Menjelajah Wisata Yangon


It has been a long journey, but if you dream and have the ambition and want to work hard, then you can achieve.

By Mo Farah

Hello World

Yangon, Februari 2017

Subuh aku dan Ade sudah sampai di Yangon dari Mandalay, hari terkahir trip ala backpacker di Myanmar. Kami sempat kebingungan cara kami ke Pusat Kota Yangon mengingat sore kami harus ke Bandara untuk balik. Melisa sudah duluan pulang ke Indonesia, sekarang giliran kami menjelajah wisata Yangoon yang tersisa. Awalnya hendak memesan taxi ke Tengah Kota namun untunglah dengan setengah hati Ade mau naik bus dengan hasil nanya sana-sini. Padahal jujur kami tidak bisa membaca petunjuk jalan di Yangon mengingat aksaranya super tak terbaca. Kalau celoteh Ade “tulisan cacing” hihi 😀

Dengan tas seadaya terus jalan menuju ke stasiun bus yang tidak ada tanda tempat pemberhentian bis. Untunglah kami nanya warga lokal serta diberikan petunjuk. Bersama warga lokal lainnya kami naik bus. Di dalam bus aku mendapatkan bangku duduk sementara Ade berdiri, mungkin sekitar 30 menit si Ade berdiri. Tujuan kami adalah Sule Pagoda. Ada seorang bapak di dalam bus yang menuntuk kami ke Sule Pagoda. Ada enaknya naik bus di Yangon, Myanmar, paling tidak kami melihat kegiatan orang yang hendak bekerja serta biaya Bus dari Terminal Bis Aung Mingalar hanya 200 KS/orang saja.

Yangon

Sesampai di Yangon, ada beberapa hal yang bisa kami lakukan dalam 1 hari.

1. Makan makanan halal di Yangon

Untuk pertama kalinya kami menemukan makanan halal disekitar Masjid yang ada di area Sule Pagoda. Meski makanan India, aku dan Ade memakan  Thosa + Egg + Susu Tea seharga 1350 KS. Rasanya sungguh nikmat mendapatkan makanan yang bisa kami makan.

2. Masjid di Yangon

Tak jauh dari restauran halal, kami menemukan Masjid. Memang tujuan kami adalah ingin mengunjungi Masjid di Myanmar. Kami mengetahui MASJID di peta wisata Yangon. Bentuknya dari luar seperti bangunan dan menyatu dengan bangunan lain. Tapi cukup mudah kami mengetahu itu Masjid. Sayangnya pas kesana masjidnya tutup sehingga tidak bisa masuk. Padahal kami hendak masuk ke dalam masjid di Yangon.

3. Sule Pagoda

Di kawasan Sule Pagoda banyak sekali wisata yang bisa dikunjungi, kebanyakan memang tempat wisata dari berbagai agama mulai dari Masjid hingga Gereja. Tak heran sih karena Yangon adalah ibukota Negara sehingga pasti multietnis dan multi agama. Namun kami hanya melihat dari luar saja, maklum kami sudah kebanyakan melihat Pagoda serta tidak ingin menganggu orang yang beribadah.

4. Independent Monument of Myanmar

Saat di dalam taman Independent Monument of Myanmar, temanku Ade tepar karena kurang tidur. Antara mules gegara makan atau kurang tidur yang pasti mukanya sangat lelah. Serius aku agak khawatir karena di hari terakhir barulah si Ade kelihatan sakitnya. Baru kali ini si Ade badannya gak kuat backpackeran.

“Nya, aku tidur bentar ya, capek banget”, kata Ade

Santai de, yang penting dirimu sehat”, kataku

Akhirnya di Taman Independent Monument of Myanmar si Ade beristarahat. Sementara aku duduk santai sambil mengamati sekitar sekaligus beristirahat. Selama si Ade tidur di rumput yang aku lakukan adalah bersantai sambil memphoto sekitar area Sule Pagoda dan lumayan menarik.

Independent Monument of Myanmar

5. Musmeah Yeshua Synagogue

Di perkotaan Yangon terdapat sebuah rumah ibadah buat Yahudi bernama Musmeah Yeshua Synagogue. Aku baru pertama kali ke rumah ibadah orang Yahudi karena jarang sekali. Awalnya sedikit terkejut ada Synagogue di Yangon, Myanmar. Berada di antara pasar, untungnya tidak terlalu susah untuk menemukannya walau kami sempat tidak yakin bahwa bangunan yang kami cari itu berada di depan kami. Memasuki Musmeah Yeshua Synagogue mirip dengan gereja dimana ada tempat duduknya. Terdiri dari 2 lantai dan di lantai ke dua adalah koleksi dari Musmeah Yeshua Synagogue. Si Ade hanya menunggu di luar, karena dia belum sembuh betul sementara aku lah yang keliling Musmeah Yeshua Synagogue. Untuk masuk ke dalam Musmeah Yeshua Synagogue tidak dipungut biaya.

Musmeah Yeshua Synagogue, Yangon
Musmeah Yeshua Synagogue, Yangon

6. Church di Yangon

Ketika Ade beristirahat karena drop perjalanan ala backpacker Myanmar kami, aku melihat sekeliling area Sule Pagoda dan hasilnya terdapat Gereja di samping taman. Jadi satu kawasan Sule Pagoda lengkap lengkip rumah ibadah mulai dari Gereja, Masjid hingga Kuil.

Yangon

Tidak hanya itu ada biksu kecil yang meminta uang kepada pengunjung. Biksu kecil ini membawa tempat untuk uang, dia menghampiriku namun karena aku tak mengerti Bahasanya jadi aku tidak tahu kalau dia sedang meminta uang. Barulah ketika orang lain memasukkan uang ke dalam tempat seperti Kendi akhirnya aku mengerti bahwa sang Biksu kecil sedang meminta uang.

Yangon

7. Pasar Yangon

Hal menarik lainnya yang kami lakukan dalam sehari di Yangon ketika aku dan Ade melewati pasar hendak mencari oleh-oleh khas Yangon. Tapi jangan ditanya apa kami dapat oleh-olehnya karena jawabannya tidak. Pasar tempat oleh-oleh sedang tutup. Akhirnya kami melewati pasar ala Myanmar dengan berjalan kaki sambil mengamati kegiatan penduduk lokal. Menariknya ada kejadian sayuran yang dilewati mobil namun sayurnya tidak rusak, tepat hanya melintasi saja. Di pasar Yangon tak jauh dari area Sule Pagoda jugalah kami menemukan beberapa warga Muslim hal ini terlihat dengan jilbabnya, karena mengingat kasus di Myanmar saat ini.

 

Pasar Myanmar mengingatkanku akan pasar di ASIA yang rata-rata hampir mirip, sebelas dua belas. Walau demikian aku selalu suka dengan pasar karena bisa lebih dekat dengan warga lokal serta potret kecil kehidupan warga lokalnya.

8. Kuil Di Yangon

Yangon

Saat mencari oleh-oleh bersama Ade, kami sempat melewati sebuah kuil di Yangon yang menurutku unik. Unik karena banyak merpati di depannya serta penjual makanan untuk merpati. Kuil ini bukan untuk Buddha seperti kebayakan di Myanmar, namun kuil untuk umat Hindu. Coraknya mengingatkanku akan kuil di Medan, Indonesia atau mirip Kuil di Batu Caves, Malaysia. Yang pasti di Yangon, Burma aku juga menemukan kuil Hindu.

Karena kami gagal mendapatkan oleh-oleh khas Myanmar, akhirnya tempat terakhir yang kami kunjungi di Yangon adalah Shwedagon Pagoda. Karena sudah lelah berjalan kaki, kami memutsukan untuk naik taxi dari Sule Pagoda ke Shwedagon Pagoda dengan harga 1700 KS/2 orang.

9. Shwedagon Pagoda

Saat mengunjungi Shwedagon Pagoda si Ade sudah lumayan membaik. Kami tidak masuk ke dalam Shwedagon Pagoda karena harus bayar. Akhirnya kami hanya melihat dari luar saja, sudah cukup buat kami. Katanya Shwedagon Pagoda inin mirip Lumbini di Sumatera Utara, tapi pas aku lihat “tidak mirip-mirip amat”. Lucunya saat di Shwedagon Pagoda, kami malah asik di tempat pasarnya. Si Ade mencari oleh-oleh disini dan meski harganya bikin gerem namun Ade tetap beli.

"Nya, aku harus beli banyak oleh-oleh karena temanku banyak", kata Ade

Akhirnya si Ade memborong oleh-oleh sampai habis 500rb an mungkin lebih. Bayangkans aja satu gantungan kunci aja bisa kena 30ribu, kan bikin sakit hati 😦

Shwedagon Pagoda

10. Minum Kelapa di depan Kuil

Yangon

Setelah beranjak dari Shwedagon Pagoda, aku dan Ade malah istirahat sambil minum kelapa dengan pemandangan Kuil. Akhirnya keiginan kami untuk makan air kelapa terwujudkan, apalagi pas siang hari sehingga rasanya nikmat sekali. Untk harga kelapa 2000 KS/2 orang (2 buah) dan banyak sekali tapi enak. Minum sambil bersantai begitu sangat nikmat, sehingga tidak kelihatan kami turis kerenya.

Nya, tadi itu gue agak gak enak samamu karena gara-gara gue, lu gak puas jalan, kata Ade

Tadi mau bilang kau duluan aja jalan terus nunggu di Bandara aku, kata Ade

Untung aku sehat ya terus bisa tidur tadi, lanjutnya

Aku malahan takut kita berantem De, tahu sendiri aku kalau berdua jalan agak-agak, kataku

Ah rupanya tidak, berarti bukan salahku lah ya ama si kawan waktu di Jepang, timpalku

Begitulah percakapan kecil kami mengenai backpackeran di Burma. Kami tidak sangka walau trip hanya 5 hari di Burma, namun kami memiliki jutaan cerita mulai dari cerita lucu, gembel, hina hingga seru dan bahagia. Minum kelapa di Yangon menjadi penutup perjalanan kami di Myanmar. Dan taxi pun mengantar kami dari dari Sule Pagoda ke Bandara seharga 7000 KS/2 orang.

Rincian Pengeluaran Yangoon, Myanmar

Naik Bus dari Terminal Bis Aung Mingalar 200 KS/orang

Makan Thosa + Egg + Susu Tea 1350 KS

Taxi dari Sule Pagoda ke Shwedagon Pagoda 1700 KS/2 orang

Oleh-oleh 3500 KS Makan siang 4000 KS/2 orang

Kelapa 2000 KS/2 orang (2 buah)

Taxi dari Sule Pagoda ke Bandara 7000 KS/2 orang

Total Pengeluaran hari kelima di Myanmar

200 KS + 1350 KS + 850 KS + 1000 KS +3500 KS

= 6,900 KS

Tempat wisata yang dikunjungi di Mandalay, Myanmar

Sule Pagoda, Independent Monument of Myanmar, Shwedagon Pagoda, Saint Mary’s Cathedral and Musmeah Yeshua Synagogue, Maha Bandoola Garden, Bogyoke Aung San Market

Salam

Winny

Iklan

8 Kegiatan di Mandalay dalam 1 Hari


We keep moving forward, opening new doors, and doing new things, because we’re curious and curiosity keeps leading us down new paths.

By Walt Disney

Hello World!

Mandalay, Februari 2017

Walau Mandalay merupakan Kota biasa menurut kami dibandingkan dengan Bagan dan Inle, namun banyak banyak yang bisa dilakukan di Mandalay. Selain melihat matahari terbit di Mandalay Hill, serta melihat patung Buddha di Mahamuni Image dan ngezonk di Kuthodaw Pagoda (biggest book in the world), ternyata banyak yang bisa dilakukan di Mandalay dalam 2 hari.

Kegiatan yang bisa dilakukan di Mandalay, Burma dalam 1 hari

1. Mencari Kuil-kuil Tua

Ade

Karena satu arah dengan jembatan fenomenal Mandalay U Bein, maka yang kami lakukan adalah mencari tempat wisata yang searah. Pilihan kami kepada salah satu monastery di  Mandalay yang lumayan cukup tua terbuat dari kayu. Monastery yang kami kunjungi dengan Ade cukup unik, karena dari kayunya saja kelihatan tua banget belum lagi cara kesananya susah bin ajaib. Kami harus nyasar diperkampungan, salah jalan sampai 2 kali terus akhirnya jumpa juga. Di dalam monastery juga terdapat patrung Buddha yang disusun dari kaca. Sayangnya si Ade lebih memilih duduk santai bersama petugas. Untuk masuk ke dalam monastery  harus membayar biaya masuk namun jika membeli museum tourist pass maka termasuk ke dalam monestry ini. Tiket yang aku dapatkan adalah tiket pungutan dari Pagoda dengan Buku. Ibaratnya seperti pemungut karcis awak, jadi Ade lebih mengalah ketika aku memakai karcis yang aku dapat-dapat di lantai. Berkat karcis dapat-dapat aku masuk ke dalam.

Oh ya bagi yang ingin menjelajah museum di Mandalay, dan punya waktu yang cukup maka sebaiknya membeli museum pass Mandalay. Selain bisa digunakan ke beberapa museum, pass ini juga bisa digunakan untuk masuk kedalam Mandalay Palace.

Kalau aku dan Ade lebih memilih melihat Mandalay Palace dari luar saja. Kami tidak sanggup mengeluarkan uang demi tiket karcis museum, cukup membayar karcis museum di Mandalay Hill saja. Maklum, kami turis tidak mau rugi apalagi mata kami sudah cukup puas melihat ribuan kuil dan Candi selama di Myanmar.

Mandalay

2. Melihat Kapal di Mandalay

Masih dalam satu perjalanan ke jembatan Mandalay, dalam perjalanan aku dan Ade beberapa kali berhenti jika kami melihat kuil menarik menurut kami. Salah satunya sebuah kuil berwarna emas yang ternyata ada pemandangan unik dari sana. Berupa kapal penduduk, dan airnya cukup bersih. Meski saat itu cuaca begitu panas, kami tahankan agar bisa melihat air dan kapal. Maklum kalau di Burma kalau masuk kedalam kuil harus membuka alas kaki sehingga kalau panas matahari, siap-siap kaki menahan panas dari lantai. Namun tentu saja kaki kami seperti terbakar terbayar melihat hal lain di Mandalay “kapal dan air”.

Mandalay

3. Rumah Kumuh

Awalnya aku tidak mengira ada perkampungan kumuh di Mandalay. Namun sepanjang perjalanan ke Jembatan U Bein, kami menemukan perkampungan yang kumuh. Sampah serta penduduk yang hidup disekitarnya. Hal ini tentu membuka mata kami bahwa hidup selalu bersyukur karena di belain lain dunia ini juga ada beberapa orang yang kurang mampu. Dan memang masalah sampah ini sangat klasik bahkan di Jakarta. Pas lihat orang Myanmar yang tinggal di tempat sampah, aku jadi teringat Ibukota yang juga memiliki masalah yang sama.

Mandalay

4. Bertemu Biksu

Namanya juga Myanmar yang mayoritas beragama Buddha sehingga Biksu dan Bhikkhuni mudah ditemukan di Myanmar. Jadi bagi yang mungkin suka photo Biksu dengan latar belakang Kuil maka cukup mudah didapatkan di Myanmar.

Mandalay, Myanmar

5. Patung dan Kuil

Myanmar memang surganya kuil dan patung sehingga yang penyuka kuil maka akan puas di Myanmar. Bedanya di Mandalay kuilnya tidak seperti di Old Bagan, lebih mirip kepada Kuil/biara yang mirip di Thailand. Kalau ingin menjelajah semua kuil di Mandalay tidak cukup sehari saking banyaknya, tapi dipastikan jika ingin mengunjungi beberapa saha sudah mewakili, kalau terlalu lama dan banyak, lama-lama bisa bosan juga.

6. Melihat proses pembuatan Thanaka

Mandalay

Thanaka adalah bedak dingin, jadi orang Myanmar dalam kehidupan sehari-hari baik pria maupun wanita, baik anak kecil maupun yang tua selalu memakai bedak dingin atau disebut Thanaka. Jadi tak heran jika melihat bedak dingin di wajah itu sudah lumrah di Myanmar. Nah pas mengunjungi Kuil Mahmuni disiang hari setelah balik dari Mandalay Hill. aku dan Ade melihat cara pembuatan Thanaka di samping Kuil. Kami sempat heran itu orang kenapa ramai-ramai dan sedang apa. Rupanya mereka sedang membuat Thanaka. Uniknya Thanaka itu dari kayu yang digerus dikasih air terus nanti di keringkan. Dinisilah aku melihat pembuatan Bedak dingin Myanmar. Siapa sangka selain bisa melihat Patung Mahamuni dimandiin juga bisa melihat warga lokal membuat Thanaka.

7. Melihat kehidupan warga lokal Mandalay

Hal yang paling aku suka saat travelling adalah melihat warga kegiatan warga lokal. Di Mandalay lumayan seru melihat aktivitas warganya mulai dari lelaki yang memakai Longyi dalam kesehariannya, bukan karena mau sholat namun memang itulah pakaian kesehariannya. Belum lagi cara mereka saat menggunakan transportasi yang agak tidak memperhatikan safety yang penting sampai tujuan. Entah kenapa seru saja mengamatinya.

8. Bersantai di Jembatan U Bein, Mandalay

Meski U Bein Bridge Mandalay biasa saja tanpa sunset, namun santai di jembatan cukup asik juga. Apalagi jembatan ini wisata populer dan banyak orang yang berdatangan sehingga asik saja melihat tingkah laku orang-orang yang berselfie dengan jembatan. Jadi bisa melihat kegiatan warga lokal dan turis di jembatan yang berjarak sekitar 1-2 km dari kayu biasa.

Nah itu saja yang bisa dilakukan di Mandalay selain melihat sunrise di Mandalay Hill, gagal masuk ke Mandalay Palace serta buku ala-ala terbesar. Sebenarnya masih banyak yang bisa dilakukan di Mandalay, namun unutk 1 hari bagi kami, lumayan cukup liar. Bayangin 1 hari saja bisa kemane-mane, gimana 1 minggu? Bisa khatam semua wisata Mandalay 🙂

Rincian Pengeluaran Mandalay, Myanmar Hari Keempat

Taxi dari Stasiun Bus ke Dream Guest House 5000 KS/ 2 orang

Sewa Motor seharian 12,000 KS/ 2 orang

Uang Masuk Su Taung Pyae Pagoda 1000 KS

Air Lemon 500 KS Bensin 4500 KS/2 orang

Makan siang + minum tebu 1800 KS

Bus malam dari Mandalay ke Yangoon 22,000 KS/2 orang

Parkir motor 500 KS/2 orang

Total Pengeluaran hari keempat di Myanmar

2500 KS + 6000 KS + 1000 KS + 1800 KS + 11,000 KS + 250 KS

= 22,550 KS

Tempat wisata yang dikunjungi di Mandalay, Myanmar

Sunrise Mandalay Hill, Mahamuni Image, U Bein Bridge, Kuthodaw Pagoda (biggest book in the world), Mandalay Royal Pallace, Masjid

Salam

Winny

Sunset di Mandalay U Bein Bridge


“The future for me is already a thing of the past –
You were my first love and you will be my last”
― Bob Dylan―

Hello World!

Mandalay, Februari 2017

Terkadang harapan itu tidak sesuai dengan kenyataan. Sama halnya dengan saat jalan-jalan, banyak sekali hal yang terlihat indah di photo pas kenyataannya belum tentu seindah itu. Begitu paling tidak pengalamanku bersama Ade ke Mandalay, Myanmar. Sayangnya untuk saat ini di Myanmar sedang tidak kondusif dengan masalah Rohignya.

Nah pas mengunjungi Myanmar bulan Februari lalu, salah satu tempat yang ingin kami kunjungi adalah U Bein Bridge, Mandalay. Sebelumnya kami sudah mendapatkan sunrise di Mandalay Hill, sehingga agenda perjalanan kami lainnya adalah melihat sunset di Mandalay tepatnya di U Bein Bridge.

Aku sendiri tidak tahu kalau U Bein Bridge itu menarik, semua rincian rencana perjalanan dibuat oleh Ade, aku dan Melisa hanya ikut saja. Sayangnya karena keterbatasan waktu Melisa hanya sampai di Bagan saja dan lebih memilih ke INLE daripada ke Mandalay. Dari baca pengalaman orang ada yang merekomendasikan ke Inle daripada Mandalay tapi ada juga yang merekomendasikan ke Mandalay daripada Inle. Kalau dari pengalamanku lebih memilih Inle karena di Mandalay agak biasa bila dibandingkan dengan Inle.

U Bein Bridge, Mandalay

Untuk sampai ke U Bein Bridge, Mandalay kami menggunakan peta offline yang sudah kami download. Serta sepeda motor yang kami sewa sejak subuh. Suasana Mandalay agak memprihatinkan apalagi  pas diperjalanan banyak sampah yang kami lihat. Bahkan penduduk banyak sekali tinggal di area kumuh. Belum lagi ke U Bein Bridge itu penuh tantangan karena aku yang tidak bisa membaca peta dan membedakan arah “kiri” dan “kanan”. Nyasar sudah menjadi santapanku bersama Ade sehingga tak heran sempat membuatnya agak tensi ketika salah arah. Tapi disitu letak dari seni perjalanan itu, menyatu dengan daerah tersebut dan siap-siap untuk nyasar.

Sesampai di U Bein Bridge, motor kami parkirkan dan kami melihat hamparan jembatan kayu biasa. Padahal aku paling takut dengan jembatan kayu, parno kalau tiba-tiba jatuh kebawah.

"Yah nya, jelek amat jembatannya, padahal di photo cakep banget, kata Ade"

Kata Ade benar adanya karena yang kami lihat itu menurutku biasa saja. Sampai aku heran kok bisa ramai orang ke U Bein Bridge, Mandalay.

U Bein Bridge
Yah de, kita jauh-jauh kesini cuma lihat begini doang kataku sedikit kecewa

Namun disisi lain penasaran kenapa begitu banyak orang yang menunggu matahari tenggelam di sepanjang jembatan. Lalu mengobati rasa kecewa kamipun berjalan hingga ke ujung jembatan sambil duduk manis disebuah warung di dalam jembatan. Paling tidak U Bein Bridge di Mandalay sekitar 1-2 km dan dibangun dari tahun 1850 serta berada di Danau Taungthaman area Amarapura, Mandalay Myanmar.

Menariknya sepanjang duduk mengamati aktivitas warga lokal dan turis yang mayoritas bule, kami disangka seperti orang lokal Myanmar. Selain itu beberapa biksu lewat dari jembatan. Sayangnya pas di area Danau banyak sekali sampah. Memang aku dan Ade sangat cepat sampai di Mandalay namun sisi baiknya kami bisa mengamati dan menikmati pemandangan sekitar.

U-Bein Bridge in Amarapura, Myanmar (Burma)

Yang menarik dari U-Bein Bridge ketika hendak sunset tiba. Beberapa kapal nelayan berada di sepanjang Danau yang kebetulan airnya susut serta pemandangan orang-orang yang berdiri di jembatan.

Epic!

Nya, ternyata ini gambar persis yang akiu lihat di Gambar, kata Ade

Dan benar seketika senja mulai turun, pemandangan sekitar yang terlihat biasa dan agak kumuh berubah menjadi senja orange indah. Belum lagi efek orang sekitar membuatnya menjadi keren. Sedikit mengurangi rasa kecewa kami akan pemandangan biasa mengingat cara kami U-Bein Bridge penuh perjuangan. Bahkan aku dan Ade sampai turun demi mencari dimana letak titik terbaik dari sunset di U-Bein Bridge, Mandalay. Belum lagi melihat beberapa turis yang duduk santai di bangku sekitar Danau sambil berekreasi hingga lupa akan sampah disekitarnya. Memang tidak ada yang sia-sia dari suatu perjuangan 🙂

U-Bein Bridge

Menurutku sunrise dan sunset di Mandalay sangat efik dan agak jahil. Suka menjahili kami dengan pikiran sempit kami. Seperti ketika mengira tidak melihat sunrise di Mandalay Hill ternyata kami melihat juga serta pas di U-Bein Bridge Mandalay yang awalnya mengira biasa saja eh rupanya pas sunset sangat indah. Tak heran sih banyak warung di bawah jembatan dan beberapa photorapher dari mancanegara berburu sunset di U-Bein Bridge.

Tak lama-lama saat sunset di Mandalay, namun lumayan keren hasilnya. Paling tidak penasaran kenapa begitu banyak orang mengunjungi U-Bein Bridge, Mandalay terjawab sendiri.

“Tunggu saat sunset, disitu letak keindahannya”.

Akhirnya misiku dan Ade berhasil, walau hanya bagus di photo, tapi ada sisi lain yang kami lihat bahwa Mandalay memiliki sisi “kumuh”.

Salam

Winny

Mencari Buku Terbesar Dunia di Kuthodaw Pagoda, Myanmar


Everything you want is on the other side of fear

-Anonymous-

Hello World!

Mandalay, Februari 2017

Setelah melihat sunrise di Mandalay Hill, aku dan Ade mencari Kuthodaw Pagoda (biggest book in the world). Awalnya kami penasaran seperti apa kiranya buku terbesar di dunia. Tentu sangat keren bisa melihat buku terbesar di dunia karena keinginan untuk melihat Alquran besar di Palembang belum kesampaian. Menurut tempat peminjaman motor kami, salah satu tempat yang wajib kami kunjungi di Mandalay adalah Kuthodaw Pagoda. Lokasinya pun dekat dengan Mandalay Hill.

Yang lucu adalah cara mencari Kuthodaw Pagoda dengan navigasi sekedarnya. Kami sempat tidak yakin bahwa tempat yang sudah kami kunjungi adalah Kuthodaw Pagoda. Sederhananya bangunannya dari luar dipagari tembok putih dan banyak turis yang berdatangan. Untuk masuknya pun agak ribet karena kami hanya melihat dari sisi luar hingga dengan usaha ekstra kami dapat menemukan pintu masuk Kuthodaw Pagoda.

Kuthodaw Pagoda, Myanmar

Masuk ke dalam Kuthodaw Pagoda tidak perlu biaya administrasi, karena memang tempat ini juga menjadi tempat ibadah bagi warga lokal Myanmar. Dari luar pintu depannya mirip Pagoda dengan kiri kanannya berwarna putih. Untuk masuk harus membuka sandal/sepatu dan kaos kaki karena memang wajib hukumnya jika memasuki Pagoda/Candi di Myanmar. Udara waktu itu cukup panas, sehingga kami harus menahan rasa panas di lantai Kuthodaw Pagoda. Namun cukup seru masuk kedalam apalagi melihat keramaian pengunjung Kuthodaw Pagoda.

"Nya, mana sih buku besarnya", celoteh Ade kepadaku

Sedikit heran juga menjawab pertanyaan Ade karena sepanjang kami menelusuri ke dalam tidak ada tanda-tanda buku besar. Hingga kami semakin masuk kedalam Kuthodaw Pagoda tetap tidak menemukan buku besar. Akhirnya kami mulai curiga kalau buku besar yang dimaksud berada di dalam Pagoda putih yang berjajar. Karena memang Pagoda putih seolah melindungi sesuatu. Selebihnya di dalam Kuthodaw Pagoda ada Pagoda dengan warna keemasan yang ditutup bungkus karena sedang direnovasi.

Aku bahkan sempat tertidur sejenek pas kami duduk di dalam Kuthodaw Pagoda, menyerah mencari buku terbesar. Padahal cuaca panas, mungkin ini efek dari kecapean setelah perjalanan dari Bagan ke Mandalay.

Kuthodaw Pagoda, Myanmar
"Nya, jangan-jangan ya bukunya di dalam Pagoda putih itu", kata Ade

Lalu kami berdua pun mendekat ke dalam Pagoda putih yang berjajar menghias Kuthodaw Pagoda. Dugaan Ade benar adanya ternyata buku besar itu berada di dalam Pagoda dan berisi seperti buku dari semen dengan tulisan yang kami tidak tahu, dengan aksara Myanmar.

Ini mah gak cocok buku besar, cocoknya buku luas, 
kata Ade dengan sedikit merasa "zonk"

Wwkwkwk, betul anggukku

Memang ekpektasi tidak selalu sama dengan kenyataan. Karena kami menganggap buku gede yang bisa dibaca ternyata hanyalah semen bertulis di dalam Pagoda. Namun tak apa, cukup menjawab rasa penasaran kami. Dan kapan lagi dikerjain oleh suatu bayangan? 🙂

Ade di Kuthodaw Pagoda

Akhirnya karena merasa zonk dengan buku yang tidak kami bisa baca, si Ade malah mengajak untuk berphoto disamping Kuthodaw Pagoda (biggest book in the world). Meski sedikit kecewa karena tidak bisa membaca namun justru disitu letak keseruaan perjalanan Mandalay kami. Kapan lagi menghayal duduk manis dalam Pagoda sambil baca buku gede namun pada kenyataannya buku tersebut berada di dalam Pagoda tersusun sehingga alhasil bukan membaca malah menjadi berphoto.

Kan seru?

"Nya ambil photoku diantara Pagoda itu ya terus aku pura-pura jalan", kata Ade

Pendapatnya lagi-lagi benar karena bagus Pagoda putih itu. Apalagi dtambah dengan sentuhan pepohonan.

Kuthodaw Pagoda, Myanmar

Puas dengan Kuthodaw Pagoda meski gagal membaca buku besar, aku dan Ade pun keluar dari Pagoda. Kami mencari makan diluar pagoda yang ujung-ujungnya kami duduk santai di depan Pagoda sambil menikmati minuman. Minuman yang kami pesan adalah lemon tea sambil melihat Kuthodaw Pagoda dari luar, merasa kami dikerjain oleh Pagoda.

Mandalay ternyata memiliki cara tersendiri untuk menyambut turis seperti kami. Dalam pikiranku teringat Melisa bahwa pilihannya untuk memilih Inle daripada Mandalay selama di Myanmar adalah benar adanya, tentu saja dari pendapatku. Toh setiap orang beda minat dan kesukaannya.

Salam

Winny

Sunrise di Mandalay Hill, Myanmar


Everybody loves. Everybody loses. And we’re all better for it.

By Chrissy

Hello World!

Mandalay, Februari 2017

Setelah melihat ritual pembersihan Patung Buddha Mahamuni di Mandalay, aku dan Ade melanjutkan perjalanan ke Mandalay Hill, Myanmar untuk melihat sunrise yang katanya titik tertinggi di Mandalay. Dengan bantuan peta offline yang sudah di download kami menuju Mandalay Hill dengan sepeda motor yang kami sewa. Cukup nekat memang kami berhubung kami tidak tahu jalanan di Mandalay serta suasana masih subuh saja.

Nya, ini yah di Indonesia saja kagak berani naik motor ya,
ini di jalanan Negeri orang aku berani, 
kalau tahu mamaku aku dimarahin, celoteh Ade

Memang Mandalay Hill merupakan titik tertinggi melihat Kota Mandalay dari atas bahkan sunrisenya cukup terkenal. Padahal jujur saja aku tidak ada ide seperti apa Mandalay Hill itu. Belum lagi aku memberikan arah yang salah karena kelemahan dalam membaca peta. Aku tidak bias membedakan mana “kiri” dan “kanan” yang sempat membuat Ade dan Melisa heran bagaimana bisa aku bertahan backpacker sendirian ke Negeri orang padahal baca peta saja tidak becus. Untungnya meski nyasar beberapa kali kami sampai di Mandalay Hill.

Ketika sampai di Mandalay Hill, kami sempat ragu apakah  tempat yang kami kunjungi adalah benar Mandalay Hill karena tidak ada tanda-tanda temple atau cara ke bukit yang seperti Ade bayangkan. Bahkan kami sempat  bertanya dimana MANDALAY HILL itu padahal jelas-jelas kami di Mandalay Hill. Bahkan sempat naik ke sebuah tempat seperti pasar terus turun lagi saking tidak yakinnya hingga menanyakan orang kesekian kalinya dimana tempat Hill itu. Rupanya Mandalay Hill melewati pasar yang telah kami lalui, sebuah pasar untuk membeli oleh-oleh tepatnya. Hill tempat sunrise Mandalay berada di area Su Taung Pyae Pagoda dan masuk ke dalam harus membayar uang retribusi 12,000 KS. Agak enggak membayarnya namun karena sudah jauh-juah serta perjuangan melewati jalanan yang menanjak akhirnya kami membayar juga. Di dalam Pagoda hanya ada penjaga saja sementara kami duduk di luar Pagoda menunggu sunrise.

"Nya, berkabut, sedih deh padahal udah jauh-jauh kesini", kata Ade

Yah trip Myanmar kami memang banyak banyak tujuan wisatanya terutama Kota-kota yang ingin kami kunjungi.  Salah satunya sunrise dari Mandalay Hill. Karena melihat kabut menutupi pemandangan Kota Mandalay dari atas, akhirnya kami memanfaatkan dengan memphoto Temple saja. Hingga akhirnya jam 6 an, sunrise yang ditunggu pun ada. Kabut sudah mulai berhilangan dan membuat Ade mulai bahagia.

Ya ampun Nya, aku kira tadi tidak ada sunrise di Mandalay Hill, 
dalam hati gue gila udah jauh kesini malah lihat kabut, 
katanya dengan penuh semangat

Memang sunrise yang kami tunggu agak sedikit mengerjai kami. Seolah tidak ada namun ternyata ada, warnanya orange dan bulat serta dari atas kelihatan Kota Mandalay. Hanya saja karena aku takut ketingian sehingga untuk dekat ke tepi amit-amit. Selain itu memang kami datangnya agak kecepatan ke Mandalay Hill. Karena waktu kedatangan terhitung jari jumlah pengunjung kemudian setelah mulai sunrise barulah banyak pengunjung yang berdatangan. Yang lucu ada turis Bule entah dari Negara mana malah mempotret kami, mungkin dikira kami warga local Myanmar, padahal jelas-jelas kami tidak memakai Thanaka layaknya orang Myanmar. (Thanaka = bedak dingin, jadi orang Myanmar dalam kehidupan kesehariannya suka memakai bedak dingin baik wanita maupun pria).

Setelah puas melihat matahari terbit dari Mandalay Hill, kami pun berkelililing untuk melihat spot terbaik di Mandalay. Dan melihat sunrise di Mandalay memang melebihi ekpektasi kami karena kami merasa urutan Kota untuk dikunjungi di Myanmar itu adalah Inle, Bagan kemudian Mandalay (versi kami). Jadi kami tidak terlalu berharap kalau sunrise yang kami lihat bakalan Ok, namun kami salah karena sunrise di Mandalay lumayan ok apalagi dengan latar belakang Pagoda serta melihat Kota Mandalay dari atas Bukit.

Untuk naik ke Su Taung Pyae Pagoda ternyata bisa menggunakan lift, selain tangga yang kami lewati. Belum lagi banyak Pagoda disekiatar Mandalay Hill, sehingga yang penyuka wisata Pagoda bisa puas melihat Pagoda di Mandalay hill. Namun tentu saja Pagodanya berbeda bentuknya seperti yang ada di Bagan, Pagoda di Mandalay lebih mirip seperti yang di Thailand, dengan bentuk runcing serta warna keemasan.

Anehnya meski kami tahu ada lift untuk turun, kami malah memilih menuruni tangga dan kembali melewati pasar dadakan dengan oleh-oleh khas Mandalay melewati beberapa Pagoda di dalam area Pagoda.

Rincian Pengeluaran Mandalay, Myanmar Hari Keempat

Taxi dari Stasiun Bus ke Dream Guest House 5000 KS/ 2 orang

Sewa Motor seharian 12,000 KS/ 2 orang

Uang Masuk Su Taung Pyae Pagoda 1000 KS

Air Lemon 500 KS Bensin 4500 KS/2 orang

Makan siang + minum tebu 1800 KS

Bus malam dari Mandalay ke Yangoon 22,000 KS/2 orang

Parkir motor 500 KS/2 orang

Total Pengeluaran hari keempat di Myanmar

2500 KS + 6000 KS + 1000 KS + 1800 KS + 11,000 KS + 250 KS

= 22,550 KS

Tempat wisata yang dikunjungi di Mandalay, Myanmar

Sunrise Mandalay Hill, Mahamuni Image, U Bein Bridge, Kuthodaw Pagoda (biggest book in the world), Mandalay Royal Pallace, Masjid

Salam

Winny

Melihat Ritual Pembersihan Patung Mahamuni pada Mandalay, Myanmar


Life is one big road with lots of signs. So when you riding through the ruts, don’t complicate your mind. Flee from hate, mischief and jealousy. Don’t bury your thoughts, put your vision to reality. Wake Up and Live!

By Bob Marley

Hello World!

Mandalay, Februari 2017

Jam 4 pagi tepatnya aku dan Ade sampai di Mandalay dari perjalanan Bagan. Masih segar diingatan ketika kami sempat dijemput dengan mobil yang mirip dengan angkot dari penyewaan sepeda. Di tempat penyewaan sepedalah kami mandi sambil menunggu jemputan. Itung-itung rekor tidak mandi selama 4 hari terpatahkan juga di Old Bagan. Kami sempat berpikir apa iya mobil yang mirip angkot ini ke Mandalay, walau dalam peta jarak antara Bagan dengan Mandalay cukup dekat. Untungnya dugaan kami tidak benar, karena mobil yang mirip angkot itu adalah jemputan saja karena pada kenyataannya kami menuju Mandalay dengan bus yang lumayan kondusif. Di Old Bagan jugalah aku dan Ade berpisah dengan Melisa karena Melisa akan sendirian ke Yangoon demi mengejar pesawatnya menuju Jakarta. Aku dan Ade masih memiliki dua hari lagi di Myanmar, artinya kami bisa mengunjungi Mandalay, Myanmar.

Tujuan utama kami ke Mandalay selain melihat Sunrise dari Mandalay Hill, Myanmar adalah melihat patung Buddha Mahamuni dimandikan. Kalau bukan karena Ade aku tidak tahu kalau ada patung Buddha dimandikan di Mandalay. Istilah untuk dimandikan ini adalah Bahasa khasnya si Ade. Karena ketika di Old Bagan pada pagi hari kami telah melihat patung Buddha kecil dimandikan nah saatnya kami melihat Patung Buddha besar dimandikan.  Akan lebih tepat jika dipakai istilah pembersihan Patung Buddh. Patung Buddha itu berada di Pagoda MAHAMUNI, salah satu wisata yang wajib dikunjungi di Myanmar. Alias jika ke Myanmar top listnya adalah melihat Patung Mahamuni, jadi tidak dianggap ke Myanmar jika belum ke Patung Mahamuni, katanya ya 😀

Bus kami sampai di Kota Mandalay, Myanmar jam 4 pagi dimana jalanan sepi, beberapa anjing berkeliaran di jalanan bahkan taxi yang mengantar kami ke tempat penyewaan sempat bingung mencari alamat  yang kami tuju. Hingga akhirnya setelah dua kali mutar daerah sama, barulah kami diantar ke tempat sesuai dengan alamat tujuan kami. Jadi tidak salah alamat! Kedatangan kami memang cepat namun pihak penyewaan motor kami sudah siaga menunggu kami. Sebelumnya Ade sudah berkomunikasi dengan pihak penyewaan sepeda motor demi keliling Mandalay. Kalau tidak, bakalan gigit jari kalau sampai di Mandalay, Myanmar apalagi pas pagi hari sekali.  Untunglah pemilik membukan pintu dengan ramah kepada kami meski terlihat jelas mukanya masih mengantuk. Kami meminjam motor matik seharian dan menitip tas kami kepada seorang gadis keturunan Chinese di Burma. Rumahnya lumayan luas lengkap dengan dekorasi seni serta tempat penginapan sekaligus penyewaan sepeda/motor di Mandalay. Dia juga yang memberikan peta kepada kami serta menjelaskan kemana saja ketika berada di Mandalay. Walau penjelasan Objek wisata Mandalay tidak 100% kami hapal. Kami hanya mengikuti daftar OBJEK WISATA MANDALAY di bucket list kami.

Untuk menjelajah Mandalay kami menggunakan map offline yang sudah didownload sebelumnya. Tidak seperti Kota Bagan dan Inle yang mewajibkan turis membayar uang masuk kedalam KOTA, maka masuk ke Mandalay tidak perlu bayar. Lumayan menghemat biaya perjalanan kami 🙂

Mandalay

Setelah sepeda motor, kunci dan dua helm diberikan kepada kami mak kami memulai perjalanan menjelajah Mandalay. Ade yang mengendarai motor dan aku yang memberikan aba-aba jalan. Salahnya ternyata aku tidak begitu bisa membedakan belok “kiri” atau “kanan” sehingga sempat membuat si Ade gondok alias menahan esmosi tingkat tinggi.

Nya, tau gak sih mana kiri dan kanan?
kata Ade dengan sedikit dongkol ketika aku salah memberikan arah

Sementara kalau aku yang membawa motor juga tidak bisa. Akhirnya aku dan Ade sempat nyasar-nyasar arah di pagi hari sementara kami hendak mengejar pemandian Buddha di pagi hari.

Disini aku merasa sedih tidak bisa membaca Google map, hiks!

Dengan susah payah barulah kami sampai di tempat Patung Mahamuni setelah memarkirkan sepeda motor yang tak jauh dari pasar. Pasar ini merupakan satu komplek dengan Pagoda Mahamuni, Mandalay tempat patung Mahamuni berada.

Seperti biasa, aku dan Ade melepaskan sandal kami lalu berjalan menuju tempat ritual harian pembersihan patung Buddha Mahamuni di Mandalay. Kami memang agak telat ketika sampai di Patung Mahamuni karena turis sudah banyak sekali duduk manis di lantai sambil melihat ritual pemandian. Sementara dari Layar TV besar kami melihat pemandian Buddha sudah dimulai.  Patung Buddha berada di tengah dari Pagoda Mahamuni, Mandalay dengan posisi duduk diatas takhta lengkap dengan mahkota serta baju kerajaan.

Mandalay

Untuk melihat ritual pemandian patung Buddha maka harus membayar administrasi. Serta ada area yang tidak boleh dimasuki oleh wanita, khusus laki-laki saja terutama area pemandian dan di depan pemandian. Wanita diperbolehkan dari jauh. Ade menyuruhku duluan masuk ke dalam Pagoda menembus keramaian turis dan penduduk lokal. Aku tidak menyangka kalau sepagi ini, ramai pengunjungnya. Bahkan aku sempat salah masuk ke dalam area laki-laki yang membuatku dicegat petugas sekaligus menyuruh untuk membayar biaya masuk Pagoda. Namun karena sudah terlanjur masuk dan lihat serta ingin keluar akhirnya aku tidak jadi membayar. Lalu aku menghampiri Ade yang menunggu di luar untuk gantian masuk ke dalam melihat langsung prosesi pemandian Patung Buddha sambil aku mengingatkan untuk pembayaran jika ingin melihat prosesi.

Pilihan untuk menonton prosesi dari layar memang tepat karena di dalam begitu desak-desakannya serta tidak begitu jelas kelihatan ritualnya, maka melihat dari luar lebih dari cukup. Sekalian cuci mata melihat antusias dari masyarakat Myanmar yang datang dari berbagai daerah menuju ke Mandalay sambil membawa persembahan untuk Pagoda Mahamuni. Beberapa diantaranya adalah Biksu sambil berjalan menuju kedalam Pagoda, beberapa ibu-ibu seperti Inang-inang di Sumatera Utara dan beberapa adalah remaja yang memakai bedak dingin di mukanya, khasnya orang Myanmar.Kegiatan mengamati orang jauh lebih menarik buatku karena melihat sisi lain dari Myanmar. Meski telat datang di acara pembersihan Buddha biasanya jam 4 sampai jam 4.30 pagi namun aku mendapatkan hal lain.  Belum lagi, Ade juga sempat menyaksikan ritual pembersihan.

Yah kami memang cukup beruntung 🙂

Ritual Harian Pembersihan Patung Mahamuni

Ritual pembersihan Patung Mahamuni dimulai dengan bunyi tabuhan. Diikuti kedatangan biksu yang berpakain putih menuju area Patung Mahamuni. Pembersihan dilakukan oleh beberapa orang. Ritualnya sederhana “basuh” lalu “kering”. Pertama Biksu membersihkan patung Buddha kemudian mengeringkannya. Pembersihan Batung Buddha secara keselurahan secara berlahan padahal tinggi Buddha yang terbuat dari perunggu ini mencapai 4,5 meter. Setelah dikeringkan lalu patung buddha dibasuh dengan minyak Cendana baru kemudian dikeringkan lagi dengan handuk. Setelah itu baru diberi wewangian.Keunikan dari ritual pemandian Patung Buddha adalah handuk dari pembersihan patung Buddha diberikan kepada mereka yang beribadah di dalam.

Hanya sekitar 20 menit saja Ade keluar dari hiruk pikuknya turis penonton acara pemandian patung Buddha di Mandalay. Ade menuju tempat duduk manisku di lantai penuh kepuasan melihat kehidupan pagi warga lokal Myanmar, aku terkesima dengan kerajinan mereka yang datang dari berbagai penjuru untuk mengikuti proses pembersihan Patung Mahamuni.

"Nya, yuk ke Mandalay Hill!", lanjut Ade
Yuk, kataku

Kamipun meninggalkan keramaian Pagoda Mahamuni di pagi hari menuju perjalanan mengejar sunrise ke Mandalay Hill karena kami sudah sah travelling di Myanmra dengan mewujudkan what to do in Mandalay 🙂

Rincian Pengeluaran Mandalay, Myanmar Hari Keempat

Taxi dari Stasiun Bus ke Dream Guest House 5000 KS/ 2 orang

Sewa Motor seharian 12,000 KS/ 2 orang

Uang Masuk Su Taung Pyae Pagoda 1000 KS

Air Lemon 500 KS Bensin 4500 KS/2 orang

Makan siang + minum tebu 1800 KS

Bus malam dari Mandalay ke Yangoon 22,000 KS/2 orang

Parkir motor 500 KS/2 orang

Total Pengeluaran hari keempat di Myanmar

2500 KS + 6000 KS + 1000 KS + 1800 KS + 11,000 KS + 250 KS

= 22,550 KS

Tempat wisata yang dikunjungi di Mandalay, Myanmar

Sunrise Mandalay Hill, Mahamuni Image, U Bein Bridge, Kuthodaw Pagoda (biggest book in the world), Mandalay Royal Pallace, Masjid

Salam

Winny

 

Sunset di Shwesandaw Pagoda Old Bagan, Myanmar


Very little is needed to make a happy life, it is all within yourself, in your way of thinking

By Marcus Aurelius

Bagan Plains with the Dhammayangyi on the left
Pemandangan Dhammayangyi Temple

Hello World!

Old Bagan, Februari 2017

Setelah adegan ban bocor telah diperbaiki oleh dua montir dadakan dari tempat penyewaan sewa karena selfie akut, perut yang lapar tidaklah bisa berbohong. Belum lagi cuaca yang panas membuat kami memutuskan kembali menuju ke New Bagan untuk mencari makan siang. Dengan dua sepeda motor listrik yang kami sewa, kami bertiga kembali bersepedahan kearah New Bagan. Memang kami masih penasaran dengan New Bagan, Myanmar. Ditambah susah sekali mencari makanan disekitar Old Bagan yang penuh dengan Pagoda.

Untuk sampai ke New Bagan, membutuhkan waktu kurang lebih 30 menit dari Old Bagan. Awalnya kami hendak makan di sebuah Restauran dengan pemandangan laut namun ketika melihat harganya yang “Aduhai” akhirnya kami membatalkan serta secepat kilat dengan langkah seribu meninggalkan tempat itu dan mengambil sepeda motor listrik kami di parkiran. Ujung-ujungnya setelah capek mencari sana-sini kami berhenti disebuah cafe yang agak ramai. Tujuan kami untuk bersantai ria setelah seharian berpanas-panas di Old Bagan.

Ban Bocor di Old Bagan

Kami pun melihat menu makanan dan memilih makanan berdasarkan kesukaan. Di restauran di New Bagan, aku mendapatkan makanan yang agak “zonk” karena salah memilih “sup sayur ala tom yam” yang aku pesan murni sayuran tanpa rasa. Sampai-sampai si Ade dan Melisa terkekeh-kekeh melihat ekpresi makanan yang aku pesan ketika datang tidak sesuai dengan harapan. Beruntunglah Melisa dan Ade membeli makanan yang agak mahal namun rasa lumayan. Ini jadi pelajaran buatku kalau ke Myanmar jangan pernah pesan yang namanya “tom yam” atau “soup vegetable” karena harga menentukan rasa. Apalagi memesan makanan yang murah, siap-siap rasanya sesuai dengan harga.

Bayangkan saja sayur tok dengan kuah ala-ala 😦

Lokal Myanmar (Photo: Melisa)

Setelah kenyang makan di New Bagan, barulah kami kembali ke Old Bagan untuk mengejar sunset Old Bagan, harapannya  sebanding fenomenalnya dengan sunrise Old Bagan.

Nah pas perjalanan pulang si Ade kebelet ke toilet, untungnya ke tempat peribadatan tempat makan mie ubek-ubek pakai tangan tadi pagi ternyata memiliki toilet. Makanya Ade sempat berhenti sementara. Kalau tidak, entahlah nasib si Ade menahan kebelet sepanjang jalan.

Oh ya untuk perjalanan bersepeda motor listrik sepanjang Old Bagan-New Bagan cukuplah seru karena Pagoda dan templenya yang bertaburan dengan ukuran yang berbeda-beda. Bahkan kami sempat berhenti disebuah Pagoda yang mirip istana dengan tembok berbentuk persegi panjang sekelilingnya. Bak kami berada di masa lampau, seperti itulah keseruannya. Tapi jangan ditanya apa informasi dari Pagoda tersebut karena tulisannya tidak kami mengerti. Bahkan Ade mengatakan “tulisan cacing” yang susah dimengerti. Namun kami maafkan karena Pagodanya yang cukup indah.

Old Bagan

Setelah itu kami bertiga menuju ke Shwesandaw Pagoda untuk melihat sunset Old Bagan, Myanmar. Jujur saja, pemilihan Pagoda ini karena kami melihat begitu banyak orang, jadi kami hanya mengikuti rombongan turis yang banyak. Kamipun memarkirkan sepeda motor listrik kami dengan sembarangan lalu mengikuti rombongan turis.

Nah saat Aku dan Ade mengikuti rombongan turis ternyata si Melisa berpisah dari kami karena hendak mengambil photo Shwesandaw Pagoda dari depan. Agak cukup lama aku dan Ade menunggu Melisa di tangga menuju ke Shwesandaw Pagoda. Hingga menunggu sekitar 30 menit lalu Melisa kelihatan

Mel, kemana dirimu?, tanya kami
Tahu gak aku tadi katahuan gak punya tiket, wkwkwk katanya dengan tertawa lepas

Where is your ticket to Bagan?, tanya petugasnya kata Melisa
I left at hotel, kataku
Kalau gak bisa mate kata Melisa

Dirimu sih Mel, pisah dari kami

Aku kan tadinya mau ngambil photo eh malah ketahuan, katanya

Akhirnya aku dan Ade tertawa melihat kejadian yang baru dialami Melisa. Untung muka kami kayak muka lokal yah Mel, untung dirimu gak dideportasi 😀

Shwesandaw Pagoda

Setelah berkumpul akhirnya kami menaiki tangga yang super membuat bulu kudukku berdiri. Tahu sendiri aku paling phobia dengan ketinggian. Kalau bisa ngesot, maka ngesot deh biar sampai keatas. Belum kemiringan tangganya sangat curam dan miring. Perlu kehati-hatian tingkat tinggi untuk sampai ke Puncak, ditambah ramainya antrian hendak naik. Kalau bukan disemangati Melisa dan Ade mending aku tidak usah melihat matahari terbit dari atas Pagoda daripada menahan ketakutan. Tapi anehnya aku sampai juga dipuncak Shwesandaw Pagoda dengan usaha yang luar biasa.

Sesampai di atas Shwesandaw Pagoda begitu ramai, ramai turis yang juga menunggu sunset dari Pagoda. Bahkan kami harus berkeliling Pagoda memutari untuk mencari celah menikmati Pagoda di Bagan dari atas. Melisa dan Ade bahkan berphoto di ujung Pagoda seolah tak takut mati. Sementara aku yang duduk disamping saja membuat nyali sudah kecut ditambah keringat dingin dan deg-deg syer yang luar biasa, lebih deg-degan dari Cinta pertama. Begini rasanya kalau penakut akan ketinggian. Sumpah saat Melisa berdiri di ujung Pagoda dengan gaya Yoga membuatku takut, takut dia terjatuh. Belum juga tingkah si Ade yang tidur nyenyak diatas Pagoda, ampun DJ!

Kami menunggu sunset

Setelah puas berphoto dengan latar belakang Pagoda ala Old Bagan, akhirnya kami kembali menuju tempat melihat sunset diantara turis yang super padat. Sunset Old Bagan sangat bagus, sebagus saat sunrise hanya saja tidak ada balon udaranya. Walau kami harus rela berdesak-desakan diantara keramain turis dan bersempit-sempitan demi “photo sunset Old Bagan”. Memang dibalik photo indah ada turis ramai yang menunggu.

Sunset di Old Bagan berbeda karena adanya latar belakang ribuan Pagoda serta pegunungan dan bersembunyi dibalik sebuah air.

Pemandangan apik!

Tidak sia-sia berjuang naik dengan tangga miring yang menggetarkan jiwa serta kesumpekan turis.

Sunset Old Bagan dari Shwesandaw Pagoda
Nya, aku senang akhirnya bisa lihat sunrise dan sunset 
sekaligus di Old Bagan, Myanmar, kata Ade dengan bahagia

Yah perjalanan Old Bagan, Myanmar kami memang penuh cerita.

Salam

Winny

Pengalaman Kocak di Thatbyinnyu Temple, Burma


It is strange to be known so universally and yet to be so lonely

By Albert Einstein

Hello World!

Burma, Februari 2017

Setelah mengelilingi Old Bagan dan adegan gokil di depan Pagoda, akhirnya aku, Melisa dan Ade melanjutkan perjalanan kami ala backpacker di Bagan dengan sepeda motor listrik. Dengan cuaca yang panas kami berhenti di Pagoda yang menurut kami cakep. Bahkan ada satu Pagoda yang cukup mencuri perhatian kami yaitu Pagoda yang didepannya ada kaktus. Kaktus inilah bukti kalau di Old Bagan lumayan panas, dan satu lagi di Old Bagan itu lumayan gersang dan berdebu sehingga perlu membawa masker.

Sekali lagi mengelilingi Pagoda di Old Bagan cukup menyita waktu karena Pagodanya yang super banyak sekali. Jadi tidak mungkin mengunjungi satu persatu.  Bahkan dalam pemilihan Pagoda yang kami kunjungi berdasarkan Hingga kami menuju ke Thatbyinnyu temple di Old Bagan karena warna Pagodanya berwaran putih.

Di Thatbyinnyu temple, aku membeli buah potong karena pas di Old Bagan pas siang hari panas maka perlu banyak minum. Sementara si Ade dan Melisa mencoba minum es di depan Pagoda. Kali ini mereka minumnya kena zonk karena minuman mirip Cendol warna hitam ternyata diubek-ubek pakai tangan juga. Tapi si Ade dan Melisa minum juga cendol ala Myanmar yang diaduk dengan tangan. Karena sudah terlanjur dibeli dan haus juga akhirya si Ade minum juga cendol yang diubek-ubek tadi.

Dalam hatiku, untung gak beli minuman ubek pakai tangan. Tapi anehnya meski diubek pakai tangan, si Ade dan Melisa sehat-sehat saja, tidak terkena diare. Kalau ingat adegan ini malah ingin tertawa sendiri.

Setelah minum kamipun melanjutkan perjalanan kami untuk mencari makan siang. Tapi entah kenapa kami berteduh di dekat Thatbyinnyu Temple.

Nya Tolong dong ambilin photoku di depan Pagoda sambil bersepeda, kata Ade

Ini bisa mmephoto 10 photo dalam 1 detik, lanjutnya

Kayak gini ya caranya, kata Ade melanjutkan

Nanti setelah itu gantian aku ambilin photomu, katanya

Oh ya di ola Bagan, masyarakatnya memanfaatkan ban bekas menjadi tempat sampa. Tempat sampah dari ban bekas di Old Bagan cukup unik  kreasi sehingga indah untuk dilihat. Hal ini patut dicontoh, semoga di Indonesia bisa juga ya 🙂

Thatbyinnyu Temple

Kemudian saat mengambil photo Ade dengan latar belakang PAGODA eh tiba-tiba sepeda listriknya bannya bocor. Oh no, padahal kami belum makan siang dan belum ke New Bagan. Bahkan kartu Myanmar saja kami tak punya. Untungnya ada nomor telepon tempat peminjaman sepeda motor listrik di sepeda motor listrik.

Akhirnya dengan inisiatif aku mencoba meminta bantuan orang lokal untuk menelepon tempat penyewaan sepeda motor kami. Sayangnya orang lokal tidak bisa bahasa Inggris akhirnya pakai bahasa Tarzan dengan menunjukkan handphone dan sepeda yang bannya bocor Untungnya si orang lokal mengerti dan menelepon pihak penyewaan motor kami. Jujur disini kami sempat khawatir tapi kami tetap asik saja. Aku, Melisa dan Ade sempat bersantai ria di bawah pohon karena ban sepeda motor listrik yang bocor sambil menunggu montir datang.

Padahal kami juga tidak tahu dimana tempat ban bocor kami. Nah pas penungguan montir untuk memperbaiki sepeda motor, kami benar-benar menikmati kebersamaan malahan masih sempat photo suka-suka.

Penantian kami hanya 20 menit saja, montir kami datang. Disini kami melihat proses penggantian ban dengan lem. Kedua montir yang memperbaiki sepeda motor kami masih muda. Si Ade paling suka mengganggu mereka dengan Bahasa Indonesia, kadang ngomong pakai Bahasa Inggris padahal montirnya ngerti juga kagak. Aku dan Melisa tertawa saat Ade mengganggu mereka. Beruntung memang kami karena meski ban bocor dan tidak tahu dimana, tapi mereka dapat menemukan kami dan sigap memperbaikinya. Kalau tidak bisa dorong sepeda listrik dengan perut lapar.

Pelajaran yang berharga yang kami dapat ialah “gegara photo maka ban kami pecah”. Beginilah kalau sudah terkena selfie akut. Anehnya disitu kekocakan trip di Old Bagan, Myanmar kami. Kapan lagi coba merasakan ban pecah gegara asik berphoto tapi malah menjadi momen lucu-lucu bagi kami.

Rincian Pengeluaran Old Bagan, Myanmar Hari Ketiga

Taxi dari Highway bus Station ke Nyaung-U 24,000 KS/ 3 orang

Sewa e-bike seharian 12.000 KS/3 orang (2 e-bike)

Sarapan mie 2600 KS/3 orang

Minum kelapa 3000 KS/3 orang

Tiket bus Malam Old Bagan-Mandalay 22,000 KS/2 orang

Total Pengeluaran hari ketiga di Myanmar

8000 KS + 6000 KS + 870 KS + 1000 KS + 11,000 KS

= 26,870 KS 

Tempat wisata yang dikunjungi di Old Bagan, Myanmar

Melihat Sunrise dengan latar belakang balon udara dan candi serta puas keliling Old Bagan dan menelusuri Candi-Candi di Old Bagan serta melihat sunset di Old Bagan

Salam

Winny

Jelajah Old Bagan dan New Bagan, Myanmar


Success in life comes when you simply refuse to give up, with goals so strong that obstacles, failure and loss act only as motivation.

By Unknown

Hello World!

Old Bagan, Februari 2017

Setelah sarapan dan perutpun kenyang dari makan mie ubek-ubek pakai tangan khas ala Myanmar, aku, Ade dan Melisa melanjutkan perjalanan ke New Bagan. Jujur ke New Bagan itu hanya mengikuti insting karena setelah puas melihat matahari terbit Old Bagan yang fenomenal, kegiatan kami berikutnya adalah acara bebas. Bahkan bebas dalam mencari objek wisata apa yang ingin kami kunjungi. Namun karena di Old Bagan banyak sekali Pagoda dari satu meter sudah ada Pagoda maka kami sedikit bingung Pagoda mana yang akan kami singgahi terlebih dahulu. Akhirnya kami berhenti di Pagoda yang menurut kami enak dipandang mata karena jika ingin mengunjungi satu persatu tidaklah mungkin mengingat jumlah Pagoda di Myanmar itu ribuan bahkan mungkin jutaan, jadi niat mengunjungi semua Pagoda dalam sehari itu dalam sehari adalah pekerjaan mustahil.

Saat makan Mie Melisa sempat menunjuk Wanita berleher panjang Myanmar,
dimana sebelumnya kami sudah puas bertemu di Inle. Si Ibu lewat dengan jalan kaki.

Win, Ade, lihat ada wanita berleher panjang, 
kata Melisa dengan semangat 45

Gegara  melihat wanita berleher panjang lewat maka kami yang awalnya niatin ke New Bagan malahan berubuah tujuan mencari wanita berleher panjang Myanmar. Wanita berleher panjang Myanmar kami temukan di salah satu penjual kain tenun. Entah kenapa namun rata-rata wanita berleher panjang di Myanmar yang kami jumpain bekerja sebagai penenun.

Baca juga pengalaman Wanita berleher panjang Myanmar

Bagan, Myanmar
La Min Aein, Long Neck Women Myanmar

Dengan motor listrik, kamipun berhenti di tempat tenun ibu berleher panjang. Hanya saja kami singgah hanya sebentar saja karena kami tidak ada niat untuk membeli tenunan serta alasan lain karena kami sudah puas bertemu dengan wanita berleher panjang di Inle, Myanmar.

Tanpa basa-basi akhirnya kami melanjutkan perjalanan kami dan menjauh dari tempat si ibu Myanmar yang sedang menenun menuju ke Pagoda yang kami lewati di pagi hari. Pemilihan Pagoda pun dikarenakan jaraknya dekat dengan tempat La Min Aein, wanita berlehar panjang yang kami singgahi serta kami tertarik melihat keramaian orang yang berada di kawasan Pagoda tersebut.

Bentuk Pagoda yang kami kunjungi setelah Pagoda untuk sunrise Bagan, mirip dengan Pagoda yang di India. Bentuknya bulat dengan warna merah bata. Mirip stupa dengan gaya yang khas. Jujur aku sangat suka dengan Pagoda yang kami datangi setelah Pagoda saat melihat matahari terbit. Kami bahkan sempat masuk kedalam komplek Pagoda untuk melihat apa yang ada di dalam Pagoda. Sekedar ingin menjawab rasa penasaran kenapa ramai pengunjungnya. Untuk masuk ke dalam Pagoda sebelumnya kami membuka sandal/sepatu dan kaos kaki kami karena peraturan di Myanmar jika ingin masuk ke area Pagoda/Candi maka harus membuka alas kaki.

Masuk ke dalam Pagoda, kami melihat beberapa biksu serta pengunjung yang beribadah.  Semakin berjalanan mengelilingi kawasan Pagoda, kami malah melihat hal menarik berupa “Patung Buddha yang dimandikan” oleh pengunjung. Hal ini tentu asing bagiku, Melisa dan Ade namun menambah wawasan kami.

“Lihat tuh Mel, Patungnya dimandiin, gak kayak kita gak mandi-mandi”, kata Ade

Mendegar ocehan Ade membuatku geli tak karuan karena memang kami belum mandi sejak dari perjalanan Singapura-Yangon-Inle dan Bagan. Untukku sudah 4 hari tidak mandi-mandi dan rasanya “butuh air segar untuk mandi”. Untuk Ade dan Melisa mungkin 3 hari belum mandi, sehingga melihat patung dimandikan itu rasanya iri setengah mati. Kami merasa seperti kambing, disini kami merasa pejalan hina hihihi 😀

Old Bagan
Old Bagan
Old Bagan
Old Bagan

Setelah puas cuci mata Pagoda Old Bagan, kami keluar dan meneluri Pagoda lainnya di kawasan Old Bagan karena memang saat berada di OLD Bagan maka jarak satu meter terdapat Pagoda. Kami pindah dari satu Pagoda ke Pagoda lainnya, kali ini kami memilih mundur ke Pagoda yang di tepi jalan yang sempat menarik perhatian kami. Memang rata-rata Pagoda di Old Bagan itu gratis, beberapa memang bayar namun kalau membayar uang masuk Kota Bagan maka masuk ke Pagodanya gratis. Lah kami adalah turis gelap sehingga kami mainnya ke Pagoda gratisan. Kalau kami masuk ke Pagoda yang turistik bisa-bisa kami dideportasi karena tidak memiliki bukti pembayaran tiket masuk Kota Bagan. Tapi tenang, Pagoda di Old Bagan cukup banyak untuk menerima hasrat gratisan kami.

Kendala saat menghampiri Pagoda di Old Bagan adalah susah mencari jalan ke Pagodanya, bahkan Ade dan Melisa berpikir dua kali bagaimana cara masuk, akhirnya kalau ada sedikti tanda-tanda jalan maka kami lewat kesitulah kami. Jalanannya pun berdebu, terus semak-semak belukar sampai duri-duri. Kalau ada jalanan aspal itu adalah jalanan utamanya, kalau ke Pagodanya harus melewati jalanan kecil setapak.

Pencarian Pagoda di old Bagan kamipun termasuk impulsif banget, singgah di Pagoda yang kami sukai saja. Saking banyaknya Pagoda yang kami singgahi, kami sampai tak tahu nama Pagodanya. Kami hanya melihat sekilas karena untuk informasi mengenai Pagoda pun menggunakan Aksara Myanmar.

Bye untuk memahami sejarah dari Pagoda di Old Bagan.

Old Bagan

Waktu kami menjelajah Old Bagan sangat terik matahari namun kami sangat menikmati perjalanan kami. Bahkan kami rela melewati semak-semak belukar demi bisa mendekat dengan Pagoda. Bentuknya yang unik seolah berkata “come closer”.., wkakak

Keunikan Pagoda di Old Bagan adanya patung Buddha di dalam Pagoda. Kami sempat penasaran ada apa di dalam Pagoda, ternyata ada Patung Buddhanya walau tidak semua Pagoda memiliki Patung Buddha di dalamnya. Kadang membuat kaget, lihat di dalam apaan eh ada patungnya.

Yang parah saat aku kebelet pipis di Pagoda Old Bagan. Nyari WC kagak ada terus kebeletnya minta ampun. Terus si Ade nakut-nakutin “jangan pipis sembarangan”, apalagi di Pagoda. Akhirnya jadilah menahan pipis. Dan sungguh menahan pipis tidak sangat menyenangkan, apalagi punya teman yang gokilnya minta ampun malah semakin memicu. Belum lagi adegan lucu kami saat berpose di depan Pagoda bersama Ade, asli kami kurang kerjaan.

Kami bertiga memang agak kurang kerjaan dimana kami benar-benar menikmati perjalanan Old Bagan kami. Malahan pas capek setelah beradegan lucu di depan Pagoda, akhirnya kami bertiga malah ngerumpi di depan Pagoda sambil berteduh. Mulai dari curhat perjalanan, kehinaan selama perjalanan hingga masalah kerjaan yang tak jelas. Memang sangatlah luar biasa kami bertiga jauh-jauh ke Old Bagan ujung-ujungnya malah curcol di Pagoda.

Aku cukup beruntung berjalan dengan dua teman yang seru habis:)

Old Bagan
Old Bagan
Melisa di old Bagan
Old Bagan
Old Bagan

Rincian Pengeluaran Old Bagan, Myanmar Hari Ketiga

Taxi dari Highway bus Station ke Nyaung-U 24,000 KS/ 3 orang

Sewa e-bike seharian 12.000 KS/3 orang (2 e-bike)

Sarapan mie 2600 KS/3 orang

Minum kelapa 3000 KS/3 orang

Tiket bus Malam Old Bagan-Mandalay 22,000 KS/2 orang

Total Pengeluaran hari ketiga di Myanmar

8000 KS + 6000 KS + 870 KS + 1000 KS + 11,000 KS

= 26,870 KS 

Old Bagan

Tempat wisata yang dikunjungi di Old Bagan, Myanmar

Melihat Sunrise dengan latar belakang balon udara dan candi serta puas keliling Old Bagan dan menelusuri Candi-Candi di Old Bagan serta melihat sunset di Old Bagan

Salam

Winny