Sunrise di Mandalay Hill, Myanmar


Everybody loves. Everybody loses. And we’re all better for it.

By Chrissy

Hello World!

Mandalay, Februari 2017

Setelah melihat ritual pembersihan Patung Buddha Mahamuni di Mandalay, aku dan Ade melanjutkan perjalanan ke Mandalay Hill, Myanmar untuk melihat sunrise yang katanya titik tertinggi di Mandalay. Dengan bantuan peta offline yang sudah di download kami menuju Mandalay Hill dengan sepeda motor yang kami sewa. Cukup nekat memang kami berhubung kami tidak tahu jalanan di Mandalay serta suasana masih subuh saja.

Nya, ini yah di Indonesia saja kagak berani naik motor ya,
ini di jalanan Negeri orang aku berani, 
kalau tahu mamaku aku dimarahin, celoteh Ade

Memang Mandalay Hill merupakan titik tertinggi melihat Kota Mandalay dari atas bahkan sunrisenya cukup terkenal. Padahal jujur saja aku tidak ada ide seperti apa Mandalay Hill itu. Belum lagi aku memberikan arah yang salah karena kelemahan dalam membaca peta. Aku tidak bias membedakan mana “kiri” dan “kanan” yang sempat membuat Ade dan Melisa heran bagaimana bisa aku bertahan backpacker sendirian ke Negeri orang padahal baca peta saja tidak becus. Untungnya meski nyasar beberapa kali kami sampai di Mandalay Hill.

Ketika sampai di Mandalay Hill, kami sempat ragu apakah  tempat yang kami kunjungi adalah benar Mandalay Hill karena tidak ada tanda-tanda temple atau cara ke bukit yang seperti Ade bayangkan. Bahkan kami sempat  bertanya dimana MANDALAY HILL itu padahal jelas-jelas kami di Mandalay Hill. Bahkan sempat naik ke sebuah tempat seperti pasar terus turun lagi saking tidak yakinnya hingga menanyakan orang kesekian kalinya dimana tempat Hill itu. Rupanya Mandalay Hill melewati pasar yang telah kami lalui, sebuah pasar untuk membeli oleh-oleh tepatnya. Hill tempat sunrise Mandalay berada di area Su Taung Pyae Pagoda dan masuk ke dalam harus membayar uang retribusi 12,000 KS. Agak enggak membayarnya namun karena sudah jauh-juah serta perjuangan melewati jalanan yang menanjak akhirnya kami membayar juga. Di dalam Pagoda hanya ada penjaga saja sementara kami duduk di luar Pagoda menunggu sunrise.

"Nya, berkabut, sedih deh padahal udah jauh-jauh kesini", kata Ade

Yah trip Myanmar kami memang banyak banyak tujuan wisatanya terutama Kota-kota yang ingin kami kunjungi.  Salah satunya sunrise dari Mandalay Hill. Karena melihat kabut menutupi pemandangan Kota Mandalay dari atas, akhirnya kami memanfaatkan dengan memphoto Temple saja. Hingga akhirnya jam 6 an, sunrise yang ditunggu pun ada. Kabut sudah mulai berhilangan dan membuat Ade mulai bahagia.

Ya ampun Nya, aku kira tadi tidak ada sunrise di Mandalay Hill, 
dalam hati gue gila udah jauh kesini malah lihat kabut, 
katanya dengan penuh semangat

Memang sunrise yang kami tunggu agak sedikit mengerjai kami. Seolah tidak ada namun ternyata ada, warnanya orange dan bulat serta dari atas kelihatan Kota Mandalay. Hanya saja karena aku takut ketingian sehingga untuk dekat ke tepi amit-amit. Selain itu memang kami datangnya agak kecepatan ke Mandalay Hill. Karena waktu kedatangan terhitung jari jumlah pengunjung kemudian setelah mulai sunrise barulah banyak pengunjung yang berdatangan. Yang lucu ada turis Bule entah dari Negara mana malah mempotret kami, mungkin dikira kami warga local Myanmar, padahal jelas-jelas kami tidak memakai Thanaka layaknya orang Myanmar. (Thanaka = bedak dingin, jadi orang Myanmar dalam kehidupan kesehariannya suka memakai bedak dingin baik wanita maupun pria).

Setelah puas melihat matahari terbit dari Mandalay Hill, kami pun berkelililing untuk melihat spot terbaik di Mandalay. Dan melihat sunrise di Mandalay memang melebihi ekpektasi kami karena kami merasa urutan Kota untuk dikunjungi di Myanmar itu adalah Inle, Bagan kemudian Mandalay (versi kami). Jadi kami tidak terlalu berharap kalau sunrise yang kami lihat bakalan Ok, namun kami salah karena sunrise di Mandalay lumayan ok apalagi dengan latar belakang Pagoda serta melihat Kota Mandalay dari atas Bukit.

Untuk naik ke Su Taung Pyae Pagoda ternyata bisa menggunakan lift, selain tangga yang kami lewati. Belum lagi banyak Pagoda disekiatar Mandalay Hill, sehingga yang penyuka wisata Pagoda bisa puas melihat Pagoda di Mandalay hill. Namun tentu saja Pagodanya berbeda bentuknya seperti yang ada di Bagan, Pagoda di Mandalay lebih mirip seperti yang di Thailand, dengan bentuk runcing serta warna keemasan.

Anehnya meski kami tahu ada lift untuk turun, kami malah memilih menuruni tangga dan kembali melewati pasar dadakan dengan oleh-oleh khas Mandalay melewati beberapa Pagoda di dalam area Pagoda.

Rincian Pengeluaran Mandalay, Myanmar Hari Keempat

Taxi dari Stasiun Bus ke Dream Guest House 5000 KS/ 2 orang

Sewa Motor seharian 12,000 KS/ 2 orang

Uang Masuk Su Taung Pyae Pagoda 1000 KS

Air Lemon 500 KS Bensin 4500 KS/2 orang

Makan siang + minum tebu 1800 KS

Bus malam dari Mandalay ke Yangoon 22,000 KS/2 orang

Parkir motor 500 KS/2 orang

Total Pengeluaran hari keempat di Myanmar

2500 KS + 6000 KS + 1000 KS + 1800 KS + 11,000 KS + 250 KS

= 22,550 KS

Tempat wisata yang dikunjungi di Mandalay, Myanmar

Sunrise Mandalay Hill, Mahamuni Image, U Bein Bridge, Kuthodaw Pagoda (biggest book in the world), Mandalay Royal Pallace, Masjid

Salam

Winny

Iklan

Melihat Ritual Pembersihan Patung Mahamuni pada Mandalay, Myanmar


Life is one big road with lots of signs. So when you riding through the ruts, don’t complicate your mind. Flee from hate, mischief and jealousy. Don’t bury your thoughts, put your vision to reality. Wake Up and Live!

By Bob Marley

Hello World!

Mandalay, Februari 2017

Jam 4 pagi tepatnya aku dan Ade sampai di Mandalay dari perjalanan Bagan. Masih segar diingatan ketika kami sempat dijemput dengan mobil yang mirip dengan angkot dari penyewaan sepeda. Di tempat penyewaan sepedalah kami mandi sambil menunggu jemputan. Itung-itung rekor tidak mandi selama 4 hari terpatahkan juga di Old Bagan. Kami sempat berpikir apa iya mobil yang mirip angkot ini ke Mandalay, walau dalam peta jarak antara Bagan dengan Mandalay cukup dekat. Untungnya dugaan kami tidak benar, karena mobil yang mirip angkot itu adalah jemputan saja karena pada kenyataannya kami menuju Mandalay dengan bus yang lumayan kondusif. Di Old Bagan jugalah aku dan Ade berpisah dengan Melisa karena Melisa akan sendirian ke Yangoon demi mengejar pesawatnya menuju Jakarta. Aku dan Ade masih memiliki dua hari lagi di Myanmar, artinya kami bisa mengunjungi Mandalay, Myanmar.

Tujuan utama kami ke Mandalay selain melihat Sunrise dari Mandalay Hill, Myanmar adalah melihat patung Buddha Mahamuni dimandikan. Kalau bukan karena Ade aku tidak tahu kalau ada patung Buddha dimandikan di Mandalay. Istilah untuk dimandikan ini adalah Bahasa khasnya si Ade. Karena ketika di Old Bagan pada pagi hari kami telah melihat patung Buddha kecil dimandikan nah saatnya kami melihat Patung Buddha besar dimandikan.  Akan lebih tepat jika dipakai istilah pembersihan Patung Buddh. Patung Buddha itu berada di Pagoda MAHAMUNI, salah satu wisata yang wajib dikunjungi di Myanmar. Alias jika ke Myanmar top listnya adalah melihat Patung Mahamuni, jadi tidak dianggap ke Myanmar jika belum ke Patung Mahamuni, katanya ya 😀

Bus kami sampai di Kota Mandalay, Myanmar jam 4 pagi dimana jalanan sepi, beberapa anjing berkeliaran di jalanan bahkan taxi yang mengantar kami ke tempat penyewaan sempat bingung mencari alamat  yang kami tuju. Hingga akhirnya setelah dua kali mutar daerah sama, barulah kami diantar ke tempat sesuai dengan alamat tujuan kami. Jadi tidak salah alamat! Kedatangan kami memang cepat namun pihak penyewaan motor kami sudah siaga menunggu kami. Sebelumnya Ade sudah berkomunikasi dengan pihak penyewaan sepeda motor demi keliling Mandalay. Kalau tidak, bakalan gigit jari kalau sampai di Mandalay, Myanmar apalagi pas pagi hari sekali.  Untunglah pemilik membukan pintu dengan ramah kepada kami meski terlihat jelas mukanya masih mengantuk. Kami meminjam motor matik seharian dan menitip tas kami kepada seorang gadis keturunan Chinese di Burma. Rumahnya lumayan luas lengkap dengan dekorasi seni serta tempat penginapan sekaligus penyewaan sepeda/motor di Mandalay. Dia juga yang memberikan peta kepada kami serta menjelaskan kemana saja ketika berada di Mandalay. Walau penjelasan Objek wisata Mandalay tidak 100% kami hapal. Kami hanya mengikuti daftar OBJEK WISATA MANDALAY di bucket list kami.

Untuk menjelajah Mandalay kami menggunakan map offline yang sudah didownload sebelumnya. Tidak seperti Kota Bagan dan Inle yang mewajibkan turis membayar uang masuk kedalam KOTA, maka masuk ke Mandalay tidak perlu bayar. Lumayan menghemat biaya perjalanan kami 🙂

Mandalay

Setelah sepeda motor, kunci dan dua helm diberikan kepada kami mak kami memulai perjalanan menjelajah Mandalay. Ade yang mengendarai motor dan aku yang memberikan aba-aba jalan. Salahnya ternyata aku tidak begitu bisa membedakan belok “kiri” atau “kanan” sehingga sempat membuat si Ade gondok alias menahan esmosi tingkat tinggi.

Nya, tau gak sih mana kiri dan kanan?
kata Ade dengan sedikit dongkol ketika aku salah memberikan arah

Sementara kalau aku yang membawa motor juga tidak bisa. Akhirnya aku dan Ade sempat nyasar-nyasar arah di pagi hari sementara kami hendak mengejar pemandian Buddha di pagi hari.

Disini aku merasa sedih tidak bisa membaca Google map, hiks!

Dengan susah payah barulah kami sampai di tempat Patung Mahamuni setelah memarkirkan sepeda motor yang tak jauh dari pasar. Pasar ini merupakan satu komplek dengan Pagoda Mahamuni, Mandalay tempat patung Mahamuni berada.

Seperti biasa, aku dan Ade melepaskan sandal kami lalu berjalan menuju tempat ritual harian pembersihan patung Buddha Mahamuni di Mandalay. Kami memang agak telat ketika sampai di Patung Mahamuni karena turis sudah banyak sekali duduk manis di lantai sambil melihat ritual pemandian. Sementara dari Layar TV besar kami melihat pemandian Buddha sudah dimulai.  Patung Buddha berada di tengah dari Pagoda Mahamuni, Mandalay dengan posisi duduk diatas takhta lengkap dengan mahkota serta baju kerajaan.

Mandalay

Untuk melihat ritual pemandian patung Buddha maka harus membayar administrasi. Serta ada area yang tidak boleh dimasuki oleh wanita, khusus laki-laki saja terutama area pemandian dan di depan pemandian. Wanita diperbolehkan dari jauh. Ade menyuruhku duluan masuk ke dalam Pagoda menembus keramaian turis dan penduduk lokal. Aku tidak menyangka kalau sepagi ini, ramai pengunjungnya. Bahkan aku sempat salah masuk ke dalam area laki-laki yang membuatku dicegat petugas sekaligus menyuruh untuk membayar biaya masuk Pagoda. Namun karena sudah terlanjur masuk dan lihat serta ingin keluar akhirnya aku tidak jadi membayar. Lalu aku menghampiri Ade yang menunggu di luar untuk gantian masuk ke dalam melihat langsung prosesi pemandian Patung Buddha sambil aku mengingatkan untuk pembayaran jika ingin melihat prosesi.

Pilihan untuk menonton prosesi dari layar memang tepat karena di dalam begitu desak-desakannya serta tidak begitu jelas kelihatan ritualnya, maka melihat dari luar lebih dari cukup. Sekalian cuci mata melihat antusias dari masyarakat Myanmar yang datang dari berbagai daerah menuju ke Mandalay sambil membawa persembahan untuk Pagoda Mahamuni. Beberapa diantaranya adalah Biksu sambil berjalan menuju kedalam Pagoda, beberapa ibu-ibu seperti Inang-inang di Sumatera Utara dan beberapa adalah remaja yang memakai bedak dingin di mukanya, khasnya orang Myanmar.Kegiatan mengamati orang jauh lebih menarik buatku karena melihat sisi lain dari Myanmar. Meski telat datang di acara pembersihan Buddha biasanya jam 4 sampai jam 4.30 pagi namun aku mendapatkan hal lain.  Belum lagi, Ade juga sempat menyaksikan ritual pembersihan.

Yah kami memang cukup beruntung 🙂

Ritual Harian Pembersihan Patung Mahamuni

Ritual pembersihan Patung Mahamuni dimulai dengan bunyi tabuhan. Diikuti kedatangan biksu yang berpakain putih menuju area Patung Mahamuni. Pembersihan dilakukan oleh beberapa orang. Ritualnya sederhana “basuh” lalu “kering”. Pertama Biksu membersihkan patung Buddha kemudian mengeringkannya. Pembersihan Batung Buddha secara keselurahan secara berlahan padahal tinggi Buddha yang terbuat dari perunggu ini mencapai 4,5 meter. Setelah dikeringkan lalu patung buddha dibasuh dengan minyak Cendana baru kemudian dikeringkan lagi dengan handuk. Setelah itu baru diberi wewangian.Keunikan dari ritual pemandian Patung Buddha adalah handuk dari pembersihan patung Buddha diberikan kepada mereka yang beribadah di dalam.

Hanya sekitar 20 menit saja Ade keluar dari hiruk pikuknya turis penonton acara pemandian patung Buddha di Mandalay. Ade menuju tempat duduk manisku di lantai penuh kepuasan melihat kehidupan pagi warga lokal Myanmar, aku terkesima dengan kerajinan mereka yang datang dari berbagai penjuru untuk mengikuti proses pembersihan Patung Mahamuni.

"Nya, yuk ke Mandalay Hill!", lanjut Ade
Yuk, kataku

Kamipun meninggalkan keramaian Pagoda Mahamuni di pagi hari menuju perjalanan mengejar sunrise ke Mandalay Hill karena kami sudah sah travelling di Myanmra dengan mewujudkan what to do in Mandalay 🙂

Rincian Pengeluaran Mandalay, Myanmar Hari Keempat

Taxi dari Stasiun Bus ke Dream Guest House 5000 KS/ 2 orang

Sewa Motor seharian 12,000 KS/ 2 orang

Uang Masuk Su Taung Pyae Pagoda 1000 KS

Air Lemon 500 KS Bensin 4500 KS/2 orang

Makan siang + minum tebu 1800 KS

Bus malam dari Mandalay ke Yangoon 22,000 KS/2 orang

Parkir motor 500 KS/2 orang

Total Pengeluaran hari keempat di Myanmar

2500 KS + 6000 KS + 1000 KS + 1800 KS + 11,000 KS + 250 KS

= 22,550 KS

Tempat wisata yang dikunjungi di Mandalay, Myanmar

Sunrise Mandalay Hill, Mahamuni Image, U Bein Bridge, Kuthodaw Pagoda (biggest book in the world), Mandalay Royal Pallace, Masjid

Salam

Winny

 

Pemandangan Indah di Paris dari Sacré-Cœur, Taj Mahal ala France


I’m a big believer that your life is basically a sum of all the choices you make. The better your choices, the better opportunity to lead a happy life

By Karen Salmansohn

 

Hello World!

Paris, Maret 2017

"We have a building similar to Taj Mahal in Paris", Winny!

Itulah kalimat antusias dari Thimo ketika menemaniku di Paris untuk mengunjungi wisata yang ada di Paris. Tempat yang ingin di tunjukkan di pagi hari bernama Sacré-Cœur Basilica sebuah Gereja Katolik Roma yang terletak di butte Montmartre, tempat tertinggi di Kota Paris. Melihat antusiasnya aku sangat penasaran seperti apa bangunan yang mirip dengan Taj Mahal. Jujur aku tidak pernah bayangkan ada tempat seperti Taj Mahal di Paris dan ini bukan Masjid seperti di India tapi Gereja.

Well, i will make advice if that similar to Taj Mahal or not, 
since i have been to Taj Mahal, kataku padanya

Pagi hari kami berjalan kaki dengan menaiki tangga yang lumayan menguras tenaga. Melihat suasana Paris di pagi hari merupakan hal baru bagiku. Karena aku tidak membayangkan aku bisa menginjakkan kaki di Eropa. Maklum imipian ke Eropa merupakan impian dari sejak kuliah. Memang benar ketika kita memiliki mimpi maka mimpi itu akan terwujud sepanjang berusaha dan percaya mimpi itu akan terwujud.  Aku juga cukup beruntung karena bertemu dengan orang-orang baik selama di Eropa. Untuk di Paris, Thimolah yang menjadi guide gratisan serta menemani menelusuri Negaranya, kalau tidak aku tidak bayangkan bagaimana berbicara dengan orang Perancis, mengingat aku tidak bisa berbahas Perancis.

Hal menarik lainnya menuju ke Sacré-Cœur Basilica aku melihat bunga indah yang mulai bersemi. Memang kedatanganku ke Paris kebetulan pas musim Semi, sehingga mengingatkanku perjalanan Jepang ketika musim semi. Dan di Paris juga banyak cherry bermekaran saat musim semi. Ah betapa menyenangkan melakukan perjalanan pelarian dari rutinitas, sesekali aku mencubit pipi sendiri dan mengatakan pada diri sendiri, “Winny, ini nyata dan tidak mimpi”.

Sesampai di Sacré-Cœur Basilica, ternyata memang bentuknya sepintas mirip dengan Taj Mahal walau tidak seperti Taj Mahal total.

“Hanya bentuknya saja”

Siapa sangka Paris memiliki tempat indah, karena dalam bayanganku Paris tak jauh-juah dari Menara Eiffel atau Kota “Fashion” katanya. Namun Paris tak sekedar Eiffel, Paris itu memiliki tempat yang membuatku kaget. Bahkan dari 12 Negara yang aku kunjungi selama 1 bulan di Eropa, Paris di Perancis telah mencuri hatiku. Suka dengan Kotanya serta penataannya yang rapi 🙂

Bersama Thimo kami antri untuk masuk kedalam Gereja. Pengamanannya cukup ketat dan barang bawaaan diperiksa oleh petugas yang mirip dengan Polisi Perancis itu. Hal ini wajar, karena masuk ke dalam Sacré-Cœur Basilica Paris tidak perlu membayar. Disinilah letak kekeranan di Perancis, rata-rata masuk ke dalam Gereja gratis berbeda dengan Inggris yang beberapa Gereja harus bayar terutama Gereja terkenal. Namun di Perancis masuk ke Museum itu bayar, sementara di Inggris kebanyakan museum itu gratis.

Di dalam Sacré-Cœur Basilica Paris, beberapa turis beribadah sehingga pengunjung harus menjaga ketenangan. Di dalam Gereja seperti gereja pada umumnya perbedaannya hanyalah interior di dalamnya dengan gambar Yesus di atasnya berbentuk lonjong. Gambar ini mengingatkanku akan Istanbul, “Hagia Sophia”. Tentu saja mozaiknya berbeda, dan entah kenapa aku malah mengingat mozaic di Hagia Sophia.

So, what do you think, is not it beautiful?, tanya Thimo kepadaku

Well, trust me its good, but Hagia Sophia is more wonderful, jawabku

Emang aku agak kurang ajar, padahal Thimo sudah semangat malah aku mengatakan perbandingan yang tak sama. Padahal dari sejarah Sacré-Cœur Basilica Paris sendiri lumayan menarik. Walau demikian dipastikan di dalam Sacré-Cœur Basilica Paris aku hanya bisa bertahan 5 menit saja. Padahal menunggu antrian masuk 30 menit padahal masih pagi hari.

Sacré-Cœur Basilica Paris

Keluar dari Sacré-Cœur Basilica Paris, pemandangan Paris di pagi hari sungguh “menghipnotis”. Itulah pemandangan terindah yang pernah aku lihat selama di Eropa. Langsung membuatku bahagia melihat dedaunan dari pepohonan serta pemandangan Kota Paris dari atas.

Ah, aku jatuh cinta pada pemandangan KOTA PARIS dari Sacré-Cœur Basilica!

Bahkan tempat Sacré-Cœur Basilica Paris sering dijadikan tempat lokasi shooting di beberapa film. Di depannya bahkan ada sebuah patung yang kalau tidak seksama aku berpikir itu patung. Ternyata bukan, itu adalah seorang ibu yang dicat mukanya berwarna putih berdiri bak Patung. Terus aku teringat akan manusia patung di Kota Tua, ternyata di Paris ada juga.

Menikmati pagi hari dengan melihat Kota Paris dari atas merupakan awal yang menarik untuk menjelajah Paris. Yah aku senang, senang bisa memiliki kesempatan menikmati Pemandangan Indah di Paris dari Sacré-Cœur, Taj Mahal ala France 🙂

King Saint Louis Statue

Alamat The Sacre Coeur Basilica

35 Rue du Chevalier de la Barre,

75018 Paris, France

Jadwal Buka Sacré-Cœur

Setiap hari jam : 06:00 – 22:30

Salam

Winny

Sunset di Shwesandaw Pagoda Old Bagan, Myanmar


Very little is needed to make a happy life, it is all within yourself, in your way of thinking

By Marcus Aurelius

Bagan Plains with the Dhammayangyi on the left
Pemandangan Dhammayangyi Temple

Hello World!

Old Bagan, Februari 2017

Setelah adegan ban bocor telah diperbaiki oleh dua montir dadakan dari tempat penyewaan sewa karena selfie akut, perut yang lapar tidaklah bisa berbohong. Belum lagi cuaca yang panas membuat kami memutuskan kembali menuju ke New Bagan untuk mencari makan siang. Dengan dua sepeda motor listrik yang kami sewa, kami bertiga kembali bersepedahan kearah New Bagan. Memang kami masih penasaran dengan New Bagan, Myanmar. Ditambah susah sekali mencari makanan disekitar Old Bagan yang penuh dengan Pagoda.

Untuk sampai ke New Bagan, membutuhkan waktu kurang lebih 30 menit dari Old Bagan. Awalnya kami hendak makan di sebuah Restauran dengan pemandangan laut namun ketika melihat harganya yang “Aduhai” akhirnya kami membatalkan serta secepat kilat dengan langkah seribu meninggalkan tempat itu dan mengambil sepeda motor listrik kami di parkiran. Ujung-ujungnya setelah capek mencari sana-sini kami berhenti disebuah cafe yang agak ramai. Tujuan kami untuk bersantai ria setelah seharian berpanas-panas di Old Bagan.

Ban Bocor di Old Bagan

Kami pun melihat menu makanan dan memilih makanan berdasarkan kesukaan. Di restauran di New Bagan, aku mendapatkan makanan yang agak “zonk” karena salah memilih “sup sayur ala tom yam” yang aku pesan murni sayuran tanpa rasa. Sampai-sampai si Ade dan Melisa terkekeh-kekeh melihat ekpresi makanan yang aku pesan ketika datang tidak sesuai dengan harapan. Beruntunglah Melisa dan Ade membeli makanan yang agak mahal namun rasa lumayan. Ini jadi pelajaran buatku kalau ke Myanmar jangan pernah pesan yang namanya “tom yam” atau “soup vegetable” karena harga menentukan rasa. Apalagi memesan makanan yang murah, siap-siap rasanya sesuai dengan harga.

Bayangkan saja sayur tok dengan kuah ala-ala 😦

Lokal Myanmar (Photo: Melisa)

Setelah kenyang makan di New Bagan, barulah kami kembali ke Old Bagan untuk mengejar sunset Old Bagan, harapannya  sebanding fenomenalnya dengan sunrise Old Bagan.

Nah pas perjalanan pulang si Ade kebelet ke toilet, untungnya ke tempat peribadatan tempat makan mie ubek-ubek pakai tangan tadi pagi ternyata memiliki toilet. Makanya Ade sempat berhenti sementara. Kalau tidak, entahlah nasib si Ade menahan kebelet sepanjang jalan.

Oh ya untuk perjalanan bersepeda motor listrik sepanjang Old Bagan-New Bagan cukuplah seru karena Pagoda dan templenya yang bertaburan dengan ukuran yang berbeda-beda. Bahkan kami sempat berhenti disebuah Pagoda yang mirip istana dengan tembok berbentuk persegi panjang sekelilingnya. Bak kami berada di masa lampau, seperti itulah keseruannya. Tapi jangan ditanya apa informasi dari Pagoda tersebut karena tulisannya tidak kami mengerti. Bahkan Ade mengatakan “tulisan cacing” yang susah dimengerti. Namun kami maafkan karena Pagodanya yang cukup indah.

Old Bagan

Setelah itu kami bertiga menuju ke Shwesandaw Pagoda untuk melihat sunset Old Bagan, Myanmar. Jujur saja, pemilihan Pagoda ini karena kami melihat begitu banyak orang, jadi kami hanya mengikuti rombongan turis yang banyak. Kamipun memarkirkan sepeda motor listrik kami dengan sembarangan lalu mengikuti rombongan turis.

Nah saat Aku dan Ade mengikuti rombongan turis ternyata si Melisa berpisah dari kami karena hendak mengambil photo Shwesandaw Pagoda dari depan. Agak cukup lama aku dan Ade menunggu Melisa di tangga menuju ke Shwesandaw Pagoda. Hingga menunggu sekitar 30 menit lalu Melisa kelihatan

Mel, kemana dirimu?, tanya kami
Tahu gak aku tadi katahuan gak punya tiket, wkwkwk katanya dengan tertawa lepas

Where is your ticket to Bagan?, tanya petugasnya kata Melisa
I left at hotel, kataku
Kalau gak bisa mate kata Melisa

Dirimu sih Mel, pisah dari kami

Aku kan tadinya mau ngambil photo eh malah ketahuan, katanya

Akhirnya aku dan Ade tertawa melihat kejadian yang baru dialami Melisa. Untung muka kami kayak muka lokal yah Mel, untung dirimu gak dideportasi 😀

Shwesandaw Pagoda

Setelah berkumpul akhirnya kami menaiki tangga yang super membuat bulu kudukku berdiri. Tahu sendiri aku paling phobia dengan ketinggian. Kalau bisa ngesot, maka ngesot deh biar sampai keatas. Belum kemiringan tangganya sangat curam dan miring. Perlu kehati-hatian tingkat tinggi untuk sampai ke Puncak, ditambah ramainya antrian hendak naik. Kalau bukan disemangati Melisa dan Ade mending aku tidak usah melihat matahari terbit dari atas Pagoda daripada menahan ketakutan. Tapi anehnya aku sampai juga dipuncak Shwesandaw Pagoda dengan usaha yang luar biasa.

Sesampai di atas Shwesandaw Pagoda begitu ramai, ramai turis yang juga menunggu sunset dari Pagoda. Bahkan kami harus berkeliling Pagoda memutari untuk mencari celah menikmati Pagoda di Bagan dari atas. Melisa dan Ade bahkan berphoto di ujung Pagoda seolah tak takut mati. Sementara aku yang duduk disamping saja membuat nyali sudah kecut ditambah keringat dingin dan deg-deg syer yang luar biasa, lebih deg-degan dari Cinta pertama. Begini rasanya kalau penakut akan ketinggian. Sumpah saat Melisa berdiri di ujung Pagoda dengan gaya Yoga membuatku takut, takut dia terjatuh. Belum juga tingkah si Ade yang tidur nyenyak diatas Pagoda, ampun DJ!

Kami menunggu sunset

Setelah puas berphoto dengan latar belakang Pagoda ala Old Bagan, akhirnya kami kembali menuju tempat melihat sunset diantara turis yang super padat. Sunset Old Bagan sangat bagus, sebagus saat sunrise hanya saja tidak ada balon udaranya. Walau kami harus rela berdesak-desakan diantara keramain turis dan bersempit-sempitan demi “photo sunset Old Bagan”. Memang dibalik photo indah ada turis ramai yang menunggu.

Sunset di Old Bagan berbeda karena adanya latar belakang ribuan Pagoda serta pegunungan dan bersembunyi dibalik sebuah air.

Pemandangan apik!

Tidak sia-sia berjuang naik dengan tangga miring yang menggetarkan jiwa serta kesumpekan turis.

Sunset Old Bagan dari Shwesandaw Pagoda
Nya, aku senang akhirnya bisa lihat sunrise dan sunset 
sekaligus di Old Bagan, Myanmar, kata Ade dengan bahagia

Yah perjalanan Old Bagan, Myanmar kami memang penuh cerita.

Salam

Winny

Pengalaman Kocak di Thatbyinnyu Temple, Burma


It is strange to be known so universally and yet to be so lonely

By Albert Einstein

Hello World!

Burma, Februari 2017

Setelah mengelilingi Old Bagan dan adegan gokil di depan Pagoda, akhirnya aku, Melisa dan Ade melanjutkan perjalanan kami ala backpacker di Bagan dengan sepeda motor listrik. Dengan cuaca yang panas kami berhenti di Pagoda yang menurut kami cakep. Bahkan ada satu Pagoda yang cukup mencuri perhatian kami yaitu Pagoda yang didepannya ada kaktus. Kaktus inilah bukti kalau di Old Bagan lumayan panas, dan satu lagi di Old Bagan itu lumayan gersang dan berdebu sehingga perlu membawa masker.

Sekali lagi mengelilingi Pagoda di Old Bagan cukup menyita waktu karena Pagodanya yang super banyak sekali. Jadi tidak mungkin mengunjungi satu persatu.  Bahkan dalam pemilihan Pagoda yang kami kunjungi berdasarkan Hingga kami menuju ke Thatbyinnyu temple di Old Bagan karena warna Pagodanya berwaran putih.

Di Thatbyinnyu temple, aku membeli buah potong karena pas di Old Bagan pas siang hari panas maka perlu banyak minum. Sementara si Ade dan Melisa mencoba minum es di depan Pagoda. Kali ini mereka minumnya kena zonk karena minuman mirip Cendol warna hitam ternyata diubek-ubek pakai tangan juga. Tapi si Ade dan Melisa minum juga cendol ala Myanmar yang diaduk dengan tangan. Karena sudah terlanjur dibeli dan haus juga akhirya si Ade minum juga cendol yang diubek-ubek tadi.

Dalam hatiku, untung gak beli minuman ubek pakai tangan. Tapi anehnya meski diubek pakai tangan, si Ade dan Melisa sehat-sehat saja, tidak terkena diare. Kalau ingat adegan ini malah ingin tertawa sendiri.

Setelah minum kamipun melanjutkan perjalanan kami untuk mencari makan siang. Tapi entah kenapa kami berteduh di dekat Thatbyinnyu Temple.

Nya Tolong dong ambilin photoku di depan Pagoda sambil bersepeda, kata Ade

Ini bisa mmephoto 10 photo dalam 1 detik, lanjutnya

Kayak gini ya caranya, kata Ade melanjutkan

Nanti setelah itu gantian aku ambilin photomu, katanya

Oh ya di ola Bagan, masyarakatnya memanfaatkan ban bekas menjadi tempat sampa. Tempat sampah dari ban bekas di Old Bagan cukup unik  kreasi sehingga indah untuk dilihat. Hal ini patut dicontoh, semoga di Indonesia bisa juga ya 🙂

Thatbyinnyu Temple

Kemudian saat mengambil photo Ade dengan latar belakang PAGODA eh tiba-tiba sepeda listriknya bannya bocor. Oh no, padahal kami belum makan siang dan belum ke New Bagan. Bahkan kartu Myanmar saja kami tak punya. Untungnya ada nomor telepon tempat peminjaman sepeda motor listrik di sepeda motor listrik.

Akhirnya dengan inisiatif aku mencoba meminta bantuan orang lokal untuk menelepon tempat penyewaan sepeda motor kami. Sayangnya orang lokal tidak bisa bahasa Inggris akhirnya pakai bahasa Tarzan dengan menunjukkan handphone dan sepeda yang bannya bocor Untungnya si orang lokal mengerti dan menelepon pihak penyewaan motor kami. Jujur disini kami sempat khawatir tapi kami tetap asik saja. Aku, Melisa dan Ade sempat bersantai ria di bawah pohon karena ban sepeda motor listrik yang bocor sambil menunggu montir datang.

Padahal kami juga tidak tahu dimana tempat ban bocor kami. Nah pas penungguan montir untuk memperbaiki sepeda motor, kami benar-benar menikmati kebersamaan malahan masih sempat photo suka-suka.

Penantian kami hanya 20 menit saja, montir kami datang. Disini kami melihat proses penggantian ban dengan lem. Kedua montir yang memperbaiki sepeda motor kami masih muda. Si Ade paling suka mengganggu mereka dengan Bahasa Indonesia, kadang ngomong pakai Bahasa Inggris padahal montirnya ngerti juga kagak. Aku dan Melisa tertawa saat Ade mengganggu mereka. Beruntung memang kami karena meski ban bocor dan tidak tahu dimana, tapi mereka dapat menemukan kami dan sigap memperbaikinya. Kalau tidak bisa dorong sepeda listrik dengan perut lapar.

Pelajaran yang berharga yang kami dapat ialah “gegara photo maka ban kami pecah”. Beginilah kalau sudah terkena selfie akut. Anehnya disitu kekocakan trip di Old Bagan, Myanmar kami. Kapan lagi coba merasakan ban pecah gegara asik berphoto tapi malah menjadi momen lucu-lucu bagi kami.

Rincian Pengeluaran Old Bagan, Myanmar Hari Ketiga

Taxi dari Highway bus Station ke Nyaung-U 24,000 KS/ 3 orang

Sewa e-bike seharian 12.000 KS/3 orang (2 e-bike)

Sarapan mie 2600 KS/3 orang

Minum kelapa 3000 KS/3 orang

Tiket bus Malam Old Bagan-Mandalay 22,000 KS/2 orang

Total Pengeluaran hari ketiga di Myanmar

8000 KS + 6000 KS + 870 KS + 1000 KS + 11,000 KS

= 26,870 KS 

Tempat wisata yang dikunjungi di Old Bagan, Myanmar

Melihat Sunrise dengan latar belakang balon udara dan candi serta puas keliling Old Bagan dan menelusuri Candi-Candi di Old Bagan serta melihat sunset di Old Bagan

Salam

Winny

Jelajah Old Bagan dan New Bagan, Myanmar


Success in life comes when you simply refuse to give up, with goals so strong that obstacles, failure and loss act only as motivation.

By Unknown

Hello World!

Old Bagan, Februari 2017

Setelah sarapan dan perutpun kenyang dari makan mie ubek-ubek pakai tangan khas ala Myanmar, aku, Ade dan Melisa melanjutkan perjalanan ke New Bagan. Jujur ke New Bagan itu hanya mengikuti insting karena setelah puas melihat matahari terbit Old Bagan yang fenomenal, kegiatan kami berikutnya adalah acara bebas. Bahkan bebas dalam mencari objek wisata apa yang ingin kami kunjungi. Namun karena di Old Bagan banyak sekali Pagoda dari satu meter sudah ada Pagoda maka kami sedikit bingung Pagoda mana yang akan kami singgahi terlebih dahulu. Akhirnya kami berhenti di Pagoda yang menurut kami enak dipandang mata karena jika ingin mengunjungi satu persatu tidaklah mungkin mengingat jumlah Pagoda di Myanmar itu ribuan bahkan mungkin jutaan, jadi niat mengunjungi semua Pagoda dalam sehari itu dalam sehari adalah pekerjaan mustahil.

Saat makan Mie Melisa sempat menunjuk Wanita berleher panjang Myanmar,
dimana sebelumnya kami sudah puas bertemu di Inle. Si Ibu lewat dengan jalan kaki.

Win, Ade, lihat ada wanita berleher panjang, 
kata Melisa dengan semangat 45

Gegara  melihat wanita berleher panjang lewat maka kami yang awalnya niatin ke New Bagan malahan berubuah tujuan mencari wanita berleher panjang Myanmar. Wanita berleher panjang Myanmar kami temukan di salah satu penjual kain tenun. Entah kenapa namun rata-rata wanita berleher panjang di Myanmar yang kami jumpain bekerja sebagai penenun.

Baca juga pengalaman Wanita berleher panjang Myanmar

Bagan, Myanmar
La Min Aein, Long Neck Women Myanmar

Dengan motor listrik, kamipun berhenti di tempat tenun ibu berleher panjang. Hanya saja kami singgah hanya sebentar saja karena kami tidak ada niat untuk membeli tenunan serta alasan lain karena kami sudah puas bertemu dengan wanita berleher panjang di Inle, Myanmar.

Tanpa basa-basi akhirnya kami melanjutkan perjalanan kami dan menjauh dari tempat si ibu Myanmar yang sedang menenun menuju ke Pagoda yang kami lewati di pagi hari. Pemilihan Pagoda pun dikarenakan jaraknya dekat dengan tempat La Min Aein, wanita berlehar panjang yang kami singgahi serta kami tertarik melihat keramaian orang yang berada di kawasan Pagoda tersebut.

Bentuk Pagoda yang kami kunjungi setelah Pagoda untuk sunrise Bagan, mirip dengan Pagoda yang di India. Bentuknya bulat dengan warna merah bata. Mirip stupa dengan gaya yang khas. Jujur aku sangat suka dengan Pagoda yang kami datangi setelah Pagoda saat melihat matahari terbit. Kami bahkan sempat masuk kedalam komplek Pagoda untuk melihat apa yang ada di dalam Pagoda. Sekedar ingin menjawab rasa penasaran kenapa ramai pengunjungnya. Untuk masuk ke dalam Pagoda sebelumnya kami membuka sandal/sepatu dan kaos kaki kami karena peraturan di Myanmar jika ingin masuk ke area Pagoda/Candi maka harus membuka alas kaki.

Masuk ke dalam Pagoda, kami melihat beberapa biksu serta pengunjung yang beribadah.  Semakin berjalanan mengelilingi kawasan Pagoda, kami malah melihat hal menarik berupa “Patung Buddha yang dimandikan” oleh pengunjung. Hal ini tentu asing bagiku, Melisa dan Ade namun menambah wawasan kami.

“Lihat tuh Mel, Patungnya dimandiin, gak kayak kita gak mandi-mandi”, kata Ade

Mendegar ocehan Ade membuatku geli tak karuan karena memang kami belum mandi sejak dari perjalanan Singapura-Yangon-Inle dan Bagan. Untukku sudah 4 hari tidak mandi-mandi dan rasanya “butuh air segar untuk mandi”. Untuk Ade dan Melisa mungkin 3 hari belum mandi, sehingga melihat patung dimandikan itu rasanya iri setengah mati. Kami merasa seperti kambing, disini kami merasa pejalan hina hihihi 😀

Old Bagan
Old Bagan
Old Bagan
Old Bagan

Setelah puas cuci mata Pagoda Old Bagan, kami keluar dan meneluri Pagoda lainnya di kawasan Old Bagan karena memang saat berada di OLD Bagan maka jarak satu meter terdapat Pagoda. Kami pindah dari satu Pagoda ke Pagoda lainnya, kali ini kami memilih mundur ke Pagoda yang di tepi jalan yang sempat menarik perhatian kami. Memang rata-rata Pagoda di Old Bagan itu gratis, beberapa memang bayar namun kalau membayar uang masuk Kota Bagan maka masuk ke Pagodanya gratis. Lah kami adalah turis gelap sehingga kami mainnya ke Pagoda gratisan. Kalau kami masuk ke Pagoda yang turistik bisa-bisa kami dideportasi karena tidak memiliki bukti pembayaran tiket masuk Kota Bagan. Tapi tenang, Pagoda di Old Bagan cukup banyak untuk menerima hasrat gratisan kami.

Kendala saat menghampiri Pagoda di Old Bagan adalah susah mencari jalan ke Pagodanya, bahkan Ade dan Melisa berpikir dua kali bagaimana cara masuk, akhirnya kalau ada sedikti tanda-tanda jalan maka kami lewat kesitulah kami. Jalanannya pun berdebu, terus semak-semak belukar sampai duri-duri. Kalau ada jalanan aspal itu adalah jalanan utamanya, kalau ke Pagodanya harus melewati jalanan kecil setapak.

Pencarian Pagoda di old Bagan kamipun termasuk impulsif banget, singgah di Pagoda yang kami sukai saja. Saking banyaknya Pagoda yang kami singgahi, kami sampai tak tahu nama Pagodanya. Kami hanya melihat sekilas karena untuk informasi mengenai Pagoda pun menggunakan Aksara Myanmar.

Bye untuk memahami sejarah dari Pagoda di Old Bagan.

Old Bagan

Waktu kami menjelajah Old Bagan sangat terik matahari namun kami sangat menikmati perjalanan kami. Bahkan kami rela melewati semak-semak belukar demi bisa mendekat dengan Pagoda. Bentuknya yang unik seolah berkata “come closer”.., wkakak

Keunikan Pagoda di Old Bagan adanya patung Buddha di dalam Pagoda. Kami sempat penasaran ada apa di dalam Pagoda, ternyata ada Patung Buddhanya walau tidak semua Pagoda memiliki Patung Buddha di dalamnya. Kadang membuat kaget, lihat di dalam apaan eh ada patungnya.

Yang parah saat aku kebelet pipis di Pagoda Old Bagan. Nyari WC kagak ada terus kebeletnya minta ampun. Terus si Ade nakut-nakutin “jangan pipis sembarangan”, apalagi di Pagoda. Akhirnya jadilah menahan pipis. Dan sungguh menahan pipis tidak sangat menyenangkan, apalagi punya teman yang gokilnya minta ampun malah semakin memicu. Belum lagi adegan lucu kami saat berpose di depan Pagoda bersama Ade, asli kami kurang kerjaan.

Kami bertiga memang agak kurang kerjaan dimana kami benar-benar menikmati perjalanan Old Bagan kami. Malahan pas capek setelah beradegan lucu di depan Pagoda, akhirnya kami bertiga malah ngerumpi di depan Pagoda sambil berteduh. Mulai dari curhat perjalanan, kehinaan selama perjalanan hingga masalah kerjaan yang tak jelas. Memang sangatlah luar biasa kami bertiga jauh-jauh ke Old Bagan ujung-ujungnya malah curcol di Pagoda.

Aku cukup beruntung berjalan dengan dua teman yang seru habis:)

Old Bagan
Old Bagan
Melisa di old Bagan
Old Bagan
Old Bagan

Rincian Pengeluaran Old Bagan, Myanmar Hari Ketiga

Taxi dari Highway bus Station ke Nyaung-U 24,000 KS/ 3 orang

Sewa e-bike seharian 12.000 KS/3 orang (2 e-bike)

Sarapan mie 2600 KS/3 orang

Minum kelapa 3000 KS/3 orang

Tiket bus Malam Old Bagan-Mandalay 22,000 KS/2 orang

Total Pengeluaran hari ketiga di Myanmar

8000 KS + 6000 KS + 870 KS + 1000 KS + 11,000 KS

= 26,870 KS 

Old Bagan

Tempat wisata yang dikunjungi di Old Bagan, Myanmar

Melihat Sunrise dengan latar belakang balon udara dan candi serta puas keliling Old Bagan dan menelusuri Candi-Candi di Old Bagan serta melihat sunset di Old Bagan

Salam

Winny

Bersih-bersih di Pantai Karina Kepulauan Togean


Happiness lies in the joy of achievement and the thrill of creative effort

By Franklin D. Roosevelt

Hello World!

Togean, 2017

Tak jauh dari Danau Mariona “Ubur-ubur” Kepulauan Togean terdapat sebuah pantai dengan pasir putih bernama “Pantai Karina”. Pantai Karina masih terbilang jarang pengunjung, kalaupun ada kebanyakan turis mancanegara. Hal ini wajar karena untuk sampai ke Togean membutuhkan usaha ekstra tapi percayalah usaha menuju ke Togean sangat terbayar dengan keindahan Bahari Togean. Apalagi si pecinta laut, pantai serta kekayaan biota bawah laut maka dipastikan puas mengunjungi Kepulauan Togean.

Salah satu agenda dadakan kami untuk mengunjungi Pantai Karina setelah puas bermain dengan ubur-ubur. Bahkan guide kami Pak Saiful berenang ke Pantai Karina saking dekatnya dengan Danau Mariona.

Pantai Karina ini merupakan Pantai perawan dengan pasir putih, 
begitu kata Pak Saiful meyakinkan kami akan keindahan Pantai Karina.

Tentu saja kami tidak perlu ragu-ragu mengamini keindahan dari Pantai Karina. Bayangkan saja, dari kejauhan saja air laut dipermukaan tepi pantai begitu jernih saking jernihnya terumbu karang begitu jelas terlihat dari atas kapal. Kapal kecil kami yang memuat 10-15 orang jiak berdiri maka dari atas biru tosca laut serta terumbu karang, bahkan ikan yang berenang kesana kemari. Belum lagi pepohonan kelapa yang banyak ditemukan disekitar Pantai. Memang Pantai Karina cocok untuk menghilangkan penat dari rutinitas, edisi perjalanan ke Togean benar-benar liburan yang sebenarnya.

Mengunjungi Pantai Karina bak berada dalam film “Beach” ketika Leonado de Caprio tersesat dalam sebuah Pulau dengan hamparan pasir putih, namun yang mebanggakan pasir putih ini berada di INDONESIA. Memang Pesona Indonesia untuk alam nomor wahid, selalu membuat kejutan kepada siapapun yang mengunjunginya.

Kepulauan Togean

Setelah mulai dekat dengan Pantai Karina, perahu kamipun disandarkan lalu kami keluar dari perahu satu persatu. Berlahan-lahan kami turun melewati air pantai lalu mulai berjalan ke Pantai.

Sayangnya ketika berada di Pantai Karina dengan pasir putih, di sisi tepi-tepi pantai masih banyak sekali sampah. Sampah-sampah terbawa arus gelombang laut.

Ingin rasanya mengutuk orang-orang yang membuang sampah di laut menjadi kodok atau itik buruk rupa. Sekita hati hancur karena pasir putih Karina malah ternoda dengan sampah sembarangan yang dibuang ke laut.  Sampah-sampahnya pun bervariasi mulai dari botol plastik, bekas makanan hingga botol kaca tersapu dan berada di tepi pantai. Melihat sampah yang ada di Pantai Karina cukup membuat prihatin.

Dengan inisiatif Pak Saiful yang menjadi tourguide kami selama di Togean pun memulai memungut sampah satu persatu yang ada di Pantai Karina.

Tentu saja kami juga tidak mau kalah dengan Pak Saiful akhirnya kami ikutan nimbrung untuk memungut sampah  di Pantai Karina. Semua sampah yang terbawa arus laut ke Pantai Karina kami bersihkan bersama-sama.

Yah aksi bersih-bersih sampah di Pantai Karina pun dimulai…

Sampah-sampah yang ada kami pisahkan dan kata Pak Saiful sampah plastik akan didaur ulang oleh Pak Saiful dan masyarakat di Desa Katupat, Kepulaun Togean dibuat menjadi produk yang berguna.

Baca juga bagaimana cara mengolah sampah jadi uang

Sumpah sebenarnya geram sekali masih banyak orang yang membuang sampah sembarangan ke laut padahal merusak pemandangan serta sampah plastik yang ada tidak terurai. Semoga kedepannya kita tidak lagi membuang sampah sembarangan apalagi ke laut. Ini benar-benar menjadi pelajaran berharga bagiku, untuk perduli lingkungan dan aku berjanji pada diri sendiri untuk tidak membuang sampah sembarangan.

Karena kalau bukan kita siapa lagi?

Kepulauan Togean
Kepulauan Togean
Kepulauan Togean
Bersih-bersih di Kepulauan Togean
Kepulauan Togean

Kegiatan bersih-bersih sampah di Pantai Karina memang dadakan namun aku sangat berharap tidak ada lagi sampah di tempat wisata. Kadang membuatku miris sekaligus malu ketika yang memungut sampah itu adalah turis asing. Masa kita di negeri sendiri membuang sampah sembarangan?

Setelah bersih-bersih sampah impulsif yang kami lakukan barulah kami meminum kelapa segar yang ada di Pulau Karina sambil menikmati pemandangan indah laut. Meski kegiatan bersih-bersih kami lakukan singkat namun aku sangat bahagia karena dapat berkontribusi untuk menjaga lingkungan.

Yuk Cintai Lingkungan kita dan mulailah menjadi traveller smart dengan tidak membuang sampah sembarangan 😀

Salam

Winny

Backpacker ke Vatican, Negara Terkecil di Dunia


Love yourself first and everything else falls into line

By Unknown

Hello World

Vatican, April 2017

Sebelum melakukan trip 1 bulan di Eropa, baca juga pengalaman trip 1 bulan di Eropa, jujur aku tidak mengira kalau Vatican berada di Italia dan merupakan sebuah negara. Dalam bayanganku Vatican hanyalah sebuah Kota yang dibenakku jika Natal dipastikan akan selalu tayang di stasiun TV dengan Paus yang melambaikan tangan lengkap dengan jubah putihnya berlatar Gereja megah Vatican. Bahkan Vatican bukan tujuan utamaku ke Eropa namun saat berada di Italia barulah aku sadar kalau Vatican itu berada dalam wilayah Roma, Italia. Jadi mumpung di Italia yah sekalian ke Vatican.

Vatican sendiri merupakan negara terkecil di dunia dengan luasan hanya sekitaran 0,44 km pesegi dengan populasi penduduk 850 warga negara artinya populasi penduduk paling sedikit di dunia. Untuk bentuk negaranya berupa Monarki dengan kepala negara Uskup Agung Roma yang merangkap sebagai pemimpin umat Katolik sedunia.

Vatikan, yang sepenuhnya berada di dalam wilayah kota Roma, merupakan negara terkecil di dunia dengan luas hanya 0,44 kilometer persegi. Bahkan sejak 11 Februari 1929 Vatican sudah menjadi negara independen.

Untunglah saat berada di Roma aku memiliki kesempatan mengunjungi Vatican, sehingga tidak sia-sia aku menghabiskan sisa perjalanan Erapa itu paling lama di Italia.

Untuk menuju ke Vatican, negara suci umat Katolik sangatlah mudah terutama jika sudah berada di Roma. Waktu itu aku  turun di Metro Ottaviano dengan sekali perjalanan biaya Metro sekitar 1,3 Euro, jika 1 hour pass 3 Euro dan 24 hour pass 7 Euro (kalau tidak salah, habis lupa). Namun bagi yang lama di Roma dan ingin menjelajah semua wisata Roma maka sangat aku sarankan untuk membeli Roma Pass sehingga puas keliling Roma serta menggunakan transportasinya. Bicara transportasi di Italia itu cukup mudah loh, semua ada mulai dari Metro, kereta hingga bus.  Mempelajarinya pun mudah tinggal lihat di peta transportasi di Roma.

Peta Transportasi Roma (Sumber: Romemap360)

Keberangkatan ke Vatican pun tergol0ng cukup pagi karena dipastikan ramai pengunjung serta antusias turis. Walau sebelumnya tidak kepikiran kalau yang mendatangi Vatican itu antriannya “panjang”. Jam 8 sudah berangkat dari penginapan dari Coloseum, Roma kemudian naik Metro ke Vatican. Tujuan seharian memang menjelajah Vatican, karena kapan lagi mengunjungi negara paling kecil di dunia.

Sesampai di Metro Ottaviano, tempat berhentian jika ingin mengunjungi Vatican maka sedikit berjalan kaki menuju ke Vatican.  Jalan kaki dari Metro Ottaviano cukup asik karena banyak penjual souvenir yang murah meriah sehingga tak terasa jalan kaki. Petunjuk arahnya juga mudah, lihat saja turis kemana dan tinggal ikuti saja.

Sesampai di Vatican, betapa kagetnya aku  karena antrian untuk masuk ke dalam Vatican itu panjang pakai banget “panjannggggggg sekaliiiiiiii”. Belum cuaca yang terik tapi dingin, maklum saat kedatangan ke Eropa musim semi jadi meski kelihatan panas namun cuaca bisa 12 sampai 15 derajat Celcius. Asli melihat antrian super panjang rasa malas untuk masuk ke dalam Vatican pun mulai menyusut.

Dalam hatiku ngapain juga antri lama-lama untuk melihat sebuah Gereja, serius ini adalah kekonyolan yang pernah aku lakukan dalam hidupku. Bahkan dari pertama kali sampai jam 9 pagi baru bisa masuk ke dalam gereja Vatican itu baru jam 12 siang, artinya sudah antri 3 jam. Untuk masuk ke dalam Gereja Vatican tidak dipungut biaya alias gratis tapi kalau mau cepat masuk tanpa ngantri maka harus bayar extra.  Aku sih ogah untuk membayar, mending ngantri walau dalam hati mendumel .

What is the good things that i can see inside the Vatican Church? tanyaku
That's the biggest and beautiful Church in the world, kata hostku
Trust me you will not regret once you enter it, katanya penuh semangat
Antrian Panjang ke dalam Vatican

Setelah 3 jam antri di St. Peter Square berbentuk zig-zag melebih zig-zag ular tangga, akhirnya tercium juga hawa-hawa pintu masuk ke dalam Gereja Vatican. Pengunjung harus melewati penjagaan yang ketat terutama tas dan badan melewati scanner. Barulah jika body detector tidak mengeluarkan bunyi yang mencurigakan dan petugas merasa pendatang aman maka diperbolehkan masuk ke dalam Gereja yang katanya terluas di dunia.

Masuk ke dalam Gereja, isinya seperti Gereja pada umumnya di Eropa, bedanya di Gereja Vatican terdapat karya Michael Angelo yang fenemonal “Sistine Chappel”. Tapi karena harus bayar lagi untuk melihat Sistine Chappel Vatican, jadi aku agak ogah untuk masuk, aku kan pecinta “hratisan”. Disinilah aku merasa aku itu turis kere tingkat dewa. Begitulah memang kalau tidak terlalu antusias, kalau antias semahal apapun pasti dibayar. Lagian karena aku sudah melihat lukisan di Louvre membuatku antusiasku dengan seni berkurang, toh sudah puas di Louvre, Paris.

Melihat mukaku datar saat masuk membuat kekecewaan bagi teman perjalananku. Serius bagiku mengunjungi Vatican itu sungguh sangat biasa sekali (terus dillempar sandal karena kata-kata ini).

Padahal Sistine Chappel Vatican atau disebut Cappella Magna, berasal dari Pope Sixtus IV tahun 1477 dan 1480. Namun karena cintaku pada Euro jauh lebih tinggi akhirnya ya sudahlah…

Pintu masuk Gereja Vatican

Di dalam Basilica St. Peter Vatican, ada satu hal mencuri perhatianku yaitu ketika pengunjung antri untuk menyentuh kaki dari patung  St. Peter di dalam  Basilica, bahkan warna emas dari patung sudah memudar saking banyaknya yang menyentuhnya. Konon St. Peter dan beberapa pemimpin kristen makamnya berada di dalam Vatican. Untuk benar atau tidaknya aku kurang tahu, tapi saat melihat isi dalam Gereja memang ada tanda-tanda makam di Vatican.

Di dalam Basilica St. Peter di Vatican terdapat ruang-ruang untuk umat Katolik yang ingin beribadah tapi bagi pengunjung tidak boleh mengambil photo saat orang beribadah di dalam Basilica St. Peter di Vatican.

Keunikan lain dari Vatican adalah petugas penjaga Vatican dengan seragam yang unik berada di luar Basilica. Di dalam Vatican juga terdapat beberapa tentara yang bertugas menjaga keamanan Vatican. Sayangnya aku tidak melihat Pope alias Paus, padahal keren juga bisa melihat Paus secara langsung, kan selama ini lihatnya di TV doang. Kalau ingin lihat Paus harusnya datang pas perayaan besar keagamaan tapi dipastikan ramai sekali 🙂

Di dalam Basilica of St. Peter in the Vatican
Basilica of St. Peter in the Vatican

Hal menarik lain yang tak kalah populer dari senyum manis Monalisa di Perancis, adalah ‘Pietà’, St Peters, Rome (1499–1500) yang merupakan karya dari Michelangelo Buonarroti sejak periode Renaisans (Renaissance). Peita ini ditempatkan pada sebuah ruangan kecil dengan pembatas kaca sehingga terlihat jelas dari luar, ukurannya pun kecil saja. Sehingga pengunjung akan melihatnya dari luar. Aku sempat harus bersabar sambil nyempil-nyempil diantara pengunjung lainnya. Untungnya pengunjung Vatican kondusif sehingga tidak ada adegan jambak-jambakan apalagi marah-marah, rata-rata tenang dan sabar menunggu antrian.

Come here, you should see Pieta, the Virgin and Christ, 
The Rome Pieta is an emotionally charged incarnation of a mother cradling
her lifeless son, katanya dengan semangat

Padahal seriusan kalau tidak dikasih tunjuk aku tidak tahu kalau Pieta ini sepopuler dengan Monalisa. Hal ini wajar karena Michelangelo dan Leonardo da Vinci masih dalam satu periode yang sama. Pantas saja banyak sekali pengunjung ke Basilica St. Peter di Vatican serta paling banyak antri di depan Pieta. Bahkan pengunjung rela berpanas-panas, antri demi masuk kedalam Vatican. Memang kebanyakan tujuan turis ke Vatican ialah beribadah. Sementara aku tujuannya ialah menambah daftar negara yang dikunjungi dalam bucket listku hehe 😀

Pietà

Rincian Pengeluaran di Vatican

08:00-09:00 Menuju Vatican Keliling Vatican

09:00-10:00 Antri sampai 3 jam demi masuk ke Vatican

10:00-12:00 Keliling Vatican dan melihat karya Michael Angelo

12:00-13:00 Makan Tonnarelli 11, 5 Euro

13:00- 14:00 Makan es krim dekat Vatican

14:00-18:00 Makan di Janta 20,25 Euro

18:00-20:00 Kembali ke penginapan

Biaya yang dikeluarkan di Vatican = 11, 5 Euro + 20,25 Euro = 31,75 Euro

Pemandangan dari luar Basilica of St. Peter in the Vatican

Selain melihat karya besar Michaelangelo, kegiatan di Vatican yang tidak boleh dilewatkan adalah mencoba es krim ala Italia yang super terkenal atau sering disebut “Gelato” tak jauh dari Vatican melalui pintu keluar tinggal lurus aja. Gelato di Vatican meruapakan gelato terenak yang pernah aku coba. Rekomended banget!

Menikmati Gelato dapat mengobati rasa capek setelah antian panjang masuk kedalam Basilica walau setelah itu amandelku pun kumat 🙂

Salam

Winny

Trip Lebaran ke Danau Siais Batang Toru, Sumatera Utara


You always have two choices

your commitment versus your fear

By Sammy Davis

Hello World!

Sumatera Utara, 30 Juni 2017

Sumetara Utara tempat kelahiranku memang memiliki sejuta wisata menarik mulai dari wisata alam hingga sejarah. Bahkan salah satu Danau terkenal di Indonesia itu ada di Sumatera Utara, Danau Toba. Namun jangan salah, Sumatera Utara tidak melulu Danau Toba loh, ada juga Danau yang tak kalah indahnya bernama Danau Siais di Batang Toru, Tapanuli Selatan.

Baca juga tempat wisata di MEDAN dan sekitarnya

Mengunjungi Danau Siais sebenarnya sudah lama terpendam terutama karena faktor lokasi yang tak jauh dari kampung halamanku, Padangsidimpuan. Serta tradisi mudik Lebaran tiap tahun membuatku ingin lebih mengenal potensi wisata disekitar kampungku. Namun barulah terlaksana Lebaran di tahun 2017. Untuk ide mengunjungi Danau Siais pun termasuk impulsif, karena pas acara nikahan Abang Herfina, kami berbincang-bincang ingin melihat Air Terjun di Siais karena kepo melihat Instagram tempat-tempat ngehits di sekitar Padangsidimpuan dan sekitarnya. Maklum jika sesama kaki panjang berkumpul maka yang dibicarakan adalah “jalan kemana”, apalagi Herfina, Ilham dan aku suka jalan-jalana. Berkat “Kepo” akhirnya aku, Ilham dan Herfina memutuskan mengunjungi Air Terjun yang ada di Siais, Batangtoru keesokan harinya sambil mencari teman yang lain. Nyakmat dan Illa (istri Nyakmat) tidak bisa ikut bersama kami, padahal kami sudah setengah lelah membujuknya untuk menemani kami ke Siais karena dia pernah kesana. Capek membujuk Nyakmat akhirnya kami nyerah lalu mengajak si Marwan untuk menemani kami ke Siais karena dia sudah pernah kesana. Janji pertemuan pun kami tetapkan jam 7 pagi, itulah saking semangatnya kami.

Pokokna kehe ita da manjalaki Aek terjun i, jam pitu da atcogot, 
kataku kepada Herfina dan Ilham
(Pokoknya kita pergi mencari Air Terjun, jam 7 besok)

Naron dikabarin buse olo, sambil janjian
(Nanti dikabarin lagi, sambil janjian)

Perjalanan Padangsidimpuan-Batangtoru

Lama perjalanan Padangsidimpuan-Batangtoru berkisar 2,5-3 jam perjalanan saja. Untuk cara akses ke Danau Siais ada dua cara bisa melalui Batang toru via Parsariran atau via Napa. Dua-duanya kami coba namun rute Napa tidak aku anjurkan karena lama perjalanan kami yang harusnya 2,5 jam malah menjadi 4 jam serta jalanan yang rusak parah.

Pas hari H akhirnya yang ikut trip ke Danau Siais adalah aku, Herfina, Ilham, Marwan dan Jay dengan 3 sepeda motor dari Padangsidimpuan. Rute pertama kami via Parsalakan dan janji jam 7 pagi molor menjadi jam 8 pagi. Sedikit jam karet serta miss komunikasi bagi kami. Sebenarnya pas aku sudah siap sedia jam 7 pagi namun karena tidak ada kabar dari temanku akhirnya aku bersantai ria hingga Herfina, Marwan, Jay tiba-tiba datang di rumahku.

Winny, ketabo natu Siais i, kata Herfina
(Winny, yuk ke Sias)

Wii, usakka najadi kataku sambil buru-buru siap-siap
(Wii, ku kia tak jadi)

Lalu akupun mengabari Ilham yang dari tadi sudah bersiap dan sedikit tergesa-gesa. Herfina sempat ngobrol dengan ibuku karena memang semalam sebelumnya aku sudah pamit ke ibuku ingin ke Danau Siais.

Maudokkon tu si Winny nakin marsiap-siap kehe, 
kata mamaku sambil bercerita dengan teman-temanku
(Sudah kubilang tadi ke Winny untuk bersiap-siap)

Naritik-rittik mattong amuda kan, kata mamaku 
menimpali melihat kenekatan kami jalan-jalan pas Lebaran
(Gila sekali kalian kan)

Agak nyelegit memang nasehat ibuku kepada kami. Namun kami dengan langkah seribu pamit karena Ilham sudah tiba serta menunggu kami di Gang rumahku, artinya perjalanan ke Danau Siaispun dimulai.

Danau Siais, Batangtoru

Belum sampai ke Siais, kami berhenti karena aku dan Herfina serta Ilham belum sarapan pagi. Tempat yang kami pilih untuk sarapan pagi adalah di PUNCAK PARSALAKAN dimana ada sebuah restauran dengan pemandangan Kota Padangsidimpuan dari atas. Pemandangan ini mengingatkanku pada perjalanan Medan-Gundaling. Di restauran ini kami memesan dengan kompak “Gado-gado” sementara Jay dan Marwan yang sudah makan pagi hanya memilih minum kopi saja. Penyediaan sarapan pagi memang agak lama namun sambil cerita-cerita masakan kami pun datang juga. Di tempat ini jugalah kami memesan makanan untuk bekal kami di Danau Siais, karena menurut pengalaman Marwan tidak ada warung makanan di Danau Siais. Sebelumnya, Ilham juga sudah pernah ke Danau Siais Batangtoru, artinya hanya aku dan Herfina yang benar-benar pertama kali ke Danau Siais.

Jam 9 pagi barulah kami melanjutkan perjalanan ke Danau Siais dengan sepeda motor alias touring.

Jalanan Padangsidimpuan ke Batangtoru lumayan bagus dan kami sempat melewati Parsariran, tempat pemandian yang sewaktu kecil jika ada libur sekolah maka kesini. Melewati Parsariran sedikit membuka kenangan masa kecilku. Beruntungnya aku memiliki teman yang kakinya panjang, sehingga ide gila apapun mereka bersedia menampung bahkan untuk ngetrip pas di Lebaran.

Jam 11 kami sudah sampai di jembatan Batangtoru, lalu kami membelok ke arah perkebunan karet karena kami sebelum ke Danau Siais ingin mengunjungi Ikan Keramat selokasi dengan Danau Siais. Walau Ilham sudah pernah ke Siais, namun dia belum pernah melihat ikan keramat makanya dia sangat penasaran dengan Ikan ajaib ini. Kalau kami sih senang sekali ke Batangtoru karena ngarep lihat air terjun malah kami mengunjungi beberapa wisata dalam sekali jalan.

Ibaratnya sekali mendayung tiga Pulau terlampau 🙂

Ikan Keramat

Ikan keramat di Desa Rianiate

Jam 11:30 kami sudah sampai di Desa Rianiate, Batangtoru, Tapanuli Selatan Sumetera Utara tempat lokasi ratusan ikan keramat. Walau sebelumnya kami sempat nyasar sedikit namun melewati perkampungan serta jalanan setapak, kami berhasil sampai di sebuah Sungai yang penuh dengan ikan. Letak ikan Keramat persis berada di belakang sebuah Masjid. Ikan keramat dalam Bahasa Batak yaitu “ikan mera” sejenis ikan jurung disebut keramat karena jika memakan ikan Jurung maka orang tersebut bisa terjadi sesuatu.

Konon ikan keramat di Desa Rianiate merupakan peliharaan seorang Syekh dari tahun 1939 dari Desa Tabayung, pesisir Barat. Beliau sengaja menaruh ikan keramat di sebuah Sungai kecil setelah mendapat mimpi untuk membersihkan Sungai yang kotor. Setelah beliau wafat, ikan tersebut masih ada hingga sekarang yang airnya bermuara ke Danau Siais. Meski ikan keramat jumlahnya banyak sekali di Sungai, penduduk tidak berani mengambilnya apalagi memakannya.

Kebteulan kedatangan kami pas siang hari di Ikan keramat, dari kejauhan saja kami dapat langsung melihat ratusan bahkan ribuan ikan yang berenang disepanjang Sungai.

Wii manyikur au maligina aha nagodang-godang, kata Herfina
(Aku merinding melihat ikannya yang besar sekali)

Ikan ahado lana on?, kata Herfina
(ikan apa sih ini?)

Ikan Mera gari dipangan nataboan on da tai inda tola dipangan jawab Ilham
(Ikan Mera enak kalau dimakan tapi tidak boleh dimakan)

Sebelum kami memulai mendekati ikan yang berada di Sungai melalui batuan kecil, kami berpapasan dengan pengunjung yang memberikan makan kepada ikan keramat. Marwan dan Herfina bahkan sudah membelikan makanan untuk ikan karena disamping Sungai terdapat penjual makanan untuk ikan. Tentu saja pas makanan dilempar, ikan langsung berebut. Aku sangat suka saat memberikan makan ikan-ikan keramat ini apalagi mulut ikan moyong pas dilempar makanan 🙂

Di depan ikan keramat

Setelah memberikan makan ikan keramat, Ilham dan Marwan segera mengajak kami melanjutkan perjalanan, karena hari ini juga aku harus balik ke Padang.

Wii nacepat ma ita le, kataku
(Wii, cepat kali kita)

Ho do ami pikirkon naron ketinggalan bus ko, kata Ilham sambil menceramahin
(Kau yang kami pikirkan nanti ketinggalan bus dirimu)

Sebelum meninggalkan tempat ikan kramat, kami sempat berbincang-bincang dengan warga sekitar. Menurut mereka banyak sekali orang berbondong-bondong memberikan makan kepada ikan sampai bernazar segala memberi makan. Kami sih tidak bernazar sama sekali karena kami cukup melihat ikan berenang bebas di Sungai liar saja sudah membuat kami puas. Kalau bernazar aku kepada Allah saja, minta diberikan jodoh sekeren Nabi Muhammad dan setampan Nabi Yusuf (ngarep hihi :D)

Danau Siais, Batang Toru

Selepas dari ikan keramat, aku mengingatkan teman-temanku untuk sholat Jumat terlebih dahulu namun mereka malah memilih mengqada sholat serta melanjutkan perjalanan ke Danau Siais. Mereka masih asik mengejar waktu!

Perjalanan ke Danau Siais, Batangtoru lumayan bagus hanya ada satu rintangan ketika kami melewati jalan terjal  disebuah Desa dengan perumahan sederhana nan elegan serta Siais dari jauh. Selebihnya jalanannya lumayan bagus kecuali ke air terjun yang agak-agak rusak.

Saat perjalanan dari Ikan Keramat ke Danau Siais cuaca begitu teriknya. Kami berlima seperti Babi panggang saking panasnya. Aku dan Herfina bahkan berubah jadi wanita bercadar saking takutnya gosong. Memang kami berlima kurang kerjaan seperti yang mamaku bilang. Sudahlan panas, masih juga suasa lebaran namun masih sempat-sempatnya menjelajah.

Ginjang pat dalam bahasa Bataknya 🙂

Namun keginjangan pat kami berbuah hasil (ginjang pat = panjang kaki) karena sesampai di Danau Siais mata kami dimanjakan dengan pemandangan kece.

Tidak sia-sia berpanas-panas ria demi ke Danau Siais di Batang toru!

Danau Siais

Untuk tiket masuk ke Danau Siais Rp2000 namun entah kenapa saat masuk kami diberikan tarif Rp5000 oleh petugas. Mungkin karena masih dalam edisi Lebaran!

Wii asi lima ribu Pak i, tai ditiket dua ribu do, 
kataku sedikit mengeluh kepada petugas
(kenapa harga tiket Rp5000, padahal di tiket Rp2000)

Si Regar do pak on, ulang heran da Pak kata Ilham kepada petugas
(Marga Siregar Pak, jangan heran ya Pak)

Mendengar keluhanku Marwan, Jay dan Herfina tertawa-tawa sambil melanjutkan touring kami mencari tempat duduk manja untuk istirahat dengan pemandangan Danau Siais di depannya.

Kami pun berhenti disebuah pondok, kami meihat warga sekitar memungut sampah dari Danau. Aku sempat bertanya untuk apa sampah itu, ternyata untuk dibakar oleh si Bapak. Kemudian aku mengajak makan bersama dengan si Bapak namun ditolak si Bapak. Di Pondok Danau lah kami memutuskan makan siang. Pemandangan Danau Siais begitu indah, tak kalah dengan Danau yang ada di Kosovo.

Boto amu dao ma au tu Kosovo an natarsarupo do uligi dohot Siais on, 
kataku kepada mereka
(tahu kalian jauh kali aku ke Kosovo, eh Danau nya sama juga kayak Siais)

Teman-temanku langsung ketawa mendengar ocehanku yang kelihatan sedikit lari hihi 🙂

Danau Siais

Makan siang sambil memandang Danau Siais sungguh kenikmatan tersendiri apalagi bersama teman. Sayangnya sampah begitu banyak di Danau Siais. Semoga kedepannya sampah yang ada di Danau Siais tidak ada lagi.

Meski kami dengan semangat membawa bekal makanan dari Padangsidimpuan, ternyata banyak warung disekitar Danau Siais sehingga tidak perlu khawatir untuk urusan perut.

Serasa piknik bersama teman-teman!

Untuk pemandangan Danau Siais tak kalah indah dengan Danau Toba, luasnya juga lumayan luas untuk ukuran Danau yang belum banyak orang mengetahuinya terutama di Sumatera Utara. Di sekitar Danau Siais masyarakat kebanyakan memancing ikan sementara anak kecil berenang bahagia di Danau Siasis. Sungguh masa kecil mereka yang bahagia!!

Jadi mungkin jika ada yang ingin menjelajah Tapanuli Selatan, maka bersiap-siap dengan alam yang indah. Berkemah juga patut menjadi daftar yang bisa dilakukan di Siais namun pastikan semua perlengkapan dan persiapan matang. Kalau kami berlima hanyalah pengunjung sekilas saja, sekilas lewat 😛

Danau Siais

Setelah kenyang, buru-buru kami melanjutkan perjalan ke Air terjun yang merupakan tujuan utamaku dan Herfina. Menurut Marwan butuh 1 jam perjalanan lagi dari Danau Siais ke air terjun. Kami sempat galau apakah ke air terjun atau tidak mengingat lamanya perjalanan apalagi matahari sedang pamer dengan panasnya. Ujung-ujungnya kami putuskan juga ke air terjun karena aji mumpung, kalau basah sekalian mandi, bergitu prinsip kami.

Sebelum ke air terjun kami sempat melakukan adegan bodoh di Danau Siais seperti adegan main dayung-dayung di Danau Siais, serta mencari tahu apa yang dilakukan para pemancing  dengan berjalan di atas kayu tipis persis di Danau. Barulah setelah itu kami melanjutkan perjalanan ke Air terjun di Batang Toru.

Jalanan Perbukitan

Batangtoru

Perjalanan Danau Siais ke air terjun Batang Toru memiliki pemandangan yang mampu membius kami. Perbukitan indah lengkap dengan pepohonan.

Si Ilham sampai takjub dengan bukit yang ada dan aku katakan kepadanya bahwa mirip seperti yang ada di China., terutama mirip seperti berada di Great Wall China.

Indonesia memang indah 🙂

Sepanjang perjalanan, kami banyak menemukan air terjun mengalir dari perbukitan yang mirip batu kapur itu. Untaian perbukitannya juga begitu luas, sampai-sampai aku terheran-heran dan penasaran apa yang ada di atas perbukitan itu. Mungkin suatu saat harus kembali dengan mencari tahu ada apa di atas bukit, mata air seperti apa yang dapat membuat air mengalir disepanjang perbukitan itu.

Air terjun

Air Terjun Batang Toru

Sesampai di air terjun yang kami impikan, waktu menunjukkan jam 2 siang. Aku, Jay, Ilham dan Herfina memilih turun mendekat air terjun yang berada di atas bukit dengan pepohonan rindang. Air terjuinnya ada 3, debitnya tidak terlalu besar namun airnya begitu jernih.

Keputusan kami bertempat menuju ke air terjun merupakan pilihan yang tepat karena kami dapat bermain dengan air terjun bahkan melihat pelangi di samping air terjun.

Naisan kan airna, untung ma tuson ita, kataku
(Bersih kali kan airnya untung kita kesini)

Au pokona akkon marsuop do giotku kata Ilham
(Aku pokoknya pengen cuci muka di air terjun)

Jay buatma jolo potoku di jolo aek terjun on da kata Herfina
(Jay ambillah photoku di depan air terjun)

Yah bermain dengan air namun ujung-ujungnya kami berempat malan asik bernarsis ria di depan air terjun. Sementara si Marwan memilih untuk menjaga barang-barang kami.

Momeh kebersamaan bersama teman masa SMP dan SMA memang sangat membahagiakan 🙂

Air Terjun Siais
Air Terjun di Batangtoru

Puas bermain dengan alam serta basah-basah karena main air, kami berempat mendekati Marwan sambil ngopi cantik disebuah warung.  Tak sadar, ternyata jam menunjukkan jam 4 sore dan kami memulai perjalanan pulang melalui rute yang berbeda dari rute pertama. Tentu saja rute yang kami pilih pas pulang merupakan pilihan buruk mengingat motor yang kami pakai adalah motor untuk Kota tapi kami pakai untuk touring dengan jalanan membuat geram. Pelajaran berharga kami jangan sekali-kali membawa motor matic ke area terjal dengan jalanan rusak karena dipastikan dapat membuatmu tepos.

Meski pas pulang kami salah rute, namun yang pasti perjalanan trip Lebaran bersama teman-teman gokilku ini sangat menyenangkan dan penuh dengan petualangan yang seru 🙂

Ah untung pulang kampung!

Salam

Winny