Pengalaman berkunjung ke Museum Rekor Indonesia (MURI) Jakarta


Not really sure how to feel about it
Something in the way you move
Makes me feel like I can’t live without you
It takes me all the way
I want you to stay

By Rihanna

museum muri
Museum MURI

Hello World

Jakarta, 9 Agustus 2015

Jalan-jalan di Jakarta itu saat weekend ternyata seru juga apalagi berburu museum karena memang Jakarta memiliki banyak koleksi museum yang patut dikunjungi. Salah satu museum yang membuatku penasaran ialah Museum Rekor Indonesia (MURI). Museum Rekor Indonesia (MURI) sendiri terdiri dari dua lokasi, Semarang dan Jakarta. Dulu waktu ke Semarang, aku tidak tahu kalau ada Museum Rekor Indonesia (MURI) sehingga mumpung tinggal di Jakarta maka kesempatan untuk mengunjungi Museum Rekor Indonesia (MURI) Jakarta.

Museum Rekor Indonesia (MURI) Jakarta merupakan museum yang berisi dokumentasi berbagai rekor yang berhasil dipecahkan dan dibukukan di MURI sebagai pencatatan rekor tingkat nasional yang kemudian nantinya dibukukan ke Guinness’ Book of World Record. Lokasi Museum Rekor Indonesia (MURI) Jakarta di Lower Ground Floor Mall of Indonesia (MOI), Kelapa Gading Jakarta. Untuk jadwal buka jam 10.00 – 22.00. Harga tiket masuk Museum Rekor Indonesia (MURI) Jakarta Rp10.000 untuk dewasa dan Rp5000 untuk anak-anak. Harga tiket masuk Museum Rekor Indonesia (MURI) Jakarta cukup ramah dikantong kan? Bisa jadi menjadi salah satu travelling murah di Jakarta.

museum muri jakarta
Aku dan Gladies di Museum Rekor Indonesia (MURI), Jakarta

Pengalaman berkunjung ke Museum Rekor Indonesia MURI Jakarta diawali dari ajakanku ke Gladies ke MOI alias Mall Of Indonesia yang berada di Kelapa Gading dengan naik busway. Cara akses kami ke Mall of Indonesia dari Thamrin Jakarta Pusat yaitu dengan naik busway arah Kota kemudian turun di halte Kota kemudian naik arah Tanjung Priok lalu turun di halte Sunter Belouvard (Rp3500). Turunnya pas di depan Mall of Indonesia kemudian kami tinggal jalan ke dalam Mall nya. Jujur saja aku bukan anak Mall jadi walau sudah 2 tahun di Jakarta baru pertama kali aku menginjakkan kaki di MOI dan itupun demi sebuah museum 🙂

Dengan semangat 45 kami pun mencari lokasi Museum Rekor Indonesia yang berada di Jakarta tepatnya di Lantai LG. Setelah mencari maka kami berada di depan museum tapi sayang seribu sayang museumnya tutup karena pegawainya sedang mengikuti urusan 17an. Padahal musuem Muri keren sekali, konsepnya unik dan berbeda dan yang paling keren itu pamerannya di dalam Mall. Coba bayangkan museum dalam sebuah mall, keren!

Karena museum tutup akhirnya aku dan Gladies hanya bisa menikmati dekorasi museum MURI dari luar. Di depan museum ada tulisan “MURI – MUSEUM REKOR-DUNIA INDONESIA” serta beberapa rekor yang unik dipecahkan oleh orang Indonesia. Untuk khasnya sih saat di pintu depan Museum Rekor Indonesia (MURI) Jakarta terdapat patung raksasa Punakawan yang terdiri dari Bagong, Semar, Petruk dan Gareng. Indonesia banget ya! Wayang gede yang pernah aku lihat jadi tidak heran bisa masuk kedalam salah satu rekor Indonesia ya?

 

museum muri jakarta
Aku di depan Tokoh Punakawan MURI Jakarta

Walau gagal masuk ke dalam Museum Rekor Indonesia (MURI) Jakarta, aku cukup puas melihat dari luar dan semoga ada kesempatan untuk masuk kedalam museum tapi disaat yang tepat 🙂

Btw siapa yang sudah berkunjung ke Museum Rekor Indonesia (MURI) Jakarta?

Salam

Winny

Iklan

Ngetrip Wisata Surabaya


Success is the result of perfection, hard work, learning from failure, loyalty, and persistence.

By Colin Powell

wisata kota tua surabya

Hello World

Surabaya, 2 Juli 2015

Untuk sekian kalinya aku mengunjungi Surabaya dan masih banyak sekali tempat wisata menarik Surabaya yang belum selesai aku tinggalkan jejak. Kalau 2 tahun lalu ditemani oleh Intan untuk mengunjungi objek wisata Surabaya dalam sehari mulai dari mengunjungi iconic Surabaya “Patung Buaya dan Hiu” hingga ke Tugu Pahlawan Surabaya terus bulan Mei 2015 lalu cuma sempat mengunjungi Museum Kapal Selam Surabaya itupun lihat dari luar maka Alhmadulillah bulan Juni 2015 aku bisa menginjakkan kaki lagi ke Kota Surabaya dengan misi menjelajah wisata Surabaya yang belum sempat untuk aku kelilingi.

Kalau dipikir-pikir, sebenarnya aku sering ke Surabaya tapi transit doang sehingga untuk puas menapakkan kaki di temapt wisatanya rasanya harus datang berulang-ulang. Tapi rasa penasaran itu terobatin dengan jalan sendiri di Juni lalu, mungkin agak freak atau ke nekat tapi aku tidak tahu jalan dengan tanya orang terus jalan dah!

Jadi ceritanya aku tinggal di hotel Cleo di depan Tunjungan Plaza Surabaya, nah harusnya ada jemputan kantor tapi karena mobil tidak ada akhirnya aku tidak jemput. Alhasil daripada bego di kamar terus akhirnya aku memutuskan untuk jalan saja. Apalagi aku sudah lama penasaran dengan Patung Buddha 4 wajah yang pernah aku baca dari blognya si Johannez terus ada yang pernah menyarankan untuk ke House of Sampoerna terus pas di hotel baca tulisan kak Noni tentang Kampung Ampel. Yah akhirnya aku memutuskan ketika objek wisata Surabaya yang aku kunjungi dalam sehari “House of Sampoerna, Patung Buddha 4 wajah dan kampung Sunan Ampel” 🙂

Ngetrip Wisata Surabaya aku mualai dengan Rumah Sampoerna

1. House of Sampoerna

museum sampoerna
Museum Sampoerna

Aku masih ingat ketika menanyakan kepada represonis tentang cara akses ke House of Sampoerna yang merupakan salah satu objek wisata Surabaya berupa museum kemudian aku tanya cara akses ke Patung Buddha empat muka yang si represonis dengan muka kaget membayangkan tidak mungkin bisa mengelilingi dua tempat berbeda dalam sehari dan jaraknya pun jauh dari lokasi menginapku. Tapi bukan Winny namanya patah arang terus pasrah, kalau sudah ingin pasti aku capai walau orang menggapnya tidak mungkin. Intinya aku dapat dari si kakak kalau ke Patung itu berada di daerah Kenjeran namanya sedangkan yang Rumah Sampoerna masih mungkin naik angkot alias angkutan umum. Laku aku keluar dari hotel dan memulai perjalanan dengan modal tanya orang. Agak susah memang untuk menjelajah Surabaya dengan angkutan umum karena jalurnya yang searah sehingga harus benar-benar tahu jalan serta nomor angkot. Aku saja waktu itu asal naik angkot terus tanya si Bapak angkot bagaimana caranya ke Rumah Sampoerna eeh emak-emak disebelahku ngomel samaku “kamu kok nekat naik angkot tapi tidak tahu mau kemana?”. Duh ampun kalau kena marah terus akhirnya aku turun dari angkot tersebut lalu si bapak menyuruh naik angkot yang turunnya dekat dengan Tugu Pahlawan lalu naik angkot dengan kode “N”. Yang membuat momok lagi ialah ongkos angkot sekali jalan jauh dekat di Surabaya itu Rp5000 sehingga pas aku hendak ke House of Sampoerna harus 2x naik angkot dan seharusnya 3x tapi aku hemat jalan kaki. Singkat cerita aku sampailah ke rumah Sampoerna yang merupakan museum rokok yang unik dan gratis lagi alias tidak dipungut biaya. Di dalam rumah Sampoerna bisa melihat sejarah berdirinya rokok sampoerna serta melihat cara membuat rokok di lantai 2. Unik dan menarik berkunjung ke House of Sampoerna, tidak sia-sia berjalan jauh 🙂

2. Patung Buddha Empat Muka Surabaya

Patung Buddha Empat Muka Surabaya
Patung Buddha Empat Muka Surabaya

Aku tidak pernah menyangka kalau objek wisata Patung Buddha Empat Muka Surabaya berada di daerah kawasan yang mirip Dufannya Jakarta walau jauh berbeda. Tentu saja dipastikan kalau patung buddha empat muka merupakan tempat ibadah umat Buddha. Untuk mencari lokasi Patung Buddha empat wajah rupanya susah-susah gampang karena berada di dalam kawasan wisata Kenjeran dan kenjeran itu adalah nama sebuah daerah di Surabaya.  Biaya masuk Rp5000 terus aku jalan kaki ke dalam-dalam hingga sampai di depan Patung empat Buddha. PS sebenarnya buddha itu ada 4 wajah gak sih? maklum tidak tahu tentang Buddha.

3. Patung kwan inn Surabaya

patung kwan inn Surabaya
Patung kwan inn Surabaya

Untuk patung kwan in sebenarnya aku tidak tahu kalau masih satu kawasan dengan patung buddha 4 wajah terus tahunya karena ada bapak yang nyuruh masuk karena lokasinya berada tepat di depan Patung Buddha. Terus masuk ke dalam nuansanya pintunya mirip mini Bali terus masuk ke dalam rupanya vihara terus masuk ke dalam lagi tradaaa ada gerbang dengan dua naga terus diatasnya Patung Kwan in terus dibelakangnya hamparan Pantai Kenjeran. Awalnya aku kira kayak Patung Kwan in yang di Siantar atau yang Hatyai rupanya yang ini tak kalah unik apalagi dibelakangnya latarnya Kenjeran beach heheheh 😀

4. Kampung sunan ampel surabaya

kampung sunan ampel surabaya
Kampung sunan ampel surabaya

Untuk wisata Kampung Sunan Ampel merupakan tempat wisata ketiga yang aku kunjungi setelah House Sampoerna, Patung Empat wajah serta Patung Kwan in. Rupanya lokasinya tak jauh dari Plaza Jembatan Merah Surabaya terus aku jalan kaki melewati pasar. Nah saat masuk ke dalam kawasan Ampel aku merasakan seperti berada di Arab soalnya banyak orang Arab yang berjualan di sepanjang jalan sehingga bisa dibilang Little Arabnya Indonesia kali ya. Sayangnya aku tidak masuk ke dalam Makam Sunan Ampel karena memang aku bukan penyuka wisata makam tapi aku cukup suka dengan mencoba kulinaran di Kampung Ampel.

Begitulah kira-kira ringkasan pengalaman ngetrip ke Surabaya dalam sehari dengan empat objek wisata.

Salam

Winny

Pengalaman 72 Jam naik Bus ALS dari Padangsidempuan ke Jakarta #EdisiMudikLebaran


Where we love is home, home that our feet may leave, but not our hearts

(Oliver Holmes)

peta padangsidempuan-jakarta
Peta padangsidempuan-jakarta

Hello World!

Padangsidempuan-Jakarta, 22-24 Juli 2015

Untuk pertama kalinya dalam hidup ku segede begini naik bus dari kampungku Padangsidempuan ke Jakarta. Kalau kata mamaku waktu kecil aku pernah naik bus ke Jakarta tapi waktu kecil mana ingat. Biasanya jika aku ingin pulang kampung maka biasanya mencari tiket murah dan untuk ke kampungku penuh perjuangan loh! Karena Padangsidempuan berada di tengah-tengah Sumatera Barat dan Sumatera Utara jadi pesawatnya bisa melalui Bandara Kuala Namu atau Bandara di Padang (biasanya harganya murah) atau bisa juga dari Pekanbaru tapi ketiga bandara ini juga ke kampungku harus melanjutkan naik mini bus selama 8-12 jam.  Biasanya aku paling familiar dengan rute dari Kuala Namu terus ke Medan dulu buat jalan-jalan lalu dari Medan ke Padangsidempuan bisa 8-12 jam tergantung kondisi si pengemudi. Kalau pengemudinya lagi mabok bisalah dia bawa perjalanan 6-8 jam tapi bawanya kayak terbang dan ongkos dari Medan ke Padangsidempuan dengan L300 pas lebaran 2015 ini seharga Rp180.000. Jadi kalau dihitung-hitung 2,5 jam dengan pesawat dari Jakarta ke Medan lalu 10 jam dari Medan ke Padangsidempuan.

Perjuangan banget kan ke kampungku?

Kalau mau rute yang lebih cepat bisa melalui Bandara Ferdinan dari Jakarta langsung dengan Garuda terus dari Bandara Ferdinand 2,5 jam ke kampungku cuma agak mengurus gocek sedikit terlebih-lebih kalau pas Lebaran pasti harga tiket mahal!

Awalnya aku sangsi antara pulkam nggak ke Padangsidempuan bahkan pengen ke Bali karena harga tiketnya lebih murah tapi karena rindu mamaku dan adikku akhirnya aku pulkam juga tapi aku beli tiket pergi ke Medan tiket baliknya belum sama sekali. Masih berpikir mengikuti saran uwakku untuk naik Bus ALS ke Jakarta karena beliau sudah di Padangsidempuan dan terbiasa dengan naik bus. Alhasil dasar pertimbangan ada teman dan ingin tahu gimana rasanya naik bus 2 hari 2 malam karena normalnya Jakarta-padangsidempuan lama perjalanan seperti itu serta lumayan kan menjelajahin Sumatera dari jalur darat. Sekali-kali ingin anti mainstremlah itu pikirku padahal mamaku sudah melarang untuk naik bus karena memang kondisiku waktu pulang kampung itu jatuh sakit, dua hari pertama di kampung muntah jadi mamaku khawatir jika aku naik bus ke Jakarta.

Uwakku di Restauran dekat Danau Singkarak Sumbar
Uwakku di Restauran dekat Danau Singkarak Sumbar

Ok akhirnya aku memutuskan pulang ke Jakarta dengan naik bus bersawa uwakku. Jadilah pengalaman pertama naik bus ALS (PT. Antar Lintas Sumatera) dengan tujuan Padangsidempuan-Jakarta.

Kami berangkat hari selasa malam, katanya sih jam 7 malam tapi lelet jadi jam 10 malam juga berangkatnya. Jam 10 malamlah kami berangkat dari Padangsidempuan ke Jakarta.

Pengalaman lucu naik bus itu ada ketika satu mobil dengan inang-inang Batak (emak-emak Batak), full satu mobil isinya kebanyakan Batak jadi lucu-lucu saat di mobil. Terus mobilnya itu suka sekali berhenti untuk makan dan sebagainya.

 

 

pengalaman naik bus
Inang-iang pengalaman naik bus

Untuk rute keseluran Padangsidempuan ke Jakarta dengan bus ALS yaitu

– area Sumatera Utara -> Padang Sidempuan – Panyabungan-Kotanopan- Muara Sipongi lalu memasuki wilayah –

– area Sumatera Barat -> Rao-Panti -Lubuk Sikaping-Bonjol-Bukittinggi-Padang Panjang-Sijunjung-Tanah Datar-Singkarak-Solok-Kiliran Jao – Sungai Dareh lalu memasuki provinsi Jambi ->Muara Bungo-Bangko- Sarolangun lalu memasuki

– area Provinsi Sumatera Selatan ->Lubuk Linggau-Tebing Tinggi-Lahat-Muara Enim -Prabumulih-Baturaja-Martapura lalu memasuki

-area wilayan Provinsi Lampung ->Blambangan Ampu-Pesawaran-Bukit Kemuning – Kotabumi-Bandar Jaya-Bandar Lampung-Kalianda

kemudian Bakauheni-Merak dengan menyeberang kapal roro kemudian ke Ciwandan-Jakarta. Terakhir berhenti di Agent ALS di Klender Jakarta dengan alamat Jl. Raya Bekasi Km. 18 Klender, Pulo Gadung, Jakarta Timur.

Pengalaman pertama yang aku suka dari pengalaman naik bus itu ketika berhenti di rumah makan nasi Padang yang pemandangannya Danau Singkarak, Sumatera Barat. Salah satu Danau di Sumatera Barat yang rancak bana bahkan makan dengan nasi padang sambil menikmati Danau Singkarak itu sungguh menyenangkan walau capek sekali naik bus. Kami sampai di Danau Singkarak paginya jam 9 pagi setelah semalam jam 10 berangkat dan penumpang banyak yang mandi di Rumah makan ini tapi aku lebih memilih untuk tidak mandi.

Pengalaman lainnya yang lucu saat naik bus ALS ialah ketika hendak menchas hp disetiap pemberhentian akan dikenakan biaya Rp2000-Rp5000 tergantung daerah yang dikunjungi. Terus lucunya naik bus ALS dengan inang-inang sambil mendengarkan lagu Batak, seru kan? ahhaha lucu sebenarnya terus bisa melihat daerah sekitar misalnya bagaimana narsis Zumi Zola disepanjang Jambi, betapa banyaknya banyaknya rumah bertangga di Muara Enim hingga betapa panasnya Lampung semuanya aku tahu dari serunya naik bus ALS. Terus ada lagi adekan si supir demam batu akik sampai berhenti demi membeli batu akik murah lalu dimarahin inang-inang penumpang “supir ayo berangkat kapan lagi kita sampai di Jakarta” ramai-ramai dengan logat Bataknya.

Ah luculah! Kalau diingat-ingat mau ketawa pelangi 😀

Cuma yang membuat pengalamannya tidak menarik ketika aku harus terkena Biduran dari Jambi sampai Jakarta alias 2 hari 2 malam perjalanan. Aku menggarut seluruh tubuh, gatalnya minta ampun kemudian tidak ada satupun rumah makan yang 2 hari 2 malam menjual obat alergi terus dalam hati “mak nyesal tidak mendengarkan nasehatmu”. Terus agak bingung juga ama ini tubuh pas jalan ke luar negeri sehat-sehat saja pas jalan di dalam negeri langsung tumbang. Mungkin karena pertama kalinya naik bus 3 hari 3 malam kali ya? Alhasil aku menyirami badanku yang alergi dengan minyak kayu putih tapi tidak mempan juga. Bahkan di penyebarangan Bakahuni-Merak pertama kalinya aku tetap merasakan gatal disepanjang waktu sehingga perjalanan ini tidak menyenangkan. Terus mamaku merasa bersalah karena hanya membekaliku dengan obat sakit perut karena waktu di kampung sakitnya sakit perut pas di perjalanan eeeh Biduran sodara-sodara! Bisa saja memang aku tidak tahan dengan angin malam!

Walau demikian asyik perjalanan naik bus kalau tidak terkena biduran! Begitulah pengalamanku naik bus ALS 72 jam dari padangsidempuan ke Jakarta dengan membawa biduran ahhaha 😀

Sampai di Jakarta jam 4 pagi har jumatnya terus sampai kos jam 5 langsung aku mandi dengan handuk terus teman sekosku Gladies shock melihatku datang langsung mandi dengan sekujur tubuh yang bengkak. Tas tidak kuperdulian langung minum dextamin dan aku tertidur….

Pelabuhan
Di dalam Perahu Bakaheuni-Merak

Tips naik bus ALS Padangsidempuan ke Jakarta atau sebaliknya

1. Sediakan semua obat, obat alergi, perut, pusing dan sebagainya selama perjalanan

2. Kondisi tubuh harus fit saat perjalanan

3. Tidak direkomdasikan naik bus saat Lebaran karena lama di jalan terus harga tiket bus ekonomi Padangsidempuan-Jakarta pas lebaran 2015 seharga Rp575.000

4. Bawa tas kecil serta perlengkapan

5 Bawa power bank agar tidak rugi

6. Jangan mandi sembarangan di tempat pemandian

 

Salam

Winny

Wisata Kuliner Ekstrim di Wangfujing Street Beijing


The Mall at Oriental Plaza/Wangfujing Snack Street is much like London’s Oxford Street or New York’s fifth Avenue, Wangfujing street holds a strong pull for Beijing visitors. It was one of Beijing’s first major shopping streets after former leader deng Xiaoping’s economic reform in the 1980s. And chief amongst these shops is the mails at oriental Plaza, with all manner of international brands that be found within, a resounding testament how far China has opened up to the world. Afterward, head to Wangfujing’s snack street a lantern lined stretch of stalls selling live scorpions (25 RMB), snakes and other treats (China Guide).

Wangfujing Street
Wangfujing Street

Hello World

Beijing, Juni 2015

Satu tempat unik di Beijing, China yaitu Wangfujing street yang terkenal dengan makanan esktrimnya yaitu “Kalajengking”. Jujur aku tidak tahu kalau di wangfujing street itu tempat yang cukup populer di kawasan yang tak juah dari Forbidden city. Awalnya hendak mencari tempat makanan halal di Beijing karena kata Kak Agus, mahasiswa yang kuliah di China kenalan waktu hendak ke Great Wall menyarankan kalau hendak mencoba kulineran khas Beijing bisa di Wangfujing serta terdapat makanan halal juga di Wangfujing street setidaknya ada restauran halal untuk Muslim di Wangfujing Street, Beijing.

wangfujing
Wangfujing

Awal kenapa aku memilih ke Wangfujing street karena dekat dengan penginapan, serta karena faktor lapar sehingga dari Summer Palace maka aku turun di Wangfujing Station. Saat berada di stasiun Wangfujing aku sempat tergoda dengan Pizzahut di Wangfujing karena Wangfujing sendiri terhubung dengan mall sehingga aku sendirian dong mengitari mall sambil mencari makan. Tapi karena takut tidak Halal akhirnya aku mengurungkan makan Pizza malahan keluar dari stasiun wangfujing menuju ke Pechinaan Wangfujing yang merupakan tempat untuk berburu wisata kuliner Beijing. Keluar dari stasiun Wangfujing maka aura wangfujing street terang benderang dan ramai pengunjung pada malam hari berbeda dengan saat di pagi atau siang hari yang kelihatan biasa saja. Flashback ketika pertama kali sampai di Beijing, untuk sampai ke penginapan maka melewati jalanan Wangfujing yang kelihatan biasa eeh pas malam suasananya ramai sekali.

Oh ya Wangfujing street selain untuk kulineran Beijing dengan makanan ekstrimnya juga sebagai tempat nongkrong anak muda China serta bisa juga loh untuk mencari oleh-oleh di Beijing tapi dengan satu catatan “harus jago menawar” 😀

Wangfujing Station
Wangfujing Station

Karena penasaran, akhirnya aku mengikuti kemana orang berjalan hingga aku tertuju pada satu papan yang tulisan China yang tidak aku mengerti tapi banyak orang yang berhenti berphoto di depan kayu tersebut yang mirip seperti Petaling street Malaysia. Dalam hati “ini kali iconnnya sehingga banyak orang photo di depannya, aku juga ikutan photo ah walau tidak tahu arti tulisannnya apa”.

Bingung nyari orang buat photoin akhirnya nemu satu cewek yang photo pake tongsis, karena dipastikan tidak bisa berkomunikasi akhirnya aku kasih hp minta tolong dengan body language ahhaha dan beruntungnya dia mau, 🙂

Terus mengikuti orang-orang yang ramai hingga berhenti di satu toko yang menjual kalajengking untuk dimakan. Kalajengkingnya bukan kalajengking biasa loh, tapi KALAJENGKING HIDUP! Aku sampai geleng kepala kepada orang yang berani kuliner ekstrim di Wangfujing street dengan makan kalajengking hidup!

Salut….

Culinary ektrim in wangfujing street
Culinary ektrim in wangfujing street

Aku juga menyaksikan satu wanita yang ikut-ikutan mencoba makan kalajengking hidup tapi dengan rasa takut juga. Kalau aku sih tidak mencoba karena cukup menikmati pemandangannya saja. Waktu di wangfujing aku malah teringat dengan Khao sand Road Bangkok yang juga menjual makanan kuliner ekstrim seperti kalajengking tapi paling tidak kalajengking di Bangkok itu sudah digoreng kalau di China masih hidup. Untuk yang di China, memphoto makanan ektrim tidak kena chas sementara di Bangkok jika ingin memphoto makanan ektrim harus membayar. Terus perbedannya makanan di Khao sand Road Bangkok lebih ekstrim lagi dibandingkan di Wangfujing karena yang di Bangkok ada kecoa, larva sementara yang di Wangfujing lebih kepada kalajengkingnya yang hidup lainnya biasa saja.

Selain makanan ekstrim, di Wangfujing street bisa juga kok menikmati makanan normal dan enak seperti gurita, ankea mie, anek kue dan banyak lagi.  Aku sendiri mencoba Kuliner gurita di Wangfujing street seharga 20 Yuan. Lucunya saat membeli Gurita yang ditusuk di dalam sate si penjual berkata “where are you from?” lalu aku jawab “Indonesia” kemudian menjawab “pretty” hahahha langsung deh aku mengelembung 😀

(bercanda)

Setalah makan gurita di sate makannya sangsi antara halal atau tidak. Ah Beijing membuatku galau untuk makan, kalu di Xi’an aku tidak perlu takut untuk makan karena dipastikan halal. Lalu aku berjalan dari ujung ke ujung hingga toko terakhir terus berjalan kembali hingga menemukan sebuah pertunjukan menarik. Opera khas China yaitu pria yang di make up kemudian bernyanyi atau apalah yang aku tidak tahu tapi yang pasti banyak sekali penontonnya.

Kalau menurutku sih unik melihat pertunjukan China!

opera in wangfujing street
opera in wangfujing street

Nah tak jauh dari pertunjukan opera ada retauran halal yang yang bertuliskan Arab. Nah aku memilih makan indomie pake ayam di Wangfujing street seharga 28 Yuan di restauran ini. Si penjaga restauran juga menanyakan asalku serta mengucapkan salam ketika tahu aku itu Islam dan raut wajahnya yang antusias seperti aku dari mahkluk unik yang baru di lihat 🙂

Aku senang dapat menemukan restauran halal di Wagfujing Street Beijing, China. Paling tidak rasa lapar terobati. Selain di dalam wangfujing street sebenarnya ada juga restauran halal di dekat stasiun Wangfujing yang bernama Shun Muslim restaurant tapi aku tidak tahu mengenai harganya karena untuk restauran biasa saja yang aku coba harganya sudah 28 Yuan.

Setelah kenyang akupun keluar dari Wangfujing street kemudian mampir ke McD di WAngfujing sambil main internet dan menikmati kesendirian di dalam Mcd ditemani oleh hot green tea.  Untuk Green Tea di MCD wangfujing seharga 17 Yuan yang terasa nikmat sambil menikmati malam di Beijing sambil mengamati orang yang hilir mudik.

Rincian biaya kulineran di Wangfujing Street, Beijing

-Makan noodle di Wangfujing street seharga 28 Yuan

– Kuliner gurita di Wangfujing street seharga 20 Yuan

-Green Tea di MCD wangfujing seharga 17 Yuan

Salam 

Winny

Mengitari Old Summer Palace (Ruins of Yuanmingyuan)


Old Summer Palace also known as the Ruins of the Yuanmingyuan (the Garden of Perfection and Light) was first constructed in the year of 1709 during the reign of the Emperor Kangxi of the Qing Dynasty (1644-1911). Over the next 150 years of the Qing Dynasty, this Garden was expanded to be a large-scale Chinese emperors’ private pleasure garden, covering a total area of 350 hectares (China Travel Guide)

Yuanmingyuan
Yuanmingyuan

Hello World!

Beijing, 10 Juni 2015

Gambar Old Summer Palace  atau disebut juga Ruins of Yuanmingyuan menjadi salah satu objek wisata Beijing yang dipajang di stasiun subway Beijing yang membuat penasaran untuk mengunjunginya. Paling tidak sepanjang bolak balik di Tiananmen East Station dalam trip ke China, Ruins of Yunamingyuan cukup menyita perhatian. Kemudian karena hari terakhir di Beijing maka untuk menghabiskan waktu, tidak ada salahnya untuk travelling ke Old Summer Palace yang sudah menjadi puang putih yang cukup keren di photo.

Dengan berbekal Beijing Subway map maka awalnya mengira kalau lokasi Ruins of Yuanmingyuan itu dekat dengan stasiun Xiyuan sehingga dengan pedenya menuju ke Xiyuan dari Tiananmen East dengan mengurangi jumlah saldo Yikatong sebesar 5 Yuan. Sesampai di stasiun Xiyuan maka perhatianku tertuju pada Xiyuan market serta beberapa patung unik di bagian luar stasiun. Dengan modal photo reruntuhan Yuanmingyuan ternyata warga lokal malah memberikan jalan ke Summer Palace yang sudah dikunjungi kemaren. Oke dari peta memang lokasi Summer Palace dekat dengan Ruins of Yuanmingyuan tapi kok tidak ada tanda-tanda Yuanmingyuan. Akhirnya karena instuisi udah gak enak dan sudah terlanjur berjalan jauh sehingga menanyakan kembali ke warga lain hingga akhirnya “yey nyasar” ahhahaha 😀

Xiyuan Station
Xiyuan Station

Kendala dalam melakukan trip ke China ala backpacker tanpa embel-embel tourguide atau dengan jasa tour memang di Bahasa karena susah sekali berkomunikasi kecuali yang bisa Bahasa Mandarin maka jalan-jalan ke China sendirian bisa lancar jaya.

Untungnya ada warga lokal yang menyuruh naik bus karena lokasinya jauh, sehingga naik bus yang aku lupa nomor berapa tapi pastinya bayar 2 Yuan dan busnya mirip seperti bus yang ada di Kyoto, bayar dulu baru masuk. Uangnya dimasukkan ke dalam tempat berupa kaca lalu ketika keluar dari tengah bus. Dari nyasar ini akhirnya tahu juga dimana stasiun mana harus turun ketika hendak ke Ruins of Yuanmingyuan yaitu di STASIUN YUANMINGYUAN, bukan di stasiun Xiyuan. Dodol ahhahaha 😀

Rute yang benar menuju Ruins of Yuanmingyuan dari Tiananmen East

Tiananmen East stastion – Militery Museum (stop kemudian ganti subway ke line 9) – National Library (stop kemudian ganti ke line 4) – Yuanmingyuan Park station.

Nah dari stasiun Yuanmingyuan Park maka tinggal jalan 10 menit sampailah di depan gerbang pintu masuk ke dalam Yuanmingyuan Park.

Old Summer Palace Yuanmingyuan
Old Summer Palace Yuanmingyuan

Awalnya aku tidak tahu kalau Ruins of Yuanmingyuan itu berada di dalam Yuanmingyuan Park, tahunya ketika sampai di tempat. Nah untuk masuk ke dalam Yuanmingyuan Park maka harus membayar tiket masuk Yuanmingyuan Park seharga 5 Yuan. Pas membayar “ini seriusan cuma 5 Yuan”? Kok murah banget? Gak salah ini harga tiket masuk? kok jadi wisata murah Beijing ya? Seribu pertanyaan dengan harga yang aku anggap miring serasa tidak percaya. Yang akhirnya pertanyaanku yang beribu akan terjawab sendirinya 🙂

Kalau dari pintu gerbang Yuanmingyuan, kelihatan biasa saja, tidak ada tanda-tanda didalamnya ada sebuah taman yang luas berisi dengan runtuhan bangunan yang penuh sejarah sampai akhirnya memasuki Taman yang super luas!

Ruins of Yuanmingyuan Beijing China
Ruins of Yuanmingyuan Beijing China

Sebenarnya jika melihat Yunamingyuan ruins park tourist map, sudah kelihatan bener betapa luasnya taman yang akan dikunjungi dan benar saja jalan kaki ber-km rasanya!

Kalau tidak mau capek jalan, ada mobil untuk mengitari Yuanmingyuan Park tapi harus bayar lagi. Karena malas mengeluarkan uang yasudahlah jalan kaki saja.

Catatan penting tentang objek wisata di Beijing China itu luas maka siapkan mental dan stamina untuk berjalan kaki sehingga jika ingin puas mengitari satu tempat wisata di Beijing minimal satu objek wisata satu hari.

Old Summer Palace Ruins of Yuanmingyuan Maps
Old Summer Palace Ruins of Yuanmingyuan Maps

Ketika berjalan mengiatri taman luas Yuanmingyuan Park, hamparan bunga sudah menyambut serta jembatan khas China banget yang indah. Gilanya pikiranku ketika melihat hamparan bunga maka dalam otak ‘Gila kok lebih indah Taman Bunga Nusantara ya?”. hahahha ;D

Tapi walau begitu Yuanmingyuan Park lumayan luas kok, berisi Danau buatan, bunga-bunga indah sampai kepada lavender.

Oke oneday aku harus mengunjungi Taman Lavender di Indonesia 🙂

Bagi yang tidak suka jalan jauh-jauh, tidak aku rekomendasikan masuk ke dalam Yuanmingyuan Park karena menurutku sih biasa saja. Tapi untuk refreshing boleh lah mengunjungi Yuanmingyuan Park. Untuk pengunjungnya sendiri tidak begitu banyak paling tidak Summer Palace jauh lebih banyak pengunjungnya.

Setelah berjalan agak jauh maka tujuan utama untuk mencari Ruins of Yuanmingyuan di dalam Yuanmingyuan Park karena Yuanmingyuan Park terkenal dengan taman di dalam taman. Hingga akhirnya sampai di depan Ruins of Yuanmingyuan. Terus kalau hendak masuk ke dalam Ruins of Yuanmingyuan maka harus bayar lagi sebanyak 15 Yuan lagi.

Terus pertanyaan kenapa murah terjawab sudah karena harga masuk 5 Yuan hanya untuk taman saja jika ingin masuk ke dalam rerentuhan Old Summer Palace maka harus membayar lagi heheheh 😀

Waktu sampai di Ruins of Yuanmingyuan waktu sudah menunjukkan jam 18:43 waktu China dan hari masih kelihatan terang benderang, buktinya sampai aku photoin dengan latar belakang Ruins of Yuanmingyuan. Jam 7 maish terang memang salah satu kesan perjalanan China yang lumayan membuatku surprise ;0

Ruins of Yuanmingyuan Beijing
Ruins of Yuanmingyuan Beijing

Setelah melihat jam yang sudah hampir jam 7 dan sudah jalan cukup jauh serta harus bayar lagi padahal penasaran isi dari Ruins of Yuanmingyuan itu apa sehingga memutar otak karena tidak mau rugi. Akhirnya berputar 180 derajat dari pintu karcis Ruins of Yuanmingyuan menuju ke sisi lain ke arah jalanan yang berbukit. Dari jalanan berbukit inilah kelihatan Ruins of Yuanmingyuan dari atas yang sebenanrya pemandangan yang cukup indah terus gratis lagi hahahaha 😀

Seni jalan-jalan itu emang harus jago-jago dalam strategi pengeluaran apalagi jalan-jalannya backpacker alias on budget walau aku masih tahap backpacker gagal sih 🙂

Tapi aku senang dapat melihat Ruins of Yuanmingyuan dari kejauhan, siapa coba mau naik ke bukit hanya demi menghemat 15 Yuan 😉

Jalanan ke Ruins of Yuanmingyuan
Jalanan ke Ruins of Yuanmingyuan

Hasil dari mencoba berjalan mendaki gunung lumayan mendapat photo antik dari Old Summer Palace atau sering disebut Ruins of Yuanmingyuan. Masih tersisa istana China yang berupa bangunan bergaya Eropa yang antik walau tinggal reruntuhan.

Dan yang paling menarik aku menikmatinya secara gratis dari atas bukit 🙂

Rincian biaya perjalan ke Ruins of Yuanmingyuan

-Ongkos dari Xiyuan ke ruins of Yuanmingyuan seharga 2 Yuan

-Ongkos masuk ke dalam ruins of Yuanmingyuan 5 Yuan

Salam

Winny

Summer Palace Beijing, Istana dikelilingi Danau


The Summer Palace built in 1750 and named Garden of Clear Ripples, it was an imperial garden and temporary palace of royal family in the Qing Dynasty. In 1860, the garden was burned down by the Anglo-French forces and rebuilt in 1888, known as Summer Palace. The summer palace includes mainly the Longevity hill and Kunming lake with a total area of 300.59 hectares of which 75% are covered by water. The Summer Palace is well known for its conversation of 70,000 square meter palaces and gardens, as well as large collection of valuable cultural relics. It was designated one of the first national priority protected sites in 1961 and inscribed on the World Heritage List in 1988.

Summer Palace Beijing
Summer Palace Beijing

Hello World

Beijing, 9 Juni 2015

Kembali lagi ke Beijing ketika melakukan perjalanan panjang 14 jam dari Xi’an, sebuah Kota yang banyak penduduk Muslimnya untuk ukuran China. Rencana objek wisata yang ingin dikunjungi ialah Summer Palace karena sisa liburan di China untuk melihat tempat wisata China yang belum dikunjungi. Untuk tempat tinggal di Beijing maka kembali membooking Fell inn karena alasan penginapan murah di Beijing kemudian jalanan juga sudah hapal.

Check in penginapan, taruh barang, istirahat sebentar kemudian mandi lalu menuju ke The Summer Palace, salah satu objek wisata populer di Beijing China. Untuk menuju ke Summer Palace cukup mudah, intinya hapalin rute subway di Beijing Subway Map. Kalau dari Tiananmen East (subaway terdekat dari tempatku menginap) rutenya ialah Tiananmen East station – Military Museum station (turun ganti ke line 9 dengan tujuan National Library) -National Library station (turun ganti ke line 4) – Beigongmen station. Turunnya pas di Beigongmen station terus jalan tinggal dikit sampailah ke pintu masuk Summer Palace. Intinya rajin-rajin bawa peta Beijing karena itulah petunjuk jalan. Kalau tidak salah kartu Yikatong (semacam e-money) dipotong 5 Yuan dari Tiananmen ke Beigongmen.

Sebelum jalan-jalan ke Summer Palace aku sudah top up Yikatong seharga 20 Yuan untuk keliling Beijing kemanapun agar tidak perlu rempong untuk masuk karena masuk ke stasiun Beijing itu rempong karena harus scan baranglah terus antri jadi untuk lebih fleksibel.

Nah sesampai di stasiun Beigongmen, cukup berjalan kaki kurang lebih 10 menit ke Summer Palace. Nah masuk ke dalam Summer Palace, harus membayar tiket di loket karcis. Harga tiket masuk Summer Palace (Juni 2015) itu 30 Yuan. Terus dikasih lah tiket masuk ke Summer Palace.

Oh ya sedikit catatan trip ke China, kalau aku perhatikan tiket masuk ke objek wisata China rata-rata sudah memiliki hologram di karcisnya sehingga pas masuk tinggal screen hologram itu secara otomatis. Canggih ya 🙂

Aku di depan pintu Gerbang Summer Palace
Aku di depan pintu Gerbang Summer Palace

Ketika masuk ke dalam Summer Palace, dari luar kelihatan biasa saja. Ciri khas China banget yaitu patung putih penjaga Summer Palace lalu siapa sangka ketika berjalan melalui jembatan terdapat air dan disekelilingnya toko-toko penjual oleh-oleh atau makanan. Waktu itu aku tidak pernah menyangka kalau Summer Palace itu dikelilingi oleh Danau. Awalnya di pintu masuk aku kira hanya Sungai terus di depannya kelihatan hanya bangunan biasa yang ternyata merupakan Sida Buzhou.

Sida Buzhou (Four Great Regions) was built during Emperor Qianlong’s reign (1736-1795), this group of Buddihist structures was built in accordance with the Tibetan style of architecture. They were called the Jambudvipa, Uttrakara, Purvavidewa, and Aparagodahiya

Summer Palace
Summer Palace

Karena ketidaktahuan maka naiklah mendaki melewati Sida Buzhou padahal kalau mau berjalan dari samping tidak perlu melakukan hiking. Naik tangganya yang super melelahkan, karena jujur saja aku tidak suka mendaki karena butuh tenaga ekstra. Untungnya rasa letih mendaki tangga serta jalanan yang tidak biasa terobati ketika sampai di atas puncak dengan pemandangan Beijing yang indah.

Aku suka sekali dengan ornamen atap dari Isatan ini yang menurutku unik ditambah aku bisa menikmati siluet pegunungan dari atas. Maklum takut ketinggian tapi penyuka pemandangan dari atas, agak kontradiksi memang 😉

Oh ya di atas itu juga terdapat patung Buddha berupa kuil tapi karena aku tidak begitu tertarik masuk ke dalam, jadi melihat dari luar saja sudah cukup sehingga aku beralih ke samping dari The Summer Palace.

Untuk luas Summer Palace sendiri amat sangat luas, bayangin saja mengelilingi Danau!

DANAU!

Tapi ada juga loh orang yang kurang kerjaan ingin mengelilingi Summer Palace mengitari Danau hingga balik ke asal tapi aku tidak tahu apakah Danau ini akan balik ke titik awal dari pintu masuk Summer Palace. Paling tidak, aku tahu pasti bahwa aku tidak akan mengelilingi Danau di Summer Palace dengan jalan kaki. Karena mendaki ke atas saja cukup menantang 😀

Setelah berjalan melewati bebatuan, tangga masuk kemudian melewati bangunan yang mirip kuil maka ada sebuah bangunan yang menarik perhatian karena di satu bangunana terdapat ribuan patung Buddha yang menempel didinding bangunana tersebut. Aku lalu mengingat perjalanan waktu ke Bandung dulu bersama Santo dkk karena kami mengunjungi kuil seribu Buddah di Bandung. Bedanya di China itu nempel di dinding bukan didalam kuil/vihaara. Jujur agak sedikit surprise juga di China karena notabenenya Komunis tapi agama Buddha lumayan kental di China!

Nah untuk tempat fovorite pengunjung baik wisatawan lokal maupun mancangera itu pas di puncak dari Summer Palace, ada sebuah batuan dengan background Danau serta istana. Disamping itu terdapat sebuah toko yang menawarkan jasa untuk pakain traditional China sambil berphoto dengan latar belakang tersebut.

Dari puncak Summer Palace maka siap-siap menuruni tangga yang lumayan jauh! Kemudian melewati sebuah benteng dari zaman dulu. Sayangnya salah ambil jalan, harusnya melihat Summer Palace dari sisi Danau malah jalan menjauh ke Danau. Kesan yang tidak pernah aku lupakan betapa capeknya jalan di sisi Danau Summer Palace!

Summer Palace Beijing China
Summer Palace Beijing China

Biar tidak penasaran luasnya Summer Palace itu, peta summer palace ada aku buat dimulai dari masuk ke sisi lain ters nyasar ke seberang Danau melewati jembatan. Harusnya masuk ke depan dari Summer Palace eeh malah nyasar entah kemana hahahaha 😀

Kadang travelling itu tidak melulu indah saja loh, ada perjuangan di dalamnya serta ada “seni”, seni nyasar, seni adaptasi, seni baca peta, seni bertanya dan seni memakai bahasa Tarzan hahaha 😀

Map of Summer Palace
Map of Summer Palace

Walau demikian dengan salah jalur maka aku bisa melihat hal lain salah satunya jalan dipinggir Danau itu dipakai oleh warga lokal untuk jogging di sore hari. Serta pepohonannya sejuk, jembatannya khas China banget serta jika hendak keliling Danau ada sewa perahu tapi siap-siap mengeluarkan uang lagi. Dan yang paling lucu ialah ketika melihat seorang ibu berenang di Danau padahal ada tulisan “forbidden to swim” terus ada tulisan Chinanya lagi.

Terus bagi yang tidak mau membayar uang masuk 30 Yuan ke dalam Summer Palace masuknya dari jalur keluar atau sisi Danau karena Danau terhubung dengan Summer Palace 🙂

The Summer Palace Beijing
Aku di The Summer Palace Beijing

Overall mengunjungi Summer Palace lumayanlah untuk dijelajahin tapi siap-siap untuk berjalan jauh karena rute perjalanannya menantang serta butuh waktu lama di Summer Palace jika ingin berjalan mengelilinginya.

Biaya pengeluaran backpacker ke Summer Palace 

Harga penginapan di Feel inn Beijing seharga 55 Yuan

– Top up Yikatong seharga 20 Yuan

– Harga tiket masuk ke summer palace seharga 30 Yuan

 

Salam

Winny

 

Ngetrip ke Ujung Genteng Rp100ribu Saja


“People are often unreasonable, illogical, and self-centered;
… Forgive them anyway.
If you are kind, people may accuse you of selfish, ulterior motives;
… Be kind anyway.
If you are successful, you will win some false friends and some true enemies;
… Succeed anyway.
If you are honest and frank, people may cheat you;
… Be honest and frank anyway.
What you spend years building, someone could destroy overnight;
… Build anyway.
If you find serenity and happiness, they may be jealous;
… Be happy anyway.
The good you do today, people will often forget tomorrow;
… Do good anyway.
Give the world the best you have, and it may never be enough;
… Give the world the best you’ve got anyway.
— Kent M. Keith (The Paradoxical Commandments) —

Sunset di Ujung Genteng
Sunset di Ujung Genteng

Hello World!

Ujung Genteng, Mei 2015

Travelling yang paling murah sepanjang perjalanan selain trip gratisan atau trip 3 Pulau Onrust, Kelor dan Cipir ialah perjalaann ke Ujung Genteng. Ngetrip ke Ujung Genteng Rp100ribu saja diluar makan. Kok bisa? Karena perginya dengan rombongan temannya temanku. Jadi awalnya teman kantorku bernama Dede cerita kalau dia akan touring ke Ujung Genteng dengan teman kuliahnya lalu aku dengan sok dekat bilang, “De gue ikut dong”! Awalnnya tidak mengiyakan rupanya aku dan dua temanku Sarta dan Muja jadinya ikut rombongan mereka. Perjalanan kami sangat murah karena kami berempat belas orang dengan mobil temannya temanku itu serta masing-masing kami mengumpulkan uang Rp100.000 untuk biaya transportasi dan penginapan.

Kalau diingat-ingat dulu ditahun 2012 aku pernah membayar uang trip dengan anak BPI untuk liburan ke Ujung Genteng dengan titik kumpul di Bogor seharga Rp300.000an tapi karena aku ada halangan maka uangku melayang eeh siapa sangka akhirnya aku ke Ujung Genteng juga di tahun 2015 demi melihat pelepasan kura-kura yang membuatku penasaran.

Air terjun
Air terjun

Kami berangkar di Pasar minggu lalu kami berempat belas dengan dua mobil beriringan menuju ke Ujung Genteng dari Jakarta jam 1 malam. Rombongan yang ikut trip perjalanan ke Ujung Genteng ialah aku, Sarta, Muja, Dede, Surya, Rina, Gita, Ale, Jamed, Icang, Mayun, dan lainnya. Maaf lupa nama sebagian teman. Aku, Sarta dan Muja satu mobil dengan Dede, Ale, James dan Gita. Kami berangkat jumat malam tapi alangkah macetnya perjalanan ke arah Sukabumi pas malam karena jalanan yang rusak maka kami sampai di Ujung Genteng jam 4 sore.

Awalnya aku penasaran dimananya Sukabumi letak Ujung Genteng karena beberapa kali ke Sukabumi tidak pernah melihat pantai. Eeh ternyata perjalanan ke Ujung Genteng dari Jakarta cukup jauh juga melewati Pelabuhan Ratu. Maklum jalanan ke Bayah selalu melewati Pelabuhan Ratu maka aku hapal betul betapa capeknya perjalanan ke Ujung Genteng dengan mobil pribadi mengingat perjalanan yang berliku apalagi jalanan Cikidang yang berliku. Kami bahkan mulai dari makan di jalan, istirahat di Musholla hingga akhinrya sampai juga di Ujung Genteng.

Ujung Genteng Indonesia
Ujung Genteng Indonesia

Sayangnya kami tidak sempat ke Curug Cikaso atau Air Terjun Cikaso karena kami mengejar waktu untuk berburu pelepasan penyu langsung. Kalau dibayangkan lama juga yah kami sampainya di Ujung Genteng dari jam 1 pagi sampai jam 4 sore lebih dari 12 jam padahal biasanya lama perjalanan dari Jakarta-Ujung Genteng 8 jam. Tapi kami sempat melihat air terjun tapi aku tidak tahu nama air terjunnya.

Oh ya untuk kesanku terhadap Ujung Genteng ialah pairnya yang bersih dan putih serta langsung menghadap ke Samudera India serta sunsetnya yang indah serta melihat langsung penyu.

Penginapan Pondok Hexa di Ujung Genteng
Penginapan Pondok Hexa di Ujung Genteng

Sampai di Ujung Genteng maka kami pun menuju ke penginapan yang memuat kami berempat belas. Kami menyewa rumah di penginapan Pondok Hexa Ujung Genteng seharga Rp500.000 semalam. Perempuannya tidur diatas dan cowoknya tidur di bawah. Asyiknya penginapan kami itu ada kolam renang serta bisa masak. Rina dan teman-teman malah masak indomie di penginapan ini yang dimakan ramai-ramai.

Kami langsung menaruh tas kami di penginapan dan langsung menuju ke tempat Taman Pesisir Pantai Penyu Pangumbahan, berharap kalau penyu belum dilepaskan.

Trip to Ujung Genteng
Trip to Ujung Genteng

Untuk menuju ke pangumbahan kami menaiki mobil dengan jalanan yang berliku. Lalu sesampai di penangkaran kami langsung membeli tiket masuk ke dalam penangkaran. Harga tiket masuk (retribusi tiket masuk) ke Taman Pesisir Pantai Penyu Pangumbahan (Pengumbahan Turte Park) Ujung Genteng Rp10.000.

Aku, Sarta dan Muja langsung melihat penyu-penyu kecil di dalam ember yang akan dilepsakan serta ada juga relur penyu di dalam pasir. Seru sekali melihat penyu-penyu mungil ini! Sayangnya karena kami kelamaan di jalan, alhasil terasa singkat sekali di Ujung Genteng.

Penyu di Ujung Genteng
Penyu di Ujung Genteng

Tanpa mau membuang waktu kami langsung menuju ke pantai tempat dimana penyu dilepaskan dan berharap kami masih melihat penyu dilepasakan ke laut. Berjalan ke pantai maka pantainya sungguh indah serta sunset Ujung Genteng itu indah banget mirip di Kuta Bali.

Kami ramai-ramai begitu menikmati deburan laut, matahari yang mulai tenggelam serta keramaian orang-orang yang juga sama seperti kami “menunggu pelepasan penyu”. Kalau mengingat penyu jadi teringat film perjalanan penyu dari telur 😀

Kami di Ujung Genteng
Kami di Ujung Genteng

Moment yang kami tunggu-tunggu akhirnya datang yaitu pelepasan penyu. Pengunjung Ujung Genteng langsung membentuk lingkaran kemudian instruksi untuk tidak mendekati penyu. Lalu penyu dikeluarkan satu persatu dari baskom dan penyu berjalan berlahan-lahan menuju lautan luas!

Untuk yang menyaksikan pelepasan penyu tidak boleh dekat ke arah pantai karena dikhawatirkan bisa menginjak penyu. Lalu air datang membawa penyu-penyu!

Lucu 😀

Walau singkat kami menikmati penyu imut di Ujung Genteng. Lalu dengan mobil kami kembali ke penginapan. Nah saat di penginapan yang cowok pada berenanga di kolam berenang penginapan sementara cewek-cewek masak. Khusus aku, Muja dan Sarta malah mencari minuman hangat berupa wedang jahe seharga Rp5000. Cukup mengahangatkan dan seru serta yang kami suka ialah mencoba ikan bakar di dekat penginapan. Sayangnya lama banget masaknya harus ditungguin, kalau tidak ditungguin dan dilihatin bisa 2 jam an dimasak. Untungnya ikannya enak agak lumayan lah!

Pelepasan penyu di Ujung Genteng
Pelepasan penyu di Ujung Genteng

Setelah kenyang maka aku, Muja dan Sarta kembali ke penginapan bergabung dengan teman yang lain. Lalu kami istirahat..

Keesokan harinya kami lalu berjalanan disekeliling penginapanan mulai dari mencari sarapan pagi hingga ke pantai. Anehnya sarapan pagi kami berupa bubur ayam. Jauh-jauh ke Ujung Genteng makan bubur ayam hahaha 😀

‘Ta, makan ikan bakar lagi yuk”, kataku lalu Sarta mengiyakan. Memuaskan berkuliner ria ikan bakar di Ujung Genteng mumpung murah 😀

Penangkaran penyu Ujung Genteng
Aku di Penangkaran penyu Ujung Genteng

Kami juga sempat nongki di depan warung untuk makan es krim goreng.. Kayaknya kebanyakan biaya pengeluaranku besarnya itu dimakan, maklum ratu makan 😀

Bersantai dengan es krim goreng sambil menikmati laut seru sekali loh!

Ujung Genteng Sukabumi Indonesia
Ujung Genteng Sukabumi Indonesia

Untuk teman ku yang lain paginya memasauk mie telur tapi aku, Sarta dan Muja malah makan bubur ayam. Mereka kelihatan seru sekal! Walau aku baru kenal tapi seru karena orang-orangnya lucu dan welcome banget terus hemat lagi hihi 😀

Travelling to Ujung Genteng
Travelling to Ujung Genteng

Sebelum pulang kami malah bermain di pantai dari jam 8 sampai jam 12 siang. Untuk bangun kami cukup kebo, bangunnya jam 8 pagi saking capeknya di jalan. Untungnya air lautnya bersih walau pantai penuh sampah! Sayang sekali tempat wisata pantai seindah ini harus berisi dengan sampah-sampah!

Semoga kedepannya wisatawan lebih bijaksana dan sadar untuk tidak mengotori pantai karena benar-benar merusak pemandangan!

Kuliner di Ujung Genteng
Kuliner di Ujung Genteng

Puas melihat pantai Ujung Genteng kami pun bergabung dengan tim untuk pulang ke Jakarta. Nah saat pulang ke Jakarta tepatnya di Cikidang mobil kami tidak sanggup untuk naik keatas bukit sehingga terjadilah kejadikan kami berjalan kaki mendaki bukit. Untungnya perjalanan kami selamat sampai tujuan. Serta adegan jalan kaki di Cikidang menjadi pengalaman lucu. Jalan ramai-ramai!

Kami berangkat dari Ujung Genteng jam 2 siang dan sampai di Jakarta jam 10 malam dengan selamat! Perjalaanan Ujung Genteng yang melelahkan tapi terbayar dengan rasa penasaran melihat penyu dilepas di laut lepas 😉

Catatan perjalanan Ujung Genteng

1. Cara akses ke Ujung Genteng bisa dengan transportasi umum tapi lebih murah lagi dengan mobil serta dibagi ramai-ramai. Dari pelabuhan Ratu ambil ke arah kiri melewati PLU Pelabuhan Ratu karena dari arah kanan maka akan ke Sawarna.

2. Perjalanan ke Ujung Genteng cukup jauh jadi sebaiknya butuh minimal 3 hari agar menikmati perjalanan.

3. Banyak sekali penginapan di Ujung Genteng jadi tidak usah khawatir menginap dimana tapi kalau mau membangun tenda bisa saja.

4. Di Ujung Genteng teradapat banyak warung makanan jadi tidak usah khawatir untuk mencari makanan. Kuliner khasnya tentu saja seafood.

5. Jika ingin melihat pelepasan penyu maka usahakan datang ke Ujung genteng sebelum jam 4 sore karena jadwal pelepasaran antara jam 5-6 sore serta membayar tiket masuk Rp10.000 di penangkaran penyu.

6. Paket wisata Ujung Genteng itu berkisar Rp100.000 hingga Rp300.000 jadi sebaiknya pergi ramai-ramai atau touring dengan sepeda motor.

Jalan-jalan Ujung Genteng
Jalan-jalan Ujung Genteng

Rincian Biaya Perjalanan Ujung Genteng

Tranportasi dan penginapan di Pondok Hexa Rp100.000

Makan bubur ayam Rp11.000

Makan siang di pertigaan Rp10.000

Beli minuman susu di indomaret Rp24.000 + es krim Rp12.000

Makan seafood malam hari Rp95000/ 3orang

Minum es koteng Rp5.000

Makan bubur ayam dengan ikan plus kopi Rp 15.000

Makan seafood Rp25.000

Makan malam di Sukabumi Rp67.000

-Liburan ke Ujung Genteng selesai-

Ujung Genteng Sukabumi
Ujung Genteng Sukabumi

Salam

Weeny Traveller

Sejam jalan-jalan di Taman Nasional Baluran


A dream does not become reality through magic, it takes sweat determination and hardwork

-Colin Powell-

Taman Nasional Baluran
Taman Nasional Baluran

Hello World!

Baluran, Mei 2015

Jam menunjukkan jam 2 siang ketika Pak Hery, supir angkot Banyuwangi yang tiba-tiba jadi langganan kami menjemput kami di rest area Jambu tempat dimana mobil belerang menurunkan kami berenam. Ada dilema bagi kami berempat antara pergi atau tidak ke Baluran karena kemungkinan tidak akan sempat mengunjungi Taman Nasional Baluran padahal Bang Dendi dan Bang Novrizal akan balik ke Surabaya jam 9 malam. Sementara 4 teman yang baru kami berkenalan memastikan tidak akan terkejar karena jam tutup pembelian tiket jam 4 sore.

Alhasil dengan bantuan Pak Heri maka kami menuju terminal dan mencari angkot yang mau membawa kami ke Baluran. Dari jadwal perjalanan yang telah aku buat maka kami seharusnya bisa Trekking Bekol – Bama. Alhasil Pak Heri menawarkan mencari angkot alias angkutan umum seharga Rp300.000 sampai ke Baluran. Sebelumnya kami telah ditawari harga sewa mobil seharga Rp900.000 seharian dari Paltuding hingga ke Baluran dan Pantai Merah tapi karena menurut kami kemahalan, alhasil kami rela menghabiskan waktu 4 jam menunggu mobil belerang. Mahal dan murah emang relatif sih!

Gunung Ijen
Penambang Belerang di Kaki Gunung Ijen

Dengan bantuan Pak Hery maka kami mendapatkan supir angkot yang mau membawa kami ke Baluran mengejar sisa waktu yang 4 jam. Nah saat masuk kami memastikan kalau si Bapak mau membawa kami masuk ke dalam Taman Nasional Baluran, bukan hanya diantar sampai ke depan pintu depan Gerbang Baluran saja. Karena harga Rp300.000 kami patok hingga sampai ke Stasiun Karang Asem.

“Pak, sampai ke dalam Baluran kan?” tanyaku?

si bapak lalu berkata “masuk saja, nanti kita bicarakan”!

Nah saat masuk ke dalam kami masih bergabung dengan penumpang lain terus Bang Novrizal memastikan lagi. “sampai Bekol kan Pak”, lalu si Bapak mengiyakan.

Lalu dengan perasaan plong kami menuju Baluran dari terminal yang diantar Pak Heri. Kami lalu memberikan uang angkutan umum dari Rest Area Jambu ke terminal Rp25.000/orang kepada Pak Heri.

Tiket Masuk ke Taman Nasional Baluran
Tiket Masuk ke Taman Nasional Baluran

Kami menikmati pemandangan perjalanan. Apalagi waktu melewati pelabuhan Ketapang gilanya si Melisa kumat “aaaaaa Baliii, begitu katanya”.

Yaudah sih Mel, langsung aja jadikan, kataku menggodanya!

Sesampai di Taman Nasional Baluran maka jam 4 kurang dan aku langsung berlari keluar mobil angkot untuk membeli tiket. Harga tiket masuk baluran + mobil = Rp10.00/orang + Rp15.000/mobil. Lama perjalanan dari terminal dari Baluran kurang lebih 1 jam dan menurut kami tidak terlalu jauh sebenarnya karena jalanan bagus. Tapi pas melewati pintu gerbang Baluran, maka jalanannya yah ampun jelek! Tapi sebenarnya belum sebanding dengan jalanan jika ke kampungku di Padangsidempuan, tapi memang mobil yang cocok masuk ke dalam Baluran sebaiknya mobil type jeap atau mobil khusus abrod.

Kami mengikuti gaya mobil, sesekali kepala kebentur keatap mobil. Cobaan dah demi Taman Nasional Baluran terus waktu mulai gelap. Kurang lebih 45 menit rasanya hingga sampai ke Bekol tempat dimana tengkorang rusa yang membuatku penasaran dari tahun ke tahun. Saking lamanya lupa sejak kapan lihat di blog teman tentang Baluran, yang membautku penasaran.

Baluran National Park
Baluran National Park

Simple sih yang membuatku penasaran untuk melakukan trip ke Baluran karena imej Baluran sebagain litte Africanya Indonesia. Apalagi pas google photo-photonya Baluran yang keluar gunung dengan pohon serta ilalang eksotis. Tapi pas sampai di Baluran apakah karena timing kedatangan sore atau karena kami disana sebentar tapi pas nyampe di Baluran, Oh O, that’s it! cuma itu saja!

Mungkin karena aku pernah tinggal di Kupang yang notabenenya eksotis sepanjang tahun jadi waktu melihat Baluran only that, sedikit kecewa sih tapi kecewanya gak terlalu banget juga sih, karena pemandangan Taman Nasional Baluran lumayan Ok kok. Bahkan kera dan rusa mudah dilihat berkeliaran terus pohon-pohonnya unik.

Baluran National Park, located in district of Situbondo, East Java Indonesia consists predominantly of open savannahs, where wildlife roam free. Baluran discovered by A.H.Loredeboer in 1937 and you could watch grazing, the large Java water buffaloes, small Java mouse deer, peacocks strutting about displaying their colorful plumage, eagles flying overhead and macaques fishing for crabs with their tails. Here also are many typical Java trees like the Java tamarind and the pecan nut trees.

(Resource: Indonesian Travel website wonderful Indonesia)

Baluran
Baluran

Sampai di Bekol aku mengamati pemandangan. Kera-kerea berkeliaran bebas di padang savannah kemudian latar belakang Gunung terus pohonnya tumbuh satu-satu. Duh aku rindu Kupang ahhahah 😀

Walau sudah agak sore, lumayanlah akhirnya kami bisa berhasil sampai di Baluran. Lalu di Bekol kami hanya 20 menit saja terus kami meminta ke si Bapak untuk mengantar ke Pantai Bama karena di papan informasi dikatakan hanya 3 Km saja terus kami merasa nanggung tidak ke Bama. Bang Novri yang paling penasaran dengan Pantai Bama kalau aku tidak terlalu karena standar nilai pantaiku tinggi hehehe 🙂

Kamipun mengajak si Bapak ke Bama karena perjanjian awal kami hanya 1 jam di Baluran. Nah jaraknya lumayan dekat tapi karena jalannya yang jelek sehingga terasa jauh. Sepanjang perjalanan dari Bekol ke Pantai Bama maka akan melihat rusa liar dan beberapa pohon eksotis mirip seperti di film Madagaskar.

Oh ya untuk informasi Bekol dan Bama masih dalam area Taman Nasional Baluran. Untuk Bekol yang bisa dilihat ialah padang savan serta tengkorak rusa serta kere hidup berkeliaran. Sedangkan di Bama berupa pantai dan orang suka mendirikan tenda disini.

Baluran Banyuwangi
Kami di Bekol Taman Nasional Baluran Banyuwangi

Waktu kami sampai di Bama kami melihat banyak sekali anak sekolahan yang datang berkemah. Waktu kami datang waktu sudah agak gelap menuju magrib padahal waktu masih jam 6 sore. Alhasil kami melihat pantainya yang agak sedikit kotor lalu pemandangannya yang gimana gitu terus langsung deh kami dengan kaki seribu meninggalkan Pantai Bama, paling tidak cerita perjalanan tentang Bekol dan Bama tidak membuat penasaran lagi karena sudah meninggalkan jejak.
Oh ya satu tips perjalanan Baluran jika ingin melakukan travelling ke Baluran Kalau mau ke Baluran dari gerbang utama biasanya dipatok Rp50.000 sekali jalan dengan motor karena jarak kedalam lumayan jauh serta jalanan yang kurang. Jadi jika ingin masuk ke dalam sebaiknya sih menyewa mobil saja.

Karena hari sudah gelap maka kamipun sesaat saja di Bama lalu kembali ke Stasiun Karang Asem. Tapi sebelum ke Stasiun kami mengajak makan malam bersama bapaknya. Kami lalu mencoba makanan khas Banyuwangi yaitu rujak Soto di salah satu warung. Untuk harga rujak soto Rp37000 +Rp5000 (sopir). Rasa rujak sotonya untukku sih aneh mungkin karena aku penyuka pedas 😀

Waktu ketika kami makan malam jam 7:30 malam lalu kami ke stasiun Karang Asem. Nah sampai di Karang Asem Bang Dendi memberikan uang sewa angkot sebesar Rp300.000. Nah saat uang diberikan awalnya si Bang Novri dan Bang Dendi hendak memberikan Rp250.000 karena kasihan jadinya Rp300.000. Karena jaraknya tidak sejauh yang dibayangkan bahkan ketika kami melihat penumpang lain dari terminal hingga ke depan pintu gerbang Baluran cuma bayar Rp5000 saja.

Ketika bang Dendi memberikan uang kepada supir angkot, rupanya dia hitung. Terus langsung si bapak marah-marah tidak terima bahkan minta Rp200.000 lagi karena dia menganggap untuk membawa kami ke Baluran itu seharga Rp500.000.

Gila!

Disinilah ‘disaster’ terjadi, adu mulut adu argumen!

Bekol Baluran
Bekol Baluran

“Uangnya kurang, kan saya sudah antar kalian ke Bama seharusnya kalian mengerti karena perjanjian di awal hanya sampai di pintu gerbang”, kata si Bapak. Maksudnya dari terminal Banyuwangi hingga ke pintu Gerbang Baluran untuk kami berempat Rp150.000 untuk sekali jalan.

“Lah bukannya Bapak sudah setuju untuk kami sampai di Bekol dengan harga segitu? kataku. Lagian kami tidak punya uang lagi Pak, perjanjian diawal kan tidak seperti itu. Kami tidak merasa enak, bapak juga tidak enak”, kataku.

Terus si Bapak bilang, “yah saya kira kalian sudah mengerti saat ke Bama, lagipula bensin saya kan banyak terpakai” kata si Bapak.

“Kami kira bapak mengerti kalau kami maunya harga sekian sampai ke Bama” kataku. Kemudian teman-temanku ikut menimpali lalu si Bapak tetap ngotot kami harus menambahin uang minyaknya hingga ke Bama.

Lalu aku mengatakan kepada si Bapak “pak kami kan sudah mengajak bapak makan juga, kami juga membolehkan bapak menaiki sewa lain walau kata bapak mobil kami sewa terus kami kan hanya sebentar terus kami mengira bapak mengerti kami”.

Puncak kemarahan si Bapak yang paling gila ketika si Bang Novrizal menantang si Bapak untuk menghitung berapa kilometer dengan jarak yang dihabiskan serta bensin. “Atau kita hitung berapa bensin dengan km”, kata Bang Novrizal. Langsung si Bapak naik pitam dan marah-marah terus meninggalkan kami.

Bama
Bama

Kami jadi pusat perhatian karena adu mulut dengan si bapak supir. Kami berempat langsung menuju ke dalam stasiun.

Saling memandang!

Salam 

Weeny Traveller

Jalan-jalan ke 4 Wisata Menarik Tangerang dalam sehari


When people hurt you over and over, think of them like a sandpaper. They may scratch you and hurt you a bit but in the end, you end up polished and they end up useless (unknown)

peta wisata tangerang
Peta wisata tangerang

Hello World!

Tangerang, 11 April 2015

Mengisi liburan di hari Minggu, aku, Defi dan Rinta serta Indra melakukan perjalanan ke Tangerang untuk menjelajah objek wisata Tangerang serta mencoba kuliner khas Tangerang dengan tujuan mencari suasana baru dari Jakarta. Rencana kulineran sekaligus jalan-jalan ke objek wisata Tangerang sudah kami rencakan sebulan yang lalu. Awalnya si Gara ingin ikut tapi kemudian tidak jadi karena sesuatu hal, lain halnya dengan Indra yang awalnya tidak ikut malahan jadi ikut.

Kami janjian di Stasiun Sudirman jam 8 pagi, walau akhirnya kami berangkat jam 9 pagi. Yang paling ontime ialah Rinta dan Indra sementara aku dan Defi agak telat hehe :D.. Nah untuk Defi merupakan kali pertama kami bertemu seringnya komen-komenan di blog walau pertama ketemu Defi tapi kayak serasa sudah kenal lama. Untuk Rinta ini ketiga kalinya kami jalan bareng.  Untuk wisata Tangerang kami seharian seru sekali, emang travelling dengan Travel blogger itu paling asyik. Boleh dikatakan kopdaran bareng! Kalau jalan dengan yang sejiwa emang menyenangkan deh! Jam 9 tepat, commuter line tujuan Duri datang lalu kami berempat menuju ke stasiun Duri. Awalnya kami turun di stasiun tanah abang karena saran dari Indra yang rupanya kami nyasar karena turunnya harus dari Stasiun Duri. Untungnya Rinta mengingatkan ke Duri serta bertanya kepada petugas, sehingga kami melanjutkan kembali dari stasiun Duri. Dari stasiun duri lau pindah kereta tujuan akhir di stasiun Tangerang.

Sesampai di stasiun Tangerang kami menanyankan dimana letak kuliner khas Tangerang yang terkenal yaitu Nasi Uduk Encim Sukaria. Rinta sudah mengingatkan agar kami berangkat pagi karena nasi uduk akan habis jam 11 siang. Untungnya kami sampai di Tangerang jam 10an sehingga kami keluar dari stasiun tepat di depan Masjid Agung Al Ittihad dan memutuskan naik becak seharga Rp15000 untuk dua orang. Pilihan naik becak lantaran kasihan dengan tukang becak, untungnya teman-temanku asyik untuk jalan serta setuju sehingga kami menuju ke nasi uduk Pak Encim dengan naik becak yang ditarik sepada.

Masjid Agung Attihad
Masjid Agung Al Ittihad

Aku dan Rinta sebecak serta Indra dan Defi sebecak. Alamat Nasi uduk dan ketupat sayur encim Sukaria di Jl. Soleh Ali No. 90 Kapling Tangerang. Pas kami sampai disana nasi uduknya sudah habis, syukurnya masih bisa satu porsi sehingga Rinta bisa mencobanya. Untuk defi dan Indra mencoba lontongnya padahal Defi sudah sarapan pagi. Lain halnya denganku yang mencoba dua kuliner sekalian yaitu lontong dan nasi ulam yang sempat aku salah sebut menjadi “nasi sulam” yang membuat si Defi ketawa.

Untuk rasanya enak sekali mengingatkanku akan makanan di kampungku di Padangsidempuan. Santan lontong manis serta nasi ulam dengan telur dan mie, Padangsidempuan banget. Apalagi dikampungku makanan seperti ini biasa dimakan tiap hari, tapi tak apalah, paling tidak mengobati rasa rindu akan makanan kampung halamanku. Harga nasi ulam Rp12000, teh tawar  Rp1000, lontong Rp15000, bakwan udang Rp7000. Nasi Uduk Encim Sukaria cukup terkenal sehingga tukang becak pasti tahu, sehingga jika ingin mencoba nasi uduknya dipastikan orang sekitar tahu. Dari depan, warung Pak Encim mirip seperti bengkel tapi untuk rasa lumayan ok. Tidak sia-sia lah jauh-jauh dari Jakarta ke Tangerang demi lontong 🙂

Sebenarnya Pak Encim Sukaria sudah generasi kedua serta Pak Bondan pernah me-review makanannya sehingga kuliner nasi uduk Tangerang cukup populer. Setelah kenyang maka kamipun jalan kaki ke pasar lama tempat museum Benteng berada

Sebenarnya lokasi tempat nasi uduk dari stasiun Tangerang bisa dilakukan dengan  jalan kaki dengan jalan tikus. Karena kami berjalan kaki dari tempat nasi Uduk ke museum Benteng Heritage Tangerang yang lumayan cukup dekat. Kami juga sempat melewati sebuah pasar yang ujungnya aku membeli buah-buahan karena murah. Jika tidak mengamati dengan seksama maka museum heritage tidak akan kelihatan karena ditutupi oleh pasar tradisional sekitar. Padahal untuk Museum Benteng Heritage merupakan salah satu objek wisata menarik Tangerang karena Museum Benteng Heritage unik dimana museum peranakan Tionghoa pertama di Indonesia. Alamat Museum Benteng Heritage di Jalan Cilame No.20, Pasar Lama, Tangerang. Jam buka museum benteng jam 10:00 sampai jam 17:00 dari hari selasa hingga minggu.  

Saat kami sampai di Museum Benteng Heritage jam 11 siang, serta sudah ada rombongan yang datang sehingga kami akhirnya memutuskan untuk kembali pada sorenya jam 4 karena padat sekali wisatawan yang berkunjung. Jika ingin tour di Museum Benteng Heritage maka pengunjung akan mendapatkan tourguide yang akan menjelaskan seluk beluk Musuem. Harga masuk ke dalam Museum Benteng Heritage seharga Rp20.000 tapi tidak boleh photo di dalam museum. Museum Benteng Heritage merupakan hasil restorasi sebuah bangunan berasitektur tradisional Tionghoa yang menurut perkiraan merupakan salah satu bangunan tertua di Tangerang. Karena jam 4 masih lama akhirnya kami memutuskan untuk ke menelusuri objek wisata menarik lainnya yang ada di Tangerang yaitu Vihara/Klenteng Boen Tek Bio. Lokasi Museum Benteng dengan Kelenteng Boen Tek Bio Tangerang cukup berdekatan serta cukup dekat juga dengan stasiun kereta sehingga bisa dilakukan dengan berjalan kaki.

museum benteng
Museum bentengHeritage

Kelenteng Boen Tek Bio Tangerang pertama kali aku lihat di TV saat acara imlek sehingga aku sangat penasaran mengunjunginya sejak itu. Keunikan dari Kelenteng Boen Tek Bio merupakan kelenteng paling tua yang ada di Tangerang sera diprediksi telah berumur lebih dari tiga abad. Alamat Kelenteng Boen Tek Bio di Jl. Bhakti No. 14, Pasar Lama Tangerang.  Sebelum memasuki Kelenteng Boen Tek Bio, kami disuruh Pak Satpam untuk mengisi buku tamu serta memberitahuan kami aturan di dalam kelenteng. Untuk aturan di dalam kelenteng tidak boleh masuk ke dalam area peribadahan serta tidak boleh melewati batas yang sudah ditentukan. Jika mengambil photo boleh tapi jangan ribut atau mengganggu ibadah umat lain.

Untuk design dari Kelenteng Boen Tek Bio seperti vihara pada umunya. Di aula utama Kelenteng Boen Tek Bio terdapat altar Hok Tek Tjeng Sien (Dewa Bumi), di bagian depan terdapat rupang Bi Lek Hud, atau Mi Le Fo (Yang Maha Pengasih dan Penolong).

Khusus Defi sangat antusias melihat setiap detail serta mengambil photo dupa serta lilin di depan aula utama. Sementara Indra dan Rinta juga asyik memphoto area sekitar.

Boen Tek Bio
Boen Tek Bio

Ada satu hal yang menarik perhatianku saat di Kelenteng Boen Tek Bio yaitu terdapat sebuah pintu yang bertuliskan “pintu kesusilaan” yang menurutku lucu. Kental sekali gaya Tionghoa di kelenteng Boen Tek Bio jadi yang suka pecinaan bolehlah mengunjungi kelenteng Boen Tek Bio. Cuma jangan ekpetasi tinggi ya karena memang Kelenteng Boen Tek Bio merupakan tempat ibadah.

Saat kami mengitari Kelenteng Boen Tek Bio kami diajak seorang Bapak untuk mengelilingi kelenteng serta mengajak kami melihat aula. Bahkan kami diberikan buku berisi tentang Kwan Im.

“Beberapa tahun lalu, ada loh orang Bule Austrlia meninggal setelah memphoto Kwan Im diatas Kelenteng Boen Tek Bio”, celetohnya. Kami hanya mendengarkan seksama setiap arahan bapaknya hingga kami mendengarkan azan lalu kami memutuskan untuk sholat Zuhur di masjid Tua yang ada di sekitar Kelenteng.

Aku di depan Vihara Boen Tek Bio Tangerang
Aku di depan Vihara Boen Tek Bio Tangerang

Oh ya sebelum lupa, satu hal yang diperhatikan ketika kami jalan-jalan demi objek wisata Tangerang ketika cuaca matahari terik sehingga acap kali kami minum air putih. Bahkan Defi dan Rinta membeli air minum dingin di Museum Benteng dengan harga Rp10.000 (sedikit intermezzo).

Setelah sholat Zuhur kami memutuskan ke Masjid Seribu Pintu di daerah Kedaung Tangerang. Khusus ke Masjid Seribu Pintu kami harus naik angkot warna ungu No. 7 dari stasiun Tangerang sehingga kami berjalan kaki melewati pasar lama menuju ke tempat angkot. Untuk ongkos angkot Rp6000/orang dan jangan lupa mengatakan kepada supir angkot untuk diberhentikan di Masjid Seribu Pintu.

Pengalaman yang lucu saat di dalam angkot ketika bertemu dengan Ibu lucu karena si ibu latah. Jadi si ibu sering mengulang kalinya sehingga lucu sekali. Misalnya kami bilang “sungai”, dia ikut bilang “sungai”.

Awalnya kami hendak ke Bendungan Pasar Baru Irigasi Cisadane hingga akhirnya kami memutuskan terus ketujuan awal kami ke Masjid Seribu Pintu Tangerang. Untuk menuju ke Masjid Seribu Pintu maka kami harus berjalan kurang lebih 20 menitan dari gang kami diturunkan. Karena pas matahari terik sekali maka kami memutuskan untuk memakai payung demi menghindari gosong.

Rinta, Defi dan aku di depan Vihara Boen Tek Bio Tangerang
Rinta, Defi dan aku di depan Vihara Boen Tek Bio Tangerang

Lokasi Masjid Pintu Seribu di RT.01 RW.03 Kampung Bayur, Kel. Periuk Jaya, Kec. Periuk,  Tangerang. Masjid Pintu Seribu mengingatkanku akan Lawang Sewu Semarang. Nama asli dari Masjid Pintu Seribu Tangerang ialah Nurul Yakin yang dibangun pada tahun 1960 oleh al Faqir Mahdi.  Gaya desain Masjid Pintu Seribu bercampur aduk terdiri dari ornamel mulai dari zaman Baroque hingga Maya. Sesuai dengan namanya Masjid seribu pintu memiliki banyak pintu tapi anehnya tidak memiliki kubah serta bentuknya yang mirip dua persegi panjang. Kekhasan dari Masjid Pintu Seribu di ornamen di beberapa pinti dengan angka 999. Kenapa angka 999 karena jumlah asma Allah 99 dan 9 wali songo.

Kami masuk ke dalam masjid disebalah kanan yang mirip gedung sekolah karena jendela dan pintu berjajar kaku melewati lorong dengan lampu kelap-kelip serta tulisan 999 dimana-mana melewati tempat wudu hingga akhirnya ke tempat makam yang kami memutuskan untuk tidak berziarah. Akhirnya kami memutuskan untuk menuju kesisi lain dari Masjid melewati lorong lain. Disisi lain dari bangunan kedua dari Masjid Yakin dibatubaranya bertuliskan 999 juga.  Memang Masjid Nurul Yaqin terdiri dua bangunan utama. Karena yang pertama sudah kami kunjungin akhirnya kami memutuskan untuk menuju ke bangunan kedua  masjud yang mirip benteng. Berjalan dari sisi lainnya kami kembali ke sisi pertama kami kunjugi. Kami penasaran melihat sisi depan menara bertingkat 5 dari dalam lapangan tapi karena kesan horor dari minimnya lampu akhirnya kami memutuskan untuk melihat dari luar saja. Akhirnya kami memutuskan untuk kembali untuk melihat bendungan.

Masjid Seribu Pintu
Masjid Seribu Pintu

Kami berjalan kembali ke gang untuk naik angkot menuju ke Bendungan. Untuk ongkos angkot dari daerah Kedaung Tangerang ke Bendungan kami bayar Rp4000 saja.

Sesampai di Bendungan Pintu Air Sepuluh/Bendungan Pasar Baru Irigasi Cisadane/Bendungan Sangego kami langsung mencari pintu masuk.Lokasi Bendungan Pintu Air Sepuluh di Kelurahan Koang Jaya, Kecamatan Karawaci, Tangerang.

Defi, Rinta dan Indra tenang sekali melewati jalan setapak bendungan sementara aku takut ketinggian malah jalan dengan rasa takut ketika melihat debit air yang tinggi. Menuutku menyenangkan sekali ketika berada di Bendungan Pintu Air Sepuluh karena sejuk serta melihat beberapa burung terbang mengitari sungai serta melihat aktivitas warga lokal yang juga menikmati siang menjelang sore di Bendungan ini. Kami merasa bule lokal dah ketika misi jalan-jalannya demi tour Tangerang seharian. Untuk Sungai yang mengalir di Bendungan Pintu Air Sepuluh bernama Sungai Cisadane. Aku sempat bercanda dengan teman-temanku untuk menggapan Sungai Cisadane sebagai Sungai Mahakam heheh 😀

Setiap tahun biasanya diadakan lomba perahu Naga di Sungai Cisadane sehingga cukup menarik untuk dikunjungi. Hal menarik dari Bendungan Pintu Air Sepuluh dari usia bendungan yang dibangun tahun 1925-1931 oleh Pemerintah Kolonial Belanda serta sungainya yang lumayan bersih walau masih terlihat sampah. Lumayanlah menikmati sore hari di Sungai Cisadane.

Sungai cisadane
Sungai Cisadane

Puas menikmati Bendungan Pasar Baru Irigasi Cisadane akhirnya kami memutuskan kembali ke Museum Benteng Heritage karena Defi dan Rinta masih penasaran untuk masuk ke dalam. Dari Bendungan Pasar Baru Irigasi Cisadane kami naik angkot lagi yang kemudian berjalan kedalam pasar.

Jam 4 sore kami sampai di dalam Museum, rupanya kami harus menunggu masuk sehingga salah seorang bapak menceritakan asal muasal dari Museum Benteng. Hingga akhirnya Rinta dan Defi masuk ke dalam Museum sementara aku dan Indra menunggu di depan musuem karena kami memutuskan untuk tidak masuk ke dalam Museum Benteng. Kalau menurut Indra, Museum Benteng mirip dengan Musuem Tjong Afie Medan hanya saja aku belum pernah masuk ke dalam Musuem Tjong Afie Medan. Nah saat menungu, si mas penjaga Musuem hanya senyum-senyum melihat kami karena di pagi hari kami minta tolong diphotokan di depan Musuem tempat Naga Nusantara berada. Sepanjang menunggu Rinta dan Dita tour mengelilingi Museum benteng, kami melihat beberapa romb0ngan yang masuk. Tak salahlah Museum Benteng cukup populer untuk dikunjungin.

Jam 6 akhirnya Rinta dan Defi keluar lalu kami sholat magrib dulu sebelum balik ke Jakarta. Setelah sholat magrib kamipun kembali berjalan ke Stasiun Tangerang lalu memutuskan makan malam di Tune Menado dekat stasiun Sudirman yang merupakan tempat favoriteku untuk makan di Jakarta. Kami mencoba bubur Tinutuan/bubur Menado biasa dengan harga Rp25.000. Lumayan mengenyangkan setelah makan kami dari pagi yang merangkap makan malam.

Akhirnya perjalanan kami pun selesai dengan menyenagkan walau capek tapi puas. Senang travelling bareng dengan sesama Blogger yang asyik banget 🙂

Bendungan Sungai Cisadane
Bendungan Sungai Cisadane

Rincian pengeluaran menjelajah objek wisata Tangerang dalam sehari

  1. Naik becak dari stasiun Tangerang ke Jl. Soleh Ali Rp15.000/2 orang
  2. Wiskul di Pak Encim Sukaria Rp35.000
  3. Beli buah strawberry dan papaya Rp30.000
  4. Minum teh tarik dan milo Rp10.000
  5. Makan malam di tude Mando Jakarta Rp35.000

Catatan perjalanan menelusri objek wisata Tangerang

1. Objek wisata yang bisa kami telusuri dalam sehari yaitu Museum Benteng Heritage, Kelenteng Boen Tek Bio, Masjid Seribu Pintu serta Bendungan Pasar Baru Irigasi Cisadane

2. Jalan-jalan ke Tangerang dalam sehari bisa dilakukan serta merupakan jalan-jalan hemat karena tidak jauh dari Jakarta. Untuk modal transportasi yang baik ialah dengan commuter line karena lokasinya berdekatan kecuali untuk Masjid Seribu Pintu harus dengan angkot.

Salam

Weeny Traveller