Hello World!

Danau Toba, Juli 2019

Setelah melakukan resepsi pernikahan di Padangsidimpuan, Mertua mengajakku dan suami keliling wisata Sumatera Utara. Salah satu tempat yang akan dikunjungin ialah Danau Toba di Samosir. Karena Mertua trauma naik bis umum sehingga dari Padangsidimpuan kami terpaksa menyewa mobil seharga Rp800.000 untuk kami berempat dan sampai itupun cuma sampai di Parapat doang. Harga segitu mahal buatku karena ongkos ke Medan aja dari kampungku Rp150.000 tapi karena ditinggal bis akhirnya mau tidak mau, kami naik travel.

Kami berangkat dari Padangsidipuan dari jam 10 pagi dan kami sampai di Parapat jam 5 sore. Supir yang membawa kami orangnya asik, santai dalam mengemudi serta memberhentikan kami di beberapa tempat wisata disepanjang perjalanan seperti makam Sisingamangaraja. Mertua puas dengan mobil yang disewa karena mereka merasa aman.

Yah, Mertuaku adalah pejalan yang mengutamakan kenyamanan. Bahkan yang lucu ketika Mertua dan suami melihat pohon kopi pertama kali langsung mereka penasaran habis. Dalam hatiku betapa beruntungnya orang Indonesia karena kaya akan hayati sehingga tidak heran lagi melihat pohon salak, rambutan, pohon kopi bahkan teh 🙂

Sesampai di Parapat jam 5 sore, kami langsung membeli tiket kapal penyeberangan seharga Rp15.000 orang. Kami membawa serta barang Mertua yang banyak dan naik ke kapal. Lama penyeberangan Danau Toba ke Tuk-tuk itu hanya sekitar 1 jam. Kami menginap di Sibayak Guest House selama di Danau Toba. Sibayak Guest House ini berdekatan dengan penginapan pertamaku dan suami. Hal yang aku suka dari penginapan ini yaitu pemandangan langsung Danau Toba dari penginapan dan rasa masakan di restorannya juga lumayan enak.

Oh ya pada saat kami sampai di Tuk-tuk, hujan deras dan hampir saja perahu tidak lewat ke penginapan. Untungnya pas tiba di Tuk-tuk, hujan agak reda dan kami hanya menambah Rp20.000 maka kami tiba di depan penginapan. Gak kebayang membawa koper yang banyak pas hujan-hujan dengan transportasi yang terbatas, kami cukup beruntung untuk itu.

Selama di Danau Toba, kami menjelajah Pulau Samosir dengan menyewa motor. Harga sewa motor di penginapan Rp100.000/hari termasuk bensin. Mertua perempuan takut naik sepeda motor tapi karena terpaksa akhirnya naik motor juga dibonceng Mertua laki-laki. Uniknya kami berempat keliling Samosir dengan dua motor dengan pasangan masing-masing. Dalam hatiku, Ya Tuhan mimpi apa aku ini dapat Mertua yang juga suka jalan-jalan 🙂

Saat jalan-jalan bersama Mertua lebih asik karena ada beberapa tempat yang tidak kami datangin  sebelumnya, akhirnya kami datangin terus dibayarin juga hiihihi 🙂

Sewaktu membawa sepeda motor, Mertua laki-laki sempat tidak mahir hingga akhirnya dibawa sebentar motornya hingga timbul lagi kepercayaan diri. Mengingat keterbatasan Mertua dalam membawa sepeda motor, akhirnya kami hanya keliling Tuk-tuk, Simanindo dan Ambarita serta Tomok. Suami tidak mau membawa jauh-jauh seperti trip kami pertama di Danau Toba.

Parulubalangan Stone Chairsalt Statue Swer with Frog

Tempat pertama yang kami kunjungin dengan sepeda motor di hari kedua di Danau Toba ialah tempat makan dari batu yang berada di Huta Sipalakka Danau Toba. Aku dan suami sempat melihat tulisan ini di trip pertama kami, namun kami tidak singgah. Nah pas kunjungan dengan Mertualah kami singgah. Pas masuk tempatnya bersih dan dipenuhi dengan bebatuan unik, sayangnya pas pulang kami ditagih uang Rp15.000/orang ketika keluar dari pintu. Inilah yang kami tidak suka dari wisata di Danau Toba, ada saja tiket tidak resmi yang dipungut oleh oknum yang memanfaatkan situasi. Sebenarnya kalau yang minta uang memberikan penjelasan mengenai tempat tersebut pasti lebig fair dibandingan menagih uang seenaknya pas orang udah mau pulang.

Tempat ini juga terdapat makam persis dibawah rumah adat Batak yang berada di tingkat dua, serta beberapa batu dari zaman dulu yang bentuknya sungguh menarik seperti meja, bangku sampai katak dan sapi. Mertuaku lumayan suka meski mereka lebih suka lagi jika ada informasi lengkap mengenai tempat tersebut.

This slideshow requires JavaScript.

Huta Siallagan, Stone Chair

Tempat kedua yang kami kunjungin ialah Persidangan Huta Siallagan. Sama seperti kunjungan dengan suami, kami tidak masuk kedalam namun pas dengan Mertua kami masuk. Nah pas masuk aku pura-pura jadi tourguide dan akhirnya biaya masukku jadinya gratis hihi 🙂

Itulah salah satu manfaat bisa Bahasa Batak. Nah di dalam Huta Sillagan ini juga sama, terdapat banyak batu dan rumah adat khas Batak serta adanya patung Sigale-gale. Kami juga sempat ke pasarnya dan keliling. Aku cukup suka dengan batuan yang ada di Huta ini karena menarik dan bentuknya unik. Mertua dan Suami juga suka dengan rumah adat Batak, kata mereka unik.

Pantai Sibolazi di Simanindo

Kami sempat makan siang dan bersantai di Pantai Sibolazi di Danau Toba. Tiket masuknya Rp10.000 dan pantainya bersih serta kami menikmati siang kami di Pantai ini. Area ini juga menyediakan bebek-bebekan untuk bermain di Danau, tapi kami lebih memilih bersantai dan makan siang saja.Di tempat ini juga, suami mendapatkan buah unik seperti beri.

sibolazi

Nyasar di Garoga

Kami sempat nyasar di Garoga karena mencari bukit yang hedak kami kunjungin. Akhirnya membuat kami nyasar entah kemana. Tapi namanya jalan bareng bule, tingkat penasarannya tinggi akhirnya kami menikmati perjalanan. Padahal itu panas namun kami jalan kaki, seolah kami tidak merasakan itu.Yang penting jalan 🙂

Yang membuatku kagum dengan stamina Mertua yang sanggup jalan jauh dan tingkat menjelajahnya tinggi.

Ke Makam Raja Batak di Tomok

Kalau kunjungan pertama dengan suami kami sampai ke makam pas malam hari maka kunjungan kedua kami bisa masuk kedalam makam Raja Batak pas siang hari. Yang kami suka dari tempat ini si Bapak penjaga sangat jujur, uang sumbangan disuruh kami masukkan ke dalam kotak dan tidak dipatok loh. Itulah yang membuat kami merasa beliau sangat jujur. Untuk masuk kedalam Makam harus menggunakan kain Batak sebagai penghormatan. Hal menarik dari tempat ini terletak pada usia makamnya sudah tua sekali.

Tomok

Makanan selama di Tomok

Trip bareng Mertua itu sangat asik karena kami mendapatkan pengalaman baru yang belum kami dapatkan sebelumny, . terutama mencoba makan lobster di Widya Lake Toba Restoran. Nikmat yang haqiqi sekali karena masakannya enak walau agak mahal menurutku karena kami berempat kena biaya Rp.674.000 tapi worth it sih dengan rasa dan harganya. Ide makan lobster di Danau Toba itu ide Mertua perempuan dan she is the best for knowing the best food.

Kalau bukan ama Mertua, mungkin aku dan Suami tidak tahu tempat makan enak di Tuk-tuk, Danau Toba, Sumatera Utara.

Biaya keliling Danau Toba

Tiket travel Padangsidimpuan-Parapat Rp800.000/4 orang

Tiket masuk ke Objek Wisata Budaya Parsidangan Siallagan Rp5000

Tiket masuk ke Sibolazi Beach Simanindo Rp5.000

Makan malam di Danau Toba Rp241.000

Widya Lake Toba Restoran Rp.674.000

Pengalaman ke Danau Toba bersama Mertua dan suami seru apalagi kami mendapatkan pengalaman yang belum pernah kami alami sebelumnya.  Mertuaku emang top meski berumur tapi sanggup trekking dan jalan kaki. Dan aku beruntung mendapatkan keluarga baru yang doyan jalan-jalan meski beda gaya jalan-jalannya, mereka koper aku begpacker hiks 😛

Salam

Winny

Advertisements

Posted by Winny Marlina

Indonesian, Travel Blogger and Engineer

One Comment

  1. sekarang asik banget pokoknya..kemana mana udah ada temennya, gak kayak dulu ya win..hehe

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.