Perjalanan Panjang ke Curug Kembar dan Ciajeng di Banten

Curug Kembar Banten

It’s ironic, but until you can free those final monsters within the jungle of yourself, your life, your soul is up for grabs

By Rona Barrett

Curug Ciajeng
Curug Ciajeng

Hello World!

Carita Pandeglang, 19 Februari 2017

Sudah lama rasanya tidak menelusuri hutan serta merasakan sejuknya air terjun. Terakhir kalinya ketika masih zaman kuliah bersama teman-teman KOSTUTI alias Kosong Tujuh Teknik Industi USU kalau tidak salah tahun 2009-an ke Air Terjun Dwi Warna dimana harus berjalan kaki selama 3 jam untuk sampai ke Curug/air terjun menelusuri hutan dan capeknya tiada tara setara dengan warna birunya yang mempesona.

Bak dapat durian runtuh, ajakan Curug pun datang dari teman-teman baru di Ciwandan, tepatnya dari Aries dan sodara-sodaranya yang bernama Geng “Gedang Gelem”.

"Mbok, ikut Curug tah? Ke Ciajeng?, kata Aries

Ikut, jam berapa?, jawabku

Minggu jam 9, jawab Aries

Ok, Ikut ya!, jawabku

Harusnya janji ke Curug pas Pemilu namun karena teman-teman seperti Yani dan Ojung tidak bisa ikut akhirnya diundar di minggua. Alasan pengajakan mereka ke Curug karena kata Yani cocoknya itu aku ke adventure dan alam-alam sehingga menantang. Padahal aku mah “pejalan murah”, murah diajak kemanapun asalkan tempatnya belum pernah aku kunjungi 😀

Jalan ke Curug
Jalan ke Curug

Jam 9 kami pun memulai perjalanan menuju ke Carita dari Ciwandan. Perjalanan naik motor dengan 3 motor, aku dibonceng Aries, Ahmad dengan Ojung dan Faqih dengan Ima.

Tiga kereta dengan 3 motor berbarengan!

Sudah lama tidak touring sehingga bergabung bersama mereka seakan umur masih muda saja 🙂

Sebelum berangkat kami pun membeli bekal, seperti biasa “Nasi Padang” adalah teman kami dengan mengumpulkan Rp20.000 perorang sudah dapat nasi dengan daging. Kemudian Ojung sempat juga membeli minuman dan roti untuk dimakan pas di Curug, barulah kami memulai ekpedisi perjalanan ke Curug. Kebetulan Ojung sudah pernah ke Curug Kembar dan Curug Ciajeng atau Ciajeung sebelumnya sehingga dialah pemandu kami.

Untuk akses ke Curug Kembar dan Curug Ciajeng atau Ciajeung Banten dari Ciwandan ke Carita jalanan masih lumayan bagus namun pas masuk ke dalam Gang di Carita dengan tanda persawahan luas yang memanjakan mata, jalananya sudah mulai jelek. Ternyata jalanan yang kami lalu jelek itu tidak seberapa karena perjalanan mulai dari Gang Carita menuju ke Curug dipastikan jelek semua, jalanan bebatuan yang siap menghantam motor hingga jalanan berlubang nan batuan semua. Intinya dalam perjalanan ke Curug 95% jalannya rusak parah!!

Tempat Parkir ke Curug
Tempat Parkir ke Curug

Jalan yang jelek sungguh ekstrim, acap kali harus berpegangan erat dengan motor mulai dari menaiki perbukitan sampai menurunin perbukitan terus menaiki perbukitan lagi. Kadang kala rasanya hampir jatuh dari motor, unutng pegangan erat. Yang lucu sepanjang jalan kami melewati dua tiga pesta pernikahan. Hampir saja kami mampir untuk makan. Terus ada satu jalan menanjak yang membuat kami para penumpang yang dibonceng harus turun dan jalan kaki seperti Ima, aku dan Ahmad menaiki perbukitan yang siap membuat mandi keringat.

Aries, Ojung dan Faqih harus sekuat tenaga meng-gas motor mereka dalam menanjak di area yang jalannya super ekstrim jelek!

Dalam perjalanan ketika kami menunggu mereka menaiki motor, banyak penduduk lokal yang menyapa kami.

Mau ke Curug kah?, tanya si ibu yang menyapa kami

Iya Bu, masih jauh kah Bu?, tanya kami

Masih, Ibu saja tidak pernah ke Curug, sahut si Ibu.

Sungguh warga lokal sangat ramah kepada kami yang menunggu sambil beristirahat, paling tidak kerumunan ibu-ibu berbicara kepada kami walau hanya tegur sapa sepintas, dan meraka tahu betul kalau tujuan kami ke Curug.

Makan gorengan dulu, kata Faqih

Horee ayoo, seru kami

Nah pas tiba-tiba melahap gorengan lewatlan Abang Bakso tusuk yang kemudian dengan sigap aku memanggil untuk membelinya.

Bang Rp4000 saja baksonya, kataku

Sambil disorakin karena beli sedikit,

Tante uangnya sedikit, jawabku nyegir hihi :D
Tiket Masuk ke Curug
Tiket Masuk ke Curug

Setelah beristirahat, akhirnya kami melanjutkan perjalanan kami karena tujuan kami masih jauh. Memang cuaca sewaktu kedatangan kami agak mendung sehingga jalanan licin namun dengan perjuangan berat akhirnya kami sampai di Desa Cinoyong, tempat Curug Kembar dan Ciajeng berada. Mungkin sudah 4 jam berlalu dan bersiap untuk jalan kaki!

Dari area parkiran, setelah melewati tempat pesta pernikahan disekitar situ tampak warga lokal mendatangi kami. Untuk tiket masuk ke Curug Rp5000/orang namun belum termasuk tiket parkir motor Rp10.000.

Tiket resminya mana? tanyaku

Ini, kata warga lokalnya sambil memberikan karcis

Terus tiket parkirnya mana, tanyaku agak bingung

"alaahhhh", teriak mereka dengan kompak!

Bingung karena aku mengira Rp10,000 termasuk tiket masuk dan parkir ternyata beda dan pas aku menanyakan itu aku ditarik kompakan oleh kelima teman tripku ini

Eee, ayoo, tarik mereka!

Maklum sebagai orang yang sudah terbiasa jalan-jalan, tiket resmi itu penting sekali dan paling malas kalau bertemu dengan orang yang ngaku-ngaku penjaga suatu tempat wisata namun tidak berkontribusi dalam wisata tersebut alias masuk ke kantongnya  saja. Semoga pikiran negativeku ini tidak benar!

Jalan ke Curug Kembar dan Ciajeung Banten
Jalan ke Curug Kembar dan Ciajeung Banten

Dari tempat parkir, ternyata kami harus berjalan sekitar 1-1,5 jam dengan kaki. Padahal dari Ciwandan kami jam 9 sampai di parkiran Desa Cinoyong sudah jam 11:30, dan dari pintu menuju ke Curug Kembar dan Ciajeng kami harus berjalan kaki lagi.

Beramai-ramai berjalan, keringat sudah bercucuran padahal perjalanan baru dimulai. Wajar duduk jadi dibonceng hampir 2,5 jam benar-benar membuat tepos belum lagi jalan kaki dengan jalan yang licin.

Duh salah pakai sepatu ke Curug karena warnya putih, si putih jadi korban!

Untuk menuju ke Curug lumayan seru walau cukup mengurus tenaga. Perjalanan kurang lebih 2 jam hambir mmebuat ngos-ngosan apalagi aku yang sudah lama tidak trekking.

Disini umur ternyata tidak bohong!

Tante sudah jompo ini, kataku kepada mereka

Sambil ditertawai mereka!

Ayoo, semangat jalan, kataku menyemangati diri dan teman-teman!
Perjalanan ke Curug
Perjalanan ke Curug

Pemandangan dalam perjalanan ke Curug Kembar dan Ciajeng sangat indah mulai dari persawahan, perbukitan serta masuk ke hutan. Udara hutan sangat segar serta pepohonan rindang, jalanan setapak yang licin menambah daya tarik ke Curug Kembar dan Curug Ciajeng yang merupakan wisata alam tersembunyi di Desa Cinoyong, Banten.

Tidak sia-sia perjalanan kami dari Kampung Jaha, Desa Cinayong, Carita Padeglang

Sesampai di Curug jam setengah satu, hujan pun turun, akhirnya  kamipun berteduh di dalam pondok yang ada dekat Curug sekalian makan bekal yang telah kami bawa.

"Makan yuk, udah jam setengah satu dan lapar", kata Ahmad

Lalu kami berenam pun duduk melingkar sambil makan siang.

Tiba-tiba pas makan, “bruk” suara kayu pondok kelihatan tidak bisa menahan berat kami. Hingga akhirnya aku pindah ke depan atas suruhan Aries. Selang saat aku pindah kemudian kami menyuruh Ahmad mengambil tongsis untuk berphoto hal yang tak diiinginkan pun terjadi.

"Brakkk, tempat duduk kami patah dan pondok nyungsep ke bawah"

Alhasil aku pindah dan teman lain masih melanjutkan makan siang.

Curug Kembar dan Ciajeung Banten
Curug Kembar dan Ciajeung Banten

Hal yang aku sangat kagumi dari Curug Kembar dan Curug Ciajeng karena adanya tempat sampah yang sediakan masyarakat lokal sehingga kebersihan Curug tetap terawat.

Hal ini patut diapresiasi  dan semoga kedepannya curug Kembar dan Curug Ciajeng tetap alami dan bersih.

Untuk jarang kedua Curug cukup berdekatan satu sama lain, kalau Curug Kembar berada di bawah maka Curug Ciajeng keatasnya lagi. Artinya kami dari pondokan harus berjalan lagi keatas Curug Ciajeng sekitar 15 menit melewati jalanan sempit dengan pemandangan air jernih di sisi kirinya.

"Yuk ke Curug Ciajeng", ajak Ojul kepada kami

Padahal masih geremis namun kami berenam berjalan menuju ke Curug Ciajeng.

 

Curug Kembar dan Ciajeung Banten
Tong Sampah di Curug Ciajeng dan Kembar, Banten

Curug Ciajeng cukup indah menurutku karena air terjunnya dari bebatuan yang tinggi, disekelilingnya pepohonan hijau sehingga serasa berada di Amazone (padahal belum pernah ke Amazone).

Debit airnya juga lumayan deras, sayangnya untuk mandi di Ciajeng tidak begitu bisa karena dibawahnya tidak bergitu luas. Kebanyakan pengunjung hanya berphoto saja dan mandi di Curug Kembar.

Kami hanya 30 menit saja di Curug Ciajeng dan berada dibawahnya cukup membuat basah.

Ah sudah lama tidak ke Air terjun!

Dan yang paling aku heran itu, meski berada di area hutan, namun Alhamdulillah kami tidak menemukan hewan yang berbahaya, paling aku bertemu ular itupun di sawah pas pulangnya dan bukan di area hutan. Kami hanya mendengar beberapa suara burung ketika berjalan dari Curug Ciajeng ke Curug Kembar.

Namun walau begitu sayangnya pas di perjalanan aku melihat adanya penebangan hutan karena kayu-kayunya diangkut dalam mobil dan tentu saja aku tidak tahu penebangan itu sudah ada izinnya atau tidak karena sayang sekali jika hutan selebat dan seindah ini harus ditebang, mengingat indahnya Curug di dalam hutan tersebut!

Curug Kembar dan Ciajeung Banten
Jalan ke Curug  Ciajeung Banten

Dari Curug Ciajeng kamipun menuju ke Curug Kembar. Beruntungnya pas menuju ke Curug Kembar hujan sudah mulai reda, namun tetap jalanan merah yang kami lalui licin. Kami juga harus menuruni jalan untuk sampai ke Curug Kembar dengan hati-hati.

Sama dengan namanya maka Curug Kembar ini terdari dari dua, tingginya memang tidak begitu setinggi Curug Ciajeng dari Bukit bebatuan namun sangat cocok untuk mandi. Disinilah kelima teman perjalananku ini mandi, sementara aku dari jauh cukup puas melihat mereka mandi sambil menahan dingin air, tentu saja air terjun ini membuat mereka menggigil. Karena aku melihat ekpresi menahan dingin dari mereka.

"Mandi teh, sini", teriak mereka

"Ah tidak, aku memandangi saja", kataku
Curug Ciajeung Banten
Curug Ciajeung Banten

Setelah kelima teman puas mandi, akhirnya kami memutuskan untuk pulang karena jam sudah menunjukkan jam 3 sore.  Temanku mengganti pakaian dekat area Curug Ciajeng dan Kembar karena terdapat tempat penggantian baju di dekat pondok milik warga setempat sekaliguas penjaga Curug. Si Bapak yang berjualan disekitar area Curug sangat rajin dalam membakar sampah yang ada.

Saat menunggu Ima, Faqih, Ojul, Aries dan Ahmad ganti baju, aku memesan jahe hangat dari pondok si Bapak warga lokal. Harganya cukup murah Rp4000/gelas.

Aku memilih duduk di bebatuan dekat Curug sambil minum segelas jahe hangat, dan menikmati hidup!

Ah Indonesia memang terlalu indah!

Beruntungnya bisa dibawa ke tempat yang penuh tantangan dan perjalanan jauh terbayar dengan pemandangan Curug yang mampu membius mata.

Say good bye dengan kegalauan! 😀

Curug Ciajeung Banten
Curug Ciajeung Banten

Setalah semua teman sudah siap sedia akhirnya kami pun melanjutkan pulang karena kami tahu betul perjalanan kami masih panjang. Meski di Curug kami hanya bersantai selama kurang lebih 2,5 jam sementara jalan kaki 3 jam serta jalan dengan motor 5,5 jam namun cukup puas.

Kalau kata Ojung, ini baru benar-benar petualangan!!

Curug Ciajeung Banten
Curug Ciajeung Banten

Tidak ada salahnya berteman dengan siapapun karena dari teman-teman baru inilah aku jadi tahu tempat baru!

Akhirnya kami pun pulang dari Curug Ciajeng dan Kembar dengan membawa kenangan tentang alam Indonesia nan rupawan

"Mbok rempong ya!"
Curug Kembar Banten
Curug Kembar Banten

Biaya Pengeluaran ke Curug Ciajeng dan Curug Kembar, Padeglang Banten

-Parkir motor Rp10.000

-Tiket masuk Rp5.000

-Nasi Padang Rp20,000

-Jahe Panas Rp4000

Total pengeluaran Rp59,000

Cukup murah kan?

Curug Kembar Banten
Curug Kembar Banten

Tips Perjalanan ke Curug Ciajeng dan Kembar

1. Mobil tidak begitu direkomendasikan ke Curug karena jalannya yang super jelek sehingga motor adalah pilihan terbaik dan kalau bisa motornya jangan matic karena areanya yang terjal dan jalan yang berlubang

2. Cara akses ke Curug Kembar dan Ciajeng dari Jalan Raya Padarincang Serang, Pasauran Calung namun bisa juga dari Bengras Kaoyang karena lokasi Curug berada di Gunung Ci Ajeng Kampung Jaha, Desa Cinoyong, Carita Padeglang, Banten

3. Terdapat penjual makanan di Curug beruapa minuman hangat dan mie sehingga yang tidak membawa makanan jangan khawatir karena ada penjual makanan

4. Sebaiknya memakai sepatu atau sandal gunung karena trekking jalannya lumayan ekstrim apalagi pas musim hujan. Jaket hujan dan tongkat trekking boleh juga dibawa

5. Membawa pemandu yang mengetahui jalan akses ke Curug biar tidak nyasar

Curug Kembar dan Ciajeung Banten
Curug Kembar dan Ciajeung Banten

Tiket Masuk ke Curug Kembar dan Curug Ciajeng/Ciajeung

Rp5000/orang

Parkir motor: Rp10.000

Alamat Curug Kembar dan Curug Ciajeng/Ciajeung

Desa Cinoyong

Kecamatan Carita

Kabupaten Pandeglang

Provinsi Banten

Jalan Curug Kembar dan Ciajeung Banten
Jalan Curug Kembar dan Ciajeung Banten

PS: ini hasil sepatu setelah pulang dari Curug Kembar dan Ciajeng.

Sepatu
Sepatuku

Ada yang sudah pernah ke Curug Ciajeng dan Kembar, Banten?

Salam

Winny

Iklan

6 Hal yang Dirindukan dari Padangsidempuan

air terjun napa padangsidempuan

Home is where the heart can laugh without shyness. Home is where the heart’s tears can dry at their own pace

By Vernon Baker

Gunung Simarsayang Padangsidempuan
Gunung Simarsayang Padangsidempuan

Hello World!

Ciwandan, 16 Februari 2017

Win, kampungnya dimana?, tanya seseorang

Di Padangsidempuan, jawabku

Oh di Sumatera Barat ya, katanya

Bukan, di Sumatera Utara, jawabku

lah Padang kan di Sumatera Barat, lanjutnya

Iya Padang di Sumatera Barat, kalau Padangsidempuan di Sumatera Utara, jawabku

Emang dimana itu?, tanyanya sambil penasaran

Tahu Sibolga atau Sipirok?, tanyaku

Kagak, jawabnya

Padangsidempuan itu 10-12 jam naik bus dari Medan atau Padang, 
kalau dari Pekanbaru 12-14 jam, ditengah-tengah dia, jawabku.

Padangsidempuan merupakan salah satu Kota di Sumatera Utara yang terkenal dengan Salaknya. Sebagai tanah kelahiran namun beberapa tidak mengetahui dimana Padangsidempuan. Jadi kalau ada yang tahu Padangsidempuan, rasanya bahagia sekali.

Setidaknya minimal 1 x dalam setahun wajib hukumnya balik kampung, namun entah seiring bertambah usia maka jika balik kampung maka jadi melow. Untuk balik ke perantauran rasanya malas sekalii inginnya lama-lama di kampung halaman bahkan pernah juga pas di mobil sepanjang perjalanan rasanya sedih sekali. Namun sebagai perantau harus kuat. Mungkin ini dirasakan semua orang sesama perantau!

Bicara kampung halaman, ada 6 hal yang membuatku rindu akan Padangsidempuan

1. Makanannya

mie yohana padangsidempuan

Makanan di kampung itu enak dan murah meriah. Ada beberapa makanan yang aku sangat rindu yaitu pecal, mie bufet yohana, lontong sampai satenya. Bahkan masakan mamaku juga sangat kurindukan. Entah kenapa kalau pulang kampung ke Padangsidempuan, mamaku itu pasti dimasakin banyak dan semuanya kesukaan. Padahal udah gede begini masih diperlakukan seperti bocah, kadang wajib tambah kalau sudah makan masakan mamaku. Mulai dari silalat duda, tambah tempe dan teri nasi pedas, kalau sudah begitu pengen makan melulu.

2. Bahasa

padangsidempuan
Padangsidempuan

Meski sudah pernah tinggal 5 tahun di Medan, 2 bulan di Bogor, 10 bulan di Kupang, 4 tahun di Jakarta dan sekarang terdampar di Ciwandan namun tetap logat Batakku tidak bisa hilang. Entah bagaimana caranya agar logat Batakku hilang, tapi yaudahlah yah namanya juga udah bawaan lahir. Nah kalau pulang ke Padangsidempuan aku akan sangat bahagia sekali karena semua masyarakatnya berbahasa Batak dalam percakapan sehari-hari. Merasa lega karena bisa memakai Bahasa Batak bahkan teman sekampung sampai heran karena meski merantau tapi tetap Bahasa Batakku kental. Habis kalau ketemu teman sesama Padangsidempuan pasti bawannya memakai bahasa Batak misalnya temanku si Muja yang tinggal di Jakarta pasti kalau ketemu kami berdua langsung pakai Bahasa Daerah, agak janggal kalau tidak memakai Bahasa daerah.

Baca juga contoh Bahasa Batak Padangsidempuan

3. Keluarga dan Teman

Evlin dan Marwan saat persiapan

Kelurga dan teman juga faktor utama yang membuat rindu kampung halaman. Meski dipastikan setiap pulang kampung hanya segelintir teman yang bisa aku jumpai karena kebanyakan temanku sudah menikah. Terus kalau sudah di rumah bawaannya paling jalan-jalan sama sanak saudara.

4. Becak Motornya

Sumber Photo (Bp Blogspot)
Sumber Photo (Bp Blogspot)

Becak motor Padangsidempuan ini unik, dan sepanjang perjalanan hanya ada di Sumatera Utara itupun tidak semua ada hanya ada di Padangsidempuan, Mandailing, serta di Siantar. Dulu waktu sekolah sering naik becak motor dan kemana-mana juga naik becak motor. Udah lama juga tidak naik becak motor, paling kalau pulang kampung halaman.

5. Persawahan

Padangsidempuan
Padangsidempuan

Persawahan Padangsidempuan juga membuat rindu karena saat kecil Alm. Nenekku sering membawaku dan adikku mengitari persawahan. Bermain empang, mencari siput di sungai sampai menghalau burung sambil bersantai di tempat teduh serta makan sambil melihat persawahan. Mengenang masa kecil ternyata menyenangkan bahkan di Padangsidempuan ada namanya Jalan Baru khusus area persawahan dengan jalan rayanya.

6. Lagu daerahnya

"ketabo, ketabo, ketabo dongan tu Sidimpuan ni, 
musim ni salak sannari disi dongan,
tonggi capot tai taboo",

itulah sepenggal lagu daerah dari Padangsidempuan yang aku rindu. Apalagi pas mendengarkan lagu daerah dari radio sambil makan terus ngerumpi ama keluarga, duh surga dah!

Terus bagaimana cara akses ke Padangsidempuan?

Caranya gampang dan banyak pilihan

1.Pesawat dari Jakarta langsung ke Sibolga kemudian naik bus travel lagi 2 jam ke Padangsidempuan

2. Pesawat dari Jakarta langsung ke Kuala Namu kemudian naik bus travel lagi 8 jam ke Padangsidempuan

3. Pesawat dari Jakarta langsung ke Padang kemudian naik bus travel lagi 8-10 jam ke Padangsidempuan

4. Pesawat dari Jakarta langsung ke Pekanbaru kemudian naik bus travel lagi 10-14 jam ke Padangsidempuan

5. Naik bus dari Jakarta selama 2-3 hari dan malam dan turun di Padangsidempuan

Untuk ukuran Kota, Padangsidempuan itu kecil namun orangnya ramah-ramah dan masih ASRI serta adat budayanya masih kental. Wisatanya memang masih sedikit namun jika berjalan kelaur Kota banyak wisata menarik yang bisa dikunjungi seperti Candi Portibi, Aek Sijornih, Sibolga dan Sipirok dengan pegunungan dan air panasnya. Padangsidempuan sendiri memiliki wisata Simarsayang, dan katanya sih ada tempat wisata baru yang dibuka disana namun aku belum pernah maklum pulang kampung pas sekali setahun doang.

Udah begitu dulu tentang kampung halamanku Padangsidempuan!

Ada yang mau ikut ke kampungku?

Salam

Winny

Cerita Horor Perjalanan

candi cetho karanganyar

You gain strength, courage, and confidence by every experience in which you really stop to look fear in the face. You are able to say to yourself, ‘I lived through this horror. I can take the next thing that comes along.

By Eleanor Roosevelt

solo

Hello World!

Ciwandan, 14 Februari 2017

Jujur saja aku tipe penakut. Bahkan banyak yang tidak percaya kalau aku sebenarnya penakut terlebih yang berhubungan dengan yang namanya makhluk halus. Bukan apa-apa, aku tidak pernah membayangkan makhluk-makhluk yang kasat mata itu. Banhkan nonton film horor saja ogah!

"Masa sih dirimu penakut, Win? Gak meyakinkan kata teman

"Jangan bilang warna kesuakaanmu merah jambu juga? 
lanjutnya sambil nyengir

"Iya, jawabku

"Wkakakkakakaka, kagak cocok deh samamu dengan pink, 
sambil tertawa terpingkal-pingkal.

Haloooo, apakah aku kelihatan setangguh itu makanya tidak ada takut-takutnya?

Aku penakut loh!

Namun apa boleh buat ternyata dari beberapa perjalanan sempat memiliki pengalaman horor, horornya dikarena aku membawa teman yang ternyata memiliki indera keenam. Terus dengan polos si kawan itu menceritakan apa yang dilihatnya. Menakutkannya justru cerita teman melihat yang tak terlihat olehku terakhir aku membayangkannya, asli ke toilet saja aku tidak berani, harus ditemani.

Nah dari sekian banyak perjalanan, paling tidak ada 4 pengalaman yang pernah aku alami dengan gaib-gaiban!

4 Daftar pengamalam horor saat perjalanan

1. Dielus Kepala oleh Makhluk halus di Solo

Kejadiannya pas aku, Reza, Sarta, Gladies, Desti dan teman bule asal Swiss “Cecil” menginap di salah satu penginapan di Solo. Alasan pemilihan penginapan itu karena baca di blog teman blogger terus dari gambar kelihatan bagus. Eh siapa sangka sampai disana “zonk”. Kami tiba tengah malam, terus teman yang kami bawa salah satunya indigo alias yang memiliki penglihatan yang tak biasa. Pas masuk ke dalam penginapan, nuansa Jawa nya terkenal sekali, si teman sudah mulai pucat pasi. Kemudian hawa-hawa tak enak juga kami rasakan kemudian kami dituntun menuju ke kamar yang hendak kami tempati.

Dari pintu masuk hingga ke kamar yang kami tuju, kami melewati lorong dan disamping lorong itu terdapat 3 gambar anak kecil di dinding kemudian aku berseru “Gila serem amat ini photo, sambil mengambil photo yang ditengah dari 3 gambar tersebut”. “Jepret” kemudian berjalan lagi menuju ke kamar yang hendak kami tempati yang berada di bawah. Pas ditunjukkan kamar bawah, si kawan yang punya mata tak biasa “gemetaran” dan tidak mau menginap di kamar itu, alhasil melihat reaksi si kawan ini kami semua jadi ketakutan sehingga awalnya kami memesan dua kamar malah memesan satu kamar saja itupun si Reza satu-satunya cowok jadi ikut sekamar dengan kami bertiga. Sementara Cecil geleng-geleng dengan tahayul yang kami percayain bahkan si Cecil berani tidur sendiri.

surakarta

Pas saatnya tidur aku sulit sekali tidur kalau dalam bahasa Bataknya Padangsidempuan “busa-base”, terus saat aku melihat temanku di pada nyenyak aku malahan merasa iri.

Wiii mereka tidur nyenyak sementara aku tidak bisa tidur, dalam hatiku

Terus melihat ruangan takut sendiri, hanya ada cahaya dari toilet karena lampu dimatikan padahal dalam hati udah baca ayat-ayat supaya tidur tapi tetap tidurnya tidak nyenyak. Alhasil akupun tidur ayam!

Hingga keesokan harinya pas di pagi hari

"Wei, kalian tidurnya nyenyak banget, aku gak bisa tidur", kataku

"Aku juga gak bisa tidur kok", kata Sarta

Aku juga, kata Gladies dan Reza

Perasaan kalian nyenyak, tidurnya kataku

Tau gak Win, semalam dirimu dielus-elus, kata Desi

Yang sontok membuat wajahku jadi pucat dan teman yang lain pada kepo.

Dielus gimana maksudnya, tanya Reza dengan semangat

Iya dielus, kepalamu disandarin kepahanya terus dielus-elus, kata Desti

Dirimu sih bandel ngambil photo di tengah itu, kata Desti

Mendengar itu bulu kudukku langsung merinding dan photo di camera langsung di hapus.

Yuk cabut check out dari sini kataku dengan penuh ketakutan!

2. Uji Nyali di Lawang Sewu

lawang-sewu

Eh kalau kita ke Semarang ke Lawang Sewu yuk 
kan sering tuh jadi tempat shooting lain dunia lah, 
Uk-Uk lah dan masih banyak lagi

Tapi kalau bisa malam ajalah kita ke Lawang Sewunya biar seru!!

Waktu itu aku, Sarta, Andisu, Irwan, Desti dan Nirwan sengaja berkunjung ke Lawang Sewu jam 9 malam (9 malam!!!!)

Kaminya emang kurang kerjaan udah jelas membawa satu teman memiliki indera keenam, alhasil sepanjang tour malam Lawang Sewu ketakutan kami malahan melihat pucat pasi teman kami. Apalagi saat melihat terowongan dibawah Irwan gemetaran melihat ada yang lewat. Untungnya aku tidak melihat yang dilihatnya!

Kemudian pas dipojokan ke arah lantai 3 kalau tidak salah, aku, Sarta, dan Andisu serta Nirwan dan Irwan hendak menaiki tangga ke arah kamar kosong nan gelap sementara dari bawah Desti pucat sekali.

Aku kalau ke atas gak ikut ya, kata Desti

Sarta kemudian yang melihat kepucatan yang tak biasa langsung turun dari tangga. Sementara aku, Andisu dan Irwan berhenti sejenak hingga kami mengurungkan niat ke lantai 3 dan dengan beribu langkah cepat-cepat meninggalkan Lawang Sewu.

Apa sih yang kau lihat di lantai 3 itu?,
tanya teman-teman penasaran

Banyak yang disitu paling banyak, jawabnya

Ternyata mengunjungi Lawang Sewu pas malam hari bukanlah pilihan tepat terlebih ketika membawa teman yang bisa melihat alam gaib.

3. Kunti lewat di Goa Ngalau Indah Payakumbuh

goa-ngalau-indah

Perjalanan ngebet ingin mengunjungi semua tempat wisata di Payakumbuh dalam waktu singkat bukanlah pilihan yang tepat. Waktu trip ke Sumatera Barat pertama kali, aku ditemani Nyakmat ke Goa Ngalau Indah di Payakumbuh. Salahnya kami adalah jadwal kedatangan kami waktu itu pas sore hari. Udah tahu sore namun kami tetap bela-belain naik ke atas Bukit demi ke Goa Ngalau Indah.

Pak, masih bisa masuk ke dalam Goa?, tanyaku

Bisa Mbak, tapi sudah sedikit pengunjungnya 
karena sudah mau maghrib, kata petugas

Namun saking penasarannya akhirnya aku dan Nyakmat berjalan menuju ke depan pintu masuk Ngalau Indah. Belum juga masuk kedalam Goa, masih di depan pintunya saja aku melihat Nyakmat terdiam kaku berhenti dengan muka pucat sambil melihat kosong ke dalam Goa seolah sedang terhipnotis. Sementara aku melihat ke arah pandangannya tidak ada siapa-siapa.

"Win, nakkon be daboo masuk ita tu bagasan, kata Nyakmat"

(Win, tidak usah kita masuk kedalam ya)

 Asi?, tanyaku
"Adong uida nalewat nabottar disi, kata Nyakmat"

(Kenapa? Ada aku lihat warna putih disitu)

Akhirnya mendengar itu aku berlari dan Nyakmat juga berlari, menjauh dari tempat itu dan buru-buru pulang.

4. Suasana Mistis di Candi Cetho Karang Anyar

candi-cetho

Salahkan saja jadwal kedatangan kami karena kami tiba pas magrib di Candi Cetho. Kenapa kami baru tiba di Karang Anyar baru sore dikarenakan waktu trip keliling wisata Solo bersama  Reza, Sarta, Gladies, Desti dan Cecil jatuhnya jalan sesingkat mungkin daftar wisata sebanyak mungkin. Tanpa kapok seperti biasa membawa teman yang lagi-lagi bisa melihat dan pas kami memasuki ujung Candi aura mistis membuat merinding. Mungkin walau tidak bisa melihat, namun asli berada di Candi Cetho pas menjelang maghrib membuat bulu kuduk berdiri. Belum lagi pas si kawan lagi-lagi melerai untuk tidak ke ujung Candi.

Kalau mau kesana, kalian saja ya, aku tidak ikut

Alhasil mendengar itu kami tidak berani melanjutkan perjalanan ke jalan ujung Candi dan meninggalkan tempat dengan seribu langkah karena kami tahu betul teman kami ini diberikan penglihatan yang kami tidak bisa lihat.

Ah timing kami tidak tepat ke Candi Cetho, padahal Candi Cetho cukup mengagumkan, mungkin lain kali harus datang pada siang hari.

Begitulah 4 cerita horor di 4 tempat berbeda yang pernah aku alami, dan rata-rata yang membuat horor adalah si kawan karena ketakutannya justru membuat kami takut apalagi pas melihat reaksi pucat si kawan karena si kawan ini melihat yang tidak bisa dilihat mata kami, si mata biasa.

Ada yang punya cerita horor pas perjalanan?

Salam

Winny

9 Daftar Pantai Cakep di Indonesia

keindahan wisata kupang

The distance between insanity and genius is measured only by success.

By Bruce Feirstein

Pantai Kolbano kupang
Pantai Kolbano kupang

Hello World

Jakarta, 11 Februari 2016

Win, ke Pantai yuk!!

Banyak sekali teman yang mengajak ke Pantai, padahal aku tipikal orang yang memiliki  “standar nilai pantai” jika ingin mengunjungi Pantai karena jujur saja kalau Pantainya biasa-biasa saja bikin males. Maklum sebagai seseorang yang pernah tinggal di Kupang selama 10 bulan dengan Pantainya yang bersih, gratis dan cakep membuat standar Pantaiku menjadi sangat tinggi. Jadi ketika melihat Pantai butek jadi malas (pejalah angkuh :P)!

Beruntungnya Indonesia memiliki daftar Pantai yang cukup bagus-bagus bahkan belum khatam-khatam saking banyaknya. Untuk daftar pantai indah dan kece yang aku sukai di Indonesia (yang pernah dikunjungi):

1. Pantai Panjang, Kupang

Pantai Pasir Panjang Kupang
Pantai Pasir Panjang Kupang

Pantai yang membuat rindu itu Pantai Kupang, karangnya bagus, warna lautnya biru dan pasirnya putih. Terus gratis lagi. Jujur saja gara-gara pantai di Kupang ini yang membuat standar Pantaiku tinggi. Bayangkan saja dulu hidupku berkutat dari Pabrik-mess kemudian di depan Mess LAUTAN LEPAS setiap hari!! Kalau sore pergi ke Pantai, kalau weekend main ke Pantai. Pokoknya Kupang itu adalah SURGA SI PENYUKA PANTAI!! Sepanjang Pulau penuh dengan Pantai mulai dari Pantai Lasiana, Pantai Tablolong hingga Pantai Pasir Panjang Kupang dan masih banyak lagi daftar pantai di Kupang.

2.Tanjung Gelam, Karimun Jawa

Karimun Jawa
Karimun Jawa

Aku ke Karimun Jawa  bersama Jard, Danang dan teman blogger. Karimun Jawa tak kalah cantiknya, karena Pantai di Karimun Jawa itu cakep sekali mulai dari pasir putih terus kealapa, warna lautnya juga kece dan pengalaman yang tak terlupakan ketika makan kelapa dan Indomie sambil menunggu sunset di Tanjung Gelam, Karimun Jawa. Pantai super kece dan membuat betah lama-lama!! Belum lagi Pantai lain di Karimun Jawa seperti Pantai Gosong yang pasir ditengah laut, duh itu spot photo terkece yang pernah aku punya.

3.Pantai Pulau Kera, Kupang

Pulau Semau
Pulau Semau

Setelah menaiki perahu kecil yang memicu rasa takut karena tidak bisa berenang seketika sirna ketika sampai di Pulau Kera, Kupang dengan pantai yang super cakep. Waktu itu aku pergi bersama teman-teman MT di kantor. Lautnya berwarna biru ke unguan belum warna pantainya kemerahan terus pantainya gratis lagi. Puas-puas dan gulung-gulung di Pasir, berjemur juga ok mau nyelam juga ok atau bahkan snorkeling. Kalau yang belum pernah trip ke Kupang, maka wajib memasukkan list kunjungan ke Kupang, Nusa Tenggara Timur untuk mendapatkan sensasi Pantai indah.

4. Pantai di Pulau Peucang Ujung Kulon Banten

Pulau Peucang
Pulau Peucang

Ujung Kulon juga masih masuk kedalam kategori pantai kece di Indonesia untukku karena warna pasirnya putih terus warna lautnya biru dan banyak pepohonan rindang di tepi pantai. Weekend trip cocok ke Pulau Peucang, Taman Nasional Ujung Kulon karena jujur saja aku dulu mengunjungi Ujung Kulon karena stress dengan masalah percintaan (aku kan manusia biasa jadi biasa baper juga soal asmara 😀 #ngeles) kemudian pulang dari Pulau Peucang semua rasa gundah dihanyutkan oleh Pantai di Pulau Peucang

5. Pantai di Belitong

Pulau Batu Berlayar Belitong
Pulau Batu Berlayar Belitong

Untuk Belitong yang menarik dari Pantainya adalah dari batu-batunya yang besar. Waktu itu aku ke Belitong bersama Bang Novri, Dendi dan teman-temannya. Kalau untuk pantai sebenarnya masih biasa buatku cuma dengan Batunya membuatnya semakin eksotis. Belum pagi sebagai kepulauan maka Pantainya banyak.  Tak heran banyak wisatawan yang datang ke Belitong apalagi setelah Laskar Pelangi booming, salah satu korbannya yah aku. Waktu itu aku diajak ke Belitong terus sambil minum kelapa pas di Pulau lengkuas, itu pengalaman seru!

6. Pantai Ujung Genteng

Sunset di Ujung Genteng
Sunset di Ujung Genteng

Ujung Genteng termasuk Pantai yang aku suka karena sunsetnya itu indah terus bisa melihat penyu yang dilepaskan ke lautan lepas. Melihat penyu-penyu itu serasa bahagia banget, kemudian ombaknya gede dan pasirnya juga bersih. Waktu itu aku pergi bersama Muja, Sarta dan Dede dan teman-temannya. Aku bahkan senang berlama-lama di Pantai Ujung Genteng, namun satu penyakitnya kesananya itu lumayan menantang. jauh bok! Meski dari Jakarta namun rutenya ibarat Pulang Kampung dari Medan ke Padangsidempuan belum kalau perginya pas weekend, siap-siap macet dan perjalanan 12-14 jam.

7. Pantai Kuta Baru

Karang pantai kuta baru
Karang Pantai Kuta Baru

Pantai Kuta Baru juga merupakan Pantai terindah di Bali yang sangat aku suka (menurutku loh ya) karena seru dan tentram saja pas sunset di Pantai Kuta Baru Bali. Waktu itu aku trip dengan Susanto, Surya dan William di tahun 2010 dan kami tidak sengaja mampir. Terus ketidak sengajaan kami malah membuat kami puas dengan suasana Pantainya bak menyihir kami dengan sunset dan pasirnya serta deburan ombaknya.

8. Pantai di Lombok

Aku di Gili Trawangan Lombok
Aku di Gili Trawangan Lombok

Lombok juga memiliki Pantai yang super bersih dan kece. Pulaunya juga asik dikelilingi dengan jalan. Bahkan Pulau Lombok sangat cocok bagi siapapun yang ingin berbulan madu. Waktu ke Lombok dulu tepatnya ke Gili Trawangan sumpah membuat baper ketika melihat pasangan beromantis ria. Sementara aku bersama teman-teman sambil melihat orang pacaran.

Sur, pokoknya suatu saat aku ke sini bawa pacar ah, 

Masa kita lihat orang pacaran mulu, kataku

Wkwkkwkw, iya win, sahut Surya 

9. Pantai Pulau Pasumpahan Sumbar

Pulau Pasumpahan Padang Sumatera Barat
Pulau Pasumpahan Padang Sumatera Barat

Pulau Pasumpahan  juga memilik Pantai Kece dengan warna lautnya agak kehijau-hijuan, terus Pulaunya damai warna pasinya putih, pohon kelapanya banyak kemudian warung untuk beli makanan juga banyak. Kurang nikmat apa lagi?

Nah loh ternyata banyak juga Daftar Pantai kece di Indonesia dan tentu saha masih banyak lagi Pantai-Pantai indah di Indonesia.

Win mantai Yuk?

Ayok tapi standarnya minimal sebelas dua belas dengan 9 Daftar Pantai Cakep diatas ya 😉

Salam

Winny

Weekend Trip ke Pantai Tanjung Lesung

Pantai Tanjung Lesung Banten

There is always enough light at the end of the tunnel, as long as you strife to not end your Journey inside the tunnel.

By Unknown

pantai-tanjung-lesung

Hello World!

Banten, 5 Februari 2017

Sejak mutasi ke Ciwandan per Natal 2016 maka jika waktu libur datang kerjaku adalah bolak-balik Jakarta atau kalau sedang tidak ke Jakarta berkurung diri di Mess. Penyebabnya sih sederhana karena kendaraan susah dan malas juga kemana-mana. Tidak dengan weekend trip di bulan Februari, karena aku sudah mulai beradaptasi dengan lingkungan dan teman-teman baru di Pabrik. Nah ternyata berteman dengan siapapun itu seru loh jadi menjadi supel menjadi kelebihan tersendiri. Salah satunya Aries yang berumur 19 tahun ini merupakan pemuda Ciwandan atau kata kerennya warga lokal yang ternyata punya hobi menjelajah wisata di sekitar Banten. Karena dia tahu aku suka jalan akhirnya diajaklah jalan-jalan disekitar Banten.

"Teh, minggu kemana? Mau ikut ke Tanjung Lesung tak?, kata Aries

Mau, kataku tanpa pikir panjang

Kapan?, tanyaku langsung

Tanggal 5 Februari, jawabnya

"Ok ntar aku ikut ya, aku tidak akan ke Jakarta tanggal itu, jawabku.

Sejak itu aku mengosongkan jadwal demi jalan-jalan karena kebetulan aku belum pernah ke Tanjung Lesung. Yang aku tahu kalau Tanjung Lesung itu berada di Banten dan merupakan resort. Walau sebenarnya aku bukan penggemar wisata Pantai namun sudah lama tidak piknik akhirnya tidak ada salahnya liburan mantai dulu sebelum jadi manten :D. Maka jadilah weekend trip ke Pantai Tanjung Lesung.

Tanjung Lesung
Tanjung Lesung

Hari H aku, Aries dan 3 sudaranya Maswan, Yani dan Ahmad sudah berkumpul. Awalnya kami hendak ke Tanjung Lesung jam 7 pagi namun kami baru berangkat jam 9 pagi dari Ciwandan. Yang lucu dari perjalanan dengan Aries karena teman perjalanannya itu satu keluarga semua alias Saudara dan mereka memang sering jalan-jalan keliling wisata Banten.

Pagi-pagi kami sudah berangkat dengan semangat 45 menuju Tanjung Lesung dan berharap hari cerah karena sehari sebelumnya hujan. Kurang cantik ke Pantai kalau pas hujan! Eh kami beruntung karena dalam perjalanan kami ke Tanjung Lesung cuaca bersahabat. Sayangnya karena kami berangkat pagi sehingga belum sempat sarapan alhasil sepanjang jalan menahan lapar agak lama lagi karena meski kata Google Map jaraknya hanya 2 jam namun perjalanannya 3 jam. Maklum kamimengunjungi Tanjung Lesung untuk pertama kalinya.

Tanjung Lesung
Tanjung Lesung

Aries di Tanjung Lesung ada jualan pecal gak?, tanyaku pada Aries
Dicoba dulu, kata Aries

Tunggu ini pecal yang dimaksud bukan pecel lele kan? Karena kalau orang 
Jakarta biasanya pecel itu ayam bukan sayur, sahut Yani memastikan

Pecel sayur, ada gak?, tanyaku

Harusnya di Anyer banyak tapi sudah lewat, timpal Aries

Akhirnya sepanjang jalan dari Ciwandan-Tanjung Lesung yang aku cari adalah penjual pecal bak orang ngidam.  Namun tak satupun ada pecal dalam perjalanan yang ada kalau tidak Bubur Ayam, nasi uduk atau nasi Padang.

Pokoknya sepanjang perjalan aku selalu menanyakan dimana bisa menemukan pecal hingga keempat teman perjalananku ini hapal betul kalau aku ingin pecal.

“PECAL”, kata mereka serentak!!

Tiket Tanjung Lesung
Tiket Tanjung Lesung

Perjalanan Ciwandan-Tanjung Lesung sebenarnya lumayan jauh karena kami masih mencari jalan kemudian ada beberapa jalanan yang masih jelek. Agak miris melihat jalanan raya di Banten yang rusak dan berlubang.

Sepanjang perjalanan kami membahas hal yang tidak penting mulai dari gosip, politik hingga ujung-ujungnya tentang perjalanan. Serta pemandangan kiri-kanan itu sangat indah mulai dari persawahan, laut rumah penduduk, pasar sepanjang jalan Anyer-Carita hingga ke Labuhan. Perjalanan ke Tanjung Lesung juga mengingatkanku ketika melakukan trip ke Ujung Kulon sekitar 4 tahun yang lalu.

"Aries berhenti Geh" kata Yani ketika 
kami melewati sebuah warung Nasi Padang

"Kita beli nasi disni aja nanti siapa tahu gak ada 
jualan di Tanjung Lesung", katanya

Dan kami pun setuju dengan ide dari Yani sambil memberikan uang kepada Yani. Tentu saja ide Yani inilah yang menjadi penyelamat kami saat berada di Tanjung Lesung.

Dalam perjalanan kami berhenti paling tidak dua kali berhenti di Pom bensin dan beli cemilan. Kebiasaan kalau jalan-jalan, nyetok cemilan!

Pantai Tanjung Lesung Banten
Pantai Tanjung Lesung Banten

Sesampai di Tanjung Lesung sekitar jam 12 siang kami sempat bingung masuk kedalamnya karena merupakan kawasan resort, pohonnya rapi, jalananya tertata dan tamannya bagus lagi. Sampai-sampai Maswan menelepon temannya memastikan bahwa yang kami kunjungi adalah benar karena memang sepanjang jalan modal kami hanyalah mengikuti petunjuk jalan. Hingga sampai di Post Satpam dari Tanjung Lesung

Mana Pantainya, tanya Aries

Tanjung Lesung ini "resort" ya?, tanya Yani

Setahuku sih iya, kataku
Tapi aku kira ada Tanjung Lesung yang lain jawabku dengan polos

Kemudian si Bapak petugas menghentikan mobil kami

Selamat siang, mau kemana?, tanyanya 

Ke Pantai Tanjung Lesung, benar kan ya Pak ini jalannya, tanya kami

Kemudian si Bapak mengiyakan sambil memberikan kartu pass untuk kami sambil berbicara Bahasa Sunda namun kami tidak mengerti.

Pantai Tanjung Lesung Banten
Pantai Tanjung Lesung Banten

Akhirnya kami berjalan lurus hingga sampai kepada penjaga satpam kedua yang mengatakan kami salah jalan.

"Emang si Bapak pertama ngomong apa?" tanya Yani

"Endi", kata Aries disambut gelak tawa kami 

Kocak sih meski pergi dengan orang lokal namun bisa nyasar juga sampai Maswan telpon bolak-balik temannya loh dimana pantai Tanjung Lesung (padahal udah jelas-jelas di Tanjung Lesung).

"Belok sebelum putaran kedua" kata si Pak Satpam kedua

Hingga akhirnya kami sampai di depan Pos penjaga Pantai Tanjung Lesung.

Dari papan informasi terdapat tulisan “Harga tiket masuk Tanjung Lesung weekend Rp40,000/orang, Senin-Jumat Rp25,000”

"Tiket masuknya Rp40,000/orang dan parkir mobil Rp5000", kata petugas
"Pak tidak bisa borongan per mobil ta", jawab Yani menwar

"Maaf tidak bisa , Pak", kata petugas

"Jadi gimana, mahal banget ini Pantai", kataku

"Lanjut sajalah kata Maswan, Ahmad, Aries dan Yani"

Alhasil Pantai Tanjung Lesung merupakan pantai pemecah rekor Pantai termahal yang pernah aku kunjungi dalam hidupku. Habis tinggal di Kupang 10 bulan depan pantai eksotis gratis pula membuat benchmark Pantaiku jadi tinggi.

Pantai Tanjung Lesung Banten
Pantai Tanjung Lesung Banten

Memasuki area Tanjung Lesung, pantainya lumayan bersih. Banyak yang bisa dilakukan termasuk berenang di Pantai, dan aktivitas lainnya seperti berhemah, bersepada, main banana boat namun tentu saja harus mengeluarkan koceh lagi.

Yuk, puas-puasin di Pantai Mahal, kataku

Alhasil kami berlima mengambil nasi Padang yang kami beli setelah berphoto di depan tulisan “Beach Tanjung Lesung”.

Gila enak banget nasi Padangnya, kataku
Untung tadi kita beli ya, kata Yani yang kemudian yang kami aminin.

Ternyata makan nasi Padang sambil menatap lautan lepas itu sungguh menyengkan. Coba tidak ada nasi Padang dipastikan kami kelaparan atau paling mentok makan deh di resort Tanjung Lesung.

Hal yang aku suka di Tanjung Lesung pas tidur-tidur di bangku yang ada serta bisa melihat anak Gunung Krakatau !!

Pantai Tanjung Lesung Banten
Pantai Tanjung Lesung Banten

Akhirnya kami berlima menjelajah setiap sudut Pantai Tanjung Lesung karena tidak mau rugi.

Walau mahal namun ternyata seru juga bersama mereka apalagi pas photo-photo pakai Tongsis lupa umur coy!!

Padahal yah diantara mereka aku yang paling muda!!

Apa yang menarik di Tanjung Lesung? tanyaku

Jembatannya, jawab mereka

Eh pas sampai di sana ternyata jembatannya rusak.

Maaf jembatan rusak!!

Alhasil kami numpang photo di jembatan rusak.

Eh yuk photoin di Jembatan namun posenya sambil menatap dan berseru, 
eh jodoh kamu dimana?, kataku

Mereka sontak ketawa ngekeh mendengar celotehanku anehku

Pantai Tanjung Lesung Banten
Pantai Tanjung Lesung Banten
Pas di jembatan eh tiba-tiba anginnya kencang.

Dirimu makai baju hijau sih Yani, kataku

Makanya jadinya anginnya kencang kayaknya sih ngusir, lanjutku

Seru juga ternyata jalan bareng mereka!

Terus masih jadi mandi di Pantai? tanyaku lagi
Pantai Tanjung Lesung Banten
Pantai Tanjung Lesung Banten
Tanjung Lesung
Tanjung Lesung

Walau Pantainya tidak rekomended (karena aku bukan fans berat wisata pantai) untuk harga yang lumayan namun trip weekend ke Tanjung Lesung kali ini seru, seru dengan tawa!

Aku jadi merasa muda 😀

 

Lokasi Tanjung Lesung

Hotel and Resourt Tanjung Lesung

Banten

Harga tiket masuk Green Coral

Rp40.000/ orang (Weekend)

Salam

Winny

Pengalaman Bertemu Orang Baik di Penjuru Dunia

bosphorus-turkey

“It is good people who make good places.”
By Anna Sewell

Orang lokal

Hello World!

Ciwandan, Februari 2017

Travelling itu tidak melulu tentang wisata atau mengunjungi tempat-tempat indah yang ada dalam bucket list kita, namun juga tentang bertemu dengan orang baru dalam perjalanan. Malahan kadang ingin kembali ke tempat yang sudah pernah dikunjungi karena rasa sentimen tentang orang yang dijumpai. Begitu juga denganku, banyak sekali di dalam perjalanan itu bertemu dengan orang-orang yang baik hati. Bertemunya juga bermacam-macam ada dari bekas gebetan Mantan, ketemu di Kereta, kenal di Website sampai yang bertemu tak sengaja sampai dipungut di jalan yang menjadikan sebuah cerita dan pengalaman tentang hidup dengan bertemu orang asing di suatu tempat.

Adapun pengalaman bertemu dengan orang Baik dalam perjalanan dari Penjuru Dunia, iya karena bertemunya gak haya di satu tempat namun di berbagai tempat, paling tidak ada 8 pengalaman bertemu dengan orang-orang baik di 8 Negara berbeda

1.  Abang Pengemudi Mobil Sayur di Kawah Ijen, Indonesia

Ijen crater
Ijen Crater

Gara-gara antara pelit atau hemat, aku memutuskan tidak jadi menyewa mobil dari Stasiun seharga Rp800.000 seharian tanpa bensin karena hasil searching internet harga normal harusnya Rp500,000 dengan bensin yang membuat aku, Melisa, Bang Dendi dan Bang Novrizal luntang-lantung tak jelas demi ke Kawah Ijen. Mulai dari naik angkot kemudian jalan kaki terus nebeng-nebeng orang terus jalan kaki lagi sampai di Batu licin kemudian jalan kaki lagi hingga berhenti di warung Ibu-Ibu yang merupakan rumah terakhir ke arah Kawah Ijen selebihnya akan ada hutan belantara saja.

"Bu ada orang yang pernah jalan kaki ke Kawah Ijen?, tanyaku

"Wah Neng, itu jauh sekali tunggu saja jam 10 malam nanti ada biasanya
 mobil pick up sayur yang lewat ke atas Ijen, katanya sambil menasehati"

Untungnya saran si Ibu kami turuti karena jika tidak betapa mengerikan jalan menanjak yang katanya hanya 8 km itu seakan 80 km disekeliling hutan belum lagi pas kami datang hari sudah larut malam. Diwarung si Ibu inilah kami berempat menggembel sambil menunggu kedatangan si Babang yang akan naik ke atas sambil minum secangkir teh hangat dan jajan di warung si Ibu. Barulah tepat jam 10 malam akhirnya si Abang  yang ditunggu muncul juga, dengan bantuan si Ibu Warung tentunya mengatakan kami berempat ingin nebeng dengan si abang. Dan ternyata si Abang ini mengizinkan kami untuk bersamanya naik ke atas paling tidak sampai di kaki Ijen.

"Neng, gak apa kan dengan pick up, tanya si Abang

"Gak apa Bang", kataku

Hingga akhirnya aku dan Melisa duduk di depan bersama si Abang dan Bang Dendi dan Bang Novri dibelakang bersama sayur. Haha 😀 kasihan sih ama mereka berdua jadi korban tapi sisi baiknya sih perjalanan kami kan murce alias murah ceria.

Pas di dalam mobil si abang bertanaya-tanya kepadaku dan Melisa

"Neng Mahasiswa ya?, tanyanya

Iya bang kataku, sambil Melisa mencubit pahaku karena aku tidak mengatakan
aku juga pekerja

Terus ngapain ke Kawah Ijen Neng?

Kami mau lihat blue fire Bang tanyaku dengan sok-sok an
Untung loh kami bertemu abang kalau tidak kami sudah jalan kaki, 
lanjutku

Kemudian si Abang mengatakan wah kalau jalan kaki berbahaya Neng, hutan melulu lanjutnya.

Sesampai di Puncak kaki pintu menuju ke Kawah Ijen, Melisa pun bergumam

"Win, mau kasih berapa ya ke Abang-abang?" tanyanya

"Rp50,000 cukup kali ya Mel apa Rp25,000 seperti saran si Ibu Warung?", 
lanjutku

Dan ternyata pas hendak aku kasih uang si Abang menolak meski aku sudah bersusah payah agar uang kami diterima namun tetap si Abang menolak yang membuat kami terharu. Terharu karena masih bisa bertemu dengan orang-orang Baik di Negeri ini. Sayangnya aku lupa mengambil photo dengan si abang ini dan lupa namanya juga namun yang pasti berkat jasalah kami sampai ke Kawah Ijen.

Baca juga Trip ke Ijen

2. Dua Gadis Jepang di Fushimi Inari, Kyoto

Fushimi inari Shrine

Ok lupakan kalau perjalanan ke Jepang merupakan “disaster” karena salah membawa teman perjalanan karena nyatanya setelah adegan ketidakcocokan dengan teman dari Indonesia malah aku bertemu dengan dua Gadis Jepang di Kyoto. Yang lucu adalah kedua cewek Jepang yang aku temui ini tidak bisa Berbahasa Inggris sementara aku tidak bisa berbahasa Jepang. Namun anehnya kami bertiga bisa jalan bersama mengitari Fushimi Inari dari atas sampai ke Puncak. Kalau pribahasanya Gatung Ga Ciang artinya bebek ngobrol dengan kucing, maksudnya tidak nyambung. Jadi keduanya merupakan teman yang juga sama-sama menginap di Hostel yang sama denganku, yang aku ingat sih cewek berambut keriting pas aku keluar dari Toilet di Hostel dan lucunya lagi ketemu untuk kedua kalinya dengan mereka juga pas di Toilet di Fushimi Inari.

“O, kata cewek berambut keriting kepadaku dengan ekspresif mengenaliku

Fushimi inari Shrine
Fushimi inari Shrine

Kemudian dengan ramah aku mengatakan “Hi” kepada mereka yang berujung kepada kami bertiga sama-sama jalan. Sepanjang perjalanan aku ngobrol Bahasa Inggris namun terbatas karena Bahasa Inggrisku juga jelek sih dan mereka memakai Bahasa Jepang. Kebayang gak itu serunya perjalanan? Satu-satunya penyatu kami adalah ekpresi wajah dan Bahasa Tarzan. Masih ingat waktu itu kami naik ke Fushmi Inari tiba-tiba turunlah yang putih-putih dari langit,

"SNOW!!", kataku dengan muka kegirangan dan kampungan khas dengan logat Batakku 
sambil disambut tawa keduanya

"yes Snow, kata mereka sambil ngakak habis melihat ekspresiku"

Cukup berkesan berkenalan dengan keduanya karena mereka itu sangat baik hati padaku mulai dari ngambil photo, menemaniku menemukan Cherry Blossom hingga memberikanku makanan khas Jepang. Padahal sepanjang perjalan kami tidak nyambung loh percakapannya yaiyalah satu bahasa apa yang dua bahasa apa. Ujung-ujungnya aku capek aku memakai Bahasa Indonesia dan terakhir pakai bahasa Batak.

Wkwkkw iya pakai Bahasa Batak kepada mereka toh gak ngerti juga kan?

Bersama mereka sungguh ceria perjalan seru sampai mereka menambku dalam Facebook loh! Nah yang paling berkesan adalah cewek yang berambut keriting yang menulis di Wall Facebookku

"Winny, thanks for today, we had an amazing journey, 
i will learn English and will be coming to Indonesia", katanya

Sontak membuatku terharu, ternyata aku bisa membuat seseorang bermimpi untuk mengunjungi Indonesia 🙂

Baca juga Trip ke Kyoto

3. Bapak di Kereta Beijing-Xi’an, China

china

Apa jadinya jika ternyata setalah berlari-lari 30 menit mengejar kereta namun akhirnya ketinggalan kereta pula? Dibolehkan naik kereta di jam selanjutnya namun dengan kondisi “berdiri”, begitulah yang aku alami dengan Bang Novrizal ketika melakukan trip di Beijing China. Waktu itu kami ketinggalan kereta menuju Xi’an dari Beijing karena kami khilaf keasikan menghabiskan waktu di Great Wall China. Akhirnya kami telat naik kereta dan turun tahta dari yang harusnya kereta duduk malah dapat kereta dengan kondisi berdiri dan sialnya lama perjalanan 12 jam pula, bisa mati berdiri dah! Dan yang paling polos kami mengira jika karcis kereta kami walau katanya berdiri tidak akan 100% berdiri namun kenyatannya benar-benar berdiri di kereta. Nah di stasiun Beijing lah kami bertemu dengan seorang Bapak yang mungkin berumur 50 tahun bersama dengan Keponakannya. Keponakannya bisa berbahasa Inggris namun terbatas sementara si Bapak tidak bisa sama sekali.

"Excusse me sir, this is the right line for this train?", 
tanyaku kepada beliau

Kemudian dia memberikan isyarat bahwa benar line yang kami tunggu serta memberikan kode agar kami tidak jauh-jauh darinya dan mengikutinya. Si Bapak juga kaget karena melihat tiket kami “berdiri” sambil mengernyitkan keningnya. Si bapak lanjut berbahasa Mandarin yang terus terang aku tidak mengerti. Salah satu Bahasa penghubung adalah Bahasa isarat dan ekpresi. Yang paling berkesan dengan si Paman adalah dia seharusnya berada di kelas VIP tapi beliau rela mengikuti kami di kelas “berdiri”. Waktu naik ke kereta juga ampun Dj, ramaiiii, si Bapak inilah yang mengatakan kami harus tenang seolah berkata dia bisa mengatasi masalah kami. Bahkan berkat dialah kami bisa masuk ke ruangan semacam Restauran kemudian dia menulis dalam Bahasa Mandarin agar tiket kami ditingkatkan ke kelas Sleeper. Dia juga memberikan nomor handphonenya kepada petugas kereta yang menjamin kami adalah sanak saudaranya. Dan aku baru tahu kalau di China itu bisa naik tahta kelas kereta dengan membayar uang lagi di dalam kereta sepanjang masih ada yang kosong. Namun hal ini lebih baik daripada berdiri berdesak-desakan selama 12 jam dan berkat si Bapak yang baik hati inilah akhirnya aku dan Bag Novri bisa tidur nyenyak di Kereta dari Beijing ke Xi’an.  Barulah setelah kami mendapatkan tiket ke kelas sleeper si Bapak yang baik hati kembali ke kelasnya di Kereta.

So sweet banget kan?

Ternyata ketinggalan kereta kami membawa berkah karena kami dapat berkenalan dengan si Bapak yang membuat perjalanan kami  nyaman di kereta sepanjang Beijing-Xi’an.

Baca juga trip di Beijing

4. Penjaga Toko di Jaipur India

Trip India
Trip India

India merupakan perjalanan eksotis yang tak terlupakan dalam hidupku karena di India merasakan namanya jadi Gembel, mandi di Toilet,  kemudian 1 hari 1 Kota serta tidur di Kereta Ekonomi selama 7 hari berturut-turut, hanya semalam saja di kelas yang agak menengah. Di India pula kami bertemu dengan berbagai macam manusia mulai dari nipu-nipu sampai yang baik hati menolong aku dan Yosi, teman perjalananku di India. Di India kami cukup banyak bertemu dengan orang baik mulai dari Kolkata dengan host CS kami yang super baik menemani kami ke tempat makanan yang enak, kemudian di Kolkata juga bertemu dengan Dizz yang menemaniku dan Yosi di hari terakhir di India serta bertemu dengan Rahul dan temannya di Jaipur yang aku bilang mirip salah satu pemain Film Kolosal Mahabrata. Khusus yang di Jaipur agak sedikit lucu, jadi aku dan Yosi sudah kesal duluan karena bertemu dengan salah satu host Jaipur yang ternyata tourguide yang menipu kami Rp300,000 untuk diantar dari stasiun ke Hawa Mahal yang harga normalnya hanya Rp50.000.

india

Kemudian pas di atas pasar depan Hawa Mahal aku dan Yosi berphoto cantik dengan latar belakang Hawa Mahal, iconnya Kota Jaipur. Kemudian Rohit menghampiri kami dengan sangat ramah. Awalnya aku dan Yosi awalnya cuwek saja dan cuwek maklum kami kapok bahkan barusan saja bertemu dengan penipu akhirnya kami kan tidak begitu antusias dan seadanya saja menjawab si Rohit, padahal dia itu dengan baik hati memberikan Chai gratis loh kepada kami. Hingga akhirnya si Rohit mengubah pendapat kami tentang India karena kenyataanya si Rohit ini baik hati, dan banyak menolang kami selama di Jaipur bajkan kami diajak ke toko baju temannya dengan harga yang cukup miring dengan toko yang sudah dibeli Yosi bahkan kami diajak makan bersama. Jadi kami berempat makan siang ramai-ramai bahkan kami diperbolehkan menyimpan tas kami di Toko temannya. Tak hanya itu, kamera Yosi ketinggalan di Toko temannya Rohit pun kembali padahal waktu ketinggalan itu pas malam hari ketika kami hendak ke Jodhpur namun mereka sangat jujur mengatakan ada padahal bisa saja kan dibilangnya tidak ada walau mereka sudah menutup tokonya dan kembali pulang sehingga mereka rela kembali ke Toko demi kamera Yosi yang tertinggal. Mengingat kebaikan mereka aku menyadari bahwa banyak sekali di Dunia ini orang-orang baik dan bertemu dengan orang tidak baik bukan berarti tidak bertemu dengan orang baik!

Baca juga trip di India

5.  Gebetan Mantan di Thailand

Cerita Bangkok, Thailand agak gokil karena aku berteman dengan Gebetannya Mantanku sampai nginap di Apartemennya segala. Lah kok bisa berteman dengan Gebetan Mantan? Panjang cerita Cin, intinya aku dan Nui, namanya berteman setelah mengetahui kelakukan si Mantan dan waktu aku berkunjung ke Thailand bersama Bang Novri, Nui malahan menyarankan untuk tinggal di tempatnya. Waktu itu jam 10 malam namun dia baik hati menjemput kami di dekat stasiun MRT terdekat dan waktu itu kami minta tolong Polisi loh untuk meneleponnya. Akhirnya berkat kebaikan hati Nui kami bisa menghemat uang penginapan semalam di Thailand bahkan dia pula yang mencarikan kami Ojek menuju ke Stasiun Bus karena aku dan Bang Novrizal hendak ke Cambodia. Ternyata yah walau itu Gebetan mantan bisa jadi teman baik loh! hihihi 😀

Baca juga trip Thailand

6. Blogger asal Malaysia

Kami dengan host Hamidy di kuala lumpur
Kami dengan host Hamidy di kuala lumpur

Apa jadinya jika bertemu dengan Blogger yang sering komen-komenan di Blog dan bertemu di dunia nyata?

Seru!!

Dan rata-rata teman Blogger khususnya Travel Blogger kalau bertemu orangnya baik-baik dan asik bahkan seakan sudah berkenalan lama dan saling mengetahui walaupun belum pernah jumpa.

Sama halnya dengan pengalaman bertemu dengan salah satu Blogger asal Malaysia Bang Hamidy. Waktu itu aku bersama Geng Kamseupay Sarta, Ade, Ilham, Reza, dan Sarah melakukan trip ke Kualalumpur, Penang dan Hatyai. Sebelum berangkat ke Kuala Lumpur aku sudah menanyakan Bang Hamidy apakah bisa menginap di rumahnya dan beliau mengiyakan dan mau menjemput kami di Stasiun Bus. Padahal kedatangan kami itu tidak sama, yang duluan sampai adalah Sarah kemudian Ade lalu menyusul aku, Ilham, Reza dan Sarta.

"Win, itu temanmu darimana? tanya Ade

Teman Blogger de, jawabku

Udah pernah ketemu belum?, lanjut Ade

Belum de, kataku

Tapi jangan khawtir de, sering komen di Blog ku lanjutku cuwek

Aduh si “Nya” mau menginap di teman yang belum pernah dia jumpa, Awas Akak Sarah dijual! “kan dirimu yang duluan nyampe di Kuala Lumpur, lanjut Ade mengomporin dalam Group Whatsapp kami.

Terus kekhawatiran Ade hilang karena Bang Hamidy menjemput kami satu persatu dari stasiun ke rumahnya meski groupku datang paling akhir jam 12 malam. Kemudian di rumahnya kami diberikan makanan dan diperlakukan dengan sangat baik mulai dari memberikan selimut memberikan makanan. Kami diperlakukan seperti keluarga! Bang Hamidy sangat baik hati memungut kami para pejalan-pejalan hemat ini. Dan tentu saja Bang Hamidy masuk dalam kategori salah satu orang baik dalam kisah perjalananku 🙂

Baca juga trip Malaysia

7.  Dipungut di Yazd dan cowok ganteng, Iran

Iran itu ibarat Magnet yang membuat jatuh cinta, jatuh cinta kepada kebaikan orang-orangnya. Dari sekian banyak perjalananku, hanya Iran satu-satunya yang membuatku Baper tak berkesudahan dan mengalami yang namaya rasa sentimen dan terharu. Sepanjang perjalanan selalu bertemu dengan orang baik bahkan aku merasakan ikatan emosional yang tinggi di Iran. Dari sekian banyak yang aku jumpai di Iran, paling tidak dua pengalaman yang tak terlupakan sebut saja pengalaman bertemu dengan orang baik di Yazd dan teman host CS Tehran bernama Erph. Erph sangat baik hati mulai dari mengantar kami ke Bandara disaat aku dan Mbak Ninik kehabisan uang alias Kere karena tidak bisa terbang ke Turkey dan dia juga mengajak kami ke tempat-tempat yang mungkin tidak bisa datangi kalau bukan berkat dia misalnya saja wisata Tehran berupa Milad Tower sampai ke Danau Chitgar Tehran. Tidak hanya itu dia juga mentraktir kami makan dan yang paling tidak terlupakan dari dia adalah ketika dia memberikanku ATM dan Kartu Telepon untuk aku gunakan dalam perjalanan, kurang baik apa coba?

iranian

Kebaikan orang Iran tidak hanya sampai disitu, aku dipungut oleh suatu keluarga di Yazd Iran, bak anak hilang. Mulai dari dikasih makanan, dibolehkan mandi di rumahnya dan beristriahat kemudian dikasih kerudung terus diajak jalan-jalan keliling wisata Yazd. Meski keterbatasan Bahasa namun keluarga Pahlevi sangat baik hati padaku hingga sangat berkesan dan memorable. Iya saking berkesannya aku tidak bosan menceritakan betapa baiknya keluarga ini yang memperlakukanku sebagai bagian keluarga dan kebaikanya tanpa pamrih!

Bayangkan diriku yang sendirian berpisah dari Mbak Ninik ke tempat bernama Yazd demi Gurun Pasir dan mengikuti si Paman Mohammad dan bertemu dengan orang baik Iran. Alhasil karena kebaikan keluarga ini, Iran akan selalu menjadi negara yang memiliki tempat khusus dihatiku.

Masih banyak loh orang baik di luar sana!

Berjalan sendirian itu tidak selalu mengerikan bahkan bisa membawa pengalaman yang tak ternilai. Kalau dalam matematiknya Limit tak terhingga, salah satunya ketulusan dan kasih sayang dari kelurga ini yang nilanya tak terhingga.

iranian-friendly

Pergi ke tempat yang tidak diketahui ternyata asik juga ya?

Baca juga trip di Iran

8.  Cowok Cs di Turkey

turki

Host CS sempurna itu di Istanbul Turki bernama Kosan karena dia merupakan host yang rela menjemputku dan Mbak Ninik di Bandara Ataturk meski aku menginformasikan sampai jam 12 malam namun kenyataannya sampai jam 2 pagi, artinya dia menunggu kami 2 jam di Bandara sendirian. Tidak hanya itu, Kosan juga memastikan kami tidur nyaman di Apartemennya yang berada di Sisi ASIA TURKEY. Kebaikannya tidak hanya disitu, dia juga mentraktir kami makan, menjadi pemandu lokal kami secara gratis dan membantu kami selama di Istanbul.

Baik banget kan?

Baca juga trip ke Turkey

Nah itu hanyalah beberapa kisah dengan orang baik yang aku jumpai di perjalanan, dan percayalah akan banyak lagi orang-orang diluar sana yang siap membantu dalam perjalanan.

Bukankah orang baik akan bertemu dengan orang baik juga?

Particularly it’s easy to travel because nice person in everywhere

Kami di Lubang Jepang Bukittinggi

Siapa yang punya pengalaman bertemu dengan orang baik di jalan?

Salam

Winny

Makan Apa di Bengkulu

bandrek-bengkulu

To be happy, we must not be too concerned with others.”
By Albert Camus

Tugu Thomass Parr
Tugu Thomass Parr

Hello World!

Bengkulu, Desember 2016

"Kak Win, makan apa di Bengkulu?" kata Yuni

"Yang pasti aku kalau di Bengkulu suka makan gorengannya Yun, 
yang lain belum tahu, kataku.

Hal yang tersulit bagiku saat wisata di Bengkulu adalah mencari makanan khas daerah Bengkulu. Karena memang aku suka banget paling tidak mencoba makanan khas daerah jika berkunjung. Sehingga pas trip Dinas ke Bengkulu kedua kalinya saat ditanya makanan apa di Bengkulu itu agak sulit bagiku. Yang pasti di trip pertama kami makan seafood yang lumayan dan yang kedua adalah gorengannya yang berada di simpang Lima Bengkulu. Lah kok makan gorengan udah jauh-jauh ke Bengkulu?

Habisnya gorengan di Bengkulu itu termasuk murah meriah hanya bermodalkan Rp1000/buah dapat deh gorengan. Gorengannya juga beraneka ragam mulai dari goreng pisang, tahu goreng, tempe goreng, sampai ke Bakwan. Yang unik bukan dari gorengannya namun kepada kuah gorengannya. Kalau gorengan pada umunya kan biasanya hanya dikasih sambal atau cabai maka di Bengkulu, gorengan memiliki kuah khusus terdiri dari kuah sate padang dan kuah sambal. Bahkan yang paling seru ada tempat duduk dan dikasih minum, jadi kita nongkrong didepan penjual gorengan sambil menikmati gorengan dalam sebuah piring kecil. Hal seperti ini tentu saja mengingatkanku kepada kota kelahiranku, Padangsidempuan. Dimana gorengan itu memang cemilan yang disaji dengan duduk manis pada bangku sambil menatap orang yang hilir mudik di jalanan. Sama halnya dengan Kota Bengkulu tepatnya di Simapng Lima karena area ini banyak penjual makanan serta penjual baju dan peralatan lainnya. Bahkan aku dan Yuni sengaja banget mencoba makanan yang dijual Abang-abang kaki lima mulai dari Sate Padang, Empek-empek, sampai kepada Nasi Padang. Namun gorengan selalu menjadi yang utama bagi kami.

bandrek-bengkulu

"Mbak Win, nanti mau wisata kuliner apa di Bengkulu? 
tanya mbak teman satu kantor di Bengkulu

"Gorengan mbak", jawabku

"Wah bahagianya sederhana sekali ya", makan gorengan saja sudah cukup,
 lanjutnya

Bisa dibilang sih selama di Bengkulu selama 5 hari tiap malam sepulang kerja dipastikan kami selalu makan gorengan sampai-sampai si penjual hapal muka kami. Nah selain gorengan wisata kuliner Bengkulu yang juga aku suka adalah dari segi minumannya yaitu Bandrek.

Bandrek?

Iya bandrek, aku juga sempat heran kenapa bisa Bandrek di daerah yang termasuk Pantai ini karena kan biasanya minuman Bandrek di daerah yang dingin-dingin atau pegunungan namun malah di ada juga di Kota Bengkulu. Rasa Bandrek di Bengkulu juga lumayan khas, dan harganya yang murah. Bandreknya masih dari bahan alami tanpa pengawet serta ada tambahan telur kampung. Aku sempat berpikir kalau dengan penambahan telur kampung akan menjadikan Bandrek itu amis, ternyata tidak malah tidak ada sama sekali amis dalam Bandrek tersebut. Harga segelas Bandrek juga lumayan murah Rp8000 saja tanpa telur dan jika pakai telur kampung Rp11.000.
minuman-khas-bengkulu

"Yun, pokoknya dirimu harus coba Bandrek di Bengkulu, rasanya enak kataku

"Seriusan kak?", kata Yuni

Walau akhirnya Yuni baru mencoba Bandrek di Bengkulu pada malam kedua di Bengkulu dan akhirnya dia jatuh cinta dengan Bandrek di Bengkulu.

"Kak benar ya, enak juga bandrek telur susu

"Aku mikirnya kayak abang-abang loh minum Bandrek gitu, katanya

"Yaudah Yun, anggap aja kita Abang-abang kataku menimpali

Yah paling tidak dua wisata kuliner Bengkulu berupa gorengan dan Bandrek meski bisa ditemukan di wilayah lain di Indonesia namun ada cita rasa berbeda di Bengkulu. Mungkin karena kami yang suka berjalan kaki sepanjang jalan mulai dari  Jl. Letjend Soeprapto hingga ke Jl. Sudirman Bengkulu demi mencari makan apa di Bengkulu lebih suka dengan makanan ringan sambil duduk santai.  Karena mungkin Wisata kuliner di Bengkulu susah-susah gampang!

Tapi yang buat pertama kali berkunjung ke Bengkulu, maka wisata kuliner di area Simpang Lima bisa menjadi pilihan!

Salam

Winny

Nyasar Naik Kereta di Jakarta

rumah si pitung jakarta

You’ll be fine. Feeling unsure and lost is part of your path. Don’t avoid it. See what those feelings are showing you and use it. Take a deep breath. You’ll be okay. Even if you don’t feel okay all the time. By Louis C.K.

484px-Merdeka_Square_Monas_02

Hello World!

Jakarta, 29 Januari 2017

Coret untuk kata traveller  karena meski sudah pernah tinggal di Jakarta selama 4 tahun bukan jaminan kalau aku telah khatam Jakarta dengan baik terutama transportasinya. Karena di penghujung akhir Bulan Januari aku malah mengalami hal yang memalukan terutama dalam hal Nyasar di Jakarta. Iya aku nyasar di Ibukota terus nyasarnya naik KRL pula, kurang tercoreng apa coba aku sebagai orang yang suka jalan-jalan dan udah kemana-mana tapi di tempat tinggal sendiri malah nyasar!!

"Mel, aku ke tempatmu jam 11 ya dari Kuningan, kita mau jumpa dimana?,
tanyaku kepada Melisa

"Jumpa di stasiun Tangerang aja Win, aku pulang Gereja jam segitu,"
jawab Melisa

Akhirnya karena saking asiknya Nonton streaming film Hacksaw Ridge tentang Tentara Amerika yang tidak pakai senjata saat perang di HPnya Mbak Ninik, ujung-ujungnya aku baru berangkat dari Kuningan sekitar jam 11.30 siang. Langsung kemudian aku naik Gojek menuju Stasiun Tanah Abang.

Mel, kalau dari Stasiun Tanah Abang tidak perlu turun kereta lagi kan ya? 
tanyaku kepada Melisa

Tapi entah kenapa Melisa tidak juga membalas whatsappku. Karena aku sebenarnya sangsi apakah transfer kereta lagi atau tidak karena sudah lama sekali aku tidak menggunakan KRL Jabodetabek, terakhir kali menggunakan KRL Jabodetabek di akhir Desember itupun ke Serpong dengan naik kereta dari Stasiun Tanah Abang juga. Namun waktu itu aku ingat betul sekali naik kereta Arah Serpong tanpa transit.

Terakhir kali ke Tangerang itu di Tahun 2015 bersama Rinta, Defi dan Indra. Waktu itu kami trip wisata Tangerang seharian bisa dibaca kisahnya disini. Namun waktu itu aku tentu saja tidak sendiri sehingga tidak nyasar ke Tangerangnya.

Peta Rute KRL Jabodetabek (Sumber jakartabytrain)

Karena belum ada balasan Melisa apakah harus transit atau tidak, akhirnya dari Stasiun Tanah Abang aku menanyakan kepada petugas arah ke Tangerang yaitu di Peron 2 Stasiun Tanah Abang. Walaupun hari minggu namun ternyata stasiun Tanah Abang itu ramai!! Nah pas masuk kedalam kereta aku sempat curiga karena pas sampai di Stasiun DURI, penumpang yang banyak itu pada turun mulai dari Emak-emak yang bawa barang sampai Emak-emak yang bawa Anak berbondong-bondong turun sampai kereta sepi. Sementara aku duduk manis tanpa mengikuti langkah mereka.

"Win turunnya di Batu Ceper aja kita mainnya ke Tangcity aja, 
begitu arahan Melisa yang aku ingat dari 1 jam lalu

"Nanti naik angkot Ijo sekali aja, ongkosnya paling Rp3000, lanjutnya

Ok aku harus turun di Batu Ceper itu lah batinku di dalam kereta yang sudah PW. Tenang dan santai sambil menikmati sekeliling. Sesampai di Stasiun berikutnya Muara Angke aku masih santai dan merasa kalau Stasiun Batu Ceper mungkin masih jauh.

Next stop Kampung Bandan station, dari speaker KRL

Disini aku mulai curiga, ini ke Tangerang kenapa malah mutar-mutar Jakarta ya?  Ah tapi kan ini ke baru saja lewat Muara Angke harusnya itu arah ke Tangerang dalam hatiku. Ah mungkin rutenya mutarin Jakarta dulu kali baru ke Tangerang dalam hatiku sambil menenangkan rasa curiga dihati hingga aku memastikan menanyakan kepada Melisa.

"Mel, ini kalau ke Stasiun Batu Ceper harus mutar-mutar Jakarta dulu ya?
tanyaku via Whatsapp

Namun belum ada juga balasan dari Melisa. Aku mulai khawatir karena melihat jam satu namun kok tidak sampai-sampai. Sementara stasiun Angke sudah lewat, stasiun Kampung Bandan sudah lewat bahkan Kemayoran juga lewat.  Waduh, sudah tidak benar ini batinku hingga akhirnya aku melihat peta Rute KRL JABODETABEK di atas dan kemudian menanyakan kepada Mas-Mas yang duduk disampingku

"Mas kalau ke Tangerang masih lama ya? tanyaku

"Waduh Mbak harusnya tadi turunnya di Duri, 
ini bakalan mutar sampai Bogor loh", katanya

Mak mati dalam hatiku!! PANTAS saja tidak sampai-sampai bahkan sampai aku tuntas mendengarkan cerita Mas-mas ini dengan temannya tentang film yang nyuri waktu berjudul “intime” tamat aku dengar malah aku gak sampai-sampai ke Tangerang.

"Gini aja Mbak, Mbak turun di Jatinegara aja kemudian transit ke Manggarai 
lalu balik lagi ke Duri", katanya

Terus mukaku pucat pasi karena aku harus segera ke Tangerang, kasihan temanku yang sudah menunggu.

"Atau Mbak tetap naik Kereta ini nanti pasti balik lagi ke Duri 
tapi lama bisa 30 menit sampai 1 jam katanya

Kemudian temannya berkata

"Nanti mbaknya nyasar lagi kasihan", katanya

Maklum dengan Tas Gede Merahku terus kelihatan banget bebannya segede Gaban menimbulkan iba bahkan aku merasa kelihatan banget kalau aku bukan Orang Jakarta dan siapa yang bakalan percaya kalau nyasar begini sudah pernah tinggal 4 tahun di Jakarta!

"Yaudah Mbak, turun di Jatinegara aja biar cepat, sarannya

Akhirnya aku mengikuti saran si Mas-mas dan turun di Stasiun Jatinegara kemudian transit di Stasiun Manggarai. Di Stasiun Manggarai ada seorang Mas lain yang mungkin dia melihat aku agak bengong-bengong dan berusaha menolongku.

"Mbak ikutin saya saja saya nanti turunnya di Stasiun Tanah Abang, 
"Mbak turun di Stasiun Duri, katanya

Sambil berlari-lari di Stasiun Manggarai menaiki kereta yang menuju Duri. Sesampai di stasiun Tanah Abang si Mas tadi memberikan kode “1 stasiun lagi” sambil melambaikan tangannya dan disambut terimakasihku dari dalam Kereta.

Kemudian akupun mengirim whatsapp ke Melisa

"Mel, aku nyasar di Stasiun Jatinegara, ini sudah balik lagi ke Stasiun Duri,
masih jadi ketemu di Tangcit?", tanyaku
"Hahahahaha Sorry Win, aku baru baca whatsapp, kok bisalah nyasar kau!"

Kita jadinya ketemu di Bale Kota aja turun di Stasiun Tanah Tinggi karena di Tangcit gak ada tempat duduk, aku ama Ebeth ini.

"Mel, aku juga malu ini nyasar di Jakarta naik kereta pula, balasku"

Salam

Winny

Trip Weekend Jakarta-Cilegon

Pulau Handeleum

 ‘Brick walls are there for a reason — they let us prove how badly we want things and to keep out others who do not want it enough’

By Randy Pausch

Bayah Banten
Banten

Hello World!

Ciwandan, Januari 2016

*Sing*

Antara Anyer dan Jakarta
Kita jatuh cinta
Antara Anyer dan Jakarta
Kisah cinta tiga malam
Kan ku ingat selamanya
Antara Anyer dan Jakarta

Itulah sepenggal lagu dari Majid Sheila “Antara Anyer dan Jakarta”.

Sejak aku di Mutasi kerja ke Ciwandan maka mengharuskanku bolak-balik Jakarta-Cilegon setiap minggu. Namun trip weekend yang aku lakukan antara Cilegon dan Jakarta bukan kisah cinta atau kisah perjuangan antara dua sejoli yang saling merindu namun kepada beberapa kegiatan yang memang harus aku kerjakan ke Jakarta misalnya menemui Dosen, mnegurus ini itu, ketemu teman karena temanku rata-rata di Jakarta dan masih banyak hal lain yang mengharuskan aku bolak-balik Jakarta-Cilegon. Sebenarnya mutasiku juga bukan di Kota Cilegonnya sih namun di Ciwandan.

"Aku Mutusi di Ciwandan, kataku"

"Ciwandan, dimana itu?, tanya beberapa orang

"Cilegon, kataku"

"Cilegon emang dimana?, pertanyaan yang mulai membuat kesal

"Banten", cetusku

Barulah habis perkara ketika mengatakan Banten. Entah Ciwandan itu tidak begitu familiar namun intinya Ciwandan itu berada di Cilegon, nah Cilegon ini merupakan KOTA INDUSTRI. Wisata yang terkenal di Cilegon itu yah PANTAI ANYER, PANTAI CARITA. Sebenarnya kalau dari Jakarta ke Pantai Anyer misalnya maka Ciwandan itu dilalui loh cuma yah karena tidak terlalu familiar sehingga ketika aku bilang Ciwandan banyak yang belum tahu.

wisata ciwaandan

Dulu aku sering Dinas ke Ciwandan dari Jakarta namun tidak pernah benar-benar pindah untuk tinggal. Jadi pas pindah di Ciwandan, Cilegon maka aku harus menyesuaikan diri khususnya transportasi dari Ciwandan ke Jakarta atau sebaliknya.

Mutasiku juga pas Natal dimana orang masih liburan dan aku harus mengemasi barang-barang sendirian dan mengangkutnya ke Ciwandan. Untung ada Bapak Kos dan GOBOX sehingga barang yang tidak cocok dengan ukuran anak kos lumayan ada yang bantu.

"Barangnya ternyata banyak banget ya", kata Bapak Kos

"Dulu gimana nyusunnya yah biar masuk semua?" 
lanjutnya dengan raut tak percaya

Terus aku mengiyakan pernyataannya, paling tidak barang yang cukup banyak membuktikan ternyata uangku tidak habis di Tiket tok! Walau aku sendiri menyesal membeli barang-barang yang gak penting karena pas pindahan itu lelah sekaliii! Sendiri pula!

Sumpah dah baru kali ini aku pindah ke suatu tempat terus membathin karena biasanya aku malahan suka pindah ke suatu tempat. Mungkin karena kebanyakan barang kali ya atau karena teman-temanku memang kebanyakan di Jakarta. Serta tinggal di Jakarta atau Ciwandan ada plus minus sih namun aku tetap bersyukur karena di tempat kerja baru teman satu kerjaan orangnya baik.

Akhirnya Senin-Jumat aku kerja di Pabrik di Ciwandan kemudian Sabtu-Minggu aku balik ke Jakarta jika ada suatu hal yang aku kerjakan. Paling tidak selama 1 bulan pindah di Ciwandan, 3 minggu aku bolak-balik Jakarta mulu karena UAS lah karena IELTS lah karena Visa lah. Ah disini kadang aku rindu Jakarta karena kan di Jakarta semua-semua ada!

Yang paling seru adalah perjalananku ke Jakarta dari Ciwandan. Jadi setiap Jumat aku harus nebeng diantar ke Terminal Cilegon karena kan aku tinggal di Mess Lingkar Ciwandan yang cukup jauh. Untuk ke Terminal Ciwandan saja atau paling tidak tempat ngetem Bus-bus yang ke Jakarta dari Ciwandan aku harus naik angkot warna silver turun di depan Mall Cilegon kemudian naik angkot ungu PCI ke tempat bus. Baru deh menaiki bus dengan tujuan Jakarta.

Untuk ke Jakarta dari Ciwandan tidak terlalu sulit karena biasanya aku minta nebeng dengan teman atau diantar, yang susah pas baliknya. Jadi pas Tahun baru aku kan di Jakarta kemudian balik ke Ciwandan karena tanggal 2 Januari harus sudah bekerja lagi. Waktu itu aku naik bus dari rumah kak Bijo di Tangeran dengan bus ARIMBI yang ternyata di dalam bus penumpangnya ramai bahkan aku duduk di lantai depan pintu. Harga tiket Tangerang-Jakarta waktu itu Rp26.000. Dengan bawa tas segede gaban duduk di lantai bersama para penumpang lainnya, maklum Europfia Tahun Baruan sehingga penumpang membludak. Kemudian aku harus duduk di lantai kurang lebih 3 jam hingga sampailah di Simpang tiga setelah Tol Cilegon Timur. Nah dari Cilegon Timur aku naik angkot warna Ungu dengan tujuan PCI dan biaya angkot Rp10.000 kemudian turun di Mall Cilegon lalu naik angkot lagi warna Silver dengan tujuan Anyer dengan harga tiket Rp5000 namun karena jalan ke Anyer macet karena antusias Tahun Baruan di Anyer akhirnya aku dan penumpang lain harus turun di tengah jalan lalu menyambung angkot lagi dengan membayar Rp5000 lagi agar sampai di depan jalan Lingkar. Mau tahu berapa lama yang aku butuhkan dari Tangerang sampai ke Mess di Ciwandan? Well berangkat jam 10 pagi nyampe jam 5 sore pas Tahun baru itu!!

Terus selain naik angkot, bagaimana cara ke Lingkar dari Terminal Cilegon? Bisa naik Ojek namun waktu aku tanya berapa harga naik Ojek dari depan pintu Tol Cilegon Timur-Lingkar kata si Bapak Rp60.000 akhirnya aku langsung masuk ke angkot. Kan gila, masa lebih mahalan dari tiket bus Jakarta-Cilegon!

Pengalaman seru kedua tentang Trip Weekend Jakarta-Cilegon dari Jakarta. Jadi untuk menuju ke Cilegon dari Jakarta aku menunggu bus di depan SLIPI Jaya karena bus menuju ke Merak pasti banyak yang lewat. Waktu itu aku ngasal naik Bus yang penting tujuannya Merak aja eh ternyata harga tiketnya Rp35.000 padahal gak AC loh terus pas di Terminal Serang dipindahin ke Bus Primajasa lagi. Terus sampai di Cilegon Timur jam 9 malam dari berangkat jam 5 sore dari Jakarta. Akhirnya malas naik angkot-angkotan akhirnya aku minta jemput dan diantar ke mess dengan salah satu teman di Pabrik.

Nah sensari ketiga Trip Weekend Jakarta-Cilegon dari Jakarta aku mendapat pelajaran baru. Pertama menunggu bus di Slipi Jaya namun aku menunggu Primajasa dengan harga bus tiket Jakarta-Cilegon Rp26.000 (sama dengan harga bus Arimbi) kemudian turun di simpang tiga naik angkot Ungu PCI dengan harga Rp5000 (beda banget dengan harga saat Tahun baru) kemudian turun di Mall lanjut naik angkot Silver (Rp5000) turun di Pabrik terus minta antarin ke Mess.

Nah dari 3x bolak-balik Jakarta-Cilegon setidaknya aku mendapat pelajaran mengenai transportasi umum ke Lingkar Ciwandan

1. Harga standar Jakarta-Cilegon itu Rp26,000 sekali jalan (kalau dari Jakarta busnya bisa menunggu di Slipi Jaya, kalau dari Cilegon busnya bisa menunggu di Cilegon Timur). Kalau dari Cilegon aku turun biasanya di Kebon Jeruk

2. Tidak perlu naik angkutan umum PCI lagi dari Terminal Cilegon Timur karena ternyata busnya lewat dari Mall sehingga sekali angkot saja yang Silver ke Ciwandan. Lumayan menghemat angkot!

Nah segitu dulu pengalamanan bolak-balik trip Weekend Jakarta-Cilegon, ada yang punya pengalaman yang sama?

Salam

Winny