Perjalanan Panjang ke Curug Kembar dan Ciajeng di Banten


It’s ironic, but until you can free those final monsters within the jungle of yourself, your life, your soul is up for grabs

By Rona Barrett

Curug Ciajeng
Curug Ciajeng

Hello World!

Carita Pandeglang, 19 Februari 2017

Sudah lama rasanya tidak menelusuri hutan serta merasakan sejuknya air terjun. Terakhir kalinya ketika masih zaman kuliah bersama teman-teman KOSTUTI alias Kosong Tujuh Teknik Industi USU kalau tidak salah tahun 2009-an ke Air Terjun Dwi Warna dimana harus berjalan kaki selama 3 jam untuk sampai ke Curug/air terjun menelusuri hutan dan capeknya tiada tara setara dengan warna birunya yang mempesona.

Bak dapat durian runtuh, ajakan Curug pun datang dari teman-teman baru di Ciwandan, tepatnya dari Aries dan sodara-sodaranya yang bernama Geng “Gedang Gelem”.

"Mbok, ikut Curug tah? Ke Ciajeng?, kata Aries

Ikut, jam berapa?, jawabku

Minggu jam 9, jawab Aries

Ok, Ikut ya!, jawabku

Harusnya janji ke Curug pas Pemilu namun karena teman-teman seperti Yani dan Ojung tidak bisa ikut akhirnya diundar di minggua. Alasan pengajakan mereka ke Curug karena kata Yani cocoknya itu aku ke adventure dan alam-alam sehingga menantang. Padahal aku mah “pejalan murah”, murah diajak kemanapun asalkan tempatnya belum pernah aku kunjungi 😀

Jalan ke Curug
Jalan ke Curug

Jam 9 kami pun memulai perjalanan menuju ke Carita dari Ciwandan. Perjalanan naik motor dengan 3 motor, aku dibonceng Aries, Ahmad dengan Ojung dan Faqih dengan Ima.

Tiga kereta dengan 3 motor berbarengan!

Sudah lama tidak touring sehingga bergabung bersama mereka seakan umur masih muda saja 🙂

Sebelum berangkat kami pun membeli bekal, seperti biasa “Nasi Padang” adalah teman kami dengan mengumpulkan Rp20.000 perorang sudah dapat nasi dengan daging. Kemudian Ojung sempat juga membeli minuman dan roti untuk dimakan pas di Curug, barulah kami memulai ekpedisi perjalanan ke Curug. Kebetulan Ojung sudah pernah ke Curug Kembar dan Curug Ciajeng atau Ciajeung sebelumnya sehingga dialah pemandu kami.

Untuk akses ke Curug Kembar dan Curug Ciajeng atau Ciajeung Banten dari Ciwandan ke Carita jalanan masih lumayan bagus namun pas masuk ke dalam Gang di Carita dengan tanda persawahan luas yang memanjakan mata, jalananya sudah mulai jelek. Ternyata jalanan yang kami lalu jelek itu tidak seberapa karena perjalanan mulai dari Gang Carita menuju ke Curug dipastikan jelek semua, jalanan bebatuan yang siap menghantam motor hingga jalanan berlubang nan batuan semua. Intinya dalam perjalanan ke Curug 95% jalannya rusak parah!!

Tempat Parkir ke Curug
Tempat Parkir ke Curug

Jalan yang jelek sungguh ekstrim, acap kali harus berpegangan erat dengan motor mulai dari menaiki perbukitan sampai menurunin perbukitan terus menaiki perbukitan lagi. Kadang kala rasanya hampir jatuh dari motor, unutng pegangan erat. Yang lucu sepanjang jalan kami melewati dua tiga pesta pernikahan. Hampir saja kami mampir untuk makan. Terus ada satu jalan menanjak yang membuat kami para penumpang yang dibonceng harus turun dan jalan kaki seperti Ima, aku dan Ahmad menaiki perbukitan yang siap membuat mandi keringat.

Aries, Ojung dan Faqih harus sekuat tenaga meng-gas motor mereka dalam menanjak di area yang jalannya super ekstrim jelek!

Dalam perjalanan ketika kami menunggu mereka menaiki motor, banyak penduduk lokal yang menyapa kami.

Mau ke Curug kah?, tanya si ibu yang menyapa kami

Iya Bu, masih jauh kah Bu?, tanya kami

Masih, Ibu saja tidak pernah ke Curug, sahut si Ibu.

Sungguh warga lokal sangat ramah kepada kami yang menunggu sambil beristirahat, paling tidak kerumunan ibu-ibu berbicara kepada kami walau hanya tegur sapa sepintas, dan meraka tahu betul kalau tujuan kami ke Curug.

Makan gorengan dulu, kata Faqih

Horee ayoo, seru kami

Nah pas tiba-tiba melahap gorengan lewatlan Abang Bakso tusuk yang kemudian dengan sigap aku memanggil untuk membelinya.

Bang Rp4000 saja baksonya, kataku

Sambil disorakin karena beli sedikit,

Tante uangnya sedikit, jawabku nyegir hihi :D
Tiket Masuk ke Curug
Tiket Masuk ke Curug

Setelah beristirahat, akhirnya kami melanjutkan perjalanan kami karena tujuan kami masih jauh. Memang cuaca sewaktu kedatangan kami agak mendung sehingga jalanan licin namun dengan perjuangan berat akhirnya kami sampai di Desa Cinoyong, tempat Curug Kembar dan Ciajeng berada. Mungkin sudah 4 jam berlalu dan bersiap untuk jalan kaki!

Dari area parkiran, setelah melewati tempat pesta pernikahan disekitar situ tampak warga lokal mendatangi kami. Untuk tiket masuk ke Curug Rp5000/orang namun belum termasuk tiket parkir motor Rp10.000.

Tiket resminya mana? tanyaku

Ini, kata warga lokalnya sambil memberikan karcis

Terus tiket parkirnya mana, tanyaku agak bingung

"alaahhhh", teriak mereka dengan kompak!

Bingung karena aku mengira Rp10,000 termasuk tiket masuk dan parkir ternyata beda dan pas aku menanyakan itu aku ditarik kompakan oleh kelima teman tripku ini

Eee, ayoo, tarik mereka!

Maklum sebagai orang yang sudah terbiasa jalan-jalan, tiket resmi itu penting sekali dan paling malas kalau bertemu dengan orang yang ngaku-ngaku penjaga suatu tempat wisata namun tidak berkontribusi dalam wisata tersebut alias masuk ke kantongnya  saja. Semoga pikiran negativeku ini tidak benar!

Jalan ke Curug Kembar dan Ciajeung Banten
Jalan ke Curug Kembar dan Ciajeung Banten

Dari tempat parkir, ternyata kami harus berjalan sekitar 1-1,5 jam dengan kaki. Padahal dari Ciwandan kami jam 9 sampai di parkiran Desa Cinoyong sudah jam 11:30, dan dari pintu menuju ke Curug Kembar dan Ciajeng kami harus berjalan kaki lagi.

Beramai-ramai berjalan, keringat sudah bercucuran padahal perjalanan baru dimulai. Wajar duduk jadi dibonceng hampir 2,5 jam benar-benar membuat tepos belum lagi jalan kaki dengan jalan yang licin.

Duh salah pakai sepatu ke Curug karena warnya putih, si putih jadi korban!

Untuk menuju ke Curug lumayan seru walau cukup mengurus tenaga. Perjalanan kurang lebih 2 jam hambir mmebuat ngos-ngosan apalagi aku yang sudah lama tidak trekking.

Disini umur ternyata tidak bohong!

Tante sudah jompo ini, kataku kepada mereka

Sambil ditertawai mereka!

Ayoo, semangat jalan, kataku menyemangati diri dan teman-teman!
Perjalanan ke Curug
Perjalanan ke Curug

Pemandangan dalam perjalanan ke Curug Kembar dan Ciajeng sangat indah mulai dari persawahan, perbukitan serta masuk ke hutan. Udara hutan sangat segar serta pepohonan rindang, jalanan setapak yang licin menambah daya tarik ke Curug Kembar dan Curug Ciajeng yang merupakan wisata alam tersembunyi di Desa Cinoyong, Banten.

Tidak sia-sia perjalanan kami dari Kampung Jaha, Desa Cinayong, Carita Padeglang

Sesampai di Curug jam setengah satu, hujan pun turun, akhirnya  kamipun berteduh di dalam pondok yang ada dekat Curug sekalian makan bekal yang telah kami bawa.

"Makan yuk, udah jam setengah satu dan lapar", kata Ahmad

Lalu kami berenam pun duduk melingkar sambil makan siang.

Tiba-tiba pas makan, “bruk” suara kayu pondok kelihatan tidak bisa menahan berat kami. Hingga akhirnya aku pindah ke depan atas suruhan Aries. Selang saat aku pindah kemudian kami menyuruh Ahmad mengambil tongsis untuk berphoto hal yang tak diiinginkan pun terjadi.

"Brakkk, tempat duduk kami patah dan pondok nyungsep ke bawah"

Alhasil aku pindah dan teman lain masih melanjutkan makan siang.

Curug Kembar dan Ciajeung Banten
Curug Kembar dan Ciajeung Banten

Hal yang aku sangat kagumi dari Curug Kembar dan Curug Ciajeng karena adanya tempat sampah yang sediakan masyarakat lokal sehingga kebersihan Curug tetap terawat.

Hal ini patut diapresiasi  dan semoga kedepannya curug Kembar dan Curug Ciajeng tetap alami dan bersih.

Untuk jarang kedua Curug cukup berdekatan satu sama lain, kalau Curug Kembar berada di bawah maka Curug Ciajeng keatasnya lagi. Artinya kami dari pondokan harus berjalan lagi keatas Curug Ciajeng sekitar 15 menit melewati jalanan sempit dengan pemandangan air jernih di sisi kirinya.

"Yuk ke Curug Ciajeng", ajak Ojul kepada kami

Padahal masih geremis namun kami berenam berjalan menuju ke Curug Ciajeng.

 

Curug Kembar dan Ciajeung Banten
Tong Sampah di Curug Ciajeng dan Kembar, Banten

Curug Ciajeng cukup indah menurutku karena air terjunnya dari bebatuan yang tinggi, disekelilingnya pepohonan hijau sehingga serasa berada di Amazone (padahal belum pernah ke Amazone).

Debit airnya juga lumayan deras, sayangnya untuk mandi di Ciajeng tidak begitu bisa karena dibawahnya tidak bergitu luas. Kebanyakan pengunjung hanya berphoto saja dan mandi di Curug Kembar.

Kami hanya 30 menit saja di Curug Ciajeng dan berada dibawahnya cukup membuat basah.

Ah sudah lama tidak ke Air terjun!

Dan yang paling aku heran itu, meski berada di area hutan, namun Alhamdulillah kami tidak menemukan hewan yang berbahaya, paling aku bertemu ular itupun di sawah pas pulangnya dan bukan di area hutan. Kami hanya mendengar beberapa suara burung ketika berjalan dari Curug Ciajeng ke Curug Kembar.

Namun walau begitu sayangnya pas di perjalanan aku melihat adanya penebangan hutan karena kayu-kayunya diangkut dalam mobil dan tentu saja aku tidak tahu penebangan itu sudah ada izinnya atau tidak karena sayang sekali jika hutan selebat dan seindah ini harus ditebang, mengingat indahnya Curug di dalam hutan tersebut!

Curug Kembar dan Ciajeung Banten
Jalan ke Curug  Ciajeung Banten

Dari Curug Ciajeng kamipun menuju ke Curug Kembar. Beruntungnya pas menuju ke Curug Kembar hujan sudah mulai reda, namun tetap jalanan merah yang kami lalui licin. Kami juga harus menuruni jalan untuk sampai ke Curug Kembar dengan hati-hati.

Sama dengan namanya maka Curug Kembar ini terdari dari dua, tingginya memang tidak begitu setinggi Curug Ciajeng dari Bukit bebatuan namun sangat cocok untuk mandi. Disinilah kelima teman perjalananku ini mandi, sementara aku dari jauh cukup puas melihat mereka mandi sambil menahan dingin air, tentu saja air terjun ini membuat mereka menggigil. Karena aku melihat ekpresi menahan dingin dari mereka.

"Mandi teh, sini", teriak mereka

"Ah tidak, aku memandangi saja", kataku
Curug Ciajeung Banten
Curug Ciajeung Banten

Setelah kelima teman puas mandi, akhirnya kami memutuskan untuk pulang karena jam sudah menunjukkan jam 3 sore.  Temanku mengganti pakaian dekat area Curug Ciajeng dan Kembar karena terdapat tempat penggantian baju di dekat pondok milik warga setempat sekaliguas penjaga Curug. Si Bapak yang berjualan disekitar area Curug sangat rajin dalam membakar sampah yang ada.

Saat menunggu Ima, Faqih, Ojul, Aries dan Ahmad ganti baju, aku memesan jahe hangat dari pondok si Bapak warga lokal. Harganya cukup murah Rp4000/gelas.

Aku memilih duduk di bebatuan dekat Curug sambil minum segelas jahe hangat, dan menikmati hidup!

Ah Indonesia memang terlalu indah!

Beruntungnya bisa dibawa ke tempat yang penuh tantangan dan perjalanan jauh terbayar dengan pemandangan Curug yang mampu membius mata.

Say good bye dengan kegalauan! 😀

Curug Ciajeung Banten
Curug Ciajeung Banten

Setalah semua teman sudah siap sedia akhirnya kami pun melanjutkan pulang karena kami tahu betul perjalanan kami masih panjang. Meski di Curug kami hanya bersantai selama kurang lebih 2,5 jam sementara jalan kaki 3 jam serta jalan dengan motor 5,5 jam namun cukup puas.

Kalau kata Ojung, ini baru benar-benar petualangan!!

Curug Ciajeung Banten
Curug Ciajeung Banten

Tidak ada salahnya berteman dengan siapapun karena dari teman-teman baru inilah aku jadi tahu tempat baru!

Akhirnya kami pun pulang dari Curug Ciajeng dan Kembar dengan membawa kenangan tentang alam Indonesia nan rupawan

"Mbok rempong ya!"
Curug Kembar Banten
Curug Kembar Banten

Biaya Pengeluaran ke Curug Ciajeng dan Curug Kembar, Padeglang Banten

-Parkir motor Rp10.000

-Tiket masuk Rp5.000

-Nasi Padang Rp20,000

-Jahe Panas Rp4000

Total pengeluaran Rp59,000

Cukup murah kan?

Curug Kembar Banten
Curug Kembar Banten

Tips Perjalanan ke Curug Ciajeng dan Kembar

1. Mobil tidak begitu direkomendasikan ke Curug karena jalannya yang super jelek sehingga motor adalah pilihan terbaik dan kalau bisa motornya jangan matic karena areanya yang terjal dan jalan yang berlubang

2. Cara akses ke Curug Kembar dan Ciajeng dari Jalan Raya Padarincang Serang, Pasauran Calung namun bisa juga dari Bengras Kaoyang karena lokasi Curug berada di Gunung Ci Ajeng Kampung Jaha, Desa Cinoyong, Carita Padeglang, Banten

3. Terdapat penjual makanan di Curug beruapa minuman hangat dan mie sehingga yang tidak membawa makanan jangan khawatir karena ada penjual makanan

4. Sebaiknya memakai sepatu atau sandal gunung karena trekking jalannya lumayan ekstrim apalagi pas musim hujan. Jaket hujan dan tongkat trekking boleh juga dibawa

5. Membawa pemandu yang mengetahui jalan akses ke Curug biar tidak nyasar

Curug Kembar dan Ciajeung Banten
Curug Kembar dan Ciajeung Banten

Tiket Masuk ke Curug Kembar dan Curug Ciajeng/Ciajeung

Rp5000/orang

Parkir motor: Rp10.000

Alamat Curug Kembar dan Curug Ciajeng/Ciajeung

Desa Cinoyong

Kecamatan Carita

Kabupaten Pandeglang

Provinsi Banten

Jalan Curug Kembar dan Ciajeung Banten
Jalan Curug Kembar dan Ciajeung Banten

PS: ini hasil sepatu setelah pulang dari Curug Kembar dan Ciajeng.

Sepatu
Sepatuku

Ada yang sudah pernah ke Curug Ciajeng dan Kembar, Banten?

Salam

Winny

Iklan

Cerita Horor Perjalanan


You gain strength, courage, and confidence by every experience in which you really stop to look fear in the face. You are able to say to yourself, ‘I lived through this horror. I can take the next thing that comes along.

By Eleanor Roosevelt

solo

Hello World!

Ciwandan, 14 Februari 2017

Jujur saja aku tipe penakut. Bahkan banyak yang tidak percaya kalau aku sebenarnya penakut terlebih yang berhubungan dengan yang namanya makhluk halus. Bukan apa-apa, aku tidak pernah membayangkan makhluk-makhluk yang kasat mata itu. Banhkan nonton film horor saja ogah!

"Masa sih dirimu penakut, Win? Gak meyakinkan kata teman

"Jangan bilang warna kesuakaanmu merah jambu juga? 
lanjutnya sambil nyengir

"Iya, jawabku

"Wkakakkakakaka, kagak cocok deh samamu dengan pink, 
sambil tertawa terpingkal-pingkal.

Haloooo, apakah aku kelihatan setangguh itu makanya tidak ada takut-takutnya?

Aku penakut loh!

Namun apa boleh buat ternyata dari beberapa perjalanan sempat memiliki pengalaman horor, horornya dikarena aku membawa teman yang ternyata memiliki indera keenam. Terus dengan polos si kawan itu menceritakan apa yang dilihatnya. Menakutkannya justru cerita teman melihat yang tak terlihat olehku terakhir aku membayangkannya, asli ke toilet saja aku tidak berani, harus ditemani.

Nah dari sekian banyak perjalanan, paling tidak ada 4 pengalaman yang pernah aku alami dengan gaib-gaiban!

4 Daftar pengamalam horor saat perjalanan

1. Dielus Kepala oleh Makhluk halus di Solo

Kejadiannya pas aku, Reza, Sarta, Gladies, Desti dan teman bule asal Swiss “Cecil” menginap di salah satu penginapan di Solo. Alasan pemilihan penginapan itu karena baca di blog teman blogger terus dari gambar kelihatan bagus. Eh siapa sangka sampai disana “zonk”. Kami tiba tengah malam, terus teman yang kami bawa salah satunya indigo alias yang memiliki penglihatan yang tak biasa. Pas masuk ke dalam penginapan, nuansa Jawa nya terkenal sekali, si teman sudah mulai pucat pasi. Kemudian hawa-hawa tak enak juga kami rasakan kemudian kami dituntun menuju ke kamar yang hendak kami tempati.

Dari pintu masuk hingga ke kamar yang kami tuju, kami melewati lorong dan disamping lorong itu terdapat 3 gambar anak kecil di dinding kemudian aku berseru “Gila serem amat ini photo, sambil mengambil photo yang ditengah dari 3 gambar tersebut”. “Jepret” kemudian berjalan lagi menuju ke kamar yang hendak kami tempati yang berada di bawah. Pas ditunjukkan kamar bawah, si kawan yang punya mata tak biasa “gemetaran” dan tidak mau menginap di kamar itu, alhasil melihat reaksi si kawan ini kami semua jadi ketakutan sehingga awalnya kami memesan dua kamar malah memesan satu kamar saja itupun si Reza satu-satunya cowok jadi ikut sekamar dengan kami bertiga. Sementara Cecil geleng-geleng dengan tahayul yang kami percayain bahkan si Cecil berani tidur sendiri.

surakarta

Pas saatnya tidur aku sulit sekali tidur kalau dalam bahasa Bataknya Padangsidempuan “busa-base”, terus saat aku melihat temanku di pada nyenyak aku malahan merasa iri.

Wiii mereka tidur nyenyak sementara aku tidak bisa tidur, dalam hatiku

Terus melihat ruangan takut sendiri, hanya ada cahaya dari toilet karena lampu dimatikan padahal dalam hati udah baca ayat-ayat supaya tidur tapi tetap tidurnya tidak nyenyak. Alhasil akupun tidur ayam!

Hingga keesokan harinya pas di pagi hari

"Wei, kalian tidurnya nyenyak banget, aku gak bisa tidur", kataku

"Aku juga gak bisa tidur kok", kata Sarta

Aku juga, kata Gladies dan Reza

Perasaan kalian nyenyak, tidurnya kataku

Tau gak Win, semalam dirimu dielus-elus, kata Desi

Yang sontok membuat wajahku jadi pucat dan teman yang lain pada kepo.

Dielus gimana maksudnya, tanya Reza dengan semangat

Iya dielus, kepalamu disandarin kepahanya terus dielus-elus, kata Desti

Dirimu sih bandel ngambil photo di tengah itu, kata Desti

Mendengar itu bulu kudukku langsung merinding dan photo di camera langsung di hapus.

Yuk cabut check out dari sini kataku dengan penuh ketakutan!

2. Uji Nyali di Lawang Sewu

lawang-sewu

Eh kalau kita ke Semarang ke Lawang Sewu yuk 
kan sering tuh jadi tempat shooting lain dunia lah, 
Uk-Uk lah dan masih banyak lagi

Tapi kalau bisa malam ajalah kita ke Lawang Sewunya biar seru!!

Waktu itu aku, Sarta, Andisu, Irwan, Desti dan Nirwan sengaja berkunjung ke Lawang Sewu jam 9 malam (9 malam!!!!)

Kaminya emang kurang kerjaan udah jelas membawa satu teman memiliki indera keenam, alhasil sepanjang tour malam Lawang Sewu ketakutan kami malahan melihat pucat pasi teman kami. Apalagi saat melihat terowongan dibawah Irwan gemetaran melihat ada yang lewat. Untungnya aku tidak melihat yang dilihatnya!

Kemudian pas dipojokan ke arah lantai 3 kalau tidak salah, aku, Sarta, dan Andisu serta Nirwan dan Irwan hendak menaiki tangga ke arah kamar kosong nan gelap sementara dari bawah Desti pucat sekali.

Aku kalau ke atas gak ikut ya, kata Desti

Sarta kemudian yang melihat kepucatan yang tak biasa langsung turun dari tangga. Sementara aku, Andisu dan Irwan berhenti sejenak hingga kami mengurungkan niat ke lantai 3 dan dengan beribu langkah cepat-cepat meninggalkan Lawang Sewu.

Apa sih yang kau lihat di lantai 3 itu?,
tanya teman-teman penasaran

Banyak yang disitu paling banyak, jawabnya

Ternyata mengunjungi Lawang Sewu pas malam hari bukanlah pilihan tepat terlebih ketika membawa teman yang bisa melihat alam gaib.

3. Kunti lewat di Goa Ngalau Indah Payakumbuh

goa-ngalau-indah

Perjalanan ngebet ingin mengunjungi semua tempat wisata di Payakumbuh dalam waktu singkat bukanlah pilihan yang tepat. Waktu trip ke Sumatera Barat pertama kali, aku ditemani Nyakmat ke Goa Ngalau Indah di Payakumbuh. Salahnya kami adalah jadwal kedatangan kami waktu itu pas sore hari. Udah tahu sore namun kami tetap bela-belain naik ke atas Bukit demi ke Goa Ngalau Indah.

Pak, masih bisa masuk ke dalam Goa?, tanyaku

Bisa Mbak, tapi sudah sedikit pengunjungnya 
karena sudah mau maghrib, kata petugas

Namun saking penasarannya akhirnya aku dan Nyakmat berjalan menuju ke depan pintu masuk Ngalau Indah. Belum juga masuk kedalam Goa, masih di depan pintunya saja aku melihat Nyakmat terdiam kaku berhenti dengan muka pucat sambil melihat kosong ke dalam Goa seolah sedang terhipnotis. Sementara aku melihat ke arah pandangannya tidak ada siapa-siapa.

"Win, nakkon be daboo masuk ita tu bagasan, kata Nyakmat"

(Win, tidak usah kita masuk kedalam ya)

 Asi?, tanyaku
"Adong uida nalewat nabottar disi, kata Nyakmat"

(Kenapa? Ada aku lihat warna putih disitu)

Akhirnya mendengar itu aku berlari dan Nyakmat juga berlari, menjauh dari tempat itu dan buru-buru pulang.

4. Suasana Mistis di Candi Cetho Karang Anyar

candi-cetho

Salahkan saja jadwal kedatangan kami karena kami tiba pas magrib di Candi Cetho. Kenapa kami baru tiba di Karang Anyar baru sore dikarenakan waktu trip keliling wisata Solo bersama  Reza, Sarta, Gladies, Desti dan Cecil jatuhnya jalan sesingkat mungkin daftar wisata sebanyak mungkin. Tanpa kapok seperti biasa membawa teman yang lagi-lagi bisa melihat dan pas kami memasuki ujung Candi aura mistis membuat merinding. Mungkin walau tidak bisa melihat, namun asli berada di Candi Cetho pas menjelang maghrib membuat bulu kuduk berdiri. Belum lagi pas si kawan lagi-lagi melerai untuk tidak ke ujung Candi.

Kalau mau kesana, kalian saja ya, aku tidak ikut

Alhasil mendengar itu kami tidak berani melanjutkan perjalanan ke jalan ujung Candi dan meninggalkan tempat dengan seribu langkah karena kami tahu betul teman kami ini diberikan penglihatan yang kami tidak bisa lihat.

Ah timing kami tidak tepat ke Candi Cetho, padahal Candi Cetho cukup mengagumkan, mungkin lain kali harus datang pada siang hari.

Begitulah 4 cerita horor di 4 tempat berbeda yang pernah aku alami, dan rata-rata yang membuat horor adalah si kawan karena ketakutannya justru membuat kami takut apalagi pas melihat reaksi pucat si kawan karena si kawan ini melihat yang tidak bisa dilihat mata kami, si mata biasa.

Ada yang punya cerita horor pas perjalanan?

Salam

Winny

Weekend Trip ke Pantai Tanjung Lesung


There is always enough light at the end of the tunnel, as long as you strife to not end your Journey inside the tunnel.

By Unknown

pantai-tanjung-lesung

Hello World!

Banten, 5 Februari 2017

Sejak mutasi ke Ciwandan per Natal 2016 maka jika waktu libur datang kerjaku adalah bolak-balik Jakarta atau kalau sedang tidak ke Jakarta berkurung diri di Mess. Penyebabnya sih sederhana karena kendaraan susah dan malas juga kemana-mana. Tidak dengan weekend trip di bulan Februari, karena aku sudah mulai beradaptasi dengan lingkungan dan teman-teman baru di Pabrik. Nah ternyata berteman dengan siapapun itu seru loh jadi menjadi supel menjadi kelebihan tersendiri. Salah satunya Aries yang berumur 19 tahun ini merupakan pemuda Ciwandan atau kata kerennya warga lokal yang ternyata punya hobi menjelajah wisata di sekitar Banten. Karena dia tahu aku suka jalan akhirnya diajaklah jalan-jalan disekitar Banten.

"Teh, minggu kemana? Mau ikut ke Tanjung Lesung tak?, kata Aries

Mau, kataku tanpa pikir panjang

Kapan?, tanyaku langsung

Tanggal 5 Februari, jawabnya

"Ok ntar aku ikut ya, aku tidak akan ke Jakarta tanggal itu, jawabku.

Sejak itu aku mengosongkan jadwal demi jalan-jalan karena kebetulan aku belum pernah ke Tanjung Lesung. Yang aku tahu kalau Tanjung Lesung itu berada di Banten dan merupakan resort. Walau sebenarnya aku bukan penggemar wisata Pantai namun sudah lama tidak piknik akhirnya tidak ada salahnya liburan mantai dulu sebelum jadi manten :D. Maka jadilah weekend trip ke Pantai Tanjung Lesung.

Tanjung Lesung
Tanjung Lesung

Hari H aku, Aries dan 3 sudaranya Maswan, Yani dan Ahmad sudah berkumpul. Awalnya kami hendak ke Tanjung Lesung jam 7 pagi namun kami baru berangkat jam 9 pagi dari Ciwandan. Yang lucu dari perjalanan dengan Aries karena teman perjalanannya itu satu keluarga semua alias Saudara dan mereka memang sering jalan-jalan keliling wisata Banten.

Pagi-pagi kami sudah berangkat dengan semangat 45 menuju Tanjung Lesung dan berharap hari cerah karena sehari sebelumnya hujan. Kurang cantik ke Pantai kalau pas hujan! Eh kami beruntung karena dalam perjalanan kami ke Tanjung Lesung cuaca bersahabat. Sayangnya karena kami berangkat pagi sehingga belum sempat sarapan alhasil sepanjang jalan menahan lapar agak lama lagi karena meski kata Google Map jaraknya hanya 2 jam namun perjalanannya 3 jam. Maklum kamimengunjungi Tanjung Lesung untuk pertama kalinya.

Tanjung Lesung
Tanjung Lesung

Aries di Tanjung Lesung ada jualan pecal gak?, tanyaku pada Aries
Dicoba dulu, kata Aries

Tunggu ini pecal yang dimaksud bukan pecel lele kan? Karena kalau orang 
Jakarta biasanya pecel itu ayam bukan sayur, sahut Yani memastikan

Pecel sayur, ada gak?, tanyaku

Harusnya di Anyer banyak tapi sudah lewat, timpal Aries

Akhirnya sepanjang jalan dari Ciwandan-Tanjung Lesung yang aku cari adalah penjual pecal bak orang ngidam.  Namun tak satupun ada pecal dalam perjalanan yang ada kalau tidak Bubur Ayam, nasi uduk atau nasi Padang.

Pokoknya sepanjang perjalan aku selalu menanyakan dimana bisa menemukan pecal hingga keempat teman perjalananku ini hapal betul kalau aku ingin pecal.

“PECAL”, kata mereka serentak!!

Tiket Tanjung Lesung
Tiket Tanjung Lesung

Perjalanan Ciwandan-Tanjung Lesung sebenarnya lumayan jauh karena kami masih mencari jalan kemudian ada beberapa jalanan yang masih jelek. Agak miris melihat jalanan raya di Banten yang rusak dan berlubang.

Sepanjang perjalanan kami membahas hal yang tidak penting mulai dari gosip, politik hingga ujung-ujungnya tentang perjalanan. Serta pemandangan kiri-kanan itu sangat indah mulai dari persawahan, laut rumah penduduk, pasar sepanjang jalan Anyer-Carita hingga ke Labuhan. Perjalanan ke Tanjung Lesung juga mengingatkanku ketika melakukan trip ke Ujung Kulon sekitar 4 tahun yang lalu.

"Aries berhenti Geh" kata Yani ketika 
kami melewati sebuah warung Nasi Padang

"Kita beli nasi disni aja nanti siapa tahu gak ada 
jualan di Tanjung Lesung", katanya

Dan kami pun setuju dengan ide dari Yani sambil memberikan uang kepada Yani. Tentu saja ide Yani inilah yang menjadi penyelamat kami saat berada di Tanjung Lesung.

Dalam perjalanan kami berhenti paling tidak dua kali berhenti di Pom bensin dan beli cemilan. Kebiasaan kalau jalan-jalan, nyetok cemilan!

Pantai Tanjung Lesung Banten
Pantai Tanjung Lesung Banten

Sesampai di Tanjung Lesung sekitar jam 12 siang kami sempat bingung masuk kedalamnya karena merupakan kawasan resort, pohonnya rapi, jalananya tertata dan tamannya bagus lagi. Sampai-sampai Maswan menelepon temannya memastikan bahwa yang kami kunjungi adalah benar karena memang sepanjang jalan modal kami hanyalah mengikuti petunjuk jalan. Hingga sampai di Post Satpam dari Tanjung Lesung

Mana Pantainya, tanya Aries

Tanjung Lesung ini "resort" ya?, tanya Yani

Setahuku sih iya, kataku
Tapi aku kira ada Tanjung Lesung yang lain jawabku dengan polos

Kemudian si Bapak petugas menghentikan mobil kami

Selamat siang, mau kemana?, tanyanya 

Ke Pantai Tanjung Lesung, benar kan ya Pak ini jalannya, tanya kami

Kemudian si Bapak mengiyakan sambil memberikan kartu pass untuk kami sambil berbicara Bahasa Sunda namun kami tidak mengerti.

Pantai Tanjung Lesung Banten
Pantai Tanjung Lesung Banten

Akhirnya kami berjalan lurus hingga sampai kepada penjaga satpam kedua yang mengatakan kami salah jalan.

"Emang si Bapak pertama ngomong apa?" tanya Yani

"Endi", kata Aries disambut gelak tawa kami 

Kocak sih meski pergi dengan orang lokal namun bisa nyasar juga sampai Maswan telpon bolak-balik temannya loh dimana pantai Tanjung Lesung (padahal udah jelas-jelas di Tanjung Lesung).

"Belok sebelum putaran kedua" kata si Pak Satpam kedua

Hingga akhirnya kami sampai di depan Pos penjaga Pantai Tanjung Lesung.

Dari papan informasi terdapat tulisan “Harga tiket masuk Tanjung Lesung weekend Rp40,000/orang, Senin-Jumat Rp25,000”

"Tiket masuknya Rp40,000/orang dan parkir mobil Rp5000", kata petugas
"Pak tidak bisa borongan per mobil ta", jawab Yani menwar

"Maaf tidak bisa , Pak", kata petugas

"Jadi gimana, mahal banget ini Pantai", kataku

"Lanjut sajalah kata Maswan, Ahmad, Aries dan Yani"

Alhasil Pantai Tanjung Lesung merupakan pantai pemecah rekor Pantai termahal yang pernah aku kunjungi dalam hidupku. Habis tinggal di Kupang 10 bulan depan pantai eksotis gratis pula membuat benchmark Pantaiku jadi tinggi.

Pantai Tanjung Lesung Banten
Pantai Tanjung Lesung Banten

Memasuki area Tanjung Lesung, pantainya lumayan bersih. Banyak yang bisa dilakukan termasuk berenang di Pantai, dan aktivitas lainnya seperti berhemah, bersepada, main banana boat namun tentu saja harus mengeluarkan koceh lagi.

Yuk, puas-puasin di Pantai Mahal, kataku

Alhasil kami berlima mengambil nasi Padang yang kami beli setelah berphoto di depan tulisan “Beach Tanjung Lesung”.

Gila enak banget nasi Padangnya, kataku
Untung tadi kita beli ya, kata Yani yang kemudian yang kami aminin.

Ternyata makan nasi Padang sambil menatap lautan lepas itu sungguh menyengkan. Coba tidak ada nasi Padang dipastikan kami kelaparan atau paling mentok makan deh di resort Tanjung Lesung.

Hal yang aku suka di Tanjung Lesung pas tidur-tidur di bangku yang ada serta bisa melihat anak Gunung Krakatau !!

Pantai Tanjung Lesung Banten
Pantai Tanjung Lesung Banten

Akhirnya kami berlima menjelajah setiap sudut Pantai Tanjung Lesung karena tidak mau rugi.

Walau mahal namun ternyata seru juga bersama mereka apalagi pas photo-photo pakai Tongsis lupa umur coy!!

Padahal yah diantara mereka aku yang paling muda!!

Apa yang menarik di Tanjung Lesung? tanyaku

Jembatannya, jawab mereka

Eh pas sampai di sana ternyata jembatannya rusak.

Maaf jembatan rusak!!

Alhasil kami numpang photo di jembatan rusak.

Eh yuk photoin di Jembatan namun posenya sambil menatap dan berseru, 
eh jodoh kamu dimana?, kataku

Mereka sontak ketawa ngekeh mendengar celotehanku anehku

Pantai Tanjung Lesung Banten
Pantai Tanjung Lesung Banten
Pas di jembatan eh tiba-tiba anginnya kencang.

Dirimu makai baju hijau sih Yani, kataku

Makanya jadinya anginnya kencang kayaknya sih ngusir, lanjutku

Seru juga ternyata jalan bareng mereka!

Terus masih jadi mandi di Pantai? tanyaku lagi
Pantai Tanjung Lesung Banten
Pantai Tanjung Lesung Banten
Tanjung Lesung
Tanjung Lesung

Walau Pantainya tidak rekomended (karena aku bukan fans berat wisata pantai) untuk harga yang lumayan namun trip weekend ke Tanjung Lesung kali ini seru, seru dengan tawa!

Aku jadi merasa muda 😀

 

Lokasi Tanjung Lesung

Hotel and Resourt Tanjung Lesung

Banten

Harga tiket masuk Green Coral

Rp40.000/ orang (Weekend)

Salam

Winny

Nyasar Naik Kereta di Jakarta


You’ll be fine. Feeling unsure and lost is part of your path. Don’t avoid it. See what those feelings are showing you and use it. Take a deep breath. You’ll be okay. Even if you don’t feel okay all the time. By Louis C.K.

484px-Merdeka_Square_Monas_02

Hello World!

Jakarta, 29 Januari 2017

Coret untuk kata traveller  karena meski sudah pernah tinggal di Jakarta selama 4 tahun bukan jaminan kalau aku telah khatam Jakarta dengan baik terutama transportasinya. Karena di penghujung akhir Bulan Januari aku malah mengalami hal yang memalukan terutama dalam hal Nyasar di Jakarta. Iya aku nyasar di Ibukota terus nyasarnya naik KRL pula, kurang tercoreng apa coba aku sebagai orang yang suka jalan-jalan dan udah kemana-mana tapi di tempat tinggal sendiri malah nyasar!!

"Mel, aku ke tempatmu jam 11 ya dari Kuningan, kita mau jumpa dimana?,
tanyaku kepada Melisa

"Jumpa di stasiun Tangerang aja Win, aku pulang Gereja jam segitu,"
jawab Melisa

Akhirnya karena saking asiknya Nonton streaming film Hacksaw Ridge tentang Tentara Amerika yang tidak pakai senjata saat perang di HPnya Mbak Ninik, ujung-ujungnya aku baru berangkat dari Kuningan sekitar jam 11.30 siang. Langsung kemudian aku naik Gojek menuju Stasiun Tanah Abang.

Mel, kalau dari Stasiun Tanah Abang tidak perlu turun kereta lagi kan ya? 
tanyaku kepada Melisa

Tapi entah kenapa Melisa tidak juga membalas whatsappku. Karena aku sebenarnya sangsi apakah transfer kereta lagi atau tidak karena sudah lama sekali aku tidak menggunakan KRL Jabodetabek, terakhir kali menggunakan KRL Jabodetabek di akhir Desember itupun ke Serpong dengan naik kereta dari Stasiun Tanah Abang juga. Namun waktu itu aku ingat betul sekali naik kereta Arah Serpong tanpa transit.

Terakhir kali ke Tangerang itu di Tahun 2015 bersama Rinta, Defi dan Indra. Waktu itu kami trip wisata Tangerang seharian bisa dibaca kisahnya disini. Namun waktu itu aku tentu saja tidak sendiri sehingga tidak nyasar ke Tangerangnya.

Peta Rute KRL Jabodetabek (Sumber jakartabytrain)

Karena belum ada balasan Melisa apakah harus transit atau tidak, akhirnya dari Stasiun Tanah Abang aku menanyakan kepada petugas arah ke Tangerang yaitu di Peron 2 Stasiun Tanah Abang. Walaupun hari minggu namun ternyata stasiun Tanah Abang itu ramai!! Nah pas masuk kedalam kereta aku sempat curiga karena pas sampai di Stasiun DURI, penumpang yang banyak itu pada turun mulai dari Emak-emak yang bawa barang sampai Emak-emak yang bawa Anak berbondong-bondong turun sampai kereta sepi. Sementara aku duduk manis tanpa mengikuti langkah mereka.

"Win turunnya di Batu Ceper aja kita mainnya ke Tangcity aja, 
begitu arahan Melisa yang aku ingat dari 1 jam lalu

"Nanti naik angkot Ijo sekali aja, ongkosnya paling Rp3000, lanjutnya

Ok aku harus turun di Batu Ceper itu lah batinku di dalam kereta yang sudah PW. Tenang dan santai sambil menikmati sekeliling. Sesampai di Stasiun berikutnya Muara Angke aku masih santai dan merasa kalau Stasiun Batu Ceper mungkin masih jauh.

Next stop Kampung Bandan station, dari speaker KRL

Disini aku mulai curiga, ini ke Tangerang kenapa malah mutar-mutar Jakarta ya?  Ah tapi kan ini ke baru saja lewat Muara Angke harusnya itu arah ke Tangerang dalam hatiku. Ah mungkin rutenya mutarin Jakarta dulu kali baru ke Tangerang dalam hatiku sambil menenangkan rasa curiga dihati hingga aku memastikan menanyakan kepada Melisa.

"Mel, ini kalau ke Stasiun Batu Ceper harus mutar-mutar Jakarta dulu ya?
tanyaku via Whatsapp

Namun belum ada juga balasan dari Melisa. Aku mulai khawatir karena melihat jam satu namun kok tidak sampai-sampai. Sementara stasiun Angke sudah lewat, stasiun Kampung Bandan sudah lewat bahkan Kemayoran juga lewat.  Waduh, sudah tidak benar ini batinku hingga akhirnya aku melihat peta Rute KRL JABODETABEK di atas dan kemudian menanyakan kepada Mas-Mas yang duduk disampingku

"Mas kalau ke Tangerang masih lama ya? tanyaku

"Waduh Mbak harusnya tadi turunnya di Duri, 
ini bakalan mutar sampai Bogor loh", katanya

Mak mati dalam hatiku!! PANTAS saja tidak sampai-sampai bahkan sampai aku tuntas mendengarkan cerita Mas-mas ini dengan temannya tentang film yang nyuri waktu berjudul “intime” tamat aku dengar malah aku gak sampai-sampai ke Tangerang.

"Gini aja Mbak, Mbak turun di Jatinegara aja kemudian transit ke Manggarai 
lalu balik lagi ke Duri", katanya

Terus mukaku pucat pasi karena aku harus segera ke Tangerang, kasihan temanku yang sudah menunggu.

"Atau Mbak tetap naik Kereta ini nanti pasti balik lagi ke Duri 
tapi lama bisa 30 menit sampai 1 jam katanya

Kemudian temannya berkata

"Nanti mbaknya nyasar lagi kasihan", katanya

Maklum dengan Tas Gede Merahku terus kelihatan banget bebannya segede Gaban menimbulkan iba bahkan aku merasa kelihatan banget kalau aku bukan Orang Jakarta dan siapa yang bakalan percaya kalau nyasar begini sudah pernah tinggal 4 tahun di Jakarta!

"Yaudah Mbak, turun di Jatinegara aja biar cepat, sarannya

Akhirnya aku mengikuti saran si Mas-mas dan turun di Stasiun Jatinegara kemudian transit di Stasiun Manggarai. Di Stasiun Manggarai ada seorang Mas lain yang mungkin dia melihat aku agak bengong-bengong dan berusaha menolongku.

"Mbak ikutin saya saja saya nanti turunnya di Stasiun Tanah Abang, 
"Mbak turun di Stasiun Duri, katanya

Sambil berlari-lari di Stasiun Manggarai menaiki kereta yang menuju Duri. Sesampai di stasiun Tanah Abang si Mas tadi memberikan kode “1 stasiun lagi” sambil melambaikan tangannya dan disambut terimakasihku dari dalam Kereta.

Kemudian akupun mengirim whatsapp ke Melisa

"Mel, aku nyasar di Stasiun Jatinegara, ini sudah balik lagi ke Stasiun Duri,
masih jadi ketemu di Tangcit?", tanyaku
"Hahahahaha Sorry Win, aku baru baca whatsapp, kok bisalah nyasar kau!"

Kita jadinya ketemu di Bale Kota aja turun di Stasiun Tanah Tinggi karena di Tangcit gak ada tempat duduk, aku ama Ebeth ini.

"Mel, aku juga malu ini nyasar di Jakarta naik kereta pula, balasku"

Salam

Winny

Trip Weekend Jakarta-Cilegon


 ‘Brick walls are there for a reason — they let us prove how badly we want things and to keep out others who do not want it enough’

By Randy Pausch

Bayah Banten
Banten

Hello World!

Ciwandan, Januari 2016

*Sing*

Antara Anyer dan Jakarta
Kita jatuh cinta
Antara Anyer dan Jakarta
Kisah cinta tiga malam
Kan ku ingat selamanya
Antara Anyer dan Jakarta

Itulah sepenggal lagu dari Majid Sheila “Antara Anyer dan Jakarta”.

Sejak aku di Mutasi kerja ke Ciwandan maka mengharuskanku bolak-balik Jakarta-Cilegon setiap minggu. Namun trip weekend yang aku lakukan antara Cilegon dan Jakarta bukan kisah cinta atau kisah perjuangan antara dua sejoli yang saling merindu namun kepada beberapa kegiatan yang memang harus aku kerjakan ke Jakarta misalnya menemui Dosen, mnegurus ini itu, ketemu teman karena temanku rata-rata di Jakarta dan masih banyak hal lain yang mengharuskan aku bolak-balik Jakarta-Cilegon. Sebenarnya mutasiku juga bukan di Kota Cilegonnya sih namun di Ciwandan.

"Aku Mutusi di Ciwandan, kataku"

"Ciwandan, dimana itu?, tanya beberapa orang

"Cilegon, kataku"

"Cilegon emang dimana?, pertanyaan yang mulai membuat kesal

"Banten", cetusku

Barulah habis perkara ketika mengatakan Banten. Entah Ciwandan itu tidak begitu familiar namun intinya Ciwandan itu berada di Cilegon, nah Cilegon ini merupakan KOTA INDUSTRI. Wisata yang terkenal di Cilegon itu yah PANTAI ANYER, PANTAI CARITA. Sebenarnya kalau dari Jakarta ke Pantai Anyer misalnya maka Ciwandan itu dilalui loh cuma yah karena tidak terlalu familiar sehingga ketika aku bilang Ciwandan banyak yang belum tahu.

wisata ciwaandan

Dulu aku sering Dinas ke Ciwandan dari Jakarta namun tidak pernah benar-benar pindah untuk tinggal. Jadi pas pindah di Ciwandan, Cilegon maka aku harus menyesuaikan diri khususnya transportasi dari Ciwandan ke Jakarta atau sebaliknya.

Mutasiku juga pas Natal dimana orang masih liburan dan aku harus mengemasi barang-barang sendirian dan mengangkutnya ke Ciwandan. Untung ada Bapak Kos dan GOBOX sehingga barang yang tidak cocok dengan ukuran anak kos lumayan ada yang bantu.

"Barangnya ternyata banyak banget ya", kata Bapak Kos

"Dulu gimana nyusunnya yah biar masuk semua?" 
lanjutnya dengan raut tak percaya

Terus aku mengiyakan pernyataannya, paling tidak barang yang cukup banyak membuktikan ternyata uangku tidak habis di Tiket tok! Walau aku sendiri menyesal membeli barang-barang yang gak penting karena pas pindahan itu lelah sekaliii! Sendiri pula!

Sumpah dah baru kali ini aku pindah ke suatu tempat terus membathin karena biasanya aku malahan suka pindah ke suatu tempat. Mungkin karena kebanyakan barang kali ya atau karena teman-temanku memang kebanyakan di Jakarta. Serta tinggal di Jakarta atau Ciwandan ada plus minus sih namun aku tetap bersyukur karena di tempat kerja baru teman satu kerjaan orangnya baik.

Akhirnya Senin-Jumat aku kerja di Pabrik di Ciwandan kemudian Sabtu-Minggu aku balik ke Jakarta jika ada suatu hal yang aku kerjakan. Paling tidak selama 1 bulan pindah di Ciwandan, 3 minggu aku bolak-balik Jakarta mulu karena UAS lah karena IELTS lah karena Visa lah. Ah disini kadang aku rindu Jakarta karena kan di Jakarta semua-semua ada!

Yang paling seru adalah perjalananku ke Jakarta dari Ciwandan. Jadi setiap Jumat aku harus nebeng diantar ke Terminal Cilegon karena kan aku tinggal di Mess Lingkar Ciwandan yang cukup jauh. Untuk ke Terminal Ciwandan saja atau paling tidak tempat ngetem Bus-bus yang ke Jakarta dari Ciwandan aku harus naik angkot warna silver turun di depan Mall Cilegon kemudian naik angkot ungu PCI ke tempat bus. Baru deh menaiki bus dengan tujuan Jakarta.

Untuk ke Jakarta dari Ciwandan tidak terlalu sulit karena biasanya aku minta nebeng dengan teman atau diantar, yang susah pas baliknya. Jadi pas Tahun baru aku kan di Jakarta kemudian balik ke Ciwandan karena tanggal 2 Januari harus sudah bekerja lagi. Waktu itu aku naik bus dari rumah kak Bijo di Tangeran dengan bus ARIMBI yang ternyata di dalam bus penumpangnya ramai bahkan aku duduk di lantai depan pintu. Harga tiket Tangerang-Jakarta waktu itu Rp26.000. Dengan bawa tas segede gaban duduk di lantai bersama para penumpang lainnya, maklum Europfia Tahun Baruan sehingga penumpang membludak. Kemudian aku harus duduk di lantai kurang lebih 3 jam hingga sampailah di Simpang tiga setelah Tol Cilegon Timur. Nah dari Cilegon Timur aku naik angkot warna Ungu dengan tujuan PCI dan biaya angkot Rp10.000 kemudian turun di Mall Cilegon lalu naik angkot lagi warna Silver dengan tujuan Anyer dengan harga tiket Rp5000 namun karena jalan ke Anyer macet karena antusias Tahun Baruan di Anyer akhirnya aku dan penumpang lain harus turun di tengah jalan lalu menyambung angkot lagi dengan membayar Rp5000 lagi agar sampai di depan jalan Lingkar. Mau tahu berapa lama yang aku butuhkan dari Tangerang sampai ke Mess di Ciwandan? Well berangkat jam 10 pagi nyampe jam 5 sore pas Tahun baru itu!!

Terus selain naik angkot, bagaimana cara ke Lingkar dari Terminal Cilegon? Bisa naik Ojek namun waktu aku tanya berapa harga naik Ojek dari depan pintu Tol Cilegon Timur-Lingkar kata si Bapak Rp60.000 akhirnya aku langsung masuk ke angkot. Kan gila, masa lebih mahalan dari tiket bus Jakarta-Cilegon!

Pengalaman seru kedua tentang Trip Weekend Jakarta-Cilegon dari Jakarta. Jadi untuk menuju ke Cilegon dari Jakarta aku menunggu bus di depan SLIPI Jaya karena bus menuju ke Merak pasti banyak yang lewat. Waktu itu aku ngasal naik Bus yang penting tujuannya Merak aja eh ternyata harga tiketnya Rp35.000 padahal gak AC loh terus pas di Terminal Serang dipindahin ke Bus Primajasa lagi. Terus sampai di Cilegon Timur jam 9 malam dari berangkat jam 5 sore dari Jakarta. Akhirnya malas naik angkot-angkotan akhirnya aku minta jemput dan diantar ke mess dengan salah satu teman di Pabrik.

Nah sensari ketiga Trip Weekend Jakarta-Cilegon dari Jakarta aku mendapat pelajaran baru. Pertama menunggu bus di Slipi Jaya namun aku menunggu Primajasa dengan harga bus tiket Jakarta-Cilegon Rp26.000 (sama dengan harga bus Arimbi) kemudian turun di simpang tiga naik angkot Ungu PCI dengan harga Rp5000 (beda banget dengan harga saat Tahun baru) kemudian turun di Mall lanjut naik angkot Silver (Rp5000) turun di Pabrik terus minta antarin ke Mess.

Nah dari 3x bolak-balik Jakarta-Cilegon setidaknya aku mendapat pelajaran mengenai transportasi umum ke Lingkar Ciwandan

1. Harga standar Jakarta-Cilegon itu Rp26,000 sekali jalan (kalau dari Jakarta busnya bisa menunggu di Slipi Jaya, kalau dari Cilegon busnya bisa menunggu di Cilegon Timur). Kalau dari Cilegon aku turun biasanya di Kebon Jeruk

2. Tidak perlu naik angkutan umum PCI lagi dari Terminal Cilegon Timur karena ternyata busnya lewat dari Mall sehingga sekali angkot saja yang Silver ke Ciwandan. Lumayan menghemat angkot!

Nah segitu dulu pengalamanan bolak-balik trip Weekend Jakarta-Cilegon, ada yang punya pengalaman yang sama?

Salam

Winny

Pesona Jawa Tengah di Parade Seni dan Budaya Pesta Rakyat


Kilometers are shorter than miles. Save gas, take your next trip in kilometers”

By George Carlin

jawa-tengah-parade

Hello World!

Magelang, 28 Agustus 2016

Aku dan teman Blogger serta panitia rombongan famtrip Disbudpar Provinsi Jawa Tengah sudah berpakain Batik rapi dari hotel Puri Asri Magelang menuju ke  Jalan Ahmad Yani tepatnya samping alun-alun Kota Magelang untuk menghadiri malam puncak Parade Seni Budaya Jawa Tengah 2016 yang merupakan bagian dari rangkaian acara penutupan Pesta Rakyat Jawa Tengah. Siapa sangka ketika kami sampai menjelang magrib di alun-alun Magelang, hujan deras menyambut kami yang sudah berdandan ciamik, klimis dan totalitas dan siap sedia menjadi tamu VIP  Gubernur! Untungnya kami berteduh di warung tahu kupat “Pojok” yang lokasinya tak jauh dari alun-alun Magelang sambil berharap hujan reda. Dan ternyata Tuhan itu baik sekali sekitar jam 7 malam hujan reda sehingga Parade Seni Budaya Jawa Tengah bisa dimulai sekitar jam 8 malam.

Marching Band Akmil Magelang
Marching Band Akmil Magelang

Kami pun berjalan menuju red carpet yang sudah terbentang luas sepanjang kawasan Alun-alun Kota Magelang dan sudah banyak penonton berkerumun untuk menyaksian Parade Seni Budaya Jawa Tengah 2016 seolah hujan deras tadi tidak ada. Aku sungguh salut dengan antusias para wisawatan dan penonton yang memadati sepanjang rute mulai dari lapangan Rindam IV Diponegoro menuju Alun-alun dan menyusuri Jl.Ahmad Yani Kota Magelang.

Bahkan kami sempat disoraki ketika kami menutupi jalanan, “woi minggir”, begitu kata penonton ketika kami salah tempat yang akhirnya kami pindah tempat dari penoton yang berdiri di pagar. Jujur saja pengalaman pertama dalam hidupku  menonton Parade Budaya yang tentunya sangat aku sukai. Karena jarang kesempatan untuk mendapatkan pengalaman mengenai Budaya Indonesia khususnya Budaya Jawa Tengah lebih dalam.

Pertunjukan Topeng Ireng
Pertunjukan Topeng Ireng

Sekitar jam 8 malam acara dimulai dengan tanda alunan gamelan yang dimainkan oleh abang-abang yang dekat dari kami. Kemudian seiring musik gamelan dimainkan maka 500 orang penari Topeng Ireng mulai muncul di karepet merah lengkap dengan asap memulai pertunjukan dan menunjukkan kebolehannya. Penampilan kolosal pertama yang mampun menghipnotisku, bayangkan 500 penari dengan penampilan seperti suku Indian memeriahkan acara Parade Seni Budaya Jawa Tengah 2016 sebagai pembuka acara dan aku bisa melihatnya langsung di depan mata.

Kurang beruntung apa coba hidup ini!

Maklum sebagai penyuka tarian daerah, melihat parade sangat membuatku antusias. Apalagi melihat tarian Topeng Ireng yang dipersembahkan Kota Magelang sebagai tuan rumah acara itu apik dan penarinya lincah. Bahkan penarinya cantik-cantik!

Setelah tarian Topeng Ireng selesai, sambutan dari  Gubernur yang diwakilkan oleh Wakil Gubernur Heru Sudjatmoko sebagai tanda pembuka Parade Seni Budaya Jateng 2016, karenaa Pak Ganjar Pranowo tidak bisa hadir sebab dinas ke Jakarta. Yang paling salut adalah walau Pak Gubernur tidak bisa hadir, namun Ibu Gubernur datang dalam acara Parade Seni Budaya Jateng.

Usai sambutan maka terdengar suara petasana kembang api sebagai tanda dimulainya Parade Seni Budaya Jateng 2016. “Trak, trak, trak, dengan permainan kembang api”.

Maka acara paradepun dimulai!!

Setelah kemeriahan dari kembang api, maka dari kejauhan sudah siap siaga marching band Genderang Suling Canka Lokananta AKMIL Magelang. Dan penampilan marching band ini berbeda dengan marching band biasa karena pemainnya terdiri dari taruna-taruni lengkap dengan “Macan Tidur” penabuh bass drum.

Iya pertama kali kakak, aku melihat Akmil main marching band dan ciri khasnya dengan sang “Macan Tidur” . Kenapa Macan karena sang Akmil memakai topeng macan dan jangan tanya bagaimana aksi sang Macan Tidur, liar dan lihai!! Bahkan kadang dekat sekali, kadang kala aksi si abang “Macan Tidar” membuat jantung deg-degan. Jujur pertama kali melihat marching band dengan versi baru terus penampilannya menarik ketika Sang Akmil memberi penghormatan kepada Gubernur dan tamu undangan.  Tidak hanya pemain drumnya yang kece, pemain marching band lainnya seperti taruni tak kalah kerennya ketika memainkan tenor, belira, flute, terompet dan tuba sebagai pengiring lagu. Marching band AKMIL Magelang membawakan lagu diantaranya burung tantina, selamat ulang tahun dan lagu Akabri Darat.

Terus jangan ditanya kelihaiannya dalam bermain tongkat komando mayoret, lincah habis!!

Setelah Marching band AKMIL selesai maka satu persatu kontingen dari 35 kabupaten-kota se Jawa Tengah menunjukkan kebolehnnya dalam panggung didepan para juri. Walau waktu pementasan singkat karena keterbatasan waktu, tapi aku sangat salut dengan totalitas dari para peserta. Semua penari apik dalam memainkan tariannya! Sungguh pesona Jawa Tengah dapat aku rasakan di Parade Seni Budaya Jateng 2016, maksudnya wisata Jawa Tengah versi budaya pertama yang aku saksikan!

Yang menarik dari acara Parade Budaya dan Seni Jawa Tengah terletak pada pertunjukan dari 35 daerah Kabupaten dan Kota Jawa Tengah menunjukkan kebudayaan khas daerahnya masing-masing dalam acara Parade Seni Budaya Jawa Tengah 2016. Tariannya tidak sekedar tarian, ada pesan moral dalam tariannya!!

Kontingen Surakarta
Kontingen Surakarta

Kontingen pertama yang tampil adalah kontingen Wonogiri dengan tarian Gepyok kemudian dari kontingen Kabupaten Sragen dengan tarian Prosesi Metik Tebu Manten kemudian kontingen ketiga dari Tegal dengan tarian Bantok Mentik dan Kontingen ke lima ialah dari Cilacap dengan Tarian Wijaya Kusuma. Setiap penampilan kontingen tariannya penuh arti, “ada cerita di dalamnya”. Baik cerita rakyat maupun tentang ciri khas Kabupaten maupun Kota di Jawa Tengah.

Dari Parade Seni Budaya Jawa Tengah 2016 aku mendapatkan pengalaman baru dan menambah wawasan tentang betapa kayanya Budaya Indonesia. Melalui tarian di Parade Seni Budaya Jawa Tengah 2016 aku melihat kumpulan seni dan budaya menarik di Indonesia karena tarian yang saya saksikan itu “Indonesia”. Bahkan salah satu kontingan favoritku itu adalah dari Kota Surakarta yang membawakan tarian Wayang orang Ciptoning, sebuah tarian kolosal yang mengisahkan tentang  perjuangan Arjuna melawan musuhnya.  Terus menariknya lagi ternyata kontingen kesukaanku dari Surakarta berhasil menjadi juara kedua dalam Parade Seni Budaya Jawa Tengah 2016.

Sayangnya karena kami kelelahan sehingga kami tidak menonton Parade sampai habis hanya sampai Kontingen ke 20 kalau tidak salah. Padahal seru, tapi apa daya mata sudah 5 Watt.

Untuk pemenang Parade Seni Budaya Jawa Tengah Juara 1 dari Kota Semarang, Juara 2 dari Surakarta, Juara 3 dari Boyolali dengan tari angguk atau disebut juga tari rodatan, jaura Harapan 1 dari kontiongen Purbalingga, Harapan 2 dari pekalongan, harapan 3 dari Wonogiri dan Juara Favorite dari Blora.

Juara Parade Seni dan Budaya Jawa Tengah
Juara Parade Seni dan Budaya Jateng (Sumber: Twitter Jateng)

Aku sangat senang dengan pergelaran Parade Seni Budaya Jawa Tengah 2016 memang Jateng Gayeng!

Di Parade Seni Budaya Jawa Tengah 2016, aku semakin mencintai Budaya Indonesia yang kaya raya. Ternyata Jawa Tengah berhasil membuatku mencintai Budaya Indonesia lebih dalam. Dan acara Parade Budaya dan Seni memang patut dilestarikan. Salut dengan Jawa Tengah yang membuat parade Seni dan Budaya. Inisiatif ini haruslah kita apresiasi dan menjadi highlight acara yang wajib ditonton setiap tahunnya. Aku jadi penasaran di mana nantinya Parade Seni Budaya Jawa Tengah 2017 akan diadakan tapi pastinya aku tidak mau ketinggalan.

Yang terakhir

SELAMAT ULANG TAHUN JAWA TENGAH!

JATENG GAYENG!

Nah ada yang mau ikutan untuk melihat acara Parade Seni Budaya Jawa Tengah 2017 ?

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba Blog Visit Jawa Tengah yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Tengah @VisitJawaTengah (www.twitter.com/visitjawatengah)

Salam

Winny

20 Pilihan Wisata Menarik di Jawa Tengah


Hustle isn’t just working on the things you like. It means doing the things you don’t enjoy so you can do the things you love.”

By Unknown

Karimun Jawa13

 

Hello World

Jawa Tengah, September 2016

Jawa Tengah memiliki bermacam wisata menarik untuk dikunjungi mulai dari Candi Borobudur yang sudah terkenal sesentaro dunia, hingga kepada pantai bersih di Karimun Jawa bahkan salah satu museum kece di Indonesia itu ada di Sangiran, Jawa Tengah. Aku sendiri hanya bisa mengunjungi objek wisata di Jawa Tengah baru sedikit dari ribuan objek wisata Jawa Tengah.

20 Pilihan Wisata Menarik di Jawa Tengah

1. Candi Borobudur

Borobudur
Borobudur

Candi Borobudur merupakan Candi tercantik yang pernah aku kunjungi karena latar belakang pegunungan. Bahkan mengunjungi Candi Borobudur ibarat mimpi jadi nyata secara waktu kecil baca tentang Borobudur terus begitu iri melihat photo tetangga dengan Candi Borobudur terus dalam hari waktu sekolah dalu “Suatu saat aku harus mengunjungi Borobudur”. Tahun 2013 aku berhasil menginjakkan kaki ke Borobudur bertepatan hari Waisak menemani temanku Yessi yang hendak beribadah di Borobudur, dan kebetulan sekali masuknya gratis pula. Pas menginjakkan kaki di Borobodur aku terharu, terharu karena orang biasa dari keluarga biasa dari kampung nan jauh di Padangsidempuan sana bisa meraih keinginan untuk mengunjungi tempat yang aku kagumi yang sering aku lihat di buku RPUL ku waktu sekolah. Dan memang benar kata Paulo Coelho, “and when you want something, all the universe conspires in helping you to achieve it”.

2. Karimun Jawa

Karimun Jawa
Karimun Jawa

Karimun Jawa merupakan wisata pilihan yang wajib masuk kedalam daftar wisata jika berada di Jawa Tengah. Kenapa? Karena Karimun Jawa sangat cantik bisa melihat pasir putih, snorkeling, hingga menikmati sunset di Pantai Gelam. Bahkan ada mangroove di Karimun Jawa. Jika mengunjungi Karimun Jawa maka one day tour keliling Pulaunya patut dicoba, tak akan menyesal apalagi Pulau Gosong duh cakep banget!

3.Sangiran

museum purba sangiran
Museum Purba Sangiran

Aku itu pecinta museum loh, nah dari dari museum yang pernah aku kunjungi di Indonesia, Museum Purba Sangiran merupakan top list dan yang paling aku suka. Bahkan sewaktu aku bawa temanku dari Swiss, dia sangat takjub akan koleksi Purba di Museum Purba Sangiran.

3. Dieng Plateu

dieng plateu
Dieng Plateu

Pertama kali ke Dieng tahun 2013 beramai-ramai dengan teman sekantor. Dan wisata Dieng paling memuaskan karena paling lengkap mulai dari Kawah, Gunung, Candi hingga Telaga Warna. Telaga Warna Dieng yang paling menarik karena memiliki dua warna berbeda dan apik sehingga tidak heran banyak sekali wisatawan lokal berlibur di Dieng, Jawa Tengah.

4.Candi Cetho

Candi Cetho di senja hari
Candi Cetho

Mengunjungi Candi Cetho di tahun 2014 bersama teman kantor dan Candinya Vulgar hahha tapi pemandangan Gunungnya apik. Sayangnya kami sampai ke Candi Cetho sore hari sehingga kurang puas mengelilingi Candi Cetho namun kami beruntung karena sunset dengan latar belakang Candi itu indah sekali. Jadi masukkan Candi Cetho kedalam wisata jika ke Jawa Tengah

5. Lawang Sewu Semarang

Lawang Sewu
Lawang Sewu

Semarang yang merupakan ibukota Propinsi Jawa Tengah juga tak kalah dalam potensi wisatanya, salah satunya Lawang Sewu yang terkenal dengan horornya. Iya semacam uji nyali, jadi aku dan teman-teman mengunjungi Lawang Sewu jam 9 malam membawa teman yang bisa melihat dunia lain. Alhasil yang tadinya Lawang Sewu tidak seram malah semakin seram bukan karena Lawang Sewunya tapi ekpresi teman yang kami bawa apalagi yang hendak ke lantai 3 dekat Toilet. Pengalaman mengunjungi Lawang Sewu menjadi pengalaman unik dalam perjalanan khususnya yang berhubungan dengan makhluk asing. Bagi yang penasaran dengan Lawang Sewu maka kunjungilah Semarang.

6. Keraton Surakarta

keraton surakarta
Keraton Surakarta

Keraton Surakarta merupakan wisata manarik di Solo, Jawa Tengah dan bisa dijadikan tempat wisata pilihan. Mengunjungi Keraton Surakarta serasa kembali di era Kerajaan silam bahkan peninggalannya masih tersimpan rapi di Keraton Surakarta.

7.Candi Arjuna

Cabdi Arjuna DIeng
Candi Arjuna Dieng

Masih di kawasan Dieng, Candi Arjuna merupakan candi cantik dengan latar belakang Pegunungan dan berada di ketinggian. Duduk santai di rumput Candi Arjuna itu keren sekali. Memasukkan Candi Arjuna di wisata Jawa Tengah merupakan pilihan yang patut dimasukkan dalam daftar list kunjungan.

8. Punthuk Setembu

Sunrise Borobudur dari Punthuk Setumbu
Sunrise Borobudur dari Punthuk Setumbu

Mengejar Sunrise Borobudur dari Punthuk Setumbu merupakan keharusan jika mengunjungi Jawa Tengah. Borobudur dengan kabut di pagi hari apik sekali.

9. Sikunir

View Sunrise Sikunir
View Sunrise Sikunir

Meski harus mendaki, namun melihat matahari terbit di Sikunir Dieng juga liburan yang mengasikkan. Walau waktu itu kami gagal melihat matahari terbit karena mendung tapi naik keatas Sikunir itu penuh perjuangan loh!

10. Umbul Ponggol Klaten

Umbul Ponggok, Bunake Klaten
Umbul Ponggok, Klaten

Bagi penyuka Instagram dan ingin update dan nghits berphoto di Umbul Ponggok, Klaten. Mata air yang jernih serta cocok bagi penyuka photo underwater tanpa harus ke laut karena underwaternya mirip laut kok.

11 Rafting Sungai Progo

Rafting di Sungai Progo, Magelang
Rafting di Sungai Progo, Magelang

Bagi yang hendak menguji adrenalin maka cobalah Rafting di Sungai Progo, Magelang. Meski arung jeram yang kami lakukan masuk dalam kategori pemula namun cukup membuat jantung deg-degan, takut jatuh tapi seru. Kontradiktif ya!

12. Candi Mendut

Candi Mendut Magelang
Candi Mendut Magelang

Tak jauh dari Borobudur ada Candi Mendut yang tak boleh dilewatkan jika ingin menjelajah wisata Jawa Tengah karena reliefnya itu keren sekali. Aku sendiri mengunjugi Candi Mendut tahun 2013 masih dalam satu trip ke Borobudur dan asli aku suka sekali dengan Candi Mendut.

13. Candi Plaosan

Candi Plaosan
Candi Plaosan

Yah Jawa Tengah tidak diragukan lagi wisata Candinya dan banyak, banyak sekalii! Nah Candi Plaosan juga merupakan Candi cakep serta yang tahu kisah dibaliknya berupa cinta beda agama maka melihat relief di Candi berkisah Cinta itu membuat iri, kenapa iri, iri kapan yah dapat pasangan yang melebihi cinta di balik kisah cinta Candi Plaosan (menghayal dulu) 😀

14. Candi Gedong Songo

Candi Gedong Songo
Candi Gedong Songo

Candi Gedong Songo juga tak boleh dilewatkan yang berada tak jauh dari Kota Semarang karena mendaki terus pemandangan pegunungan yang asli membuat betah lama-lama. Lupa dah betapa jauhnya mengelilingi Candi Gedong Songo. Meski jumlah 9 Candi, dua kali kesana aku hanya menemukan 7 Candi saja, mungkin harus balik ketiga kalinya kali ya.

15 Candi Sukuh

the exotic sukuh temple
Candi Sukuh 

Sewaktu aku berkunjung ke Candi Sukuh di Tahun 2014 bersama teman ramai-ramai, salah satu teman bule dari Swiss kagum dengan Candi Sukuh karena menurutnya seperti Mini Aztec, walau aku belum pernah ke Aztec. Walau ukuran Candi Sukuh kecil tapi relief di Candi Sukuh lain dari yang lain, vulgar, sebelas dua belas dengan Candi Cetho. Jadi mengunjungi Jawa Tengah harus ke Candi Sukuh juga!

16. Candi Setyakin Dieng

Candi Setyaki
Candi Setyaki

Candi Setyakin Dieng merupakan Candi yang tak jauh dari Candi Arjuna cuma jaraknya terpisah sendiri. Aku tidak sengaja ke Candi Setyakin Dieng karena iseng pergi dari rombongan eh malah menemukan Candi Setyaki.

17. Kawah Sikidang

Kawah Sikidang
Kawah Sikidang

Yah Dieng juga memiliki Kawah bernama Kawah Sikidang. Mengunjungi Kawah Sikidang memang satu paket perjalanan selama di Dieng karena Dieng itu memiliki banyak wisata sehingga ingin balik lagi ke Dieng.

19. Gereja Merpati

Gereja Merpati
Gereja Merpati

Selain di Punthuk Setembu, Gereja Merpati juga tempat kece untuk melihat sunrise Borobudur apalagi hits setelah film AADC 2, kami ngantri 1 jam naiknya cuma 5 menit. Untung jalan dengan Blogger yang sifatnya dipastikan seru, gak jaim sehingga seru bersenang diatasa kepada Gereja Merpati dengan berphoto.

19. Air Terjun Jumog

Air terjun Jumog
Air terjun Jumog

Air terjun Jumog juga merupakan air terjun yang indah dan segar serta alami. Waktu ke Air Terjun Jumog tahun 2014 sepaket dengan ke Solo, dan Sangiran serta Candi Cetho dan Sukuh. Jadi kami dapat air terjun yang indah dan cukup puas jalan-jalan di Solo dan sekitarnya.

2o. Sam Pho Kong

sam poo kong
Sam Poo Kong

Sam Poo Kong merupakan klenteng cantik di Semarang yang serasa berada di China. Bangunannya, serta kawasanya itu bikin betah lama-lama di Sam Poo Kong. Waktu kesini gara-gara mendatangi nikahan teman di Semarang tahun 2013 sehingga kami sekalian menjelajah wisata Semarang.

Nah 20 wisata pilihan Jawa Tengah tentu masih tergolong sedikit karena wisata Jawa Tengah itu ribuan, namun semoga bisa menjadi pilihan wisata ketika sedang di Jawa Tengah. Selain 20 wisata Jawa Tengah yang pernah aku kunjungi, tempat yang aku penasaran ialah LASEM. Semoga ada kesempatan menjelajah Lasem di lain kesempatan!

Teman-teman, wisata favorite di Jawa Tenagah apa? Selain daftar 20 wisata di Jawa Tengah yang sudah dijabarkan, ada rekomendasi wisata menarik dan kece di Jawa Tengah?

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba Blog Visit Jawa Tengah yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Tengah @VisitJawaTengah (www.twitter.com/visitjawatengah)

Salam

Winny

Pesona Nirwana Sunrise Borobudur dari Punthuk Setumbu


A heartbreak is a blessing from God. It’s just his way of letting you realize he saved you from the wrong one

By Unknown

Sunrise Borobudur dari Punthuk Setumbu
Sunrise Borobudur dari Punthuk Setumbu

Hello World

Magelang, Agustus 2016

Yeee impian untuk mengunjungi Punthuk Setumbu akhirnya kesampaian. Maklum gara-gara melihat gambar Candi Borobudur dikelilingi lautan kabut beberapa tahun lalu sungguh membuat mupeng alias muka pengen mengunjuginya. Lihatnya dari tahun 2013 dan beruntungnya di tahun 2016 bisa mewujudkan melihat sunrise Borobudur dari Punthuk Setumbu. Terus gara-gara film ADDC2 dengan tempat shooting di Gereja Ayam tempat kencannya Rangga dan Cinta tidak jauh dari Punthuk Setumbu semakin meningkatkan minat wisatawan untuk datang. Ah pokoknya seribu alasan kenapa harus mnegunjungi Punthuk Setumbu,  yang pasti sunrise Borobudur apik sekali. Punhtuk Setumbu berasal dari Bahasa Jawa, Puntuk yang berarti gundukan dan setumbu yang berarti tumbu. Punhtuk Setumbu merupakan spot terbaik untuk melihat sunrise Borobudur dari sebuah bukit setinggi kurang lebih 400 meter dpl.

Kami menuju spot Punthuk Setumbu dari homestay Kebon Dalam, Magelang yang tak jauh dari lokasi mengejar sunrise Borobudur. Awalnya kami harus siap sedia jam 5 pagi, tapi apa daya karena kami para Blogger bangunnya telat alhasil kami baru berangkat jam 5.00 dan memulai mendaki ke Bukit Punhtuk Setumbu sekitar hampir jam 5.30an. Padahal jika tidak ingin ketinggalan harus sudah berada di lokasi sekitar jam 5 pagi.

Sesampai di parkiran, ternyata kami harus mendaki ke Puncak Punthuk Setumbu. Menaiki Bukit Punthuk Setumbu bak menaiki Borobudur karena semakin keatas semakin meninggi, dan lumayan menguras tenaga. Pagi-pagi kami sudah olah raga, tapi disitu sensasi kesenangannya semua demi “berburu sunrise Borobudur dari Punthuk Setumbu”.

Sunrise Borobudur dari Punthuk Setumbu
Sunrise Borobudur dari Punthuk Setumbu

Disepanjang jalan banyak sekali warung makan namun karena kami datangnya sudah telat alhasil kami pura-pura tidak melihat godaan makanan dari warung dengan harum mie, gorengan dan sebagainya. Karena kami mendaki sambil ngobrol ahirnya sampai ke puncak tidak terasa. Sesampainya di Bukit Punthuk Setumbu, ternyata kami tidak sendirian, banyak sekali wisatawan lokal yang sudah daritadi menunggu kabut pagi Borobudur. Kami cukup beruntung karena walau kami telat datang namun kami bisa menyaksikan kabut keluar di Borobudur dari Punthuk Setumbu sekitar jam 6 ke jama 6.30an. Pemandangan sunrise spektakuler yang pernah aku lihat, sunrise Borobudur beserta aura kabutnya lengkap dengan latar Gunung Merapi dan Gunung Merbabu, belum lagi bukit kecil sekelilingnya seperti Bukit Cemuris, Bukit Cething, dan Bukit Setompo semakin menambah pesona Borobudur. Sayangnya kameraku tidak begitu canggih sehingga Borobudur Nirvana Sunrise dengan kabutnya tidak tertangkap kameraku. Terus pengen lempar camera karena tidak mendapatkan photo bagus sunrise Borobudur tapi karena ingat harga camera mahal, gak jadi deh buang cameranya!

Sunrise Borobudur dari Punthuk Setumbu
Sunrise Borobudur dari Punthuk Setumbu

Waktu itu aku, Rinta, Kak Fahmi, Ocit, Kak Danang beramai-ramai beserta wisatawan lain menikmati pemandangan sunrise Borobudur dari Punthuk Setumbu hingga akhirnya kami berjalan menuju ke Gereja Ayam yang tak jauh dari Bukit Punthuk Setumbu. Yah kami juga ingin mengunjugi tempat Rangga dan Cinta mumpung dekat.

Sepanjang perjalanan ke Gereja Ayam dimana Rangga dan Cinta menyaksikan Borobudur Nirvana Sunrise, kami melihat rumah kayu yang juga bisa menjadi tempat spot melihat sunrise Borobudur namun harus bayar lagi diluar tiket masuk dari parkiran. Tentu saja kami lurus saja ke Gereja Ayam namun jika tidak buru-buru, mungkin rumah kayu di sekitar Punthuk Setembu bisa menjadi alternatif.

Gereja Merpati
Gereja Merpati

Sesampai di Gereja Ayam ternyata antriannya panjang, maklum antusias pengunjung untuk melihat sunrise Borobudur dari Gereja Ayam begitu tinggi setelah film AADC2 mengekspos tempat ini. Kami harus mendaftar kemudian menunggu antrian dan nama kami dipanggil masuk dan membayar Rp15.000 untuk naik keatas puncak Gereja Ayam. Oh ya sebenarnya Gereja Ayam bukanlah ayam karena bentuknya adalah Merpati yang berarti damai namun karena desain memiliki ekor, kepala dan mirip ayam maka orang menganggapnya Gereja Ayam. Letak Gereja Merpati berada di Bukit Rhema dulunya sempat terbengkalai pembangunannya karena kekurangan dana. Tapi gara-gara film AADC2 langsung hits dan banyak wisatawan datang dan tempatnya sudah diperbaiki.

Karena menunggu masuk dibatasi dan harus menunggu antrian, aku dan Rinta sempat makan gorengan di dekat Gereja Merpati hingga akhirnya kami masuk ke dalam. Di dalam kami juga harus menunggu antrian hingga nama kami dipanggil.

Di dalam Geraja Merpati berbentuk ruangan persegi panjang namun jendelanya unik. Menaiki tangga pun berulang dari tangga semen hingga tangga kayu sampai tangga besi terdiri 5 kali naik tangga.  Nah lucunya ada sebuah lantai berisi lukisan dan vintage banget. Tidak hanya itu ketika lantai terakhir sebelum kepala Merpati, kami harus menunggu antrian lagi ke atas hingga ornag diatas baru kami naik. Setelah itu giliran kami naik di Puncak Gereja Merpati, matahari terik sudah menyambut kami. Bahkan antrian kira-kira 1 jam untuk sampai diatas, maka saat diatas kepala merpati cuma 15 menit terus kami puas-puasin berphoto dengan pemandangan kece Pegunungan. Ternyata narsis itu butuh perjuangan ya! Walau kami singkat diatas Gereja Merpati namun puas sekali loh bahkan si Bapak petugas acap kali mengatakan waktu kunjungan kami habis namun karena kami lagi berphoto kami pura-pura tidak dengar hingga akhirnya turun melalui tangga berputar seukuran badan. Cukup puaslah berphoto ramai-ramai!

Kami para Blogger diatas Gereja Merpati (Sumber: Photo Ocit)
Kami para Blogger diatas Gereja Merpati (Sumber: Photo Ocit)

Pulangnya kami melewati jalanan berbeda dari kedatangan kami, namun karena pergi ramai-ramai jadi seru sekali. Pagi kami dimulai dengan senyuman dan bahagia, bahagia mengunjungi Punthuk Setumbu dan Gereja Merpati!

Harga Tiket masuk Bukit Punthuk Setumbu

Rp15.000

Lokasi Punthuk Setumbu

Jl.Borobudur Ngadiharjo KM3 Dukuh Kerahan,

Desa Karangrejo, Kecamatan Borobudur,

Kabupaten Magelang,

Jawa Tengah

Harga Tiket Masuk Geraja Ayam

Rp15000

Lokasi Geraja Ayam/Merpati

Bukit Rhema di Dusun Gombong,

Desa Kembang Limus

Kecamatan Borobudur

Kabupaten Magelang

Jawa Tengah

Salam

Winny

Pengalaman Rafting Di Sungai Progo Magelang


I owe no explanations for my flaws. I don’t have to justify my mistakes, my past, or my insecurities. I am growing and learning. Let me live.

By Unknown

arung-jeram-magelang

Hello World

Magelang, Agustus 2016

Yee akhirnya aku mencoba arung jeraml! Bahagia itu sederhana, sesederhana jika salah satu dari bucket list kesampaian. Maklum selonjoran di ban di Sungai Bahorok sudah, body rafting di Green Canyon Tasikmalaya sudah nah pas impian melakukan rafting yang beneran rafting terwujud rasanya itu senangnya luar biasa dan baru kesampaian di Famtrip Jateng bersama blogger kece nan ngehits kami bersama-sama melakukan aktivitas arung jeram. Yah paling tidak Magelang tidak hanya Candi melulu, wisata arung Jeram Magelang pun tak kalah serunya.

Sekitar jam 9 kami tiba di basecamp Progo yang selokasi dengan Hotel Puri Asri, Magelang. Kemudian kami mangisi form pendaftaran peserta kemudian menitipkan barang kami. Kemudian kami memakai life jacket, helm dan peralatan arung jeram serta masing-masing kami dibagi dalam satu kelompok. Kelompokku terdiri dari 6 orang yaitu aku, Citra, Kak Titi, Kak Bulan, Mas Sukmana dan Bu Ina dalam satu perahu. Sebelum kegiatan arung jeram kami dimulai kami semua dibreifing tentang teknis arung jeram mulai dari bagaimana mengayuh ke depan, ke belakang serta cara memegang dayung yang benar. Kelompokku dalam melakukan arung jeram didampingi pemandu professional bernama Bang Mukhlis. Jadi kami adalah tim Arung Jeram bang Muklis.

Teman Kelompok Arung Jeram
Teman Kelompok Arung Jeram

Setelah selesai mendengarkan penjelasan dari guide kami, lalu kegiatan yang ditunggu-tunggupun dimulai!

Yeeee aku arung jeram!

Kategori arung Jeram yang kami ikutin adalah Rute Progo atas kategori Pemula Grade III sepanjang 9 km dengan lama kegiatan 2 jam. Jalur Progo atas merupakan jalur favourite yang sering dipilih oleh wisawatan penikmat arung jeram khususnya pemula arung jeram. Tapi yang mahir arung jeram bisa juga memilih kategori expert. Kalau kami sih mengikuti jalur Progo Atas pemula aja cukup memacu adrenalin loh, untungnya tingkat kesulitannya aman bagi pemula sepertiku yang tidak bisa berenang.

Rafting di Sungai Progo, Magelang
Rafting di Sungai Progo, Magelang

Saat arung jeram dimulai,  aliran sungai membawa perahu kami mengikuti arus di Sungai Progo. Terlihat jelas muka-muka antusias bukan karena masa kecil kami kurang bahagia tapi main arung jeram itu serunya gak ketolongan. Percikan air Sungai yang lumayan besar yang sesekali membenturkan kami ke batu lumayan menantang. Debit air Sungai Progo waktu kami melakukan rafting lumayan besar serta pemandangan sekitar Sungai progo yang alami, penampang sungainya lebar. Walau sayangnya pas di beberapa Sungai banyak sekali sampah yang ada. Katanya karena musim hujan tapi semoga kedepannya penduduk sekitar bisa membersihkan sampah di Sungai mengingat kegiatan arung jeram di Sungai Progo sangat menarik.

Pengalaman pertamaku dalam arung jeram cukup membuatku deg-degan, lebih deg-degan daripada Cinta Pertama :D. Apalagi melewati jalur pertama di awal 4 km dimulai dari Pengarungan – Arung Jeram Progo Atas – Etape I kemudian menyusur jeram-jeram Grade I-II lalu kemudian menyusur jeram maskot – Ace – Grade III hingga menyusur jeram maskot II – Rodeo – Grade III.

Sumpah yang saat melewati Ace dan Rodeo mukaku itu antara takut, senang atau apalah yang penting aku teriak melulu kayak orang histeris tapi seru. Aneh kan ya? Yang pasti teriakan “aaaaaaaaah” itu biasa bahkan aku merasa di kelompokku aku doang yang begitu yang lainnya malah santai. Untung perginya ama blogger ya jadi gak malu-malu banget hahaha 😀

Rafting di Sungai Progo, Magelang
Rafting di Sungai Progo, Magelang

Sebenarnya ekpresi mukaku antara ketakutan dan gembira pas melewati jalur Ace dan Rodeo, karena takut terombang ambing, maklum aku gak bisa berenang kak. Memegang dayung sekaligus perahu serta mencari posisi duduk nyaman di perahu cukup susah buatku untungnya Kak Bulan mengajari cara memegang dayung yang benar sehingga si Kak Bulan senang banget ketika aku bisa mendayung setelah mengajariku.

Nah kejadian menengangkan saat di area Rodeo ketika Citra jatuh dari perahu kami. Gila itu panik banget aku tapi kok malah aku yah yang panik sementara yang jatuh dari perahu malah santai. Citra bisa renang sih ya! Tapi memang kalau jatuh saat rafting tidak perlu panik, santai saja dan posisi badan harus seperti tidur menghadap langit kemudian kita memberikan dayung kepada teman untuk naik lagi ke perahu.

Keseruan lainnya saat rafting di Sungai Progo, Magelang ketika sesekali kami nakal dengan membenturkan diri ke perahu teman yang lain serta ada adegan sesekali menyirami mereka dengan air.

Jadi main basah-basahan dah!

Gimana gak terasa yah 2 jam main rafting berlalu saking asiknya!

Rafting di Sungai Progo, Magelang
Rafting di Sungai Progo, Magelang

Waktu perjalanan arung jeram kami sempat istirahat pas ditengah perjalanan karena pemandu kami makan, maklum pasti lelah menemani kami blogger-blogger yang staminanya gak habis-habis! Teriaknya juga paling kencang 😀

Oh ya kami juga diberikan air mineral dalam melakukan arung jeram.

Setelah itu kami melanjutkan rute arung jeram kami dimulai dari Start arung jeram etape II kemudian menyusur rangkaian jeram Grade I-II hingga sampai di bagian  Finish Arung Jeram Progo Atas.

Selama melakukan arung jeram, aku baik-baik saja, hanya saja suara kayaknya habis teriak saking serunya. Mandi airnya juga lucu-lucu, ah seru pokoknya!

Rafting di Sungai Progo, Magelang
Rafting di Sungai Progo, Magelang

Basah kuyup tak terekkan, tapi sumpah sepanjang arung jeram mukaku itu ampun mina ampun karena antara senang dan takut bercampur. Duh image kece ilang sudah haha 😀

Setelah seleasi melakukan arung jeram kamipun keluar dari perahu kemudian kami menyerahkan pelampung, helm, dayung kepada pemandu kami di sebuah pendopo. Di pendopo pula kami istirahat sambil diberikan snak dan kelapa muda. Lelah setelah melakukan arung jeram hilang setelah kami minum kelapa muda, bak mengembalikan energi yang telah habis saat di arung jeram. Kemudian kami kembali ke Base Camp Progo Rafting di Hotel Puri Asri dengan angkot beramai-ramai.

Nah bagi teman-teman yang ingin rafting monggo atuh dicoba pas di Magelang siapa tahu ada yang sedang liburan di Magelang dan selesai lihat Borobudur maka tak ada salahnya menghilangkan stress dengan arung jeram!

Btw ada yang sudah pernah melakukan arung jeram? Dimana dan bagaimana perasaannya?

Rafting di Sungai Progo, Magelang
Rafting di Sungai Progo, Magelang

Tips Melakukan Arung Jeram Pertama Kali

1.Ikutin syarat yang ada dan pilihlah kelas pemula Grade III ( AWA Scale )

2. Usia peserta +7 tahun

3. Minimal peserta 4 orang

4. Mengikutin arahan dari pemandu

5. Kerjasama tim sangat diperlukan

6. Jika terjatuh jangan panik

7. Mendengarkan dengan baik arahan dari pemandu

Rafting di Sungai Progo, Magelang
Rafting di Sungai Progo, Magelang

Biaya Progo Rafting

Rp 200.000/orang (Fasilitas peralatan Arung Jeram, pemandu Professional, transportasi Lokal, mineral Water, makan 1x, kelapa Muda, Snack, Sertifikat, Foto 2 files / boat, Insurance dan Shower)

Lokasi Base Camp Progo Rafting Magelang

Hotel Puri Asri Magelang

Jl. Cempaka No. 9

Kota Magelang

Jawa Tengah

NB: Semua photo di tulisan ini dari hasil Progo Rafting dalam satu paket.

Salam

Winny