Bertemu dengan Wanita berleher Panjang di Inle, Myanmar


Success is about dedication. You may not be where you want to be or do what you want to do when you’re on the journey. But you’ve got to be willing to have vision and foresight that leads you to an incredible end.

By Usher

Hello World!

Myanmar, 2017

Setelah melakukan aktivitas seharian di Danau Inle dimulai dari subuh-subuh demi mengejar matahari terbit untuk melihat Nelayan Myanmar dengan gaya khas menangkap ikannya, mengunjungi pasar tradisional ala Myanmar untuk membeli Longyi serta melihat pagoda warna-warni, ditambah dengan mampir ke setiap tempat pembuatan kerajinan tangan mulai dari pembuatan tembaga, pembuatan oleh-oleh seperti ukiran, gantungan kunci, patung dari kayu, sampai hasil tenunan dari eceng gondok maka kunjungan yang kami tunggu-tunggu adalah ingin bertemu dengan Wanita berleher panjang tepatnya Pyae Thar Tun Pa Taung, hand weaving centre. Bahkan demi LongNecked women alias wanita berlehar panjang Melisa rela membatalkan kunjungannya ke Mandalay, tentu saja pilihan itu merupakan pilihan tepat baginya.

LongNecked women alias wanita berlehar panjang Myanmar sebenarnya bukan karena lehernya yang panjang namun karena di lehernya memiliki kalung yang disusun  dari besi/perunggu sepanjang lehernya, sehingga lehernya tidak kelihatan sama sekali. Pas melihat lehernya dipastikan yang dominan adalah kalungnya dengan warna kuning yang menyilau. Pakainnya pun unik dengan pakaian khas serta tak hanya leher, di kaki juga terdapat kalung yang melingkar kaki bak cincin kaki.

Mamakai kalung berupa cincin melingkar di leher sudah menjadi tradisi kuno dari suku Kayan, suku tertua di Myanmar. Saat anak gadis masih muda sekitaran umur 5 atau 10 tahun,  mereka akan memulai memakai kalung perunggu di leher dan di kaki, pemakaian jumlah kalungnya bisa 6 sampai 10 kemudian akan bertambah panjang seiring penambahan usia gadis tersebut. Alasan pemakaian kalung pun memiliki banyak versi, ada versi yang mengatakan kalau wanita Myanmar menutupi lehernya agar terlihat cantik, namun ada juga versi lain yang mengatakan untuk melindungi dari serangan binatang. Namun  seiring berkembangnya zaman maka wanita Myanmar pada saat sekarang ini sudah jarang memakai kalung yang tersusun sepanjang lehernya. Alhasil populasi wanita berleher panjang sudah menjadi langka sehingga membuat turis penasaran dengan keunikan wanita berleher panjang. Bisa dibilang bertemu dengan Myanmar LongNecked women merupakan top list  banget saat liburan atau berwisata di Myanmar.

Inle

Aku sendiri mengira kalau wanita berleher panjang hanya bisa ditemukan di Chiang Mai, ternyata siapa sangka kami beruntung bisa bertemu dengan wanita berleher panjang di Myanmar. Bak kata kami mau berburu Pagoda di Bagan malah menemukan LongNecked women, itu namanya “beruntung”. Habis dulu pernah punya niat ke perbatasan Thailand demi bertemu dengan wanita Myanmar yang unik namun baru berjodoh pas di Inle.

Pas sampai di sebuah rumah yang dari kayu, di papan ada gambar wanita berleher panjang. Lalu turun dari kapal, aku, Melisa dan Ade masuk ke dalam rumah. Di dalam rumah banyak terdapat hasil tenunan yang dijual, nah disinilah 3 wanita berleher panjang sedang menenun. Anehnya 3 kursi sudah disediakan untuk pengunjung bahkan keranjang amal dari plastik untuk merekapun sudah disiapkan. Artinya sudah dipastikan sudah menjadi komersial untuk photo dengan LongNecked women Myanmar. Kalau berphoto maka bisa memberikan uang seikhlasnya yang sudah tersedia.

Bisa dibilang bahwa kunjungan kami ke LongNecked women Myanmar merupakan puncak perjalanan Inle kami setelah gaya Nelayan Inle yang fenomenal. Hanya saja aku tidak pernah membayangkan bahwa para LongNecked women Myanmar ini kami temukan di area penjualan tenun. Jadi para wanita berleher panjang sengaja banget diberi kerjaan untuk menenun untuk menjadi daya tarik wisatawan.

Wanita berleher panjang Myanmar ini sangat ramah, bahkan tersenyum kepada kami para wisatawan. Mungkin mereka tahu betul bahwa kami ingin berphoto dengan mereka atau sudah biasa dengan turis yang ingin photo. Bahkan untuk berphoto dengan LongNecked women antirannya panjang. Karena dipastikan wisatawan juga memiliki antusias yang sama.

Jujur agak segan meminta photo dengan mereka karena pada dasarnya mereka sedang bekerja sehingga takut mengganggu. Namun dengan ramah salah seorang ibu LongNecked Myanmar mengajakku masuk mendekatinya. Malahan aku dikasih kursi ddan duduk disamping mereka.

Mel, ambil photo cantik ya begitu seruku ketika bersama Long-Necked Myanmar

Eh tiba-tiba seorang cewek dengan muka bule berkata

"Dari Indonesia ya, mama saya juga dari Indonesia, begitu katanya dengan ramah".

Wow, siapa sangka dengan ramah gadis itu menyapa kami duluan ketika mendengar kami berbicara bahasa Indonesia, sontak kami ngobrol panjang dengannya. Kapan lagi ketemu muka bule namun cinta Indonesia padahal seriusan deh pas di Inle itu kami itu agak memalukan apalagi pas edisi photo narsis. Bisa saja kan dia pura-pura gak mengerti bahasa kami, eh ternyata dengan ramah malah kami diajak kenalan duluan.

Nama gadis itu Bella, yang memiliki ayah kebangsaan Amerika dan Ibu kebangsaan Indonesia tapi tinggal di Settle dan Kuliah di Hong Kong. Bella sedang liburan dengan teman-temannya di Myanmar. Bahkan dia sempat menunjukkan photo perjalanannya di Bagan, lengkap dengan hot ballon sementara kami baru keesokan harinya.

Bagaimana kamu bisa berhasa Indonesia, tanyaku dengan penasaran
Ibu saya mengajari saya karena Bahasa Indonesia sangat penting, begitu katanya.

Serius ya bertemu dengan sesama yang bisa Bahasa Indonesia itu di negeri orang membuat rasa Nasionalisme semakin menggebu-gebu. Apalagi Bella rela meningglkan teman-temannya sementara demi kami. Dia juga mau kami ajak berphoto bersama dengan Long neck women Myanmar 🙂

Long Neck Women Myanmar

Tidak sampai disitu, si Bella sempat membuatku malu tak kalah panjang ketika aku melihat bule yang berpakaian Longyi dan ingin berphoto dengan mereka. Padahal segerombolan cowok ini sudah kami jumpai saat di Pagoda warna-warni, waktu itu aku nunjuk ke Longyi yang mereka pakai. Aku malah sempat salah satu dari mereka berkata “what this girl point at?.

Seolah-olah aku nunjuk ke bagian xxx nya.. Eh malah ketemu lagi di rumah wanita berleher panjang. Mungkin ini namanya jodoh hihiih 😀

Hey guys, my friend want to take photos with you, 
begitu kata Bella kepada mereka
Okay, jawab mereka

Tentu saja membuatku malu minta ampun! Akhirnya dengan salah tingkah akupun berphoto dengan mereka. Sumpah adegan ini amat sangat memalukan bagiku!

Rasanya urat maluku mau lepas saking malunya. Ternyata untuk ukuran “Winny” yang suka jalan-jalan bisa juga malu tak kepayang. Sampai-sampai si Melisa dan Ade tertawa ngekeh melihat tingkahku yang malu-malu kucing.

Akhirnya pamitan dengan para gerombolan bule dengan Longyi akhirnya salah satu dari mereka senyum manis kepadaku lantaran dia telah mengunjungi Bukit Lawang karena dia sempat penasaran dari mana asal kami. Pas kami mengatakan Indonesia dia langsung dengan bangga ” I have been there last week”.

Mungkin si kawan ini merasa aneh tapi yasudahlah yah yang penting berphoto dengan bule pakai sarung hahaha 😀

Setelah adegan memalukan, akhirnya Bella pamitan pulang juga. Nah pas pamitan ternyata Bella mencium pipi kiri si Ade, eh si Adenya malah minta nambah cium pipi kanan. wkkwkwkwkwkwk 😀

Tambuh ciek dia 😀

Dia menahan tangan kanan Bella sambil memberikan pipi kananya. Tentu saja aku dan Melisa menahan tawa. Artinya tidak hanya aku saja yang mengalami “kehinaan”.

Dalam hatiku untung ada teman! teman malu yeeee!

Jadi begitulah cerita pengalaman bertemu dengan wanita berleher panjang kami yang berakhir dengan adegan “kehinaan”, tapi penuh kenangan. Kapan lagi aku merasa malu!! 😉

Baca juga

Kehinaan di Myanmar

Backpacker di Myanmar

Inle, Myanmar

Rincian Perjalanan Inle, Aktual

Bayar uang masuk ke Inle, Myanmar USD 10/orang

Naik tuk-tuk ke Muhi House 3000 KS/3 orang

Sewa Boat seharian Boat Tour Special Big Tour sunrise to sunset sightseeing Inle 30,000 KS/3 orang

Sarapan gorengan di Pasar Inle 2300 KS/3 orang

Makan siang di Inle 8000 KS/ 3 orang

Tips boat 1700 KS/ 3 orang

Tips ke Nelayan Inle 5000 KS/3 orang

Tiket Bus malam dari Inle ke Bagan 18,000 KS/orang

Total Pengeluaran hari kedua di Myanmar

$10 + 1000 KS + 10,000 KS + 760 KS + 570 KS +  1600KS + 18,000 KS = $10 dan 31,930 KS

= 13640 KS + 31930 KS

= 45,570 KS

Tempat wisata yang dikunjungi di Inle, Myanmar

Sunrise melihat fisherman lengkap dengan gayanya yang unik, Taung Toe untuk melihat Market (Pagoda), In Paw Khon untuk melihat Silk and lotus weaving, Nampan untuk melihat Floating Village, Tobbaco and making boat, Phaung Daw OO Pagoda untuk melihat Buddha Image, Shwe in Den Pagoda untuk makan siang, Ywa Mah untuk melihat Long Neck Women Golad and Silver Umbrella, Kaylar (fisherman Village) dan tomato garden, Maing Thauk dan Nga Phe Chaung Monestery.

Salam

Winny

Iklan

Memberi makan Merpati di Phaung Daw Oo Pagoda, Inle Myanmar


I wanna write ‘I miss you’ on a rock and throw at your face so you know how much it hurts to miss you.
By Anonymous

Je vous souhaite un bon séjour! #travelling #myanmar #burma #travelblog #travel ✈️Myanmar 📷Ade Pb

A post shared by Winny Marlina (@winnymarlina) on

Hello World!

Inle, 2017

Aku, Ade dan Melisa berjalan tergopoh-gopoh keluar dari Pagoda warna-warni sambil menuruni perbukitan melalui anak tangga dari semen. Pemandangan kiri kanan kami adalah pasar tradisonal yang cukup menarik, menarik karena kami bisa melihat kegiatan warga lokal sehari-hari. Belum juga sampai ke dermaga ala-ala itu, Melisa dan Ade harus berhenti sebentar ke toilet. Perlu uang beberapa Kyatt Myanmar agar bisa masuk kedalam toilet, sementara aku diluar saja menjaga barang-barang mereka. Akhirnya kamipun berjalan melewati pasar berlantai tanah menuju ke perahu. Didalam perahu, kami duduk manis dan menyerahkan tujuan wisata berikutnya kami kepada dua guide dengan umur yang sekitar SMP dan SMA. Sebenarnya Mrs Muh Kyi telah memberikan peta untuk kami dengan penomoran tujuan wisata kami namun tetap saja kami mengacak tujuan wisata kami. Maklum kami mah gampangan, gampang dibawa-bawa 😉

Karena hari sudah mulai siang, perut kami sudah mulai keroncongan, rasa lapar tidak bisa dibohongi. Namun kami harus menahan lapar beberapa saat karena perahu kami sempat berhenti di sebuah pembuatan tembaga dan perak.  Pembuatan tembaga/ perak tersebut masih tradisional, seorang Bapak menggunakan alat sederhana dengan sistem pembakaran ala kadarnya lalu memperlihatkan cara dia membuat perak. Anehnya yang terlintas dibenakku saat si Bapak menunjukkan kelihainnya dalam mengolah perak/tembaga adalah Kota Yogyakarta, walau belum pernah langsung melihat proses pembuatan tembaga di Yogyakarta entah kenapa aku memikirkan Yogya.

Sayang, kami tidak lama-lama di tempat pengrajin perak/tembaga walau kami disuguhi teh baknya seorang tamu, karena kami harus mencari makanan. Alhasil kami tidak membeli apa-apa dari hasil kerajinan tangan di tempat pengrajin tembaga. Maklum selain menguber waktu, harganya lumayan mahal untuk kami yang backpacker ke Myanmar ini!

Kamipun keluar dari pengrajin dan melajutkan perjalanan.

Di dalam perahu si Ade memberikan Bahasa Isyarat kepada dua guide kami “ food”, begitu katanya sambil mengepal tangannya ke mulut seolah mau makan kepada mereka. Membawa si Ade saat perjalanan memang ada gunanya, karena tingkahnya yang lucu, dia juga bisa mencairkan suasa meski itu cuaca panas dan perut sudah memberontak. Sedikit lupa dengan caranya melawak 😀

Sontak mereka mengerti dan membawa kami ke sebuah restaurant disamping Danau, dekat dengan Phaung Daw Oo Pagoda, tempat dimana memberikan makan kepada merpati.

Setelah kapal bersandar, kamipun melewati jembatan dari kayu dengan pemandangan Danau dengan warna cokelat dibawahnya. Kalau aku bilang warna Danau ini lebih mirip seperti sungai dibatasi oleh sisi kiri kanan. Perlu usaha keras untuk menuju sebuah restauran yang berwarna cokelat dari kayu, berjalan hati-hati di jembatan tadi. Unutk lokasi makannya pun berada di lantai 2, disinilah kami memesan makanan.

Pesananku jatuh kepada yang berkuah-kuah sementara Melisa dan Ade lebih suka menjelajah makanan khas Myanmar walau ujung-ujungnya mereka memesan nasi. Selang beberapa waktu pesanan kamipun datang dengan rasa yang lumayan enak walau harganya sebelas dua belas dengan harga di PI/GI Jakarta. Hanya saja untuk makanan dengan gaya restauran, lumayan ramah di kantong karena kami menganggapnya tempat wisata yang notabenenya selalu mahal. Makan siang di Inle ini kami dikenai biaya 8000 KS/ 3 orang.

Untungnya aku dan Ade bukanlah orang yang tidak susah untuk makan, mengingat kami berdua adalah Muslim dan negara yang kami kunjungi adalah Burma. Sepanjang bukan B2, atau sejenisnya mah kami makan. Paling penting kami usahakan memilih sayuran apabila kami merasa curiga jika itu daging-dagingan.

Tapi so far mau makan apa selama perjalanan di Myanmar, baik-baik saja!

Makan siang di Inle

Rencana Rincian Perjalanan Inle

Date Time Activity Cost Remarks
24-Feb-17 05.00-05.30 Arrived at Inle Lake Bus Station 10000 MYK Entrance Fee Inle Lake (I hope they notice we are local people)
24-Feb-17 05.30-06.00 On the Way to Mr. Muh Kyi House 3000 MYK location is “smiling moon hostel”
24-Feb-17 06.00-06.30 Prepare for Explore Inle lake, Rent Boat 15000 MYK
24-Feb-17 06.30-07.00 hunting sunrise and Leg Rowing attraction
24-Feb-17 07.00-07.15 Go To Shwe Inn Dein
24-Feb-17 07.15-08.00 Explore Shwe Inn Dein and Breakfast 3000 MYK
24-Feb-17 08.00-08.15 Go to Phaung Dau Ooo Pagoda
24-Feb-17 08.15-09.00 Explore Phaung Dau Ooo Pagoda and see pigeon atraction 500 MYK buy c500orn for pigeon
24-Feb-17 09.00-09.15 Go to monastery  Mya Thein Tan
24-Feb-17 09.15-10.00 Explore Monastery Mya Thei Tan and go to hill to see inle lake landscape
24-Feb-17 10.00-10.15 Go to thaung tho pagoda
24-Feb-17 10.15-11.00 Explore thaung tho pagoda
24-Feb-17 11.00-11.15 Go to Nga phe Kyaung
24-Feb-17 11.15-12.00 Explore Nga Phe Kyaung and see jumping cat atraction Biksu school 🙂
24-Feb-17 12.00-12.30 Go to Restaurant inle lake side
24-Feb-17 12.30-13.30 Lunch
24-Feb-17 13.30-14.00 Go to Merchandise market
24-Feb-17 14.00-16.00 explore merchandise market, Silk & lotus weaving, Gold & silver smith, Inle traditional handicraft & cheroot
24-Feb-17 16.00-16.30 Go to Inle traditional umbrella workshop
24-Feb-17 16.30-17.00 See suku Kanya Padaung in Inle traditional umbrella workshop
24-Feb-17 17.00-17.30 Floating Market
24-Feb-17 18.00-18.30 Prepare for go to Bagan (take a bath at Mr. Muh Kyi House) 1000 MYK
25-Feb-17 19.00-03.00 Go to bagan by Bus 13000 MYK bus by Minh Thar
Total Cost 45500 MYK
Melisa dan Ade di Inle

Rincian Perjalanan Inle, Aktual

Bayar uang masuk ke Inle, Myanmar USD 10/orang

Naik tuk-tuk ke Muhi House 3000 KS/3 orang

Sewa Boat seharian Boat Tour Special Big Tour sunrise to sunset sightseeing Inle 30,000 KS/3 orang

Sarapan gorengan di Pasar Inle 2300 KS/3 orang

Makan siang di Inle 8000 KS/ 3 orang

Tips boat 1700 KS/ 3 orang

Tips ke Nelayan Inle 5000 KS/3 orang

Tiket Bus malam dari Inle ke Bagan 18,000 KS/orang

Total Pengeluaran hari kedua di Myanmar

$10 + 1000 KS + 10,000 KS + 760 KS + 570 KS +  1600KS + 18,000 KS = $10 dan 31,930 KS

= 13640 KS + 31930 KS

= 45,570 KS

Tempat wisata yang dikunjungi di Inle, Myanmar

Sunrise melihat fisherman lengkap dengan gayanya yang unik, Taung Toe untuk melihat Market (Pagoda), In Paw Khon untuk melihat Silk and lotus weaving, Nampan untuk melihat Floating Village, Tobbaco and making boat, Phaung Daw OO Pagoda untuk melihat Buddha Image, Shwe in Den Pagoda untuk makan siang, Ywa Mah untuk melihat Long Neck Women Golad and Silver Umbrella, Kaylar (fisherman Village) dan tomato garden, Maing Thauk dan Nga Phe Chaung Monestery.

Melisa di Pagoda

Setelah kenyang, dengan berat kaki kamipun melangkah ke Pagoda yang terletak di seberang Danau. Pagoda itu terlihat menarik dari atas restoran, mirip seperti Pagoda di Thailand. Pagoda itu bernama Phaung Daw Ooo Pagoda. Kesanalah kami berjalan melewati jembatan kayu yang sama. Dari jembatan ke Phaung Daw Ooo Pagoda terdapat pasar yang menjual souvenir ala Myanmar. Namun kami tentu saja hanya melihat-lihat saja sambil lewat jalan ke Pagoda. Belum sampai di depan Pagoda, ibu-ibu lokal menjajakan jagung kepada kami untuk diberikan kepada merpati. Namun kami tetap berjalan lurus masuk kedalam Pagoda, keinginan untuk memberikan makan ke merpati kami tunda sebentar. Karena tas tidak boleh dibawa ke dalam Pagoda, akhirnya aku menjaga tas Ade dan Melisa dan menjaganya sambil membeli kartu pos di depan Pagoda. Seperti biasa jika ingin masuk kedalam Pagoda di Burma, sepatu dan kaos kaki harus dilepas. Itulah syarat utama yang tidak boleh dilupakan selama di Myanmar.

Gimana, bagus gak? Tanyaku kepada Ade dan Melisa 
ketika mereka telah selesai melihat ke dalam Phaung Daw Ooo Pagoda

Nya, cewek tidak boleh dekat-dekat, 
hanya boleh dari tepi saja, kata Ade kepadaku

Aku pun masuk ke dalam Pagoda dan ternyata benar, untuk dekat ke dalam hanya lelaki saja, untuk perempuan dari jarak jauh.

Ade di Pagoda

Setelah itu kami bertiga pun berjalan ke sisi kanan Phaung Daw Ooo Pagoda, dan menanyakan harga jagung karena kami ingin bermain dengan merpati. Ternyata harga jagung untuk makanan merpati sama dengan yang di rincian perjalanan Myanmar yang dibuat si Ade, “500 MYK” alias “Rp5000” saja. Akhirnya kami membeli jagung untuk kami bertiga demi photo dengan merpati.

Jagung kami terbangkan dan bergaya ala-ala candid dengan merpati, seperti masa kecil kami kurang bahagia atau malah terlalu bahagia

haaha 🙂

Bayangkan usia kami yang bukan belasan lagi malah bermain dengan merpati itu rasanya agak kekanakan namun disitu letak kebahagiannya. Anehnya banyak sekali merpati dijadikan daya tarik wisata di beberapa negara, sampai-sampai aku pernah berbagai cerita tentang merpati di berbagai negara. Siapa sangka di Myanmar lagi-lagi aku bermain merpati untuk kesekian kalinya, dan entah kenapa setiap mempermainkan merpati itu sungguh lucu, walau kasihan si merpatinya sih. Untung hanya merpati, kalau hati abang dipermainkan gimana 😀

Puas dengan bermain merpati kamipun melanjutkan perjalanan di Danau Inle dengan seribu cerita!

Salam

Winny

Menikmati Pasar Tradisional dan Candi di Inle, Myanmar


“You will never find time for anything. You must make it.”

By Charles Buxton. M

Hello World

Myanmar, Februari 2017

Setelah puas melihat aksi Nelayan di Inle, kapal kami melanjutkan perjalanan menuju ke Pasar Tradisonal di Inle. Sepanjang perjalanan aku mengamati rumah apung yang ada di Danau Inle, Myanmar. Dalam hatiku “serasa di Kalimantan”. Dalam perjalanan, sesekali perahu kami berpapasan dengan turis di perahu, kadang kala perahu harus berhenti karena jalanan yang sempit. Kadang satu perahu harus mengalah agar bisa lewat. Sudah lama rasanya tidak menikmati pemandangan Danau yang berbeda. Bahkan saking menikmati berada di perahu kecil, sempat membuatku mengantuk, alhasil kutarik selimut yang disediakan guide kami untuk menutup kepalaku dari panasnya matahari. Pilihan menyewa perahu seharian demi wisata Inle memang merupakan pilihan yang tepat apalagi harga sewa seharian untuk kami bertiga lumayan murah. Yah itulah kadang gunanya jalan-jalan dengan teman karena bisa sharing cost.

Sesampai di Pasar Tradisional Inle, kapal kecil kamipun merapat. Dari kejauhan sudah terlihat di Puncak Bukit sebuah Pagoda dengan warnanya yang tak biasa, perpaduan antara kuning, putih dan cokelat. Waran kuningnya seperti emas sehingga ketika pantulan cahaya mengenainya membuat mata silau. Tempat pemberhentian kami bernama Taung Toe untuk melihat pasar dan Candi.

Ketika keluar dari perahu maka kami melihat jelas pasar tradisonal yang menjual berbagai hal. Yang terlintas dalam pikiranku teringat akan Indonesia. Karena waktu masih pagi saat kedatangan kami, maka di Taung Toe inilah kami langsung mencari makanan khas Myanmar. Alhasil setelah melewati jalanan setapak kecil dengan sisi kanannya Danau, kami berhenti di sebuah warung yang menjual aneka gorengan. Yang lucu gorengan yang kami beli itu bernama “Cireng” alias aci di goreng.

Aku, Melisa dan Ade pun memilih makanan sambil minum di warung berbaur dengan warga lokal. Saat makan anjing pemilik berkeliaran yang sempat membuatku takut, takut dijilat. Untuk sarapan ala gorengan Myanmur pun cukup murah hanya 2300 KS/3 orang. Barulah setelah kenyang kamipun melanjutkan perjalanan menuju ke Puncak Candi sambil melewati pasar tradisional.

Saat di Pasar tradisonal Taung Toe, aku sempat ngiler lihat mie namun apa daya karena mengejar waktu kami tidak berhenti. Kami malah berhenti saat membeli sarung khas Myanmar bernama “Longyi”.  Saat membeli Longyi, beberapa anak Myanmar mendekati kami, penasaran dengan kami. Padahal dari segi wajah, wajah kami mirip dengan mereka, bedanya kami tidak memakai thanaka alias bedak dingin.

Berada di Pasar tradisional Taung Toe menarik karena melihat aktivitas masyarakat lokal sehari-hari. Sehingga naik ke puncak CANDI juga menarik. Di atas bukit, banyak sekali Candi. Inilah candi warna-warni yang pernah aku kunjungi. Yang lucu saat kami berada di bagian Candi berwarna kuning, disini kami berbaur dengan turis asal Italy. Mereka kaget ketika Ade mengatakan kalau cameranya bisa mengambil photo 60 gambar dalam 1 menit. Bahkan saat kami berpose sesuka hati dengan Candi sempat membuat kami jadi bahan tontonan. Mungkin dia heran dengan tingkah narsis kami yang tingkat akut.

Saat di Candi juga kami masuk kedalam, seperti biasa sandal dan kaos kaki harus dilepas saat memasauki kawasan Candi di Myanmar. Di dalam Candi terdapat patung Buddha dan di dalam candi kecil di luar juga terdapat Candi lengkap dengant informasi dalam tulisan Myanmar yang tidak bisa kami baca. Memang informasinya minim namun terobati dengan pemandangan dibelakangnya.

Sayangnya perjalanan Candi di Taung Toe singkat namun seru, seru saat pengambilan photo. Bahkan pose ala-ala kami banyak sekali mulai dari photo ala Yoga, ala galau sampai ala Myanmar.

You just have 1 hour in this market, 
begitu kata guide kami dengan menunjukkan angka 1 di tangannya

Namun jangan tanya berapa lama kami di Pasar Taung Toe karena saat pulang kami harus buru-buru kembali ke kapal kami karena kami masih harus mencari wanita berleher panjang di Inle.

Rincian Pengeluaran Inle, Myanmar Hari Kedua

Bayar uang masuk ke Inle, Myanmar USD 10/orang

Naik tuk-tuk ke Muhi House 3000 KS/3 orang

Sewa Boat seharian Boat Tour Special Big Tour sunrise to sunset sightseeing Inle 30,000 KS/3 orang

Sarapan gorengan di Pasar Inle 2300 KS/3 orang

Makan siang di Inle 8000 KS/ 3 orang Tips boat 1700 KS/ 3 orang

Tips ke Nelayan Inle 5000 KS/3 orang

Tiket Bus malam dari Inle ke Bagan 18,000 KS/orang

Total Pengeluaran hari kedua di Myanmar

$10 + 1000 KS + 10,000 KS + 760 KS + 570 KS +  1600KS + 18,000 KS = $10 dan 31,930 KS

= 13640 KS + 31930 KS

= 45,570 KS

Tempat wisata yang dikunjungi di Inle, Myanmar

Sunrise melihat fisherman lengkap dengan gayanya yang unik, Taung Toe untuk melihat Market (Pagoda), In Paw Khon untuk melihat Silk and lotus weaving, Nampan untuk melihat Floating Village, Tobbaco and making boat, Phaung Daw OO Pagoda untuk melihat Buddha Image, Shwe in Den Pagoda untuk makan siang, Ywa Mah untuk melihat Long Neck Women Golad and Silver Umbrella, Kaylar (fisherman Village) dan tomato garden, Maing Thauk dan Nga Phe Chaung Monestery. 

Salam

Winny