Pesta Toraja


There are several paths to the top of the mountain, but the view is the same

By Unknown

tanduk kerbau di toraja

Hello World

Toraja, 27 Desmeber 2015

Walau gagal melihat pesta kematian adat toraja atau sering disebut upacara adat rambu Solo’ saat di Tana Toraja  tapi kami sempat melihat yang disebut pesta saat di Batutumonga. Si Bapak Angkot yang membawa kami menyuruh masuk ke dalam padahal ada orang meninggal disebut pesta. Memasuki rumah orang meninggal aku melihat hiasan rumah berwarna merah lengkap dengan alat-alat untuk memasak. Entah kenapa aku merasa mirip dengan Batak dimana kalau meninggal yang tamu datang akan disuguhi makanan. Khasnya pas di depan pintu ada kepala kerbau yang disusun dari ukuran terkecil ke besar.

pesta toraja
Pesta Toraja

Bekas alat masak terlihat jelas di depan rumah duka. Ikatan kekeluargaan terlihat jelas khususnya peralatan masaknya. Terus di depan sebuah panggung terlihat beberapa tamu berkumpul di dekat makam kemudian disbeerang ada kumpulan laki-laki yang makan.

adat pesta di toraja
Adat pesta di Toraja

Terus jalan lagi aku melihat seorang nenek di depan peti mati suami yang sudah meninggal.  Di depan peti mati terdapat photo si kakek. Sayangnya kami hanya sebentar jadi tidak bisa melihat pasti susuan acaranya secara detail hanya sepintas saja kalau tidak pasti seru melihat adat kematian di Toraja mulai dari awal hingga akhir. Semoga nanti ada kesempatan kembali untuk melihat rangkaian upacara kematian Toraja!

adat pesta di toraja
Adat pesta di Toraja

Salam

Winny

Iklan

Mencari kupu-kupu di Taman Nasional Bantimurung


Sometimes the hardest decision in life is which bridge to cross and which one to burn

By Unknown

bantimurung
Bantimurung

Hello World!

Maros, 28 Desember 2015

Hi Jakarta, pada masih takut akan kejadian kemaren dimana tiba-tiba Jakarta terkena aksi bom dan baku tembak membabi buta? Semoga aksi teroris tidak kejadian lagi, dan untuk korban turut berduka cita.

Nah sedikit mencarikan suasana ketegangan Jakarta aku mau berbagi pengalaman perjalanan ke Taman Nasional Bantimurang Bulusaraung akhir Desember tahun lalu.

Puas melihat keindahan Leang-leang jaum menujukkan jam 3 sore dan aku bingung bagaimana caranya ke Taman Nasional Bantimurang Bulusaraung karena beberapa objek wisata menarik di Taman Nasional Bantimurang Bulusaraung antara lain penangkaran kupu-kupu, air terjun Bantimurung hingga ke Goa Mimpi dan Gua Batu.

 

wisata alam bantimurung

Waktu di Leang-Leang aku menanyakan berapa harga dari Leang-leang ke Bantimurung terus si bapak mengatakan Rp50.000. Sontak aku terkejut dengan harganya karena buatku itu cukup mahal, tapi kalau jalan kaki ke gang Leang-leang membuatku sedikit menarik napas. Akhirnya aku jalan kaki sambil berharap strategi “NEBENG” masih berhasil. Berjalan 5 menit aha beruntungnya aku pas menyetop motor seorang bapak separuh baya mau memberikan tebengan hingga ke gang besar Leang-leang karena beliau kebetulan juga hendak kesana. Eeh siapa sangka si bapak malah sekalian mengantarku ke Bantimurang yang berkisar sekitar 10 km. Terus berhentinya tepat di depan pintu masuk Taman Nasional Bantimurang Bulusaraung lagi. Si Bapak itu adalah penjaga leang-leang dan beruntunglah bisa dapat tebengan.

bantimurung
Bantimurung

Sesampai di Taman Nasional Bantimurang Bulusaraung aku membayar tiket masuk Taman Nasional Bantimurang Bulusaraung seharga Rp25000. Di Taman Nasional Bantimurang Bulusaraung sangat Indah menurutku ada penangkaran kupu-kupu dan museum kupu-kupu yang mirip di Jatim Park 2 Batu Malang. Tapi untuk masuk harus bayar lagi Rp5000. Karena aku pernah melihat hal yang sama di museum kupu-kupu Jatim Park 2 akhirnya aku memutuskan tidak jadi masuk.

bantimurung
Bantimurung

Alhasil gagal total melihat kupu-kupu yang banyak di Taman Nasional Bantimurang Bulusaraung. Untungnya aku bisa melihat air terjun Bantimurang yang cakep walau debit airnya agak deras tapi lumayanlah. Sayangnya aku tidak memasuki Goa Mimpi dan Batu karena keterbatasan waktu serta cuaca yang hujan. Disekitar air terjun banyak orang yang mandi atau sekedar bertamasya. Aku sendiri memilih mengelilingi sambil cuci mata saja hingga akhirnya aku putuskan untuk pulang dan langsung ke Bandara.

air terjun bantimurang
Air terjun bantimurang

Di pintu gerbang pulang banyak sekali souvenir kupu-kupu walau aku tidak jadi membelinya! Akhirnya Taman Nasional Bantimurang Bulusaraung menjadi penutup perjalanan di Sulawei Selatan!

Trip Maros, 28 Desember 2015

15:00 – 16:00 Bantimurung melihta kupu-kupu dan air terjun

16:00 – 17:00 simpang Bantimurung nebeng motor terus ke Maros terus ke Bandara

17:00 – 17:30 Maros – Bandara sempat singgah makan Konro

17:30 – 18:00 sop konro ke Bandara, jalan kaki, nebeng terus jalan kaki terus nebeng hingga sampai ke Bandara

18:00 – 18: 30 minum di Dunkin

18:30 – 20:00 pesawat Lion delay 30 menit

20:00 – 22:00 Makassar-Jakarta

souvenir bantimurung
Souvenir Bantimurung

Rincian biaya pengeluaran Hari kedua Makassar

Tiket masuk Bantimurang Rp 25.000

Angkot Bantimurung – Maros Rp12000

Makan sop Konro Rp18000

Angkot ke Bandara dari warung sop Rp7000

Angkot ke Bandara Rp5000

Dunkin hot coklate Rp28500

Tujuan wisata Makassar hari kedua : Ramang-ramang, Leang-leang dan Taman Nasional 

 

Salam

Winny

Demi jalan-jalan ke taman prasejarah leang-leang


You can never cross the ocean until you have the courage to lose sight of the shore

By Christopher Columbus

backpacker ke leang-leang

Hello World

Makassar, 28 Desember 2015

Jam menunjukkan 1 dengan cuaca terik dan aku punya waktu 6 jam lagi untuk menjelajah wisata Makassar khususnya Maros yang memiliki tiga objek wisata utama yaitu Ramang-ramang, Leang-leang dan Taman Nasional Bantimurang. Jam 1 siang begini aku masih di dermaga Ramang-ramang dengan sisa uang Rp2000 yang kemudian hari terakhir di Makassar dan waktunya Sayonara dengan Kak Indri dan Lukman yang telah menemani perjalanan selama Toraja hingga ke Ramang-ramang. Pas di demarga ada seorang bapak yang menawarkan ojek. Saat si bapak ojek datang aku tanyakan berapa ongkos dari Ramang-Ramang ke ATM sebentar kemudian Leang-leang. Si Pak Ojek mengatakan Rp50.000 untuk sekali jalan kalau ke Bantimurang sekalian Rp80.000. Lalu aku tertegun terus berkata,”maaf pak sepertinya tidak jadi karena mahal”. Terus si Bapak menjawab “bukannya kalau dari Jakarta uangnya banyak ya”. Eh mak kata terakhirnya itu loh tidak sedap “asal orang Jakarta uangnya banyak”. Karena sudah tidak cocok dengan tawar menawar ongkos akhirnya aku memutuskan untuk jalan kaki yang sempat membuat kak Indri khawatir. Emang penyakit perjalananku itu sering mengalami kehabisan uang

hahhaha 😀

Alhasil dengan PD nya aku mengatakan kepada Kak Indri untuk tidak khawatir walau uangku Rp2000 lagi di saku. Nah akhirnya aku memutuskan jalan kaki lagi ke simpang jalan umum padahal tempat dermaga dari jembatan ke depan agak lumayan tapi tidak sejauh perjalanan kaki kami yang 1 jam. Nah pas itu aku jalan dengan nekat aku menghentikan motor yang lewat. Hingga ada 1 bapak yang berhenti karena aku nebeng sampai gang depan tempat angkot. Dengan muka setengah memelas aku nebeng sampai tujuan si Bapak yang akhirnya pas hujan deras. Karena susah mencari ATM karena dekatnya ke pasar Maros akhirnya si bapak yang membawa motor menghentikan angkutan umum terus aku naiklah ke angkutan umum tersebut terus aku lihat saku eh uangku yang aku kira Rp2000 ternyata hanya Rp1000 saja. Untungnya si Bapak angkutan umum mau berhenti di depan ATM walau itu ATM yang bukan kartuku tapi yang penting bisa mengambil uang. Untuk ongkos dari simpang Ramang-Ramang ke Pasar Maros itu Rp5000 tapi kalau aku ingin ke Bantimurang Rp13000 nah bapaknya sempat menawarkan ke Bantimurang. Tapi karena aku ingin ke Leang-leang dulu karena saran si Zilko jangan melupakan Leang-leang pas di Makassar akhirnya aku memutuskan ke Leang-leang. Untungnya bapak angkot baik hati mau menungguku saat mengambil uang di ATM begitu juga karena searah pulang dia mau membawaku ke Bantimurang walau akhirnya aku turun disimpang Taman Prasejarah leang-leang.

Kambing di angkot
Kambing di angkot

Saat perjalanan dari Pasar Maros ke Bantimurang ditengah jalan aku dikagetkan dengan kejadian lucu. Lucunya saat kambing masuk ke dalam angkot di bangku depan. Aku tak tahan menawan ketawa ketika si embek dibawa masuk oleh penumpang terus duduknya di depan pula. Gila ya, seumur-umur baru pertama lihat kambing masuk kedalam angkot yang notabenenya transportasi di Makassar, ibukota Provinsi. Kocak dah!

Habisnya walau dari kampungku di Padangsidempuan belum pernah lihat angkot bawa kambing untuk jurusan Kota. Jadi pengalaman berkesan sekali bahkan seisi angkot malah heran melihat ketawaku yang tidak melihat sikon. Untung juga uangku habis ya kalau tidak aku mana nemu adegan lucu di perjalanan.

Akhirnya aku sampai di depan gang LEANG-LEANG terus katanya ke dalam itu sekitar 8 km lagi dari ganag bertuliskan “Selamat datang di Taman prasejarah Leang-Leang Kabupaten Maros”!

8 KM What?

Leang-leang Makasar Sulawesi
Leang-leang Makasar Sulawesi

Pelogok kanan kiri tidak ada satupun Ojek padahal jam sudah menunjukkan jam 2 dan aku harus bergegas karena penasaran juga dengan Bantimurang, wisata kupu-kupu di Makassar.

Pas mikir panjang bagaimana caranya ke leang-leang ada satu cewek lewat dengan motornya. Dengan nekat aku menyetop si mbak eh dengan baik hatinya dia menerimaku nebeng ke Lenag-leang! Horeeeee!

Gak nyampe 5 menit untuk memelas kesana terus dibawalah aku ke Taman Prasejarah leang-leang yang membuatku penasaran! Saat dibonceng aku benar merasa kalau jalan kayaknya mampus dah jauhnya!

Untung dapat tebengan!

leang-leang Makassar Sulawesi Selatan
Leang-leang Makassar Sulawesi Selatan

Sesampai di depan pintu masuk Taman Prasejarah Leang Leang, aku membayar tiket masuk. Untuk harga tiket masuk ke Taman Prasejarah Leang Leang Rp10.000 dan aku memilih dengan toruguide untuk bisa melihat lukisan dinding gua berupa gambar babi rusa 1 ekor dan gambar cap telapak tangan 22 buah dan telapak tangan hingga siku 6 buah yang kesemuanya menggunakan zat berwarna merah! Yah lukisan berada di dalam Goa dan Goa sengaja dikunci supaya tidak ada vandalism sehingga perlu adanya guide dan biaya guidenya seikhlasnya kok!

leang-leang

Masuk kedalam Taman Prasejarah Leang Leang aku berdecak kagum dan aku langsung jatuh cinta dengan Lenag-leang. Leang-leang adalah pegunungan Karst yang sudah berumur ribuan tahun memiliki 286 goa dengan lebih dari 30 goa prasejarah. Lokasi Leang-leang berada sebelum Taman Nasional Bantimurung. Akses ke dalam mulus karena jalannya beraspal dan sangat Indah karena diakui sebagai kawasan karst terbesar kedua di dunia setelah Guangzhou di China. Keunikan dari Taman Prasejarah Leang Leang selain susunan batuan yang katanya dulu batu karang dari laut, terdapat bukti tapak tangan manusia Purba dan Lukisan menyerupai Babi Rusa yang ditemukan di Leang (gua) Petta Kere dengan cat warna merah.

leang-leang
Leang-leang

Menakjubkan bukan?

Apa gak jatuh cinta itu aku!

Rupanya apa yang aku cari dan lihat dari photo seniorku yang aku cari di Leang-leang bukan di Ramang-ramang! Jalanan setapak dengan rumput hijau serta bebatuan alami yang besar lengka dengan karst di belakangnya, membuatku betah lama-lama di Leang-leang. Bahkan aku ikut ama tourguide melihat cap tangan manusia Purba menaiki tangga di depannya dengan tulisan Leang Petta Kere.

Sayangnya karena jam sudah jam 3 maka akupun buru-buru ke Bantimurang terus bingung bagaiamana ke Bantimurung. Eh siapa sangka ada tebengan lagi kali ini tebengan dengan motor sampai ke Bantimurung, tempat kupu-kupu!

What a life!

Salam

Winny

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Jalan Kaki ke Ramang-ramang


Very little is needed to make a happy life; it is all within yourself, in your way of thinking

By Marcus Aurelius

Karst Ramang-ramang
Karst Ramang-ramang

Hello World

Makassar, 28 Desember 2016

Pagi jam 6 sore, kami telah sampai di Maros dan agak lewat dari pasar Maros dan kami tidak ada ide harus turun dimana hingga kami turun di masjid perumahan Greenvile Maros. Sambil sholat subuh dan menunggu mentari sejenak di masjid hingga akhirnya kami memutuskan untuk naik angkutan umum ke Ramang-Ramang. Angkutan umum dari tempat kami beranjak ke simpang gang Bosowa Rp8000/orang. Di depan simpang Bosowa kami melihat ada warung yang menyediakan nasi kuning dan kue, alhasil kami sarapan di warung kecil itu untuk mengisi perut. Harga seporsi nasi kuning dengan kue 1 buah itu Rp9000 saja. Terus kami bertanya dimana letak RAMANG-RAMANG itu. Ternyata hamparan Karst di depan mata itu merupaan ramang-ramang yang menjadi salah satu wisata andalan Makassar. Nama Ramang-Ramang sendiri adalah nama sebuah desa di Maros dan turunnya di pertigaan ke arah semen Bosowa.

Jam 8 barulah kami memulai jalan terus kami berjalan hingga ada belokan yang menuju ke Desa. Di belokan itu ada tulisan “arah ke Karst Ramang-Ramang” melewati satu gang. Awalnya kak Indri penasaran dimana letak sungai yang harusnya katanya tempat mengambi perahu hingga kami melewati perswahan dan pedesaan. Walau masih jam 8 pagi tapi lumayan panas dan feeling kami itu kami salah jalan deh walau sudah jelas-jelas ada petunjuk arah karena perjalanan kami hampir 1 jam jalan kaki tapi belum nemu-nemu yang namanya tempat perahu.

Bayangkan jalan 1 jam!

Untungnya pemandangan di depan kami itu menakjubkan sekali lengkap dengan sawah, refleksi objek yang kami lihat terpantul di air serta himpunan karst di depan mata. Pegunungan batu dengan pohon hijaunya asli membuat kami jalan 1 jam tidak terasa walau keringat tidak bohong sih!

Hingga akhirnya setelah beberapa kali bertanya kami sampai kesebuah warung tempat untuk menyewa perahu. Untuk sampai ke Dusun Berua  tempat hamparan karst dengan persawahannya dan Goanya maka harus menyewa perahu kecil yang bisa muat 5 orang. Harga sewa perahu seharian di Ramang-Ramang Rp250.000 dengan tujuan Dusun Berua serta Telaga Bidadari katanya.

Aku sendiri gak yakin apakah Ramang-ramang yang aku lihat di photo temanku sama dengan Ramang-Ramang yang aku lihat di depan mata. Jujur saja aku agak kurang antusias dengan pegunungan batu di Ramang-Ramang, maklum sebagai pekerja di pabrik semen dan sudah pernah terbiasa melihat batu kapur ketika melihat pegunungan kapur jadi “biasa”.

Cuma untuk naik perahunya sambil melihat pedesaannya asik deh.

Akhirnya sampai jam 10 barulah kami sampai di Dermaga walau penuh dengan usaha jalan kaki ye. Terus kami menyewa perahu seharian dan dimulailah perjalanan kami ke Dusun Berua Desa Ramang-Ramang. Mengitari sungai di Ramang-ramang dengan perahu jadi teringat pengalaman kano di Ujung Kulon. Bedanya kalau di Ujung Kolon Kanoing di Sungai Cigenter pake alat nah di Ramang-ramang tinggal naik diperahu motor kecil terus jalan deh. Awalnya agak takut masuk ke dalam perahu maklum tanpa safety jacket terus aku tidak bisa berenang lagi. Untungnya sepanjang perjalanan pemandangan karst dan bebatuan Indah sekali hingga kami sampai di Dusun Berua Ramang-Ramang. Di depan loket kak Indri membayar Rp7500/3 orang.

Untuk wisata di Dusun Berua berupa Goa lengkap dengan satu telapak tangan manusia purba, mata air, hingga pedesaannya. Sebenarnya ada beberapa gua di Dusun Berua tapi kami hanya melihat satu dengan Telapak Tangan tapi Goa nya menurutku kecil ya. Sepertinya yang aku cari bukan di Ramang-ramang karena penasaran dengan cap tangan yang banyak.

Turguide ramang-ramang
Turguide ramang-ramang

Nah pas mencari Goa dengan telapak tangan kami sempat bingung dimana lokasinya secara yang kami lihat adalah hamparan bersawahan dengan latar belakang pegunungan hingga kami bertemu kakek yang mau membawa kami melewati jalanan setapak yang becek dengan nuaasa alami seperti kupu-kupu terbang. Kak Indri paling antusias melihat Goa walau menurutku bukan seperti Goa karena lubang ke dalam Goanya sempit tidak bisa dimasukin hanya bisa lihat susunan luarnya saja. Hingga akhirnya kami memutuskan perjalanan dengan tanpa ada ide apa yang ada di Dusun Berua.

wisata ramang-ramang
wisata ramang-ramang

Menapaki perjalanan sawah akhirnya sang kakek dan kami berpisah dilanjutkan dengan bapak seumur baya menemani kami ke mata air dengan jalanan yang tak kalah hebohnya menapaki jembatan dari bambu langsung dibawahnya air. Untungnya ada kedai tempat kami minum sambil menikmati hamparan karst!. Warung ini berada di atas batu kapur, nikmat sekali menikmati waktu di Berua hingga akhirnya kami memutuskan ke Telaga Bidadari.

warung ditas bukit ramang-ramang
warung ditas bukit ramang-ramang

Naik perahu lagi ke Telaga Bidadari kami membayar tiket masuk lagi seharga Rp5000/3 orang. Pas hendak ke Telaga jalannya menanjak bebatuan sesekali melewati goa terus pas hujan eh melewati air basah pas sampai ternyata telaga yang dilihat hanya berupa telaga biasa! Buatku sih agak zonk yak ke Ramang-ramang tapi buat kak Indri karena penyuka pegunungan dan batu jadi si kakak sangat enjoy!

Nah pas pulang dari Berua dan Telaga Bidadari sampai ke jembatan yang bukan awal kami jumpai ternyata pemandangannya sungguh menakjubkan apalagi bebatuan besar di sungai. Nah hingga jam 1 kami kembali ke Dermaga. Nah aku pun melanjutkan perjalanan ke Leang-leang padahal sisa uang di tangan itu Rp2000 saja dan ATM jauh di Maros!

bebatuan karst di ramang-ramang
bebatuan karst di ramang-ramang

Trip Maros, 28 Desember 2015

06:00 – 07:00 Poros Moros simpang semen Bosowa angkot dari perumahan Greenrevile Maros

07:00 – 08:00 makan nasi kuning ama kue di gang Bosowa

09:00 – 10:00 jalan kaki dari simpang Ramang-ramang sampai ke Danau sekitar 1 jam jalan kaki melihat pedesaran dan gunung kapur

10:00 – 12:00 jelajah Ramang-ramang dengan menyewa perahu, jalan ke Goa dan warung ke mata air

12:00 – 13.00 ke Telaga Bidadari

13:00 – 14:00 menumpang sampai Maros karena uang tinggal Rp1000, pas hujan, terus naik angkot ke ATM BRI terus langsung ke Leang-leang, lihat kambing masuk di dalam angkot, nebeng motor ke dalam leang-leang pulangnya juga nebeng sampai ke Bantimurung

14:00 – 15:00 Leang-leang, melihat telapak tangan dan menyewa tourguide

15:00 – 16:00 Bantimurung melihta kupu-kupu dan air terjun

16:00 – 17:00 simpang Bantimurung nebeng motor terus ke Maros terus ke Bandara

17:00 – 17:30 Maros – Bandara sempat singgah makan Konro

17:30 – 18:00 sop konro ke Bandara, jalan kaki, nebeng terus jalan kaki terus nebeng hingga sampai ke Bandara

18:00 – 18: 30 minum di Dunkin

18:30 – 20:00 pesawat Lion delay 30 menit

20:00 – 22:00 Makassar-Jakarta

kampung berua ramang-ramang
kampung berua ramang-ramang

Rincian biaya pengeluaran Hari kedua Makassar

Angkot Maros ke simpang Bosowa  Rp10.000/3 orang

Makan nasi kuning Rp9000/ orang

Sewa perahu di Ramang-ramang Rp250.000/ 3 orang

Tiket musuk ke Desa Ramang-ramang Rp 2500/ orang

Tourguide untuk 2 orang Rp 20.000/ 3 orang

Minum kopi di warung Rp6000

Tiket masuk Danau Bidadari Rp5000/ 3 orang

Tourguide Bidadari Rp5000/ 3 orang

Tiket masuk Leang-leang Rp 10.000

Tourguide Leang-leang Rp10.000

Tiket masuk Bantimurang Rp 25.000

Angkot Bantimurung – Maros Rp12000

Makan sop Konro Rp18000

Angkot ke Bandara dari warung sop Rp7000

Angkot ke Bandara Rp5000

Dunkin hot coklate Rp28500

Tujuan wisata Makassar hari kedua : Ramang-ramang, Leang-leang dan Taman Nasional Bantimurung

Salam

Winny

Mengejar Perumaahan Adat dan Tenun Toraja di Galugu Dua hingga ke Pallawa


The shortest distance between two points is a straight line.

By Archimedes

 

Hello World!Desa Sadan Galugu Toraja

Tana Toraja, 27 Desember 2015

Dari Bori kami bingung naik apa ke Sa’dan tempat desa Adat dan tenun berada. Kami ingin ke Sa’dan ke special membeli tenun pesanan kak Cumi sekaligus penasaran dengan Tenun ala Toraja. Sebelumnya kami memngalami masalah dengan transportasi dari Bori ke Sa’dan. Acap kali aku sengaja meminta mobil yang lewat untuk berhenti hingga akhirnya ada tiga ojek yang dipesan penjaga Bori untuk kami. Ojek dadakan oleh warga local tapi daripada susah kami senang saja apalagi kak Indri penasaran dengan Tongkonan di Pallawa. Maka aku, kak Indri dan Lukman naik ojeklah ke Sa’dan karena itu paling jauh. Naik ojek dari Bori ke Sa’dan cukup menarik karena pemandangan khas pedesaan yang asri sangat menentramkan.  Pengemudi ojekku bernaama Oktavianus dia bercerita tentang Toraja dan pesta (untuk orang yang meninggal diadakan adat pemakaman yang disebut pesta) akan diadakan tanggal 2 Januari, sayangnya aku sudah keburu pulang. Apalagi penasaran dengan adu kerbau Toraja. Nah sampai di Sa’dan eh tiba-tiba hujan deras. Alhasil kami bertiga berteduh salam sebuah rumah kayu kecil yang didepannya taik kerbau! Terus dengan pemandangan kerbau yang bermain dilapangan hijau dengan deras hujan! Bayangkan kami dan orang local yang berteduh bersama-sama tanpa memperdulikan taik kerbau didepan mata! Omak lucu hahahahha

Kepala kerbau di Tongkonan
Kepala kerbau di Tongkonan

Hingga akhirnya si pemilik rumah dari belakang mengajak kami berteduh dibawah Tongkonan terus menyiapkan karpet. Sontak aku sangat kagum dengan orang Toraja yang begitu menghargai tamunya! Paling tidak kami disana sekitar 30 menit hingga akhirnya kami memutuskan ke Sa’dan ketika hujan agak reda. Pas sampai di Tongkonan Sa’dan eh ada orang yang sedang acara dan yang kami lihat berupa Tongkonan “lagi” terus dengan buru-buru kami memutuskan ke Desa Galugu tempat tenun Toraja. Lagian kami penasaran dengan Desa Adat yang memiliki tenun.

Pusat pertenunan Toraja
Penenunan Toraja

Untungnya teman ojek dadakan kami bersedia mengantarkan kami ke Pallawa. Sesampai di Desa Galugu kami melihat dua rumah dengan tenunnya. Lucunya kami ke rumah kedua dimana awalnya tidak ada kegiatan menenun karena kami datang tiba-tiba si kakak menenun. Kami tanya-tanya harga hingga akhirnya kami pindah ke rumah pertama tempat pesanan Kak Cumi berupa kain tenun Toraja.

Tenun di Toraja
Tenun di Toraja

Keunikan dari Desa Galugu Dua Toraja terletak pada Tongkonanya yang beberapa masih asli dengan tumbuhan yang tumbuh diatas atap lengkap dengan jumlah tanduk kerbaunya yang membuatnya “eksotis” lengkap dengan orang Toraja yang menenun! Ah super dah!

Tapi sayangnya si ibu kedua meminta tiket karena kami tidak membeli di tempatnya. Yah pake jurus sakti “mahasiswa” akhirnya kami membayar Rp10.000/3 orang,dengan muka si ibu yang agak kesal!

Kami tidak begitu lama di Desa Galugu setelah belanja kami langsung ke Pallawa untuk melihat Tongkonan yang kak Indri lihat di postcard yang aku beli di Lemo. Lagi kami naik gojek ke Pallawa.

Tenun di Toraja
Tenun di Toraja

Di Pallawa kami sayonara dengan kak Ojek kami yang baik hati dengan biaya ojek buat bertiga Rp90.000/3 orang.  Terus tiket masuk lagi Pallawa Rp9000/3 orang karena aku bilang aja Mahasiswa, ah gara-gara Bule yang aku temui di Bori sih ngajarin sesat heheh 😀

Di Pallawa ternyata Tongkonannya sedang renovasi sehingga kami hanya duduk saja .Eh kak Indri minta tolong dong masuk ke rumah si pemilik Tongkonan karena di Pallawa Tongkonannya masih dihuni oleh warga. Ternyata si Bapak mengizinkan masuk ke rumahnya sambil menujukkan rumahnya. Di dalam Tongkonan itu dibagi ruang dengan sekat antara dapur, kamar orang tua dan anak. Cuma walau ada Tongkonan dibelakang rumah si Bapak masih ada rumah beton untuk dihuni. Kak Indri yang paling antusias di Tongkonan, aku terus turun kebawah sambil duduk dan menikmati Tongkonan karena jam 9 malam sudah harus balik ke Makassar dan hari terakhir menikmati Toraja!

Salam

Winny

Bori Menhir di Tana Toraja


Situs purbakal kalimbungan bori'

Hello World!

Toraja, 27 Desember 2015

Dari Batutumonga setelah setengah merayu pak supir angkot membawa kami dari Loko Mata hingga ke Bori dengan harga sewa mobil Rp80.000/3 orang maka sampailah kami di depan Bori. Menhir tinggi sudah di depan mata lengkap dengan Tongkonan dibelakangnya. Dua orang Bule baru saja keluar dari Bori dengan sigap sang penjaga wisata Toraja Bori bersiap meminta uang karcis seharga Rp10.000 . Siapa sangka sang bule fasih berbahasa Indonesia dan dia mengaku mahasiswa dan menawar harga tiket masuk sebagai mahasiswa alhasil yang harga masuk Rp10.000/orang menjadi Rp10.000/2 orang. Kedua pasangan bule tersebut tenyata menyewa miotor sementara aku, Kak Indri dan Lukman dengan PD nya menggunakan angkutan umum ala Toraja untuk menjelajah objek wisata di hari kedua mulai dari Batutumoga di lereng Gunung Sesean, Gunung tertinggi di Toraja katanya hingga ke Loko Mata yang mirip RUmah Hobit kemudian turun ke bawan dengan arah persimpangan ke Bori hingga Desa Galugu kemudian berakhir di Pallawa. Hingga akhirnya kami diturunkan di Bori, yang terkenal dengan bebatuan Menhir yang menarik.

Bori
Bori

Dapat ide dari kedua bule akhirnya saat membayar karcis aku mengatakan saja kalau Mahasiswa, toh pada kenyataanya aku kan seorang Mahasiswa jadi harga Rp0.000 menjadi Rp5000 lumayan karena tempat wisatanya tidak hanya satu, melainkan ada 6 tempat wisata nah kalau pengalinya kan lumayan juga! Kak Indri sempat geleng-geleng ketika aku menawar apalagi meminta kembalian Rp5000 karena uang yang diberikan Rp20.000. hahahha 😀 Entah apa yang dipikirkan si kakak yang pasti harga tiket masuk kami menjadi setengah harga.

Bule menawar karcis di Bori
Bule menawar karcis di Bori

Setelah mendapatkan tiket, ternyata Bori yang biasa kami lihat di Internet itu penuh dengan latar batu Menhir tinggi dengan rumput hijau terus Tongkonan yang indah dibelakangnya. Siapa sagka yang kami lihat malah Bori dengan Menhir terus dengan latar belakang Tongkonan yang sedang diperbaiki!

Itulah seni perjalanan tidak akan sama dengan orang lain bukan?

Walau agak sedikit kecewa dengan pemadangan renovasi Tongkonan di depan mata, kami cukup puas melihat kumpulan Menhir yang memukau. Awalnya aku mengira di Bori hanya berisi Menhir dan Tongkonan saja eh rupanya pas naik keatas berisi makam sauda-saudara. Makamnya berada di dalam batu dibuat kotak yang mirip di Loko Mata hanya saja disini tidak ada Tau-Tau dan satu batu berisi satu makam lengkap dengan photo almarhum beserta baju-bajunya yang terletak didepan makam yang membuatku agak merinding terutama saat lihat photonya yah! Maklum aku memang penakut, kelihatannya saja sok berani hahaha 😀

kepala kerbau di bori
kepala kerbau di bori

Nah aku mengajak kak Indri dan Lukman untuk naik keatas toh udah terlanjur ke Bori sekaligus lihat saja apalagi kata kak penjaga piket ada Babies Graves diatas pohon. Kami penasaran dong dengan makam bayi yang ditaruh di dalam pohon. Tibalah kami ditas setelah melewati anak tangga dan siapa sangka bayi yang terletak di pohon itu berada di pohon yang kami lihat karena petunjuknya tidak jelas. Bahkan kami sempat salah jalan dan bertanya kepada orang eh orangnya tidak tahu hingga kami tanya kepada orang lain ternyata makam itu berada di pohon depan mata kami tak jaug dari petunjuk jalan.

Sumpah dah aku takut, kalau kak Indri dan Lukman mah biasa saja mereka!

Aku bahkan tak berani dekat-dekat dengan pohon walau aku sempat mengambil photonya juga sih! Terus kami balik dan mencari kepala kerbau yang rupanya kepala kerbau yang diukir di makam.!

Overall selain rasa penakutku, Bori itu indah loh lengkap dengan Menhir indah ala Tana Toraja!

Terakhir kami bingung pulangnya gimana, angkotnya susah euy!

Salam

Winny

Loko mata, The Hobbit House Indonesia


Winning isn’t everything, but wanting to win is.

By Vince Lombardi

lembang tonga riu
lembang tonga riu

Hello World!

Tana Toraja, 27 Desember 2015

Jam 12 siang kami meninggalkan Tongkonan Batutumonga berjalan kaki sembil menunggu angkutan umum. Tak jauh berjalan ada sebuah angkot yang ke arah Rantepao lalu dengan gesit aku menanyakan harga ke Bori tapi kalau bisa ke Loko Mata dulu karena sayang sekali sudah ke Batutumonga tidak ke Lokomata, walau awalnya tidak “ngeh” kalau Loko Mata itu juga merupakan makam Toraja. Lama berpikir akhirnya bapak pemilik angkutam umum yang berupa mobil Pribadi mau juga menumpangi kami sampai ke Loko Mata. Yess, jurus maut tawar menawar berhasil dengan alasan “pak sebentar saja hanya ambil photo saja”, walau akhirnya sampai di Loko Mata yang berjarak kurang lebih 5 km dari Tongkonan Batutumonga itu lebih dari lima menit.

loko mata
loko mata

Awalnya kami kira makam di Lokomata mirip seperti makam di Londa atau Lemo rupanya beda walau agak sama dengan Lemo, bedanya ialah kalau di Lemo makam tua ditebing maka di Loko Mata berada di Batu Besar! Kak Indri langsung berceloteh “Mirip Rumah Hobbit ya”. Oalah aku yang belum pernah langsung ke The House of Hobbit di New Zealand tapi pernah lihat di TV, mengiyakan”. Iya sih mirip juga bathinku, mirip tapi tak sama ya!

Aku pun kagum bagaimana orang Toraja seulet itu memahat makam di batu dengan alat manual. Kata si Bapak Angkot jadi sebelum meninggal biasanya seseorang sudah memilih tempat istirahatnya kelak dan paling murah biaya pahatan di batu bisa sampai 35 juta loh! Terus pemilihan tempat tergantung keluarga atau Pribadi sendiri katanya. Amazing dah gimana teliti memahat batu sampai seukuran manusia begitu.

objek wisata makam batutumonga
objek wisata makam batutumonga

Terus aku perhatikan kembali Lokomata Toraja yang terdiri dari batu besar sekali terletak dipinggir jalan terus ada lubang bentuknya kotak terus diisi jenazah. Kalau The Hobbit House berisi manusia maka Lokomata Toraja berisi jenazah! Ajib gak itu? Itulah Indonesia penuh dengan keuniakan budaya dan warisan yang mengagumkan!

Selain lubang mayat dipahat dibatu besar dengan tanggal meninggalnya maka biasa ada tau-tau yang merupakan manifest dari jenazah di batu itu. Yang unik ada lubang kosong di batu itu yang katanya nanti akan diisi jenazah.

hobit indonesia
hobit indonesia

Jadi penasaran melihat The Hobbit House New Zealand, syukur udah lihat The Hobbit House versi Indonesia di Lokomata Toraja.

Mirip gak sih teman-teman?

Salam

Winny

Tongkonan Unik di Batutumonga


Life isn’t about getting and having, it’s about giving and being

By Kevin Kruse

tongkonan batutumonga
Tongkonan batutumonga

Hello World

Tana Toraja, 27 Desember 2015

Teriknya siang langsung pudar ketika kami melihat Tongkonan Batutumonga yang super cakep dibawah kaki Gunung Sesean Toraja. Saat sang Pak Angkot menurunkan kami di depan Tongkonan Batutomonga kami benar-benar “blank” dimana itu Batutumongnya! Yang kami lihat adalah hamparan Kota dari atas terus disampingnya Tongkonan yang merupakan rumah tradisional di Toraja. Setelah melewati jalanan yang mendaki dengan jalanan super kecil yang membuatku kagum betapa jagonya orang Toraja membawa mobil ke Gunung dengan jalan yang seperti itu maka kami sampai di atas dengan tidak tahu dimana letak Batutumonganya! Yang kami tahu ialah orang suka naik ke Gunung Sesean meruapakan titik tertinggi Toraja, dan butuh waktu kurang lebih 45 menit katanya.

Kak Indri dan Lukman di Batutumonga
Kak Indri dan Lukman di Batutumonga

Memandang Gunung Sesean membuat kami saling menatap! Oh tidak kayaknya tidak sanggup deh naik keatas Gunung Sesean dengan waktu yang menunjukkan jam 10. Alhasil aku, Kak Indri dan Lukman malah memilih menghabiskan waktu di Tongkonan Batutumonga. Kak Indri paling senang mengahbiskan waktu di wisata Batutumonga berupa Tongkonan yang menurutku unik sampai si kakak masuk ke dalam Tongkonan yang kosong. Aku lebih memilih untuk melihat sekitar karena seekor kerbau menarik perhatianku di depan Tongkonan Melihat pemandangan Tongkonan di depannya sapi membuatku rindu kampungku dimana persawahan, hijau berhamparan!

Liburan ke Toraja benar-benar liburan!

tongkonan batutomonga toraja
Bbatutomonga Toraja

Paling tidak, kami puas melihat Tongkonan yang merupakan rumah adat masyrakat Toraja baik yang bayar maupun yang gratis. Uniknya Tongkonan itu ialah bentuknya yang khas mirip perahu katanya terus beratap bambu atau ada juga seng kalau Tongkonannya modern terus ada susuan tanduk kerbau di tiangnya. Jumlah tanduk kerbau berbaris berdasarkan bentuknya dari bawah ke atas yang menunjukkan tingginya dearjat keluarga tersebut saat upacara penguburan anggota keluarganya karena upacara adata Toraja seperti pemakanan maka kerbau dan babi harus dikrobankan lalu dibagikan kepada masyarakat.

Menarik bukan?

tongkonan batutomonga toraja
Tongkonan batutomonga toraja

Sepintas aku merasa kalau adat Toraja mirip dengan adat Batak khusunya dalam upacara kematian,tentu saja menarik yah jadi penelitian!

Di wisata Tongkonana Batutumonga kami menghabiskan waktu kurang lebih 2 jam an loh, walau hari kedua dan sering lihat Tongkonan mulai dari Ke’te Ke’su hingga ke Lemo tapi saat melihat Tongkonan di Batutumonga eh kemaroknya belu ilang-ilang juga ya!

tongkonan batutomonga toraja

Puas di Tongkonan Batutumonga saatnya jalan ke Loko Mata!

Salam

Winny

Mengenal lebih Jauh Toraja di Batutumonga


When you do the common things in life in an uncommon way, you will command the attention of the world

By George Washington Carver

objek wisata batutumonga
Objek wisata batutumonga

Hello World

Tana Toraja, 27 Desember 2015

Hari kedua di Tana Toraja, setelah semalam ngopi ke warung temannya kak Olive dan bertemu dengan Dana, bule asal Prancis yang jago Bahasa Daerah Toraja dan Bahasa Indonesia bahkan meneliti tentang kebudayaan Toraja. Kak Olive sangat senang bertemu dengan Dana, kalau aku sih senang dapat minum kopi gratis hahahhaha 😀

Berkat kak Indri juga sih karena temannya kak Olive pemilik waryng ingin mengetahui design untuk warung kopi barunya sehingga aku dan Lukman kecipratan minum kopi gratis ditambah pisang goreng. Tapi bukan itu sih selama perjalanan di Toraja aku merasakan betapa orang Toraja sangat menyayangi tamunya dan menjamu banget. Sampai aku geleng-geleng kagum!

Sama dengan pagi ketika capek dari trip wisata Londa, Lemo dan Ke’te Kesu seharian eeh rupanya kak Olive sudah menyiapkan kita Sop Sodara. Mana Mama Kak Olive gaul lagi sampai Mama kak Olive khawatir tentang perjalanan kami takut kami nyasar! Bentuk kasih sayang orang tua ya.

Nah jam 8 kami sudah siap berangkat dan perjalananku, Kak Indri dan Lukman dimulai. Hari kedua trip Toraja kak Olive harus ke sekolah lagi. Tapi kak Olive sudah memberikan saran tujuan wisata Toraja yang bisa kami kunjungi yang searah misalnya ke Batutumonga terus ke Lokomata, kemudian  Bori, Tobarana, hingga ke Pallawa.

angkutan umum di toraja
angkutan umum di toraja

Tujuan pertama kami ke Batutumonga, tempat melihat Rantepao dari atas sehingga terlihat jelas Tongkonan, pedesaan, hingga Menhir! Batu Menhir yang paling membuatku penasaran karena makam udah, Tongkonan udah maka menhir di Toraja tentulah unik bukan?

Seharusnya kami harus pagi banget ke Batutumonga karena terkenal dengan negeri diatas awannya serta sunrise Indah, sayangnya karena capek akhirnya baru jam 8.30 sampai di Terminal Bolu tempat menuju ke Battutomonga dengan angkutan umum yang berupa mobil Pribadi.

batutumonga toraja sulawesi
batutumonga toraja sulawesi

Di terminal Bolu kami harus keluar karena angkutannya berada di luar terminal lebih ke atas jembatan dan ngetamnya minta ampun dah.Terus pas nunggu mobil berangkat aku melihat pertunjukan kera alias topeng monyet di dekat Terminal Lobi, padahal udah dilarang Pemerintah untuk tidak melakukan aksi topeng monyet eeh masih lihat saja, Kasihan ama keranya!

Baru jam 9 lah kami mulai menuju ke Batutumonga yang berada di atas gunung. Kalau menurutku ke Batutumonga itu sangat must visit di Toraja karena pemandangan sepanjang perjalanan itu sangat Indah sekali. Puas melihat tongkonan, melihat persawahan, kerbau, sampai batuan menhir yang menawan bahkan sesekali melihat kuburan di dalam batu. Amazing banget dah pokoknya sepanjang perjalanan ke Batutumonga.

batutumonga toraja
batutumonga toraja

Desa yang paling memukau salah satunya Desa Baik kata pak supir karena berisi desa dengan tongkonan alias rumah tradisonal Toraja yang disusun di atas bukti sejajar dengan pemandangan pegunungan dan persawahan. Aku betul-betul takjub akan keindahan Toraja apalagi di Desa Baik. Heran tidak begitu banyak traveler yang menulis tentang Desa Baik padahal menurutku Desa yang menakjubkan dan potensi sekali menjadi objek wisata Toraja.

Jalan ke batutumonga
Jalan ke batutumonga

Sampai kak Indri paling antusias melihat Tongkonan di atas bukit, seolah menghipnotis kami. Untungnya si bapak angkot pengertian sehingga sesekali dia melambatkan perjalanan bahkan ada moment dia berhenti di puncak pass Batutumonga. Yah ke Batutumonga seperti menuju ke Bogor, tapi Bogor versinya Toraja dan pemandangannya susah dideskripsikan dengan kata-kata, pokoknya Indah sekali lah!

Gak nyesel dah ke Batutumonga!

batutumonga tana toraja
batutumonga tana toraja

Nah pas sampai di Batutumonga kami sampai heran dimana Batutumongannya karena sudah sampai saja tapi kami akhirnya turun di simpang Tongkonan Batutumonga.

Terus yang membuatku takjub lagi dengan kelihaian supir angkutan menaiki mobil ke atas pegunungan dengan jalan setapak kecil yang kalau salah bisa ke jurang!

Salut banget dah!

pemandangan batutumonga
pemandangan batutumonga

Itenary Trip Toraja 27 Desember 2015

07:00 – 08:00 makan sop sodara dan mandi di rumah kak Olive

08:15 – 08.30 Lapangan Bhakti ke Terminal Bolu

08.30 -09.00 menunggu mobil berangkat ke Batutumonga terus lihat ada monyet sirkus, kasihan monyetnya

09:00 – 10:00 Batutumonga, melihat tongkonan lagi dan pemandangan menakjubkan sepanjang perjalanan, melihat Desa Baik yang keren

10:00 – 12:00 menikmati Tongkonan Batutumonga

12:00 – 12:30 Jalan ke Loko mata, kuburan yang mirip rumah Hobit dengan sewa mobil hasil rayuan

12:30 – 13:30 Wisata Toraja Bori dan batu megalitikum

13:30 – 16:00 naik ojek ke Tobarana lalu ke Desa Galuguh, sempat nunggu hujan di Tobarana disamping rumah yang ada taik kebonya terus si empunya memberikan tikar di bawah tongkonan untuk duduk menunggu hujan reda

16:00 – 17:00 Desa Galuguh melihat tenun dan ke Pallawa, di Pallawa bisa masuk ke rumah Tongkonan

17:00 – 18:00 Pallawa ke Rantepao

18:00 – 19:00 makam malam, dikasih oleh-oleh kopi Toraja ama kak Olive

20:00 – 20:30 Lapangan Bakti ke bus Kharisma

21:00 – 06:00 perjalanan bus Toraja ke Makassar

kuburan di batutumonga
kuburan di batutumonga

Rincian biaya pengeluaran Hari kedua Tana Toraja

Tiket angkot dari Lapangan Bakti ke Terminal Bolu Rp10.000/ 3 orang

Sewa angkot dari Batutumonga ke Loko mata dan Bori Rp80.000/ 3 orang

Tiket masuk ke Bori Rp15.000/ 3 orang hasil tawar jadi mahasiswa karena melihat bule dengan tiket murah

Sewa motor dari Bori ke Tobarana hingga ke Pallawa Rp90.000/ 3 orang

Tiket masuk Desa Galuguh Rp9000/ 3 orang, harga tiket mahasiswa

Tiket masuk ke Palalwa Rp10.000/ 3 orang, harga tiket mahasiswa

Angkot ke Rantepao dari Pallawa Rp45.000/ 3 orang

Tujuan wisata Tana Toraja hari kedua : Batutumonga, Loko Mata, Bori, Tobarana, Pallawa

Salam

Winny