Perjalanan dari Pulau Malenge ke Pulau Papan, Sulawesi Tengah


Missing someone is not about how long it has been since you have seen them or the amount of time since you have talked…it is about that very moment when you are doing something and wishing they were there with you.
By Anonymous

Jembatan yang menghubungkan Pulau Malengen dan Papan

Hello World!

Togean, 2017

Kita nanti akan melewati jembatan yang panjang bisa 1 km, 
begitulah penjelasan Pak Saiful kepada kami.

Setelah makan siang di Pulau Malenge kemudian perahu kami bersandar sebentar untuk menurunkan kami lalu melanjutkan perjalanannya menunggu kami di Pulau seberang. Kami berjalan kaki dari Desa Kadoda ke Pulau Papan, dengan sambutan warga yang merupakan suku Bajo. Suku Bajo adalah salah satu suku yang ada di Indonesia yang terkenal dengan pindah-pindah dan kemahirannya dalam melaut. Namun suku Bajo tidak senomaden seperti dahulu kala karena sudan banyak yang menetap di Kepulauan Togean, Kabupaten Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah.

Selama jalan kaki ini banyak sekali yang bisa kami lihat di Desa Kadoda dan Pulau Papan, mulai dari bagaimana bocah-bocah bermain hingga ibu-ibu yang menjemur kerupuk di tepi laut. Penduduknya kelihatan sederhana namun terlihat jelas rona kebahagian di wajah mereka dan tidak pelit “senyum” ketika melihat kami.

Kepulauan Togean
Togean

Rumahnya pun tak kalah unik, kalau di Desa Kadoda rumahnya mini dengan halaman pasir pantai serta banyak tumbuhan namun pas di Pulau Papan rumahnya berada diatas laut. Karena sudah tahu betapa susahnya membangun rumah ditas laut yang terbuat dari kayu  membuatku semakin bangga bisa menginjakkan kaki di Kepualaun Togean.

Yang lucu ketika kami mencari-cari jembatan panjang. Bayangkan saja, sepanjang perjalanan kami sempat penasaran dimana jembatan panjang yang si Bapak katakan karena perjalanan Desa Kadoda benar-benar membuat kami puas melihat pasir putih dengan warna lautnya yang biru.

Dimana ini jembatan panjang?, begitu bertanyaanku sepanjang jalan
Kepulauan Togean

Akhirnya kamipun berjalan hingga menemukan jembatan panjang itu. Jembaatan panjang itu ada di ujung Desa Kadoda. Sejauh mata memandangan dengan penghubung “jembatan”!

Jembatannya pun cukup bagus dan membuatku kagum dengan Insinyur yang mampu membuat jembatan diatas laut.

Pengalaman pertama melewati jembatan panjang dengan sejauh mata memandangan adalah laut dan karang indah serta ikan warna-warni!

Dan jembatannya benar-benar panjang 😀

Yah paling tidak, jembatan ini menjadi penghubung dua Desa dan mempermudah transportasi masyarakat sekitar baik dari Pulau Papan ke Desa Kadoda. Melewati jembatan ini lah letak keseruan kami ketika berada di Taman Nasional Kepualaun Togean dengan pemandangan yang tak biasa. Bahkan terumbu karang terlihat jelas saking jernihnya air yang ada. Di jembatan ini pulalah si Bobby menyalakan mainnya, berupa drone sambil kami bergaya tidur-tiduran di kayu jembatan seolah tanpa beban.

Kapan lagi tiduran di atas kayu dengan melambai-lambai kepada drone seperti bocah?

Cuma bisa di Togean tentunya 😉

Togean

Kemenarikan lainnya di Pulau Papan adalah puncak yang berupa karang dinamakan Puncak Batu Karang. Letak Puncak Batu Karang ini persis ditengah Desa sehingga terlihat jelas pemandangan Desa Papan serta jembatan panjang yang kami lalui. Untuk naik ke Batu Karang pun harus melalui jalanan yang menanjak namun cukup mudah dan sampai di Puncak itu usaha naik keatas sesuai dengan yang didapatkan pas di Puncak.

Keindahan sebuah Pulau dari atas! Walau aslinya aku takut ketinggian loh! Tapi demi Pulau Papan, aku rela menahan ketakutan akan ketinggian.

Di Puncak Batu Karang itu jugalah satu-satunya tempat untuk mencari signal telepon. Karena memang jika ingin mengunjungi Kawasan Nasional Togean, maka siap-siap berpisah dengan gadget dan komunikasi via telepone karena jaringan yang masih minim. Itupun dapat signal di Pulau Papan sudah menjadi Anugrah yang tebesar. Namun entah mengapa aku merasa disitu letak menariknya Pulau Togean, sejenak melupakan dunia yang tak ada habisnya.

Good bye internet!

Ternyata yah aku bisa hidup loh tanpa internet, tanpa main handphone dan tanpa komunikasi selama di Togean dan rasanya cukup menyenangkan 🙂

Benar-benar menikmati liburan.

Pulau Papan

Di Puncak Batu Karang juga lah yang membuatku senyum-senyum tak karuan ketika melihat penduduk lokal mencari sinyal sampai ke bukit demi menghubungi kekasih hatinya.

Untungnya saat manjat-manjat ke Bukit, aku ditemani Vely dan Wira sehinga tidak merasa sendiri. Puncak Batu Karang di Pulau Papan inilah menjadi tempat kesukaanku, suka dengan pemandangannya yang kece sekalii!

Pulau Papan

Tak hanya itu, di Pulau Papan aku juga belajar bagaimana untuk hidup bersyukur. Bersyukur atas segala nikmati Tuhan kepadaku dan bersyukur betapa alam Indonesia sangat indah.

Masyarakat lokal Pulau Papan dan Desa Kadoda sangat ramah kepada wisatawan, kami yang numpang lewat saja diberikan senyum tulus mereka. Padahal cuma jalan doang tapi serasa dekat dengan warga sekitar. Sampai-sampai ada momen dimana aku berkumpul dengan ibu-ibu yang kebetulan sedang berkumpul dan duduk santai di atas rumput kemudian kami berphoto bersama. Memang salah satu yang aku suka dari jalan-jalan itu adalah berbaur dengan warga lokal.

Tidak sampai disitu, ketika kami lewat ada sebuah keluarga yang melihat kami dari pintu rumahnya.

Ah disini aku ingin memberikan buku-buku kepada mereka atau majalah yang bermanfaat. Mainan anak-anak ini bukan gadget seperti anak kecil di Kota tapi mainan mereka adalah alam.

Mungkin di lain kesempatan aku harus kembali lagi ke Pulau Togean dengan membawa buku-buku yang bermanfaat bagi anak-anak Desa Kadoda 🙂

Desa Kadoda

Selain keliling Desa Kadoda dan Pulau Papan dan olah raga dengan jalan kaki melewati jembatan panjang 1 km, banyak hal menarik yang bisa dilakukan di Pulau Papan diantaranya snorkeling, hingga bermain pasir.

Kami sendiri yang awalnya hendak snorkeling di Pulau Papan, harus mengurungkan niat karena kami lebih memilih berbicara dengan warga lokal. Bercerita dan sekedar menikmati bagaimana keseharian warga Pulau Papan, Kepulauan Togean. Menurutku cara seperti ini lebih mengasikkan ketika jalan-jalan sehingga benar-benar liburan.

Togean
Pemandangan dari jembatan Pulau Papan
Desa Kadoda

Jadi jika ingin jalan-jalan antimaintream dan ingin hilang sejenak dari kejemuan akan moninitas alias rutinitas maka tak ada salahnya mengunjungi Togean dan coba deh uji ketahanan fisikmu dengan jalan kaki melewati jembatan 1 km yang menghubungkan Pulau Papan dan Desa Kadoda!

Hayoo siapa yang butuh vitamin sea? hhihihihih

Salam

Winny

Iklan

Keramahtamaan Penduduk Desa Kabalutan, Kepulaun Togean


Destiny has two ways of crushing us – by refusing our wishes and by fulfilling them.

By Henri Frederic Amiel

Togean (Photo: Wira Nurmansyah)

Hello World

Togean, 2017

Pernahkah dirimu memiliki pengalaman saat mengunjungi suatu tempat di arak-arak sekampung oleh bocah-bocah saking senangnya melihat kedatanganmu?

Kalau aku pengalaman diarak-arak sekampung baru pertama kali kualami ketika mengunjungi Kepulauan Togean tepatnya saat aku dan teman Blogger seperti Wira, Bobby, Vely, Ridho dan Dan si Hello Mister mengunjungi Kabalutan, sebuah Desa di Kecamatan Walea Kepulauan, Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah.

Saat kunjungan kami ke Desa Kabalutan, kami keluar dari perahu anak-anak suku Bajo dengan ramah tamah menyapa kami bahkan kami diikutin. Tidak hanya itu, anak-anak yang kebetulan berenang di Laut mengejar kapal kami ketika mendekat ke arah dermaga dari kayu. Tidak sampai disitu, baru juga kami bersandar, nyanyian merdu dari kapal pun kami dengar. Dari jauh dia bernyanyi “sampai mati”, begitu katanya!

Mendegar nyanyian polos itu kami semua tersenyum. Kamipun memulai perjalanan untuk mengelilingi Desa Kabalutan dimana rumah mereka berada di atas laut. Rumahnya dari kayu mangapung sepanjang lautan serta jembatan kecil untuk mengelilingi.

Togean (Sumber: Ridho)

Memang ada Suku Bajo di Kabalutan?

Jawabannya ada suku Bajo “orang laut”, yaitu suku yang memiliki kebudayaan yang terikat kuat dengan sumber daya laut di Kepulauan Togean.

Penduduk Kabalutan menggunakan perahu untuk mengunjungi satu tempat ke tempat lain. Penduduknya lumayan banyak bahkan saat kami berjalan kami menjadi daya tarik para bocah-bocah yang kebetulan baru pulang sekolah. Anak-anak Desa Kabalutan dengan antusiasme mengikutin kami.

Yang lucu saat anak-anak yang gembira ketika aku membelikan mereka es untuk 50 orang Rp50.000. Sontak mereka berkata “horeeee”. Melihat ekpresi mereka sungguh membuat hatiku senang.

Yah salah satu yang aku suka ketika mengunjungi suatu tempat adalah bisa berbaur dengan warga lokalnya bahkan kalau bisa berbagi.

Sayangnya aku tidak tahu kalau di Kabalutan banyak anak suku Bajo kalau tidak aku akan membawa buku-buku buat mereka. Kan lumayan memberikan buku bermanfaat bagi mereka, semoga ada kesempatan kembali ke Kabalutan dan membawa oleh-oleh buku bagi anak-anak di Desa Kabalutan.

Anak-anak yang mengikuti kami terasa sekali betapa mereka penasaran kepada kami. Intinya keramahtamahan Penduduk Desa Kabalutan terasa sekali.

Suku Bajo di Desa Kabalutan membuat rumah (Photo Wira Nurmansyah)

Di Desa Kabalutan minimal dua bocah menggandeng tangan kanan kiri kami. Padahal ini bocah-bocah baru masih berpakaian sekolah. Dari satu rumah ke rumah lain maka ada saja anak yang nempel kepada kami. Menariknya saat kami melewati sebuah rumah, terdapat satu anak remaja yang berbahasa Inggris kepada kami karena dikira turis asing dari teras rumahnya. Alhasil si bocah yang mengajak berbahasa Inggrispun ikutan mengikuti kami. Vely saja dianggap sebagai artis Korea, hihi :D, tak hanya itu si Wira juga digandeng anak bernama Sandra dan tak mau lepas.

Ah hati jadi “melting” ketika berada di Desa Kabalutan, Kepulauan Togean.

Nah untuk yang beragama Islam tidak perlu khawatir karena di Desa Kabalutan terdapat musholla sehingga bisa menjalankan ibadah. Hanya saja tidak ada mukenah dan sajadah serta sarung di Musholla. Untungnya aku dan Wira dibantu oleh masyarakat  Kabalutan dengan meminjamkan mukenah kepadaku dan sarung untuk Wira. Tentu aku dan Wira senang karena kami dipinjamin peralatan sholat. Walau penduduk Kabalutan sempat bingung ketika aku mengucapkan “mukenah” karena di Kabalutan tidak disebut mukenah.

Musholla di Desa Kabalutan (Sumber: Wira Nurmansyah)

Keramahtamaan Suku Bajo di Desa Kabalutan tidak hanya pada daya tarik bocah-bocah yang mengikuti kami sepanjang jalan, bak kami artis, namun juga kepada antusias masyarakatnya ketika kami tanya. Disini kami belajar banyak hal, salah satunya bagaimana membuat rumah diatas laut. Di Desa Kabalutan inilah kami melihat bagaimana cara membuat rumah penduduk Desa Bajo yang berada di atas laut. Ternyata pembuatan rumah penduduk Desa Kabalutan, Kepualauan Togean dilakukan dengan gotong royong dengan menggunakan tali. Kayu diikat ke sebuah kayu lalu ditarik dari berbagai arah minimal dengan 5 orang.

Disini aku merasa bersyukur karena budaya “gotong royong” di Indonesia masih tertanam.

Aku bahkan tidak menyangka kalau pembuatan rumah Desa Bajo itu sangat susah namun dengan kebersamaan bisa dilakukan. Tak sia-sia kami jauh-jauh datang ke Pulau Togean, meski melalui darat, udara, laut dari Jakarta-Palu-Ampana-Togean 2 hari perjalanan terbayar dengan apa yang kami dapatkan di Togean.

Kabalutan

Tak hanya mengelilingi Desa Kabalutan, kami juga sempat naik ke sebuah Bukit Karang. Untuk sampai ke Bukit karang kami harus menginjak karang yang agak tajam. Saat naik ke bukit, aku heran karena bocah-bocah naik dengan lincah tanpa alas sementara aku kesusahan karena sandal tidak memadai. Sementara bocah-bocah suku Bajo dengan lihai bahkan ada juga yang membawa tentengan berisi es untuk dijual.

Disini aku merasa kalah sama bocah hehe 😀

Hal lain yang kami lakukan di Desa Kabalutan dengan mengunjungi pasar. Namun apa daya kami datang telat sehingga pasarnya tutup. Nah saat di pasar ini salah seorang bocah yang tadi berbahasa Inggris denganku diam-diam membelikanku minyak wangi dan aku dikasih sebagai kenang-kenangan.

So sweet banget kan?

Desa Kabalutan

Pengalaman menarik lainnya yang aku dapatkan di Desa Kabalutan ketika memborong makanan untuk anak-anak di Desa Kabalutan. Jadi, ada juga pengalaman ketika melewati warung yang berjualan buah manisan. Harganya Rp1000 satu terus aku borang Rp20.000 untukku dan anak-anak yang mengikuti. Yah itung-itung berbagi rezeki kepada mereka. Nah pas bayar rupanya aku salah ngasih uang kepada si pemilik warung. Maklum uang Rupiah keluaran baru belum aku hapal, jadi uang yang Rp20,000 aku kasih malah Rp2000 hingga seorang bapak berlari kepada sambil berkata “Nona uangnya Rp2000 harusnya Rp20.000”.

Sontak ini malu banget, lalu dengan segera aku mengambil uang kepada si Bapak dan untungnya si Bapak maklum. Tidak hanya itu aku sepanjang perjalan mengelilingi Desa Kabalutan asik sekali memborong makanan, emang sih in hobiku doyan makan kalau mengunjungi suatu tempat. Yang terakhir malah mencoba telur tusuk hasil traktiran kak Wira. 😀

Desa Kabalutan

Tonton Video perjalanan Togean kami yang menarik

1. Video Togean dari Dan si Hello Mister

2. Video Togean dari Ridho

3. Video Togean dari Wira part 1

4. Video Togean dari Wira part 2

Baca juga tulisan tentang Togean

1. Jatuh Cinta dengan Togean

2. Daur ulang sampah plastik menjadi produk berguna di Togean

3. Semua demi ubur-ubur di Togean

Liburan di Togean menjadi liburan terasik yang pernah aku alami apalagi bertemu dengan bocah polos di Desa Kabalutan, mengetahui tentang masyarakat Suku Bajo, bagaimana pasarnya hingga menjadi artis dadakan!

Hayooo siapa yang mau ke Togean?

Salam

Winny

Semua demi Ubur-ubur di Danau Mariona Kepulauan Togean


“The only person you are destined to become is the person you decide to be.”

By Ralph Waldo Emerson

Danau Mariona (Sumber Photo: Wira Nurmansyah)

Hello World!

Togean, 2017

Wira, pokoknya dirimu aku booking buat mengambil photoku dengan Ubur-Ubur,
begitu kataku kepada Wira dengan tegas.

Bobby, dirimu juga ya ambil photo cantikku dengan Ubur-ubur pakai cameramu,
kataku kepada Bobby

Itulah betapa saking semangat ’45 nya aku tak sabar untuk berphoto dengan Ubur-Ubur di Togean. Karena dengan pasti aku melihat ada agenda mengunjungi Danau dengan Ubur-ubur saat traveling ke Togean.

Hah??? ada ubur-ubur di Kepulauan Togean, Sulawesi Tengah?

Jawabannya ada dan aku juga baru tahu kalau Togean tepatnya di Danau Mariona memiliki ubur-ubur yang tak menyengat. Padahal kalau ingat ubur-ubur yang tertanam di benakku adalah Danau Kakaban di Kalimantan Timur yang belum aku singgah. Eh siapa sangka aku memiliki kesempatan untuk dapat melihat langsung Ubur-Ubur di Togean.

Danau Mariona

Sebagai orang Indonesia kita harus bangga dengan keindahan wisata alam Indonesia. Bahkan setidaknya sudah ada 3 Danau untuk habitat ubur-ubur di Indonesia yaitu Danau Kakaban di Pulau Derawan, Kalimantan Timur, Danau Mariona di Kepulauan Togean, Sulawesi Tengah dan Danau Lenmakana di Misool, Raja Ampat. Itu baru yang diketahui loh, belum lagi daftar Danau Ubur-ubur di Indonesia yang belum diketahui.

Sayangnya seribu sayang baru 1 Danau yang aku kunjungi yaitu Mariona.  Semoga ada kesempatan mengunjungi sisa Danau Ubur-ubur lainnya.

Danau Mariona Togean, Danau Ubur-ubur tak menyengat

"Danau Mariona berasal dari nama seorang wanita dari Francis, Mariona Bazin", 

setidaknya itulah yang disampaikan Pak Saiful, guide kami selama berada di Togean.

Mariona ini mengatakan kalau Danau Ubur-ubur hanya ada di Kakaban kepada Pak Fajar, saudaranya Pak Saiful. Kemudian Pak Fajar pun menepisnya dengan membawa Mariona ke Danau yang penuh ubur-ubur tak menyengat. Sehingga Mariona lah menjadi turis pertama yang datang ke Danau Mariona sehingga namanya menjadi nama sebuah Danau. Padahal aku ngarep namaku dipakai di sebuh Danau juga hihi 😀

Togean

Kedatangan kami ke Danau Mariona setelah puas dari Pantai Karina yang memiliki pasir putih. Jarak Pantai Karina tidaklah jauh ke Danau Mariona. Sesampai di Danau Mariona, kapal kami pun mendekat ke dermaga kayu, pemandangan cantik telah menyambut kami berupa air jernih dengan terumbu karangnya.

Yah Kepulauan Togean memang rupawan dengan karang-karangnya.

Setelah kapal kami disandarkan, kami turun dari kapal dan berjalan menuju ke sebuah Danau yang terletak di sebelahnya melewati jembatan kayu.  Di tepi Danau dibangun tempat istirahat yang alasnya kayu beratap merah untuk wisatawan, disinilah kami bersantai dan makan siang.

Danau Mariona sendiri warnanya hijau disekilingnya pepohonan, tempat ubur-ubur berada. Warna ubur-uburnya pun bervariasi mulai dari bening (transparan) sampai warna kuning. Kalau dilihat dari atas, maka Ubur-ubur kelihatan jelas di permukaan air. Yang paling mudah dilihat adalah ubur-ubur tranparan, hal ini aku bisa lihat langsung dari atas tanpa berenang.

Kata Pak Saiful kalau musim hujan, ubur-ubur akan berada tepat di permukaan air namun karena pas kami datang cuaca panas sehingga ubur-ubur lebih suka kedalam. Memang ubur-ubur sensitive dengan panas.

Danau Ubur-ubur, Togean (Sumber Ridho)

Nah pas sesampai di Danau Mariona, tempat ubur-ubur maka akupun lagi apes. Apes tidak jadi nyemplung karena masalah wanita. Padahal dari hari pertama di Togean aku sudah sok-sokan membooking Wira dan Bobby untuk mengambil photoku.

Alhasil sirna sudah keinginan untuk berphoto dengan ubur-ubur!

Bukannya apa-apa, salah satu wish list dalam bucket list ku adalah berphoto dengan ubur-ubur. Ecek-eceknya ala-ala instagram gitu.  (ecek-ecek = pura-pura)

Tapi apa daya keinginan itu pupus!

Ubur-ubur (Sumber: Wira Nurmansyah)
Ubur-ubur di Danau Mariona (Sumber: Ridho)

Bahkan melihat Dan, Ridho, Bobbi dan Wira berenang di Danau Mariona, Togean membuatku cemburu setengah mampus. Untung Vely juga kebetulan tidak ikut berenang sehingga aku ada temannya. Berdualah kami mengamati jellyfish dari atas, alias si ubur-ubur.

Walau jujur yah melihat saja itu melelahkan 😛

Nah pas kami lagi asik-asik bersantai di Danau Mariona, Togean maka berdatangan lah sekumpulan turis dari luar negeri. Memang kebanyakan turis yang datang ke Togean adalah rata-rata turis Eropa. Para wisatawan ini dengan santai sudah siap sedia dan langsung ke Danau Mariona.

Danau Mariona (Sumber: Ridho)

Selama mengamati Danau Mariona diTogean, memang wisatawan perduli karena rata-rata tidak memakai kaki katak, palingan hanya kacamata dan alat bantu bernafas snorkeling.

Gak kebayang kalau aku yang tidak bisa berenang di Danau Mariona, Togean!

Oh ya saat berenang di Danau Mariona, Togean  usahakan jangan memakai alat snorkeling seperti kaki katak karena ubur-ubur sangat rentan.

Togean

Setelah puas berenang maka kamipun beramai-ramai makan siang sambil menatap keindahan Danau Mariona, Togean. Di sela-sela makan siang, tiba-tiba keluarlah ide dari si Wira.

Win, dirimu kan gak bisa tuh photo dengan ubur-ubur, 
kepalamu dicelupkan saja sambil berphoto dengan ubur-ubur, katanya

Eh ide gila dia yang awalanya hanya iseng-iseng aku iyakan. Sehingga terjadilah adegan mencelupkan kepalaku ke Danau sambil kakiku dipegang. Jadi ide itu disambut, terus Pak Guide kami dengan senang hati memegang kakiku kemudian aku celupkan kepalaku terus Ridho dan Bobby sudah siap sedia untuk mengambil photoku. Sementara ubur-ubur sudah berada di dekatku.

Entah beberapa kali aku mencelupkan kepalaku ke Danau, bahkan jadi bahan tontonan para wisatawan. Mungkin dalam hati mereka “gila ini cewek, demi photo”. Alhasil aku menjadi tontonan gratisan!

Awalnya aku mengira photo dengan ubur-ubur mudah ternyata susah, susah karena aku tidak bisa menahan nafas. Selain itu aku tidak boleh dekat sekali dengan ubur-ubur karena memang ubur-ubur tidak boleh dipegang.

Belum 5 menit menahan nafas, maka aku harus kembali. Yang kasihan yang megang kakiku. Disini benar-benar penuh usaha, karena resikonya aku bisa jatuh ke Danau!

Melihat usahaku demi photo dengan ubur-ubur spontan teman-temanku ketawa terpingkal-pingkal. Apalagi hasil photonya asli membuatku senyum kecut ala Monalisa.

Hasil photonya jreng jreng “Siluman ubur-ubur”

Semua demi ubur-ubur!

Aku jadi manusia ubur-ubur tak apalah!

Niat banget gak sih?

(PS tolong adegan mencelupkan demi ubur-ubur jangan ditiru)

Togean (Sumber: Wira Nurmansyah)

Walau gagal total berphoto cantik ala-ala renang bareng dengan ubur-ubur, dan menjadi manusia ubur-ubur di Togean tidak mematahkan semangatku untuk kembali ke Danau Mariona, Togean karena keindahannya. Dapat alamnya juga asik untuk melarikan diri dari penatnya hiruk pikuk Ibukota.

Satu lagi pelajaran yang aku petik dari Danau Ubur-ubur ialah untuk belajar berenang, yah siapa tahu nanti bisa berphoto lagi dengan Ubur-ubur. Supaya siluman ubur-ubur berubah jadi putri cantik jelita 😉

Alamat Danau Mariona

Kepulauan Togean

Tojo Una-Una 

Sulawesi Tengah

Salam

Winny

Belajar Mengolah Sampah Plastik di Desa Katupat, Togean


“If you want to succeed in your life, remember this phrase: That past does not equal the future. Because you failed yesterday; or all day today; or a moment ago; or for the last six months; the last sixteen years; or the last fifty years of life, doesn’t mean anything… All that matters is: What are you going to do, right now?”

By Anthony Robbins

Hello World

Togean, 2017

Mataku tertuju kepada sebuah dompet ukuran sedang dengan tulisan “Togean” di depan ruang makan Fadhila Cottage. Ruang makan itu terbuat dari kayu dengan tatanan meja sederhana nan luas, didepannya hamparan laut dan pasir putih. Aku mendekat ke dompet tersebut dan ada yang janggal dari dompet itu, bukan karena warna genjreng merahnya namun kepada bahannya, bahannya bukan dari kain. Belum sempat aku mengamati lebih lanjut, seorang Bapak menghampiriku

Ini dompet dari hasil daur ulang sampah plastik, 
begitu kata si Bapak

Lalu aku mengamati poster disudut lain dari ruang tamu, ternyata sebuah organisasi nirlaba dari Perancis bernama Everto membantu masyarakat Togean untuk mengolah limbah plastik menjadi bahan yang berguna.

Kalau berniat, nanti saya bawakan ke Katupat untuk melihat langsung pengolahannya,
kata si Bapak memberi tawaran

Tentu saja aku sangat antusias dengan saran si Bapak karena aku sangat kagum dengan orang-orang yang bisa mengolah sampah menjadi bahan yang berguna apalagi bisa sampai dijual.

Bahkan aku IRI dengan orang-orang yang berperan dalam menjaga lingkungan meski itu dari hal kecil!

Togean (Sumber: Wira Nurmansyah)

Bak gayung bersambut, ternyata kesempatan melihat pengolahan sampah dapat terwujud disaat kunjungan terakhir kami di Kepulauan Togean. Setelah puas diving di Reff 1 Kepualau Togean, tak jauh dari California kami kembali ke Pulau Katupat.

Perahu kami pun bersandar di dermaga sederhana di Pulau Katupat. Turun dari perahu, seperti biasa karang terlihat jelas dari jembatan memanjakan mata kami. Menelusuri jembatan dari kayu, kami pun berjalan ke sebuah rumah. Meski udara panas namun kami tetap semangat untuk melihat aksi warga Togean menjaga lingkungan.

Pak Saiful tourguide kami langsung memanggil ibu-ibu lokal untuk memperlihatkan kepada kami bagaimana caranya mengolah limbah plastik menjadi barang yang berguna.

Dengan cekatan ibu-ibu tersebut memasukkan tali plastik ke dalam jarum lalu dijahit dengan teliti sesuai dengan produk yang diinginkan. Lamanya pekerjaanya pun tergantung besar kecilnya produk. Kalau tas ukuran kecil pengerjaannya bisa 1 minggu, untuk gantungan kunci bisa sehari. Harga untuk produknya pun bervariasi mulai dari harga Rp25,000 hingga ratusan ribu tergantung tingkat kesulitan dan waktu pengerjaan.

Tahun lalu kami menjadi juara 3 lomba pengolahan limbah Piala Presiden,
 begitu kata Pak Saiful
Kita memiliki komunitas dan memungut sampah
lalu di daur ulang menjadi produk berguna, lanjutnya

Aku yang senang melihat hasil karya ibu-ibu penduduk asli Pulau Katupat, Togean pun ikut membeli dompet kecil dengan harga Rp25.000 dan gantungan kunci berbentuk cabai Rp25.000. Temanku Vely memborong topi pantai dengan harga Rp50.000 sementara si Dan, Hello Mister langsung membeli dompet terbuat dari plastik kopi memborong 4 buah dompet Rp200.000.

Hasil Olahan Sampah di Pulau Katupat

Aku sungguh sangat beruntung karena dapat melihat langsung demo proses pembuatan daur ulang sampah. Dibawah organisasi Everto, masyarakat Togean diberdayakan untuk menjaga lingkungan, sehingga sampah dari plastik akan di ubah menjadi produk yang berguna seperti topi, dompet, mainan kunci hingga tas.

Bahkan bahannya dari sampah plastik!!

Masyarakat Kepualaun Togean mengambil sampah plastik yang ada kemudian dibersihkan lalu diayam menjadi produk berguna. Hasil dari produknya dipajang di berbagai Cottage sekitar Togean misalnya di Fadhila Cottege karena Pulau Katupat persisi di depan Fadhila Cottege.

Selain mendapat keahlian baru dalam mengolah sampah, masyarakat Kepulauan Togean dapat menambah penghasilan dari karya tersebut. Lumayan untuk mendapat penghasilan tambahan apalagi produk tersebut dijual untuk wisatawan, walau kebanyakan pengunjung Togean adalah wisatawan mancanegara seperti Perancis.

Mengolah Sampah Plastik (Sumber Photo: Wira Nurmansyah)

Tahukah kamu berapa lama penguraian dari berbagai sampah jika dibuang sembarangan di laut?

-Tissu toilet terurai 2-4 minggu

-Koran dan majalah terurai 6 minggu

-Sisa apel, dos karton, karton jus terurai 1-5 bulan

-Tali kaoas, foto-foto, bungkusan korek api terurai 3-14 bulan

-Tripleks, punting rokok, pakaian  terurai 1-3 tahun

-Kayu yang dicat terurai 13 tahun

-Kaleng kemasan gabus terurai 50 tahun

-Pelampung gabus terurai 80 tahun

-Alumanium, baterai terurai 200 tahun

-Popok, tas kresek, botol plastic terurai 400-450 tahun

-Jarring ikan, pukat, tali pancing nion terurai 600 tahun

-Botol kaca terurai tak dapat ditentukan

Melihat fakta betapa susah dan lamanya sampah terurai terus apa kita masih berani buang sampah sembarangan?

Hasil pengolahan sampah plastik (Sumber Photo Wira Nurmansyah)

Masyarakat terpencil di Kepaualaun Togean, Sulawesi Tengah saja bisa memanfaatkan sampah plastik dan turut berpartisipasi dalam mengolah sampah menjadi produk yang berguna, masa kita yang membuang sampah pada tempatnya saja tidak bisa.

Kan malu!!

Masa kalah sama ibu-ibu. 😉

Meski kunjungan ke Togean tanpa memiliki signal Hp namun berkunjung ke Togean merupakan pengalaman berharga bagiku. Di Togean, aku mendapat pembelajaran untuk lebih sadar akan lingkungan, dan lebih menjaga kelestriannya, karena kalau bukan kita yang menjaga lingkungan, siapa lagi?

Alamat Pulau Katupat

Balaesang Tj, Donggala

Kepulauan Togean

Sulawesi Tengah

Siapa yang sudah pernah mendaur ulang sampah?

Salam

Winny

Jatuh Cinta dengan Kepulauan Togean di Sulawesi Tengah


Love does not hurt, loving the wrong person does

Unknown

Togean (Sumber: Wira)

Hello World!

Sulawesi Tengah, 2017

What are you doing in Kosovo, Winny

Are you crazy? There is no to see here

Look at Indonesia, paradise!

Itulah pendapat seorang teman di Kosovo bernama Visari ketika aku jalan-jalan di Kosovo beberapa waktu lalu. Dari pendapatnya tentang Indonesia aku penasaran apa sebenarnya yang dia lihat di Indonesia sehingga sampai setengah matinya jatuh cinta kepada Indonesia. Ternyata si kawan ini melihat video dari Pesona Indonesia tentang Raja Ampat. Meski aku belum pernah ke Raja Ampat dipastikan aku mengamini keindahan Bahari dari Raja Ampat. Apalagi aku yang pernah tinggal di Kupang selama 10 bulan membuat standar lautku itu “tinggi”. Dan tentunya keindahan laut Indonesia tiada duanya, dan tak perlu jauh-jauh ke Luar Negeri demi melihat Pantai dengan pasir putih atau terumbu karang yang terlihat jelas dari atas kapal karena saking jernihnya. Sama halnya dengan pengalamanku jalan-jalan ke Togean yang membuatku kembali jatuh cinta kepada Lautan.

Seberapa sering kamu jatuh cinta?

Kalau aku sih susah jatuh cinta tapi entah mengapa setiap kali mengunjungi tempat yang susah itu cintanya makin menjadi-jadi apalagi pas ke Togean, perjuangannya berat sama kayak cinta.

Togean

Memang ada apa dengan Togean?

Togean merupakan Taman Nasional yang termasuk ke dalam wilayah Kabupaten Tojo Una-una, terletak di Teluk Tomini, Sulawesi Tengah. Kepulauan Togean merupakan gugusan Pulau yang terbagi menjadi beberapa Pulau Besar seperti Pulau Batudaka, Togian/Togean, Una-Una dan Talatakoh, Waleakodi dan Waleabahi. Memiliki 65 Pulau besar dan kecil dengan 2 area ekosistem berupa lautan seluas 292.000  hektar dan datarannya 70.000  hektar dan luas sekitar 3.600 km persegi. Panorama Togean sangat eksotis serta memiliki daya tarik karena jauh dari hiruk pikuk kehidupan. Kepulauan Togean sangat terpencil namun justru disitu daya tariknya.

Togean

Keistimewaan Pulau Togean

Togean sangat cocok untuk melakukan aktivitas Bahari seperti snorkeling, diving, bermain pantai, main ubur-ubur yang tidak menyengat, serta masih jarang wisawatan kalaupun ada kebanyakan adalah wisatawan Mancanegara dan beberapa turis lokal. Keistimewaannya terletak pada bawah lautnya dengan terumbu karang menawan tempat ratusan spesies ikan.

Serta yang paling menakjubkan adalah tidak ada sinyal HP!!

Good bye social media dan selamat menikmati Pulau dengan keindahannya.

Tidak hanya itu untuk sampai ke Togean perlu “niat yang besar” atau kata kerennya “determination” karena memang lumayan menyita waktu namun sesampai disana dijamin puas dan terbayar. Karena memang hasil tidak akan membohongi usaha!!!

Perjalanan ke Togean dimulai dari Jakarta bersama beberapa teman Blogger seperti Wira Nurmansyah, Bobby si virus travelling, Vely, Dan si Hello Mister dan Ridho. Kami berkesempatan mengunjungi Togean dengan Pak Harris, Pak Pri, Pak Yanto dan kawan-kawan. Dengan pesawat Garuda kami terbang ke Palu, Sulawesi Tengah dengan transit di Makassar dan lama perjalanan dari Jakarta-Palu kurang lebih 3-4 jam.

Togean (Sumber: Wira)

Kami sempat bermalam di Mercure Palu dan mencoba kuliner tradisional khas Kota Palu berupa KALEDO singkatan dari Kaki Lembu Donggala. Kemudian keesokan harinya dilanjutkan naik pesawat dari Palu ke Ampana selama 1 jam. Di Ampana kapal cepat telah menunggu untuk menuju Togean. Biasanya kalau dengan kapal biasa akan membutuhkan waktu 5-6 jam perjalanan dari Ampana namun karena dengan kapal cepat maka perjalanan kami hanya 2 jam saja.

Di Ampana pemandangannya tak kalah epic, lautan luas dengan pepohonan kelapa serta bebatuan karang, dari sinilah perjalanan kami ke Togean dimulai.

Naik kapal cepat yang memuat 13-15 orang dimana sesekali kami dipermainkan riak laut, serta ayunan kapal ketika beradu dengan ombak membuat kami serasa melayang bak bermain roller coaster. Sama kayak cinta, memabukkan!!!

Tidak hanya itu pemandangan laut yang biru, Pulau-pulau yang kami lalui sepanjang perjalanan serta warna laut yang biru sebiru langit.

Ahh sudah lama aku merindukan laut!

Setelah 2 jam di laut barulah kami sampai disebuah resort bernama Fadila Cottage didepan Pulau Ketupat. Keluar dari Kapal kami disambut dengan hamparan pasir putih dari kejauhan, karang yang terlihat jelas dari atas kapal kami serta sebuah jembatan kayu menuju ke penginapan.

Tidak butuh waktu lama untuk jatuh cinta kepada Togean karena seketika kaki menginjakkan jembatan, langsung suka dengan Togean apalagi kalau bukan pemandangan di depan mata sudah memanjakan, cinta pada pandangan pertama.

Sulawesi Tengah

Titik Terumbu Karang Bagi Pecinta Alam Bawah Laut

Togean memilik banyak titik terumbu karang bagi pecinta diving atau snorkling terutama di area California Reff, Reff 4, 5 & 6 (dekat pulau Malenge), depan Pulau Pangempa, depan Pulau Taipi kecil, depan Pelabuhan Pulau Papan dan depan Pantai Karina di Pulau Rebang.

Penginapan di Kepulauan Togean

Banyak sekali penginapan di Kepulauan Togean mulai dari Wisma hingga Cottage dengan harga variatif mulai dari Rp200.000 hingga Rp500.000/hari dan tentu harga sebanding dengan yang didapatkan. Jika ingin lebih murah bisa menginap di rumah penduduk.

Beberapa tempat menginap di Kepulauan Togean antara lain: Fadhilla Cottage dekat Pulau Ketupat, Pondok Lestari kadidiri dekat Pulau Kadidiri, Kadidiri Paradise Resort di Pulau Kadidiri, Sunset beach    dekat Pulau Wakai, Black Marlin Dive Resort di Pulau Kadidiri, Losmen togean wisata di Pulau Kadidiri, Poya lisa dekat Pulau Bombana, Penginapan Bolilangga dekat Pulau Katupat, Penginapan Taipi dekat pulau kadidiri, Lestari Cottage di Pulau Malenge.

Togean

Cara akses ke Togean

Tidak satu cara ke Togean karena akses transportasi bisa melalui berbagai rute.

Pilihan rute ke Togean

Rute pertama, Jakarta-Palu-Ampana-Togean

Rute Kedua, Jakarta-Gorontalo-Wakai-Kadidiri

Rute Ketiga, Jakarta – Luwuk – Ampana – Togean

Kami sendiri mencoba rute pertama dan tidak usah khawatir karena dari Jakarta banyak maskapai penerbangan ke Bandara Mutiara di Palu mulai dari Lion Air, Sriwijaya Air, hingga Garuda Indonesia dengan durasi kurang lebih 4 jam. Jika ingin hemat bisa naik ferry dari Gorontalo. Namun perhatikan jadwal keberangkatan kapal menuju Togean.

Togean

Apa yang membuatu jatuh cinta dengan Togean?

Jatuh cinta dengan pasirnya yang putih, airnya yang bening, karangnya yang menawan, bertemu dengan teman baru dan mengenal Blogger kece-kece, mengasingkan diri tanpa signal dan merasakan hidup terpencil serta jauh dari suasana Ibu Kota. Bertemu dengan anak-anak Pulau yang polos dan sambutan ramah dari mereka hingg tangan kami digenggam dan melihat langsung  bagaimana penduduk Desa Katupat memanfaatkan limbah plastik menjadi produk berguna serta bermanja dengan alam. Main air laut meski tidak bisa berenang, menyelupkan diri ke Danau yang penuh Ubur-ubur serta yang paling penting merasakan ketenangan.

Disini aku  berdamai dengan hati!

Tak heran banyak turis Eropa jauh-jauh datang ke Togean karena benar-benar tentram.

Gimana tidak jatuh cinta coba?

Togean (Sumber: Bobby)

Oh ya buat contekan siapa tahu ada yang mau ke Togean, itinerary Togean (Sumber: Pak Harris)

Hari 1 Jakarta-Palu

06:30-07:00 Meeting point Jakarta

07:00-09:40 check in an boarding process naik Garuda

09:40-15:15 Jakarta-Palu

15:15-16:00 Baggage claim

16:00-17:00 drive to hotel check in hotel transit di Mercure Palu

17:00-19:00 free time

19:00-20:30 dinner makan kuliner khas Palu

Togean

Day 2 Palu-Ampana

06:00-08:00 breakfast hotel

08:00-09:00 check out,  drive to airport

09:00-11:30 check in boarding

11:35-12:30 Palu-Ampana by Wings

12:30-16:00 Ampana-togean dan makan nasi box

16:00-19:00 acara bebas, check in hotel

19:00-20:00 dinner

20:00-21:00 acara bebas

Togean (Sumber: Bobby)

Hari 3

06:00-07:00 breakfast

07:30-12:00 explore Togean

12:00-14:00 istirahat dan makan siang

15:00-19:00 explore Togean

19:00-20:00 back to guest house

20:00-21:00 makan malam

21:00-22:00 istirahat

Pulau Togean

Hari 4

07:30-12:00 explore togean

12:00-14:00 istirahat siang

15:00-18:00 explore Togean

18:00-19:00 istirahat

Togean

Hari 5

06:00-07:00 makan pagi

07:00-08:30 persiapan

09:00-14:00 Persiapan ke Kadidiri

14:00-15:00 Guesthouse di Kadidiri

15:00-18:00 Spot Kadidiri

18:00-19:00 santai di Kadidiri

19:00-20:30 kembali ke penginapan

21:00 istirahat

Hari 6

06:00-07:00 Morning call breakfast

08:00-11:00 Persiapan Kadidiri ke Ampana

12:50-13:40 Ampana-Palu

16:00-19:25 Palu-Makassar-Jakarta

Aku jatuh cinta kepada untaian permata Indah Kepulaun Togean di Teluk Tomini!

Kamu bagaimana?

Ada yang galau dengan Cinta? Ke Togean aja!!! 😉

Salam

Winny

Pesta Toraja


There are several paths to the top of the mountain, but the view is the same

By Unknown

tanduk kerbau di toraja

Hello World

Toraja, 27 Desmeber 2015

Walau gagal melihat pesta kematian adat toraja atau sering disebut upacara adat rambu Solo’ saat di Tana Toraja  tapi kami sempat melihat yang disebut pesta saat di Batutumonga. Si Bapak Angkot yang membawa kami menyuruh masuk ke dalam padahal ada orang meninggal disebut pesta. Memasuki rumah orang meninggal aku melihat hiasan rumah berwarna merah lengkap dengan alat-alat untuk memasak. Entah kenapa aku merasa mirip dengan Batak dimana kalau meninggal yang tamu datang akan disuguhi makanan. Khasnya pas di depan pintu ada kepala kerbau yang disusun dari ukuran terkecil ke besar.

pesta toraja
Pesta Toraja

Bekas alat masak terlihat jelas di depan rumah duka. Ikatan kekeluargaan terlihat jelas khususnya peralatan masaknya. Terus di depan sebuah panggung terlihat beberapa tamu berkumpul di dekat makam kemudian disbeerang ada kumpulan laki-laki yang makan.

adat pesta di toraja
Adat pesta di Toraja

Terus jalan lagi aku melihat seorang nenek di depan peti mati suami yang sudah meninggal.  Di depan peti mati terdapat photo si kakek. Sayangnya kami hanya sebentar jadi tidak bisa melihat pasti susuan acaranya secara detail hanya sepintas saja kalau tidak pasti seru melihat adat kematian di Toraja mulai dari awal hingga akhir. Semoga nanti ada kesempatan kembali untuk melihat rangkaian upacara kematian Toraja!

adat pesta di toraja
Adat pesta di Toraja

Salam

Winny

Mencari kupu-kupu di Taman Nasional Bantimurung


Sometimes the hardest decision in life is which bridge to cross and which one to burn

By Unknown

bantimurung
Bantimurung

Hello World!

Maros, 28 Desember 2015

Hi Jakarta, pada masih takut akan kejadian kemaren dimana tiba-tiba Jakarta terkena aksi bom dan baku tembak membabi buta? Semoga aksi teroris tidak kejadian lagi, dan untuk korban turut berduka cita.

Nah sedikit mencarikan suasana ketegangan Jakarta aku mau berbagi pengalaman perjalanan ke Taman Nasional Bantimurang Bulusaraung akhir Desember tahun lalu.

Puas melihat keindahan Leang-leang jaum menujukkan jam 3 sore dan aku bingung bagaimana caranya ke Taman Nasional Bantimurang Bulusaraung karena beberapa objek wisata menarik di Taman Nasional Bantimurang Bulusaraung antara lain penangkaran kupu-kupu, air terjun Bantimurung hingga ke Goa Mimpi dan Gua Batu.

 

wisata alam bantimurung

Waktu di Leang-Leang aku menanyakan berapa harga dari Leang-leang ke Bantimurung terus si bapak mengatakan Rp50.000. Sontak aku terkejut dengan harganya karena buatku itu cukup mahal, tapi kalau jalan kaki ke gang Leang-leang membuatku sedikit menarik napas. Akhirnya aku jalan kaki sambil berharap strategi “NEBENG” masih berhasil. Berjalan 5 menit aha beruntungnya aku pas menyetop motor seorang bapak separuh baya mau memberikan tebengan hingga ke gang besar Leang-leang karena beliau kebetulan juga hendak kesana. Eeh siapa sangka si bapak malah sekalian mengantarku ke Bantimurang yang berkisar sekitar 10 km. Terus berhentinya tepat di depan pintu masuk Taman Nasional Bantimurang Bulusaraung lagi. Si Bapak itu adalah penjaga leang-leang dan beruntunglah bisa dapat tebengan.

bantimurung
Bantimurung

Sesampai di Taman Nasional Bantimurang Bulusaraung aku membayar tiket masuk Taman Nasional Bantimurang Bulusaraung seharga Rp25000. Di Taman Nasional Bantimurang Bulusaraung sangat Indah menurutku ada penangkaran kupu-kupu dan museum kupu-kupu yang mirip di Jatim Park 2 Batu Malang. Tapi untuk masuk harus bayar lagi Rp5000. Karena aku pernah melihat hal yang sama di museum kupu-kupu Jatim Park 2 akhirnya aku memutuskan tidak jadi masuk.

bantimurung
Bantimurung

Alhasil gagal total melihat kupu-kupu yang banyak di Taman Nasional Bantimurang Bulusaraung. Untungnya aku bisa melihat air terjun Bantimurang yang cakep walau debit airnya agak deras tapi lumayanlah. Sayangnya aku tidak memasuki Goa Mimpi dan Batu karena keterbatasan waktu serta cuaca yang hujan. Disekitar air terjun banyak orang yang mandi atau sekedar bertamasya. Aku sendiri memilih mengelilingi sambil cuci mata saja hingga akhirnya aku putuskan untuk pulang dan langsung ke Bandara.

air terjun bantimurang
Air terjun bantimurang

Di pintu gerbang pulang banyak sekali souvenir kupu-kupu walau aku tidak jadi membelinya! Akhirnya Taman Nasional Bantimurang Bulusaraung menjadi penutup perjalanan di Sulawei Selatan!

Trip Maros, 28 Desember 2015

15:00 – 16:00 Bantimurung melihta kupu-kupu dan air terjun

16:00 – 17:00 simpang Bantimurung nebeng motor terus ke Maros terus ke Bandara

17:00 – 17:30 Maros – Bandara sempat singgah makan Konro

17:30 – 18:00 sop konro ke Bandara, jalan kaki, nebeng terus jalan kaki terus nebeng hingga sampai ke Bandara

18:00 – 18: 30 minum di Dunkin

18:30 – 20:00 pesawat Lion delay 30 menit

20:00 – 22:00 Makassar-Jakarta

souvenir bantimurung
Souvenir Bantimurung

Rincian biaya pengeluaran Hari kedua Makassar

Tiket masuk Bantimurang Rp 25.000

Angkot Bantimurung – Maros Rp12000

Makan sop Konro Rp18000

Angkot ke Bandara dari warung sop Rp7000

Angkot ke Bandara Rp5000

Dunkin hot coklate Rp28500

Tujuan wisata Makassar hari kedua : Ramang-ramang, Leang-leang dan Taman Nasional 

 

Salam

Winny

Demi jalan-jalan ke taman prasejarah leang-leang


You can never cross the ocean until you have the courage to lose sight of the shore

By Christopher Columbus

backpacker ke leang-leang

Hello World

Makassar, 28 Desember 2015

Jam menunjukkan 1 dengan cuaca terik dan aku punya waktu 6 jam lagi untuk menjelajah wisata Makassar khususnya Maros yang memiliki tiga objek wisata utama yaitu Ramang-ramang, Leang-leang dan Taman Nasional Bantimurang. Jam 1 siang begini aku masih di dermaga Ramang-ramang dengan sisa uang Rp2000 yang kemudian hari terakhir di Makassar dan waktunya Sayonara dengan Kak Indri dan Lukman yang telah menemani perjalanan selama Toraja hingga ke Ramang-ramang. Pas di demarga ada seorang bapak yang menawarkan ojek. Saat si bapak ojek datang aku tanyakan berapa ongkos dari Ramang-Ramang ke ATM sebentar kemudian Leang-leang. Si Pak Ojek mengatakan Rp50.000 untuk sekali jalan kalau ke Bantimurang sekalian Rp80.000. Lalu aku tertegun terus berkata,”maaf pak sepertinya tidak jadi karena mahal”. Terus si Bapak menjawab “bukannya kalau dari Jakarta uangnya banyak ya”. Eh mak kata terakhirnya itu loh tidak sedap “asal orang Jakarta uangnya banyak”. Karena sudah tidak cocok dengan tawar menawar ongkos akhirnya aku memutuskan untuk jalan kaki yang sempat membuat kak Indri khawatir. Emang penyakit perjalananku itu sering mengalami kehabisan uang

hahhaha 😀

Alhasil dengan PD nya aku mengatakan kepada Kak Indri untuk tidak khawatir walau uangku Rp2000 lagi di saku. Nah akhirnya aku memutuskan jalan kaki lagi ke simpang jalan umum padahal tempat dermaga dari jembatan ke depan agak lumayan tapi tidak sejauh perjalanan kaki kami yang 1 jam. Nah pas itu aku jalan dengan nekat aku menghentikan motor yang lewat. Hingga ada 1 bapak yang berhenti karena aku nebeng sampai gang depan tempat angkot. Dengan muka setengah memelas aku nebeng sampai tujuan si Bapak yang akhirnya pas hujan deras. Karena susah mencari ATM karena dekatnya ke pasar Maros akhirnya si bapak yang membawa motor menghentikan angkutan umum terus aku naiklah ke angkutan umum tersebut terus aku lihat saku eh uangku yang aku kira Rp2000 ternyata hanya Rp1000 saja. Untungnya si Bapak angkutan umum mau berhenti di depan ATM walau itu ATM yang bukan kartuku tapi yang penting bisa mengambil uang. Untuk ongkos dari simpang Ramang-Ramang ke Pasar Maros itu Rp5000 tapi kalau aku ingin ke Bantimurang Rp13000 nah bapaknya sempat menawarkan ke Bantimurang. Tapi karena aku ingin ke Leang-leang dulu karena saran si Zilko jangan melupakan Leang-leang pas di Makassar akhirnya aku memutuskan ke Leang-leang. Untungnya bapak angkot baik hati mau menungguku saat mengambil uang di ATM begitu juga karena searah pulang dia mau membawaku ke Bantimurang walau akhirnya aku turun disimpang Taman Prasejarah leang-leang.

Kambing di angkot
Kambing di angkot

Saat perjalanan dari Pasar Maros ke Bantimurang ditengah jalan aku dikagetkan dengan kejadian lucu. Lucunya saat kambing masuk ke dalam angkot di bangku depan. Aku tak tahan menawan ketawa ketika si embek dibawa masuk oleh penumpang terus duduknya di depan pula. Gila ya, seumur-umur baru pertama lihat kambing masuk kedalam angkot yang notabenenya transportasi di Makassar, ibukota Provinsi. Kocak dah!

Habisnya walau dari kampungku di Padangsidempuan belum pernah lihat angkot bawa kambing untuk jurusan Kota. Jadi pengalaman berkesan sekali bahkan seisi angkot malah heran melihat ketawaku yang tidak melihat sikon. Untung juga uangku habis ya kalau tidak aku mana nemu adegan lucu di perjalanan.

Akhirnya aku sampai di depan gang LEANG-LEANG terus katanya ke dalam itu sekitar 8 km lagi dari ganag bertuliskan “Selamat datang di Taman prasejarah Leang-Leang Kabupaten Maros”!

8 KM What?

Leang-leang Makasar Sulawesi
Leang-leang Makasar Sulawesi

Pelogok kanan kiri tidak ada satupun Ojek padahal jam sudah menunjukkan jam 2 dan aku harus bergegas karena penasaran juga dengan Bantimurang, wisata kupu-kupu di Makassar.

Pas mikir panjang bagaimana caranya ke leang-leang ada satu cewek lewat dengan motornya. Dengan nekat aku menyetop si mbak eh dengan baik hatinya dia menerimaku nebeng ke Lenag-leang! Horeeeee!

Gak nyampe 5 menit untuk memelas kesana terus dibawalah aku ke Taman Prasejarah leang-leang yang membuatku penasaran! Saat dibonceng aku benar merasa kalau jalan kayaknya mampus dah jauhnya!

Untung dapat tebengan!

leang-leang Makassar Sulawesi Selatan
Leang-leang Makassar Sulawesi Selatan

Sesampai di depan pintu masuk Taman Prasejarah Leang Leang, aku membayar tiket masuk. Untuk harga tiket masuk ke Taman Prasejarah Leang Leang Rp10.000 dan aku memilih dengan toruguide untuk bisa melihat lukisan dinding gua berupa gambar babi rusa 1 ekor dan gambar cap telapak tangan 22 buah dan telapak tangan hingga siku 6 buah yang kesemuanya menggunakan zat berwarna merah! Yah lukisan berada di dalam Goa dan Goa sengaja dikunci supaya tidak ada vandalism sehingga perlu adanya guide dan biaya guidenya seikhlasnya kok!

leang-leang

Masuk kedalam Taman Prasejarah Leang Leang aku berdecak kagum dan aku langsung jatuh cinta dengan Lenag-leang. Leang-leang adalah pegunungan Karst yang sudah berumur ribuan tahun memiliki 286 goa dengan lebih dari 30 goa prasejarah. Lokasi Leang-leang berada sebelum Taman Nasional Bantimurung. Akses ke dalam mulus karena jalannya beraspal dan sangat Indah karena diakui sebagai kawasan karst terbesar kedua di dunia setelah Guangzhou di China. Keunikan dari Taman Prasejarah Leang Leang selain susunan batuan yang katanya dulu batu karang dari laut, terdapat bukti tapak tangan manusia Purba dan Lukisan menyerupai Babi Rusa yang ditemukan di Leang (gua) Petta Kere dengan cat warna merah.

leang-leang
Leang-leang

Menakjubkan bukan?

Apa gak jatuh cinta itu aku!

Rupanya apa yang aku cari dan lihat dari photo seniorku yang aku cari di Leang-leang bukan di Ramang-ramang! Jalanan setapak dengan rumput hijau serta bebatuan alami yang besar lengka dengan karst di belakangnya, membuatku betah lama-lama di Leang-leang. Bahkan aku ikut ama tourguide melihat cap tangan manusia Purba menaiki tangga di depannya dengan tulisan Leang Petta Kere.

Sayangnya karena jam sudah jam 3 maka akupun buru-buru ke Bantimurang terus bingung bagaiamana ke Bantimurung. Eh siapa sangka ada tebengan lagi kali ini tebengan dengan motor sampai ke Bantimurung, tempat kupu-kupu!

What a life!

Salam

Winny

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Jalan Kaki ke Ramang-ramang


Very little is needed to make a happy life; it is all within yourself, in your way of thinking

By Marcus Aurelius

Karst Ramang-ramang
Karst Ramang-ramang

Hello World

Makassar, 28 Desember 2016

Pagi jam 6 sore, kami telah sampai di Maros dan agak lewat dari pasar Maros dan kami tidak ada ide harus turun dimana hingga kami turun di masjid perumahan Greenvile Maros. Sambil sholat subuh dan menunggu mentari sejenak di masjid hingga akhirnya kami memutuskan untuk naik angkutan umum ke Ramang-Ramang. Angkutan umum dari tempat kami beranjak ke simpang gang Bosowa Rp8000/orang. Di depan simpang Bosowa kami melihat ada warung yang menyediakan nasi kuning dan kue, alhasil kami sarapan di warung kecil itu untuk mengisi perut. Harga seporsi nasi kuning dengan kue 1 buah itu Rp9000 saja. Terus kami bertanya dimana letak RAMANG-RAMANG itu. Ternyata hamparan Karst di depan mata itu merupaan ramang-ramang yang menjadi salah satu wisata andalan Makassar. Nama Ramang-Ramang sendiri adalah nama sebuah desa di Maros dan turunnya di pertigaan ke arah semen Bosowa.

Jam 8 barulah kami memulai jalan terus kami berjalan hingga ada belokan yang menuju ke Desa. Di belokan itu ada tulisan “arah ke Karst Ramang-Ramang” melewati satu gang. Awalnya kak Indri penasaran dimana letak sungai yang harusnya katanya tempat mengambi perahu hingga kami melewati perswahan dan pedesaan. Walau masih jam 8 pagi tapi lumayan panas dan feeling kami itu kami salah jalan deh walau sudah jelas-jelas ada petunjuk arah karena perjalanan kami hampir 1 jam jalan kaki tapi belum nemu-nemu yang namanya tempat perahu.

Bayangkan jalan 1 jam!

Untungnya pemandangan di depan kami itu menakjubkan sekali lengkap dengan sawah, refleksi objek yang kami lihat terpantul di air serta himpunan karst di depan mata. Pegunungan batu dengan pohon hijaunya asli membuat kami jalan 1 jam tidak terasa walau keringat tidak bohong sih!

Hingga akhirnya setelah beberapa kali bertanya kami sampai kesebuah warung tempat untuk menyewa perahu. Untuk sampai ke Dusun Berua  tempat hamparan karst dengan persawahannya dan Goanya maka harus menyewa perahu kecil yang bisa muat 5 orang. Harga sewa perahu seharian di Ramang-Ramang Rp250.000 dengan tujuan Dusun Berua serta Telaga Bidadari katanya.

Aku sendiri gak yakin apakah Ramang-ramang yang aku lihat di photo temanku sama dengan Ramang-Ramang yang aku lihat di depan mata. Jujur saja aku agak kurang antusias dengan pegunungan batu di Ramang-Ramang, maklum sebagai pekerja di pabrik semen dan sudah pernah terbiasa melihat batu kapur ketika melihat pegunungan kapur jadi “biasa”.

Cuma untuk naik perahunya sambil melihat pedesaannya asik deh.

Akhirnya sampai jam 10 barulah kami sampai di Dermaga walau penuh dengan usaha jalan kaki ye. Terus kami menyewa perahu seharian dan dimulailah perjalanan kami ke Dusun Berua Desa Ramang-Ramang. Mengitari sungai di Ramang-ramang dengan perahu jadi teringat pengalaman kano di Ujung Kulon. Bedanya kalau di Ujung Kolon Kanoing di Sungai Cigenter pake alat nah di Ramang-ramang tinggal naik diperahu motor kecil terus jalan deh. Awalnya agak takut masuk ke dalam perahu maklum tanpa safety jacket terus aku tidak bisa berenang lagi. Untungnya sepanjang perjalanan pemandangan karst dan bebatuan Indah sekali hingga kami sampai di Dusun Berua Ramang-Ramang. Di depan loket kak Indri membayar Rp7500/3 orang.

Untuk wisata di Dusun Berua berupa Goa lengkap dengan satu telapak tangan manusia purba, mata air, hingga pedesaannya. Sebenarnya ada beberapa gua di Dusun Berua tapi kami hanya melihat satu dengan Telapak Tangan tapi Goa nya menurutku kecil ya. Sepertinya yang aku cari bukan di Ramang-ramang karena penasaran dengan cap tangan yang banyak.

Turguide ramang-ramang
Turguide ramang-ramang

Nah pas mencari Goa dengan telapak tangan kami sempat bingung dimana lokasinya secara yang kami lihat adalah hamparan bersawahan dengan latar belakang pegunungan hingga kami bertemu kakek yang mau membawa kami melewati jalanan setapak yang becek dengan nuaasa alami seperti kupu-kupu terbang. Kak Indri paling antusias melihat Goa walau menurutku bukan seperti Goa karena lubang ke dalam Goanya sempit tidak bisa dimasukin hanya bisa lihat susunan luarnya saja. Hingga akhirnya kami memutuskan perjalanan dengan tanpa ada ide apa yang ada di Dusun Berua.

wisata ramang-ramang
wisata ramang-ramang

Menapaki perjalanan sawah akhirnya sang kakek dan kami berpisah dilanjutkan dengan bapak seumur baya menemani kami ke mata air dengan jalanan yang tak kalah hebohnya menapaki jembatan dari bambu langsung dibawahnya air. Untungnya ada kedai tempat kami minum sambil menikmati hamparan karst!. Warung ini berada di atas batu kapur, nikmat sekali menikmati waktu di Berua hingga akhirnya kami memutuskan ke Telaga Bidadari.

warung ditas bukit ramang-ramang
warung ditas bukit ramang-ramang

Naik perahu lagi ke Telaga Bidadari kami membayar tiket masuk lagi seharga Rp5000/3 orang. Pas hendak ke Telaga jalannya menanjak bebatuan sesekali melewati goa terus pas hujan eh melewati air basah pas sampai ternyata telaga yang dilihat hanya berupa telaga biasa! Buatku sih agak zonk yak ke Ramang-ramang tapi buat kak Indri karena penyuka pegunungan dan batu jadi si kakak sangat enjoy!

Nah pas pulang dari Berua dan Telaga Bidadari sampai ke jembatan yang bukan awal kami jumpai ternyata pemandangannya sungguh menakjubkan apalagi bebatuan besar di sungai. Nah hingga jam 1 kami kembali ke Dermaga. Nah aku pun melanjutkan perjalanan ke Leang-leang padahal sisa uang di tangan itu Rp2000 saja dan ATM jauh di Maros!

bebatuan karst di ramang-ramang
bebatuan karst di ramang-ramang

Trip Maros, 28 Desember 2015

06:00 – 07:00 Poros Moros simpang semen Bosowa angkot dari perumahan Greenrevile Maros

07:00 – 08:00 makan nasi kuning ama kue di gang Bosowa

09:00 – 10:00 jalan kaki dari simpang Ramang-ramang sampai ke Danau sekitar 1 jam jalan kaki melihat pedesaran dan gunung kapur

10:00 – 12:00 jelajah Ramang-ramang dengan menyewa perahu, jalan ke Goa dan warung ke mata air

12:00 – 13.00 ke Telaga Bidadari

13:00 – 14:00 menumpang sampai Maros karena uang tinggal Rp1000, pas hujan, terus naik angkot ke ATM BRI terus langsung ke Leang-leang, lihat kambing masuk di dalam angkot, nebeng motor ke dalam leang-leang pulangnya juga nebeng sampai ke Bantimurung

14:00 – 15:00 Leang-leang, melihat telapak tangan dan menyewa tourguide

15:00 – 16:00 Bantimurung melihta kupu-kupu dan air terjun

16:00 – 17:00 simpang Bantimurung nebeng motor terus ke Maros terus ke Bandara

17:00 – 17:30 Maros – Bandara sempat singgah makan Konro

17:30 – 18:00 sop konro ke Bandara, jalan kaki, nebeng terus jalan kaki terus nebeng hingga sampai ke Bandara

18:00 – 18: 30 minum di Dunkin

18:30 – 20:00 pesawat Lion delay 30 menit

20:00 – 22:00 Makassar-Jakarta

kampung berua ramang-ramang
kampung berua ramang-ramang

Rincian biaya pengeluaran Hari kedua Makassar

Angkot Maros ke simpang Bosowa  Rp10.000/3 orang

Makan nasi kuning Rp9000/ orang

Sewa perahu di Ramang-ramang Rp250.000/ 3 orang

Tiket musuk ke Desa Ramang-ramang Rp 2500/ orang

Tourguide untuk 2 orang Rp 20.000/ 3 orang

Minum kopi di warung Rp6000

Tiket masuk Danau Bidadari Rp5000/ 3 orang

Tourguide Bidadari Rp5000/ 3 orang

Tiket masuk Leang-leang Rp 10.000

Tourguide Leang-leang Rp10.000

Tiket masuk Bantimurang Rp 25.000

Angkot Bantimurung – Maros Rp12000

Makan sop Konro Rp18000

Angkot ke Bandara dari warung sop Rp7000

Angkot ke Bandara Rp5000

Dunkin hot coklate Rp28500

Tujuan wisata Makassar hari kedua : Ramang-ramang, Leang-leang dan Taman Nasional Bantimurung

Salam

Winny