Duduk Cantik di Town Hall dan Grand Place, Brussels


“Sometimes the thing you’re searching for your whole life is right there by your side all along.”

By Guardians of the Galaxy Vol. 2

Hello World!

Belgia, Maret 2017

Salah satu tujuan utama turis ke Brussels, Belgia adalah mengunjungi Grand-Place, sebuah UNESCO World Heritage Site. La Grand-Place Brussels letaknya tersembunyi padahal salah satu tempat yang “wow” di dunia. Bahkan untuk sampai ke Brussels Town Hall dan Grand Place Brussels harus melewati pasar serta berada di antara enam gang sempit.

Bersama Thimo, aku melakukan perjalanan dan mencari Town Hall dan La Grand-Place, Brussels. Tentu mencarinya tidak terlalu susah, petunjuk jalan jelas serta adanya Google maps di Hp si Thimo yang sangat membantu. Kalau aku hanya bersifat manis mengikuti pria yang sudah aku kenal sejak 2010 ini. Bisa dikatakan aku beruntung karena selama di Eropa aku selalu bertemu dengan orang baik, walau ada beberapa yang agak-agak namun rata-rata baik. Padahal jujur saja pas di Brussels aku gak tahu mau lihat apa, karena di daftar wisata yang ingin ku kunjungi sebenarnya hanya dua saja yitu “si Bocah genit Manneken Pis” dan bangunan unik “Atomium”. Pas bisa mengunjungi tempat wisata lain di Brussels berarti bonus buatku 🙂

Letak Grand Place Brussels berada di tengah pasar yang dulunya sekitar abad ke 14 merupakan perumahan dari kayu. Keberadaan Town  Hall sudah ada sejak tahun 1402 dan menjadi pusat politik. Tak heran ketika aku dan Thimo memasuki area Town Hall dan La Grand-Place, Brussels sudah dipadati turis.

Paling tidak ada 4 bangunan yang membetuk bujur sangkar, ditengahnya terdapat aula luas dimana turis duduk sambil menikmati pemandangan, bahkan sebagian besar dari turis kebanyakan selfie. Tak heran karena area Town Hall dan La Grand-Place, Brussels sangat cocok untuk janjian ketemuan dengan teman atau sekedar duduk cantik sambil nyantai di Brussels. Apalagi bangunannya kebanyakan dari abad ke 17, serta gaya arsitekturnya memberikan gambaran jelas tentang tingkat kehidupan sosial di masa itu.

Kesan “vintage” dan ala Kerajaan pun terasa sekali di area ini, bahkan pas aku berhenti di area alun-alun yang pertama di dalam benakku adalah kata “keren”.  Belum ornamen serta patung sebagai penghias di bangunan.

Thimo, where is the Grand Place?, tanyaku kepada Thimo

To be honest, i do not know, katanya

Bahkan yang mana Hôtel de Ville di Town Hall, serta mana Grote Markt (Dutch) / Grand-Place (French) dan mana City Museum/Maison du Roi (French) tidak bisa kami bedakan. Maklum kesananya tanpa tourguide serta tidak membaca buku sama sekali.

Disini aku merasa gagal jadi turis!

Akhirnya kerjaanku dengan si Thimo adalah menerka-nerka bangunan yang ada. Hingga akhirnya si Thimo menerka sebuah bangunan Grand Palace itu yang memiliki kubah menjulang tinggi berwarna putih dan yang paling nyentrik diantara bangunan yang ada.

Dari sejarah Grand Place ternyata banyak kejadian/peristiwan yang terjadi di Grand Place antara lain:

Tahun 1523: Hendrik Voes dan Jan Van Essen, dibakar oleh Inkuisisi di sana     

Tahun 1568:  Egmont dan Hoorn dipenggal di sana     

Tahun 1695: Selama Perang Liga Augsbourg, sebagian besar rumah di Grand Place hancur saat pemboman Kota oleh tentara Prancis dari Marshal De Villeroy.

Jadi tak heran kalau Grand Place menjadi  alun-alun Kota Brussels yang dikelilingi gedung-gedung tua bersejarah.

Grand Place dan Town Hall memang sangat menarik untuk dikunjungi bahkan banyak acara tahunan diadakan seperti festival bunga. Keunikan lain dari Grand Place dan Town Hall Brussels, dari segi Bahasa dimana orang Brussel memakai bahasa resminya sehari-hari adalah Bahasa Perancis dan Belanda serta perpaduan keduanya karena memang letak negara Belgia ketaknya berada di antara Belanda dan Perancis. Karena penduduk Brussels bisa berbahasa Perancis sehingga memudahkan Thimo dalam mencari informasi di Belgia.

It's too crowded, kata Thimo

Akhirnya aku menunjukkan tempat di ujung sambil duduk cantik mengikuti turis lain sambil menikmati Brussels di alaun-alun Kota Brussels.

Oh ya untuk lantai di alaun-alun Kota Brussels ini lantainya sudah di semen loh sehingga tak heran kalau turis yang datang berleha-leha duduk tanpa takut bajunya kotor. Meski kelihatan cerah, percayalah pas musim semi, suhu di Belgia lumayan dingin terutama untuk anak tropis.

Keramaian di Town Hall dan Grand Place Brussels membuatku betah berlama-lama, tapi apa daya si Thimo belum juga 1 jam sudah mengajak jalan keluar dari alun-alun. Padahal seru aja pas melihat berkumpulnya turis dari berbagai macam negara di area alun-alun Kota Brussels.

Duduk cantik di Grand Place atau disebut Grotte Markt yang merupakan alun-alun kota Brussels merupakan pilihan yang tepat untuk sekedar refreshing atau cuci mata juga bisa. Cuci mata dengan bangunan jadul dengan gaya klasik serta lapangan luas untuk haha hihii. Tapi jangan cari jodoh ya kak di Grotte Markt, karena nanti dapatnya waffle lagi 🙂

Salam

Winny

Iklan

Manneken Pis dan Trip Singkat Brussels


Manneken Pis is a landmark small bronze sculpture in Brussels, depicting a naked little boy urinating into a fountain’s basin. It was designed by Hiëronymus Duquesnoy the Elder and put in place in 1618 or 1619

By Wikipedia

Hello World!

Belgium, Maret 2017

Setelah mencoba waffle dan fries Belgia yang super terkenal, akhirnya aku dan Thimo melanjutkan perjalanan demi mencari Mannaken Pis, Brussels.  Belum sampai di patung fenomenal dari abad ke 17, di dalam perjalanan  dengan jalan kaki, kami sempat menemukan beberapa Mural berbentuk komik di dinding rumah warga lokal, baca perjalanan di Belgia 

Sebenarnya kami mencari mencari Mural Tin-tin karena memang mural Tin-tin cukup terkenal dan menjadi salah satu yang dicari di Brussels selain si bocah terkenal dengan pipisnya, Manneken Pis. Suhu Brussels saat kami kunjungi cukup dingin untukku meski terlihat cerah, namun yang pasti saat jalan kaki keliling Brussels aku sempat melihat bus Hop On, Hop Off untuk Citysightseeing Brussels. Sebelas dua belas seperti yang ada di Singapura dan Malaysia. Jadi dengan naik bus dengan membayar uang tertentu maka bisa keliling Kota. Kalau di Jakarta ada bus tingkat yang sama juga bernama Mbok Siti tapi di Jakarta enak karena naik bus tingkat keliling Jakarta gratis untuk siapapun termasuk turis.

Nah di Eropa banyak sekali bus tingkat untuk sekedar keliling Kota, tak terkecuali di Belgia. Untuk mengikuti us Hop On, Hop Off Citysightseeing Brussels, wisatawan membayar €25 berlaku 24 jam. Artinya wisatawan bisa naik bus sepuasnya keliling Brussels serta tempat pemberhentiannya pun di tempat-tempat turis alias tempat wisata Brussels.  Namun jangan tanya aku apa beli atau tidak untuk bus ini karena dipastikan itu adalah pertanyaan retoris. Meski ingin sekali mencoba naik bus keliling Brussels layaknya turis, namun mengingat uang €25, mending uangnya buat bus ke negara lain di Eropa.  Alhasil kami memilih jalan kaki, selain sehat juga puas kelilling Brussels dari sisi yang lain.

Tour City Brussels

Sebagai orang yang petama kali ke Brussels, Belgia, Kota ini cukup ramah dengan turis.  Jika ingin keliling wisata Kotanya cukup mudah serta berdekatan satu sama lain, sehingga walau dengan jalan kaki bisa dikunjungi. Misalnya untuk area Mural Tin-tin ke Manneken Pis hingga ke Royal Pallace of Brussles cukup dekat dengan jalan kaki. Bahkan wisata Brussels kebanyakan gratis karena memang wisatanya lebih kepada bangunan tua, Gereja, istana, museum, sampai patung bahkan Mural alias karya gambar di dinding.

Wisatanya yang agak jauh dan juga iconic adalah Atomium dari Manneken Pis namun tetap masih bisa dilakukan dalam sehari. Kalau aku cukup beruntung karena Thimo membawa mobil dan menemaniku untuk trip singkat di Brussels karena memang tidak ada niat untuk menginap di Belgia.

Hal menarik lainnya dari Belgia yang aku suka adalah kulinernya. Sampai-sampai ada sebuah toko dengan replika Manneken Pis sedang makan waffle. Yah memang kalau ke Belgia wajib hukumnya untuk mencoba waffle.

Aku dan Thimo bahkan sempat berhenti di sebuah toko karena kami penasaran kenapa begitu banyak yang antri. Toko tersebut menjual waffle dengan patung Manneken Pis dengan tulisan tahun 1619 di depan tokonya. Seru sekali melihat keramaian kota brussels dengan turis yang heboh dengan mencoba kulinernya. Memang rasa waffle Belgia lumayan enak walau sebenarnya rasanya waffle seperti waffle kebanyakan namun sensasi makan waffle di Belgia itu yang seru. Bahkan banyak sekali turis habis membeli waffle langsung berphoto biar kekinian. Katanya gak ke Belgia kalau tidak makan waffle, padahal kalau dipikir-pikir edan juga jauh-jauh ke Belgia demi sebuah waffle.

Selain keseruan melihat keramain di Brussels, yang aku suka dari Kota ini adalah kebersihannya serta gaya gothic bangunan tuanya. Mengunjungi Brussles serasa kembali ke abad silam 🙂

Brussels

Lain cerita tentang Mural pas di Brussels, Belgia. Paling tidak pas di Brussels meski trip singkat kami dapat melihat 3 Mural walau jujur saja sebenarnya mengingatkanku akan Penang. Entah kenapa melihat dinding yang dicat dengan gamabr-gambar lucu-lucu itu membuatku rindu perjalanan dengan Geng Kamseupay.

Baca perjalanan kami di Penang

Bedanya kalau di Brussels, memang muralnya benar-benar seperti kartun. Kalau di Penang kan agak ditambahin sesuatu biar kelihatan lebih hidup. Namun tetap sama, sama-sama dinding yang di cat terus jadi deh tempat wisata. Sayangnya pas di Mural Tin-tin dibagian bawahnya ada coretan tambahan sehingga merusak esensi dari Tin-tin itu sendiri. Coretannya ngasal sehingga merusak gambar Tin-tin setinggi dua lantai rumah itu.

Tin-tin Mural, Belgia

Pas aku dan Thimo di dekat Tin-tin kami bertemu dengan turis Indonesia. Ingin rasanya menyapa mereka tapi karena dalam group akhirnya aku memutuskan untuk mengurungkan niatku. Sepanjang perjalanan di Eropa lumayan banyak aku bertemu dengan wisatawatan asal Indonesia namun kebanyakan  memang dalam group, tidak sepertiku yang sendirian. Bahkan biasanya turis Indonesia yang aku jumpain kalau tidak, “orang tua” maka yang aku jumpain adalah “mahasiswa Indonesia” yang mendapatkan beasiswa kemudian jalan-jalan di Eropa. Kalau aku mengatakan jalan sendiri maka yang terlintas dalam benak mereka adalah “berani”. Padahal mereka tidak tahu saja aku hanya sok berani saja.

Tak jauh dari Mural Tin-tin banyak tempat yang menjual souvenir ala Brussels mulai dari kaos, gantungan kunci hingga pernak-pernik ala Brussels. Tapi disini aku tidak membeli oleh-oleh khas Belgia karena perjalanan Eropaku masih panjang serta adanya ultimatum untuk tidak membeli gantungan kunci.

Selain belanja pernak-pernik ala Brussels, ada juga tempat yang menarik yang tak sengaja aku dan Thimo temukan ketika berjalan kaki. Tempat itu beruapa sebuah bekas bangunan yang mirip dengan benteng. Sayang tempatnya terbengkalai dan tidak begitu banyak turis, namun cukup photogenic untuk sekedar menghias Instagram.

Aku dan Thimo berjalan kaki selama 4 jam di Brussels dan entah kenapa aku suka dengan Kota Brussels, mungkin karena banyak yang bisa dilakukan selama di Brussels. Apalagi Manneken Pis sudah ada di daftar wisata yang ingin aku kunjungi di Eropa. Bukan apa-apa aku penasaran kenapa bisa dia begitu terkenalnya, padahal kan patung doang ya?

Winny, please do not expect too much for Mannaken, kata  Thimo
And it's really tiny, lanjutnya lagi
When the last time did you visit it?, tanyaku
Years ago, when i was student lanjutnya

Meski si Thimo ke Brussels sudah lama sekali itupun ikut tur dari Sekolahnya, tapi dengan bantuan HP nya dia bisa mengetahui lokasi Manneken Pis. Dialah tourguide ku selama di Belgia serta cukup membantuku mengunjungi spot wisata Brussels.

Mannaken Pis

Ketika mencari Mannaken Pis cukup mudah, caranya tinggal ikutin saja anka sekaloah, turis dalam jumlah besar karena banyak sekali wisatawan ke Brussels demi patung si bocah genit ini. Petunjuk jalan ke Manneken Pis pun cukup banyak sehingga tidak perlu takut nyasar. Hanya saja memang pas sampai disana betapa kagetnya aku bahwa patungnya benar-benar kecil. Tidak seperti biasa, si bocah ini sudah pakai baju. Si Bocah genit berubah menjadi “pelajar cendikiawan” dengan memakai Toga.

Oala Mannaken Pis, gak tahan lihat gayanya!

Untuk photo dengan si Bocah Manneken Pis pun harus antri saking bnayaknya turis memadati Mannaken Pis yang dibatasi sebuah pagar. Sayangnya pas aku mengunjungi Mannaken Pis, bangunan penyangganya sedang renovasi sehingga sedikit merusak pemandangan. Memang Manneken Pis berada di sebuah pojokan bangunan, dan ukurannya sungguh mini.

Disini aku merasa dikerjain oleh Mannaken Pis, karena apa hebatnya si patung ini sampai menjadi iconic banget. Sungguh aku tidak habis pikir 😉

Waktu jumpa si Mannaken Pis pun sangat singkat karena begitu ramainya turis. Untungnya aku ekpektasinya gak terlalu tinggi sih sehingga melihat patung kecil tidak membuatku kecewa.

Malahan perhatianku malah dicuri oleh anak-anak sekolah yang berada di Manneken Pis.

Thimo, i want to take photo with that cute kids, pintaku
What? katanya

Iya jadi aku malah tertarik ingin berphoto ala-ala dengan bocah-bocah bule ketimbang dengan Mannaken Pis, bahkan sempat ingin mengikuti mereka. Sampai si Thimo pusing melihat tingkahku dan menakut-nakutiku.

Manneken Pis, Brussels
Do not tell me that you are far away from Indonesia to Belgium
just want to take photo with kids, katanya sedikit mengejek

You are not curious because they are blondie, are not u? lanjutnya lagi

Terus aku masa bodoh dan tetap photo dengan bocah bule yang lucu-lucu. Dan si kawan juga berhasil mengambil photoku dengan anak sekolah yang rasa penasarannya cukup besar.

Kapan lagi berphoto dengan anak-anak bule pas di Mannaken?

Setelah puas melihat Mannaken Pis, si Thimo akhirnya mengajakku ke tempat yang tak kalah seru lagi berupa Mural Mannaken Pis. Iya ternyata ada loh Mural Manneken Pis di salah satu bangunan rumah. Gambarnya juga kocak dengan gaya yang lain. Kali ini si bocah Manneken bergaya casual.

Memang wisata Brussels ini ada-ada saja hehehe:)

Alamat Manneken Pis

Salam

Winny

Perjalanan Revin-Brussel


A thousand words couldn’t bring you back…

but with money does

By Unknown

Hello World!

Brussel, Maret 2017

Memiliki kenalan selama di Eropa benar-benar dapat membantu dalam menekan budget perjalanan. Salah satunya keberuntunganku mengenal Thimo yang dengan baik hati menyisihkan waktunya menemani tripku menjelajah Perancis dan Belgia. Bahkan dia rela menjemputku ke Amsterdam dan menginap di rumahnya demi menghemat perjalananku selama di Eropa. Orang tuanya juga sangat welcome sekali kepadaku bahkan ketika mereka tahu aku ingin ke Belgia, mereka langsung menyarankan what to do in Brussels serta what to see in Brussels. Sampai-sampai peta Brussels pun diberikan kepadaku. Mereka ibarat seperti orang tuaku sendiri saking baiknya.

Yah tidak sia-sia membayar uang bensin 60 Euro, walau kalau naik bus Amsterdam-Paris mungkin tidak sampai segitu namun dengan 60 Euro  setidaknya, aku keliling naik mobil mulai dari Amsterdam-Revin. Bonusnya aku bisa berkunjung ke Revin, Kota di Pelosok Prancis yang menarik untuk dikunjungi. Lokasi Revin ke Brussels pun tergolong dekat hanya butuh waktu sekitar 4 jam saja.

Kalau tidak salah! 😉

Belgia

Awalnya hendak sekalian jalan ke Luxembourg namun apa daya keterbatasan waktu serta orang tua Thimo yang tidak terlalu menyarankan ke Luxembourg, akhirnya kami urungkan niat dan hanya pergi ke Brussel saja via Revin dalam waktu satu hari. Padahal walau tak menarik, aku penasaran juga dengan Luxembourg.

Bisa dikatakan perjalanan singkat.

Namun walau singkat menurutku asik saja, karena dengan melakukan naik mobil pribadi maka melihat sisi lain dari Eropa yang mungkin kalau sebagai turis belum tentu bisa mengunjungi tempat yang dilalui tersebut, palingan tempat umum dan turistik banget karena siapa juga turis mau ke Brussels via Revin?

Alhasil inilah gaya perjalananku dengan menikmati Eropa dari sudut yang lain.

Brussels

Perjalanan dengan mobil dari Revin ke Brussels pun tak kalah menariknya. Sepanjang jalan aku dapat melihat kincir angin gede yang mengingatkanku akan film Shaun The Sheeps dengan hamparan rumput hijau kemudian melihat pertanian di pelosok Perancis sampai ke Brussel dengan jalanannya yang rapi. Tidak hanya itu aku juga melihat bentuk dan design rumah penduduk Perancis dan Belgia.

Perjalanan Revin-Brussels

Yang lucu saat di tengah jalan aku melihat supermarket ASIAN FOOD yang ada bendera Indonesianya langsung aku tunjuk.

Hey lets eat Indonesian food there, kataku nyengir kepada Thimo

Entah kenapa selama di Eropa, kalau melihat sesuatu yang berhubungan dengan Indonesia itu rasanya senang sekali sampai membuat senyum sendiri.

Mungkin itu dinamakan rindu kampung!

Belgia

Kami melakukan perjalanan ke Brussels dari jam 9 pagi dan baru sampai ke Brussels sekitar siang. Yang susah adalah mencari tempat parkir di Brussels bahkan harus memutar beberapa kali agar dapat tempat parkir. Meski bukan pas hari libur, namun Brussels lumayan ramai juga. Untungnya tempat parkir yang kami jumpain itu gratis karena kalau bayar maka harus memakai mesin khusus tempat parkir lalu slip pembayaran di tinggalkan di kaca mobil, kalau tidak siap-siap mobil akan digeret dan bayar penalti.

Brussels

Tempat parkir mobil kami tidak jauh dari mural Tin-tin, yang ketika aku mengatakan kata T-I-N T-I-N langsung membuat Ibu Thimo ketawa karena pengucapan Tintin di Peracis sungguh berbeda.

Maklum aksen Perancisku sungguhlah parah hihihi 😀

Dalam perjalanan ke Mural Tin-tin, pandanganku tertuju kepada sebuah Masjid di Brussels. Masjidnya seperti rumah namun ada tulisan Arab sebagai penanda Masjid. Sontak aku senang sekali melihat masjid di Brussels. Paling tidak bayangan negative yang mengatakan jarang ada Masjid di Eropa tidaklah benar. Bahkan disekitar daerah itu  banyak sekali Muslim dan diperbolehkan kok memakai Hijab di tempat umum. Kalau kata Thimo di Perancis untuk pemakaian Hijab memang dibatasi di tempat-tempat tertentu, namun untuk umum sah-sah saja.

Masjid di Brussels
Hey do know what is that?, tunjuk Thimo kepada dinding yang dipenuhi Kartun

I don’t know, kataku karena memang mural tersebut bukan Tintin

Ternyata si Thimo membawaku kepada Mural yang dihiasi tokoh kartun yang dia tahu dari aplikasi permainan Pokemon Go. Karena pengetahuan kartunku minim akhirnya aku tidak terlalu tertarik dengan Mural itu. Padahal dari cerita Thimo, mural itu cukup terkenal. Habis mau gimana ya, emang akunya yang cuwek bebek sehingga mural yang tidak familiar membuatku tidak begitu antusias.

Brussels

Akhirnya kami pun berjalan menuju ke Pusat Brussels tempat semua wisata BRUSSELS ada mulai dari Manneken Pis, Square Bozar, Grand Palace hingga sekedar icip kuliner Belgia yang terkenal berupa Waffle, Fries dan Cokelat.

Semua kami lalui dengan berjalan kaki karena memang jaraknya dari satu tempat ke tempat lain cukup dekat. Kami sempat juga berhenti disebuah Patung berkuda dengan bangunan menarik dibelakangnya, sebelum ke Pasar untuk icip kuliner dan mencari Mannaken Pis.

Brussel

Pas seberang jalan eh tahu gak dengan spontan aku berteriak kayak orang kampung ketika melihat Cheery Blossom

Wow, cherry Blossom, kataku dengan setengah teriak 
yang membuat Thimo hampir malu

Haha, what do you think? There is not any Cheery in Belgium?, 
kata Thimo sedikit tidak percaya

Well, I think cherry blossom only in Japan, jawabku dengan naif

Si Thimo geleng-geleng kepada melihat tingkahku yang kegirangan hanya lantaran gara-gara bunga. Entahlan kenapa ketemu si bunga mekar ini sisi feminimku keluar, yang pasti aku tahu dengan melihatnya mekar  sudah membuatku bahagia, bunganya benar-benar cakep apalagi terkena matahari terik.

Terus gratis lagi lihatnya!

Namun jangan salah, meski cuaca kelihatan terik di Brussels pas bulan Maret tapi lumayan membuatku harus meminjam Jaket si Thimo. Bahkan selama di Eropa selama sebulan antara Maret-April suhu yang gak dingin itu sekitar 18 Derajat dan itu sudah termasuk panas buat mereka. Kalau aku mah boro-boro dibawah 10 Derajat, 18 Derajat aja membuatku kedinginan.

Anak  tropis, 😀

Brussel

Setelah puas dengan cheery yang mekar, akhirnya aku dan Thimo masuk kedalam Pasar yang memiliki tempat untuk kuliner. Sebelumnya kami juga melewati Gereja Tua dengan warna batanya dan sempat singgah sebentar ke dalam.

Setelah itu kami melanjutkan perjalanan.

Pas belum jauh melangkah si Thimo langsung memperlihatkan toko permen dan cokelat yang lumayan tua dari tahun 1857, dan toko-toko begini mudah ditemukan di Brussels. Memang Eropa itu paling kaya dengan bangunan tua-tua nan awet. Sayang kami tidak icip permen dan cokelatnya karena Thimo akan mengajakku mencoba cokelat di Paris dan memang aku akui kalau dia ahli dalam hal makanan.

Brussel

Bicara makanan, di Belgia itu wajib hukumnya mencoba Waffle, karena kuliner khas yang terkenal Belgia banget itu yah si waffle ini dan satu lagi kerang. Namun sebelum mencoba Waffle, frites juga patut dicoba.

Aku dan Thimo sempat mencoba kentang goreng ala Belgia karena melihat kerumunan pengunjung yang lumayan banyak. Untuk harga, aku terpaksa mengeluarkan kocek 10 Euro untuk kami berdua, disitu aku sedih. Namun terbayar karena rasanya lumayan enak. Makannya pun tak kalah menarik, “berdiri”. Bahkan kalau beli saus harus bayar ekstra lagi, tidak seperti di Indonesia semua hratis.

Disini aku rindu makanan Indonesia, udahlah murah, enak, porsinya banyak lagi!

Nah setelah puas menocba kentang goreng yang lumayan ok, akhirnya kami mencari waffle terenak di Brussel. Kalau si Thimo jelas-jelas memakai panduan Trip Advisor, sementara aku pas lihat waffle murah 3 Euro langsung aku beli saja sampai membuat si Thimo stress berat

Wait, I will show you the real Belgium Waffle, katanya dengan percaya diri

Dan ternyata benar, pilihan waffle Thimo berikan rasanya sungguh nikmat. Tidak sia-sia ke Brussel demi sebuah waffle. Pokoknya ke Brussels wajib hukumnya mencoba waffle Belgia barulah bisa dikatakan mengunjungi Belgia 🙂

Belgium Fries

Puas dengan icip kuliner di Pasar Brussels akhirnya aku dan Thimo melanjutkan perjalanan, kali ini ingin mencari Mannaken Pis, si bocah yang fenomenal dengan pipisnya.

Salam

Winny

Fortification de Rocroi Kota Berbentuk Pentagon di France


Learn from yesterday, live for today, hope for tomorrow. The important thing is not to stop questioning

By Albert Einstein

Hello World!

France, March 2017

Take a look trees everywhere, Winny!

Begitulah kata Thimo kepadaku ketika mengendarai mobilnya ketika kami melakukan perjalanan dari Revin menuju ke Belgia.

Well, somehow i think these threes are amazing, kataku

C'mon if you see this everyday, trust me you will die in boredom, katanya

Pernyataan Thimo ini tentulah masuk akal, bisa saja aku yang orang asing baru melihat sisi Eropa dengan pohon disepanjang jalan kelihatan keren, namun bagi mereka yang terbiasa hidup dengan melihat pohon setiap hari apalagi kalau kebetulan pohonnya mati pasti membosankan.

Aku sempat berpikir bagaimana tinggal di Eropa yang jauh dari Kota dengan sumber daya alam terbatas?

Well, paling tidak di kampungku Padangsidempuan masih ada persawahan, penduduknya masih ramai, tanahnya subur dan lempar tongkat sudah jadi tanaman, namun di Kota kecil ini yang hanya ada kayu tok tentu aku tidak bisa banyangkan.

Pantas saja kalau ada turis dari Perancis dimana itu Revin mereka kelihatan bingung sendiri.

Apakah saking gak terkenalnya Revin ini atau memang tidak ada di peta Perancis?

Ternyata karena pengucapanku yang salah karena aku membacanya REVIN dengan kata datar seperti membaca HURUF R-E-V-I-N sementara aksen Perancis itu jelas-jelas SENGAU seolah pengucapannya REVANG’.

Entah benar pengucapanku, namun yang pasti belajar BAHASA PERANCIS adalah hal tersulit dalam hidupku. Bahkan kata Thimo aksen Perancisku merupakan akses terburuk yang pernah dia dengar. Hahahha 😀

Sisi positivenya, walau bahasa Perancisku merupakan terburuk, toh akhirnya aku merupakan orang beruntung bisa juga sampai ke Revin, salah satu Kota di Perancis yang jarang ada turisnya. Disitu aku merasa senang dengan keantimainstreaman dapat mengunjungi tempat yang orang Perancis belum tentu kunjungi.

Revin
You  know Winny, i will bring you the place 
that really you "heritage" and "old town", kata Thimo dengan semangat

It's on the way to Belgium and its nearby, katanya lagi

Sebagai penumpang yang baik budi, tentu saja aku mengikuti ajakannya. Toh aku juga tidak tahu jalan, ditambah tidak bisa bahasa Perancis. Dibawa jalan dengannya saja sudah membuatku senang, apalagi hratisan terus dia bersedia menampungku yang rencana melakukan perjalanan solo traveling di Eropa sebulan lamanya.

Memang aku cukup beruntung karena si Thimo ini baiknya kebangetan, dan dia merupakan best of the best person that i ever know. Bisa dibilang aku sudah mengenalnya sejak tahun 2010 dan siapa sangka ada juga kesempatan mengunjungi kediamannya di Perancis.

Sepanjang perjalanan, aku “anteng” sekali menikmati perjalanan sambil mengamati bentuk rumah ala Perancis yang aku sukai. Designnya unik, sederhana namun dari bata sehingga kesan sederhana, elegan dan vintage terasa sekali di Perancis. Tidak hanya itu Gereja di Perancis pun kelihatan tua juga dari warna dan bentuknya yang menurutku hampir sama. Pertama kali melihat aku langsung berkata “wow”, sampai si Thimo tertawa sambil ngeledikin “semua wow yah” namun  lama kelaaman di Eropa terakhir malah membuatku merasa “bosan”.

Yah begitulah manusia kesan pertama begitu menggoda kemudian bisa berubah 90 derajat.

Fortification de Rocroi
Winny, this is place that i told you, Fortification de Rocroi, kata Thimo

Kemudian Thimopun mencari tempat parkir untuk mobilnya lalu kami berjalan kaki ke arah bukit.

Kota ini menurutku sangat antik dan tua. Bangunannya serta ada Gereja tua menjualang tinggi bahkan tidak ada cat warna di rumah penduduk, warna rumah asli dari warna bata/batu penyusun rumah. Lantai jalananpun bukan dari tanah sehingga kesan heritage begitu kental di KOTA Fortification de Rocroi.

Lalu  kamipun menaiki sebuah bukit yang tertutupi rumput, melalui jalanan setapak yang bersih. Dari bukit, disinilah aku melihat keunikan dari Fortification de Rocroi, salah satu wisata di Perancis.

Dari sejarah, sekitar pada pertengahan abad ke-16 raja Prancis Henry II memerintahkan agar kota Rocroi diperkuat untuk melawan benteng Charlemont yang sedang dibangun oleh Kaisar Charles. Orang Prancis membangun sebuah benteng yang kokoh dalam bentuk pentagon (lima sisi) di sekitar kota. Kegunaan Banteng ini untuk pertahanan Kota dari musuh.

Pada tahun 1643 Spanyol berusaha menyerang Prancis, mengepung Rocroi dengan kekuatan besar. Sebuah kekuatan yang dipimpin oleh Duc d’Enghien bertemu dengan pasukan Spanyol tepat di sebelah selatan kota, tempat Prancis mengalahkan Spanyol pada Pertempuran Rocroi. Terlepas dari kemenangan Prancis pada tahun 1643, orang Spanyol memang menduduki Rocroi dari tahun 1653 sampai 1659.
Pada tahun 1673, ketika Vauban mengunjungi Rocroi, dia menyesuaikan kembali pertahanan tersebut dan menambahkan beberapa pekerjaan tambahan.

Kota ini berbentuk pentagon biasa, dengan lima benteng.

Ada dua pintu masuk ke kota: Porte de Bourgogne terletak di timur laut antara Bastion du Roi dan Bastion de Petit dan Porte de France terletak di barat daya (menghadap ke arah Prancis) antara Bastion de Nevers dan Bastion de Montmorency.

Fortification de Rocroi

Pas mengunjungi Fortification de Rocroi yang terbayang olehku adalah Banten Lama.

Dalam hatiku “aje Gilee ini mah mirip Kaibon dan Suwosowan yang ada di Banten lama”.

Apalagi pas melihat dindingnya yang terbengkalai serta nuansa Kota Rocroi.

Hijau rumputnya, warna bangunanya yang tua.

Ini apakah pikiran yang salah atau gimana ya, jauh-jauh ke Perancis yang aku bayangkan malah Kota Banten 😉

Bedanya di Fortification de Rocroi kotanya memang berbentuk pentagon alias lima sisi.

Disini aku berandai memiliki drone pasti asik mengambil photo Kota Rocroi dari atas agar terlihat sisi limanya.

Yang pasti dari bukit kelihatan betuk lima sisi dari Rocroi. Tidak hanya itu dari papan informasi mengenai Fortification de Rocroi, maka diketahui umur masing-masing dari sisa bangunan. Mulai dari dinding hingga bentuk seperti terowongan, namun yang pasti benteng ini pernah menjadi pertahanan Kota Rocroi. Dan yang paling tua sekitar tahun 1600an.

Untuk akses ke Kota Rocroi tidak bisa dengan kereta, hanya bisa dengan bis dari kota terdekat seperti Charleville atau Hirson. Dengan jalan darat, kota ini mudah dijangkau dari Charleville, dan akan sesuai dengan kunjungannya ke Givet, Dinant, atau salah satu benteng Pré Carré di daerah tersebut.
Benteng hampir terbuka untuk umum, tanpa biaya, jadi bisa sepuasnya bersantai ria di benteng. Bahkan disekitar daerah Kota Rocroi ada hotel tua lengkap dengan pasar.

Hanya saja, entah kenapa aku merasa Kota ini kesannya agak “mati” saking sepinya. Entah karena kedatangan kami yang pagi hari atau memang orangnya memang sedikit. Yang pasti saat menaiki bukit Kota Rocroi pengunjungnya hanya aku dan Thimo saja. 

Winny, this part is my favorite, tunjuk Thimo kepada bangunan tua dari Rocroi

Dan benar, naik ke tempat itu merupakan sisi terbaik dari Fortification de Rocroi karena bisa melihat langsung Kota Rocroi dari atas dengan susunan rumuah tua dengan Gereja. Dikelilingi pembatas membentuk sisi lima, dengan warna hijau.

Cukup manrik untuk piknik dadakan di Kota Rocroi!

Tak lama-lama kami berada di Kota Rocroi namun meninggalkan kesan tersendiri, paling tidak aku mengunjungi Kota Banten Lama rasa Perancis. Meski terbengkalai namun siapa sangka ada tempat semenarik ini yang tak jauh dari Revin, salah satu yang menjadi daftar kunjunganku selama melakukan backpacker ke Eropa.

Salam

Winny

Hang Out di Amsterdam


“The sun kept on with its slipping away, and I thought how many small good things in the world might be resting on the shoulders of something terrible.”
By Carol Rifka 

Hello World!

Amsterdam, Maret 2017

Jam 8 pagi aku sudah mengemas barang-barangku karena aku harus pindah ke Negara tujuanku berikutnya yaitu Perancis. Thimo akan menjemputku jam 10 pagi artinya aku masih memiliki waktu 2 jam lagi untuk sekedar berkeliling Lelylaan, tempatku menginap selama di Amsterdam. Hostku yang bernama Bas masih tertidur di ruang tamunya karena semalam dia ikut merayakan festival dengan orang Iran yang berada di Belanda sementara aku lebih memilih di rumah karena tak tahan dengan udara dingin di Belanda. Walau kedatanganku ke BELANDA pada musim semi, siapa sangka ternyata dinginnya tak dapat aku sesuaikan. Belum lagi salah kostum selama di Eropa, alias salah bawa pakaian. Rata-rata pakaian yang aku bawa hanyalah pakaian kaos tipis dan satu jaket tebal dan dress ala-ala yang tak penting. Disini aku merasa gagal menjadi pejalan karena bukannya membawa pakaian yang sesuai malah membawa pakaian tak penting. Ingin rasanya aku membuang semua pakaian yang aku bawa, bayangkan 15 kg untuk pakaian yang ringan, namun kalau aku buang tidak punya baju dong. Lagian sayang uang juga, alhasil mau gak mau, suka gak suka aku memakai baju hingga 5 lapis. Sama halnya di jam pagi ini, udara Amsterdam di musim semi saja 10 derajat, sungguh aku yang terbiasa dengan suhu 30 hingga 35 Derajat, 10 derajat itu benar-benar dingin buatku. Jangankan 10 Derajat, di kantor yang 18 Derajat saja menggigil tidak karuan. Satu pelajaran lagi yang aku dapatkan kalau mengunjungi Eropa atau negara manapun dengan 4 musim, sesuaikan pakaian dengan iklim di negera tersebut. Jangan sepertiku yang salah membawa pakaian!

Lelylaan

Setelah pakaianku sudah rapi di dalam tas dan aku memakai 5 lapis baju, akhirnya menunggu 2 jam aku iseng-iseng membuka CS dan bergabung dengan Hang out Lelylaan. Eh ternyata beberapa orang Belanda mengajakku jalan dan kebetulan berada di daerah yang sama dengan ku.

"Hey, what are you doing in Lelylaan? begitu katanya
I stay but leaving soon, balasku
So, where are going to? tanyanya
I do not have idea anyway, any recommendation? tanyaku
Let's explore Lelylaan, and i will show you around, jawabnya
Okay, jawabku
I will be there in 5 minutes, katanya

Begitulah percakapanku dengan teman yang baru aku kenal di CS. Seperti yang dikatakannya dia datang pas 5 menit dengan scooternya. Itulah enaknya internet, langsung berkenalan dengan orang sekitra kemudian mau membawa ke tempat yang tidak mungkin aku jangkau kalau sendirian.

Amsterdam
Hey, so where are you going to bring me?, tanyaku kepadanya

Well, i can bring you to two lakes near Lelylaan, katanya
Any lakes around this place? tanyaku dengan tak percaya

Well, yes, and lets go, katanya

Akhirnya dengan scooternya kami menuju Danau yang berada di Lelylaan.

Jujur saja aku tidak menyangka bisa menikmati hari terakhir di Amstedam dan menikmati Danau.

Amsterdam

Danau yang kami kunjungi cukup luas, dan bersih. Banyak sekali pengunjung yang berolahraga disekitar Danau dengan pakaian minim seolah tidak dingin sama sekali. Sementara aku harus memakai pakaian berlapis-lapis karena tidak tahan dengan cuaca dingin. Disini aku merasa iri dengan orang Belanda karena suhu dingin yang aku rasakan tidak ada apa-apanya bagi mereka.

Danau dekat lelylaan ini ternyata terhubung dengan Kanal dan biasanya orang Belanda suka pergi ke Kota dengan kapal yang ada. Bahkan berkat teman yang baru aku kenal ini, aku bisa melihat perumahan penduduk disekitar Danau. Bahkan saat menikmati Danau, orang  Belanda suka membawa anjing kesayangan mereka.

Berdua lah kami menikmati Danau di Belanda sambil bercerita. Sekali-kali pesawat melewati Danau dengan pohon rindang serta rumputan yang menambah keekstoisan Danau.

Di Danau pertama kami hanya singgah sekitar 30 menit saja hingga dia mengajakku ke Danau berikutnya, tempat yang dia suka. Tanpa basa basi akupun naik ke scotternya dan menuju ke Danau berikutntya.

Amsterdam

Sesampai di Danau berikutnya, kamipun berjalan melalui jembatan kecil. Danaunya pun bersih dengan bebek yang bermain di Danau. Yang aneh ketika aku melihat orang Belanda yang hendak diving di Danau. Aku sampai bertanya apa yang bisa dilihat di Danau? Karena setahuku biasanya diving itu di laut bukan di Danau. Namun entahlah hal itu membautku merasa heran. Apa karena tidak adanya laut makanya ke Danau menyelam atau memang sekedar belajar nyelam di Danau, entahlah…

Karena si kawan juga tidak tahu..

Di Danau kedua lebih luas dari Danau pertama, namun di Danau kedua aku menemukan beberapa sampah yang dibuang di sekitarnya. Disini aku menemukan kalau Amsterdam tak sebersih yang terlihat.

This place is my favorite, katanya

Lalu aku membuka biskuit dari tasku dan memberikannya  kepada teman baruku. Maka kami berduapun piknik di tepi Danau.

Amsterdam

Melihat Danau di Amsterdam, entah kenapa aku malah membayangkan Amerika, karena pernah aku lihat disebuah film Danua seperti ini. Karena Danau di Indonesia jauh lebih indah menurutku, namun Danau di Belanda meski tidak begitu wow namun bersihnya itu yang patut diacungkan jempol meski masih ada sampah, namun tidak di Danaunya.

Bersama teman baru ini lah kami bercerita tentang perjalanan. Sampai cerita iseng apakah dia pernah mandi di Danau yang kami kunjungi dan dia berkata dia pernah namun keselamatan jika berenang di Danau menjadi tanggung jawab dirinya sepenuhnya.

Setelah biskuit yang ada habis, kamipun mengambil photo dengan catatan aku tidak boleh mengupload di CS karena pacarnya akan cemburu. Tapi toh aku upload di blog ku hihihi 😀

Perjalanan terakhir di Belanda ditutup dengan nyantai di dua Danau berkat hang out dadakan!

Amsterdam

Ternyata begini hidup di Amstedam, piknik ke Danau secara gratis sambil melihat bebek berenang dan menikmati momen bersama orang asing di negeri asing!

Salam

Winny

Backpackeran ke Eropa sebulan 12 Negara (Nederland, France, Belgium, England, Scotland, Germany, Czech, Austria, Hungary, Kosovo, Italy, Vatican)


Stay true to yourself, yet always be open to learn. Work hard, and never give up on your dreams, even when nobody else believes they can come true but you. These are not cliches but real tools you need no matter what you do in life to stay focused on your path.

By Phillip Sweet

Hello World!

Eropa, Maret-April 2017

Bawa uang berapa ke Eropa untuk satu bulan Win? 
Itulah pertanyaan kak Bijo kepadaku

Mungkin 15 juta doang kak dengan target 15 negara,
jawabku dengan polos

Apa????? Kamu gila? Mana cukup, kata kak Bijo

Aku aja habis 40 jt, kak Emmy aja habis 80 juta berdua, lanjutnya

Itulah sepenggal percakapanku dengan kak Bijo mengenai persiapanku sebelum keberangkatan ke Eropa untuk satu bulan lamanya. Memang perjalanan ke Eropa kali ini termasuk perjalanan paling nekat sepanjang sejarah perjalananku, karena uang yang dibawa pas-pasan terus cita-cita muluk, mau menaklukkan 15 negara.

Itupun pas di hari-H perjalanan ke Eropa ternayat uang yang dibawa malah tidak sampai 15 juta karena akhirnya aku hanya membawa uang cash 600 Euro dan uang cadangan 300 dollar Amerika dan tanpa kartu kredit sama sekali. Mau gimana pas pergi belum gajian (curcol dikit)

Nekat kan?

Namun ternyata Tuhan itu sangat baik kepadaku, karena selama 1 bulan di Eropa, aku bisa survive dengan uang seadanya. Selama di Eropa aku bertemu banyak sekali orang baik yang membantuku mulai dari penginapan gratis, traktir makanan hingga ada yang traktir ke tempat wisata.

Rome

Terus habis berapa 1 bulan di Eropa?

Aku menghabiskan uang di Eropa selama 1 bulan sebanyak 550 Euro + 100 dollar Amerika untuk 12 negara dan sudah termasuk makan, oleh-oleh, ke tempat wisata selama di Eropa, transportasi antar negara di Eropa dan masih banyak lagi.

Seperti yang aku bilang sebelumnya tanpa ada kartu kredit, dan tabungan terbatas. Namun sebelumnya aku sudah membeli tiket pesawat dari Indonesia ke Belanda serta Visa Schengen dan Visa Inggris telah aku dapatkan.

Jadi bersihnya selama sebulan di Eropa bawa 600 euro dan 300 Dollar tadi, Alhamdulillah masih sisa 50 Euro dan 200 Dollar Amerika. 😉

Terus kemana saja di Eropa?

Selama jalan-jalan sebulan di Eropa aku dapat mengunjungi mulai dari negara di Eropa Barat, ke Inggris sampai ke Eropa Timur bahkan daerah Balkan pun dapat aku kunjungi.

Untuk Kota yang aku kunjungi selama 32 hari di Eropa secara berurut dimulai dari Amsterdam, Brussel, Revin, Paris, London, Edinburgh, Bremen, Prague alias Praha, Vienna, Budapest, Phristina, Venice, Pisa, Rome dan Vatican. Terus selama perjalanan antar negara aku sempat melewati Hamburg, Belgrade, Slovakia, Slovenia, Croatia, dan Casanova.

Terus apa rahasia jalan murah ke Eropa?

Mungkin banyak yang bertanya-tanya kok bisa sih murah gitu ke Eropa 1 bulan kena kurang lebih Rp10 juta saja?

(Iya bisa soalnya itu diluar tiket dari Indonesia dan Visa, tok biaya hidup selama di Eropa untuk 1 bulan, terus berpikir keras bagaimana caranya harus uang segitu pas mulai dari makan, penginapan sampai transportasi).

Kok bisa semurah itu?

Gak jual diri kan?

Tenang itu semua bermain taktik.

Aku tidak sampai jual diri kok, jual murah aja tidak laku apalagi jual mahal haha 🙂 (korelasinya apa coba).

Yang pasti aku bisa jalan hemat ke Eropa sebulan karena turun tahta saja dari Backpacker ke Begpacker.

Bayangkan BACKPACKER berubah jadi BEGPACKER!!

Semua dijabani, mulai dari jalan kaki, ngeteng sana-sini, fakir wifi sampai hemat makan roti “tok” sampai eneg makan roti tiap hari.

Disini aku tidak malu menjadi begpacker karena memang bukannya aku minta tapi memang rezeki anak soleh saja banyak yang mentraktir selama di Eropa. Bukan hanya itu aku tertolong banyak di penginapan karena memang rata-rata penginapan aku banyak menumpang di rumah orang namun pernah juga merasakan tinggal di hotel juga sih.

Terus saking hematnya bersepeda dengan £2  di London seharian padahal sepatu lagi rusak terus udara yang suhunya 5 derajat sementara baju salah kostum, hingga jalan kaki di wisata Vienna karena ogah bayar transportasi, belum lagi di Budapest bawa tas 15 kg kemana-mana karena diusir halus oleh hostnya, belum lagi aku tidak ke Keukenhof Belanda karena sayang uang 15 Euro semua itu demi menghemat perjalanan.

Sisi kerennya perjalananku di Eropa meski kere aku bisa juga makan di Restauran Michelin 6 tahun berturut-turut dengan harga 50 Euro sekali makan, bisa masuk juga ke Louvre Paris meski 15 Euro.

So, Perjalanan ke Eropa benar-benar gado-gado, seru karena komplit antara perpaduan suka, duka, tantangan, dan bagaimana caranya hidup di Eropa dengan budget pas-pasan.

Memang Tuhan itu akan melindungi orang baik. Hehe 😀

Praha

Yah seenggak-enggaknya pengalaman sebulan di Eropa merupakan perjalananku terlama selama ini, dan memang kalau diniatin cukup maka cukuplah.  Terus aku melakukan travelling ke Eropa itu tanpa rincian perjalanan Eropa alias itinerary Eropa seperti biasa.

Jadi ke Eropa nya go show.

Pemilihan nengaranya pun sesuka hatiku, kalau negaranya aku suka aku lamain kalau biasanya saja, yah aku pindah ke Negara lain. Backpacking ke Eropa selama sebulan membuatku sadar, ternyata aku bisa juga menikmati perjalanan sendirian tanpa harus mengejar target.

AKU LEBIH MENIKMATI PERJALANAN!

Terus lebih realistis!

Iya aku ke Eropa selama sebulan sendirian alias solo travelling ke Eropa.

And i made it 😉

Habis mau gimana awalnya hendak pergi dengan teman eh malah dua temanku batal, karena sayang uang tiket akhirnya aku putuskan pergi  sendiri saja ke Eropa.

Seperti kata Paulo Coelho  “When a person really desires something, all the universe conspires to help that person to realize his dream.” 

Universe membantuku untuk meninggalkan jejak di Benua Eropa 🙂

Alhamdulillah semua berjalan lancar!

Buat teman-teman yang mungkin baru ingin menginjakkan kaki di Benua Eropa atau memiliki mimpi tak terbendung ke Eropa atau gatel ingin ke Eropa, atau punya niat ingin ke Eropa, saranku go ahead.

Yang penting cari tiket murah dari jauh hari, persiapkan dengan matang dan rajin menabung dan kalau kesana negaranya pilih yang dirimu suka.

Serta ikhtiar dan percaya kamu bisa!

Pengalamanku sendiri sebagai pemula jalan-jalan di Eropa mempunyai itinerary Eropa 12 Negara (Belanda, Perancis, Belgia, Inggris, Skotlandia, German, Austria, Ceko, Hungaria, Kosovo, Itali dan Vatican) berdasarkan yang sudah aku lakukan dan semoga rangkuman dengan review perjalanan di EROPA selama sebulan, bisa bermanfaat bagi teman-teman yang ingin jalan-jalan ke Eropa. Paling tidak ada gambaran mengenai Eropa 🙂

Rincian Perjalanan/itinerary Backpacker Eropa selama 1 Bulan

Jakarta, Maret 2017

20:30-4:00 Jakarta-KLIA 2. Untuk pengambilan bagasi lihat petunjuk terus keluar Imigrasi baru ambil bagasi, kebetulan di “Line 8” eh salah lihat rupanya harus lihat nomor penerbangan “AK387” di monitor

Malaysia,  Maret 2017

00:00-00:06 Keluar KLIA 2 naik kereta bayar 2 RM turun di KLIA 1.

00:06-06:00 Gate Qatar Airlines di “K”, penerbangan jam 9 pagi dan baru buka counter jam 6 pagi, akhirnya tidur di KLIA1 dekat gate K.

09:15-11:55 Perjalanan KLIA 1-Doha selama 7 jam dengan tujuan Hamad International airport

Praha

Doha,  Maret 2017

16:00-18:00 Mengikuti Doha Tour gratis dari Qatar Airlines. Nukar uang Rp100.000 menjadi 25 Rial Qatar pas di Pasar Tradiotional Doha ketika mengikuti Doha Tour. Di Doha aku membeli 2 kebab 10 Rial, dan nasi 25 Rial. Di  Hamad International airport aku punya pengalaman sok-sokan berbahasa Inggris ke seorang kakak untuk mendaftar Doha tour eh si kakak membalas dengan Bahasa Indonesia, yups zonk banget ternyata si kakak orang Indonesia. Di Doha Tour juga aku berkenalan dengan Bu Rika dan keluarga serta sama-sama melakukan Doha Tour.

18:00-19:00 antri lama masuk ke dalam Hamad International airport

19:00 – 07:00 tidur di Bandara Hamad International, Bandaranya nyaman dengan memiliki tempat tidur yang kondusif

07:15-12:25 Perjalanan Doha-Amsterdam, perbedaan waktu antara Doha dan Amsterdam 2 jam dan lama perjalanan dari Hamad International airport ke Schipsol itu 7 jam.

Tempat yang di datangi selama Doha Tour:

Keliling kota Doha mulai dari Museum, Masjid hingga ke Pasar Tradisionalnya

Baca juga perjalanan Doha City Tour

Hamburg

Amsterdam Belanda, 24 Maret 2017

12:20-15:00 Melakukan perjalanan dari Bandara SCHIPHOL Belanda ke Lelyln. Harga tiket kereta Schiphol-lelylaan 4 Euro, harga tiketnya hanya 3 Euro namun harga cetak tiketnya kena 1 Euro. Disini berpisah dengan keluarga Bu Rika.

15:00-18:00 Menginap di apartemen host Couchsurfing Amsterdam bernama Bas, disini aku mandi dan bisa wifian gratis.

18:00-22:00 Bertemu dengan temanku Friso. Dari Lelylaan-Amsterdam Central Bus membeli TRAM Pass 1 jam seharga 2,99 Euro dengan GVB. Karena ternyata ketemu Friso baru jam 7:30 padahal janji jam 7 malam maka alhasil pulangnya membeli lagi kartu TRAM Pass 1 jam seharga 2,99 Euro. Disini aku dan Friso mengelilingi Amsterdam malam hari mulai dari Red district sampai ke tanda tulisan IAMSTERDAM dengan jalan kaki. Nah si Friso juga traktir hot tea dan cookies seharga 2,6 Euro

Tempat wisata Amsterdam yang didatangi pada hari-1 di Eropa:

Red district, weed museum, Dam Square, Iamseterdam sign, dan wisata sekitar Amsterdam Central Bus sampai ke Rijksmuseum.

Total Pengeluaran hari-1 di Eropa = 4 euro + 2,99 Euro +2,99 Euro = 9,89 Euro

Zaanse Schans, Desa Kincir Angin

Baca juga perjalanan ke Belanda

Amsterdam Belanda, 25 Maret 2017

11:00-15:00 Naik kereta dari Lelylaan-Sloterdjik (transfer plantform 3) tujuan Uitgeest-Zaanndijk Zaaanse Schans dengan kereta tiketnya pulang pergi 7 Euro (1 Euro untuk print kertas, 6 Euro harga tiketnya). Di stasiun Lelylaan saat membeli tiket kereta aku dibantu oleh orang Slovakia dengan koin hasil kumpulin dengan teman-temannya. Pas perjalanan ke Kincir Belanda aku juga berkenalan dengan turis Hongkong bernama Jasmine dan rombongan turis lainnya. Kami sempat nyasar di Zaadam terus seharian kami menjelajah Desa Kincir Angin Belanda, dan mencoba keju di Rederij des schans (1971). Di Desa Kincir Angin Belanda aku membeli kartu pos dan prangko seharga 2,35 Euro dan pulangnya membeli 1 buah apel seharga 0,75 Euro.

15:00-16:00 Balik ke rumah host di Lelylaan

16:00-12:00 Di rumah host di Lelylaan masak mie terus merencakan perjalanan keesokan harinya. Udara di Belanda dingin dan aku salah kostum alias membawa baju ala tropis.

Tempat wisata Amsterdam yang didatangi pada pada hari-2 di Eropa:

Kincir angin Belanda (windmill) di Zaandijk Zaanse Schans

Pengeluaran hari-2 di EROPA tepatnya di Amsterdam: 7 Euro + 2,35 Euro +0,75 Euro = 10,1 Euro

Belanda

Baca juga trip Ulang Tahun di Belanda

Revin, 26 Maret 2017

12:00-18:00 Thimo menjemput dari Lelylaan Amsterdam. Makan MC’D di suatu tempat dalam perjalanan Amsterdam-Revin seharga 10 Euro dan uang bensin 60 Euro.

18:00-22:00 Makan malam bersama keluarga Thimo. Ibunya baik sekali memasakkan aku makanan yang enak, bahkan dijaga betul makanan agar aku bisa makan mengingat aku Muslim. Tidak sampai disitu aku dikasih selimut tebal dan penghangat ruangan karena aku tidak tahan dingin. Benar-benar mendapatkan keluarga baru.

Tempat wisata yang didatangi pada pada hari-3 di Eropa

Revin

Biaya perjalanan di hari hari-3 di Eropa: 10 Euro + 60 Euro = 70 Euro

Belgium, 27 Maret 2017

09:00:10:00 Jalan ke Fortification de Rocroi

10:00-11:00 Perjalanan dari Fortification de Rocroi Francis ke Belgia

10:00-12:00 Sampai di Belgia. Keliling Kota Belgia muldai dari Mannaken piss sampai ke Parlement. Di Belgia aku mencoba Waffle Belgium dan kentang goreng seharga 2 Euro.

12:00-14:00 Ke Atomium dan Cathedral Michael

14:00-17:00 Perjalanan Pulang dari Belgia ke Revin

17:00-18:00 Di traktir cous-cous oleh Thimo dengan harga 49 Euro/2 orang, makannya masih daerah Belgia

19:00-22:00 istirahat di Revin, Francis

Tempat wisata Belgia yang didatangi pada pada hari-4 di Eropa adalah Fortification de Rocroi, Mannaken piss, Atominium dan Cathedral Michael.

Biaya yang dikeluarkan di Belgia 2 Euro

Brussel, Belgia

Paris, 28 Maret 2017

11:00-12:00 Perjalanan dari Revin ke Paris.

12:00-13:00 Berhenti di Lidl dan belanja roti dan salmon seharga 20 Euro

13:00-17:00 Sampai di Paris. Naik metro 5 Euro dan menuju ke penginapan. Membeli Paris 2 days pass seharga 18,95 Euro

17:00-22:00 istirahat di Paris

Tempat wisata Paris yang didatangi pada pada hari-5 di Eropa adalah Paris.

Total biaya di Paris: 20 Euro + 5 Euro + 18,95 Euro =43,95 Euro

Eiffel, Paris

Paris, 29 Maret 2017

08:00-09:00 Jalan kaki ke Basilique du Sacré-Cœur, kemudian naik Metro ke Porte Maillot untuk makan macaroni coklat 1,2 Euro

09:00-20:00 Jalan keliling Paris mulai dari Arc de Triomphe, jalan ke Avenue des Champs-Élysées (famous street in the world), kemudian naik Metro dari Opera Paris ke Restoran Jepang Rue St Anne untuk makan siang seharga 24 Euro/2orang (makan shirashi+teriyaki), jalan ke Metro Pyramid-Concorde-Metro Champs de Mars kemudian tour Eiffel, jalan ke hotel des invalids kemudian ke Metro St. Paul untuk nyobain teh dari segala penjuru dunia kemudian ke Notre Dome. Makan kebab 5 Euro, mencoba es krim 4,6 Euro untuk ukuran regular di Latin distrik kemudian balik ke Eiffel lagi sampai malam. Sempat membeli postcard dan gantungan kunci Eiffel 3 Euro.

Tempat wisata Paris yang didatangi pada pada hari-6 di Eropa

Eiffel, Metro Dome, Arc de Triomphe, Avenue des Champs, Basilique du Sacré-Cœur

Biaya yang dikeluarkan di hari-6 di Eropa = 1,2 Euro + 5 Euro + 4,6 Euro + 3 Euro = 13,8 Euro

Paris, 30 Maret 2017

08:00-09:00 Belanja di Franprix roti dan minuman 6,65 Euro

09:00-10:00 Naik METRO Ke de Louvre. Antri satu jam dan harga tiket masuk ke dalam de Louvre 15 Euro.

10:00-18:00 keliling Louvre seharian

18:00-20:00 Naik Metro ke La Grande Mosque de Paris kemudian nyari makan disekitar Masjid akhirnya makan kebab 20 Euro/2 orang

20:00-22:00 Balik ke penginapan

Tempat wisata Paris yang didatangi  pada hari-7 di Eropa

Museum de Louvre dan La Grande Mosque de Paris.

Total pengeluaran pada hari-7 di Eropa = 6.65 Euro + 20 Euro + 15 Euro = 41,65 Euro

Rome

London, 31 Maret 2017

08:00-09:00 perjalanan Paris-London, bayar tiket kereta Paris 5,05 Euro terus ke Bandara CDG Paris Charles de Gaulle 10 Euro.

09:00-11:00 antri imigrasi, lumayan lama

11:00-13:00 menunggu di Bandara CDG Paris Charles de Gaulle

13:00-16:00 Perjalanan Paris-London dengan pesawat

16:00-17:00 Mencari penginapan di London, naik kereta dari Bandara ke penginapan £ 15

18:00:19:00 Makan Fish and Co di London, ditraktir

19:00-20:00 Main di taman

20:00-22:00 Kembali ke penginapan dan istirahat

Tempat wisata yang didatangi pada pada hari-8 di Eropa : London

Total biaya pengeluaran pada pada hari-8 di Eropa = £ 15

Big Ben di London

London, 1 April 2017

08:00-09:00 Naik Kereta £3 kemudian sewa sepeda seharian £2, beli Kartu Oyster £15, membeli makan di supermarket £8,85

09:00-22:00 Keliling London dengan sepeda mulai dari Big ben, Parliament, British Museum, London Eye, dan lain-lain

Tempat wisata yang didatangi pada hari-9 di Eropa:

Big ben, Parliament, British Museum, London Eye

Total biaya pengeluran di hari-9 di Eropa = £3 + £2 + £15 + £8,85 = £28,85

London Eye

Edinburgh, 2 April 2017

09:00-10:00 Persiapan dari penginapan ke Bandara. Harga tiket kereta dari Cambridge Heath-Luton Airport £21,2

10:00-12:00 Imigrasi, antri di Bandara Inggris dan tidak begitu ditanya-tanya

13:00-15:00 Perjalanan London-Edinburgh dengan pesawat

15:00-16:00 Tram dari Edinburgh airpot ke St Andrew Square £5,5.

16:00-18:00  Jalan kaki ke penginapan kemudian jalan ke Calton Hill, Edinbugh Castle, dan Grassmarket

Tempat wisata yang didatangi pada hari-10 di Eropa 

Calton Hill, Edinbugh Castle, dan Grassmarket

Total biaya pengeluaran pada hari-10 di Eropa = £21,2  + £5,5 = 26,7

Edinburgh

Edinburgh, 3 April 2017

08:00-09:00 Belanja makanan supermarket Lidl tepatnya di Nicolson Street £5,16

09:00-10:00 Keliling Andrew Square

10:00-12:00 Istirahat kembali ke penginapan

12:00-18:00 Keliling ke Holyrood Rd, Scottish Parliament, Palace of Holyroodhouse

18:00-22:00  Kembali ke penginapan dan istirahat

Tempat wisata yang didatangi pada hari-11 di Eropa

Andrew Square, Holyrood Rd, Scottish Parliament, dan Palace of Holyroodhouse

Total biaya pengeluaran pada hari-11 di Eropa = £5,16

Setelah ngegembel di UK selama 6 hari akhirnya aku memutuskan pindah negara yang bersedia menampungku! Edinburgh masih kota favoritku karena banyak menemukan makanan halal, kemana-mana bisa jalan, banyak castle, bangunan tua, ada laut, ada bukit, ke airport naik bus £4,5 kalau naik tram £5,5, sekali makan bisa £5-10 tapi ada juga £3, belanja di market £6 udah dapat macam-macam terus kotanya cakep dan antik terus pas disini avenger lagi shooting lagi! Sayangnya disini dingin meski spring 5 derajat yang setiap malam membuatku biduran terus nginapnya sih hratisan dan yang paling penting Kotanya itu full of wifi gratiss tiss tiss! Untuk buah? Murce £2 strawberry gede-gede! Semoga bisa kesini lg dengan uang segepok😜 #edinburgh #scotland #european #uk #europe #british #travel #journey #mydreamtoexploretheworld ✈️Edinburgh

A post shared by Winny Marlina (@winnymarlina) on

Edinburgh, 4 April 2017

08:00-09:00 Print tiket pesawat £0,2 padahal bisa pakai HP untuk menunjukin tiket

09:00-10:00 ke Scottish National Gallery

10:00-12:00 Mencari rumah host di Edinburg ke 35 Easter Road, pakai nyasar

12:00-22:00 Di rumah Cs sampai malam

Tempat wisata yang didatangi pada hari-12 di Eropa
Scottish National Gallery

Total biaya pengeluaran pada hari-12 di Eropa = £0,2

Budapest

Edinburgh, 5 April 2017

08:00-09:00 Persiapan ke Bremen

09:00-10:00 Jalan kaki dari Easter Road ke terminal Bus

10:00-12:00 Naik bus ke Bandara Edinburgh £4,5

12:00-17:00 Perjalanan Edinburgh-Bremen dengan pesawat

17:00-18:00 Dijemput host Bremen naik tram 2,75 Euro

18:00-19:00 Makan wat pho, mie khas Vietnam 8 Euro

19:00-22:00 Keliling Kota Bremen pada malam hari

22:00-07:00 Kembali ke penginapan dan istirahat

Tempat wisata yang didatangi pada hari-13 di Eropa:

Old Town Bremen, dermaga hingga menelusuri Legenda Bremen

Total Biaya pada hari-13 di Eropa = £4,5 + 2,75 Euro + 8 Euro = £4,5 + 10,75 Euro

Bremen, 6 April 2017

08:00-10:00 Persiapan ke Praha

10:00-11:00 Diantar ke Terminal bus dan ditraktir makan oleh Frank dan jalan bareng teman dari Polandia

11:00-13:00 Menunggu Flixbus ke Praha, ongkos tiket bus ke Praha dari Bremen 20 Euro (minta beliin Ade Putra)

15:00-00:03 Perjalanan darat Bremen-Praha

Tempat wisata yang didatangi pada hari-14 di Eropa

Terminal bus Bremen

Total biaya pada hari-14 di Eropa 20 Euro

Prague, 7 April 2017

03:00-04:00 Sampai di Terminal bus Praha, dijemput host Praha dengan mobilnya terus dikasih teh pas 3 pagi.

04:00-06:00 Istirahat

06:00-08:00 Sarapan pagi

08:00-09:00 Jalan kaki melewati Stadion Stadium terus ke University dormitories, naik ke Petrin Towet (mirip Eiffel, Eiffelnya Prague) dengan harga 3000 Kc/2 orang dan ditraktir Hostnya.

10:00-18:00 Keliling Kota Praha/Prague. Jalan kaki Prague Castle, St Vitus Cathedral, Vine yard, Lenon Wall, Charles Bridge, Old Town Square (Astronomial clock). Gantungan kunci 2 Euro, ditraktir makan ama teman Host 477 Kc/2 orang, nukar uang 10 GBP = 566 Kc.

18:00-22:00 Kembali ke penginapan terus istirahat

Tempat wisata yang didatangi pada hari-15 di Eropa

Prague Castle,  St Vitus Cathedral, Vine yard, Lenon Wall, Charles Bridge, Old Town Square (Astronomial clock)

Total biaya pengeluaran pada hari-15 di Eropa  = 2 Euro

Prague, 8 April 2017

08:00-09:00 Jalan kaki Wenceslass Square

09:00-20:00 Menuju ke stasiun kereta, beli tutup camera 82 Kc beli tiket ke Vienna-Budapest 420 Kc (uang tiket kurang dikasih 10 Kc dari Jacub), makan mass potatoes yang masakin hostnya.  Tempat Jacub turun di tram 22  daerah Malovanka. Salah tanggal pas di terminal terus terpaksa kembali ke penginapan. Jalan ke Dancing House

Edinburgh

Tempat wisata yang didatangi pada hari-16 di Eropa 

Budapest Train station dan pasar, Dancing House.

Total biaya pada hari-16 di Eropa = 82 Kc + 420 Kc = 502 Kc

Prague, 9 April 2017

08:00-09:00 Makan Kebab ditraktir Jacub

09:00-18:00 seharian di penginapan, di antar ke terminal

22:00-23:00 persiapan ke terminal

23:00-04:00 Perjalanan Prague-Vienna dengan Regio Jet

Tempat wisata yang didatangi pada hari-17 di Eropa

Terminal Budapest

Total pengeluaran pada hari-17 di Eropa = –

Mendung! #travel #prague #europe #european #travelbloger #czech #praha ✈️Czech

A post shared by Winny Marlina (@winnymarlina) on

Vienna, 10 April 2017

04:00-05:00 Dijemput host Austria tapi kemudian baper karena aku tidak mau memeluknya pas perkenalan, tiket bus 2,3 Euro

05:00-09:00 istirahat

09:00-18:00 Jalan keliling Vienna, ke Hofburgh, Museumsquartier, stephansdom, mozart haus, parlement, theresian platz, heldenplazt, karlsplatz, Heumarkt

18:00-19:00 Belanja di Bila 4,97 Euro

19:00-22:00 jalan kaki ke penginapan

Tempat wisata yang didatangi pada hari-18 di Eropa

Hofburgh, Museumsquartier, stephansdom, mozart haus, parlement, theresian platz, heldenplazt, karlsplatz, Heumarkt

Total biaya yang dikeluarkan pada hari-18 di Eropa = 2,3 Euro + 4,97 Euro = 6,27 Euro

Vienna

Vienna, 11 April 2017

10:00-11:00 ke stasiun U2 dengan kereta 2,2 Euro

11:00-12:00 belanja roti 4,05 Euro

12:00-13:25 Menunggu bus ke Budapest, beli sepatu 15 Euro, tiket kereta Budapest 350 ft, mengambil uang di ATM 5000ft

14:25-18:00 Perjalanan Vienna-Budapest dengan Regio Jet dua kali transfer, Vienna-Bratislava, Prague-Budapest

21:00-22:00 diajak host Budapest ke Underground Club

22:00-23:00 pulang sendiri dengan peta buta pas tengah malam

Tempat wisata yang didatangi pada hari-19 di Eropa

Terminal bus Vienna, Stadion Center, Undeground club Budapest

Total biaya yang dikeluarkan pada hari-19 di Eropa

= 2,2 Euro + 4,05 Euro + 15 Euro = 21,25 Euro

Vienna

Budapest, 12 April 2017

09:00-10:00 Belanja makanan 404 ft

10:00-16:00 makan kebab 700 ft, ke millennium heroes terus lihat aksi demo

16:00-17:00 Jalan kaki ke parliament

17:00-20:00 menikmati parliament

20:00-21:00 Kembali ke tempat host Budapest

Tempat wisata yang didatangi pada hari-20 di Eropa

Parliament, millennium heroes, castle Budapest

Total biaya pengeluaran pada hari-20 di Eropa

= 404 ft + 700 ft = 114 Ft

Budapest

Budapest, 13 April 2017

11:00-12:00Persiapan kelaur dari tempat host Budapest dengan membawa tas seberat 15 kg

12:00-14:00 Jalan kaki ke hereos museum dengan orang India yang kenalan di Budapest

14:00-15:00Menunggu Fia dan Jean di Parliment tapi karena gak kuat dingin sehingga makan di dekat parliament berupa falafi 809 ft

16:00-16:30 Bertemu Fia dan Jean di Parliament kemudian naik kapal menyeberangi dan menikmati Parliment Budapest dengan kapal 470 ft

16:30-17:00 Menunggu bus ke Kosovo, sempat susah mencari travel ke Kosovo padahal sudah menunggu di depan Museum

17:00-07:00 Perjalanan Budapest-Kosovo, Harga tiket travel ke Kosovo 50 Euro. Sering berhenti dan aku membeli makanan 470 ft, dan berhenti di Imigrasi Serbia di Belgrade. Merasa artis di dalam travel.

Tempat wisata yang didatangi pada hari-21 di Eropa:

Budapest Parliment

Total Biaya pengeluaran pada hari-21 di Eropa

= 809 ft + 470 ft + 50 Euro =1279 Ft + 50 Euro

Demo pas lagi di Budapest

Phristina, 14 April 2017

08:00-09:00 dijemput host bernama Shend di terminal Kosovo.

09:00-10:00 istirahat

10:00-12:00 Jalan dengan teman Cs lain bernama Visari.

12:00-14:00 Jalan ke Masjid. Terus ditemani Visari ke Bank Kosovo demi mencari Valon Lepaja kemudian beli tiket bus ke Italy 50 Euro

14:00-15:00 Ditraktir makan di restaurant California oleh Visari

15:00-18:00 Ke Batllava Lake dan diajak minum teh bersama Visari

19:00-20:00 Menunggu host pulang kerja, kemudian keliling Square Kosovo terus ke toilet 0,2 Euro

20:00-21:00 Bertemu Shend di depan Bioskop Pristina kemudian minum teh dengan host 2 Euro

21:00-23:00 ditraktir minum jus di Club Jazz oleh Shend

Tempat wisata yang didatangi pada hari-22 di Eropa:

Batllava Lake, Kosovo Square, Bank of Kosovo, keliling Phristina

Biaya pengeluaran pada hari-22 di Eropa: 0,2 Euro + 2 Euro = 2,2 Euro

Phristina, 15 April 2017

09:00-12:00 Ketemu Valon, ditraktir air ama teh doang,  terus ngobrol empat mata mengenang masa lampau, kemudian makan siang 4 Euro, belanja makanan di Kosovo 15,77 Euro

12:00-16:00 ditraktir Visari the ke Danau

16:00-07:00 Ke terminal bus Kosovo, Kemudian perjalana bus Kosovo-Cassova

Tempat wisata yang didatangi pada hari-23 di Eropa

Danau di Kosovo

Biaya pengeluaran pada hari-23 di Eropa = 4 Euro + 15,77 Euro = 19,77 Euro

Venice, 16 April 2017

00:00-09:00 Perjalanan Kosovo-Italy dengan bus, sering singgah, berhenti di Imigrasi Serbia, Kosovo, Croatia hingga Slovenia.

09:00-10:00 ditarktir teh oleh penumpang orang Kosovo

10:00-12:00 Bayar bus ke Treviso 10 Euro, tiket kereta ke Venice S Lucia 3,4 Euro salah harusnya berhenti di Venice Maestro

12:00-13:00 Makan kebab 5 Euro di Venice Maestro dekat penginapan

13:00-20:00 ke Penginapan dan istirahat

20:00-21:00 makan malam pizza di Colombus 35,5 Euro/2 orang

Tempat wisata yang didatangi pada hari-24 di Eropa

Belgrade, Croatia, Slovenia, Casanova, Venice Maestro

Biaya pengeluaran pada hari-24 di Eropa = 10 Euro + 3,4 Euro + 5 Euro + 35,5 Euro = 53,9 Euro

Venice

Venice, 17 April 2017

08:00-09:00 Naik meto ke sekali jalan 1,25 Euro (Venice Maestro-Venice S Lucia)

09:00-12:00 Keliling Venice

12:00-13:00 makan siang di Venice 31,36 Euro

12:00-18:00 Keliling Venice

18:00-19:00 makan malam 8 Euro

19:00-20:00 kembali ke penginapan

Tempat wisata yang didatangi pada hari-25 di Eropa

Venice

Biaya pengeluaran pada hari-25 di Eropa = 1,25  Euro + 8 Euro + 31,36 Euro =40,61 Euro

Venice

Pisa, 18 April 2017

08:00-09:00 Ke Venice Maestro lari seperti orang kerasukan karena takut ketinggalan bus. Venezia Maestre- Venezia S. Lucia harga tiket kereta 1,25 Euro

09:00-15:00 Bus perjalanan dari Venice-Pisa rupanya kembali ke Venice Maestro bayar tiket bus 27 Euro dengan Eurolines.

15:00-16:00 Sampai di Pisa jam 3 sore terus mencari penginapan dengan jalan kaki dari terminal bus, check in ke penginapan.

16:00-18:00 Dari penginapan dekat ke Pisa namun tidak masuk ke dalam PISA karena tiket masuk ke Pisa mahal 18 Euro. Beli gantungan kunci  2 Euro, tempelan kulkas 1,5 Euro.

18:00-19:00 Belanja di Pam panorama berupa pizza 24,76 Euro

19:00-22:00 kembali ke penginapan, masak pizza

Tempat wisata yang didatangi pada hari-26 di Eropa

Menara Miring Pisa

Total Pengeluaran pada hari-26 di Eropa = 2 Euro + 1,5 Euro + 1,25 Euro + 24,76 Euro = 29,51 Euro

Belgia

Pisa, 19 April 2017

08:00-09:00 Makan 3,18 Euro

09:00-12:00 Jalan kaki keliling Kota Pisa

12:00-13:45 Kembali ke terminal bus dengan jalan kaki dan menunggu kedatangan bus

13:45-18:00 Perjalanan Pisa-Rome dengan flixbus

18:00-19:00 Naik kereta dari Roma Triburtina ke Roma Tuscolana 1 Euro.

19:00-20:00 Mencari penginapan dengan jalan kaki, belanja di Carrefur 21 Euro

Tempat wisata yang didatangi pada hari-27 di Eropa

Kota Pisa

Total biaya pengeluaran pada hari-27 di Eropa = 3,18 Euro + 1 Euro + 21 Euro = 25,18 Euro

Pisa dengan tas seberat 15 kg

Rome, 20 April 2017

08:00-09:00 Menuju ke Coloseum

09:00-10:00 Antri Coloseum. Untuk tiket masuk ke dalam Coloseum seharga 12 Euro

10:00-15:00 Keliling Coloseum

15:00-18:00 Makan pizza 9 Euro/2 orang, fast food kebab 14 Euro, belanja di Carrefur 5,61 Euro.

18:00-22:00 Kembali ke penginapan naik metro bus 1,5 Euro.

Tempat wisata yang didatangi pada hari-28 di Eropa:

Colosseo dan Palatino, Arco di Tito, dan Arco Costantino

Total biaya pengeluaran pada hari-28 di Eropa di Rome, Italy = 12 Euro + 9 Euro + 5,61 Euro + 1,5 Euro = 28, 11 Euro

Colosseum Rome, Italy (my 3rd Seven of wonder)

Rome, 21 April 2017

08:00-09:00 Keliling Roma ke Piazza Compidoglio

09:00-10:00 jalan ke Foro Traiano

10:00-12:00 Jalan ke Republica bici dan baci

12:00-14:00 Jalan ke Villa Medici

14:00-17:00  Jalan ke Pantheon

17:00-18:00 Jalan ke Isola, makan di restoran michellin 50 Euro

18:00-20:00 Kembali ke penginapan

Tempat wisata yang didatangi pada hari-29 di Eropa adalah

Piazza Compidoglio, Foro Traiano,  Villa Medici, dan Pantheon

Biaya yang dikeluarkan di Rome pada hari-29 di Eropa = 50 Euro

Venice

Rome, 22 April 2017

08:00-09:00 Menuju Vatican Keliling Vatican

09:00-10:00 Antri sampai 2 jam demi masuk ke Vatican

10:00-12:00 Keliling Vatican dan melihat karya Michael Angelo

12:00-13:00 Makan Tonnarelli 11, 5 Euro

13:00- 14:00 Makan es krim dekat Vatican

14:00-18:00 Makan di Janta 20,25 Euro

18:00-20:00 Kembali ke penginapan

Tempat wisata yang didatangi pada hari-30 di Eropa:

Vatican

Biaya yang dikeluarkan di Rome pada hari-30 di Eropa = 11, 5 Euro + 20,25 Euro = 31,75 Euro

Vatican

Vatican, 23 April 2017

09:00-12:00 Menuju ke Fontana di Trevi

12:00-13:00 Beli obat muka di farmasi 16,9 Euro

13:00-15:00 ke Castel Saint Angelo biaya tiket masuk 10 Euro

15:00-18:00 Belanja dompet untuk ibu 15 Euro

18:00-19:00 Belanja Oleh-oleh makanan 31,36 Euro

19:00-22:00 Kembali ke penginapan dan istirahat

Tempat wisata yang didatangi pada hari-31 di Eropa

Fontana di Trevi dan  Castel Saint Angelo

Biaya yang dikeluarkan pada hari-31 di Eropa = 16,9 Euro + 15 Euro + 31,36 Euro = 63,26 Euro

Amsterdam, 24 April 2017

04:00-05:00 Jalan kaki ke terminal bus, niak bus ke Bandara 6 Euro

05:00-06:00 Sampai di Bandara

06:00-09:00  Menunggu pesawat dari Rome,Italy ke Amsterdam, Belanda

09:50-13:00 Perjalanan Rome-Amsterdam dengan pesawat Vueling

13:00-15:00 Proses Imigrasi dan persiapan kembali ke Indonesia

Tempat wisata yang didatangi pada hari ke 32 di Eropa :

Bandara Rome dan Amsterdam

Biaya yang dikeluarkan hari terakhir di Eropa = 6 Euro

Eropa

Penginapan selama 1 bulan Backpackeran di Eropa

Tempatku menginap selama di Eropa bervariasi mulai dari menggunakan Couchsurfing, Airbnb, numpang di rumah teman, ada juga menginap di hostel budget hingga sok-sok an menginap di  hotel. Pengalaman menginap di Eropa pun memiliki kesan tersendiri ada yang asik, biasa saja sampai yang menyebalkan juga ada. Selama di Eropa bahkan aku mendapatkan teman baru, serta bertemu dengan teman lamaku.

Untuk rincian penginapan selama 1 bulan dengan gaya Backpack di Eropa

 

Penginapan di Amsterdam, Belanda

Di Belanda aku menginap selam 3 hari 2 malam dengan menggunakan Couchsurfing dan host Belanda bernama Bas.  Bas ini cukup baik karena dia memberikanku kamarnya untuk aku istirahat bahkan dia memperbolehkanku jalan sendiri dan memberikan saran tempat wisata di Amsterdam yang harus aku kunjungi. Dia juga memberikan navigasi cara ke tempat wisata Amsterdam serta berapa biaya tempat tersebut.

Masjid di Paris

Penginapan di Revin, Francis

Untuk Prancis, aku menginap di rumah Thimo yang super baik hati. Aku mengenalnya dari tahun 2010, merupakan sahabat terbaik. Dia bahkan menjemput dari Belanda terus nginap di rumahnya, bahkan keluarganya sangat baik kepadaku. Dimasakin masakan bahkan sengaja mereka tanpa alcohol, benar-benar aku dianggap keluarga. Di Revin aku menginap selama 2 hari dan dari Revinlah aku bisa mengunjungi Brussel, Belgia. Disini aku juga dimasakin kue cokelat, dimasakin mirip rendang dan makan malam kami super porsi besar. Bahkan bajuku sampai dicuciin oleh mamanya Thimo di Revin.

Feel like a home banget selama di Revin!

Beruntung ya aku 🙂

Bersama Thimo di Revin

Penginapan di Paris, Francis

Di Paris menginap di hotel du Globe selama 2 hari dengan budget minim. Enaknya tempatnya dikasih handuk, dekat dengan tempat wisata Paris serta wifi gratisan dan ada TV. Dekat dengan wisatanya yang mirip Taj Mahal katanya. Sekilas sih miripnya 🙂

Penginapan di London, Inggris

Di Inggris menginap melalui Airbnb dengan satu kamar berisi 5 sampai 6 orang. Di London memang harga benar-benar mahal. Terus jika ingin nyuci baju maka kena chas lagi. Namun tetap aku nyuci baju juga disini. Enaknya sih harganya murah walau murahnya kena 200rb juga ya. Di London aku hanya menginap selama 2 hari saja. Disini merasakan tidur empet-empetan alias sempit-sempitan demi penghematan.

Ternyata London kejam, kejam di biaya T_T

Penginapan di Edinburgh, Scotlandia

Di Edinburgh aku mengkombinasikan antara Airbnb dan Couchsurfing. Di Edinburgh aku menginap selama 5 hari, 4 hari dengan Airbnb dan sisanya Couchsurfing. Yang paling seru dengan Airbnb karena hostnya baik, bisa masak, bisa nyuci gratis lagi terus tempatnya strategis, benar-benar di Kota Tua Edinburgh, dekat dengan Edinburgh Castle malahan.

Untuk Couchsurfing sendiri, hostnya kurang asik karena terlalu sibuk dan aku tidak dikasih kunci rumah, padahal di hari terakhir ingin berjumpa dengan kakak blogger yang tinggal disana. Sampai si kakak ngeledekin kalau aku itu bak penjaga rumah. Tapi mau gimana demi hemat 😛

Penginapan di Bremen, German

Teman baru di Bremen

Di Bremen, hostku lumayan asik bernama Daniel. Dia menjemput di Bandara, menemani walking tour Bremen pada malam hari bahkan mengajak makan di restaurant Vietnam dengan sistem BMM alias bayar masing-masing. Namun sayang si Daniel agak sensi denganku dan teman Poland karena bajunya basah karena kami tidak mengerti sistem mesin cucinya karena berbahasa German sehingga kami jemur kainnya. Disini agak canggung padahal aku pergi ke Budapest jam 1 siangnya.

Nah di apartemennya aku juga berkenalan dengan cewek asal Polandia yang memiliki kegilaan denganku. Terus di Bremen juga aku berkenalan dengan Frank, si Frank ini lah yang traktirin aku dan teman Poland kebab serta diantar di stasiun bus demi ke Praha.

Penginapan di Prague, Chezk Republik

Bersama Jacub di Eiffelnya Prague

Selama menginap di Praha aku menggunakan Couchsurfing. Di Praha aku mendapatkan host super baiknya kebangetan. Sudahlan dijemput pas jam 3 pagi terus dikasih teh eh pas bangunnya dikasih roti dengan keju.

Bukan hanya itu pas masuk ke tempat wisata di Praha mirip Eiffel malah dibayarin dia karena aku belum nukar uang, terus dibawa keliling Kota Praha dengan jalan kaki eh sorenya malah ditraktir makan di restaurant.

Baiknya tidak sampai disitu, dia sengaja nanya aku mau dimasakin apa terus aku jawab “mas potato” eh malah diajak ke supermarket terus dibeliin kentang terus dimasakin keesokan harinya.

Dia juga menolongku ketika aku salah tanggal ke Vienna pas jam 12 malam dibantuin sama dia. Untung saat itu aku tidak ditinggal pergi padahal udah “say bye”, kalau gak ngegembel dah di Praha.

Jacub juga membantuku membeli tiket ke Budapest terus ditambahin uangnya lagi pas uangku kurang dan di hari terakhir malah ditraktir kebab 😀

Ah pokoknya perfect hostlah!

#london #uk #travel #travelblogger #journey

A post shared by Winny Marlina (@winnymarlina) on

Penginapan di Vienna, Austria

Di Vienna lagi-lagi aku menggunakan Couchsurfing. Di Vienna aku hanya 2 hari saja dan menemukan host yang agak-agak aneh dan banyak aturannya. Sensitive tapi pada dasarnya baik.

Jadi pas jam 4 pagi, aku dijemput di terminal bus namun dia marah karena aku salah tanggal nyampe di Vienna terus pas ketemu dia mau peluk aku menolak eh si kawan sensi.

Do not come to Europe, if u can not accept the culture, begitu katanya

I felt bad that you do not accept my hug, its just for friendship, lanjutnya

Ih sumpah pas dia jemput pengen rasanya bilang “siapa coba yang maksa buat nginap di tempatnya padahal aku dah mau batalin”. Disini benar-benar aku merasa “duh, ngapain kesini”

Terus aturannya banyak “gak boleh ini itu” terus ngungkit kebaikannya, padahal si kawan ini referensinya di CS sampai ratusan loh. Yang lucu dia nyuruh aku isi referensi yang bagus semua padahal aku agak kesel dengannya. Belum lagi mengatur pakaian apa pas tidur karena takut sofanya kotor.

Kan agak-agak!

Disini aku tidak merasa nyaman.

Sisi baiknya dia, jadi pas aku datang ke Vienna, dia lagi dinas kerja ke Italy sehingga rumahnya dititipin ke aku terus malah dia ninggalin uang 10 Euro buatku makan dan hadiah berupa cokelat dan permen.

Benar-benar seperti joker kan?

Padahal di tempatnya sih banyak photonya dengan turis dari segala penjuru dunia cuma karena sensi dari awal yah jadi gitu deh. Namun walau demikian cukup baiklah dia memberikanku tumpangan di rumahnya padahal dia tidak ada terlepas prilakunya yang ababil alias terkadang baik terkadang aneh.

Austria

Penginapan di Budapest, Hungary

Untuk Budapest aku menginap dengan menggunakan Couchsurfing. Secara umum hostku sih baik cuma agak-agak juga. Baru juga nyampe Budapest si kawan sudah ngajak ke Underground Club terus karena melihat mukaku bosan malah disuruh pulang sendiri. Padahal aku juga gak tahu jalan, dan wajar aku bosan karena memang aku bukan anak Clubbing.

Alhasil pulang sendiri pas tengah malam. Terus masuk ke apartemennya susah lagi, belum bangunan tua dari tahun 1800an iih horor tengah malam kembali ke tempatnya sendirian.

Disini aku mengelus dada “Tuhan begini banget ya ngegembeli di Eropa”

Eh kesialan tidak sampai disitu, dia malah mengusir secara halus ketika aku belum memutuskan ke Kosovo atau ke Italy padahal tiket belum aku beli sama sekali waktu itu.

Winny, Have u decided to go to Kosovo? 

Sorry you have to move because i have another host,

  I only can help you until 12 am tomorrow, 

I need to clean my room, begitu isi textnya

Sontak aku whatsapp temanku Fia yang kebetulan lagi kuliah di Budapest sampai ngerumpi kami dan aku cerita di grup pengusiran halusku. Sayangnya temanku tidak bisa membantu karena dia juga tinggal di asrama.  Alhasil semalaman aku galau memikirkan kemana keesokan harinya ke Kosovo atau Italy. Padahal sudah janji dengan Fia dan Jean (teman yang aku jumpa di Vienna yang kebetulan temannya temanku Fia) untuk bertemu di Parliment. Jean sempat menawarkan nginap di hostelnya seharga 10 euro saja permalam namun karena aku sudah 2 hari di Budapest dan ingin mengejar Kosovo akhirnya aku memutuskan meninggalkan Budapest.

Penginapan di Phristina, Kosovo

Selama 2 hari di KOSOVO, aku menggunakan Couchsurfing dengan host yang baik sekali. Kalau pengalaman Cs kurnag enak di Budapest dan Vienna, maka surga nya host baik itu di Kosovo sama seperti di Cheko.

Host Kosovoku bernama Shend sudah jam 7 pagi datang ke terminal bus untuk menjemputku ke Apertemennya. Di Apertemennya aku berkenalan dengan Cs Inggris. Selama di Kosovo aku merasakan rasanya jadi “turis”. Mengunjungi Kosovo membuatku menjadi “artis dadakan”. Orangnya ramah-ramah dan makanannya murah-murah serta halal. Sepanjang jalan orang akan tahu kalau aku turis, mungkin dari mukaku yang tak biasa!

Bersama Valon Lepaja, mantan Pacar Khayalan di Kosovo
Hey how are you, where are you from? 
Begitulah pertanyaan orang Kosovo ketika melihatku

Di Kosovo juga aku berjumpa dengan Vissari, teman yang aku kenal di Cs namun tidak bisa menghost namun bisa menemani keliling wisata Kosovo. Bahkan Visari membawaku keliling kota Phristinaserta ke tempat wisata Kosovo yang tidak ada di Google seperti “Danau”, maklum limited edition. Visari juga mentraktir makan di restaurant serta membantuku mencari pacar khayalanku sewaktu Kuliah alias Cinta Tak Sampai.

Iya tujuan ke Kosovo untuk mencari suami yang beristri, mantan khayalan sewaktu kuliah. hihihih 😀

Seru sekali pokoknya di Kosovo.

Bersama Visari di Kosovo

Penginapan di Venice, Italy

Di Venice, aku menginap dengan menggunakan Airbnb dan tempatnya lumayan bersih terus ada sarapan pagi gratis. Yang gak enaknya tidak bisa mencuci baju karena kena biaya tambahan lagi serta kalau ingin ke Venice surganya Sungai, air, canal, dan katanya Kota Romantis harus naik kereta lagi.

Satu stasiun!

Venice

Penginapan di Pisa, Italy

Di Pisa menggunakan situs booking. Rumah penginapanku ini asiknya bisa masak sehingga disini bisa masak Pizza. Tempatnya juga dekat dengan terminal bus serta dekat dengan Menara Pisa. Di depan penginapan ada supermarket terus kalau ke Menara Pisa tinggal jalan 5 menit sampai.

Lumayan strategis!

Penginapan di Rome, Italy

Untuk penginapan di Rome menginap dengan situs booking selama 1 hari sisanya menginap di hotel bintang 2 dan tempatnya strategis kemana-mana. Walau hotelnya bintang 2 namun harganya paling murah dari situs booking.

Nah kalau dipikir-pikir, salah satu penyumbang terbesar cara ku hemat di Eropa adalah penginapan. Rata-rata tertolong karena mendapatkan penginapan gratis meski tidak semuanya asik ya!

Tapi kapan lagi merasakan jalan sendiri diusir secara halus, terus hostnya senstive hingga host yang super baik sampai mendapatkan keluarga baru di Revin?

Semuanya ada di perjalanan Eropa,

  Iam a girl and alone but survive ;)

Transportasi selama 1 bulan Backpackeran di Eropa

Untuk transportasi awalnya aku Galau tingkat tinggi. Apakah harus membeli Eurail Global Pass seharga untuk dewasa (umur 28 tahun keatas) seharga 940 dan bisa dipakai selama 1 bulan dan continuous. Namun dengan pertimbangan tidak termasuk ke Kosovo serta rincian perjalananku yang tidak jelas karena aku belum memutuskan kendaraan apa yang akan aku gunakan selama di Eropa, akhirnya aku tidak jadi membeli tiket kereta. Kebanyakan antar negara di Eropa transportasi yang aku gunakan adalah bus dan pesawat. Karena kalau dari jauh-jauh hari harga tiket pesawat di Eropa itu bisa murah sekali dengan catatan jangan bawa barang terlalu banyak.

Untuk ringkasan transportasi yang aku gunakan selama di Eropa

Belanda

Untuk Belanda dalam Kota aku menggunakan tram dan kereta. Serta jalan kaki pas keliling Kota Amsterdam. Untuk transportasi Belanda-Brussel kebeulan dijemput dan cukup bayar bensin 60 Euro sudah bisa ke Revin dan Brussel.

Brussel, Revin

Untuk kedua Kota ini transportasinya adalah mobil namun pas di Kotanya jalan kaki.

Paris

Paris kebanyakan yang digunakan adalah Metro dan membeli Paris Metro Pass itu dibawah 20 Euro untuk 2 hari dan puas keliling Parisnya. Sedangkan ke tempat wisatanya kebanyakan sih jalan kaki lalu kalau ada Metro manfaatkan Metor biar tidak rugi membeli Paris Pass.  Untuk perjalanan Paris-London dengan naik pesawat EasyJet. Kalau beli jauh-jauh hari tiketnya murah ceria sekali, bahkan bisa lebih murah daripada harga bus.

London

Transportasi London ini benar-benar mahal, bahkan passnya aja membuat keringat. Keretenya dan antar stasiunnya juga. Minimal 3 Poundsterling sekali jalan dengan jarak yang dekat. Di London satu hari membuat tekor. Alhasil belajar siasat dan menemukan kalau cara termurah di London dengan menyewa sepada seharga 2 Poundsterling saja. Di London aku juga sempat merasakan naik bus tingkat London yang harganya sedikit lebih murah daripada naik kereta.

Untuk perjalanan dari London ke Edinburg dengan EasyJet, merupakan maskapai murah meriah di Eropa.

Edinburgh

Di Edinburgh dari Bandara naik trem kemudian di Kota Tua Edinburgnya jalan kaki. Sehingga gratis transportasi saat di Edinburgh modal jalan kaki saja. Dari Edinburgh ke Bremen aku naik pesawat dengan RyanAir sejenis dengan Easy Jet seharga 50 Euro.

Bremen

Transportasi di Bremen yang aku pakai adalah trem kemudian untuk keliling kotanya dengan jalan kaki.

Dari Bremen ke Prague aku menggunakan bus Flixbus seharga 20 Euro. Kalau beli jauh-jauh hari maka harganya bisa jauh lebuh murah

Prague

Di Praha transportasinya dengan mobil karena dengan Jacub sementara untuk ke Old Town jalan kaki. Di Praha aku benar-benar hemat.

Untuk bus dari Prague-Vienna aku menggunakan Flixbus.

Vienna

Di Vienna untuk wisata Kotanya aku jalan kaki. Karena ogah membayat tiket kereta. Untuk perjalanan dari Vienna ke Budapest dengan bus Regio jet

Budapest

Di Budapest dari terminal aku naik kereta ke tempat penginapan kemudian jalan kaki pas keliling Kotanya. Dari Budapest ke Phristina naik travel seharga 50 Euro, isinya 6-8 orang dalam satu mobil. Ini persis seperti perjalananku dari MEDAN-PADANGSIDEMPUAN.

Phristina

Di Phristina, Kosovo aku diantara kemana-mana dengan mobil sehingga aku tidak mengeluarkan uang transportasi selana di Kosovo. Untuk Tiket Bus dari Phristina ke Cassanova seharga 50 Euro.

Venice

Transportasi di Venice dengan kerena seharga 1,25 Euro kemudian di Venice jalan kaki. Dari Venice ke Pisa naik bus dengan Eurolines seharga 27 Euro.

Pisa

Untuk Pisa aku tidak mengeluarkan biaya transportasi sama sekali karena kebanyakan jalan kaki. Untuk transportasi dari Pisa ke Rome dengan flixbus.

Rome

Di Rome kebanyakan dengan kereta kemudian jalan kaki. Disini aku tidak membeli Rome pass seharga 7 Euro sehari karena demi menghemat. Kebanyakan jalan kaki. Untuk transportasi ke Amsterdamnya dengan pesawat.

Vatican

Makanan selama 1 bulan Backpackeran di Eropa

Untuk makanan khususnya umat Muslim tidak perlu khawatir karena banyak makanan halal yang bisa ditemukan di Eropa. Kalau mau hemat masak sendiri, belanja di Supermarket bisa bertahan 2-3 hari kemudian masak di tempat penginapan. Di Eropa kebanyakan makanan yang aku makan itu kalau tidak roti, kebab kalau tidak makanan India. Pernah juga masak tinggal beli di supermarket. Namun untuk bawa tempat masak dari Indonesia terlalu repot deh karena mudah kok dapat makanan murah meriah. Malahan kalau belanja di supermarket jauh lebih murah. Memang untuk standar makan di Eropa Barat harganya jauh lebih mahal bila dibandingkan dengan Eropa Timur. Surga makanan yang paling aku suka itu di Kosovo, harganya murah, porsinya banyak dan halal. Untuk supermarket favoriteku selama di Eropa adalah Lidl karena harganya murah dan sering diskon 😀

Tips hemat selama 1 bulan Backpackeran di Eropa

Eropa itu susah-gampang ditaklukkan dan tergantung kepada individu karena tolak ukur murah dan mahal kan tergantung kepribadian masing-masing. Dari diriku sendiri pelajaran yang aku dapatkan untuk berhemat selama di Eropa dengan 1 bulan yaitu:

1. Bawa baju seperlunya dan pastikan pakaian yang dibawa sesuai dengan musim. Pas aku ke EROPA lagi Musim Semi dan suhunya itu 5 Derajat sampai 18 Derajat sehingga pas salah kostum dan sepatu salah alhasil jadi membeli sepatu lagi.

2. Bawa pelembab bibir dan lotion baik untuk wajah maupun badan karena saat di Eropa asli kulitku itu pecah-pecah. Alhasil aku jadinya ke Farmasi untuk membeli obat

3. Belilah tiket bus atau kereta atau pesawat dari jauh-jauh hari karena harganya jauh lebih murah bila dibandingkan membeli pas dekat kepergian atau on the spot.

4. Banyak wifi di Eropa sehingga tidak perlu membeli SIMCARD namun bagi yang maniak internet maka beli di salah satu Negara saja.

5. Tidak usah malu jalan kaki ke wisatanya karena lumayan menghemat biaya transportasi. Sesuaikan dengan kebutuhan kalau memang kebanyakan daftar wisata yang ingin dikunjungi maka pilihan hematnya beli turis pass atau transportasi pass yang seharian.

6. Untuk pemilihan transportasi juga tergantung kebutuhan. Rajin-rajinlah melihat situs seperti Easy Jet dan Ryan air untuk promo tiket di Eropa namun biasanya belum termasuk bagasi. Maksimum bagasi yang diperbolehkan juga terbatas karena memang harganya murah. Untuk bus banyak sekali di Eropa yang terkenal seperti Flixbus namun aku tidak terlalu suka flixbus karena harganya mahal, walau jauh hari murah. Yang paling aku suka adalah naik Regio Jet karena dikasih minum gratis, hanya saja jaringan transportasi di Eropanya tidak terlalu banyak.

7. Penginapan untuk murah bisa menggunakan situs booking, airbnb, couchsurfing atau di hostel budget.

8. Persiapkan uang minimal 35 Euro sehari jika ingin ke Eropa. Menjelajah Eropa Timur jauh lebih murah bila dibandingkan Eropa Barat namun entah kenapa aku merasa kalau Eropa Barat itu memang cantik.

Bristih Museum

Pelajaran berharga selama 1 bulan Backpackeran di Eropa

Melakukan perjalanan seorang diri ke Eropa banyak sekali pelajaran dan membuka wawasan mengenai Eropa antaranya aku lebih mengenal diri sendiri dan lebih menikmati perjalananku. Aku bukan lagi si Winny yang jika ke suatu tempat harus kesini kesitu dan menamatkan semua objek wisatanya, disini aku lebih berdamai dengan diri sendiri. Memilih tempat yang aku sukai tanpa harus memaksakan diri. Di Eropa juga aku belajar satu hal bahwa INDONESIA itu jauh lebih indah dari yang aku bayangkan. Serta jangan pikir kalau kehidupan di Eropa itu semuanya wow karena disana orangnya benar-benar bekerja dan usaha. Bahkan aku sempat agak kaget melihat betapa banyaknya Imigran di Paris, melihat pengemis di Budapest sampai manusi kardus di Rome, yang awalnya aku kira tidak ada di Eropa. Namun dari segi transportasi dan layanan public maka Eropa itu patut diacungkan jempol 🙂

PS: Kesan di minggu pertama di Eropa ketika melihat Bangunan Tua, aku berkata “wow” terus lama-lama hingga di hari ke 32 berangsur-angsur turun dan menjadi “ehm”, biasa saja. Entahlah mungkin hanya perasaanku saja 🙂

Nah loh, siapa yang mau ke Eropa?

Ada yang punya pengalaman selama di Eropa?

Apa kesannya selama di Eropa?

Salam

Winny