Sunrise di Mandalay Hill, Myanmar


Everybody loves. Everybody loses. And we’re all better for it.

By Chrissy

Hello World!

Mandalay, Februari 2017

Setelah melihat ritual pembersihan Patung Buddha Mahamuni di Mandalay, aku dan Ade melanjutkan perjalanan ke Mandalay Hill, Myanmar untuk melihat sunrise yang katanya titik tertinggi di Mandalay. Dengan bantuan peta offline yang sudah di download kami menuju Mandalay Hill dengan sepeda motor yang kami sewa. Cukup nekat memang kami berhubung kami tidak tahu jalanan di Mandalay serta suasana masih subuh saja.

Nya, ini yah di Indonesia saja kagak berani naik motor ya,
ini di jalanan Negeri orang aku berani, 
kalau tahu mamaku aku dimarahin, celoteh Ade

Memang Mandalay Hill merupakan titik tertinggi melihat Kota Mandalay dari atas bahkan sunrisenya cukup terkenal. Padahal jujur saja aku tidak ada ide seperti apa Mandalay Hill itu. Belum lagi aku memberikan arah yang salah karena kelemahan dalam membaca peta. Aku tidak bias membedakan mana “kiri” dan “kanan” yang sempat membuat Ade dan Melisa heran bagaimana bisa aku bertahan backpacker sendirian ke Negeri orang padahal baca peta saja tidak becus. Untungnya meski nyasar beberapa kali kami sampai di Mandalay Hill.

Ketika sampai di Mandalay Hill, kami sempat ragu apakah  tempat yang kami kunjungi adalah benar Mandalay Hill karena tidak ada tanda-tanda temple atau cara ke bukit yang seperti Ade bayangkan. Bahkan kami sempat  bertanya dimana MANDALAY HILL itu padahal jelas-jelas kami di Mandalay Hill. Bahkan sempat naik ke sebuah tempat seperti pasar terus turun lagi saking tidak yakinnya hingga menanyakan orang kesekian kalinya dimana tempat Hill itu. Rupanya Mandalay Hill melewati pasar yang telah kami lalui, sebuah pasar untuk membeli oleh-oleh tepatnya. Hill tempat sunrise Mandalay berada di area Su Taung Pyae Pagoda dan masuk ke dalam harus membayar uang retribusi 12,000 KS. Agak enggak membayarnya namun karena sudah jauh-juah serta perjuangan melewati jalanan yang menanjak akhirnya kami membayar juga. Di dalam Pagoda hanya ada penjaga saja sementara kami duduk di luar Pagoda menunggu sunrise.

"Nya, berkabut, sedih deh padahal udah jauh-jauh kesini", kata Ade

Yah trip Myanmar kami memang banyak banyak tujuan wisatanya terutama Kota-kota yang ingin kami kunjungi.  Salah satunya sunrise dari Mandalay Hill. Karena melihat kabut menutupi pemandangan Kota Mandalay dari atas, akhirnya kami memanfaatkan dengan memphoto Temple saja. Hingga akhirnya jam 6 an, sunrise yang ditunggu pun ada. Kabut sudah mulai berhilangan dan membuat Ade mulai bahagia.

Ya ampun Nya, aku kira tadi tidak ada sunrise di Mandalay Hill, 
dalam hati gue gila udah jauh kesini malah lihat kabut, 
katanya dengan penuh semangat

Memang sunrise yang kami tunggu agak sedikit mengerjai kami. Seolah tidak ada namun ternyata ada, warnanya orange dan bulat serta dari atas kelihatan Kota Mandalay. Hanya saja karena aku takut ketingian sehingga untuk dekat ke tepi amit-amit. Selain itu memang kami datangnya agak kecepatan ke Mandalay Hill. Karena waktu kedatangan terhitung jari jumlah pengunjung kemudian setelah mulai sunrise barulah banyak pengunjung yang berdatangan. Yang lucu ada turis Bule entah dari Negara mana malah mempotret kami, mungkin dikira kami warga local Myanmar, padahal jelas-jelas kami tidak memakai Thanaka layaknya orang Myanmar. (Thanaka = bedak dingin, jadi orang Myanmar dalam kehidupan kesehariannya suka memakai bedak dingin baik wanita maupun pria).

Setelah puas melihat matahari terbit dari Mandalay Hill, kami pun berkelililing untuk melihat spot terbaik di Mandalay. Dan melihat sunrise di Mandalay memang melebihi ekpektasi kami karena kami merasa urutan Kota untuk dikunjungi di Myanmar itu adalah Inle, Bagan kemudian Mandalay (versi kami). Jadi kami tidak terlalu berharap kalau sunrise yang kami lihat bakalan Ok, namun kami salah karena sunrise di Mandalay lumayan ok apalagi dengan latar belakang Pagoda serta melihat Kota Mandalay dari atas Bukit.

Untuk naik ke Su Taung Pyae Pagoda ternyata bisa menggunakan lift, selain tangga yang kami lewati. Belum lagi banyak Pagoda disekiatar Mandalay Hill, sehingga yang penyuka wisata Pagoda bisa puas melihat Pagoda di Mandalay hill. Namun tentu saja Pagodanya berbeda bentuknya seperti yang ada di Bagan, Pagoda di Mandalay lebih mirip seperti yang di Thailand, dengan bentuk runcing serta warna keemasan.

Anehnya meski kami tahu ada lift untuk turun, kami malah memilih menuruni tangga dan kembali melewati pasar dadakan dengan oleh-oleh khas Mandalay melewati beberapa Pagoda di dalam area Pagoda.

Rincian Pengeluaran Mandalay, Myanmar Hari Keempat

Taxi dari Stasiun Bus ke Dream Guest House 5000 KS/ 2 orang

Sewa Motor seharian 12,000 KS/ 2 orang

Uang Masuk Su Taung Pyae Pagoda 1000 KS

Air Lemon 500 KS Bensin 4500 KS/2 orang

Makan siang + minum tebu 1800 KS

Bus malam dari Mandalay ke Yangoon 22,000 KS/2 orang

Parkir motor 500 KS/2 orang

Total Pengeluaran hari keempat di Myanmar

2500 KS + 6000 KS + 1000 KS + 1800 KS + 11,000 KS + 250 KS

= 22,550 KS

Tempat wisata yang dikunjungi di Mandalay, Myanmar

Sunrise Mandalay Hill, Mahamuni Image, U Bein Bridge, Kuthodaw Pagoda (biggest book in the world), Mandalay Royal Pallace, Masjid

Salam

Winny

Iklan

Melihat Ritual Pembersihan Patung Mahamuni pada Mandalay, Myanmar


Life is one big road with lots of signs. So when you riding through the ruts, don’t complicate your mind. Flee from hate, mischief and jealousy. Don’t bury your thoughts, put your vision to reality. Wake Up and Live!

By Bob Marley

Hello World!

Mandalay, Februari 2017

Jam 4 pagi tepatnya aku dan Ade sampai di Mandalay dari perjalanan Bagan. Masih segar diingatan ketika kami sempat dijemput dengan mobil yang mirip dengan angkot dari penyewaan sepeda. Di tempat penyewaan sepedalah kami mandi sambil menunggu jemputan. Itung-itung rekor tidak mandi selama 4 hari terpatahkan juga di Old Bagan. Kami sempat berpikir apa iya mobil yang mirip angkot ini ke Mandalay, walau dalam peta jarak antara Bagan dengan Mandalay cukup dekat. Untungnya dugaan kami tidak benar, karena mobil yang mirip angkot itu adalah jemputan saja karena pada kenyataannya kami menuju Mandalay dengan bus yang lumayan kondusif. Di Old Bagan jugalah aku dan Ade berpisah dengan Melisa karena Melisa akan sendirian ke Yangoon demi mengejar pesawatnya menuju Jakarta. Aku dan Ade masih memiliki dua hari lagi di Myanmar, artinya kami bisa mengunjungi Mandalay, Myanmar.

Tujuan utama kami ke Mandalay selain melihat Sunrise dari Mandalay Hill, Myanmar adalah melihat patung Buddha Mahamuni dimandikan. Kalau bukan karena Ade aku tidak tahu kalau ada patung Buddha dimandikan di Mandalay. Istilah untuk dimandikan ini adalah Bahasa khasnya si Ade. Karena ketika di Old Bagan pada pagi hari kami telah melihat patung Buddha kecil dimandikan nah saatnya kami melihat Patung Buddha besar dimandikan.  Akan lebih tepat jika dipakai istilah pembersihan Patung Buddh. Patung Buddha itu berada di Pagoda MAHAMUNI, salah satu wisata yang wajib dikunjungi di Myanmar. Alias jika ke Myanmar top listnya adalah melihat Patung Mahamuni, jadi tidak dianggap ke Myanmar jika belum ke Patung Mahamuni, katanya ya 😀

Bus kami sampai di Kota Mandalay, Myanmar jam 4 pagi dimana jalanan sepi, beberapa anjing berkeliaran di jalanan bahkan taxi yang mengantar kami ke tempat penyewaan sempat bingung mencari alamat  yang kami tuju. Hingga akhirnya setelah dua kali mutar daerah sama, barulah kami diantar ke tempat sesuai dengan alamat tujuan kami. Jadi tidak salah alamat! Kedatangan kami memang cepat namun pihak penyewaan motor kami sudah siaga menunggu kami. Sebelumnya Ade sudah berkomunikasi dengan pihak penyewaan sepeda motor demi keliling Mandalay. Kalau tidak, bakalan gigit jari kalau sampai di Mandalay, Myanmar apalagi pas pagi hari sekali.  Untunglah pemilik membukan pintu dengan ramah kepada kami meski terlihat jelas mukanya masih mengantuk. Kami meminjam motor matik seharian dan menitip tas kami kepada seorang gadis keturunan Chinese di Burma. Rumahnya lumayan luas lengkap dengan dekorasi seni serta tempat penginapan sekaligus penyewaan sepeda/motor di Mandalay. Dia juga yang memberikan peta kepada kami serta menjelaskan kemana saja ketika berada di Mandalay. Walau penjelasan Objek wisata Mandalay tidak 100% kami hapal. Kami hanya mengikuti daftar OBJEK WISATA MANDALAY di bucket list kami.

Untuk menjelajah Mandalay kami menggunakan map offline yang sudah didownload sebelumnya. Tidak seperti Kota Bagan dan Inle yang mewajibkan turis membayar uang masuk kedalam KOTA, maka masuk ke Mandalay tidak perlu bayar. Lumayan menghemat biaya perjalanan kami 🙂

Mandalay

Setelah sepeda motor, kunci dan dua helm diberikan kepada kami mak kami memulai perjalanan menjelajah Mandalay. Ade yang mengendarai motor dan aku yang memberikan aba-aba jalan. Salahnya ternyata aku tidak begitu bisa membedakan belok “kiri” atau “kanan” sehingga sempat membuat si Ade gondok alias menahan esmosi tingkat tinggi.

Nya, tau gak sih mana kiri dan kanan?
kata Ade dengan sedikit dongkol ketika aku salah memberikan arah

Sementara kalau aku yang membawa motor juga tidak bisa. Akhirnya aku dan Ade sempat nyasar-nyasar arah di pagi hari sementara kami hendak mengejar pemandian Buddha di pagi hari.

Disini aku merasa sedih tidak bisa membaca Google map, hiks!

Dengan susah payah barulah kami sampai di tempat Patung Mahamuni setelah memarkirkan sepeda motor yang tak jauh dari pasar. Pasar ini merupakan satu komplek dengan Pagoda Mahamuni, Mandalay tempat patung Mahamuni berada.

Seperti biasa, aku dan Ade melepaskan sandal kami lalu berjalan menuju tempat ritual harian pembersihan patung Buddha Mahamuni di Mandalay. Kami memang agak telat ketika sampai di Patung Mahamuni karena turis sudah banyak sekali duduk manis di lantai sambil melihat ritual pemandian. Sementara dari Layar TV besar kami melihat pemandian Buddha sudah dimulai.  Patung Buddha berada di tengah dari Pagoda Mahamuni, Mandalay dengan posisi duduk diatas takhta lengkap dengan mahkota serta baju kerajaan.

Mandalay

Untuk melihat ritual pemandian patung Buddha maka harus membayar administrasi. Serta ada area yang tidak boleh dimasuki oleh wanita, khusus laki-laki saja terutama area pemandian dan di depan pemandian. Wanita diperbolehkan dari jauh. Ade menyuruhku duluan masuk ke dalam Pagoda menembus keramaian turis dan penduduk lokal. Aku tidak menyangka kalau sepagi ini, ramai pengunjungnya. Bahkan aku sempat salah masuk ke dalam area laki-laki yang membuatku dicegat petugas sekaligus menyuruh untuk membayar biaya masuk Pagoda. Namun karena sudah terlanjur masuk dan lihat serta ingin keluar akhirnya aku tidak jadi membayar. Lalu aku menghampiri Ade yang menunggu di luar untuk gantian masuk ke dalam melihat langsung prosesi pemandian Patung Buddha sambil aku mengingatkan untuk pembayaran jika ingin melihat prosesi.

Pilihan untuk menonton prosesi dari layar memang tepat karena di dalam begitu desak-desakannya serta tidak begitu jelas kelihatan ritualnya, maka melihat dari luar lebih dari cukup. Sekalian cuci mata melihat antusias dari masyarakat Myanmar yang datang dari berbagai daerah menuju ke Mandalay sambil membawa persembahan untuk Pagoda Mahamuni. Beberapa diantaranya adalah Biksu sambil berjalan menuju kedalam Pagoda, beberapa ibu-ibu seperti Inang-inang di Sumatera Utara dan beberapa adalah remaja yang memakai bedak dingin di mukanya, khasnya orang Myanmar.Kegiatan mengamati orang jauh lebih menarik buatku karena melihat sisi lain dari Myanmar. Meski telat datang di acara pembersihan Buddha biasanya jam 4 sampai jam 4.30 pagi namun aku mendapatkan hal lain.  Belum lagi, Ade juga sempat menyaksikan ritual pembersihan.

Yah kami memang cukup beruntung 🙂

Ritual Harian Pembersihan Patung Mahamuni

Ritual pembersihan Patung Mahamuni dimulai dengan bunyi tabuhan. Diikuti kedatangan biksu yang berpakain putih menuju area Patung Mahamuni. Pembersihan dilakukan oleh beberapa orang. Ritualnya sederhana “basuh” lalu “kering”. Pertama Biksu membersihkan patung Buddha kemudian mengeringkannya. Pembersihan Batung Buddha secara keselurahan secara berlahan padahal tinggi Buddha yang terbuat dari perunggu ini mencapai 4,5 meter. Setelah dikeringkan lalu patung buddha dibasuh dengan minyak Cendana baru kemudian dikeringkan lagi dengan handuk. Setelah itu baru diberi wewangian.Keunikan dari ritual pemandian Patung Buddha adalah handuk dari pembersihan patung Buddha diberikan kepada mereka yang beribadah di dalam.

Hanya sekitar 20 menit saja Ade keluar dari hiruk pikuknya turis penonton acara pemandian patung Buddha di Mandalay. Ade menuju tempat duduk manisku di lantai penuh kepuasan melihat kehidupan pagi warga lokal Myanmar, aku terkesima dengan kerajinan mereka yang datang dari berbagai penjuru untuk mengikuti proses pembersihan Patung Mahamuni.

"Nya, yuk ke Mandalay Hill!", lanjut Ade
Yuk, kataku

Kamipun meninggalkan keramaian Pagoda Mahamuni di pagi hari menuju perjalanan mengejar sunrise ke Mandalay Hill karena kami sudah sah travelling di Myanmra dengan mewujudkan what to do in Mandalay 🙂

Rincian Pengeluaran Mandalay, Myanmar Hari Keempat

Taxi dari Stasiun Bus ke Dream Guest House 5000 KS/ 2 orang

Sewa Motor seharian 12,000 KS/ 2 orang

Uang Masuk Su Taung Pyae Pagoda 1000 KS

Air Lemon 500 KS Bensin 4500 KS/2 orang

Makan siang + minum tebu 1800 KS

Bus malam dari Mandalay ke Yangoon 22,000 KS/2 orang

Parkir motor 500 KS/2 orang

Total Pengeluaran hari keempat di Myanmar

2500 KS + 6000 KS + 1000 KS + 1800 KS + 11,000 KS + 250 KS

= 22,550 KS

Tempat wisata yang dikunjungi di Mandalay, Myanmar

Sunrise Mandalay Hill, Mahamuni Image, U Bein Bridge, Kuthodaw Pagoda (biggest book in the world), Mandalay Royal Pallace, Masjid

Salam

Winny

 

Pemandangan Indah di Paris dari Sacré-Cœur, Taj Mahal ala France


I’m a big believer that your life is basically a sum of all the choices you make. The better your choices, the better opportunity to lead a happy life

By Karen Salmansohn

 

Hello World!

Paris, Maret 2017

"We have a building similar to Taj Mahal in Paris", Winny!

Itulah kalimat antusias dari Thimo ketika menemaniku di Paris untuk mengunjungi wisata yang ada di Paris. Tempat yang ingin di tunjukkan di pagi hari bernama Sacré-Cœur Basilica sebuah Gereja Katolik Roma yang terletak di butte Montmartre, tempat tertinggi di Kota Paris. Melihat antusiasnya aku sangat penasaran seperti apa bangunan yang mirip dengan Taj Mahal. Jujur aku tidak pernah bayangkan ada tempat seperti Taj Mahal di Paris dan ini bukan Masjid seperti di India tapi Gereja.

Well, i will make advice if that similar to Taj Mahal or not, 
since i have been to Taj Mahal, kataku padanya

Pagi hari kami berjalan kaki dengan menaiki tangga yang lumayan menguras tenaga. Melihat suasana Paris di pagi hari merupakan hal baru bagiku. Karena aku tidak membayangkan aku bisa menginjakkan kaki di Eropa. Maklum imipian ke Eropa merupakan impian dari sejak kuliah. Memang benar ketika kita memiliki mimpi maka mimpi itu akan terwujud sepanjang berusaha dan percaya mimpi itu akan terwujud.  Aku juga cukup beruntung karena bertemu dengan orang-orang baik selama di Eropa. Untuk di Paris, Thimolah yang menjadi guide gratisan serta menemani menelusuri Negaranya, kalau tidak aku tidak bayangkan bagaimana berbicara dengan orang Perancis, mengingat aku tidak bisa berbahas Perancis.

Hal menarik lainnya menuju ke Sacré-Cœur Basilica aku melihat bunga indah yang mulai bersemi. Memang kedatanganku ke Paris kebetulan pas musim Semi, sehingga mengingatkanku perjalanan Jepang ketika musim semi. Dan di Paris juga banyak cherry bermekaran saat musim semi. Ah betapa menyenangkan melakukan perjalanan pelarian dari rutinitas, sesekali aku mencubit pipi sendiri dan mengatakan pada diri sendiri, “Winny, ini nyata dan tidak mimpi”.

Sesampai di Sacré-Cœur Basilica, ternyata memang bentuknya sepintas mirip dengan Taj Mahal walau tidak seperti Taj Mahal total.

“Hanya bentuknya saja”

Siapa sangka Paris memiliki tempat indah, karena dalam bayanganku Paris tak jauh-juah dari Menara Eiffel atau Kota “Fashion” katanya. Namun Paris tak sekedar Eiffel, Paris itu memiliki tempat yang membuatku kaget. Bahkan dari 12 Negara yang aku kunjungi selama 1 bulan di Eropa, Paris di Perancis telah mencuri hatiku. Suka dengan Kotanya serta penataannya yang rapi 🙂

Bersama Thimo kami antri untuk masuk kedalam Gereja. Pengamanannya cukup ketat dan barang bawaaan diperiksa oleh petugas yang mirip dengan Polisi Perancis itu. Hal ini wajar, karena masuk ke dalam Sacré-Cœur Basilica Paris tidak perlu membayar. Disinilah letak kekeranan di Perancis, rata-rata masuk ke dalam Gereja gratis berbeda dengan Inggris yang beberapa Gereja harus bayar terutama Gereja terkenal. Namun di Perancis masuk ke Museum itu bayar, sementara di Inggris kebanyakan museum itu gratis.

Di dalam Sacré-Cœur Basilica Paris, beberapa turis beribadah sehingga pengunjung harus menjaga ketenangan. Di dalam Gereja seperti gereja pada umumnya perbedaannya hanyalah interior di dalamnya dengan gambar Yesus di atasnya berbentuk lonjong. Gambar ini mengingatkanku akan Istanbul, “Hagia Sophia”. Tentu saja mozaiknya berbeda, dan entah kenapa aku malah mengingat mozaic di Hagia Sophia.

So, what do you think, is not it beautiful?, tanya Thimo kepadaku

Well, trust me its good, but Hagia Sophia is more wonderful, jawabku

Emang aku agak kurang ajar, padahal Thimo sudah semangat malah aku mengatakan perbandingan yang tak sama. Padahal dari sejarah Sacré-Cœur Basilica Paris sendiri lumayan menarik. Walau demikian dipastikan di dalam Sacré-Cœur Basilica Paris aku hanya bisa bertahan 5 menit saja. Padahal menunggu antrian masuk 30 menit padahal masih pagi hari.

Sacré-Cœur Basilica Paris

Keluar dari Sacré-Cœur Basilica Paris, pemandangan Paris di pagi hari sungguh “menghipnotis”. Itulah pemandangan terindah yang pernah aku lihat selama di Eropa. Langsung membuatku bahagia melihat dedaunan dari pepohonan serta pemandangan Kota Paris dari atas.

Ah, aku jatuh cinta pada pemandangan KOTA PARIS dari Sacré-Cœur Basilica!

Bahkan tempat Sacré-Cœur Basilica Paris sering dijadikan tempat lokasi shooting di beberapa film. Di depannya bahkan ada sebuah patung yang kalau tidak seksama aku berpikir itu patung. Ternyata bukan, itu adalah seorang ibu yang dicat mukanya berwarna putih berdiri bak Patung. Terus aku teringat akan manusia patung di Kota Tua, ternyata di Paris ada juga.

Menikmati pagi hari dengan melihat Kota Paris dari atas merupakan awal yang menarik untuk menjelajah Paris. Yah aku senang, senang bisa memiliki kesempatan menikmati Pemandangan Indah di Paris dari Sacré-Cœur, Taj Mahal ala France 🙂

King Saint Louis Statue

Alamat The Sacre Coeur Basilica

35 Rue du Chevalier de la Barre,

75018 Paris, France

Jadwal Buka Sacré-Cœur

Setiap hari jam : 06:00 – 22:30

Salam

Winny

Sunset di Shwesandaw Pagoda Old Bagan, Myanmar


Very little is needed to make a happy life, it is all within yourself, in your way of thinking

By Marcus Aurelius

Bagan Plains with the Dhammayangyi on the left
Pemandangan Dhammayangyi Temple

Hello World!

Old Bagan, Februari 2017

Setelah adegan ban bocor telah diperbaiki oleh dua montir dadakan dari tempat penyewaan sewa karena selfie akut, perut yang lapar tidaklah bisa berbohong. Belum lagi cuaca yang panas membuat kami memutuskan kembali menuju ke New Bagan untuk mencari makan siang. Dengan dua sepeda motor listrik yang kami sewa, kami bertiga kembali bersepedahan kearah New Bagan. Memang kami masih penasaran dengan New Bagan, Myanmar. Ditambah susah sekali mencari makanan disekitar Old Bagan yang penuh dengan Pagoda.

Untuk sampai ke New Bagan, membutuhkan waktu kurang lebih 30 menit dari Old Bagan. Awalnya kami hendak makan di sebuah Restauran dengan pemandangan laut namun ketika melihat harganya yang “Aduhai” akhirnya kami membatalkan serta secepat kilat dengan langkah seribu meninggalkan tempat itu dan mengambil sepeda motor listrik kami di parkiran. Ujung-ujungnya setelah capek mencari sana-sini kami berhenti disebuah cafe yang agak ramai. Tujuan kami untuk bersantai ria setelah seharian berpanas-panas di Old Bagan.

Ban Bocor di Old Bagan

Kami pun melihat menu makanan dan memilih makanan berdasarkan kesukaan. Di restauran di New Bagan, aku mendapatkan makanan yang agak “zonk” karena salah memilih “sup sayur ala tom yam” yang aku pesan murni sayuran tanpa rasa. Sampai-sampai si Ade dan Melisa terkekeh-kekeh melihat ekpresi makanan yang aku pesan ketika datang tidak sesuai dengan harapan. Beruntunglah Melisa dan Ade membeli makanan yang agak mahal namun rasa lumayan. Ini jadi pelajaran buatku kalau ke Myanmar jangan pernah pesan yang namanya “tom yam” atau “soup vegetable” karena harga menentukan rasa. Apalagi memesan makanan yang murah, siap-siap rasanya sesuai dengan harga.

Bayangkan saja sayur tok dengan kuah ala-ala 😦

Lokal Myanmar (Photo: Melisa)

Setelah kenyang makan di New Bagan, barulah kami kembali ke Old Bagan untuk mengejar sunset Old Bagan, harapannya  sebanding fenomenalnya dengan sunrise Old Bagan.

Nah pas perjalanan pulang si Ade kebelet ke toilet, untungnya ke tempat peribadatan tempat makan mie ubek-ubek pakai tangan tadi pagi ternyata memiliki toilet. Makanya Ade sempat berhenti sementara. Kalau tidak, entahlah nasib si Ade menahan kebelet sepanjang jalan.

Oh ya untuk perjalanan bersepeda motor listrik sepanjang Old Bagan-New Bagan cukuplah seru karena Pagoda dan templenya yang bertaburan dengan ukuran yang berbeda-beda. Bahkan kami sempat berhenti disebuah Pagoda yang mirip istana dengan tembok berbentuk persegi panjang sekelilingnya. Bak kami berada di masa lampau, seperti itulah keseruannya. Tapi jangan ditanya apa informasi dari Pagoda tersebut karena tulisannya tidak kami mengerti. Bahkan Ade mengatakan “tulisan cacing” yang susah dimengerti. Namun kami maafkan karena Pagodanya yang cukup indah.

Old Bagan

Setelah itu kami bertiga menuju ke Shwesandaw Pagoda untuk melihat sunset Old Bagan, Myanmar. Jujur saja, pemilihan Pagoda ini karena kami melihat begitu banyak orang, jadi kami hanya mengikuti rombongan turis yang banyak. Kamipun memarkirkan sepeda motor listrik kami dengan sembarangan lalu mengikuti rombongan turis.

Nah saat Aku dan Ade mengikuti rombongan turis ternyata si Melisa berpisah dari kami karena hendak mengambil photo Shwesandaw Pagoda dari depan. Agak cukup lama aku dan Ade menunggu Melisa di tangga menuju ke Shwesandaw Pagoda. Hingga menunggu sekitar 30 menit lalu Melisa kelihatan

Mel, kemana dirimu?, tanya kami
Tahu gak aku tadi katahuan gak punya tiket, wkwkwk katanya dengan tertawa lepas

Where is your ticket to Bagan?, tanya petugasnya kata Melisa
I left at hotel, kataku
Kalau gak bisa mate kata Melisa

Dirimu sih Mel, pisah dari kami

Aku kan tadinya mau ngambil photo eh malah ketahuan, katanya

Akhirnya aku dan Ade tertawa melihat kejadian yang baru dialami Melisa. Untung muka kami kayak muka lokal yah Mel, untung dirimu gak dideportasi 😀

Shwesandaw Pagoda

Setelah berkumpul akhirnya kami menaiki tangga yang super membuat bulu kudukku berdiri. Tahu sendiri aku paling phobia dengan ketinggian. Kalau bisa ngesot, maka ngesot deh biar sampai keatas. Belum kemiringan tangganya sangat curam dan miring. Perlu kehati-hatian tingkat tinggi untuk sampai ke Puncak, ditambah ramainya antrian hendak naik. Kalau bukan disemangati Melisa dan Ade mending aku tidak usah melihat matahari terbit dari atas Pagoda daripada menahan ketakutan. Tapi anehnya aku sampai juga dipuncak Shwesandaw Pagoda dengan usaha yang luar biasa.

Sesampai di atas Shwesandaw Pagoda begitu ramai, ramai turis yang juga menunggu sunset dari Pagoda. Bahkan kami harus berkeliling Pagoda memutari untuk mencari celah menikmati Pagoda di Bagan dari atas. Melisa dan Ade bahkan berphoto di ujung Pagoda seolah tak takut mati. Sementara aku yang duduk disamping saja membuat nyali sudah kecut ditambah keringat dingin dan deg-deg syer yang luar biasa, lebih deg-degan dari Cinta pertama. Begini rasanya kalau penakut akan ketinggian. Sumpah saat Melisa berdiri di ujung Pagoda dengan gaya Yoga membuatku takut, takut dia terjatuh. Belum juga tingkah si Ade yang tidur nyenyak diatas Pagoda, ampun DJ!

Kami menunggu sunset

Setelah puas berphoto dengan latar belakang Pagoda ala Old Bagan, akhirnya kami kembali menuju tempat melihat sunset diantara turis yang super padat. Sunset Old Bagan sangat bagus, sebagus saat sunrise hanya saja tidak ada balon udaranya. Walau kami harus rela berdesak-desakan diantara keramain turis dan bersempit-sempitan demi “photo sunset Old Bagan”. Memang dibalik photo indah ada turis ramai yang menunggu.

Sunset di Old Bagan berbeda karena adanya latar belakang ribuan Pagoda serta pegunungan dan bersembunyi dibalik sebuah air.

Pemandangan apik!

Tidak sia-sia berjuang naik dengan tangga miring yang menggetarkan jiwa serta kesumpekan turis.

Sunset Old Bagan dari Shwesandaw Pagoda
Nya, aku senang akhirnya bisa lihat sunrise dan sunset 
sekaligus di Old Bagan, Myanmar, kata Ade dengan bahagia

Yah perjalanan Old Bagan, Myanmar kami memang penuh cerita.

Salam

Winny

Pengalaman Kocak di Thatbyinnyu Temple, Burma


It is strange to be known so universally and yet to be so lonely

By Albert Einstein

Hello World!

Burma, Februari 2017

Setelah mengelilingi Old Bagan dan adegan gokil di depan Pagoda, akhirnya aku, Melisa dan Ade melanjutkan perjalanan kami ala backpacker di Bagan dengan sepeda motor listrik. Dengan cuaca yang panas kami berhenti di Pagoda yang menurut kami cakep. Bahkan ada satu Pagoda yang cukup mencuri perhatian kami yaitu Pagoda yang didepannya ada kaktus. Kaktus inilah bukti kalau di Old Bagan lumayan panas, dan satu lagi di Old Bagan itu lumayan gersang dan berdebu sehingga perlu membawa masker.

Sekali lagi mengelilingi Pagoda di Old Bagan cukup menyita waktu karena Pagodanya yang super banyak sekali. Jadi tidak mungkin mengunjungi satu persatu.  Bahkan dalam pemilihan Pagoda yang kami kunjungi berdasarkan Hingga kami menuju ke Thatbyinnyu temple di Old Bagan karena warna Pagodanya berwaran putih.

Di Thatbyinnyu temple, aku membeli buah potong karena pas di Old Bagan pas siang hari panas maka perlu banyak minum. Sementara si Ade dan Melisa mencoba minum es di depan Pagoda. Kali ini mereka minumnya kena zonk karena minuman mirip Cendol warna hitam ternyata diubek-ubek pakai tangan juga. Tapi si Ade dan Melisa minum juga cendol ala Myanmar yang diaduk dengan tangan. Karena sudah terlanjur dibeli dan haus juga akhirya si Ade minum juga cendol yang diubek-ubek tadi.

Dalam hatiku, untung gak beli minuman ubek pakai tangan. Tapi anehnya meski diubek pakai tangan, si Ade dan Melisa sehat-sehat saja, tidak terkena diare. Kalau ingat adegan ini malah ingin tertawa sendiri.

Setelah minum kamipun melanjutkan perjalanan kami untuk mencari makan siang. Tapi entah kenapa kami berteduh di dekat Thatbyinnyu Temple.

Nya Tolong dong ambilin photoku di depan Pagoda sambil bersepeda, kata Ade

Ini bisa mmephoto 10 photo dalam 1 detik, lanjutnya

Kayak gini ya caranya, kata Ade melanjutkan

Nanti setelah itu gantian aku ambilin photomu, katanya

Oh ya di ola Bagan, masyarakatnya memanfaatkan ban bekas menjadi tempat sampa. Tempat sampah dari ban bekas di Old Bagan cukup unik  kreasi sehingga indah untuk dilihat. Hal ini patut dicontoh, semoga di Indonesia bisa juga ya 🙂

Thatbyinnyu Temple

Kemudian saat mengambil photo Ade dengan latar belakang PAGODA eh tiba-tiba sepeda listriknya bannya bocor. Oh no, padahal kami belum makan siang dan belum ke New Bagan. Bahkan kartu Myanmar saja kami tak punya. Untungnya ada nomor telepon tempat peminjaman sepeda motor listrik di sepeda motor listrik.

Akhirnya dengan inisiatif aku mencoba meminta bantuan orang lokal untuk menelepon tempat penyewaan sepeda motor kami. Sayangnya orang lokal tidak bisa bahasa Inggris akhirnya pakai bahasa Tarzan dengan menunjukkan handphone dan sepeda yang bannya bocor Untungnya si orang lokal mengerti dan menelepon pihak penyewaan motor kami. Jujur disini kami sempat khawatir tapi kami tetap asik saja. Aku, Melisa dan Ade sempat bersantai ria di bawah pohon karena ban sepeda motor listrik yang bocor sambil menunggu montir datang.

Padahal kami juga tidak tahu dimana tempat ban bocor kami. Nah pas penungguan montir untuk memperbaiki sepeda motor, kami benar-benar menikmati kebersamaan malahan masih sempat photo suka-suka.

Penantian kami hanya 20 menit saja, montir kami datang. Disini kami melihat proses penggantian ban dengan lem. Kedua montir yang memperbaiki sepeda motor kami masih muda. Si Ade paling suka mengganggu mereka dengan Bahasa Indonesia, kadang ngomong pakai Bahasa Inggris padahal montirnya ngerti juga kagak. Aku dan Melisa tertawa saat Ade mengganggu mereka. Beruntung memang kami karena meski ban bocor dan tidak tahu dimana, tapi mereka dapat menemukan kami dan sigap memperbaikinya. Kalau tidak bisa dorong sepeda listrik dengan perut lapar.

Pelajaran yang berharga yang kami dapat ialah “gegara photo maka ban kami pecah”. Beginilah kalau sudah terkena selfie akut. Anehnya disitu kekocakan trip di Old Bagan, Myanmar kami. Kapan lagi coba merasakan ban pecah gegara asik berphoto tapi malah menjadi momen lucu-lucu bagi kami.

Rincian Pengeluaran Old Bagan, Myanmar Hari Ketiga

Taxi dari Highway bus Station ke Nyaung-U 24,000 KS/ 3 orang

Sewa e-bike seharian 12.000 KS/3 orang (2 e-bike)

Sarapan mie 2600 KS/3 orang

Minum kelapa 3000 KS/3 orang

Tiket bus Malam Old Bagan-Mandalay 22,000 KS/2 orang

Total Pengeluaran hari ketiga di Myanmar

8000 KS + 6000 KS + 870 KS + 1000 KS + 11,000 KS

= 26,870 KS 

Tempat wisata yang dikunjungi di Old Bagan, Myanmar

Melihat Sunrise dengan latar belakang balon udara dan candi serta puas keliling Old Bagan dan menelusuri Candi-Candi di Old Bagan serta melihat sunset di Old Bagan

Salam

Winny

Jelajah Old Bagan dan New Bagan, Myanmar


Success in life comes when you simply refuse to give up, with goals so strong that obstacles, failure and loss act only as motivation.

By Unknown

Hello World!

Old Bagan, Februari 2017

Setelah sarapan dan perutpun kenyang dari makan mie ubek-ubek pakai tangan khas ala Myanmar, aku, Ade dan Melisa melanjutkan perjalanan ke New Bagan. Jujur ke New Bagan itu hanya mengikuti insting karena setelah puas melihat matahari terbit Old Bagan yang fenomenal, kegiatan kami berikutnya adalah acara bebas. Bahkan bebas dalam mencari objek wisata apa yang ingin kami kunjungi. Namun karena di Old Bagan banyak sekali Pagoda dari satu meter sudah ada Pagoda maka kami sedikit bingung Pagoda mana yang akan kami singgahi terlebih dahulu. Akhirnya kami berhenti di Pagoda yang menurut kami enak dipandang mata karena jika ingin mengunjungi satu persatu tidaklah mungkin mengingat jumlah Pagoda di Myanmar itu ribuan bahkan mungkin jutaan, jadi niat mengunjungi semua Pagoda dalam sehari itu dalam sehari adalah pekerjaan mustahil.

Saat makan Mie Melisa sempat menunjuk Wanita berleher panjang Myanmar,
dimana sebelumnya kami sudah puas bertemu di Inle. Si Ibu lewat dengan jalan kaki.

Win, Ade, lihat ada wanita berleher panjang, 
kata Melisa dengan semangat 45

Gegara  melihat wanita berleher panjang lewat maka kami yang awalnya niatin ke New Bagan malahan berubuah tujuan mencari wanita berleher panjang Myanmar. Wanita berleher panjang Myanmar kami temukan di salah satu penjual kain tenun. Entah kenapa namun rata-rata wanita berleher panjang di Myanmar yang kami jumpain bekerja sebagai penenun.

Baca juga pengalaman Wanita berleher panjang Myanmar

Bagan, Myanmar
La Min Aein, Long Neck Women Myanmar

Dengan motor listrik, kamipun berhenti di tempat tenun ibu berleher panjang. Hanya saja kami singgah hanya sebentar saja karena kami tidak ada niat untuk membeli tenunan serta alasan lain karena kami sudah puas bertemu dengan wanita berleher panjang di Inle, Myanmar.

Tanpa basa-basi akhirnya kami melanjutkan perjalanan kami dan menjauh dari tempat si ibu Myanmar yang sedang menenun menuju ke Pagoda yang kami lewati di pagi hari. Pemilihan Pagoda pun dikarenakan jaraknya dekat dengan tempat La Min Aein, wanita berlehar panjang yang kami singgahi serta kami tertarik melihat keramaian orang yang berada di kawasan Pagoda tersebut.

Bentuk Pagoda yang kami kunjungi setelah Pagoda untuk sunrise Bagan, mirip dengan Pagoda yang di India. Bentuknya bulat dengan warna merah bata. Mirip stupa dengan gaya yang khas. Jujur aku sangat suka dengan Pagoda yang kami datangi setelah Pagoda saat melihat matahari terbit. Kami bahkan sempat masuk kedalam komplek Pagoda untuk melihat apa yang ada di dalam Pagoda. Sekedar ingin menjawab rasa penasaran kenapa ramai pengunjungnya. Untuk masuk ke dalam Pagoda sebelumnya kami membuka sandal/sepatu dan kaos kaki kami karena peraturan di Myanmar jika ingin masuk ke area Pagoda/Candi maka harus membuka alas kaki.

Masuk ke dalam Pagoda, kami melihat beberapa biksu serta pengunjung yang beribadah.  Semakin berjalanan mengelilingi kawasan Pagoda, kami malah melihat hal menarik berupa “Patung Buddha yang dimandikan” oleh pengunjung. Hal ini tentu asing bagiku, Melisa dan Ade namun menambah wawasan kami.

“Lihat tuh Mel, Patungnya dimandiin, gak kayak kita gak mandi-mandi”, kata Ade

Mendegar ocehan Ade membuatku geli tak karuan karena memang kami belum mandi sejak dari perjalanan Singapura-Yangon-Inle dan Bagan. Untukku sudah 4 hari tidak mandi-mandi dan rasanya “butuh air segar untuk mandi”. Untuk Ade dan Melisa mungkin 3 hari belum mandi, sehingga melihat patung dimandikan itu rasanya iri setengah mati. Kami merasa seperti kambing, disini kami merasa pejalan hina hihihi 😀

Old Bagan
Old Bagan
Old Bagan
Old Bagan

Setelah puas cuci mata Pagoda Old Bagan, kami keluar dan meneluri Pagoda lainnya di kawasan Old Bagan karena memang saat berada di OLD Bagan maka jarak satu meter terdapat Pagoda. Kami pindah dari satu Pagoda ke Pagoda lainnya, kali ini kami memilih mundur ke Pagoda yang di tepi jalan yang sempat menarik perhatian kami. Memang rata-rata Pagoda di Old Bagan itu gratis, beberapa memang bayar namun kalau membayar uang masuk Kota Bagan maka masuk ke Pagodanya gratis. Lah kami adalah turis gelap sehingga kami mainnya ke Pagoda gratisan. Kalau kami masuk ke Pagoda yang turistik bisa-bisa kami dideportasi karena tidak memiliki bukti pembayaran tiket masuk Kota Bagan. Tapi tenang, Pagoda di Old Bagan cukup banyak untuk menerima hasrat gratisan kami.

Kendala saat menghampiri Pagoda di Old Bagan adalah susah mencari jalan ke Pagodanya, bahkan Ade dan Melisa berpikir dua kali bagaimana cara masuk, akhirnya kalau ada sedikti tanda-tanda jalan maka kami lewat kesitulah kami. Jalanannya pun berdebu, terus semak-semak belukar sampai duri-duri. Kalau ada jalanan aspal itu adalah jalanan utamanya, kalau ke Pagodanya harus melewati jalanan kecil setapak.

Pencarian Pagoda di old Bagan kamipun termasuk impulsif banget, singgah di Pagoda yang kami sukai saja. Saking banyaknya Pagoda yang kami singgahi, kami sampai tak tahu nama Pagodanya. Kami hanya melihat sekilas karena untuk informasi mengenai Pagoda pun menggunakan Aksara Myanmar.

Bye untuk memahami sejarah dari Pagoda di Old Bagan.

Old Bagan

Waktu kami menjelajah Old Bagan sangat terik matahari namun kami sangat menikmati perjalanan kami. Bahkan kami rela melewati semak-semak belukar demi bisa mendekat dengan Pagoda. Bentuknya yang unik seolah berkata “come closer”.., wkakak

Keunikan Pagoda di Old Bagan adanya patung Buddha di dalam Pagoda. Kami sempat penasaran ada apa di dalam Pagoda, ternyata ada Patung Buddhanya walau tidak semua Pagoda memiliki Patung Buddha di dalamnya. Kadang membuat kaget, lihat di dalam apaan eh ada patungnya.

Yang parah saat aku kebelet pipis di Pagoda Old Bagan. Nyari WC kagak ada terus kebeletnya minta ampun. Terus si Ade nakut-nakutin “jangan pipis sembarangan”, apalagi di Pagoda. Akhirnya jadilah menahan pipis. Dan sungguh menahan pipis tidak sangat menyenangkan, apalagi punya teman yang gokilnya minta ampun malah semakin memicu. Belum lagi adegan lucu kami saat berpose di depan Pagoda bersama Ade, asli kami kurang kerjaan.

Kami bertiga memang agak kurang kerjaan dimana kami benar-benar menikmati perjalanan Old Bagan kami. Malahan pas capek setelah beradegan lucu di depan Pagoda, akhirnya kami bertiga malah ngerumpi di depan Pagoda sambil berteduh. Mulai dari curhat perjalanan, kehinaan selama perjalanan hingga masalah kerjaan yang tak jelas. Memang sangatlah luar biasa kami bertiga jauh-jauh ke Old Bagan ujung-ujungnya malah curcol di Pagoda.

Aku cukup beruntung berjalan dengan dua teman yang seru habis:)

Old Bagan
Old Bagan
Melisa di old Bagan
Old Bagan
Old Bagan

Rincian Pengeluaran Old Bagan, Myanmar Hari Ketiga

Taxi dari Highway bus Station ke Nyaung-U 24,000 KS/ 3 orang

Sewa e-bike seharian 12.000 KS/3 orang (2 e-bike)

Sarapan mie 2600 KS/3 orang

Minum kelapa 3000 KS/3 orang

Tiket bus Malam Old Bagan-Mandalay 22,000 KS/2 orang

Total Pengeluaran hari ketiga di Myanmar

8000 KS + 6000 KS + 870 KS + 1000 KS + 11,000 KS

= 26,870 KS 

Old Bagan

Tempat wisata yang dikunjungi di Old Bagan, Myanmar

Melihat Sunrise dengan latar belakang balon udara dan candi serta puas keliling Old Bagan dan menelusuri Candi-Candi di Old Bagan serta melihat sunset di Old Bagan

Salam

Winny

Backpacker ke Vatican, Negara Terkecil di Dunia


Love yourself first and everything else falls into line

By Unknown

Hello World

Vatican, April 2017

Sebelum melakukan trip 1 bulan di Eropa, baca juga pengalaman trip 1 bulan di Eropa, jujur aku tidak mengira kalau Vatican berada di Italia dan merupakan sebuah negara. Dalam bayanganku Vatican hanyalah sebuah Kota yang dibenakku jika Natal dipastikan akan selalu tayang di stasiun TV dengan Paus yang melambaikan tangan lengkap dengan jubah putihnya berlatar Gereja megah Vatican. Bahkan Vatican bukan tujuan utamaku ke Eropa namun saat berada di Italia barulah aku sadar kalau Vatican itu berada dalam wilayah Roma, Italia. Jadi mumpung di Italia yah sekalian ke Vatican.

Vatican sendiri merupakan negara terkecil di dunia dengan luasan hanya sekitaran 0,44 km pesegi dengan populasi penduduk 850 warga negara artinya populasi penduduk paling sedikit di dunia. Untuk bentuk negaranya berupa Monarki dengan kepala negara Uskup Agung Roma yang merangkap sebagai pemimpin umat Katolik sedunia.

Vatikan, yang sepenuhnya berada di dalam wilayah kota Roma, merupakan negara terkecil di dunia dengan luas hanya 0,44 kilometer persegi. Bahkan sejak 11 Februari 1929 Vatican sudah menjadi negara independen.

Untunglah saat berada di Roma aku memiliki kesempatan mengunjungi Vatican, sehingga tidak sia-sia aku menghabiskan sisa perjalanan Erapa itu paling lama di Italia.

Untuk menuju ke Vatican, negara suci umat Katolik sangatlah mudah terutama jika sudah berada di Roma. Waktu itu aku  turun di Metro Ottaviano dengan sekali perjalanan biaya Metro sekitar 1,3 Euro, jika 1 hour pass 3 Euro dan 24 hour pass 7 Euro (kalau tidak salah, habis lupa). Namun bagi yang lama di Roma dan ingin menjelajah semua wisata Roma maka sangat aku sarankan untuk membeli Roma Pass sehingga puas keliling Roma serta menggunakan transportasinya. Bicara transportasi di Italia itu cukup mudah loh, semua ada mulai dari Metro, kereta hingga bus.  Mempelajarinya pun mudah tinggal lihat di peta transportasi di Roma.

Peta Transportasi Roma (Sumber: Romemap360)

Keberangkatan ke Vatican pun tergol0ng cukup pagi karena dipastikan ramai pengunjung serta antusias turis. Walau sebelumnya tidak kepikiran kalau yang mendatangi Vatican itu antriannya “panjang”. Jam 8 sudah berangkat dari penginapan dari Coloseum, Roma kemudian naik Metro ke Vatican. Tujuan seharian memang menjelajah Vatican, karena kapan lagi mengunjungi negara paling kecil di dunia.

Sesampai di Metro Ottaviano, tempat berhentian jika ingin mengunjungi Vatican maka sedikit berjalan kaki menuju ke Vatican.  Jalan kaki dari Metro Ottaviano cukup asik karena banyak penjual souvenir yang murah meriah sehingga tak terasa jalan kaki. Petunjuk arahnya juga mudah, lihat saja turis kemana dan tinggal ikuti saja.

Sesampai di Vatican, betapa kagetnya aku  karena antrian untuk masuk ke dalam Vatican itu panjang pakai banget “panjannggggggg sekaliiiiiiii”. Belum cuaca yang terik tapi dingin, maklum saat kedatangan ke Eropa musim semi jadi meski kelihatan panas namun cuaca bisa 12 sampai 15 derajat Celcius. Asli melihat antrian super panjang rasa malas untuk masuk ke dalam Vatican pun mulai menyusut.

Dalam hatiku ngapain juga antri lama-lama untuk melihat sebuah Gereja, serius ini adalah kekonyolan yang pernah aku lakukan dalam hidupku. Bahkan dari pertama kali sampai jam 9 pagi baru bisa masuk ke dalam gereja Vatican itu baru jam 12 siang, artinya sudah antri 3 jam. Untuk masuk ke dalam Gereja Vatican tidak dipungut biaya alias gratis tapi kalau mau cepat masuk tanpa ngantri maka harus bayar extra.  Aku sih ogah untuk membayar, mending ngantri walau dalam hati mendumel .

What is the good things that i can see inside the Vatican Church? tanyaku
That's the biggest and beautiful Church in the world, kata hostku
Trust me you will not regret once you enter it, katanya penuh semangat
Antrian Panjang ke dalam Vatican

Setelah 3 jam antri di St. Peter Square berbentuk zig-zag melebih zig-zag ular tangga, akhirnya tercium juga hawa-hawa pintu masuk ke dalam Gereja Vatican. Pengunjung harus melewati penjagaan yang ketat terutama tas dan badan melewati scanner. Barulah jika body detector tidak mengeluarkan bunyi yang mencurigakan dan petugas merasa pendatang aman maka diperbolehkan masuk ke dalam Gereja yang katanya terluas di dunia.

Masuk ke dalam Gereja, isinya seperti Gereja pada umumnya di Eropa, bedanya di Gereja Vatican terdapat karya Michael Angelo yang fenemonal “Sistine Chappel”. Tapi karena harus bayar lagi untuk melihat Sistine Chappel Vatican, jadi aku agak ogah untuk masuk, aku kan pecinta “hratisan”. Disinilah aku merasa aku itu turis kere tingkat dewa. Begitulah memang kalau tidak terlalu antusias, kalau antias semahal apapun pasti dibayar. Lagian karena aku sudah melihat lukisan di Louvre membuatku antusiasku dengan seni berkurang, toh sudah puas di Louvre, Paris.

Melihat mukaku datar saat masuk membuat kekecewaan bagi teman perjalananku. Serius bagiku mengunjungi Vatican itu sungguh sangat biasa sekali (terus dillempar sandal karena kata-kata ini).

Padahal Sistine Chappel Vatican atau disebut Cappella Magna, berasal dari Pope Sixtus IV tahun 1477 dan 1480. Namun karena cintaku pada Euro jauh lebih tinggi akhirnya ya sudahlah…

Pintu masuk Gereja Vatican

Di dalam Basilica St. Peter Vatican, ada satu hal mencuri perhatianku yaitu ketika pengunjung antri untuk menyentuh kaki dari patung  St. Peter di dalam  Basilica, bahkan warna emas dari patung sudah memudar saking banyaknya yang menyentuhnya. Konon St. Peter dan beberapa pemimpin kristen makamnya berada di dalam Vatican. Untuk benar atau tidaknya aku kurang tahu, tapi saat melihat isi dalam Gereja memang ada tanda-tanda makam di Vatican.

Di dalam Basilica St. Peter di Vatican terdapat ruang-ruang untuk umat Katolik yang ingin beribadah tapi bagi pengunjung tidak boleh mengambil photo saat orang beribadah di dalam Basilica St. Peter di Vatican.

Keunikan lain dari Vatican adalah petugas penjaga Vatican dengan seragam yang unik berada di luar Basilica. Di dalam Vatican juga terdapat beberapa tentara yang bertugas menjaga keamanan Vatican. Sayangnya aku tidak melihat Pope alias Paus, padahal keren juga bisa melihat Paus secara langsung, kan selama ini lihatnya di TV doang. Kalau ingin lihat Paus harusnya datang pas perayaan besar keagamaan tapi dipastikan ramai sekali 🙂

Di dalam Basilica of St. Peter in the Vatican
Basilica of St. Peter in the Vatican

Hal menarik lain yang tak kalah populer dari senyum manis Monalisa di Perancis, adalah ‘Pietà’, St Peters, Rome (1499–1500) yang merupakan karya dari Michelangelo Buonarroti sejak periode Renaisans (Renaissance). Peita ini ditempatkan pada sebuah ruangan kecil dengan pembatas kaca sehingga terlihat jelas dari luar, ukurannya pun kecil saja. Sehingga pengunjung akan melihatnya dari luar. Aku sempat harus bersabar sambil nyempil-nyempil diantara pengunjung lainnya. Untungnya pengunjung Vatican kondusif sehingga tidak ada adegan jambak-jambakan apalagi marah-marah, rata-rata tenang dan sabar menunggu antrian.

Come here, you should see Pieta, the Virgin and Christ, 
The Rome Pieta is an emotionally charged incarnation of a mother cradling
her lifeless son, katanya dengan semangat

Padahal seriusan kalau tidak dikasih tunjuk aku tidak tahu kalau Pieta ini sepopuler dengan Monalisa. Hal ini wajar karena Michelangelo dan Leonardo da Vinci masih dalam satu periode yang sama. Pantas saja banyak sekali pengunjung ke Basilica St. Peter di Vatican serta paling banyak antri di depan Pieta. Bahkan pengunjung rela berpanas-panas, antri demi masuk kedalam Vatican. Memang kebanyakan tujuan turis ke Vatican ialah beribadah. Sementara aku tujuannya ialah menambah daftar negara yang dikunjungi dalam bucket listku hehe 😀

Pietà

Rincian Pengeluaran di Vatican

08:00-09:00 Menuju Vatican Keliling Vatican

09:00-10:00 Antri sampai 3 jam demi masuk ke Vatican

10:00-12:00 Keliling Vatican dan melihat karya Michael Angelo

12:00-13:00 Makan Tonnarelli 11, 5 Euro

13:00- 14:00 Makan es krim dekat Vatican

14:00-18:00 Makan di Janta 20,25 Euro

18:00-20:00 Kembali ke penginapan

Biaya yang dikeluarkan di Vatican = 11, 5 Euro + 20,25 Euro = 31,75 Euro

Pemandangan dari luar Basilica of St. Peter in the Vatican

Selain melihat karya besar Michaelangelo, kegiatan di Vatican yang tidak boleh dilewatkan adalah mencoba es krim ala Italia yang super terkenal atau sering disebut “Gelato” tak jauh dari Vatican melalui pintu keluar tinggal lurus aja. Gelato di Vatican meruapakan gelato terenak yang pernah aku coba. Rekomended banget!

Menikmati Gelato dapat mengobati rasa capek setelah antian panjang masuk kedalam Basilica walau setelah itu amandelku pun kumat 🙂

Salam

Winny

Backpacker Keliling London dengan 2 Poundsterling


Sometimes, things may not go your way, but the effort should be there every single night

By Michael Jordan

Hello World!

London, April 2017

Salah satu Kota impian dari kecil yang ingin aku kunjungi adalah London. Paling tidak beberapa teman yang pernah aku jumpain terutama yang tinggal di Eropa pasti tahu kalau Inggris merupakan negara top list yang ingin aku kunjungi, bisa dibilang impian sejak masih SMP. Bahkan acap kali aku diberikan pertanyaan alasan menapa begitu terobsesi dengan London. Mungkin bisa jadi gara-gara efek sihir Harry Potter, maka aku “harus ke Inggris”.

Winny, Why London? 
Do not you know that London is expensive city in this world? 

Because British Accent is sexy, begitu jawabku dengan polosnya 
kepada siapapun yang penasaran kenapalah aku fans Inggris banget

Saking ngebetnya ke London, aku rela bela-belain ngurusin Visa yang priority, padahal yah, visa biasa saja sudah mahal apalagi yang prioritas. Alasannya sih sederhana karena mumpung lagi di Eropa maka sekalian saja ke Inggris. Sehingga walau mahal dibela-belain juga proses Visa Inggrisnya. Disini jadi pelajaran banget kalau ingin mengurus Visa Inggris dari jauh-jauh hari, jangan mepet-mepet.

Baca Pengurusan Visa Inggris

London Eye
Alasan klise lainnya kenapa harus mengunjungi London karena dialam benakku begitu keren gitu melihat Big Ben, apalagi kalau bisa naik bus tingkat merahnya itu. Bahkan dulu waktu ke Bukittingi di tahun 2010 demi mencari Babang Manis, aku sempat bela-belain lihat Jam Gadang dan berharap bisa suatu saat mengunjungi Big Ben sebagai perbandingan. Namun apa daya, ternyata imaginasi tak seindah kenyataan.

Ternyata mata uang Inggris tak sesexy aksen Bahasanya!!

Yah mata uang Poundsterling memang mata uang paling mahal bila dibandingkan dengan Euro maupun Dollar Amerika, itupun mata uangnya sudah turun dari Rp18,000 menjadi sekitar Rp16,000 namun tetap bagiku yang sudah backpacker turun tahta jadi begpacker itu termasuk “MAHAL”. Euro saja sudah membuatku keringat dingin apalagilah Poundsterling. Disini aku merasa sedih betapa kurs Rupiah sangat rendah!

Jadi selamat tinggal Misi “Backpacker di London”.

Memang London semahal itu?

Jawabanya sih relative karena mahal tidaknya itu tergantung persepsi orang, namun buatku biaya di London itu “iyes mahalnya”.

Sebagai gambaran, pas baru saja aku mendarat di London, buru-buru aku mengirim pertanyaan ke temanku yang dulu aku kenal di Bukit Lawang bernama Maura mengenai London.

Hey Maura, this is Winny, i will be arriving on this noon in London, 
can we meet up?, begitu pesanku dari aplikasi Whatsapp

Welcome to London, dear! Do not forget to buy London pass, 
it might be around £90, katanya.

Melihat informasi “£90”, langsung aku berpikir apa perlu memberli turis pass London seharga 90 Poundsterling?

Mak itu kalau di Rupiahkan jeti-jeti loh! Makanya tidak usah di Rupiahkan karena pusing sendiri jadinya.

Alhasil pas sampai di Bandara, aku menukarkan uang 100 Dollarku ke Pound sterling dan hanya dapat seuprit. Karena begitu keluar dari Bandara menuju ke stasiun kereta betapa shock jantungnya aku membayar £ 15 dari Bandara ke tempat penginapan di London.

Itupun baru sekali jalan saja!

Maklum sebagai pecinta “hratisan” dan tipe pejalan “murce-muriah ceria”, menghabiskan uang mahal-mahal di transportasi itu sungguh membuat hati memberontak. Hahaha 😀

Baru awal saja aku sudah kipas keringat duluan, yah London memang tidak cocok dengan pekerja kantoran tapi kantong mahasiswa sepertiku!

London
Tidak sampai disitu, pas hendak makan mencoba Fish and Co satu porsinya 10 Pound sterling, karena memang salah satu yang fast food yang terkenal di Inggris adalah fish and Co, bahkan kalau ke Inggris tidak makan fish and Co bukanlah ke Inggris katanya. Memang dari segi porsi sangat banyak dan mengenyangkan, namun kalau aku Rupiahkan yang 10 Pound sterling di Indonesia aku sudah bisa makan Sate, gado-gado, pecel, ayam penyet, Martabak dan lain-lain. Tapi ini bukan di Indonesia, ini sedang di London, Bu yang semua-semua serba mahal. Namun tetep meski mahal karena lapar yasudah makan saja. Apalagi aku adalah tipe pejalanan yang tidak bisa menahan lapar, biar mahal yang penting makan.

Untuk makanan di London, fast food adalah pilihan terhemat kalau sedang jalan-jalan di London, kalau restoran say no dah di London apalagi tipe pejalannya on budget. Sekali makan saja misal kaya di McD itu kena 4-5 Pounds, terus  belum harga satu botol minuman air itu syukur-syukur kena 1 Pounds, kadang-kadang kena 2 Pounds.

Transportasi Kota London juga tak kalah mahalnya. Bayangkan naik sekali tube (kereta api bawah tanah London) bisa kena 4 pounds meski itu jaraknya dekat. Bayangkan itu sekali stasiun aja dekatnya kena segitu apa gak bangkrut lama-lama di London. Uang 100 Dollar Amerika yang aku tukar aja tak sampai sehari sudah “ludes”.

Gara-gara tidak terima kemahalan akan Kota London, akhirnya memutar otak “bagaimana cara hemat keliling London”. Memang Tuhan itu sangat sayang kepadaku, karena pada akhirnya aku mendapat ilham untuk berhemat di London.

Sebelumnya aku sudah membuat tujuan wisata di London terutama yang dekat-dekat dengan Big Ben, barulah dari sana kemana-mana. Meski tujuan utama ke London ada dua yaitu mencari ATM BNI di London yang hanya ada satu-satunya di Eropa serta pergi ke Topshop mengambil barang pesanan Yuki. Untuk alamat Bank BNI di London berada di 30 King St, London EC2V 8AG, UK. Selebihnya random keliling wisata London. Dengan bermodalkan peta dari penginapan di London, akhirnya menggunakan kereta ala London yang sekali jalan bisa kena 3 Pounds menuju stasiun terdekat ke arah Big Ben.

London Map (From Web Myenglandtravel)
Belum sampai dan masih jauh dari Big Ben eh akhirnya pas asik-asik keliling London, tiba-tiba aku melihat sepeda berjajar nganggur yang ternyata disewakan. Sepeda yang berada di tepi jalan dan ada petunjuak bagaimana cara memakainya. Itu dari hasil melihat warga lokal yang mengambil sepeda dengan mudahnya, Harga sewa sepeda pun cukup membuat bibirku sumringah tak karuan hanya 2 Poudsterling saja seharian penuh. Namun bayarnya memang pakai CC alias kartu kredit.

Padahal aku tidak punya CC sama sekali loh!

Beruntungnya bisa dipakai sepeda dan ide gila keliling London bersepeda alias gowes cantik di London pun terjadi. Habis mau gimana rencana gowes di Indonesia malah kecapain gowes di London saking tak tahan degan mahalnya transportasi London.  Aku kan gak ikhlas memberikan 3 Pounds setara dengan Rp50.000 kalau kurs 1 Pounds = Rp16,000 untuk sekali jalan. Maka pilihan terbaik ada bersepeda keliling London. Padahal jangan tanya gimana cuaca di London saat April, dingin!! Belum pas hari-H hujan pula, makin menjadi-jadi dinginnya. Belum salah kostum yang aku pakai, ini asli semua demi jalan hemat di London.

Pertemuan dengan sepeda tadipun karena adegan setelah tidak berhasil mengambil uang di BNI, London. Disana tidak ada tanda-tanda ATM BNI adanya Bank itupun tutup karena hari Sabtu padahal sudah bela-belain jauh-jauh demi mengambil uang. Meski apes justru membuatku mendapatkan cara hemat keliling London dengan sepeda sewaan .

Asli, pikir dua kali sih kalau Backpacker ke London 😉

London
Jujur tidak pernah aku bayangkan bisa mengelilingi London dengan puas bersama sepeda. Kelilingnya pun sesuka hati kemana yang diinginkan. Seolah tahu jalan, padahal baru juga hari kedua di London, bak familiar.

Selama keliling London dengan bersepeda seharga 2 Poundsterling ada beberapa tempat yang bisa aku kunjungi terutama wisata London yang terkenal seperti:

1. Big Ben

Dengan mengayuh sepeda sambil mengandalkan peta offline di HP maka pilihan pertama adalah Big Ben, jam super terkenal dari London. Ketika sampai di JEMBATAN yang dekat dengan Big Ben, rupanya beberapa hari sebelumnya terjadi kejadian yang kurang mengenakkan disekitarnya. Sampai-sampai Yuki ngirim pesan untuk waspada mengenai teror yang terjadi. Untungnya pas aku ke Big Ben, aman jaya bahkan banyak juga pengunjungnya. Sayangnya cuaca kurang bersahabat karena agak mendung sehingga pas sampai di Ben Ben yang terucap dalam hati “Kok Big Ben biasa saja?”! Kalau menurutku itu Big Ben itu biasa. Begini nih kesahalan kalau harapan terlalu tinggi.

Bahkan warna Sungai Themes itu cokelat tapi yah memang bersih.

Entah kenapa aku merasa mengeliling London pada malam hari lebih menarik daripada siang hari.

Big Ben
2. Buckingham Palace

Buckingham Palace
Menuju Buckingham Place dari Big Ben tidak lah sulit dan lumayan dekat. Namun sayangnya pas sampai di Buckingham momennya tidak tepat karena sedang ada shooting di lokasi luar istana. Alhasil tidak leluasa melihat Buckingham dari luar. Bahkan untuk masuk ke area komplek Buckingham sepeda tidak diperbolehkan. Terpaksalah sepeda didorong pelan-pelan masuk di jalanan setapak yang sudah dibuat orang shooting. Sampai aku sempat sebel sama yang shooting karena merusak pemandangan saat di Buckingham. Memang mungkin saat ke London timingku tidak tepat. Alhasil melihat tentara ala Inggris pun gagal. Boro-boro membayangkan istana cantik dengan taman bunga indah di depannya seperti yang aku lihat di postcard yang ada yang aku lihat di depan Istana adalah kerumunan manusia ditambah kru yang sedang membuat film. Pupus sudah harapan melihat kegantengan Pangeran Harry apalagi mencium tangan Ratu Elizabeth. Bye dah impian! Hiks 😦

3. London Eye

London Eye and Bus
London Eye semacam bianglala yang tak kalah terkenalnya di London. Tapi seperti biasa karena takut ketinggian dipastikan aku tidak mau menaikinya. London Eye pun dekat dengan Big Ben sehingga sekaligus satu area dapat mengunjungi beberapa spot wisata terkenal di London. Padahal aku penasaran juga naik ke atasnya namun karena rasa takut lebih besar daripada keinginan, cukup melihat dari jauh saja sudah cukup.

4. Oxford Street

Oxford Street
Mengunjungi Oxford Street London memang karena permintaan Yuki, si butet Blogger yang sebelumnya sudah ke London. Hanya saja waktu itu dia tidak beli sehingga nitip aku ambilkan. Karena sayang teman akhirnya aku bela-belainlah bersepedamencari dimana letak Topshop sepanjang Jalan Oxford Street London. Tokonya pun susah sekali dicari sampai ada nyasar-nyasar 3 kali keliling, padahal kondisi sepatu juga tidak bersahabat.

Iya lagi-lagi sepatuku rusak, asli setiap perjalanan aku selalu mengalami sepatu rusak. Bahkan sepatu yang aku beli di Jepang dan baru sekali pakai tetap tak bertahan namun apa daya pas gowes rusak parah. Kebayang kan betapa menyedihkannya bersepeda dengan keadaan sepatu rusak.

Pas di dalam Topshop banyak sekali harga miring yang cukup membuatku hampir “hilap”. Bayangkan satu sepatu saja Rp500.000 yang paling murah itupun sudah diskon gede-gede. Untung pertahananku cukup tinggi sehingga tidak membeli sepatu di Topshop ini. Kalau di Jakarta Oxford Street ini seperti berada di area Segitiga Emas Jakarta Kuningan-Thamrin-Sudirman yang penuh dengan shopping mall.

Walau jujur ada enaknya ketika berjalan di area Oxford Street London karena merupakan area untuk shopping. Walau dipastikan aku hanyalah kurir barang saja namun lumayan cuci mata toko-toko.

Oxford Street London memang cocok bagi si Shopaholic!

5. British Museum

British Museum
British Museum di London merupakan tempat yang sangat aku suka. Memang tak seindah dan selengkap di Louvre Museum di Paris namun mengelilingnya seru sekali. Bahkan aku melihat Mummi asli di Bristih Museum. Kerennya lagi masuk ke dalam British Museum itu “hratis” alias gratis tis tis.

Apa gak senang hatiku!

Alamat British Museum :

Great Russell St, Bloomsbury,

London WC1B 3DG, UK

Semua wisata top London yang aku kunjungi kesemuanya hasil gowesan, dan memang tidak hanya itu saja tempat yang aku kunjungi selama di London. Memang sedikit capek tapi mengingat murahnya apapun kulalakukan. Kan keren keliling London murah meriah dengan sepeda, sambil olahraga sambil hemat pengeluaran 🙂

Itinerary Trip London, April 2017

08:00-09:00 Naik Kereta £3 kemudian sewa sepeda seharian £2,membeli makan di supermarket £8,85

09:00-22:00 Keliling London dengan sepeda mulai dari Big ben, Parliament, British Museum, London Eye, dan lain-lain

Tempat wisata yang didatangi di London Benua Eropa: Big ben, Parliament, British Museum, London Eye

Total biaya pengeluran di London = £3 + £2  + £8,85 = £13,85

Nah jika ingin berhemat keliling London maka bisa mengikuti pengalamanku tapi dengan catatan siap-siap dengan mengayuh sepeda yang lumayan menguras tenaga serta nyasar-nyasar dikit dan tentu saja siapkan mental.

Kapan lagi coba gowes di London dengan £2 ?

Salam

Winny

Mie di Obok-Obok Pakai Tangan di Old Bagan, Myanmar


Life was always a matter of waiting for the right moment to act.

By Paulo Coelho

Hello World

Februari, 2017

Setelah kami mendapatkan Golden Sunrise Bagan yang terkenal dengan Balon Udaranya, akhirnya kami memulai perjalanan di Bagan sesungguhnya. Seperti yang aku ceritakan sebelumnya di Cerita Mengejar Sunrise sudahlah tidak ada jalan naik ke Pagoda dan harus dibantu oleh dua orang turunnya pun kesusahan. Pas turun itu aku benar-benar merasa seperti “Atcacibang” (Bahasa Batak: seekor hewan bisa naik tak bisa turun). Kalau salah turun bisa BERABE maklum aku belum memiliki asuransi jiwa jadi aku tidak mau mati konyol. Untungnya aku berhasil turun dengan selamat dengan usaha yang tak biasa. Benar-benar jadi pelajaran berharga untuk tidak manjat-manjat di Pagoda. Barulah setelah berhasil turun aku berusaha memulihkan jiwa dari rasa takut akan ketinggian.

Satu persatu turis yang mengincar matahari terbit di Old Bagan mulai meninggalkan Pagoda, menyisahkan kami bertiga yang melakukan aksi gila dengan memutari Pagoda tempat kami mencari sunrise. Tentu saja ide gila ini diprakarsai oleh Ade. Aku dan Melisa hanya ngikut saja 😀

Yuk kita buat Video mengitari Pagoda dengan G* Pr* ku, katanya

Ternyata pusing-pusing Pagoda beramai-ramai itu seru sekali, benar-benar lagi liburan dan piknik. Setelah puas kami bertiga melanjutkan perjalanan dari Pagoda Law Kaw Shaung, Old Bagan. Tujuan selanjutnya kami adalah mencari sarapan pagi untuk mengisi perut kami yang sudah mulai memberontak. Namun jangan tanya kemana arah peralanan kami, kami hanya mengikuti kata hati. Kata hati kami menuntun kami ke arah New Bagan.

Dari perjalanan Pagoda Law Kaw Shaung, Old Bagan menuju ke New Bagan ternyata banyak sekali Pagoda disekelilingnya sepanjang mata memandang. Memang tak salah kalau Old Bagan merupakan “Rajanya Pagoda”. Jarak satu meter ada Pagoda, tidak ada pagar sehingga pecinta Pagoda bakalan puas di Old Bagan. Aku yang pecinta Pagoda ampe eneg saking banyaknya Pagoda di Old Bagan bahkan untuk mengunjunginya satu persatu tidak mungkin dalam sehari.

Kalau dilihat-lihat, Pagoda di Myanmar ini hampir mirip dengan Pagoda di Muara Takus, Riau walau aku belum pernah ke Riau. Bentuknya juga bervariasi, namun jangan samakan seperti Candi yang ada di Jawa seperti Candi Prambanan karena tidak begitu bentuknya. Saking banyaknya Pagoda di Old Bagan, kami memilih untuh singgah seenak hati kami saja. Dimana ada Candi yang kami lihat cantik dan bentuknya unik, maka kami akan singgah. Disinilah keseruan perjalanan di Myanmar kami, tanpa beban, meski cuaca terik dan panasnya Kota Bagan.

Sarapan Pagi di Old Bagan, Myanmar

Dalam perjalanan ke New Bagan, kami berhenti disebuh tempat peribadatan bernama Manuha Phaya. Di dekat Manuha Phaya terdapat pasar dadakan serta penjual makanan, sehingga sepeda motor listrik kami parkir disekitar Manuha hingga kami memutuskan makan saja di warung terdekat persis di depan Manuha Phaya. Yang dijual adalah mie dengan aneka bumbu serta tempatnya seperti warung, berlokasi tepat di pinggir jalan. Memang agak ngeri-ngeri sedap mencari makanan halal di Bagan, Myanmar.

Jadi pas melihat mie, pikiran kami adalah halal dan tak mungkinlah bumbunya mengandung B2. Anggap saja itu adalah pemikiran polos kami karena pas ditanya apakah halal atau tidak, penjual tidak mengerti Bahasa Inggris apalagi Bahasa Inggris kami pas-pasan. Alhasil kami seret bangku terus menaruh barang kami di meja sambil mengerumuni tukang penjual mie. Mie di Bagan mirip dengan Mie di Indonesia bedanya tekstur dan bumbunya. Kami memilih makan mie karena selera gitu melihatnya pas si Ibu penjual dengan lihai menyediakan makanana kepada pembeli.

Mie ala Old Bagan. Tekstur mie nya kayak di sini. Yang membedakan bumbunya. Sangat khas. Ada kemiripan dengan rempah yang di Thailand. Kuahnya pakai sup kepiting. . Yang mau ane ceritakan kisah pas beli mie ini.👇👇 . Selesai liat sunrise, kita cari sarapan. Banyak warung jual sarapan pagi. Kayak di Indonesia lah ya. Dan pilihan kita jatuh pada warung yang jual mi ini. Selera gitu liatnya. Giliran gw yg pertama pesan. Si ibu gak bisa bahasa Inggris, jadi main tunjuk2 aja. Yes No Yes No. Si Ibu udah bikin mie ke piring, dan dari gesturnya dia nanya mau pake apa. Karena banyak pilihan topping bumbu dan isi. Maksud ane, mau bilang campur aja semua. Ane tunjuk dah semua. Tangan ane muter2. Ade bantu dan mengeluarkan kata "mix" Bapak yang berdiri dekat ibu menyambut kata "mix" dan sambil menjelaskan dengan gerakan. Mungkin dipikiran kita sama dan kita senang langsung bilang YES YES. RIGHT. Si bapak langsung menjelaskan ke si Ibu. Hitungan detik, mie+isi lainnya yang udah dipiring langsung di "MIX" alias di obok-obok si Ibu pake 5 jarinya. Ane shock, speechless. Langsung bilang OK OK enough stop stop sambil senyum. Ade dan Winny ngakak abis dan bilang "untung bukan gw yang pertama Mel" Belajar dari yg pertama, makanan Winny dan Ade gak diobok2😂. Ane makan juga sampe habis. Lupakan obokan tapi mienya enak sih. Enak antara kelaperan atau karena obokan tangan si Ibu. . . . . . . . . . . #bagan #myanmar #food #foodtravel #photo #travelphotography #wanderlust #travel #traveller #backpacker #photography #foodgraphy #travelaroundworld #travelasia #noodles

A post shared by walk and run (@melisa.sianipar) on

Yang pertama kali memesan Mie adalah si Melisa. Mie yang dia pesan sudah berada di piring dan si ibu sebenarnya ingin menanyakan pakai bumbu apa karena banyak sekali bumbunya. Eh Melisa gak sadar Bahasa tubuh si ibu sehingga Melisa main tunjuk ke semua bumbu dengan tangan memutar serta berkata “mix”. Padahal si ibu cuma ngerti “Yes”, “No” aja. Alhasil si suami si Ibu mengerti arti “mix” mendekati si Ibu sambil menjelaskan permintaan si Melisa namun salah kaprah.

Awalnya kami kira si Bapak mengerti kalau permintaan Melisa adalah mencampur semua bumbu sehingga dengan semangat kami menjawab “Yes”, “Right”. Kemudian tak sampai hitungan detik, setelah bumbu dimasukkan ke Mie langsung mie si Melisa benar-benar di Mix tapi di mix “pakai tangan si ibu”. Yah Mienya diubek-ubek pakai tangan si ibu tanpa alas tangan. Langsung aku dan Ade tertawa terbahak-bahak melihat muka Melisa yang speechless sambil berkata OK Enough Stop. Hahahahahahhaa 🙂

Mie Ubek-ubek pakai tangan di Bagan, Myanmar

Kami berdua dengan kompakan mengatakan “untung bukan gua yang pertama Mel”. Memanglah kami ini teman apa, udahlah si Melisa setengah jijik melihat Mienya diubek pakai tangan malah kami ketawain sampai mau pipis rasanya. Asli adegan ini membuat kami tertawa puas melihat kejadian konyol ini. Tambahan kami malah godain si Melisa hati-hati kena diare, bawa obat diare gak. Anehnya meski di ubek pakai tangan, mie si Melisa habis juga. Entah doyan apa lapar, tapi yang pasti mienya emang enak. Bahkan ada sup kepitingnya lagi, dan diberikan cuma-cuma.

Belajar dari pengalaman Melisa, aku dan Ade menunjuk bumbu kami tanpa ada kata Mix sehingga mie kami berhasil tanpa ubekan alias obok-obok tangan dari si ibu penjual. Memang kebiasaan penjual di Myanmar ketika ke warung saat menyediakan makanan maka penjual akan mengaduk makanan dengan tangan kosong kemudian diberikan kepada pembeli. Jadi kalau ke Myanmar jangan lupa membawa obat diare, karena iya kalau penjual makanannya ingat cuci tangan, kalau kagak mah entah apa-apa yang dipegangnya. Untungnya pas si Ibu yang mengubek Mie si Melisa cuci tangan sih.

Tuh Mel dia cuci tangan, kata Ade

Aku masih senyum-senyum sendiri melihat ketidakterimaan mienya si Melisa diubek pakai tangan.

Mie Old Bagan, Myanmar (Photo by Melisa)

Setelah puas makan mie, kami memesan kelapa muda yang kebetulan ada disekitar penjual mie obok-obok alias diubek-ubek pakai tangan. Minum kelapa dengan lingkungan Bagan yang agak dusty benar-benar surga tersendiri. Apalagi setelah makan mie maka minum kelapa nikmat sekali. Setelah kenyang barulah kami membayar sarapan kami. Untuk harga sarapan mie kami 2600 KS/3 orang dan harga kelapa 3000 KS/3 orang.

Catatan:

Ks adalah singkatan mata uang Myanmar bernama Kyat Myanmar biasa disingkat KS ada yang menyingkat MYK. Untuk di kurs Rupiah tergantung rate namun agar mudah tinggal dibagi satu nolnya, Untuk 1 KS = Rp10-Rp11.

Sarapan pagi di Old Bagan

Setelah kenyang makan, kami melanjutkan ke Manuha Phaya. Masuk ke dalam Manuha Phaya sendal harus dilepas dan begitu banyak pengunjung yang mayoritas beribadah. Di dalam Manuha Phaya terdapat sleeping Buddha yang mengingatkanku akan Hatyai, Thailand. Tentu saja sleeping Buddha bukan seperti yang di Bangkok, berbeda. Disini si Melisa sangat semangat mengelilingi Manuha Phaya. Mungkin ini efek dari Mie Ubekan tangan si Ibu Myanmar sehingga dia kelebihan energi. Aku dan Ade mengitari sekedarnya saja dan kurang bersemangat, maklum kami sudah melihat sleeping Buddha dan standing Buddha yang cukup oke, sehingga yang biasa saja membuat kami tidak begitu antusias.

Namun walau demikian kami menganggap bonus mengunjungi Manuha Phaya, Old Bagan karena ibaratnya pergi ke pelosoknya Old Bagan malah menemukan hal baru. Apalagi kondisi ramai-ramainya warga lokal, tentu kami penasaran ada apa sampai banyak yang mendatangi Manuha. Ternyata kebanyakan pengunjung untuk beribadah, jarang ada turis, kalau ada itupun yang nyasar atau penasaran dengan keramain yang ada di Manuha.

Manuha Phaya
Manuha Phaya

Setelah dari Manuha kami pun melanjutkan perjalanan Old Bagan. Pagi hari kami diisi dengan pengalaman nasi ubekan tangan. Ternyata backpackeran ke Myanmar seru karena orang yang dibawa juga seru 🙂

Salam

Winny