Ngetrip ke Danau Toba Via Brastagi


“And, when you want something, all the universe conspires in helping you to achieve it.”

By Paulo Coelho, The Alchemist

silalahi nabolak
Silalahi Nabolak

Hello World!

Medan, 2011

Aku hendak mengenang kenangan perjalanan indah bersama teman kuliahku waktu di USU dulu tepatnya kalau tidak salah tahun 2011 apa tahun 2010. Teman-temanku itu ialah Santo, Nono, Kak Emma, Indra dan Erik yang sengaja menculikku untuk melakukan trip ke Danau Toba via Brastagi dengan mobil. Aku yang hobi jalan suka-suka aja diajakin jalan apalagi mengelilingi Danau Toba dari sisi lain, selain itu aku selalu jatuh cinta dengan keindahan Danau Toba, objek wisata populer Sumatera Utara bukan objek wisata Medan ya karena jaraknya jauh dari Medan 🙂

Aku masih ingat betul waktu itu kami trip ke Danau Toba dari rute jalan Brastagi 2 hari 2 malam dengan mobil pribadi dan singgah ditempat tempat wisata menarik Sumatera Utara mulai dari Puncak Brastagi hingga ke air terjun Sipiso-piso. Nah kalau ingat tentang Puncak maka langsung kepada Puncak Bogor bukan? Tapi ini bukan Puncak Bogor melainkan Puncak Brastagi sebuah tempat untuk melihat Kota Medan dari atas pegunungan dengan jalan berliku serta tempat favorite warga Medan untuk menghabiskan liburan di akhir pekan. Selain itu di Puncak Brastagi yang aku lupa sebutan tempatnya, bisa makan mie panas, minum kopi atau makan jagung sambil memandangi hamparan kota dibawahnya. Terus cuaca disana juga dinginnya seperti Bogor, pokoknya puncak Brastagi mirip Puncak Bogornya versi Sumatera Utara dah!

Brastagi Puncak Sumatera Utara
Kami di Brastagi Puncak Sumatera Utara

Walau kenangan perjalanan ke Brastagi sudah lama tapi aku masih ingat betul betapa dinginnya cuaca Brastagi jam 12 malam. Gilanya teman-temanku emang sengaja datang pas jam 12 malam, alhasil untuk menghangatkan diri maka kami minum air susu panas dengan jagung bakar. Terus menghabiskan waktu dengan seru-seruan! Kalau diingat kenangan lucu beginian jadi senyum-senyum sendiri dah hahaha 😀

Yang paling gokil ketika temanku Santo dan si Nono alias Suhartono menyuruhku pura-pura berphoto seperti cinta segitiga dengan pilihannya uang atau handphone jadul ahahhahah 😀

Saking lucunya lupa betapa dinginnya Brastagi pas malam hari, kayaknya waktu itu kami kurang kerjaan banget, bener-bener mahasiswa aneh ;D

puncak brastagi
Suhartono, aku dan Susanto di puncak brastagi

Setelah puas makan jagung bakar maka kami berenam pun kembali untuk melakukan trip menjelajah Medan dan sekitarnya. Tujuan berikutnya ialah mandi air panas di pemandian Pemandian Air Panas Sidebu Debu. Sumatera Utara tentu saja punya air panas yang cukup terkenal dikalangan orang Medan yang terletak di Brastagi. Untuk jarak Brastagi-Medan hanya 3-5 jam saja loh jadi tidak heran kalau orang Medan tempat liburannya pasti ke Brastagi dan tentu saja mandi di pemandian air panas Sidebu-debu sudah jadi salah satu pilihan rekreasi.

Buat kami mandi di Pemandian Air Panas Sidebu Debu tak lain tak bukan untuk menunggu jam 6 pagi karena dari puncak Brastagi kami sudah sampai di Sidebu-debu jam 3 dini hari. Nah waktu itu mataku sudah lima volt sehingga aku lebih memilih tidur di kursi daripada mandi di kolam air panas Sidebu-debu. Kalau tidak salah kak Emma juga tidur, yang mandi hanya cowok saja. Jadi kalau ada rencana ke Medan bolehlah bekunjung ke Brastagi untuk mencoba objek wisata menarik Medan dan sekitarnya yaitu sensasi kolam sulfure Brastagi.

Pemandian Air Panas Sidebu Debu
Pemandian Air Panas Sidebu Debu

Keesokan harinya maka perjalanan kami lanjutkan ke air terjun Sipiso-piso, salah satu air terjun yang menakjubkan yang ada di Sumatera Utara. Untuk sampai kebawah harus melalui jalanan yang berliku serta dari jalan setapak dipinggir serta lamanya sampai kebawah jalan kaki kurang lebih 1 jam perjalanan menurun. Ibaratnya kayak jalan kaki merapat ke dinding batu dari sekitaran Sipiso-piso. Bayangkan saja tinggi air terjun Sipiso-piso kurang lebih 800 meter diatas permukaan laut, sehingga tidak heran Air terjun Sipiso-piso merupakan salah satu air terjun tertinggi di Sumatera Utara.

Turun dan naik ke bawah air terjun Sipiso-piso itu memiliki kesan tersendiri.  Kalau kau bilang sih air terjun Sipiso-piso merupakan tempat menarik di Medan dan sekitarnya. Terus waktu kami traveling ke air terjun Sipiso-piso ada pelangi sehingga pemandangannya indah sekali. Kami beruntung melihat pelangi dengan latar belakang air terjun Sipiso-piso 🙂

Sipiso-piso
Sipiso-piso

Oh ya satu lagi informasi yang mungkin berguna bagi pelancong yang hendak melihat view Danau Toba terbaik. Kalau menurutku salah satu view pemandangan Danau Toba terbaik itu dari Air Terjun Sipiso-Piso karena Danaunya kelihatan luar biasa dengan pemandangan pohon vinusnya. Kalau misalnya mau lihat Danau Toba dari Simalem resort kemahalan maka sebaiknya jalur lainnya bisa via Sipiso-piso dan dapat dua keuntungan sekaligus yaitu Air Terjun Sipiso-piso sekaligus Danau Toba super keren.

Waktu di Sipiso-piso pastinya kami berenam turun ke bawah walau akhirnya kami naik kembali itu ngos-ngosan banget tapi kami sangat menikmati perjalanan kami. Melihat sisi lain Danau Toba, karena biasanya dari Parapat maka kami melihatnya sebelah utara.

Danau Toba Sumatera Utara
Danau Toba Sumatera Utara

Puas dengan Danau Toba serta Sipiso-piso maka perjalanan keliling objek wisata Medan dan sekitarnya kami lanjutkan ke Tugu makam raja Silahisabungan. Untuk sampai ke Tugu Makam Raja Silahi itu tidak mudah karena waktu itu jalannya jelek sekali sehingga mobil agak susah lewat sehingga acap kali kami harus turun serta temanku bantu dorong. Kadang teman yang cowok harus menaruh batu sebagi pengganjal dan untungnya jalalan jelek tidak menghalangi kami sampaike Tugu Makam Raja.

Oh ya untuk pemandangannya lumayan kece habis loh menuju ke Tugu Makam Raja bahkan ada air terjun bertingkat yang bisa dilihat di atas pegunungan dari Tugu Makam Raja. Terus persawahan serta tepian Danau Toba yang memukau. Kurang keren apalagi coba perjalanan ke Danau Toba kami 🙂

 

Untuk tugu makam Raja Silahisabungan terdiri dari makam Raja dan tugu yang mirip Monas loh. Kalau diperhatikan mirip replika mini Monas ya? Kalau mau tahu seperti apa makam Raja Batak maka bolehlah ke Silahisabungan. Terus disekitar jalan sekitar Silahisabungan juga masih bisa melihat rumah tradisional Batak seperti jabu dengan Taruma artinya rumah panggung. Lokasi tugu makam Raja Silahisabungan di Silalahi Nabolak, Sumatera Utara.

Buat yang tidak tahu siapa itu Raja Silalahi maka dari buku Tarombo Siraja Batak, Raja Silalhi itu anak generasi ke lima dari Siraja Batak yang dimana Raja silalhi memiliki 2 istri dan 8 anak laki-laki dan 1 anak perempuan. Nama-nama anak Raja Silalahi yaitu Loho Raja, Tungkir Raja, Sondi Raja, Butar Raja, Bariba Raja, Batu Raja dan Tambun Raja yang kemudian bermunculan marga-marga dari cucu dan cicit Raja Silahisabungan .

Puas dari Raja Silahisabungan maka kami pun melanjukan perjalanan kami untuk mandi-mandi di tepian Danau Toba serta mencoba pasir putih Danau Toba. Katanya namanya Pantai Pasir putih Parbaba tapi cmiw ya 🙂

Waktu itu aku sempat kaget dengan adanya pantai pasir putih karena Danau Toba kan Danau bukan pantai. Bahkan aku punya pertanyaan bodoh kala itu “woi kita mandi di pantai apa di Danau ini?” hahahahh 🙂

Ok jadi pasirnya memang berwarna putih tapi tentu saja berasal dari Danau Toba bukan pantai seperti pantai laut. Nah Pasir putih bisa mandi Danau serta minjam ban-ban. Kami berenam tentu saja mandi di tepian Danau Toba dan disinilah ujung perjalanan kami hingga sore.

 

PS:

Tulisan ini aku tulis untuk mengenang perjalanan semaasa kuliah khususnya buat  Santo, Nono, Kak Emma, Indra dan Erik! It was amzing journey 😉

Danau Toba dari sebelah utara
Kami dengan latar belakang Danau Toba dari sebelah utara

Salam

Winny

Iklan

Sejam jalan-jalan di Taman Nasional Baluran


A dream does not become reality through magic, it takes sweat determination and hardwork

-Colin Powell-

Taman Nasional Baluran
Taman Nasional Baluran

Hello World!

Baluran, Mei 2015

Jam menunjukkan jam 2 siang ketika Pak Hery, supir angkot Banyuwangi yang tiba-tiba jadi langganan kami menjemput kami di rest area Jambu tempat dimana mobil belerang menurunkan kami berenam. Ada dilema bagi kami berempat antara pergi atau tidak ke Baluran karena kemungkinan tidak akan sempat mengunjungi Taman Nasional Baluran padahal Bang Dendi dan Bang Novrizal akan balik ke Surabaya jam 9 malam. Sementara 4 teman yang baru kami berkenalan memastikan tidak akan terkejar karena jam tutup pembelian tiket jam 4 sore.

Alhasil dengan bantuan Pak Heri maka kami menuju terminal dan mencari angkot yang mau membawa kami ke Baluran. Dari jadwal perjalanan yang telah aku buat maka kami seharusnya bisa Trekking Bekol – Bama. Alhasil Pak Heri menawarkan mencari angkot alias angkutan umum seharga Rp300.000 sampai ke Baluran. Sebelumnya kami telah ditawari harga sewa mobil seharga Rp900.000 seharian dari Paltuding hingga ke Baluran dan Pantai Merah tapi karena menurut kami kemahalan, alhasil kami rela menghabiskan waktu 4 jam menunggu mobil belerang. Mahal dan murah emang relatif sih!

Gunung Ijen
Penambang Belerang di Kaki Gunung Ijen

Dengan bantuan Pak Hery maka kami mendapatkan supir angkot yang mau membawa kami ke Baluran mengejar sisa waktu yang 4 jam. Nah saat masuk kami memastikan kalau si Bapak mau membawa kami masuk ke dalam Taman Nasional Baluran, bukan hanya diantar sampai ke depan pintu depan Gerbang Baluran saja. Karena harga Rp300.000 kami patok hingga sampai ke Stasiun Karang Asem.

“Pak, sampai ke dalam Baluran kan?” tanyaku?

si bapak lalu berkata “masuk saja, nanti kita bicarakan”!

Nah saat masuk ke dalam kami masih bergabung dengan penumpang lain terus Bang Novrizal memastikan lagi. “sampai Bekol kan Pak”, lalu si Bapak mengiyakan.

Lalu dengan perasaan plong kami menuju Baluran dari terminal yang diantar Pak Heri. Kami lalu memberikan uang angkutan umum dari Rest Area Jambu ke terminal Rp25.000/orang kepada Pak Heri.

Tiket Masuk ke Taman Nasional Baluran
Tiket Masuk ke Taman Nasional Baluran

Kami menikmati pemandangan perjalanan. Apalagi waktu melewati pelabuhan Ketapang gilanya si Melisa kumat “aaaaaa Baliii, begitu katanya”.

Yaudah sih Mel, langsung aja jadikan, kataku menggodanya!

Sesampai di Taman Nasional Baluran maka jam 4 kurang dan aku langsung berlari keluar mobil angkot untuk membeli tiket. Harga tiket masuk baluran + mobil = Rp10.00/orang + Rp15.000/mobil. Lama perjalanan dari terminal dari Baluran kurang lebih 1 jam dan menurut kami tidak terlalu jauh sebenarnya karena jalanan bagus. Tapi pas melewati pintu gerbang Baluran, maka jalanannya yah ampun jelek! Tapi sebenarnya belum sebanding dengan jalanan jika ke kampungku di Padangsidempuan, tapi memang mobil yang cocok masuk ke dalam Baluran sebaiknya mobil type jeap atau mobil khusus abrod.

Kami mengikuti gaya mobil, sesekali kepala kebentur keatap mobil. Cobaan dah demi Taman Nasional Baluran terus waktu mulai gelap. Kurang lebih 45 menit rasanya hingga sampai ke Bekol tempat dimana tengkorang rusa yang membuatku penasaran dari tahun ke tahun. Saking lamanya lupa sejak kapan lihat di blog teman tentang Baluran, yang membautku penasaran.

Baluran National Park
Baluran National Park

Simple sih yang membuatku penasaran untuk melakukan trip ke Baluran karena imej Baluran sebagain litte Africanya Indonesia. Apalagi pas google photo-photonya Baluran yang keluar gunung dengan pohon serta ilalang eksotis. Tapi pas sampai di Baluran apakah karena timing kedatangan sore atau karena kami disana sebentar tapi pas nyampe di Baluran, Oh O, that’s it! cuma itu saja!

Mungkin karena aku pernah tinggal di Kupang yang notabenenya eksotis sepanjang tahun jadi waktu melihat Baluran only that, sedikit kecewa sih tapi kecewanya gak terlalu banget juga sih, karena pemandangan Taman Nasional Baluran lumayan Ok kok. Bahkan kera dan rusa mudah dilihat berkeliaran terus pohon-pohonnya unik.

Baluran National Park, located in district of Situbondo, East Java Indonesia consists predominantly of open savannahs, where wildlife roam free. Baluran discovered by A.H.Loredeboer in 1937 and you could watch grazing, the large Java water buffaloes, small Java mouse deer, peacocks strutting about displaying their colorful plumage, eagles flying overhead and macaques fishing for crabs with their tails. Here also are many typical Java trees like the Java tamarind and the pecan nut trees.

(Resource: Indonesian Travel website wonderful Indonesia)

Baluran
Baluran

Sampai di Bekol aku mengamati pemandangan. Kera-kerea berkeliaran bebas di padang savannah kemudian latar belakang Gunung terus pohonnya tumbuh satu-satu. Duh aku rindu Kupang ahhahah 😀

Walau sudah agak sore, lumayanlah akhirnya kami bisa berhasil sampai di Baluran. Lalu di Bekol kami hanya 20 menit saja terus kami meminta ke si Bapak untuk mengantar ke Pantai Bama karena di papan informasi dikatakan hanya 3 Km saja terus kami merasa nanggung tidak ke Bama. Bang Novri yang paling penasaran dengan Pantai Bama kalau aku tidak terlalu karena standar nilai pantaiku tinggi hehehe 🙂

Kamipun mengajak si Bapak ke Bama karena perjanjian awal kami hanya 1 jam di Baluran. Nah jaraknya lumayan dekat tapi karena jalannya yang jelek sehingga terasa jauh. Sepanjang perjalanan dari Bekol ke Pantai Bama maka akan melihat rusa liar dan beberapa pohon eksotis mirip seperti di film Madagaskar.

Oh ya untuk informasi Bekol dan Bama masih dalam area Taman Nasional Baluran. Untuk Bekol yang bisa dilihat ialah padang savan serta tengkorak rusa serta kere hidup berkeliaran. Sedangkan di Bama berupa pantai dan orang suka mendirikan tenda disini.

Baluran Banyuwangi
Kami di Bekol Taman Nasional Baluran Banyuwangi

Waktu kami sampai di Bama kami melihat banyak sekali anak sekolahan yang datang berkemah. Waktu kami datang waktu sudah agak gelap menuju magrib padahal waktu masih jam 6 sore. Alhasil kami melihat pantainya yang agak sedikit kotor lalu pemandangannya yang gimana gitu terus langsung deh kami dengan kaki seribu meninggalkan Pantai Bama, paling tidak cerita perjalanan tentang Bekol dan Bama tidak membuat penasaran lagi karena sudah meninggalkan jejak.
Oh ya satu tips perjalanan Baluran jika ingin melakukan travelling ke Baluran Kalau mau ke Baluran dari gerbang utama biasanya dipatok Rp50.000 sekali jalan dengan motor karena jarak kedalam lumayan jauh serta jalanan yang kurang. Jadi jika ingin masuk ke dalam sebaiknya sih menyewa mobil saja.

Karena hari sudah gelap maka kamipun sesaat saja di Bama lalu kembali ke Stasiun Karang Asem. Tapi sebelum ke Stasiun kami mengajak makan malam bersama bapaknya. Kami lalu mencoba makanan khas Banyuwangi yaitu rujak Soto di salah satu warung. Untuk harga rujak soto Rp37000 +Rp5000 (sopir). Rasa rujak sotonya untukku sih aneh mungkin karena aku penyuka pedas 😀

Waktu ketika kami makan malam jam 7:30 malam lalu kami ke stasiun Karang Asem. Nah sampai di Karang Asem Bang Dendi memberikan uang sewa angkot sebesar Rp300.000. Nah saat uang diberikan awalnya si Bang Novri dan Bang Dendi hendak memberikan Rp250.000 karena kasihan jadinya Rp300.000. Karena jaraknya tidak sejauh yang dibayangkan bahkan ketika kami melihat penumpang lain dari terminal hingga ke depan pintu gerbang Baluran cuma bayar Rp5000 saja.

Ketika bang Dendi memberikan uang kepada supir angkot, rupanya dia hitung. Terus langsung si bapak marah-marah tidak terima bahkan minta Rp200.000 lagi karena dia menganggap untuk membawa kami ke Baluran itu seharga Rp500.000.

Gila!

Disinilah ‘disaster’ terjadi, adu mulut adu argumen!

Bekol Baluran
Bekol Baluran

“Uangnya kurang, kan saya sudah antar kalian ke Bama seharusnya kalian mengerti karena perjanjian di awal hanya sampai di pintu gerbang”, kata si Bapak. Maksudnya dari terminal Banyuwangi hingga ke pintu Gerbang Baluran untuk kami berempat Rp150.000 untuk sekali jalan.

“Lah bukannya Bapak sudah setuju untuk kami sampai di Bekol dengan harga segitu? kataku. Lagian kami tidak punya uang lagi Pak, perjanjian diawal kan tidak seperti itu. Kami tidak merasa enak, bapak juga tidak enak”, kataku.

Terus si Bapak bilang, “yah saya kira kalian sudah mengerti saat ke Bama, lagipula bensin saya kan banyak terpakai” kata si Bapak.

“Kami kira bapak mengerti kalau kami maunya harga sekian sampai ke Bama” kataku. Kemudian teman-temanku ikut menimpali lalu si Bapak tetap ngotot kami harus menambahin uang minyaknya hingga ke Bama.

Lalu aku mengatakan kepada si Bapak “pak kami kan sudah mengajak bapak makan juga, kami juga membolehkan bapak menaiki sewa lain walau kata bapak mobil kami sewa terus kami kan hanya sebentar terus kami mengira bapak mengerti kami”.

Puncak kemarahan si Bapak yang paling gila ketika si Bang Novrizal menantang si Bapak untuk menghitung berapa kilometer dengan jarak yang dihabiskan serta bensin. “Atau kita hitung berapa bensin dengan km”, kata Bang Novrizal. Langsung si Bapak naik pitam dan marah-marah terus meninggalkan kami.

Bama
Bama

Kami jadi pusat perhatian karena adu mulut dengan si bapak supir. Kami berempat langsung menuju ke dalam stasiun.

Saling memandang!

Salam 

Weeny Traveller

Pelajaran Berharga dari Penambang Belerang Kawah Ijen


Be who you are and say what you feel, because those who mind don’t matter and those who matter don’t mind

By Dr. Seuss

Mountain Ijen
Mountain Ijen

Hello World

Bayuwangi, Mei 2015

Jam menunjukkan jam 5 pagi dan kami masih bisa menikmati blue fire walau sudah mulai habis. Kami memandangi sejumlah orang yang sedang mengamati para penambang belerang. Kalau mengingat perjalanan sampai ke Kawah Ijen maka perjuangan tidak sia-sia. Apalagi Bang Dendi yang KAO saat melakukan trekking terus dengan gaya tidak bawa minum sama sekali. Untungnya aku dan Melisa bawa minum walau satu botol, tidak tahu Bang Novri dan Icha membawa minuman atau tidak. Gila memang kami mau naik Gunung tapi bawa minum seadanya, please jangan ditiru karena minuman atau cokelat atau madu wajib dibawa saat trekking Gunung.

trip to ijen
Akses jalan trip to ijen

Blue fire yang kami buru hanya 1 jam saja dan apinya keluar dari gas alam yang mengalir dari bambu. Para wisatawan asing sangat berani dekat dengan penambang belerang yang sedang mengais rezeki dengan mengangkut belerang hingga ke kaki Gunung Ijen. Kalau aku pikir betapa hebatnya para penambang belerang ini demi bertahan hidup. Pelajaran berharga dalam hidup yang aku dapatkan selama perjalanan ke Kawah Ijen! Kadang ya travelling itu tidak melulu hedon atau hanya numpang selfie saja atau sekedar liburan, terkadang ada makna disetiap perjalanan salah satunya bagaimana orang lain susahnya bertahan hidup dan tidak mengeluh sama sekali. Aku saja yang sehat tanpa beban malah ngos-ngosan setengah pingsan naik ke Kawah Ijen setelah trekking 2,5 jam dari Paltuding tapi bapak-bapak penambang belerang dengan santainya mengangkat beban yang jauh lebih berat dari berat badannya. Betapa berisikonya melakukan pekerjaan mengangkut berat, kalau istilah Ergonominya bisa menyebabkan Musculoskeletal disorder.

Ijen Banyuwangi
Ijen Banyuwangi

Selain itu, yang paling tidak aku habis pikir ketika penambang belerang yang sangat dekat dengan sumber asap dari belerang. Karena waktu aku, Bang Dendi, Bang Novrizal, Icha dan Melisa pas hendak di bawah jam 6:30an tiba-tiba asap keluar sehingga perih sekali ke mata bahkan ke tenggorokan. Spontan aku memberi kode kepada teman-temanku untuk naik ke atas karena khawatir berbahaya dengan kesehatan.

Tips berharga yang didapat ketika hendak berencana melakukan trip ke Ijen ialah salah satunya dengan membawa masker safety serta jangan mengganggu aktivitas penambang belerang dan utamakan memberikan jalan kepada penambang belerang.

crater ijen
crater ijen

Kawah Ijen (Ijen plateau) is a quiet but active volcano and recommended to mountain buffs and hikers. The magnificent turquoise sulfur lake of Kawah Ijen is surrounded by the volcanos sheer crater walls.  Sulfur collectors work here, making the trek up to the crater and down to the lake every day, hike up in the morning and return around 1 pm when the clouds roll in. They carry shoulder basket of pure sulfur from a quarry on the lakes edge under the shadow of the sheer walls of the crater.

(Reference from Indonesia Travel)

Travelling to Ijen
Travelling to Ijen

Travelling to Ijen kali ini tidak hanya sekedar jalan-jalan bagi ku pribadi karena banyak kisah didalamnya mulai dari ngegembel habis dari Jakarta, hichiking pertaman, numpang-numpang, tidak mandi, antara makan dan tidak serta belajar bagaimana menghargai hidup.

Kami hanya mengahabiskan waktu di kawah ijen hanya sekitar jam 2 jam saja dari jam 5 pagi hingga jam 7 karena sebenarnya tidak baik lama-lama di Kawah Ijen. Tanpa ada kata embel makan karena memang di Kawah tidak ada penjual makanan jadi usahakan isi perut sebelum melakukan trekking ke kawah Ijen serta jika memang membawa makanan jangan lupa membawa sampah makanannya karena menjaga kelestarian wisata tempat yang didatangi yang paling penting! Oh ya kami melakukan trekking dari Paltuding hingga ke bawah Kawah Ijen selama 2,5 jam karena kami kebanyakan berhenti di jalan untuk istirahat karena pas kami turun hanya butuh 1 jam saja sampai di Paltuding.

Ijen crater
Kami di Ijen crater

Untuk rute perjalanan jangan ditanya lumayan mengurus tenaga karena rutenya yang menanjak dan berliku. Mirip naik Sikunir Dieng plus Papandayan tapi yang Ijen jauh lebih berliku dan menanjak menurutku. Untungnya ramai yang mendaki jadi aman-aman saja mendaki ke Gunung Ijen.

Oh ya hal yang menarik perhatianku waktu di Kawah Ijen ketika melihat seorang Biksu yang ikut serta melakukan trekking ke Kawah Ijen, buset ketemu dengan biksu gaul 😀

Untuk harga tiket masuk ke Kawah ijen Rp7500 yang mulai muka dari jam 2 pagi atau jam 3 pagi tergantung kondisi keamanan Kawah Ijen karena tidak sembarangan melakukan plesiran di Kawah Ijen harus memperhatikan apakah gas beracun ada atau tidak. Sementara itu tips ke ijen lainnya ialah dengan mempertimbangkan waktu kedatangan ke Ijen, kalau bisa jangan ke Ijen pas musim penghujan karena bisa berbahaya mengingat jalanannya dari tanah kan ya jadi licin sekali.

Untuk akses jalanan dari Taman Sari ke Paltuding jalanannya sebenarnya sudah aspal jadi kalau mau puas keliling wisata Banyuwangi bisa menyewa motor karena jauh lebih hemat. Kalau harga sewa mobil yah pintar-pintar menawar sajalah! Cuma kalau musim penghujan tidak direkomdasikan memakai sepeda motor karena menanjak dan berliku terus hutan lagi. Tapi kalau berangkatnya pagi dan tidak ingin mengejar embel-embel blue fire maka tidak apa-apa, bahkan jalan 17km sebenarnya tidak apa-apa asalkan rame-rame 😀

Ijen
Akses ke Ijen

Sebenarnya banyak sekali pelajaran yang bisa dipetik dari jalan-jalan ala murni backpacker berupa tips perjalanan Kawah Ijen:

1. Khusus bagi pejalan yang tidak mau susah atau repot maka jika ingin ke Kawah ijen sebaiknya berangkat rombongan saja. Jadi berangkat ke Paltuding dengan menyewa mobil yang harganya berkisar Rp450.000-Rp600.000 (tergantung nego belum termasuk bensin selama 24 jam) atau motor seharga Rp75000 seharian belum bensin.  Jarak Karang Asem ke Paltuding kurang lebih 2-3 jam perjalanan. Kalau mau mencoba cara gilaku bercampur nekat antara pelit atau backpacker sebenarnya yaitu dengan naik angkot dari Stasiun Karang Asem naik angkot ke Taman Sari (tempat penimbangan belerang) yang biasanya dipatok Rp25.000. Kalau tidak mengejar blue fire sebenarnya simple dengan membayar Rp15000 dengan mobil belerang sampai ke Paltuding jamnya biasanya jam 7-9 pagi. Untuk angkot tidak berani membawa sampai ke Paltuding padahal jalannya licin loh alias mulus aspal.

2. Buat pemula naik Gunung sebaiknya persiapan fisik, makan dulu sebelum hiking serta membawa minuman yang banyak agar tidak capek serta memakai pakaian yang sesuai misalnya pakai sepatu atau sandal gunung

3. Karena di Kawah Ijen identik dengan belerang maka sebaiknya membawa masker serta kacamata kali ya buat jaga-jaga.

Kawah Ijen
Kawah Ijen

Sebenarnya pas hendak trekking ke Gunung Ijen aku itu salah kostum saking merasa kedinginnya. Jadi ceritanya kami kan ngegembel asli, tidur seadanya di warung yang ada di Paltuding tidur menunggu Ijen dibuka bagi pengunjung. Kebanyang tidak tidur dengan sleeping bag dengan cuaca dingin pegunungan? Dinginnya menusuk sekali bahkan aku sudah memakai jaket serta sleeping bag masih saja terasa dingin. Terus kami tidurnya tidur ayam, seadanya saja, antara tidur atau tidak yang penting bisa menyandarkan diri. Untungnya ibu warung baik hati mengizinkan kami untuk tidur dilesehannya. Sebenarnya jika ingin menyewa tenda di Paltuding ada Rp150.000 sampai pagi cuma yah naggung karena waktu sudah menunjukkan jam 10 malam sementara jam 2 kami sudah mulai trekking ke Gunung Ijen. ah menyesal aku tidak membawa tendaku, alhasil kami berlima berselimutkan alamlah!

Terus pas jam 2 dibuka loket Kawah ijen, maka dengan sigap kami menitipkan tas di warung yang ibunya baik sekali mengizinkan menitip tas kami. Untuk toilet jangan khawatir, ada kok di Paltuding cuma siap-siap ngangtri lama saking banyaknya pengunjung. Harga tiket toilet Rp2000 saja, jadi ingat ama Melisa ke belakang tenda 😀

hahahah XD

Mel, kalau dirimu baca blogku pasti ketawa-ketawa juga mengingat kebodohan kita dibelakang tenda ibu warung sebelum trekking ahhaha 😀

Kawah Ijen
Kawah Ijen

Ok kembali ke ceriata awal, setelah kami puas di kawah Ijen serta sudah juga beli oleh-oleh belerang seharga Rp5000  maka berjalan melewati Gunung Meranti dan Gunung Raung.

Pemandangannya indah sekali waktu itu!

Terus kami berjalan berlahan hingga berhenti di Pondok Bunder (2214 mdpl) tempat dimana aku membeli lagi souvenir belerang yang bentuknya indah sekali berukiran Muhammad dan Allah seharga Rp15.000 saja tapi sayangnya karena jarak jauh akhirnya beleranku rusak.

Tapi tak aplah!

Di Pondok Bunder jugalah kami membeli minuman untuk bekal turun karena tidak mau kehausan terus ngos-ngosan. Untuk jalur turun cukup mudah bagi kami tidak sesulit mendaki hanya saja untuk Icha malah kewalahan di turunan padahal dirinya jago pas naiknya.

Ijen Bayuwangi Indonesia
Ijen Bayuwangi Indonesia

Sesampai di Paltuding kami kembali ke warung Bu Ikah untuk mengambail tas yang kami titipkan sekalian makan pagi. Karena aku ingin mencoba nasi tempong yang merupakan makanan khas banyuwangi jadinya aku pindah ke warung sebelah. Nasi tempong yang aku makan di paltuding seharga Rp15000 sudah termasuk susu milo. Sebenarnya nasi tempong mirip kayak nasi campur biasa hanya saja sambelnya pedas, kesukanku banget kalau sudah pedas-pedas. Selesai makan waktu sudah jam 10 lahasil kami bingung mencari bagaimana caranya keluar dari Kawasan wisata Kawah Ijen alias taman wisata alam Kawah Ijen alias cagar alam Kawah Ijen alias taman Nasional Kawah Ijen.

Gunung Meranti
Gunung Meranti

Tidak ketemu ide pulang ke Paltuding akhirnya kami mengikuti penambang belerang untuk naik mobil belerang pulangnya. Kalau dari baca pengalaman ornag di blog katanya ada jam 10 pago ternyata hanya sekali saja yaitu jam 1 siang karena memang penambang sudah tidak sebanyak dulu lagi begitu kata bapak penambang. Alhasil mau tidak mau kami menunggu belerang kelar di temapt penimbangan belerang di sebuah warung. Aku makan gorengan serta jahe di warung dekat peninbangan belerang seharga Rp8000 serta aku dan Melisa sempat tidur lagi di bangku di depan warung sementara Icha harus balik sendiri ke stasiun Karang Asem karena ada urusan. Di warung inilah kami bertemu dengan beberapa pejalan yang juga menunggu mobil belerang untuk turun.

Nah sepanjang menunggu dari jam 10 pagi hingga jam 1 siang, maka beberapa bule sering kali datang dengan sepeda motor khusus memvidiokan aktivitas para penambang. Saking herannya kali ya!

penambang belerang
Penambang belerang di Kawah Ijen

Kami sendiri sebenarnya gimanaa gitu tapi ada senangnya juga menunggu di warung dekat penimbangan karena jadi mengetahui kehidupan para penambang belerang. Katanya dulu penambang berjumlah 400 orang sekarang sudah mulai berkurang, itu sebabnya mobil akan berangkat jika sudah penuh. Untuk penambang belerang sendiri memiliki ciri khas membawa belerang dengan cara dipikul dengan keranjang serta mereka biasanya memakai sepatu safety.

Aku bahkan mengamati ketika para penambang sedang makan di kawah dengan bekelnya, luar biasa sekali! Yang paling mencenangkan ketika seorang penambang harus melakukan perjalanan selama 8 jam setiap hari dari rumahnya diluar dari kegiatan mengangkut belerang dari Kawah Ijen ke Paltuding.

Kebayang tidak itu?

Cerita hidup mereka tentu saja aku tahu berkat cara liburan kami yang anti mainstream dengan membaur dengan para penambang belerang.

Nah saat jam 1 siang maka aku dan Melisa beruntung karena duduk di bangku depan yang kasihan Bang Dend, Bang Novrizal dan 4 teman yang abru saja kami kenal dan dua diantaranya cewek harus berada di belakang dengan belerang terus kami menuju ke Paltuding.

Ditengah jalan aku membeli madu asli seharga Rp100.000 untuk oleh-oleh pulang karena langsung melihat bibitnya. Not bad lah untuk asli 😀

Yang paling kasihan sih si Melisa ketika melihat Pulau Bali karena dia belum pernah jadi pas lihat pulau Bali dari atas jalanan Kawah Ijen dia langsung semangat 45. Lalu aku menggodanya “ya udah sih Mel, langsung nyeberang saja ke Menjangan dekat kok 30 menit saja sekalian tambahin liburmu”.

Gunung Ijen
Tempat penambang menimbang hasil belerang dari Gunung Ijen

Akhirnya si Melisa mengusap dada menahan keinginan karena kami tidak sama sekali ke Bali karena memang misi perjalan ialah untuk menginjakkan kaki di ujung Jawa. Oh ya untuk harga naik mobil belerang dari Paltuding ke Rest area Jambu seharga Rp15000. Lalu dari rest area jambu kami menelepon pak Hery, supir angkot yang kami kenal untuk menjemput kami ke Rest Area karena kami hendak pergi ke Taman Nasional Baluran walau kata teman yang baru saja kami jumpai tidak mungkin cukup waktunya ke Baluran walau jam menunjukkan jam 2 siang. Untuk harga angkot dari Rest Area ke terminal Rp25.000/orang.

Ok saatnya menjelajah Baluran di sisa waktu alias jalan-jalan kejar tanyang…

To be continue

 

Salam

Weeny Traveller

Semua demi Plesiran ke Blue Fire Kawah Ijen


Nothing lasts forever. Forever’s a lie. All we have is what’s between hello and goodbye

(Unknown)

Trekking to Ijen
Trekking to Ijen

Hello World

Banyuwangi, Mei 2015

Kalau kata Afgan “semua demi Cinta”, maka kami berkata lain “semua demi Blue Fire Kawah Ijen” kami melakukan perjalanan jauh dari Jakarta hingga ke pelosok ujung Jawa di Banyuwangi. Perjalanan kami pun tidak naggung-naggung alias real backpackeran 4 Hari nonstop tanpa mengeluarkan biaya penginapan karena menginapannya di jalanan. Sebenarnya aku juga bingung antara pelit, hemat atau gak mau rugi, tapi yang pasti Alhamdulillah kami bisa melakukan trip ke kawah Ijen dengan harga super murah sekali.

Kami berangkat dari Jakarta jam 2 siang dari Stasiun PASAR SENEN dengan tujuan stasiun SURABAYA PASAR TURI dengan kereta KERTAJAYA seharga Rp97500, murah kan? Harga tiket Jakarta-Surabaya jauh lebih murah daripada Surabaya-Banyuwangi karena kami mendapatkan tiket ekonomi promo sehingga ramai-ramailah aku mengajak teman-teman yang bersedia menggembel 😀

Awalnya Sarta dan Wita ikut sampai sudah beli tiket mulai dari Jakarta hingga ke Karang Asem Bayuwangi tapi karena ada halangan sehingga yang jadi jalan-jalan ke Ijen hanya aku, Bang Dendi, Bang Novrizal dan Melisa. Kalau dipikir-pikir jadinya reunian kecil alumni Teknik Industri USU ini, antara kakak kelas dan adik kelas hahaha 😀

Blue Fire Ijen
Blue Fire Ijen

Kami berempat janjian bertemu di stasiun kereta jam 12 tapi akhirnya aku paling telat datang jadinya naik Bajaj dari kosan karena takut telat karena waktu sudah menunjukan jam 1 terus aku sempatkan makan lagi. Alhasil Melisa yang awalnya mau nitip print tiket malah aku yang minta tolong diprintkan tiket. Sayangnya kami bangkunya misah-misah sehingga perjalanan begitu membosankan. Alhasil aku dan Melisa malah berjalan sepanjang gerbong kereta menuju kantin hingga merasa bosan lalu berjalan. Bayangkan dong 12 jam perjalanan!

Nah kesan yang paling seru saat di kereta dari Jakarta menuju ke Surabaya ketika lampu kereta mati terus hidup terus mati terus hidup terus mati panjang terus lama lagi baru hidup mulai dari Semarang. Penumpang juga mulai kepanasan alhasil kami berempat berdiri disamping pintu gerbong. Yang kasihan lagi ibu hamil serta ibu dengan anak kecil yang kepanasan. Untungnya kereta akhirnya bisa juga dibenerin.

Singkat cerita kami sampai di Stasiun Turi jam 2 pagi lalu kami berempat istirahat untuk ke Stasiun Gubeng jam 9 pagi. Kedatangan kereta kami di Stasiun Surabaya telat 1 jam dari jadwal yang ada tapi tidak masalah. Untungnya aku sudah mewanti Melisa untuk membawa sleeping bag dalam perjalanan sehingga kami berdua PW tidur di stasiun Turi dari jam 2 pagi hingga jam 7 pagi dilantai dengan beralaskan sleeping bag sementara Bang Novri dan Bang Dendi tidur di bangku rung tunggu stasiun.

Jam 7 pagi maka kamipun beranjak ke Pasar Gubeng, tapi sebelumnya kami sarapan pagi di dekat stasiun Turi yaitu mencoba makan soto daging seharga Rp9000 tapi sotonya tidak rekomendasi sih. Lalu tak jauh dari Masjid disamping stasiun Turi terdapat sebuah toilet umum yang dengan membayar Rp3000 maka bisa mandi sepuasnya. Maka kami berempat mandilah di toilet umum karena kami harus melakukan perjalanan ke Banyuwangi lagi yaitu di Stasiun Karang Asem karena dari informasi katanya akses ke Kawah Ijen paling terdekat dari stasiun ini. Awalnya kami hendak naik bus ke Karangasem akhirnya kami memutuskan naik kereta api saja biar praktis sehingga terjadilah kami membeli tiket dari stasiun SURABAYA GUBENG hingga ke Stasiun Karang Asem dengan kereta Mutiara Timur Siang seharga Rp130.000. Jauh lebih mahal dari Jakarta-Surabaya padahal kalau dilihat jarak jauh lebih jauh dari Jakarta cuma beda jenis kereta menjadi bisnis. Oh ya selama melakukan ritual mandi pagi, hujan sempat datang walau gerimis sehingga membuat kami takut kalau kami ke Ijen malah hujan. Selesai mandi lalu kami naik taxi dari stasiun turi ke stasiun gubeng seharga Rp30000/4 orang.

tiket masuk ijen
Tiket masuk ijen

Di Stasiun Gubeng kami sempat menunggu kereta 30 menit yang lalu dengan lihai aku mengajak Melisa makan di Loko stasiun pasar gubeng yang tempatnya kece. Aku menghabiskan uang Rp33000 di Loko berupa makanan dan minuman. Entah kenapa ya perutku bawannya makan terus heheheh 😀

Dari Stasiun Gubeng jam 9 lalu kamipun menuju ke Stasiun Karang Asem. Untuk kereta bisnis maka lumayan kece dibandingkan sebelumnya terus kami berempat sempat bisa duduk berbarengan jadi ngobrol sepanjang perjalanan walau sepanjang perjalanan kerjaanku kebanyakan molor 😛

Untuk kereta dari Surabaya ke Banyuwangi tidak telat sama sekali sehingga kami sampai di Karang Asem tepat pada jadwal semula yaitu jam 15: 14. Sewaktu di Karang Asemlah kami berkenalan dengan Icha mahasiswa Bandung yang melakukan trip seorang diri, berani dan nekat gk tuh? Lalu aku mengajak dia ikut kami untuk sharing cost perjalanan yang lalu dia mengiyakan.

Nah awalnya kami hendak menyewa trooper dari Stasiun Karang Asem hingga ke Kawah Ijen terus adalah seorang Mas-mas yang dari travel dekat situ menawarkan jasa sewa trooper lalu kami disuruh ke kantornya dekat Stasiun. Lalu kami mengiyakan sambil ingin lihat harga sewa trooper yang dia tawarkan. Ternyata harga sewa troooper salama 24 jam itu Rp600.000 diluar bensin. Kalau mau menyewa motor lebih hemat lagi Rp75.000 seharian diluar bensin. Tapi karena aku sudah membuat list harga trooper ke kawah ijen hanya Rp450.000-Rp600.000 seharian beserta bensinnya yang seharusnya di bagi berenam malah jadi berlima alhasil negoisasi tidak jadi. Aku menolak karena lebih baik kami naik angkot seharga Rp25000 sampai di timbangan belerang yang sebenarnya masih jauh dari Paltuding, tempat dimana bermulaan dilakukan trekking ke kawah Ijen.

Yang kurang etis waktu kami hendak naik angkot, seolah sang mas penjual jasa sewa trooper saling kode dengan supir angkot seolah angkotnya tidak sedang menarik penumpang. Terus saat makan di warung dekat stasiun diaman ibunya kode banget menawarkan jasa sewa trooper yang kelihatan banget loh maksud dan tujuannya. Well tipikal di tempat wisatalah dimana hendak mencari untung sebsar-besarnya yang kadang membuat dongkol karena memberikan kesan “mata duitan” padahal reputasi “objek wisata” itu tergantung loh sama orang-orang disekitarnya. Bukan berarti aku menjudge semua orang yang kami temui di dekat stasiun Karang Asem seperti itu hanya kesannya tidak welcome banget padahal sesama Indonesia lah apalagi orang luar, pasti lebih gimanaa gitu. Jujur saja males berurusan dengan orang-orang pamrih. Aku lalu mengajak teman-temanku berjalan kaki dari stasiun hingga kami bertemu dengan Pak Heri sang supir angkot yang rumahnya tak jauh dari stasiun.

Oh ya sepanjang perjalanan kami juga ditawarin menginap loh sampai diikutin dengan kereta, iih gak banget kan? Bukannya apa sebenarnya sewa bisa saja tapi kalau kami gk mau jangan dipaksa juga sih. Lalu dengan angkot pak Heri kami menuju ke Taman sari tempat penimbangan Belereng siapa tahu masih ada mobil belerang yang hendak ke Paltuding. Karena jika dengan naik mobil belerang dari Taman Sari hingga Paltuding maka ongkosnya hanya Rp15.000 saja. Sayangnya pas di Taman Sari tidak ada mobil yang hendak ke Paltuding kalaupun ada jam 7 pagi padahal kami hendak melihat blue fire yang katanya adanya hanya malam saja.

Terus kami sempat dinasehatin Bapak penjaga penimbangan belerang di Taman Sari. “buat apa ke Kawah ijen yang dilihat kan hanya api seperti api kompor, banyak orang awam ke Ijen hanya untuk melihat belerang dibakar jadilah seperti itu warnya kayak api kompor”.. Upss kami salah orang lalu kami sambil menatap terus meninggalkan tempat penimbangan belerang terus memutuskan berjalan kaki ke Paltuding dari Taman Sari yang katanya hanya 17 km.

Blue Fire Kawah Ijen
Blue Fire Kawah Ijen

Akhirnya kami berlima berjalan kaki menuju ke Paltuding. Di tengah jalan sebelum jalan ke licin magrib sudah datang alhasil kami berhenti di sebuah rumah yang menjual durian. Lalu aku minta izin ke empunya untuk sholat magrib sekalian nanya masih jauhkah paltuding karena niat kami awalnya mau jalan kaki toh 17 km tidak jauh sebenarnya, pikir kami.

Entah kenapa saat kami berkata 17 km dekat semua orang berkata “jauh sekali kalau jalan kaki bisa sampai jam 2 malam” padahal waktu masih jam 6 sore. Yasudahlah kami pun bergantian sholat magrib lalu sekalian makan duren seharga Rp15000 di rumah si ibu. Eh pas makan satu duren alhasil kami nagih makan dua duren. Nah sepanjang makan duren aku sering mengajukan tangan untuk menghentikan mobil yang lewat mana tahu ada mobil yang hendak ke Paltuding hingga akhirnya ada satu mobil berhenti yang lalu membawa kami ke area jambu. Iseng-iseng nanya harga naik jep pulang pergi ke Paltuding dia bilang sekali jalan Rp400.000. Buset dah gk jadi!

Nah saat di rest jambu kami juga jadi mangsa orang-orang yang berusaha mencari keuntungan dengan menawarkan jasa sewa mobilnya pp Rp400.000 saja. Karena sudah ilfil serta kelihatan sekali niatnya alhasil kami sudah tidak open lalu duduk hingga jam 8 malam hingga kami memutuskan untuk berjalan kaki menuju ke Paltuding dari rest area Jambu. Maka disinilah kata umpatan keluar dari istri calo yang tidak berhasil menawarkan jasa sewa mobilnya “dasar turis kere” begitu katanya… ckckkckckcc umpatan yang tidak berkelas sih sebenarnya karena its not about money, its about morality!

Kawah Ijen
Melisa di Kawah Ijen

Dengan wajah biasa saja kami berempat berjalan melewati perumahan orang hingga akhirnya kami berhenti di sebuah warung bu Agus untuk makan indomie. Syukurnya kami berhenti di warung bu Agus karena warung Bu Agus merupakan warung terakhir sebelum ke hutan menuju ke Paltuding. Bu Agus sempat syok dengan rencana kami yang hendak berjalan kaki menuju Paltuding yang akhirnya kami tahu kenapa setiap orang kaget ketika berjalan ke Paltuding yang hanya 17 km saja.

Diw arung Bu Agus beliau menyarankan kami untuk menunggu mobil sayur saja untuk menuju ke Paltuding, tempat dimulai trekking ke Gunung Ijen. Paling harganya Rp15000/orang kata si Ibu. Lalu kami bersantai ria di warung bu Agus karena waktu masih jam 8 malam. Ibunya baik sekali membolehkan kami ke kamar mandinya terus istirahat sambil menunggu mobil sayur.

Terus jam 9 benar adanya, mas-mas bernama David membolehkan kami menumpang ke Paltuding dengan mobil sayur lalu sepanjang perjalanan dari warung Bu Agus ke PALTUDING betapa syoknya kami melihat perjalanan yang hanya “17KM” serasa “37KM” melewati hutan semua terus malam hari. Buset tidak kebayang kalau kami akan berjalan kaki dengan rute sejauh itu di malam hari. Bahkan dengan mobil lama perjalan sampai 1 jam, kebayang tidak berjalan kaki? Satu jam tanpa macet teman! Oh Tuhan syukur sekali kami bertemu dengan Mas David dan Bu Agus yang baik hati.

Jalanan menuju Paltuding berliku untungnya aku, Icha dan Melisa di depan yang kasihan bang Dendi dan Bang Novri yang di belakang. Nah sampai di Paltuding jam 10 malam, mas Davidnya malah tidak mau mengambil uang kami. Malah dia cuma mengambil uang kami Rp25000 saja karena merasa tidak enak dengan ekpresi kami. Buset betapa baiknya sampai pengen mehek. Karena hicthiking pertama berhaasil…

ijen blue fire
ijen blue fire

Ok tidak sampai disitu cerita perjungan demi Blue Fire Kawah ijen, karena waktu jam 10 malam alhasil kami masih mencari sewa jeap untuk besok ke Baluran sekalian dari Ijen mengingat rute yang jauh sekali. Kami bertemu dengan salah seorang dari komunitas Backpacker Indonesia yang menawarkan sewa mobil seharga Rp900.000 untuk semua objek wisata yang hendak kami lalui bahkan dia anggap rute perjalanan yang aku buat itu ngawur. Padahal sebelumnya aku sudah membuat rencana sematang mungkin selain lari dari jalur rencana semula sebenarnya seperti menyewa mobil yang karena harganya tidak masuk akal buatku entah bercampur dengan rasa sentimen.

Satu jam kami bercerita mencari kesepakatan sebenarnya menganai perjalanan kami untuk besok yang ujungnya tidak berujung karena kami membatalkan sewa menyewa karena ampun dah mahal. Terus belum tentu yang kami lihat seindah dengan itu semua. Alhasil waktu 1 jam sia-sia lalu kami menuju ke warung bu Ikah yang memboelhkan kami tidur di warungnya karena tempatnya lesehan.

Di warung inilah kami tidur ayam dengan sleeping bang dengan cuaca yang dingin menurutku menunggu hingga loket tiket masuk ke Ijen dibuka karena penjaga ijen hanya membolehkan wisatawan masuk ke dalam kawah ijen jika kondisi kawah ijen kondusif mengingat gas beracun dari kawah ijen. Barulah jam 2 pagi loket dibuka lalu kami ngantri untuk membeli tiket seharga Rp7500. Kalau dari Paltuding ke Kawah Ijen dari palang yang kami baca hanya 3KM terus mengingat pengalaman Paltuding 17km serasa 37 km lalu kami berceloteh kayaknya 3 KM itu sama kayak 23 km deh 😀

Dan benar saja perjalanan dari Paltuding hingga ke kawah ijen memakan 2,5 jam berjalanan yang cukup mengurus tenaga.

Mount Ijen
Mount Ijen

Perjalanan ke Kawah ijen dari Paltuding cukup megurus tenaga lebih ektrim dari Papandanyan menurutku karena jalanannya mendaki. Acap kali kami istirahat untuk menghilangkan rasa capek. Yang paling tidak kuat dalam mendaki ialah Bang Dendi sampai jantungan loh dia berkeringat dingin terus aku yang mudah capek. Untungnya Bang Dendi bukan tipikal yang rewel dan manja, dia walau capek tetap kuat loh sampai ke atas walau berjalan berlahan. Yang paling kuat melakukan trekking ke Kawah ijen itu Melisa dan Icha serta Bang Novrizal. Buset mereka bener-bener anak gunung banget dah!

Terus trekking ke Kawah Ijen ternyata banyak wisatawan baiik lokal maupun mancanagera. Terus yang membuatku berdecak kagum ketika melihat para penambang belerang yang kuat sekali mengangkut berkilo-kilo belerang dari Kawah ijen sampai ke Paltuding yang bahkan aku tanpa beban sudah ngos-ngosan. Ampun mehek sekali melihat perjuaangnnya.

Kami sampai di puncak Kawah Ijen jam 5 pagi dan perlu turun lagi hingga untuk melihat blue firenya serta harus membawa masker karena bau belerangnya cukup menyengat.

Ijen Blu fire Indonesia
Ijen Blu fire Indonesia

Kami berlima sempat turun dengan bantuan senter HP seadanya berjalan berlahan menuruin bebatuan berliku. Untungnya kami masih sempat melihat Blue fire walau sedikit. Dan pemburu blue fire tidak kami saja “BANYAK”!

Bahkan wisatawan mancanegara sengaja dekat lengkap dengan masker khusus belerang untuk mengabdikan photo penambang belerang yang dekat dengan pipa gas bumi itu padahal berbahaya sekali.

Lalu sesekali bule-bule itu memphoto para penambang sambil memberikan uang kepada penambang. Karena upah untuk 1 kg belerang dari Kawah ijen hanya Rp900 saja kawan dan makin banyak yang diangkut belerangnya maka upahnya makin banyak.

Miris tidak?

Kami lalu membeli kerajinan dari belerang seharga Rp5000 yang sudah dibentuk seperti jadi tokoh disney, bunga dan sebagainya.

Soalnya kasihan!

Kompakan kami berlima membeli souvenir walau entah kami apakan itu. Tapi tidak semua penambang kok yang menjual souvenir kebanyakan murni penambang.

Ijen
Kami di Kawah Ijen

Perjalanan ke kawah Ijen tidak hanya melulu sekedar liburan atau sekedar jalan-jalan karena ada pesan hidup dalam perjalanan ke Kawah Ijen yaitu “susahnya mencari uang jadi saling tolong menolanglah dengan sekitar dan jangan penah mau mengharapkan kerja tapi buatlah lapangan kerja”…

Duh sepertinya aku harus jadi pengusaha!

Blue fire Indonesia
Penambang Beledang di Kawah Ijen

To be continue

Salam

Weeny Traveller

Last Flashpacking in Pontianak


Once the travel bug bites there is no known antidote and I know that I shall, be happily infected until the end of my life

(Michael Palin)

Pontianak
Pontianak

Hello World!

Pontianak, 1 February 2015

Akhirnya sampai juga di catatan perjalanan terakhir di Pontianak Kalimantan Barat. Walau perjalanan dalam rangka bekerja tapi beruntung sekali bisa mengelilingi Kota Pontianak. Teman perjalanan di Pontianak kali ini bersama April, istri rekan kerjaku yang bernama Thomas yang kebetulan ditempatkan di Pontianak. Perjalanan singkat Pontianak cukup memberi kesan tersendiri apalagi Kota Pontianak sangat bersih dan teratur.

Hal yang aku suka dari Pontianak ialah mayoritas perpaduan antara suku yang ada di Pontianak yaitu Suku Dayak, Melayu dan Tionghoa sehingga sangat berpengaruh terhadap kulinernya serta objek wisata yang ada. Kalau dibilang memiliki keunikan tersendiri.

Di Pontianak sangat mudah untuk menemukan Masjid dan Vihara setidaknya itulah gambaran yang aku lihat ketika mengelilingi Kota Pontianak selama 3 hari. Kalau di Bali pulau seribu Pura dan di Lombok seribu masjid maka di Pontianak Masjid dan Vihara lebih dominan banyaknya. Contoh masjid yang mudah ditemukan ialah Masjid Almuhtadin Pontianak yang berada di Universitas Tanjung Pura.

Masjid Almuhtadin Pontianak
Masjid Almuhtadin Pontianak

Begitu juga dengan vihara yang mudah ditemukan di sepankang jalan misalnya jika dari Bandara Supadio Pontianak hendak menuju ke Kota maka akan mudah menemukan vihara. Disinilah letak keunikan dari Pontianak “toleransi” dan “saling menghargai”.

Untuk tips perjalanan Pontinak siap-siap membawa sunblock karena kotanya panas terik bahkan ketika aku datang walau musim hujan tetap panas. Panas namun hujan deras, begitulah kira-kira.

Pemandangan unik lainnya di Kota Pontianak ialah saat pagi antara jam 7-9 pagi dimana para pekerja hendak bekerja melewati jembatan Sungai Kapuas maka dari arah jembatan terlihat kumpulan sepeda motor. Artinya kota Pontianak penduduknya ramai tapi tetap kondusif.

Pontianak
Pontianak

Mungkin waktu tiga hari tidak bisa menyimpulkan tentang Pontianak apalagi perjalananku kali ini singkat tapi karena sudah puas melihat Kota Pontianak sehingga  di hari terakhir di Pontianak aku habiskan dengan istirahat manis di mess ditambah cuaca yang kurang bersahabat. Cukup menyengangkan dengan perjalanan singkat semoga nanti bisa menginjakkan kaki lagi hingga ke Singkawang 🙂

Tips perjalanan di Pontianak
1. Jika ingin solo travelling ke Pontianak maka dari Bandara bisa menggunakan bus umum atau taxi tapi hati-hati dengan taxi bandara karena agak reseh (tidak semua tapi sebagian). Pengalaman waktu di Bandara karena aku celingak celinguk maka ditawarin buat naik taxi dengan sedikit memaksa padahal aku dengan jemputan dari kantor. Cara mengatasinya harus sopan menolak dan pandai-pandailah menawar jika ingin menggunakan jasa taxi.

2. Jika melakukan trip ke Pontianak sebaiknya menyewa motor atau sepeda atau mobil karena jarang angkutan umum. Kebanyakan bus umumnya beruapa bus antar Kota bahkan antar negara. Untuk ke Kuching Malaysia bisa menggunakan jasa Damri dari Pontianak.

3. Sebaiknya jika ke Pontianak melebihkan waktu untuk singgah di Singkawang karena objek wisata Singkawang tak kalah jauh menariknya khususnya penyuka wisata pantai.

Sebaiknya mengunjungi Tugu Khatulistiwa saat Peristiwa kulminasi matahari  di tanggal 21-23 Maret dan 21-23 September agar bisa melihat fenomena alam saat matahari berada tepat di garis khatulistiwa sehingga menghilangkan bayangan yang ada.

peta wisata pontianak

peta wisata pontianak

Catatan Perjalanan Pontianak

1. Dari 10 tempat wisata di Pontianak yang wajib dikunjungi seperti Keraton kadriah, makam kesultanan batulayang, masjid jami pontianak, tugu khatulistiwa, rumah betang bedakng, taman alun-alun kapuas, aloe vera center, museum kalimantan barat, sinka island park, pantai pasir panjang hanya 4 objek wisata saja yang bisa aku kunjungi yaitu keraton kadriah, masjid jami pontianak, tugu khatulistiwa, dan taman alun-alun kapuas. Untuk sinka island park, pantai pasir panjang berada di Kota Singkawang 3-4 jam perjalanan dari Pontianak dengan bus. Selain itu ada satu tambahan objek wisata yang aku suka di Pontianak yaitu Sungai Kapuas.

2. Berburu kuliner Pontianak banyak di Jl. Gajah Mada dan Jl. Pattimura Pontianak hingga ke Taman Alun-alun Kapuas. Untuk makanan yang aku suka di Pontianak ialah bubur dengan ikan teri kuah soto yang aduhai enaknya.

3. Alamat pusat oleh-oleh Pontianak berada di Jl. Pattimura dan siap-siap harga susah untuk ditawar.

4. Hal yang aku suka selama berada di Pontianak ialah melihat pertunjukan air mancur di Taman Alun-alun, menikmati suasana Sungai Kapuas dari Keraton Kadrian dan melihat langsung Tugu Khatulistiwa yang merupakan icon Kota Pontianak.

Kota Pontianak
Kota Pontianak

Biaya pengeluaran perjalanan 4 hari Pontianak

1. Ongkos Tiket Jakarta-Pontianak pp Rp1.300.000 (dibayarin kantor soalnya ini kan edisi kerja bukan holiday jadi aji mumpung). Harga airporttax Bandara Soekarno Hatta Rp40.000, harga airportax Bandara Supadio Rp30.000.

2. Biaya penginapan free karena nginap di mess

3. Total biaya berburu kuliner Pontianak Sotong dan teh manis Rp40.000, durian kuning Rp10.000, teh kembang Rp8000, bubur ikan Rp30.000, kue Rp20.000 = Rp88.000

4. Total biaya untuk oleh-oleh khas Pontianak yaitu Miniatur Tugu Khatulistiwas seharga Rp60.000 (dua buah, satu ukuran kecil dan satu ukuran sedang), kaos tulisan Pontianak dua buah  Rp70.000, gantungan kunci khas Pontianak Rp10.000 (tiga buah), Cokelat wijen khas Pontianak, keripik, talas Rp54.000 = 194.000

Edisi flashpacking and travelling ke Pontianak selesai-

Salam

Weeny Traveller

Sungai Kapuas si Wisata Eksotik Borneo


I am living with every step, i can not live with regret. The past is the past. I am not worried about it. It can not change it. I can not fix it. It is what it is. I am just living.

Ryan Sheckler

Sungai Kapuas
Sungai Kapuas

Hello World

Pontianak, 30 Januari 2015

Hari ketiga travelling di Kota Pontianak setelah plesiran ke Istana Kadriah, maka aku dan April berjalan ke Masjid Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie Pontianak yang merupakan masjid yang dibangun tahun 1771 yang tak jauh dari Keraton Kadriah.

Pemandangan disekitar Masjid Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie menakjubkan apalagi melihat hamparan Sungai Kapuas yang mempesona. Aku masih teringat akan celetuk April kenapa saat di browsing objek wisata Pontianak maka tidak ada yang menyebutkan tentang Sungai Kapuas, padahal kami sangat mengagumi Sungai Kapuas si Wisata Eksotik Borneo.

Masjid Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie
Masjid Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie

Flashback ketika aku melakukan trip ke Sungai Musi Palembang di tahun 2013 maka waktu itu aku dikoreksi oleg mas Adrian mengenai redaksi tentang sungai Musi yang aku sebut sebagai sungai terpanjang di Indonesia. Sejak itu aku bertekat dalam hati suatu saat nanti aku akan ke Borneo untuk melihat sendiri sungai terpanjang di Indonesia maka disinilah aku dapat mewujudkan melihat sungai Kapuas tahun 2015, dua tahun selang niat itu ada. Alhamdulillah, setidaknya aku sudah melihat 3 sungai di Indonesia yaitu Musi, Mahakam dan Kapuas. Tinggal Barito yang belum kesampaian semoga bisa menyusul (Curcol heheheh :D)

Sungai Kapuas merupakan sungai terpanjang di Indonesia dengan panjang kurang lebih 1143 km yang terletak di Kalimantan Barat hingga Kalimantan Selatan!

Sungai Kapuas Pontianak
Sungai Kapuas Pontianak

Saat memandangi hmaparan Sungai Kapuas sambil duduk manis di kayu maka melihat aktivitas warga sekitar serta kapal-kapal yang bersandar hingga rumah penduduk yang ada disekitar sungai. Waktu kami berada di Sungai Kapuas, hari mendung tapi perasaan langsung segar dan pikiran suntuk hilang. Memang travelling itu bikin nagih ya padahal hanya melihat Sungai bisa membuat hati plong dan lega. Syukurnya temanku April suka saat kami berdua membolang disekitar Sungai Kapuas. Sensasi yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata!

Sungai Kapuas dekat dengan Keraton Kadriah sangat cocok bagi penyuka photography!

Sungai terpanjang Indonesia
Sungai terpanjang Indonesia

Sungai terpanjang Indonesia, Sungai Kapuas warnanya cokelat tapi bersih. Tidak ada sampah di sungai, itulah hal yang aku salut dari Pontianak, “bersih” tidak heran kalau Pontianak sering mendapat piala Adipura.

Buat yang suatu saat nanti ingin melakukan trip Pontianak Kalimantan Barat, maka menikmati Sungai Kapuas sangat direkomendasikan atau bisa dikatakan wisata wajib Pontianak karena sangat menentramkan. Apalagi sungai Kupas sering digunakan oleh masyarakat untuk menyeberang. Sayangnya aku tidak mencoba naik perahu mengelilingi Sungai Kapuas berhubung karena cuaca yang tidak bersahabat.

Sungai Kapuas
Sungai Kapuas

Oh ya satu hal yang pasti disukai oleh semua orang khususnya bagi traveller di Sungai Kapuas ialah gratis hehehe 😀

Sungai Kapuas bisa masuk travelling murah di Indonesia kan ya.

Kalau jalan-jalan gratias emang nikmat ya?

Mengitari Sungai Kapuas dengan perahu motor salah satu hal yang patut dicoba!

April di Sungai Kapuas
April di Sungai Kapuas

Aku dan April cuma sebentar di Sungai Kapuas tapi perjalanan Pontianak lengkap. Bisa dikatakan aku jatuh cinta dengan Sungai Kapuas. Pemandangan ok, suasana ok dan tempatnya kece, komplit dah!

Jalan-jalan hari ketiga di Kota Pontianak selesai!

 Good shoes takes to good places (Unknown)

Kapuas river
Kapuas river

Tips perjalanan ke Sungai Kapuas

1. Di Pontianak susah sekali menemukan angkutan umum, kebanyakan orang menggunakan motor sehingga jika berada di Pontianak sebaiknya menyewa motor atau sepeda.

2. Sungai Kapuas sangat mudah ditemukan di Pontianak karena memang panjang tapi spot terbaik untuk mengambil photo Sungai Kapuas sebenarnya di jembatan tapi sangat tidak disarankan karena kendaraan lalulalang sheingga tidak aman. Untuk spot Sungai Kapuas boleh mencoba di dekat komplek Istana Kadriah.

3. Disekitar Sungai Kapuas khususnya area Masjid Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie terdapat warung maka cobalah makanan roti cane dengan kuah kari seharga Rp10.000 dan rasanya lumayan.

4. Cobalah menikmati mengitari Sungai dengan perahu motor untuk mendapatkan sensasi petualangan yang menakjubkan -> aku tidak melakukannnya sehingga penasaran bagaimana rasanya mengitari Sungai Kapuas.

Salam

Weeny Traveller

Hola Pontianak


When you are offended at any man’s fault, turn to yourself and study your own failings. Then you will forget your anger. By Epictetus

20150129-155147.jpg

Pontianak, 29 Januari 2015

Hello world!

Kali ini bukan edisi jalan-jalan ke Pontianak ala backpacker tapi lebih kepada business trip dari kantor, jadi bisa dibilang flashbackpacker gak tuh?

20150129-153908.jpg

Dari bandara Soekarno Hatta Jakarta aku berangkat jam 13:30 dan sampai di bandara Supadio Pontianak jam 15:10.
Sesampai di bandara Pontianak, aku langsung terkesan dengan bandara yang lumayab kecil tapi lebih kecil dari Bandara pinang sori tapanuli tengah sumatera utara. Bisa dibilang bandara supadio pontianak kalimantan barat ialah bandara kedua yang aku kunjungi di awal 2015

20150129-154746.jpg

Yang membuatku semakin kaget kerika pertama kali menginjakkan kaki di pontianak kalimantan barat ialah iklan semen merah putih yang aku temukan di depan bandara, dimana aku bekerja!

selain itu yang membuatku terkesan dengan lambang burung diatas atap bandara yang bertuliskan bandara supadio! Tentu saja lambang burung ini merupakan ciri khas dari kota pontianak kalimantan barat. Ayoo tebak burung apa itu☝️

20150129-155028.jpg

Diluar itu aku sedang berada di bandara ditemanin oleh rintik hujan sambil menunggu jemputan!
Diluar jam kerja alias malam hari, jujur saja aku tidak tahu apa bisa mengunjungi objek wisata yang ada di pontianak yang pasti satu yang aku tahu mengenai objek wisata pontianak yang membuatku penasaran yaitu tugu khatulistiwa pontianak!
Mungkin bisa membandingkan tugu khatulistiwa di bontang kalimantan timur yang dulu aku kunjungi, entahlah!

Salam

Weeny traveller

Pengalaman adegan sandal putus saat Travelling


“One’s destination is never a place, but a new way of seeing things.” Henry Miller

cropped-banner-header-winny.jpg

Hello World!

Jakarta, 20 Januari 2015

Apa adegan berkesan yang tidak bisa kamu lupakan saat travelling di suatu tempat? Pernah kebayang tidak pas asyik-asyiknya jalan-jalan, tiba-tiba sandal kamu putus? Aku tidak pernah membayangkan kalau aku akan mengalami sandal putus di beberapa tempat wisata di Indonesia tapi itulah yang terjadi padahal momentnya lagi eksis-eksisnya menjelajah objek wisata Indonesia damn wonderfull. Hehehe 😀

Well, bisa dikatakan adegan putus sandal yang aku alami tidak hanya sekali saja tapi sering. Perasaanku saat sandal putus ketika itu bercampur aduk antara malu dan lucu serta dipastikan dapat membuat salah tingkah. Untungnya tempat wisata Indonesia yang aku kunjungi itu lumayan kece, jadi rasa malu hilang saking khusuknya menikmati

Beberapa pengalaman adegan sandal putus saat travelling di Indonesia

1. Kawah Putih Dolok Tinggi Raja

Aku di kawah putih dolok tinggi raja
Aku di Kawah Putih Dolok Tinggi Raja

Kawah putih Tinggi Raja atau sering disebut Salju Panas Dolok Tinggi raja merupakan hidden paradise objek wisata Sumatera Utara pada tahun 2010 tapi sekarang sudah banyak sekali pengunjung yang berbondong-bondong kesana. Ada perasaan bersalah ketika aku menulis Pamukkale Indonesia yang merupakan Sulfur putih yang mirip dengan Pamukkale Turkey karena zaman sekarang sudah bertebebaran sampah serta terasseringnya sudah hancur.

PS akulah yang menyebutnya Pamukkale Indonesia karena Andisu menyebutkan mirip dengan Pamukkale Turkey sehingga aku penasaran dan mencarinya di google lalu sejak itu aku menyebut Kawah Putih Dolok Tinggi Raja Sumatera Utara sebagai Pamukkale Indonesia.

Coba lihat photo Pamukkale Turkey dibawah ini yang aku ambil dari blognya si Traveljunkie (gan izin ambil photo buat perbandingan).

Pamukkale Turkey sumber traveljunkiediary.com

Pada saat terpukau dengan keindahahan Kawah putih tinggi raja, tiba-tiba sandalku putus. Mungkin saking lasaknya maka sandalku putus. Ketika sandalku putus maka aku slow saja dan tetap tenang karena takjub dengan andalan objek wisata Sumatera Utara yang mempesona. Kawanku Imam sempat khawatir dengan kakiku apalagi daerah sekitar Kawah putih Tinggi Raja terdiri dari belerang dengan air panas, tapi aku cuwek bebek saja sambil mengais di jalan. Syukurnya kakiku tidak apa-apa. Kesan sandal putus di Kawah Putih Dolok Tinggi Raja alias Pamukkale Indonesia sangat berkesan sehingga sandal putusku kubawa pulang sebagai oleh-oleh perjalanan dari Dolok Tinggi Raja Sumatera Utara.

2. Gili Trawangan Lombok

Aku di Gili Trawangan Lombok
Aku di Gili Trawangan Lombok

Salah satu tempat romantis di Indonesia terdapat di Gili Trawangan yang sangat aku suka. Kejadian sandal putus waktu di Gili Trawangan ketika tahun 2011 bersama temanku Santo, Surya dan William.  Saking lasaknya main pasir putih jadinya sandalku putus sehingga aku langsung membeli sandal jepit dan melanjutkan pasir di pantai Gili Trawangan. Agak sedikit malu ketika sandal putus pas di Gili Trawangan karena kebanyakan di tempat wisata ini berisi bule atau turis mancanegara sehingga ketika berjalan kaki nyeker seperti ayam agak kikuk hahahah 😀

Untungnya mukaku muka tebal sehingga cukup menutupi rasa malu. Oh ya selain terkenal dengan beach party Gili Trawangan Lombok, satu hal yang patut dicoba ialah seafood nya yang membuatku dan Surya mengikuti dari aroma makanan mirip seperti Tom Jerry yang mengikuti makanan dan uang di saku tidak ada. Kesan putus sandal do Gili Trawangan menjadi momen kedua putus sandal ketika travelling.

3. Pantai Air Manih Padang

Aku di pantai air manih padang
Aku di pantai Air Manih Padang

Salah satu tempat wisata Sumatera Barat terletak di Kota Padang yang tekenal ialah Pantai Air Manis karena berisi batu dari kisah Malin Kundang. Kalau dilihat kenapa aku memakai sandal jepit berwarna kuning karena sandal putus ketika melakukan perjalanan 10 hari di Sumatera Barat di akhir tahun 2011 hingga awal tahun 2012. Pengalaman sandal putus saat travelling di Pantai Air Manis Padang merupakan ketiga kalinya. Bisa dibilang sandal putus doyan banget menghampiriku hahahah 😀

4. Taman Bunga Nusantara 

Aku di taman bunga nusantara bogor
Aku di Taman Bunga Nusantara Bogor

Taman Bunga Nusantara merupakan salah objek wisata populer di sekitaran Cianjur. Taman Bunga Nusantara sering sebagai tempat shooting sinetron atau pun film. Taman Bunga Nusantara berisi taman dengan gaya dari beberapa mancanegara seperti Taman Bunga Eropa, labirain dan masih banyak lagi. Jalan-jalan ke Taman Nusantara Bogor waktu itu tahun 2012 bersama teman MT ku.

Saat keliling Taman Bunga Nusantara maka sandalku putus hahahah… Kejadian sandal putus di Taman Bunga Nusantara menjadi adegan putus sandal yang keempat.  Lucu kan?

Saat adegan putus teman-teman MT ku kebanyakan laki-laki ngecengin alias ngejek ketika sandalku putus tapi aku cuwek lagi. Alhasil aku pulang dengan nyeker alias kaki tanpa alas untuk kesekian kalinya heheheh 🙂

5. Goa Petruk Kebumen

Aku di Goa Petruk Kebumen
Aku di Goa Petruk Kebumen

Goa Petruk merupakan salah satu obyek wisata andalan di Kebumen. Waktu aku travelling ke Gua alami Petruk Kebumen tahun 2014, maka adegan sandal putus tidak luput dari perjalananku. Menelusuri gua Petruk yang alami tanpa sandal bukan pengalaman yang menyenangkan karena ketika menelusuri sungai acap kali serangga lewat dan menghampiri kakiku. Iiihh pengalaman putus sandal yang tidak menyenangkan saat di Goa Petruk Kebumen. Ahasil sandal kesayangan harus berakhir ke tong sampah dekat yang ada di Goa Petruk.

Itulah 5 adegan sandal putus ketika melakukan perjalnan di objek wisata Indonesia yang sangat berkesan. Pelajaran yang berharga yang dapat dipetik khususnya buat cewek yang doyan travelling sebaiknya menggunakan sandal gunung saja atau sepatu supaya tidak salah gaya saat travelling atau mengalami adegan putus sandal yang berakhir dengan nyeker kaki tidak terjadi. Sebuah tips perjalanan buat mendapatkan perjalanan yang menyenangkan 😉

Salam

Weeny Traveller

Ngetrip ke Pantai Air Manis tempat si Malin Kundang


“You will never be completely at home again, because part of your heart will always be elsewhere. That is the prise you pay for richness of loving and knowing people in more than one place” -Miriam Adeney-

malin kundang
Malin Kundang

Hello World!

Padang, Januari 2012

Pernah dengar cerita legenda Malin Kundang yang durhaka kepada ibunya? Saya yakin cerita si Malin Kundang merupakan salah satu cerita dogeng yang mengajarkan untuk menyayangi orang tua terutama ibu.  Jangan sampai seperti cerita Si Malin Kundang yang menjadi batu karena durhaka kepada ibunya hanya karena ibunya miskin dan dia kaya raya.

Yang sudah tahu cerita Malin Kundang mari ngacung! 😀

Well dongeng Malin Kundang erat kaitannya dengan tempat yang aku kunjungi bersama teman SMA ku si Nyak Irma yaitu “Air Manis” atau Orang Padang bilang “Aek Manih”.

Aek Manih atau Air Manis merupakan nama sebuah pantai yang ada di Padang Sumetera Barat. Salah satu pantai favorit bagi wisatawan lokal dan asing karena Pantai Air Manis memiliki batu Malin Kundang yang sedang sujud minta maaf serta gelombang yang cocok untuk penyuka Surfing. Selain itu Pantai Air Manis memiliki Pulau kecil yang disebut Pulau Pisang kecil.

Niat jalan-jalan ke Pantai Air Manis Padang sebenarnya dari ajakan bang Hendra, abangnya si Nyak Irma karena geleng kepala dengan kenekatanku solo travelling ke Padang dengan alasan untuk mengunjungi semua objek wisata yang ada di Padang walau pada kenyataannya tidak semua tempat wisata aku kunjungi.

Dengan antusias akupun menerima ajakan Bang Hendra dengan catatan aku yang membayar uang bensin dua motor serta tiket masuk karena jika aku dan Nyak Irma berdua pergi maka transportasi ke Pantai air Manis agak ribet. Karena waktu itu aku membawa uang dan toh penginapan aku tidak bayar akhirnya aku “iyes” aja lah, toh aku tidak tahu jalan bahkan baru dengar ada Pantai Air Manis berisi Batu Malin Kundang. Karena jujur saja aku selalu mengira cerita Malin Kundang itu mitos yang berguna untuk mengajarkan anak kecil untuk menghormati dan menyayangi orang tua. So money is not everything in this case 😀

Pantai Air Manis
Sewa Ban dan Sewa Papan Selancar di Pantai Air Manis

Lalu dengan dua sepeda motor maka kami berempat yaitu aku, Nyak Irma, Bang Hendra dan Indra touring ke Pantai Air Manis yang berjarak kurang lebih  15 km dari pusat Kota Padang, Sumatera Barat. Nyak Irma dibonceng abangnya dan aku diboncengan oleh Indra ke Pantai Air Manis. Maka perjalanan ke Pantai Manis pun dimulai dengan motor.

Hal yang aku suka disepanjang perjalanan ke Pantai Air Manis ialah pemandangan indah Pantai yang menurutku menakjubkan! Itulah salah satu kenapa aku suka jalan-jalan ke suatu tempat karena menyaksikan keindahan yang tidak bisa dinilai dengan uang 😉

Something new always makes me enthusiams (bener gak ini grammer? hehe..)

Untuk akses ke Pantai Manis jalannya sangat berliku tapi ketika melihat pantai dengan Pulau serta warna biru langit memantul ke air laut dengan pepohonan kelapa maka aku lupa dengan akses yang berkelok karena mendapatkan aku mendapatkan pengalaman jalan-jalan Padang yang fantastis menyenangkan!

Pantai Aek Manih
Malin Kundang di Pantai Aek Manih

Waktu itu perjalan kami dengan motor tepat sore hari kira-kira jam 2 kami berangkat dan sampai di Pantai air Manis jam 3 lebih. Sesampai di Pantai Air Manis maka kesan pertamaku melihat batu Malin kundang ialah
“wow” (dalam hati ini beneran apa dibuat-buat ya?), Well, paling tidak daya tarik dari Pantai Malin Kundang yang membuat wisatawan berbondong-bondong ke Pantai Air Manis terletak pada batu ini loh. Bisa dikatakan “Malin Kundang di Pantai Aek Manih”.

Diluar dari patung Malin Kundang yang membuatku betah di Pantai Air Manis ketika berjalan di atas pasir hitamnya dari ujung ke ujung sambik menikmati pemandangan disekitar “sedap”!

Berjalan disepanjang pantai dengan suasa pasir bersih dengan gelombang air laut yang menawan, tidak sia-sia aku naik bus 27 jam dari Medan kesini hahhaha 😀

Mak anakmu menyentuh si Malin Kundang 🙂

Tapi satu hal yang kurang bagus di pantai air Manis yaitu sampahnya itu loh di pantai yang mengurangi keindahan Pantai. Kalau pengunjung atau warga lokal mau kerjabakti membersihkan sampah di Pantai air Manis maka lengkaplah sudah keindahan pantai.

Puas berkeliling mengitari Pantai Air Manis maka kami berempat berteduh di warung untuk makan mie atau sekedar minum karena rasa lapar akibat sindrome kebahagiaan 😀

Di Pantai Air Manis terdapat sebuah warung untuk bersantai sambil menikmati keindahan Pantai Aek Manih. Nah saat di Pantai Air Manis ada seorang bule yang menarik perhatikan Bang Hendra dan kami karena si Bule tinggal dengan pemilik warung serta ada tulisan Arab ditangannya dengan tulisan “Bismillah”. Selain itu si Bule fasih berbahasa Indonesia serta kegilaan yang tidak ketulung ialah dia ke Padang sudah 6x dan kali ini datang ke Pantai Air Manis serta keliling Indonesia dengan sepeda. Kebayang gak itu?

Bule di Pantai Air Manis
Bule dengan Tato Bismilah di Pantai Air Manis

Aku yang asli 100% Indonesia belum tentu bisa keliling Indonesia apalagi dengan sepada! Gileee benar dah si Bule ini! Aku lupa namanya tapi sepanjang makan di warung si Bapak bang Hendra yang bercerita sama si Bule. Salut juga ama ini Bule.

Aku makan mie, Nyak Irma makan nasi goreng sedangkan Bang Hendra dan indra hanya minum doang. Itulah waktu santai yang asyik saat travelling di Pantai Air Manis. Setelah kenyang maka kamipun sempat berphoto dengan si Bule lengkap dengan papan selancarnya.

Oh ya aktivitas yang bisa dilakukan di Pantai Air Manis ialah berselancar karena ombaknya tenang tapi tinggi.

Pantai Air manis padang
Pantai Air Manis

Dengan perut kenyang maka aku dan Nyak Irma sempat berhenti di dinding yang berisi relief cerita tentang legenda Malin Kundag dengan warna emas. Lokasi relief cerita Malin Kundang di dinding berada di dekat warung. Aku penasaran siapa yang buat relief kisah Malin Kundang dan tahun berapa dibuatnya. Sayangnya informasi kurang lengkap sehingga aku dan Nyak Irma menyimak kisah Malin Kundang sajalah!

Pantai Air Manis
Aku dan Si Nyak Irma di Pantai Air Manis

Catatan tips perjalanan ke Pantai Air Manis Padang

1. Akses menuju Pantai Air Manis dengan transportasi umum dari Padang dengan angkutan umum yang dapat ditemukan di Plaza Sentral Pasar Raya dengan trayek Padang-Bungus. Untuk saran akan lebih bagus dengan menyewa motor karena pemandangan disepanjang jalan sangat indah sehingga bisa berhenti sesuka hati.

2. Terdapat penjual makanan di Pantai Air Manis sehingga tidak usah khawatir kelaparan

3. Momen yang pas mengunjungi Pantai Air Manis ialah pagi hari dan sore hari

4. Jangan ekpektasi tinggi mengenai Batu Malin Kundang karena memang hanya terbuat dari semen membentuk orang bersujud.

5. Terdapat sewa ban dan papan selancar bagi yang berminat untuk melakukan olah raga air di Pantai

pantai air manis sumetera barat
Pemandangan di Pantai Aek Manih  SumeteraBarat

Salam

 

Weeeny Traveller