Hello World!

Padangsidimpuan, Juli 2019

Salah satu “culture shock” yang dialami Mertua, Loraine dan Thimo ketika berada di Indonesia ialah pengemudi Indonesia yang ugal-ugalan terutama pengemudi angkutan umum serta mini bis. Mereka sangat ketakutan terutama ketika pengemudi membawa mobil melebihih kecepatan 80 km per jam. Bahkan perjalanan dari Payakumbuh ke Padangsimpuan dengan travel itu menyiksa dan membuat mereka kapok sekapok-kapoknya untuk memakai kendaraan umum berbentuk mobil bis mini atau angkot. Begitu juga saat aku mengajak mereka untuk main air di air terjun yang lumayan terkenal di kampungku yaitu Aek Sijornih karena ke Aek Sijornih ini lokasinya cukup jauh dari rumah sekitar 1 jam dan kami perginya dengan angkot. Merak amikir0mikir kesana dengan angkotnya!!

Dengan berat hati, Mertua, Loraine dan Thimo mau juga aku ajak ke Air Terjun karena bosan selama di Kampungku hanya bantu-bantu persiapan resepsi pernikahan kami. Sebelum ke Aek Sijornih, kami sempat dilarang jauh-jauh main katanya “pamali” sebelum pesta sudah jalan-jalan. Namanya orang Barat yang tidak percaya dengan tahayul maka kami tetap pergi ke Aek Sijornih tapi diam-diam 😀

Sebelum memutuskan kunjungan ke Aek Sijornih, aku sempat ragu karena penyakit dari tempat wisata di sekitar Padangsidimpuan, Sumatera Utara ini yaitu tiket masuknya itu penjaganya banyak, bayarnya juga banyak. Aku juga sempat bertanya kepada teman yang baru saja ke wisata ini pas Lebaran dan katanya “tiket masuk Rp50.000”. Pas tahu harganya segitu, aku sempat ragu-ragu untuk mengunjungi Aek Sijornih karena air terjunnya bagus cuma kalau hanya ingin lihat air terjun dengan harga segitu rasanya “mikir-mikir”. Untung sepupuku Kak Fitri menjelaskan kalau harga biasa tidak semahal itu dan Aek Sijornih sudah bagus sekali kondisinya. Harga slima puluh ribu itu hanya pas Hari libur saja.

Aku sendiri terakhir mengunjungi Aek Sijornih tahun 2012 bersama keluarga. Waktu itu masih tahap pembangunan dan air terjunnya masih alami. Kami juga perginya ke Aek Sijornih dengan mobil pribadi bukan dengan transportasi umum. Jadi cara ke Aek Sijornih dengan transportasi umum baru pertama aku lakukan dan itupun langsung bawa keluarga baruku. Untung ada Kak Fitri yang menjelaskan bagaimana cara ke Aek Sijornih dengan transportasi umum.

Transportasi Umum ke Aek Sijornih

Cara ke Aek Sijornih dari Padangsidimpuan sangatlah mudah. Kebetulan saya berangkat dari Aek Tampang, Padangsidimpuan dengan angkot tujuan Palopat dengan biaya angkot Rp4.000/orang kemudian turun di terminal Palopat lalu dilanjutkan dengan angkutan umum ke Aek Sijornih dengan biaya Rp10.000 per orang. Ini adalah opsi pertama.

Nah ternayata kalau ke Aek Sijornih bisa juga berhenti di Padangmatinggi (nama daerah di Padangsidimpuan) dan langsung ke Aek Sijornih bahkan biayanya lebih murah (Ini opsi kedua).

Tapi kami mengambil opsi pertama dari via Palopat. Katanya kalau opsi kedua lebuh murah hanya Rp7.000 saja.

Saat naik angkot, Mertua sangat takut tapi mereka sudah terbiasa. Sementara Loraine naik motor dengan Kka Fitri ke Aek Sijornih. Di dalam angkutan umum, lagu dipasang keras sekali dan lagu yang diputar saat itu ialah lagu “sayur kol”. Asli ya ketika Mertua mdengera lagunya tiba-tiba mengikuti lagu Sayur kol itu dan aku hanya tersenyum, sementara suami merasa malu melihat tingkah laku Mertua. Tapi disitu jadi lucu, lucu melihat tingkah lakunya!!

Belum lagi kehebohan penumpang lain di dalam angkot karena jarang melihat orang asing sehingga mereka melihat secara seksama mulai dari atas sampai bawah seperti melihat Alien. Mertua sendiri suka memphoto hal yang dianggap tidak biasa, “semua ingin diphoto” beliau bahkan anak sekolahan di dalam angkot saja di photoin. Katanya di Negaranya anak sekolahan tidak pakai seragam. Mungkin saking penasaran sekaligus takjum dnegan perbedaan, karena aku juga begitu di Negara orang 🙂

Aek Sijornih

Aek Sijornih merupakan salah satu wisata yang adai Padangsidimpuan. Aek Sijornih berasal artinya air yang bersih karena saking jernihnya airnya makanya disebut Aek Sijornih (jornih = bening). Aek Sijornih meiliki bentuk yang bertingkat dengan pepohonan disekitarnya yang rimbun serta airnya yang dingin. Menariknya Aek Sijornih pernah dikunjungi oleh program My Trip My Adventure, padahal tidak pernah aku mengira bakalan di liput di stasiun TV, tempat wisata yang sering aku kunjungi sewaktu kecil ini.

Kami sampai ke Aek Sijornih jam 2 siang, setelah dalam perjalanan 1 jam. Kalau zaman dulu ke Aek Sijornih setiap lewat satu area maka banyak uang yang dibayar maka sekarang tidak lagi. Dulu bisa sampai 7 kali yang minta uang padahal baru juga lewat beberapa meter, disini yang membuat malas ke Aek Sijornih.

Saat kami mengunjungi Aek Sijornih berubah jadi wisata pemandian dengan pemilik satu orang saja dan dipagar. Minusnya keindahan dari Aek Sijornih berkurang karena sudah dibeton dan dibuat kolam. Kelebihannya ialah harganya yang tetap dan tidak ada pemalakan yang membuat orang malas berkunjung. Ada plus minusnyaa!!

Saat kami tiba, kami melewati jembatan kayu. Mertua sangat takut melewati jembatan kayu dan anaknya malahan memainkan kayu-kayu itu. Udah tahu orang tua takut, eh malah kerjain. Dasar anak durhaka 😛

Aku sendiri takut naik jembatan itu, tapi pura-pura tidak takut. Soalnya kalau aku bilang takut ntar malahan si Suami suka mengerjai. Nah setelah dari jembatan maka kami berjalan sekitar 10 menitan maka sampaialah di gerbang Aek Sijornih. Tiket masuk ke Aek Sijornih itu Rp10.000/orang. Karena kami orang lokal, Alhamdulillah biaya masuk kami yang Rp60.000 jadinya hanya Rp40.000 saja. Lumayan dapat diskon Rp20.000. Thimo sempat bertanya kok bisa 40rb, salah kembalian ya. Terus kami langsung  mendumel “emang mau bayar mahal?”, terus langsung dijawab “no”, sama dia.

Saat memasuki Gerbang, Aek Sijornih banyak berubah terutama di kolamnya dan adanya Gazebo. Hanya saja untuk penggunaan Gazebo bayar lagi Rp20.0000. Saat memasuki Aek Sijornih, kondisinya sudah banyak berubah. Airnya tetap hanya saja kealamiannya sudah berkurang. Mertua dan Loraine sangat suka dengan air terjun di Aek Sijornih karena bersih bahkan langsung nyebur dan mandi di Aek Sijornih. Air terjun seperti ini tidak ada di Eropa, beda jenisnya katanya. Tapi tetap airnya segar dan asik untuk berenang. Selain itu sudah ada fasilitas mandi dan ganti pakaian yang semuanya free sudah termasuk biaya tadi. Aku bahkan mengatakan kalau dulu lebih canTik lagi karena alami. Setelah mandi, kami sempat keliling untuk meliaht-lihat keadaan. Loraine dan mertua sempatheran dengan pohon nangka karena mereka belum pernah lihat sebelumnya. Betapa kita sebagai orang Indonesia beruntung ya karena tanah Indonesia subur dan banyak tanam-tanaman.

Kami di Aek Sijornih hanya 2 jam saja tapi lumayan puas. Namun pas pulangnya kami semua terkena diare padahal kami tidak makan apa-apa. Katanya itu karena tidak mendengarkan nasehat orang tua,tapi kami tetap beranggapan ada hubungannya. Karena yang pentinng meski pulangnya basah kami senang .

Aek Sijornih

Jam Buka Aek Sijornih

Buka setiap hari, tutup jam 5:30 sore

Harga tiket masuk ke Aek Sijornih

Rp10.000 +Rp20.000 (jika pakai Gazebo)

Lokasi Aek Sojornih

Jalan Trans Sumatera Bukittinggi – Padang Sidempuan, Aek Libung, Sayur Matinggi, Aek Libung, Sayur Matinggi, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara

Salam

Winny

Posted by Winny Marlina

Indonesian, Travel Blogger and Engineer

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.