Tips Liburan ke Iran


Character cannot be developed in ease and quiet. Only through experience of trial and suffering can the soul be strengthened, ambition inspired, and success achieved
By Helen Keller

 

isfahan-square-iran

Hello World!
Iran, September 2016

Beberapa waktu lalu saya melakukan perjalanan ke Iran dan mungkin ada beberapa pertanyaan yang aku dapatkan dari teman-teman pembaca, salah satunya teman dari Istagram. Mungkin pertanyaannya akan melengkapi persiapan ke Iran dan sekaligus Tips Liburan ke Iran. Siapa tahu ada teman yang memiliki pertanyaan yang sama!

1. Sehubungan dengan ketibaan yang sudah larut malam di Tehran (Air Asia pkl 23.00) apakah bisa dan diperbolehkan menginap di bandara Imam Khomeini?

Diperbolehkan menginap di Bandara letaknya diluar Imigrasi lantai 1 maupun lantai 2 ada bangku namun tidak begitu disarankan karena bangkunya tidak terlalu ramah untuk tidur, selain itu banyak petugas yang hilir mudik di dalam Bandara.

2. Kalau kita sudah mendapatkan visa turis Iran di Kedutaan Iran di Jkt, apakah kita tidak harus/wajib membeli travel insurance pada saat tiba di Imam Khomeini airport seperti halnya kalau kita menggunakan fasilitas VoA?

Waktu perjalananku ke Iran, aku tidak perlu menunjukkan travel insurance karena petugas Imigasi langsung mencap passporku kemudian dengan anteng aku keluar dari Imigrasi. Lihat ada visa terus dicap deh! Berbeda dengan VOA Iran, aku harus membayar travel insurance dan harga 45 euro sudah termasuk travel insurance dan berlaku selama 30 hari.

3. Pada saat pengurusan visa di Kedutaan Iran di Jakarta kita harus mengisi form berisikan identitas/data pribadi kita. Apakah form tersebut didapatkan dengan cara di-download di website keduataan Iran atau harus mengambil langsung di kedutaan?

Saya mendapat form dengan menelepon kedutaan Iran di Jakarta kemudian pihak petugas mengirim formulirnya ke temanku lalu kami print terus kami isi formulir kemudian dibawa ke Kedutaan Iran di Jakarta. Baca juga mengenai perngurusan VISA IRAN serta VOA Iran

4. Pembayaran biaya visa sebesar EUR 20 dilakukan setelah penyerahan berkas2 aplikasi permohonan visa dengan cara transfer atau setelah mendapat kabar visa disetujui?

Setelah melakukan penyerahan berkas aplikasi, caranya pihak petugas akan memberikan nomor rekening kemudian dibayar visa rekening yang sudah ada jika berkas aplikasi kita sudah lengkap kemudian balik ke Imigrasi untuk menyerahkan bukti pembayaran visa. Menurutku ini kurang efektif karena kita harus bolak-balik ke Imigrasi, untungnya tempat pembayarannya dekat di Menteng dan Kedubes Iran lokasinya juga di Menteng jadi dekat. Hanya saja perhatikan kelengkapan berkas dalam pengurusan Visa Iran.

5. Apakah itinerary dan surat keterangan bekerja diminta oleh pihak kedutaan?

Untuk surat keterangan bekerja diminta karena pihak kedutaan Iran memastikan kita akan kembali lagi ke Indonesia sementara  itinerary tidak diminta malahan yang diminta adalah bukti booking hotel di Iran. Waktu itu kami menunjukkan email booking hostel kami dan pas diwawancara akan ditanya kemana saja di Iran dan ngapain saja. Bilang aja jalan-jalan, wawancaranya gak seram kok!

esfahan
Si-o-seh pol Bridge

6. Sistem colokan listrik di Iran sama atau berbeda dgn di Indonesia? apakah butuh membawa universal adapter?

Sama persis dengan colokan listrik di Indonesia jadi tidak perlu membawa  universal adapter tapi bagi yang mau membawa boleh juga. Dan paling penting adalah power bank.

7. Penukaran uang dalam bentuk Iran Rial (IRR) apakah bisa dilakukan di dalam kota atau kita harus tukar habis semua USD/EUR kita ke Iran Rial di money changer di bandara IKA. Apakah mudah mendapatkan money changer di dalam kota?

Bisa di Kota namun kan kalau mau ke kota harus bayar pake uang Iran. Jadi jika ingin menukar bisa ditukar di Kota namun pastikan ada uang taksi ke Kota dalam mata uang Rial karena ke Kota itu dari Bandara berkisar 20-30 Dollar atau dalam Rial Iran sekitar 600.000-750.000 Rial tergantung jarak. Jadi kalau ada 2 orang dalam taxi maka dibagi 2, makin banyak makin murah. Maksimal 4 penumpang dalam satu taxi, ingat hanya ada taxi ke Bandara menuju ke kota Iran. Untuk dimana lokasi money charger coba cari di Grand Bazaar Tehran atau tempat wisata. Kalau aku sih nukar di Bandara karena tidak mau repot dan waktu itu harga $1=35.000 Rial, jadi not to badlah! Dan yang paling penting di Iran itu tidak menerima ATM dari bank lain jadi pastikan bawa uang cukup selama perjalanan di Iran.

8. Untuk transaksi sehari-hari seperti bayar hotel, bayar taksi, tiket masuk ke objek wisata dll apakah dilakukan dalam USD/EUR atau bisa memilih dalam mata uang lokal?

Transaksi sehari-hari menggunakan mata uang lokal, hanya waktu di Hostel kami menggunakan Euro karena pihak hostel yang minta, selebihnya pakai mata uang Rial Iran.

9. Untuk transportasi di dalam kota Tehran kalau kita menggunakan Metro apakah tiketnya menggunakan kartu khusus berlangganan (seperti halnya di Istanbul atau Singapore) atau dibeli secara eceran untuk setiap kali perjalanan?

Aku membeli kartu single jadi semacam sekali pakai. Mirip seperti karcis busway dulu sebelum e-money hanya saja bentuknya mirip kertas dan ditab di mesin dan bisa dipakai untuk dua kali perjalanan.

10. Tiket bus antar kota apakah bisa dibeli secara go-show atau harus dipesan beberapa hari sebelumnya?

Bisa dipesan melalui online namun bahasa pakai Persia, tapi kalau kereta bisa pakai Bahasa Inggris dengan alamat website http://www.iranrail.net dan pesan maksimal sebulan sebelum keberangkatan. Untuk bus bisa go show!!

old-town-yazd-iran

11. Apakah perlu rekening koran saat pengajuan Visa Iran? 

Waktu pengajuanku sih tidak ditanya yang penting adalah adanya tiket pesawat pulang pergi, bookingan hotel tinggal disana dan surat keterangan kerja. Mereka kan memastikan bahwa kita akan kembali ke Indonesia.

Jika masih ingin bertanya tentang seputar Visa Iran silahkan hubungi:

Alamat Kedutaan Iran di Jakarta

110 JL.HOS- COKROAMINOTO

MENTENG JAKARTA PUSAT 10310

Email:  iranemb.jkt@mfa.gov.ir

Telp: 31931391-31931378-31934637

Demikian penjelasan mengenai trip ke Iran, jika ada pertanyaan dengan senang hati menjawab!! Semoga bermanfaat 🙂

Jika jalan-jalan ke Iran, tolong sampaikan salamku kepada Prince of Persia!! سلام

موفق باشی!

Salam
Winny

Iklan

Sore di Chitgar Lake, Tehran


When a thing is done, it’s done. Don’t look back. Look forward to your next objective.
By George C. Marshall

 

chitgar-lake-tehran

Hello World
Tehran, 4 Oktober 2016

Jam 10 pagi sampai di Tehran Imam Khomeini International Airport sendirian. Aku tertahan cukup lama karena aku hendak keluar dari Bandara. Bahkan petugas mengulur ulur waktu mencegahku keluar dari Bandara karena penerbanganku jam 1 malam. Lumayan menyebalkan jika harus menunggu di Bandara selama 12 jam dengan Bandara sekecil itu. Sialnya tidak boleh kemana-mana bahkan hanya di ruangan sepetak saja. Beberapa kali aku menjelaskan aku ingin keluar dan tidak masalah walau harus membayar VOA Iran namun salah satu petugas menahanku.
Say goodbye doktrin salah satu pejalan orang Indonesia yang di Iran selama 1 bulan mengatakan kalau Orang Indonesia bisa bebas VISA di iran kalau 7 hari, itu salah total karena kasusku sehari saja aku harus mengemis-ngemis untuk bisa keluar dari Bandara walau aku membayarnya.

tehran
Bahkan yang kasihan sepasang suami istri dan anaknya tidak diperbolehkan keluar walau ke tempat makan dan mereka tidak membawa uang yang cukup. Sang ayah sempat curhat padaku ketika menunggu di ruang tunggu denganku. Paling tidak aku cukup beruntung karena aku masih punya uang sementara mereka harus terbang lagi dan istrinya harus membayar Visa Transit. Kalau aku tidak keluar dari Bandara, harusnya aku tidak perlu membayar visa transit walau itu dari Turki. Tapi karena sudah janji dengan Babang Ganteng akhirnya bayar Visa!
Saat aku mondar mandir dengan muka melas agar diperbolehkan membayar Visa ada dua orang turis Francis yang sepertinya iba dengan nasibku. Wajar sendirian, cewek pula dan tak jelas pula!!
Akhirnya setelah pertimbangan dan mungkin si petugas imigrasi bosan denganku apalagi sudah bolak balik sampai nanya ke polisinya akhirnya aku diperbolehkan keluar dari Bandara dengan biaya visa VOA 45 Euro berlaku selama 1 bulan dan itu sudah termasuk asuransi dan hanya aku pakai 1 hari saja, nggak deng cuma 12 menit saja. Orang kayahhhhhh!!

iran-airport
Dalam hati menangis menahan mahalnya VOA Iran!!
Di proses Imigrasi lah aku dan dua turis asal Prancis ngobrol dan berencana hendak sharing taxi untuk hemat biaya ke Kota!
Bersama dua orang inilah aku ke Tehran dan salah satu turisnya hanya bawa uang 200 dollar saja dan bakalan di Iran selama 10 hari.

Orang nekat!!

tehran-iran
Terus dia berencana hitchikie dari Bandara, iya kali numpang numpang ke Kota! Pada akhirnya dia ngikut kami dengan bagi tiga walau pas bayarnya aku rugii karena dia tidak bagi tiga! Aku bayarnya ke Kota Tehran 350,000 Rial harusnya sih 250,000 Rial. Yowes!
Hikss 😦
Sesampai di Hostel mereka jam menunjukkan jam 3 sore, dan jam 4 barulah aku bertemu dengan Erp di Ekbatan. Terus dari hostel mereka aku jalan kaki ke Metro terdekat dengan bantuan Peta offline. Sesampai di Metro, ternyata ramai sekali di dalam metro, terus yang aku bayangkan kereta Jabodetabek pagi hari pas kerja, sumpek, padat dan penuh!!
Mak aku jadi warga lokal!!
Sesampai di Ekbatan dengan bantuan warga Iran akhirnya aku bertemu Erp dengan gaya bersihnya.
Cowok klimis yang pernah aku kenal!
Erp, my visa so expensive” aduku kepadanya
Kemudian dia hanya mengatakan “that’s so bad”.
Dalam hati ini karena janji aja kalau bukan janji sayang atuh mas 45 Euroku!!

tehran-iran
Kemudian Erp menanyakan kemana hendak pergi. Dia memang tiper yang akan menanyakan tujuan wisata dan entah kenapa aku mengatakan Chitgar Lake. Mungkin karena ada di lsit wisata Tehran atau karena teringat referensi wisata dari Mohammed mengenai Danau buatan dekat rumahnya. Untungnya Chitgar Lake itu dekat dengan rumah Erp sehingga dia hapal betul cara kesana.
Satu list wisata lagi yang aku datangi berkat Erp yang kalau bukan dia mungkin susah kesana, kalaupun bisa harus pakai taxi, dan mahal!!
Sampai di Chitgar Lake, suasanya sangat tenang, rapid an Danaunya eksotik karena ada pemandangan Pegunungan berwarna cokelat. Melihat bebek berenang dengan latar belakang apartemen sehingga worth it sih untuk 45 euro! Apalah nilai uang jika dibandingkan dengan nilai perjalanan itu!!
Yang lucu saat di Chitgar Lake kita dianggap sebagai pasangan. Terus di Chitgar malah tempat orang pacaran. Terus pasang-pasangan saling genggam tangan!
Chitgar Lake, tempat romantic Tehran!!

chitgar-lake
Dari Chitgar Lake, kemudian Erp membawaku ke Bukit untuk melihat pemandangan Tehran dari atas. Sepertinya dia sangat obsesi dengan tempat tinggi dan pemandangan dari atasnya. Aku juga sulit membedakan antara Gunung atau Bukit yang kami datangi namun tempatnya cakep.
Tidak begitu ramai orang berada di tempat kami kalaupun ada lagi-lagi pasangan.
Duh bikin iri! Wkwkkwkw 😀
Terus jalannya sama cowok ganteng pula, single pula apa gak makin baper!
Mak, aku kapok single not avaible!!
Untungnya pemandangannya cukup menarik sehingga aku benar-benar merasakan fresh di perjalanan sekaligus sedih karena hari terakhir di Iran, negara yang membuatku jatuh cinta dengan keramah tamahan orangnya!
Setelah melihat pemandangan Iran dari ketinggian, yah paling tidak tempat ketiga melihat Kota Iran setelah Tabiat Bridge dan Gelata Tower lalu kami berjalan mencari makan.

persia-iran
What Iranian food do you like? Tanya Erp
Kemudian aku mengatakan “none
Iya none, karena tidak satupun makanan Iran yang cocok dilidahku kalaupun ada Kebabnya saja dan masakan rumahan orang Iran
I will bring you to take food and change your mind” kata Erp
Kemudian diapun mengantarku ke resturan Kebab dan akhirnya makan “Joojeh Kabab”.

jojobah-kebabTerus pas makan, aku makannya lahap. Dia tersenyum saat aku makan dengan lahap, ini antara doyan lapar atau kalap. Yang pasti karena hratisaan alias gratis karena si Erp yang traktir. Saat makan dia memesan minuman bersoda dan dia sangat heran ketika aku meminta teh sebagai teman makan karena ritual minum teh jarang dilakukan. Iya orang Iran kalau minum hanya minuman bersoda kalau tidak doogh dan dua-duanya aku tidak doyan. Untungnya karyawan restaurant baik hati dan memberikanku teh.
Setelah kenyang Erp pun memesan taxi ke Bandara dan harganya jauh lebih murah, semacam Grab Car, Go Car atau Uber namun pakai Persia!!
Akhirnya waktu untuk mengatakan “kena:r _ e _ ru:d khu:neh kheili behem khosh gozæsht“!!

Lokasi Chitgar Lake
North of Chitgar Park
Northwestern Tehran, Iran

view-tehran

Rincian Biaya Hari Terakhir di Tehran
10:00 Sampai di Tehran Imam Khomeini International Airport, Iran
10:00-12:00 mengurus VOA Iran dan ribet bayar visa 45 Euro dan berkenalan dengan turis asal Francis
14:00-15:00 ke Kota Tehran 350,000 Rial
15:00-15:30 Naik Metro ke Ekbatan Station 10,000 Rial
15:30-19:30 Ke Chitgar Lake bersama Erph dan ditraktir makan “Joojeh Kabab”
19:30-20:30 Ekbatan ke Bandara Tehran Imam Khomeini International Airport dengan taxi 410.000 Iran Rial
20:30-00:00 Menunggu Imigrasi
00:00 Tehran Imam Khomeini International Airport ke Kuala Lumpur, selamat tinggal Tehran
Salam
Winny

Melihat Kota Tehran dari Galata Tower


If you’re always looking back at what you’ve lost, you’ll never discover the treasure that lies just up ahead.
By J.E.B. Spredemann

 

gelata-tower-tehran

Hello World
Tehran, Oktober 2016
Berdua aku dan Mbak Ninik berjalan pulang ke Metro Tajrish tapi tidak dengan jalan kaki karena kami sudah cukup capek seharian berjalan kaki. Kami memilih naik bus dan ternyata dari Cinema Museum of Iran ke Bazaar Tajrish lumayan cukup melelahkan. Tujuan kami jam 5 bertemu dengan Erp karena dia berjanji akan mengantar kami ke Tehran Imam Khomeini International Airport.
Sebelumnya kami melewati Babang jualan buah semalam dan dia tersenyum kepadaku “ternyata jelas dia masih mengingat muka kami”. Ternyata muka asing kami cukup mudah untuk diingat.
Aku dan Mbak Ninik pun masuk ke dalam metro menuju ke Iman Khomeini METRO station dan jam 5:30 sorenya si Erp sudah datang dengan mobilnya.
Sebelum kedatangan Erp, aku dan Mbak Ninik membayar hostel 16 dollar perorang karena kami dianggap menginap 2 hari walau pada dasarnya tidak sampai 2 hari namun yaudahlah lumayan membuat kami istirahat dan lebih menjelajah Tehran lagi.
Dari jauh Pria tampan Persia sudah siap sedia menunggu kami. Kamipun masuk kedalam mobilnya setelah pamitan dengan pemilik hostel.

gelata-tower
“What time your flight tonight?, katanya kepada kami
“Around 11 pm”, kataku
You still have a lot time, where do you want to go?” Katanya lagi
Terus aku berkata “up to you
Kemudian Erph pun membawa mobilnya menuju ke Gelata Tower, tempat yang aku ingin kunjungi di salah satu list itenaray perjalanan Iranku.
Memang seharian Erp tidak bisa menemani kami karena dia ujian namun dia berjanji akan menemani kami setalah ujian.

persia
“We broke” kataku ketika kami membeli tiket ke ISTANBUL untuk sekali perjalanan 200 dollar ditambah uang tips 500,000 Rial
Don’t worry, that’s why Erp here”, begitu katanya sambil tersenyum manis.
Dan janjinya ditepati, dia datang dan mengantarkan kami ke tempat yang mungkin tidak bisa kami datangi kalau bukan dia.
Jadi si Erp ini semacam teman yang baik hati, paling tidak sudah dua tempat di listku bisa didatangi karena dia yang pertama Tabiat bridge kemudian kedua Gelata Tower.
Sesampai di Gelata Tower, Erp sekitar jam 7 malam, kami masuk kedalam dan melihat pemandangan Tehran di malam hari di area ini. Gelata Tower itu rupanya didalam Mall dan antrainnya ramai sekali.

tehran-view
Akhirnya kami hanya menyaksikan pemandangan Kota Tehran warna warni. Pemandangan Kota yang membuat fresh, paling tidak kesan terakhir yang menyenangkan bagi Mbak Ninik karena hari terakhirnya di Iran sementara aku akan kembali lagi ke Tehran.
Udara sangat dingin waktu itu dan Gelata Tower malah mengingatkanku kepada Monas maupun Petronas Twin Tower karena memang Tower begini banyak dijumpai juga. Bedanya Gelata tower bentuknya unik, bulat melengkung dan sekitarnya tertata rapi.
Akhirnya karena tidak tahan dingin kami masuk ke dalam Mall tempat Gelata Tower.
It was so long I have not visited this place, last time when i was kids”, begitu kata Erph.
Di dalam Mall terdapat sebuah permainan air dimana air akan berubah bentuk setiap 10 menit sekali dan bentuknya unik.
that’s amazing, isn’t it? Begitu kata Erp kepadaku
Iya sih cakep dan membuat betah berlama-lama! Aku merasa di MIDDLE EAST (helo emang lagi di Middle East) seakan di Dubai padahal belum pernah ke Dubai juga!
Erp bahkan paling antusias menjelaskan kepada kami tentang Mall hingga akhirnya kami keluar Mall dan melihat ada pameran Korea Iran di Mall tersebut.

tehran-iran

Aku dan Mbak Ninik sempat melihat sebentar dan Erp sendiri ke toilet sebentar hingga kami duduk manis di depan mall.
Aku, Mbak Ninik dan Ero akhirnya minum jus didepan Mall karena saat di hendak menawari makan kami malah bilang kami tidak lapar.
Aku memesan jus pisang karena saran Mbak Ninik dan dia telah minum juga saat di Tajrish.

mall-tehran
Do you know Erp, Winny does not believe that banana juice is delicious”, kata Mbak Ninik.
Wajar karena saat di Tajrish aku sok-sok an gak mau jus pisangnya eh pas dicobain Mbak Ninik ternyata enak. Agak malu sih tapi enak gimanalah!

trip-to-iran

Akhirnya pas Erp menanyakan mau jus apa aku mesan jus pisang!
Jadilah kami bertiga cerita-cerita sambil minum jus.
Jam 8 malam akhirnya kamipun meninggalkan Gelata Tower dan menuju ke Tehran Imam Khomeini International Airport. Si Erp memang orang yang sangat tepat waktu jadi dia selalu memperkirakan jarak dan waktu tempuh. Dari Gelata Tower paling tidak butuh waktu 1 jam.
iranian
Sampai jam 9 malam, akhirnya si Erp pun pamitan karena mobilnya tidak bisa lama-lama parker di bandara. Kalau lama mobilnya akan digerek dan betul saja baru saja dia hendak pamitan dan kami mengucapkan terimakasih eh tiba-tiba mobil lain digerek petugas kemudian membuat si Erp menuju ke mobilnya dan pergi…

Salam
Winny

Musem Film Pertama, Cinema Museum of Iran


If you are not willing to risk the unusual, you will have to settle for the ordinary

By  Jim Rohn

cinema-museum

Hello World
Tehran, 30 September
Hari terakhir di Tehran, aku dan Mbak Ninik siap-siap hendak ke Sa’dabad Palace dari Tajrish. Teman CSku bernama Mohammad sudah menjemput kami di hostel karena dia akan menemani kami ke Tajrish. Untungnya cukup dengan jalan kaki ke Imam Khomeini Metro dari hostel, hanya 10 menit saja.

Hi, Winny nice to meet you,” begitu kata Mohammad, cowok cakep yang akan menemani kami menjelah area Tajrish, tempat yang sudah kami kunjungi sebelumnya.

Rute perjalanan kami Imam Khomeini-Tajrish dengan metro sudah  hapal karena sudah kami datangi sehari sebelumnya.

Sesampai di Tajrish, ternyata keadaanya sama “pengunjungnya banyak” dan tidak mengenal siang dan malam.

bazaar-tajrish
Tajrish

Sesampai di Tajrish, kami menyempatkan diri sholat di Holy Shrine karena kebetulan waktu sholat zuhur telah tiba. Holy Shrine Tajrish sangat bagus, apalagi marmernya kemudian dengan latar belakang pegunungan kemudian di tengah pasar, antik! Untuk masuk ke area Shrine wanita wajib tertutup loh walaupun sudah pakai jilbab, harus pakai penutup kain. Terus yang paling tidak menyenangkan di Iran ketika sholat itu wudhunya jauh (jauuuuuh). Aku dan Mbak Ninik harus berjalan kebelakang melewati rumah makan hingga akhirnya menemukan tempat wudhu. Aku bersyukur di Indonesia itu tempat wudhu dekat dengan tempat sholat, kalau di Iran tempat wudhunya jauh!
Terus pas sholat, aku malah focus kepada atap masjid yang Indah, dari marmer putih berkilau. Di dalam masjid, yang sholat lumayan banyak dan kami lagi-lagi menjadi perhatian karena mukenahnya beda sendiri. Setelah selesai sholat aku begitu heran karena begitu banyak orang masuk keluar dari sebuah ruangan yang ternyata merupakan makam Imam. Karena aku dan Mbak Ninik tidak begitu tertarik untuk ziarah ke makam Imam dan perut sudah tidak bisa kompromi.

tehran-persia
Shrine Masjid Tehran

Akhirnya kami kembali ke tempat yang sebelumnya Mohammad bilang kepada kami “we meet from this point”.

Rupanya Mohammed sudah menunggu kami.

“Mohammad, we want to take lunch but we want to eat rice, after that we can continue to explore the area or going to Sa’daabad”, begitu kata kami kepada pria tampan Iran yang menemani kami.

ok let’s eat and find rice for you”, katanya.

Akhirnya kami mutar lagi ke Pasar Tajrish karena lokasi Holy Shrine ini paling ujung pasar dan kami berjalan kaki mundur ke tempat semula hingga Mohammed menemukan sebuah restauran yang menyediakan nasi.
Restauran yang kami datangi berada di pasar Tajrish dan kami duduk kemudian khasnya makan di reatsuran Iran adalah pada karpetnya. Jadi kami bertiga duduk kemudian memesan nasi dan ayam. Makanan kami agak lama datangnya hingga akhirnya pesanan kami datang sekitar 1 jam kemudian. Lalu kami pun makan dengan senang hati. Saat pembayaran ternyata harga makan siang kami cukup murah yaitu 440,000 Rial/3 orang.

backpacking-to-iran

“I think we do not have time to Sa’dabad Palace, but I know good place to visit”, begitu kata Mohamamed.

Karena memang kami jam 5 sudah harus balik lagi ke hostel dan selesai makan jam 2 siang sementara dari Tajrish ke hostel membutuhkan waktu 1 jam an. Akhirnya kami manggut-manggut saja mengikuti Mohammed.

Kami bertiga pun berjalan mendaki keatas dengan pepohonan rimbun hingga kami tiba disebuah tempat yang mirip istana.

Awalnya Mohammed mencoba agar kami mendapatkan tiket masuk seharga turis lokal, tapi apa daya muka kami yang tidak ada lokal-lokalnya karena hidung pesek akhirnya ketahuan kami turis dan membayar tiket masuk ke Iran Cinema Museum (Cinema Museum of Iran) dengan biaya 200,000 Rial.

Dari luar seperti istana, dengan kolam cantik dan beberapa patung di depannya. Kami berjalan ke lantai 2 melewati anak tangga, kalau tidak ada tulisan “Cinema Museum” di depan pintu, aku tidak akan menyangka itu adalah museum film. Iya museum terunik yang pernah aku kunjungi dan tentunya antimainstream.

cinema-museum-tehran
cinema museum Iran

Iran sangat mencintai filmnya, sehingga di bioskop Iran hanya diputar film-film Iran dan mengenakan pajak yang besar sekali untuk film asing sehingga jarang ada film asing ditayangkan di bioskop Iran.

Artinya orang Iran mencintai filmnya sendiri bahkan dibuat Museum terntang dunia film di Iran lengkap dengan actor, artis dan sutradaranya. Di sinilah aku melihat sejarah tentang perfilman Iran. Bahkan beberapa penghargaan dan koleksi alat-alat film itu sendiri. Sayangnya tidak diperbolehkan dalam mengambil photo museum dengan kamera, namun dari Handphone boleh!

Cinema Museum of Iran dulunya adalah komplek Bagh-e Ferdows kemudian di tahun 2002 diubah menjadi museum film.

cinema-museum-of-tehran
Cinema Museum

Bagi yang mas kecilnya era 90an pasti masih ingat film “Children from Heaven”, jadi film ini sangat bagus menceritakan tentang kakak adik yatim piatu yang bertukar sepatu ketika sekolah kemudian si kakak ikut lomba demi memenangkan sepatu buat adiknya.
Saat itu aku mengatakan kepada Mohammaed “I just know one movie from Iran it’s about kids, shoes and heaven”, kemudian dia menunjukkan Galleri tentang film itu.

Its my fovourite film too, good taste”, begitu katanya 🙂
Walau aku tidak begitu banyak mengetahui tentang film Iran namun mengunjungi Museum dan mengenal sejarahnya seru juga. Ruangannya tertata rapi, terdapat ruangan khusus photo artis dan actor Iran di ruangan yang pencahayannya gelap bahkan ada ruangan khusus film yang sudah diproduksi Iran dari zaman dulu.

Masuk kedalam ruangan gelap dengan photo artis, aktor Iran serasa berada di dunia perfilman “seru”!!

Yah Museum Iran masuk kedalam museum Film pertamaku, entah ada atau tidak museum sejenis begini di belahan dunia lain.

Yang pasti AKU SALUT DENGAN KECINTAAN ORANG IRAN DENGAN PRODUK FILM SENDIRI!! (pake caps lock saking kagumnya)!

cinema-museum-of-iran-tehran
Cinema Museum
Harga tiket masuk Cinema Museum of Iran
200,000 Rial
Jam buka Cinema Museum of Iran
Sabtu-Kamis jam 9am-5pm
Jumat jam 2-5pm
Lokasi Cinema Museum of Iran
Bagh-e Ferdows, off Valiasr Ave

Tehran, Iran

tajrish-tehran
Tajrish

Rincian Perjalanan Tehran
10:00-11:00 Bangun dan siap-siap
11:00-12:00 ke Tajrish bersama Mohammad, CS Tehran. Tiket kereta dari Imam Khomeini Metro ke Tajrish 20.000 Iran Rial
12:30-13:00 Sholat di Shrine Masjid di Tajrish
13:00-14:00 Makan siang 440,000 Rial/3 orang
14:00:15:00 Ke Iran Cinema Museum (Cinema Museum of Iran) dengan biaya masuk Museum Cinema Iran 200,000 Rial
15:00-17:00 Balik ke hostel dari Tajrish dan membayar uang hostel $32/2 orang
17:00-20:00 Dijemput Erp dan dibawa ke Gelata Tower, Tol 5000 Rial, ditraktir Erp minum jus
20:00-21:00 Diantar Erp ke Tehran Imam Khomeini International Airport dengan mobilnya
21:00-23:00 Menunggu penerbangan ke Istanbul
23:00 Terbang ke Istanbul
Pengeluaran hari kelima Backpacker Iran di Tehran 665,000 Rials + $16

Salam
Winny

Gagal ke Istanbul ke Taman Tehranpun Jadi


In order to succeed, your desire for success should be greater than your fear of failure
By Bill Cosby

tehran-persia

Hello World
Tehran, Oktober 2016
Setelah luntang lantung di Bandara Imam Khoimeini Tehran karena penerbangan ditolak karena tidak memiliki Visa Transit Yunani. Baca tentang pengalaman Gagal ke Turkey karena Visa

6 jam di Tehran Imam Khomeini International Airport dengan muka stress akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke Tehran dan mencari penginapan. Penginapan yang kami pilih adalah Masshad Hostel dan dengan taxi kuning di Bandara sampai si Mbak hapal kami terus dengan biaya 750,000 Rial berdua. Jam menunjukkan jam 5 pagi dan ternyata kami salah hotel, akhirnya pesan hotel lagi dengan biaya 150,000 Rial/ 2 orang. Rugi sih 900,000 Rial berdua. Ah ternyata lokasi hostel kami dekat dengan Imam Khomeini Metro Station.

tehran
Kemudian kami beristirahat di hostel berukuran sepetak. Untungnya ada wifi kemudian aku pun mengirim pesan kepada Erp “our flight to Istanbul rejected so we are in Tehran again,” begitu isi pesanku. Sayangnya karena si Erph sedang ujian akhirnya aku dan Mbak Ninik berdua di Tehran tanpa teman.
Jam 5 pagi cukup dini untuk memikirkan kemana dan akan apa di Tehran yang pasti rasa stress kalah dengan rasa ngantuk kami.
Kemudian kamipun tepar!!
Jam 10 pagi, terlihat Mbak Ninik sudah bersiap rapi dan mandi sementara aku masih dengan muka bantal.
Setelah siap-siap jam 10 pagi, aku dan Mbak Ninik berjalan kaki. Tujuan kami mencari tiket ke Istanbul, dengan cara menanyakan warga lokal. Hingga kami sampai di sebuah agent travel yang menjual tiket direct langsung ke Istanbul. Harga tiket ke Istanbul dari Tehran lumayan membuat ngences $200 Dollar dan si Mbak cantik yang melayani kami sangat lambat (lambattttt) cara kerjanya. Hampir 2 jam kami habiskan waktu hanya untuk membeli tiket di tanggal 1 Oktober, di dua hari berikutnya. Kemudian kami juga harus membayar 500,000 Rial untuk tips kepada si Mbak, asli tiket pesawat ke Turki menjadi rekor tiket termahal yang pernah aku alami. Namun karena sudah ngebet pengen ke Turki dan Visa juga sudah ada, yasudahlah akhirnya dibeli juga.

museum-national-iran
Museum National Iran

Barulah dari agen pembelian tiket dengan pesawat lokal, akhirnya aku dan Mbak Ninik mencari makan karena sudah jam 12 siang. Kami mencari makan di dekat agen hingga pilihan kami jatuh kepada restaurant di tepi jalan yang menyediakan nasi seharga 100,000 Rial untuk nasi dan ayam. Kami puas untuk makan siang, setelah adegan stress gagal terbang akhirnya masalah kami dapat diatasi walau say Good Bye dengan 200 dollarku hiks!
Setelah itu aku dan Mbak Ninik berjalan ke arah stasiun metro Imam Khomeini, tujuan kami ke tempat Erph yang pernah bawa sayangnya tempatnya tertutup. Mungkin karena kamis, dimana hari kamis dan Jumat orang Iran libur bekerja.
Akhirnya kami berdua berjalan di sebuah taman. Duduklah kami berdua di taman menikmati suasana Tehran. Rupanya taman itu di depan National Museum of Iran, namun kami malah tidak berniat untuk masuk. Kami lebih memilih duduk manis di taman sambil melihat warga lokal yang juga di taman dan memperhatikan turis yang lalu lalang dari National Museum of Iran.
Ternyata beban gagal terbang kami sirna di Taman Tehran. Sesekali kucing Persia menghampiri kami. Meski kucing liar namum kucingnya lucu, habis kucing Persia memang montok dan menggemaskan!
“Mbak, kita jauh banget ya ke Iran hanya demi duduk santai disebuah taman”, begitu kataku kepada Mbak Ninik sambil disambut tawanya!
Kami hanya menikmati momen kami, toh tidak ada yang kami kejar!
Sungguh suatu keajaiban setelah kejadian membuat kepala pusing sampai hampir mau mimisan malah hilang dengan hanya duduk manis di sebuah taman.

tajrish

Tak terasa  sampai jam 5 juga kami bersantai di Taman hingga kami memutuskan ke Tajrish, hasil rekomendasi Erph. Awalnya kami hendak ke Saabad Palace namun karena kami lebih memilih bersantai walau penasara akhirnya kami hanya pergi ke Tajrish yang merupakan bazaar, yeee pasar ala Iran lainnya!

Kami berjalan ke stasiun Metro Imam Khomeini menuju ke Tajrish. Untuk urursan Metro selama di Tehran cukup mudah dan yang pasti harganya murah.

Sesampai di Tajrish ternyata merupakan pasar yang padat orang. Kemudian kami sempat berhenti ketika melihat sebuah restauran. Dari luar kelihatan enak dan penasaran mencoba makanan tradisionalnya, kami tidak kapok mencari makanan yang cocok dilidah selama di Tehran, Iran.

tehran-iran

Dari etelase kelihatan enak akhirnya kami masuk walau akhirnya kami bingung SENDIRI. Hingga adalah seorang pria Iran mendatangi kami dan membantu kami bagaimana cara memesan dan membeli serta menjelaskan secara rinci makanan apa yang ada di depan kami. Cukup beruntung karena tanpa orang Iran yang datang mungkin bingung makan apa.

Bahkan sebelum si Bapak datang aku berkata ke Mbak Ninik “piye ike mbak e, makan opo? terus Mbak Ninik ketawa dengan khasnya sambil berkata “aku juga bingung”.!

Untung datang Bapak yang membantu kami hingga akhirnya pilihanku kepada Pizza. Iya pizza ala Iran dan rasanyaaaaaaa jrenggg “tidak enak” wkwkkwkwk 😀

Zonk lagi!!

iranian-food

Harga pizza yang aku pesan untuk makan malam di Tajrish seharga 160,000 Rial tapi tidak enak, padahal Mozarella. Fix, di Iran aku hanya suka kebabnya. Untuk makanan lainnya tidak deh kecuali dimasak di rumah lumayan enak!

Setelah makan di lantai dua baknya warga lokal akhirnya aku dan Mbak Ninik mengelilingi Tajrish dan mengamati warga Tehran yang cukup padat. Di Tajrish ini pula kami belanja buah karena enaknya di Iran itu harga buahnya murah banget. AKu sendiri membeli anggur seharga 35000 Rial dan segar!! Bahagia sekali pas mendapatkan buah murah. Terus si Babang jual buah cakep lagi wkkwkw!!

tajrish-iran

Ternyata di balik kegagalan ada sebuah perjalanan seru!

Rincian Perjalanan 29 September di Tehran
23:30 Sampai di (Tehran- IKIA)
01:00-04:00 Flight ke Istanbul ditolak karena visa transit Yunani tidak ada walaupun transit hanya 1 jam.
04:00-05:00 Naik Taxi ke Masshad hostel 750,000 Rial/2 orang namun salah ke hotel kemudian naik taxi lagi 150,000 Rial/2 orang
05:00-10:00 Hostel Masshad dekat dengan Imam Khomeini Metro Station
10:00-13:00 Beli tiket direct flight ke Istanbul $200 + 500,000 Rial untuk tips
13:00-15:00 Makan siang nasi dan ayam 100,000 Rial
15:00-17:00 Duduk santai di Taman depan National Museum of Iran
17:00-20:00 Naik Metro ke Tajrish 11,000 Rial untuk pulang pergi, Beli buah 35,000R
20:00-21:00 Makan malam di Tajrish pizza 160,000 Rial tapi tidak enak
22:00-23:00 Ke penginapan, istirahat
Pengeluaran hari keempat Backpacker Iran di Tehran 1,411,100 Rials + $200
Tempat wisata yang aku kunjungi di Tehran backpacker ke Iran: Tajrish

Salam

Winny

Mengejar waktu di Naqsh-e Jahan Square Isfahan


“Just pick a goal, a goal you truly want to achieve, and take a clear-eyed look at your weaknesses–not so you’ll feel less confident, but so you can determine exactly what you need to work on. Then get to work. Celebrate small successes. Analyze your weaknesses. Keep going. As you gain skill, you’ll also gain a feeling of genuine confidence, one that can never be taken away-because you’ve earned it.”

(By Unknown)

isfahan-square
Hello World
Isfahan, September 2016
Dari Vank Catedral, aku dan Mbak Ninik berjalanan kaki kembali ke Si o Seh Pol Bridge setelah mengucapkan perpisahan dengan seorang anak dan ayahnya yang kami jumpai di tempat jus. Bapak anak itu sangat ramah kepada kami dan mengajak berphoto selfie dengan kami. Tujuan wisata kami selanjutnya ke Imam Square atau sering disebut Naqsh-e Jahan Square Isfahan, wisata cukup populer di Isfahan Iran. Dari peta offline, untuk menuju ke Imam Square kami harus kembali berjalan ke tempat semula “Si o Seh Pol Bridge”, artinya kami sudah berjalan 5 km lengkap dengan terik matahari seakan berada di atas kepala. Sewaktu jalan kaki ada kalanya aku dan Mbak Ninik salah jalan sehingga kami akan menanyakan arah ke warga lokal, paling tidak itulah rahasia kami melakukan perjalanan di Iran walau tanpa tourguide. Sewaktu kami berjalan menuju Si o Seh Pol Bridge, seorang pria Iran menyapa kami dan langsung menyeletuk “are you Chin?”, terus aku langsung mengatakan “Indonesi”. Maklum pertanyaan apakah kamu China itu merupakan pertanyaan yang sering aku dengar selama berada di Iran sampai hapal cara pengucapannya. Orang Iran tidak familiar dengan kata INDONESIA lebih familiar dengan kata INDONESI! Saking ramahnya orang Iran, jangan heran akan disapa dari mana walau itu sedang berjalan. Padahal yah mukaku gak jauh bedalah dengan cewek Iran, bedanya dihidung saja, hidungku pesek dan kulit tidak terlalu putih. Eh ketahuan deh kalau orang asing, padahal udah berharap dikira cewek Persia. Ternyata muka Batakku tidak bisa menipu orang Iran wkwkwkkw 😀

bazaar-isfahan
“Win, nanti kita cari makan di Imam Square ya,” kata Mbak Ninik. “Iya Mbak, aku lapar sekali, kita di negeri orang kemana-mana jalan kaki”, kataku dengan wajah memelas. “Pokoknya nyari nasi, bosan makan roti”!

Sayangnya di sepanjang jalan kami tidak menemukan restoran yang menyediakan nasi, paling tidak sepanjang perjalanan kami dari Si o Seh Pol Bridge menuju ke Imam Square. Walaupun ada restaurant di tengah jalan kami takut masuk karena takut di harga walau aromanya menggoda. Akhirnya setelah berjalan kaki lumayan jauh barulah kami sampai di tempat semula, jembatan kece ala Persia kemudian kami mencari bus ke Imam Square (میدان امام).

natural-history-museum
Bagai dua orang linglung, aku dan Mbak Ninik mengikuti intuisi arah ke Imam Square yang pasti sebelum Si o Seh Pol Bridge. Kami juga sempat mempelajari destinasi bus walau kami tidak mengerti, ujung-ujungnya kami tanya pak bus saja apakah melewati Imam Square. “Sir Imam Square?” gitu aja kami bilang terus Pak Supir pun membukakan pintu. Asli seperti anak hilang!
Sesampai di tujuan, Pak Supir bus menunjuka arah untuk kami berjalan kaki karena memang tidak ada bus yang melewatinya. Aku dan Mbak Ninik pun berjalan ke Imam Square melewati taman luas, pepohonan hingga Bazaar.shah-square-isfahan

isfahan-bazaar
Bazaar yang ada di area Imam Square sangat menarik ada penjual souvenir, tempat makan hingga jualan karpet. Mbak NINIK sempat belanja permen khas Isfahan di Bazaar Imam Square. Yah wajar, area Imam Square memang daerah turis banget, sehingga di Imam Square kami dapat menemukan turis luar juga. Akhirnya kami tidak sendiri!!
Sesampai di Naqsh-e Jahan Square, areanya sangat luas dan lengkap, ada taman, ada masjid bahkan bazar! Aku dan Mbak Ninik akhirnya memutuskan makan di dalam Bazaar itupun hasil rekomendasi dari seorang cowok Iran yang kami temui di Naqsh-e Jahan Square. Dia membawa kami melewati pasar kemudian mengarahkan ke sebuah restaurant dalam pasar, walau akhirnya kami menyerah karena tidak menemukan nasi.
Aku memesan makanan Iran yang aku lupa namanya tapi pastinya tidak enak sama sekali!! Ahhh aku salah pilih makanan, berbeda dengan makanan Mbak Ninik yang rasasanya masuk akal, punyaku tidak enak,aneh dan harganyapun 80,000 Rial, duh nyesek didada!!

restaurant-in-esfahan

iranian-food
Setelah makan barulah aku dan Mbak Ninik berjalan kearah Masjid dan kami menyempatkan sholat zuhur hingga akhirnya kami bertemu dengan ibu-ibu Iran yang bersantai ria. Kami diajak makan kuaci bersama ibu-ibu yang sedang piknik. Akhirnya aku dan Mbak Ninik ikutan piknik deh dengan ibu-ibu Persia. Kalau tidak jam tayang, mungkin bisa diajak ke rumahnya kali. Itulah kerennya orang Iran, sangat menjamu tamu.
Akhirnya aku dan Mbak Ninik permisi dengan ibu-ibu Pesia karena waktu kami tinggal 2 jam lagi dan kami hendak ke Aliqapu, masih didalam kompleks Naqsh-e Jahan Square. Di depan Aliqapu kami harus membayar tiket masuk kedalam Aliqapu seharga 20,000 Rial namun sayangnya Aliqapu renovasi.

ali-qapu-palace
Jujur menurutku tidak begitu menarik Aliqapu karena hanya bisa melihat Imam Square dari atas, dan lumayan Indah untuk berburu photo selebihnya biasa saja walau tempat ini begitu bersejarah dan sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Habis aku pelit sih!
Masuk di dalam Ali Qapu pemandangannya kece sayangnya karena renovasi sehingga tidak begitu kondusif untuk dikunjungi. Akhirnya aku dan Mbak Ninik hanya 30 menit saja di Aliqapu padahal Istana loh.

naqsh-e-jahan-square
Berjalanlah kami berdua meninggalkan area Naqsh-e Jahan Square tapi kami juga sempatin dong melihat pernak Pernik Persia. Di Imam square aku hanya membeli gantungan kunci satu biji saja sebagai kenang-kenangan pernah ke Iran, habisnya harganya tidak begitu ramah untuk kantongku terus pejalan kere 😀

shah-square
Setelah puas mencari oleh-oleh di kawasan Naqsh-e Jahan Square, barulah kami mencari taxi, andalan kami ketika hendak menuju ke hostel. Untungnya taxi kuning yang kami pesan mau berhenti di hostel untuk mengambil tas kami baru menuju terminal bus Kaveh, saatnya ke Tehran karena jam 3 malam penerbangan ke Istanbul.

isfahan

isfahan-square-persia

isfahan-square-iran

imam-square

Jam 5 sore sampai di Kaveh terminal bus Isfahan, hmmmm sampai jam berapa kira-kira ya di Tehran dengan bus?
Salam
Winny

Gereja Unik Persia “Vank Cathedral Church” di Isfahan


Time flies over us, but leaves its shadow behind.

By Nathaniel Hawthorne

isfahan

Hello World
Isfahan, September 2016
Bersama Mbak Ninik kami berjalan kaki dari Si-o-se Pol Bridge dengan panduan peta offline melewati jalan untuk pejalan kaki. Meski udara panas namun kami sangat senang berjalan kaki di Iran karena sangat manusiawi untuk pejalan kaki, jalannya besar dan sebelah  kiri kanan pertamanan dengan pohon rindang. Cukup mudah bagi kami menemukan Taman teratata rapi dan di taman bahkan tersedia kran air untuk diambil sebagai minuman. Sering kali kami mengambil minuman raw water karena Mbak Ninik sudah menyediakan botol minuman sehingga cukup hemat bagi kami untuk urusan minum serta dipastikan airnya tidak pernah membuat kami diare. Nah pas di taman Esfahan dekat Si-o-se Pol Bridge, ada yang unik dari taman yaitu adanya colokan listrik. Wah sampai colokan listrik ada bathinku!
Hal lain yang sangat kami sangat sukai di IRAN adalah kedisplinan warga dalam mengambil bus dimana sudah ada tempat pemberhentian bus jadi bus tidak boleh sembarangan dalam berhenti. Aku bahkan sempat duduk manis di penungguan bus bersama Mbak Ninik seolah kami mengerti arah dan tujuan bus.

isfahan-iran

Untunglah trip ku Iran ini aku bersama dengan Mbak Ninik jadi tidak merasa sendiri ketika hendak berjalan mencari wisata andalannya di setiap Kota.

Untuk Isfahan, setelah dari jembatan yang cukup cakep berphoto kami berdua berjalan mencari Gereja di Iran. Iya, masa ke Iran nyarinya Gereja coba? Habis dalam referensi Om Tripadvisor salah satu must visit in Isfahan itu adalah Vank church Isfahan sehingga masuklah dia dalam list tujuan wisata kami.

Ada apa dengan Gereja Isfahan?

Yang pasti gerejanya dari masa lalu dan unik!!

vank-catedaral
Vank Catedhral

Dari Si-o-se Pol Bridge kami berjalan dengan jarak 2 km ke Vank Cathedral Church. Hingga setelah lumayan berjalan kami melihat dari jauh Vank Cathedral Church.

Vank sendiri berarti Catedral dari Bahasa Armenia. Dari luar bentuknya seperti masjid dengan warna kecoklatan namun karena ada tanda salib kecil sehingga kami tahu itu Gereja. Namun kalau hanya melihat sekilas, seperti masjid.

vank-catedaral-isfahan
Memasuki Vank Church Isfahan, betapa herannya aku karena tidak ada satupun pengunjung, tidak ada turis yang masuk kedalama Gereja ini.

Apakah karena tidak terkenal atau jamnya yang salah?

Yang pasti hanya aku dan Mbak Ninik berdua saja yang mengunjungi Vank Cathedral Church. Tidak ada satupun pengunjung saat kedatangan jam 11 siang itu.

Di depan pintu masuk tedapat loket dengan laki-laki berumur sekitar 50 tahun tersenyum ramah. Kamipun memesan dua tiket masuk kedalam Vank Cathedral.Biaya masuk kedalam Vank Cathedral Church seharga 50,000 Rial.

Why, none visitor sir?, begitu tanyaku kepada si petugas yang kemudian di jawab “may be later

Setelah mendapatkan tiket aku dan Mbak Ninik masuk.
Dari luar kelihatan design Gereja khas Persia bulat meruncing dan tanda salib biru disetiap sisinya.

Namun betapa terkejutnya ketika masuk kedalam yang penuh dengan lukisan. Lukisan tentang sejarah Agama Kristen.

vank-catedral
Vank Church memiliki nama lain yaitu Holy Savior Cathedral dalam Bahasa Armenia Սուրբ Ամենափրկիչ Վանք sementara dalam Bahasa Persia آمناپرکیچ‎‎ – Kelisā ye Āmenāperkič (Wikipedia)
Vank Church Isfahan didirikan tahun 1606 sekitar abad ke 17. Gereja ini dibangun untuk ratusan ribu Armenia yang deportasi selama Perang Ottoman dari 1603-1618 dan dimukimkan oleh Shah Abbas I.
This church consist with Ortodox, Armenian style, Protestan, chatolik and moeslam”, begitu kata si Bapak penjaga.

church-in-isfahan
Vank Church

Aku  sempat bertanya kepada si Bapak apakah Gereja ini dipakai untuk beribadah seperti lazimnya Gereja lainnya.

Ternyata tidak, karena sudah berbentuk museum dan kalaupun dipakai pas perayaan besar itupun harus ada izin.

Sama seperti Gereja pada umumnya, terdapat tempat duduk walau sedikit namun yang membuat unik justru pada perpaduan di dalam Gereja. Selain dari sisi sejarah tentunya karena umur Vank Church Isfahan dari abad 17.

church-esfahan

Gereja Vank Isfahan merupakan gereja pertama terunik yang pernah aku kunjungi. Dari luar seperti masjid namun pas masuk ke dalam penuh dengan lukisan, kemudian di luar ada lonceng, terus kubah Katedral yang interior catnya gaya Persia dengan warna biru dan emas. Lalu dindingnya dicat dengan gaya Eropa. Gereja bersejarah dengan dinding berlapisan emas.

Benar-benar campuran gaya Islam dan Kristen!

vank-catedaral-iran
Vank Catedral

Selain dari lukisan dinding disekitar Vank Church Isfahan, yang membuatku mataku tak bisa berkedip ketika melihat ke kubah Gereja, interiornya Islam. Namun sekitarnya masih ada gambar.

Mungkin kalau aku tidak ke Isfahan, pastilah aku mengira berada di Turki, ternyata di Iran 🙂

Anehnya hanya kami berdua saja di dalam Gereja!!

vank-catedaral-esfahan

 

 

 

Yah paling tidak berjalan kami 2 km terbayarkan ketika melihat betapa uniknya Vank Church Isfahan, walau kami tidak berlama-lama karena kami masih harus menuju ke Imam Square.

Keluar dari Gereja kami melihat seorang Bapak Tua sendirian duduk didinding menjual bunga. Tidak ada yang membeli, kami hendak membeli tapi entah mau kami apakan bunga itu. Akhirnya kami memberikan Roti yang kami bawa, itupun Mbak Ninik segan dan menyuruhku. Pas kami kasih eh si Bapak senyum!!

Senangnya  🙂

Ternyata hal kecil bisa membuat orang senang!

persian

Setelah itu barulah aku dan Mbak Ninik mencari minuman hingga kami memutuskan minum jus diseberang jalan. Di tempat jus kami bertemu dengan seorang bocah dan ayahnya. Bocah ini sangat antusias berbicara dengan kami walau dia hanya tahu “how are you?” kemudian selebihnya Bahasa Parsi.

Bocah kecil ini juga yang mengajariku cara mengucapkan “Yazd” dengan penekanan “d” diakhir kalimat. Yah perjalan Iran memang magnet terutama jika berbicara dengan warga lokal yang ramah terhadap turis.

backpacker-to-iran

Baru kali ini merasa turis setelah di India, ternyata Iran tak kalah jauh menarik untuk dikunjungi.

Salam
Winny

Menjadi Gadis Persia di Si o Seh Pol Bridge, Isfahan


Today you are you! That is truer than true! There is no one alive who is you-er than you!
By Dr. Seuss

winny
Esfahan, 28 September

Jam 4 pagi aku sudah sampai di Stasiun bus Kaveh, Isfahan Iran. Cuaca begitu dingin dan 3 orang ibu yang semalam aku dititipkan oleh Ibu Pahlevi berbahasa Persia dan aku tidak mengerti artinya yang pasti kelihatan jelas mereka khawatir denganku ditambah aku seorang diri. Sesekali aku menunjunkkan hp ku berharap mereka memiliki wifi atau paling tidak di terminal bus ada wifi namun ternyata tidak ada. Aku sendiri sedikit frustasi karena aku hendak menghubungi Mbak Ninik dan menanyakan dimana dia berada karena kami berdua berjanji akan berjumpa di Isfahan. Sekitar hampir 30 menit dengan menahan rasa dingin akhirnya aku bertemu dengan seorang turis Korea yang duduk dengan santai dilantai beralas karton dan akhirnya ada alasan untuk berpisah dengan ketiga ibu yang aku jumpain. Jika tidka mungkin mereka akan menungguku sampai aku bertemu dengan temanku, yah anggap saja cewek Korea yang baru aku kenal sebagai temanku juga. Bersama gadis Korea inilah aku menunggu hingga matahari terbit. Bahkan dia baik sekali dengan memberikan tathering wifi kepadaku sehingga aku mengetahui lokasi Mbak Ninik menginap. Amir Kabhir Hostel Isfahan, itulah tempat Mbak Ninik menginap, artinya aku harus menuju kesana dari terminal bus. Awalnya aku dan Gadis Korea itu hendak berjalan kaki sekitar 1 jam namun akhirnya kami memutuskan naik bus saja dan itupun hasil tanya-tanya penduduk Iran. Untuk menuju ke penginapan Mbak Ninik tidak susah lurus saja dengan bus seharga 10,000 Rial.

sarapan-di-iran
Sarapan pagi di Isfahan

Di dalam bus aku bertemu dengan cowok Iran yang menuntunku dimana harus turun. Ternyata turunnya tepat disebelah hostel yaah akhirnya jam 6 aku sudah sampai di hostel. Mbak Ninik rupanya sudah berpesan kepada petugas hostel mengenaiku hingga kami akhirnya berjumpa, yah setelah seharian berpisah!!
Nah Mbak Ninik mengajakku untuk sarapan di hostel, awalnya malas karena pasti tidak jauh dari roti namun aku ikut saja lumayan sambik berwifi ria. Untuk sarapan pagi di Amir Kabhir Hostel Esfahan seharga 80,000 Rial dengan menu sarapan terdiri dari roti, telur dan the serta semangka. Setelah perjalanan panjang dari Yazd ternyata sarapan bersama sunggih nikmat!

peta-esfahan
Barulah sekitar jam 8 aku dan Mbak Ninik memulai menjelajah wisata Isfahan atau sering disebut Esfahan karena jam 5 sore kami sudah harus meninggalkan kota ini karena jam 1 malam hendak ke Istanbul.

iran
Si-o-seh pol Bridge

Sebelum menjelah wisata Isfahan terkenal seperti Allāhverdi Khan Bridge atau Si-o-seh pol Bridge, Vank Catedral serta Naqsh-e Jahan Square atau Imam Square (میدان امام), kami sebelumnya memesan bus dari hostel untuk bus ke Tehran. Setelah itu barulah kami menitipkan tas kami di penginapan lalu kemudian kami memutuskan untuk menuju ke Si-o-seh pol Bridge. Keluar dari Hostel kami hanya ngasal naik ke bus karena dari penjelasan Bapak penjaga hostel, Si-o-seh pol Bridge jalannya lurus saja dari penginapan. Di dalam bus, lagi-lagi cowok Iran menolong kami dengan menunjukkan kapan harus keluar dari bus jika sudah sampai di Si-o-seh pol Bridge, rupanya dia juga hendak kesana. Cowok Iran yang kami jumpai sangat cakep walau kami tidak tahu namanya. Dan jangan tanya apa yang kami cari di Si-o-seh pol Bridge karena kami tahunya dari gambar kece sekali.

esfahan-iran
Si-o-seh pol Bridge

Sesampai di Si-o-seh pol Bridge, rupanya berupa jembatan penyeberangan. Namun satu hal yang membuat kami terkagum adalah bentuk dari Allāhverdi Khan Bridge atau Si-o-seh pol Bridge, bukan jembatan biasa, kontruksi dan warnya “Persia” banget. Bahkan ya saat berada di Allāhverdi Khan Bridge atau Si-o-seh pol Bridg aku merasa menjadi Gadis Persia!! Iya soalnya masyarakat lokal hilir mudik terus kami berdua dengan Mbak Ninik jauh-jauh ke Isfahan demi jembatan loh!

esfahan
Si-o-seh pol Bridg

Lekukan jembatan Allāhverdi Khan Bridge atau Si-o-seh pol Bridge berbentuk seperti kubah, di bawah tidak ada air namun sekelilingnya terdapat taman Indah. Hal yang membuat Mbak NINIK suka dan kagum di Iran, iyah Iran itu tidak setandus yang dibayangkan! Banyak taman bahkan mereka sangat memperhatikan pertamanannya.
Aku dan Mbak Ninik cukup lama menikmati Allāhverdi Khan Bridge atau Si-o-seh pol Bridge sambil mengamati kegiatan warga lokal.

Bahagia kami hanya sesederhana!!

persia
Barulah setelah puas menikmati liburan di Isfahan dengan duduk santai di Allāhverdi Khan Bridge atau Si-o-seh pol Bridge, akhirnya kami memutuskan ke Vank Catedral Isfahan dengan bantuan map offline. Maklum kami itu semi backpacker jadi andalan adalah peta handpone serta berjalan kaki, dari i-o-seh pol Bridge Isfahan ke Vank Catedral sekitar 2 km saja!
“win, yuk jalan kaki”!!

iranian-garden
Taman di Iran

Salam
Winny

Gurun Pasir kedua Dasht-e Kavir di Yazd Iran


The only reason for time is so that everything doesn’t happen at once

By Albert Einstein

kavir-desert-iran

Hello World!
Yazd, September 2016
Setelah makan siang bersama keluarga besar Paman Pahlevi serta Paman Khasan ternyata keduanya kecapean setelah menemaniku mengelilingi wisata Yadz sehingga merekapun tertidur untuk istirahat. Satu persatu anak dari Paman Pahlevi meninggalkan rumah menuju ke rumah masing-masing. Hanya Parideh dan Ali dan istrinya yang tinggal serumah dengan Paman Pahlevi. Paman Pahlevi memiliki 4 anak dan semuanya sudah menikah. Parideh sendiri masih berumur 24 tahun dan dia sudah menikah, Parideh ini seperti adik bagiku, cantik dan baik hati. Walaupun dia tidak terlalu bisa Bahasa Inggris namun aku selalu bersamanya, dan dialah yang menemaniku selama di rumah. Ibu Pahlevi juga keluar untuk belanja.

persia-iran
Yazd

Bersama Parideh, aku menonton film di TV dengan Bahasa Persia yang aku tidak mengerti sambil nyemil buah. Iya nyemil buah wajib hukumnya di Iran. Baru sekitar jam 3an akhirnya aku memutuskan tidur.
Sekitar jam 5 barulah aku bangun dan kedua paman sudah bangun dari jam 4. Terlihat Paman Khasan bersiap untuk permisi pulang ke rumahanya. Si Paman Khasan tidak langsung pulang ke rumah walaupun si Paman sudah sampai jam 8 pagi itu di Yazd dan rumah paman dari Yazd masih 3 jam lagi dan semua itu karena aku. Si Paman menitipkanku di rumah Paman Pahlevi, sahabatnya yang sudah tidak bertemu hampir 15 tahun lamanya.
Sumpah aku mehek sekali bertemu dengan dua Paman yang baik hati!!
Setelah pamitan dan Paman Pahlevi mengantar Paman Khasan pulang, aku dan Farideh menunggu Paman Pahlevi karena kami hendak dibawa ke Padang Pasir Yazd. Ibu Pahlevi yang sudah pulang bahkan memberiku kerudung cokelat untuk aku pakai. Keberuntunganku tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Orang Iran emang sunngguh baik hati kepadaku, pertolongan tulus! Say goodbye dengan stigma negattive tentang iRAN, karena mereka memperlakukan tamu seperti bagian keluarga. Bahkan di Iran yang paling aku salut ketika melihat cowoknya tidak menyentuh alkohol dan selama di IRAN malahan aku tidak melihat cowoknya merokok. Dua hal penting yang aku tahu selama backpackeran ke Iran.
Barulah sekitar jam 6an si Paman Pahlevi kembali dan mengantarkanku ke Gurun Pasir Dasht-e Kavir di Yazd Iran ditemani Farideh. Dari rumah Paman Pahlevi tidak terlalu jauh ke Padang pasir. Aku dan Farideh duduk manis di belakang mobil dan Paman mengantarkan kami ke Gurun, tempat yang aku sukai!

kavir-iran
Memasuki gurun pasari, hamparan Gurun didepan mata, Kaca jendela aku buka sambil menikmati Gurun yang luas di depan. Agak susah buat Paman Pahlevi mencari jalan menuju ke Gurun bahkan kami harus berhenti dan kembali ke jalan lain saat memasuki wilayah Gurun Pasir. Hingga di rute ketiga barulah kami bisa masuk ke Padang Pasir bernama Dasht-e Kavir di Yazd Iran. Yah pengalaman merasakan gurun pasir keduaku setelah Jaisalmer di India. Bedanya Gurun Pasir di Yazd tidak perlu mengeluarkan uang sepersenpun dan Padang Pasirnya luas!!
Bahkan aku melihat “sunset in desert”, yang matahari tenggelam pertama di Gurun Pasir. Bahkan si Paman sengaja bertemu dengan penjaga Gurun yang menyediakan tour untuk melihat Unta di Dasht-e Kavir Yazd Iran.

kavir-desert-persia
Aku sendiri bersama Farideh malah asik selfie ria di Padang Pasir. Sesekali aku menggengam padang pasir dan kegirangan yang membuat Farideh dan Paman tertawa. Iya aku merasa norak sendiri ketika mengelus-elus Gurun Pasir. Aku merasa jadi wanita Persia di Gurun Pasir!
Kami juga sempat melihat kandang Onta dan Keledai di Gurun Pasir Dasht-e Kavir. Ontanya kurus dan pertama kali aku melihat keledai. Aku malah tertawa tak jelas ketika melihat keledai dalam kandang. Paman mengira aku hendak mencoba menunggangi Onta namun tidak karena melihat pasir di Gurun sudah cukup puas kok 😀

Senangnya melihat Gurun Pasir Dasht-e Kavir di Yazd Iran

desert

Kavir desert Yazd memang Gurun pasir yang luas dengan pegunungan yang eksotik. Kalau bukan dengan Farideh dan Paman Pahlevi tidak tahu cara ke Kavir desert Yazd. Aku tahu Gurun ini karena teman dari German di Grup whatsapp Traveller Iran mengajak kesana. Namun karena aku tidak sendirian akhirnya malah diajak Farideh ke Gurun Kavir. Kalau dibilang Kota Yazd dikelilingi oleh Gurun luas dan pegunungan namun tidak setandus yang aku bayangkan dan rumahnya bukan rumah dari Tanah liat seperti yang aku bayangkan walau ada beberapa rumah dari tanah liat. Kebanyakan malahan rumah di Yazd itu dari tembok. Jadi walau Yazd penuh dengan pasir namun tidak tandus!

iranian

Paman Pahlevi dan Farideh sebenarnya heran dengan tingkah lakuku mereka mungkin bingung kok bisalah aku senang hanya dengan melihat Gurun Pasir. Walau singkat namun bersama mereka sungguh menyenangkan. Perjalanan pulang ke rumah ditemani dengan Sunset di Gurun Pasir, yah matahari tenggelam di Kavir desert Yazd, pertama kali bagiku melihat Sunset in Desert!

kavir-desert-yazd

Salam
Winny