayang uang tiket akhirnya aku putuskan pergi  sendiri saja ke Eropa.

Seperti kata Paulo Coelho  “When a person really desires something, all the universe conspires to help that person to realize his dream.” 

Universe membantuku untuk meninggalkan jejak di Benua Eropa 🙂

Alhamdulillah semua berjalan lancar!

Buat teman-teman yang mungkin baru ingin menginjakkan kaki di Benua Eropa atau memiliki mimpi tak terbendung ke Eropa atau gatel ingin ke Eropa, atau punya niat ingin ke Eropa, saranku go ahead.

Yang penting cari tiket murah dari jauh hari, persiapkan dengan matang dan rajin menabung dan kalau kesana negaranya pilih yang dirimu suka.

Serta ikhtiar dan percaya kamu bisa!

Pengalamanku sendiri sebagai pemula jalan-jalan di Eropa mempunyai itinerary Eropa 12 Negara (Belanda, Perancis, Belgia, Inggris, Skotlandia, German, Austria, Ceko, Hungaria, Kosovo, Itali dan Vatican) berdasarkan yang sudah aku lakukan dan semoga rangkuman dengan review perjalanan di EROPA selama sebulan, bisa bermanfaat bagi teman-teman yang ingin jalan-jalan ke Eropa. Paling tidak ada gambaran mengenai Eropa 🙂

Rincian Perjalanan/itinerary Backpacker Eropa selama 1 Bulan

Jakarta, Maret 2017

20:30-4:00 Jakarta-KLIA 2. Untuk pengambilan bagasi lihat petunjuk terus keluar Imigrasi baru ambil bagasi, kebetulan di “Line 8” eh salah lihat rupanya harus lihat nomor penerbangan “AK387” di monitor

Malaysia,  Maret 2017

00:00-00:06 Keluar KLIA 2 naik kereta bayar 2 RM turun di KLIA 1.

00:06-06:00 Gate Qatar Airlines di “K”, penerbangan jam 9 pagi dan baru buka counter jam 6 pagi, akhirnya tidur di KLIA1 dekat gate K.

09:15-11:55 Perjalanan KLIA 1-Doha selama 7 jam dengan tujuan Hamad International airport

Praha

Doha,  Maret 2017

16:00-18:00 Mengikuti Doha Tour gratis dari Qatar Airlines. Nukar uang Rp100.000 menjadi 25 Rial Qatar pas di Pasar Tradiotional Doha ketika mengikuti Doha Tour. Di Doha aku membeli 2 kebab 10 Rial, dan nasi 25 Rial. Di  Hamad International airport aku punya pengalaman sok-sokan berbahasa Inggris ke seorang kakak untuk mendaftar Doha tour eh si kakak membalas dengan Bahasa Indonesia, yups zonk banget ternyata si kakak orang Indonesia. Di Doha Tour juga aku berkenalan dengan Bu Rika dan keluarga serta sama-sama melakukan Doha Tour.

18:00-19:00 antri lama masuk ke dalam Hamad International airport

19:00 – 07:00 tidur di Bandara Hamad International, Bandaranya nyaman dengan memiliki tempat tidur yang kondusif

07:15-12:25 Perjalanan Doha-Amsterdam, perbedaan waktu antara Doha dan Amsterdam 2 jam dan lama perjalanan dari Hamad International airport ke Schipsol itu 7 jam.

Tempat yang di datangi selama Doha Tour:

Keliling kota Doha mulai dari Museum, Masjid hingga ke Pasar Tradisionalnya

Baca juga perjalanan Doha City Tour

Hamburg

Amsterdam Belanda, 24 Maret 2017

12:20-15:00 Melakukan perjalanan dari Bandara SCHIPHOL Belanda ke Lelyln. Harga tiket kereta Schiphol-lelylaan 4 Euro, harga tiketnya hanya 3 Euro namun harga cetak tiketnya kena 1 Euro. Disini berpisah dengan keluarga Bu Rika.

15:00-18:00 Menginap di apartemen host Couchsurfing Amsterdam bernama Bas, disini aku mandi dan bisa wifian gratis.

18:00-22:00 Bertemu dengan temanku Friso. Dari Lelylaan-Amsterdam Central Bus membeli TRAM Pass 1 jam seharga 2,99 Euro dengan GVB. Karena ternyata ketemu Friso baru jam 7:30 padahal janji jam 7 malam maka alhasil pulangnya membeli lagi kartu TRAM Pass 1 jam seharga 2,99 Euro. Disini aku dan Friso mengelilingi Amsterdam malam hari mulai dari Red district sampai ke tanda tulisan IAMSTERDAM dengan jalan kaki. Nah si Friso juga traktir hot tea dan cookies seharga 2,6 Euro

Tempat wisata Amsterdam yang didatangi pada hari-1 di Eropa:

Red district, weed museum, Dam Square, Iamseterdam sign, dan wisata sekitar Amsterdam Central Bus sampai ke Rijksmuseum.

Total Pengeluaran hari-1 di Eropa = 4 euro + 2,99 Euro +2,99 Euro = 9,89 Euro

Zaanse Schans, Desa Kincir Angin

Baca juga perjalanan ke Belanda

Amsterdam Belanda, 25 Maret 2017

11:00-15:00 Naik kereta dari Lelylaan-Sloterdjik (transfer plantform 3) tujuan Uitgeest-Zaanndijk Zaaanse Schans dengan kereta tiketnya pulang pergi 7 Euro (1 Euro untuk print kertas, 6 Euro harga tiketnya). Di stasiun Lelylaan saat membeli tiket kereta aku dibantu oleh orang Slovakia dengan koin hasil kumpulin dengan teman-temannya. Pas perjalanan ke Kincir Belanda aku juga berkenalan dengan turis Hongkong bernama Jasmine dan rombongan turis lainnya. Kami sempat nyasar di Zaadam terus seharian kami menjelajah Desa Kincir Angin Belanda, dan mencoba keju di Rederij des schans (1971). Di Desa Kincir Angin Belanda aku membeli kartu pos dan prangko seharga 2,35 Euro dan pulangnya membeli 1 buah apel seharga 0,75 Euro.

15:00-16:00 Balik ke rumah host di Lelylaan

16:00-12:00 Di rumah host di Lelylaan masak mie terus merencakan perjalanan keesokan harinya. Udara di Belanda dingin dan aku salah kostum alias membawa baju ala tropis.

Tempat wisata Amsterdam yang didatangi pada pada hari-2 di Eropa:

Kincir angin Belanda (windmill) di Zaandijk Zaanse Schans

Pengeluaran hari-2 di EROPA tepatnya di Amsterdam: 7 Euro + 2,35 Euro +0,75 Euro = 10,1 Euro

Belanda

Baca juga trip Ulang Tahun di Belanda

Revin, 26 Maret 2017

12:00-18:00 Thimo menjemput dari Lelylaan Amsterdam. Makan MC’D di suatu tempat dalam perjalanan Amsterdam-Revin seharga 10 Euro dan uang bensin 60 Euro.

18:00-22:00 Makan malam bersama keluarga Thimo. Ibunya baik sekali memasakkan aku makanan yang enak, bahkan dijaga betul makanan agar aku bisa makan mengingat aku Muslim. Tidak sampai disitu aku dikasih selimut tebal dan penghangat ruangan karena aku tidak tahan dingin. Benar-benar mendapatkan keluarga baru.

Tempat wisata yang didatangi pada pada hari-3 di Eropa

Revin

Biaya perjalanan di hari hari-3 di Eropa: 10 Euro + 60 Euro = 70 Euro

Belgium, 27 Maret 2017

09:00:10:00 Jalan ke Fortification de Rocroi

10:00-11:00 Perjalanan dari Fortification de Rocroi Francis ke Belgia

10:00-12:00 Sampai di Belgia. Keliling Kota Belgia muldai dari Mannaken piss sampai ke Parlement. Di Belgia aku mencoba Waffle Belgium dan kentang goreng seharga 2 Euro.

12:00-14:00 Ke Atomium dan Cathedral Michael

14:00-17:00 Perjalanan Pulang dari Belgia ke Revin

17:00-18:00 Di traktir cous-cous oleh Thimo dengan harga 49 Euro/2 orang, makannya masih daerah Belgia

19:00-22:00 istirahat di Revin, Francis

Tempat wisata Belgia yang didatangi pada pada hari-4 di Eropa adalah Fortification de Rocroi, Mannaken piss, Atominium dan Cathedral Michael.

Biaya yang dikeluarkan di Belgia 2 Euro

Brussel, Belgia

Paris, 28 Maret 2017

11:00-12:00 Perjalanan dari Revin ke Paris.

12:00-13:00 Berhenti di Lidl dan belanja roti dan salmon seharga 20 Euro

13:00-17:00 Sampai di Paris. Naik metro 5 Euro dan menuju ke penginapan. Membeli Paris 2 days pass seharga 18,95 Euro

17:00-22:00 istirahat di Paris

Tempat wisata Paris yang didatangi pada pada hari-5 di Eropa adalah Paris.

Total biaya di Paris: 20 Euro + 5 Euro + 18,95 Euro =43,95 Euro

Eiffel, Paris

Paris, 29 Maret 2017

08:00-09:00 Jalan kaki ke Basilique du Sacré-Cœur, kemudian naik Metro ke Porte Maillot untuk makan macaroni coklat 1,2 Euro

09:00-20:00 Jalan keliling Paris mulai dari Arc de Triomphe, jalan ke Avenue des Champs-Élysées (famous street in the world), kemudian naik Metro dari Opera Paris ke Restoran Jepang Rue St Anne untuk makan siang seharga 24 Euro/2orang (makan shirashi+teriyaki), jalan ke Metro Pyramid-Concorde-Metro Champs de Mars kemudian tour Eiffel, jalan ke hotel des invalids kemudian ke Metro St. Paul untuk nyobain teh dari segala penjuru dunia kemudian ke Notre Dome. Makan kebab 5 Euro, mencoba es krim 4,6 Euro untuk ukuran regular di Latin distrik kemudian balik ke Eiffel lagi sampai malam. Sempat membeli postcard dan gantungan kunci Eiffel 3 Euro.

Tempat wisata Paris yang didatangi pada pada hari-6 di Eropa

Eiffel, Metro Dome, Arc de Triomphe, Avenue des Champs, Basilique du Sacré-Cœur

Biaya yang dikeluarkan di hari-6 di Eropa = 1,2 Euro + 5 Euro + 4,6 Euro + 3 Euro = 13,8 Euro

Paris, 30 Maret 2017

08:00-09:00 Belanja di Franprix roti dan minuman 6,65 Euro

09:00-10:00 Naik METRO Ke de Louvre. Antri satu jam dan harga tiket masuk ke dalam de Louvre 15 Euro.

10:00-18:00 keliling Louvre seharian

18:00-20:00 Naik Metro ke La Grande Mosque de Paris kemudian nyari makan disekitar Masjid akhirnya makan kebab 20 Euro/2 orang

20:00-22:00 Balik ke penginapan

Tempat wisata Paris yang didatangi  pada hari-7 di Eropa

Museum de Louvre dan La Grande Mosque de Paris.

Total pengeluaran pada hari-7 di Eropa = 6.65 Euro + 20 Euro + 15 Euro = 41,65 Euro

Rome

London, 31 Maret 2017

08:00-09:00 perjalanan Paris-London, bayar tiket kereta Paris 5,05 Euro terus ke Bandara CDG Paris Charles de Gaulle 10 Euro.

09:00-11:00 antri imigrasi, lumayan lama

11:00-13:00 menunggu di Bandara CDG Paris Charles de Gaulle

13:00-16:00 Perjalanan Paris-London dengan pesawat

16:00-17:00 Mencari penginapan di London, naik kereta dari Bandara ke penginapan £ 15

18:00:19:00 Makan Fish and Co di London, ditraktir

19:00-20:00 Main di taman

20:00-22:00 Kembali ke penginapan dan istirahat

Tempat wisata yang didatangi pada pada hari-8 di Eropa : London

Total biaya pengeluaran pada pada hari-8 di Eropa = £ 15

Big Ben di London

London, 1 April 2017

08:00-09:00 Naik Kereta £3 kemudian sewa sepeda seharian £2, beli Kartu Oyster £15, membeli makan di supermarket £8,85

09:00-22:00 Keliling London dengan sepeda mulai dari Big ben, Parliament, British Museum, London Eye, dan lain-lain

Tempat wisata yang didatangi pada hari-9 di Eropa:

Big ben, Parliament, British Museum, London Eye

Total biaya pengeluran di hari-9 di Eropa = £3 + £2 + £15 + £8,85 = £28,85

London Eye

Edinburgh, 2 April 2017

09:00-10:00 Persiapan dari penginapan ke Bandara. Harga tiket kereta dari Cambridge Heath-Luton Airport £21,2

10:00-12:00 Imigrasi, antri di Bandara Inggris dan tidak begitu ditanya-tanya

13:00-15:00 Perjalanan London-Edinburgh dengan pesawat

15:00-16:00 Tram dari Edinburgh airpot ke St Andrew Square £5,5.

16:00-18:00  Jalan kaki ke penginapan kemudian jalan ke Calton Hill, Edinbugh Castle, dan Grassmarket

Tempat wisata yang didatangi pada hari-10 di Eropa 

Calton Hill, Edinbugh Castle, dan Grassmarket

Total biaya pengeluaran pada hari-10 di Eropa = £21,2  + £5,5 = 26,7

Edinburgh

Edinburgh, 3 April 2017

08:00-09:00 Belanja makanan supermarket Lidl tepatnya di Nicolson Street £5,16

09:00-10:00 Keliling Andrew Square

10:00-12:00 Istirahat kembali ke penginapan

12:00-18:00 Keliling ke Holyrood Rd, Scottish Parliament, Palace of Holyroodhouse

18:00-22:00  Kembali ke penginapan dan istirahat

Tempat wisata yang didatangi pada hari-11 di Eropa

Andrew Square, Holyrood Rd, Scottish Parliament, dan Palace of Holyroodhouse

Total biaya pengeluaran pada hari-11 di Eropa = £5,16

Setelah ngegembel di UK selama 6 hari akhirnya aku memutuskan pindah negara yang bersedia menampungku! Edinburgh masih kota favoritku karena banyak menemukan makanan halal, kemana-mana bisa jalan, banyak castle, bangunan tua, ada laut, ada bukit, ke airport naik bus £4,5 kalau naik tram £5,5, sekali makan bisa £5-10 tapi ada juga £3, belanja di market £6 udah dapat macam-macam terus kotanya cakep dan antik terus pas disini avenger lagi shooting lagi! Sayangnya disini dingin meski spring 5 derajat yang setiap malam membuatku biduran terus nginapnya sih hratisan dan yang paling penting Kotanya itu full of wifi gratiss tiss tiss! Untuk buah? Murce £2 strawberry gede-gede! Semoga bisa kesini lg dengan uang segepok😜 #edinburgh #scotland #european #uk #europe #british #travel #journey #mydreamtoexploretheworld ✈️Edinburgh

A post shared by Winny Marlina (@winnymarlina) on

Edinburgh, 4 April 2017

08:00-09:00 Print tiket pesawat £0,2 padahal bisa pakai HP untuk menunjukin tiket

09:00-10:00 ke Scottish National Gallery

10:00-12:00 Mencari rumah host di Edinburg ke 35 Easter Road, pakai nyasar

12:00-22:00 Di rumah Cs sampai malam

Tempat wisata yang didatangi pada hari-12 di Eropa
Scottish National Gallery

Total biaya pengeluaran pada hari-12 di Eropa = £0,2

Budapest

Edinburgh, 5 April 2017

08:00-09:00 Persiapan ke Bremen

09:00-10:00 Jalan kaki dari Easter Road ke terminal Bus

10:00-12:00 Naik bus ke Bandara Edinburgh £4,5

12:00-17:00 Perjalanan Edinburgh-Bremen dengan pesawat

17:00-18:00 Dijemput host Bremen naik tram 2,75 Euro

18:00-19:00 Makan wat pho, mie khas Vietnam 8 Euro

19:00-22:00 Keliling Kota Bremen pada malam hari

22:00-07:00 Kembali ke penginapan dan istirahat

Tempat wisata yang didatangi pada hari-13 di Eropa:

Old Town Bremen, dermaga hingga menelusuri Legenda Bremen

Total Biaya pada hari-13 di Eropa = £4,5 + 2,75 Euro + 8 Euro = £4,5 + 10,75 Euro

Bremen, 6 April 2017

08:00-10:00 Persiapan ke Praha

10:00-11:00 Diantar ke Terminal bus dan ditraktir makan oleh Frank dan jalan bareng teman dari Polandia

11:00-13:00 Menunggu Flixbus ke Praha, ongkos tiket bus ke Praha dari Bremen 20 Euro (minta beliin Ade Putra)

15:00-00:03 Perjalanan darat Bremen-Praha

Tempat wisata yang didatangi pada hari-14 di Eropa

Terminal bus Bremen

Total biaya pada hari-14 di Eropa 20 Euro

Prague, 7 April 2017

03:00-04:00 Sampai di Terminal bus Praha, dijemput host Praha dengan mobilnya terus dikasih teh pas 3 pagi.

04:00-06:00 Istirahat

06:00-08:00 Sarapan pagi

08:00-09:00 Jalan kaki melewati Stadion Stadium terus ke University dormitories, naik ke Petrin Towet (mirip Eiffel, Eiffelnya Prague) dengan harga 3000 Kc/2 orang dan ditraktir Hostnya.

10:00-18:00 Keliling Kota Praha/Prague. Jalan kaki Prague Castle, St Vitus Cathedral, Vine yard, Lenon Wall, Charles Bridge, Old Town Square (Astronomial clock). Gantungan kunci 2 Euro, ditraktir makan ama teman Host 477 Kc/2 orang, nukar uang 10 GBP = 566 Kc.

18:00-22:00 Kembali ke penginapan terus istirahat

Tempat wisata yang didatangi pada hari-15 di Eropa

Prague Castle,  St Vitus Cathedral, Vine yard, Lenon Wall, Charles Bridge, Old Town Square (Astronomial clock)

Total biaya pengeluaran pada hari-15 di Eropa  = 2 Euro

Prague, 8 April 2017

08:00-09:00 Jalan kaki Wenceslass Square

09:00-20:00 Menuju ke stasiun kereta, beli tutup camera 82 Kc beli tiket ke Vienna-Budapest 420 Kc (uang tiket kurang dikasih 10 Kc dari Jacub), makan mass potatoes yang masakin hostnya.  Tempat Jacub turun di tram 22  daerah Malovanka. Salah tanggal pas di terminal terus terpaksa kembali ke penginapan. Jalan ke Dancing House

Edinburgh

Tempat wisata yang didatangi pada hari-16 di Eropa 

Budapest Train station dan pasar, Dancing House.

Total biaya pada hari-16 di Eropa = 82 Kc + 420 Kc = 502 Kc

Prague, 9 April 2017

08:00-09:00 Makan Kebab ditraktir Jacub

09:00-18:00 seharian di penginapan, di antar ke terminal

22:00-23:00 persiapan ke terminal

23:00-04:00 Perjalanan Prague-Vienna dengan Regio Jet

Tempat wisata yang didatangi pada hari-17 di Eropa

Terminal Budapest

Total pengeluaran pada hari-17 di Eropa = –

Mendung! #travel #prague #europe #european #travelbloger #czech #praha ✈️Czech

A post shared by Winny Marlina (@winnymarlina) on

Vienna, 10 April 2017

04:00-05:00 Dijemput host Austria tapi kemudian baper karena aku tidak mau memeluknya pas perkenalan, tiket bus 2,3 Euro

05:00-09:00 istirahat

09:00-18:00 Jalan keliling Vienna, ke Hofburgh, Museumsquartier, stephansdom, mozart haus, parlement, theresian platz, heldenplazt, karlsplatz, Heumarkt

18:00-19:00 Belanja di Bila 4,97 Euro

19:00-22:00 jalan kaki ke penginapan

Tempat wisata yang didatangi pada hari-18 di Eropa

Hofburgh, Museumsquartier, stephansdom, mozart haus, parlement, theresian platz, heldenplazt, karlsplatz, Heumarkt

Total biaya yang dikeluarkan pada hari-18 di Eropa = 2,3 Euro + 4,97 Euro = 6,27 Euro

Vienna

Vienna, 11 April 2017

10:00-11:00 ke stasiun U2 dengan kereta 2,2 Euro

11:00-12:00 belanja roti 4,05 Euro

12:00-13:25 Menunggu bus ke Budapest, beli sepatu 15 Euro, tiket kereta Budapest 350 ft, mengambil uang di ATM 5000ft

14:25-18:00 Perjalanan Vienna-Budapest dengan Regio Jet dua kali transfer, Vienna-Bratislava, Prague-Budapest

21:00-22:00 diajak host Budapest ke Underground Club

22:00-23:00 pulang sendiri dengan peta buta pas tengah malam

Tempat wisata yang didatangi pada hari-19 di Eropa

Terminal bus Vienna, Stadion Center, Undeground club Budapest

Total biaya yang dikeluarkan pada hari-19 di Eropa

= 2,2 Euro + 4,05 Euro + 15 Euro = 21,25 Euro

Vienna

Budapest, 12 April 2017

09:00-10:00 Belanja makanan 404 ft

10:00-16:00 makan kebab 700 ft, ke millennium heroes terus lihat aksi demo

16:00-17:00 Jalan kaki ke parliament

17:00-20:00 menikmati parliament

20:00-21:00 Kembali ke tempat host Budapest

Tempat wisata yang didatangi pada hari-20 di Eropa

Parliament, millennium heroes, castle Budapest

Total biaya pengeluaran pada hari-20 di Eropa

= 404 ft + 700 ft = 114 Ft

Budapest

Budapest, 13 April 2017

11:00-12:00Persiapan kelaur dari tempat host Budapest dengan membawa tas seberat 15 kg

12:00-14:00 Jalan kaki ke hereos museum dengan orang India yang kenalan di Budapest

14:00-15:00Menunggu Fia dan Jean di Parliment tapi karena gak kuat dingin sehingga makan di dekat parliament berupa falafi 809 ft

16:00-16:30 Bertemu Fia dan Jean di Parliament kemudian naik kapal menyeberangi dan menikmati Parliment Budapest dengan kapal 470 ft

16:30-17:00 Menunggu bus ke Kosovo, sempat susah mencari travel ke Kosovo padahal sudah menunggu di depan Museum

17:00-07:00 Perjalanan Budapest-Kosovo, Harga tiket travel ke Kosovo 50 Euro. Sering berhenti dan aku membeli makanan 470 ft, dan berhenti di Imigrasi Serbia di Belgrade. Merasa artis di dalam travel.

Tempat wisata yang didatangi pada hari-21 di Eropa:

Budapest Parliment

Total Biaya pengeluaran pada hari-21 di Eropa

= 809 ft + 470 ft + 50 Euro =1279 Ft + 50 Euro

Demo pas lagi di Budapest

Phristina, 14 April 2017

08:00-09:00 dijemput host bernama Shend di terminal Kosovo.

09:00-10:00 istirahat

10:00-12:00 Jalan dengan teman Cs lain bernama Visari.

12:00-14:00 Jalan ke Masjid. Terus ditemani Visari ke Bank Kosovo demi mencari Valon Lepaja kemudian beli tiket bus ke Italy 50 Euro

14:00-15:00 Ditraktir makan di restaurant California oleh Visari

15:00-18:00 Ke Batllava Lake dan diajak minum teh bersama Visari

19:00-20:00 Menunggu host pulang kerja, kemudian keliling Square Kosovo terus ke toilet 0,2 Euro

20:00-21:00 Bertemu Shend di depan Bioskop Pristina kemudian minum teh dengan host 2 Euro

21:00-23:00 ditraktir minum jus di Club Jazz oleh Shend

Tempat wisata yang didatangi pada hari-22 di Eropa:

Batllava Lake, Kosovo Square, Bank of Kosovo, keliling Phristina

Biaya pengeluaran pada hari-22 di Eropa: 0,2 Euro + 2 Euro = 2,2 Euro

Phristina, 15 April 2017

09:00-12:00 Ketemu Valon, ditraktir air ama teh doang,  terus ngobrol empat mata mengenang masa lampau, kemudian makan siang 4 Euro, belanja makanan di Kosovo 15,77 Euro

12:00-16:00 ditraktir Visari the ke Danau

16:00-07:00 Ke terminal bus Kosovo, Kemudian perjalana bus Kosovo-Cassova

Tempat wisata yang didatangi pada hari-23 di Eropa

Danau di Kosovo

Biaya pengeluaran pada hari-23 di Eropa = 4 Euro + 15,77 Euro = 19,77 Euro

Venice, 16 April 2017

00:00-09:00 Perjalanan Kosovo-Italy dengan bus, sering singgah, berhenti di Imigrasi Serbia, Kosovo, Croatia hingga Slovenia.

09:00-10:00 ditarktir teh oleh penumpang orang Kosovo

10:00-12:00 Bayar bus ke Treviso 10 Euro, tiket kereta ke Venice S Lucia 3,4 Euro salah harusnya berhenti di Venice Maestro

12:00-13:00 Makan kebab 5 Euro di Venice Maestro dekat penginapan

13:00-20:00 ke Penginapan dan istirahat

20:00-21:00 makan malam pizza di Colombus 35,5 Euro/2 orang

Tempat wisata yang didatangi pada hari-24 di Eropa

Belgrade, Croatia, Slovenia, Casanova, Venice Maestro

Biaya pengeluaran pada hari-24 di Eropa = 10 Euro + 3,4 Euro + 5 Euro + 35,5 Euro = 53,9 Euro

Venice

Venice, 17 April 2017

08:00-09:00 Naik meto ke sekali jalan 1,25 Euro (Venice Maestro-Venice S Lucia)

09:00-12:00 Keliling Venice

12:00-13:00 makan siang di Venice 31,36 Euro

12:00-18:00 Keliling Venice

18:00-19:00 makan malam 8 Euro

19:00-20:00 kembali ke penginapan

Tempat wisata yang didatangi pada hari-25 di Eropa

Venice

Biaya pengeluaran pada hari-25 di Eropa = 1,25  Euro + 8 Euro + 31,36 Euro =40,61 Euro

Venice

Pisa, 18 April 2017

08:00-09:00 Ke Venice Maestro lari seperti orang kerasukan karena takut ketinggalan bus. Venezia Maestre- Venezia S. Lucia harga tiket kereta 1,25 Euro

09:00-15:00 Bus perjalanan dari Venice-Pisa rupanya kembali ke Venice Maestro bayar tiket bus 27 Euro dengan Eurolines.

15:00-16:00 Sampai di Pisa jam 3 sore terus mencari penginapan dengan jalan kaki dari terminal bus, check in ke penginapan.

16:00-18:00 Dari penginapan dekat ke Pisa namun tidak masuk ke dalam PISA karena tiket masuk ke Pisa mahal 18 Euro. Beli gantungan kunci  2 Euro, tempelan kulkas 1,5 Euro.

18:00-19:00 Belanja di Pam panorama berupa pizza 24,76 Euro

19:00-22:00 kembali ke penginapan, masak pizza

Tempat wisata yang didatangi pada hari-26 di Eropa

Menara Miring Pisa

Total Pengeluaran pada hari-26 di Eropa = 2 Euro + 1,5 Euro + 1,25 Euro + 24,76 Euro = 29,51 Euro

Belgia

Pisa, 19 April 2017

08:00-09:00 Makan 3,18 Euro

09:00-12:00 Jalan kaki keliling Kota Pisa

12:00-13:45 Kembali ke terminal bus dengan jalan kaki dan menunggu kedatangan bus

13:45-18:00 Perjalanan Pisa-Rome dengan flixbus

18:00-19:00 Naik kereta dari Roma Triburtina ke Roma Tuscolana 1 Euro.

19:00-20:00 Mencari penginapan dengan jalan kaki, belanja di Carrefur 21 Euro

Tempat wisata yang didatangi pada hari-27 di Eropa

Kota Pisa

Total biaya pengeluaran pada hari-27 di Eropa = 3,18 Euro + 1 Euro + 21 Euro = 25,18 Euro

Pisa dengan tas seberat 15 kg

Rome, 20 April 2017

08:00-09:00 Menuju ke Coloseum

09:00-10:00 Antri Coloseum. Untuk tiket masuk ke dalam Coloseum seharga 12 Euro

10:00-15:00 Keliling Coloseum

15:00-18:00 Makan pizza 9 Euro/2 orang, fast food kebab 14 Euro, belanja di Carrefur 5,61 Euro.

18:00-22:00 Kembali ke penginapan naik metro bus 1,5 Euro.

Tempat wisata yang didatangi pada hari-28 di Eropa:

Colosseo dan Palatino, Arco di Tito, dan Arco Costantino

Total biaya pengeluaran pada hari-28 di Eropa di Rome, Italy = 12 Euro + 9 Euro + 5,61 Euro + 1,5 Euro = 28, 11 Euro

Colosseum Rome, Italy (my 3rd Seven of wonder)

Rome, 21 April 2017

08:00-09:00 Keliling Roma ke Piazza Compidoglio

09:00-10:00 jalan ke Foro Traiano

10:00-12:00 Jalan ke Republica bici dan baci

12:00-14:00 Jalan ke Villa Medici

14:00-17:00  Jalan ke Pantheon

17:00-18:00 Jalan ke Isola, makan di restoran michellin 50 Euro

18:00-20:00 Kembali ke penginapan

Tempat wisata yang didatangi pada hari-29 di Eropa adalah

Piazza Compidoglio, Foro Traiano,  Villa Medici, dan Pantheon

Biaya yang dikeluarkan di Rome pada hari-29 di Eropa = 50 Euro

Venice

Rome, 22 April 2017

08:00-09:00 Menuju Vatican Keliling Vatican

09:00-10:00 Antri sampai 2 jam demi masuk ke Vatican

10:00-12:00 Keliling Vatican dan melihat karya Michael Angelo

12:00-13:00 Makan Tonnarelli 11, 5 Euro

13:00- 14:00 Makan es krim dekat Vatican

14:00-18:00 Makan di Janta 20,25 Euro

18:00-20:00 Kembali ke penginapan

Tempat wisata yang didatangi pada hari-30 di Eropa:

Vatican

Biaya yang dikeluarkan di Rome pada hari-30 di Eropa = 11, 5 Euro + 20,25 Euro = 31,75 Euro

Vatican

Vatican, 23 April 2017

09:00-12:00 Menuju ke Fontana di Trevi

12:00-13:00 Beli obat muka di farmasi 16,9 Euro

13:00-15:00 ke Castel Saint Angelo biaya tiket masuk 10 Euro

15:00-18:00 Belanja dompet untuk ibu 15 Euro

18:00-19:00 Belanja Oleh-oleh makanan 31,36 Euro

19:00-22:00 Kembali ke penginapan dan istirahat

Tempat wisata yang didatangi pada hari-31 di Eropa

Fontana di Trevi dan  Castel Saint Angelo

Biaya yang dikeluarkan pada hari-31 di Eropa = 16,9 Euro + 15 Euro + 31,36 Euro = 63,26 Euro

Amsterdam, 24 April 2017

04:00-05:00 Jalan kaki ke terminal bus, niak bus ke Bandara 6 Euro

05:00-06:00 Sampai di Bandara

06:00-09:00  Menunggu pesawat dari Rome,Italy ke Amsterdam, Belanda

09:50-13:00 Perjalanan Rome-Amsterdam dengan pesawat Vueling

13:00-15:00 Proses Imigrasi dan persiapan kembali ke Indonesia

Tempat wisata yang didatangi pada hari ke 32 di Eropa :

Bandara Rome dan Amsterdam

Biaya yang dikeluarkan hari terakhir di Eropa = 6 Euro

Eropa

Penginapan selama 1 bulan Backpackeran di Eropa

Tempatku menginap selama di Eropa bervariasi mulai dari menggunakan Couchsurfing, Airbnb, numpang di rumah teman, ada juga menginap di hostel budget hingga sok-sok an menginap di  hotel. Pengalaman menginap di Eropa pun memiliki kesan tersendiri ada yang asik, biasa saja sampai yang menyebalkan juga ada. Selama di Eropa bahkan aku mendapatkan teman baru, serta bertemu dengan teman lamaku.

Untuk rincian penginapan selama 1 bulan dengan gaya Backpack di Eropa

 

Penginapan di Amsterdam, Belanda

Di Belanda aku menginap selam 3 hari 2 malam dengan menggunakan Couchsurfing dan host Belanda bernama Bas.  Bas ini cukup baik karena dia memberikanku kamarnya untuk aku istirahat bahkan dia memperbolehkanku jalan sendiri dan memberikan saran tempat wisata di Amsterdam yang harus aku kunjungi. Dia juga memberikan navigasi cara ke tempat wisata Amsterdam serta berapa biaya tempat tersebut.

Masjid di Paris

Penginapan di Revin, Francis

Untuk Prancis, aku menginap di rumah Thimo yang super baik hati. Aku mengenalnya dari tahun 2010, merupakan sahabat terbaik. Dia bahkan menjemput dari Belanda terus nginap di rumahnya, bahkan keluarganya sangat baik kepadaku. Dimasakin masakan bahkan sengaja mereka tanpa alcohol, benar-benar aku dianggap keluarga. Di Revin aku menginap selama 2 hari dan dari Revinlah aku bisa mengunjungi Brussel, Belgia. Disini aku juga dimasakin kue cokelat, dimasakin mirip rendang dan makan malam kami super porsi besar. Bahkan bajuku sampai dicuciin oleh mamanya Thimo di Revin.

Feel like a home banget selama di Revin!

Beruntung ya aku 🙂

Bersama Thimo di Revin

Penginapan di Paris, Francis

Di Paris menginap di hotel du Globe selama 2 hari dengan budget minim. Enaknya tempatnya dikasih handuk, dekat dengan tempat wisata Paris serta wifi gratisan dan ada TV. Dekat dengan wisatanya yang mirip Taj Mahal katanya. Sekilas sih miripnya 🙂

Penginapan di London, Inggris

Di Inggris menginap melalui Airbnb dengan satu kamar berisi 5 sampai 6 orang. Di London memang harga benar-benar mahal. Terus jika ingin nyuci baju maka kena chas lagi. Namun tetap aku nyuci baju juga disini. Enaknya sih harganya murah walau murahnya kena 200rb juga ya. Di London aku hanya menginap selama 2 hari saja. Disini merasakan tidur empet-empetan alias sempit-sempitan demi penghematan.

Ternyata London kejam, kejam di biaya T_T

Penginapan di Edinburgh, Scotlandia

Di Edinburgh aku mengkombinasikan antara Airbnb dan Couchsurfing. Di Edinburgh aku menginap selama 5 hari, 4 hari dengan Airbnb dan sisanya Couchsurfing. Yang paling seru dengan Airbnb karena hostnya baik, bisa masak, bisa nyuci gratis lagi terus tempatnya strategis, benar-benar di Kota Tua Edinburgh, dekat dengan Edinburgh Castle malahan.

Untuk Couchsurfing sendiri, hostnya kurang asik karena terlalu sibuk dan aku tidak dikasih kunci rumah, padahal di hari terakhir ingin berjumpa dengan kakak blogger yang tinggal disana. Sampai si kakak ngeledekin kalau aku itu bak penjaga rumah. Tapi mau gimana demi hemat 😛

Penginapan di Bremen, German

Teman baru di Bremen

Di Bremen, hostku lumayan asik bernama Daniel. Dia menjemput di Bandara, menemani walking tour Bremen pada malam hari bahkan mengajak makan di restaurant Vietnam dengan sistem BMM alias bayar masing-masing. Namun sayang si Daniel agak sensi denganku dan teman Poland karena bajunya basah karena kami tidak mengerti sistem mesin cucinya karena berbahasa German sehingga kami jemur kainnya. Disini agak canggung padahal aku pergi ke Budapest jam 1 siangnya.

Nah di apartemennya aku juga berkenalan dengan cewek asal Polandia yang memiliki kegilaan denganku. Terus di Bremen juga aku berkenalan dengan Frank, si Frank ini lah yang traktirin aku dan teman Poland kebab serta diantar di stasiun bus demi ke Praha.

Penginapan di Prague, Chezk Republik

Bersama Jacub di Eiffelnya Prague

Selama menginap di Praha aku menggunakan Couchsurfing. Di Praha aku mendapatkan host super baiknya kebangetan. Sudahlan dijemput pas jam 3 pagi terus dikasih teh eh pas bangunnya dikasih roti dengan keju.

Bukan hanya itu pas masuk ke tempat wisata di Praha mirip Eiffel malah dibayarin dia karena aku belum nukar uang, terus dibawa keliling Kota Praha dengan jalan kaki eh sorenya malah ditraktir makan di restaurant.

Baiknya tidak sampai disitu, dia sengaja nanya aku mau dimasakin apa terus aku jawab “mas potato” eh malah diajak ke supermarket terus dibeliin kentang terus dimasakin keesokan harinya.

Dia juga menolongku ketika aku salah tanggal ke Vienna pas jam 12 malam dibantuin sama dia. Untung saat itu aku tidak ditinggal pergi padahal udah “say bye”, kalau gak ngegembel dah di Praha.

Jacub juga membantuku membeli tiket ke Budapest terus ditambahin uangnya lagi pas uangku kurang dan di hari terakhir malah ditraktir kebab 😀

Ah pokoknya perfect hostlah!

#london #uk #travel #travelblogger #journey

A post shared by Winny Marlina (@winnymarlina) on

Penginapan di Vienna, Austria

Di Vienna lagi-lagi aku menggunakan Couchsurfing. Di Vienna aku hanya 2 hari saja dan menemukan host yang agak-agak aneh dan banyak aturannya. Sensitive tapi pada dasarnya baik.

Jadi pas jam 4 pagi, aku dijemput di terminal bus namun dia marah karena aku salah tanggal nyampe di Vienna terus pas ketemu dia mau peluk aku menolak eh si kawan sensi.

Do not come to Europe, if u can not accept the culture, begitu katanya

I felt bad that you do not accept my hug, its just for friendship, lanjutnya

Ih sumpah pas dia jemput pengen rasanya bilang “siapa coba yang maksa buat nginap di tempatnya padahal aku dah mau batalin”. Disini benar-benar aku merasa “duh, ngapain kesini”

Terus aturannya banyak “gak boleh ini itu” terus ngungkit kebaikannya, padahal si kawan ini referensinya di CS sampai ratusan loh. Yang lucu dia nyuruh aku isi referensi yang bagus semua padahal aku agak kesel dengannya. Belum lagi mengatur pakaian apa pas tidur karena takut sofanya kotor.

Kan agak-agak!

Disini aku tidak merasa nyaman.

Sisi baiknya dia, jadi pas aku datang ke Vienna, dia lagi dinas kerja ke Italy sehingga rumahnya dititipin ke aku terus malah dia ninggalin uang 10 Euro buatku makan dan hadiah berupa cokelat dan permen.

Benar-benar seperti joker kan?

Padahal di tempatnya sih banyak photonya dengan turis dari segala penjuru dunia cuma karena sensi dari awal yah jadi gitu deh. Namun walau demikian cukup baiklah dia memberikanku tumpangan di rumahnya padahal dia tidak ada terlepas prilakunya yang ababil alias terkadang baik terkadang aneh.

Austria

Penginapan di Budapest, Hungary

Untuk Budapest aku menginap dengan menggunakan Couchsurfing. Secara umum hostku sih baik cuma agak-agak juga. Baru juga nyampe Budapest si kawan sudah ngajak ke Underground Club terus karena melihat mukaku bosan malah disuruh pulang sendiri. Padahal aku juga gak tahu jalan, dan wajar aku bosan karena memang aku bukan anak Clubbing.

Alhasil pulang sendiri pas tengah malam. Terus masuk ke apartemennya susah lagi, belum bangunan tua dari tahun 1800an iih horor tengah malam kembali ke tempatnya sendirian.

Disini aku mengelus dada “Tuhan begini banget ya ngegembeli di Eropa”

Eh kesialan tidak sampai disitu, dia malah mengusir secara halus ketika aku belum memutuskan ke Kosovo atau ke Italy padahal tiket belum aku beli sama sekali waktu itu.

Winny, Have u decided to go to Kosovo? 

Sorry you have to move because i have another host,

  I only can help you until 12 am tomorrow, 

I need to clean my room, begitu isi textnya

Sontak aku whatsapp temanku Fia yang kebetulan lagi kuliah di Budapest sampai ngerumpi kami dan aku cerita di grup pengusiran halusku. Sayangnya temanku tidak bisa membantu karena dia juga tinggal di asrama.  Alhasil semalaman aku galau memikirkan kemana keesokan harinya ke Kosovo atau Italy. Padahal sudah janji dengan Fia dan Jean (teman yang aku jumpa di Vienna yang kebetulan temannya temanku Fia) untuk bertemu di Parliment. Jean sempat menawarkan nginap di hostelnya seharga 10 euro saja permalam namun karena aku sudah 2 hari di Budapest dan ingin mengejar Kosovo akhirnya aku memutuskan meninggalkan Budapest.

Penginapan di Phristina, Kosovo

Selama 2 hari di KOSOVO, aku menggunakan Couchsurfing dengan host yang baik sekali. Kalau pengalaman Cs kurnag enak di Budapest dan Vienna, maka surga nya host baik itu di Kosovo sama seperti di Cheko.

Host Kosovoku bernama Shend sudah jam 7 pagi datang ke terminal bus untuk menjemputku ke Apertemennya. Di Apertemennya aku berkenalan dengan Cs Inggris. Selama di Kosovo aku merasakan rasanya jadi “turis”. Mengunjungi Kosovo membuatku menjadi “artis dadakan”. Orangnya ramah-ramah dan makanannya murah-murah serta halal. Sepanjang jalan orang akan tahu kalau aku turis, mungkin dari mukaku yang tak biasa!

Bersama Valon Lepaja, mantan Pacar Khayalan di Kosovo
Hey how are you, where are you from? 
Begitulah pertanyaan orang Kosovo ketika melihatku

Di Kosovo juga aku berjumpa dengan Vissari, teman yang aku kenal di Cs namun tidak bisa menghost namun bisa menemani keliling wisata Kosovo. Bahkan Visari membawaku keliling kota Phristinaserta ke tempat wisata Kosovo yang tidak ada di Google seperti “Danau”, maklum limited edition. Visari juga mentraktir makan di restaurant serta membantuku mencari pacar khayalanku sewaktu Kuliah alias Cinta Tak Sampai.

Iya tujuan ke Kosovo untuk mencari suami yang beristri, mantan khayalan sewaktu kuliah. hihihih 😀

Seru sekali pokoknya di Kosovo.

Bersama Visari di Kosovo

Penginapan di Venice, Italy

Di Venice, aku menginap dengan menggunakan Airbnb dan tempatnya lumayan bersih terus ada sarapan pagi gratis. Yang gak enaknya tidak bisa mencuci baju karena kena biaya tambahan lagi serta kalau ingin ke Venice surganya Sungai, air, canal, dan katanya Kota Romantis harus naik kereta lagi.

Satu stasiun!

Venice

Penginapan di Pisa, Italy

Di Pisa menggunakan situs booking. Rumah penginapanku ini asiknya bisa masak sehingga disini bisa masak Pizza. Tempatnya juga dekat dengan terminal bus serta dekat dengan Menara Pisa. Di depan penginapan ada supermarket terus kalau ke Menara Pisa tinggal jalan 5 menit sampai.

Lumayan strategis!

Penginapan di Rome, Italy

Untuk penginapan di Rome menginap dengan situs booking selama 1 hari sisanya menginap di hotel bintang 2 dan tempatnya strategis kemana-mana. Walau hotelnya bintang 2 namun harganya paling murah dari situs booking.

Nah kalau dipikir-pikir, salah satu penyumbang terbesar cara ku hemat di Eropa adalah penginapan. Rata-rata tertolong karena mendapatkan penginapan gratis meski tidak semuanya asik ya!

Tapi kapan lagi merasakan jalan sendiri diusir secara halus, terus hostnya senstive hingga host yang super baik sampai mendapatkan keluarga baru di Revin?

Semuanya ada di perjalanan Eropa,

  Iam a girl and alone but survive ;)

Transportasi selama 1 bulan Backpackeran di Eropa

Untuk transportasi awalnya aku Galau tingkat tinggi. Apakah harus membeli Eurail Global Pass seharga untuk dewasa (umur 28 tahun keatas) seharga 940 dan bisa dipakai selama 1 bulan dan continuous. Namun dengan pertimbangan tidak termasuk ke Kosovo serta rincian perjalananku yang tidak jelas karena aku belum memutuskan kendaraan apa yang akan aku gunakan selama di Eropa, akhirnya aku tidak jadi membeli tiket kereta. Kebanyakan antar negara di Eropa transportasi yang aku gunakan adalah bus dan pesawat. Karena kalau dari jauh-jauh hari harga tiket pesawat di Eropa itu bisa murah sekali dengan catatan jangan bawa barang terlalu banyak.

Untuk ringkasan transportasi yang aku gunakan selama di Eropa

Belanda

Untuk Belanda dalam Kota aku menggunakan tram dan kereta. Serta jalan kaki pas keliling Kota Amsterdam. Untuk transportasi Belanda-Brussel kebeulan dijemput dan cukup bayar bensin 60 Euro sudah bisa ke Revin dan Brussel.

Brussel, Revin

Untuk kedua Kota ini transportasinya adalah mobil namun pas di Kotanya jalan kaki.

Paris

Paris kebanyakan yang digunakan adalah Metro dan membeli Paris Metro Pass itu dibawah 20 Euro untuk 2 hari dan puas keliling Parisnya. Sedangkan ke tempat wisatanya kebanyakan sih jalan kaki lalu kalau ada Metro manfaatkan Metor biar tidak rugi membeli Paris Pass.  Untuk perjalanan Paris-London dengan naik pesawat EasyJet. Kalau beli jauh-jauh hari tiketnya murah ceria sekali, bahkan bisa lebih murah daripada harga bus.

London

Transportasi London ini benar-benar mahal, bahkan passnya aja membuat keringat. Keretenya dan antar stasiunnya juga. Minimal 3 Poundsterling sekali jalan dengan jarak yang dekat. Di London satu hari membuat tekor. Alhasil belajar siasat dan menemukan kalau cara termurah di London dengan menyewa sepada seharga 2 Poundsterling saja. Di London aku juga sempat merasakan naik bus tingkat London yang harganya sedikit lebih murah daripada naik kereta.

Untuk perjalanan dari London ke Edinburg dengan EasyJet, merupakan maskapai murah meriah di Eropa.

Edinburgh

Di Edinburgh dari Bandara naik trem kemudian di Kota Tua Edinburgnya jalan kaki. Sehingga gratis transportasi saat di Edinburgh modal jalan kaki saja. Dari Edinburgh ke Bremen aku naik pesawat dengan RyanAir sejenis dengan Easy Jet seharga 50 Euro.

Bremen

Transportasi di Bremen yang aku pakai adalah trem kemudian untuk keliling kotanya dengan jalan kaki.

Dari Bremen ke Prague aku menggunakan bus Flixbus seharga 20 Euro. Kalau beli jauh-jauh hari maka harganya bisa jauh lebuh murah

Prague

Di Praha transportasinya dengan mobil karena dengan Jacub sementara untuk ke Old Town jalan kaki. Di Praha aku benar-benar hemat.

Untuk bus dari Prague-Vienna aku menggunakan Flixbus.

Vienna

Di Vienna untuk wisata Kotanya aku jalan kaki. Karena ogah membayat tiket kereta. Untuk perjalanan dari Vienna ke Budapest dengan bus Regio jet

Budapest

Di Budapest dari terminal aku naik kereta ke tempat penginapan kemudian jalan kaki pas keliling Kotanya. Dari Budapest ke Phristina naik travel seharga 50 Euro, isinya 6-8 orang dalam satu mobil. Ini persis seperti perjalananku dari MEDAN-PADANGSIDEMPUAN.

Phristina

Di Phristina, Kosovo aku diantara kemana-mana dengan mobil sehingga aku tidak mengeluarkan uang transportasi selana di Kosovo. Untuk Tiket Bus dari Phristina ke Cassanova seharga 50 Euro.

Venice

Transportasi di Venice dengan kerena seharga 1,25 Euro kemudian di Venice jalan kaki. Dari Venice ke Pisa naik bus dengan Eurolines seharga 27 Euro.

Pisa

Untuk Pisa aku tidak mengeluarkan biaya transportasi sama sekali karena kebanyakan jalan kaki. Untuk transportasi dari Pisa ke Rome dengan flixbus.

Rome

Di Rome kebanyakan dengan kereta kemudian jalan kaki. Disini aku tidak membeli Rome pass seharga 7 Euro sehari karena demi menghemat. Kebanyakan jalan kaki. Untuk transportasi ke Amsterdamnya dengan pesawat.

Vatican

Makanan selama 1 bulan Backpackeran di Eropa

Untuk makanan khususnya umat Muslim tidak perlu khawatir karena banyak makanan halal yang bisa ditemukan di Eropa. Kalau mau hemat masak sendiri, belanja di Supermarket bisa bertahan 2-3 hari kemudian masak di tempat penginapan. Di Eropa kebanyakan makanan yang aku makan itu kalau tidak roti, kebab kalau tidak makanan India. Pernah juga masak tinggal beli di supermarket. Namun untuk bawa tempat masak dari Indonesia terlalu repot deh karena mudah kok dapat makanan murah meriah. Malahan kalau belanja di supermarket jauh lebih murah. Memang untuk standar makan di Eropa Barat harganya jauh lebih mahal bila dibandingkan dengan Eropa Timur. Surga makanan yang paling aku suka itu di Kosovo, harganya murah, porsinya banyak dan halal. Untuk supermarket favoriteku selama di Eropa adalah Lidl karena harganya murah dan sering diskon 😀

Tips hemat selama 1 bulan Backpackeran di Eropa

Eropa itu susah-gampang ditaklukkan dan tergantung kepada individu karena tolak ukur murah dan mahal kan tergantung kepribadian masing-masing. Dari diriku sendiri pelajaran yang aku dapatkan untuk berhemat selama di Eropa dengan 1 bulan yaitu:

1. Bawa baju seperlunya dan pastikan pakaian yang dibawa sesuai dengan musim. Pas aku ke EROPA lagi Musim Semi dan suhunya itu 5 Derajat sampai 18 Derajat sehingga pas salah kostum dan sepatu salah alhasil jadi membeli sepatu lagi.

2. Bawa pelembab bibir dan lotion baik untuk wajah maupun badan karena saat di Eropa asli kulitku itu pecah-pecah. Alhasil aku jadinya ke Farmasi untuk membeli obat

3. Belilah tiket bus atau kereta atau pesawat dari jauh-jauh hari karena harganya jauh lebih murah bila dibandingkan membeli pas dekat kepergian atau on the spot.

4. Banyak wifi di Eropa sehingga tidak perlu membeli SIMCARD namun bagi yang maniak internet maka beli di salah satu Negara saja.

5. Tidak usah malu jalan kaki ke wisatanya karena lumayan menghemat biaya transportasi. Sesuaikan dengan kebutuhan kalau memang kebanyakan daftar wisata yang ingin dikunjungi maka pilihan hematnya beli turis pass atau transportasi pass yang seharian.

6. Untuk pemilihan transportasi juga tergantung kebutuhan. Rajin-rajinlah melihat situs seperti Easy Jet dan Ryan air untuk promo tiket di Eropa namun biasanya belum termasuk bagasi. Maksimum bagasi yang diperbolehkan juga terbatas karena memang harganya murah. Untuk bus banyak sekali di Eropa yang terkenal seperti Flixbus namun aku tidak terlalu suka flixbus karena harganya mahal, walau jauh hari murah. Yang paling aku suka adalah naik Regio Jet karena dikasih minum gratis, hanya saja jaringan transportasi di Eropanya tidak terlalu banyak.

7. Penginapan untuk murah bisa menggunakan situs booking, airbnb, couchsurfing atau di hostel budget.

8. Persiapkan uang minimal 35 Euro sehari jika ingin ke Eropa. Menjelajah Eropa Timur jauh lebih murah bila dibandingkan Eropa Barat namun entah kenapa aku merasa kalau Eropa Barat itu memang cantik.

Bristih Museum

Pelajaran berharga selama 1 bulan Backpackeran di Eropa

Melakukan perjalanan seorang diri ke Eropa banyak sekali pelajaran dan membuka wawasan mengenai Eropa antaranya aku lebih mengenal diri sendiri dan lebih menikmati perjalananku. Aku bukan lagi si Winny yang jika ke suatu tempat harus kesini kesitu dan menamatkan semua objek wisatanya, disini aku lebih berdamai dengan diri sendiri. Memilih tempat yang aku sukai tanpa harus memaksakan diri. Di Eropa juga aku belajar satu hal bahwa INDONESIA itu jauh lebih indah dari yang aku bayangkan. Serta jangan pikir kalau kehidupan di Eropa itu semuanya wow karena disana orangnya benar-benar bekerja dan usaha. Bahkan aku sempat agak kaget melihat betapa banyaknya Imigran di Paris, melihat pengemis di Budapest sampai manusi kardus di Rome, yang awalnya aku kira tidak ada di Eropa. Namun dari segi transportasi dan layanan public maka Eropa itu patut diacungkan jempol 🙂

PS: Kesan di minggu pertama di Eropa ketika melihat Bangunan Tua, aku berkata “wow” terus lama-lama hingga di hari ke 32 berangsur-angsur turun dan menjadi “ehm”, biasa saja. Entahlah mungkin hanya perasaanku saja 🙂

Nah loh, siapa yang mau ke Eropa?

Ada yang punya pengalaman selama di Eropa?

Apa kesannya selama di Eropa?

Salam

Winny