Hello World!

Payakumbuh, 14 Mei 2019

Indonesia

Mei 2018, setahun telah berlalu sejak aku memutuskan untuk berhenti bekerja di Loreal Indonesia sebagai Manager Supply Chain Customer Care dan menjadi seorang Dosen di salah Universitas di Indonesia tepatnya berada di Payakumbuh.

Orang yang pertama sekali yang mendukungku menjadi Dosen itu adalah ibuku karena dia juga adalah seorang Guru. Yang paling menolak keras adalah adikku karena melihat gaji yang menggiurkan di swasta.

Memang kalau dibandingkan dengan gaji serta fasilitas bekerja di swasta yang notabenenya bonafit dengan sebagai Dosen itu bagai langit dan bumi. Apalagi menjadi Manajer di usia muda merupakan impianku dan anehnya aku begitu saja menyerah dengan impian itu karena mengikuti ibuku dan personal reason. Satu lagi kenapa jadi dosen karena ilmu yang diajarkan dan namanya “aktualisasi diri”. Aku mencapai tahap tertinggi Maslow di usia yang belia. Lagian setiap pekerjaan ada plus minus. Bedanya bekerja di swasta dengan jabatan yang ok, Alhamdulillah hidupku makmur dari segi materi bahkan aku bisa keliling dunia, mencapai impian yang aku inginkan sewaktu kuliah yang kalau aku flashback tidak mungkin anak kampung dari keluarga super miskin sepertiku bisa mewujudkan impianku. Itulah buah dari belajar. Aku sangat bersyukur karena aku bisa hidup mandiri tanpa biaya orang tua sejak wisuda, artinya aku tidak menyusahkan orang tua. Sementara menjadi Dosen itu kebalikan dari kehidupanku di kerjaan swasta. Tapi yang namanya passion dan ikut serta dalam mencerdaskan hidup Berbangsa itu beda cerita. Meski downgrade yang dulunya ke RS elit ke Puskesmas, yang fasilitas lengkap ke minim fasilitas tapi hati tetap senang menjalaninya.

Memang aku cukup beruntung dalam dunia pendidikan karena aku sangat suka belajar, bahkan belajar itu hobi. Dulu kalau aku tidak juara aku merasa frustasi padahal dengan seiring berjalannya hidup dan pengalaman, nyatanya dunia kerja dan kehidupan itu tidak membutuhkan nilai akademik yang didapat di sekolah tapi ilmu dan keterampilan serta cara bersikap. Nilai itu hanya pemanis saja dan kau tidak butuh nilai karena bukan kunci kesuksesan. Kunci sukses itu dari kedisiplinan diri, kemauan tinggi serta motivasi diri dan terus belajar tanpa menyerah dengan keadaan.

Lalu apakah aku menyesal telah resign dari pekerjaan lama ku? Tidak. Karena dengan mengajar aku belajar serta bekerja secara ikhlas. Karena niat yang tulus itu pahalanya dari Allah. Bayangkan ya di kerjaan lama feels like a boss, datang ke kantor itu jamnya fleksibel, ruangan ber AC, kantornya elit yang keluar langsung Mall, terus kalau sakit gak perlu khawatir karena ada asuransi jadi bebas milih Rumah Sakit manapun terus ada hampers alias produk gratis, ada training, nonton film gratis, pedi medi gratis, jalan-jalan gratis, sampai makan siang aja gratis.

Terus pas jadi dosen betapa culture shock diriku, boro-boro ruangan ber AC, tempat duduk buat bekerja tak ada. Tapi aku tidak mengeluh karena aku adalah tipe orang ketika aku memutuskan sesuatu maka aku akan totalitas dan menerima segala resikonya. Karena bekerja dimanapun harus lah profesional. Bahkan ketika aku sudah komitmen maka aku akan jalankan dengan sebaik mungkin.

Selama menjadi Dosen itu aku memiliki pengalaman berwarna. Meski merupakan Dosen baru tapi aku terkenal dengan “Dosen Killer”, “Dosen perfeksionis” bahkan dikenal sebagai “Dosen Congkak”.

Khusus sebutan nama yang terakhir aku kekeh, “sumpah” karena aku merasa bukan congkak karena apalah yang aku congkakkan. Ke kampus saja jalan kaki sampe dikira miskin kali padahal iya karena gaji dosen itu sungguh bikin elus dada. Bahkan gajiku 7 thn lalu lebih gede dari gaji dosen. Namanya aja “DO” “SEN”.

Yang lucu selama 1 tahun bekerja jadi Dosen, tabunganku gak bertambah tapi syukurnya gak berkurang. Tapi aku masih hidup juga tapi tak se-ekslusive yang dulu. Pembelajarannya agar rendah diri dan biar tidak sombong. Itu adalah cara Tuhan bagiku untuk selalu mawas diri. Kalau tidak, enak banget hidup aku. Saking enaknya untuk membeli sesuatu tidak berpikir ulang.

Terus kenapa bisa dibilang dosen perfeksionis dan killer?

Karena aku mengubah sistem yang mana untuk mendapatkan nilai itu memang dengan usaha keras dan belajar sungguh-sungguh. Terus apabila mahasiswa telat ngasih laporan maka nilainya 0 dan mahasiswa diwajibkan untuk tahu pelajaran sebelum memasuki kelas. Karena kebetulan aku mengajar di Fakultas Ekonomi Jurusan Managemen jadi aku perhatikan anak-anaknya santai. Tidak suka diberi tugas tapi mengharapkan nilai A atau minimal B. Sementara yang mengikuti kelasku sudah ngerjakan tapi syukur-syukur dapat C eh ada yang gagal lagi. Padahal kalau mahasiswa gagal itu Dosennya juga gagal.

Kenapa begitu?

Karena mereka terbiasa dengan kuliah yang santai tapi nilai bagus, mereka tidak mengenal yang namanya perjuangan. Memang tidak etis membandingkan saat aku kuliah di Teknik dulu, karena anak Teknik itu laporan mahasiswaku yang jadi sumber kebencian kepadaku itu dikerjakan 1 Semester tapi bagi anak Teknik itu dikerjakan hanya dalam 1 minggu saja. Laporan dan gagal bagi kami anak Teknik itu biasa. Akibatnya mental kami itu sudah ditempa dengan baik sehingga ketika tamat kami bisa bekerja dimanapun karena kami bukan anak culas, manja maupun cengeng. Bahkan teman yang biasa aja itu tetap usaha dengan sebaik mungkin. Makanya teman-temanku rata-rata bekerja di perusahan yang ok.

Sangat jauh berbeda dengan kids zaman now yang suka ngeluh dan maunya instan. Bahkan tidak disiplin. Meski diingatin tapi tetap ya nasehat tidak diindahkan, pas gagal baru stres sendiri. Tapi dalam hal ini saya tidak akan mengeneralkan karena tidak semua mahasiswaku seperti itu. Ada bahkan mahasiswa yang sungguh ketika dia nilainya turun berjuang keras sehingga memang akhirnya dia dapat nilai A di kelasku. Aku bahkan sangat bangga dengan anak itu. Beberapa malahan mahasiswa bandel tapi mau berusaha dan menghargai orang lain.

Biasanya anak-anak pemalas itu akan stress di kelasku sementara yang rajin suka. Tapi entahlah! Karena terkadang manusia itu baik di depan tapi dibelakang menusuk dan itu lumrah dimanapun bekerja.

Untuk nilai sendiri aku bukannya pelit, kalau memang layak A sekelas pasti aku kasih A karena nilai selalu transparan. Yang aku sayangkan adalah pola pikir dan mental sebagain mahasiswa yang pernah mengikuti kuliahku itu mentalnya masih orientasi “nilai” bukan “hasil” atau “ilmu”. Sepertinya paradigmanya menghalalkan segala cara yang penting dapat nilai bagus. Mereka tidak tahu kalau zaman sekarang harus benar-benar belajar karena dunia semakin cepat. Kadang aku prihatin dengan kondisi mahasiswa yang semester akhir pas ditanya pelajaran malah blank jadi sia-sia belajar dari Semester awal itu karena semua yang dipelajari masuk telinga kiri keluar telinga kanan. Pas dinasehatin memberontak, disitu tantangan jadi Dosen. Ternyata jadi Dosen itu tidak seindah yang dibayangkan, bahkan lebih susah dari bekerja di perusahaan karena mendidik manusia dengan latar belakang serta budaya dan cara pikir berbeda penuh tantangan.

Ironisnya ada juga mahasiswa dengan kepribadian ganda yang kalau di depan manis semanis madu tapi dibelakang menusuk. Bahkan tidak bicara langsung ketika tidak suka sesuatu dan kadang berpikir tidak panjang. Malahan karena tidak berani speak up membuat forum ketidak sukaan atau istilahnya cari teman. Ini jelas menjadi isu kontemporer. Kalau aku karena memang dari suku Batak ketika aku tidak suka dengan seseorang aku akan langsung mengatakannya tanpa harus memprovokasi orang lain. Karena ketika bicara dari belakang itu namanya ” coward”. Dulu bahkan kepada Direktur sendiri ketika tidak suka, aku akan bilang tidak suka. Padahal jelas-jelas aku bisa dipecat tapi pada kenyataan Direktur tempatku bekerja di perusahan lama malahan senang dan katanya aku kritis hihi. Beliau juga shock kok bisa aku terjun ke dunia Birokrasi yang terkenal pemalas karena Bos lamaku ini tahunya aku bekerja on time, dan berkulitas meski agak cocky katanya. Tapi balik lagi namanya “amal jariah”

Dengan kedatangan diriku seperti setan bahkan didoakan “stroke” loh! Nampak kali mereka tidak pernah menikmati pahitnya empedu kehidupan. Padahal kampus kecil ini tidak seberapa, bahkan anak-anak kuliah Jawa itu belajar emang sebagai kebutuhan bukan paksaan. Disini iba melihat mahasiswa Sumatera khususnya di tempatku itu dari pengetahuan dan keterampilan sangat minim. Saingan mereka banyak tidak hanya di Sumatera tapi secara Global. Sayangnya mereka tidak terbiasa, tidak mau dan tidak perduli.

Aku bahkan prihatin karena kasihan orang tua nya menyekolahkan anak tinggi-tinggi tapi ke kampus buat gaya-gayaan saja. Bahkan belajar itu malas-malasan, padahal merekalah generasi penerus bangsa.

Lalu apakah dengan kebencian mahasiswa dengan sistem yang aku buat maka harus berubah? Jawabannya tidak, karena “You will face your greatest opposition when you are closest to your biggest miracle. Anytime you try to do something greatwith your life, there are always going to be others trying to bring you down. …No matter what form hate takes, it is always hard to deal with.

Jadi kalau dalam bekerja pasti ada yang suka dan tidak suka dan tentu saja can not please anyone.

Terus buat kumpulan pembenci? Biarkan saja artinya mereka kelebihan waktu. Sayang waktu yang banyak itu bukan untuk belajar dan berkarya.

Lagian dari yang tidak suka tentu ada juga yang suka karena masih banyak mahasiswa yang haus akan ilmu dan memiliki etika dan pemikiran kritis.

Justru itu adalah tantangan sebagai Dosen, karena mendidik itu suatu tantangan.

Dan motto dalam hidupku itu jangan terlalu benci sesuatu berlebihan karena bisa jadi kamu benci sesuatu tapi itu baik bagimu. (Al-Baqarah: 216).

Salam

Winny

Advertisements

Posted by Winny Marlina

Indonesian, Travel Blogger and Engineer

10 Comments

  1. mahasiswamu bakalan kaget kalau tahu dosennya traveller kece banget.. haha…

    Reply

    1. Mereka pasti shock kak kok traveling tapi gembel😁

      Reply

  2. Wow, amazing change & choice, sebuah perubahan & pilihan yang bisa menjadi amal jariyah dirimu Win, mantap

    Reply

    1. Makasih Kus, aku banting setir

      Reply

  3. Cocoknya ngajar S2, mbak. Yakin deh bakal beda sama S1. Urusan komunikasi dan yang lainnya hahhahah. Selamat menjadi dosen, jadi tiap semester disibukkan dengan rapat kurikulum dan yang lainnya.

    Reply

  4. Keren jadi dosen… mungkin perlu pendekatan personal ya kalau murid2 semacam itu. Ditantang..kayak di cerita GTO #ehitumahpremanwkwk

    Reply

  5. Wah..jadi ini kerjaan baru itok di payakumbuh.. Emang susah ya jadi tenaga pendidik kaya dosen.. ibuku dan sodara dr ibu dan ayah kebanyakan guru jadi tau gimana susahnya mendidik anak orang.. semangat terus tok

    Reply

  6. Tetap semangat ya Ibu Dosen Winny dalam memajukan pendidikan bangsa!! Duuh hobby-nya belajar udah kayak Maudy Ayunda aja yaaa

    Reply

  7. Senang belajar bersama ibu dosen Winny. Meracik olah ilmu dengan sajian pas generasi kini. Salam

    Reply

  8. ternyata jadi dosen ya, eeeee dosen malah asik mbak, liburannya panjang, kesempatan traveling terbuka lebar

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.