Menjelajah Edinburgh, Scotlandia


The wrong one will find you in peace and leave you in pieces, but the right one will find you in pieces and lead you to peace

By Unknown

Edinburgh

Hello World!

Edinburgh, April 2017

Betapa menyenangkannya bisa berbaur dengan warga local Edinburgh untuk menikmati sore hari. Setidaknya aku  “ginjang pat” alias “panjang kaki” kata mamakku melakukan perjalanan dari Kota kecil bernama “Padangsidimpuan” sampai di sebuah Kota yang mirip di cerita Dongeng bernama “Edinburgh”. Antara percaya tak percaya, aku membuat mimpiku menjadi kenyataan, menginjakkan kaki di UNITED KINGDOM. Jangan tanya seberapa banyak uang yang aku bawa, karena aku melakukan trip selama di Eropa hanyalah modal nekat dan sedikit keberanian. Cukup berani pergi ke Edinburgh walau entah apa yang aku ingin dilihat di Edinburgh. Namun yang pasti saat di Edinburgh aku merasa seperti berada di negeri Dongeng dengan nuansa Istana Tua yang dapat menghipnotis setiap pengunjungnya.

Edinburgh membuat betah untuk berlama-lama tinggal!

Sore itu bersama 3 teman di Edinburgh kami trekking ke Calton Hill melalui jalanan pintas melalui lorong rumah dari gang kecil dengan lantai semen tua, kalau aku sendiri jalan mungkin tidak tahu jalan pintas itu, hanya orang local saja mengetahuinya. Bersama-sama kami menaiki anak tangga yang cukup mengurus tenaga, padahal tangga itu mungkin hanya sekitar 20-50an anak tangga tapi membuatku merasa jompo. Hal ini karena aku paling belakang, sesekali aku merasa ngos-ngosan saat menanjak dan adakalanya aku berhenti dan tertinggal langkah dari 3 teman bersamaku. Namun rasa lelah melewati anak tangga terbayar ketika berada di Puncak Calton Hill, karena pemandangan Edinburgh luar biasa sore itu.

Calton Hill

Dari Puncak  Calton Hill, senja terlihat jelas dan Kota Edinburgh sore itu begitu elegan. Aku merasakan ketengangan dengan memandangi sunset dari Calton Hill dengan pemanndagan kota serta jam tua Edinburgh. Padahal baru saja beberapa saat lalu sebelum ke Calton Hill, kami sempat ke Edinburgh Castle. Sebuah istana yang besar terbuat dari bebatuan berada di ketingggian sehingga terlihat jelas dari beberapa penjuru Edinburgh bahkan memiliki meriam yang kata teman asli Edinburgh, meriam itu sering dinyalakan. Namun sayang, kami tidak sempat masuk ke dalam Edinburgh Castle karena kami sampai sudahlah agak sore, sekitar jam 4 sore sehingga kami memilih memandangi dari luar saja. Barulah dari Edinburgh Castle kami mencari cafe untuk nongkrong disekitar Grass market. Nongkrong ala bule dengan diriku yang rakyat jelata. Lucunya pas ketiga temanku nongkrong minumnya minum bir, aku sendiri yang minum cola, karena tidak jus di tempat nonkrongan kami. Yaiyalah secara di Inggris, dan disini aku merasa aneh sendiri. Teman-temanku ketawa sih atas pemilihan cola itu namun mereka tetap menghargai diriku yang seorang Muslim dan tidak minum alkohol. Bersama mereka, aku cerita tentang perjalanan serta merasakan seperti orang lokal. Begini rasanya nongkrong di negeri orang dengan orang baru, merupakan tempat nongkrong terjauh yang pernah aku jalani  😀

Edinburgh Castle

Setelah dari Grass market, aku diajak mengelilingi Kota Edinburgh dan kebetulan pas di EdinburGh ada shooting film Avenger, sayang gak ketemu abang Chris Evan hiks.

Nah pas jalan menuju Calton Hill, aku melihat pria Skotandia memakai pakaian tradisional Scotlandia yang menyerupai rok disebut sebagai Tartan. Biasanya pria Scotlandia memakai pakaian yang mirip rok saat upacara atau acara tertentu, namun pria yang aku jumpai itu adalah seniman jalanan. Dengan pakaian khas Scotlandia serta alat musik khas Scotlandia bernama Bagpipe, alat musik dengan cara ditiup tapi bukan seruling karena Bagpipe hanya memiliki satu tabung saja.

"Hey, may i ask stupid question?, tanyaku"
"Do they wear underwear when wear skirt?,

Lalu mereka tertawa terpingkal mendengar pertanyaan bodohku. Sambil menjawab “off course”.

Seniman jalanan dengan roknya serta alat musiknya dan suara musik yang dimainkannya membuatku suka dengan Edinburgh.  Memang budaya baru sungguh menarik untuk dipelajari dan aku sangat bersyukur karena Tuhan memberiku kesempatan untuk melihat dunia yang luas ini serta bertemu orang dengan latar belakang berbeda. Melihat sisi dunia 🙂

Museum Edinburgh
"Winny, take this bottle and pretend you drank it"

Entah Ide apa yang menyuruhku memegang bekas botol minuman mereka. Ide itu cukup lucu karena dengan botol dengan design tengkorak malah berphoto denganku di Calton Hill sambil menikmati senja. Senja pertama di Edinburgh.

Hari pertama di Edinburgh sudah membuatku jatuh cinta dengan Kota ini! Sampai-sampai tersirat mimpi lain, mimpi untuk bisa melanjutkan kuliah di Kota Edinburgh. Apalagi melihat Universitas, banyak makanan halal serta mudahnya mendapatkan masjid di Edinburgh membuatku senang di Kota ini. Bahkan jalan kaki sendirian menyasarkan diri di Edinburgh saja aku senang. Apalagi harga makanan di Edinburgh sedikit rasional dibandingkan London serta bangunan tua Edinburgh lebih menarik dari London. Entahlah yang pasti aku yang dulunya maniak dan fans berat London menjadi fans berat Kota Edinburgh.

Edinburgh

Untuk mensiasati cara bertahan hidup di Edinburgh dengan uang terbatas adalah dengan belanja di supermarket. Aku membeli roti dan buah di supermarket Lidl tepatnya di Nicolson Street seharga £5,16. Makanan ini cukup untuk makanku seharian kemudian karena menggunakan RB N B aku bisa memasakan nasi di rumah hostku. Jadi pas makan nasi aku begitu bahagia, maklum makan roti setiap hari bukanlah aku banget.

Namun masih harga di Edinburgh tetap masuk akal bila dibandingkan dengan London. Tidak hanya itu, Kota Edinburgh memiliki tempat wisata yang lumayan banyak. Aku saja 4 hari di Edinburgh belum khatam untuk wisatanya saking banyaknya. Padahal Old Town Edinburgh saja lumayan banyak dilihat misalnya Galeri Scotlandia, Museum of Scotlandia, Holyrood Rd, Scottish Parliament hingga ke Palace of Holyroodhouse.

Khusus ke Holyrood aku melihat bukit indah ala Scotlandia dan ingin rasanya naik ke bukit itu karena dibalik pemandangan itu ada  St Margaret’s Loch, Dunsapie Loch, dan Duddingston Loch. Sepertinya aku harus balik ke Scotlandia kali aja ketemu Naga di Scotlandia 😀

Biaya Pengeluaran Trip Edinburgh, 3 April 2017

08:00-09:00 Belanja makanan supermarket Lidl tepatnya di Nicolson Street £5,16

09:00-10:00 Keliling Andrew Square

10:00-12:00 Istirahat kembali ke penginapan

12:00-18:00 Keliling ke Holyrood Rd, Scottish Parliament, Palace of Holyroodhouse

18:00-22:00  Kembali ke penginapan dan istirahat

Tempat wisata yang didatangi pada hari-11 di Eropa

Andrew Square, Holyrood Rd, Scottish Parliament, dan Palace of Holyroodhouse

Total biaya pengeluaran pada hari-11 di Eropa = £5,16

Baca juga Pengalaman Trip di Eropa 1 bulan 

Salam
Winny

Iklan

Edinburgh dan Pesona Kastil Tua Skotlandia


Whatever you think you can do or believe you can do, begin it. Action has magic, grace and power in it.

By Johann Wolfgang

Hello World!

Edinburgh, 2 April 2017

Meninggalkan Kota London yang mahal menuju Edinburgh, sebuah Kota di Scotlandia. Untuk menuju ke Edinburgh aku menggunakan pesawat terbang dengan harga promo yang jauh hari sudah dibeli.  Saat di London aku baru menyadari kalau ternyata Bandara di London itu ada 4 kalau tidak salah, kebetulan keberangkatanku menuju Edinburgh dari Luton Airport, London.  Dari Cambridge Heath aku harus mengeluarkan uang untuk ongkos kereta sebesar £21,2 ke Luton Airport. Disini aku merasa sedih ketika Ponds merobek sakuku si pejalan ala backpacker dengan uang terbatas ini. Catatan bagi diri sendiri untuk tidak backpackeran ke UK karena mahal cin! Tidak cocok bagi turis miskin sepertiku 😀

Jadwal keberangkatan pesawat ke Edinburgh jam 1 siang namun jam 10 aku sudah berada di Bandara, mending menunggu daripada telat pesawatnya. Masih segar diingatan ketika persiapan masuk ke Inggris. Saat di Imigrasi Inggris, tidak begitu ditanya-tanya tapi yang pasti antriannya lumayan. Jadi mendingan sediakan waktu 3 jam sebelum keberangkatan, apalagi pengalaman saat di Eropa dan Inggris di Imigrasi ketat banget, sepatu dibuka dan laptop saja harus di tempat khusus. Sehingga perlu menyediakan waktu yang lumayan untuk proses imigrasi. Namun Alhamdulillah proses imigrasi Inggris tidaklah ribet.

Perjalanan London-Edinburgh tidaklah terlalu lama, mungkin hanya 1 jam perjalanan saja dengan pesawat. Aku sampai di Edinburgh sekitar jam 3 sore, dan langsung mencari cara ke Old Town Edinburgh dari Bandara. Tak jauh dari Bandara Edinburgh, Scotlandia terdapat tram menuju Kota dan harga tiket tram tidaklah terlalu mahal bila dibandingkan dengan Kota London. Harga tram ke Kota Edinburgh dari Bandara seharga £5,5, berbeda dengan saat ke Bandara di London yang minimal 20 Ponds. Kalau tidak mau naik tram menuju Kota Edinburgh bisa menggunakan Bis.  Aku sendiri mencoba keduanya, pas pertama kali sampai di Edinburgh dari Bandara, aku memakai Tram dengan tujuan St Andrew Square. Namun pas pulangnya aku menggunakan bis ke Bandara Edinburgh. Untuk harga naik bis lebih murah sekitar 1 Ponds.

Lucunya tram di Edinburgh ini mengingatkanku pada Istanbul. Saat masuk ke dalam tram, tidak terlalu ramai. Kemudian aku dapat leluasa memandangi pemandangan dari kaca. Aku masih tak percaya impian untuk menginjakkan kaki di UNITED KINGDOM tercapai. Dengan seksama aku mengamati pemandangan sepanjang jalan mulai dari rerumputan hijau, perumahan orang Scotlandia hingga sapi yang sedang merumput di Edinburgh. Sesekali aku senyum sendiri mengingat kenekatanku berpetualang ke Negara Mahal KATANYA padahal uang terbatas. Bahkan jujur aku masih tak percaya berada di Edinburgh, Skotlandia. Dalam hatiku ‘mak anakmu liar kali kakinya”!!

Di dalam Tram ketika aku mendengar orang British dan Scotland berbicara bahasa Inggris aku langsung senang. Maklum “bristish aksen” itu terlalu sexy buatku. Walau biaya hidup di Inggris tidak sesexy aksennya 😀

Berada di Scotlandia benar-benar mengobati rasa kekecewaanku terhadap London. Karena KOTA IMPIAN ku itu adalah mendatangi London dan itu sejak ada sejak kuliah. Alasannya sederhana hanya karena ingin melihat Big Ben. Walau pada ujungnya pas sampai di LONDON dalam benakku “yaelah gini doang, masih bagusan PARIS”, padahal udah lah mahal!. Untung di Scotlandia mengobati rasa kekecewaanku, tak sia-sia lah habis uang 5 juta hanya untuk VISA INGGRIS saja!

Sesampai di Old Town, Edinburgh, mataku langsung berkaca-kaca bahkan merasa sangat terkesan. Kota Edinburgh begitu antik serasa berada di FILM HARRY POTTER. Yah Kota Edinburgh ini memang menjadi inspirasi dari JK Rowling dalam membuat karya Harry potter. Kotanya penuh dengan kastil tua, gereja tua, halaman rerumputan serta bangunan-bangunan kuno. Belum sesekali mendengar suara music “khas SCOTLANDIA” dengan alat music khas serta pakaian khas dengan rok ala Scotland.

Tak sia-sia aku melakukan perjalanan jauh ke Scotlandia! Bayangkan betapa jauhnya jarak Padangsidempuan ke Scotlandia ini 😀

Saat berada di Olw Town Edinburgh, aku berhenti di St Paul, karena menunggu host dari Rb n B. Memang selama di Inggris aku memutuskan lenih banyak menggunakan RB N B dibandingkan dengan Couchsurfing. Khusus di Edinbugh, aku menginap selama 3 hari dengan RB n B. RB n B ini semacam tempat penginapan murah bila dibandingkan menginap hostel atau hotel. Ibaratnya menginap di rumah warga local namun harganya jauh masuk akal dan lebih murah. Selama 4 hari di Edinburgh, 3 hari dengan Rb n B dan 1 hari menggunakan Couchsurfing. Ternyata pengalaman menggunakan RB n B lebih asik daripada Couhsurfing selama berada di Edinburgh. Karena pas di Edinburgh rumah hostku sangat dekat kemana-mana bahkan berada di tengah OLD TOWN Edinburgh. Jadi kalau aku hendak kemana-mana dekat sekali.

Setelah ngegembel di UK selama 6 hari akhirnya aku memutuskan pindah negara yang bersedia menampungku! Edinburgh masih kota favoritku karena banyak menemukan makanan halal, kemana-mana bisa jalan, banyak castle, bangunan tua, ada laut, ada bukit, ke airport naik bus £4,5 kalau naik tram £5,5, sekali makan bisa £5-10 tapi ada juga £3, belanja di market £6 udah dapat macam-macam terus kotanya cakep dan antik terus pas disini avenger lagi shooting lagi! Sayangnya disini dingin meski spring 5 derajat yang setiap malam membuatku biduran terus nginapnya sih hratisan dan yang paling penting Kotanya itu full of wifi gratiss tiss tiss! Untuk buah? Murce £2 strawberry gede-gede! Semoga bisa kesini lg dengan uang segepok😜 #edinburgh #scotland #european #uk #europe #british #travel #journey #mydreamtoexploretheworld ✈️Edinburgh

A post shared by Winny Marlina (@winnymarlina) on

Hostku orangnya juga asik, jadi dia membawa ke Calton Hill, Edinbugh Castle, dan Grassmarket. Pertama kali ialah dia mengajak ke Edinburgh Castle yang jika ingin naik harus melalui jalanan mendatar. Menariknya Kota Edinburgh bak berada di Kota dengan istana besar. Aku merasa berada di Hogwarts, padahal aku paling tidak percaya dengan sihir. Aku menganggap ini adalah KOTA dengan ISTANA TUA yang mempesona. Bahkan jembatannya aja kece badai. Pokoknya berada di Edinburgh membuatku betah berlama-lama!

"Hey please pinch my cheek, kataku

What for?

To make sure that i am not dreaming in Edinburgh", kataku

Aku baru saja berada di KOTA HARRY POTTER..

Ternyata mimpi itu bisa jadi nyata 🙂

Rincian Pengeluaran BACKPACKER EROPA di Edinburgh

09:00-10:00 Persiapan dari penginapan ke Bandara. Harga tiket kereta dari Cambridge Heath-Luton Airport £21,2

10:00-12:00 Imigrasi, antri di Bandara Inggris dan tidak begitu ditanya-tanya

13:00-15:00 Perjalanan London-Edinburgh dengan pesawat

15:00-16:00 Tram dari Edinburgh airpot ke St Andrew Square £5,5.

16:00-18:00  Jalan kaki ke penginapan kemudian jalan ke Calton Hill, Edinbugh Castle, dan Grassmarket

Tempat wisata yang didatangi pada hari-10 di Eropa 

Calton Hill, Edinbugh Castle, dan Grassmarket

Total biaya pengeluaran pada hari-10 di Eropa = £21,2  + £5,5 = 26,7

Salam

Winny

Keliling PARIS


Fighting has been enjoined upon you while it is hateful to you. But perhaps you hate a thing and it is good for you; and perhaps you love a thing and it is bad for you. And Allah Knows, while you know not.

AlBaqarah;216

Hello World!

Paris, 29 Maret 2017

"What else can we do in Paris?", tanyaku kepada Thimo
"Paris has plenty tourists attraction, you give it to me", jawabnya

Ternyata benar sebagai tuan rumah di Negerinya, Thimo tahu betul tentang seluk beluk Paris meski dia bukanlah berasal dari Paris. Buktinya meski aku hanya 2 hari di Paris, Perancis sewaktu trip 1 bulan di Eropa sendirian, aku dapat mengelilingi Kota Paris, itu semua berkatnya. Mulai dari bangunan yang mirip Taj Mahal ala Paris hingga ke Eiffel. Setelah kami berjalan kaki mengitari Eiffel dari ujung ke ujung, maka kami melanjutkan perjalanan dengan Metro menuju ST. Paul.

Baca juga tentang pengalaman di Menara Eiffel

Peta Metro di Paris

Dari St Paul kami mencati toko teh yang merupakan tempat favorite Thimo. Kata dia sih “memiliki teh dari seluruh dunia”. Sebagai penyuka teh, tentu aku sangat antusias dibawa ke toko teh di Paris. Nah sesampai di Toko itu hal pertama yang aku lakukan adalah menanyakan jika ada teh dari Indonesia.

"Do you have tea from Indonesia?", tanyaku kepada pemilik toko teh

Memang kalau pas jalan-jalan di Luar NEGERI sono entah kenapa jadi jiwa Nasionalismenya tinggi. Padahal ya pas di toko teh cuma nanya doang alias basa-basi. “Beli?, kagak”!

"Yes we have from Java, kata pemilik toko"

Langsung aku kegirangan melihat teh dari Indonesia itu. Sampai si Thimo tertawa melihat tingkahku

"Well, you are in Paris, but you are looking for tea from Indonesia?"
tanyanya tak percaya

Setelah itu barulah dia menunjukkan teh kesuakaan dia. Walau aku lupa sih teh darimana yang dia suka. Yang pasti seingatku teh di toko itu lumayan lengkap bahkan ada juga dari India tepatnya teh darjeeling. Namun karena ada dari Indonesia aku anggap teh toko di Paris ini kece. Sisi lainnya aku jadi tahu tempat kesukaannya membeli teh di Paris. Disini aku merasa beruntung jadi orang Indonesia karena begitu gampangnya menemukan teh, bahkan di warung sebelah rumah aja tinggal sebut merek langsung deh dapat teh bahkan sehari-hari biasa minum teh manis, teh tawar. Kalau di Paris harus nyari ke “toko serba teh”, kan ribet ya?

Toko Teh di Paris

Dari toko teh bernama “Mariage Freres”, yang terletak di Mariage Frères, 30 Rue du Bourg Tibourg, 75004 Paris, France, kami naik Metro lagi menuju Palais Garnier – Opera National de Paris. Sayangnya kami melihat Opera Paris dari jauh saja sambil melihat nama-nama yang ada di bangunan. Padahal Operas Paris ini merupakan bangunan yang ada sejak abad ke 19 dan dibangun sekitar tahun 1669 dan dibangun oleh Charles Garnier. Bangunanya sendiri menurutku unik dengan hiasan emas di ujungnya serta kata di bangunannya itu loh “ACADEMIE NATIONALE DE MUSIQUE”, jadi gregetan pengen masuk.

Namun karena diuber waktu serta kondisi keuangan yang ala kadarnya, jadi mimpi menonton Opera kapan-kapan sajalah. Habis mahal cin, harga masuk ke Opera House Paris itu 15.5 Euro sih! Disini hayati sedih, untung hayati tidak pengagum musik kalau tidak bisa sakit hati gegara gagal nonton konser opera.

Di depan Opera House Paris

Setelah puas melihat opera dari kejauhan, sama kayak Cinta pertama yang tidak bisa dimiliki, akhirnya aku diajak lagi mengunjungi wisata Paris lainnya. Dalam hatiku ya “banyak juga wisata Paris ini”.

“Winny, lets go to see Tomb of Napoleon”, ajak Thimo

Karena memang aku anaknya ngikut saja akhirnya aku iyain aja, kalaupun dibawa nyasar kagak tahu.  Eh ternyata kuburan Napoleon itu ada di Museum Army.

Musée de L’Armée atau Army Museum – Tomb of Napoleon in Paris didirikan pada tahun 1905. Awalnya sebagai rumah sakit dan tempat tentara penyandang cacat yang dibangun oleh Louis XIV. Hal menarik dari Musée de L’Armée atau Army Museum – Tomb of Napoleon in Paris adalah Makam Napoléon di Museum ini. Napoléon meninggal tahun1821, di Pulau St Helena sampai Raja Louis-Philippe memerintahkan mengembalikan jenazahnya ke Paris tanggal 15 Oktober tahun 1840. Tapi makam Napoleon baru ada sejak tanggal 2 April 1861. 

Untuk masuk harga tiket masuk ke dalam Museum Army harus membayar 11 Euro, namun karena kami datangnya sore sehingga museumnya sudah tutup maka kami gagallah mengeluarkan uang 11 Euro.  Arsitek dari Museum ini sangat bagus serta aku suka sekali dengan lapangannya yang luas bahkan sampai-sampai museum ini memiliki penjagaan yang lumayan ketat, seketat hati abang itu.

Meski tidak jadi masuk ke dalam dan gak mau rugi, akhirnya photo dari luar saja cukup membahagiakanku 😀

Khusus Musée de L’Armée atau Army Museum aku sangat tertarik masuk karena penasaran dengan makam Napoléon  namun sayang aku belum berjodoh dengan Napoléon  hihi 😀

Notre Dome

Dari Museum Army Paris, akhirnya perjalanan kami lanjutkan menuju ke Notre Dome, Paris.  Tentu saja lagi-lagi dengan Metro di Paris. Maklum sudah beli Metro pass selama 2 hari sehingga harus dimaksimalkan penggunannya. Kan lumayan harga Metro pass 2 hari 18.5 Euro!

Kalau penjelasan Thimo katanya Notre Dome ini adalah Pulau buatan namun entahlah itu benar atau tidak. Yang pasti aku sudah mengunjungi salah satu contoh arsitek gothic Perancis terbaik “Notre Dame de Paris”. Notre Dome Paris berada di sebelah timur Île de la Cité di Paris, Perancis.

Karena kedatangan kami pas sore hari di Notre Dome, Paris sehingga tidak bisa masuk ke dalam. Kami hanya melihat dari luar saja bersama turis lainnya. Nah menariknya pas di depan Notre Dome kami melihat grup musik memainkan alat musik dengan piawai. Saking piawainya menjadi pusat perhatian turis. Kami kan heran “kok banyak kali orang berkumpul dengan musik”, jadi kami penasaranlah apa yang dilihat turis itu. Kok rame-rame? Nah ternyata gegara abang-abang dan kakak-kaka yang main musik di depan Katedra.

"Winny, do you know how to distinguish them and musician in Metro?" tanyanya

"Well, they are good selecting place in tourist area", jawabku
"Nope, they play well and with their heart", jawabnya

Disinilah aku melihat sisi lain dari Paris yang katanya KOTA FASHION, KOTA GLAMOUR namun tetap saja masalah metropolitan adalah sama dimanapun berada “metropolitan tetaplah metropolitan”.

Banyak imigran di Ibukota Negara demi mengais rezeki!

Pengamen juga ada bok di Paris, namun pengamennya tidak seperti di Jakarta kalau tidak dikasih uang bisa BETE, disini mah,  “main musik yah main musik aja “, kalau ada yang ngasih syukur, gak ada juga gak apa. Tidak hanya di depan Notre Dome saja aku melihat pengamen, di Metro juga banyak pengamen. Bedanya di Metro sedikit yang memberikan uang, sementara di tempat turis seperti Notre Dome banyak turis memberikan yang kepada musisi jalanan Paris mulai dari 1 Euro, 5 Euro bahkan ada yang ngasih 20 Euro. Sementara di Metro pas aku lirik uang di sekitarnya paling recehan Euro. Kasihan sih melihatnya, ternyata hidup di PARIS itu keras!

Sisi lain di Paris yang aku lihat selain pengamen adalah para penjual buah di Metro yang ketika polisi datang langsung berlari sambil membawa barang dagangannya terus pas polisinya tidak ada kembali lagi berjualan. Ini mengingatkanku akan satpol PP yang main kucing-kucingan dengan pedagang asongan. Ironisnya dari beberapa pedagang di stasiun Metro beberapa dari mereka meninggalkan daganganya yang penting dia tidak kena RAZIA. “MEMANG HIDUP ITU PERJUANGAN! UNTUK ITU SERING-SERINGLAH BERSYUKUR”

Lagi shooting di dekat Sungai Seine

Paris ini ibarat pembelajaran sekaligus mimpi bagiku. Pembelajaran bahwa jangan selalu menganggap kalau EROPA bakalan tajir semua, itu salah besar. Karena di Paris ada juga pengamen!

Nah kenapa aku mengatakan Paris adalah mimpi bagiku karena aku dapat melihat Sungai Seine, terutama ketika pulang dari Notre Dome Paris. Memang impianku adalah berjalan mengitari Sungai Seine.

Dulu pernah buat status seperti ini “waiting for me in Seine River“!!

Alhamdullilah ternyata kata-kata itu adalah DOA dan akhirnya gadis kampung sepertiku bisa juga menginjakkan kaki di Paris dan melewati Seine River bahkan sampai ke Thames River hingga ke Danube.

Selain melewati Sungai Seine seperti impianku, hal menariknya aku temukan di Paris ketika pas jalan melewati jembatan, tak jauh dari Notre DOME eh malah melihat ada orang shooting. Alhasil aku pura-pura lewat dong manatahu ikut kena shoot hahha 😀

Niat ngartis banget ya? Disini aku kelihatan norak banget dan kampungan hehehe “D

Padahal ocehanku pada Thimo waktu itu “does it posibble to see Chris Evan, Captain America shooting in Paris?”, harapku. Eh malah ketemu tante berambut pirang yang shooting.

Tapi lumayanlah melihat orang shooting di Paris sampai-sampai aku kemarok pengen masuk shooting juga.

Kami hampir 30 menit juga melihat orang shooting lalu memutuskan kembali ke Menara Eiffel karena aku masih penasaran dengan Paris di malam hari dari Menara Eiffel.

Masjid di Paris

Oh ya satu lagi di Paris itu ada Masjid juga loh dengan Naik Metro ke La Grande Mosque de Paris. Lumayan banyak tempat makanan halal di area La Grande Mosque de Paris sehingga tidak usah khawatir mencari makanan halal di Paris.  Buatku sendiri La Grande Mosque de Paris adalah OASE di Paris.

Nah kalau dipikir-pikir 1 Hari di Paris ternyata aku bisa menjelajah banyak tempat sekaligius.

Catatan tentang Paris

1. Harga turis pass Paris untuk 2 hari buat Dewasa (2 DAYS PARIS ADULT PASS) €135, remaja €83, anak-anak €46.

2. Harga turis pass Paris untuk 3 hari buat Dewasa (3 DAYS PARIS ADULT PASS) €169, remaja €99, anak-anak €52.

3. Harga turis pass Paris untuk 4 hari buat Dewasa (4 DAYS PARIS ADULT PASS) €199, remaja €109, anak-anak €58.

4.Harga turis pass Paris untuk 6 hari buat Dewasa (6 DAYS PARIS ADULT PASS) €239, remaja €129, anak-anak €75.

5. Turis Paris Pass adalah semacam tiket untuk turis termasuk ke museum, free entry to Top Paris attraction include bus tour. Karena jika ingin lama di Paris ingin masuk semua ke wisatanya akan lebih murah beli “turis pass”. Namun karena aku turis begpacker ke Eropa aja modal 10 juta sebulan, jadi aku kagak beli turis pass adanya pengen beli abang pas aja tapi kagak dapat-dapat,  😀

Salam

Winny

Cerita di Eiffel Tower, Paris Perancis


So many of our dreams at first seem impossible, then they seem improbable, and then, when we summon the will, they soon become inevitable.”
By Christopher Reeve

Hello World

Paris, 29 Maret 2017

Masih  segar diingatanku ketika pertama kali melihat Tokyo Tower saat berada di Tokyo, Jepang 8 Maret 2015 silam. Kala itu dalam hatiku “Yah ALLAH hari ini aku melihat Tokyo Tower yang mirip dengan Eiffel Tower, dan semoga suatu saat nanti bisa melihat Eiffel Tower juga”.

Keinginan untuk ke Menara Eiffel di Paris, Perancis lantaran penasaran dengan bentuknya dan design serta rangkanya yang sebelas dua belas. Tapi karena baru melihat Tokyo Tower maka kala itu aku berandai suatu saat bisa ke Paris agar bisa membandingkan langsung kedua menara itu.

Dan Alhamdullilah impian itu terwujud 2 tahun kemudian untuk mengunjungi Menara Eiffel di Paris, Perancis.

Baca juga perjalanan Trip Tokyo Tower

Aku di Tokyo Tower Jepang

Saat di Paris, memang tidak akan afdol rasanya kalau tidak mengunjungi ‘EIFFEL TOWER”, landmarknya KOTA PARIS. Kan biasa kalau tidak ke icon nya, tidak berasa berada di Kotanya. Kalau istilahnya “no pic, hoax”.

Namun meski demikian ekspektasiku tidaklah ketinggian mengenai MENARA EIFFEL. Aku hanya penasaran membandingkannya dengan TOKYO TOWER, apakah mirip Tokyo Tower dengan Eiffel Tower? Akhirnya pertanyaan diri sendiripun terjawab ketika sampai di Paris.

Aku mengunjungi Eiffel Tower di hari ketiga di Perancis. Bersama Thimo yang merupakan warga lokal Perancis menemaniku selama di Perancis bahkan dengan kebaikannya aku diajak ke wisata Paris dengan waktu singkat serta banyak tempat yang dikunjungi di Paris. Sampai-sampai ke tempat yang tidak masuk dalam daftar kunjunganku di Paris saja aku dibawa, kalau aku jalan sendirian di Paris, tidak mungkin kesana.

Baca juga perjalanan antimainstream di Paris

Setelah dari Avenue des Champs-Élysées (famous street in the world), kami pun naik Metro dari Opera Paris ke Restoran Jepang Rue St Anne untuk makan siang. Memang karena aku Muslim, Thimo sangat waspada untuk memastikan makanan yang aku makan itu halal. Setelah memutar beberapa restauran di area entah berantah yang  hanya Thimo saja tahu, akhirnya kami makan di restauran Jepang dengan menu shirashi+teriyaki seharga 24 Euro/2 orang. Setelah dari pagi keliling Paris maka istirahat sejenak untuk makan siang rasanya begitu menyenangkan. Barulah setelah kenyang kami melanjutkan mencari Metro terdekat menuju Metro Pyramid-Concorde-Metro Champs de Mars demi melakukan tour Eiffel. 

Tulip di Paris

Dari Metro Champs de Mars kami berjalan kaki ke arah Menara Eiffel. Dari kejauhan Menara Eiffel sudah terlihat lalu pas sampai di bawah Menara Eiffel yang menarik perhatianku adalah “TULIP”.

Hahhhh Tulip??

Iya Tulip, jadi aku pertama kali kegirangan itu bukan melihat Menara Eiffel namun Tulip dekat dengan Taman di bawah kaki Menara Eiffel.

Kok bisa malah tertarik dengan tulip bukan Menara Eiffel?

Jawabannya sederhana karena aku mengira kalau Tulip hanya ada di Belanda dan karena saat backpacker di Belanda aku tidak menemukan tulip karena aku malah mencari Kincir Angin BELANDA.

Padahal misi di Belanda itu ada 2 yaitu melihat kincir angin dan melihat tulip. Satu misi berhasil maka ada satu misi lagi yang tidak berhasil. Habis  kalau mau lihat tulip itu mesti bayar di Taman Keukenhof, Amsterdam. Jadi karena harus bayar akhirnya  aku tidak ke Taman Keukenhof. Habis dalam hati ‘yaelah bunga doang, mending ke TAMAN BUNGA CISARUA”(terus dilempar handuk hehehe”.

Nah kebayang kan kenapa pas nemun TULIP gratisan betapa bahagianya aku apalagi nemunya persis di bawah Menara Eiffel langsung deh wajahku seperti bocah kecil yang mendapatkan uang haha 😀

"Here we are, and this is EIFFEL TOWER, and what do you think?" 
kata Thimo dengan semangat

"So so, kataku 

Mendengar jawabanku langsung muka kecut di muka Thimo. Dari situ aku belajar bahwa jangan pernah sekali-kali mengatakan biasa saja mengenai Menara Eiffel kepada orang lokal Perancis. Karena mereka memiliki jiwa Nasionalisme tinggi.

Do not you think its incredible? tanya Thimo lagi

Just imagine how they built it at that time, lanjutnya

Terus akupun berpikir mengenai pernyataan Thimo serta setuju dengan pendapatnya. Aku malah berpikir kira-kira berapa ya jumlah besi yang dibutuhkan serta jumlah orang untuk membangun menara Eiffel dengan keterbatasan peralatan dimasanya? Disini aku merasa bahwa betapa orang-orang zaman dahulu betapa pintarnya. Karena bangunan setinggi ini dibangun tahun 1889 merupakan sesuatu yang patut di acungi jempol.

Eiffel Tower, Paris

Saat berbicara dengan Thimo mengenai Eiffel, kami berjalan kakimencari tempat pengambilan photo Eiffel terbaik. Waktu itu kami datang siang hari dan cuaca lumayan terik meski suhunya tetap dingin buatku. Seperti biasa di tempat-tempat kesukaan turis, maka Menara Eiffel juga banyak sekali turis sehingga mau berjalan sejauh apapun “manusia” dimana-mana. Mereka rata-rata ingin berphoto dengan latar belakang Menara Eiffel. Jadi sabar-sabarlah mencari titik pengambilan photo MENARA EIFFEL agar tidak ada orangnya.

Beruntungnya aku pergi dengan Thimo karena sebagai warga lokal dia tahu persis dimana titik pengambilan photo Menara Eiffel terbaik. Sisi terbaik untuk melihat Eiffel berada di sebuah Taman yang lumayan agak jauh karena jarang ada turis kesana. Tentu saja tempat melihat sisi Menara Eiffel aku tahunya dari Thimo.

Itulah sebenarnya manfaat kita mengenal warga lokal dan memiliki banyak teman di manapun, karena percayalah orang-orang inilah yang akan membantu kita. Serta selalulah berbuat baik kepada orang lain karena mungkin bukan orang itu yang akan membalas kebaikan kita namun bisa saja kebaikan itu akan dibalas dari tangan orang lain.

Jadi berbuat baiklah 🙂

Sayangnya kami tidak masuk ke dalam Menara Eiffel karena bayar dan memang aku anti bayar. Aku cukup bersyukur sudah berada persis di bawah kaki Eiffel mulai dari jarak paling dekat hingga paling jauh sekali. Dan memang misi Menara Eiffel bukanlan menyentuhnya melainkan melihatnya saja. Cukup melihat dari luar saja membuatku bahagia kok 🙂

Lucunya walau awalnya aku mengatakan Menara Eiffel itu biasa saja namun ujung-ujungnya aku minta kembali ke Menara Eiffel pada malam harinya karena belum puas berlama-lama di Menara Eiffel, Paris. Disini lah aku dibully abis karena mengatakan “biasa” saja eh padahal “balik lagi ke Eiffel”.

Aku di Perancis

Eiffel Tower dalam bahasa Perancis adalah Tour Eiffel, /tuʀ ɛfɛl adalah ikon global Perancis dan menari terkenal di dunia yang dibangun diarea Champ de Mars di tepi Sungai Seine, Paris. Menara Eiffel ini dibuka pertama kali tanggal 31 Maret 1889.  

Padahal Eiffel Tower pada mulanya dibangun untuk menjadi bagian dari pameran mahakarya dunia l’Exposition Universelle yang bertepatan dengan 100 tahun Revolusi Perancis. Lama pengerjaan Menara Eiffel 2 tahun dari tahun 1887 yang namanya sendiri dari nama arsiteknya “Gustave Alexandre Eiffel”. Walau Menara Eiffel bukanlah rancangannya si Eiffel melainkan rancangan anak buahnya bernama Maurice Koechlin dan Emile Nouguier. Yah mirip kaya pribahasa “kerbau punya susu, sapi punya nama”.

Menara Eiffel bahkan sampai tahun 1930 merupakan menara tertinggi di dunia. Menara memiliki berat 15 ribu ton, dengan 3 lantai serta memiliki ketinggian 312,27 meter, ditambah tinggi antena menjadi 324 meter. Lantai pertama pada ketinggian 57 meter, lantai kedua 115 meter, dan lantai ketiga 276 meter.

Oh wow, untuk bangunan yang ada sejak tahun 1889 sungguh keberadaan menara ini memukau!

Menara Eiffel

Jadwal masuk ke Menara Eiffel

Jam 9:30-23:00

Setiap Jumat dan Sabtu di bulan September sampai jam 00:00

Tiket ke Menara Eiffel

Kalau dari luar saja gratis namun jika ingin masuk dan naik ke Menara khususnya Top Eiffel maka bayar.

Harga masuk ke Eiffel Tower dengan lift sampai lantai 2

-Untuk dewasa 11 Euro

-Wisatawan umur 12-24 tahun 8,5 Euro

-Wisatawan umur 4-11 tahun 4 Euro

Harga masuk ke Eiffel Tower dengan naik tangga

-Untuk dewasa 7 Euro

-Wisatawan umur 12-24 tahun 5 Euro

-Wisatawan umur 4-11 tahun 3 Euro

Harga untuk naik ke Top Eiffel Tower

-Dewasa 17 Euro

-Wisatawan umur 12-24 tahun 14,5 Euro

-Wisatawan umur 4-11 tahun 8,5 Euro

Cara ke Eiffel Tower

1. Dengan Metro

-M9 turun di Trocadéro dan jalan kaki 5 menit

-M8 turun di École militaire jalan kaki 5 menit

-M6 turun di Bir-Hakeim jalan kaki 3 menit

2. Dengan RER

Turun di Champs de mars jalan kaki 1 menit

3. Dengan Perahu

Turun di Eiffel Tower dengan perahu via Seine

4. Dengan Sepeda

5. Dengan mobil

Cara ke Eiffel (Source: Toureiffel.paris website)

Alamat Eiffel Tower

Champ de Mars,

5 Avenue Anatole France,

75007 Paris, France

Baca juga perjalanan lengkap di Eropa

Salam

Winny

Menelusuri Jalanan Terkenal di Dunia, Avenue des Champs-Élysées, Paris


Keep Going. Your hardest times often lead to the greatest moments of your life. Keep going. Tough situations build strong people in the end.

By Roy T. Bennett

Aku di Avenue des Champs-Élysées

Hello World

Paris, Maret 2017

Beruntung!

Aku yang tidak tahu jalanan di Paris beruntung karena Thimo menemaniku keliling wisata Paris. Padahal kalau berbicara Paris aku tahunya Eiffel atau Arch de triomphe. Lucunya aku ingin sekali ke bangunan simpang lima di Kediri yang mirip Arch de Triomphe, PARIS, namun malah ke Arch de triomphe beneran.

Alhamdulillah rezeki anak soleh 🙂

Metro Paris

Waktu masih jam 9 pagi ketika kami meninggalkan Basilique du Sacré-Cœur, kemudian naik Metro ke Porte Maillot. Jauh-jauh kami ke Metro Porte Maillot untuk mencicipi makan pastry seharga coklat 1,2 Euro/bijinya. Nama toko yang kami cari itu bernama  A la Reine Astrid’s Paris sebuah took kecil yang berada di avenue de la Grande Armée (17th arr).

"You have to try it, its chocolate “caviar,” really delicious one, kata Thimo dengan semangat"

Sebagai penyuka cokelat, akhirnya ajakannya pasti aku iyakan. Toh aku sendiri juga backpackeran di Eropa ini. Dan jujur aku tak paham jalanan Paris, kalau bukan bantuan Thimo mungkin aku sudah nyasar-nyasar di Paris.

Paris

Keluar dari Metro kami berjalan ke sebuah toko kue. Toko kecil dengan beraneka ragam macam kue dan cokelat. Kue-kue disusun rapi, dan sang penjaga toko membolehkanku mengicip kuenya. Apalagi ketika dia mengetahui aku dari Indonesia dan seorang diri melakukan trip di Eropa, seolah bersemangat menyambutku. Langsung deh aku ditawarin icip kue mungil-mungil padahal harga kuenya cukup fantastis buatku. Tapi karena gratisan nyoba tester kuenya, aku mah senang-senang aja. Lagian siapa sih turis yang ke Paris nyari kue? 

It’s me!

Kalau dipikir-pikir dengan harga 1 kue itu aku bisa makan pecal, nasi goreng di Indonesia. Disitu bathinku bergejolak saat melakukan perjalanan jauh, aku akan rindu dengan makanan Indonesia. Namun bagaimanapun juga aku tetap menikmati icip-icip kue cokelat di Paris, toh udah niat juga nyari tokonya yang jauh dari kata “turis”. Mungkin hanya orang lokal saja yang tahu tempat ini, kalau aku sendirian belum tentu kesini.

Thimo membeli 5 pastry dan yang paling aku suka yang rasa cokelat. Lucunya kami makan pastry itu berdiri di pinggir jalan. Untung lagi di Paris, jadi tidak kelihatan gembelnya 😀

Barulah setelah itu kami melanjutkan perjalan keliling Paris menuju Arc de Triomphe. Transportasi yang kami gunakan ialah Metro, karena kami sudah membeli Metro pass selama 2 hari artinya bebas menggunakan Metro selama 2 hari dan dipastikan lebih murah jika ingin keliling Paris.

Arc de Triomphe

Arc de Triomphe atau Arc de triomphe de l’Étoile merupakan salah satu monumen paling terkenal di Paris yang dibangun atas perintah Napoleon Bonaparte untuk menghormati jasa tentara kebesarannya yang berada di area Champs-Élysées.

Sewaktu aku sampai di Arc de Triomphe, pengunjung lumayan banyak. Tak heran karena arsiteknya yang unik serta sudah ada sejak zaman dahulu. Padahal hanyalah sebuah monument dan sekelilingnya jalanan biasa. Tapi begitu menarik perhatian. Bahkan untuk masuk lebih dekat harus bayar lagi. Karena aku adalah pejalan kere karena backpacker ke Eropa modal nekat dengan membawa uang 600 Euro untuk 1 bulan, akhirnya memandangi dan photo dari jauh dengan  Arc de Triomphe cukup membuatku bahagia kok.

Aku kan anaknya mudah bahagia 🙂

Avenue des Champs-Élysées
Winny, you follow me, I will show you famous street in the world, kata Thimo
What is the that?, tanyaku
Its, Avenue des Champs-Élysées, kata Thimo

Akhirnya aku mengikutinya menuju Avenue des Champs-Élysées, tak jauh dari Arc de Triomphe.

Benar saja pas sampai di Avenue des Champs-Élysées, toko branded berjajar bahkan ada sebuah show cabaret. Tapi beda ya kabaretnya bukan seperti yang ada di Thailand. Hampir aku penasaran dan membeli tiket, kapan lagi melihat show megah di jalanan megah. Namun aku ingat akan kondisi keuangan yang tipis. 

Sebenarnya menurutku jalanannya sih biasa saja, hanya saja Avenue des Champs-Élysées, ibarat surganya shopping.

Dalam hati “this is really Paris“.

Untung aku bukan anak yang doyan shopping, kalau tidak mak, aku akan khilap.

Avenue des Champs-Élysées merupakan Paris must-see terdiri dari restaurant hingga toko ternama yang berada diantara Place de la Concorde dan the Arc de Triomphe.

Kesan ketika menginjakkan kaki di avenue terkenal di dunia, merasa bak model tapi perasaanku saja sih. Habis orang Paris pakai baju biasa saja tapi kelihatan keren. Apalagi pakai baju yang wow ya?

Gak heran sih Kota fashion 🙂

Avenue des Champs-Élysées

Rincian Biaya Pengeluaran di Paris, 29 Maret 2017

08:00-09:00 Jalan kaki ke Basilique du Sacré-Cœur, kemudian naik Metro ke Porte Maillot untuk makan pastry coklat 1,2 Euro

09:00-20:00 Jalan keliling Paris mulai dari Arc de Triomphe, jalan ke Avenue des Champs-Élysées (famous street in the world), kemudian naik Metro dari Opera Paris ke Restoran Jepang Rue St Anne untuk makan siang seharga 24 Euro/2orang (makan shirashi+teriyaki), jalan ke Metro Pyramid-Concorde-Metro Champs de Mars kemudian tour Eiffel, jalan ke hotel des invalids kemudian ke Metro St. Paul untuk nyobain teh dari segala penjuru dunia kemudian ke Notre Dome. Makan kebab 5 Euro, mencoba es krim 4,6 Euro untuk ukuran regular di Latin distrik kemudian balik ke Eiffel lagi sampai malam. Sempat membeli postcard dan gantungan kunci Eiffel 3 Euro.

Tempat wisata Paris yang didatangi pada pada hari-6 di Eropa

Eiffel, Metro Dome, Arc de Triomphe, Avenue des Champs, Basilique du Sacré-Cœur

Biaya yang dikeluarkan di hari-6 di Eropa = 1,2 Euro + 5 Euro + 4,6 Euro + 3 Euro = 13,8 Euro

Salam

Winny

Jalan Kaki ke Istana di Vienna, Austria


“You’ll learn, as you get older, that rules are made to be broken. Be bold enough to live life on your terms, and never, ever apologize for it. Go against the grain, refuse to conform, take the road less traveled instead of the well-beaten path.

By Unknown

Hello World!

Austria, 2017

Pengalaman Eropa trip sendirianku “bittersweet”, bercampur aduk emosi baik suka maupun duka. Pun berjalan sendiri sampai berkata dalam hati “apa yang aku cari di Eropa?”. Mungkin saja perjalanan ke Eropa untuk mengenal diri sendiri namun percayalan perjalanan 1 Bulan di Eropa tidak seindah yang dibayangkan orang. Walau memang rata-rata seru sekali selama di Eropa karena bertemu dengan orang baik dan ada juga orang agak-agak. Salah satunya hostku di Vienna. 

Gara-gara salah tanggal kedatangan ke Vienna, asli host Austriaku ngambek kayak anak kecil. Jadi ceritanya aku pergi ke Vienna setelah tinggal 3 hari di Budapest karena aku salah beli tanggal tiket bus dari Budapest ke Vienna. Aku mengira kedatanganku adalah hari minggu rupanya senen. 

Nah loh kacau kan?

Sebelum memutuskan pindah negara ke Vienna aku sudah mencari tempat penginapan gratis di Vienna melalui CS dan ada satu orang yang menerima permintaanku. Dilihat dari referensi sih doi punya lebih dari 100 referensi artinya harusnya orangnya OK lah ya. Tapi jujur aku agak bingung menilai host di Vienna. Karena selain banyai aturan ini itu, bla bla bla bla, gak boleh ini itu, terus moodyan eh tahu-tahu ninggalin uang 10 Euro juga buat jajan. Cuma karena di awal udah nyebelin sehingga aku anggap ini host ababilnya tingkat tinggi. Si kawan ini marah karena aku salah tanggal, gar-gara kesalahanku itu dia tidak bisa menemaniku selama di Vienna. Namun bukan itu penyebab dia ngambek. Sebabnya adalah saat subuh di terminal Vienna dia jemput terus langsung pengen peluk gitu. Spontan aku nolak dong, eh mukanya langsung BETE.

Winny do not travel if you cant accept culture. In western hug to show how you welcome people but u pointly unrespect me!, begitu katanya

Mendengar perkataannya aku agak naik tensi. Karena sebelumnya aku hendak batalin di host ama ini kawan terus dianya yang bilang dia tidak pernah membatalkan dan dibatalkan. Akhirnya menjawab pernyataan yang membuatku kesel juga aku berusaha setenang mungkin menjawab sambil menahan esmosi

Allright its ur culture, but for Indonesian hugging is not command! 

Sorry!

Akhirnya dengan rasa tidak nyaman lah kami memulai perkenalan. Pada dasarnya sih orangnya baik misalnya dia ngasih kunci rumahnya padaku saat dia pergi ke Itali. Tapi kata-kata senewengnya itu loh bikin kuping panas. Sambil aku dalam hati “ya Tuhan cari gratisan di Eropa begini banget”. Belum lagi pas dirumahnya banyak aturannya misalnya pas tidur di sofanya harus pakai baju tidur karena baju yang aku pakai dari luar takut mengotori sofanya. Iya kali aku bawa baju tidur pas di Eropa, orang mau jalan-jalana backpackeran kere lagi di Eropa, gimana mau mikirin bawa baju coba.  Untungnya si kawan ini pergi ke Itali jadi aku bisa jalan-jalan di Vienna sendirian. Tidak kebayang kalau jalan ama host yang di awal tidak menyenangkan. Terus dia berkata “you walked alone in Vienna because this is your fault, im going to Italy”. Padahal dalam hati “syukur deh” ahhahaha. Kacau ya aku? Memang beginilah manusia tak tahu diri udahlah ditolong malah bersyukur orangnya gak nemanin. Itulah awal aku melakukan perjalanan seorang diri di Vienna.

Dari rumah host ke pusat Vienna dengan jalan kaki hanya 1 jam saja. Apartemennya cukup dekat dengan stasiun kereta namun karena harga nya sekali jalan bisa kena 2 sampai 3 Euro dan sayang uang akhirnya aku memilih jalan kaki. Toh jalannya lurus-lurus saja! Mengikuti insting aku jalan sambil menikmati Kota Vienna. Secara garis besar Vienna tidak menarik untukku walau banyak bangunan tua serta patung-patung lucu. Entah karena faktor host yang agak-agak ababil atau memang aku sudah bosan dengan wisata Eropa yang gak jauh dari bangunana tua dan Gereja.

Walau demikian aku tetap menikmati perjalanan di Vienna. Bayangkan seharian dari pagi hingga petang dengan jalan kaki mengitari satu tempat ke tempat lain “sendirian”. Dan anehnya aku bahagia!

Aku melihat bangunan istananya dari luar karena untuk masuk ke dalam males bayar tiket masuknya. Tapi jangan salah menikmati bangunan bangunan tua beserta istanya lumayan seru. Belum lagi di Vienna memakai bahasa German sehingga lumayan membantu walau aku cuma bisa bilang “Dank” udah itu saja. Hahaha 😀

Untuk istana di Vienna lumayan cakep-cakep dengan taman yang luas. Yang membuatku pangling kepada patungnya. Kebanyakan warga lokal tidur-tiduran di rumput. Ada satu momen membuatku baper jalan sendirian di Eropa saat dua sepasang sejoli bermesraan di rumput. Keduanya pelukan sambil menikmati istana di depannya. Eh tiba-tiba ciuman saja, kan bikin iri ahhaha. Belum lagi iri dengan mereka pakaian kaos saja, padahal aku pakai jaket tebal karena meski kelihatan terang benderang udaranya cukup dingin, kulit tropisku tidak bisa berkompromi dengan dinginnya udara Eropa di musim dingin.

Sebenarnya kalau tidak mau jalan kaki keliling Vienna ada pilihan bus yang keliling di Vienna namun karena pada dasarnya aku turis kere akhirnya memilih jalan kaki. Selain sehat juga lebih fleksibel kemana-mana. Bagi penyuka musik mozart, opera, seni maka Vienna ini adalah surganya mereka. 

Kota Vienna juga memiliki rombongan tourguide gratisan yang bisa daftar secara kelompok. Dalam satu rombongan akan dipandu satu orang keliling Vienna secara gratis dan menjelaskan sejarah bangunan atau tempat wisata tersebut. Semacam walking tour city gitu. Aku sempat ikut cuma karena satu tempat lama nunggunya akhirnya aku cuma dengar informasinya saja terus cao jalan. 

Menurutku jalan sendirian di Vienna tidaklah susah apalagi wisatanya di Kotanya mudah petuntuknya. Bahkan untukku seorang yang tidak bisa membedakan “kanan kiri” di peta. Dan peta Vienna di secarik kertaslah menjadi petunjukku kemana dan apa yang aku ingin lihat di Vienna. 

Jalan kaki di Vienna sendirian tidaklah mengerikan karena aku punya waktu sendiri juga bisa menikmati sisi Vienna dan istananya untukku sendiri ☺

Salam

Winny

Bertemu Monalisa di Museum Louvre, Paris


Anyone who loves in the expectation of being loved in return is wasting their time. 

By Unknown

Hello World

Paris, Mare 2017

"You have to visit Louvre, Winny!
Yes its expensive but its a must!"

Begitulah saran Thimo mengenai apa yang harus aku kunjungi di Paris. Padahal dibenakku Paris itu tak jauh dari Menara Eiffel. Aku juga tidak tahu apa itu di dalam Louvre, yang aku tahu salah satu tempat yang paling banyak dan dibicarain oleh dunia di dunia perwordpresan adalah Louvre.

Belum lagi pengucapan bahasa Prancis dengan aksen sengaunya membuatku tidak bisa menangkap atau bahkan sekedar meniru kata Louvre dalam aksen Prancis.

Musee le Louvre

Untuk Thimo karena merupakan Guru maka masuk ke Museum Louvre adalah gratis sementara aku yang hanya turis biasa diperharuskan membayar €15 untuk tiket masuk ke dalam Museum Louvre.

You will not regret it, you could see Monalisa and Roman emphire there!
For €15 its worth at all!
Musée du Louvre

Memdengar Monalisa berada di Louvre membuatku ingin masuk ke dalam. Akhirnya mendengar saran Thimo maka Museun Louvre masuk ke dalam daftar wisata Paris yang aku kunjungi. Menurut Thimo untuk mengunjungi Museum Louvre diperlukan waktu seharian.

Kami berangkat jam 8 pagi dengan kereta Paris. Jangan ditanya bagaimana aku sampai ke Museum Louvre karena aku hanya mengikuti Thimo. Tapi seingatku untuk ke Museum Louvre turun di stasiun Louvre.

Louvre Museum

Dari luar museum Louvre, Paris seperti piramida dengan kaca tembus. Piramida kaca ini sebenarnya sudah sering saya lihat di berbagai photo orang. Namun saya tidak menyangka saya bisa mengunjungi Museum Louvre, museum dengan bergaya piramida kaca ala Prancis.

Sekitar jam 9 kami sudah sampai di depan Louvre dan turun ke bawah dengan eskalator. Sebelumnya kami harus melewati security untuk mengecek bawaan kami. Museum Louvre, Paris begitu mewahnya. Bak mall!

Lalu kami berjalan ke tempat pembelian tiket masuk Museum Louvre. Dan antrian masuk ke dalam Museum Louvre itu “panjang”!!! Bahkan sampai 1 jam aku menunggu antrian ke dalam Museum Louvre. Barulah setelah antrian panjang aku diberikan peta Museum Louvre dan tiket masuk.

Musée du Louvre
Musée du Louvre

Tempat pertama yang kami kunjungi adalah area peninggalan Yunani. Dimana patung-patung zaman dulu berjejer di Museum Louvre.

Sungguh luas museum ini dan aku heran bagaimana mereka bisa mengumpulkan berbagai koleksi berharga seperti itu. Kemudian dari area Patung kami ke tempat karya lukisan yang berisi lukisan dari berbagai peluksi terkenal. Lukisan-lukisan terpajang sepanjang koridor lalu ditengah koridor ada jalanan serta beberapa bangku buat pengunjung.

Lukisan-lukisannya pun berbagai macam bahkan kisah Isa ada di dalam lukisan.

Musée du Louvre, Paris, France

Awalnya aku begitu takjub dengan lukisan-lukisan yang tak hanya di dinding bahkan di atap museum.

Hingga akhirnya kami masuk ke dalam satu ruangan yang penuh dengan orang. Ternyata di ruangan tersebut adalah Lukisan Monalisa yang fenemonal serya dibelakangnya lukissn saat Jamuan Yesus.

Musée du Louvre, Paris, France

Pas melihat lukisan Monalisa yang ada dibenakku “buset Lukisan Monalisa kecil amat”!!!

Itupun untuk berphoto di depannya antriannya panjang. Lukisan Monalisa karya Leonardo da Vinci ini di taruh dalam satu kaca dengan pembatas. Pengunjung hanya boleh sampai pembatas kecuali ada izin khusus serta sudah dijaga ketat.

Ah siapa sangka aku bisa melihat senyum maut Monalisa beneran di Museum Louvre. Senyum kecut Monalisa biasanya hanya bisa aku lihat di TV atau gambar atau buku.

Well im just lucky!!
Musée du Louvre, Paris, France
Musée du Louvre, Paris, France
Monalisa
Louvre Museum, Paris

Dari lukisan Monalisa kami lalu melanjutkan ke ruangan pamer. Kali ini kami ke ruangan pamer yang berisi koleksi dari Mesir. Koleksi Mesir Museum Louvre cukup lengkap mulai dari peti mati Mesir hingga kepada Mumi beneran.

Musée du Louvre, Paris, France

Mengunjungi ruang pamer Mesir di Museum Louvre seperti berada di Negara Mesir. Aje gila belum juga ke Mesir tapi seolah udah di Mesir.

How come you guys got these collections? tanyaku dengan naif
These should belong to Egypt, lanjutku.
Well who collect them in the past? 
Musée du Louvre, Paris, France
Musée du Louvre, Paris, France
Louvre Museum, Paris

Louvre Museum, Paris

Tidak hanya koleksi Mesir bahkan koleksi peradaban islam juga ada. Mulai dari koleksi dari Shiraz hingga koleksi Alquran. Namun memang koleksi Islam tidak terlalu lengkap di Museum Louvre.

Musée du Louvre, Paris, France

Kami mengelilingu Museum Louvre sampai jam 5 sore sampai museum hendak tutup. Kalau tidak tutup mungkin aku masih betak keliling Museum Louvre yang menjadi salah satu museum terindah dan terlengkap yang pernah aku kunjungi dalam hidupku.

Tidak sia-sia sih menghabiskan €15 ke dalam Museum Louvre karena banyak kolkesi berharga dari era masa lampau masih ada di dalam museum Louvre.

Musée du Louvre, Paris, France
Louvre Museum, Paris
Louvre Museum, Paris
Louvre Museum, Paris

Bahkan Museum Louvre ini sudah aja sejak zamannya Isa loh. Dulu merupakan istana dan melihat sejarah Museum Louvre membuatku berdecak kagum. Hanya saja untuk bangunan ala Mesirnya itu memang baru saja dibuat.

Kalau yang sedang berada di Paria ada baiknya mengunjungi Museum Louvre, selain bisa bertemu Monalisanjuga bertemu Mummi beneran. Dan jangan lupa luangkan waktu seharian mengelilinginya.

Louvre Museum, Paris

Paris, 30 Maret 2017

08:00-09:00 Belanja di Franprix roti dan minuman 6,65 Euro

09:00-10:00 Naik METRO Ke de Louvre. Antri satu jam dan harga tiket masuk ke dalam de Louvre 15 Euro.

10:00-18:00 keliling Louvre seharian

18:00-20:00 Naik Metro ke La Grande Mosque de Paris kemudian nyari makan disekitar Masjid akhirnya makan kebab 20 Euro/2 orang

20:00-22:00 Balik ke penginapan

Tempat wisata Paris yang didatangi 

Museum de Louvre dan La Grande Mosque de Paris.

Total pengeluaran di Paris, Eropa = 6.65 Euro + 20 Euro + 15 Euro = 41,65 Euro

Salam

Winny

Singgah Sebentar di Hamburg, Jerman


Once you love something, you can never stop loving it

By G David

Hello World

Germany, April 2017

Hari ke-14 di Eropa, aku berada di Bremen, German. Perjalanan di German termasuk singkat padahal aku sangat suka dengan keramah tamaan orang German. Terlebih ketika aku sendirian di Bandara Internasional, Bremen dari Edinburgh, Scotlandia. Petugas Bandara dengan seyum kepadaku serta dari mimik wajahnya terlihat jelas keingintahuannya mengenai diriku kenapa bisa seorang diri berada di Eropa. Dia sempat menanyakan apa yang membuatku nyasar di Bremen, wanita sendirian.

Memang agak jarang ada turis asal Indonesia yang datang ke Bremen. Biasanya turis akan datang ke Berlin, Hamburg atau Kota besar lainnya di German. Pemilihan ke Bremen pun karena tiket yang paling murah dari Edinburg itu adalah Bremen. Alasan lain adalah karena aku menganggap antimainstream perjalanan ke Bremen. Secara kalau ditanya, “kamu ke mana di German?”, terus aku jawab “Bremen”, kan anti mainstream 😀

Di Bremen, German aku  sudah mendapatkan host Bremen bernama Daniel.  Si Daniel bahkan dengan baiknya menjemput di Bandara, karena aku tidak tahu jalan. Terus di apartemen Daniel ternyata aku memiliki kenalana, yaitu cewek asal Polandia bernama Victoria, yang juga sedang di host oleh Dadiel.

Karena Daniel harus bekerja maka yang menemaniku adalah Victoria. Nah selain Daniel aku juga memiliki host lain bernama Frank.  Frank inilah yang paling baik hati membantuku mengantar ke terminal bus Bremen, German menuju perjalananku berikutnya yaitu ke Praha.

"Pick up service coming", begitu kata Frank ketika datang menjemputku dan Victoria

Barangku sudah aku kemas secara cepat, serta sarapan bersama Victoria sambil cerita-cerita. Victoria yang bosan di apartemen Daniel ikut serta mengantarku ke Terminal. Memang aku beruntung karena aku tidak mengenal siapapun di Bremen, German namun dengan cepat berkenalan dan cepat akrab dengan kedua orang ini.

Jujur, sedikit menyesal bagiku meninggalkan German dengan cepatnya karena ternyata di German seru apalagi aku baru mendapatkan teman baru. Bahkan menurut Daniel kalau Victoria sedikit aneh eh malan asik aja diajak ngerumpi, sampai kami gosipin host kami sendiri. Habisnya hostnya menyuruh kami memakai mesin cucinya yang semua tombolnya pakai Bahasa German, alhasil kami berdua berbingung berdua.

Kan kurang asem!

Setelah Frank datang, aku dan Victoria sudah siap sedia menuju terminal Bus Bremen. Aparteman Daniel kami kunci lalu kami menuju mobil Frank. Victoria duduk di bangku depan,  sedangkan aku duduk santai di belakang bersama tas dengan beban 15kg.

Dalam perjalanan aku mengamati Kota Bremen, antik serta ada sedikit rasa puas dapat mengunjungi Kota yang pernah menjadi pasar tembakau dunia. Bangunannya tertata rapi serta jalanannya juga mulus. Jarak menuju ke terminal tidaklah jauh, hanya berselang 20 menit saja. Baru juga bersantai eh tahu tahu sudah sampai di terminal.

Hal yang aku suka dari German adalah teknologinya canggih. Canggihnya ada hiasan Kota bisa bergerak secara otomatis. Padahal kesannya Kota “tua” tapi “canggih”.

Sesampai di terminal Bremen, Frank memarkirkan mobilnya lalu kami bertiga berjalan kaki dari tempat parkir. Untuk terminal Bremen lumayan indah dan ramai. Di terminallah kami makan pagi, dan pilihan kami adalah Kebab Turkey, hasil pilihanku karena itulah yang ada tulisan “Halal”. Bertiga kami memesan Kebab sambil makan di terminal. Namun tempat terminal busku bukan di tempat kami makan siang, berbeda tempat. Awalnya aku mengira terminal itu adalah tempat bus berada, ternyata bukan. Yasudah akhirnya menikmati makan siang bersama Frank dan Victoria.

Lagian jadwalku menuju ke Praha dari Bremen jam 1 siang, artinya aku, Frank dan Victoria masih ada waku untuk jalan-jalan sekitar Bremen.

Tidak hanya itu, aku sudah memiliki tiket bus dari Bremen ke Hamburg dengan menggunakan Flix bus, hasil pinjaman CC temanku si “Ade” di Indonesia karena aku tidak bisa membeli tiket Flixbus secara online karena tidak punya kartu kredit.

“We should eat girls”, begitu kata Frank kepada kami.

Tentu saja kami mengiyakan karena kami juga lapar terus dapat traktiran pula sama Frank, kan namanya beruntung 😀

Nah saat memilih makanan, penjaganya tahu senyum-senyum melihatku memesan makanan serta sok-sok an mengucapkan terimakasih dalam bahasa German yang aksennya aksen Batak banget.

“Danke”

Setelah kenyang, kami pun meninggalkan Terminal. Kalau aku tidak jadi ke Praha, Frank dan Victoria ingin mengajakku menonton film German di Bioskop Bremen. Sempat membuatku merasa iri setengah hati karena tidak bisa menonton film German di Negara Germana di Bioskop German (sedikit lebay).

Sorry Winny, you do not have time for cinema, kata Frank

Ah mungkin lain kali bisa nonton di German 🙂

Victoria dan Frank lalu mengatarkanku ke Terminal Bus, tak jauh dari tempat kami makan siang. Entah kenapa sedikit rasa sentimen ketika berpisah dengan dua orang yang baru aku kenal. Tapi perjalanan backpacker Eropa seorang diri harus berlanjut. Maka babak sendirian menunggu bus di terminal di Kota Bremen pun terjadi.

Jadwal keberangkatan busku terlambat. Untuk mengurangi rasa bosan akhirnya aku menuju ke dalam tempat pembelian tiket bus dari Praha ke Vienna karena aku harus membeli tiket menuju negara di Eropa lainnya yang hendak aku kunjungi. Memang untuk memesan tiket bus secara langsung di kounter di Eropa bisa dilakukan apalagi dalam kasus tidak memiliki kartu kredit. Aku lega bisa mendapatkan tiket ke tempat tujuanku berikutnya. Llau aku keluar dari tempat pembelian tiket dan menunggu bus di luar.

Cukup lama aku menunggu kedatangan bis, ditambah udara German yang dingin meski kelihatan terang benderang. Satu persatu orang berdatangan dan pergi. Aku yang sendirian menunggu bus hanya bisa menikmati pemandangan sekitar, kadang berdiri dan kadang duduk selonjoran di lantai.  Penungguannya tidak seperti terminal bus, hanya ada tanda kecil kalau itu tempat menunggu bus.

Akhirnya cukup lama menunggu, bus datang lalu satu persatu dari penumpang di panggil untuk masuk ke dalam bus. Ini pertama kalinya aku menggunakan bus selama di Eropa, dan itu sendirian. Hal yang diperhatikan adalah nama bus, jadwal dan nomor bis jangan sampai salah apalagi salah jadwal 😀

Dari hasil google banyak yang menyarankan untuk menggunakan Flixbus namun ternyata pas di Eropanya banyak juga loh bus yang nyaman dan harganya Ok. Kalau flixbus enak pas beli jauh-jauh hari karena BISA DAPAT HARGA DISKON namun pas di hari H belinya harganya agak mahal. Untuk fasilitas adanya wifi gratis dan ada minum di bus namun bayar lagi. Berbeda dengan naik bus Regio jet yang dapat minum gratis serta murah. Tapi daripada tidak ke Praha maka aku bersyukur juga bisa mendapatkan bis ke Praha dari Bremen.

Perjalanan darat dari Bremen ke Praha pun dimulai…

Di dalam bus yang sudah ada nomor duduk dan masuk ke dalam bus harus diverifikasi oleh petugas. Dalam perjalanan Bremen ke Praha sangat menyenangkan karena aku seakan mengelilingi German secara keseluruhan.  Dari kaca jendela aku melihat jalanan German, mulai dari rumput biasa, hingga daerah industri. Dari tiket, kami akan berhenti dan berganti bus di Hamburg selama 30 menit.

Inilah salah satu keuntungan naik bis di Eropa karena bisa melihat banyak daerah di Eropa apalagi pas hari masih terang. Nyaris aku tidak tidur selama berjalanan dan benar-benar menikmati perjalanan Bremen-Hamburg dengan jalan darat.

Kami sampai di Hambug sore hari, pas bus berhenti di Hamburg, lantas aku dengan sigap keluar dari bus dan membawa tasku untuk keliling Kota Hamburgh. Dari stasiun bernama Zental Omnibus Bannhof aku keluar, menyeberang jalan menuju Gereja yang aku lihat saat di kaca jendela bus. Misinya ingin melihat Hamburg sebentar. Karena waktu hanya 30 menit maka aku tidak mau menyia-nyiakan untuk melirik Kota Hamburg.

Di Kota Hamburg sangat ramai dan banyak bangunan tua, serta ada bus bertingkat yang lucu. Tidak hanya gereja bahkan terdapat pasar. Kesemua tempat wisata di Hamburg yang aku kunjungi memang tak jauh dari terminal bus. Walau singkat terlihat jelas kalau Hamburg lebih ramai daripada Bremen. Aku sempat tergoda untuk makan di Hamburg di dekat Gereja yang aku lewati. Namun karena waktu, niat makan aku kurungkan.

Tidak hanya itu, Hamburg memiliki peta wisata sehingga bagiku yang pertama kali ke Hamburg bisa melihat rutenya, hanya saja karena tidak ada waktu maka aku hanya sekilas lihat saja. Kemudian dengan tergesa-gesa kembali ke Terminal bus untuk menunggu panggilan namaku. Kan gak lucu ketinggalan bus 🙂

Walau singkat di Hamburg, German aku cukup senang sempat berjalan keliling Kotanya dengan tas gedeku.

Bremen, 6 April 2017

08:00-10:00 Persiapan ke Praha

10:00-11:00 Diantar ke Terminal bus dan ditraktir makan oleh Frank dan jalan bareng teman dari Polandia

11:00-13:00 Menunggu Flixbus ke Praha, ongkos tiket bus ke Praha dari Bremen 20 Euro (minta beliin Ade Putra)

15:00-00:03 Perjalanan darat Bremen-Praha

Tempat wisata yang didatangi pada hari-14 di Eropa

Terminal bus Bremen

Total biaya pada hari-14 di Eropa 20 Euro

Salam

Winny

Pemandangan Indah di Paris dari Sacré-Cœur, Taj Mahal ala France


I’m a big believer that your life is basically a sum of all the choices you make. The better your choices, the better opportunity to lead a happy life

By Karen Salmansohn

 

Hello World!

Paris, Maret 2017

"We have a building similar to Taj Mahal in Paris", Winny!

Itulah kalimat antusias dari Thimo ketika menemaniku di Paris untuk mengunjungi wisata yang ada di Paris. Tempat yang ingin di tunjukkan di pagi hari bernama Sacré-Cœur Basilica sebuah Gereja Katolik Roma yang terletak di butte Montmartre, tempat tertinggi di Kota Paris. Melihat antusiasnya aku sangat penasaran seperti apa bangunan yang mirip dengan Taj Mahal. Jujur aku tidak pernah bayangkan ada tempat seperti Taj Mahal di Paris dan ini bukan Masjid seperti di India tapi Gereja.

Well, i will make advice if that similar to Taj Mahal or not, 
since i have been to Taj Mahal, kataku padanya

Pagi hari kami berjalan kaki dengan menaiki tangga yang lumayan menguras tenaga. Melihat suasana Paris di pagi hari merupakan hal baru bagiku. Karena aku tidak membayangkan aku bisa menginjakkan kaki di Eropa. Maklum imipian ke Eropa merupakan impian dari sejak kuliah. Memang benar ketika kita memiliki mimpi maka mimpi itu akan terwujud sepanjang berusaha dan percaya mimpi itu akan terwujud.  Aku juga cukup beruntung karena bertemu dengan orang-orang baik selama di Eropa. Untuk di Paris, Thimolah yang menjadi guide gratisan serta menemani menelusuri Negaranya, kalau tidak aku tidak bayangkan bagaimana berbicara dengan orang Perancis, mengingat aku tidak bisa berbahas Perancis.

Hal menarik lainnya menuju ke Sacré-Cœur Basilica aku melihat bunga indah yang mulai bersemi. Memang kedatanganku ke Paris kebetulan pas musim Semi, sehingga mengingatkanku perjalanan Jepang ketika musim semi. Dan di Paris juga banyak cherry bermekaran saat musim semi. Ah betapa menyenangkan melakukan perjalanan pelarian dari rutinitas, sesekali aku mencubit pipi sendiri dan mengatakan pada diri sendiri, “Winny, ini nyata dan tidak mimpi”.

Sesampai di Sacré-Cœur Basilica, ternyata memang bentuknya sepintas mirip dengan Taj Mahal walau tidak seperti Taj Mahal total.

“Hanya bentuknya saja”

Siapa sangka Paris memiliki tempat indah, karena dalam bayanganku Paris tak jauh-juah dari Menara Eiffel atau Kota “Fashion” katanya. Namun Paris tak sekedar Eiffel, Paris itu memiliki tempat yang membuatku kaget. Bahkan dari 12 Negara yang aku kunjungi selama 1 bulan di Eropa, Paris di Perancis telah mencuri hatiku. Suka dengan Kotanya serta penataannya yang rapi 🙂

Bersama Thimo kami antri untuk masuk kedalam Gereja. Pengamanannya cukup ketat dan barang bawaaan diperiksa oleh petugas yang mirip dengan Polisi Perancis itu. Hal ini wajar, karena masuk ke dalam Sacré-Cœur Basilica Paris tidak perlu membayar. Disinilah letak kekeranan di Perancis, rata-rata masuk ke dalam Gereja gratis berbeda dengan Inggris yang beberapa Gereja harus bayar terutama Gereja terkenal. Namun di Perancis masuk ke Museum itu bayar, sementara di Inggris kebanyakan museum itu gratis.

Di dalam Sacré-Cœur Basilica Paris, beberapa turis beribadah sehingga pengunjung harus menjaga ketenangan. Di dalam Gereja seperti gereja pada umumnya perbedaannya hanyalah interior di dalamnya dengan gambar Yesus di atasnya berbentuk lonjong. Gambar ini mengingatkanku akan Istanbul, “Hagia Sophia”. Tentu saja mozaiknya berbeda, dan entah kenapa aku malah mengingat mozaic di Hagia Sophia.

So, what do you think, is not it beautiful?, tanya Thimo kepadaku

Well, trust me its good, but Hagia Sophia is more wonderful, jawabku

Emang aku agak kurang ajar, padahal Thimo sudah semangat malah aku mengatakan perbandingan yang tak sama. Padahal dari sejarah Sacré-Cœur Basilica Paris sendiri lumayan menarik. Walau demikian dipastikan di dalam Sacré-Cœur Basilica Paris aku hanya bisa bertahan 5 menit saja. Padahal menunggu antrian masuk 30 menit padahal masih pagi hari.

Sacré-Cœur Basilica Paris

Keluar dari Sacré-Cœur Basilica Paris, pemandangan Paris di pagi hari sungguh “menghipnotis”. Itulah pemandangan terindah yang pernah aku lihat selama di Eropa. Langsung membuatku bahagia melihat dedaunan dari pepohonan serta pemandangan Kota Paris dari atas.

Ah, aku jatuh cinta pada pemandangan KOTA PARIS dari Sacré-Cœur Basilica!

Bahkan tempat Sacré-Cœur Basilica Paris sering dijadikan tempat lokasi shooting di beberapa film. Di depannya bahkan ada sebuah patung yang kalau tidak seksama aku berpikir itu patung. Ternyata bukan, itu adalah seorang ibu yang dicat mukanya berwarna putih berdiri bak Patung. Terus aku teringat akan manusia patung di Kota Tua, ternyata di Paris ada juga.

Menikmati pagi hari dengan melihat Kota Paris dari atas merupakan awal yang menarik untuk menjelajah Paris. Yah aku senang, senang bisa memiliki kesempatan menikmati Pemandangan Indah di Paris dari Sacré-Cœur, Taj Mahal ala France 🙂

King Saint Louis Statue

Alamat The Sacre Coeur Basilica

35 Rue du Chevalier de la Barre,

75018 Paris, France

Jadwal Buka Sacré-Cœur

Setiap hari jam : 06:00 – 22:30

Salam

Winny