Sunrise di Mandalay Hill, Myanmar


Everybody loves. Everybody loses. And we’re all better for it.

By Chrissy

Hello World!

Mandalay, Februari 2017

Setelah melihat ritual pembersihan Patung Buddha Mahamuni di Mandalay, aku dan Ade melanjutkan perjalanan ke Mandalay Hill, Myanmar untuk melihat sunrise yang katanya titik tertinggi di Mandalay. Dengan bantuan peta offline yang sudah di download kami menuju Mandalay Hill dengan sepeda motor yang kami sewa. Cukup nekat memang kami berhubung kami tidak tahu jalanan di Mandalay serta suasana masih subuh saja.

Nya, ini yah di Indonesia saja kagak berani naik motor ya,
ini di jalanan Negeri orang aku berani, 
kalau tahu mamaku aku dimarahin, celoteh Ade

Memang Mandalay Hill merupakan titik tertinggi melihat Kota Mandalay dari atas bahkan sunrisenya cukup terkenal. Padahal jujur saja aku tidak ada ide seperti apa Mandalay Hill itu. Belum lagi aku memberikan arah yang salah karena kelemahan dalam membaca peta. Aku tidak bias membedakan mana “kiri” dan “kanan” yang sempat membuat Ade dan Melisa heran bagaimana bisa aku bertahan backpacker sendirian ke Negeri orang padahal baca peta saja tidak becus. Untungnya meski nyasar beberapa kali kami sampai di Mandalay Hill.

Ketika sampai di Mandalay Hill, kami sempat ragu apakah  tempat yang kami kunjungi adalah benar Mandalay Hill karena tidak ada tanda-tanda temple atau cara ke bukit yang seperti Ade bayangkan. Bahkan kami sempat  bertanya dimana MANDALAY HILL itu padahal jelas-jelas kami di Mandalay Hill. Bahkan sempat naik ke sebuah tempat seperti pasar terus turun lagi saking tidak yakinnya hingga menanyakan orang kesekian kalinya dimana tempat Hill itu. Rupanya Mandalay Hill melewati pasar yang telah kami lalui, sebuah pasar untuk membeli oleh-oleh tepatnya. Hill tempat sunrise Mandalay berada di area Su Taung Pyae Pagoda dan masuk ke dalam harus membayar uang retribusi 12,000 KS. Agak enggak membayarnya namun karena sudah jauh-juah serta perjuangan melewati jalanan yang menanjak akhirnya kami membayar juga. Di dalam Pagoda hanya ada penjaga saja sementara kami duduk di luar Pagoda menunggu sunrise.

"Nya, berkabut, sedih deh padahal udah jauh-jauh kesini", kata Ade

Yah trip Myanmar kami memang banyak banyak tujuan wisatanya terutama Kota-kota yang ingin kami kunjungi.  Salah satunya sunrise dari Mandalay Hill. Karena melihat kabut menutupi pemandangan Kota Mandalay dari atas, akhirnya kami memanfaatkan dengan memphoto Temple saja. Hingga akhirnya jam 6 an, sunrise yang ditunggu pun ada. Kabut sudah mulai berhilangan dan membuat Ade mulai bahagia.

Ya ampun Nya, aku kira tadi tidak ada sunrise di Mandalay Hill, 
dalam hati gue gila udah jauh kesini malah lihat kabut, 
katanya dengan penuh semangat

Memang sunrise yang kami tunggu agak sedikit mengerjai kami. Seolah tidak ada namun ternyata ada, warnanya orange dan bulat serta dari atas kelihatan Kota Mandalay. Hanya saja karena aku takut ketingian sehingga untuk dekat ke tepi amit-amit. Selain itu memang kami datangnya agak kecepatan ke Mandalay Hill. Karena waktu kedatangan terhitung jari jumlah pengunjung kemudian setelah mulai sunrise barulah banyak pengunjung yang berdatangan. Yang lucu ada turis Bule entah dari Negara mana malah mempotret kami, mungkin dikira kami warga local Myanmar, padahal jelas-jelas kami tidak memakai Thanaka layaknya orang Myanmar. (Thanaka = bedak dingin, jadi orang Myanmar dalam kehidupan kesehariannya suka memakai bedak dingin baik wanita maupun pria).

Setelah puas melihat matahari terbit dari Mandalay Hill, kami pun berkelililing untuk melihat spot terbaik di Mandalay. Dan melihat sunrise di Mandalay memang melebihi ekpektasi kami karena kami merasa urutan Kota untuk dikunjungi di Myanmar itu adalah Inle, Bagan kemudian Mandalay (versi kami). Jadi kami tidak terlalu berharap kalau sunrise yang kami lihat bakalan Ok, namun kami salah karena sunrise di Mandalay lumayan ok apalagi dengan latar belakang Pagoda serta melihat Kota Mandalay dari atas Bukit.

Untuk naik ke Su Taung Pyae Pagoda ternyata bisa menggunakan lift, selain tangga yang kami lewati. Belum lagi banyak Pagoda disekiatar Mandalay Hill, sehingga yang penyuka wisata Pagoda bisa puas melihat Pagoda di Mandalay hill. Namun tentu saja Pagodanya berbeda bentuknya seperti yang ada di Bagan, Pagoda di Mandalay lebih mirip seperti yang di Thailand, dengan bentuk runcing serta warna keemasan.

Anehnya meski kami tahu ada lift untuk turun, kami malah memilih menuruni tangga dan kembali melewati pasar dadakan dengan oleh-oleh khas Mandalay melewati beberapa Pagoda di dalam area Pagoda.

Rincian Pengeluaran Mandalay, Myanmar Hari Keempat

Taxi dari Stasiun Bus ke Dream Guest House 5000 KS/ 2 orang

Sewa Motor seharian 12,000 KS/ 2 orang

Uang Masuk Su Taung Pyae Pagoda 1000 KS

Air Lemon 500 KS Bensin 4500 KS/2 orang

Makan siang + minum tebu 1800 KS

Bus malam dari Mandalay ke Yangoon 22,000 KS/2 orang

Parkir motor 500 KS/2 orang

Total Pengeluaran hari keempat di Myanmar

2500 KS + 6000 KS + 1000 KS + 1800 KS + 11,000 KS + 250 KS

= 22,550 KS

Tempat wisata yang dikunjungi di Mandalay, Myanmar

Sunrise Mandalay Hill, Mahamuni Image, U Bein Bridge, Kuthodaw Pagoda (biggest book in the world), Mandalay Royal Pallace, Masjid

Salam

Winny

Iklan

Melihat Ritual Pembersihan Patung Mahamuni pada Mandalay, Myanmar


Life is one big road with lots of signs. So when you riding through the ruts, don’t complicate your mind. Flee from hate, mischief and jealousy. Don’t bury your thoughts, put your vision to reality. Wake Up and Live!

By Bob Marley

Hello World!

Mandalay, Februari 2017

Jam 4 pagi tepatnya aku dan Ade sampai di Mandalay dari perjalanan Bagan. Masih segar diingatan ketika kami sempat dijemput dengan mobil yang mirip dengan angkot dari penyewaan sepeda. Di tempat penyewaan sepedalah kami mandi sambil menunggu jemputan. Itung-itung rekor tidak mandi selama 4 hari terpatahkan juga di Old Bagan. Kami sempat berpikir apa iya mobil yang mirip angkot ini ke Mandalay, walau dalam peta jarak antara Bagan dengan Mandalay cukup dekat. Untungnya dugaan kami tidak benar, karena mobil yang mirip angkot itu adalah jemputan saja karena pada kenyataannya kami menuju Mandalay dengan bus yang lumayan kondusif. Di Old Bagan jugalah aku dan Ade berpisah dengan Melisa karena Melisa akan sendirian ke Yangoon demi mengejar pesawatnya menuju Jakarta. Aku dan Ade masih memiliki dua hari lagi di Myanmar, artinya kami bisa mengunjungi Mandalay, Myanmar.

Tujuan utama kami ke Mandalay selain melihat Sunrise dari Mandalay Hill, Myanmar adalah melihat patung Buddha Mahamuni dimandikan. Kalau bukan karena Ade aku tidak tahu kalau ada patung Buddha dimandikan di Mandalay. Istilah untuk dimandikan ini adalah Bahasa khasnya si Ade. Karena ketika di Old Bagan pada pagi hari kami telah melihat patung Buddha kecil dimandikan nah saatnya kami melihat Patung Buddha besar dimandikan.  Akan lebih tepat jika dipakai istilah pembersihan Patung Buddh. Patung Buddha itu berada di Pagoda MAHAMUNI, salah satu wisata yang wajib dikunjungi di Myanmar. Alias jika ke Myanmar top listnya adalah melihat Patung Mahamuni, jadi tidak dianggap ke Myanmar jika belum ke Patung Mahamuni, katanya ya 😀

Bus kami sampai di Kota Mandalay, Myanmar jam 4 pagi dimana jalanan sepi, beberapa anjing berkeliaran di jalanan bahkan taxi yang mengantar kami ke tempat penyewaan sempat bingung mencari alamat  yang kami tuju. Hingga akhirnya setelah dua kali mutar daerah sama, barulah kami diantar ke tempat sesuai dengan alamat tujuan kami. Jadi tidak salah alamat! Kedatangan kami memang cepat namun pihak penyewaan motor kami sudah siaga menunggu kami. Sebelumnya Ade sudah berkomunikasi dengan pihak penyewaan sepeda motor demi keliling Mandalay. Kalau tidak, bakalan gigit jari kalau sampai di Mandalay, Myanmar apalagi pas pagi hari sekali.  Untunglah pemilik membukan pintu dengan ramah kepada kami meski terlihat jelas mukanya masih mengantuk. Kami meminjam motor matik seharian dan menitip tas kami kepada seorang gadis keturunan Chinese di Burma. Rumahnya lumayan luas lengkap dengan dekorasi seni serta tempat penginapan sekaligus penyewaan sepeda/motor di Mandalay. Dia juga yang memberikan peta kepada kami serta menjelaskan kemana saja ketika berada di Mandalay. Walau penjelasan Objek wisata Mandalay tidak 100% kami hapal. Kami hanya mengikuti daftar OBJEK WISATA MANDALAY di bucket list kami.

Untuk menjelajah Mandalay kami menggunakan map offline yang sudah didownload sebelumnya. Tidak seperti Kota Bagan dan Inle yang mewajibkan turis membayar uang masuk kedalam KOTA, maka masuk ke Mandalay tidak perlu bayar. Lumayan menghemat biaya perjalanan kami 🙂

Mandalay

Setelah sepeda motor, kunci dan dua helm diberikan kepada kami mak kami memulai perjalanan menjelajah Mandalay. Ade yang mengendarai motor dan aku yang memberikan aba-aba jalan. Salahnya ternyata aku tidak begitu bisa membedakan belok “kiri” atau “kanan” sehingga sempat membuat si Ade gondok alias menahan esmosi tingkat tinggi.

Nya, tau gak sih mana kiri dan kanan?
kata Ade dengan sedikit dongkol ketika aku salah memberikan arah

Sementara kalau aku yang membawa motor juga tidak bisa. Akhirnya aku dan Ade sempat nyasar-nyasar arah di pagi hari sementara kami hendak mengejar pemandian Buddha di pagi hari.

Disini aku merasa sedih tidak bisa membaca Google map, hiks!

Dengan susah payah barulah kami sampai di tempat Patung Mahamuni setelah memarkirkan sepeda motor yang tak jauh dari pasar. Pasar ini merupakan satu komplek dengan Pagoda Mahamuni, Mandalay tempat patung Mahamuni berada.

Seperti biasa, aku dan Ade melepaskan sandal kami lalu berjalan menuju tempat ritual harian pembersihan patung Buddha Mahamuni di Mandalay. Kami memang agak telat ketika sampai di Patung Mahamuni karena turis sudah banyak sekali duduk manis di lantai sambil melihat ritual pemandian. Sementara dari Layar TV besar kami melihat pemandian Buddha sudah dimulai.  Patung Buddha berada di tengah dari Pagoda Mahamuni, Mandalay dengan posisi duduk diatas takhta lengkap dengan mahkota serta baju kerajaan.

Mandalay

Untuk melihat ritual pemandian patung Buddha maka harus membayar administrasi. Serta ada area yang tidak boleh dimasuki oleh wanita, khusus laki-laki saja terutama area pemandian dan di depan pemandian. Wanita diperbolehkan dari jauh. Ade menyuruhku duluan masuk ke dalam Pagoda menembus keramaian turis dan penduduk lokal. Aku tidak menyangka kalau sepagi ini, ramai pengunjungnya. Bahkan aku sempat salah masuk ke dalam area laki-laki yang membuatku dicegat petugas sekaligus menyuruh untuk membayar biaya masuk Pagoda. Namun karena sudah terlanjur masuk dan lihat serta ingin keluar akhirnya aku tidak jadi membayar. Lalu aku menghampiri Ade yang menunggu di luar untuk gantian masuk ke dalam melihat langsung prosesi pemandian Patung Buddha sambil aku mengingatkan untuk pembayaran jika ingin melihat prosesi.

Pilihan untuk menonton prosesi dari layar memang tepat karena di dalam begitu desak-desakannya serta tidak begitu jelas kelihatan ritualnya, maka melihat dari luar lebih dari cukup. Sekalian cuci mata melihat antusias dari masyarakat Myanmar yang datang dari berbagai daerah menuju ke Mandalay sambil membawa persembahan untuk Pagoda Mahamuni. Beberapa diantaranya adalah Biksu sambil berjalan menuju kedalam Pagoda, beberapa ibu-ibu seperti Inang-inang di Sumatera Utara dan beberapa adalah remaja yang memakai bedak dingin di mukanya, khasnya orang Myanmar.Kegiatan mengamati orang jauh lebih menarik buatku karena melihat sisi lain dari Myanmar. Meski telat datang di acara pembersihan Buddha biasanya jam 4 sampai jam 4.30 pagi namun aku mendapatkan hal lain.  Belum lagi, Ade juga sempat menyaksikan ritual pembersihan.

Yah kami memang cukup beruntung 🙂

Ritual Harian Pembersihan Patung Mahamuni

Ritual pembersihan Patung Mahamuni dimulai dengan bunyi tabuhan. Diikuti kedatangan biksu yang berpakain putih menuju area Patung Mahamuni. Pembersihan dilakukan oleh beberapa orang. Ritualnya sederhana “basuh” lalu “kering”. Pertama Biksu membersihkan patung Buddha kemudian mengeringkannya. Pembersihan Batung Buddha secara keselurahan secara berlahan padahal tinggi Buddha yang terbuat dari perunggu ini mencapai 4,5 meter. Setelah dikeringkan lalu patung buddha dibasuh dengan minyak Cendana baru kemudian dikeringkan lagi dengan handuk. Setelah itu baru diberi wewangian.Keunikan dari ritual pemandian Patung Buddha adalah handuk dari pembersihan patung Buddha diberikan kepada mereka yang beribadah di dalam.

Hanya sekitar 20 menit saja Ade keluar dari hiruk pikuknya turis penonton acara pemandian patung Buddha di Mandalay. Ade menuju tempat duduk manisku di lantai penuh kepuasan melihat kehidupan pagi warga lokal Myanmar, aku terkesima dengan kerajinan mereka yang datang dari berbagai penjuru untuk mengikuti proses pembersihan Patung Mahamuni.

"Nya, yuk ke Mandalay Hill!", lanjut Ade
Yuk, kataku

Kamipun meninggalkan keramaian Pagoda Mahamuni di pagi hari menuju perjalanan mengejar sunrise ke Mandalay Hill karena kami sudah sah travelling di Myanmra dengan mewujudkan what to do in Mandalay 🙂

Rincian Pengeluaran Mandalay, Myanmar Hari Keempat

Taxi dari Stasiun Bus ke Dream Guest House 5000 KS/ 2 orang

Sewa Motor seharian 12,000 KS/ 2 orang

Uang Masuk Su Taung Pyae Pagoda 1000 KS

Air Lemon 500 KS Bensin 4500 KS/2 orang

Makan siang + minum tebu 1800 KS

Bus malam dari Mandalay ke Yangoon 22,000 KS/2 orang

Parkir motor 500 KS/2 orang

Total Pengeluaran hari keempat di Myanmar

2500 KS + 6000 KS + 1000 KS + 1800 KS + 11,000 KS + 250 KS

= 22,550 KS

Tempat wisata yang dikunjungi di Mandalay, Myanmar

Sunrise Mandalay Hill, Mahamuni Image, U Bein Bridge, Kuthodaw Pagoda (biggest book in the world), Mandalay Royal Pallace, Masjid

Salam

Winny

 

Sunset di Shwesandaw Pagoda Old Bagan, Myanmar


Very little is needed to make a happy life, it is all within yourself, in your way of thinking

By Marcus Aurelius

Bagan Plains with the Dhammayangyi on the left
Pemandangan Dhammayangyi Temple

Hello World!

Old Bagan, Februari 2017

Setelah adegan ban bocor telah diperbaiki oleh dua montir dadakan dari tempat penyewaan sewa karena selfie akut, perut yang lapar tidaklah bisa berbohong. Belum lagi cuaca yang panas membuat kami memutuskan kembali menuju ke New Bagan untuk mencari makan siang. Dengan dua sepeda motor listrik yang kami sewa, kami bertiga kembali bersepedahan kearah New Bagan. Memang kami masih penasaran dengan New Bagan, Myanmar. Ditambah susah sekali mencari makanan disekitar Old Bagan yang penuh dengan Pagoda.

Untuk sampai ke New Bagan, membutuhkan waktu kurang lebih 30 menit dari Old Bagan. Awalnya kami hendak makan di sebuah Restauran dengan pemandangan laut namun ketika melihat harganya yang “Aduhai” akhirnya kami membatalkan serta secepat kilat dengan langkah seribu meninggalkan tempat itu dan mengambil sepeda motor listrik kami di parkiran. Ujung-ujungnya setelah capek mencari sana-sini kami berhenti disebuah cafe yang agak ramai. Tujuan kami untuk bersantai ria setelah seharian berpanas-panas di Old Bagan.

Ban Bocor di Old Bagan

Kami pun melihat menu makanan dan memilih makanan berdasarkan kesukaan. Di restauran di New Bagan, aku mendapatkan makanan yang agak “zonk” karena salah memilih “sup sayur ala tom yam” yang aku pesan murni sayuran tanpa rasa. Sampai-sampai si Ade dan Melisa terkekeh-kekeh melihat ekpresi makanan yang aku pesan ketika datang tidak sesuai dengan harapan. Beruntunglah Melisa dan Ade membeli makanan yang agak mahal namun rasa lumayan. Ini jadi pelajaran buatku kalau ke Myanmar jangan pernah pesan yang namanya “tom yam” atau “soup vegetable” karena harga menentukan rasa. Apalagi memesan makanan yang murah, siap-siap rasanya sesuai dengan harga.

Bayangkan saja sayur tok dengan kuah ala-ala 😦

Lokal Myanmar (Photo: Melisa)

Setelah kenyang makan di New Bagan, barulah kami kembali ke Old Bagan untuk mengejar sunset Old Bagan, harapannya  sebanding fenomenalnya dengan sunrise Old Bagan.

Nah pas perjalanan pulang si Ade kebelet ke toilet, untungnya ke tempat peribadatan tempat makan mie ubek-ubek pakai tangan tadi pagi ternyata memiliki toilet. Makanya Ade sempat berhenti sementara. Kalau tidak, entahlah nasib si Ade menahan kebelet sepanjang jalan.

Oh ya untuk perjalanan bersepeda motor listrik sepanjang Old Bagan-New Bagan cukuplah seru karena Pagoda dan templenya yang bertaburan dengan ukuran yang berbeda-beda. Bahkan kami sempat berhenti disebuah Pagoda yang mirip istana dengan tembok berbentuk persegi panjang sekelilingnya. Bak kami berada di masa lampau, seperti itulah keseruannya. Tapi jangan ditanya apa informasi dari Pagoda tersebut karena tulisannya tidak kami mengerti. Bahkan Ade mengatakan “tulisan cacing” yang susah dimengerti. Namun kami maafkan karena Pagodanya yang cukup indah.

Old Bagan

Setelah itu kami bertiga menuju ke Shwesandaw Pagoda untuk melihat sunset Old Bagan, Myanmar. Jujur saja, pemilihan Pagoda ini karena kami melihat begitu banyak orang, jadi kami hanya mengikuti rombongan turis yang banyak. Kamipun memarkirkan sepeda motor listrik kami dengan sembarangan lalu mengikuti rombongan turis.

Nah saat Aku dan Ade mengikuti rombongan turis ternyata si Melisa berpisah dari kami karena hendak mengambil photo Shwesandaw Pagoda dari depan. Agak cukup lama aku dan Ade menunggu Melisa di tangga menuju ke Shwesandaw Pagoda. Hingga menunggu sekitar 30 menit lalu Melisa kelihatan

Mel, kemana dirimu?, tanya kami
Tahu gak aku tadi katahuan gak punya tiket, wkwkwk katanya dengan tertawa lepas

Where is your ticket to Bagan?, tanya petugasnya kata Melisa
I left at hotel, kataku
Kalau gak bisa mate kata Melisa

Dirimu sih Mel, pisah dari kami

Aku kan tadinya mau ngambil photo eh malah ketahuan, katanya

Akhirnya aku dan Ade tertawa melihat kejadian yang baru dialami Melisa. Untung muka kami kayak muka lokal yah Mel, untung dirimu gak dideportasi 😀

Shwesandaw Pagoda

Setelah berkumpul akhirnya kami menaiki tangga yang super membuat bulu kudukku berdiri. Tahu sendiri aku paling phobia dengan ketinggian. Kalau bisa ngesot, maka ngesot deh biar sampai keatas. Belum kemiringan tangganya sangat curam dan miring. Perlu kehati-hatian tingkat tinggi untuk sampai ke Puncak, ditambah ramainya antrian hendak naik. Kalau bukan disemangati Melisa dan Ade mending aku tidak usah melihat matahari terbit dari atas Pagoda daripada menahan ketakutan. Tapi anehnya aku sampai juga dipuncak Shwesandaw Pagoda dengan usaha yang luar biasa.

Sesampai di atas Shwesandaw Pagoda begitu ramai, ramai turis yang juga menunggu sunset dari Pagoda. Bahkan kami harus berkeliling Pagoda memutari untuk mencari celah menikmati Pagoda di Bagan dari atas. Melisa dan Ade bahkan berphoto di ujung Pagoda seolah tak takut mati. Sementara aku yang duduk disamping saja membuat nyali sudah kecut ditambah keringat dingin dan deg-deg syer yang luar biasa, lebih deg-degan dari Cinta pertama. Begini rasanya kalau penakut akan ketinggian. Sumpah saat Melisa berdiri di ujung Pagoda dengan gaya Yoga membuatku takut, takut dia terjatuh. Belum juga tingkah si Ade yang tidur nyenyak diatas Pagoda, ampun DJ!

Kami menunggu sunset

Setelah puas berphoto dengan latar belakang Pagoda ala Old Bagan, akhirnya kami kembali menuju tempat melihat sunset diantara turis yang super padat. Sunset Old Bagan sangat bagus, sebagus saat sunrise hanya saja tidak ada balon udaranya. Walau kami harus rela berdesak-desakan diantara keramain turis dan bersempit-sempitan demi “photo sunset Old Bagan”. Memang dibalik photo indah ada turis ramai yang menunggu.

Sunset di Old Bagan berbeda karena adanya latar belakang ribuan Pagoda serta pegunungan dan bersembunyi dibalik sebuah air.

Pemandangan apik!

Tidak sia-sia berjuang naik dengan tangga miring yang menggetarkan jiwa serta kesumpekan turis.

Sunset Old Bagan dari Shwesandaw Pagoda
Nya, aku senang akhirnya bisa lihat sunrise dan sunset 
sekaligus di Old Bagan, Myanmar, kata Ade dengan bahagia

Yah perjalanan Old Bagan, Myanmar kami memang penuh cerita.

Salam

Winny

Pengalaman Kocak di Thatbyinnyu Temple, Burma


It is strange to be known so universally and yet to be so lonely

By Albert Einstein

Hello World!

Burma, Februari 2017

Setelah mengelilingi Old Bagan dan adegan gokil di depan Pagoda, akhirnya aku, Melisa dan Ade melanjutkan perjalanan kami ala backpacker di Bagan dengan sepeda motor listrik. Dengan cuaca yang panas kami berhenti di Pagoda yang menurut kami cakep. Bahkan ada satu Pagoda yang cukup mencuri perhatian kami yaitu Pagoda yang didepannya ada kaktus. Kaktus inilah bukti kalau di Old Bagan lumayan panas, dan satu lagi di Old Bagan itu lumayan gersang dan berdebu sehingga perlu membawa masker.

Sekali lagi mengelilingi Pagoda di Old Bagan cukup menyita waktu karena Pagodanya yang super banyak sekali. Jadi tidak mungkin mengunjungi satu persatu.  Bahkan dalam pemilihan Pagoda yang kami kunjungi berdasarkan Hingga kami menuju ke Thatbyinnyu temple di Old Bagan karena warna Pagodanya berwaran putih.

Di Thatbyinnyu temple, aku membeli buah potong karena pas di Old Bagan pas siang hari panas maka perlu banyak minum. Sementara si Ade dan Melisa mencoba minum es di depan Pagoda. Kali ini mereka minumnya kena zonk karena minuman mirip Cendol warna hitam ternyata diubek-ubek pakai tangan juga. Tapi si Ade dan Melisa minum juga cendol ala Myanmar yang diaduk dengan tangan. Karena sudah terlanjur dibeli dan haus juga akhirya si Ade minum juga cendol yang diubek-ubek tadi.

Dalam hatiku, untung gak beli minuman ubek pakai tangan. Tapi anehnya meski diubek pakai tangan, si Ade dan Melisa sehat-sehat saja, tidak terkena diare. Kalau ingat adegan ini malah ingin tertawa sendiri.

Setelah minum kamipun melanjutkan perjalanan kami untuk mencari makan siang. Tapi entah kenapa kami berteduh di dekat Thatbyinnyu Temple.

Nya Tolong dong ambilin photoku di depan Pagoda sambil bersepeda, kata Ade

Ini bisa mmephoto 10 photo dalam 1 detik, lanjutnya

Kayak gini ya caranya, kata Ade melanjutkan

Nanti setelah itu gantian aku ambilin photomu, katanya

Oh ya di ola Bagan, masyarakatnya memanfaatkan ban bekas menjadi tempat sampa. Tempat sampah dari ban bekas di Old Bagan cukup unik  kreasi sehingga indah untuk dilihat. Hal ini patut dicontoh, semoga di Indonesia bisa juga ya 🙂

Thatbyinnyu Temple

Kemudian saat mengambil photo Ade dengan latar belakang PAGODA eh tiba-tiba sepeda listriknya bannya bocor. Oh no, padahal kami belum makan siang dan belum ke New Bagan. Bahkan kartu Myanmar saja kami tak punya. Untungnya ada nomor telepon tempat peminjaman sepeda motor listrik di sepeda motor listrik.

Akhirnya dengan inisiatif aku mencoba meminta bantuan orang lokal untuk menelepon tempat penyewaan sepeda motor kami. Sayangnya orang lokal tidak bisa bahasa Inggris akhirnya pakai bahasa Tarzan dengan menunjukkan handphone dan sepeda yang bannya bocor Untungnya si orang lokal mengerti dan menelepon pihak penyewaan motor kami. Jujur disini kami sempat khawatir tapi kami tetap asik saja. Aku, Melisa dan Ade sempat bersantai ria di bawah pohon karena ban sepeda motor listrik yang bocor sambil menunggu montir datang.

Padahal kami juga tidak tahu dimana tempat ban bocor kami. Nah pas penungguan montir untuk memperbaiki sepeda motor, kami benar-benar menikmati kebersamaan malahan masih sempat photo suka-suka.

Penantian kami hanya 20 menit saja, montir kami datang. Disini kami melihat proses penggantian ban dengan lem. Kedua montir yang memperbaiki sepeda motor kami masih muda. Si Ade paling suka mengganggu mereka dengan Bahasa Indonesia, kadang ngomong pakai Bahasa Inggris padahal montirnya ngerti juga kagak. Aku dan Melisa tertawa saat Ade mengganggu mereka. Beruntung memang kami karena meski ban bocor dan tidak tahu dimana, tapi mereka dapat menemukan kami dan sigap memperbaikinya. Kalau tidak bisa dorong sepeda listrik dengan perut lapar.

Pelajaran yang berharga yang kami dapat ialah “gegara photo maka ban kami pecah”. Beginilah kalau sudah terkena selfie akut. Anehnya disitu kekocakan trip di Old Bagan, Myanmar kami. Kapan lagi coba merasakan ban pecah gegara asik berphoto tapi malah menjadi momen lucu-lucu bagi kami.

Rincian Pengeluaran Old Bagan, Myanmar Hari Ketiga

Taxi dari Highway bus Station ke Nyaung-U 24,000 KS/ 3 orang

Sewa e-bike seharian 12.000 KS/3 orang (2 e-bike)

Sarapan mie 2600 KS/3 orang

Minum kelapa 3000 KS/3 orang

Tiket bus Malam Old Bagan-Mandalay 22,000 KS/2 orang

Total Pengeluaran hari ketiga di Myanmar

8000 KS + 6000 KS + 870 KS + 1000 KS + 11,000 KS

= 26,870 KS 

Tempat wisata yang dikunjungi di Old Bagan, Myanmar

Melihat Sunrise dengan latar belakang balon udara dan candi serta puas keliling Old Bagan dan menelusuri Candi-Candi di Old Bagan serta melihat sunset di Old Bagan

Salam

Winny

Jelajah Old Bagan dan New Bagan, Myanmar


Success in life comes when you simply refuse to give up, with goals so strong that obstacles, failure and loss act only as motivation.

By Unknown

Hello World!

Old Bagan, Februari 2017

Setelah sarapan dan perutpun kenyang dari makan mie ubek-ubek pakai tangan khas ala Myanmar, aku, Ade dan Melisa melanjutkan perjalanan ke New Bagan. Jujur ke New Bagan itu hanya mengikuti insting karena setelah puas melihat matahari terbit Old Bagan yang fenomenal, kegiatan kami berikutnya adalah acara bebas. Bahkan bebas dalam mencari objek wisata apa yang ingin kami kunjungi. Namun karena di Old Bagan banyak sekali Pagoda dari satu meter sudah ada Pagoda maka kami sedikit bingung Pagoda mana yang akan kami singgahi terlebih dahulu. Akhirnya kami berhenti di Pagoda yang menurut kami enak dipandang mata karena jika ingin mengunjungi satu persatu tidaklah mungkin mengingat jumlah Pagoda di Myanmar itu ribuan bahkan mungkin jutaan, jadi niat mengunjungi semua Pagoda dalam sehari itu dalam sehari adalah pekerjaan mustahil.

Saat makan Mie Melisa sempat menunjuk Wanita berleher panjang Myanmar,
dimana sebelumnya kami sudah puas bertemu di Inle. Si Ibu lewat dengan jalan kaki.

Win, Ade, lihat ada wanita berleher panjang, 
kata Melisa dengan semangat 45

Gegara  melihat wanita berleher panjang lewat maka kami yang awalnya niatin ke New Bagan malahan berubuah tujuan mencari wanita berleher panjang Myanmar. Wanita berleher panjang Myanmar kami temukan di salah satu penjual kain tenun. Entah kenapa namun rata-rata wanita berleher panjang di Myanmar yang kami jumpain bekerja sebagai penenun.

Baca juga pengalaman Wanita berleher panjang Myanmar

Bagan, Myanmar
La Min Aein, Long Neck Women Myanmar

Dengan motor listrik, kamipun berhenti di tempat tenun ibu berleher panjang. Hanya saja kami singgah hanya sebentar saja karena kami tidak ada niat untuk membeli tenunan serta alasan lain karena kami sudah puas bertemu dengan wanita berleher panjang di Inle, Myanmar.

Tanpa basa-basi akhirnya kami melanjutkan perjalanan kami dan menjauh dari tempat si ibu Myanmar yang sedang menenun menuju ke Pagoda yang kami lewati di pagi hari. Pemilihan Pagoda pun dikarenakan jaraknya dekat dengan tempat La Min Aein, wanita berlehar panjang yang kami singgahi serta kami tertarik melihat keramaian orang yang berada di kawasan Pagoda tersebut.

Bentuk Pagoda yang kami kunjungi setelah Pagoda untuk sunrise Bagan, mirip dengan Pagoda yang di India. Bentuknya bulat dengan warna merah bata. Mirip stupa dengan gaya yang khas. Jujur aku sangat suka dengan Pagoda yang kami datangi setelah Pagoda saat melihat matahari terbit. Kami bahkan sempat masuk kedalam komplek Pagoda untuk melihat apa yang ada di dalam Pagoda. Sekedar ingin menjawab rasa penasaran kenapa ramai pengunjungnya. Untuk masuk ke dalam Pagoda sebelumnya kami membuka sandal/sepatu dan kaos kaki kami karena peraturan di Myanmar jika ingin masuk ke area Pagoda/Candi maka harus membuka alas kaki.

Masuk ke dalam Pagoda, kami melihat beberapa biksu serta pengunjung yang beribadah.  Semakin berjalanan mengelilingi kawasan Pagoda, kami malah melihat hal menarik berupa “Patung Buddha yang dimandikan” oleh pengunjung. Hal ini tentu asing bagiku, Melisa dan Ade namun menambah wawasan kami.

“Lihat tuh Mel, Patungnya dimandiin, gak kayak kita gak mandi-mandi”, kata Ade

Mendegar ocehan Ade membuatku geli tak karuan karena memang kami belum mandi sejak dari perjalanan Singapura-Yangon-Inle dan Bagan. Untukku sudah 4 hari tidak mandi-mandi dan rasanya “butuh air segar untuk mandi”. Untuk Ade dan Melisa mungkin 3 hari belum mandi, sehingga melihat patung dimandikan itu rasanya iri setengah mati. Kami merasa seperti kambing, disini kami merasa pejalan hina hihihi 😀

Old Bagan
Old Bagan
Old Bagan
Old Bagan

Setelah puas cuci mata Pagoda Old Bagan, kami keluar dan meneluri Pagoda lainnya di kawasan Old Bagan karena memang saat berada di OLD Bagan maka jarak satu meter terdapat Pagoda. Kami pindah dari satu Pagoda ke Pagoda lainnya, kali ini kami memilih mundur ke Pagoda yang di tepi jalan yang sempat menarik perhatian kami. Memang rata-rata Pagoda di Old Bagan itu gratis, beberapa memang bayar namun kalau membayar uang masuk Kota Bagan maka masuk ke Pagodanya gratis. Lah kami adalah turis gelap sehingga kami mainnya ke Pagoda gratisan. Kalau kami masuk ke Pagoda yang turistik bisa-bisa kami dideportasi karena tidak memiliki bukti pembayaran tiket masuk Kota Bagan. Tapi tenang, Pagoda di Old Bagan cukup banyak untuk menerima hasrat gratisan kami.

Kendala saat menghampiri Pagoda di Old Bagan adalah susah mencari jalan ke Pagodanya, bahkan Ade dan Melisa berpikir dua kali bagaimana cara masuk, akhirnya kalau ada sedikti tanda-tanda jalan maka kami lewat kesitulah kami. Jalanannya pun berdebu, terus semak-semak belukar sampai duri-duri. Kalau ada jalanan aspal itu adalah jalanan utamanya, kalau ke Pagodanya harus melewati jalanan kecil setapak.

Pencarian Pagoda di old Bagan kamipun termasuk impulsif banget, singgah di Pagoda yang kami sukai saja. Saking banyaknya Pagoda yang kami singgahi, kami sampai tak tahu nama Pagodanya. Kami hanya melihat sekilas karena untuk informasi mengenai Pagoda pun menggunakan Aksara Myanmar.

Bye untuk memahami sejarah dari Pagoda di Old Bagan.

Old Bagan

Waktu kami menjelajah Old Bagan sangat terik matahari namun kami sangat menikmati perjalanan kami. Bahkan kami rela melewati semak-semak belukar demi bisa mendekat dengan Pagoda. Bentuknya yang unik seolah berkata “come closer”.., wkakak

Keunikan Pagoda di Old Bagan adanya patung Buddha di dalam Pagoda. Kami sempat penasaran ada apa di dalam Pagoda, ternyata ada Patung Buddhanya walau tidak semua Pagoda memiliki Patung Buddha di dalamnya. Kadang membuat kaget, lihat di dalam apaan eh ada patungnya.

Yang parah saat aku kebelet pipis di Pagoda Old Bagan. Nyari WC kagak ada terus kebeletnya minta ampun. Terus si Ade nakut-nakutin “jangan pipis sembarangan”, apalagi di Pagoda. Akhirnya jadilah menahan pipis. Dan sungguh menahan pipis tidak sangat menyenangkan, apalagi punya teman yang gokilnya minta ampun malah semakin memicu. Belum lagi adegan lucu kami saat berpose di depan Pagoda bersama Ade, asli kami kurang kerjaan.

Kami bertiga memang agak kurang kerjaan dimana kami benar-benar menikmati perjalanan Old Bagan kami. Malahan pas capek setelah beradegan lucu di depan Pagoda, akhirnya kami bertiga malah ngerumpi di depan Pagoda sambil berteduh. Mulai dari curhat perjalanan, kehinaan selama perjalanan hingga masalah kerjaan yang tak jelas. Memang sangatlah luar biasa kami bertiga jauh-jauh ke Old Bagan ujung-ujungnya malah curcol di Pagoda.

Aku cukup beruntung berjalan dengan dua teman yang seru habis:)

Old Bagan
Old Bagan
Melisa di old Bagan
Old Bagan
Old Bagan

Rincian Pengeluaran Old Bagan, Myanmar Hari Ketiga

Taxi dari Highway bus Station ke Nyaung-U 24,000 KS/ 3 orang

Sewa e-bike seharian 12.000 KS/3 orang (2 e-bike)

Sarapan mie 2600 KS/3 orang

Minum kelapa 3000 KS/3 orang

Tiket bus Malam Old Bagan-Mandalay 22,000 KS/2 orang

Total Pengeluaran hari ketiga di Myanmar

8000 KS + 6000 KS + 870 KS + 1000 KS + 11,000 KS

= 26,870 KS 

Old Bagan

Tempat wisata yang dikunjungi di Old Bagan, Myanmar

Melihat Sunrise dengan latar belakang balon udara dan candi serta puas keliling Old Bagan dan menelusuri Candi-Candi di Old Bagan serta melihat sunset di Old Bagan

Salam

Winny

Mie di Obok-Obok Pakai Tangan di Old Bagan, Myanmar


Life was always a matter of waiting for the right moment to act.

By Paulo Coelho

Hello World

Februari, 2017

Setelah kami mendapatkan Golden Sunrise Bagan yang terkenal dengan Balon Udaranya, akhirnya kami memulai perjalanan di Bagan sesungguhnya. Seperti yang aku ceritakan sebelumnya di Cerita Mengejar Sunrise sudahlah tidak ada jalan naik ke Pagoda dan harus dibantu oleh dua orang turunnya pun kesusahan. Pas turun itu aku benar-benar merasa seperti “Atcacibang” (Bahasa Batak: seekor hewan bisa naik tak bisa turun). Kalau salah turun bisa BERABE maklum aku belum memiliki asuransi jiwa jadi aku tidak mau mati konyol. Untungnya aku berhasil turun dengan selamat dengan usaha yang tak biasa. Benar-benar jadi pelajaran berharga untuk tidak manjat-manjat di Pagoda. Barulah setelah berhasil turun aku berusaha memulihkan jiwa dari rasa takut akan ketinggian.

Satu persatu turis yang mengincar matahari terbit di Old Bagan mulai meninggalkan Pagoda, menyisahkan kami bertiga yang melakukan aksi gila dengan memutari Pagoda tempat kami mencari sunrise. Tentu saja ide gila ini diprakarsai oleh Ade. Aku dan Melisa hanya ngikut saja 😀

Yuk kita buat Video mengitari Pagoda dengan G* Pr* ku, katanya

Ternyata pusing-pusing Pagoda beramai-ramai itu seru sekali, benar-benar lagi liburan dan piknik. Setelah puas kami bertiga melanjutkan perjalanan dari Pagoda Law Kaw Shaung, Old Bagan. Tujuan selanjutnya kami adalah mencari sarapan pagi untuk mengisi perut kami yang sudah mulai memberontak. Namun jangan tanya kemana arah peralanan kami, kami hanya mengikuti kata hati. Kata hati kami menuntun kami ke arah New Bagan.

Dari perjalanan Pagoda Law Kaw Shaung, Old Bagan menuju ke New Bagan ternyata banyak sekali Pagoda disekelilingnya sepanjang mata memandang. Memang tak salah kalau Old Bagan merupakan “Rajanya Pagoda”. Jarak satu meter ada Pagoda, tidak ada pagar sehingga pecinta Pagoda bakalan puas di Old Bagan. Aku yang pecinta Pagoda ampe eneg saking banyaknya Pagoda di Old Bagan bahkan untuk mengunjunginya satu persatu tidak mungkin dalam sehari.

Kalau dilihat-lihat, Pagoda di Myanmar ini hampir mirip dengan Pagoda di Muara Takus, Riau walau aku belum pernah ke Riau. Bentuknya juga bervariasi, namun jangan samakan seperti Candi yang ada di Jawa seperti Candi Prambanan karena tidak begitu bentuknya. Saking banyaknya Pagoda di Old Bagan, kami memilih untuh singgah seenak hati kami saja. Dimana ada Candi yang kami lihat cantik dan bentuknya unik, maka kami akan singgah. Disinilah keseruan perjalanan di Myanmar kami, tanpa beban, meski cuaca terik dan panasnya Kota Bagan.

Sarapan Pagi di Old Bagan, Myanmar

Dalam perjalanan ke New Bagan, kami berhenti disebuh tempat peribadatan bernama Manuha Phaya. Di dekat Manuha Phaya terdapat pasar dadakan serta penjual makanan, sehingga sepeda motor listrik kami parkir disekitar Manuha hingga kami memutuskan makan saja di warung terdekat persis di depan Manuha Phaya. Yang dijual adalah mie dengan aneka bumbu serta tempatnya seperti warung, berlokasi tepat di pinggir jalan. Memang agak ngeri-ngeri sedap mencari makanan halal di Bagan, Myanmar.

Jadi pas melihat mie, pikiran kami adalah halal dan tak mungkinlah bumbunya mengandung B2. Anggap saja itu adalah pemikiran polos kami karena pas ditanya apakah halal atau tidak, penjual tidak mengerti Bahasa Inggris apalagi Bahasa Inggris kami pas-pasan. Alhasil kami seret bangku terus menaruh barang kami di meja sambil mengerumuni tukang penjual mie. Mie di Bagan mirip dengan Mie di Indonesia bedanya tekstur dan bumbunya. Kami memilih makan mie karena selera gitu melihatnya pas si Ibu penjual dengan lihai menyediakan makanana kepada pembeli.

Mie ala Old Bagan. Tekstur mie nya kayak di sini. Yang membedakan bumbunya. Sangat khas. Ada kemiripan dengan rempah yang di Thailand. Kuahnya pakai sup kepiting. . Yang mau ane ceritakan kisah pas beli mie ini.👇👇 . Selesai liat sunrise, kita cari sarapan. Banyak warung jual sarapan pagi. Kayak di Indonesia lah ya. Dan pilihan kita jatuh pada warung yang jual mi ini. Selera gitu liatnya. Giliran gw yg pertama pesan. Si ibu gak bisa bahasa Inggris, jadi main tunjuk2 aja. Yes No Yes No. Si Ibu udah bikin mie ke piring, dan dari gesturnya dia nanya mau pake apa. Karena banyak pilihan topping bumbu dan isi. Maksud ane, mau bilang campur aja semua. Ane tunjuk dah semua. Tangan ane muter2. Ade bantu dan mengeluarkan kata "mix" Bapak yang berdiri dekat ibu menyambut kata "mix" dan sambil menjelaskan dengan gerakan. Mungkin dipikiran kita sama dan kita senang langsung bilang YES YES. RIGHT. Si bapak langsung menjelaskan ke si Ibu. Hitungan detik, mie+isi lainnya yang udah dipiring langsung di "MIX" alias di obok-obok si Ibu pake 5 jarinya. Ane shock, speechless. Langsung bilang OK OK enough stop stop sambil senyum. Ade dan Winny ngakak abis dan bilang "untung bukan gw yang pertama Mel" Belajar dari yg pertama, makanan Winny dan Ade gak diobok2😂. Ane makan juga sampe habis. Lupakan obokan tapi mienya enak sih. Enak antara kelaperan atau karena obokan tangan si Ibu. . . . . . . . . . . #bagan #myanmar #food #foodtravel #photo #travelphotography #wanderlust #travel #traveller #backpacker #photography #foodgraphy #travelaroundworld #travelasia #noodles

A post shared by walk and run (@melisa.sianipar) on

Yang pertama kali memesan Mie adalah si Melisa. Mie yang dia pesan sudah berada di piring dan si ibu sebenarnya ingin menanyakan pakai bumbu apa karena banyak sekali bumbunya. Eh Melisa gak sadar Bahasa tubuh si ibu sehingga Melisa main tunjuk ke semua bumbu dengan tangan memutar serta berkata “mix”. Padahal si ibu cuma ngerti “Yes”, “No” aja. Alhasil si suami si Ibu mengerti arti “mix” mendekati si Ibu sambil menjelaskan permintaan si Melisa namun salah kaprah.

Awalnya kami kira si Bapak mengerti kalau permintaan Melisa adalah mencampur semua bumbu sehingga dengan semangat kami menjawab “Yes”, “Right”. Kemudian tak sampai hitungan detik, setelah bumbu dimasukkan ke Mie langsung mie si Melisa benar-benar di Mix tapi di mix “pakai tangan si ibu”. Yah Mienya diubek-ubek pakai tangan si ibu tanpa alas tangan. Langsung aku dan Ade tertawa terbahak-bahak melihat muka Melisa yang speechless sambil berkata OK Enough Stop. Hahahahahahhaa 🙂

Mie Ubek-ubek pakai tangan di Bagan, Myanmar

Kami berdua dengan kompakan mengatakan “untung bukan gua yang pertama Mel”. Memanglah kami ini teman apa, udahlah si Melisa setengah jijik melihat Mienya diubek pakai tangan malah kami ketawain sampai mau pipis rasanya. Asli adegan ini membuat kami tertawa puas melihat kejadian konyol ini. Tambahan kami malah godain si Melisa hati-hati kena diare, bawa obat diare gak. Anehnya meski di ubek pakai tangan, mie si Melisa habis juga. Entah doyan apa lapar, tapi yang pasti mienya emang enak. Bahkan ada sup kepitingnya lagi, dan diberikan cuma-cuma.

Belajar dari pengalaman Melisa, aku dan Ade menunjuk bumbu kami tanpa ada kata Mix sehingga mie kami berhasil tanpa ubekan alias obok-obok tangan dari si ibu penjual. Memang kebiasaan penjual di Myanmar ketika ke warung saat menyediakan makanan maka penjual akan mengaduk makanan dengan tangan kosong kemudian diberikan kepada pembeli. Jadi kalau ke Myanmar jangan lupa membawa obat diare, karena iya kalau penjual makanannya ingat cuci tangan, kalau kagak mah entah apa-apa yang dipegangnya. Untungnya pas si Ibu yang mengubek Mie si Melisa cuci tangan sih.

Tuh Mel dia cuci tangan, kata Ade

Aku masih senyum-senyum sendiri melihat ketidakterimaan mienya si Melisa diubek pakai tangan.

Mie Old Bagan, Myanmar (Photo by Melisa)

Setelah puas makan mie, kami memesan kelapa muda yang kebetulan ada disekitar penjual mie obok-obok alias diubek-ubek pakai tangan. Minum kelapa dengan lingkungan Bagan yang agak dusty benar-benar surga tersendiri. Apalagi setelah makan mie maka minum kelapa nikmat sekali. Setelah kenyang barulah kami membayar sarapan kami. Untuk harga sarapan mie kami 2600 KS/3 orang dan harga kelapa 3000 KS/3 orang.

Catatan:

Ks adalah singkatan mata uang Myanmar bernama Kyat Myanmar biasa disingkat KS ada yang menyingkat MYK. Untuk di kurs Rupiah tergantung rate namun agar mudah tinggal dibagi satu nolnya, Untuk 1 KS = Rp10-Rp11.

Sarapan pagi di Old Bagan

Setelah kenyang makan, kami melanjutkan ke Manuha Phaya. Masuk ke dalam Manuha Phaya sendal harus dilepas dan begitu banyak pengunjung yang mayoritas beribadah. Di dalam Manuha Phaya terdapat sleeping Buddha yang mengingatkanku akan Hatyai, Thailand. Tentu saja sleeping Buddha bukan seperti yang di Bangkok, berbeda. Disini si Melisa sangat semangat mengelilingi Manuha Phaya. Mungkin ini efek dari Mie Ubekan tangan si Ibu Myanmar sehingga dia kelebihan energi. Aku dan Ade mengitari sekedarnya saja dan kurang bersemangat, maklum kami sudah melihat sleeping Buddha dan standing Buddha yang cukup oke, sehingga yang biasa saja membuat kami tidak begitu antusias.

Namun walau demikian kami menganggap bonus mengunjungi Manuha Phaya, Old Bagan karena ibaratnya pergi ke pelosoknya Old Bagan malah menemukan hal baru. Apalagi kondisi ramai-ramainya warga lokal, tentu kami penasaran ada apa sampai banyak yang mendatangi Manuha. Ternyata kebanyakan pengunjung untuk beribadah, jarang ada turis, kalau ada itupun yang nyasar atau penasaran dengan keramain yang ada di Manuha.

Manuha Phaya
Manuha Phaya

Setelah dari Manuha kami pun melanjutkan perjalanan Old Bagan. Pagi hari kami diisi dengan pengalaman nasi ubekan tangan. Ternyata backpackeran ke Myanmar seru karena orang yang dibawa juga seru 🙂

Salam

Winny

Mengejar Sunrise di Old Bagan, Myanmar


Every sunrise gives you a new beginning and a new ending. Let this morning be a new beginning to a better relationship and a new ending to the bad memories.

By Norton Juster

Hello World

Myanmar, Februari 2017

Nya, pokoknya bagaimanapun caranya kita mesti dapat sunrise Bagan 
dengan balon udaranya, begitu kata Ade

Iya misi kami ke Myanmar memang ingin melihat matahari terbit dari ribuan Pagoda di Old Bagan, Myanmar lengkap dengan balon udaranya. Aku pun tentu ingin sekali melihat hot balonnya Old Bagan setelah gagal melihat hot ballon di Cappadocia, paling tidak bisa mengobati rasa kecewa setelah gagal di Turkey.

Untuk itulah kami sengaja memesan tiket bus dari Inle berangkat jam 8 malam agar sampai di Bagan jam 3 pagi. Saat sampai di Terminal Bus Bagan yang pertama kami lakukan adalah memesan tiket pulang khususnya Melisa. Aku dan Ade menemani Melisa mencari bus ke Yangoon karena setelah seharian menjelajah Bagan maka Melisa kudu pulang ke Yangoon sementara aku dan Ade masih melanjutkan perjalanan ke Mandalay.

Pembelian tiket bus kami pun jatuhnya on the spot, tapi jangan khawatir banyak kok loket bus yang buka meski kedatangan kami itu pagi sekali. Buktinya Melisa dapat memesan tiketnya ke Yangoon, sementara aku dan Ade belum membeli tiket kami karena waktu kami lebih fleksibel daripada Melisa.

Saat di terminal Bagan, kami sempat galau untuk transportasi kami ke Bagan karena ada 3 pilihan, yaitu

1. Dengan menyewa mobil seharga 60,000 Ks/3 orang dengan catatan kami tidak perlu berpanas-panas ria dan tidak perlu membayar uang masuk Kota Bagan seharga 20,000 KS/orang dan diantar dari dan ke terminal Bagan.

2. Dengan naik taxi ke tempat penyewaan e-bike kemudian nyewa e-bike seharian dengan catatan kami mengeluarkan dua biaya, sewa taxi dari dan ke terminal Bagan serta sewa e-bike

3. Dengan menyewa sepeda dari terminal seharian dengan catatan dipastikan kaki kami pasti gempor karena jarak yang jauh.

Akhirnya opsi yang kami pilih adalah pilihan kedua dengan naik taxi ke tempat penyewaan e-bike terdekat dengan catatan mengatakan kepada pihak driver taxi agar kami tidak melewati petugas pembayaran Kota Bagan.

Sunrise di Bagan

Perlu diingat bahwa untuk masuk ke Kota Bagan, maka turis wajib membayar uang masuk sekitar 20 dollar perorang atau setara dengan 20,000 KS. Dengan membayar uang masuk Kota Bagan, maka bisa masuk gratis ke beberapa Pagoda di Bagan.  Kami sempat hanya ingin membayar 5,000 KS/3 orang tapi si driver taxi hendak membawa kami ke petugas untuk membayar, akhirnya cincai-cincai dengan driver taxi kami agar kami tidak melewati petugas. Si Bapak driver pun tahu jalan tikus tanpa harus membayar uang masuk Kota Bagan, sehingga hasil cincai-cincai tadi,  biaya taxi dari Highway bus Station ke Nyaung-U 24,000 KS/ 3 orang.

Artinya kami turis gelap ke Bagan!

(please jangan ditiru karena belum tentu seberuntung kami).

Akhirnya kami bertiga tidak membayar 20,000 Ks/orang.

Perjalanan dari Highway bus Station ke Nyaung-U di pagi buta benar-benar blank, tanpa tahu jalan, semua kami serahkan ke si Bapak untuk mencari tempat penyewaan sepeda motor. Padahal kalau si Bapak bawa kami entah kemana kami juga tak tahu. Saat perjalanan dari terminal ke Nyaung-U,  si Bapak berusaha merayu kami untuk menyewa taxinya seharian 600,000 Ks kepada kami namun kami tolak karena beliau tidak mau 500,000 Ks.

Akhirnya sampai di tempat penyewaan e-bike, kami mendapat harga sewa e-bike seharian 12.000 KS/3 orang (2 e-bike. Tentu saja penyewaan e-bike di jam 3 pagi masih ada yang buka, benar-benar beruntung itupun hasil gedar gedor pintu si empunya dengan bantuan Pak Driver Taxi, meski dia sedikit kecewa tidak berhasil merayu kami menyewa taxinya. Pemilihan penyewaan 2 e-bike pun ada alasannya karena kami hanya bertiga saja, artinya aku bisa dibonceng Melisa atau Ade untuk menghemat biaya sewa e-bike.

Catatan: Untuk mengelilingi Bagan transportasi umum berupa tuk-tuk, taxi, mobil pribadi, sepeda atau  sepeda motor listrik (e-bike). Setiap mode transportasi memiliki kelebihan dan kekurangan tersendiri.

Awalnya kami sempat ragu naik e-bike karena takut sudah jauh eh bateri habis, kan bisa berabe pas motor mogok karena bateri habis. Kan gak lucu mendorong sepeda ke Nyaung-U dari Old Bagan. Tapi tenang, ternyata e-bike bisa tahan 8 jam sehingga kalau hanya keliling Old Bagan dan New Bagan lumayan cukup serta kalau kehabisan baterai atau ada apa-apa, tinggal telephon yang punya langsung siap sedia membantu.

Sunrise di Old Bagan

Dengan 2 buah e-bike lah pada jam 3.30 pagi kami memulai mencari spot Sunrise di Old Bagan. Padahal itu kami baru nyampe dan jaraknya masih agak jauh serta untuk jalan, jujur saja kami buta sama sekali. Kami hanya mengadalkan peta buta dari tempat penyewaan sepeda motor listrik serta peta offline Bagan. Cara kami mencari spot sunrise pun seperti orang kesetanan, sempat aku dibonceng Melisa kemudian aku membonceng si Melisa kemudian ada saatnya si Ade yang bonceng aku dan ada saatnya Ade bonceng Melisa, ganti-gantian. Tapi yang pasti saat aku membonceng si Melisa, si Melisa paling anti.

Sini Win, aku aja yang bawa, aku takut dirimu yang nyetir, 
begitu kata Melisa

Tidak hanya itu ada beberapa spot yang mewajibkan membayar terpaksa kami skip karena kami adalah turis gelap tanpa tiket masuk. Alhasil kami sempat seperti orang linglung mencari spot sunrise di Bagan.

Nya, pokoknya kalau aku gak dapat Sunrise di Bagan, aku sedih, 
begitu kata Ade

Akhirnya tak heran pas naik e-bike kami bertiga ngebut seperti orang kesurupan. Bahkan aku dan Ade jatuh dari e-bike sementara si Melisa tidak tahu kalau kami dibelakang terjatuh. Belum lagi kami harus melewati semak-semak belukar, akhirnya jam 5 pagi kami menyerah dan mengikuti turis asing hingga kami berhenti di suatu Pagoda.

Dan kami beruntung mendapatkan apa yang kami cari 🙂

Sunrise Old Bagan

Awalnya Ade ingin memanjat Pagoda untuk melihat sunrise Bagan dengan balon udara namun karena tidak ada seorangpun kesana dan susah akhirnya kami masuk ke Pagoda yang ramai orang bulenya. Tentu saja di peta buta katanya “free hot spot sunrise Bagan“, namun tetap bayar pas naik ke atas Pagoda dengan biaya “seikhlasnya”. Naik ke Pagoda pun tantangan tersendiri karena tangganya yang kecil serta gelap, tanpa cahaya, hanya handphone sebagai andalan. Tiba di atas Pagoda ternyata “ramai”, ramai turis.

Turis yang menunggu Sunrise Old Bagan, seperti kami!

Nah pas diatas ternyata ada lagi puncak Pagoda, ada 2 orang bule yang naik ke atas dengan peralatan kamera yang super lengkap namun lucunya satu temannya tidak bisa naik, akhirnya dibantu si Ade untuk manjat. Disini si Ade kumat mengejek sang bule, katanya “bule tak bisa manjat padahal badannya kekar”. Si Melisa saat mancat Pagoda juga lihainya “Masyaallah”, cekatan padahal miring serta terjal dan kecil. Naiknya gampang gitu, belum si Ade juga naik mudah. Yang paling parah adalah aku, tahu sendiri aku takut dengan ketinggian eh malah mencoba naik. Sumpah itu saat naik darahku hampir muncrat, dan tak berani naik. Hingga dibantu oleh Ade dan Melisa dan dua orang entah siapa. Pas diatas rasanya aku seperti atcacibang (nama istilah hewan di Batak yang tidak bisa aku bahasa Indonesiakan tapi artinya bisa naik tapi tidak bisa turun). Jangan tanya aku sungguh tak berani lihat bawah dan dalam hati “Mak, gimana turun ini”.

Nama Pagoda yang kami naiki itu adalah Law Ka Ou Shawng, dan dari 2 orang jadi 5 orang hingga ramai sekali di top op top Pagoda. Bahkan kami sempat disenter oleh petugas untuk turun sambil diteriakin dari bawah “oy” padahal sunrise belum nongol. Eh turis yang sudah ramai termasuk kami bukannya turun malah bersembunyi di balik Pagoda. Beberapa ada yang turun dan beberapa termasuk kami sungguh bebal. Memang tidak baik sih naik ke atas puncak Pagoda selain dari faktor safety juga takut Pagodanya roboh.

Jadi jangan ditiru mancat-mancat Pagoda demi matahari terbit ya!

Trip Old Bagan, Myanmar

Rencana Rincian Biaya di Bagan

Date Time Activity Cost Remarks
25-Feb-17 03.00-03.30 Arrived and prepare for a long journey 20000 MYK Entrance Fee
25-Feb-17 03.30-04.00 Go to E bike Rent center by Taxi 10000 MYK  
26-Feb-17 04.00-05.00 Rent E bike 6000 MYK  
25-Feb-17 05.00-05.30 Hunting sunrise still trying to find best place to see sunrise at bagan
25-Feb-17 05.30-08.00 Enjoy Sunrise and Air baloom
25-Feb-17 08.00-17.00 Explore Bagan
25-Feb-17 17.00-18.30 Hunting sunset at Shwezigon Pagoda
25-Feb-17 18.30-19.30 Back to e bike rent center
25-Feb-17 19.30-20.00 Prepare for Next Destination (take bath, charge gadget, charge camera)
25-Feb-17 20.30-02.30 Go to Mandalay by Ok Express Minibus 9000 MYK
Total Cost 45000 MYK

Tidak lama kami menunggu balon dari ribuan Pagoda di Old Bagan dengan latar matahari terbit. Saat balon udara keluar tiba-tiba Melisa Panik karena maklum dia kamera baru.

Melisa: Winny, gimana ini settingan cameraku
Aku: Sorry Mel, aku gak tahu, cameraku N**kon, dirimu kan Ca***
Melisa: aduh gimana ini Win, mulai gerasak gerusuk
Aku: melirik bule disamping kami yang tadi ditolong si Ade dengan merk yang sama dengan kamera canggih lengkap dua lensa, Mel minta ajarin si bule itu kan kamera kalian sama
Melisa: Win, gak berani, minta tolong lah Win tanya dia
Aku: Akhirnya kasihan melihat si Melisa akupun ngomong “Sir, can you please help my friend to setting her camera”
Si Bule: Okay
Melisa: Tersenyum manis karena dibantu si bule settingin kamera barunya dan dapat hot ballonnya

Meninggalkan Melisa yang asik dengan belajar dengan Bule, aku dan Ade malah mencoba mendapatkan photo dengan Hot Balon Bagan lengkap dengan latar belakang balon udara, sunrise dan Pagoda Old Bagan.

Ternyata menikmati Sunrise di atas Pagoda Law Ka Ou Shawng dapat membuat senyum mekar kami mengembang, tidak sia-sia kami jatuh dari E-bike 😀

Sunrise Bagan

Actual Rincian Pengeluaran Old Bagan, Myanmar Hari Ketiga

Taxi dari Highway bus Station ke Nyaung-U 24,000 KS/ 3 orang

Sewa e-bike seharian 12.000 KS/3 orang (2 e-bike)

Sarapan mie 2600 KS/3 orang

Minum kelapa 3000 KS/3 orang

Tiket bus Malam Old Bagan-Mandalay 22,000 KS/2 orang

Total Pengeluaran hari ketiga di Myanmar

8000 KS + 6000 KS + 870 KS + 1000 KS + 11,000 KS

= 26,870 KS 

Tempat wisata yang dikunjungi di Old Bagan, Myanmar

Salam

Winny

Bertemu dengan Wanita berleher Panjang di Inle, Myanmar


Success is about dedication. You may not be where you want to be or do what you want to do when you’re on the journey. But you’ve got to be willing to have vision and foresight that leads you to an incredible end.

By Usher

Hello World!

Myanmar, 2017

Setelah melakukan aktivitas seharian di Danau Inle dimulai dari subuh-subuh demi mengejar matahari terbit untuk melihat Nelayan Myanmar dengan gaya khas menangkap ikannya, mengunjungi pasar tradisional ala Myanmar untuk membeli Longyi serta melihat pagoda warna-warni, ditambah dengan mampir ke setiap tempat pembuatan kerajinan tangan mulai dari pembuatan tembaga, pembuatan oleh-oleh seperti ukiran, gantungan kunci, patung dari kayu, sampai hasil tenunan dari eceng gondok maka kunjungan yang kami tunggu-tunggu adalah ingin bertemu dengan Wanita berleher panjang tepatnya Pyae Thar Tun Pa Taung, hand weaving centre. Bahkan demi LongNecked women alias wanita berlehar panjang Melisa rela membatalkan kunjungannya ke Mandalay, tentu saja pilihan itu merupakan pilihan tepat baginya.

LongNecked women alias wanita berlehar panjang Myanmar sebenarnya bukan karena lehernya yang panjang namun karena di lehernya memiliki kalung yang disusun  dari besi/perunggu sepanjang lehernya, sehingga lehernya tidak kelihatan sama sekali. Pas melihat lehernya dipastikan yang dominan adalah kalungnya dengan warna kuning yang menyilau. Pakainnya pun unik dengan pakaian khas serta tak hanya leher, di kaki juga terdapat kalung yang melingkar kaki bak cincin kaki.

Mamakai kalung berupa cincin melingkar di leher sudah menjadi tradisi kuno dari suku Kayan, suku tertua di Myanmar. Saat anak gadis masih muda sekitaran umur 5 atau 10 tahun,  mereka akan memulai memakai kalung perunggu di leher dan di kaki, pemakaian jumlah kalungnya bisa 6 sampai 10 kemudian akan bertambah panjang seiring penambahan usia gadis tersebut. Alasan pemakaian kalung pun memiliki banyak versi, ada versi yang mengatakan kalau wanita Myanmar menutupi lehernya agar terlihat cantik, namun ada juga versi lain yang mengatakan untuk melindungi dari serangan binatang. Namun  seiring berkembangnya zaman maka wanita Myanmar pada saat sekarang ini sudah jarang memakai kalung yang tersusun sepanjang lehernya. Alhasil populasi wanita berleher panjang sudah menjadi langka sehingga membuat turis penasaran dengan keunikan wanita berleher panjang. Bisa dibilang bertemu dengan Myanmar LongNecked women merupakan top list  banget saat liburan atau berwisata di Myanmar.

Inle

Aku sendiri mengira kalau wanita berleher panjang hanya bisa ditemukan di Chiang Mai, ternyata siapa sangka kami beruntung bisa bertemu dengan wanita berleher panjang di Myanmar. Bak kata kami mau berburu Pagoda di Bagan malah menemukan LongNecked women, itu namanya “beruntung”. Habis dulu pernah punya niat ke perbatasan Thailand demi bertemu dengan wanita Myanmar yang unik namun baru berjodoh pas di Inle.

Pas sampai di sebuah rumah yang dari kayu, di papan ada gambar wanita berleher panjang. Lalu turun dari kapal, aku, Melisa dan Ade masuk ke dalam rumah. Di dalam rumah banyak terdapat hasil tenunan yang dijual, nah disinilah 3 wanita berleher panjang sedang menenun. Anehnya 3 kursi sudah disediakan untuk pengunjung bahkan keranjang amal dari plastik untuk merekapun sudah disiapkan. Artinya sudah dipastikan sudah menjadi komersial untuk photo dengan LongNecked women Myanmar. Kalau berphoto maka bisa memberikan uang seikhlasnya yang sudah tersedia.

Bisa dibilang bahwa kunjungan kami ke LongNecked women Myanmar merupakan puncak perjalanan Inle kami setelah gaya Nelayan Inle yang fenomenal. Hanya saja aku tidak pernah membayangkan bahwa para LongNecked women Myanmar ini kami temukan di area penjualan tenun. Jadi para wanita berleher panjang sengaja banget diberi kerjaan untuk menenun untuk menjadi daya tarik wisatawan.

Wanita berleher panjang Myanmar ini sangat ramah, bahkan tersenyum kepada kami para wisatawan. Mungkin mereka tahu betul bahwa kami ingin berphoto dengan mereka atau sudah biasa dengan turis yang ingin photo. Bahkan untuk berphoto dengan LongNecked women antirannya panjang. Karena dipastikan wisatawan juga memiliki antusias yang sama.

Jujur agak segan meminta photo dengan mereka karena pada dasarnya mereka sedang bekerja sehingga takut mengganggu. Namun dengan ramah salah seorang ibu LongNecked Myanmar mengajakku masuk mendekatinya. Malahan aku dikasih kursi ddan duduk disamping mereka.

Mel, ambil photo cantik ya begitu seruku ketika bersama Long-Necked Myanmar

Eh tiba-tiba seorang cewek dengan muka bule berkata

"Dari Indonesia ya, mama saya juga dari Indonesia, begitu katanya dengan ramah".

Wow, siapa sangka dengan ramah gadis itu menyapa kami duluan ketika mendengar kami berbicara bahasa Indonesia, sontak kami ngobrol panjang dengannya. Kapan lagi ketemu muka bule namun cinta Indonesia padahal seriusan deh pas di Inle itu kami itu agak memalukan apalagi pas edisi photo narsis. Bisa saja kan dia pura-pura gak mengerti bahasa kami, eh ternyata dengan ramah malah kami diajak kenalan duluan.

Nama gadis itu Bella, yang memiliki ayah kebangsaan Amerika dan Ibu kebangsaan Indonesia tapi tinggal di Settle dan Kuliah di Hong Kong. Bella sedang liburan dengan teman-temannya di Myanmar. Bahkan dia sempat menunjukkan photo perjalanannya di Bagan, lengkap dengan hot ballon sementara kami baru keesokan harinya.

Bagaimana kamu bisa berhasa Indonesia, tanyaku dengan penasaran
Ibu saya mengajari saya karena Bahasa Indonesia sangat penting, begitu katanya.

Serius ya bertemu dengan sesama yang bisa Bahasa Indonesia itu di negeri orang membuat rasa Nasionalisme semakin menggebu-gebu. Apalagi Bella rela meningglkan teman-temannya sementara demi kami. Dia juga mau kami ajak berphoto bersama dengan Long neck women Myanmar 🙂

Long Neck Women Myanmar

Tidak sampai disitu, si Bella sempat membuatku malu tak kalah panjang ketika aku melihat bule yang berpakaian Longyi dan ingin berphoto dengan mereka. Padahal segerombolan cowok ini sudah kami jumpai saat di Pagoda warna-warni, waktu itu aku nunjuk ke Longyi yang mereka pakai. Aku malah sempat salah satu dari mereka berkata “what this girl point at?.

Seolah-olah aku nunjuk ke bagian xxx nya.. Eh malah ketemu lagi di rumah wanita berleher panjang. Mungkin ini namanya jodoh hihiih 😀

Hey guys, my friend want to take photos with you, 
begitu kata Bella kepada mereka
Okay, jawab mereka

Tentu saja membuatku malu minta ampun! Akhirnya dengan salah tingkah akupun berphoto dengan mereka. Sumpah adegan ini amat sangat memalukan bagiku!

Rasanya urat maluku mau lepas saking malunya. Ternyata untuk ukuran “Winny” yang suka jalan-jalan bisa juga malu tak kepayang. Sampai-sampai si Melisa dan Ade tertawa ngekeh melihat tingkahku yang malu-malu kucing.

Akhirnya pamitan dengan para gerombolan bule dengan Longyi akhirnya salah satu dari mereka senyum manis kepadaku lantaran dia telah mengunjungi Bukit Lawang karena dia sempat penasaran dari mana asal kami. Pas kami mengatakan Indonesia dia langsung dengan bangga ” I have been there last week”.

Mungkin si kawan ini merasa aneh tapi yasudahlah yah yang penting berphoto dengan bule pakai sarung hahaha 😀

Setelah adegan memalukan, akhirnya Bella pamitan pulang juga. Nah pas pamitan ternyata Bella mencium pipi kiri si Ade, eh si Adenya malah minta nambah cium pipi kanan. wkkwkwkwkwkwk 😀

Tambuh ciek dia 😀

Dia menahan tangan kanan Bella sambil memberikan pipi kananya. Tentu saja aku dan Melisa menahan tawa. Artinya tidak hanya aku saja yang mengalami “kehinaan”.

Dalam hatiku untung ada teman! teman malu yeeee!

Jadi begitulah cerita pengalaman bertemu dengan wanita berleher panjang kami yang berakhir dengan adegan “kehinaan”, tapi penuh kenangan. Kapan lagi aku merasa malu!! 😉

Baca juga

Kehinaan di Myanmar

Backpacker di Myanmar

Inle, Myanmar

Rincian Perjalanan Inle, Aktual

Bayar uang masuk ke Inle, Myanmar USD 10/orang

Naik tuk-tuk ke Muhi House 3000 KS/3 orang

Sewa Boat seharian Boat Tour Special Big Tour sunrise to sunset sightseeing Inle 30,000 KS/3 orang

Sarapan gorengan di Pasar Inle 2300 KS/3 orang

Makan siang di Inle 8000 KS/ 3 orang

Tips boat 1700 KS/ 3 orang

Tips ke Nelayan Inle 5000 KS/3 orang

Tiket Bus malam dari Inle ke Bagan 18,000 KS/orang

Total Pengeluaran hari kedua di Myanmar

$10 + 1000 KS + 10,000 KS + 760 KS + 570 KS +  1600KS + 18,000 KS = $10 dan 31,930 KS

= 13640 KS + 31930 KS

= 45,570 KS

Tempat wisata yang dikunjungi di Inle, Myanmar

Sunrise melihat fisherman lengkap dengan gayanya yang unik, Taung Toe untuk melihat Market (Pagoda), In Paw Khon untuk melihat Silk and lotus weaving, Nampan untuk melihat Floating Village, Tobbaco and making boat, Phaung Daw OO Pagoda untuk melihat Buddha Image, Shwe in Den Pagoda untuk makan siang, Ywa Mah untuk melihat Long Neck Women Golad and Silver Umbrella, Kaylar (fisherman Village) dan tomato garden, Maing Thauk dan Nga Phe Chaung Monestery.

Salam

Winny

Memberi makan Merpati di Phaung Daw Oo Pagoda, Inle Myanmar


I wanna write ‘I miss you’ on a rock and throw at your face so you know how much it hurts to miss you.
By Anonymous

Je vous souhaite un bon séjour! #travelling #myanmar #burma #travelblog #travel ✈️Myanmar 📷Ade Pb

A post shared by Winny Marlina (@winnymarlina) on

Hello World!

Inle, 2017

Aku, Ade dan Melisa berjalan tergopoh-gopoh keluar dari Pagoda warna-warni sambil menuruni perbukitan melalui anak tangga dari semen. Pemandangan kiri kanan kami adalah pasar tradisonal yang cukup menarik, menarik karena kami bisa melihat kegiatan warga lokal sehari-hari. Belum juga sampai ke dermaga ala-ala itu, Melisa dan Ade harus berhenti sebentar ke toilet. Perlu uang beberapa Kyatt Myanmar agar bisa masuk kedalam toilet, sementara aku diluar saja menjaga barang-barang mereka. Akhirnya kamipun berjalan melewati pasar berlantai tanah menuju ke perahu. Didalam perahu, kami duduk manis dan menyerahkan tujuan wisata berikutnya kami kepada dua guide dengan umur yang sekitar SMP dan SMA. Sebenarnya Mrs Muh Kyi telah memberikan peta untuk kami dengan penomoran tujuan wisata kami namun tetap saja kami mengacak tujuan wisata kami. Maklum kami mah gampangan, gampang dibawa-bawa 😉

Karena hari sudah mulai siang, perut kami sudah mulai keroncongan, rasa lapar tidak bisa dibohongi. Namun kami harus menahan lapar beberapa saat karena perahu kami sempat berhenti di sebuah pembuatan tembaga dan perak.  Pembuatan tembaga/ perak tersebut masih tradisional, seorang Bapak menggunakan alat sederhana dengan sistem pembakaran ala kadarnya lalu memperlihatkan cara dia membuat perak. Anehnya yang terlintas dibenakku saat si Bapak menunjukkan kelihainnya dalam mengolah perak/tembaga adalah Kota Yogyakarta, walau belum pernah langsung melihat proses pembuatan tembaga di Yogyakarta entah kenapa aku memikirkan Yogya.

Sayang, kami tidak lama-lama di tempat pengrajin perak/tembaga walau kami disuguhi teh baknya seorang tamu, karena kami harus mencari makanan. Alhasil kami tidak membeli apa-apa dari hasil kerajinan tangan di tempat pengrajin tembaga. Maklum selain menguber waktu, harganya lumayan mahal untuk kami yang backpacker ke Myanmar ini!

Kamipun keluar dari pengrajin dan melajutkan perjalanan.

Di dalam perahu si Ade memberikan Bahasa Isyarat kepada dua guide kami “ food”, begitu katanya sambil mengepal tangannya ke mulut seolah mau makan kepada mereka. Membawa si Ade saat perjalanan memang ada gunanya, karena tingkahnya yang lucu, dia juga bisa mencairkan suasa meski itu cuaca panas dan perut sudah memberontak. Sedikit lupa dengan caranya melawak 😀

Sontak mereka mengerti dan membawa kami ke sebuah restaurant disamping Danau, dekat dengan Phaung Daw Oo Pagoda, tempat dimana memberikan makan kepada merpati.

Setelah kapal bersandar, kamipun melewati jembatan dari kayu dengan pemandangan Danau dengan warna cokelat dibawahnya. Kalau aku bilang warna Danau ini lebih mirip seperti sungai dibatasi oleh sisi kiri kanan. Perlu usaha keras untuk menuju sebuah restauran yang berwarna cokelat dari kayu, berjalan hati-hati di jembatan tadi. Unutk lokasi makannya pun berada di lantai 2, disinilah kami memesan makanan.

Pesananku jatuh kepada yang berkuah-kuah sementara Melisa dan Ade lebih suka menjelajah makanan khas Myanmar walau ujung-ujungnya mereka memesan nasi. Selang beberapa waktu pesanan kamipun datang dengan rasa yang lumayan enak walau harganya sebelas dua belas dengan harga di PI/GI Jakarta. Hanya saja untuk makanan dengan gaya restauran, lumayan ramah di kantong karena kami menganggapnya tempat wisata yang notabenenya selalu mahal. Makan siang di Inle ini kami dikenai biaya 8000 KS/ 3 orang.

Untungnya aku dan Ade bukanlah orang yang tidak susah untuk makan, mengingat kami berdua adalah Muslim dan negara yang kami kunjungi adalah Burma. Sepanjang bukan B2, atau sejenisnya mah kami makan. Paling penting kami usahakan memilih sayuran apabila kami merasa curiga jika itu daging-dagingan.

Tapi so far mau makan apa selama perjalanan di Myanmar, baik-baik saja!

Makan siang di Inle

Rencana Rincian Perjalanan Inle

Date Time Activity Cost Remarks
24-Feb-17 05.00-05.30 Arrived at Inle Lake Bus Station 10000 MYK Entrance Fee Inle Lake (I hope they notice we are local people)
24-Feb-17 05.30-06.00 On the Way to Mr. Muh Kyi House 3000 MYK location is “smiling moon hostel”
24-Feb-17 06.00-06.30 Prepare for Explore Inle lake, Rent Boat 15000 MYK
24-Feb-17 06.30-07.00 hunting sunrise and Leg Rowing attraction
24-Feb-17 07.00-07.15 Go To Shwe Inn Dein
24-Feb-17 07.15-08.00 Explore Shwe Inn Dein and Breakfast 3000 MYK
24-Feb-17 08.00-08.15 Go to Phaung Dau Ooo Pagoda
24-Feb-17 08.15-09.00 Explore Phaung Dau Ooo Pagoda and see pigeon atraction 500 MYK buy c500orn for pigeon
24-Feb-17 09.00-09.15 Go to monastery  Mya Thein Tan
24-Feb-17 09.15-10.00 Explore Monastery Mya Thei Tan and go to hill to see inle lake landscape
24-Feb-17 10.00-10.15 Go to thaung tho pagoda
24-Feb-17 10.15-11.00 Explore thaung tho pagoda
24-Feb-17 11.00-11.15 Go to Nga phe Kyaung
24-Feb-17 11.15-12.00 Explore Nga Phe Kyaung and see jumping cat atraction Biksu school 🙂
24-Feb-17 12.00-12.30 Go to Restaurant inle lake side
24-Feb-17 12.30-13.30 Lunch
24-Feb-17 13.30-14.00 Go to Merchandise market
24-Feb-17 14.00-16.00 explore merchandise market, Silk & lotus weaving, Gold & silver smith, Inle traditional handicraft & cheroot
24-Feb-17 16.00-16.30 Go to Inle traditional umbrella workshop
24-Feb-17 16.30-17.00 See suku Kanya Padaung in Inle traditional umbrella workshop
24-Feb-17 17.00-17.30 Floating Market
24-Feb-17 18.00-18.30 Prepare for go to Bagan (take a bath at Mr. Muh Kyi House) 1000 MYK
25-Feb-17 19.00-03.00 Go to bagan by Bus 13000 MYK bus by Minh Thar
Total Cost 45500 MYK
Melisa dan Ade di Inle

Rincian Perjalanan Inle, Aktual

Bayar uang masuk ke Inle, Myanmar USD 10/orang

Naik tuk-tuk ke Muhi House 3000 KS/3 orang

Sewa Boat seharian Boat Tour Special Big Tour sunrise to sunset sightseeing Inle 30,000 KS/3 orang

Sarapan gorengan di Pasar Inle 2300 KS/3 orang

Makan siang di Inle 8000 KS/ 3 orang

Tips boat 1700 KS/ 3 orang

Tips ke Nelayan Inle 5000 KS/3 orang

Tiket Bus malam dari Inle ke Bagan 18,000 KS/orang

Total Pengeluaran hari kedua di Myanmar

$10 + 1000 KS + 10,000 KS + 760 KS + 570 KS +  1600KS + 18,000 KS = $10 dan 31,930 KS

= 13640 KS + 31930 KS

= 45,570 KS

Tempat wisata yang dikunjungi di Inle, Myanmar

Sunrise melihat fisherman lengkap dengan gayanya yang unik, Taung Toe untuk melihat Market (Pagoda), In Paw Khon untuk melihat Silk and lotus weaving, Nampan untuk melihat Floating Village, Tobbaco and making boat, Phaung Daw OO Pagoda untuk melihat Buddha Image, Shwe in Den Pagoda untuk makan siang, Ywa Mah untuk melihat Long Neck Women Golad and Silver Umbrella, Kaylar (fisherman Village) dan tomato garden, Maing Thauk dan Nga Phe Chaung Monestery.

Melisa di Pagoda

Setelah kenyang, dengan berat kaki kamipun melangkah ke Pagoda yang terletak di seberang Danau. Pagoda itu terlihat menarik dari atas restoran, mirip seperti Pagoda di Thailand. Pagoda itu bernama Phaung Daw Ooo Pagoda. Kesanalah kami berjalan melewati jembatan kayu yang sama. Dari jembatan ke Phaung Daw Ooo Pagoda terdapat pasar yang menjual souvenir ala Myanmar. Namun kami tentu saja hanya melihat-lihat saja sambil lewat jalan ke Pagoda. Belum sampai di depan Pagoda, ibu-ibu lokal menjajakan jagung kepada kami untuk diberikan kepada merpati. Namun kami tetap berjalan lurus masuk kedalam Pagoda, keinginan untuk memberikan makan ke merpati kami tunda sebentar. Karena tas tidak boleh dibawa ke dalam Pagoda, akhirnya aku menjaga tas Ade dan Melisa dan menjaganya sambil membeli kartu pos di depan Pagoda. Seperti biasa jika ingin masuk kedalam Pagoda di Burma, sepatu dan kaos kaki harus dilepas. Itulah syarat utama yang tidak boleh dilupakan selama di Myanmar.

Gimana, bagus gak? Tanyaku kepada Ade dan Melisa 
ketika mereka telah selesai melihat ke dalam Phaung Daw Ooo Pagoda

Nya, cewek tidak boleh dekat-dekat, 
hanya boleh dari tepi saja, kata Ade kepadaku

Aku pun masuk ke dalam Pagoda dan ternyata benar, untuk dekat ke dalam hanya lelaki saja, untuk perempuan dari jarak jauh.

Ade di Pagoda

Setelah itu kami bertiga pun berjalan ke sisi kanan Phaung Daw Ooo Pagoda, dan menanyakan harga jagung karena kami ingin bermain dengan merpati. Ternyata harga jagung untuk makanan merpati sama dengan yang di rincian perjalanan Myanmar yang dibuat si Ade, “500 MYK” alias “Rp5000” saja. Akhirnya kami membeli jagung untuk kami bertiga demi photo dengan merpati.

Jagung kami terbangkan dan bergaya ala-ala candid dengan merpati, seperti masa kecil kami kurang bahagia atau malah terlalu bahagia

haaha 🙂

Bayangkan usia kami yang bukan belasan lagi malah bermain dengan merpati itu rasanya agak kekanakan namun disitu letak kebahagiannya. Anehnya banyak sekali merpati dijadikan daya tarik wisata di beberapa negara, sampai-sampai aku pernah berbagai cerita tentang merpati di berbagai negara. Siapa sangka di Myanmar lagi-lagi aku bermain merpati untuk kesekian kalinya, dan entah kenapa setiap mempermainkan merpati itu sungguh lucu, walau kasihan si merpatinya sih. Untung hanya merpati, kalau hati abang dipermainkan gimana 😀

Puas dengan bermain merpati kamipun melanjutkan perjalanan di Danau Inle dengan seribu cerita!

Salam

Winny