Menelusuri Jalanan Terkenal di Dunia, Avenue des Champs-Élysées, Paris


Keep Going. Your hardest times often lead to the greatest moments of your life. Keep going. Tough situations build strong people in the end.

By Roy T. Bennett

Aku di Avenue des Champs-Élysées

Hello World

Paris, Maret 2017

Beruntung!

Aku yang tidak tahu jalanan di Paris beruntung karena Thimo menemaniku keliling wisata Paris. Padahal kalau berbicara Paris aku tahunya Eiffel atau Arch de triomphe. Lucunya aku ingin sekali ke bangunan simpang lima di Kediri yang mirip Arch de Triomphe, PARIS, namun malah ke Arch de triomphe beneran.

Alhamdulillah rezeki anak soleh 🙂

Metro Paris

Waktu masih jam 9 pagi ketika kami meninggalkan Basilique du Sacré-Cœur, kemudian naik Metro ke Porte Maillot. Jauh-jauh kami ke Metro Porte Maillot untuk mencicipi makan pastry seharga coklat 1,2 Euro/bijinya. Nama toko yang kami cari itu bernama  A la Reine Astrid’s Paris sebuah took kecil yang berada di avenue de la Grande Armée (17th arr).

"You have to try it, its chocolate “caviar,” really delicious one, kata Thimo dengan semangat"

Sebagai penyuka cokelat, akhirnya ajakannya pasti aku iyakan. Toh aku sendiri juga backpackeran di Eropa ini. Dan jujur aku tak paham jalanan Paris, kalau bukan bantuan Thimo mungkin aku sudah nyasar-nyasar di Paris.

Paris

Keluar dari Metro kami berjalan ke sebuah toko kue. Toko kecil dengan beraneka ragam macam kue dan cokelat. Kue-kue disusun rapi, dan sang penjaga toko membolehkanku mengicip kuenya. Apalagi ketika dia mengetahui aku dari Indonesia dan seorang diri melakukan trip di Eropa, seolah bersemangat menyambutku. Langsung deh aku ditawarin icip kue mungil-mungil padahal harga kuenya cukup fantastis buatku. Tapi karena gratisan nyoba tester kuenya, aku mah senang-senang aja. Lagian siapa sih turis yang ke Paris nyari kue? 

It’s me!

Kalau dipikir-pikir dengan harga 1 kue itu aku bisa makan pecal, nasi goreng di Indonesia. Disitu bathinku bergejolak saat melakukan perjalanan jauh, aku akan rindu dengan makanan Indonesia. Namun bagaimanapun juga aku tetap menikmati icip-icip kue cokelat di Paris, toh udah niat juga nyari tokonya yang jauh dari kata “turis”. Mungkin hanya orang lokal saja yang tahu tempat ini, kalau aku sendirian belum tentu kesini.

Thimo membeli 5 pastry dan yang paling aku suka yang rasa cokelat. Lucunya kami makan pastry itu berdiri di pinggir jalan. Untung lagi di Paris, jadi tidak kelihatan gembelnya 😀

Barulah setelah itu kami melanjutkan perjalan keliling Paris menuju Arc de Triomphe. Transportasi yang kami gunakan ialah Metro, karena kami sudah membeli Metro pass selama 2 hari artinya bebas menggunakan Metro selama 2 hari dan dipastikan lebih murah jika ingin keliling Paris.

Arc de Triomphe

Arc de Triomphe atau Arc de triomphe de l’Étoile merupakan salah satu monumen paling terkenal di Paris yang dibangun atas perintah Napoleon Bonaparte untuk menghormati jasa tentara kebesarannya yang berada di area Champs-Élysées.

Sewaktu aku sampai di Arc de Triomphe, pengunjung lumayan banyak. Tak heran karena arsiteknya yang unik serta sudah ada sejak zaman dahulu. Padahal hanyalah sebuah monument dan sekelilingnya jalanan biasa. Tapi begitu menarik perhatian. Bahkan untuk masuk lebih dekat harus bayar lagi. Karena aku adalah pejalan kere karena backpacker ke Eropa modal nekat dengan membawa uang 600 Euro untuk 1 bulan, akhirnya memandangi dan photo dari jauh dengan  Arc de Triomphe cukup membuatku bahagia kok.

Aku kan anaknya mudah bahagia 🙂

Avenue des Champs-Élysées
Winny, you follow me, I will show you famous street in the world, kata Thimo
What is the that?, tanyaku
Its, Avenue des Champs-Élysées, kata Thimo

Akhirnya aku mengikutinya menuju Avenue des Champs-Élysées, tak jauh dari Arc de Triomphe.

Benar saja pas sampai di Avenue des Champs-Élysées, toko branded berjajar bahkan ada sebuah show cabaret. Tapi beda ya kabaretnya bukan seperti yang ada di Thailand. Hampir aku penasaran dan membeli tiket, kapan lagi melihat show megah di jalanan megah. Namun aku ingat akan kondisi keuangan yang tipis. 

Sebenarnya menurutku jalanannya sih biasa saja, hanya saja Avenue des Champs-Élysées, ibarat surganya shopping.

Dalam hati “this is really Paris“.

Untung aku bukan anak yang doyan shopping, kalau tidak mak, aku akan khilap.

Avenue des Champs-Élysées merupakan Paris must-see terdiri dari restaurant hingga toko ternama yang berada diantara Place de la Concorde dan the Arc de Triomphe.

Kesan ketika menginjakkan kaki di avenue terkenal di dunia, merasa bak model tapi perasaanku saja sih. Habis orang Paris pakai baju biasa saja tapi kelihatan keren. Apalagi pakai baju yang wow ya?

Gak heran sih Kota fashion 🙂

Avenue des Champs-Élysées

Rincian Biaya Pengeluaran di Paris, 29 Maret 2017

08:00-09:00 Jalan kaki ke Basilique du Sacré-Cœur, kemudian naik Metro ke Porte Maillot untuk makan pastry coklat 1,2 Euro

09:00-20:00 Jalan keliling Paris mulai dari Arc de Triomphe, jalan ke Avenue des Champs-Élysées (famous street in the world), kemudian naik Metro dari Opera Paris ke Restoran Jepang Rue St Anne untuk makan siang seharga 24 Euro/2orang (makan shirashi+teriyaki), jalan ke Metro Pyramid-Concorde-Metro Champs de Mars kemudian tour Eiffel, jalan ke hotel des invalids kemudian ke Metro St. Paul untuk nyobain teh dari segala penjuru dunia kemudian ke Notre Dome. Makan kebab 5 Euro, mencoba es krim 4,6 Euro untuk ukuran regular di Latin distrik kemudian balik ke Eiffel lagi sampai malam. Sempat membeli postcard dan gantungan kunci Eiffel 3 Euro.

Tempat wisata Paris yang didatangi pada pada hari-6 di Eropa

Eiffel, Metro Dome, Arc de Triomphe, Avenue des Champs, Basilique du Sacré-Cœur

Biaya yang dikeluarkan di hari-6 di Eropa = 1,2 Euro + 5 Euro + 4,6 Euro + 3 Euro = 13,8 Euro

Salam

Winny

Iklan

Jalan Kaki ke Istana di Vienna, Austria


“You’ll learn, as you get older, that rules are made to be broken. Be bold enough to live life on your terms, and never, ever apologize for it. Go against the grain, refuse to conform, take the road less traveled instead of the well-beaten path.

By Unknown

Hello World!

Austria, 2017

Pengalaman Eropa trip sendirianku “bittersweet”, bercampur aduk emosi baik suka maupun duka. Pun berjalan sendiri sampai berkata dalam hati “apa yang aku cari di Eropa?”. Mungkin saja perjalanan ke Eropa untuk mengenal diri sendiri namun percayalan perjalanan 1 Bulan di Eropa tidak seindah yang dibayangkan orang. Walau memang rata-rata seru sekali selama di Eropa karena bertemu dengan orang baik dan ada juga orang agak-agak. Salah satunya hostku di Vienna. 

Gara-gara salah tanggal kedatangan ke Vienna, asli host Austriaku ngambek kayak anak kecil. Jadi ceritanya aku pergi ke Vienna setelah tinggal 3 hari di Budapest karena aku salah beli tanggal tiket bus dari Budapest ke Vienna. Aku mengira kedatanganku adalah hari minggu rupanya senen. 

Nah loh kacau kan?

Sebelum memutuskan pindah negara ke Vienna aku sudah mencari tempat penginapan gratis di Vienna melalui CS dan ada satu orang yang menerima permintaanku. Dilihat dari referensi sih doi punya lebih dari 100 referensi artinya harusnya orangnya OK lah ya. Tapi jujur aku agak bingung menilai host di Vienna. Karena selain banyai aturan ini itu, bla bla bla bla, gak boleh ini itu, terus moodyan eh tahu-tahu ninggalin uang 10 Euro juga buat jajan. Cuma karena di awal udah nyebelin sehingga aku anggap ini host ababilnya tingkat tinggi. Si kawan ini marah karena aku salah tanggal, gar-gara kesalahanku itu dia tidak bisa menemaniku selama di Vienna. Namun bukan itu penyebab dia ngambek. Sebabnya adalah saat subuh di terminal Vienna dia jemput terus langsung pengen peluk gitu. Spontan aku nolak dong, eh mukanya langsung BETE.

Winny do not travel if you cant accept culture. In western hug to show how you welcome people but u pointly unrespect me!, begitu katanya

Mendengar perkataannya aku agak naik tensi. Karena sebelumnya aku hendak batalin di host ama ini kawan terus dianya yang bilang dia tidak pernah membatalkan dan dibatalkan. Akhirnya menjawab pernyataan yang membuatku kesel juga aku berusaha setenang mungkin menjawab sambil menahan esmosi

Allright its ur culture, but for Indonesian hugging is not command! 

Sorry!

Akhirnya dengan rasa tidak nyaman lah kami memulai perkenalan. Pada dasarnya sih orangnya baik misalnya dia ngasih kunci rumahnya padaku saat dia pergi ke Itali. Tapi kata-kata senewengnya itu loh bikin kuping panas. Sambil aku dalam hati “ya Tuhan cari gratisan di Eropa begini banget”. Belum lagi pas dirumahnya banyak aturannya misalnya pas tidur di sofanya harus pakai baju tidur karena baju yang aku pakai dari luar takut mengotori sofanya. Iya kali aku bawa baju tidur pas di Eropa, orang mau jalan-jalana backpackeran kere lagi di Eropa, gimana mau mikirin bawa baju coba.  Untungnya si kawan ini pergi ke Itali jadi aku bisa jalan-jalan di Vienna sendirian. Tidak kebayang kalau jalan ama host yang di awal tidak menyenangkan. Terus dia berkata “you walked alone in Vienna because this is your fault, im going to Italy”. Padahal dalam hati “syukur deh” ahhahaha. Kacau ya aku? Memang beginilah manusia tak tahu diri udahlah ditolong malah bersyukur orangnya gak nemanin. Itulah awal aku melakukan perjalanan seorang diri di Vienna.

Dari rumah host ke pusat Vienna dengan jalan kaki hanya 1 jam saja. Apartemennya cukup dekat dengan stasiun kereta namun karena harga nya sekali jalan bisa kena 2 sampai 3 Euro dan sayang uang akhirnya aku memilih jalan kaki. Toh jalannya lurus-lurus saja! Mengikuti insting aku jalan sambil menikmati Kota Vienna. Secara garis besar Vienna tidak menarik untukku walau banyak bangunan tua serta patung-patung lucu. Entah karena faktor host yang agak-agak ababil atau memang aku sudah bosan dengan wisata Eropa yang gak jauh dari bangunana tua dan Gereja.

Walau demikian aku tetap menikmati perjalanan di Vienna. Bayangkan seharian dari pagi hingga petang dengan jalan kaki mengitari satu tempat ke tempat lain “sendirian”. Dan anehnya aku bahagia!

Aku melihat bangunan istananya dari luar karena untuk masuk ke dalam males bayar tiket masuknya. Tapi jangan salah menikmati bangunan bangunan tua beserta istanya lumayan seru. Belum lagi di Vienna memakai bahasa German sehingga lumayan membantu walau aku cuma bisa bilang “Dank” udah itu saja. Hahaha 😀

Untuk istana di Vienna lumayan cakep-cakep dengan taman yang luas. Yang membuatku pangling kepada patungnya. Kebanyakan warga lokal tidur-tiduran di rumput. Ada satu momen membuatku baper jalan sendirian di Eropa saat dua sepasang sejoli bermesraan di rumput. Keduanya pelukan sambil menikmati istana di depannya. Eh tiba-tiba ciuman saja, kan bikin iri ahhaha. Belum lagi iri dengan mereka pakaian kaos saja, padahal aku pakai jaket tebal karena meski kelihatan terang benderang udaranya cukup dingin, kulit tropisku tidak bisa berkompromi dengan dinginnya udara Eropa di musim dingin.

Sebenarnya kalau tidak mau jalan kaki keliling Vienna ada pilihan bus yang keliling di Vienna namun karena pada dasarnya aku turis kere akhirnya memilih jalan kaki. Selain sehat juga lebih fleksibel kemana-mana. Bagi penyuka musik mozart, opera, seni maka Vienna ini adalah surganya mereka. 

Kota Vienna juga memiliki rombongan tourguide gratisan yang bisa daftar secara kelompok. Dalam satu rombongan akan dipandu satu orang keliling Vienna secara gratis dan menjelaskan sejarah bangunan atau tempat wisata tersebut. Semacam walking tour city gitu. Aku sempat ikut cuma karena satu tempat lama nunggunya akhirnya aku cuma dengar informasinya saja terus cao jalan. 

Menurutku jalan sendirian di Vienna tidaklah susah apalagi wisatanya di Kotanya mudah petuntuknya. Bahkan untukku seorang yang tidak bisa membedakan “kanan kiri” di peta. Dan peta Vienna di secarik kertaslah menjadi petunjukku kemana dan apa yang aku ingin lihat di Vienna. 

Jalan kaki di Vienna sendirian tidaklah mengerikan karena aku punya waktu sendiri juga bisa menikmati sisi Vienna dan istananya untukku sendiri ☺

Salam

Winny

Bertemu Monalisa di Museum Louvre, Paris


Anyone who loves in the expectation of being loved in return is wasting their time. 

By Unknown

Hello World

Paris, Mare 2017

"You have to visit Louvre, Winny!
Yes its expensive but its a must!"

Begitulah saran Thimo mengenai apa yang harus aku kunjungi di Paris. Padahal dibenakku Paris itu tak jauh dari Menara Eiffel. Aku juga tidak tahu apa itu di dalam Louvre, yang aku tahu salah satu tempat yang paling banyak dan dibicarain oleh dunia di dunia perwordpresan adalah Louvre.

Belum lagi pengucapan bahasa Prancis dengan aksen sengaunya membuatku tidak bisa menangkap atau bahkan sekedar meniru kata Louvre dalam aksen Prancis.

Musee le Louvre

Untuk Thimo karena merupakan Guru maka masuk ke Museum Louvre adalah gratis sementara aku yang hanya turis biasa diperharuskan membayar €15 untuk tiket masuk ke dalam Museum Louvre.

You will not regret it, you could see Monalisa and Roman emphire there!
For €15 its worth at all!
Musée du Louvre

Memdengar Monalisa berada di Louvre membuatku ingin masuk ke dalam. Akhirnya mendengar saran Thimo maka Museun Louvre masuk ke dalam daftar wisata Paris yang aku kunjungi. Menurut Thimo untuk mengunjungi Museum Louvre diperlukan waktu seharian.

Kami berangkat jam 8 pagi dengan kereta Paris. Jangan ditanya bagaimana aku sampai ke Museum Louvre karena aku hanya mengikuti Thimo. Tapi seingatku untuk ke Museum Louvre turun di stasiun Louvre.

Louvre Museum

Dari luar museum Louvre, Paris seperti piramida dengan kaca tembus. Piramida kaca ini sebenarnya sudah sering saya lihat di berbagai photo orang. Namun saya tidak menyangka saya bisa mengunjungi Museum Louvre, museum dengan bergaya piramida kaca ala Prancis.

Sekitar jam 9 kami sudah sampai di depan Louvre dan turun ke bawah dengan eskalator. Sebelumnya kami harus melewati security untuk mengecek bawaan kami. Museum Louvre, Paris begitu mewahnya. Bak mall!

Lalu kami berjalan ke tempat pembelian tiket masuk Museum Louvre. Dan antrian masuk ke dalam Museum Louvre itu “panjang”!!! Bahkan sampai 1 jam aku menunggu antrian ke dalam Museum Louvre. Barulah setelah antrian panjang aku diberikan peta Museum Louvre dan tiket masuk.

Musée du Louvre
Musée du Louvre

Tempat pertama yang kami kunjungi adalah area peninggalan Yunani. Dimana patung-patung zaman dulu berjejer di Museum Louvre.

Sungguh luas museum ini dan aku heran bagaimana mereka bisa mengumpulkan berbagai koleksi berharga seperti itu. Kemudian dari area Patung kami ke tempat karya lukisan yang berisi lukisan dari berbagai peluksi terkenal. Lukisan-lukisan terpajang sepanjang koridor lalu ditengah koridor ada jalanan serta beberapa bangku buat pengunjung.

Lukisan-lukisannya pun berbagai macam bahkan kisah Isa ada di dalam lukisan.

Musée du Louvre, Paris, France

Awalnya aku begitu takjub dengan lukisan-lukisan yang tak hanya di dinding bahkan di atap museum.

Hingga akhirnya kami masuk ke dalam satu ruangan yang penuh dengan orang. Ternyata di ruangan tersebut adalah Lukisan Monalisa yang fenemonal serya dibelakangnya lukissn saat Jamuan Yesus.

Musée du Louvre, Paris, France

Pas melihat lukisan Monalisa yang ada dibenakku “buset Lukisan Monalisa kecil amat”!!!

Itupun untuk berphoto di depannya antriannya panjang. Lukisan Monalisa karya Leonardo da Vinci ini di taruh dalam satu kaca dengan pembatas. Pengunjung hanya boleh sampai pembatas kecuali ada izin khusus serta sudah dijaga ketat.

Ah siapa sangka aku bisa melihat senyum maut Monalisa beneran di Museum Louvre. Senyum kecut Monalisa biasanya hanya bisa aku lihat di TV atau gambar atau buku.

Well im just lucky!!
Musée du Louvre, Paris, France
Musée du Louvre, Paris, France
Monalisa
Louvre Museum, Paris

Dari lukisan Monalisa kami lalu melanjutkan ke ruangan pamer. Kali ini kami ke ruangan pamer yang berisi koleksi dari Mesir. Koleksi Mesir Museum Louvre cukup lengkap mulai dari peti mati Mesir hingga kepada Mumi beneran.

Musée du Louvre, Paris, France

Mengunjungi ruang pamer Mesir di Museum Louvre seperti berada di Negara Mesir. Aje gila belum juga ke Mesir tapi seolah udah di Mesir.

How come you guys got these collections? tanyaku dengan naif
These should belong to Egypt, lanjutku.
Well who collect them in the past? 
Musée du Louvre, Paris, France
Musée du Louvre, Paris, France
Louvre Museum, Paris

Louvre Museum, Paris

Tidak hanya koleksi Mesir bahkan koleksi peradaban islam juga ada. Mulai dari koleksi dari Shiraz hingga koleksi Alquran. Namun memang koleksi Islam tidak terlalu lengkap di Museum Louvre.

Musée du Louvre, Paris, France

Kami mengelilingu Museum Louvre sampai jam 5 sore sampai museum hendak tutup. Kalau tidak tutup mungkin aku masih betak keliling Museum Louvre yang menjadi salah satu museum terindah dan terlengkap yang pernah aku kunjungi dalam hidupku.

Tidak sia-sia sih menghabiskan €15 ke dalam Museum Louvre karena banyak kolkesi berharga dari era masa lampau masih ada di dalam museum Louvre.

Musée du Louvre, Paris, France
Louvre Museum, Paris
Louvre Museum, Paris
Louvre Museum, Paris

Bahkan Museum Louvre ini sudah aja sejak zamannya Isa loh. Dulu merupakan istana dan melihat sejarah Museum Louvre membuatku berdecak kagum. Hanya saja untuk bangunan ala Mesirnya itu memang baru saja dibuat.

Kalau yang sedang berada di Paria ada baiknya mengunjungi Museum Louvre, selain bisa bertemu Monalisanjuga bertemu Mummi beneran. Dan jangan lupa luangkan waktu seharian mengelilinginya.

Louvre Museum, Paris

Paris, 30 Maret 2017

08:00-09:00 Belanja di Franprix roti dan minuman 6,65 Euro

09:00-10:00 Naik METRO Ke de Louvre. Antri satu jam dan harga tiket masuk ke dalam de Louvre 15 Euro.

10:00-18:00 keliling Louvre seharian

18:00-20:00 Naik Metro ke La Grande Mosque de Paris kemudian nyari makan disekitar Masjid akhirnya makan kebab 20 Euro/2 orang

20:00-22:00 Balik ke penginapan

Tempat wisata Paris yang didatangi 

Museum de Louvre dan La Grande Mosque de Paris.

Total pengeluaran di Paris, Eropa = 6.65 Euro + 20 Euro + 15 Euro = 41,65 Euro

Salam

Winny

Singgah Sebentar di Hamburg, Jerman


Once you love something, you can never stop loving it

By G David

Hello World

Germany, April 2017

Hari ke-14 di Eropa, aku berada di Bremen, German. Perjalanan di German termasuk singkat padahal aku sangat suka dengan keramah tamaan orang German. Terlebih ketika aku sendirian di Bandara Internasional, Bremen dari Edinburgh, Scotlandia. Petugas Bandara dengan seyum kepadaku serta dari mimik wajahnya terlihat jelas keingintahuannya mengenai diriku kenapa bisa seorang diri berada di Eropa. Dia sempat menanyakan apa yang membuatku nyasar di Bremen, wanita sendirian.

Memang agak jarang ada turis asal Indonesia yang datang ke Bremen. Biasanya turis akan datang ke Berlin, Hamburg atau Kota besar lainnya di German. Pemilihan ke Bremen pun karena tiket yang paling murah dari Edinburg itu adalah Bremen. Alasan lain adalah karena aku menganggap antimainstream perjalanan ke Bremen. Secara kalau ditanya, “kamu ke mana di German?”, terus aku jawab “Bremen”, kan anti mainstream 😀

Di Bremen, German aku  sudah mendapatkan host Bremen bernama Daniel.  Si Daniel bahkan dengan baiknya menjemput di Bandara, karena aku tidak tahu jalan. Terus di apartemen Daniel ternyata aku memiliki kenalana, yaitu cewek asal Polandia bernama Victoria, yang juga sedang di host oleh Dadiel.

Karena Daniel harus bekerja maka yang menemaniku adalah Victoria. Nah selain Daniel aku juga memiliki host lain bernama Frank.  Frank inilah yang paling baik hati membantuku mengantar ke terminal bus Bremen, German menuju perjalananku berikutnya yaitu ke Praha.

"Pick up service coming", begitu kata Frank ketika datang menjemputku dan Victoria

Barangku sudah aku kemas secara cepat, serta sarapan bersama Victoria sambil cerita-cerita. Victoria yang bosan di apartemen Daniel ikut serta mengantarku ke Terminal. Memang aku beruntung karena aku tidak mengenal siapapun di Bremen, German namun dengan cepat berkenalan dan cepat akrab dengan kedua orang ini.

Jujur, sedikit menyesal bagiku meninggalkan German dengan cepatnya karena ternyata di German seru apalagi aku baru mendapatkan teman baru. Bahkan menurut Daniel kalau Victoria sedikit aneh eh malan asik aja diajak ngerumpi, sampai kami gosipin host kami sendiri. Habisnya hostnya menyuruh kami memakai mesin cucinya yang semua tombolnya pakai Bahasa German, alhasil kami berdua berbingung berdua.

Kan kurang asem!

Setelah Frank datang, aku dan Victoria sudah siap sedia menuju terminal Bus Bremen. Aparteman Daniel kami kunci lalu kami menuju mobil Frank. Victoria duduk di bangku depan,  sedangkan aku duduk santai di belakang bersama tas dengan beban 15kg.

Dalam perjalanan aku mengamati Kota Bremen, antik serta ada sedikit rasa puas dapat mengunjungi Kota yang pernah menjadi pasar tembakau dunia. Bangunannya tertata rapi serta jalanannya juga mulus. Jarak menuju ke terminal tidaklah jauh, hanya berselang 20 menit saja. Baru juga bersantai eh tahu tahu sudah sampai di terminal.

Hal yang aku suka dari German adalah teknologinya canggih. Canggihnya ada hiasan Kota bisa bergerak secara otomatis. Padahal kesannya Kota “tua” tapi “canggih”.

Sesampai di terminal Bremen, Frank memarkirkan mobilnya lalu kami bertiga berjalan kaki dari tempat parkir. Untuk terminal Bremen lumayan indah dan ramai. Di terminallah kami makan pagi, dan pilihan kami adalah Kebab Turkey, hasil pilihanku karena itulah yang ada tulisan “Halal”. Bertiga kami memesan Kebab sambil makan di terminal. Namun tempat terminal busku bukan di tempat kami makan siang, berbeda tempat. Awalnya aku mengira terminal itu adalah tempat bus berada, ternyata bukan. Yasudah akhirnya menikmati makan siang bersama Frank dan Victoria.

Lagian jadwalku menuju ke Praha dari Bremen jam 1 siang, artinya aku, Frank dan Victoria masih ada waku untuk jalan-jalan sekitar Bremen.

Tidak hanya itu, aku sudah memiliki tiket bus dari Bremen ke Hamburg dengan menggunakan Flix bus, hasil pinjaman CC temanku si “Ade” di Indonesia karena aku tidak bisa membeli tiket Flixbus secara online karena tidak punya kartu kredit.

“We should eat girls”, begitu kata Frank kepada kami.

Tentu saja kami mengiyakan karena kami juga lapar terus dapat traktiran pula sama Frank, kan namanya beruntung 😀

Nah saat memilih makanan, penjaganya tahu senyum-senyum melihatku memesan makanan serta sok-sok an mengucapkan terimakasih dalam bahasa German yang aksennya aksen Batak banget.

“Danke”

Setelah kenyang, kami pun meninggalkan Terminal. Kalau aku tidak jadi ke Praha, Frank dan Victoria ingin mengajakku menonton film German di Bioskop Bremen. Sempat membuatku merasa iri setengah hati karena tidak bisa menonton film German di Negara Germana di Bioskop German (sedikit lebay).

Sorry Winny, you do not have time for cinema, kata Frank

Ah mungkin lain kali bisa nonton di German 🙂

Victoria dan Frank lalu mengatarkanku ke Terminal Bus, tak jauh dari tempat kami makan siang. Entah kenapa sedikit rasa sentimen ketika berpisah dengan dua orang yang baru aku kenal. Tapi perjalanan backpacker Eropa seorang diri harus berlanjut. Maka babak sendirian menunggu bus di terminal di Kota Bremen pun terjadi.

Jadwal keberangkatan busku terlambat. Untuk mengurangi rasa bosan akhirnya aku menuju ke dalam tempat pembelian tiket bus dari Praha ke Vienna karena aku harus membeli tiket menuju negara di Eropa lainnya yang hendak aku kunjungi. Memang untuk memesan tiket bus secara langsung di kounter di Eropa bisa dilakukan apalagi dalam kasus tidak memiliki kartu kredit. Aku lega bisa mendapatkan tiket ke tempat tujuanku berikutnya. Llau aku keluar dari tempat pembelian tiket dan menunggu bus di luar.

Cukup lama aku menunggu kedatangan bis, ditambah udara German yang dingin meski kelihatan terang benderang. Satu persatu orang berdatangan dan pergi. Aku yang sendirian menunggu bus hanya bisa menikmati pemandangan sekitar, kadang berdiri dan kadang duduk selonjoran di lantai.  Penungguannya tidak seperti terminal bus, hanya ada tanda kecil kalau itu tempat menunggu bus.

Akhirnya cukup lama menunggu, bus datang lalu satu persatu dari penumpang di panggil untuk masuk ke dalam bus. Ini pertama kalinya aku menggunakan bus selama di Eropa, dan itu sendirian. Hal yang diperhatikan adalah nama bus, jadwal dan nomor bis jangan sampai salah apalagi salah jadwal 😀

Dari hasil google banyak yang menyarankan untuk menggunakan Flixbus namun ternyata pas di Eropanya banyak juga loh bus yang nyaman dan harganya Ok. Kalau flixbus enak pas beli jauh-jauh hari karena BISA DAPAT HARGA DISKON namun pas di hari H belinya harganya agak mahal. Untuk fasilitas adanya wifi gratis dan ada minum di bus namun bayar lagi. Berbeda dengan naik bus Regio jet yang dapat minum gratis serta murah. Tapi daripada tidak ke Praha maka aku bersyukur juga bisa mendapatkan bis ke Praha dari Bremen.

Perjalanan darat dari Bremen ke Praha pun dimulai…

Di dalam bus yang sudah ada nomor duduk dan masuk ke dalam bus harus diverifikasi oleh petugas. Dalam perjalanan Bremen ke Praha sangat menyenangkan karena aku seakan mengelilingi German secara keseluruhan.  Dari kaca jendela aku melihat jalanan German, mulai dari rumput biasa, hingga daerah industri. Dari tiket, kami akan berhenti dan berganti bus di Hamburg selama 30 menit.

Inilah salah satu keuntungan naik bis di Eropa karena bisa melihat banyak daerah di Eropa apalagi pas hari masih terang. Nyaris aku tidak tidur selama berjalanan dan benar-benar menikmati perjalanan Bremen-Hamburg dengan jalan darat.

Kami sampai di Hambug sore hari, pas bus berhenti di Hamburg, lantas aku dengan sigap keluar dari bus dan membawa tasku untuk keliling Kota Hamburgh. Dari stasiun bernama Zental Omnibus Bannhof aku keluar, menyeberang jalan menuju Gereja yang aku lihat saat di kaca jendela bus. Misinya ingin melihat Hamburg sebentar. Karena waktu hanya 30 menit maka aku tidak mau menyia-nyiakan untuk melirik Kota Hamburg.

Di Kota Hamburg sangat ramai dan banyak bangunan tua, serta ada bus bertingkat yang lucu. Tidak hanya gereja bahkan terdapat pasar. Kesemua tempat wisata di Hamburg yang aku kunjungi memang tak jauh dari terminal bus. Walau singkat terlihat jelas kalau Hamburg lebih ramai daripada Bremen. Aku sempat tergoda untuk makan di Hamburg di dekat Gereja yang aku lewati. Namun karena waktu, niat makan aku kurungkan.

Tidak hanya itu, Hamburg memiliki peta wisata sehingga bagiku yang pertama kali ke Hamburg bisa melihat rutenya, hanya saja karena tidak ada waktu maka aku hanya sekilas lihat saja. Kemudian dengan tergesa-gesa kembali ke Terminal bus untuk menunggu panggilan namaku. Kan gak lucu ketinggalan bus 🙂

Walau singkat di Hamburg, German aku cukup senang sempat berjalan keliling Kotanya dengan tas gedeku.

Bremen, 6 April 2017

08:00-10:00 Persiapan ke Praha

10:00-11:00 Diantar ke Terminal bus dan ditraktir makan oleh Frank dan jalan bareng teman dari Polandia

11:00-13:00 Menunggu Flixbus ke Praha, ongkos tiket bus ke Praha dari Bremen 20 Euro (minta beliin Ade Putra)

15:00-00:03 Perjalanan darat Bremen-Praha

Tempat wisata yang didatangi pada hari-14 di Eropa

Terminal bus Bremen

Total biaya pada hari-14 di Eropa 20 Euro

Salam

Winny

Pemandangan Indah di Paris dari Sacré-Cœur, Taj Mahal ala France


I’m a big believer that your life is basically a sum of all the choices you make. The better your choices, the better opportunity to lead a happy life

By Karen Salmansohn

 

Hello World!

Paris, Maret 2017

"We have a building similar to Taj Mahal in Paris", Winny!

Itulah kalimat antusias dari Thimo ketika menemaniku di Paris untuk mengunjungi wisata yang ada di Paris. Tempat yang ingin di tunjukkan di pagi hari bernama Sacré-Cœur Basilica sebuah Gereja Katolik Roma yang terletak di butte Montmartre, tempat tertinggi di Kota Paris. Melihat antusiasnya aku sangat penasaran seperti apa bangunan yang mirip dengan Taj Mahal. Jujur aku tidak pernah bayangkan ada tempat seperti Taj Mahal di Paris dan ini bukan Masjid seperti di India tapi Gereja.

Well, i will make advice if that similar to Taj Mahal or not, 
since i have been to Taj Mahal, kataku padanya

Pagi hari kami berjalan kaki dengan menaiki tangga yang lumayan menguras tenaga. Melihat suasana Paris di pagi hari merupakan hal baru bagiku. Karena aku tidak membayangkan aku bisa menginjakkan kaki di Eropa. Maklum imipian ke Eropa merupakan impian dari sejak kuliah. Memang benar ketika kita memiliki mimpi maka mimpi itu akan terwujud sepanjang berusaha dan percaya mimpi itu akan terwujud.  Aku juga cukup beruntung karena bertemu dengan orang-orang baik selama di Eropa. Untuk di Paris, Thimolah yang menjadi guide gratisan serta menemani menelusuri Negaranya, kalau tidak aku tidak bayangkan bagaimana berbicara dengan orang Perancis, mengingat aku tidak bisa berbahas Perancis.

Hal menarik lainnya menuju ke Sacré-Cœur Basilica aku melihat bunga indah yang mulai bersemi. Memang kedatanganku ke Paris kebetulan pas musim Semi, sehingga mengingatkanku perjalanan Jepang ketika musim semi. Dan di Paris juga banyak cherry bermekaran saat musim semi. Ah betapa menyenangkan melakukan perjalanan pelarian dari rutinitas, sesekali aku mencubit pipi sendiri dan mengatakan pada diri sendiri, “Winny, ini nyata dan tidak mimpi”.

Sesampai di Sacré-Cœur Basilica, ternyata memang bentuknya sepintas mirip dengan Taj Mahal walau tidak seperti Taj Mahal total.

“Hanya bentuknya saja”

Siapa sangka Paris memiliki tempat indah, karena dalam bayanganku Paris tak jauh-juah dari Menara Eiffel atau Kota “Fashion” katanya. Namun Paris tak sekedar Eiffel, Paris itu memiliki tempat yang membuatku kaget. Bahkan dari 12 Negara yang aku kunjungi selama 1 bulan di Eropa, Paris di Perancis telah mencuri hatiku. Suka dengan Kotanya serta penataannya yang rapi 🙂

Bersama Thimo kami antri untuk masuk kedalam Gereja. Pengamanannya cukup ketat dan barang bawaaan diperiksa oleh petugas yang mirip dengan Polisi Perancis itu. Hal ini wajar, karena masuk ke dalam Sacré-Cœur Basilica Paris tidak perlu membayar. Disinilah letak kekeranan di Perancis, rata-rata masuk ke dalam Gereja gratis berbeda dengan Inggris yang beberapa Gereja harus bayar terutama Gereja terkenal. Namun di Perancis masuk ke Museum itu bayar, sementara di Inggris kebanyakan museum itu gratis.

Di dalam Sacré-Cœur Basilica Paris, beberapa turis beribadah sehingga pengunjung harus menjaga ketenangan. Di dalam Gereja seperti gereja pada umumnya perbedaannya hanyalah interior di dalamnya dengan gambar Yesus di atasnya berbentuk lonjong. Gambar ini mengingatkanku akan Istanbul, “Hagia Sophia”. Tentu saja mozaiknya berbeda, dan entah kenapa aku malah mengingat mozaic di Hagia Sophia.

So, what do you think, is not it beautiful?, tanya Thimo kepadaku

Well, trust me its good, but Hagia Sophia is more wonderful, jawabku

Emang aku agak kurang ajar, padahal Thimo sudah semangat malah aku mengatakan perbandingan yang tak sama. Padahal dari sejarah Sacré-Cœur Basilica Paris sendiri lumayan menarik. Walau demikian dipastikan di dalam Sacré-Cœur Basilica Paris aku hanya bisa bertahan 5 menit saja. Padahal menunggu antrian masuk 30 menit padahal masih pagi hari.

Sacré-Cœur Basilica Paris

Keluar dari Sacré-Cœur Basilica Paris, pemandangan Paris di pagi hari sungguh “menghipnotis”. Itulah pemandangan terindah yang pernah aku lihat selama di Eropa. Langsung membuatku bahagia melihat dedaunan dari pepohonan serta pemandangan Kota Paris dari atas.

Ah, aku jatuh cinta pada pemandangan KOTA PARIS dari Sacré-Cœur Basilica!

Bahkan tempat Sacré-Cœur Basilica Paris sering dijadikan tempat lokasi shooting di beberapa film. Di depannya bahkan ada sebuah patung yang kalau tidak seksama aku berpikir itu patung. Ternyata bukan, itu adalah seorang ibu yang dicat mukanya berwarna putih berdiri bak Patung. Terus aku teringat akan manusia patung di Kota Tua, ternyata di Paris ada juga.

Menikmati pagi hari dengan melihat Kota Paris dari atas merupakan awal yang menarik untuk menjelajah Paris. Yah aku senang, senang bisa memiliki kesempatan menikmati Pemandangan Indah di Paris dari Sacré-Cœur, Taj Mahal ala France 🙂

King Saint Louis Statue

Alamat The Sacre Coeur Basilica

35 Rue du Chevalier de la Barre,

75018 Paris, France

Jadwal Buka Sacré-Cœur

Setiap hari jam : 06:00 – 22:30

Salam

Winny

Backpacker ke Vatican, Negara Terkecil di Dunia


Love yourself first and everything else falls into line

By Unknown

Hello World

Vatican, April 2017

Sebelum melakukan trip 1 bulan di Eropa, baca juga pengalaman trip 1 bulan di Eropa, jujur aku tidak mengira kalau Vatican berada di Italia dan merupakan sebuah negara. Dalam bayanganku Vatican hanyalah sebuah Kota yang dibenakku jika Natal dipastikan akan selalu tayang di stasiun TV dengan Paus yang melambaikan tangan lengkap dengan jubah putihnya berlatar Gereja megah Vatican. Bahkan Vatican bukan tujuan utamaku ke Eropa namun saat berada di Italia barulah aku sadar kalau Vatican itu berada dalam wilayah Roma, Italia. Jadi mumpung di Italia yah sekalian ke Vatican.

Vatican sendiri merupakan negara terkecil di dunia dengan luasan hanya sekitaran 0,44 km pesegi dengan populasi penduduk 850 warga negara artinya populasi penduduk paling sedikit di dunia. Untuk bentuk negaranya berupa Monarki dengan kepala negara Uskup Agung Roma yang merangkap sebagai pemimpin umat Katolik sedunia.

Vatikan, yang sepenuhnya berada di dalam wilayah kota Roma, merupakan negara terkecil di dunia dengan luas hanya 0,44 kilometer persegi. Bahkan sejak 11 Februari 1929 Vatican sudah menjadi negara independen.

Untunglah saat berada di Roma aku memiliki kesempatan mengunjungi Vatican, sehingga tidak sia-sia aku menghabiskan sisa perjalanan Erapa itu paling lama di Italia.

Untuk menuju ke Vatican, negara suci umat Katolik sangatlah mudah terutama jika sudah berada di Roma. Waktu itu aku  turun di Metro Ottaviano dengan sekali perjalanan biaya Metro sekitar 1,3 Euro, jika 1 hour pass 3 Euro dan 24 hour pass 7 Euro (kalau tidak salah, habis lupa). Namun bagi yang lama di Roma dan ingin menjelajah semua wisata Roma maka sangat aku sarankan untuk membeli Roma Pass sehingga puas keliling Roma serta menggunakan transportasinya. Bicara transportasi di Italia itu cukup mudah loh, semua ada mulai dari Metro, kereta hingga bus.  Mempelajarinya pun mudah tinggal lihat di peta transportasi di Roma.

Peta Transportasi Roma (Sumber: Romemap360)

Keberangkatan ke Vatican pun tergol0ng cukup pagi karena dipastikan ramai pengunjung serta antusias turis. Walau sebelumnya tidak kepikiran kalau yang mendatangi Vatican itu antriannya “panjang”. Jam 8 sudah berangkat dari penginapan dari Coloseum, Roma kemudian naik Metro ke Vatican. Tujuan seharian memang menjelajah Vatican, karena kapan lagi mengunjungi negara paling kecil di dunia.

Sesampai di Metro Ottaviano, tempat berhentian jika ingin mengunjungi Vatican maka sedikit berjalan kaki menuju ke Vatican.  Jalan kaki dari Metro Ottaviano cukup asik karena banyak penjual souvenir yang murah meriah sehingga tak terasa jalan kaki. Petunjuk arahnya juga mudah, lihat saja turis kemana dan tinggal ikuti saja.

Sesampai di Vatican, betapa kagetnya aku  karena antrian untuk masuk ke dalam Vatican itu panjang pakai banget “panjannggggggg sekaliiiiiiii”. Belum cuaca yang terik tapi dingin, maklum saat kedatangan ke Eropa musim semi jadi meski kelihatan panas namun cuaca bisa 12 sampai 15 derajat Celcius. Asli melihat antrian super panjang rasa malas untuk masuk ke dalam Vatican pun mulai menyusut.

Dalam hatiku ngapain juga antri lama-lama untuk melihat sebuah Gereja, serius ini adalah kekonyolan yang pernah aku lakukan dalam hidupku. Bahkan dari pertama kali sampai jam 9 pagi baru bisa masuk ke dalam gereja Vatican itu baru jam 12 siang, artinya sudah antri 3 jam. Untuk masuk ke dalam Gereja Vatican tidak dipungut biaya alias gratis tapi kalau mau cepat masuk tanpa ngantri maka harus bayar extra.  Aku sih ogah untuk membayar, mending ngantri walau dalam hati mendumel .

What is the good things that i can see inside the Vatican Church? tanyaku
That's the biggest and beautiful Church in the world, kata hostku
Trust me you will not regret once you enter it, katanya penuh semangat
Antrian Panjang ke dalam Vatican

Setelah 3 jam antri di St. Peter Square berbentuk zig-zag melebih zig-zag ular tangga, akhirnya tercium juga hawa-hawa pintu masuk ke dalam Gereja Vatican. Pengunjung harus melewati penjagaan yang ketat terutama tas dan badan melewati scanner. Barulah jika body detector tidak mengeluarkan bunyi yang mencurigakan dan petugas merasa pendatang aman maka diperbolehkan masuk ke dalam Gereja yang katanya terluas di dunia.

Masuk ke dalam Gereja, isinya seperti Gereja pada umumnya di Eropa, bedanya di Gereja Vatican terdapat karya Michael Angelo yang fenemonal “Sistine Chappel”. Tapi karena harus bayar lagi untuk melihat Sistine Chappel Vatican, jadi aku agak ogah untuk masuk, aku kan pecinta “hratisan”. Disinilah aku merasa aku itu turis kere tingkat dewa. Begitulah memang kalau tidak terlalu antusias, kalau antias semahal apapun pasti dibayar. Lagian karena aku sudah melihat lukisan di Louvre membuatku antusiasku dengan seni berkurang, toh sudah puas di Louvre, Paris.

Melihat mukaku datar saat masuk membuat kekecewaan bagi teman perjalananku. Serius bagiku mengunjungi Vatican itu sungguh sangat biasa sekali (terus dillempar sandal karena kata-kata ini).

Padahal Sistine Chappel Vatican atau disebut Cappella Magna, berasal dari Pope Sixtus IV tahun 1477 dan 1480. Namun karena cintaku pada Euro jauh lebih tinggi akhirnya ya sudahlah…

Pintu masuk Gereja Vatican

Di dalam Basilica St. Peter Vatican, ada satu hal mencuri perhatianku yaitu ketika pengunjung antri untuk menyentuh kaki dari patung  St. Peter di dalam  Basilica, bahkan warna emas dari patung sudah memudar saking banyaknya yang menyentuhnya. Konon St. Peter dan beberapa pemimpin kristen makamnya berada di dalam Vatican. Untuk benar atau tidaknya aku kurang tahu, tapi saat melihat isi dalam Gereja memang ada tanda-tanda makam di Vatican.

Di dalam Basilica St. Peter di Vatican terdapat ruang-ruang untuk umat Katolik yang ingin beribadah tapi bagi pengunjung tidak boleh mengambil photo saat orang beribadah di dalam Basilica St. Peter di Vatican.

Keunikan lain dari Vatican adalah petugas penjaga Vatican dengan seragam yang unik berada di luar Basilica. Di dalam Vatican juga terdapat beberapa tentara yang bertugas menjaga keamanan Vatican. Sayangnya aku tidak melihat Pope alias Paus, padahal keren juga bisa melihat Paus secara langsung, kan selama ini lihatnya di TV doang. Kalau ingin lihat Paus harusnya datang pas perayaan besar keagamaan tapi dipastikan ramai sekali 🙂

Di dalam Basilica of St. Peter in the Vatican
Basilica of St. Peter in the Vatican

Hal menarik lain yang tak kalah populer dari senyum manis Monalisa di Perancis, adalah ‘Pietà’, St Peters, Rome (1499–1500) yang merupakan karya dari Michelangelo Buonarroti sejak periode Renaisans (Renaissance). Peita ini ditempatkan pada sebuah ruangan kecil dengan pembatas kaca sehingga terlihat jelas dari luar, ukurannya pun kecil saja. Sehingga pengunjung akan melihatnya dari luar. Aku sempat harus bersabar sambil nyempil-nyempil diantara pengunjung lainnya. Untungnya pengunjung Vatican kondusif sehingga tidak ada adegan jambak-jambakan apalagi marah-marah, rata-rata tenang dan sabar menunggu antrian.

Come here, you should see Pieta, the Virgin and Christ, 
The Rome Pieta is an emotionally charged incarnation of a mother cradling
her lifeless son, katanya dengan semangat

Padahal seriusan kalau tidak dikasih tunjuk aku tidak tahu kalau Pieta ini sepopuler dengan Monalisa. Hal ini wajar karena Michelangelo dan Leonardo da Vinci masih dalam satu periode yang sama. Pantas saja banyak sekali pengunjung ke Basilica St. Peter di Vatican serta paling banyak antri di depan Pieta. Bahkan pengunjung rela berpanas-panas, antri demi masuk kedalam Vatican. Memang kebanyakan tujuan turis ke Vatican ialah beribadah. Sementara aku tujuannya ialah menambah daftar negara yang dikunjungi dalam bucket listku hehe 😀

Pietà

Rincian Pengeluaran di Vatican

08:00-09:00 Menuju Vatican Keliling Vatican

09:00-10:00 Antri sampai 3 jam demi masuk ke Vatican

10:00-12:00 Keliling Vatican dan melihat karya Michael Angelo

12:00-13:00 Makan Tonnarelli 11, 5 Euro

13:00- 14:00 Makan es krim dekat Vatican

14:00-18:00 Makan di Janta 20,25 Euro

18:00-20:00 Kembali ke penginapan

Biaya yang dikeluarkan di Vatican = 11, 5 Euro + 20,25 Euro = 31,75 Euro

Pemandangan dari luar Basilica of St. Peter in the Vatican

Selain melihat karya besar Michaelangelo, kegiatan di Vatican yang tidak boleh dilewatkan adalah mencoba es krim ala Italia yang super terkenal atau sering disebut “Gelato” tak jauh dari Vatican melalui pintu keluar tinggal lurus aja. Gelato di Vatican meruapakan gelato terenak yang pernah aku coba. Rekomended banget!

Menikmati Gelato dapat mengobati rasa capek setelah antian panjang masuk kedalam Basilica walau setelah itu amandelku pun kumat 🙂

Salam

Winny

Backpacker Keliling London dengan 2 Poundsterling


Sometimes, things may not go your way, but the effort should be there every single night

By Michael Jordan

Hello World!

London, April 2017

Salah satu Kota impian dari kecil yang ingin aku kunjungi adalah London. Paling tidak beberapa teman yang pernah aku jumpain terutama yang tinggal di Eropa pasti tahu kalau Inggris merupakan negara top list yang ingin aku kunjungi, bisa dibilang impian sejak masih SMP. Bahkan acap kali aku diberikan pertanyaan alasan menapa begitu terobsesi dengan London. Mungkin bisa jadi gara-gara efek sihir Harry Potter, maka aku “harus ke Inggris”.

Winny, Why London? 
Do not you know that London is expensive city in this world? 

Because British Accent is sexy, begitu jawabku dengan polosnya 
kepada siapapun yang penasaran kenapalah aku fans Inggris banget

Saking ngebetnya ke London, aku rela bela-belain ngurusin Visa yang priority, padahal yah, visa biasa saja sudah mahal apalagi yang prioritas. Alasannya sih sederhana karena mumpung lagi di Eropa maka sekalian saja ke Inggris. Sehingga walau mahal dibela-belain juga proses Visa Inggrisnya. Disini jadi pelajaran banget kalau ingin mengurus Visa Inggris dari jauh-jauh hari, jangan mepet-mepet.

Baca Pengurusan Visa Inggris

London Eye
Alasan klise lainnya kenapa harus mengunjungi London karena dialam benakku begitu keren gitu melihat Big Ben, apalagi kalau bisa naik bus tingkat merahnya itu. Bahkan dulu waktu ke Bukittingi di tahun 2010 demi mencari Babang Manis, aku sempat bela-belain lihat Jam Gadang dan berharap bisa suatu saat mengunjungi Big Ben sebagai perbandingan. Namun apa daya, ternyata imaginasi tak seindah kenyataan.

Ternyata mata uang Inggris tak sesexy aksen Bahasanya!!

Yah mata uang Poundsterling memang mata uang paling mahal bila dibandingkan dengan Euro maupun Dollar Amerika, itupun mata uangnya sudah turun dari Rp18,000 menjadi sekitar Rp16,000 namun tetap bagiku yang sudah backpacker turun tahta jadi begpacker itu termasuk “MAHAL”. Euro saja sudah membuatku keringat dingin apalagilah Poundsterling. Disini aku merasa sedih betapa kurs Rupiah sangat rendah!

Jadi selamat tinggal Misi “Backpacker di London”.

Memang London semahal itu?

Jawabanya sih relative karena mahal tidaknya itu tergantung persepsi orang, namun buatku biaya di London itu “iyes mahalnya”.

Sebagai gambaran, pas baru saja aku mendarat di London, buru-buru aku mengirim pertanyaan ke temanku yang dulu aku kenal di Bukit Lawang bernama Maura mengenai London.

Hey Maura, this is Winny, i will be arriving on this noon in London, 
can we meet up?, begitu pesanku dari aplikasi Whatsapp

Welcome to London, dear! Do not forget to buy London pass, 
it might be around £90, katanya.

Melihat informasi “£90”, langsung aku berpikir apa perlu memberli turis pass London seharga 90 Poundsterling?

Mak itu kalau di Rupiahkan jeti-jeti loh! Makanya tidak usah di Rupiahkan karena pusing sendiri jadinya.

Alhasil pas sampai di Bandara, aku menukarkan uang 100 Dollarku ke Pound sterling dan hanya dapat seuprit. Karena begitu keluar dari Bandara menuju ke stasiun kereta betapa shock jantungnya aku membayar £ 15 dari Bandara ke tempat penginapan di London.

Itupun baru sekali jalan saja!

Maklum sebagai pecinta “hratisan” dan tipe pejalan “murce-muriah ceria”, menghabiskan uang mahal-mahal di transportasi itu sungguh membuat hati memberontak. Hahaha 😀

Baru awal saja aku sudah kipas keringat duluan, yah London memang tidak cocok dengan pekerja kantoran tapi kantong mahasiswa sepertiku!

London
Tidak sampai disitu, pas hendak makan mencoba Fish and Co satu porsinya 10 Pound sterling, karena memang salah satu yang fast food yang terkenal di Inggris adalah fish and Co, bahkan kalau ke Inggris tidak makan fish and Co bukanlah ke Inggris katanya. Memang dari segi porsi sangat banyak dan mengenyangkan, namun kalau aku Rupiahkan yang 10 Pound sterling di Indonesia aku sudah bisa makan Sate, gado-gado, pecel, ayam penyet, Martabak dan lain-lain. Tapi ini bukan di Indonesia, ini sedang di London, Bu yang semua-semua serba mahal. Namun tetep meski mahal karena lapar yasudah makan saja. Apalagi aku adalah tipe pejalanan yang tidak bisa menahan lapar, biar mahal yang penting makan.

Untuk makanan di London, fast food adalah pilihan terhemat kalau sedang jalan-jalan di London, kalau restoran say no dah di London apalagi tipe pejalannya on budget. Sekali makan saja misal kaya di McD itu kena 4-5 Pounds, terus  belum harga satu botol minuman air itu syukur-syukur kena 1 Pounds, kadang-kadang kena 2 Pounds.

Transportasi Kota London juga tak kalah mahalnya. Bayangkan naik sekali tube (kereta api bawah tanah London) bisa kena 4 pounds meski itu jaraknya dekat. Bayangkan itu sekali stasiun aja dekatnya kena segitu apa gak bangkrut lama-lama di London. Uang 100 Dollar Amerika yang aku tukar aja tak sampai sehari sudah “ludes”.

Gara-gara tidak terima kemahalan akan Kota London, akhirnya memutar otak “bagaimana cara hemat keliling London”. Memang Tuhan itu sangat sayang kepadaku, karena pada akhirnya aku mendapat ilham untuk berhemat di London.

Sebelumnya aku sudah membuat tujuan wisata di London terutama yang dekat-dekat dengan Big Ben, barulah dari sana kemana-mana. Meski tujuan utama ke London ada dua yaitu mencari ATM BNI di London yang hanya ada satu-satunya di Eropa serta pergi ke Topshop mengambil barang pesanan Yuki. Untuk alamat Bank BNI di London berada di 30 King St, London EC2V 8AG, UK. Selebihnya random keliling wisata London. Dengan bermodalkan peta dari penginapan di London, akhirnya menggunakan kereta ala London yang sekali jalan bisa kena 3 Pounds menuju stasiun terdekat ke arah Big Ben.

London Map (From Web Myenglandtravel)
Belum sampai dan masih jauh dari Big Ben eh akhirnya pas asik-asik keliling London, tiba-tiba aku melihat sepeda berjajar nganggur yang ternyata disewakan. Sepeda yang berada di tepi jalan dan ada petunjuak bagaimana cara memakainya. Itu dari hasil melihat warga lokal yang mengambil sepeda dengan mudahnya, Harga sewa sepeda pun cukup membuat bibirku sumringah tak karuan hanya 2 Poudsterling saja seharian penuh. Namun bayarnya memang pakai CC alias kartu kredit.

Padahal aku tidak punya CC sama sekali loh!

Beruntungnya bisa dipakai sepeda dan ide gila keliling London bersepeda alias gowes cantik di London pun terjadi. Habis mau gimana rencana gowes di Indonesia malah kecapain gowes di London saking tak tahan degan mahalnya transportasi London.  Aku kan gak ikhlas memberikan 3 Pounds setara dengan Rp50.000 kalau kurs 1 Pounds = Rp16,000 untuk sekali jalan. Maka pilihan terbaik ada bersepeda keliling London. Padahal jangan tanya gimana cuaca di London saat April, dingin!! Belum pas hari-H hujan pula, makin menjadi-jadi dinginnya. Belum salah kostum yang aku pakai, ini asli semua demi jalan hemat di London.

Pertemuan dengan sepeda tadipun karena adegan setelah tidak berhasil mengambil uang di BNI, London. Disana tidak ada tanda-tanda ATM BNI adanya Bank itupun tutup karena hari Sabtu padahal sudah bela-belain jauh-jauh demi mengambil uang. Meski apes justru membuatku mendapatkan cara hemat keliling London dengan sepeda sewaan .

Asli, pikir dua kali sih kalau Backpacker ke London 😉

London
Jujur tidak pernah aku bayangkan bisa mengelilingi London dengan puas bersama sepeda. Kelilingnya pun sesuka hati kemana yang diinginkan. Seolah tahu jalan, padahal baru juga hari kedua di London, bak familiar.

Selama keliling London dengan bersepeda seharga 2 Poundsterling ada beberapa tempat yang bisa aku kunjungi terutama wisata London yang terkenal seperti:

1. Big Ben

Dengan mengayuh sepeda sambil mengandalkan peta offline di HP maka pilihan pertama adalah Big Ben, jam super terkenal dari London. Ketika sampai di JEMBATAN yang dekat dengan Big Ben, rupanya beberapa hari sebelumnya terjadi kejadian yang kurang mengenakkan disekitarnya. Sampai-sampai Yuki ngirim pesan untuk waspada mengenai teror yang terjadi. Untungnya pas aku ke Big Ben, aman jaya bahkan banyak juga pengunjungnya. Sayangnya cuaca kurang bersahabat karena agak mendung sehingga pas sampai di Ben Ben yang terucap dalam hati “Kok Big Ben biasa saja?”! Kalau menurutku itu Big Ben itu biasa. Begini nih kesahalan kalau harapan terlalu tinggi.

Bahkan warna Sungai Themes itu cokelat tapi yah memang bersih.

Entah kenapa aku merasa mengeliling London pada malam hari lebih menarik daripada siang hari.

Big Ben
2. Buckingham Palace

Buckingham Palace
Menuju Buckingham Place dari Big Ben tidak lah sulit dan lumayan dekat. Namun sayangnya pas sampai di Buckingham momennya tidak tepat karena sedang ada shooting di lokasi luar istana. Alhasil tidak leluasa melihat Buckingham dari luar. Bahkan untuk masuk ke area komplek Buckingham sepeda tidak diperbolehkan. Terpaksalah sepeda didorong pelan-pelan masuk di jalanan setapak yang sudah dibuat orang shooting. Sampai aku sempat sebel sama yang shooting karena merusak pemandangan saat di Buckingham. Memang mungkin saat ke London timingku tidak tepat. Alhasil melihat tentara ala Inggris pun gagal. Boro-boro membayangkan istana cantik dengan taman bunga indah di depannya seperti yang aku lihat di postcard yang ada yang aku lihat di depan Istana adalah kerumunan manusia ditambah kru yang sedang membuat film. Pupus sudah harapan melihat kegantengan Pangeran Harry apalagi mencium tangan Ratu Elizabeth. Bye dah impian! Hiks 😦

3. London Eye

London Eye and Bus
London Eye semacam bianglala yang tak kalah terkenalnya di London. Tapi seperti biasa karena takut ketinggian dipastikan aku tidak mau menaikinya. London Eye pun dekat dengan Big Ben sehingga sekaligus satu area dapat mengunjungi beberapa spot wisata terkenal di London. Padahal aku penasaran juga naik ke atasnya namun karena rasa takut lebih besar daripada keinginan, cukup melihat dari jauh saja sudah cukup.

4. Oxford Street

Oxford Street
Mengunjungi Oxford Street London memang karena permintaan Yuki, si butet Blogger yang sebelumnya sudah ke London. Hanya saja waktu itu dia tidak beli sehingga nitip aku ambilkan. Karena sayang teman akhirnya aku bela-belainlah bersepedamencari dimana letak Topshop sepanjang Jalan Oxford Street London. Tokonya pun susah sekali dicari sampai ada nyasar-nyasar 3 kali keliling, padahal kondisi sepatu juga tidak bersahabat.

Iya lagi-lagi sepatuku rusak, asli setiap perjalanan aku selalu mengalami sepatu rusak. Bahkan sepatu yang aku beli di Jepang dan baru sekali pakai tetap tak bertahan namun apa daya pas gowes rusak parah. Kebayang kan betapa menyedihkannya bersepeda dengan keadaan sepatu rusak.

Pas di dalam Topshop banyak sekali harga miring yang cukup membuatku hampir “hilap”. Bayangkan satu sepatu saja Rp500.000 yang paling murah itupun sudah diskon gede-gede. Untung pertahananku cukup tinggi sehingga tidak membeli sepatu di Topshop ini. Kalau di Jakarta Oxford Street ini seperti berada di area Segitiga Emas Jakarta Kuningan-Thamrin-Sudirman yang penuh dengan shopping mall.

Walau jujur ada enaknya ketika berjalan di area Oxford Street London karena merupakan area untuk shopping. Walau dipastikan aku hanyalah kurir barang saja namun lumayan cuci mata toko-toko.

Oxford Street London memang cocok bagi si Shopaholic!

5. British Museum

British Museum
British Museum di London merupakan tempat yang sangat aku suka. Memang tak seindah dan selengkap di Louvre Museum di Paris namun mengelilingnya seru sekali. Bahkan aku melihat Mummi asli di Bristih Museum. Kerennya lagi masuk ke dalam British Museum itu “hratis” alias gratis tis tis.

Apa gak senang hatiku!

Alamat British Museum :

Great Russell St, Bloomsbury,

London WC1B 3DG, UK

Semua wisata top London yang aku kunjungi kesemuanya hasil gowesan, dan memang tidak hanya itu saja tempat yang aku kunjungi selama di London. Memang sedikit capek tapi mengingat murahnya apapun kulalakukan. Kan keren keliling London murah meriah dengan sepeda, sambil olahraga sambil hemat pengeluaran 🙂

Itinerary Trip London, April 2017

08:00-09:00 Naik Kereta £3 kemudian sewa sepeda seharian £2,membeli makan di supermarket £8,85

09:00-22:00 Keliling London dengan sepeda mulai dari Big ben, Parliament, British Museum, London Eye, dan lain-lain

Tempat wisata yang didatangi di London Benua Eropa: Big ben, Parliament, British Museum, London Eye

Total biaya pengeluran di London = £3 + £2  + £8,85 = £13,85

Nah jika ingin berhemat keliling London maka bisa mengikuti pengalamanku tapi dengan catatan siap-siap dengan mengayuh sepeda yang lumayan menguras tenaga serta nyasar-nyasar dikit dan tentu saja siapkan mental.

Kapan lagi coba gowes di London dengan £2 ?

Salam

Winny

Duduk Cantik di Town Hall dan Grand Place, Brussels


“Sometimes the thing you’re searching for your whole life is right there by your side all along.”

By Guardians of the Galaxy Vol. 2

Hello World!

Belgia, Maret 2017

Salah satu tujuan utama turis ke Brussels, Belgia adalah mengunjungi Grand-Place, sebuah UNESCO World Heritage Site. La Grand-Place Brussels letaknya tersembunyi padahal salah satu tempat yang “wow” di dunia. Bahkan untuk sampai ke Brussels Town Hall dan Grand Place Brussels harus melewati pasar serta berada di antara enam gang sempit.

Bersama Thimo, aku melakukan perjalanan dan mencari Town Hall dan La Grand-Place, Brussels. Tentu mencarinya tidak terlalu susah, petunjuk jalan jelas serta adanya Google maps di Hp si Thimo yang sangat membantu. Kalau aku hanya bersifat manis mengikuti pria yang sudah aku kenal sejak 2010 ini. Bisa dikatakan aku beruntung karena selama di Eropa aku selalu bertemu dengan orang baik, walau ada beberapa yang agak-agak namun rata-rata baik. Padahal jujur saja pas di Brussels aku gak tahu mau lihat apa, karena di daftar wisata yang ingin ku kunjungi sebenarnya hanya dua saja yitu “si Bocah genit Manneken Pis” dan bangunan unik “Atomium”. Pas bisa mengunjungi tempat wisata lain di Brussels berarti bonus buatku 🙂

Letak Grand Place Brussels berada di tengah pasar yang dulunya sekitar abad ke 14 merupakan perumahan dari kayu. Keberadaan Town  Hall sudah ada sejak tahun 1402 dan menjadi pusat politik. Tak heran ketika aku dan Thimo memasuki area Town Hall dan La Grand-Place, Brussels sudah dipadati turis.

Paling tidak ada 4 bangunan yang membetuk bujur sangkar, ditengahnya terdapat aula luas dimana turis duduk sambil menikmati pemandangan, bahkan sebagian besar dari turis kebanyakan selfie. Tak heran karena area Town Hall dan La Grand-Place, Brussels sangat cocok untuk janjian ketemuan dengan teman atau sekedar duduk cantik sambil nyantai di Brussels. Apalagi bangunannya kebanyakan dari abad ke 17, serta gaya arsitekturnya memberikan gambaran jelas tentang tingkat kehidupan sosial di masa itu.

Kesan “vintage” dan ala Kerajaan pun terasa sekali di area ini, bahkan pas aku berhenti di area alun-alun yang pertama di dalam benakku adalah kata “keren”.  Belum ornamen serta patung sebagai penghias di bangunan.

Thimo, where is the Grand Place?, tanyaku kepada Thimo

To be honest, i do not know, katanya

Bahkan yang mana Hôtel de Ville di Town Hall, serta mana Grote Markt (Dutch) / Grand-Place (French) dan mana City Museum/Maison du Roi (French) tidak bisa kami bedakan. Maklum kesananya tanpa tourguide serta tidak membaca buku sama sekali.

Disini aku merasa gagal jadi turis!

Akhirnya kerjaanku dengan si Thimo adalah menerka-nerka bangunan yang ada. Hingga akhirnya si Thimo menerka sebuah bangunan Grand Palace itu yang memiliki kubah menjulang tinggi berwarna putih dan yang paling nyentrik diantara bangunan yang ada.

Dari sejarah Grand Place ternyata banyak kejadian/peristiwan yang terjadi di Grand Place antara lain:

Tahun 1523: Hendrik Voes dan Jan Van Essen, dibakar oleh Inkuisisi di sana     

Tahun 1568:  Egmont dan Hoorn dipenggal di sana     

Tahun 1695: Selama Perang Liga Augsbourg, sebagian besar rumah di Grand Place hancur saat pemboman Kota oleh tentara Prancis dari Marshal De Villeroy.

Jadi tak heran kalau Grand Place menjadi  alun-alun Kota Brussels yang dikelilingi gedung-gedung tua bersejarah.

Grand Place dan Town Hall memang sangat menarik untuk dikunjungi bahkan banyak acara tahunan diadakan seperti festival bunga. Keunikan lain dari Grand Place dan Town Hall Brussels, dari segi Bahasa dimana orang Brussel memakai bahasa resminya sehari-hari adalah Bahasa Perancis dan Belanda serta perpaduan keduanya karena memang letak negara Belgia ketaknya berada di antara Belanda dan Perancis. Karena penduduk Brussels bisa berbahasa Perancis sehingga memudahkan Thimo dalam mencari informasi di Belgia.

It's too crowded, kata Thimo

Akhirnya aku menunjukkan tempat di ujung sambil duduk cantik mengikuti turis lain sambil menikmati Brussels di alaun-alun Kota Brussels.

Oh ya untuk lantai di alaun-alun Kota Brussels ini lantainya sudah di semen loh sehingga tak heran kalau turis yang datang berleha-leha duduk tanpa takut bajunya kotor. Meski kelihatan cerah, percayalah pas musim semi, suhu di Belgia lumayan dingin terutama untuk anak tropis.

Keramaian di Town Hall dan Grand Place Brussels membuatku betah berlama-lama, tapi apa daya si Thimo belum juga 1 jam sudah mengajak jalan keluar dari alun-alun. Padahal seru aja pas melihat berkumpulnya turis dari berbagai macam negara di area alun-alun Kota Brussels.

Duduk cantik di Grand Place atau disebut Grotte Markt yang merupakan alun-alun kota Brussels merupakan pilihan yang tepat untuk sekedar refreshing atau cuci mata juga bisa. Cuci mata dengan bangunan jadul dengan gaya klasik serta lapangan luas untuk haha hihii. Tapi jangan cari jodoh ya kak di Grotte Markt, karena nanti dapatnya waffle lagi 🙂

Salam

Winny

Manneken Pis dan Trip Singkat Brussels


Manneken Pis is a landmark small bronze sculpture in Brussels, depicting a naked little boy urinating into a fountain’s basin. It was designed by Hiëronymus Duquesnoy the Elder and put in place in 1618 or 1619

By Wikipedia

Hello World!

Belgium, Maret 2017

Setelah mencoba waffle dan fries Belgia yang super terkenal, akhirnya aku dan Thimo melanjutkan perjalanan demi mencari Mannaken Pis, Brussels.  Belum sampai di patung fenomenal dari abad ke 17, di dalam perjalanan  dengan jalan kaki, kami sempat menemukan beberapa Mural berbentuk komik di dinding rumah warga lokal, baca perjalanan di Belgia 

Sebenarnya kami mencari mencari Mural Tin-tin karena memang mural Tin-tin cukup terkenal dan menjadi salah satu yang dicari di Brussels selain si bocah terkenal dengan pipisnya, Manneken Pis. Suhu Brussels saat kami kunjungi cukup dingin untukku meski terlihat cerah, namun yang pasti saat jalan kaki keliling Brussels aku sempat melihat bus Hop On, Hop Off untuk Citysightseeing Brussels. Sebelas dua belas seperti yang ada di Singapura dan Malaysia. Jadi dengan naik bus dengan membayar uang tertentu maka bisa keliling Kota. Kalau di Jakarta ada bus tingkat yang sama juga bernama Mbok Siti tapi di Jakarta enak karena naik bus tingkat keliling Jakarta gratis untuk siapapun termasuk turis.

Nah di Eropa banyak sekali bus tingkat untuk sekedar keliling Kota, tak terkecuali di Belgia. Untuk mengikuti us Hop On, Hop Off Citysightseeing Brussels, wisatawan membayar €25 berlaku 24 jam. Artinya wisatawan bisa naik bus sepuasnya keliling Brussels serta tempat pemberhentiannya pun di tempat-tempat turis alias tempat wisata Brussels.  Namun jangan tanya aku apa beli atau tidak untuk bus ini karena dipastikan itu adalah pertanyaan retoris. Meski ingin sekali mencoba naik bus keliling Brussels layaknya turis, namun mengingat uang €25, mending uangnya buat bus ke negara lain di Eropa.  Alhasil kami memilih jalan kaki, selain sehat juga puas kelilling Brussels dari sisi yang lain.

Tour City Brussels

Sebagai orang yang petama kali ke Brussels, Belgia, Kota ini cukup ramah dengan turis.  Jika ingin keliling wisata Kotanya cukup mudah serta berdekatan satu sama lain, sehingga walau dengan jalan kaki bisa dikunjungi. Misalnya untuk area Mural Tin-tin ke Manneken Pis hingga ke Royal Pallace of Brussles cukup dekat dengan jalan kaki. Bahkan wisata Brussels kebanyakan gratis karena memang wisatanya lebih kepada bangunan tua, Gereja, istana, museum, sampai patung bahkan Mural alias karya gambar di dinding.

Wisatanya yang agak jauh dan juga iconic adalah Atomium dari Manneken Pis namun tetap masih bisa dilakukan dalam sehari. Kalau aku cukup beruntung karena Thimo membawa mobil dan menemaniku untuk trip singkat di Brussels karena memang tidak ada niat untuk menginap di Belgia.

Hal menarik lainnya dari Belgia yang aku suka adalah kulinernya. Sampai-sampai ada sebuah toko dengan replika Manneken Pis sedang makan waffle. Yah memang kalau ke Belgia wajib hukumnya untuk mencoba waffle.

Aku dan Thimo bahkan sempat berhenti di sebuah toko karena kami penasaran kenapa begitu banyak yang antri. Toko tersebut menjual waffle dengan patung Manneken Pis dengan tulisan tahun 1619 di depan tokonya. Seru sekali melihat keramaian kota brussels dengan turis yang heboh dengan mencoba kulinernya. Memang rasa waffle Belgia lumayan enak walau sebenarnya rasanya waffle seperti waffle kebanyakan namun sensasi makan waffle di Belgia itu yang seru. Bahkan banyak sekali turis habis membeli waffle langsung berphoto biar kekinian. Katanya gak ke Belgia kalau tidak makan waffle, padahal kalau dipikir-pikir edan juga jauh-jauh ke Belgia demi sebuah waffle.

Selain keseruan melihat keramain di Brussels, yang aku suka dari Kota ini adalah kebersihannya serta gaya gothic bangunan tuanya. Mengunjungi Brussles serasa kembali ke abad silam 🙂

Brussels

Lain cerita tentang Mural pas di Brussels, Belgia. Paling tidak pas di Brussels meski trip singkat kami dapat melihat 3 Mural walau jujur saja sebenarnya mengingatkanku akan Penang. Entah kenapa melihat dinding yang dicat dengan gamabr-gambar lucu-lucu itu membuatku rindu perjalanan dengan Geng Kamseupay.

Baca perjalanan kami di Penang

Bedanya kalau di Brussels, memang muralnya benar-benar seperti kartun. Kalau di Penang kan agak ditambahin sesuatu biar kelihatan lebih hidup. Namun tetap sama, sama-sama dinding yang di cat terus jadi deh tempat wisata. Sayangnya pas di Mural Tin-tin dibagian bawahnya ada coretan tambahan sehingga merusak esensi dari Tin-tin itu sendiri. Coretannya ngasal sehingga merusak gambar Tin-tin setinggi dua lantai rumah itu.

Tin-tin Mural, Belgia

Pas aku dan Thimo di dekat Tin-tin kami bertemu dengan turis Indonesia. Ingin rasanya menyapa mereka tapi karena dalam group akhirnya aku memutuskan untuk mengurungkan niatku. Sepanjang perjalanan di Eropa lumayan banyak aku bertemu dengan wisatawatan asal Indonesia namun kebanyakan  memang dalam group, tidak sepertiku yang sendirian. Bahkan biasanya turis Indonesia yang aku jumpain kalau tidak, “orang tua” maka yang aku jumpain adalah “mahasiswa Indonesia” yang mendapatkan beasiswa kemudian jalan-jalan di Eropa. Kalau aku mengatakan jalan sendiri maka yang terlintas dalam benak mereka adalah “berani”. Padahal mereka tidak tahu saja aku hanya sok berani saja.

Tak jauh dari Mural Tin-tin banyak tempat yang menjual souvenir ala Brussels mulai dari kaos, gantungan kunci hingga pernak-pernik ala Brussels. Tapi disini aku tidak membeli oleh-oleh khas Belgia karena perjalanan Eropaku masih panjang serta adanya ultimatum untuk tidak membeli gantungan kunci.

Selain belanja pernak-pernik ala Brussels, ada juga tempat yang menarik yang tak sengaja aku dan Thimo temukan ketika berjalan kaki. Tempat itu beruapa sebuah bekas bangunan yang mirip dengan benteng. Sayang tempatnya terbengkalai dan tidak begitu banyak turis, namun cukup photogenic untuk sekedar menghias Instagram.

Aku dan Thimo berjalan kaki selama 4 jam di Brussels dan entah kenapa aku suka dengan Kota Brussels, mungkin karena banyak yang bisa dilakukan selama di Brussels. Apalagi Manneken Pis sudah ada di daftar wisata yang ingin aku kunjungi di Eropa. Bukan apa-apa aku penasaran kenapa bisa dia begitu terkenalnya, padahal kan patung doang ya?

Winny, please do not expect too much for Mannaken, kata  Thimo
And it's really tiny, lanjutnya lagi
When the last time did you visit it?, tanyaku
Years ago, when i was student lanjutnya

Meski si Thimo ke Brussels sudah lama sekali itupun ikut tur dari Sekolahnya, tapi dengan bantuan HP nya dia bisa mengetahui lokasi Manneken Pis. Dialah tourguide ku selama di Belgia serta cukup membantuku mengunjungi spot wisata Brussels.

Mannaken Pis

Ketika mencari Mannaken Pis cukup mudah, caranya tinggal ikutin saja anka sekaloah, turis dalam jumlah besar karena banyak sekali wisatawan ke Brussels demi patung si bocah genit ini. Petunjuk jalan ke Manneken Pis pun cukup banyak sehingga tidak perlu takut nyasar. Hanya saja memang pas sampai disana betapa kagetnya aku bahwa patungnya benar-benar kecil. Tidak seperti biasa, si bocah ini sudah pakai baju. Si Bocah genit berubah menjadi “pelajar cendikiawan” dengan memakai Toga.

Oala Mannaken Pis, gak tahan lihat gayanya!

Untuk photo dengan si Bocah Manneken Pis pun harus antri saking bnayaknya turis memadati Mannaken Pis yang dibatasi sebuah pagar. Sayangnya pas aku mengunjungi Mannaken Pis, bangunan penyangganya sedang renovasi sehingga sedikit merusak pemandangan. Memang Manneken Pis berada di sebuah pojokan bangunan, dan ukurannya sungguh mini.

Disini aku merasa dikerjain oleh Mannaken Pis, karena apa hebatnya si patung ini sampai menjadi iconic banget. Sungguh aku tidak habis pikir 😉

Waktu jumpa si Mannaken Pis pun sangat singkat karena begitu ramainya turis. Untungnya aku ekpektasinya gak terlalu tinggi sih sehingga melihat patung kecil tidak membuatku kecewa.

Malahan perhatianku malah dicuri oleh anak-anak sekolah yang berada di Manneken Pis.

Thimo, i want to take photo with that cute kids, pintaku
What? katanya

Iya jadi aku malah tertarik ingin berphoto ala-ala dengan bocah-bocah bule ketimbang dengan Mannaken Pis, bahkan sempat ingin mengikuti mereka. Sampai si Thimo pusing melihat tingkahku dan menakut-nakutiku.

Manneken Pis, Brussels
Do not tell me that you are far away from Indonesia to Belgium
just want to take photo with kids, katanya sedikit mengejek

You are not curious because they are blondie, are not u? lanjutnya lagi

Terus aku masa bodoh dan tetap photo dengan bocah bule yang lucu-lucu. Dan si kawan juga berhasil mengambil photoku dengan anak sekolah yang rasa penasarannya cukup besar.

Kapan lagi berphoto dengan anak-anak bule pas di Mannaken?

Setelah puas melihat Mannaken Pis, si Thimo akhirnya mengajakku ke tempat yang tak kalah seru lagi berupa Mural Mannaken Pis. Iya ternyata ada loh Mural Manneken Pis di salah satu bangunan rumah. Gambarnya juga kocak dengan gaya yang lain. Kali ini si bocah Manneken bergaya casual.

Memang wisata Brussels ini ada-ada saja hehehe:)

Alamat Manneken Pis

Salam

Winny