Menelusuri Jalanan Terkenal di Dunia, Avenue des Champs-Élysées, Paris


Keep Going. Your hardest times often lead to the greatest moments of your life. Keep going. Tough situations build strong people in the end.

By Roy T. Bennett

Aku di Avenue des Champs-Élysées

Hello World

Paris, Maret 2017

Beruntung!

Aku yang tidak tahu jalanan di Paris beruntung karena Thimo menemaniku keliling wisata Paris. Padahal kalau berbicara Paris aku tahunya Eiffel atau Arch de triomphe. Lucunya aku ingin sekali ke bangunan simpang lima di Kediri yang mirip Arch de Triomphe, PARIS, namun malah ke Arch de triomphe beneran.

Alhamdulillah rezeki anak soleh 🙂

Metro Paris

Waktu masih jam 9 pagi ketika kami meninggalkan Basilique du Sacré-Cœur, kemudian naik Metro ke Porte Maillot. Jauh-jauh kami ke Metro Porte Maillot untuk mencicipi makan pastry seharga coklat 1,2 Euro/bijinya. Nama toko yang kami cari itu bernama  A la Reine Astrid’s Paris sebuah took kecil yang berada di avenue de la Grande Armée (17th arr).

"You have to try it, its chocolate “caviar,” really delicious one, kata Thimo dengan semangat"

Sebagai penyuka cokelat, akhirnya ajakannya pasti aku iyakan. Toh aku sendiri juga backpackeran di Eropa ini. Dan jujur aku tak paham jalanan Paris, kalau bukan bantuan Thimo mungkin aku sudah nyasar-nyasar di Paris.

Paris

Keluar dari Metro kami berjalan ke sebuah toko kue. Toko kecil dengan beraneka ragam macam kue dan cokelat. Kue-kue disusun rapi, dan sang penjaga toko membolehkanku mengicip kuenya. Apalagi ketika dia mengetahui aku dari Indonesia dan seorang diri melakukan trip di Eropa, seolah bersemangat menyambutku. Langsung deh aku ditawarin icip kue mungil-mungil padahal harga kuenya cukup fantastis buatku. Tapi karena gratisan nyoba tester kuenya, aku mah senang-senang aja. Lagian siapa sih turis yang ke Paris nyari kue? 

It’s me!

Kalau dipikir-pikir dengan harga 1 kue itu aku bisa makan pecal, nasi goreng di Indonesia. Disitu bathinku bergejolak saat melakukan perjalanan jauh, aku akan rindu dengan makanan Indonesia. Namun bagaimanapun juga aku tetap menikmati icip-icip kue cokelat di Paris, toh udah niat juga nyari tokonya yang jauh dari kata “turis”. Mungkin hanya orang lokal saja yang tahu tempat ini, kalau aku sendirian belum tentu kesini.

Thimo membeli 5 pastry dan yang paling aku suka yang rasa cokelat. Lucunya kami makan pastry itu berdiri di pinggir jalan. Untung lagi di Paris, jadi tidak kelihatan gembelnya 😀

Barulah setelah itu kami melanjutkan perjalan keliling Paris menuju Arc de Triomphe. Transportasi yang kami gunakan ialah Metro, karena kami sudah membeli Metro pass selama 2 hari artinya bebas menggunakan Metro selama 2 hari dan dipastikan lebih murah jika ingin keliling Paris.

Arc de Triomphe

Arc de Triomphe atau Arc de triomphe de l’Étoile merupakan salah satu monumen paling terkenal di Paris yang dibangun atas perintah Napoleon Bonaparte untuk menghormati jasa tentara kebesarannya yang berada di area Champs-Élysées.

Sewaktu aku sampai di Arc de Triomphe, pengunjung lumayan banyak. Tak heran karena arsiteknya yang unik serta sudah ada sejak zaman dahulu. Padahal hanyalah sebuah monument dan sekelilingnya jalanan biasa. Tapi begitu menarik perhatian. Bahkan untuk masuk lebih dekat harus bayar lagi. Karena aku adalah pejalan kere karena backpacker ke Eropa modal nekat dengan membawa uang 600 Euro untuk 1 bulan, akhirnya memandangi dan photo dari jauh dengan  Arc de Triomphe cukup membuatku bahagia kok.

Aku kan anaknya mudah bahagia 🙂

Avenue des Champs-Élysées
Winny, you follow me, I will show you famous street in the world, kata Thimo
What is the that?, tanyaku
Its, Avenue des Champs-Élysées, kata Thimo

Akhirnya aku mengikutinya menuju Avenue des Champs-Élysées, tak jauh dari Arc de Triomphe.

Benar saja pas sampai di Avenue des Champs-Élysées, toko branded berjajar bahkan ada sebuah show cabaret. Tapi beda ya kabaretnya bukan seperti yang ada di Thailand. Hampir aku penasaran dan membeli tiket, kapan lagi melihat show megah di jalanan megah. Namun aku ingat akan kondisi keuangan yang tipis. 

Sebenarnya menurutku jalanannya sih biasa saja, hanya saja Avenue des Champs-Élysées, ibarat surganya shopping.

Dalam hati “this is really Paris“.

Untung aku bukan anak yang doyan shopping, kalau tidak mak, aku akan khilap.

Avenue des Champs-Élysées merupakan Paris must-see terdiri dari restaurant hingga toko ternama yang berada diantara Place de la Concorde dan the Arc de Triomphe.

Kesan ketika menginjakkan kaki di avenue terkenal di dunia, merasa bak model tapi perasaanku saja sih. Habis orang Paris pakai baju biasa saja tapi kelihatan keren. Apalagi pakai baju yang wow ya?

Gak heran sih Kota fashion 🙂

Avenue des Champs-Élysées

Rincian Biaya Pengeluaran di Paris, 29 Maret 2017

08:00-09:00 Jalan kaki ke Basilique du Sacré-Cœur, kemudian naik Metro ke Porte Maillot untuk makan pastry coklat 1,2 Euro

09:00-20:00 Jalan keliling Paris mulai dari Arc de Triomphe, jalan ke Avenue des Champs-Élysées (famous street in the world), kemudian naik Metro dari Opera Paris ke Restoran Jepang Rue St Anne untuk makan siang seharga 24 Euro/2orang (makan shirashi+teriyaki), jalan ke Metro Pyramid-Concorde-Metro Champs de Mars kemudian tour Eiffel, jalan ke hotel des invalids kemudian ke Metro St. Paul untuk nyobain teh dari segala penjuru dunia kemudian ke Notre Dome. Makan kebab 5 Euro, mencoba es krim 4,6 Euro untuk ukuran regular di Latin distrik kemudian balik ke Eiffel lagi sampai malam. Sempat membeli postcard dan gantungan kunci Eiffel 3 Euro.

Tempat wisata Paris yang didatangi pada pada hari-6 di Eropa

Eiffel, Metro Dome, Arc de Triomphe, Avenue des Champs, Basilique du Sacré-Cœur

Biaya yang dikeluarkan di hari-6 di Eropa = 1,2 Euro + 5 Euro + 4,6 Euro + 3 Euro = 13,8 Euro

Salam

Winny

Iklan

Menjelajah Wisata Gratis Singapura


Every life is a pile of good things and bad things. The good things don’t always soften the bad things, but vice versa, the bad things don’t always spoil the good things and make them unimportant

By Unknown

 

Hello World!

Singapura, September 2017

Dari museum air force Singapura, kami menuju Orchad Road, salah satu tempat di Singapura yang membuatku penasaran karena di tahun 2013 silam tidak sempat ke Orchad Road. Katanya Orchad Road ini surganya bagi si penyuka shopping dengan brand terkenal.  Cara kami ke Orchad dengan MRT menuju ke Orchad. Bus yang kami naiki berbeda dengan bus 94 yang pertama menuju museum.

Sesampai di stasiun MRT, kami masuk dan naik MRT North South Line (Jurong East-Marina South Pier, Red) bisa di NS22-Orchard atau NS23-Somerset turun di EW14+NS26-Raffles Place Stn.

Sesampai di area Orchad maka kesan “Plaza Indonesia”, “Grand Indonesia” alias PI GI Jakarta langsung dibenakku. Mall megah dengan pertokoan lengkap dengan barang bermerek dari berbagai negara. Untungnya aku tidak terlalu suka membeli barang bermerk tapi kalau dikasih sih mau 😀

Keluar dari area Mall yang menyatu dengan MRT, aku dan Bang David duduk di salah satu bangku yang ada di depan Orchad Road. Nah di Orchad Road perhatian kami tertuju kepada keramaian turis yang antri. Eh rupanya adalah penjual es krim potong Singapura. Akhirnya kami berdua pun membeli es krim potong rasa mangga seharga 1,5 Dollar Singapura. Makan es krim di salah satu temapt duduk di Orchad Road ternyata seru juga!

Walau cuma sebentar di Orchad Road rasa penasaranku terbayarkan. Cukup tahu kalau Orchad Road Singapura luamyan OK untuk bersantai dengan pepohonan rimbunnya.

Orchad Road
Orchad Road

Dari Orchad Road kami menuju ke Marina Bay Sands tempat wisata gratis lainnya di Singapura. Caranya dengan naik MRT North South Line bisa di Orchard/Somerset (Jurong East-Marina South Pier, Red) turun di Raffles Place. Dari Stasiun MRT Raffles kami berjalan ke Merlion Park, iconnya Singapura. Meski kedatangan jam 2 siang namun lumayan ramai turis disekitar Patung Merlion untuk sekedar berphoto.

Kami sempat juga bersantai sebentar di dekat Patung merlion lalu kami lanjutkan berjalan ke arah jembatan unik dekat Marina Bay Sands “Helix bridge Singapore”. Kami menuju Esplanade kemudian belum sampai di helix bridge kami malah berhenti disebuah foodcourt. Wow, hal baru bagiku mengetahui ada jajanan disekitar Esplanade, masih dekat-dekat dengan kawasan Marina Bay Sands.  Jajanan tersusun rapi lengkap dengan bangku serta beraneka ragam makanan mulai dari seafood sampai mie. Bang David malah memilih makan mie seharga 5 Dollar Singapura dengan minuman Calamary 1.8 Dollar Singapura dan aku memilh minum Leci blended seharga 2.5 Dollar Singapura.

Tempat Makan dekat area Esplanade Marina Bay Sands

Setelah kenyang barulah kami melanjutkan perjalanan kami menuju ke Herlix Bridge Singapura. Jembatan dengan bentuk yang melengkung. Jujur baru pertama kalinya aku berjalan menuju arah jembatan Marina Bay Sands. Jalan kaki sepanjang jembatan. Dan kalau dipikir-pikir lumayan jauh juga kami jalan kakinya.

Setelah sampai di ujung jembatan kami  turun tangga ke arah kanan menuju ke wisata gratis Singapura lainnya, berupa Taman.

Lah kok taman?

Iya taman yang juga termasuk icon nya Singapura karena berbentuk pohon dengan lampu lucu-lucu.

Marina Bay Sands
Singapura

Taman yang kami kunjungi itu bernama Gardens by The Bay yang lumayan luas. Kalau hanya di luar saja gratis namun ada beberapa taman yang jika masuk harus bayar. Kami malah duduk santai di taman Gardens by the Bay sampai menunggu magrib.

Bersantai di taman Gardens by the Bay seolah tidak ada beban hidup!

Lumayan agak lama kami berada di Gardens by the Bay, tapi kami begitu menikmati suasana Singapura sore itu.

Gardens by the Bay

Di Gardens by the Bay ini memiliki aneka hiasan yang lucu-lucu dengan cahaya lampu yang bagus. Penataan tamannya bagus, bahkan botol plastik dibuat hiasan disekitar taman. Tak heran kenapa begitu banyak turis yang menikmati senja di Gardens by the Bay. Sebagian ada juga yang berolah raga disekitar taman.

Sayang waktu kami di SINGPURA hanya sehari dan tidaklah cukup di Singapura jika ingin ke beberapa tempat sekaligus. Apalagi kalau berbicara taman begini yang lumayan luas. Akhirnya jam 7 kami meninggalkan taman Gardens by the bay menuju ke Bugis karena kami hendak ke Malaysia. Nah pulangnya kami berjalanan mengikuti jembatan sambil keliling taman. Dari jembatan kami masuk ke Mall Marina Sands Bay yang diatasnya berupa kasino. Kami berjalan menuju MRT terdekat karena kami berburu waktu ke Kuala Lumpur, Malaysia via Johor Baru artinya kami mau tak mau harus pergi dari Gardens By the Bay.

Gardens By The Bay

Trip bakcpacker ke Singapura dengan Bang David akhirnya berakhir di Taman. Yang paling tidak aku dapat menjelajah 3 wisata gratis Singapura yang di trip pertama Singapuraku aku tidak kunjungi yaitu Air Force Musuem Singapura, Helix Bridgde Singapore dan Gardens By The Bay. Dan itu cukup membuatku bahagia, simple banget kan bahagianya?

Salam

Winny

Backpacker ke Batam, Singapura dan Kuala Lumpur dalam 3 Hari


Never be afraid to try something new, because life gets boring when you stay within the limits of what you already know

By Unknown

Hello World!

Batam, Singapore, Kuala Lumpur September 2017

Temani abang ke Singapura ama Malaysia ya, kata Bang David
Iya kataku kepadaku

Tiba waktunya ternyata janji jalan-jalan ditagih Bang David. Untuk pertama kalinya aku melakukan trip dadakan tanpa mencari tiket murah seperti biasa atau booking dari jauh-jauh hari. Biasanya aku paling anti dengan membeli tiket pesawat mahal tapi memenuhi janji dan kapan lagi jalan dengan orang yang sangat aku kagumi serta timingnya pas banget maka perjalananpun kami lakukan. Pilihan terbaik dengan membeli tiket pesawat ke Batam dari Jakarta kemudian dengan naik kapal menyeberang ke Singapura lalu dengan jalur darat ke Kuala Lumpur kemudian dari Kuala Lumpur ke Jakarta. Awalnya aku ingin sekali ke Vietnam dan Laos karena kedua negara inilah yang belum aku kunjungi di ASEAN selain Filipina dan Brunei tentunya, namun karena budget Bang David hanya 3 juta dan aku juga ogah mahal-mahal alhasil yang masuk akal adalah ke Malaysia dan Singapura via Batam. Untuk ke Singapura dan Malaysia aku sudah pernah tapi untuk Batam baru pertama kalinya bagiku. Dalam benakku akan sangat membosankan mengunjungi tempat yang sama berulang-ulang terutama Singapura dan Malaysia namun ternyata aku keliru, meski sudah sering ke tempat yang sama namun jika teman perjalanannya asik maka perjalanan itu sendiri pun seru juga.

Batam

Untuk kategori perjalanan kami pun sebenarnya tidak backpacker-backpacker amat karena kami masih bisa nginap di tempat yang layak, makan di restauran dan mengunjungi tempat apa yang kami mau. Perjalanan kami lebih fleksibel dan santai. Meski Bang David baru pertama kali ke Luar negeri, nyatanya dia tahu betul jalannya, bahkan yang aku sering jalan saja masih kalah.

Hal menarik lainnya adalah ketika si Bang David mengalah untuk 1 hari di Batam karena dia sudah pernah ke Batam sebelumnya sementara aku belum pernah sama sekali. Bahkan yang lucu dia menemanin demi mencari icon Batam  “Welcome Batam” dengan latar belakang Gunung itu yang pernah aku lihat di Blog kak Indri dan betapa seringnya Danan nulis tentang Batam. (Danan dan Kak Indri adalah dua blogger kesukaanku :))

Secara umum perjalan kami yaitu 1 hari di Batam, 1 Hari di Singapura dan 1 Hari di Malaysia. Memang perjalanan cepat seperti ini tidak terlalu asik karena tidak puas dalam menjelajah tempat namun karena waktu terbatas dan ingin ke semua tempat maka jadilah perjalanan kilat. Lucunya perjalanan ke 3 Kota 3 Negara dalam 3 hari ini aku lakukan sehari setelah aku resign dari Semen Merah Putih, tempatku bekerja selama 5 tahun 6 bulan. Sensi meninggalkan kantor lama itu terasa banget namun demi masa depan yasudahlah ya pindah kerja aja. Untungnya jalan-jalan dengan kesayangan dapat menghilangkan rasa sedih.

Tiket Ferry ke Singapura dari Batam

Secara total biaya backpacker kami ke Batam, Singapura dan Malaysia adalah Rp 4,757,280.45/ 2 orang. Porsi terbesar perjalanan kami adalah di tiket pesawat, hal ini wajar karena belinya bukan pas promo naun harga standar. Sistemnya kami sharing cost sehingga semua biaya perjalanan beserta struknya kami simpan. Jujur baru kali ini aku mendapatkan partner traveller yang sejenis, alias suka rincian. Biasanya kalau jalan-jalan aku yang rinci namun sebelumnya aku sudah membuat itinerary Batam-Malaysia-Singapore secara umum kemudian dilengkapi dengan itin baru yang dibuat bang David. Dalam prakteknya kami memang masih jauh sih dari kata “perjalanan murah”, kami lebih cocok kepada “perjalanan hemat”.

Menurutku pribadi walau perjalanan 3 hari namun lumayan membuatku lelah juga tapi seru. Lelahnya karena memang kami banyak jalan sambil membawa tas. Disini aku ingin membuang bawaan baju yang banyak karena pada kenyataannya baju yang aku bawa tidak semua kepakai. Bahkan kami ada momen tidak mandi, sampai si Bang David yang tak pernah jalan-jalan ala kere harus menahan tidak mandi. Well, untung anaknya fleksibel, tapi itu kalau jalan samaku biasanya harus bisa jadi gembel dadakan misalnya Yosi yang harus menahan toilet bau di India, Ade Putra, Reza, Sarta dan Ilham (Kamseupay) harus jalan kaki banyak demi hemat di pennag dan Hatyai terus ada Melisa yang harus tidak mandi di Myanmar dan kali ini Bang David harus tidak mandi. Namun demikian justru disitu letak serunya perjalanannya.

Perjalanan Ferry ke Singapura dari Batam

Hari 1 Batam

Karena kedatangan bang David jam 10 maka tidak terlalu banyak yang dapat kami lihat di Batam. Namun menariknya aku ditemanin Bang David ke Nagoya, Mall terkenal di Batam. Di Nagoya Hill kami makan kemudian si Bang David menukarkan uang ke Dollar Singapura. Dari Bandara Batam ke Nagoya kami naik Damri, lumayan seru untuk mengetahui bagaimana Batam. Kemudian kami sempat nyasar sedikit mencari penginapan, maklum Google map memberikan rute yang aneh berantah. Kemudian sorenya kami ke Tulisan Batam yang ada Welcome Batam yang rupanya terletak di dekat Batam Center. Lalu malamnya dinner di tempat romantis di Jalan Duyung dengan pemandangan malam Singapura dari Batam. Makan di Cafe ini makannya lumayan enak dan wajar untuk harganya.

Hari 2 Batam-Singapore

Untuk sampai ke Singapura kami menggukan ferry fast dari Batam Harborbay. Menuju ke Singapura dari Batam cukup singkat hanya 45 menit saja. Naik kapal ferry ini entah kenapa menginagtkanku akan perjalanan Karimun Jawa karena kapal cepat Batam ini mirip-mirip dengan kapal yang pernah aku naiki di Karimun. Untuk bagaimana cara ke Singapura dari Batam sebenarnya ada beberapa pelabuhan namun kami memilih Harbour Bay Batam karena dekat dengan penginapan. Sayangnya harga sekali jalan Batam-Singapura itu harganya itu sungguh mahal bila dibandingkan dengan harga kapal BATAM-SINGAPURA pulang pergi. Bayangkan sekali jalan saja Rp250.000 sementara kalau bolak balik Batam-Singapura naik kapal dapat Rp360.000-390.000 artinya mahal Rp70.000.

Bagaiman cari membeli tiket kapal ke Singapura dari Batam?

Bisa langsung ke pelabuhan. Kami memilih ferry dengan Batam fast datang ke loket bawa passport kemudian bayar lalu dikasih tiket dan langsung berangkat. Jamnya berbeda-beda namun kami berangkat jam 9 pagi dan sampai di Singapura jam 11 an karena ada pemeriksaan oleh Polisi Singapura saat kapal kami mendekat ke Singapura serta antrian Imigrasi. Di Singapuranya itu ternyata berada di Harbour Front dekat dengan Sentosa, Singapura.

Singapore

Masih di Hai ke 2, kami menuju ke Air Force Museum Singapura yang aku baru tahu dari Bang David. Museumnya cukup menarik berisi sejarah serta kapal Singapura. Bukan cuma itu kerennya masuk ke dalam Museum juga gratis. Aku kalau tidak dikasih tahu bakalan tidak tahu kalau di Singapura ada tempat menarik gratis.

Dari Museum kami ke Orchad street karena memang aku belum pernah ke Orchard. Di Orchad kami minum es krim potong Singapura yang lumayan enak. Selain itu kami juga menemukan makan murah di Singapura seharga 3 dollar Singapura saja dekat dengan Eunos Singapura. Yang jualan bahkan lancar berbahasa Indonesia. Menemukan makanan muriah ceria di Singapura rasanya bahagia. Kemudian perjalanan kami lanjutkan ke Marina Sand terus jalan ke Merlion Park.

Makanan Murah di Singapura
Singapura
Singapura

Dari Merlion Park kami jalan ke jembatan dengan lekuk indahnya terus jalan ke Garden Bay tepat di belakang Marina. Walau sudah pernah ke Singapura sebelumnya namun aku baru pertama jalan ke Garden Bay nya Singapura serta jalan ke jembatan unik ini. Entah kenapa sesuatu yang belum aku kunjungi itu membuat excited.

Khusus Garden Bay sebenarnya dibutuhkan waktu yang agak lama, karena belum puas nyantai disini. Tamannya indah serta warna lampu-lampu di Singapura pas malam hari memang juara. Setelah dari Garden Bay kami menuju ke Bugis karena kami hendak ke Malaysia melalui Larkin, Johor. Jadi kami naik bus 3,3 Dollar sampai ke Larkin via Woodland yang lumayan lama di imigrasi. Jam 8 kami jalan eh sampai di Larkin malah jam 11 malam dan kami malah sempat makan malam di stasiun Larkin karena jadwal bus kmai jam 1 malam ke Kuala Lumpur meski datangnya jam 2 pagi.

Hari ke 3 Malaysia

Kami sampai di Malaysia jam 6 an dan kami langsung menuju KL Sentral. Sebelumnya kami sudah jalan-jalan sejenak keliling dari terminal terpadu kemudian sarapan pagi di NU Plaza, Kuala Lumpur. Kemudian kami menuju ke Bukit Bintang masuk ke jalan Alor kemudian menuju ke KLCC. Kami bahkan sempat jalan ke Petailing street kemudian balik lagi ke KL Sentral dan memutuskan menginap di KL Sentral. Serunya di KL Sentral dekat dengan Little INDIA sehingga serasa berada di India. Di Kuala Lumpur kami kebanyakan kulineran dan aku puas makan Nasi Kandar dengan harga 15 RM (harga nasi kandar termahal yang pernah aku makan).

Overall perjalanan Backpacker ke Batam, Singapura dan Kuala Lumpur seru, banyak yang dilihat, kaya pengalaman dan hati senang serta i found my partner travel 🙂

Menara Kembar Petronas

Rincian Biaya Perjalanan Batam, Singapura dan Kuala Lumpur dalam 3 Hari

Tanggal Jam Kegiatan Keterangan HARGA
21/09/2017 9:25 BIM-Batam BTH Dengan Lion air perjalanan 1jam 5 menit 1131844
21/09/2017 11:00 Perjalanan Bandara Hang Nadim-Jodoh Damri  Bandara Hang Nadim-Jodoh Rp22.000 Jadwal : 08:30-09:30–10:30–11:30. Cb turun di Nagoya 44000
21/09/2017 14:00 Keliling Nagoya Makan Siang @Nagoya Tukar Uang SGD130+RM200 140012
21/09/2017 15:00 Ke HarbourBay naik Trans Batam Koridor 03 (Sekupang-Jodoh) turun di BRI Jodoh, trus jalan kaki. 0
21/09/2017 19:00 Ke Land Mark, Barelang, dll ONGKOS TRANS BATAM+ANGKOT 19000
21/09/2017 21:00 Makan Malam Patroz+BELI RANSUM 281829
22/09/2017 7:30 Istirahat-Sarapan-Beres2 0
22/09/2017 8:15 Ferry HarbourBay – HarbourFront (45 menit) Horizon S$32 (06:00-07:30-08:45-10:15-11:30-12:45-14:00-15:20-16:40-17:50-19:15-20:45) Batam Fast S$25 (9:30-14:15-19:00-21:20) BATAM FAST 500000
22/09/2017 10:00 HarbourFront (Basement Mall Vivo City) Imigrasi – Cari Maps – beli EZlink Card S$12-S$5 card atauTourist Pass  S$20-S$10 deposit 147537.6
22/09/2017 11:00 Henderson Waves (Telok Blangah Hill Park – Mount Faber Park) Dari HarbourFront Stn Exit B/Vivo Mall naik Bus SBS Transit 145/131  Sekali belok dan dua halte saja (After Telok Blangah Heights).  Menyeberanglah dengan hati-hati. 0
22/09/2017 12:00 Bugis Street Dari Before Telok Blangah Heights, naik Bus SBS Transit 145/131, turun di HarbourFront Stn Exit A. 145 bisa lsg ke Bugis Stn. Naik MRT NE1+CC29-HarbourFront Stn, North East Line (HarbourFront-Punggol, Purple) transit di NE7+DT12-Little India Stn. Pindah ke MRT Downtown Line (Bukit Panjang-Chinatown, Biru) turun di EW12+DT14-Bugis Stn. 0
22/09/2017 14:00 Sultan Mosque Shalat Jumat, Kampong Glam & Arab Street, Haji Lane +MAKAN SIANG 59015.04
22/09/2017 15:00 Orchard EW12+DT14-Bugis Stn, naik MRT Downtown Line (Bukit Panjang-Chinatown, Biru) transit di NS21 DT11-Newton Stn. Pindah ke MRT North South Line (Jurong East-Marina South Pier, Red) turun di NS22-Orchard Stn. 0
22/09/2017 16:00 Keliling Orchard, Snacking @Orchard, ke Singapore River dan Raffles Landing Site Naik MRT North South Line (Jurong East-Marina South Pier, Red) bisa di NS22-Orchard atau NS23-Somerset  turun di EW14+NS26-Raffles Place Stn, BELI ES POTONG. 11803.008
22/09/2017 17:00 Merlion Park Jalan Kaki Esplanade Bridge. MAKAN+MINUM FOOD COURT 91473.312
22/09/2017 18:00 Esplanade The Esplanade punya Roof Terrace yang bisa kamu kunjungi secara gratis 0
22/09/2017 20:00 Gardens by the Bay Jalan Kaki Helix Bridge 0
22/09/2017 21:00 Marina Bay Sands “Wonder Full—Light & Water Spectacular”, pertunjukan efek visual, laser dan atraksi cahaya selama 13 menit, setiap jam 8 dan 9.30 malam. 0
22/09/2017 23:00 Ke Golden Mile Complex : Makan Malam-Shalat-Bersih2 Naik MRT Circle Line (Kuning) DT16+CE1-Bayfront turun di CC5-Nicoll Highway Sambung Jalan Kaki. Atau Naik Bus 100 di Fullerton Sq atau nyebrang singapore river (Fullerton Rd) naik Bis 100 di Victoria Concert Hall turun di Opp Golden Mile Cplx-Makan S$15 0
22/09/2017 5:00 Bus Singapore-KL (5-7jam) ke KL TBS atau Berjaya Times Square(kalo sdh terang) Golden Mile Complex : Star Qistna (S$20), Sri Maju (S$20), Seasons (S$25). Golden Mile Tower : StarMart (S$30). easybook.com-redbus.sg 0
22/09/2017 23:00 Bugis Stn-Queen Street Terminal Bus SBS Transit 133 from MBS Theatre bus stop to Bugis Station for 5 stops, then walk to Queen Street Terminal(Singapore Johor Express Terminal).  Causeway Link Bus CW2 (6:00-23:45 S$ 3.30 cash) Singapore-Johor Express/SJE (S$ 3.30 cash), SBS Bus 170 red plate (S$ 1.97 EZ-Link, 2.50 cash) 0
22/09/2017 1:00 Woodland CIQ-Causeway-JB CIQ-JB Larkin Terminal Woodland CIQ bisa naik CW1/CW2/CW5 ke JB CIQ. Naik CW1/CW2 ke JB Larkin Terminal (Cari tiket-Makan Malam-Shalat-Bersih2) NAIK CW2 64916.544
23/09/2017 5:00 JB Larkin Terminal- KL TBS (Terminal Bersepadu Selatan) (4-5jam) 1.Pelangi Express/Transtar-TC37 (RM40, 01:00) 2.Yellowstar Coach Travel/Billion Star Exp-TC49 (RM35, 22:30-00:30-01:00) 3.Transnasional-BT 21-24 (RM34.30, 22:00-23:59-01:00) 4.Starmart Express (RM35, 21.50-22.00-23:59) 5.City Express-Counter 5(RM34.30, 06:30-07:30-23:00-00:30-00:00) 6.Konsortium Bas Ekspres-Counter 31 (RM35, 06:30-07:30-22:15) 7.Meridian Holidays-TC23 (RM34.30, 23:30-00:30)  8.Super Coach Express(RM35, 22:30-00:01) 9.Pacific Express/JB (RM50, 23:59) 10.JB Transliner-TC07 & TC22 (RM35, 21:45-23:55) +ONGKOS BUS+MAKAN+BELI AIR 295003.9
23/09/2017 6:00 KL TBS (Terminal Bersepadu Selatan) Shalat-Bersih2-Sarapan-naik KTM Komuter Seremban/Blue Line ke KL Sentral (Surau  Level 1, 3, 4) (Rest & Go Motel RM20 p/h, RM80 p/n Lot 20 Level 4 TBS) 15160.8
23/09/2017 7:00 KL SENTRAL KL Sentral Shower Room, located along a long corridor which you can enter from Guardian pharmacy at Level 1. RM5+2towel. 6am-9pm. Fasilitas shower juga letaknya dibelakang Concierge juga kok, tidak jauh dari loker, tempat penitipan barang. Kalau kamu mau ke toilet, beloknya ke kanan, ini beloknya ke kiri. SARAPAN DI NU SENTRAL 46114.1
23/09/2017 9:00 Taman Tasik/Perdana Botanical Garden Jalan kaki ke Masjid Negara, RM Police Museum, National Planetarium, Deer Park, KL Orchird Garden, Herbarium 0
23/09/2017 10:00 Dataran Merdeka Jalan kaki ke Sultan Abdul Samad Building, KL Main Library, Music Museum, Textile Museum, Masjid Jamek 0
23/09/2017 12:00 Chinatown/Petaling Street Illusion 3D Art Museum, Keliling China Town 0
23/09/2017 14:00 KL Tower Naik GoKL Bus Purple Line di KotaRaya/Pasar Seni/Bangkok Bank, turun di KL Tower. KL Forest Eco Park, KL Upside Down House RM15 for 15mins (Moghul Mahal’s RM 15 Set Lunch 11.30-14 Naan Set-Two Naan served with Chicken Karahi Aloo Gobi Dal Tadka & salad/ Promotion RM35-2 Pax). Observation Deck RM53, Sky Deck RM105  MONOREL KL SENTRAL-BUKIT BINTANG+BELI KELAPA 31585
23/09/2017 16:00 KLCC Petronas Twin Tower Sky Bridge=RM85, PETRONAS Art Gallery, Petrosains Discovery Centre=RM30 BELI AIR+MAKAN 30005.75
23/09/2017 18:00 KLCC Park KLCC Lake Symphony Light and Sound Water Fountain showtimes are 8pm, 9pm and 9.45pm daily.  MONOREL RAJA CHULAN-KL SENTRAL+PERSEDIAAN 35059.35
23/09/2017 20:00 Bukit Bintang Naik GoKL Bus Purple Line di KLCC, turun di Bukit Bintang. Makan Jalan Alor-Bukit Bintang, (Indian Food @Changkat at the side of Havana) HOTEL 379020
23/09/2017 23:00 Little India (Brickfield, KL Sentral) Naik Monorail di Raja Chulan/AirAsia Bukit Bintang/Imbi ke KL Sentral +MAKAN+MANISAN 124129.05
23/09/2017 23:59 KL  Sentral ke Bandara KLIA2 KLIA Ekspres @KL Sentral RM55(05:00-00:40, every 20m/15 m peak TT 30m). AeroBus RM9 @KL Sentral (03.00-00.30 63 trip daily only to KLIA2, TT 1 hour). Express Airport Coach RM10 @KL Sentral bus station area in Level G (05.00-23.00, every 30m, TT 1 hour). Skybus @KL Sentral/1-Utama only to KLIA2 (05.00-24.00, every 30m, TT 1 hour). Star Shuttle RM10 @Jalan Ipoh Batu 3/Counter 21 (PuduSentral)/in front of MyDin opposite Puduraya (03.00-23.55, 36 trip daily, TT 1 hour) 75804
24/09/2017 5:00 Istirahat KLIA 2, Sebelum gate keberangkatan domestik, ada 1 toilet+shower, tepatnya berada disamping KK – Mart.   Free cold water showers are available on the 4th floor, past the eateries 0
24/09/2017 7:50 Bersih2-Shalat-Sarapan Setelah imigrasi, turun ke ruang tunggu P&Q, sebelah kanan dari eskalator ada toilet+shower. Sama-Sama Express RM42 0
24/09/2017 9:00 Kuala Lumpur-BIM Air Asia 1233968

Salam

Winny

Jalan Kaki ke Istana di Vienna, Austria


“You’ll learn, as you get older, that rules are made to be broken. Be bold enough to live life on your terms, and never, ever apologize for it. Go against the grain, refuse to conform, take the road less traveled instead of the well-beaten path.

By Unknown

Hello World!

Austria, 2017

Pengalaman Eropa trip sendirianku “bittersweet”, bercampur aduk emosi baik suka maupun duka. Pun berjalan sendiri sampai berkata dalam hati “apa yang aku cari di Eropa?”. Mungkin saja perjalanan ke Eropa untuk mengenal diri sendiri namun percayalan perjalanan 1 Bulan di Eropa tidak seindah yang dibayangkan orang. Walau memang rata-rata seru sekali selama di Eropa karena bertemu dengan orang baik dan ada juga orang agak-agak. Salah satunya hostku di Vienna. 

Gara-gara salah tanggal kedatangan ke Vienna, asli host Austriaku ngambek kayak anak kecil. Jadi ceritanya aku pergi ke Vienna setelah tinggal 3 hari di Budapest karena aku salah beli tanggal tiket bus dari Budapest ke Vienna. Aku mengira kedatanganku adalah hari minggu rupanya senen. 

Nah loh kacau kan?

Sebelum memutuskan pindah negara ke Vienna aku sudah mencari tempat penginapan gratis di Vienna melalui CS dan ada satu orang yang menerima permintaanku. Dilihat dari referensi sih doi punya lebih dari 100 referensi artinya harusnya orangnya OK lah ya. Tapi jujur aku agak bingung menilai host di Vienna. Karena selain banyai aturan ini itu, bla bla bla bla, gak boleh ini itu, terus moodyan eh tahu-tahu ninggalin uang 10 Euro juga buat jajan. Cuma karena di awal udah nyebelin sehingga aku anggap ini host ababilnya tingkat tinggi. Si kawan ini marah karena aku salah tanggal, gar-gara kesalahanku itu dia tidak bisa menemaniku selama di Vienna. Namun bukan itu penyebab dia ngambek. Sebabnya adalah saat subuh di terminal Vienna dia jemput terus langsung pengen peluk gitu. Spontan aku nolak dong, eh mukanya langsung BETE.

Winny do not travel if you cant accept culture. In western hug to show how you welcome people but u pointly unrespect me!, begitu katanya

Mendengar perkataannya aku agak naik tensi. Karena sebelumnya aku hendak batalin di host ama ini kawan terus dianya yang bilang dia tidak pernah membatalkan dan dibatalkan. Akhirnya menjawab pernyataan yang membuatku kesel juga aku berusaha setenang mungkin menjawab sambil menahan esmosi

Allright its ur culture, but for Indonesian hugging is not command! 

Sorry!

Akhirnya dengan rasa tidak nyaman lah kami memulai perkenalan. Pada dasarnya sih orangnya baik misalnya dia ngasih kunci rumahnya padaku saat dia pergi ke Itali. Tapi kata-kata senewengnya itu loh bikin kuping panas. Sambil aku dalam hati “ya Tuhan cari gratisan di Eropa begini banget”. Belum lagi pas dirumahnya banyak aturannya misalnya pas tidur di sofanya harus pakai baju tidur karena baju yang aku pakai dari luar takut mengotori sofanya. Iya kali aku bawa baju tidur pas di Eropa, orang mau jalan-jalana backpackeran kere lagi di Eropa, gimana mau mikirin bawa baju coba.  Untungnya si kawan ini pergi ke Itali jadi aku bisa jalan-jalan di Vienna sendirian. Tidak kebayang kalau jalan ama host yang di awal tidak menyenangkan. Terus dia berkata “you walked alone in Vienna because this is your fault, im going to Italy”. Padahal dalam hati “syukur deh” ahhahaha. Kacau ya aku? Memang beginilah manusia tak tahu diri udahlah ditolong malah bersyukur orangnya gak nemanin. Itulah awal aku melakukan perjalanan seorang diri di Vienna.

Dari rumah host ke pusat Vienna dengan jalan kaki hanya 1 jam saja. Apartemennya cukup dekat dengan stasiun kereta namun karena harga nya sekali jalan bisa kena 2 sampai 3 Euro dan sayang uang akhirnya aku memilih jalan kaki. Toh jalannya lurus-lurus saja! Mengikuti insting aku jalan sambil menikmati Kota Vienna. Secara garis besar Vienna tidak menarik untukku walau banyak bangunan tua serta patung-patung lucu. Entah karena faktor host yang agak-agak ababil atau memang aku sudah bosan dengan wisata Eropa yang gak jauh dari bangunana tua dan Gereja.

Walau demikian aku tetap menikmati perjalanan di Vienna. Bayangkan seharian dari pagi hingga petang dengan jalan kaki mengitari satu tempat ke tempat lain “sendirian”. Dan anehnya aku bahagia!

Aku melihat bangunan istananya dari luar karena untuk masuk ke dalam males bayar tiket masuknya. Tapi jangan salah menikmati bangunan bangunan tua beserta istanya lumayan seru. Belum lagi di Vienna memakai bahasa German sehingga lumayan membantu walau aku cuma bisa bilang “Dank” udah itu saja. Hahaha 😀

Untuk istana di Vienna lumayan cakep-cakep dengan taman yang luas. Yang membuatku pangling kepada patungnya. Kebanyakan warga lokal tidur-tiduran di rumput. Ada satu momen membuatku baper jalan sendirian di Eropa saat dua sepasang sejoli bermesraan di rumput. Keduanya pelukan sambil menikmati istana di depannya. Eh tiba-tiba ciuman saja, kan bikin iri ahhaha. Belum lagi iri dengan mereka pakaian kaos saja, padahal aku pakai jaket tebal karena meski kelihatan terang benderang udaranya cukup dingin, kulit tropisku tidak bisa berkompromi dengan dinginnya udara Eropa di musim dingin.

Sebenarnya kalau tidak mau jalan kaki keliling Vienna ada pilihan bus yang keliling di Vienna namun karena pada dasarnya aku turis kere akhirnya memilih jalan kaki. Selain sehat juga lebih fleksibel kemana-mana. Bagi penyuka musik mozart, opera, seni maka Vienna ini adalah surganya mereka. 

Kota Vienna juga memiliki rombongan tourguide gratisan yang bisa daftar secara kelompok. Dalam satu rombongan akan dipandu satu orang keliling Vienna secara gratis dan menjelaskan sejarah bangunan atau tempat wisata tersebut. Semacam walking tour city gitu. Aku sempat ikut cuma karena satu tempat lama nunggunya akhirnya aku cuma dengar informasinya saja terus cao jalan. 

Menurutku jalan sendirian di Vienna tidaklah susah apalagi wisatanya di Kotanya mudah petuntuknya. Bahkan untukku seorang yang tidak bisa membedakan “kanan kiri” di peta. Dan peta Vienna di secarik kertaslah menjadi petunjukku kemana dan apa yang aku ingin lihat di Vienna. 

Jalan kaki di Vienna sendirian tidaklah mengerikan karena aku punya waktu sendiri juga bisa menikmati sisi Vienna dan istananya untukku sendiri ☺

Salam

Winny

Bertemu Monalisa di Museum Louvre, Paris


Anyone who loves in the expectation of being loved in return is wasting their time. 

By Unknown

Hello World

Paris, Mare 2017

"You have to visit Louvre, Winny!
Yes its expensive but its a must!"

Begitulah saran Thimo mengenai apa yang harus aku kunjungi di Paris. Padahal dibenakku Paris itu tak jauh dari Menara Eiffel. Aku juga tidak tahu apa itu di dalam Louvre, yang aku tahu salah satu tempat yang paling banyak dan dibicarain oleh dunia di dunia perwordpresan adalah Louvre.

Belum lagi pengucapan bahasa Prancis dengan aksen sengaunya membuatku tidak bisa menangkap atau bahkan sekedar meniru kata Louvre dalam aksen Prancis.

Musee le Louvre

Untuk Thimo karena merupakan Guru maka masuk ke Museum Louvre adalah gratis sementara aku yang hanya turis biasa diperharuskan membayar €15 untuk tiket masuk ke dalam Museum Louvre.

You will not regret it, you could see Monalisa and Roman emphire there!
For €15 its worth at all!
Musée du Louvre

Memdengar Monalisa berada di Louvre membuatku ingin masuk ke dalam. Akhirnya mendengar saran Thimo maka Museun Louvre masuk ke dalam daftar wisata Paris yang aku kunjungi. Menurut Thimo untuk mengunjungi Museum Louvre diperlukan waktu seharian.

Kami berangkat jam 8 pagi dengan kereta Paris. Jangan ditanya bagaimana aku sampai ke Museum Louvre karena aku hanya mengikuti Thimo. Tapi seingatku untuk ke Museum Louvre turun di stasiun Louvre.

Louvre Museum

Dari luar museum Louvre, Paris seperti piramida dengan kaca tembus. Piramida kaca ini sebenarnya sudah sering saya lihat di berbagai photo orang. Namun saya tidak menyangka saya bisa mengunjungi Museum Louvre, museum dengan bergaya piramida kaca ala Prancis.

Sekitar jam 9 kami sudah sampai di depan Louvre dan turun ke bawah dengan eskalator. Sebelumnya kami harus melewati security untuk mengecek bawaan kami. Museum Louvre, Paris begitu mewahnya. Bak mall!

Lalu kami berjalan ke tempat pembelian tiket masuk Museum Louvre. Dan antrian masuk ke dalam Museum Louvre itu “panjang”!!! Bahkan sampai 1 jam aku menunggu antrian ke dalam Museum Louvre. Barulah setelah antrian panjang aku diberikan peta Museum Louvre dan tiket masuk.

Musée du Louvre
Musée du Louvre

Tempat pertama yang kami kunjungi adalah area peninggalan Yunani. Dimana patung-patung zaman dulu berjejer di Museum Louvre.

Sungguh luas museum ini dan aku heran bagaimana mereka bisa mengumpulkan berbagai koleksi berharga seperti itu. Kemudian dari area Patung kami ke tempat karya lukisan yang berisi lukisan dari berbagai peluksi terkenal. Lukisan-lukisan terpajang sepanjang koridor lalu ditengah koridor ada jalanan serta beberapa bangku buat pengunjung.

Lukisan-lukisannya pun berbagai macam bahkan kisah Isa ada di dalam lukisan.

Musée du Louvre, Paris, France

Awalnya aku begitu takjub dengan lukisan-lukisan yang tak hanya di dinding bahkan di atap museum.

Hingga akhirnya kami masuk ke dalam satu ruangan yang penuh dengan orang. Ternyata di ruangan tersebut adalah Lukisan Monalisa yang fenemonal serya dibelakangnya lukissn saat Jamuan Yesus.

Musée du Louvre, Paris, France

Pas melihat lukisan Monalisa yang ada dibenakku “buset Lukisan Monalisa kecil amat”!!!

Itupun untuk berphoto di depannya antriannya panjang. Lukisan Monalisa karya Leonardo da Vinci ini di taruh dalam satu kaca dengan pembatas. Pengunjung hanya boleh sampai pembatas kecuali ada izin khusus serta sudah dijaga ketat.

Ah siapa sangka aku bisa melihat senyum maut Monalisa beneran di Museum Louvre. Senyum kecut Monalisa biasanya hanya bisa aku lihat di TV atau gambar atau buku.

Well im just lucky!!
Musée du Louvre, Paris, France
Musée du Louvre, Paris, France
Monalisa
Louvre Museum, Paris

Dari lukisan Monalisa kami lalu melanjutkan ke ruangan pamer. Kali ini kami ke ruangan pamer yang berisi koleksi dari Mesir. Koleksi Mesir Museum Louvre cukup lengkap mulai dari peti mati Mesir hingga kepada Mumi beneran.

Musée du Louvre, Paris, France

Mengunjungi ruang pamer Mesir di Museum Louvre seperti berada di Negara Mesir. Aje gila belum juga ke Mesir tapi seolah udah di Mesir.

How come you guys got these collections? tanyaku dengan naif
These should belong to Egypt, lanjutku.
Well who collect them in the past? 
Musée du Louvre, Paris, France
Musée du Louvre, Paris, France
Louvre Museum, Paris

Louvre Museum, Paris

Tidak hanya koleksi Mesir bahkan koleksi peradaban islam juga ada. Mulai dari koleksi dari Shiraz hingga koleksi Alquran. Namun memang koleksi Islam tidak terlalu lengkap di Museum Louvre.

Musée du Louvre, Paris, France

Kami mengelilingu Museum Louvre sampai jam 5 sore sampai museum hendak tutup. Kalau tidak tutup mungkin aku masih betak keliling Museum Louvre yang menjadi salah satu museum terindah dan terlengkap yang pernah aku kunjungi dalam hidupku.

Tidak sia-sia sih menghabiskan €15 ke dalam Museum Louvre karena banyak kolkesi berharga dari era masa lampau masih ada di dalam museum Louvre.

Musée du Louvre, Paris, France
Louvre Museum, Paris
Louvre Museum, Paris
Louvre Museum, Paris

Bahkan Museum Louvre ini sudah aja sejak zamannya Isa loh. Dulu merupakan istana dan melihat sejarah Museum Louvre membuatku berdecak kagum. Hanya saja untuk bangunan ala Mesirnya itu memang baru saja dibuat.

Kalau yang sedang berada di Paria ada baiknya mengunjungi Museum Louvre, selain bisa bertemu Monalisanjuga bertemu Mummi beneran. Dan jangan lupa luangkan waktu seharian mengelilinginya.

Louvre Museum, Paris

Paris, 30 Maret 2017

08:00-09:00 Belanja di Franprix roti dan minuman 6,65 Euro

09:00-10:00 Naik METRO Ke de Louvre. Antri satu jam dan harga tiket masuk ke dalam de Louvre 15 Euro.

10:00-18:00 keliling Louvre seharian

18:00-20:00 Naik Metro ke La Grande Mosque de Paris kemudian nyari makan disekitar Masjid akhirnya makan kebab 20 Euro/2 orang

20:00-22:00 Balik ke penginapan

Tempat wisata Paris yang didatangi 

Museum de Louvre dan La Grande Mosque de Paris.

Total pengeluaran di Paris, Eropa = 6.65 Euro + 20 Euro + 15 Euro = 41,65 Euro

Salam

Winny

Menjelajah Wisata Yangon


It has been a long journey, but if you dream and have the ambition and want to work hard, then you can achieve.

By Mo Farah

Hello World

Yangon, Februari 2017

Subuh aku dan Ade sudah sampai di Yangon dari Mandalay, hari terkahir trip ala backpacker di Myanmar. Kami sempat kebingungan cara kami ke Pusat Kota Yangon mengingat sore kami harus ke Bandara untuk balik. Melisa sudah duluan pulang ke Indonesia, sekarang giliran kami menjelajah wisata Yangoon yang tersisa. Awalnya hendak memesan taxi ke Tengah Kota namun untunglah dengan setengah hati Ade mau naik bus dengan hasil nanya sana-sini. Padahal jujur kami tidak bisa membaca petunjuk jalan di Yangon mengingat aksaranya super tak terbaca. Kalau celoteh Ade “tulisan cacing” hihi 😀

Dengan tas seadaya terus jalan menuju ke stasiun bus yang tidak ada tanda tempat pemberhentian bis. Untunglah kami nanya warga lokal serta diberikan petunjuk. Bersama warga lokal lainnya kami naik bus. Di dalam bus aku mendapatkan bangku duduk sementara Ade berdiri, mungkin sekitar 30 menit si Ade berdiri. Tujuan kami adalah Sule Pagoda. Ada seorang bapak di dalam bus yang menuntuk kami ke Sule Pagoda. Ada enaknya naik bus di Yangon, Myanmar, paling tidak kami melihat kegiatan orang yang hendak bekerja serta biaya Bus dari Terminal Bis Aung Mingalar hanya 200 KS/orang saja.

Yangon

Sesampai di Yangon, ada beberapa hal yang bisa kami lakukan dalam 1 hari.

1. Makan makanan halal di Yangon

Untuk pertama kalinya kami menemukan makanan halal disekitar Masjid yang ada di area Sule Pagoda. Meski makanan India, aku dan Ade memakan  Thosa + Egg + Susu Tea seharga 1350 KS. Rasanya sungguh nikmat mendapatkan makanan yang bisa kami makan.

2. Masjid di Yangon

Tak jauh dari restauran halal, kami menemukan Masjid. Memang tujuan kami adalah ingin mengunjungi Masjid di Myanmar. Kami mengetahui MASJID di peta wisata Yangon. Bentuknya dari luar seperti bangunan dan menyatu dengan bangunan lain. Tapi cukup mudah kami mengetahu itu Masjid. Sayangnya pas kesana masjidnya tutup sehingga tidak bisa masuk. Padahal kami hendak masuk ke dalam masjid di Yangon.

3. Sule Pagoda

Di kawasan Sule Pagoda banyak sekali wisata yang bisa dikunjungi, kebanyakan memang tempat wisata dari berbagai agama mulai dari Masjid hingga Gereja. Tak heran sih karena Yangon adalah ibukota Negara sehingga pasti multietnis dan multi agama. Namun kami hanya melihat dari luar saja, maklum kami sudah kebanyakan melihat Pagoda serta tidak ingin menganggu orang yang beribadah.

4. Independent Monument of Myanmar

Saat di dalam taman Independent Monument of Myanmar, temanku Ade tepar karena kurang tidur. Antara mules gegara makan atau kurang tidur yang pasti mukanya sangat lelah. Serius aku agak khawatir karena di hari terakhir barulah si Ade kelihatan sakitnya. Baru kali ini si Ade badannya gak kuat backpackeran.

“Nya, aku tidur bentar ya, capek banget”, kata Ade

Santai de, yang penting dirimu sehat”, kataku

Akhirnya di Taman Independent Monument of Myanmar si Ade beristarahat. Sementara aku duduk santai sambil mengamati sekitar sekaligus beristirahat. Selama si Ade tidur di rumput yang aku lakukan adalah bersantai sambil memphoto sekitar area Sule Pagoda dan lumayan menarik.

Independent Monument of Myanmar

5. Musmeah Yeshua Synagogue

Di perkotaan Yangon terdapat sebuah rumah ibadah buat Yahudi bernama Musmeah Yeshua Synagogue. Aku baru pertama kali ke rumah ibadah orang Yahudi karena jarang sekali. Awalnya sedikit terkejut ada Synagogue di Yangon, Myanmar. Berada di antara pasar, untungnya tidak terlalu susah untuk menemukannya walau kami sempat tidak yakin bahwa bangunan yang kami cari itu berada di depan kami. Memasuki Musmeah Yeshua Synagogue mirip dengan gereja dimana ada tempat duduknya. Terdiri dari 2 lantai dan di lantai ke dua adalah koleksi dari Musmeah Yeshua Synagogue. Si Ade hanya menunggu di luar, karena dia belum sembuh betul sementara aku lah yang keliling Musmeah Yeshua Synagogue. Untuk masuk ke dalam Musmeah Yeshua Synagogue tidak dipungut biaya.

Musmeah Yeshua Synagogue, Yangon
Musmeah Yeshua Synagogue, Yangon

6. Church di Yangon

Ketika Ade beristirahat karena drop perjalanan ala backpacker Myanmar kami, aku melihat sekeliling area Sule Pagoda dan hasilnya terdapat Gereja di samping taman. Jadi satu kawasan Sule Pagoda lengkap lengkip rumah ibadah mulai dari Gereja, Masjid hingga Kuil.

Yangon

Tidak hanya itu ada biksu kecil yang meminta uang kepada pengunjung. Biksu kecil ini membawa tempat untuk uang, dia menghampiriku namun karena aku tak mengerti Bahasanya jadi aku tidak tahu kalau dia sedang meminta uang. Barulah ketika orang lain memasukkan uang ke dalam tempat seperti Kendi akhirnya aku mengerti bahwa sang Biksu kecil sedang meminta uang.

Yangon

7. Pasar Yangon

Hal menarik lainnya yang kami lakukan dalam sehari di Yangon ketika aku dan Ade melewati pasar hendak mencari oleh-oleh khas Yangon. Tapi jangan ditanya apa kami dapat oleh-olehnya karena jawabannya tidak. Pasar tempat oleh-oleh sedang tutup. Akhirnya kami melewati pasar ala Myanmar dengan berjalan kaki sambil mengamati kegiatan penduduk lokal. Menariknya ada kejadian sayuran yang dilewati mobil namun sayurnya tidak rusak, tepat hanya melintasi saja. Di pasar Yangon tak jauh dari area Sule Pagoda jugalah kami menemukan beberapa warga Muslim hal ini terlihat dengan jilbabnya, karena mengingat kasus di Myanmar saat ini.

 

Pasar Myanmar mengingatkanku akan pasar di ASIA yang rata-rata hampir mirip, sebelas dua belas. Walau demikian aku selalu suka dengan pasar karena bisa lebih dekat dengan warga lokal serta potret kecil kehidupan warga lokalnya.

8. Kuil Di Yangon

Yangon

Saat mencari oleh-oleh bersama Ade, kami sempat melewati sebuah kuil di Yangon yang menurutku unik. Unik karena banyak merpati di depannya serta penjual makanan untuk merpati. Kuil ini bukan untuk Buddha seperti kebayakan di Myanmar, namun kuil untuk umat Hindu. Coraknya mengingatkanku akan kuil di Medan, Indonesia atau mirip Kuil di Batu Caves, Malaysia. Yang pasti di Yangon, Burma aku juga menemukan kuil Hindu.

Karena kami gagal mendapatkan oleh-oleh khas Myanmar, akhirnya tempat terakhir yang kami kunjungi di Yangon adalah Shwedagon Pagoda. Karena sudah lelah berjalan kaki, kami memutsukan untuk naik taxi dari Sule Pagoda ke Shwedagon Pagoda dengan harga 1700 KS/2 orang.

9. Shwedagon Pagoda

Saat mengunjungi Shwedagon Pagoda si Ade sudah lumayan membaik. Kami tidak masuk ke dalam Shwedagon Pagoda karena harus bayar. Akhirnya kami hanya melihat dari luar saja, sudah cukup buat kami. Katanya Shwedagon Pagoda inin mirip Lumbini di Sumatera Utara, tapi pas aku lihat “tidak mirip-mirip amat”. Lucunya saat di Shwedagon Pagoda, kami malah asik di tempat pasarnya. Si Ade mencari oleh-oleh disini dan meski harganya bikin gerem namun Ade tetap beli.

"Nya, aku harus beli banyak oleh-oleh karena temanku banyak", kata Ade

Akhirnya si Ade memborong oleh-oleh sampai habis 500rb an mungkin lebih. Bayangkans aja satu gantungan kunci aja bisa kena 30ribu, kan bikin sakit hati 😦

Shwedagon Pagoda

10. Minum Kelapa di depan Kuil

Yangon

Setelah beranjak dari Shwedagon Pagoda, aku dan Ade malah istirahat sambil minum kelapa dengan pemandangan Kuil. Akhirnya keiginan kami untuk makan air kelapa terwujudkan, apalagi pas siang hari sehingga rasanya nikmat sekali. Untk harga kelapa 2000 KS/2 orang (2 buah) dan banyak sekali tapi enak. Minum sambil bersantai begitu sangat nikmat, sehingga tidak kelihatan kami turis kerenya.

Nya, tadi itu gue agak gak enak samamu karena gara-gara gue, lu gak puas jalan, kata Ade

Tadi mau bilang kau duluan aja jalan terus nunggu di Bandara aku, kata Ade

Untung aku sehat ya terus bisa tidur tadi, lanjutnya

Aku malahan takut kita berantem De, tahu sendiri aku kalau berdua jalan agak-agak, kataku

Ah rupanya tidak, berarti bukan salahku lah ya ama si kawan waktu di Jepang, timpalku

Begitulah percakapan kecil kami mengenai backpackeran di Burma. Kami tidak sangka walau trip hanya 5 hari di Burma, namun kami memiliki jutaan cerita mulai dari cerita lucu, gembel, hina hingga seru dan bahagia. Minum kelapa di Yangon menjadi penutup perjalanan kami di Myanmar. Dan taxi pun mengantar kami dari dari Sule Pagoda ke Bandara seharga 7000 KS/2 orang.

Rincian Pengeluaran Yangoon, Myanmar

Naik Bus dari Terminal Bis Aung Mingalar 200 KS/orang

Makan Thosa + Egg + Susu Tea 1350 KS

Taxi dari Sule Pagoda ke Shwedagon Pagoda 1700 KS/2 orang

Oleh-oleh 3500 KS Makan siang 4000 KS/2 orang

Kelapa 2000 KS/2 orang (2 buah)

Taxi dari Sule Pagoda ke Bandara 7000 KS/2 orang

Total Pengeluaran hari kelima di Myanmar

200 KS + 1350 KS + 850 KS + 1000 KS +3500 KS

= 6,900 KS

Tempat wisata yang dikunjungi di Mandalay, Myanmar

Sule Pagoda, Independent Monument of Myanmar, Shwedagon Pagoda, Saint Mary’s Cathedral and Musmeah Yeshua Synagogue, Maha Bandoola Garden, Bogyoke Aung San Market

Salam

Winny

8 Kegiatan di Mandalay dalam 1 Hari


We keep moving forward, opening new doors, and doing new things, because we’re curious and curiosity keeps leading us down new paths.

By Walt Disney

Hello World!

Mandalay, Februari 2017

Walau Mandalay merupakan Kota biasa menurut kami dibandingkan dengan Bagan dan Inle, namun banyak banyak yang bisa dilakukan di Mandalay. Selain melihat matahari terbit di Mandalay Hill, serta melihat patung Buddha di Mahamuni Image dan ngezonk di Kuthodaw Pagoda (biggest book in the world), ternyata banyak yang bisa dilakukan di Mandalay dalam 2 hari.

Kegiatan yang bisa dilakukan di Mandalay, Burma dalam 1 hari

1. Mencari Kuil-kuil Tua

Ade

Karena satu arah dengan jembatan fenomenal Mandalay U Bein, maka yang kami lakukan adalah mencari tempat wisata yang searah. Pilihan kami kepada salah satu monastery di  Mandalay yang lumayan cukup tua terbuat dari kayu. Monastery yang kami kunjungi dengan Ade cukup unik, karena dari kayunya saja kelihatan tua banget belum lagi cara kesananya susah bin ajaib. Kami harus nyasar diperkampungan, salah jalan sampai 2 kali terus akhirnya jumpa juga. Di dalam monastery juga terdapat patrung Buddha yang disusun dari kaca. Sayangnya si Ade lebih memilih duduk santai bersama petugas. Untuk masuk ke dalam monastery  harus membayar biaya masuk namun jika membeli museum tourist pass maka termasuk ke dalam monestry ini. Tiket yang aku dapatkan adalah tiket pungutan dari Pagoda dengan Buku. Ibaratnya seperti pemungut karcis awak, jadi Ade lebih mengalah ketika aku memakai karcis yang aku dapat-dapat di lantai. Berkat karcis dapat-dapat aku masuk ke dalam.

Oh ya bagi yang ingin menjelajah museum di Mandalay, dan punya waktu yang cukup maka sebaiknya membeli museum pass Mandalay. Selain bisa digunakan ke beberapa museum, pass ini juga bisa digunakan untuk masuk kedalam Mandalay Palace.

Kalau aku dan Ade lebih memilih melihat Mandalay Palace dari luar saja. Kami tidak sanggup mengeluarkan uang demi tiket karcis museum, cukup membayar karcis museum di Mandalay Hill saja. Maklum, kami turis tidak mau rugi apalagi mata kami sudah cukup puas melihat ribuan kuil dan Candi selama di Myanmar.

Mandalay

2. Melihat Kapal di Mandalay

Masih dalam satu perjalanan ke jembatan Mandalay, dalam perjalanan aku dan Ade beberapa kali berhenti jika kami melihat kuil menarik menurut kami. Salah satunya sebuah kuil berwarna emas yang ternyata ada pemandangan unik dari sana. Berupa kapal penduduk, dan airnya cukup bersih. Meski saat itu cuaca begitu panas, kami tahankan agar bisa melihat air dan kapal. Maklum kalau di Burma kalau masuk kedalam kuil harus membuka alas kaki sehingga kalau panas matahari, siap-siap kaki menahan panas dari lantai. Namun tentu saja kaki kami seperti terbakar terbayar melihat hal lain di Mandalay “kapal dan air”.

Mandalay

3. Rumah Kumuh

Awalnya aku tidak mengira ada perkampungan kumuh di Mandalay. Namun sepanjang perjalanan ke Jembatan U Bein, kami menemukan perkampungan yang kumuh. Sampah serta penduduk yang hidup disekitarnya. Hal ini tentu membuka mata kami bahwa hidup selalu bersyukur karena di belain lain dunia ini juga ada beberapa orang yang kurang mampu. Dan memang masalah sampah ini sangat klasik bahkan di Jakarta. Pas lihat orang Myanmar yang tinggal di tempat sampah, aku jadi teringat Ibukota yang juga memiliki masalah yang sama.

Mandalay

4. Bertemu Biksu

Namanya juga Myanmar yang mayoritas beragama Buddha sehingga Biksu dan Bhikkhuni mudah ditemukan di Myanmar. Jadi bagi yang mungkin suka photo Biksu dengan latar belakang Kuil maka cukup mudah didapatkan di Myanmar.

Mandalay, Myanmar

5. Patung dan Kuil

Myanmar memang surganya kuil dan patung sehingga yang penyuka kuil maka akan puas di Myanmar. Bedanya di Mandalay kuilnya tidak seperti di Old Bagan, lebih mirip kepada Kuil/biara yang mirip di Thailand. Kalau ingin menjelajah semua kuil di Mandalay tidak cukup sehari saking banyaknya, tapi dipastikan jika ingin mengunjungi beberapa saha sudah mewakili, kalau terlalu lama dan banyak, lama-lama bisa bosan juga.

6. Melihat proses pembuatan Thanaka

Mandalay

Thanaka adalah bedak dingin, jadi orang Myanmar dalam kehidupan sehari-hari baik pria maupun wanita, baik anak kecil maupun yang tua selalu memakai bedak dingin atau disebut Thanaka. Jadi tak heran jika melihat bedak dingin di wajah itu sudah lumrah di Myanmar. Nah pas mengunjungi Kuil Mahmuni disiang hari setelah balik dari Mandalay Hill. aku dan Ade melihat cara pembuatan Thanaka di samping Kuil. Kami sempat heran itu orang kenapa ramai-ramai dan sedang apa. Rupanya mereka sedang membuat Thanaka. Uniknya Thanaka itu dari kayu yang digerus dikasih air terus nanti di keringkan. Dinisilah aku melihat pembuatan Bedak dingin Myanmar. Siapa sangka selain bisa melihat Patung Mahamuni dimandiin juga bisa melihat warga lokal membuat Thanaka.

7. Melihat kehidupan warga lokal Mandalay

Hal yang paling aku suka saat travelling adalah melihat warga kegiatan warga lokal. Di Mandalay lumayan seru melihat aktivitas warganya mulai dari lelaki yang memakai Longyi dalam kesehariannya, bukan karena mau sholat namun memang itulah pakaian kesehariannya. Belum lagi cara mereka saat menggunakan transportasi yang agak tidak memperhatikan safety yang penting sampai tujuan. Entah kenapa seru saja mengamatinya.

8. Bersantai di Jembatan U Bein, Mandalay

Meski U Bein Bridge Mandalay biasa saja tanpa sunset, namun santai di jembatan cukup asik juga. Apalagi jembatan ini wisata populer dan banyak orang yang berdatangan sehingga asik saja melihat tingkah laku orang-orang yang berselfie dengan jembatan. Jadi bisa melihat kegiatan warga lokal dan turis di jembatan yang berjarak sekitar 1-2 km dari kayu biasa.

Nah itu saja yang bisa dilakukan di Mandalay selain melihat sunrise di Mandalay Hill, gagal masuk ke Mandalay Palace serta buku ala-ala terbesar. Sebenarnya masih banyak yang bisa dilakukan di Mandalay, namun unutk 1 hari bagi kami, lumayan cukup liar. Bayangin 1 hari saja bisa kemane-mane, gimana 1 minggu? Bisa khatam semua wisata Mandalay 🙂

Rincian Pengeluaran Mandalay, Myanmar Hari Keempat

Taxi dari Stasiun Bus ke Dream Guest House 5000 KS/ 2 orang

Sewa Motor seharian 12,000 KS/ 2 orang

Uang Masuk Su Taung Pyae Pagoda 1000 KS

Air Lemon 500 KS Bensin 4500 KS/2 orang

Makan siang + minum tebu 1800 KS

Bus malam dari Mandalay ke Yangoon 22,000 KS/2 orang

Parkir motor 500 KS/2 orang

Total Pengeluaran hari keempat di Myanmar

2500 KS + 6000 KS + 1000 KS + 1800 KS + 11,000 KS + 250 KS

= 22,550 KS

Tempat wisata yang dikunjungi di Mandalay, Myanmar

Sunrise Mandalay Hill, Mahamuni Image, U Bein Bridge, Kuthodaw Pagoda (biggest book in the world), Mandalay Royal Pallace, Masjid

Salam

Winny

Sunset di Mandalay U Bein Bridge


“The future for me is already a thing of the past –
You were my first love and you will be my last”
― Bob Dylan―

Hello World!

Mandalay, Februari 2017

Terkadang harapan itu tidak sesuai dengan kenyataan. Sama halnya dengan saat jalan-jalan, banyak sekali hal yang terlihat indah di photo pas kenyataannya belum tentu seindah itu. Begitu paling tidak pengalamanku bersama Ade ke Mandalay, Myanmar. Sayangnya untuk saat ini di Myanmar sedang tidak kondusif dengan masalah Rohignya.

Nah pas mengunjungi Myanmar bulan Februari lalu, salah satu tempat yang ingin kami kunjungi adalah U Bein Bridge, Mandalay. Sebelumnya kami sudah mendapatkan sunrise di Mandalay Hill, sehingga agenda perjalanan kami lainnya adalah melihat sunset di Mandalay tepatnya di U Bein Bridge.

Aku sendiri tidak tahu kalau U Bein Bridge itu menarik, semua rincian rencana perjalanan dibuat oleh Ade, aku dan Melisa hanya ikut saja. Sayangnya karena keterbatasan waktu Melisa hanya sampai di Bagan saja dan lebih memilih ke INLE daripada ke Mandalay. Dari baca pengalaman orang ada yang merekomendasikan ke Inle daripada Mandalay tapi ada juga yang merekomendasikan ke Mandalay daripada Inle. Kalau dari pengalamanku lebih memilih Inle karena di Mandalay agak biasa bila dibandingkan dengan Inle.

U Bein Bridge, Mandalay

Untuk sampai ke U Bein Bridge, Mandalay kami menggunakan peta offline yang sudah kami download. Serta sepeda motor yang kami sewa sejak subuh. Suasana Mandalay agak memprihatinkan apalagi  pas diperjalanan banyak sampah yang kami lihat. Bahkan penduduk banyak sekali tinggal di area kumuh. Belum lagi ke U Bein Bridge itu penuh tantangan karena aku yang tidak bisa membaca peta dan membedakan arah “kiri” dan “kanan”. Nyasar sudah menjadi santapanku bersama Ade sehingga tak heran sempat membuatnya agak tensi ketika salah arah. Tapi disitu letak dari seni perjalanan itu, menyatu dengan daerah tersebut dan siap-siap untuk nyasar.

Sesampai di U Bein Bridge, motor kami parkirkan dan kami melihat hamparan jembatan kayu biasa. Padahal aku paling takut dengan jembatan kayu, parno kalau tiba-tiba jatuh kebawah.

"Yah nya, jelek amat jembatannya, padahal di photo cakep banget, kata Ade"

Kata Ade benar adanya karena yang kami lihat itu menurutku biasa saja. Sampai aku heran kok bisa ramai orang ke U Bein Bridge, Mandalay.

U Bein Bridge
Yah de, kita jauh-jauh kesini cuma lihat begini doang kataku sedikit kecewa

Namun disisi lain penasaran kenapa begitu banyak orang yang menunggu matahari tenggelam di sepanjang jembatan. Lalu mengobati rasa kecewa kamipun berjalan hingga ke ujung jembatan sambil duduk manis disebuah warung di dalam jembatan. Paling tidak U Bein Bridge di Mandalay sekitar 1-2 km dan dibangun dari tahun 1850 serta berada di Danau Taungthaman area Amarapura, Mandalay Myanmar.

Menariknya sepanjang duduk mengamati aktivitas warga lokal dan turis yang mayoritas bule, kami disangka seperti orang lokal Myanmar. Selain itu beberapa biksu lewat dari jembatan. Sayangnya pas di area Danau banyak sekali sampah. Memang aku dan Ade sangat cepat sampai di Mandalay namun sisi baiknya kami bisa mengamati dan menikmati pemandangan sekitar.

U-Bein Bridge in Amarapura, Myanmar (Burma)

Yang menarik dari U-Bein Bridge ketika hendak sunset tiba. Beberapa kapal nelayan berada di sepanjang Danau yang kebetulan airnya susut serta pemandangan orang-orang yang berdiri di jembatan.

Epic!

Nya, ternyata ini gambar persis yang akiu lihat di Gambar, kata Ade

Dan benar seketika senja mulai turun, pemandangan sekitar yang terlihat biasa dan agak kumuh berubah menjadi senja orange indah. Belum lagi efek orang sekitar membuatnya menjadi keren. Sedikit mengurangi rasa kecewa kami akan pemandangan biasa mengingat cara kami U-Bein Bridge penuh perjuangan. Bahkan aku dan Ade sampai turun demi mencari dimana letak titik terbaik dari sunset di U-Bein Bridge, Mandalay. Belum lagi melihat beberapa turis yang duduk santai di bangku sekitar Danau sambil berekreasi hingga lupa akan sampah disekitarnya. Memang tidak ada yang sia-sia dari suatu perjuangan 🙂

U-Bein Bridge

Menurutku sunrise dan sunset di Mandalay sangat efik dan agak jahil. Suka menjahili kami dengan pikiran sempit kami. Seperti ketika mengira tidak melihat sunrise di Mandalay Hill ternyata kami melihat juga serta pas di U-Bein Bridge Mandalay yang awalnya mengira biasa saja eh rupanya pas sunset sangat indah. Tak heran sih banyak warung di bawah jembatan dan beberapa photorapher dari mancanegara berburu sunset di U-Bein Bridge.

Tak lama-lama saat sunset di Mandalay, namun lumayan keren hasilnya. Paling tidak penasaran kenapa begitu banyak orang mengunjungi U-Bein Bridge, Mandalay terjawab sendiri.

“Tunggu saat sunset, disitu letak keindahannya”.

Akhirnya misiku dan Ade berhasil, walau hanya bagus di photo, tapi ada sisi lain yang kami lihat bahwa Mandalay memiliki sisi “kumuh”.

Salam

Winny

Mencari Buku Terbesar Dunia di Kuthodaw Pagoda, Myanmar


Everything you want is on the other side of fear

-Anonymous-

Hello World!

Mandalay, Februari 2017

Setelah melihat sunrise di Mandalay Hill, aku dan Ade mencari Kuthodaw Pagoda (biggest book in the world). Awalnya kami penasaran seperti apa kiranya buku terbesar di dunia. Tentu sangat keren bisa melihat buku terbesar di dunia karena keinginan untuk melihat Alquran besar di Palembang belum kesampaian. Menurut tempat peminjaman motor kami, salah satu tempat yang wajib kami kunjungi di Mandalay adalah Kuthodaw Pagoda. Lokasinya pun dekat dengan Mandalay Hill.

Yang lucu adalah cara mencari Kuthodaw Pagoda dengan navigasi sekedarnya. Kami sempat tidak yakin bahwa tempat yang sudah kami kunjungi adalah Kuthodaw Pagoda. Sederhananya bangunannya dari luar dipagari tembok putih dan banyak turis yang berdatangan. Untuk masuknya pun agak ribet karena kami hanya melihat dari sisi luar hingga dengan usaha ekstra kami dapat menemukan pintu masuk Kuthodaw Pagoda.

Kuthodaw Pagoda, Myanmar

Masuk ke dalam Kuthodaw Pagoda tidak perlu biaya administrasi, karena memang tempat ini juga menjadi tempat ibadah bagi warga lokal Myanmar. Dari luar pintu depannya mirip Pagoda dengan kiri kanannya berwarna putih. Untuk masuk harus membuka sandal/sepatu dan kaos kaki karena memang wajib hukumnya jika memasuki Pagoda/Candi di Myanmar. Udara waktu itu cukup panas, sehingga kami harus menahan rasa panas di lantai Kuthodaw Pagoda. Namun cukup seru masuk kedalam apalagi melihat keramaian pengunjung Kuthodaw Pagoda.

"Nya, mana sih buku besarnya", celoteh Ade kepadaku

Sedikit heran juga menjawab pertanyaan Ade karena sepanjang kami menelusuri ke dalam tidak ada tanda-tanda buku besar. Hingga kami semakin masuk kedalam Kuthodaw Pagoda tetap tidak menemukan buku besar. Akhirnya kami mulai curiga kalau buku besar yang dimaksud berada di dalam Pagoda putih yang berjajar. Karena memang Pagoda putih seolah melindungi sesuatu. Selebihnya di dalam Kuthodaw Pagoda ada Pagoda dengan warna keemasan yang ditutup bungkus karena sedang direnovasi.

Aku bahkan sempat tertidur sejenek pas kami duduk di dalam Kuthodaw Pagoda, menyerah mencari buku terbesar. Padahal cuaca panas, mungkin ini efek dari kecapean setelah perjalanan dari Bagan ke Mandalay.

Kuthodaw Pagoda, Myanmar
"Nya, jangan-jangan ya bukunya di dalam Pagoda putih itu", kata Ade

Lalu kami berdua pun mendekat ke dalam Pagoda putih yang berjajar menghias Kuthodaw Pagoda. Dugaan Ade benar adanya ternyata buku besar itu berada di dalam Pagoda dan berisi seperti buku dari semen dengan tulisan yang kami tidak tahu, dengan aksara Myanmar.

Ini mah gak cocok buku besar, cocoknya buku luas, 
kata Ade dengan sedikit merasa "zonk"

Wwkwkwk, betul anggukku

Memang ekpektasi tidak selalu sama dengan kenyataan. Karena kami menganggap buku gede yang bisa dibaca ternyata hanyalah semen bertulis di dalam Pagoda. Namun tak apa, cukup menjawab rasa penasaran kami. Dan kapan lagi dikerjain oleh suatu bayangan? 🙂

Ade di Kuthodaw Pagoda

Akhirnya karena merasa zonk dengan buku yang tidak kami bisa baca, si Ade malah mengajak untuk berphoto disamping Kuthodaw Pagoda (biggest book in the world). Meski sedikit kecewa karena tidak bisa membaca namun justru disitu letak keseruaan perjalanan Mandalay kami. Kapan lagi menghayal duduk manis dalam Pagoda sambil baca buku gede namun pada kenyataannya buku tersebut berada di dalam Pagoda tersusun sehingga alhasil bukan membaca malah menjadi berphoto.

Kan seru?

"Nya ambil photoku diantara Pagoda itu ya terus aku pura-pura jalan", kata Ade

Pendapatnya lagi-lagi benar karena bagus Pagoda putih itu. Apalagi dtambah dengan sentuhan pepohonan.

Kuthodaw Pagoda, Myanmar

Puas dengan Kuthodaw Pagoda meski gagal membaca buku besar, aku dan Ade pun keluar dari Pagoda. Kami mencari makan diluar pagoda yang ujung-ujungnya kami duduk santai di depan Pagoda sambil menikmati minuman. Minuman yang kami pesan adalah lemon tea sambil melihat Kuthodaw Pagoda dari luar, merasa kami dikerjain oleh Pagoda.

Mandalay ternyata memiliki cara tersendiri untuk menyambut turis seperti kami. Dalam pikiranku teringat Melisa bahwa pilihannya untuk memilih Inle daripada Mandalay selama di Myanmar adalah benar adanya, tentu saja dari pendapatku. Toh setiap orang beda minat dan kesukaannya.

Salam

Winny