Ngetrip ke Danau Toba Via Brastagi


“And, when you want something, all the universe conspires in helping you to achieve it.”

By Paulo Coelho, The Alchemist

silalahi nabolak
Silalahi Nabolak

Hello World!

Medan, 2011

Aku hendak mengenang kenangan perjalanan indah bersama teman kuliahku waktu di USU dulu tepatnya kalau tidak salah tahun 2011 apa tahun 2010. Teman-temanku itu ialah Santo, Nono, Kak Emma, Indra dan Erik yang sengaja menculikku untuk melakukan trip ke Danau Toba via Brastagi dengan mobil. Aku yang hobi jalan suka-suka aja diajakin jalan apalagi mengelilingi Danau Toba dari sisi lain, selain itu aku selalu jatuh cinta dengan keindahan Danau Toba, objek wisata populer Sumatera Utara bukan objek wisata Medan ya karena jaraknya jauh dari Medan 🙂

Aku masih ingat betul waktu itu kami trip ke Danau Toba dari rute jalan Brastagi 2 hari 2 malam dengan mobil pribadi dan singgah ditempat tempat wisata menarik Sumatera Utara mulai dari Puncak Brastagi hingga ke air terjun Sipiso-piso. Nah kalau ingat tentang Puncak maka langsung kepada Puncak Bogor bukan? Tapi ini bukan Puncak Bogor melainkan Puncak Brastagi sebuah tempat untuk melihat Kota Medan dari atas pegunungan dengan jalan berliku serta tempat favorite warga Medan untuk menghabiskan liburan di akhir pekan. Selain itu di Puncak Brastagi yang aku lupa sebutan tempatnya, bisa makan mie panas, minum kopi atau makan jagung sambil memandangi hamparan kota dibawahnya. Terus cuaca disana juga dinginnya seperti Bogor, pokoknya puncak Brastagi mirip Puncak Bogornya versi Sumatera Utara dah!

Brastagi Puncak Sumatera Utara
Kami di Brastagi Puncak Sumatera Utara

Walau kenangan perjalanan ke Brastagi sudah lama tapi aku masih ingat betul betapa dinginnya cuaca Brastagi jam 12 malam. Gilanya teman-temanku emang sengaja datang pas jam 12 malam, alhasil untuk menghangatkan diri maka kami minum air susu panas dengan jagung bakar. Terus menghabiskan waktu dengan seru-seruan! Kalau diingat kenangan lucu beginian jadi senyum-senyum sendiri dah hahaha 😀

Yang paling gokil ketika temanku Santo dan si Nono alias Suhartono menyuruhku pura-pura berphoto seperti cinta segitiga dengan pilihannya uang atau handphone jadul ahahhahah 😀

Saking lucunya lupa betapa dinginnya Brastagi pas malam hari, kayaknya waktu itu kami kurang kerjaan banget, bener-bener mahasiswa aneh ;D

puncak brastagi
Suhartono, aku dan Susanto di puncak brastagi

Setelah puas makan jagung bakar maka kami berenam pun kembali untuk melakukan trip menjelajah Medan dan sekitarnya. Tujuan berikutnya ialah mandi air panas di pemandian Pemandian Air Panas Sidebu Debu. Sumatera Utara tentu saja punya air panas yang cukup terkenal dikalangan orang Medan yang terletak di Brastagi. Untuk jarak Brastagi-Medan hanya 3-5 jam saja loh jadi tidak heran kalau orang Medan tempat liburannya pasti ke Brastagi dan tentu saja mandi di pemandian air panas Sidebu-debu sudah jadi salah satu pilihan rekreasi.

Buat kami mandi di Pemandian Air Panas Sidebu Debu tak lain tak bukan untuk menunggu jam 6 pagi karena dari puncak Brastagi kami sudah sampai di Sidebu-debu jam 3 dini hari. Nah waktu itu mataku sudah lima volt sehingga aku lebih memilih tidur di kursi daripada mandi di kolam air panas Sidebu-debu. Kalau tidak salah kak Emma juga tidur, yang mandi hanya cowok saja. Jadi kalau ada rencana ke Medan bolehlah bekunjung ke Brastagi untuk mencoba objek wisata menarik Medan dan sekitarnya yaitu sensasi kolam sulfure Brastagi.

Pemandian Air Panas Sidebu Debu
Pemandian Air Panas Sidebu Debu

Keesokan harinya maka perjalanan kami lanjutkan ke air terjun Sipiso-piso, salah satu air terjun yang menakjubkan yang ada di Sumatera Utara. Untuk sampai kebawah harus melalui jalanan yang berliku serta dari jalan setapak dipinggir serta lamanya sampai kebawah jalan kaki kurang lebih 1 jam perjalanan menurun. Ibaratnya kayak jalan kaki merapat ke dinding batu dari sekitaran Sipiso-piso. Bayangkan saja tinggi air terjun Sipiso-piso kurang lebih 800 meter diatas permukaan laut, sehingga tidak heran Air terjun Sipiso-piso merupakan salah satu air terjun tertinggi di Sumatera Utara.

Turun dan naik ke bawah air terjun Sipiso-piso itu memiliki kesan tersendiri.  Kalau kau bilang sih air terjun Sipiso-piso merupakan tempat menarik di Medan dan sekitarnya. Terus waktu kami traveling ke air terjun Sipiso-piso ada pelangi sehingga pemandangannya indah sekali. Kami beruntung melihat pelangi dengan latar belakang air terjun Sipiso-piso 🙂

Sipiso-piso
Sipiso-piso

Oh ya satu lagi informasi yang mungkin berguna bagi pelancong yang hendak melihat view Danau Toba terbaik. Kalau menurutku salah satu view pemandangan Danau Toba terbaik itu dari Air Terjun Sipiso-Piso karena Danaunya kelihatan luar biasa dengan pemandangan pohon vinusnya. Kalau misalnya mau lihat Danau Toba dari Simalem resort kemahalan maka sebaiknya jalur lainnya bisa via Sipiso-piso dan dapat dua keuntungan sekaligus yaitu Air Terjun Sipiso-piso sekaligus Danau Toba super keren.

Waktu di Sipiso-piso pastinya kami berenam turun ke bawah walau akhirnya kami naik kembali itu ngos-ngosan banget tapi kami sangat menikmati perjalanan kami. Melihat sisi lain Danau Toba, karena biasanya dari Parapat maka kami melihatnya sebelah utara.

Danau Toba Sumatera Utara
Danau Toba Sumatera Utara

Puas dengan Danau Toba serta Sipiso-piso maka perjalanan keliling objek wisata Medan dan sekitarnya kami lanjutkan ke Tugu makam raja Silahisabungan. Untuk sampai ke Tugu Makam Raja Silahi itu tidak mudah karena waktu itu jalannya jelek sekali sehingga mobil agak susah lewat sehingga acap kali kami harus turun serta temanku bantu dorong. Kadang teman yang cowok harus menaruh batu sebagi pengganjal dan untungnya jalalan jelek tidak menghalangi kami sampaike Tugu Makam Raja.

Oh ya untuk pemandangannya lumayan kece habis loh menuju ke Tugu Makam Raja bahkan ada air terjun bertingkat yang bisa dilihat di atas pegunungan dari Tugu Makam Raja. Terus persawahan serta tepian Danau Toba yang memukau. Kurang keren apalagi coba perjalanan ke Danau Toba kami 🙂

 

Untuk tugu makam Raja Silahisabungan terdiri dari makam Raja dan tugu yang mirip Monas loh. Kalau diperhatikan mirip replika mini Monas ya? Kalau mau tahu seperti apa makam Raja Batak maka bolehlah ke Silahisabungan. Terus disekitar jalan sekitar Silahisabungan juga masih bisa melihat rumah tradisional Batak seperti jabu dengan Taruma artinya rumah panggung. Lokasi tugu makam Raja Silahisabungan di Silalahi Nabolak, Sumatera Utara.

Buat yang tidak tahu siapa itu Raja Silalahi maka dari buku Tarombo Siraja Batak, Raja Silalhi itu anak generasi ke lima dari Siraja Batak yang dimana Raja silalhi memiliki 2 istri dan 8 anak laki-laki dan 1 anak perempuan. Nama-nama anak Raja Silalahi yaitu Loho Raja, Tungkir Raja, Sondi Raja, Butar Raja, Bariba Raja, Batu Raja dan Tambun Raja yang kemudian bermunculan marga-marga dari cucu dan cicit Raja Silahisabungan .

Puas dari Raja Silahisabungan maka kami pun melanjukan perjalanan kami untuk mandi-mandi di tepian Danau Toba serta mencoba pasir putih Danau Toba. Katanya namanya Pantai Pasir putih Parbaba tapi cmiw ya 🙂

Waktu itu aku sempat kaget dengan adanya pantai pasir putih karena Danau Toba kan Danau bukan pantai. Bahkan aku punya pertanyaan bodoh kala itu “woi kita mandi di pantai apa di Danau ini?” hahahahh 🙂

Ok jadi pasirnya memang berwarna putih tapi tentu saja berasal dari Danau Toba bukan pantai seperti pantai laut. Nah Pasir putih bisa mandi Danau serta minjam ban-ban. Kami berenam tentu saja mandi di tepian Danau Toba dan disinilah ujung perjalanan kami hingga sore.

 

PS:

Tulisan ini aku tulis untuk mengenang perjalanan semaasa kuliah khususnya buat  Santo, Nono, Kak Emma, Indra dan Erik! It was amzing journey 😉

Danau Toba dari sebelah utara
Kami dengan latar belakang Danau Toba dari sebelah utara

Salam

Winny

Iklan

Napak Tilas Proklamasi dan Menyambut HUT RI ke Gedung Joang 45 Jakarta


The Republic of Indonesia is not owned by a group, does not belong to a religion, not owned by a tribe, not owned by a custom class, but it belongs to all of us from Sabang to Merauke!”

By Soekarno Hatta (Speech in Jakarta, 24 September 1955)

Museum Joang '45 Jakarta
Museum Joang ’45 Jakarta

Hello World!

Jakarta, 17 Agustus 2015

Aku memutuskan untuk napak tilas Proklamasi dan Menyambut HUT RI ke Gedung Joang 45 Jakarta alasannya ingin menggali lebih dalam tentang sejarah serta gaya bangunan Gedung Joang 45 itu menarik. Lokasi Gedung Joang 45 berada di  Jl. Menteng Raya No.31, Menteng, Jakarta Pusat. Tiket masuk ke dalam Gedung Joang ’45 atau Museum Juang 45 untuk dewasa Rp5000, mahasiswa Rp3000 dan pelajar Rp2000. Saat masuk aku hendak masuk maka aku ke loket tiket terus dikasih karcis sekaligus kaset yang berisi tentang informasi Mueum Joang ’45 dan Museum MH Thamrin. Gila travelling murah di Jakarta banget, aku emang pecinta museum deh 😀

Setelah tiket ada di tangan lalu aku masuk ke dalam museum. Museum Juang 45 sangat bagus, bayak informasi yang aku dapatkan serta peran penting dari Museum Juang pada masa zaman dahulu. Hal menarik lainnya yang aku suka ialah aku mendaptkan koleksi uang zaman dahulu, tenda pahlawan serta area photo Ir Soekarno dan Hatta. Menarik sekali, sayangnya waktu aku berkunjung ke museum Juang hanya aku saja pengunjungnya!

Museum Gedung Joang '45 Jakarta
Museum Gedung Joang ’45 Jakarta

Selain itu replika bagaiman proses Proklamasi terdapat di Gedung Joang 45. Dulu Gedung Joang 45 nama lainnya ialah Menteng 31 yang merupakan hotel Schomper pada masa penjajahan Jepang. Juli 1942  gedung menteng 31 diserahkan kepada pemuda Indonesia dan atas kerja keras pemuda seperti adam Malik, Sukarni, Chaerul Saleh, dan Ah Hanafi dijadikan asrma angkatan baru Indonesia yang kemudian dijadikan markas PUTERA “pusat tenaga rakyat” sehingga di Museum Juang 45 masih terdapat replika bendera PETA.  Selain itu Menteng 31 atau disebut gedung Joang 45 merupakan markas para pemuda radikal dalam melancarkan aksi merebet kemerdekaan dari tangan penjajah. Jadi waktu mengelilingi Gedung Joang 45 serasa menganal jauh tokoh Sukarni, Chaerul Saleh (bahkan pasport Chaerul Saleh ada di dalam Gedung Joang 45), kelompok anti fasisme Jepang kelompok PETA (pembela tanah air), hingga ke tokoh Poetera (poesat tenaga Rakyat) seperti Soekarno dan Hatta.

Uniknya lagi di museum Gedung Joang 45 terdapat kain bagor yang merupakan kain yang digunakan rakyat kelas menengah kebawa pada masa penjajahan kolonial Jepang seperti kain goni. Terus ada juga notulen rapat BPUPKI, intinya aku merasakan sensasi jejak perjuangan kemerdekaan RI dari koleksi benda peninggalan para pejuang Indonesia. Terakhir yang aku lakukan di Museum Joang 45 setelah puas melihat ruang pameran tetap dan temporer dengan pojok multimedia serta melihat perpustakaan referensi sejarah ilmiah maka aku pun menonton di bioskop Joang 45. Isi filmnya berupa penyangan film-film dokumenter dan film perjuangan lama, walau cuma aku sendiri pengunjungnya tapi aku menikmatinya. Apalagi di bagian belakang replika Soekarno Hatta terdapat kata kutipan menarik dari Soerkarno 🙂

Intinya jalan-jalan seharian di Jakarta untuk keliling museum Gedung Joang ’45 Jakarta sangat seru!

Teman-teman lain pernah juga napak tilas ke Gedung Joang 45 Jakarta?

SELAMAT HARI ULANG TAHUN REPUBLIK INDONESIA KE – 70,

Happy 70th independence day Indonesia!

“Gantungkan cita-cita mu setinggi langit! Bermimpilah setinggi langit. Jika engkau jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang.”~ Soekarno”

Salam

WiNNY

Pengalaman 72 Jam naik Bus ALS dari Padangsidempuan ke Jakarta #EdisiMudikLebaran


Where we love is home, home that our feet may leave, but not our hearts

(Oliver Holmes)

peta padangsidempuan-jakarta
Peta padangsidempuan-jakarta

Hello World!

Padangsidempuan-Jakarta, 22-24 Juli 2015

Untuk pertama kalinya dalam hidup ku segede begini naik bus dari kampungku Padangsidempuan ke Jakarta. Kalau kata mamaku waktu kecil aku pernah naik bus ke Jakarta tapi waktu kecil mana ingat. Biasanya jika aku ingin pulang kampung maka biasanya mencari tiket murah dan untuk ke kampungku penuh perjuangan loh! Karena Padangsidempuan berada di tengah-tengah Sumatera Barat dan Sumatera Utara jadi pesawatnya bisa melalui Bandara Kuala Namu atau Bandara di Padang (biasanya harganya murah) atau bisa juga dari Pekanbaru tapi ketiga bandara ini juga ke kampungku harus melanjutkan naik mini bus selama 8-12 jam.  Biasanya aku paling familiar dengan rute dari Kuala Namu terus ke Medan dulu buat jalan-jalan lalu dari Medan ke Padangsidempuan bisa 8-12 jam tergantung kondisi si pengemudi. Kalau pengemudinya lagi mabok bisalah dia bawa perjalanan 6-8 jam tapi bawanya kayak terbang dan ongkos dari Medan ke Padangsidempuan dengan L300 pas lebaran 2015 ini seharga Rp180.000. Jadi kalau dihitung-hitung 2,5 jam dengan pesawat dari Jakarta ke Medan lalu 10 jam dari Medan ke Padangsidempuan.

Perjuangan banget kan ke kampungku?

Kalau mau rute yang lebih cepat bisa melalui Bandara Ferdinan dari Jakarta langsung dengan Garuda terus dari Bandara Ferdinand 2,5 jam ke kampungku cuma agak mengurus gocek sedikit terlebih-lebih kalau pas Lebaran pasti harga tiket mahal!

Awalnya aku sangsi antara pulkam nggak ke Padangsidempuan bahkan pengen ke Bali karena harga tiketnya lebih murah tapi karena rindu mamaku dan adikku akhirnya aku pulkam juga tapi aku beli tiket pergi ke Medan tiket baliknya belum sama sekali. Masih berpikir mengikuti saran uwakku untuk naik Bus ALS ke Jakarta karena beliau sudah di Padangsidempuan dan terbiasa dengan naik bus. Alhasil dasar pertimbangan ada teman dan ingin tahu gimana rasanya naik bus 2 hari 2 malam karena normalnya Jakarta-padangsidempuan lama perjalanan seperti itu serta lumayan kan menjelajahin Sumatera dari jalur darat. Sekali-kali ingin anti mainstremlah itu pikirku padahal mamaku sudah melarang untuk naik bus karena memang kondisiku waktu pulang kampung itu jatuh sakit, dua hari pertama di kampung muntah jadi mamaku khawatir jika aku naik bus ke Jakarta.

Uwakku di Restauran dekat Danau Singkarak Sumbar
Uwakku di Restauran dekat Danau Singkarak Sumbar

Ok akhirnya aku memutuskan pulang ke Jakarta dengan naik bus bersawa uwakku. Jadilah pengalaman pertama naik bus ALS (PT. Antar Lintas Sumatera) dengan tujuan Padangsidempuan-Jakarta.

Kami berangkat hari selasa malam, katanya sih jam 7 malam tapi lelet jadi jam 10 malam juga berangkatnya. Jam 10 malamlah kami berangkat dari Padangsidempuan ke Jakarta.

Pengalaman lucu naik bus itu ada ketika satu mobil dengan inang-inang Batak (emak-emak Batak), full satu mobil isinya kebanyakan Batak jadi lucu-lucu saat di mobil. Terus mobilnya itu suka sekali berhenti untuk makan dan sebagainya.

 

 

pengalaman naik bus
Inang-iang pengalaman naik bus

Untuk rute keseluran Padangsidempuan ke Jakarta dengan bus ALS yaitu

– area Sumatera Utara -> Padang Sidempuan – Panyabungan-Kotanopan- Muara Sipongi lalu memasuki wilayah –

– area Sumatera Barat -> Rao-Panti -Lubuk Sikaping-Bonjol-Bukittinggi-Padang Panjang-Sijunjung-Tanah Datar-Singkarak-Solok-Kiliran Jao – Sungai Dareh lalu memasuki provinsi Jambi ->Muara Bungo-Bangko- Sarolangun lalu memasuki

– area Provinsi Sumatera Selatan ->Lubuk Linggau-Tebing Tinggi-Lahat-Muara Enim -Prabumulih-Baturaja-Martapura lalu memasuki

-area wilayan Provinsi Lampung ->Blambangan Ampu-Pesawaran-Bukit Kemuning – Kotabumi-Bandar Jaya-Bandar Lampung-Kalianda

kemudian Bakauheni-Merak dengan menyeberang kapal roro kemudian ke Ciwandan-Jakarta. Terakhir berhenti di Agent ALS di Klender Jakarta dengan alamat Jl. Raya Bekasi Km. 18 Klender, Pulo Gadung, Jakarta Timur.

Pengalaman pertama yang aku suka dari pengalaman naik bus itu ketika berhenti di rumah makan nasi Padang yang pemandangannya Danau Singkarak, Sumatera Barat. Salah satu Danau di Sumatera Barat yang rancak bana bahkan makan dengan nasi padang sambil menikmati Danau Singkarak itu sungguh menyenangkan walau capek sekali naik bus. Kami sampai di Danau Singkarak paginya jam 9 pagi setelah semalam jam 10 berangkat dan penumpang banyak yang mandi di Rumah makan ini tapi aku lebih memilih untuk tidak mandi.

Pengalaman lainnya yang lucu saat naik bus ALS ialah ketika hendak menchas hp disetiap pemberhentian akan dikenakan biaya Rp2000-Rp5000 tergantung daerah yang dikunjungi. Terus lucunya naik bus ALS dengan inang-inang sambil mendengarkan lagu Batak, seru kan? ahhaha lucu sebenarnya terus bisa melihat daerah sekitar misalnya bagaimana narsis Zumi Zola disepanjang Jambi, betapa banyaknya banyaknya rumah bertangga di Muara Enim hingga betapa panasnya Lampung semuanya aku tahu dari serunya naik bus ALS. Terus ada lagi adekan si supir demam batu akik sampai berhenti demi membeli batu akik murah lalu dimarahin inang-inang penumpang “supir ayo berangkat kapan lagi kita sampai di Jakarta” ramai-ramai dengan logat Bataknya.

Ah luculah! Kalau diingat-ingat mau ketawa pelangi 😀

Cuma yang membuat pengalamannya tidak menarik ketika aku harus terkena Biduran dari Jambi sampai Jakarta alias 2 hari 2 malam perjalanan. Aku menggarut seluruh tubuh, gatalnya minta ampun kemudian tidak ada satupun rumah makan yang 2 hari 2 malam menjual obat alergi terus dalam hati “mak nyesal tidak mendengarkan nasehatmu”. Terus agak bingung juga ama ini tubuh pas jalan ke luar negeri sehat-sehat saja pas jalan di dalam negeri langsung tumbang. Mungkin karena pertama kalinya naik bus 3 hari 3 malam kali ya? Alhasil aku menyirami badanku yang alergi dengan minyak kayu putih tapi tidak mempan juga. Bahkan di penyebarangan Bakahuni-Merak pertama kalinya aku tetap merasakan gatal disepanjang waktu sehingga perjalanan ini tidak menyenangkan. Terus mamaku merasa bersalah karena hanya membekaliku dengan obat sakit perut karena waktu di kampung sakitnya sakit perut pas di perjalanan eeeh Biduran sodara-sodara! Bisa saja memang aku tidak tahan dengan angin malam!

Walau demikian asyik perjalanan naik bus kalau tidak terkena biduran! Begitulah pengalamanku naik bus ALS 72 jam dari padangsidempuan ke Jakarta dengan membawa biduran ahhaha 😀

Sampai di Jakarta jam 4 pagi har jumatnya terus sampai kos jam 5 langsung aku mandi dengan handuk terus teman sekosku Gladies shock melihatku datang langsung mandi dengan sekujur tubuh yang bengkak. Tas tidak kuperdulian langung minum dextamin dan aku tertidur….

Pelabuhan
Di dalam Perahu Bakaheuni-Merak

Tips naik bus ALS Padangsidempuan ke Jakarta atau sebaliknya

1. Sediakan semua obat, obat alergi, perut, pusing dan sebagainya selama perjalanan

2. Kondisi tubuh harus fit saat perjalanan

3. Tidak direkomdasikan naik bus saat Lebaran karena lama di jalan terus harga tiket bus ekonomi Padangsidempuan-Jakarta pas lebaran 2015 seharga Rp575.000

4. Bawa tas kecil serta perlengkapan

5 Bawa power bank agar tidak rugi

6. Jangan mandi sembarangan di tempat pemandian

 

Salam

Winny

Edisi Mudik keliling Padangsidempuan


“There’s no way to know what makes one thing happen and not another. What leads to what. What destroys what. What causes what to flourish or die or take another course.”
― Cheryl Strayed―

Hello World

Padang Sidempuan, 20 Juli 2015

Ada yang berbeda untuk Lebaran tahun ini dibandingkan dengan Lebaran tahun-tahun sebelumnya karena pas mudik Lebaran teman-teman SMPku datang kerumah terus mengajak touring ke Pintu Langit, Padangsidempuan. Mereka ialah Nisfi, Nyakmat dan Marwan. Awalnya sih aku penasaran dengan Air terjun yang ada di Padangsidempuan, secara aku tahunya objek wisata Padangsidempuan, Sumatera Utara dan sekitarnya cuma ada Air terjun Napa, Aek Sijornih, Simarsayang dan jujur saja kampungku minim objek wisata tapi kaya akan budaya dan kuliner enak dan murah. Apalagi yang terkenal dari kampungku Padangsidempuan itu ialah salaknya, tapi please jangan disingkat Padang karena Padang itu ada si Sumatera Barat sedangkan Padangsidempuan itu di Sumatera Utara. Kalau orang Padangsidempuan sering menyingkat dengan pasid, atau psp. hehehhe 🙂

Sayangnya karena kesorean teman-temanku datang alhasil gagal deh melihat Air Terjun yang rupanya berada di Pintu Langit, Padangsidempuan. Oh ya pintu langit itu juga nama sebuah daerah di Padangsidempuan, kampungku 🙂

Gara-gara si Nyakmat alias Rahmat Dongoran nih yang memberitahukan ada air terjun di Padangsidempuan jadinya aku penasaran eeh mereka datang sore tapi tak apalah karena walau tidak sampai ke air terjun tapi mereka membawaku ke pintu langit untuk melihat kebun strawberry dan taman anggrek. Awalnya aku agak kaget dan pensaran bagaimana kebun strawberry di Padangsidempuan apakah mirip dengan kebun strawberry di Bandung.

Jam 2 siang teman-temanku datang ke rumah lengkap dengan motor lalu dengan senang hati aku diculik mereka untuk keliling Padangsidempuan dari ujung ke ujung, dari kampung ke kampung. Nah untuk melewati pintu langit mereka melalui jalur Simarsayang yang membuatku agak kaget sih soalnya aku tidak pernah melewatinya. Sepanjang perjalanan banyak sekali pemandangan khas pedesaan yang sangat aku sukai, mulai dari batang asli buah salak yang berduri itu terus hingga ke hamparan persawahan yang indah. Lucunya pas di Simarsayang melewati kebun salak aku mengatakan “wow parsalakan” artinya nama tempat untuk kebun salak yang bukan disitu yang kontan membuat temanku si Marwan ketawa secara Parsalakan dimana kami dimana.

Terus pas menemukan spot bagus kami berhenti terus ambil tongsis berphoto bak masih anak SMP, hahahahah lupa umur! Maklum kami semua saling mengenal sejak SMP dan bahkan kami berempat agak jarang berjumpa mungkin bisa dihitung berapa tahun sekali, terus muncul maka plong jalan-jalanlah, kayak reuni kecil walau orangnya sedikit tapi seru!

 

Perjalanan touring keliling Padangsidempuan hingga ke Pintu langit hampir 1 jam, hingga sampailah kami ke Pintu langit. Untuk masuk ke dalam kebun strawberry satu orang dipungut biaya Rp2500 sayagnya strawberrynya itu tidak ada yang berbuah dan menurutku agak kecil untuk ukuran kebun strawberry malahan aku tertarik dengan koleksi anggreknya yang rupanya dibeli di Bandung. Lumayan banyak koleksi anggreknya cuma aku tidak tahu persis nama-nama anggreknya pokoknya tahunya anggrek aja. Waktu kedatatangan kami paling tidak ada 4 jenis anggrek yang berbunga dengan warna yang berbeda-beda dan cukup menarik untuk memandanginya. Kami di taman anggrek pintu langit cukup singkat mengingat hari juga sudah sore yaitu jam 5 dan kami itu lebih banyak menghabiskan waktu di jalan tapi disitu letak keseruannya.

anggrek
Anggrek

Puas melihat anggrek dan gagal memetik strawberry akhirnya aku mengajak temanku untuk makan Soup Tomyam Muslim di Padangsidempuan karena rekomendasi dari si Ilham waktu kami melakukan trip ke Candi Bahal. Untungnya temanku mau soalnya si Nisfi harus pulang sebelum maghrib padahal waktu makan sudah agak maghrib. Untuk harga tom yam memang lumayan mahal untuk Standar Padangsidempuan tapi untuk standar Jakarta sih biasa. Tapi aku lumayan suka karena pedasnya itu luar biasa, memang Padangsidempuan itu jagoannya sambel dah 😀

Kalau ingat makan tomyam jadi ingat teman geng Kamseupay di Hatyai waktu makan tomyam tapi lumayanlah untuk sekedar tahu. Nah untuk saranku kalau mau mencoba kuliner Padangsidempuan itu sebaiknya yang tradisional seperti lontong, pecal, sate dan sebagainya karena harganya jauh lebih relatif murah yaitu Rp5000-Rp15000 (paling mahal Rp15000 itupun untuk sate). Untuk tomyam seafood yang kami coba Rp45000 seporsi tapi ukurannya lumayan besar sih jadi lumayan puaslah.

Tomyam Muslim
Tomyam Muslim

Sehabis makan tomyam, kami berempat lagi-lagi melakukan aksi gila yaitu dengan makan durian di depan Plaza Anugrah Cemerlang (Mallnya Padangsidempuan, mallnya kecil). Padahal si Nisfi udah buru-buru pengen pulang takut dimarahin neneknya. Eeh kami malah sempat aja tuh makan durian pake acara nawar pula. Untuk yang nawar itu si Nyakmat jagonnya. Untuk 3 buah durian seharga Rp50.000, sayangnya satu buah durian kami tidak terlalu enak dan dua buah lainnya enak banget!

Liburan ke Padang Sidempuan, kampungku kali ini benar-benar seru bertemu dengan teman SMP, jalan bareng, kulineran bareng terus bercanda tawa. Setulah perjalanan kami ini, membuatku feeling a home emang udah home sih sebenarnya ehheheh 😀

Ah jadi rindu kampungku!

kALA

Kalau mau mencoba sensasi durian murah, makan enak dan murah, menelusri pegunungan dan persawahan serta dipastikan semua masyarakat lokalnya berbahasa Batak Padangsidempuan maka bolehlah dicoba sensasi trip ke Padangsidempuan, cuma 8-12 jam dari Medan 😉

Salam

Winny

Sejam jalan-jalan di Taman Nasional Baluran


A dream does not become reality through magic, it takes sweat determination and hardwork

-Colin Powell-

Taman Nasional Baluran
Taman Nasional Baluran

Hello World!

Baluran, Mei 2015

Jam menunjukkan jam 2 siang ketika Pak Hery, supir angkot Banyuwangi yang tiba-tiba jadi langganan kami menjemput kami di rest area Jambu tempat dimana mobil belerang menurunkan kami berenam. Ada dilema bagi kami berempat antara pergi atau tidak ke Baluran karena kemungkinan tidak akan sempat mengunjungi Taman Nasional Baluran padahal Bang Dendi dan Bang Novrizal akan balik ke Surabaya jam 9 malam. Sementara 4 teman yang baru kami berkenalan memastikan tidak akan terkejar karena jam tutup pembelian tiket jam 4 sore.

Alhasil dengan bantuan Pak Heri maka kami menuju terminal dan mencari angkot yang mau membawa kami ke Baluran. Dari jadwal perjalanan yang telah aku buat maka kami seharusnya bisa Trekking Bekol – Bama. Alhasil Pak Heri menawarkan mencari angkot alias angkutan umum seharga Rp300.000 sampai ke Baluran. Sebelumnya kami telah ditawari harga sewa mobil seharga Rp900.000 seharian dari Paltuding hingga ke Baluran dan Pantai Merah tapi karena menurut kami kemahalan, alhasil kami rela menghabiskan waktu 4 jam menunggu mobil belerang. Mahal dan murah emang relatif sih!

Gunung Ijen
Penambang Belerang di Kaki Gunung Ijen

Dengan bantuan Pak Hery maka kami mendapatkan supir angkot yang mau membawa kami ke Baluran mengejar sisa waktu yang 4 jam. Nah saat masuk kami memastikan kalau si Bapak mau membawa kami masuk ke dalam Taman Nasional Baluran, bukan hanya diantar sampai ke depan pintu depan Gerbang Baluran saja. Karena harga Rp300.000 kami patok hingga sampai ke Stasiun Karang Asem.

“Pak, sampai ke dalam Baluran kan?” tanyaku?

si bapak lalu berkata “masuk saja, nanti kita bicarakan”!

Nah saat masuk ke dalam kami masih bergabung dengan penumpang lain terus Bang Novrizal memastikan lagi. “sampai Bekol kan Pak”, lalu si Bapak mengiyakan.

Lalu dengan perasaan plong kami menuju Baluran dari terminal yang diantar Pak Heri. Kami lalu memberikan uang angkutan umum dari Rest Area Jambu ke terminal Rp25.000/orang kepada Pak Heri.

Tiket Masuk ke Taman Nasional Baluran
Tiket Masuk ke Taman Nasional Baluran

Kami menikmati pemandangan perjalanan. Apalagi waktu melewati pelabuhan Ketapang gilanya si Melisa kumat “aaaaaa Baliii, begitu katanya”.

Yaudah sih Mel, langsung aja jadikan, kataku menggodanya!

Sesampai di Taman Nasional Baluran maka jam 4 kurang dan aku langsung berlari keluar mobil angkot untuk membeli tiket. Harga tiket masuk baluran + mobil = Rp10.00/orang + Rp15.000/mobil. Lama perjalanan dari terminal dari Baluran kurang lebih 1 jam dan menurut kami tidak terlalu jauh sebenarnya karena jalanan bagus. Tapi pas melewati pintu gerbang Baluran, maka jalanannya yah ampun jelek! Tapi sebenarnya belum sebanding dengan jalanan jika ke kampungku di Padangsidempuan, tapi memang mobil yang cocok masuk ke dalam Baluran sebaiknya mobil type jeap atau mobil khusus abrod.

Kami mengikuti gaya mobil, sesekali kepala kebentur keatap mobil. Cobaan dah demi Taman Nasional Baluran terus waktu mulai gelap. Kurang lebih 45 menit rasanya hingga sampai ke Bekol tempat dimana tengkorang rusa yang membuatku penasaran dari tahun ke tahun. Saking lamanya lupa sejak kapan lihat di blog teman tentang Baluran, yang membautku penasaran.

Baluran National Park
Baluran National Park

Simple sih yang membuatku penasaran untuk melakukan trip ke Baluran karena imej Baluran sebagain litte Africanya Indonesia. Apalagi pas google photo-photonya Baluran yang keluar gunung dengan pohon serta ilalang eksotis. Tapi pas sampai di Baluran apakah karena timing kedatangan sore atau karena kami disana sebentar tapi pas nyampe di Baluran, Oh O, that’s it! cuma itu saja!

Mungkin karena aku pernah tinggal di Kupang yang notabenenya eksotis sepanjang tahun jadi waktu melihat Baluran only that, sedikit kecewa sih tapi kecewanya gak terlalu banget juga sih, karena pemandangan Taman Nasional Baluran lumayan Ok kok. Bahkan kera dan rusa mudah dilihat berkeliaran terus pohon-pohonnya unik.

Baluran National Park, located in district of Situbondo, East Java Indonesia consists predominantly of open savannahs, where wildlife roam free. Baluran discovered by A.H.Loredeboer in 1937 and you could watch grazing, the large Java water buffaloes, small Java mouse deer, peacocks strutting about displaying their colorful plumage, eagles flying overhead and macaques fishing for crabs with their tails. Here also are many typical Java trees like the Java tamarind and the pecan nut trees.

(Resource: Indonesian Travel website wonderful Indonesia)

Baluran
Baluran

Sampai di Bekol aku mengamati pemandangan. Kera-kerea berkeliaran bebas di padang savannah kemudian latar belakang Gunung terus pohonnya tumbuh satu-satu. Duh aku rindu Kupang ahhahah 😀

Walau sudah agak sore, lumayanlah akhirnya kami bisa berhasil sampai di Baluran. Lalu di Bekol kami hanya 20 menit saja terus kami meminta ke si Bapak untuk mengantar ke Pantai Bama karena di papan informasi dikatakan hanya 3 Km saja terus kami merasa nanggung tidak ke Bama. Bang Novri yang paling penasaran dengan Pantai Bama kalau aku tidak terlalu karena standar nilai pantaiku tinggi hehehe 🙂

Kamipun mengajak si Bapak ke Bama karena perjanjian awal kami hanya 1 jam di Baluran. Nah jaraknya lumayan dekat tapi karena jalannya yang jelek sehingga terasa jauh. Sepanjang perjalanan dari Bekol ke Pantai Bama maka akan melihat rusa liar dan beberapa pohon eksotis mirip seperti di film Madagaskar.

Oh ya untuk informasi Bekol dan Bama masih dalam area Taman Nasional Baluran. Untuk Bekol yang bisa dilihat ialah padang savan serta tengkorak rusa serta kere hidup berkeliaran. Sedangkan di Bama berupa pantai dan orang suka mendirikan tenda disini.

Baluran Banyuwangi
Kami di Bekol Taman Nasional Baluran Banyuwangi

Waktu kami sampai di Bama kami melihat banyak sekali anak sekolahan yang datang berkemah. Waktu kami datang waktu sudah agak gelap menuju magrib padahal waktu masih jam 6 sore. Alhasil kami melihat pantainya yang agak sedikit kotor lalu pemandangannya yang gimana gitu terus langsung deh kami dengan kaki seribu meninggalkan Pantai Bama, paling tidak cerita perjalanan tentang Bekol dan Bama tidak membuat penasaran lagi karena sudah meninggalkan jejak.
Oh ya satu tips perjalanan Baluran jika ingin melakukan travelling ke Baluran Kalau mau ke Baluran dari gerbang utama biasanya dipatok Rp50.000 sekali jalan dengan motor karena jarak kedalam lumayan jauh serta jalanan yang kurang. Jadi jika ingin masuk ke dalam sebaiknya sih menyewa mobil saja.

Karena hari sudah gelap maka kamipun sesaat saja di Bama lalu kembali ke Stasiun Karang Asem. Tapi sebelum ke Stasiun kami mengajak makan malam bersama bapaknya. Kami lalu mencoba makanan khas Banyuwangi yaitu rujak Soto di salah satu warung. Untuk harga rujak soto Rp37000 +Rp5000 (sopir). Rasa rujak sotonya untukku sih aneh mungkin karena aku penyuka pedas 😀

Waktu ketika kami makan malam jam 7:30 malam lalu kami ke stasiun Karang Asem. Nah sampai di Karang Asem Bang Dendi memberikan uang sewa angkot sebesar Rp300.000. Nah saat uang diberikan awalnya si Bang Novri dan Bang Dendi hendak memberikan Rp250.000 karena kasihan jadinya Rp300.000. Karena jaraknya tidak sejauh yang dibayangkan bahkan ketika kami melihat penumpang lain dari terminal hingga ke depan pintu gerbang Baluran cuma bayar Rp5000 saja.

Ketika bang Dendi memberikan uang kepada supir angkot, rupanya dia hitung. Terus langsung si bapak marah-marah tidak terima bahkan minta Rp200.000 lagi karena dia menganggap untuk membawa kami ke Baluran itu seharga Rp500.000.

Gila!

Disinilah ‘disaster’ terjadi, adu mulut adu argumen!

Bekol Baluran
Bekol Baluran

“Uangnya kurang, kan saya sudah antar kalian ke Bama seharusnya kalian mengerti karena perjanjian di awal hanya sampai di pintu gerbang”, kata si Bapak. Maksudnya dari terminal Banyuwangi hingga ke pintu Gerbang Baluran untuk kami berempat Rp150.000 untuk sekali jalan.

“Lah bukannya Bapak sudah setuju untuk kami sampai di Bekol dengan harga segitu? kataku. Lagian kami tidak punya uang lagi Pak, perjanjian diawal kan tidak seperti itu. Kami tidak merasa enak, bapak juga tidak enak”, kataku.

Terus si Bapak bilang, “yah saya kira kalian sudah mengerti saat ke Bama, lagipula bensin saya kan banyak terpakai” kata si Bapak.

“Kami kira bapak mengerti kalau kami maunya harga sekian sampai ke Bama” kataku. Kemudian teman-temanku ikut menimpali lalu si Bapak tetap ngotot kami harus menambahin uang minyaknya hingga ke Bama.

Lalu aku mengatakan kepada si Bapak “pak kami kan sudah mengajak bapak makan juga, kami juga membolehkan bapak menaiki sewa lain walau kata bapak mobil kami sewa terus kami kan hanya sebentar terus kami mengira bapak mengerti kami”.

Puncak kemarahan si Bapak yang paling gila ketika si Bang Novrizal menantang si Bapak untuk menghitung berapa kilometer dengan jarak yang dihabiskan serta bensin. “Atau kita hitung berapa bensin dengan km”, kata Bang Novrizal. Langsung si Bapak naik pitam dan marah-marah terus meninggalkan kami.

Bama
Bama

Kami jadi pusat perhatian karena adu mulut dengan si bapak supir. Kami berempat langsung menuju ke dalam stasiun.

Saling memandang!

Salam 

Weeny Traveller

Pelajaran Berharga dari Penambang Belerang Kawah Ijen


Be who you are and say what you feel, because those who mind don’t matter and those who matter don’t mind

By Dr. Seuss

Mountain Ijen
Mountain Ijen

Hello World

Bayuwangi, Mei 2015

Jam menunjukkan jam 5 pagi dan kami masih bisa menikmati blue fire walau sudah mulai habis. Kami memandangi sejumlah orang yang sedang mengamati para penambang belerang. Kalau mengingat perjalanan sampai ke Kawah Ijen maka perjuangan tidak sia-sia. Apalagi Bang Dendi yang KAO saat melakukan trekking terus dengan gaya tidak bawa minum sama sekali. Untungnya aku dan Melisa bawa minum walau satu botol, tidak tahu Bang Novri dan Icha membawa minuman atau tidak. Gila memang kami mau naik Gunung tapi bawa minum seadanya, please jangan ditiru karena minuman atau cokelat atau madu wajib dibawa saat trekking Gunung.

trip to ijen
Akses jalan trip to ijen

Blue fire yang kami buru hanya 1 jam saja dan apinya keluar dari gas alam yang mengalir dari bambu. Para wisatawan asing sangat berani dekat dengan penambang belerang yang sedang mengais rezeki dengan mengangkut belerang hingga ke kaki Gunung Ijen. Kalau aku pikir betapa hebatnya para penambang belerang ini demi bertahan hidup. Pelajaran berharga dalam hidup yang aku dapatkan selama perjalanan ke Kawah Ijen! Kadang ya travelling itu tidak melulu hedon atau hanya numpang selfie saja atau sekedar liburan, terkadang ada makna disetiap perjalanan salah satunya bagaimana orang lain susahnya bertahan hidup dan tidak mengeluh sama sekali. Aku saja yang sehat tanpa beban malah ngos-ngosan setengah pingsan naik ke Kawah Ijen setelah trekking 2,5 jam dari Paltuding tapi bapak-bapak penambang belerang dengan santainya mengangkat beban yang jauh lebih berat dari berat badannya. Betapa berisikonya melakukan pekerjaan mengangkut berat, kalau istilah Ergonominya bisa menyebabkan Musculoskeletal disorder.

Ijen Banyuwangi
Ijen Banyuwangi

Selain itu, yang paling tidak aku habis pikir ketika penambang belerang yang sangat dekat dengan sumber asap dari belerang. Karena waktu aku, Bang Dendi, Bang Novrizal, Icha dan Melisa pas hendak di bawah jam 6:30an tiba-tiba asap keluar sehingga perih sekali ke mata bahkan ke tenggorokan. Spontan aku memberi kode kepada teman-temanku untuk naik ke atas karena khawatir berbahaya dengan kesehatan.

Tips berharga yang didapat ketika hendak berencana melakukan trip ke Ijen ialah salah satunya dengan membawa masker safety serta jangan mengganggu aktivitas penambang belerang dan utamakan memberikan jalan kepada penambang belerang.

crater ijen
crater ijen

Kawah Ijen (Ijen plateau) is a quiet but active volcano and recommended to mountain buffs and hikers. The magnificent turquoise sulfur lake of Kawah Ijen is surrounded by the volcanos sheer crater walls.  Sulfur collectors work here, making the trek up to the crater and down to the lake every day, hike up in the morning and return around 1 pm when the clouds roll in. They carry shoulder basket of pure sulfur from a quarry on the lakes edge under the shadow of the sheer walls of the crater.

(Reference from Indonesia Travel)

Travelling to Ijen
Travelling to Ijen

Travelling to Ijen kali ini tidak hanya sekedar jalan-jalan bagi ku pribadi karena banyak kisah didalamnya mulai dari ngegembel habis dari Jakarta, hichiking pertaman, numpang-numpang, tidak mandi, antara makan dan tidak serta belajar bagaimana menghargai hidup.

Kami hanya mengahabiskan waktu di kawah ijen hanya sekitar jam 2 jam saja dari jam 5 pagi hingga jam 7 karena sebenarnya tidak baik lama-lama di Kawah Ijen. Tanpa ada kata embel makan karena memang di Kawah tidak ada penjual makanan jadi usahakan isi perut sebelum melakukan trekking ke kawah Ijen serta jika memang membawa makanan jangan lupa membawa sampah makanannya karena menjaga kelestarian wisata tempat yang didatangi yang paling penting! Oh ya kami melakukan trekking dari Paltuding hingga ke bawah Kawah Ijen selama 2,5 jam karena kami kebanyakan berhenti di jalan untuk istirahat karena pas kami turun hanya butuh 1 jam saja sampai di Paltuding.

Ijen crater
Kami di Ijen crater

Untuk rute perjalanan jangan ditanya lumayan mengurus tenaga karena rutenya yang menanjak dan berliku. Mirip naik Sikunir Dieng plus Papandayan tapi yang Ijen jauh lebih berliku dan menanjak menurutku. Untungnya ramai yang mendaki jadi aman-aman saja mendaki ke Gunung Ijen.

Oh ya hal yang menarik perhatianku waktu di Kawah Ijen ketika melihat seorang Biksu yang ikut serta melakukan trekking ke Kawah Ijen, buset ketemu dengan biksu gaul 😀

Untuk harga tiket masuk ke Kawah ijen Rp7500 yang mulai muka dari jam 2 pagi atau jam 3 pagi tergantung kondisi keamanan Kawah Ijen karena tidak sembarangan melakukan plesiran di Kawah Ijen harus memperhatikan apakah gas beracun ada atau tidak. Sementara itu tips ke ijen lainnya ialah dengan mempertimbangkan waktu kedatangan ke Ijen, kalau bisa jangan ke Ijen pas musim penghujan karena bisa berbahaya mengingat jalanannya dari tanah kan ya jadi licin sekali.

Untuk akses jalanan dari Taman Sari ke Paltuding jalanannya sebenarnya sudah aspal jadi kalau mau puas keliling wisata Banyuwangi bisa menyewa motor karena jauh lebih hemat. Kalau harga sewa mobil yah pintar-pintar menawar sajalah! Cuma kalau musim penghujan tidak direkomdasikan memakai sepeda motor karena menanjak dan berliku terus hutan lagi. Tapi kalau berangkatnya pagi dan tidak ingin mengejar embel-embel blue fire maka tidak apa-apa, bahkan jalan 17km sebenarnya tidak apa-apa asalkan rame-rame 😀

Ijen
Akses ke Ijen

Sebenarnya banyak sekali pelajaran yang bisa dipetik dari jalan-jalan ala murni backpacker berupa tips perjalanan Kawah Ijen:

1. Khusus bagi pejalan yang tidak mau susah atau repot maka jika ingin ke Kawah ijen sebaiknya berangkat rombongan saja. Jadi berangkat ke Paltuding dengan menyewa mobil yang harganya berkisar Rp450.000-Rp600.000 (tergantung nego belum termasuk bensin selama 24 jam) atau motor seharga Rp75000 seharian belum bensin.  Jarak Karang Asem ke Paltuding kurang lebih 2-3 jam perjalanan. Kalau mau mencoba cara gilaku bercampur nekat antara pelit atau backpacker sebenarnya yaitu dengan naik angkot dari Stasiun Karang Asem naik angkot ke Taman Sari (tempat penimbangan belerang) yang biasanya dipatok Rp25.000. Kalau tidak mengejar blue fire sebenarnya simple dengan membayar Rp15000 dengan mobil belerang sampai ke Paltuding jamnya biasanya jam 7-9 pagi. Untuk angkot tidak berani membawa sampai ke Paltuding padahal jalannya licin loh alias mulus aspal.

2. Buat pemula naik Gunung sebaiknya persiapan fisik, makan dulu sebelum hiking serta membawa minuman yang banyak agar tidak capek serta memakai pakaian yang sesuai misalnya pakai sepatu atau sandal gunung

3. Karena di Kawah Ijen identik dengan belerang maka sebaiknya membawa masker serta kacamata kali ya buat jaga-jaga.

Kawah Ijen
Kawah Ijen

Sebenarnya pas hendak trekking ke Gunung Ijen aku itu salah kostum saking merasa kedinginnya. Jadi ceritanya kami kan ngegembel asli, tidur seadanya di warung yang ada di Paltuding tidur menunggu Ijen dibuka bagi pengunjung. Kebanyang tidak tidur dengan sleeping bag dengan cuaca dingin pegunungan? Dinginnya menusuk sekali bahkan aku sudah memakai jaket serta sleeping bag masih saja terasa dingin. Terus kami tidurnya tidur ayam, seadanya saja, antara tidur atau tidak yang penting bisa menyandarkan diri. Untungnya ibu warung baik hati mengizinkan kami untuk tidur dilesehannya. Sebenarnya jika ingin menyewa tenda di Paltuding ada Rp150.000 sampai pagi cuma yah naggung karena waktu sudah menunjukkan jam 10 malam sementara jam 2 kami sudah mulai trekking ke Gunung Ijen. ah menyesal aku tidak membawa tendaku, alhasil kami berlima berselimutkan alamlah!

Terus pas jam 2 dibuka loket Kawah ijen, maka dengan sigap kami menitipkan tas di warung yang ibunya baik sekali mengizinkan menitip tas kami. Untuk toilet jangan khawatir, ada kok di Paltuding cuma siap-siap ngangtri lama saking banyaknya pengunjung. Harga tiket toilet Rp2000 saja, jadi ingat ama Melisa ke belakang tenda 😀

hahahah XD

Mel, kalau dirimu baca blogku pasti ketawa-ketawa juga mengingat kebodohan kita dibelakang tenda ibu warung sebelum trekking ahhaha 😀

Kawah Ijen
Kawah Ijen

Ok kembali ke ceriata awal, setelah kami puas di kawah Ijen serta sudah juga beli oleh-oleh belerang seharga Rp5000  maka berjalan melewati Gunung Meranti dan Gunung Raung.

Pemandangannya indah sekali waktu itu!

Terus kami berjalan berlahan hingga berhenti di Pondok Bunder (2214 mdpl) tempat dimana aku membeli lagi souvenir belerang yang bentuknya indah sekali berukiran Muhammad dan Allah seharga Rp15.000 saja tapi sayangnya karena jarak jauh akhirnya beleranku rusak.

Tapi tak aplah!

Di Pondok Bunder jugalah kami membeli minuman untuk bekal turun karena tidak mau kehausan terus ngos-ngosan. Untuk jalur turun cukup mudah bagi kami tidak sesulit mendaki hanya saja untuk Icha malah kewalahan di turunan padahal dirinya jago pas naiknya.

Ijen Bayuwangi Indonesia
Ijen Bayuwangi Indonesia

Sesampai di Paltuding kami kembali ke warung Bu Ikah untuk mengambail tas yang kami titipkan sekalian makan pagi. Karena aku ingin mencoba nasi tempong yang merupakan makanan khas banyuwangi jadinya aku pindah ke warung sebelah. Nasi tempong yang aku makan di paltuding seharga Rp15000 sudah termasuk susu milo. Sebenarnya nasi tempong mirip kayak nasi campur biasa hanya saja sambelnya pedas, kesukanku banget kalau sudah pedas-pedas. Selesai makan waktu sudah jam 10 lahasil kami bingung mencari bagaimana caranya keluar dari Kawasan wisata Kawah Ijen alias taman wisata alam Kawah Ijen alias cagar alam Kawah Ijen alias taman Nasional Kawah Ijen.

Gunung Meranti
Gunung Meranti

Tidak ketemu ide pulang ke Paltuding akhirnya kami mengikuti penambang belerang untuk naik mobil belerang pulangnya. Kalau dari baca pengalaman ornag di blog katanya ada jam 10 pago ternyata hanya sekali saja yaitu jam 1 siang karena memang penambang sudah tidak sebanyak dulu lagi begitu kata bapak penambang. Alhasil mau tidak mau kami menunggu belerang kelar di temapt penimbangan belerang di sebuah warung. Aku makan gorengan serta jahe di warung dekat peninbangan belerang seharga Rp8000 serta aku dan Melisa sempat tidur lagi di bangku di depan warung sementara Icha harus balik sendiri ke stasiun Karang Asem karena ada urusan. Di warung inilah kami bertemu dengan beberapa pejalan yang juga menunggu mobil belerang untuk turun.

Nah sepanjang menunggu dari jam 10 pagi hingga jam 1 siang, maka beberapa bule sering kali datang dengan sepeda motor khusus memvidiokan aktivitas para penambang. Saking herannya kali ya!

penambang belerang
Penambang belerang di Kawah Ijen

Kami sendiri sebenarnya gimanaa gitu tapi ada senangnya juga menunggu di warung dekat penimbangan karena jadi mengetahui kehidupan para penambang belerang. Katanya dulu penambang berjumlah 400 orang sekarang sudah mulai berkurang, itu sebabnya mobil akan berangkat jika sudah penuh. Untuk penambang belerang sendiri memiliki ciri khas membawa belerang dengan cara dipikul dengan keranjang serta mereka biasanya memakai sepatu safety.

Aku bahkan mengamati ketika para penambang sedang makan di kawah dengan bekelnya, luar biasa sekali! Yang paling mencenangkan ketika seorang penambang harus melakukan perjalanan selama 8 jam setiap hari dari rumahnya diluar dari kegiatan mengangkut belerang dari Kawah Ijen ke Paltuding.

Kebayang tidak itu?

Cerita hidup mereka tentu saja aku tahu berkat cara liburan kami yang anti mainstream dengan membaur dengan para penambang belerang.

Nah saat jam 1 siang maka aku dan Melisa beruntung karena duduk di bangku depan yang kasihan Bang Dend, Bang Novrizal dan 4 teman yang abru saja kami kenal dan dua diantaranya cewek harus berada di belakang dengan belerang terus kami menuju ke Paltuding.

Ditengah jalan aku membeli madu asli seharga Rp100.000 untuk oleh-oleh pulang karena langsung melihat bibitnya. Not bad lah untuk asli 😀

Yang paling kasihan sih si Melisa ketika melihat Pulau Bali karena dia belum pernah jadi pas lihat pulau Bali dari atas jalanan Kawah Ijen dia langsung semangat 45. Lalu aku menggodanya “ya udah sih Mel, langsung nyeberang saja ke Menjangan dekat kok 30 menit saja sekalian tambahin liburmu”.

Gunung Ijen
Tempat penambang menimbang hasil belerang dari Gunung Ijen

Akhirnya si Melisa mengusap dada menahan keinginan karena kami tidak sama sekali ke Bali karena memang misi perjalan ialah untuk menginjakkan kaki di ujung Jawa. Oh ya untuk harga naik mobil belerang dari Paltuding ke Rest area Jambu seharga Rp15000. Lalu dari rest area jambu kami menelepon pak Hery, supir angkot yang kami kenal untuk menjemput kami ke Rest Area karena kami hendak pergi ke Taman Nasional Baluran walau kata teman yang baru saja kami jumpai tidak mungkin cukup waktunya ke Baluran walau jam menunjukkan jam 2 siang. Untuk harga angkot dari Rest Area ke terminal Rp25.000/orang.

Ok saatnya menjelajah Baluran di sisa waktu alias jalan-jalan kejar tanyang…

To be continue

 

Salam

Weeny Traveller

Semua demi Plesiran ke Blue Fire Kawah Ijen


Nothing lasts forever. Forever’s a lie. All we have is what’s between hello and goodbye

(Unknown)

Trekking to Ijen
Trekking to Ijen

Hello World

Banyuwangi, Mei 2015

Kalau kata Afgan “semua demi Cinta”, maka kami berkata lain “semua demi Blue Fire Kawah Ijen” kami melakukan perjalanan jauh dari Jakarta hingga ke pelosok ujung Jawa di Banyuwangi. Perjalanan kami pun tidak naggung-naggung alias real backpackeran 4 Hari nonstop tanpa mengeluarkan biaya penginapan karena menginapannya di jalanan. Sebenarnya aku juga bingung antara pelit, hemat atau gak mau rugi, tapi yang pasti Alhamdulillah kami bisa melakukan trip ke kawah Ijen dengan harga super murah sekali.

Kami berangkat dari Jakarta jam 2 siang dari Stasiun PASAR SENEN dengan tujuan stasiun SURABAYA PASAR TURI dengan kereta KERTAJAYA seharga Rp97500, murah kan? Harga tiket Jakarta-Surabaya jauh lebih murah daripada Surabaya-Banyuwangi karena kami mendapatkan tiket ekonomi promo sehingga ramai-ramailah aku mengajak teman-teman yang bersedia menggembel 😀

Awalnya Sarta dan Wita ikut sampai sudah beli tiket mulai dari Jakarta hingga ke Karang Asem Bayuwangi tapi karena ada halangan sehingga yang jadi jalan-jalan ke Ijen hanya aku, Bang Dendi, Bang Novrizal dan Melisa. Kalau dipikir-pikir jadinya reunian kecil alumni Teknik Industri USU ini, antara kakak kelas dan adik kelas hahaha 😀

Blue Fire Ijen
Blue Fire Ijen

Kami berempat janjian bertemu di stasiun kereta jam 12 tapi akhirnya aku paling telat datang jadinya naik Bajaj dari kosan karena takut telat karena waktu sudah menunjukan jam 1 terus aku sempatkan makan lagi. Alhasil Melisa yang awalnya mau nitip print tiket malah aku yang minta tolong diprintkan tiket. Sayangnya kami bangkunya misah-misah sehingga perjalanan begitu membosankan. Alhasil aku dan Melisa malah berjalan sepanjang gerbong kereta menuju kantin hingga merasa bosan lalu berjalan. Bayangkan dong 12 jam perjalanan!

Nah kesan yang paling seru saat di kereta dari Jakarta menuju ke Surabaya ketika lampu kereta mati terus hidup terus mati terus hidup terus mati panjang terus lama lagi baru hidup mulai dari Semarang. Penumpang juga mulai kepanasan alhasil kami berempat berdiri disamping pintu gerbong. Yang kasihan lagi ibu hamil serta ibu dengan anak kecil yang kepanasan. Untungnya kereta akhirnya bisa juga dibenerin.

Singkat cerita kami sampai di Stasiun Turi jam 2 pagi lalu kami berempat istirahat untuk ke Stasiun Gubeng jam 9 pagi. Kedatangan kereta kami di Stasiun Surabaya telat 1 jam dari jadwal yang ada tapi tidak masalah. Untungnya aku sudah mewanti Melisa untuk membawa sleeping bag dalam perjalanan sehingga kami berdua PW tidur di stasiun Turi dari jam 2 pagi hingga jam 7 pagi dilantai dengan beralaskan sleeping bag sementara Bang Novri dan Bang Dendi tidur di bangku rung tunggu stasiun.

Jam 7 pagi maka kamipun beranjak ke Pasar Gubeng, tapi sebelumnya kami sarapan pagi di dekat stasiun Turi yaitu mencoba makan soto daging seharga Rp9000 tapi sotonya tidak rekomendasi sih. Lalu tak jauh dari Masjid disamping stasiun Turi terdapat sebuah toilet umum yang dengan membayar Rp3000 maka bisa mandi sepuasnya. Maka kami berempat mandilah di toilet umum karena kami harus melakukan perjalanan ke Banyuwangi lagi yaitu di Stasiun Karang Asem karena dari informasi katanya akses ke Kawah Ijen paling terdekat dari stasiun ini. Awalnya kami hendak naik bus ke Karangasem akhirnya kami memutuskan naik kereta api saja biar praktis sehingga terjadilah kami membeli tiket dari stasiun SURABAYA GUBENG hingga ke Stasiun Karang Asem dengan kereta Mutiara Timur Siang seharga Rp130.000. Jauh lebih mahal dari Jakarta-Surabaya padahal kalau dilihat jarak jauh lebih jauh dari Jakarta cuma beda jenis kereta menjadi bisnis. Oh ya selama melakukan ritual mandi pagi, hujan sempat datang walau gerimis sehingga membuat kami takut kalau kami ke Ijen malah hujan. Selesai mandi lalu kami naik taxi dari stasiun turi ke stasiun gubeng seharga Rp30000/4 orang.

tiket masuk ijen
Tiket masuk ijen

Di Stasiun Gubeng kami sempat menunggu kereta 30 menit yang lalu dengan lihai aku mengajak Melisa makan di Loko stasiun pasar gubeng yang tempatnya kece. Aku menghabiskan uang Rp33000 di Loko berupa makanan dan minuman. Entah kenapa ya perutku bawannya makan terus heheheh 😀

Dari Stasiun Gubeng jam 9 lalu kamipun menuju ke Stasiun Karang Asem. Untuk kereta bisnis maka lumayan kece dibandingkan sebelumnya terus kami berempat sempat bisa duduk berbarengan jadi ngobrol sepanjang perjalanan walau sepanjang perjalanan kerjaanku kebanyakan molor 😛

Untuk kereta dari Surabaya ke Banyuwangi tidak telat sama sekali sehingga kami sampai di Karang Asem tepat pada jadwal semula yaitu jam 15: 14. Sewaktu di Karang Asemlah kami berkenalan dengan Icha mahasiswa Bandung yang melakukan trip seorang diri, berani dan nekat gk tuh? Lalu aku mengajak dia ikut kami untuk sharing cost perjalanan yang lalu dia mengiyakan.

Nah awalnya kami hendak menyewa trooper dari Stasiun Karang Asem hingga ke Kawah Ijen terus adalah seorang Mas-mas yang dari travel dekat situ menawarkan jasa sewa trooper lalu kami disuruh ke kantornya dekat Stasiun. Lalu kami mengiyakan sambil ingin lihat harga sewa trooper yang dia tawarkan. Ternyata harga sewa troooper salama 24 jam itu Rp600.000 diluar bensin. Kalau mau menyewa motor lebih hemat lagi Rp75.000 seharian diluar bensin. Tapi karena aku sudah membuat list harga trooper ke kawah ijen hanya Rp450.000-Rp600.000 seharian beserta bensinnya yang seharusnya di bagi berenam malah jadi berlima alhasil negoisasi tidak jadi. Aku menolak karena lebih baik kami naik angkot seharga Rp25000 sampai di timbangan belerang yang sebenarnya masih jauh dari Paltuding, tempat dimana bermulaan dilakukan trekking ke kawah Ijen.

Yang kurang etis waktu kami hendak naik angkot, seolah sang mas penjual jasa sewa trooper saling kode dengan supir angkot seolah angkotnya tidak sedang menarik penumpang. Terus saat makan di warung dekat stasiun diaman ibunya kode banget menawarkan jasa sewa trooper yang kelihatan banget loh maksud dan tujuannya. Well tipikal di tempat wisatalah dimana hendak mencari untung sebsar-besarnya yang kadang membuat dongkol karena memberikan kesan “mata duitan” padahal reputasi “objek wisata” itu tergantung loh sama orang-orang disekitarnya. Bukan berarti aku menjudge semua orang yang kami temui di dekat stasiun Karang Asem seperti itu hanya kesannya tidak welcome banget padahal sesama Indonesia lah apalagi orang luar, pasti lebih gimanaa gitu. Jujur saja males berurusan dengan orang-orang pamrih. Aku lalu mengajak teman-temanku berjalan kaki dari stasiun hingga kami bertemu dengan Pak Heri sang supir angkot yang rumahnya tak jauh dari stasiun.

Oh ya sepanjang perjalanan kami juga ditawarin menginap loh sampai diikutin dengan kereta, iih gak banget kan? Bukannya apa sebenarnya sewa bisa saja tapi kalau kami gk mau jangan dipaksa juga sih. Lalu dengan angkot pak Heri kami menuju ke Taman sari tempat penimbangan Belereng siapa tahu masih ada mobil belerang yang hendak ke Paltuding. Karena jika dengan naik mobil belerang dari Taman Sari hingga Paltuding maka ongkosnya hanya Rp15.000 saja. Sayangnya pas di Taman Sari tidak ada mobil yang hendak ke Paltuding kalaupun ada jam 7 pagi padahal kami hendak melihat blue fire yang katanya adanya hanya malam saja.

Terus kami sempat dinasehatin Bapak penjaga penimbangan belerang di Taman Sari. “buat apa ke Kawah ijen yang dilihat kan hanya api seperti api kompor, banyak orang awam ke Ijen hanya untuk melihat belerang dibakar jadilah seperti itu warnya kayak api kompor”.. Upss kami salah orang lalu kami sambil menatap terus meninggalkan tempat penimbangan belerang terus memutuskan berjalan kaki ke Paltuding dari Taman Sari yang katanya hanya 17 km.

Blue Fire Kawah Ijen
Blue Fire Kawah Ijen

Akhirnya kami berlima berjalan kaki menuju ke Paltuding. Di tengah jalan sebelum jalan ke licin magrib sudah datang alhasil kami berhenti di sebuah rumah yang menjual durian. Lalu aku minta izin ke empunya untuk sholat magrib sekalian nanya masih jauhkah paltuding karena niat kami awalnya mau jalan kaki toh 17 km tidak jauh sebenarnya, pikir kami.

Entah kenapa saat kami berkata 17 km dekat semua orang berkata “jauh sekali kalau jalan kaki bisa sampai jam 2 malam” padahal waktu masih jam 6 sore. Yasudahlah kami pun bergantian sholat magrib lalu sekalian makan duren seharga Rp15000 di rumah si ibu. Eh pas makan satu duren alhasil kami nagih makan dua duren. Nah sepanjang makan duren aku sering mengajukan tangan untuk menghentikan mobil yang lewat mana tahu ada mobil yang hendak ke Paltuding hingga akhirnya ada satu mobil berhenti yang lalu membawa kami ke area jambu. Iseng-iseng nanya harga naik jep pulang pergi ke Paltuding dia bilang sekali jalan Rp400.000. Buset dah gk jadi!

Nah saat di rest jambu kami juga jadi mangsa orang-orang yang berusaha mencari keuntungan dengan menawarkan jasa sewa mobilnya pp Rp400.000 saja. Karena sudah ilfil serta kelihatan sekali niatnya alhasil kami sudah tidak open lalu duduk hingga jam 8 malam hingga kami memutuskan untuk berjalan kaki menuju ke Paltuding dari rest area Jambu. Maka disinilah kata umpatan keluar dari istri calo yang tidak berhasil menawarkan jasa sewa mobilnya “dasar turis kere” begitu katanya… ckckkckckcc umpatan yang tidak berkelas sih sebenarnya karena its not about money, its about morality!

Kawah Ijen
Melisa di Kawah Ijen

Dengan wajah biasa saja kami berempat berjalan melewati perumahan orang hingga akhirnya kami berhenti di sebuah warung bu Agus untuk makan indomie. Syukurnya kami berhenti di warung bu Agus karena warung Bu Agus merupakan warung terakhir sebelum ke hutan menuju ke Paltuding. Bu Agus sempat syok dengan rencana kami yang hendak berjalan kaki menuju Paltuding yang akhirnya kami tahu kenapa setiap orang kaget ketika berjalan ke Paltuding yang hanya 17 km saja.

Diw arung Bu Agus beliau menyarankan kami untuk menunggu mobil sayur saja untuk menuju ke Paltuding, tempat dimulai trekking ke Gunung Ijen. Paling harganya Rp15000/orang kata si Ibu. Lalu kami bersantai ria di warung bu Agus karena waktu masih jam 8 malam. Ibunya baik sekali membolehkan kami ke kamar mandinya terus istirahat sambil menunggu mobil sayur.

Terus jam 9 benar adanya, mas-mas bernama David membolehkan kami menumpang ke Paltuding dengan mobil sayur lalu sepanjang perjalanan dari warung Bu Agus ke PALTUDING betapa syoknya kami melihat perjalanan yang hanya “17KM” serasa “37KM” melewati hutan semua terus malam hari. Buset tidak kebayang kalau kami akan berjalan kaki dengan rute sejauh itu di malam hari. Bahkan dengan mobil lama perjalan sampai 1 jam, kebayang tidak berjalan kaki? Satu jam tanpa macet teman! Oh Tuhan syukur sekali kami bertemu dengan Mas David dan Bu Agus yang baik hati.

Jalanan menuju Paltuding berliku untungnya aku, Icha dan Melisa di depan yang kasihan bang Dendi dan Bang Novri yang di belakang. Nah sampai di Paltuding jam 10 malam, mas Davidnya malah tidak mau mengambil uang kami. Malah dia cuma mengambil uang kami Rp25000 saja karena merasa tidak enak dengan ekpresi kami. Buset betapa baiknya sampai pengen mehek. Karena hicthiking pertama berhaasil…

ijen blue fire
ijen blue fire

Ok tidak sampai disitu cerita perjungan demi Blue Fire Kawah ijen, karena waktu jam 10 malam alhasil kami masih mencari sewa jeap untuk besok ke Baluran sekalian dari Ijen mengingat rute yang jauh sekali. Kami bertemu dengan salah seorang dari komunitas Backpacker Indonesia yang menawarkan sewa mobil seharga Rp900.000 untuk semua objek wisata yang hendak kami lalui bahkan dia anggap rute perjalanan yang aku buat itu ngawur. Padahal sebelumnya aku sudah membuat rencana sematang mungkin selain lari dari jalur rencana semula sebenarnya seperti menyewa mobil yang karena harganya tidak masuk akal buatku entah bercampur dengan rasa sentimen.

Satu jam kami bercerita mencari kesepakatan sebenarnya menganai perjalanan kami untuk besok yang ujungnya tidak berujung karena kami membatalkan sewa menyewa karena ampun dah mahal. Terus belum tentu yang kami lihat seindah dengan itu semua. Alhasil waktu 1 jam sia-sia lalu kami menuju ke warung bu Ikah yang memboelhkan kami tidur di warungnya karena tempatnya lesehan.

Di warung inilah kami tidur ayam dengan sleeping bang dengan cuaca yang dingin menurutku menunggu hingga loket tiket masuk ke Ijen dibuka karena penjaga ijen hanya membolehkan wisatawan masuk ke dalam kawah ijen jika kondisi kawah ijen kondusif mengingat gas beracun dari kawah ijen. Barulah jam 2 pagi loket dibuka lalu kami ngantri untuk membeli tiket seharga Rp7500. Kalau dari Paltuding ke Kawah Ijen dari palang yang kami baca hanya 3KM terus mengingat pengalaman Paltuding 17km serasa 37 km lalu kami berceloteh kayaknya 3 KM itu sama kayak 23 km deh 😀

Dan benar saja perjalanan dari Paltuding hingga ke kawah ijen memakan 2,5 jam berjalanan yang cukup mengurus tenaga.

Mount Ijen
Mount Ijen

Perjalanan ke Kawah ijen dari Paltuding cukup megurus tenaga lebih ektrim dari Papandanyan menurutku karena jalanannya mendaki. Acap kali kami istirahat untuk menghilangkan rasa capek. Yang paling tidak kuat dalam mendaki ialah Bang Dendi sampai jantungan loh dia berkeringat dingin terus aku yang mudah capek. Untungnya Bang Dendi bukan tipikal yang rewel dan manja, dia walau capek tetap kuat loh sampai ke atas walau berjalan berlahan. Yang paling kuat melakukan trekking ke Kawah ijen itu Melisa dan Icha serta Bang Novrizal. Buset mereka bener-bener anak gunung banget dah!

Terus trekking ke Kawah Ijen ternyata banyak wisatawan baiik lokal maupun mancanagera. Terus yang membuatku berdecak kagum ketika melihat para penambang belerang yang kuat sekali mengangkut berkilo-kilo belerang dari Kawah ijen sampai ke Paltuding yang bahkan aku tanpa beban sudah ngos-ngosan. Ampun mehek sekali melihat perjuaangnnya.

Kami sampai di puncak Kawah Ijen jam 5 pagi dan perlu turun lagi hingga untuk melihat blue firenya serta harus membawa masker karena bau belerangnya cukup menyengat.

Ijen Blu fire Indonesia
Ijen Blu fire Indonesia

Kami berlima sempat turun dengan bantuan senter HP seadanya berjalan berlahan menuruin bebatuan berliku. Untungnya kami masih sempat melihat Blue fire walau sedikit. Dan pemburu blue fire tidak kami saja “BANYAK”!

Bahkan wisatawan mancanegara sengaja dekat lengkap dengan masker khusus belerang untuk mengabdikan photo penambang belerang yang dekat dengan pipa gas bumi itu padahal berbahaya sekali.

Lalu sesekali bule-bule itu memphoto para penambang sambil memberikan uang kepada penambang. Karena upah untuk 1 kg belerang dari Kawah ijen hanya Rp900 saja kawan dan makin banyak yang diangkut belerangnya maka upahnya makin banyak.

Miris tidak?

Kami lalu membeli kerajinan dari belerang seharga Rp5000 yang sudah dibentuk seperti jadi tokoh disney, bunga dan sebagainya.

Soalnya kasihan!

Kompakan kami berlima membeli souvenir walau entah kami apakan itu. Tapi tidak semua penambang kok yang menjual souvenir kebanyakan murni penambang.

Ijen
Kami di Kawah Ijen

Perjalanan ke kawah Ijen tidak hanya melulu sekedar liburan atau sekedar jalan-jalan karena ada pesan hidup dalam perjalanan ke Kawah Ijen yaitu “susahnya mencari uang jadi saling tolong menolanglah dengan sekitar dan jangan penah mau mengharapkan kerja tapi buatlah lapangan kerja”…

Duh sepertinya aku harus jadi pengusaha!

Blue fire Indonesia
Penambang Beledang di Kawah Ijen

To be continue

Salam

Weeny Traveller

Perjalanan dari penang ke Hatyai


The study of mathematics, like the Nile, begins in minuteness but ends in magnificence

By Charles Caleb Colton

Kami di Hatyai
Kami di Hatyai

Hello World!

27 Februari 2015

Melanjutkan cerita perjalanan travelling Malaysia-Thailand dengan kumpulan kamseupay yang lucu pisan. Setelah kami berjani akan bangun pagi demi keliling sisa wisata George Town rupanya kami bangun jam 8, alhasil gaya doang niat mencari sisa art street Penang. Alhasil kami memutuskan untuk ke Museum Cokelat yang tak jauh dari tempat penginapannya. Tapi kami tidak sempat ke Cafe kucing yang sempat membuat temanku Ade penasaran. Setelah mandi cakep lalu kami sarap (istilah Reza yang artinya sarapan) roti. Ada apel juga di sarapan kami, sayangnya aku tidak melihatnya. Alhasil si Reza dan Sartalah yang beruntung mendapatkannya. Setelah jam 9, akhirnya kami ke Museum Cokelat bersama si Sultan tapi ternyata ekpektasi kami ketinggian saudara-saudara karena ternyata di Chochalate museum berupa tempat menjual dan memproduksi cokelat. Dari luar tidak kelihatan seperti cafe dan uniknya ada cokelat rasa pedas. Kami sempat mencoba tester beberapa rasa cokelat tapi kami tidak membeli kecuali si Ade dan Sultan. Karena melihat isinya hanya toko biasa yang menjual cokelat maka Aku, Ilham, Sarta dan Reza keluar dan malah memilih eksis untuk bernarsis ria sambil menunggu Sultan dan Ade belanja.

Oh ya teman-temanku sempat mengejekin akibat salah kostumku yang aneh karena sudah kece pake rok malah pake sepatu kets, aneh kan ya? 😀

museum cokelat penang
Museum cokelat penang

Sambil menunggu Ade dan Sultan keluar dari Museum cokelat, kami berphoto ria. Lucunya ketika si Reza dan Sarta menggerutu menuggu keluarnya Sultan karena kami hendak membeli tiket bus dari Penang ke Hatyai. Awalnya di depan penginapan kami melihat bus menuju ke Hatyai dengan harga 40RM tapi karena kemahalan akhirnya tidak kami beli dan memilih untuk mencari sendiri. Nah sempat bete kan ya menunggu orang keluar padahal disisi lain kami kejar tayang.

Setelah Sultan dan Ade muncul kami melanjutkan perjalanan ke arah Komtar, sebuah pusat transportasi umum perjalanan lintas batas baik domestik maupun internasional di Georgetown yang merupakan pusat perbelanjaan. Nama lain dari Komtar ialah Pragin Mall Komtar, singkatan dari nama Perdana Menteri kedua Malaysia, Tun Abdul Rahman. Dan disinilah kami berpisah dengan Sultan serta disini pulalah adegan kami kehilangan si Ade karena mencari bus ke Hatyai pisah-pisah ditambah yang punya komunikasi hanya si Ade. Kami sempat khawatir tidak bertemu Ade alhasil kami menunggu di tempat travel yang akhirnya kami bertemu Ade dan dapat harga murah ke Hatyai sebesar 35 RM. Setelah kami berkumpul alhasil kami tidak memutuskan untuk mencari art street yang lain walau masih ada waktu 2 jam lagi karena waktu keberangkatan dari Penang ke Hatyai jam 12 siang. Pilihan terakhir ialah mengisi perut karena kelompok perjalananku ini gila-gila semua bisa dongok kalau kelaparan ahhaha…

Pilihannya ialah nasi biryani lagi yang tak jauh dari travel agenci sampai-sampai si Ade dan Sarah mengeluh dan bosan nasi biryani lagi hahaha 😀

Tapi untuk teh tariknya aku tidak pernah bosan karena enak sekali. Untuk harga sarapan pagi merangkap makan siang berupa nasi biryani dengan udang serta teh tarik sebesar 119 RM/7 orang. Kami menghabiskan sisa waktu di Penang sambil bercerita dan bercanda gurau. Sumpah teman perjalanku ini gokil semua!

George Town
Ilham, Sarta, Sarah dan Aku di depan Museum Cokelat George Town

Setelah kenyang bego akhirnya kami mencari tempat penukaran uang untuk menukar uang demi biaya ke Thailand karena jujur saja kami tidak mempersiapkan uang yang cukup ke Thailand yang mencari bencana dalam perjalanan kami 😀

Sesampai di travel agenci tempat kami membeli tiket hari sangat terik sekali plus lelet juga berangkatnya. Kami berangkat dari Penang jam 12:30 dan lama perjalanan dari Penang ke Hatyai memakan waktu sekitar 3 jam-an. Perjalanan ke Hatyai melewati Penang Bridge dan aku sangat suka dengan pemandangan di jembatan Penang. Kalau dihitung-hitung lama perjalanan dari Kuala lumpur ke Penang kurang lebih 8 jam lalu dari Penang ke Hatyai kurang lebih 3 jam.

Nah saat perjalanan ke Hatyai kami naik van yang berisi kami berenam plus orang Singapura keturunan India, cewek Spanyol dan orang Malaysia yang keterunan India serta unlce yang duduk di depan yang bisa berbahasa Malaysia, dan fasih bahasa Thailand. Si uncle lah yang berbicara dengan supir yang kami kira adalah kenek dari supir.

Sepanjang perjalanan kami bercanda dan tertawa. Lalu ada momen ketika si Ade sempat membuatku jadi bahan lelucon sehingga tertawa teman-temanku kelewatan sehingga membuat marah si paman dari Singapura.

“Bu V photolah dulu aku yang cantikan itu, yang jahatan kau hiks hiks hiks”, kata Ade sambil meniru gaya bicaraku sehingga Reza, Ilham Sarta dan Sarah tertawa keras hingga si Orang Singapura marah dan berkata “why you laugh at? its us you laugh at?”. Lalu kami terdiam selama perjalanan bahkan hingga tertidur.

Kami baru terbangun setelah kami sampai di perbatasan dan harus keluar van untuk mencap paspor di Imigrasi Malaysia. Urusan imigrasi mudah dan cepat, bagasi kami tidak diperiksa hanya membawa badan lalu ngantri dan paspor kami dicap lalu selesai kembali ke van. Kemudian perjalanan dilanjutkan hingga berhenti di imigrasi Thailand yang berada di Songkha.

Saat di Imigrasi ternyata si Pak Singapura bermasalah dengan imigrasinya sehingga membuat antrian lama dan kami hanya diam mengamati karena dimarahin olehnya. Terus karena dia kena masalah si Reza temanku yang kurang ajar malah berkata “kualat itu si bapak habisnya memarahin kita padahal dia juga bicara ribut juga di dalam mobil” hahaha.. Parah kan?

Padahal pas ngantri kami sempat kebelet ke toilet terus uang ke toilet sekitar 5 Bhat. Lalu kami kumpulkan uang rame-rame lalu sama-sama toilet hahaha.. susah senang bersama banget 😀

Saat adegan di toilet jugalah si unlce Taiwan memberikan uangnya kepadaku saat uangku tidak ada receh, baik sekali kan?

imigrasi malaysia-hatyai
Imigrasi Malaysia-Hatyai

Setelah proses keimigrasiin selesai, si Bapak Singapura sikapnya berubah jadi baik kepada kami dan bercanda kepada kami bahkan minta photo sama kami. Karena teman-temanku baik dan tidak pendendam akhirnya si bapak diajak bercanda bersama.

Sesampai di Hatyai kami ingin menginap di Hotel Cholatarn di Jalan Aengchan dengan harga penginapan semalam 550 Baht tapi sebelum kami mencari penginapan kami sempat ke travel agent untuk menanyakan biaya perjalanan keliling Hatyai dalam sehari lalu kami ditawarkan seharga 2000 Baht yang kemudian kami putuskan kemudian. Lalu kami mencari cara untuk pulang keesokan harinya ke Kuala Lumpur karena Sarah harus balik di hari senin. Akhirnya kami mengikuti si orang Singapura ke stasiun Hatyai untuk membeli tiket kereta/sleeper train yang sayangnya tiket sudah habis sehingga kami memutuskan untuk naik bus ke Kuala Lumpur.

Si uncle Taiwan menawarkan untuk menginap di tempatnya yang awalnya kami curiga tapi akhirnya kami berterimakasih ke uncle karena berkatnyalah kami menemukan penginapan super murah di Hatyai. Sang supir menunjukkan penginapan yang awalnya aku dapat kemudian kami memutuskan ke tempat si uncle karena harga penginapan nya sangat murah. Nama penginapan kami di Hatyai bernama Hotel hibiscus city dengan harga permalam 290 Bhat/3 orang. Murah sekali kan?

stasiun hatyai
Stasiun Hatyai

Penginapan kami bersih walau sederhana dan jika untuk mendapatkan wifi gratis harus bayar lagi, Untungnya si Ilham menumukan wifi gratis di Aloha Hotel sehingga kami tetap bisa eksis ria.

Dalam perjalanan kami ini, si Reza jadi tukang pemegang uang alias bendahara, si Sarta yang catet perjalan, aku si petunjuk jalan, Ade si Bank kami dan Ilham tukang photo kami sementara Sarah si pembawa bekel hahaha 😀

Setelah membayar penginapan kami mandi lalu bersantai ria karena malam kami akan ke pasar malam Hatyai untuk makan malam serta mengelilingi Hatyai di malam hari. Dalam perjalanan Hatyai kami tidak ingin perjalanan kami sia-sia seperti perjalanan Penang sehingga kami memutuskan menyewa mobil seharga 2000 Bhat untuk kami berenam dari jam 8 sampai jam 5 sore. Sementara harga tiket balik ke Kuala Lumpur seharga 2700 Bhat/6 orang sehingga kami agak santai.

Karena kami kekurangan Baht sehingga dengan baiknya Ade mau mengambil uangnya dan kami meminjam uang Ade yang akan kami bayar kepadanya. Untuk pengeluaran selama di Hatyai ialah 290baht/3 orang, biaya Hatyai-kuala Lumpur 2700 Bhat/6 orang serta sewa keliling wisata hatyai 2000 Bhat/6 orang.

Hatyai
Hatyai

Malamnya sebelum keliling Hatyai di malam hari kami makan malam dekat penginapan kami. Hal yang aku suka dari Hatyai ialah kemudahan mendapatkan makanan halal karena banyak sekali muslim di Hatyai sehingga tidak khawatir makan serta banyak sekali orang Malaysia sehingga bisa berbahasa Melayu. Kami mencoba Tom Yam Thailand di restauran halal di dekat penginapan seharga 150 Baht termasuk teh tarik dan martabaknya. Untuk tomyamnya enak sekali cuma kami agak kaget dengan harga makanan yang menurut kami sama mahalnya dengan harga di Kuala Lumpur padahal ekpektasi kami harga di Thailand harusnya jauh lebih murah. Hal yang membuatku esmosi ketika si Ibu berbicara Thailand saat kami tanyakan berapa harga makanan kami padahal si ibu bisa berbahasa Melayu sehingga kesannya seperti you know lah!

Tom yam Thailand
Pasar Malam Hatyai Thailand

Overall tomyam dan martabaknya enak sekali walau agak mahal lalu kami berjalan mencari ATM karena uang Bhat kami pas-pasan hingga akhirnya kami menemukan dinding yang bertuliskan “SELAMAT DATANG HATYAI” di poster suatu Bank 😀

Lalu setelah uang di ambil Ade dan dibagikan kami lalu kami berhenti ke Mall untuk mencari oleh-oleh. Hasil yang kami dapat dari keliling Hatyai harga di Kota ini cukup mahal. Bahkan harga gantungan kunci di jalanan sama harganya dengan harga di Mall sehingga teman-temanku memutuskan untuk membeli oleh-oleh khas Thailand di Mall yang kami masuki.

Tapi aku tidak membeli souvenir khas Thailand karena aku sudah memilikinya plus uangku pas-pasan juga. Akhirnya aku menemani mereka membeli souvenir buat oleh-oleh. Barulah puas berburu oleh-oleh khas Hatyai kami pulang ke penginapan.

berburu souvenir thailand
Ilham berburu souvenir thailand

Untuk hari pertama di Hatyai kami pulang jam 8 malam tapi sampai di penginapan kami semua malah mengerumpi di kamar cowok sambil membuat adegan kebohongan untuk pembohongan publik. Si Adelah yang menjadi actor utama dalam acting kebohongan kami terutama mengenai aksi nama penginapan kami yang seolah menggemborkan di Path atau social media lainnya bahwa kami tinggal di tempat yang super mewah. Tapi lucu sekali karena memang niatnya buat lucu-lucan hahahah…

Canda tawa pun mencairkan suasana malam kami hingga jam 12 malam, perjalanan yang melelahkan seharianpun hilang dan saatnya kami untuk istirahat demi keliling objek wisata Hatyai sampai puas!

backpacker
Kami dengan dunia kami sendiri yang mengaku backpackerx

Salam

Weeny Traveller

 

Liburan Imlek di Dermaga Merak


“It isn’t what you have or who you are or where you are or what you are doing that makes you happy or unhappy. It is what you think about it.”

By Dale Carnegie

Dermaga Merak
Dermaga Merak

Hello World!

Merak, 19 Februari 2015

Walau agak sedikit telat tapi Happy Chinese New Year-Gong Xi Fa Chai 2015 buat teman-teman yang merakayannya! Liburan Imlek di tahun 2015 aku habiskan di Dermaga Merak yang berlokasi di Cilegon Banten karena kebetulan aku sedang site job sehingga aku berada di Ciwandan. Awalnya aku mengira kalau Pelabuhan Merak sama dengan Pelabuhan Ratu padahal jelas-jelas salah sehingga dengan pedenya aku mengajak si Daboo makan seafood di Merak dan berkata aku pernah mencoba kulineran seafood di Merak. Padahal seumur hidup baru pertama kalinya aku menginjakkan kaki di Pelabuhan Merak.

Lokasi pelabuhan Ratu berada di Bayah sedangkan pelabuhan Merak berada di Cilegon dan pelabuhan Meraklah sebagai penyebarangan untuk menghubungkan pulau Jawa dengan Sumatera apalagi yang hendak ke Lampung pasti dari Pelabuhan Merak. Agak sedikit merasa bego karena salah membedakan kedua pelabuhan tersebut. Alhasil aku dan Daboo naik motor ke Dermaga Merak.

Merak
Merak

Jarak dari kota Cilegon ke Merak tidak terlalu jauh cuma 30 menit sepeda motor. Pantainya hampir tidak ada kalaupun ada hanyalah hotel dengan pasir yang sedikit. Cukup susah berburu kuliner seafood di Dermaga Merak bahkan kami melewati Pelabuhan Merak. Tapi karena mau jalan-jalan suka-suka sehingga menikmati waktu sambil melihat pemadangan. Pemandangan sekitar kebanyakan ialah kapal yang bersandar ditepi laut dengan pegunungan dan kelapa serta dermaga dimana bocah asyik bermain.

Kami juga sempat berdiri di karang dengan alunan ombak yang menderu. Tentu saja aku sempatkan berphoto dengan latar belakang perahu. Niat mencari seafood tetap tidak hilang sehingga tanpa sengaja kami menemukan warung yang menyediakan seafood yang tak jauh dari Dermaga Merak. Jika dari luar tidak kelihatan seperti warung seafood karena tempatnya tertutup serta dari kayu hanya palang tulisan ikan bakar dan cumi bakar yang membuatku merasa disitu pasti menjual makanan laut. Hingga akhirnya aku menyuruh berhenti untuk mencoba makanan lautnya. Untuk tempat makannya berada di lantai dua dengan gaya lesehan. Sayangnya cumi tidak ada hanya ada ikan dan udang saja. Udang dan ikan ditimbang lalu dimasak sesuai dengan selara. Kami mengeluarkan kocek Rp92500 untuk ikan bakar, udang 1/4 serta dua porsi nasi lengkap dengan teh tawar. Hal yang aku suka dari tempat kuliner seafood di Merak ialah pemandangan laut dari lantai dua. Sayangnya pemandangan disekitar Merak banyak yang jadi industri bahkan pasir diangkat untuk dijual.

dermaga merak
Dermaga Merak

Puas makan maka aku mengajak si Daboo ke Dermaga yang masuk dari gang karena dermaga Merak tempat anak kecil yang bermain dengan air. Rasa asin tidak mengurungkan niat mereka dengan berenang di laut. Seru juga ternyata mengisi libur dengan travelling tak terduga di Dermaga Merak dengan melihat kepolosan dari bocah yang saat berbicara dengan kata “ngeh”, logat khas Sunda Cilegon.

Saat berenang di Dermaga ada seorang bapak yang melemparkan koin untuk diambil oleh bocah yang berjumlah kurang lebih 13 orang. Dulunya si Bapak ialah pengambil koin yang sekarang berprofesi sebagai pengemudi kapal motor. Si bapak sempat menawarkan untuk menyeberang ke Pulau yang tak jauh dari Dermaga dengan biaya pulang pergi Rp40.000. Tapi karena kami cuma niat melihat tingkah laku anak kecil sehingga kami hanya menikmati moment di Dermaga saja.

Dermaga merak
Dermaga merak

Oh ya ketika si Bapak melempar koin ke bocah ternyata hanya satu anak yang berhasil mendapatkan uanh Rp200. Lucunya si Daboo mencoba hal yang sama dengan mengisi uang Rp2000 kedalam botol baru anak-anak berenang mengambilnya. Mereka senang sekali mungkin karena jarang orang asing datang dan bermain dengan mereka kali ya! aku juga sempat mecoba tapi yang dapat adalah anak yang sama sehingga terakhir sebelum kami meninggalkan Dermaga kami membelikan mereka minuman karena kasihan melihatnya kehausan berenang dengan syarat tidak membuang gelas minuman ke laut.

Mengisi liburan imlek ke kampung orang ternyata seru juga walau bukan destinasi wisata yang wow tapi bisa masuk kedalam kategori jalan-jalan murah meriah, iya kan ya? 😉

pelabuhan merak
Pelabuhan Merak

Jalan-jalan ke Dermaga Merak sebenarnya tidak terlalu lama hanya 1 jam saja tapi kami memetik pelajaran dari anak kecil yang menikmati hidupnya tanpa beban!

Salam

Weeny Traveller