Bertemu dengan Wanita berleher Panjang di Inle, Myanmar


Success is about dedication. You may not be where you want to be or do what you want to do when you’re on the journey. But you’ve got to be willing to have vision and foresight that leads you to an incredible end.

By Usher

Hello World!

Myanmar, 2017

Setelah melakukan aktivitas seharian di Danau Inle dimulai dari subuh-subuh demi mengejar matahari terbit untuk melihat Nelayan Myanmar dengan gaya khas menangkap ikannya, mengunjungi pasar tradisional ala Myanmar untuk membeli Longyi serta melihat pagoda warna-warni, ditambah dengan mampir ke setiap tempat pembuatan kerajinan tangan mulai dari pembuatan tembaga, pembuatan oleh-oleh seperti ukiran, gantungan kunci, patung dari kayu, sampai hasil tenunan dari eceng gondok maka kunjungan yang kami tunggu-tunggu adalah ingin bertemu dengan Wanita berleher panjang tepatnya Pyae Thar Tun Pa Taung, hand weaving centre. Bahkan demi LongNecked women alias wanita berlehar panjang Melisa rela membatalkan kunjungannya ke Mandalay, tentu saja pilihan itu merupakan pilihan tepat baginya.

LongNecked women alias wanita berlehar panjang Myanmar sebenarnya bukan karena lehernya yang panjang namun karena di lehernya memiliki kalung yang disusun  dari besi/perunggu sepanjang lehernya, sehingga lehernya tidak kelihatan sama sekali. Pas melihat lehernya dipastikan yang dominan adalah kalungnya dengan warna kuning yang menyilau. Pakainnya pun unik dengan pakaian khas serta tak hanya leher, di kaki juga terdapat kalung yang melingkar kaki bak cincin kaki.

Mamakai kalung berupa cincin melingkar di leher sudah menjadi tradisi kuno dari suku Kayan, suku tertua di Myanmar. Saat anak gadis masih muda sekitaran umur 5 atau 10 tahun,  mereka akan memulai memakai kalung perunggu di leher dan di kaki, pemakaian jumlah kalungnya bisa 6 sampai 10 kemudian akan bertambah panjang seiring penambahan usia gadis tersebut. Alasan pemakaian kalung pun memiliki banyak versi, ada versi yang mengatakan kalau wanita Myanmar menutupi lehernya agar terlihat cantik, namun ada juga versi lain yang mengatakan untuk melindungi dari serangan binatang. Namun  seiring berkembangnya zaman maka wanita Myanmar pada saat sekarang ini sudah jarang memakai kalung yang tersusun sepanjang lehernya. Alhasil populasi wanita berleher panjang sudah menjadi langka sehingga membuat turis penasaran dengan keunikan wanita berleher panjang. Bisa dibilang bertemu dengan Myanmar LongNecked women merupakan top list  banget saat liburan atau berwisata di Myanmar.

Inle

Aku sendiri mengira kalau wanita berleher panjang hanya bisa ditemukan di Chiang Mai, ternyata siapa sangka kami beruntung bisa bertemu dengan wanita berleher panjang di Myanmar. Bak kata kami mau berburu Pagoda di Bagan malah menemukan LongNecked women, itu namanya “beruntung”. Habis dulu pernah punya niat ke perbatasan Thailand demi bertemu dengan wanita Myanmar yang unik namun baru berjodoh pas di Inle.

Pas sampai di sebuah rumah yang dari kayu, di papan ada gambar wanita berleher panjang. Lalu turun dari kapal, aku, Melisa dan Ade masuk ke dalam rumah. Di dalam rumah banyak terdapat hasil tenunan yang dijual, nah disinilah 3 wanita berleher panjang sedang menenun. Anehnya 3 kursi sudah disediakan untuk pengunjung bahkan keranjang amal dari plastik untuk merekapun sudah disiapkan. Artinya sudah dipastikan sudah menjadi komersial untuk photo dengan LongNecked women Myanmar. Kalau berphoto maka bisa memberikan uang seikhlasnya yang sudah tersedia.

Bisa dibilang bahwa kunjungan kami ke LongNecked women Myanmar merupakan puncak perjalanan Inle kami setelah gaya Nelayan Inle yang fenomenal. Hanya saja aku tidak pernah membayangkan bahwa para LongNecked women Myanmar ini kami temukan di area penjualan tenun. Jadi para wanita berleher panjang sengaja banget diberi kerjaan untuk menenun untuk menjadi daya tarik wisatawan.

Wanita berleher panjang Myanmar ini sangat ramah, bahkan tersenyum kepada kami para wisatawan. Mungkin mereka tahu betul bahwa kami ingin berphoto dengan mereka atau sudah biasa dengan turis yang ingin photo. Bahkan untuk berphoto dengan LongNecked women antirannya panjang. Karena dipastikan wisatawan juga memiliki antusias yang sama.

Jujur agak segan meminta photo dengan mereka karena pada dasarnya mereka sedang bekerja sehingga takut mengganggu. Namun dengan ramah salah seorang ibu LongNecked Myanmar mengajakku masuk mendekatinya. Malahan aku dikasih kursi ddan duduk disamping mereka.

Mel, ambil photo cantik ya begitu seruku ketika bersama Long-Necked Myanmar

Eh tiba-tiba seorang cewek dengan muka bule berkata

"Dari Indonesia ya, mama saya juga dari Indonesia, begitu katanya dengan ramah".

Wow, siapa sangka dengan ramah gadis itu menyapa kami duluan ketika mendengar kami berbicara bahasa Indonesia, sontak kami ngobrol panjang dengannya. Kapan lagi ketemu muka bule namun cinta Indonesia padahal seriusan deh pas di Inle itu kami itu agak memalukan apalagi pas edisi photo narsis. Bisa saja kan dia pura-pura gak mengerti bahasa kami, eh ternyata dengan ramah malah kami diajak kenalan duluan.

Nama gadis itu Bella, yang memiliki ayah kebangsaan Amerika dan Ibu kebangsaan Indonesia tapi tinggal di Settle dan Kuliah di Hong Kong. Bella sedang liburan dengan teman-temannya di Myanmar. Bahkan dia sempat menunjukkan photo perjalanannya di Bagan, lengkap dengan hot ballon sementara kami baru keesokan harinya.

Bagaimana kamu bisa berhasa Indonesia, tanyaku dengan penasaran
Ibu saya mengajari saya karena Bahasa Indonesia sangat penting, begitu katanya.

Serius ya bertemu dengan sesama yang bisa Bahasa Indonesia itu di negeri orang membuat rasa Nasionalisme semakin menggebu-gebu. Apalagi Bella rela meningglkan teman-temannya sementara demi kami. Dia juga mau kami ajak berphoto bersama dengan Long neck women Myanmar 🙂

Long Neck Women Myanmar

Tidak sampai disitu, si Bella sempat membuatku malu tak kalah panjang ketika aku melihat bule yang berpakaian Longyi dan ingin berphoto dengan mereka. Padahal segerombolan cowok ini sudah kami jumpai saat di Pagoda warna-warni, waktu itu aku nunjuk ke Longyi yang mereka pakai. Aku malah sempat salah satu dari mereka berkata “what this girl point at?.

Seolah-olah aku nunjuk ke bagian xxx nya.. Eh malah ketemu lagi di rumah wanita berleher panjang. Mungkin ini namanya jodoh hihiih 😀

Hey guys, my friend want to take photos with you, 
begitu kata Bella kepada mereka
Okay, jawab mereka

Tentu saja membuatku malu minta ampun! Akhirnya dengan salah tingkah akupun berphoto dengan mereka. Sumpah adegan ini amat sangat memalukan bagiku!

Rasanya urat maluku mau lepas saking malunya. Ternyata untuk ukuran “Winny” yang suka jalan-jalan bisa juga malu tak kepayang. Sampai-sampai si Melisa dan Ade tertawa ngekeh melihat tingkahku yang malu-malu kucing.

Akhirnya pamitan dengan para gerombolan bule dengan Longyi akhirnya salah satu dari mereka senyum manis kepadaku lantaran dia telah mengunjungi Bukit Lawang karena dia sempat penasaran dari mana asal kami. Pas kami mengatakan Indonesia dia langsung dengan bangga ” I have been there last week”.

Mungkin si kawan ini merasa aneh tapi yasudahlah yah yang penting berphoto dengan bule pakai sarung hahaha 😀

Setelah adegan memalukan, akhirnya Bella pamitan pulang juga. Nah pas pamitan ternyata Bella mencium pipi kiri si Ade, eh si Adenya malah minta nambah cium pipi kanan. wkkwkwkwkwkwk 😀

Tambuh ciek dia 😀

Dia menahan tangan kanan Bella sambil memberikan pipi kananya. Tentu saja aku dan Melisa menahan tawa. Artinya tidak hanya aku saja yang mengalami “kehinaan”.

Dalam hatiku untung ada teman! teman malu yeeee!

Jadi begitulah cerita pengalaman bertemu dengan wanita berleher panjang kami yang berakhir dengan adegan “kehinaan”, tapi penuh kenangan. Kapan lagi aku merasa malu!! 😉

Baca juga

Kehinaan di Myanmar

Backpacker di Myanmar

Inle, Myanmar

Rincian Perjalanan Inle, Aktual

Bayar uang masuk ke Inle, Myanmar USD 10/orang

Naik tuk-tuk ke Muhi House 3000 KS/3 orang

Sewa Boat seharian Boat Tour Special Big Tour sunrise to sunset sightseeing Inle 30,000 KS/3 orang

Sarapan gorengan di Pasar Inle 2300 KS/3 orang

Makan siang di Inle 8000 KS/ 3 orang

Tips boat 1700 KS/ 3 orang

Tips ke Nelayan Inle 5000 KS/3 orang

Tiket Bus malam dari Inle ke Bagan 18,000 KS/orang

Total Pengeluaran hari kedua di Myanmar

$10 + 1000 KS + 10,000 KS + 760 KS + 570 KS +  1600KS + 18,000 KS = $10 dan 31,930 KS

= 13640 KS + 31930 KS

= 45,570 KS

Tempat wisata yang dikunjungi di Inle, Myanmar

Sunrise melihat fisherman lengkap dengan gayanya yang unik, Taung Toe untuk melihat Market (Pagoda), In Paw Khon untuk melihat Silk and lotus weaving, Nampan untuk melihat Floating Village, Tobbaco and making boat, Phaung Daw OO Pagoda untuk melihat Buddha Image, Shwe in Den Pagoda untuk makan siang, Ywa Mah untuk melihat Long Neck Women Golad and Silver Umbrella, Kaylar (fisherman Village) dan tomato garden, Maing Thauk dan Nga Phe Chaung Monestery.

Salam

Winny

Iklan

Memberi makan Merpati di Phaung Daw Oo Pagoda, Inle Myanmar


I wanna write ‘I miss you’ on a rock and throw at your face so you know how much it hurts to miss you.
By Anonymous

Je vous souhaite un bon séjour! #travelling #myanmar #burma #travelblog #travel ✈️Myanmar 📷Ade Pb

A post shared by Winny Marlina (@winnymarlina) on

Hello World!

Inle, 2017

Aku, Ade dan Melisa berjalan tergopoh-gopoh keluar dari Pagoda warna-warni sambil menuruni perbukitan melalui anak tangga dari semen. Pemandangan kiri kanan kami adalah pasar tradisonal yang cukup menarik, menarik karena kami bisa melihat kegiatan warga lokal sehari-hari. Belum juga sampai ke dermaga ala-ala itu, Melisa dan Ade harus berhenti sebentar ke toilet. Perlu uang beberapa Kyatt Myanmar agar bisa masuk kedalam toilet, sementara aku diluar saja menjaga barang-barang mereka. Akhirnya kamipun berjalan melewati pasar berlantai tanah menuju ke perahu. Didalam perahu, kami duduk manis dan menyerahkan tujuan wisata berikutnya kami kepada dua guide dengan umur yang sekitar SMP dan SMA. Sebenarnya Mrs Muh Kyi telah memberikan peta untuk kami dengan penomoran tujuan wisata kami namun tetap saja kami mengacak tujuan wisata kami. Maklum kami mah gampangan, gampang dibawa-bawa 😉

Karena hari sudah mulai siang, perut kami sudah mulai keroncongan, rasa lapar tidak bisa dibohongi. Namun kami harus menahan lapar beberapa saat karena perahu kami sempat berhenti di sebuah pembuatan tembaga dan perak.  Pembuatan tembaga/ perak tersebut masih tradisional, seorang Bapak menggunakan alat sederhana dengan sistem pembakaran ala kadarnya lalu memperlihatkan cara dia membuat perak. Anehnya yang terlintas dibenakku saat si Bapak menunjukkan kelihainnya dalam mengolah perak/tembaga adalah Kota Yogyakarta, walau belum pernah langsung melihat proses pembuatan tembaga di Yogyakarta entah kenapa aku memikirkan Yogya.

Sayang, kami tidak lama-lama di tempat pengrajin perak/tembaga walau kami disuguhi teh baknya seorang tamu, karena kami harus mencari makanan. Alhasil kami tidak membeli apa-apa dari hasil kerajinan tangan di tempat pengrajin tembaga. Maklum selain menguber waktu, harganya lumayan mahal untuk kami yang backpacker ke Myanmar ini!

Kamipun keluar dari pengrajin dan melajutkan perjalanan.

Di dalam perahu si Ade memberikan Bahasa Isyarat kepada dua guide kami “ food”, begitu katanya sambil mengepal tangannya ke mulut seolah mau makan kepada mereka. Membawa si Ade saat perjalanan memang ada gunanya, karena tingkahnya yang lucu, dia juga bisa mencairkan suasa meski itu cuaca panas dan perut sudah memberontak. Sedikit lupa dengan caranya melawak 😀

Sontak mereka mengerti dan membawa kami ke sebuah restaurant disamping Danau, dekat dengan Phaung Daw Oo Pagoda, tempat dimana memberikan makan kepada merpati.

Setelah kapal bersandar, kamipun melewati jembatan dari kayu dengan pemandangan Danau dengan warna cokelat dibawahnya. Kalau aku bilang warna Danau ini lebih mirip seperti sungai dibatasi oleh sisi kiri kanan. Perlu usaha keras untuk menuju sebuah restauran yang berwarna cokelat dari kayu, berjalan hati-hati di jembatan tadi. Unutk lokasi makannya pun berada di lantai 2, disinilah kami memesan makanan.

Pesananku jatuh kepada yang berkuah-kuah sementara Melisa dan Ade lebih suka menjelajah makanan khas Myanmar walau ujung-ujungnya mereka memesan nasi. Selang beberapa waktu pesanan kamipun datang dengan rasa yang lumayan enak walau harganya sebelas dua belas dengan harga di PI/GI Jakarta. Hanya saja untuk makanan dengan gaya restauran, lumayan ramah di kantong karena kami menganggapnya tempat wisata yang notabenenya selalu mahal. Makan siang di Inle ini kami dikenai biaya 8000 KS/ 3 orang.

Untungnya aku dan Ade bukanlah orang yang tidak susah untuk makan, mengingat kami berdua adalah Muslim dan negara yang kami kunjungi adalah Burma. Sepanjang bukan B2, atau sejenisnya mah kami makan. Paling penting kami usahakan memilih sayuran apabila kami merasa curiga jika itu daging-dagingan.

Tapi so far mau makan apa selama perjalanan di Myanmar, baik-baik saja!

Makan siang di Inle

Rencana Rincian Perjalanan Inle

Date Time Activity Cost Remarks
24-Feb-17 05.00-05.30 Arrived at Inle Lake Bus Station 10000 MYK Entrance Fee Inle Lake (I hope they notice we are local people)
24-Feb-17 05.30-06.00 On the Way to Mr. Muh Kyi House 3000 MYK location is “smiling moon hostel”
24-Feb-17 06.00-06.30 Prepare for Explore Inle lake, Rent Boat 15000 MYK
24-Feb-17 06.30-07.00 hunting sunrise and Leg Rowing attraction
24-Feb-17 07.00-07.15 Go To Shwe Inn Dein
24-Feb-17 07.15-08.00 Explore Shwe Inn Dein and Breakfast 3000 MYK
24-Feb-17 08.00-08.15 Go to Phaung Dau Ooo Pagoda
24-Feb-17 08.15-09.00 Explore Phaung Dau Ooo Pagoda and see pigeon atraction 500 MYK buy c500orn for pigeon
24-Feb-17 09.00-09.15 Go to monastery  Mya Thein Tan
24-Feb-17 09.15-10.00 Explore Monastery Mya Thei Tan and go to hill to see inle lake landscape
24-Feb-17 10.00-10.15 Go to thaung tho pagoda
24-Feb-17 10.15-11.00 Explore thaung tho pagoda
24-Feb-17 11.00-11.15 Go to Nga phe Kyaung
24-Feb-17 11.15-12.00 Explore Nga Phe Kyaung and see jumping cat atraction Biksu school 🙂
24-Feb-17 12.00-12.30 Go to Restaurant inle lake side
24-Feb-17 12.30-13.30 Lunch
24-Feb-17 13.30-14.00 Go to Merchandise market
24-Feb-17 14.00-16.00 explore merchandise market, Silk & lotus weaving, Gold & silver smith, Inle traditional handicraft & cheroot
24-Feb-17 16.00-16.30 Go to Inle traditional umbrella workshop
24-Feb-17 16.30-17.00 See suku Kanya Padaung in Inle traditional umbrella workshop
24-Feb-17 17.00-17.30 Floating Market
24-Feb-17 18.00-18.30 Prepare for go to Bagan (take a bath at Mr. Muh Kyi House) 1000 MYK
25-Feb-17 19.00-03.00 Go to bagan by Bus 13000 MYK bus by Minh Thar
Total Cost 45500 MYK
Melisa dan Ade di Inle

Rincian Perjalanan Inle, Aktual

Bayar uang masuk ke Inle, Myanmar USD 10/orang

Naik tuk-tuk ke Muhi House 3000 KS/3 orang

Sewa Boat seharian Boat Tour Special Big Tour sunrise to sunset sightseeing Inle 30,000 KS/3 orang

Sarapan gorengan di Pasar Inle 2300 KS/3 orang

Makan siang di Inle 8000 KS/ 3 orang

Tips boat 1700 KS/ 3 orang

Tips ke Nelayan Inle 5000 KS/3 orang

Tiket Bus malam dari Inle ke Bagan 18,000 KS/orang

Total Pengeluaran hari kedua di Myanmar

$10 + 1000 KS + 10,000 KS + 760 KS + 570 KS +  1600KS + 18,000 KS = $10 dan 31,930 KS

= 13640 KS + 31930 KS

= 45,570 KS

Tempat wisata yang dikunjungi di Inle, Myanmar

Sunrise melihat fisherman lengkap dengan gayanya yang unik, Taung Toe untuk melihat Market (Pagoda), In Paw Khon untuk melihat Silk and lotus weaving, Nampan untuk melihat Floating Village, Tobbaco and making boat, Phaung Daw OO Pagoda untuk melihat Buddha Image, Shwe in Den Pagoda untuk makan siang, Ywa Mah untuk melihat Long Neck Women Golad and Silver Umbrella, Kaylar (fisherman Village) dan tomato garden, Maing Thauk dan Nga Phe Chaung Monestery.

Melisa di Pagoda

Setelah kenyang, dengan berat kaki kamipun melangkah ke Pagoda yang terletak di seberang Danau. Pagoda itu terlihat menarik dari atas restoran, mirip seperti Pagoda di Thailand. Pagoda itu bernama Phaung Daw Ooo Pagoda. Kesanalah kami berjalan melewati jembatan kayu yang sama. Dari jembatan ke Phaung Daw Ooo Pagoda terdapat pasar yang menjual souvenir ala Myanmar. Namun kami tentu saja hanya melihat-lihat saja sambil lewat jalan ke Pagoda. Belum sampai di depan Pagoda, ibu-ibu lokal menjajakan jagung kepada kami untuk diberikan kepada merpati. Namun kami tetap berjalan lurus masuk kedalam Pagoda, keinginan untuk memberikan makan ke merpati kami tunda sebentar. Karena tas tidak boleh dibawa ke dalam Pagoda, akhirnya aku menjaga tas Ade dan Melisa dan menjaganya sambil membeli kartu pos di depan Pagoda. Seperti biasa jika ingin masuk kedalam Pagoda di Burma, sepatu dan kaos kaki harus dilepas. Itulah syarat utama yang tidak boleh dilupakan selama di Myanmar.

Gimana, bagus gak? Tanyaku kepada Ade dan Melisa 
ketika mereka telah selesai melihat ke dalam Phaung Daw Ooo Pagoda

Nya, cewek tidak boleh dekat-dekat, 
hanya boleh dari tepi saja, kata Ade kepadaku

Aku pun masuk ke dalam Pagoda dan ternyata benar, untuk dekat ke dalam hanya lelaki saja, untuk perempuan dari jarak jauh.

Ade di Pagoda

Setelah itu kami bertiga pun berjalan ke sisi kanan Phaung Daw Ooo Pagoda, dan menanyakan harga jagung karena kami ingin bermain dengan merpati. Ternyata harga jagung untuk makanan merpati sama dengan yang di rincian perjalanan Myanmar yang dibuat si Ade, “500 MYK” alias “Rp5000” saja. Akhirnya kami membeli jagung untuk kami bertiga demi photo dengan merpati.

Jagung kami terbangkan dan bergaya ala-ala candid dengan merpati, seperti masa kecil kami kurang bahagia atau malah terlalu bahagia

haaha 🙂

Bayangkan usia kami yang bukan belasan lagi malah bermain dengan merpati itu rasanya agak kekanakan namun disitu letak kebahagiannya. Anehnya banyak sekali merpati dijadikan daya tarik wisata di beberapa negara, sampai-sampai aku pernah berbagai cerita tentang merpati di berbagai negara. Siapa sangka di Myanmar lagi-lagi aku bermain merpati untuk kesekian kalinya, dan entah kenapa setiap mempermainkan merpati itu sungguh lucu, walau kasihan si merpatinya sih. Untung hanya merpati, kalau hati abang dipermainkan gimana 😀

Puas dengan bermain merpati kamipun melanjutkan perjalanan di Danau Inle dengan seribu cerita!

Salam

Winny

Menikmati Pasar Tradisional dan Candi di Inle, Myanmar


“You will never find time for anything. You must make it.”

By Charles Buxton. M

Hello World

Myanmar, Februari 2017

Setelah puas melihat aksi Nelayan di Inle, kapal kami melanjutkan perjalanan menuju ke Pasar Tradisonal di Inle. Sepanjang perjalanan aku mengamati rumah apung yang ada di Danau Inle, Myanmar. Dalam hatiku “serasa di Kalimantan”. Dalam perjalanan, sesekali perahu kami berpapasan dengan turis di perahu, kadang kala perahu harus berhenti karena jalanan yang sempit. Kadang satu perahu harus mengalah agar bisa lewat. Sudah lama rasanya tidak menikmati pemandangan Danau yang berbeda. Bahkan saking menikmati berada di perahu kecil, sempat membuatku mengantuk, alhasil kutarik selimut yang disediakan guide kami untuk menutup kepalaku dari panasnya matahari. Pilihan menyewa perahu seharian demi wisata Inle memang merupakan pilihan yang tepat apalagi harga sewa seharian untuk kami bertiga lumayan murah. Yah itulah kadang gunanya jalan-jalan dengan teman karena bisa sharing cost.

Sesampai di Pasar Tradisional Inle, kapal kecil kamipun merapat. Dari kejauhan sudah terlihat di Puncak Bukit sebuah Pagoda dengan warnanya yang tak biasa, perpaduan antara kuning, putih dan cokelat. Waran kuningnya seperti emas sehingga ketika pantulan cahaya mengenainya membuat mata silau. Tempat pemberhentian kami bernama Taung Toe untuk melihat pasar dan Candi.

Ketika keluar dari perahu maka kami melihat jelas pasar tradisonal yang menjual berbagai hal. Yang terlintas dalam pikiranku teringat akan Indonesia. Karena waktu masih pagi saat kedatangan kami, maka di Taung Toe inilah kami langsung mencari makanan khas Myanmar. Alhasil setelah melewati jalanan setapak kecil dengan sisi kanannya Danau, kami berhenti di sebuah warung yang menjual aneka gorengan. Yang lucu gorengan yang kami beli itu bernama “Cireng” alias aci di goreng.

Aku, Melisa dan Ade pun memilih makanan sambil minum di warung berbaur dengan warga lokal. Saat makan anjing pemilik berkeliaran yang sempat membuatku takut, takut dijilat. Untuk sarapan ala gorengan Myanmur pun cukup murah hanya 2300 KS/3 orang. Barulah setelah kenyang kamipun melanjutkan perjalanan menuju ke Puncak Candi sambil melewati pasar tradisional.

Saat di Pasar tradisonal Taung Toe, aku sempat ngiler lihat mie namun apa daya karena mengejar waktu kami tidak berhenti. Kami malah berhenti saat membeli sarung khas Myanmar bernama “Longyi”.  Saat membeli Longyi, beberapa anak Myanmar mendekati kami, penasaran dengan kami. Padahal dari segi wajah, wajah kami mirip dengan mereka, bedanya kami tidak memakai thanaka alias bedak dingin.

Berada di Pasar tradisional Taung Toe menarik karena melihat aktivitas masyarakat lokal sehari-hari. Sehingga naik ke puncak CANDI juga menarik. Di atas bukit, banyak sekali Candi. Inilah candi warna-warni yang pernah aku kunjungi. Yang lucu saat kami berada di bagian Candi berwarna kuning, disini kami berbaur dengan turis asal Italy. Mereka kaget ketika Ade mengatakan kalau cameranya bisa mengambil photo 60 gambar dalam 1 menit. Bahkan saat kami berpose sesuka hati dengan Candi sempat membuat kami jadi bahan tontonan. Mungkin dia heran dengan tingkah narsis kami yang tingkat akut.

Saat di Candi juga kami masuk kedalam, seperti biasa sandal dan kaos kaki harus dilepas saat memasauki kawasan Candi di Myanmar. Di dalam Candi terdapat patung Buddha dan di dalam candi kecil di luar juga terdapat Candi lengkap dengant informasi dalam tulisan Myanmar yang tidak bisa kami baca. Memang informasinya minim namun terobati dengan pemandangan dibelakangnya.

Sayangnya perjalanan Candi di Taung Toe singkat namun seru, seru saat pengambilan photo. Bahkan pose ala-ala kami banyak sekali mulai dari photo ala Yoga, ala galau sampai ala Myanmar.

You just have 1 hour in this market, 
begitu kata guide kami dengan menunjukkan angka 1 di tangannya

Namun jangan tanya berapa lama kami di Pasar Taung Toe karena saat pulang kami harus buru-buru kembali ke kapal kami karena kami masih harus mencari wanita berleher panjang di Inle.

Rincian Pengeluaran Inle, Myanmar Hari Kedua

Bayar uang masuk ke Inle, Myanmar USD 10/orang

Naik tuk-tuk ke Muhi House 3000 KS/3 orang

Sewa Boat seharian Boat Tour Special Big Tour sunrise to sunset sightseeing Inle 30,000 KS/3 orang

Sarapan gorengan di Pasar Inle 2300 KS/3 orang

Makan siang di Inle 8000 KS/ 3 orang Tips boat 1700 KS/ 3 orang

Tips ke Nelayan Inle 5000 KS/3 orang

Tiket Bus malam dari Inle ke Bagan 18,000 KS/orang

Total Pengeluaran hari kedua di Myanmar

$10 + 1000 KS + 10,000 KS + 760 KS + 570 KS +  1600KS + 18,000 KS = $10 dan 31,930 KS

= 13640 KS + 31930 KS

= 45,570 KS

Tempat wisata yang dikunjungi di Inle, Myanmar

Sunrise melihat fisherman lengkap dengan gayanya yang unik, Taung Toe untuk melihat Market (Pagoda), In Paw Khon untuk melihat Silk and lotus weaving, Nampan untuk melihat Floating Village, Tobbaco and making boat, Phaung Daw OO Pagoda untuk melihat Buddha Image, Shwe in Den Pagoda untuk makan siang, Ywa Mah untuk melihat Long Neck Women Golad and Silver Umbrella, Kaylar (fisherman Village) dan tomato garden, Maing Thauk dan Nga Phe Chaung Monestery. 

Salam

Winny

Inle Lake dan Nelayan Myanmar


Focus on the journey, not the destination.

Joy is found not in finishing an activity but in doing it.

By Greg Anderson

Sunrise Inle Lake

Myanmar, Februari 2017

Hello World!

Perjalanan Yangoon-Inle dengan bus dimulai sore itu ketika Ade duduk disamping penduduk lokal Burma yang senang mengajaknya ngobrol seolah Ade mengerti Bahasanya sementara aku dan Melisa asik bersolek ria dengan thanaka (bedak dingin). Penggunaan thanaka di wajah sengaja kami buat agar membaur dengan warga lokal berharap dianggap sebagai warga lokal. Bus yang kami tumpangi lumayan bagus dari segi fasilitas dan harga tiket bus sebesar 15,000 MYK/orang, dengan harga segitu kami diberikan bantal, selimut, minuman serta stop kontak untuk mengisi baterai handphone kami. Sebelum berangkat, kami sudah ditandai dengan “turis” di daftar list penumpang dalam bus karena memang sebelumnya saat membeli tiket bus kami menyerahkan passpor sebagai identitas. Sepintas wajah kami hampir sama dengan warga lokal yang membedakan hanyalah kami tidak mengerti Bahasa Myanmar. Tidak hanya itu, penumpang dalam bus juga sadar betul kami turis karena percakapan kami dalam Bahasa Indonesia, yang tidak dimengerti mereka.

Dalam perjalanan menuju Inle, aku memilih menikmati pemandangan dari kaca mengamati aktivitas warga lokal serta menikmati senja di kala itu, sementara Melisa dan Ade mungkin saja tidur. Yang ku perhatikan dari warga lokal Myanmar adalah pemakaian bedak dingin di wajahnya baik laki-laki maupun perempuan dan itu biasa bahkan di jalanan dan tempat umum, mungkin sudah menjadi ciri khas orang Myanmar atau memang rahasia cantik alami atau sekedar menghalangi dari sinar matahari, entahlah!

Tidak lama aku menikmati pemandangan sepanjang perjalanan Yangoon-Inle hingga aku pun tertidur sampai dimana bus kami berhenti dan kami terbangun. Yah bus yang kami tumpangi berhenti untuk istirahat, tentu saja dalam pemberhentian dimanfaatkan penumpang untuk ke kamar mandi atau juga makan malam. Kami memilih untuk makan dan memilih tempat duduk paling ujung dalam restauran. Dalam restauran ini kami menjadi pusat perhatian bukan karena wajah kami yang mirip warga lokal namun lebih kepada Bahasa Inggris yang kami gunakan untuk memesan makanan karena memang dalam restoran itu hanya satu orang saja yang bisa berbahasa Inggris, itupun setelah dipanggil dari sebelah.  Setelah selesai memesan lalu dengan santai kami menunggu pesanan kami datang.

“Nya, gue ya takutnya pas sehari-hari saja diajak ngobrol pake Bahasa Myanmar karena dianggap orang lokal eh pas di tempat wisatanya aja kita dikenali orang asing. Gue sih masih berharap kita dianggap warga lokal biar tidak bayar uang masuk ke Inle”, kata Ade

Setelah percakapan kami bertiga yang berharap dapat tiket masuk gratis ke Inle dan perut sudah diisi karena selesai makan malam dalam pemberhentian bus kami, maka semua penumpang termasuk kami kembali naik ke dalam bus untuk melanjutkan perjalanan.

Memang kami sengaja dalam melakukan perjalanan malam dari Yangoon ke Inle, selain menghemat biaya penginapan serta keterbatasan waktu namun ingin memaksimalkan tempat wisata, kami juga ingin sampai di Inle sebelum fajar karena kami ingin melihat Sunrise dengan Nelayan Myanmar dengan gayanya yang iconic. Tujuan kami pun tercapai karena jam 4 pagi kami sudah sampai di Inle, namun sebelum memasuki Inle petugas Myanmar membangunkan kami untuk membayar uang masuk ke dalam Inle. Awalnya aku berpikir bahwa uang masuk itu dalam wisata Inlenya, namun aku salah ternyata bayarnya pas masuk ke dalam Kotanya alias TIKET MASUK KOTA. Paling tidak di Myanmar jika ingin masuk dua Kota yaitu Bagan dan Inle harus membayar uang masuk dengan tarif yang berbeda. Untuk harga masuk ke dalam Inle kami harus membayar $10/orang dan bisa dibayar dengan Dollar atau juga dengan mata uang Myanmar “Myanmar Kyat”. Waktu itu kami membayar dengan uang Dollar.

Setelah selesai pembayaran yang hanya kami bertiga saja karena yang lain orang lokal, akhirnya kami masuk ke dalam Inle dan turun dari bus. Udara dingin langsung menusuk tulang kami, karena pakaian kami yang ala kadarnya yang tidak bersahabat dengan udara sekitar.

Menurut kami Inle itu seperti Sibolangit, dan tujuan kami ke rumah Mr. Muh Kyi House karena disanalah kami menyewa boat seharian untuk menjelajah Danau Inle, Myanmar. Beberapa warga lokal menawarkan jasa dengan transportasi yang mirip becak/tuk-tuk namun berbeda atau mungkin lebih mirip mobil pick up dengan modifikasi. Si Bapak itu menawarkan harga 3000 MYK/3 orang ke rumah Mr. Muhi dengan tuk-tuk miliknya.

Jadi gimana kita naik tuk-tuk saja atau jalan kaki, 
tanya Ade kepadaku dan Melisa

Aku sih terserah, jalan kaki ayo naik tuk-tuk ayo, jawabku

Aku juga terserah, jawab Melisa
Cuma 3000 Kyat aja, Rp10.000 doang, kata Ade

Yaudah kita naik tuk-tuk saja, lanjut Ade

Awalnya ada ide untuk jalan kaki karena dianggap dekat namun setelah dipikir ulang karena 1000 Kyat perorang itu murah serta kami juga tidak tahu lokasinya dimana akhirnya kami memilih untuk naik tuk-tuk. Dan ternyata pilihan itu tepat karena dinginnya udara Inle benar-benar menusuk tulang sampai aku dan Melisa memakai selimut yang ada di dalam. Tak heran kenapa warga lokal memakai selimut karena saking dinginnya udara di Inle. Memasuki Inle ini mengingatkan kami dengan Danau Toba atau Brastagi atau bisa juga Sidikalang, karena dinginnya dan juga suasanya.

Bah, mirip di Sumatera Utara pula ini Myanmar, kata Melisa 
serta anggukkan setuju dariku dan Ade

Jam 4 pagi pulalah kami mengetok pintu rumah Mr. Muh Kyi. Sebenarnya Mr. Muh Kyi sudah meninggal dunia namun istrinya tetap memakai nama itu karena almarhum suaminyalah yang membuka jasa tour di Inle serta Ibu Muh Kyi bersedia dibangunkan di pagi buta berkat balas membalas email dengan Ade. Tentu informasi ini berkat usaha Ade yang super rajin dan membuat rincian perjalanan yang menakjubkan. Berkatnyalah kami tidak luntang-lantung di Inle subuh itu. Dan Mrs. Muh Kyi membolehkan kami masuk. Disinilah kami menyewa boat seharian keliling Inle dengan harga sewa Boat Tour Special Big Tour sunrise to sunset sightseeing Inle 30,000 MYK/3 orang karena awalnya kami hendak melihat sunset di Danau Inle, kalau hanya setengah hari harganya jauh lebih murah. Tidak hanya itu kami juga membeli tiket bus kami ke Bagan dari Inle untuk jam 8 setelah puas dari Inle.

Setelah proses pembayaran, akhirnya dua bocah membawa kami ke dermaga untuk memulai tour Inle kami karena memang kami ingin mengejar sunrise dengan penampilan para Nelayan Myanmar. Di Dermaga, kami menaiki kapal dengan fasilitas life jacket dan selimut. Setelah selesai kami pun memulai perjalanan menelusuri Inle Lake seharian dengan perahu.

Lalu apa yang membuat kami segitu ngototnya ingin melihat Nelayan di Myanmar?

Jadi Inle Lake yang terletak di Township Nyaungshwe Kabupaten Shan State, Burma ini merupakan kawasan Danau air tawar yang luas dan memiliki beberapa attraksi utama yang menarik wisatawan, salah satunya aksi dari Nelayan Myanmar.  Nelayan Myanmar ini memiliki cara mendayung yang unik dan tidak ditemukan ditempat lainnya yaitu mendayung perahunya dengan satu kaki dengan posisi berdiri satu kaki di kapalnya sementara kaki lain di sisi dayung sedangkan tangannya memegang jala. Gaya tersebut memang sengaja dilakukan karena banyaknya tumbuh-tumbuhan air yang ada di Danau Inle sehingga Nelayan harus melakukan posisi miring di dalam perahunya. Gaya para nelayan inilah yang menjadi tujuan utama kami berburu sunrise di Danau Inle.

Dan beruntungnya kami ketika sampai di Inle kami dapat melihat attraksi Nelayan Myanmar, saat kami dekati si Bapak malah beraksi dengan senyum diwajahnya. Terlihat jelas mereka sudah terbiasa dengan kedatangan orang asing, seolah paham betul apa yang kami mau dan kami lihat. Bahkan tidak hanya itu, Nelayan lainnya juga beraksi di depan kami.  Akhirnya ada dua Nelayan Myanmar yang mendatangi perahu kami. Bahkan kami bisa berphoto dengan dua nelayan Myanmar sekaligus dengan piawainya menjaga keseimbangan badan mereka di perahu. Bahkan aku sangat salut bagaimana Nelayan Myanmar bisa bergaya miring did alam perahu dengan satu kaki di ujung perahu dan kaki lainnya di jaringanya serta satu tangan dengan dayung ke dalam Danau tangan lainnya menggenggam jaring.

Nya, aku senang akhirnya bisa melihat langsung Nelayan, kata Ade
Gak sia-sia awak ke Inle, kata Melisa

Karena dua Nelayan yang baik hati membolehkan kami melihat atraksinya akhirnya kami memberikan tips kepada mereka. Yah perjalanan Inle kami baru saja dimulai dengan dibuka dengan performance Nelayan Burma. Sungguh pagi yang menyenangkan!

Rincian Pengeluaran Inle, Myanmar Hari Kedua

Bayar uang masuk ke Inle, Myanmar USD 10/orang

Naik tuk-tuk ke Muhi House 3000 MYK/3 orang

Sewa Boat seharian Boat Tour Special Big Tour sunrise to sunset sightseeing Inle 30,000 MYK/3 orang

Sarapan gorengan di Pasar Inle 2300 MYK/3 orang

Makan siang di Inle 8000 MYK/ 3 orang

Tips boat 1700 MYK/ 3 orang

Tips ke Nelayan Inle 5000 MYK/3 orang

Tiket Bus malam dari Inle ke Bagan 18,000/orang

Total Pengeluaran hari kedua di Myanmar

Tempat wisata yang dikunjungi di Inle, Myanmar

Sunrise melihat fisherman, Taung Toe untuk melihat Market (Pagoda), In Paw Khon untuk melihat Silk and lotus weaving, Nampan untuk melihat Floating Village, Tobbaco and making boat, Phaung Daw OO Pagoda untuk melihat Buddha Image, Shwe in Den Pagoda untuk makan siang, Ywa Mah untuk melihat Long Neck Women Golad and Silver Umbrella, Kaylar (fisherman Village) dan tomato garden, Maing Thauk dan Nga Phe Chaung Monestery.

Salam

Winny

Mingalabar Yangoon, Myanmar


I wash my hands of those who imagine chattering to be knowledge, silence to be ignorance, and affection to be art

By Kahlin Gibran

Yangoon

Hello World!

Maret, 2017

Pertama kali menggunakan pesawat Jetstar dari Bandara Changi, Singapore langsung ke Bandara Internasional Yangoon, setelah semalaman aku, Melisa dan Ade harus menginap di Bandara dengan AC super dingin, setidaknya bangku di Changi adalah saksi awal kegembelan kami demi menghemat pundi-pundi pengeluaran. Tidak ada yang spesial dari atas pesawat ketika melihat Yangoon, karena kami awalnya mengira dari atas akan melihat hamparan Candi. Ternyata tidak, dari atas kelihatan tandus.

Dengan tas backpack tanpa bagasi kami bertiga keluar dari Bandara menuju Imigrasi Myanmar, berharap ada turis lain untuk berbagi taxi dengan kami. Tapi tentu saja itu mustahil karena rute kami berbeda, kami ingin langsung ke Stasiun Terminal terdekat untuk membeli tiket bus ke Inle, pilihannya adalah dengan Taxi, jalan kaki atau bus. Untuk proses imigrasi Myanmar tidaklah terlalu ribet, bahkan petugas Imigrasi Myanmar enggan untuk sekedar menanyakan “where to stay in Myanmar“. Ada gunanya juga tidak terlalu ditanya karena mempersingkat waktu kami.

Waktu juga sudah menunjukkan jam 10 pagi, aku dan Melisa mencari tempat penukaran uang yang cukup mudah ditemukan di Bandara. Rate penukaran antara satu counter ke counter lain tidak terlalu berbeda paling beda 1 Kyat saja hingga akhirnya kami tukar uang 100 Dollar. Kurs $1 = 1364 saat kami tukarkan eh pas keluar sedikit dari mesin scanner bagasi di luar ternyata kursnya jauh lebih dihargai mahal 1 Kyat, terus kami nyesal nukar di dalam gara-gara beda 1 KS padahal milih nukar uang di dalam lamanya minta ampun, dasar pejalan fakir hahah 😀

Uang Myanmar

Setelah uang ada, kami PD keluar kemudian sudah banyak Bapak-bapak di luar mengerumuni kami bak semut bertemu gula.

Where are you going, sir? begitu tanya mereka
(dalam hati "sir"???)

Akhirnya kami memilih salah satu bapak taxi dan bertanya

How much to bus station?

8000 Kyat, jawabnya

No, 5000 Kyat is ok, kataku

Padahal harga 8000 Kyat itu memang ke tengah Kota namun karena tidak mau ribet dan ingin membeli tiket bus ke Inle, akhirnya pas si Bapak mau 5000 Kyat kami iyakan. Memang ilmu negoisasi dalam perjalanan amat sangat penting! Di dalam taxi kami begitu banyak ngoceh mulai dari harga semua serba 5000 KS hingga dimana bisa membeli Longyi untuk si Ade.

Yangoon International Airport

Yang menarik dari Bapak Supir Taxi kami sangat baik hati. Sesampai di Terminal Bus Aung Mingalar, Yangoon itu jam 12 dan artinya kami masih sempat jika ingin ke tempat wisata yang sudah kami buat seperti Sule Pagoda namun si Bapak mengatakan tidak keburu. Si Bapak juga dengan baik hati mencarikan kami tiket bus ke Inle karena tulisan di Myanmar itu kan gak terbaca karena pakai Aksara mirip cacing. Lucunya kami sampai mutar lebih dari 5x stasiun Bus Aung Mingalar yang cukup luas karena ada pasar juga di terminal ini.

Sir, where can we take food but please no pig? kata Ade
Makanan  aLA Warteg Myanmar

Karena sudah malas jalan kemana-mana, akhirnya kami lebih memilih untuk makan di terminal. Warungnya semacam Warteg atau bisa juga Warung Padang di Indonesia terus kami dihidangkan makanan tinggal pilih terus akan ditaruh di piring. Pilihannya warung dekat terminal, sebenarnya di warung ada jual B2 namun karena Melisa tahu persis sehingga kami aman untuk makan siang. Makan siang kami pilih adalah telur dan dikasih sayuran yang super banyak. Untung aku dan Ade bukan tipikal makan susah karena kalau tidak dipastikan kami tidak makan kalau jijikan. Melisalah yang berperan penting dalam memilih makanan kami karena dia tahu persis mana yang B2 mana tidak.

Setelah puas makan siang, tiket pun sudah ditangan maka kamipun iseng mencari tempat wisata Yangoon dekat Bus, tentu saja perhatian kami tertuju kepada sebuah Pagoda yang kami jumpain di tengah jalan menuju Terminal bus. Jangan ditanya teriknya mentari pas jam 12 itu, seolah kami tidak perduli dengan sengatan matahari, paling tidak kami tidak perlu menenteng tas kami kemana-mana karena tas sudah dititipkan di tempat bus yang akan naiki ke Inle.

Hati kami tenang karenatiket bus pun sudah di tangan karena PR sekali melihat tulisan cacing Myanmar dan semua kembali berkar taxi driver sehingga jalan kakipun meski padas seolah lupa.

Tujuan kami ialah Swe Taw Myat (Budddha Tooth relic Pagoda), yang lucu kami tidak tahu kalau Pagoda yang kami datangi itu adalah tiruan wisata di Myanmar.

Tiket di terminal

Masuk ke dalam Pagoda, sandal dan kaos kaki harus dibuka dan ditaruh di luar. Jangan sampai kelupaan karena jika memakai sandal atau sepatu atau hanya kaos kaki tok maka bisa heboh sesentaro penghuni Pagoda karena diangaap tidak menghormati Pagoda. Jadi siap-siap berpanas dan berterik ria kalau lantai Pagodanya panas sekali. Saat di Pagoda ada kejadian bule makai sandal di area Pagoda, terus direpetinlah/dimarahin dia oleh Petugas Pagoda, terus yang lucu saat si Bapak curhat ke kami dengan Bahasa Myanmar seolah kami mengerti apa yang dia bicarakan. Aku, Melisa dan Ade pura-pura ngerti dan sok asik aja dengan si Bapak, kasihan karena beliau curhat.

Nyeker

Pas keluar dari Pagoda sandal si Melisa masih ada, tapi kedua kali masuk lagi ke Pagoda gara-gara si Ade melihat minatur batu gantung.

Eh itu batu gantung kok tadi kita lihat ya kata Ade

Balik lagi yuk, katanya

Akhirnya kayak orang kurang kerjaan balik lagi kami dan baru “ngeh” setelah dua kali ke Pagoda yang sama kalau itu minatur wisata wajib visitnya Myanmar.

Nah pas kedua kalinya keluar Pagoda disitulah hilang sandal yang aku pinjam dari Melisa. Sandal Ade dan Melisa sih aman, nah sandal yang aku pinjam di tempat ibadah pula apa gak rasanya sial, mana jalanan panas نعوذ بالله من ذلك!

Spontan Ade dan Melisa ngecengin

Nya, jalan kaki lah kau di panas-panas ini, kata mereka

Akhirnya dengan bekal kaos kaki aku berjalan nyeker dari Pagoda ke Stasiun melalui jalanan mulai dari tanah, beraspal hingga trotoar. Melisa dan Ade lah teman dalam mencari sandal di Yangoon!

Any slipper, tanyaku

Dan mencarinya susah susah gampang hingga akhirnya ketemua

Nya, jangan lupa beli dua jangan gak tau diri sandal orang dipinjam diilangin, kata Ade mengingatkan

I buy two for these slipper, how much are they?

4400 KS, jawab si penjual terminal

Akhirnya hari pertamaku di Myanmar begitu berkesan karena adegan sandal hilang, selamat inggal 4400 KS, untung harganya gak jeti-jeti, kalau gak mabok darat dah daku 🙂

Rincian Pengeluaran Yangoon, Myanmar Hari Pertama

Menukar uang dari USD ke Myanmar Kyat  100 USD = 136,400 KS ($1 = 1364 Myanmar Kyat)

Taxi dari Yangoon International Airport ke Aung Mingalar Highway Bus Station 5000 KS/3 orang

Membeli Tanaka di Aung Mingalar Highway Bus Station, Yangoon 800 KS

Makan siang di Aung Mingalar Highway Bus Station, Yangoon 6200 KS/3 orang

Membeli sandal 2 buah di Aung Mingalar Highway Bus Station, Yangoon 4400 KS

Bus Malam Yangoon-Inle 15,000 MYK/orang Makan malam 850 KS/3 orang

Total Pengeluaran hari pertama di Myanmar

1700 KS + 2000 KS + 15,000 KS + 4,400 KS +  300 KS

= 23,400 KS

Tempat wisata yang dikunjungi di Yangoon

Swe Taw Myat (Budddha Tooth relic Pagoda)  

Salam

Winny

Backpacking ke Myanmar 5 Hari (Yangoon, Inle, Old Bagan, Mandalay) Rp 3 juta


It is not the destination where you end up but the mishaps and memories you create along the way

By Penelope Riley

Hello World!

Burma, Februari 2017

Mingalabar!

Mau kemana? tanya Bapak disampingku dengan muka serius

Ke Myanmar Pak, jawabku dengan tegas sambil menunggu Damri datang. 

Antara percaya dan tidak si Bapak kembali bertanya

Kenapa ke Myanmar? dengan muka hampir tak percaya

Ingin melihat Candi, Pak, jawabku dengan ramah

Lihat Candi aja jauh ya!!

Myanmar memang menjadi salah satu daftar tujuan wisata yang hendak aku kunjungi, mungkin 3 atau 4 tahun lalu sebelum kasus Rohingnya yang membuat niat jadi berpikir dua kali. Namun karena tak tahan dengan “racun” tiket promo ke Myanmar dari Jakarta, akhirnya aku, Melisa dan Ade melakukan perjalanan ke Myanmar.

Bahkan persiapan perjalanan ke Myanmar (Burma) sudah dilakukan jauh-jauh hari, mulai dari membuat rencana perjalanan Myanmar hingga membuat Grup Whatsapp.

Yang paling semangat adalah Ade dan Melisa 🙂

Jadi ceritanya semua tujuan mau kemana di Myanmar aku serahkan kepada mereka sehingga dengan semangat 45 merekalah yang memilih mau kemana saja di Burma. Bahkan Melisa sampai galau tingkat tinggi memilih antara Inle atau Mandalay sebab waktu travelling ke Myanmarnya jauh lebih singkat dibandingkan dengan aku dan Ade.

Dari review pengalaman trip Myanmar orang lain, sebagian menyarankan untuk tidak ke Inle dan ada juga yang tidak menyarankan ke Mandalay dan masing-masing tentu memiliki alasan tersendiri. Ujungnya si Melisa memilih ke Inle karena tergiur dengan ajakan melihat “Wanita berleher panjang”

Awalnya aku sudah membuat rute perjalanan ke Myanmar dengan tujuan Yangoon-Old Bagan-Inle-Mandalay-Yangoon namun akhirnya Kota tujuan kami di Myanmar dengan urutan Yangoon-Inle-Old Bagan-Mandalay-Yangoon. Tentu saja rute kami antimainstream, secara kebanyakan orang ke Bagan dulu baru ke Inle, karena di Bagan dipastikan mabok Pagoda sementara kami langsung ke Danau Inle duluan!

Baca juga Itinerary Perjalanan Myanmar kami!

Secara keseluruhan perjalanan kami sangat menyenangkan dan termasuk “semi backpacker”, artinya tidak gembel-gembel banget lah dalam perjalanan, masih makan meski tidak mandi.

Hanya saja memang perjalanan ke Myanmar itu untuk negara ASEAN cukup mahal, padahal mengunjungi Myanmar untuk WNI itu Free Visa selama 14 hari, namun masuk ke Kotanya perlu membayar “biaya masuk” lagi yang cukup membuat “menangis” kantong.

Misalnya masuk ke Kota Inle maka wisatawan wajib membayar $10/orang untuk masuk ke Kotanya terus masuk ke Old Bagan juga bayar lagi $20/orang.

Nya, semoga kita dianggap orang lokal ya, kata Ade

Aku takutnya pas ditempat turis aja, 
kita kelihatan orang asingnya, celoteh Ade lagi

Jujur kami ngarep dianggap warga lokal Myanmar agar tidak membayar uang masuk tapi salah apa Barbie ternyata muka kami itu “muka nipu” pas sehari-hari saja dianggap orang lokal eh pas di tempat turis malah kelihatan “turis”, kan sial?

wkwkwk 😀

Sunrise Inle Lake
Yangon
Date Time Activity Cost Remarks
22-Feb-17 21:55 – 00:45 Soekarno Hatta Airport to Singapore Airport, Terminal 1 Duration 1:50 min, Kode Booking BHP8GK
22-Feb-17 21:55 – 00:45 Soekarno Hatta Airport to Singapore Airport, Terminal 1   Duration 1:50 min, Kode Booking BHP8GK
23-Feb-17 10:40-11:00 Imigration Checking, Money Changer or buy a sim card USD 1 = MYK 1,218, SIM Telenor Tourist = MYK 12rb, 1 Gb
23-Feb-17 11:00-12:00 Optinal going by taxi or by bus should leave from airport walking for 1,5 km and paying Ks 200 (Rp 2.200) kurs MMK 1 ≈ IDR 11). Hotel in Yangoon Backpacker Bed. Location  No.40, Shwe Bon Thar Road, Pabedan Township, Downtown Yangon 8000-10,000 MYK   5000 MYK Duration 1 hour, using taxi should be bargain.  Hotel address only for imigration checking
23-Feb-17 12:00-13:00 Lunch Maha Bandoola Garden near Bangale Sunni Jameh Mosque 2500 MYK aqua for MYK 180 (Rp2.000),
23-Feb-17 13:14:00 Sule Pagoda, Independent  Monument of Myanmar dan High Court Building 4000 MYK entrance fee, near sule pagoda there is a jameh mosque
23-Feb-17 14:00-15:00  Shwedagon Pagoda 8000 MYK entrance fee  8USD
23-Feb-17 15:00-16:00 Saint Mary’s Cathedral and Musmeah Yeshua Synagogue 4000 MYK Free entrance for Jewish place, adress of church 72, Bo Aung Kyaw Street Botahtaung Tsp, and taxi 3 usd
23-Feb-17 16:00-16:30 Go to Bus station 9000 MYK
23-Feb-17 16:30-17:00 Check in on Bus Station, go to inle Lake 18000 MYK 15,000 Bus by Shwe Loan
Total Cost 55000 MYK  8700 MYK
Burma, Inle

Pengalaman Pertama di Myanmar

Overall di hari pertama kami di Burma, tidak melakukan banyak aktivitas karena tidak keburu waktu. Di Bandara Internasional Yangoon kami menukarkan uang dengan rate yang lumayan OK. Di hari pertama di Yangoon aku mengalami hal yang tidak enak karena sandal yang aku pinjam dari Melisa hilang pas masuk ke Temple.

Bayangin dah udah minjam ilang pula, ganti pula jadinya!!

Hari pertama juga kami bertemu dengan Bapak Taxi yang baik hati yang mencari bus malam ke Inle.

Culture shock pertama kami ketika  melihat warga lokal yang cewek dan cowoknya memakai bedak dingin kemana-mana, mungkin saking panasnya kali ya. Terus untuk cowok sering Longyi, itu kain yang dipakai Jumatan.

Yangoon International Airport

Rincian Pengeluaran Yangoon, Myanmar Hari Pertama

Menukar uang dari USD ke Myanmar Kyat  100 USD = 136,400 KS ($1 = 1364 Myanmar Kyat)

Taxi dari Yangoon International Airport ke Aung Mingalar Highway Bus Station 5000 KS/3 orang

Membeli Tanaka di Aung Mingalar Highway Bus Station, Yangoon 800 KS

Makan siang di Aung Mingalar Highway Bus Station, Yangoon 6200 KS/3 orang

Membeli sandal 2 buah di Aung Mingalar Highway Bus Station, Yangoon 4400 KS

Bus Malam Yangoon-Inle 15,000 MYK/orang Makan malam 850 KS/3 orang

Total Pengeluaran hari pertama di Myanmar

1700 KS + 2000 KS + 15,000 KS + 4,400 KS +  300 KS

= 23,400 KS

Tempat wisata yang dikunjungi di Yangoon

Swe Taw Myat (Budddha Tooth relic Pagoda)  

E-bike Myanmar
Old Bagan

Trip Inle Lake, Myanmar

Date Time Activity Cost Remarks
24-Feb-17 05.00-05.30 Arrived at Inle Lake Bus Station 10000 MYK Entrance Fee Inle Lake (I hope they notice we are local people)
24-Feb-17 05.30-06.00 On the Way to Mr. Muh Kyi House 3000 MYK location is “smiling moon hostel”
24-Feb-17 06.00-06.30 Prepare for Explore Inle lake, Rent Boat 15000 MYK 30,000 MYK
24-Feb-17 06.30-07.00 hunting sunrise and Leg Rowing attraction
24-Feb-17 07.00-07.15 Go To Shwe Inn Dein
24-Feb-17 07.15-08.00 Explore Shwe Inn Dein and Breakfast 3000 MYK 2300 MYk
24-Feb-17 08.00-08.15 Go to Phaung Dau Ooo Pagoda
24-Feb-17 08.15-09.00 Explore Phaung Dau Ooo Pagoda and see pigeon attraction 500 MYK buy corn for pigeon
24-Feb-17 09.00-09.15 Go to monastery  Mya Thein Tan
24-Feb-17 09.15-10.00 Explore Monastery Mya Thei Tan and go to hill to see inle lake landscape
24-Feb-17 10.00-10.15 Go to thaung tho pagoda
24-Feb-17 10.15-11.00 Explore thaung tho pagoda
24-Feb-17 11.00-11.15 Go to Nga phe Kyaung
24-Feb-17 11.15-12.00 Explore Nga Phe Kyaung and see jumping cat attraction Biksu school 🙂
24-Feb-17 12.00-12.30 Go to Restaurant inle lake side
24-Feb-17 12.30-13.30 Lunch
24-Feb-17 13.30-14.00 Go to Merchandise market
24-Feb-17 14.00-16.00 explore merchandise market, Silk & lotus weaving, Gold & silver smith, Inle traditional handicraft & cheroot
24-Feb-17 16.00-16.30 Go to Inle traditional umbrella workshop
24-Feb-17 16.30-17.00 See suku Kanya Padaung in Inle traditional umbrella workshop
24-Feb-17 17.00-17.30 Floating Market
24-Feb-17 18.00-18.30 Prepare for go to Bagan (take a bath at Mr. Muh Kyi House) 1000 MYK
25-Feb-17 19.00-03.00 Go to bagan by Bus 13000 MYK 18,000 MYK bus by Minh Thar
Total Cost 45500 MYK

Hari kedua di Burma, Inle

Kami sangat suka dengan Inle Lake, Myanmar walau ada beberapa pejalan yang tidak suka. Alasan kami menyukai Inle itu karena kami melihat attraksi penangkap ikan saat matahari terbit serta melihat matahari terbit dari Danau Inle rasanya itu “fresh“, terus bertemu dengan Long Neck Women Myanmar, bermain manja di Pasar Tradisional terus melihat Pagoda dengan warna emas, putih dan cokelat serta melihat cara menenun dan masih banyak lagi. Ibarat kata Inle itu “Oase” Myanmar. Terus kami hanya bertiga dalam 1 perahu meski kami harus mengeluarkan kocek 30,000 KS namun “worth it” banget. Serasa “Saudagar” terus banyak cerita lucu mulai dari Ade yang dicium Bule lah, si Melisa yang dilirik Bule lah dan aku yang malu-maluin karena melihat bule memakai Longyi.

Asli di Inle itu full cerita bagi kami

Baca juga Cerita Konyol Myanmar

Yangoon

Rincian Pengeluaran Inle, Myanmar Hari Kedua

Bayar uang masuk ke Inle, Myanmar USD 10/orang

Naik tuk-tuk ke Muhi House 3000 KS/3 orang

Sewa Boat seharian Boat Tour Special Big Tour sunrise to sunset sightseeing Inle 30,000 KS/3 orang

Sarapan gorengan di Pasar Inle 2300 KS/3 orang

Makan siang di Inle 8000 KS/ 3 orang Tips boat 1700 KS/ 3 orang

Tips ke Nelayan Inle 5000 KS/3 orang

Tiket Bus malam dari Inle ke Bagan 18,000 KS/orang

Total Pengeluaran hari kedua di Myanmar

$10 + 1000 KS + 10,000 KS + 760 KS + 570 KS +  1600KS + 18,000 KS = $10 dan 31,930 KS

= 13640 KS + 31930 KS

= 45,570 KS

Tempat wisata yang dikunjungi di Inle, Myanmar

Sunrise melihat fisherman lengkap dengan gayanya yang unik, Taung Toe untuk melihat Market (Pagoda), In Paw Khon untuk melihat Silk and lotus weaving, Nampan untuk melihat Floating Village, Tobbaco and making boat, Phaung Daw OO Pagoda untuk melihat Buddha Image, Shwe in Den Pagoda untuk makan siang, Ywa Mah untuk melihat Long Neck Women Golad and Silver Umbrella, Kaylar (fisherman Village) dan tomato garden, Maing Thauk dan Nga Phe Chaung Monestery.  

Inle Pagoda

 Trip Old Bagan, Myanmar

Date Time Activity Cost Remarks
25-Feb-17 03.00-03.30 Ariived and prepare for a long journey 20000 MYK Entrance Fee
25-Feb-17 03.30-04.00 Go to E bike Rent center by Taxi 10000 MYK  
26-Feb-17 04.00-05.00 Rent E bike 6000 MYK  
25-Feb-17 05.00-05.30 Hunting sunrise still trying to find best place to see sunrise at bagan
25-Feb-17 05.30-08.00 Enjoy Sunrise and Air baloom
25-Feb-17 08.00-17.00 Explore Bagan
25-Feb-17 17.00-18.30 Hunting sunset at Shwezigon Pagoda
25-Feb-17 18.30-19.30 Back to e bike rent center
25-Feb-17 19.30-20.00 Prepare for Next Destination (take bath, charge gadget, charge camera)
25-Feb-17 20.30-02.30 Go to Mandalay by Ok Express Minibus 9000 MYK
Total Cost 45000 MYK
Balon Sunrise

Pengalaman Backpaker di Old Bagan

Old Bagan tak kalah seru bagi kami karena bagaimana kami sampai di Old Bagan jam 3 pagi demi mengejar Sunrise dengan Balon udara yang terkenal serta bernegoisasi dengan Taxi driver supaya kami tidak membayar uang masuk Kota Old Bagan serta galau antara sewa mobil, pakai sepada, atau sewa e-bike yang ujung-ujungnya kami menyewa e-bike terus menggunakan peta offline untuk mencari dimana sport terbaik melihat sunrise yang banyak Balon udaranya walau ujung-ujungnya bayar juga kemudian manjat ke Candi terus jatuh dari e-bike pokoknya kayak orang kesetanan dalam mengejar sunrise.

Beruntungnya sih kami mendapatkan matahari terbit lengkap dengan balon udara Myanmar yang fenomenal, paling tidak aku yang belum pernah melihat Balon Udara di Cappadocia terobati di Old Bagan. Terus di keseruan lainnya di Old Bagan ketika muka Melisa kaget ketika makanannya diubek-ubek pakai tangan, terus aku dan Ade yang jatuh dari e-bike sampai adegan ban pecah demi sebuah Photo. Di Old Bagan juga kami merasakan “muntah” dengan Candi dan Pagoda serta sejenisnya karena saking banyaknya. Terus ditambah sunset di Bagan yang sempurna, intinya kami bahagia dapat menaklukkan tempat yang hendak kami ingin jumpain.

Old Bagan Myanmar

Rincian Pengeluaran Old Bagan, Myanmar Hari Ketiga

Taxi dari Highway bus Station ke Nyaung-U 24,000 KS/ 3 orang

Sewa e-bike seharian 12.000 KS/3 orang (2 e-bike)

Sarapan mie 2600 KS/3 orang

Minum kelapa 3000 KS/3 orang

Tiket bus Malam Old Bagan-Mandalay 22,000 KS/2 orang

Total Pengeluaran hari ketiga di Myanmar

8000 KS + 6000 KS + 870 KS + 1000 KS + 11,000 KS

= 26,870 KS 

Tempat wisata yang dikunjungi di Old Bagan, Myanmar

Melihat Sunrise dengan latar belakang balon udara dan candi serta puas keliling Old Bagan dan menelusuri Candi-Candi di Old Bagan serta melihat sunset di Old Bagan

Myanmar

Trip Mandalay, Myanmar

Date Time Activity Cost Remarks
26-Feb-17 02.00-02.30 Mandalay Bus Station Shwe Man Thu, arrived and prepare for a long journey
26-Feb-17 02.30-03.30 Go to Motor bike station by Taxi 10000 MKY
26-Feb-17 03.30-04.00 Rent motor bike to explore mandalay 10000 MKY
26-Feb-17 04.00-05.00 Go to Mandalay Hills by Motor Cycle
26-Feb-17 05.00-07.00 Explore Mandalay Hills and sunrise at mandalay hills
26-Feb-17 07.00-07.15 Go to Mandalay Palace by Motor Cycle
26-Feb-17 07.15-08.30 Breakfast and explore Mandalay Palace
26-Feb-17 08.30-09.00 Go to Mahamuni Image
26-Feb-17 09.00-10.00 Explore Mahamuni Image
26-Feb-17 10.00-10.30 Go to Pagoda Maha Lokamarazein Kuthodaw
26-Feb-17 10.30-11.00 Explore Pagoda Maha Lokamarazein Kuthodaw
26-Feb-17 11.00-11.15 Go to Golden Palace 10000 MKY Optional, entrance Fee 10.000MKY
26-Feb-17 11.15-12.00 Explore Golden Palace
26-Feb-17 12.00-12.30 Lunch, near Golden Palace 4000 MKY
26-Feb-17 12.30-13.30 Go to Paya Sandamuni Temple & Monastery
26-Feb-17 13.30-14.30 Explore Paya Sandamuni Temple & Monastery
26-Feb-17 14.30-15.00 Go to Mandalay palace
26-Feb-17 15.00-16.30 Explore Mandalay Palace
26-Feb-17 16.30-17.00 Go to U Bein Bridge
26-Feb-17 17.00-18.30 Explore U bein Bridge and waiting for sunset
26-Feb-17 18.30-19.00 Back to Rent Motor station
26-Feb-17 19.00-20.30 Dinner and waiting for bus  from Mandalay to Yangon 20000 MKY JJ Express Bus 16.000 MKY, dinner 4000 MKY
Total Cost 54000 MKY
Long Neck Women Burma

Pengalaman trip di Mandalay

Perjalanan ke Mandalay memang hanya aku dan Ade saja namun kami sangat beruntung bisa mandi di Mandalay kemudian dapat melihat sunrise di Mandalay Hill yang cukup bagus walau awalnya si Ade takut kalau tidak ada sunrise berhubung kabut.

Nya, awalnya aku takut gak ada sunrise di Mandalay 
padahal sudah bela-belain subuh kesini padahal kalau di Indonesia 
mana berani aku naik motor begini keluyuran, kata Ade

Kami cukup beruntung karena memang mendapatkan Golden Sunrisenya Mandalay serta dapat Sunsetnya di U-Bridge Mandalay yang fenomenal di gambar, kalau aslinya mah “jembatan kayu biasa”.

Selain itu kami juga dapat menyaksikan Patung Buddha dimandikan pas subuh-subuh serta keliling ke temple yang ada namun memang menurut kami Mandalay itu “biasa saja”. Belum lagi kena “zonk” dengan istilah “the biggest book on the world” yang pas kesana tidak besar-besarnya, mungkin lebih cocok “banyak dan luas”.

😀

Mandalay Hill

Rincian Pengeluaran Mandalay, Myanmar Hari Keempat

Taxi dari Stasiun Bus ke Dream Guest House 5000 KS/ 2 orang

Sewa Motor seharian 12,000 KS/ 2 orang

Uang Masuk Su Taung Pyae Pagoda 1000 KS

Air Lemon 500 KS Bensin 4500 KS/2 orang

Makan siang + minum tebu 1800 KS

Bus malam dari Mandalay ke Yangoon 22,000 KS/2 orang

Parkir motor 500 KS/2 orang

Total Pengeluaran hari keempat di Myanmar

2500 KS + 6000 KS + 1000 KS + 1800 KS + 11,000 KS + 250 KS

= 22,550 KS

Tempat wisata yang dikunjungi di Mandalay, Myanmar

Sunrise Mandalay Hill, Mahamuni Image, U Bein Bridge, Kuthodaw Pagoda (biggest book in the world), Mandalay Royal Pallace, Masjid Trip, Yangoon

Date Time Activity Cost Remarks
27-Feb-17 05.00-05.30 Yangon Bus Station, arrived and prepare for a long journey    

Rincian perjalanan Hari pertama menjadi pilihan untuk hari Terakhir di Yangoon

Activity Cost Remarks
 Maha Bandoola Garden near Bangale Sunni Jameh Mosque 2500 MYK aqua for MYK 180
Sule Pagoda, Independent  Monument of Myanmar and High Court Building 4000 MYK entrance fee, near sule pagoda there is a jameh mosque
 Shwedagon Pagoda 8000 MYK entrance fee  8USD
Saint Mary’s Cathedral and Musmeah Yeshua Synagogue 4000 MYK Free entrance for Jewish place, adress of church 72, Bo Aung Kyaw Street Botahtaung Tsp, and taxi 3 usd

Pengalaman Perjalanan di Yangoon Hari terakhir

Di hari terakhir di Burma, si Ade hampir sakit sehingga kasihan sekali harus menggembel tidur di taman dekat Sule Pagoda. Karena kondisi tubuhnya yang drop akhirnya kami tidak terlalu memaksakan untuk mengunjungi semua objek wisata di Yangoon di hari terakhir kami lebih santai namun tetap kami masih bisa mengunjungi beberapa tempat wisatanya seperti melihat Swadegon dari luar karena anti bayar 8000 KS terus makan yang lumayan layak. Sayangnya di hari terakhir aku mengalami diare, padahal di Mandalay niat mencari makanan halal eh nemu restoran mahal terus ujung-ujungnya makan dipinggir jalan dengan makanan yang diubek-ubek pakai tangan.

Iya nasi diubek-ubek pakai tangan!!

Swadegon Pagoda

Rincian Pengeluaran Yangoon, Myanmar Hari Lima

Naik Bus dari Terminal Bis Aung Mingalar 200 KS/orang

Makan Thosa + Egg + Susu Tea 1350 KS

Taxi dari Sule Pagoda ke Shwedagon Pagoda 1700 KS/2 orang

Oleh-oleh 3500 KS Makan siang 4000 KS/2 orang

Kelapa 2000 KS/2 orang (2 buah)

Taxi dari Sule Pagoda ke Bandara 7000 KS/2 orang

Total Pengeluaran hari kelima di Myanmar

200 KS + 1350 KS + 850 KS + 1000 KS +3500 KS

= 6,900 KS

Tempat wisata yang dikunjungi di Mandalay, Myanmar

Sule Pagoda, Independent Monument of Myanmar, Shwedagon Pagoda, Saint Mary’s Cathedral and Musmeah Yeshua Synagogue, Maha Bandoola Garden, Bogyoke Aung San Market

U Bein Bridge

Cara hemat ke Myanmar

1. Menggunakan bus malam untuk menghemat penginapan

2. Kalau di Inle sebaiknya ambil paket tour setengah hari saja karena yang paling bagus adalah sunrisenya serta di perahu bisa muat 4-5  orang jadi makin ramai makin hemat

3. Di Old Bagan tawar saja dengan taxi untuk negoisasi agar tidak kena biaya masuk dengan mengambil jalur rute menghindari piket. Kami harus membayar 24,000 KS untuk taxi bertiga demi tidak membayar 60 USD/3 orang.

4. E-bike maupun bersepeda kalau sendirian paling murah kalau di Old Bagan

5. Kami sering menggunakan taxi dari Bandara dan jika ke suatu tempat sehingga masih bisa dihemat dengan cara menggunakan bus.

6. Bagi yang bisa tahan hidup tanpa “internet” maka tidak perlu membeli SIMCARD, kami bertiga sama sekali tidak membeli SIMCARD selama di Myanmar. Namun di Bandara Yangoon ada wifi walau tidak kencang

7. Bawa makanan dari Indonesia karena memang banyak makanan yang tidak halal di Myanmar, untuk Yangoon dan Mandalay masih mudah mencari makanan halal karena ada area Muslimnya.

Yangoon

Penginapan selama di Myanmar

Penginapan kami selama di Myanmar adalah bus malam, hal ini memang kami sengaja lakukan untuk menghemat biaya pengeluaran penginapan. Tapi jangan tanya bagaimana capeknya, kami harus tidur selama perjalanan di Bus dari Kota ke Kota lainnya terus sampai di Kota tujuan langsung membloang “nonstop” menjelah Kota tersebut.

Bus malam Yangoon-Inle dengan harga tiket 15,000 KS berangkat jam 5 sore nyampe jam 4 pagi di Inle, busnya biasa namun fasilitas luar biasa dengan adanya tempat nyarger, dikasih selimut, dikasih bantal dan dikasih makanan serta sikat dan obat gigi

Bus malam Inle-Old Bagan dengan harga tiket 18,000 KS VIP bus berangkat jam 8 malam dan sampai di Old Bagan jam 3 pagi namun fasilitasnya biasa.

Bus malam Old Bagan-Mandalay dengan harga tiket 11,000 KS bus berangkat jam 10 malam dan sampai di Mandalay jam 4 pagi dengan fasilitas bantal, selimut dan minuman

Bus malam Mandalay-Yangoon dengan harga tiket 11,000 KS berangkat jam 8 malam dan sampai jam 6 pagi di Yangoon dengan fasilitas selimut dan minuman

Tips ke Myanmar

1. Sebaiknya pergi bersama teman untuk mempermurah biaya sehingga bisa sharing cost terutama di Inle untuk sewa perahu seharian

2. Membeli Tanaka (bedak dingin) dan Longyi (sarung dipakai orang Myanmar sehari-hari) bisa dilakukan agar seperti orang lokal Myanmar

3. Hati-hati makan di Myanmar karena kebiasaan orang Myanmar itu suka mengubek-ubek makanan sehingga jangan lupa bawa obat diare

4. Bawalah tissu basah karena di Myanmar toiletnya kebanyakan toilet duduk serta jarang ada tissue.

5. SIMCARD bisa dibeli di Bandara dan menukar uang juga bisa dilakukan di Bandara, ratenya lumayan bagus

6. ATM bisa digunakan di Myanmar sehingga jika kehabisan uang bisa tarik tunai. Di Yangoon kami melihat BNI 🙂

Suka duka di Myanmar

1. Rekor tidak mandi selama 3 hari 3 malam, rekor terlama yang pernah aku alami, full jalan-jalan dan gak mandi-mandi hanya bermodalkan ganti baju, bedak ketek dan parfum. Dari Cilegon saja aku tidak mandi kemudian berlanjut di Singapura kemudian di Yangoon, kemudian di Inle. Baru di Bagan lah kami bisa mandi dan mandinya pun langsung mandi panas sehingga serasa berada di “surga” ketika mandi setelah 3 hari menahan bau badan

2. Bus malam Myanmar cukup nyaman namun pas bus malam ke Mandalay aku tidak bisa tidur sama sekali sehingga rasanya ngantuk berat pas perjalanan di Myanmar sementara si Ade malah tidak bisa tidur pas perjalanan terakhir ke Yangoon

3. Susah sekali menemukan orang Myanmar yang bisa Bahasa Inggris dalam perjalanan kami, yang sial pas di area restauran kami sering ditanya “Mingalabar” dikira orang lokal terus dengan PD gak bakalan bayar uang masuk ke Inle, pas masuk ke Kotanya malah ketahuan orang asingnya

4. Aku dan Melisa pas malam hari selalu memakai Thanaka (bedak dingin) sehingga merasa warga lokal namun tetap Bahasa gak bisa bohong

5. Naik e-bike panas-panasan saat di Old Bagan tapi entah kenapa rasanya seru terutama karena bawa temannya asik dan bisa diajak susah

6. Cari makanan itu susah untungnya aku dan Ade bukan tipikal susah makan yang penting bukan non halal kami makan saja. Tapi entah kenapa selama di Myanmar aku belum menemukan makanan enak yang tak terlupakan :O

Sule Pagoda

Total pengeluaran Backpacker ke Myanmar 5 Hari  ke Kota Yangoon, Inle Lake,  Old Bagan, Mandalay dan kembali lagi ke Yangoon

Yangoon hari pertama 23,400 KS

Inle Lake hari kedua 45,570 KS

Old Bagan hari ketiga 26,870 KS

Mandalay hari keempat 22,550 KS

Yangoon hari kelima 6,900 KS

Total biaya backpacking di Myanmar

= 23,400 KS + 45,570 KS + 26,870 KS + 22,550 KS + 6,900 KS

= 125,290 KS (kurs $1 = 1346 per Februari 2017)

Uang Myanmar

Tiket pulang pergi Jakarta-Myanmar Rp 1,600,000

Biaya selama 5 hari di 4 Kota Rp 1,378,190  (kurs 1 KS = Rp 11 per Februari 2017)

Total pengeluaran Backpacker ke Myanmar all in (termasuk tiket)

= Rp2,978,190 (kurang lebih 3 juta)

Note

Aku hanya membawa uang 100 USD langsung ditukar di Bandara Internasional Yangoon kemudian menukar lagi 10 USD dan 15 Dollar Singapura dan uangnya cukup memback up perjalanan selama di Myanmar.

Itulah perjalanan ke Myanmar dengan temanku Ade dan Melisa secara semi backpacker dengan mandi tak mandi, makan tak makan serta tidur ayam di bus, seru serta penuh warna dengan 4 Kota 5 Hari menghabiskan uang Rp3jt.

Ada yang sudah ke Myanmar?

Salam

Winny

Itinerary Perjalanan ke Yangoon, Inle, Old Bagan dan Mandalay Myanmar


You don’t love because: you love despite; not for the virtues, but despite the faults

By  William Faulkner

Hello World

Burma, Februari  2017

Backpacker ke Myanmar alias Burma begitu berkesan karena pergi dengan teman yang super asik, walaupun cuma bertiga namun berisik dan ramainya kalah ama ratusan orang. Bahkan perjalanan Myanmar penuh dengan canda tawa, mandi gak mandi, makan gak makan dan yang penting seru! Jangan tanya lagi gimana persiapan ke Myanmar, udah dari lama-lama. Bahkan jauh-jauh hari sebelum keberangkatan aku sudah membuat rencana perjalanan Burma alias Myanmar. Perjalanan ke Myanmar direncanakan ke 4 Kota yaitu Yangoon, Inle, Old Bagan dan Mandalay. Hanya saja Melisa tidak ikut  ke salah satu Kota karena harus balik ke Indonesia duluan sementara aku dan Ade menjejah 4 Kota di Myanmar.

Untuk rincian perjalanan Myanmar atau Itinerary Burma rute yang aku buat adalah Yangoon-Mandalay-Old Bagan-Inle namun pada akhirnya berubah drastis dengan rencana Ade sebab Melisa awalnya galau antara Inle atau Mandalay dan akhirnya memilih Inle.

Itinerary Myanmar 
Date Time Activity Cost Remark
22-Feb-17 21:55 – 00:45 Soekarno Hatta Airport to Singapore Airport, Terminal 1 Duration 1:50 min, Kode Booking BHP8GK
22-Feb-17 21:55 – 00:45 Soekarno Hatta Airport to Singapore Airport, Terminal 1 Duration 1:50 min, Kode Booking BHP8GK
23-Feb-17 10:40-11:00 Change money in airport, SIMCARD if necessary. Money Myanmar (‘chat’) rate $1 =  1240 Kyat 100 USD USD 1 = MYK 1,218, SIM Telenor Tourist = MYK 12rb, 1 Gb
23-Feb-17 11:00-12:00 Optinal going by taxi or by bus should leave from airport walking for 1,5 km and paying Ks 200 (Rp 2.200) kurs MMK 1 ≈ IDR 11). Hotel in Yangoon Backpacker Bed. Location  No.40, Shwe Bon Thar Road, Pabedan Township, Downtown Yangon 8000-10,000 MYK Duration 1 hour, using taxi should be bargain. Hotel 12 Usd.
23-Feb-17 12:00-13:00 Lunch Maha Bandoola Garden near Bangale Sunni Jameh Mosque 2500 MYK aqua for MYK 180 (Rp2.000),
23-Feb-17 13:14:00 Sule Pagoda, Independent  Monument of Myanmar dan High Court Building 4000 MYK entrance fee, near sule pagoda there is a jameh mosque
23-Feb-17 14:00-15:00  Shwedagon Pagoda 8000 MYK entrance fee  8USD
23-Feb-17 15:00-16:00 Saint Mary’s Cathedral and Musmeah Yeshua Synagogue 3 usd Free entrance for Jewish place, adress of church 72, Bo Aung Kyaw Street Botahtaung Tsp, and taxi 3 usd
23-Feb-17 16:00-17:00  Bogyoke Market address in Bogyoke Aung San Rd For Myanmar handicrafts and souvenirs close 5 pm
23-Feb-17 17:00-20.00 Optional: Chaukhtatgyi Buddha, Taukkyan War Cemetery, Botatoung Pagoda near yangon river, China Town Yangon, Botahtaung Pagoda, nga Htat Gyi Pagoda,Kyay Thone Pagoda and Inya Lake Terminal Aung Mingalar bus JJ Express to Bagan
23-Feb-17 21:00-05:30 Yangoon-Mandalay $12 Night bus with JJ express or Lumbini
24-Feb-17 05:30-06:00 Mandalay Rp400,000 Hotel 8  location29th Street, Between 82nd & 83rd Street, Chan Aye Thar San Township, 11101 Mandalay
24-Feb-17 06:00-08:00 Breakfast MYK2500
24-Feb-17 08:00-10:00 Golden Palace Monastery (Shwenandaw Kyaung) + Atumashi Pagoda US$ 10 Charter  Mandalay: MYK 12.000/day
24-Feb-17 10:00-12:00 Maha Muni Pagoda Royal Palace US$ 10 Donation for Mandalay Hills MYK 500
24-Feb-17 12:00-13:00 Makan siang MYK 1000
24-Feb-17 13:00-14:00 Kuthodaw Pagoda & the World’s Largest Book US$3
24-Feb-17 14:00-15:00 Mingun Temple US$3
24-Feb-17 15:00-16:00 Bargaya Monastery US$ 10
24-Feb-17 16:00-17:00 Sanda Muni Paya and Kyauk Taw Gyi Pagoda US$ 10
24-Feb-17 17:00-20:00 Mandalay Hill US$ 10 Donation for Mandalay Hills MYK 100
24-Feb-17 21:00-03:30 Mandalay-Bagan $9U Night bus with JJ express or Lumbini
25-Feb-17 03:30-05:00 Bagan Rp300,000  Ever New Guest House address No.6, Aung Myay Thar Quarter, 1 Lane, Nyaung Oo, Nyaung U, 11101 Bagan, Myanmar
25-Feb-17 05:00-06:00 Sunrise in Bagan Optional to follow ballon tour $350 Baloon tour 305 to 350 USD /person.
25-Feb-17 06:00-07:00 Breakfast MYK5000
25-Feb-17 07:00-09:00 Bagan Temples MYK 22000 Going by delman/day MYK 15,000 -K25,000, Cars $20-$50
25-Feb-17 09:00-17:00 Zona free for  Shwezigon Pagoda,  Kyansittha U Min, Wetkyiin Gubyaukgyi, Htilominlo,  Ananda,  Damayangyi , Nanpaya, Manuha, Villages along Ayerwaddy river , Thatbyinnyu, Saraba Gate Way, Bupaya $20
25-Feb-17 Optional Bulethi,Gubyaukgyi Temple, Shwe-gyu-gyi, Pya-Tha-Da Paya, Bagan Tower $5-10
25-Feb-17 Optional Mt Popa $5
26-Feb-17 19:00-08:00 Bagan-Inle Lake $11 Night bus with JJ express or Lumbini
26-Feb-17 08:00-09:00 Breakfast MYK 5000
26-Feb-17 09:00-16:00 Full trip boat jetty to around inle Lake include Floating Garden, Native Method of Fishing, Silk & Cotton Weaving,  Unique-leg Rower,  Nga Hpe Monastery, Paung Daw Oo Pagoda,  Indein Old Temple & Stupas, Maing Thauk Monastery MYK 5000 -13,000 $18  per 8 hour
26-Feb-17 16:00-17:00 Shwe Yaunghwe Kyaung, Kak Ku Temples $3 Optional
26-Feb-17 17:00-05:00 Inle Lake-Yangoon $15 Night bus with JJ express or Lumbini,Melisa pulang ke Indonesia
27-Feb-17 05:00 Yangoon
27-Feb-17 06:00-08:00 Breakfast MYK5000
27-Feb-17 08:00-16:00 Optional: National Museum ($5), Gem Museum ($5), People’s Park ($3), Ngar Htut Kyi Pagoda ($2), Bogyoke Aung San Museum ($3), Yangon Zoo ($2)
27-Feb-17 16:00-18:00 Going to Yangon Airport 8000-10,000 MKK Duration 1 hour, using taxi
27-Feb-17 19:40-00:10 Yangon Airport Terminal 2 to Changi Airport Terminal 1 Duration 3 hours
28-Feb-17 07:45-08:45 Changi to Soekarno Hatta Airport Duration 1:50 min

Akhirnya Ade pun membuat rincian perjalanan Myanmar baru dengan rute Yangoon-Inle-Old Bagan-Mandalay-Yangoon Myanmar. Tentu saja rincian Ade ini out of the box alias anti mainstream yang jarang dibuat tapi anehnya malah seru dan tak terlupakan.

Itinerary Myanmar  2017

Yangon
Date Time Activity Cost Remarks
22-Feb-17 21:55 – 00:45 Soekarno Hatta Airport to Singapore Airport, Terminal 1 Duration 1:50 min, Kode Booking BHP8GK
22-Feb-17 21:55 – 00:45 Soekarno Hatta Airport to Singapore Airport, Terminal 1 Duration 1:50 min, Kode Booking BHP8GK
23-Feb-17 10:40-11:00 Imigration Checking, Money Changer or buy a sim card USD 1 = MYK 1,218, SIM Telenor Tourist = MYK 12rb, 1 Gb
23-Feb-17 11:00-12:00 Optinal going by taxi or by bus should leave from airport walking for 1,5 km and paying Ks 200 (Rp 2.200) kurs MMK 1 ≈ IDR 11). Hotel in Yangoon Backpacker Bed. Location  No.40, Shwe Bon Thar Road, Pabedan Township, Downtown Yangon 8000-10,000 MYK Duration 1 hour, using taxi should be bargain.  Hotel address only for imigration checking
23-Feb-17 12:00-13:00 Lunch Maha Bandoola Garden near Bangale Sunni Jameh Mosque 2500 MYK aqua for MYK 180 (Rp2.000),
23-Feb-17 13:14:00 Sule Pagoda, Independent  Monument of Myanmar dan High Court Building 4000 MYK entrance fee, near sule pagoda there is a jameh mosque
23-Feb-17 14:00-15:00  Shwedagon Pagoda 8000 MYK entrance fee  8USD
23-Feb-17 15:00-16:00 Saint Mary’s Cathedral and Musmeah Yeshua Synagogue 4000 MYK Free entrance for Jewish place, adress of church 72, Bo Aung Kyaw Street Botahtaung Tsp, and taxi 3 usd
23-Feb-17 16:00-16:30 Go to Bus station 9000 MYK
23-Feb-17 16:30-17:00 Check in on Bus Station, go to inle Lake 18000 MYK Bus by Shwe Loan
Total Cost 55000 MYK
Inle Lake
Date Time Activity Cost Remarks
24-Feb-17 05.00-05.30 Arrived at Inle Lake Bus Station 10000 MYK Entrance Fee Inle Lake (I hope they notice we are local people)
24-Feb-17 05.30-06.00 On the Way to Mr. Muh Kyi House 3000 MYK location is “smiling moon hostel”
24-Feb-17 06.00-06.30 Prepare for Explore Inle lake, Rent Boat 15000 MYK
24-Feb-17 06.30-07.00 hunting sunrise and Leg Rowing attraction
24-Feb-17 07.00-07.15 Go To Shwe Inn Dein
24-Feb-17 07.15-08.00 Explore Shwe Inn Dein and Breakfast 3000 MYK
24-Feb-17 08.00-08.15 Go to Phaung Dau Ooo Pagoda
24-Feb-17 08.15-09.00 Explore Phaung Dau Ooo Pagoda and see pigeon atraction 500 MYK buy corn for pigeon
24-Feb-17 09.00-09.15 Go to monastery  Mya Thein Tan
24-Feb-17 09.15-10.00 Explore Monastery Mya Thei Tan and go to hill to see inle lake landscape
24-Feb-17 10.00-10.15 Go to thaung tho pagoda
24-Feb-17 10.15-11.00 Explore thaung tho pagoda
24-Feb-17 11.00-11.15 Go to Nga phe Kyaung
24-Feb-17 11.15-12.00 Explore Nga Phe Kyaung and see jumping cat atraction Biksu school 🙂
24-Feb-17 12.00-12.30 Go to Restaurant inle lake side
24-Feb-17 12.30-13.30 Lunch
24-Feb-17 13.30-14.00 Go to Merchandise market
24-Feb-17 14.00-16.00 explore merchandise market, Silk & lotus weaving, Gold & silver smith, Inle traditional handicraft & cheroot
24-Feb-17 16.00-16.30 Go to Inle traditional umbrella workshop
24-Feb-17 16.30-17.00 See suku Kanya Padaung in Inle traditional umbrella workshop
24-Feb-17 17.00-17.30 Floating Market
24-Feb-17 18.00-18.30 Prepare for go to Bagan (take a bath at Mr. Muh Kyi House) 1000 MYK
25-Feb-17 19.00-03.00 Go to bagan by Bus 13000 MYK bus by Minh Thar
Total Cost 45500 MYK
Bagan
Date Time Activity Cost Remarks
25-Feb-17 03.00-03.30 Ariived and prepare for a long journey 20000 MYK Entrance Fee
25-Feb-17 03.30-04.00 Go to E bike Rent center by Taxi 10000 MYK
26-Feb-17 04.00-05.00 Rent E bike 6000 MYK
25-Feb-17 05.00-05.30 Hunting sunrise still trying to find best place to see sunrise at bagan
25-Feb-17 05.30-08.00 Enjoy Sunrise and Air baloom
25-Feb-17 08.00-17.00 Explore Bagan
25-Feb-17 17.00-18.30 Hunting sunset at Shwezigon Pagoda
25-Feb-17 18.30-19.30 Back to e bike rent center
25-Feb-17 19.30-20.00 Prepare for Next Destination (take bath, charge gadget, charge camera)
25-Feb-17 20.30-02.30 Go to Mandalay by Ok Express Minibus 9000 MYK
Total Cost 45000 MYK
Mandalay
Date Time Activity Cost Remarks
26-Feb-17 02.00-02.30 Mandalay Bus Station Shwe Man Thu, ariived and prepare for a long journey
26-Feb-17 02.30-03.30 Go to Motor bike station by Taxi 10000 MKY
26-Feb-17 03.30-04.00 Rent motor bike to explore mandalay 10000 MKY
26-Feb-17 04.00-05.00 Go to Mandalay Hills by Motor Cycle
26-Feb-17 05.00-07.00 Explore Mandalay Hills and sunrise at mandalay hills
26-Feb-17 07.00-07.15 Go to Mandalay Palace by Motor Cycle
26-Feb-17 07.15-08.30 Breakfast and explore Mandalay Palace
26-Feb-17 08.30-09.00 Go to Mahamuni Image
26-Feb-17 09.00-10.00 Explore Mahamuni Image
26-Feb-17 10.00-10.30 Go to Pagoda Maha Lokamarazein Kuthodaw
26-Feb-17 10.30-11.00 Explore Pagoda Maha Lokamarazein Kuthodaw
26-Feb-17 11.00-11.15 Go to Golden Palace 10000 MKY Optional, entrance Fee 10.000MKY
26-Feb-17 11.15-12.00 Explore Golden Palace
26-Feb-17 12.00-12.30 Lunch, near Golden Palace 4000 MKY
26-Feb-17 12.30-13.30 Go to Paya Sandamuni Temple & Monastery
26-Feb-17 13.30-14.30 Explore Paya Sandamuni Temple & Monastery
26-Feb-17 14.30-15.00 Go to Mandalay palace
26-Feb-17 15.00-16.30 Explore Mandalay Palace
26-Feb-17 16.30-17.00 Go to U Bein Bridge
26-Feb-17 17.00-18.30 Explore U bein Bridge and waiting for sunset
26-Feb-17 18.30-19.00 Back to Rent Motor station
26-Feb-17 19.00-20.30 Dinner and waiting for bus  from Mandalay to Yangon 20000 MKY JJ Express Bus 16.000 MKY, dinner 4000 MKY
Total Cost 54000 MKY
Yangon
Date Time Activity Cost Remarks
27-Feb-17 05.00-05.30 Yangon Bus Station, ariived and prepare for a long journey

Semoga rincian perjalanan ke Myanmar dapat bermanfaat ya, untuk realiasi habis berapa selama di Myanmar untuk 4 Kota dalam postingan berikutnya!!

Salam

Winnny

“Kehinaan” Perjalanan ke Myanmar


Happiness is having crazy friends

By Unknown

Hello World!

Burma, Maret 2017

Win ke Hong Kong yuk", kata Defi di grup yang hanya terdiri dari
aku, Defi dan Rinta.

Berbekal informasi tiket promo dari Defi akhirnya aku coba-coba untuk melihat berapa harga dari Maskapai promo ke destinasi berbeda, tentu saja tawaran ini racun bagiku. Bukan apa-apa aku harus hemat demi perjalananku berikutnya atau aku bisa mati kutu. Namun apa daya aku tak kuasa menahan hasrat untuk tidak membeli tiket promo walau kere abis. Akhirnya aku pun  mengajak beberapa teman  siapa tahu ada yang ingin ikut trip, salah satunya kak Bijo namun kak Bijo belum bisa bergabung. Yah batal lagi deh impian jalan bareng dengan Kak Bijo 😦

Destinasi yang aku inginkan pun banyak padahal awalnya kan Defi ngajakin ke Hong Kong namun karena Hong Kong tidak terlalu ngebet banget untuk aku kunjungi, akhirnya pilihan jatuh kepada Burma, negara yang sudah dari tahun kapan ingin dikunjungi. Pemilihan Burma juga setengah hati karena malas akibat kasus Rohingnya terus akupun iseng-iseng mengirim Whatsapp ke Grup namun hanya Ade dan Melisa yang menyambutku.

"De, ada tiket murah ini ke Burma pp Rp800,000 doang ini tapi harus beli sampai 
tanggal 23", kataku

"Ayo kita kesana berapa no KTP mu", kata Ade

Alhasil dengan SIGAP si Ade membelikan tiketku yang ujung-ujungnya di last minute menjadi sekitar 1,6 juta.  Si Ade bahkan nalangin duluan pembayaran karena dia sangat antusias sebab memang keinginan ke Myanmar sudah lama sehingga pas aku mengajaknya bak gayung bersambut.

Nya, akhirnya aku bisa mengajakmu ke Myanmar :D, kata Ade
Yangoon

Selama backpacker-an ke Myanmar bersama Melisa dan Ade ada beberapa kejadian yang super “hina”.

Asli kehinaan bahkan dimulai sebelum trip ke Myanmar.

Kehinaan selama perjalanan ke Myanmar yang dialami:

1. Minuman C1000 dan Bear Brand di Bandara Soekarno Hatta

Nya, jangan bawa cairan ingat kejadian Body Shopmu 
ditahan pas mau ke Hatyai, kata Ade

Sejak kejadian itu aku tidak pernah lagi membawa cairan diatas 100 ml kalau tidak membeli bagasi. Eh siapa sangka ternyata bear brand dalam bentuk kaleng di dalam tas menjadi masalah di Imigrasi Indonesia ketika hendak berangkat ke Myanmar.

Maaf, mohon dibuka tasnya, kata petugas dengan tegas sebelum menuju ruang tunggu

Ternyata aku tidak sendiri si Ade juga harus membuka tasnya sementara Melisa lolos saja ke Ruang Tunggu.

Dari tasku ada beard brand sekaleng, sementara Ade memiliki 2 botol C1000 dan Bear Brand. Akhirnya karena tidak mau rugi, kami meminum C1000 dan Bear Brand dalam sekaligus.

Saking takut ruginya susu dicampur Vit C

Kurang hina apa coba?

Sepatu kesayangan

2. Sepatu Rusak di Changi Airport

Aku memiliki sepatu kesayangan yang sudah kemana-mana, walau sudah tergores selalu aku bawa. Tak terkecuali perjalanan ke Myanmar, si cokelat, teman perjalanan setia. Eh siapa sangka satu-satunya sepatu yang aku bawa ternyata pas di Changi Airport “mengaga” lah dia. Padahal bawa sandal kagak, perjalanan juga masih jauh.

Mati, sepatuku rusak, kataku

hahahhhaha :D, tawa Melisa dan Ade meledak dengan kompak

Udah sih Win, buang saja, kata Ade

Tapi saking cintanya ama sepatu, akhirnya aku di kasih plastik dari Melisa untuk sepatu rusakku. Sepatu rusakpun aku masukkan kedalam tas dan aku tenteng kemana-mana.

Untungnya Melisa meminjamkan sandal satu-satunya kepadaku untuk menuju ke Myanmar.

Sandal Pinjaman
Sandal Pinjaman

3. Minuman Tumpah di Changi Singapura

Antara katrok atau saking super gratisan maka aku, Ade dan Melisa begitu menikmati saat menikmati minuman gratis di Bandara Changi, Singapura.

Gilooo persiapan Winny sampai bawa tempat minum loh, ejek Ade

Kami bertiga bergaya layaknya sedang minum di Restauran. Nah saat party ala-ala, tiba-tiba entah lah kenapa tempat minumku tumpah ke bawah dan langsung tempat minumku peca, “bam” lalu menjadi pusat perhatian.

Eh tiba-tiba si Ade kampret langsung pergi dan menjauh dariku sambil berkata “eh bukan teman gue”.

Sementara mukaku udah merah padam, akhirnya aku ambil pecahan gelas kemudian aku dan Melisa langsung buru-buru masuk kedalam toilet sambil tertawa lepas.

Kejadian pecah tempat minum yang memalukan!

4. Pijat Gratis di Bandara Changi Singapura

Setelah kejadian dari tumpah minum dan pecah tempat minum aku dan Melisa melihat Ade sudah PW sambil pijat di bangku pijat gratis. Yang lucu saat mencoba bangku pijat benar-benar kayak kampungan. Asli walau cuma bertiga tapi kami bertiga suaranya rame (rameee). Pas coba bangku pijat ternyata hanya untuk kaki saja pas pertama kali mencoba merasa geli sambil tertawa.

Dasar pecinta gratisan yang hina 😀

Well, belum saja dimulai perjalanan sesungguhnya ke Myanmar, sudah banyak kehinaan yang kami alami.

So silly!

 

5. Sandal Hilang di Yangoon

Pengalaman kehinaan pun berlanjut saat di Yangoon, Myanmar. Aku, Melisa dan Ade masuk ke dalam sebuah objek wisata yang kami ketahui dari Map Offline, interest place terdekat dari Terminal Yangoon karena kami tidak mungkin ke Kota Yangoon. Jadi kalau di Myanmar, jika ingin masuk kedalam temple maka sepatu dan kaos kaki wajib di lepas, sehingga kamipun melepas sandal dan sepatu kami serta kaos kaki, begitu juga sandal yang dipinjamlan Melisa kepadaku. Eh pas puas dari keliling temple dan hendak balik ke Terminal, sandal yang aku pinjam dari Melisa “raib” alias hilang.

Sandalku hilang, kataku

Akhirnya karena tidak ada pilina akupun berjalan dengan hinanya hanya memakai kaos kaki saja dari temple ke Terminal dengan jalanan yang super panas.

Mak aku apes banget!

Bayangkan jalan nyeker gegara sandal diambil di temple!!

 

Akhirnya aku dan Melisa serta Ade mencari sandal untukku.

Nya, ingat beli dua jangan gak tahu diri ya, kata Ade mengingatkan

Dari kehinaan sandal hilang akhirnya aku membeli Sandal di Myanmar langsung dua, satu untukku dan Melisa itupun hasil tawar yang gagal.

6. Dicium Bule di Inle

Kehinaan pun berlanjut sampai di Inle, Myanmar saat kami berada di rumah Long Neck Lady, itulah wanita Myamar yang memiliki leher panjang karena dari kalungnya sampai menutup lehernya. Di tempat Long Neck Lady kami bertemu Isabella, muka bule namun fasih Bahasa Indonesia yang menyapa kami dengan ramah. Rupanya ibunya Isabella asli Indonesia dan papanya orang Amerika dan dia belajar di Hong Kong sedang liburan di Myanmar. Orangnya ramah dan cantik, dia bahkan yang memulai menyapa kami. Eh saat pisah ternyata Isabella cipika cipiki kami, nah pas si Ade dicium pipi Kiri eh si Ade gak tahu diri malah memegang tangan Isabella untuk minta dicium pipi kanan juga.

Kurang hina apa coba? haha 😀

7. Bule berlongyi di Inle

Masih di rumah Long Neck Lady, kami bertemu dengan sekumpulan Bule yang memakai Longyi. Jadi Longyi adalah pakaian khas laki-laki Myanmar sejenis sarung yang dipakai keseharian. Nah ada 5 bule sekawan yang berlongyi ria yang kami ketemui di temple Inle. Eh siapa sangka ketemu mereka lagi di rumah Long Neck Lady.

Isabella, I wanna take photos with that guys with Longyi, 
it is unique the way they wear it, kataku
Hey Guys, my friend want to take pictures with you, 
kata Isabella yang sontak membuat wajahku merah padam

Well paling tidak kehinaan di Inle membuat ku berphoto dengan bule pake Longyi hihi 😀

8. Photo Saudagar di Inle

Kehinaan lainnya yang kami lakukan di Myanmar adalah ketika saat  pulang tidak jadi hunting sunset di Danau Inle. Akhirnya kami bertiga bergaya bak “Saudagar kaya raya” dengan naikin kaki di perahulah, berphoto ala-ala. Padahal senangnya gratisan.

Kehinaan sok jadi Saudagar!

9.Gagal disangka warga Myanmar

Kami sangat berharap muka kami dianggap sebagai muka lokal. Bahkan aku sengaja membeli Tanaka dan mamakainya sepanjang perjalanan. Tujuannya adalah mengindari membayar retribusi jika ingin masuk Inle karena di Myanmar jika masuk ke Inle dan Bagan harus bayar. Hinanya pas kami sehari-hari dianggap muka lokal eh pas di tempat wisata eh kelihatan muka turisnya. Gagal deh jadi warga lokal Myanmar, padahal sudah ngarep banget.

Kurang hina apa coba beli Longyi dan Tanaka demi menyamar menjadi warga Lokal namun gagal? haha 😀

Saudagar di Inle

 

10. Gak jadi Mandi di Inle, Myanmar

Excuse me sir, can we pay for taking shower here, 
tanyaku kepada seorang Pria Myanmar

You can take shower free here, jawabnya dengan ramah

Eh dengan semangat 45 Melisa mengajak Ade untuk mandi di tempat itu, sementara aku menunggu mereka. Wajar sejak ketibaan hari Kamis kami belum mandi sudah 3 hari. Dan jam 6 sore bus kami akan datang menjemput sementara jam menunjukkan jam setengah enam sehingga kami hanya memiliki 30 menit untuk mandi sehingga kami grasak grusuk buru-buru berharap bisa menumpang mandi gratis. Apa daya ternyata kami harus menelan lidah karena si kawan PHP-in kami karena pas masuk ke dalam kamar mandi katanya lagi ada orang sehingga kami bertiga dengan muka kecewa pun balik menuju tempat untuk jemputan ke Kota Old Bagan.

Alhasil tidak mandipun berlanjut.

Kehinaan yang tidak mandi 3 hari!!!

 

11. Jatuh dari Motor demi mengejar Sunrise di Old Bagan

Gara-gara mengejar sunrise di Old Bagan yang fenomenal dengan Air Ballonnya, aku, Melisa dan Ade naik e-bike kayak orang kesetanan demi mendapatkan sunrise padahal kami baru nyampe di Bagan itu sekitar jam 3an.

Nya, di otakku cuma ada Sunrise kalau tidak dapat aku akan kecewa, kata Ade

Akhirnya seperti membabi buta dengan bantuan map offline aku ganti-gantian dibonceng Melisa dan Ade naik e-bike. Nah pas bersama Ade saking ngebutnya akhirnya kami berdua terjatuh dari e-bike pas subuh-subuh itu. Hinanya lagi si Melisa tidak tahu kalau aku dan Ade jatuh dari e-bike. Untungnya kami berdua tidak apa-apa.

Demi ngejar Sunrise dan Ballon di pagi buta, hinapun tak palah!

12. Ban Kempes demi Photo Eksis

Gara-gara demi “Photo Indah”, maka ban e-bike dikorbankan.Jadi ceritanya Ade menunjukkan photo naik e-bike dengan latar belakang Candi.

Nya ambil banyak photoku ya dengan e-bike dengan latar Candi, kata Ade

Entah pas giliranku meniru Ade, e-bike yang aku naiki bannya kempes.

Damn, bannya kempes de, kataku!

Akhirnya dengan bantuan warga lokal serta sifat sok asik dan SKSD tingkat tinggi, aku meminta bantuan warga lokal itu untuk menelepon pihak pemilik E-bike kami untuk mendatangkan montir memperbaiki E-bike kami itu. Padahal itu warga lokal kagak bisa Bahasa Inggris, aku hanya menunjukkan ban kempis serta nomor telpon yang tertulis di ebike serta mengasih tunjuk telepon. Untungnya warga lokal baik dan membantu kami menelepon pemilik untuk datang padahal kami tidak tahu kami sedang berada dimana.

Di penantian e-bike rusak untuk  diperbaiki kamipun “menggila” dimana kami menikmati waktu dan bercanda ria.

Kehinaan demi sebuah photo berujung padamenggembel di bawah pohon di terik matahari sambil bercanda dengan warga lokal Myanmar!

13. GPS Offline sehingga Map Offline tak terbaca

Kehinaan Melisa ketika dia mengeluh kenapa Map Offlinenya tidak bekerja sehingga mencari tempat berburu sunrise di Bagan susah.

Kenapa ya Peta Offline ku tidak bisa? 
tanya Melisa

Mendengar keluhan itu akhirnya si Ade mengotak-atik HP si Melisa dan menemukan kejanggalan.

Gimana mau bisa pakai Offline Maps, GPS mu mati Mel, 
kata Ade dengan mengejek penuh kebahagiaan

Ternyata Melisa belum menyalakan GPS di Hpnya

14. Aku tidak bisa Baca Peta Offline Mandalay

Ternyata tidak Melisa saja yang hina, aku yang suka jalan-jalan melanglang buana udah kemana-mana ternyata tidak bisa membaca peta. Aku sering salah antara kiri dan kanan sehingga si Ade sampai stress habis saat berjalan berdua di Mandalay, Myanmar.

Hey Nya, belajar baca peta, katanya dengan muka tak percaya menahan dongkol

Meefkan daku yang tidak tahu mana kiri dan kanan, kataku sambil menahan tawa 🙂

15. Tak tahu diri Naik ke Candi saat ada tulisan Do not Climb

Gegara mengikuti jejak Bule, aku, Melisa dan Ade harus berpikir keras untuk naik ke Candi yang susah dinaiki. Padahal ada tulisan Do not Climb dan jujur jangan dicontoh karena itu adalah perbuatan tertolol yang pernah kami lakukan. Aku si takut ketinggian sampai deg-degan tingkat tinggi bahkan untuk naik ke atas saja aku harus diangkat Ade dan seorang Bule yang kami ikutin naik. Eh lama-kelamaan tidak hanya kami berenam di atas puncak Candi malahan jadi ramai sekali sampai orang Myanmarnya marah.

Hey you, go down, teriaknya dari bawah sambil membawa senter

Kami beserta para Bule beramai-ramai yang tak tahu diri bukannya turun malah bersandar ke belakang biar tidak kelihatan petugas sambil menunggu Balon Udara. Akhirnya karena pengunjungnya bandel si petugasnya malah capek sendiri.

Kurang hina apa coba?

Gara-gara photo keceh tak jelas kami mengikuti jejak yang salah, please jangan ditiru.

16. Melisa diminta Tiket Old Bagan

Kehinaan berikutnya saat kami hunting sunset di Old Bagan. Aku dan Ade masuk duluan mengikuti turis lain sementara entah lah kenapa si Melisa terpisah dari kami karena keasikan mengambil photo. Buat sekedar informasi, kami masuk ke Old Bagan Myanmar itu sebagai turis gelap kami tidak membayar uang masuk $20 dollar per orang sehingga tidak diperbolehkan masuk kedalam beberapa temple. Eh pas ditanya dimana karcis si Melisa pura-pura lupa bawa, untung ini anak gak dideportasi kalau tidak bertambah kah kehinaan perjalanan kami jadi tinggi “banned” 😀

17. Diare sehingga Jadi Gembel di Yangoon

Gara-gara nasi diubek-ubek pakai tangan si Ade drop di hari terakhir perjalanan kami. Ade hampir sakit sehingga mengakibatkan dia dalam stadium butuh tidur karena dalam perjalanan Mandalay-Yangoon dia tidak tidur serta makan kami yang mencari halal namun tak ada uang akhirnya maka pinggiran jalan jadinya membuat Ade “diare”. Alhasil saat sampai di Sule Pagoda kami mencari tempat tidur dan pilihannya di Taman dekat Sule Pagoda. Akhirnya si Ade tidur di rumput yang menjadi penutup kehinaan kami selama di trip di Myanmar.

Nah pelajaran bisa dipetik dari kejadian semua kehinaan yang kami alami adalah bahwa segala persoalan dan masalah pasti memiliki jalan keluar dan solusinya. Walaupun hina dina karena kami menikmatinya sehingga kami dalam melakukan perjalanan bahagia dan senang.

So enjoy your life!

Salam

Winny