Ngetrip ke Kampung Sunan Ampel


In the middle of every difficulty lies opportunity.

— Albert Einstein 

kampung sunan ampel surabaya
Kampung sunan ampel surabaya

Hello World

Surabaya, Juni 2015

Perjalanan ke Kampung Sunan Arab terinspirasi dari tulisan mbak Noni tentang wisata Religi Surabaya dan kebetulan aku berada di Surabaya maka terjadilah aku jalan sendiri ke kampung Sunan Ampel Surabaya. Dari Patung Buddha empat wajah maka aku menuju ke jembatan merah Plaza Surabaya masuk melalui pasar ikan jalan terus sambil tanya-tanya sekitar. Yang lucu ketika aku melewati pasar sampai ke Kampung Sunan Ampel, banyak sekali keturunan Arab yang berjualan seolah aku berada di little Arab Indonesia.

kampung ampel surabaya
kampung ampel surabaya

Saat berjalan sendirian seolah aku merasa diperhatikan. Dalam hati ini orang menatapku begitu banget ya apa karena kucel atau karena cewek jalan sendiri atau karena akunya saja ke-GR-an! Cuma satu yang pasti aku suka sekali dengan Kampung Sunan Ampel yaitu suasanya terus banyak penjual parfum, perlengkapan sholat serta berbagai kebutuhan umat Islam. Lalu aku masuk ke Gerbang tempat kampung Ampel untuk melihat makam Sunan Ampel melewati pasar. Waktu itu karena aku datangnya pas Ramadhan banyak sekali pengunjung yang hendak berziarah tapi karena aku tidak terlalu suka dengan makam, alhasil aku hanya melihat ke dalam.

Tips jika ingin berkunjung ke Makam Sunan Ampel untuk wanita sebaiknya memakai pakaian yang menutup aurat karena walau berpakaian celana jeans panjang maupun kaos tetap kelihatan mencolok apalagi jika berjalan sendirian.

kampung ampel
kampung ampel

Hal lain yang aku suka saat travelling ke Kampung Sunan Ampel ialah makanan khas serta beberapa kue yang aku beli. Sayangnya pas Ramadhan kalau tidak pasti seru sekali berburu kuliner di Kampung Arab Sunan Ampel Surabaya ini, paling tidak merasakan sensasi makanan Arab di Indonesia.

Perjalanan ke kampung Sunan Ampel memang singkat tapi aku mendapatkan berbagai kue hasil borongan dari pasar yang ada di Sunan Ampel!

kampung sunan ampel
kampung sunan ampel

Best Regard

Winny

Iklan

Ngetrip ke Ujung Genteng Rp100ribu Saja


“People are often unreasonable, illogical, and self-centered;
… Forgive them anyway.
If you are kind, people may accuse you of selfish, ulterior motives;
… Be kind anyway.
If you are successful, you will win some false friends and some true enemies;
… Succeed anyway.
If you are honest and frank, people may cheat you;
… Be honest and frank anyway.
What you spend years building, someone could destroy overnight;
… Build anyway.
If you find serenity and happiness, they may be jealous;
… Be happy anyway.
The good you do today, people will often forget tomorrow;
… Do good anyway.
Give the world the best you have, and it may never be enough;
… Give the world the best you’ve got anyway.
— Kent M. Keith (The Paradoxical Commandments) —

Sunset di Ujung Genteng
Sunset di Ujung Genteng

Hello World!

Ujung Genteng, Mei 2015

Travelling yang paling murah sepanjang perjalanan selain trip gratisan atau trip 3 Pulau Onrust, Kelor dan Cipir ialah perjalaann ke Ujung Genteng. Ngetrip ke Ujung Genteng Rp100ribu saja diluar makan. Kok bisa? Karena perginya dengan rombongan temannya temanku. Jadi awalnya teman kantorku bernama Dede cerita kalau dia akan touring ke Ujung Genteng dengan teman kuliahnya lalu aku dengan sok dekat bilang, “De gue ikut dong”! Awalnnya tidak mengiyakan rupanya aku dan dua temanku Sarta dan Muja jadinya ikut rombongan mereka. Perjalanan kami sangat murah karena kami berempat belas orang dengan mobil temannya temanku itu serta masing-masing kami mengumpulkan uang Rp100.000 untuk biaya transportasi dan penginapan.

Kalau diingat-ingat dulu ditahun 2012 aku pernah membayar uang trip dengan anak BPI untuk liburan ke Ujung Genteng dengan titik kumpul di Bogor seharga Rp300.000an tapi karena aku ada halangan maka uangku melayang eeh siapa sangka akhirnya aku ke Ujung Genteng juga di tahun 2015 demi melihat pelepasan kura-kura yang membuatku penasaran.

Air terjun
Air terjun

Kami berangkar di Pasar minggu lalu kami berempat belas dengan dua mobil beriringan menuju ke Ujung Genteng dari Jakarta jam 1 malam. Rombongan yang ikut trip perjalanan ke Ujung Genteng ialah aku, Sarta, Muja, Dede, Surya, Rina, Gita, Ale, Jamed, Icang, Mayun, dan lainnya. Maaf lupa nama sebagian teman. Aku, Sarta dan Muja satu mobil dengan Dede, Ale, James dan Gita. Kami berangkat jumat malam tapi alangkah macetnya perjalanan ke arah Sukabumi pas malam karena jalanan yang rusak maka kami sampai di Ujung Genteng jam 4 sore.

Awalnya aku penasaran dimananya Sukabumi letak Ujung Genteng karena beberapa kali ke Sukabumi tidak pernah melihat pantai. Eeh ternyata perjalanan ke Ujung Genteng dari Jakarta cukup jauh juga melewati Pelabuhan Ratu. Maklum jalanan ke Bayah selalu melewati Pelabuhan Ratu maka aku hapal betul betapa capeknya perjalanan ke Ujung Genteng dengan mobil pribadi mengingat perjalanan yang berliku apalagi jalanan Cikidang yang berliku. Kami bahkan mulai dari makan di jalan, istirahat di Musholla hingga akhinrya sampai juga di Ujung Genteng.

Ujung Genteng Indonesia
Ujung Genteng Indonesia

Sayangnya kami tidak sempat ke Curug Cikaso atau Air Terjun Cikaso karena kami mengejar waktu untuk berburu pelepasan penyu langsung. Kalau dibayangkan lama juga yah kami sampainya di Ujung Genteng dari jam 1 pagi sampai jam 4 sore lebih dari 12 jam padahal biasanya lama perjalanan dari Jakarta-Ujung Genteng 8 jam. Tapi kami sempat melihat air terjun tapi aku tidak tahu nama air terjunnya.

Oh ya untuk kesanku terhadap Ujung Genteng ialah pairnya yang bersih dan putih serta langsung menghadap ke Samudera India serta sunsetnya yang indah serta melihat langsung penyu.

Penginapan Pondok Hexa di Ujung Genteng
Penginapan Pondok Hexa di Ujung Genteng

Sampai di Ujung Genteng maka kami pun menuju ke penginapan yang memuat kami berempat belas. Kami menyewa rumah di penginapan Pondok Hexa Ujung Genteng seharga Rp500.000 semalam. Perempuannya tidur diatas dan cowoknya tidur di bawah. Asyiknya penginapan kami itu ada kolam renang serta bisa masak. Rina dan teman-teman malah masak indomie di penginapan ini yang dimakan ramai-ramai.

Kami langsung menaruh tas kami di penginapan dan langsung menuju ke tempat Taman Pesisir Pantai Penyu Pangumbahan, berharap kalau penyu belum dilepaskan.

Trip to Ujung Genteng
Trip to Ujung Genteng

Untuk menuju ke pangumbahan kami menaiki mobil dengan jalanan yang berliku. Lalu sesampai di penangkaran kami langsung membeli tiket masuk ke dalam penangkaran. Harga tiket masuk (retribusi tiket masuk) ke Taman Pesisir Pantai Penyu Pangumbahan (Pengumbahan Turte Park) Ujung Genteng Rp10.000.

Aku, Sarta dan Muja langsung melihat penyu-penyu kecil di dalam ember yang akan dilepsakan serta ada juga relur penyu di dalam pasir. Seru sekali melihat penyu-penyu mungil ini! Sayangnya karena kami kelamaan di jalan, alhasil terasa singkat sekali di Ujung Genteng.

Penyu di Ujung Genteng
Penyu di Ujung Genteng

Tanpa mau membuang waktu kami langsung menuju ke pantai tempat dimana penyu dilepaskan dan berharap kami masih melihat penyu dilepasakan ke laut. Berjalan ke pantai maka pantainya sungguh indah serta sunset Ujung Genteng itu indah banget mirip di Kuta Bali.

Kami ramai-ramai begitu menikmati deburan laut, matahari yang mulai tenggelam serta keramaian orang-orang yang juga sama seperti kami “menunggu pelepasan penyu”. Kalau mengingat penyu jadi teringat film perjalanan penyu dari telur 😀

Kami di Ujung Genteng
Kami di Ujung Genteng

Moment yang kami tunggu-tunggu akhirnya datang yaitu pelepasan penyu. Pengunjung Ujung Genteng langsung membentuk lingkaran kemudian instruksi untuk tidak mendekati penyu. Lalu penyu dikeluarkan satu persatu dari baskom dan penyu berjalan berlahan-lahan menuju lautan luas!

Untuk yang menyaksikan pelepasan penyu tidak boleh dekat ke arah pantai karena dikhawatirkan bisa menginjak penyu. Lalu air datang membawa penyu-penyu!

Lucu 😀

Walau singkat kami menikmati penyu imut di Ujung Genteng. Lalu dengan mobil kami kembali ke penginapan. Nah saat di penginapan yang cowok pada berenanga di kolam berenang penginapan sementara cewek-cewek masak. Khusus aku, Muja dan Sarta malah mencari minuman hangat berupa wedang jahe seharga Rp5000. Cukup mengahangatkan dan seru serta yang kami suka ialah mencoba ikan bakar di dekat penginapan. Sayangnya lama banget masaknya harus ditungguin, kalau tidak ditungguin dan dilihatin bisa 2 jam an dimasak. Untungnya ikannya enak agak lumayan lah!

Pelepasan penyu di Ujung Genteng
Pelepasan penyu di Ujung Genteng

Setelah kenyang maka aku, Muja dan Sarta kembali ke penginapan bergabung dengan teman yang lain. Lalu kami istirahat..

Keesokan harinya kami lalu berjalanan disekeliling penginapanan mulai dari mencari sarapan pagi hingga ke pantai. Anehnya sarapan pagi kami berupa bubur ayam. Jauh-jauh ke Ujung Genteng makan bubur ayam hahaha 😀

‘Ta, makan ikan bakar lagi yuk”, kataku lalu Sarta mengiyakan. Memuaskan berkuliner ria ikan bakar di Ujung Genteng mumpung murah 😀

Penangkaran penyu Ujung Genteng
Aku di Penangkaran penyu Ujung Genteng

Kami juga sempat nongki di depan warung untuk makan es krim goreng.. Kayaknya kebanyakan biaya pengeluaranku besarnya itu dimakan, maklum ratu makan 😀

Bersantai dengan es krim goreng sambil menikmati laut seru sekali loh!

Ujung Genteng Sukabumi Indonesia
Ujung Genteng Sukabumi Indonesia

Untuk teman ku yang lain paginya memasauk mie telur tapi aku, Sarta dan Muja malah makan bubur ayam. Mereka kelihatan seru sekal! Walau aku baru kenal tapi seru karena orang-orangnya lucu dan welcome banget terus hemat lagi hihi 😀

Travelling to Ujung Genteng
Travelling to Ujung Genteng

Sebelum pulang kami malah bermain di pantai dari jam 8 sampai jam 12 siang. Untuk bangun kami cukup kebo, bangunnya jam 8 pagi saking capeknya di jalan. Untungnya air lautnya bersih walau pantai penuh sampah! Sayang sekali tempat wisata pantai seindah ini harus berisi dengan sampah-sampah!

Semoga kedepannya wisatawan lebih bijaksana dan sadar untuk tidak mengotori pantai karena benar-benar merusak pemandangan!

Kuliner di Ujung Genteng
Kuliner di Ujung Genteng

Puas melihat pantai Ujung Genteng kami pun bergabung dengan tim untuk pulang ke Jakarta. Nah saat pulang ke Jakarta tepatnya di Cikidang mobil kami tidak sanggup untuk naik keatas bukit sehingga terjadilah kejadikan kami berjalan kaki mendaki bukit. Untungnya perjalanan kami selamat sampai tujuan. Serta adegan jalan kaki di Cikidang menjadi pengalaman lucu. Jalan ramai-ramai!

Kami berangkat dari Ujung Genteng jam 2 siang dan sampai di Jakarta jam 10 malam dengan selamat! Perjalaanan Ujung Genteng yang melelahkan tapi terbayar dengan rasa penasaran melihat penyu dilepas di laut lepas 😉

Catatan perjalanan Ujung Genteng

1. Cara akses ke Ujung Genteng bisa dengan transportasi umum tapi lebih murah lagi dengan mobil serta dibagi ramai-ramai. Dari pelabuhan Ratu ambil ke arah kiri melewati PLU Pelabuhan Ratu karena dari arah kanan maka akan ke Sawarna.

2. Perjalanan ke Ujung Genteng cukup jauh jadi sebaiknya butuh minimal 3 hari agar menikmati perjalanan.

3. Banyak sekali penginapan di Ujung Genteng jadi tidak usah khawatir menginap dimana tapi kalau mau membangun tenda bisa saja.

4. Di Ujung Genteng teradapat banyak warung makanan jadi tidak usah khawatir untuk mencari makanan. Kuliner khasnya tentu saja seafood.

5. Jika ingin melihat pelepasan penyu maka usahakan datang ke Ujung genteng sebelum jam 4 sore karena jadwal pelepasaran antara jam 5-6 sore serta membayar tiket masuk Rp10.000 di penangkaran penyu.

6. Paket wisata Ujung Genteng itu berkisar Rp100.000 hingga Rp300.000 jadi sebaiknya pergi ramai-ramai atau touring dengan sepeda motor.

Jalan-jalan Ujung Genteng
Jalan-jalan Ujung Genteng

Rincian Biaya Perjalanan Ujung Genteng

Tranportasi dan penginapan di Pondok Hexa Rp100.000

Makan bubur ayam Rp11.000

Makan siang di pertigaan Rp10.000

Beli minuman susu di indomaret Rp24.000 + es krim Rp12.000

Makan seafood malam hari Rp95000/ 3orang

Minum es koteng Rp5.000

Makan bubur ayam dengan ikan plus kopi Rp 15.000

Makan seafood Rp25.000

Makan malam di Sukabumi Rp67.000

-Liburan ke Ujung Genteng selesai-

Ujung Genteng Sukabumi
Ujung Genteng Sukabumi

Salam

Weeny Traveller

Pelajaran Berharga dari Penambang Belerang Kawah Ijen


Be who you are and say what you feel, because those who mind don’t matter and those who matter don’t mind

By Dr. Seuss

Mountain Ijen
Mountain Ijen

Hello World

Bayuwangi, Mei 2015

Jam menunjukkan jam 5 pagi dan kami masih bisa menikmati blue fire walau sudah mulai habis. Kami memandangi sejumlah orang yang sedang mengamati para penambang belerang. Kalau mengingat perjalanan sampai ke Kawah Ijen maka perjuangan tidak sia-sia. Apalagi Bang Dendi yang KAO saat melakukan trekking terus dengan gaya tidak bawa minum sama sekali. Untungnya aku dan Melisa bawa minum walau satu botol, tidak tahu Bang Novri dan Icha membawa minuman atau tidak. Gila memang kami mau naik Gunung tapi bawa minum seadanya, please jangan ditiru karena minuman atau cokelat atau madu wajib dibawa saat trekking Gunung.

trip to ijen
Akses jalan trip to ijen

Blue fire yang kami buru hanya 1 jam saja dan apinya keluar dari gas alam yang mengalir dari bambu. Para wisatawan asing sangat berani dekat dengan penambang belerang yang sedang mengais rezeki dengan mengangkut belerang hingga ke kaki Gunung Ijen. Kalau aku pikir betapa hebatnya para penambang belerang ini demi bertahan hidup. Pelajaran berharga dalam hidup yang aku dapatkan selama perjalanan ke Kawah Ijen! Kadang ya travelling itu tidak melulu hedon atau hanya numpang selfie saja atau sekedar liburan, terkadang ada makna disetiap perjalanan salah satunya bagaimana orang lain susahnya bertahan hidup dan tidak mengeluh sama sekali. Aku saja yang sehat tanpa beban malah ngos-ngosan setengah pingsan naik ke Kawah Ijen setelah trekking 2,5 jam dari Paltuding tapi bapak-bapak penambang belerang dengan santainya mengangkat beban yang jauh lebih berat dari berat badannya. Betapa berisikonya melakukan pekerjaan mengangkut berat, kalau istilah Ergonominya bisa menyebabkan Musculoskeletal disorder.

Ijen Banyuwangi
Ijen Banyuwangi

Selain itu, yang paling tidak aku habis pikir ketika penambang belerang yang sangat dekat dengan sumber asap dari belerang. Karena waktu aku, Bang Dendi, Bang Novrizal, Icha dan Melisa pas hendak di bawah jam 6:30an tiba-tiba asap keluar sehingga perih sekali ke mata bahkan ke tenggorokan. Spontan aku memberi kode kepada teman-temanku untuk naik ke atas karena khawatir berbahaya dengan kesehatan.

Tips berharga yang didapat ketika hendak berencana melakukan trip ke Ijen ialah salah satunya dengan membawa masker safety serta jangan mengganggu aktivitas penambang belerang dan utamakan memberikan jalan kepada penambang belerang.

crater ijen
crater ijen

Kawah Ijen (Ijen plateau) is a quiet but active volcano and recommended to mountain buffs and hikers. The magnificent turquoise sulfur lake of Kawah Ijen is surrounded by the volcanos sheer crater walls.  Sulfur collectors work here, making the trek up to the crater and down to the lake every day, hike up in the morning and return around 1 pm when the clouds roll in. They carry shoulder basket of pure sulfur from a quarry on the lakes edge under the shadow of the sheer walls of the crater.

(Reference from Indonesia Travel)

Travelling to Ijen
Travelling to Ijen

Travelling to Ijen kali ini tidak hanya sekedar jalan-jalan bagi ku pribadi karena banyak kisah didalamnya mulai dari ngegembel habis dari Jakarta, hichiking pertaman, numpang-numpang, tidak mandi, antara makan dan tidak serta belajar bagaimana menghargai hidup.

Kami hanya mengahabiskan waktu di kawah ijen hanya sekitar jam 2 jam saja dari jam 5 pagi hingga jam 7 karena sebenarnya tidak baik lama-lama di Kawah Ijen. Tanpa ada kata embel makan karena memang di Kawah tidak ada penjual makanan jadi usahakan isi perut sebelum melakukan trekking ke kawah Ijen serta jika memang membawa makanan jangan lupa membawa sampah makanannya karena menjaga kelestarian wisata tempat yang didatangi yang paling penting! Oh ya kami melakukan trekking dari Paltuding hingga ke bawah Kawah Ijen selama 2,5 jam karena kami kebanyakan berhenti di jalan untuk istirahat karena pas kami turun hanya butuh 1 jam saja sampai di Paltuding.

Ijen crater
Kami di Ijen crater

Untuk rute perjalanan jangan ditanya lumayan mengurus tenaga karena rutenya yang menanjak dan berliku. Mirip naik Sikunir Dieng plus Papandayan tapi yang Ijen jauh lebih berliku dan menanjak menurutku. Untungnya ramai yang mendaki jadi aman-aman saja mendaki ke Gunung Ijen.

Oh ya hal yang menarik perhatianku waktu di Kawah Ijen ketika melihat seorang Biksu yang ikut serta melakukan trekking ke Kawah Ijen, buset ketemu dengan biksu gaul 😀

Untuk harga tiket masuk ke Kawah ijen Rp7500 yang mulai muka dari jam 2 pagi atau jam 3 pagi tergantung kondisi keamanan Kawah Ijen karena tidak sembarangan melakukan plesiran di Kawah Ijen harus memperhatikan apakah gas beracun ada atau tidak. Sementara itu tips ke ijen lainnya ialah dengan mempertimbangkan waktu kedatangan ke Ijen, kalau bisa jangan ke Ijen pas musim penghujan karena bisa berbahaya mengingat jalanannya dari tanah kan ya jadi licin sekali.

Untuk akses jalanan dari Taman Sari ke Paltuding jalanannya sebenarnya sudah aspal jadi kalau mau puas keliling wisata Banyuwangi bisa menyewa motor karena jauh lebih hemat. Kalau harga sewa mobil yah pintar-pintar menawar sajalah! Cuma kalau musim penghujan tidak direkomdasikan memakai sepeda motor karena menanjak dan berliku terus hutan lagi. Tapi kalau berangkatnya pagi dan tidak ingin mengejar embel-embel blue fire maka tidak apa-apa, bahkan jalan 17km sebenarnya tidak apa-apa asalkan rame-rame 😀

Ijen
Akses ke Ijen

Sebenarnya banyak sekali pelajaran yang bisa dipetik dari jalan-jalan ala murni backpacker berupa tips perjalanan Kawah Ijen:

1. Khusus bagi pejalan yang tidak mau susah atau repot maka jika ingin ke Kawah ijen sebaiknya berangkat rombongan saja. Jadi berangkat ke Paltuding dengan menyewa mobil yang harganya berkisar Rp450.000-Rp600.000 (tergantung nego belum termasuk bensin selama 24 jam) atau motor seharga Rp75000 seharian belum bensin.  Jarak Karang Asem ke Paltuding kurang lebih 2-3 jam perjalanan. Kalau mau mencoba cara gilaku bercampur nekat antara pelit atau backpacker sebenarnya yaitu dengan naik angkot dari Stasiun Karang Asem naik angkot ke Taman Sari (tempat penimbangan belerang) yang biasanya dipatok Rp25.000. Kalau tidak mengejar blue fire sebenarnya simple dengan membayar Rp15000 dengan mobil belerang sampai ke Paltuding jamnya biasanya jam 7-9 pagi. Untuk angkot tidak berani membawa sampai ke Paltuding padahal jalannya licin loh alias mulus aspal.

2. Buat pemula naik Gunung sebaiknya persiapan fisik, makan dulu sebelum hiking serta membawa minuman yang banyak agar tidak capek serta memakai pakaian yang sesuai misalnya pakai sepatu atau sandal gunung

3. Karena di Kawah Ijen identik dengan belerang maka sebaiknya membawa masker serta kacamata kali ya buat jaga-jaga.

Kawah Ijen
Kawah Ijen

Sebenarnya pas hendak trekking ke Gunung Ijen aku itu salah kostum saking merasa kedinginnya. Jadi ceritanya kami kan ngegembel asli, tidur seadanya di warung yang ada di Paltuding tidur menunggu Ijen dibuka bagi pengunjung. Kebanyang tidak tidur dengan sleeping bag dengan cuaca dingin pegunungan? Dinginnya menusuk sekali bahkan aku sudah memakai jaket serta sleeping bag masih saja terasa dingin. Terus kami tidurnya tidur ayam, seadanya saja, antara tidur atau tidak yang penting bisa menyandarkan diri. Untungnya ibu warung baik hati mengizinkan kami untuk tidur dilesehannya. Sebenarnya jika ingin menyewa tenda di Paltuding ada Rp150.000 sampai pagi cuma yah naggung karena waktu sudah menunjukkan jam 10 malam sementara jam 2 kami sudah mulai trekking ke Gunung Ijen. ah menyesal aku tidak membawa tendaku, alhasil kami berlima berselimutkan alamlah!

Terus pas jam 2 dibuka loket Kawah ijen, maka dengan sigap kami menitipkan tas di warung yang ibunya baik sekali mengizinkan menitip tas kami. Untuk toilet jangan khawatir, ada kok di Paltuding cuma siap-siap ngangtri lama saking banyaknya pengunjung. Harga tiket toilet Rp2000 saja, jadi ingat ama Melisa ke belakang tenda 😀

hahahah XD

Mel, kalau dirimu baca blogku pasti ketawa-ketawa juga mengingat kebodohan kita dibelakang tenda ibu warung sebelum trekking ahhaha 😀

Kawah Ijen
Kawah Ijen

Ok kembali ke ceriata awal, setelah kami puas di kawah Ijen serta sudah juga beli oleh-oleh belerang seharga Rp5000  maka berjalan melewati Gunung Meranti dan Gunung Raung.

Pemandangannya indah sekali waktu itu!

Terus kami berjalan berlahan hingga berhenti di Pondok Bunder (2214 mdpl) tempat dimana aku membeli lagi souvenir belerang yang bentuknya indah sekali berukiran Muhammad dan Allah seharga Rp15.000 saja tapi sayangnya karena jarak jauh akhirnya beleranku rusak.

Tapi tak aplah!

Di Pondok Bunder jugalah kami membeli minuman untuk bekal turun karena tidak mau kehausan terus ngos-ngosan. Untuk jalur turun cukup mudah bagi kami tidak sesulit mendaki hanya saja untuk Icha malah kewalahan di turunan padahal dirinya jago pas naiknya.

Ijen Bayuwangi Indonesia
Ijen Bayuwangi Indonesia

Sesampai di Paltuding kami kembali ke warung Bu Ikah untuk mengambail tas yang kami titipkan sekalian makan pagi. Karena aku ingin mencoba nasi tempong yang merupakan makanan khas banyuwangi jadinya aku pindah ke warung sebelah. Nasi tempong yang aku makan di paltuding seharga Rp15000 sudah termasuk susu milo. Sebenarnya nasi tempong mirip kayak nasi campur biasa hanya saja sambelnya pedas, kesukanku banget kalau sudah pedas-pedas. Selesai makan waktu sudah jam 10 lahasil kami bingung mencari bagaimana caranya keluar dari Kawasan wisata Kawah Ijen alias taman wisata alam Kawah Ijen alias cagar alam Kawah Ijen alias taman Nasional Kawah Ijen.

Gunung Meranti
Gunung Meranti

Tidak ketemu ide pulang ke Paltuding akhirnya kami mengikuti penambang belerang untuk naik mobil belerang pulangnya. Kalau dari baca pengalaman ornag di blog katanya ada jam 10 pago ternyata hanya sekali saja yaitu jam 1 siang karena memang penambang sudah tidak sebanyak dulu lagi begitu kata bapak penambang. Alhasil mau tidak mau kami menunggu belerang kelar di temapt penimbangan belerang di sebuah warung. Aku makan gorengan serta jahe di warung dekat peninbangan belerang seharga Rp8000 serta aku dan Melisa sempat tidur lagi di bangku di depan warung sementara Icha harus balik sendiri ke stasiun Karang Asem karena ada urusan. Di warung inilah kami bertemu dengan beberapa pejalan yang juga menunggu mobil belerang untuk turun.

Nah sepanjang menunggu dari jam 10 pagi hingga jam 1 siang, maka beberapa bule sering kali datang dengan sepeda motor khusus memvidiokan aktivitas para penambang. Saking herannya kali ya!

penambang belerang
Penambang belerang di Kawah Ijen

Kami sendiri sebenarnya gimanaa gitu tapi ada senangnya juga menunggu di warung dekat penimbangan karena jadi mengetahui kehidupan para penambang belerang. Katanya dulu penambang berjumlah 400 orang sekarang sudah mulai berkurang, itu sebabnya mobil akan berangkat jika sudah penuh. Untuk penambang belerang sendiri memiliki ciri khas membawa belerang dengan cara dipikul dengan keranjang serta mereka biasanya memakai sepatu safety.

Aku bahkan mengamati ketika para penambang sedang makan di kawah dengan bekelnya, luar biasa sekali! Yang paling mencenangkan ketika seorang penambang harus melakukan perjalanan selama 8 jam setiap hari dari rumahnya diluar dari kegiatan mengangkut belerang dari Kawah Ijen ke Paltuding.

Kebayang tidak itu?

Cerita hidup mereka tentu saja aku tahu berkat cara liburan kami yang anti mainstream dengan membaur dengan para penambang belerang.

Nah saat jam 1 siang maka aku dan Melisa beruntung karena duduk di bangku depan yang kasihan Bang Dend, Bang Novrizal dan 4 teman yang abru saja kami kenal dan dua diantaranya cewek harus berada di belakang dengan belerang terus kami menuju ke Paltuding.

Ditengah jalan aku membeli madu asli seharga Rp100.000 untuk oleh-oleh pulang karena langsung melihat bibitnya. Not bad lah untuk asli 😀

Yang paling kasihan sih si Melisa ketika melihat Pulau Bali karena dia belum pernah jadi pas lihat pulau Bali dari atas jalanan Kawah Ijen dia langsung semangat 45. Lalu aku menggodanya “ya udah sih Mel, langsung nyeberang saja ke Menjangan dekat kok 30 menit saja sekalian tambahin liburmu”.

Gunung Ijen
Tempat penambang menimbang hasil belerang dari Gunung Ijen

Akhirnya si Melisa mengusap dada menahan keinginan karena kami tidak sama sekali ke Bali karena memang misi perjalan ialah untuk menginjakkan kaki di ujung Jawa. Oh ya untuk harga naik mobil belerang dari Paltuding ke Rest area Jambu seharga Rp15000. Lalu dari rest area jambu kami menelepon pak Hery, supir angkot yang kami kenal untuk menjemput kami ke Rest Area karena kami hendak pergi ke Taman Nasional Baluran walau kata teman yang baru saja kami jumpai tidak mungkin cukup waktunya ke Baluran walau jam menunjukkan jam 2 siang. Untuk harga angkot dari Rest Area ke terminal Rp25.000/orang.

Ok saatnya menjelajah Baluran di sisa waktu alias jalan-jalan kejar tanyang…

To be continue

 

Salam

Weeny Traveller

Semua demi Plesiran ke Blue Fire Kawah Ijen


Nothing lasts forever. Forever’s a lie. All we have is what’s between hello and goodbye

(Unknown)

Trekking to Ijen
Trekking to Ijen

Hello World

Banyuwangi, Mei 2015

Kalau kata Afgan “semua demi Cinta”, maka kami berkata lain “semua demi Blue Fire Kawah Ijen” kami melakukan perjalanan jauh dari Jakarta hingga ke pelosok ujung Jawa di Banyuwangi. Perjalanan kami pun tidak naggung-naggung alias real backpackeran 4 Hari nonstop tanpa mengeluarkan biaya penginapan karena menginapannya di jalanan. Sebenarnya aku juga bingung antara pelit, hemat atau gak mau rugi, tapi yang pasti Alhamdulillah kami bisa melakukan trip ke kawah Ijen dengan harga super murah sekali.

Kami berangkat dari Jakarta jam 2 siang dari Stasiun PASAR SENEN dengan tujuan stasiun SURABAYA PASAR TURI dengan kereta KERTAJAYA seharga Rp97500, murah kan? Harga tiket Jakarta-Surabaya jauh lebih murah daripada Surabaya-Banyuwangi karena kami mendapatkan tiket ekonomi promo sehingga ramai-ramailah aku mengajak teman-teman yang bersedia menggembel 😀

Awalnya Sarta dan Wita ikut sampai sudah beli tiket mulai dari Jakarta hingga ke Karang Asem Bayuwangi tapi karena ada halangan sehingga yang jadi jalan-jalan ke Ijen hanya aku, Bang Dendi, Bang Novrizal dan Melisa. Kalau dipikir-pikir jadinya reunian kecil alumni Teknik Industri USU ini, antara kakak kelas dan adik kelas hahaha 😀

Blue Fire Ijen
Blue Fire Ijen

Kami berempat janjian bertemu di stasiun kereta jam 12 tapi akhirnya aku paling telat datang jadinya naik Bajaj dari kosan karena takut telat karena waktu sudah menunjukan jam 1 terus aku sempatkan makan lagi. Alhasil Melisa yang awalnya mau nitip print tiket malah aku yang minta tolong diprintkan tiket. Sayangnya kami bangkunya misah-misah sehingga perjalanan begitu membosankan. Alhasil aku dan Melisa malah berjalan sepanjang gerbong kereta menuju kantin hingga merasa bosan lalu berjalan. Bayangkan dong 12 jam perjalanan!

Nah kesan yang paling seru saat di kereta dari Jakarta menuju ke Surabaya ketika lampu kereta mati terus hidup terus mati terus hidup terus mati panjang terus lama lagi baru hidup mulai dari Semarang. Penumpang juga mulai kepanasan alhasil kami berempat berdiri disamping pintu gerbong. Yang kasihan lagi ibu hamil serta ibu dengan anak kecil yang kepanasan. Untungnya kereta akhirnya bisa juga dibenerin.

Singkat cerita kami sampai di Stasiun Turi jam 2 pagi lalu kami berempat istirahat untuk ke Stasiun Gubeng jam 9 pagi. Kedatangan kereta kami di Stasiun Surabaya telat 1 jam dari jadwal yang ada tapi tidak masalah. Untungnya aku sudah mewanti Melisa untuk membawa sleeping bag dalam perjalanan sehingga kami berdua PW tidur di stasiun Turi dari jam 2 pagi hingga jam 7 pagi dilantai dengan beralaskan sleeping bag sementara Bang Novri dan Bang Dendi tidur di bangku rung tunggu stasiun.

Jam 7 pagi maka kamipun beranjak ke Pasar Gubeng, tapi sebelumnya kami sarapan pagi di dekat stasiun Turi yaitu mencoba makan soto daging seharga Rp9000 tapi sotonya tidak rekomendasi sih. Lalu tak jauh dari Masjid disamping stasiun Turi terdapat sebuah toilet umum yang dengan membayar Rp3000 maka bisa mandi sepuasnya. Maka kami berempat mandilah di toilet umum karena kami harus melakukan perjalanan ke Banyuwangi lagi yaitu di Stasiun Karang Asem karena dari informasi katanya akses ke Kawah Ijen paling terdekat dari stasiun ini. Awalnya kami hendak naik bus ke Karangasem akhirnya kami memutuskan naik kereta api saja biar praktis sehingga terjadilah kami membeli tiket dari stasiun SURABAYA GUBENG hingga ke Stasiun Karang Asem dengan kereta Mutiara Timur Siang seharga Rp130.000. Jauh lebih mahal dari Jakarta-Surabaya padahal kalau dilihat jarak jauh lebih jauh dari Jakarta cuma beda jenis kereta menjadi bisnis. Oh ya selama melakukan ritual mandi pagi, hujan sempat datang walau gerimis sehingga membuat kami takut kalau kami ke Ijen malah hujan. Selesai mandi lalu kami naik taxi dari stasiun turi ke stasiun gubeng seharga Rp30000/4 orang.

tiket masuk ijen
Tiket masuk ijen

Di Stasiun Gubeng kami sempat menunggu kereta 30 menit yang lalu dengan lihai aku mengajak Melisa makan di Loko stasiun pasar gubeng yang tempatnya kece. Aku menghabiskan uang Rp33000 di Loko berupa makanan dan minuman. Entah kenapa ya perutku bawannya makan terus heheheh 😀

Dari Stasiun Gubeng jam 9 lalu kamipun menuju ke Stasiun Karang Asem. Untuk kereta bisnis maka lumayan kece dibandingkan sebelumnya terus kami berempat sempat bisa duduk berbarengan jadi ngobrol sepanjang perjalanan walau sepanjang perjalanan kerjaanku kebanyakan molor 😛

Untuk kereta dari Surabaya ke Banyuwangi tidak telat sama sekali sehingga kami sampai di Karang Asem tepat pada jadwal semula yaitu jam 15: 14. Sewaktu di Karang Asemlah kami berkenalan dengan Icha mahasiswa Bandung yang melakukan trip seorang diri, berani dan nekat gk tuh? Lalu aku mengajak dia ikut kami untuk sharing cost perjalanan yang lalu dia mengiyakan.

Nah awalnya kami hendak menyewa trooper dari Stasiun Karang Asem hingga ke Kawah Ijen terus adalah seorang Mas-mas yang dari travel dekat situ menawarkan jasa sewa trooper lalu kami disuruh ke kantornya dekat Stasiun. Lalu kami mengiyakan sambil ingin lihat harga sewa trooper yang dia tawarkan. Ternyata harga sewa troooper salama 24 jam itu Rp600.000 diluar bensin. Kalau mau menyewa motor lebih hemat lagi Rp75.000 seharian diluar bensin. Tapi karena aku sudah membuat list harga trooper ke kawah ijen hanya Rp450.000-Rp600.000 seharian beserta bensinnya yang seharusnya di bagi berenam malah jadi berlima alhasil negoisasi tidak jadi. Aku menolak karena lebih baik kami naik angkot seharga Rp25000 sampai di timbangan belerang yang sebenarnya masih jauh dari Paltuding, tempat dimana bermulaan dilakukan trekking ke kawah Ijen.

Yang kurang etis waktu kami hendak naik angkot, seolah sang mas penjual jasa sewa trooper saling kode dengan supir angkot seolah angkotnya tidak sedang menarik penumpang. Terus saat makan di warung dekat stasiun diaman ibunya kode banget menawarkan jasa sewa trooper yang kelihatan banget loh maksud dan tujuannya. Well tipikal di tempat wisatalah dimana hendak mencari untung sebsar-besarnya yang kadang membuat dongkol karena memberikan kesan “mata duitan” padahal reputasi “objek wisata” itu tergantung loh sama orang-orang disekitarnya. Bukan berarti aku menjudge semua orang yang kami temui di dekat stasiun Karang Asem seperti itu hanya kesannya tidak welcome banget padahal sesama Indonesia lah apalagi orang luar, pasti lebih gimanaa gitu. Jujur saja males berurusan dengan orang-orang pamrih. Aku lalu mengajak teman-temanku berjalan kaki dari stasiun hingga kami bertemu dengan Pak Heri sang supir angkot yang rumahnya tak jauh dari stasiun.

Oh ya sepanjang perjalanan kami juga ditawarin menginap loh sampai diikutin dengan kereta, iih gak banget kan? Bukannya apa sebenarnya sewa bisa saja tapi kalau kami gk mau jangan dipaksa juga sih. Lalu dengan angkot pak Heri kami menuju ke Taman sari tempat penimbangan Belereng siapa tahu masih ada mobil belerang yang hendak ke Paltuding. Karena jika dengan naik mobil belerang dari Taman Sari hingga Paltuding maka ongkosnya hanya Rp15.000 saja. Sayangnya pas di Taman Sari tidak ada mobil yang hendak ke Paltuding kalaupun ada jam 7 pagi padahal kami hendak melihat blue fire yang katanya adanya hanya malam saja.

Terus kami sempat dinasehatin Bapak penjaga penimbangan belerang di Taman Sari. “buat apa ke Kawah ijen yang dilihat kan hanya api seperti api kompor, banyak orang awam ke Ijen hanya untuk melihat belerang dibakar jadilah seperti itu warnya kayak api kompor”.. Upss kami salah orang lalu kami sambil menatap terus meninggalkan tempat penimbangan belerang terus memutuskan berjalan kaki ke Paltuding dari Taman Sari yang katanya hanya 17 km.

Blue Fire Kawah Ijen
Blue Fire Kawah Ijen

Akhirnya kami berlima berjalan kaki menuju ke Paltuding. Di tengah jalan sebelum jalan ke licin magrib sudah datang alhasil kami berhenti di sebuah rumah yang menjual durian. Lalu aku minta izin ke empunya untuk sholat magrib sekalian nanya masih jauhkah paltuding karena niat kami awalnya mau jalan kaki toh 17 km tidak jauh sebenarnya, pikir kami.

Entah kenapa saat kami berkata 17 km dekat semua orang berkata “jauh sekali kalau jalan kaki bisa sampai jam 2 malam” padahal waktu masih jam 6 sore. Yasudahlah kami pun bergantian sholat magrib lalu sekalian makan duren seharga Rp15000 di rumah si ibu. Eh pas makan satu duren alhasil kami nagih makan dua duren. Nah sepanjang makan duren aku sering mengajukan tangan untuk menghentikan mobil yang lewat mana tahu ada mobil yang hendak ke Paltuding hingga akhirnya ada satu mobil berhenti yang lalu membawa kami ke area jambu. Iseng-iseng nanya harga naik jep pulang pergi ke Paltuding dia bilang sekali jalan Rp400.000. Buset dah gk jadi!

Nah saat di rest jambu kami juga jadi mangsa orang-orang yang berusaha mencari keuntungan dengan menawarkan jasa sewa mobilnya pp Rp400.000 saja. Karena sudah ilfil serta kelihatan sekali niatnya alhasil kami sudah tidak open lalu duduk hingga jam 8 malam hingga kami memutuskan untuk berjalan kaki menuju ke Paltuding dari rest area Jambu. Maka disinilah kata umpatan keluar dari istri calo yang tidak berhasil menawarkan jasa sewa mobilnya “dasar turis kere” begitu katanya… ckckkckckcc umpatan yang tidak berkelas sih sebenarnya karena its not about money, its about morality!

Kawah Ijen
Melisa di Kawah Ijen

Dengan wajah biasa saja kami berempat berjalan melewati perumahan orang hingga akhirnya kami berhenti di sebuah warung bu Agus untuk makan indomie. Syukurnya kami berhenti di warung bu Agus karena warung Bu Agus merupakan warung terakhir sebelum ke hutan menuju ke Paltuding. Bu Agus sempat syok dengan rencana kami yang hendak berjalan kaki menuju Paltuding yang akhirnya kami tahu kenapa setiap orang kaget ketika berjalan ke Paltuding yang hanya 17 km saja.

Diw arung Bu Agus beliau menyarankan kami untuk menunggu mobil sayur saja untuk menuju ke Paltuding, tempat dimulai trekking ke Gunung Ijen. Paling harganya Rp15000/orang kata si Ibu. Lalu kami bersantai ria di warung bu Agus karena waktu masih jam 8 malam. Ibunya baik sekali membolehkan kami ke kamar mandinya terus istirahat sambil menunggu mobil sayur.

Terus jam 9 benar adanya, mas-mas bernama David membolehkan kami menumpang ke Paltuding dengan mobil sayur lalu sepanjang perjalanan dari warung Bu Agus ke PALTUDING betapa syoknya kami melihat perjalanan yang hanya “17KM” serasa “37KM” melewati hutan semua terus malam hari. Buset tidak kebayang kalau kami akan berjalan kaki dengan rute sejauh itu di malam hari. Bahkan dengan mobil lama perjalan sampai 1 jam, kebayang tidak berjalan kaki? Satu jam tanpa macet teman! Oh Tuhan syukur sekali kami bertemu dengan Mas David dan Bu Agus yang baik hati.

Jalanan menuju Paltuding berliku untungnya aku, Icha dan Melisa di depan yang kasihan bang Dendi dan Bang Novri yang di belakang. Nah sampai di Paltuding jam 10 malam, mas Davidnya malah tidak mau mengambil uang kami. Malah dia cuma mengambil uang kami Rp25000 saja karena merasa tidak enak dengan ekpresi kami. Buset betapa baiknya sampai pengen mehek. Karena hicthiking pertama berhaasil…

ijen blue fire
ijen blue fire

Ok tidak sampai disitu cerita perjungan demi Blue Fire Kawah ijen, karena waktu jam 10 malam alhasil kami masih mencari sewa jeap untuk besok ke Baluran sekalian dari Ijen mengingat rute yang jauh sekali. Kami bertemu dengan salah seorang dari komunitas Backpacker Indonesia yang menawarkan sewa mobil seharga Rp900.000 untuk semua objek wisata yang hendak kami lalui bahkan dia anggap rute perjalanan yang aku buat itu ngawur. Padahal sebelumnya aku sudah membuat rencana sematang mungkin selain lari dari jalur rencana semula sebenarnya seperti menyewa mobil yang karena harganya tidak masuk akal buatku entah bercampur dengan rasa sentimen.

Satu jam kami bercerita mencari kesepakatan sebenarnya menganai perjalanan kami untuk besok yang ujungnya tidak berujung karena kami membatalkan sewa menyewa karena ampun dah mahal. Terus belum tentu yang kami lihat seindah dengan itu semua. Alhasil waktu 1 jam sia-sia lalu kami menuju ke warung bu Ikah yang memboelhkan kami tidur di warungnya karena tempatnya lesehan.

Di warung inilah kami tidur ayam dengan sleeping bang dengan cuaca yang dingin menurutku menunggu hingga loket tiket masuk ke Ijen dibuka karena penjaga ijen hanya membolehkan wisatawan masuk ke dalam kawah ijen jika kondisi kawah ijen kondusif mengingat gas beracun dari kawah ijen. Barulah jam 2 pagi loket dibuka lalu kami ngantri untuk membeli tiket seharga Rp7500. Kalau dari Paltuding ke Kawah Ijen dari palang yang kami baca hanya 3KM terus mengingat pengalaman Paltuding 17km serasa 37 km lalu kami berceloteh kayaknya 3 KM itu sama kayak 23 km deh 😀

Dan benar saja perjalanan dari Paltuding hingga ke kawah ijen memakan 2,5 jam berjalanan yang cukup mengurus tenaga.

Mount Ijen
Mount Ijen

Perjalanan ke Kawah ijen dari Paltuding cukup megurus tenaga lebih ektrim dari Papandanyan menurutku karena jalanannya mendaki. Acap kali kami istirahat untuk menghilangkan rasa capek. Yang paling tidak kuat dalam mendaki ialah Bang Dendi sampai jantungan loh dia berkeringat dingin terus aku yang mudah capek. Untungnya Bang Dendi bukan tipikal yang rewel dan manja, dia walau capek tetap kuat loh sampai ke atas walau berjalan berlahan. Yang paling kuat melakukan trekking ke Kawah ijen itu Melisa dan Icha serta Bang Novrizal. Buset mereka bener-bener anak gunung banget dah!

Terus trekking ke Kawah Ijen ternyata banyak wisatawan baiik lokal maupun mancanagera. Terus yang membuatku berdecak kagum ketika melihat para penambang belerang yang kuat sekali mengangkut berkilo-kilo belerang dari Kawah ijen sampai ke Paltuding yang bahkan aku tanpa beban sudah ngos-ngosan. Ampun mehek sekali melihat perjuaangnnya.

Kami sampai di puncak Kawah Ijen jam 5 pagi dan perlu turun lagi hingga untuk melihat blue firenya serta harus membawa masker karena bau belerangnya cukup menyengat.

Ijen Blu fire Indonesia
Ijen Blu fire Indonesia

Kami berlima sempat turun dengan bantuan senter HP seadanya berjalan berlahan menuruin bebatuan berliku. Untungnya kami masih sempat melihat Blue fire walau sedikit. Dan pemburu blue fire tidak kami saja “BANYAK”!

Bahkan wisatawan mancanegara sengaja dekat lengkap dengan masker khusus belerang untuk mengabdikan photo penambang belerang yang dekat dengan pipa gas bumi itu padahal berbahaya sekali.

Lalu sesekali bule-bule itu memphoto para penambang sambil memberikan uang kepada penambang. Karena upah untuk 1 kg belerang dari Kawah ijen hanya Rp900 saja kawan dan makin banyak yang diangkut belerangnya maka upahnya makin banyak.

Miris tidak?

Kami lalu membeli kerajinan dari belerang seharga Rp5000 yang sudah dibentuk seperti jadi tokoh disney, bunga dan sebagainya.

Soalnya kasihan!

Kompakan kami berlima membeli souvenir walau entah kami apakan itu. Tapi tidak semua penambang kok yang menjual souvenir kebanyakan murni penambang.

Ijen
Kami di Kawah Ijen

Perjalanan ke kawah Ijen tidak hanya melulu sekedar liburan atau sekedar jalan-jalan karena ada pesan hidup dalam perjalanan ke Kawah Ijen yaitu “susahnya mencari uang jadi saling tolong menolanglah dengan sekitar dan jangan penah mau mengharapkan kerja tapi buatlah lapangan kerja”…

Duh sepertinya aku harus jadi pengusaha!

Blue fire Indonesia
Penambang Beledang di Kawah Ijen

To be continue

Salam

Weeny Traveller

Pengalaman Ngetrip ke Kawah Ijen dan Taman Nasional Baluran


When I don’t see you, I don’t miss you , I just place my hand over my heart and its there I will find you, because even though you are out of my sight , you will never be out of my heart.

– Rashida Rowe-

Kawah Ijen
Kawah Ijen

 

Hello World

Banyuwangi, Mei 2015

Pengalaman ngetrip demi menyusuri objek wisata andalan Banyuwangi yaitu Kawah Ijen dan Taman Nasional Baluran merupakan edisi travelling yang nyentrik bagiku karena puncak jalan-jalan ala backpacker yang bisa dikatakan berhasil serta sungguh berkesan. Kalau bisa dibilang dari semua perjalanan yang pernah aku alami baik jalan-jalan di Indonesia maupun ke Luar Negeri maka yang super ektrim backpackeran yah di Banyuwangi. Mulai dari tidur di jalanan, pakai wifi gretongan, di dalam kereta 20 jam dengan dua kali nyambung tujuan kereta hingga numpang dengan mobil sayur dan belerang. Pokoknya perjalananya penuh kesan dan kegilaan. Ada juga drama dibalik liburan ke Banyuwangi mulai dari kisah  dikatain backpacker kere hingga dibalik sebab akibat dari beradu mulut dengan tukang angkot. Kalau dikisahkan satu buku tidak cukup saking seru serta menyedihkannya. Kayak permen Nano-nano, kadang trip itu mengajarkan banyak hal loh tidak melulu hanya mengeluarkan uang terus tidak dapat apa-apa, malahan merasakan sensasi antara pelit, hemat atau menikmati untuk tidak mengeluarkan uang tipis betul loh tapi anehnya perasaan senang. Alhamdulillahnya edisi perjalanan Banyuwangi ala mengaku backpacker berhasil loh karena teman perjalanku kece-kece, aman tenteram terkendali dan mau diajak susah.

Ijen
Ijen

Geng perjalananku emang keren-keren sih sama kayak Geng Kamseupay waktu melakukan trip ke Malaysia dan Thailand mereka asyik aja aku bawa “cucah” tapi mereka “fine-fine” saja malahan penuh kenangan sama halnya dengan teman geng “backpacker kere” ke Banyuwangi (nama gengnya terinpirasi dari pengalaman di Jambu). Tapi intinya kalau ikut jalan samaku kayaknya jadi susah deh tapi anehnya mereka menikmatinya ahhahahahha

Padahal awalnya ekpektasiku teman yang aku bawa tidak akan sanggup jadi gembel eeh ternyata yang aku bawa ialah orang-orang super kece dan luar biasa. Teman-teman perjalanku ke Banyuwangi demi menjelajah tempat wisata menarik Banyuwangi dalam 4 hari walau lama di jalan semala 2 hari ialah Melisa, Bang Novrizal dan Bang Dendi. Harusnya berenam tapi karena Sarta ada halangan serta Wita tidak bisa ikut, alhasil kami hanya berempat. Sayang sekali kembaranku si Sarta tidak ikut ngetrip ke Ijen padahal seru sama dia, tapi ada untungnya sih dia gak ikut, takut dia gak bisa naik Gunung soalnya Naik ke Ijen penuh tantangan apalagi naiknya yang katanya 3 km tapi serasa 13km. hehe 😀

Gunung Ijen
Gunung Ijen

Aku sendiri sangat bersyukur karena salah satu bucket list perjalananku akhirnya kesampaian juga karena jujur saja impian trip ke Kawah Ijen dan Taman Nasional Baluran demi berburu api biru sudah aku idamkan dari lama sekalii. Kayaknya dari tahun lalu atau tahun sebelumnya. Apalagi waktu lihat beberapa teman bule ku yang sudah ke Kawah ijen dan melakukan perjalanan ke Banyuwangi, sementara aku yang orang Indonesia tulen belum pernah kan jadinya malu 😀

Bisa dikatakan perjalanan Banyuwangi ke Kawah Ijen dan Baluran merupakan puncak perjalanan ku di Jawa. Semoga diberi rezeki dan kemudahan untuk melakukan perjalanan ke Sulawesih dan Papua, amin.

Ok untuk review perjananan Pengalaman Ngetrip ke Kawah Ijen dan Taman Nasional Baluran kebanyakan uangku habis dimakanan karena aku ratu makan dan ongkos ke Banyuwanginya lainnya hamoir murah soalnya kami tidak bayar biaya menginap karena asli selama 4 hari tidur dijalanan terus tidak sewa mobil jeep juga ke ijen. Hebat kan?

Gunung Meranti
Gunung Meranti

Oh ya sebelum on the show ngegembel ke Kawah Ijen dan Baluran aku sudah membuat rincian itenary perjalanan demi mengetahui bayangan biaya pengeluaran selama perjalan. Untuk tiket kereta api sudah lama di beli dari jauh-jauh dari biar murah karena naiknya kelas ekonomi. Kayaknya kereta api Jawa itu teman setia perjalananku selama menjelajah pulau jawa deh. Sayangnya pas di akhir aku malah membeli lagi tiket pulang padahal sudah ada tiket di tangan demi sama pulang dengan Melisa setelah perjuangan panjang dan melelahkan dari Baluran.

Rincian Biaya perjalanan Trip Ijen Baluran

Date Time Activity Price Remark
1/5/2015 14:00 – 01:30 PASAR SENEN(PSE) – SURABAYA PASAR TURI(SBI) 97,500 KERTAJAYA 178
2/5/2015 02:00 – 07:00 Istirahat, makan pagi, persiapan ke Stasiun Gubeng
2/5/2015 09:00 – 15: 14 SURABAYA GUBENG(SGU) – KARANGASEM(KNE) 130,000 MUTIARA TIMUR SIANG 87
2/5/2015 16:00 – 16:30 Sewa mobil trooper 400000 – 2,000,000 Untuk sewa jeap seharian ijen 400-500 rb, untuk sampai baluran bisa kena 2jt tergantung nego
2/5/2015 17:00 – 17:30 Sholat lalu Makan Nasi Tempong di Dapur Oesing, makanan khas Banyuwangi 7,500 Lokasi di Jalan Ahmad Yani. Satu paket nasi tempong terdiri atas nasi, terong, bayam, tahu, tempe, bakwan jagung, dan ikan jambal asin, serta tentu saja sambal kacangnya yang pedas
2/5/2015 17:30 – 19:00 Menuju ke Paltuding yang merupakan titik awal pendakian Gunung Ijen
3/5/2015 01:00 – 03:00  Trekking ke Kawah Ijen yang memakan waktu 2 jam perjalanan 17,500 Biaya Tiket masuk Taman Wisata Alam Kawah Ijen dan tiket parkir mobil
3/5/2015 03:00 – 07:00 Menikmati suasana ijen Bawa senter, syal, sajadah dan tempat minum
3/5/2015 7:00 -08:00 Trekking ke Paltuding selama 1 jam 5000/4 biji Berburu oleh2 belerang pahat  rupa kura-kura, bunga dll
3/5/2015 08:00 – 10:00 Menuju ke Taman Nasional Baluran Dari Banyuwangi kami mengarah ke Situbondo
3/5/2015 10:00 – 12:00 Trekking Bekol – Bama
3/5/2015 12:00 – 13:00 Menuju ke penginapan di Banyuwangi di Angsa Lestari 35,000 – 85,000 / malam Alamat di Jl. Yos Sudarso 171 Banyuwangi
3/5/2015 13:00 – 15:00 Makan siang istirahat mandi
3/5/2015 15:00 – 17:00 Main pasir di pantai Pulau Merah 5000 Tiket masuk
3/5/2015 17:00 – 18:00 Kalau sempat ke teluk Hijau ‘Green Bay’ kalau tidak ke Kampung Adat Osing di daerah Kemire  Pantai Watu Dodol terletak tidak jauh dari pelabuhan Ketapang, dekat dengan jalan utama ke Taman Nasional Baluran
3/5/2015 18:00 -19:00 kembali ke penginapan mandi istirahat
3/5/2015 19:00 – 21:00 Makan malam keliling Kota Banyuwangi
3/5/2015 21:00 – 03:00 tidur
4/4/2015 03:00 – 06:00 Ke stasiun Karang asem 20,000 – 50,000
4/5/2015 06:45 – 13:07 KARANGASEM(KNE) – SURABAYA GUBENG(SGU) 107,500 SRI TANJUNG 196
4/5/2015 13:07 -16:00 ke Pulau Madura jalan-jalan untuk lihat jembatan suramadu Melisa pulang ke Jakarta
4/5/2015 16:00 – 18:00 dari madura ke staiun pasar turi
4/5/2015 18:00 – 20:00 menunggu kereta pulang
4/5/2015 20:00 – 08:23 SURABAYA PASAR TURI(SBI) – PASAR SENEN(PSE) 97,500 KERTAJAYA 177 
weeny traveller
weeny traveller

Dari rencana pengeluaran awal dikenyataan ada beberapa perbedaan seperti tidak jadi sewa mobil trooper, tidak jadi menginap di penginapan Angsa Lestari Banyuwangi, tidak sempat ke teluk Hijau ‘Green Bay’ dan  Kampung Adat Osing di daerah Kemire serta tidak sempat ke Pulau Merah.

Biar tidak penasaran aku buatkan rincian biaya pengeluaran trip Surabaya-Banyuwangi selama 4 hari semoga bermanfaat!

Baluran
Baluran

Rincian Biaya pengeluaran Trip Ijen Baluran Aktual

Bajaj dari Thamrin ke Stasiun pasar senen Rp30.000

Roti O Rp18000/2 buah

Minum milo di kereta api Rp6000, pop mie dan aqua Rp10.000

Makan soto daging di stasiun pasar turi Rp9000

Mandi di toilet umum stasiun pasar turi Rp3000

Naik taxi dari stasiun turi ke stasiun gubeng Rp30000/4 orang

Makan di loko stasiun pasar gubeng Rp33000

Minum susu cokelat di indomaret Rp20000

Makan durian di licin Rp10.000/orang, harga durian perbuah Rp15.000 dan habis dua buah

Makan indomie diperumahan rest area jambu Rp5000, teh manis Rp3000

Makan pagi di paltuding Rp15000 (nasi tempong makanan khas banyuwangi)

Naik angkot dari stasiun karang asem ke taman sari (tempat penampungan belerang) dengan bapak heri angkot Rp25.000/orang

Toilet di paltuding Rp2000

Dari taman sari jalan ke licin lalu makan duren nagih dua buah berhenti dia rea jambu naik mobil orang. Makan indomie bu Agus di warung terakhir sebelum ke hutan ijen

Biaya paltuding dengan pick up sayur Rp25.000/orang

Tiket masuk ke ijen Rp7500

Paltuding ke rest area jambu balik dengan mobil belerang Rp10000

Beli madu asli Rp100.000

Makan gorengan di paltuding plus the jahe Rp8000

Paltuding angkot ke terminal Rp25.000/orang

Tiket masuk baluran + mobil = Rp1000 + Rp15000/mobil

Makan rujak soto Rp37000 +Rp5000 (sopir)

Sewa angkot ke baluran Rp300.000/4 orang -> si bapak marah-marah

Makan nasi campur di stasiun karang asem +toilet+charger hp = Rp17000

Makan loko di stasiun gubeng Rp80000

Tiket pulang Rp173000 ke Jakarta harusnya pulang jam 9 malam jadi pulang jam 4 (harga normal Rp240.000)

Taman Nasional Baluran
Taman Nasional Baluran

Untuk pelajaran yang bisa dipetik dari travelling ke Kawah Ijen dan Taman Nasional Baluran selama 4 hari yaitu betapa susahnya mencari uang ketika melihat bagaimana penambang Belerang mengais rezeki dari Kawah Ijen yang memiliki gas beracun kemudian mengangkut belerang dari Gunung Ijen yang menurutku luar biasa jauh serta belajar untuk mawas diri serta hati-hati dengan orang yang mencoba mengambil keuntungan serta satu lagi selalu deal dengan sesuatu baik menyewa mobil atau menyewa penginapan ketika jalan-jalan karena kalau tidak begitu bisa mendatangkan masalah.

Objek wisata yang bisa dikunjungi di Banyuwangi hanya dua spot saja yaitu Kawah Ijen dan Baluran. Di Taman Nasional Baluran sempat trekking ke Bekol dan Bama walau singkat. Sementara saat di Surabaya sempat mampir ke objek wisata Surabaya di museum Kapal Selam walau dari luar saja. Untuk cerita lengkap perjalanan Banyuwangi-Surabaya ditunggu ya

 

Salam

WeenyTraveller

 

Last Flashpacking in Pontianak


Once the travel bug bites there is no known antidote and I know that I shall, be happily infected until the end of my life

(Michael Palin)

Pontianak
Pontianak

Hello World!

Pontianak, 1 February 2015

Akhirnya sampai juga di catatan perjalanan terakhir di Pontianak Kalimantan Barat. Walau perjalanan dalam rangka bekerja tapi beruntung sekali bisa mengelilingi Kota Pontianak. Teman perjalanan di Pontianak kali ini bersama April, istri rekan kerjaku yang bernama Thomas yang kebetulan ditempatkan di Pontianak. Perjalanan singkat Pontianak cukup memberi kesan tersendiri apalagi Kota Pontianak sangat bersih dan teratur.

Hal yang aku suka dari Pontianak ialah mayoritas perpaduan antara suku yang ada di Pontianak yaitu Suku Dayak, Melayu dan Tionghoa sehingga sangat berpengaruh terhadap kulinernya serta objek wisata yang ada. Kalau dibilang memiliki keunikan tersendiri.

Di Pontianak sangat mudah untuk menemukan Masjid dan Vihara setidaknya itulah gambaran yang aku lihat ketika mengelilingi Kota Pontianak selama 3 hari. Kalau di Bali pulau seribu Pura dan di Lombok seribu masjid maka di Pontianak Masjid dan Vihara lebih dominan banyaknya. Contoh masjid yang mudah ditemukan ialah Masjid Almuhtadin Pontianak yang berada di Universitas Tanjung Pura.

Masjid Almuhtadin Pontianak
Masjid Almuhtadin Pontianak

Begitu juga dengan vihara yang mudah ditemukan di sepankang jalan misalnya jika dari Bandara Supadio Pontianak hendak menuju ke Kota maka akan mudah menemukan vihara. Disinilah letak keunikan dari Pontianak “toleransi” dan “saling menghargai”.

Untuk tips perjalanan Pontinak siap-siap membawa sunblock karena kotanya panas terik bahkan ketika aku datang walau musim hujan tetap panas. Panas namun hujan deras, begitulah kira-kira.

Pemandangan unik lainnya di Kota Pontianak ialah saat pagi antara jam 7-9 pagi dimana para pekerja hendak bekerja melewati jembatan Sungai Kapuas maka dari arah jembatan terlihat kumpulan sepeda motor. Artinya kota Pontianak penduduknya ramai tapi tetap kondusif.

Pontianak
Pontianak

Mungkin waktu tiga hari tidak bisa menyimpulkan tentang Pontianak apalagi perjalananku kali ini singkat tapi karena sudah puas melihat Kota Pontianak sehingga  di hari terakhir di Pontianak aku habiskan dengan istirahat manis di mess ditambah cuaca yang kurang bersahabat. Cukup menyengangkan dengan perjalanan singkat semoga nanti bisa menginjakkan kaki lagi hingga ke Singkawang 🙂

Tips perjalanan di Pontianak
1. Jika ingin solo travelling ke Pontianak maka dari Bandara bisa menggunakan bus umum atau taxi tapi hati-hati dengan taxi bandara karena agak reseh (tidak semua tapi sebagian). Pengalaman waktu di Bandara karena aku celingak celinguk maka ditawarin buat naik taxi dengan sedikit memaksa padahal aku dengan jemputan dari kantor. Cara mengatasinya harus sopan menolak dan pandai-pandailah menawar jika ingin menggunakan jasa taxi.

2. Jika melakukan trip ke Pontianak sebaiknya menyewa motor atau sepeda atau mobil karena jarang angkutan umum. Kebanyakan bus umumnya beruapa bus antar Kota bahkan antar negara. Untuk ke Kuching Malaysia bisa menggunakan jasa Damri dari Pontianak.

3. Sebaiknya jika ke Pontianak melebihkan waktu untuk singgah di Singkawang karena objek wisata Singkawang tak kalah jauh menariknya khususnya penyuka wisata pantai.

Sebaiknya mengunjungi Tugu Khatulistiwa saat Peristiwa kulminasi matahari  di tanggal 21-23 Maret dan 21-23 September agar bisa melihat fenomena alam saat matahari berada tepat di garis khatulistiwa sehingga menghilangkan bayangan yang ada.

peta wisata pontianak

peta wisata pontianak

Catatan Perjalanan Pontianak

1. Dari 10 tempat wisata di Pontianak yang wajib dikunjungi seperti Keraton kadriah, makam kesultanan batulayang, masjid jami pontianak, tugu khatulistiwa, rumah betang bedakng, taman alun-alun kapuas, aloe vera center, museum kalimantan barat, sinka island park, pantai pasir panjang hanya 4 objek wisata saja yang bisa aku kunjungi yaitu keraton kadriah, masjid jami pontianak, tugu khatulistiwa, dan taman alun-alun kapuas. Untuk sinka island park, pantai pasir panjang berada di Kota Singkawang 3-4 jam perjalanan dari Pontianak dengan bus. Selain itu ada satu tambahan objek wisata yang aku suka di Pontianak yaitu Sungai Kapuas.

2. Berburu kuliner Pontianak banyak di Jl. Gajah Mada dan Jl. Pattimura Pontianak hingga ke Taman Alun-alun Kapuas. Untuk makanan yang aku suka di Pontianak ialah bubur dengan ikan teri kuah soto yang aduhai enaknya.

3. Alamat pusat oleh-oleh Pontianak berada di Jl. Pattimura dan siap-siap harga susah untuk ditawar.

4. Hal yang aku suka selama berada di Pontianak ialah melihat pertunjukan air mancur di Taman Alun-alun, menikmati suasana Sungai Kapuas dari Keraton Kadrian dan melihat langsung Tugu Khatulistiwa yang merupakan icon Kota Pontianak.

Kota Pontianak
Kota Pontianak

Biaya pengeluaran perjalanan 4 hari Pontianak

1. Ongkos Tiket Jakarta-Pontianak pp Rp1.300.000 (dibayarin kantor soalnya ini kan edisi kerja bukan holiday jadi aji mumpung). Harga airporttax Bandara Soekarno Hatta Rp40.000, harga airportax Bandara Supadio Rp30.000.

2. Biaya penginapan free karena nginap di mess

3. Total biaya berburu kuliner Pontianak Sotong dan teh manis Rp40.000, durian kuning Rp10.000, teh kembang Rp8000, bubur ikan Rp30.000, kue Rp20.000 = Rp88.000

4. Total biaya untuk oleh-oleh khas Pontianak yaitu Miniatur Tugu Khatulistiwas seharga Rp60.000 (dua buah, satu ukuran kecil dan satu ukuran sedang), kaos tulisan Pontianak dua buah  Rp70.000, gantungan kunci khas Pontianak Rp10.000 (tiga buah), Cokelat wijen khas Pontianak, keripik, talas Rp54.000 = 194.000

Edisi flashpacking and travelling ke Pontianak selesai-

Salam

Weeny Traveller

Sensasi Blusukan di Lobang Jepang Bukittingi


The ultimate lesson all of us have to learn is unconditional love, which includes not only others but ourselves as well. By Elisabeth Ross

lubang jepang bukittinggi
Lubang Jepang Bukittinggi

Hello World

Bukittinggi, ‎06 January  ‎2012

Bukittinggi merupakan salah satu tujuan wisata  Sumatera Barat yang aku suka karena merupakan Kota impian yang ingin aku kunjungi sejak SMP. Plesiran ke Bukittiggi di awal tahun 2012 silam ketika aku baru saja lulus sidang sarjana dan menunggu wisuda sehingga aku ingin mengunjungi Bukittingi. Aku ke Lubang Jepang bersama Nyakmat alias Rahmat teman SMP yang kuliah di ISI Padang Panjang dengan sepeda motor.

Peta Wisata Bukittingi
Peta Wisata Bukittingi

Lubang Jepang Bukittingi atau ejaannya Lobang Jepang Bukittinggi yang merupakan destinasti wisata utama di Bukittingi. Alamat Lubang Jepang Bukittinggi di JL. Panorama, Kel. Bukit Cangang Kayu Ramang, Kec Guguk Panjang, Sumatera Barat. Akses ke objek wisata Bukittingi “Lubang Jepang” sangat mudah diakses karena berada di tengah kota. Untuk masuk ke dalam Lubang Jepang maka pengunjung harus membayar tiket masuk. Harga tiket masuk ke Lubang Jepang waktu itu Rp5000.

Ngarai Sianok
Ngarai Sianok

Setelah membayar karcis masuk Lubang Jepang maka aku dna Nyakmat pun masuk. Memasuki lubang jepang maka yang pertama kali aku lihat ialah peta tempat wisata Bukittingi. Banyak sekali tempat wisata menarik di Bukittingi (Bukittinggi tourism) antara lain Jam Gadang, Ngarai Sianok, Benteng Fort de Kock, taman panorama, taman marga satwa, jembatan limpapeh, lubang Jepang, museum tridaya eka Dharma, pustaka Bung Hatta, Taman Monumen Bung Hatta.

Denah Lobang Jepang
Denah Lobang Jepang

Untuk Ngarai Sinaok dapat dilihat dari Lubang Jepang bahkan di area Lubang Jepang merupakan tempat terbaik untuk melihat Ngarai Sianok. Di area Lubang Jepang jugalah terdapat taman margasatwa yang berisi kera liar. Aku sempat melihat tingkah laku kera taman Lubang Jepang.

Sebelum masuk ke dalam Lobang Jepang, Nyakmat mengajakku melewati pasar tradisional yang ada di Lubang Jepang yang merupakan tempat berburu oleh-oleh khas Bukittingi. Pasar pusat oleh-oleh khas Bukittinggi berisi lukisan Indah, cendramata, kaos dengan tulisan AKU CINTA BUKITTINGI dan masih banyak lainya. Kami terus jalan hingga mentok ke ujung dimana letak Ngarai Sionok berada. Aku sempat berkata pada si Nyakmat, mana Ngarai Si Anok? Lalu dimenunjuk tebing lalu aku kembali bertanya yang mana? Hahahhaha..rupanya Ngarai Si Anok hanya bukit saja yang biasa aku lihat di kampungku Padangsidempuan. Aku sempat geleng-geleng kepala karena aku mengira apa itu Ngarai Sianok. Walau demikian aku sempat berphoto dnegan latar belakang Ngarai Sianok.

Dengan perasaan entah berantah lalu kami melanjutkan perjalanan untuk mengelilingi Lubang Jepang. Sebelum masuk Lubang Jepang maka aku membaca denah Lubang Jepang dengan sambutan papan bertuliskan “SELAMAT DATANG LOBANG JEPANG (JAPPANESE TUNNEL).

Untuk memasuki Lubang Jepang walau tidak ada tour guide cukup mengesankan karena sensasi jalan-jalan ke dalam terowongan/lubang Jepang dengan pencahayaan ala kadarnya dengan wisatawan yang ramai cukup membuat bulu kuduk merinding di beberapa spot di dalam terowongan. Ada satu terowongan yang hanya lewat saja sudah membuatku ngeri tapi seru, kontradiktif sekali ya?

Di dalam Japan tunnel
Aku di dalam Japan tunnel

Dulu Lubang Jepang dulu dibangun sebagai tempat peralatan dan ruang pertemuan tentara Jepang yang terdiri dari beberapa ruang/lorong. Ruang yang ada di Lubang Jepang Bukittingi terdiri dari mini theater, lorong maket geology dan tata kota, lorong patung acrylic, lorong museum geologi, lorong pameran lukisan dan foto-foto, café, lorong duduk, ruang amunisi, ruang makan romusa, ruang siding, museum saintifik, barak militer, pintu pelarian, pintu penyergapan, musholla toilet.

lobang Jepang
Lobang Jepang

Hal yang aku suka dari Lubang Jepang Bukittingi ialah tangganya bagus untuk menuju ke bawah serta setiap ruangan ada tulisan sehingga petunjuknya jelas serta pencahayaan sehingga tidak masih bisa dilewati, hanya saja ada beberapa tempat yang memang agak membuatku seram walau aku bukan anak indigo.

Lobang Jepang Bukittinggi
Lobang Jepang Bukittinggi

Untuk mengelilinginya rasanya hampir 1 jam tapi tempatnya memutar serta bisa melihat tembusan hutan di belakang Lubang Jepang. Lubang Jepanglah pengalaman pertama memasuki terowongan/gua/lubang dan sejenisnya yang panjangnya cukup menguras tenaga tapi tetap menyenangkan.Travelling ke destinasi wisata Lubang Jepang memang singkat tapi cukup berharga.

Salam

Weeny Traveller

Belajar membuat layangan di Museum Layang-Layang Indonesia


 I would challenge you to a battle of wits, but I see you are unarmed. – Shakespeare

tour museum layang layang indonesia
Tour museum layang layang indonesia

Hello World!

Jakarta, 14 Desember 2014

Yang suka layangan tunjuk tangan? Aku salah satu orang yang suka dengan layangan karena mengingatkanku pada masa kecilku di kampung. Terus karena ajakan si Rinta serta baca blognya si Frista aku baru tahu ada Museum Layang di Jakarta. Rupanya masih banyak tempat wisata menarik di Jakarta yang belum aku jelajahin, untuk itu aku harus jalan-jalan di Jakarta hehehe 😀

Aku di depan layangan dari daun
Aku di depan layangan dari daun

Akhirnya aku memutuskan untuk tour ke museum layang-layang Indonesia sendirian dengan menggunakan angkutan umum. Transportasi umum ke Museum Layang-Layang Indonesia dengan angkot METRO MINI dari Blok M no. 510 Jurusan Pondok Labu. Untuk turun lewat dari Rs. Fatmawati hingga ke Jl. Labu serta jelilah melihat Palang bertuliskan “Museum Layang-Layang” disebelah kanan jika dari Blok M. Dari gang jalan maka harus berjalan ke dalam tapi tidak terlalu jauh.

akses ke Musuem layang indonesia
Musuem layang -layang Indonesia

Memasuki  Museum Layang-layang Indonesia maka aku langsung suka dengan gaya bangunan yang kental dengan rumah tradisional Jawa lalu terdapat dua patung di pintu lalu aku masuk ke dalam museum.

Masuk ke dalam halaman museum maka aku membayar tiket masuk seharga Rp10.000. Dan harga tiket cukup worth it karena harga termasuk nonton video tentang sejarah layang-layang, free tourguide serta membuat layangan sendiri yang akan menjadi souvenir dari museum.

Setelah membayar tiket masuk aku lalu menonton sejarah Layang-layang yang mengesankan karena sebenarnya asumsi asal muasal layang-layang itu dari Sulawesih loh. Aku masuk ke dalam audio visual dan menonton sendiri film layangan dengan durasi 15 menit. Melihat depan ruang audiovisual maka layangan berbentuk kepala naga merah dan layangan berbentuk kupu-kupu besar telah menyambut di depan pintu. Aku suka dengan interior museum layangan ini.

Secara umum museum layang terdiri dari 4 bangunan dengan fungsi yang berbeda-beda. Rungan pertama sebagai tempat menonton video layangan, ruangan kedua sebagai tempat membuat keramik serta melukis batik,  rungan ketiga sebagai ruang pamer koleksi layangan serta tempat membuat layangan seta ruangan keempat sebagai tempat koleksi keramik.

koleksi layang-layang
koleksi layang-layang

Banyak sekali kegiatan yang bisa dilakukan di museum layang-layang Indonesia seperti membuat keramik dengan harga Rp50.000, melukis keramik dengan harga Rp40.000, membuat batik dengan harga Rp40.0000.

Saat memasuki ruangan pamer tempat koleksi layang-layang, aku melihat anak  kecil yang melukis layangan di baju serta ada juga anak kecil yang melukis layangan. Memang pas aku datang banyak sekali rombongan anak kecil yang sedang tour ke museum layang.

Aku pun melewati anak kecil yang sedang asyik melukis lalu membuka pintu menuju ke ruang pamer layangan. Lalu aku kagum sekali dengan koleksi museum layangan. Ada yang berbentuk laba-laba, ikan nemo, sepeda, rumah adat jawa barat, naga, kuda putih, layangan dari daun dan masih banyak lagi. Intinya koleksi layangan bermacam-macam seperti layangan tradisional, layangan modifikasi dan layangan olahraga.

layangan berbentul laba-laba
Layangan berbentul laba-laba

Karena saat kunjungan banyak anak sekolah yang berkunjung ke Museum, maka aku tidak mendapat tour guide tapi beruntungnya aku ketamu dengan salah satu tourguide di dalam ruang pamer. Bapak inilah yang mengabadikan photoku dengan koleksi layangan yang keren.

Ada beberapa yang menyita perhatianku terutama layang-layang yang berukuran besar. Tak mau ketinggalan moment sehingga cus minta photo.

Aku dengan koleksi museum
Aku dengan koleksi museum

Setelah puas keliling membaca informasi tentang layangan, akupun keluar lalu melajar membuat layangan hahahaha

Bapak itu juga yang menyiapkan semua peralatan. Cara membuat layangan ternyata sederhana loh. Mulai dari menggunting kertas kemudian menempelnya pada rangka bambu lalu meluksi dengan cranyon. Tapi aku tidak jago gambar malah memuat gambar yang anak SD juga bisa hhahahhaa 😀

Disini merasakan kembali seperti bocah. Walau aku jalan sendirian ke Museum Layang-layang Indonesia tapi seru sekali. Tidak sia-sia perjalanan jauh ini!

Buat yang belum mengunjungi Musuem Layang-layang Indonesia bisa dijadikan referensi tempat liburan singkat di Jakarta yang mendidik 😀

Salam

 

Weeny Traveller

Indahnya Danau Maninjau dari Puncak Lawang Matur


You build on failure. You use it as a stepping stone. Close the door on the past. You don’t try to forget the mistakes, but you don’t dwell on it. You don’t let it have any of your energy, or any of your time, or any of your space
-Johnny Cash-

Puncak Lawang
Aku di Puncak Lawang

Hello World!

Puncak Lawang, 06 January ‎‎2012 ‏

Objek wisata Sumatera Barat memiliki potensi wisata yang menarik untuk dikunjungi, salah satunya Danau Maninjau yang merupakan Danau favorite Presiden pertama Indonesia “Ir. Soekarno”

Untuk menikmati pemandangan menawan Danau Maninjau secara lengkap beserta daerah sekitarnya ada satu spot yang tidak boleh dilewatkan yaitu Puncak Lawang Matur, Sumatera Barat. Puncak Lawang merupakan spot untuk menikmati deretan pegunungan yang mengelilingi Danau Maninjau dari titik tertinggi sehingga terlihat jelas pemandangan Danau Maninjau.

Jalan menuju ke Matur
Jalan menuju ke Matur

Kami berangkat dari Bukittingi jam 8 pagi dan sampai di Puncak Lawang waktu itu jam 11. Kalau diingat-ingat perjuangan ke Puncak Lawang itu harus tahan dengan touring dengan motor yang cukup melelahkan tapi rasa lelah hilang dengan pemandangan alam pedesaan.

Sayangnya waktu kami datang kabut menutupi keindahan Danau Maninjau sehingga aku dan si Nyakmat malah makan mie di warung yang ada Puncak Lawang. Suasana di Puncak Lawang lumayan dingin sehingga minum yang panas-panas menambah asyiknya liburan di Puncak Lawang.

Baru jam 12 lah kabut mulai hilang sedikit demi sedikit hingga akhirnya aku dapat melihat keindahan pemandangan Danau Maninjau diantara pegunungan yang mempesona. Melihat perumahan serta Danau Maninjau dari Puncak Lawang sangat aku rekomendasikan jika sedangan jalan-jalan di Sumatera Barat.

Hal yang aku suka saat berada di Puncak Lawang ialah pemandangan Danau yang diapit oleh Dua pegunungan yang kembar “ciri khas Danau Maninjau” MENAWAN BANGET!

Puncak Lawang merupakan tempat terbaik untuk melihat deretan pengunungan yang mengelilingi Danau Maninjau!

Puncak Lawang
Danau Maninjau dari Puncak Lawang

Perjalanan ke Puncak Lawang merupakan perjalanan perdana cikal bakal yang membuatku ketagihan akan solo travelling serta terhanyut dengan keindahan ciptaan Tuhan karena dengan banyak melakukan perjalanan maka semakin banyak yang dilihat serta rasa syukur itu akan selalu terjaga.

Catatan Perjalanan Puncak Lawang

1. Akses ke Puncak Lawang sangat susah karena tidak ada tranportasi umum yang sampai ke Puncak Lawang sehingga sebaiknya dengan sepada motor, sepeda atau mobil.

2. Usahakan berangkat lebih dini agar tiba siang hari di Puncak Lawang karena siang hari merupakan saat yang tepat melihat Danau Maninjau dari Puncak Lawang

3. Disekitar Puncak Lawang terdapat warung sehingga tidak usah khawatir untuk kelaparan.

Puncak Lawang Nagari Matur
Puncak Lawang Matur

 Tips Jalan-jalan ke Puncak Lawang

1. Karena udara dingin di Puncak Lawang maka jangan lupa membawa jaket dan payung untuk antisipasi jika hujan

2. Sebaiknya ke Puncak Lawang dengan teman atau rombongan.

3. Terdapat resort di Puncak Lawang sehingga bisa menginap

Salam

Weeny Traveller