Trip Weekend Camping Keluarga ke Cibodas


Whenever you acthing, act as if the world were watching

By Thomas Jefferson

Camping Cibodas

Hello World!

Cibodas, September 2017

Ajakan trip untuk camping dari kak Wisnu ke Cibodas langsung aku iyakan tanpa berpikir panjang. Padahal Cibodas itu dimana dan bagaimana kesana aku tidak tahu, aku tahunya ikut saja. Dengan semangat ’45 aku mengajak teman-temanku untuk camping seperti Mba Ninik, Melisa, Kartina, hingga si Boreg Meta namun apa daya pas hari H mereka semua tidak jadi ikut karena suatu hal. Karena aku sendirian hampir rencana camping keluarga batal, namun akhirnya diputuskan jadi juga. Belum lagi drama hujan pas malam sebelum keberangkatan. 

Untung trip keluarga ini jadi. Dinamakan camping keluarga karena memang camping ini terdiri dari keluarga lengkap. Keluarga yang ikut untuk camping adalah keluarga kak Wisnu dan Kak Ridwan. Khusus trip bareng Kak Wisnu ini merupakan yang kedua kali untukku setelah Gunung Munara.

Cibodas
Cibodas

Untuk menuju ke Cibodas, aku nebeng dengan keluarga kak Ridwan dengan titik berkumpul di Cibubur junction dari awal jam 4 pagi menjadi jam 5 subuh. Dari Jakarta aku menggunakan taxi online langsung ke Cibubur kemudian jam 6an keluarga kak Ridwan datang lalu aku nebeng bersama mereka ke Cibodas. 

Nah karena edisi camping jadi aku paling heboh bawa peralatan lengkap mulai dari jaket hingga makanan hingga baw abaju lebgkap.

Asli niat banget!

Tapi yang paling salut kedua keluarga ini yang benar-benar membawa peralatan lengkap lengkip untuk kemah.

Perjalanan Cibubur ke Bogor lumayan lama karena macet, meski kami berangkat sekitar jam 7an nyampe di Cibodasnya malah jam 11an. Meski demikian tidak bosan dalam perjalanan karena pemandangan sejuk Puncak. Terus mba Febbi juga sangat ramah serta kami malah bicara tentang jalan-jalan sepanjang perjalanan ke Cibodas.

Camping

Sesampai di Cibodas, kami langsung mencari tempat untuk mendirikan tenda.

Ternyata mendirikan tenda tak segampang yang aku bayangkan. Aku dan kelurga kak Ridwan kewalahan dalam mendirikan tenda. Apalagi menancapkannya, sesusah menancapkan cinta di hati abang itu. Apalagi mendirikannya dibutuhkan usaha ekstra. Hampir 1 jam juga dengan kebersamaan akhirnya kami bisa mendirikan tenda.

Setelah tenda selesai barulah aku dan Mba Febbi tidur baru kemudian aku tertidur saking capek dan tidur yang kurang. 

Saat acara camping, lumayan banyak juga yang camping apalagi anak sekolah yang sedang ikut acara sepertinya sih memperingati Hari Pancasila.

Barulah sore hari keluarga kak Wisnu datang. Malamnya kami makan bersama. Padahal harusnya kami hendak nonton film tapi karena keluarga Kak Doni gidla bisa ikut sehingga kami makan malam saja. 

Menu makan kami adalah Nasi Kebuli yang dimasak oleh si Mba dan mie. Makan ala sederhana di tempat dingin rasanya nikmat sekali. 

Barulah selesai makan kami saling tukar pikiran. Tapi lebih tepatnya aku curcol ama Kak Febbi (istri Kak Ridwan) dan Kak Wilia (istri kak Wisnu). Camping yang kami lakukan lebih kepada camping manja karena semuanya serba ada baik berupa kamar mandi, musholla hingga pasar. Sempat aku berpikir kalau campingnya akan sesusah ke hutan seperti Papandayan dulu namun ternyata tidak, area perkemahannya sangat manusiawi untuk membawa keluarga. Padahal kalau dipikir-pikir ya dulu waktu sekolah paling malas ikut acara camping eh setelah gede malah pengen camping. Yang lucu celoteh si Mba katanya ada kamar bagus-bagus malah ke lapangan bak pengungsi. 😁😁😁

Begitulah manusia, selalu mencari yang tidak dia punya!

Nah karena tripnya trip keluarga jadi aku merasa diperlakukan seperti keluarga. Dan baru pertama kali aku ikut camping ke Cibodas yang merupakan bekas lapangan Golf.

Oh ya uang izin mendirikan tenda di Cibodas itu Rp27.500 ditambah uang air Rp5.000 dan diluar tiket parkir kereta. Kalau yang tidak mau repot seperti membawa tenda maka ada kok tempat penyewaan tenda, sleeping bag, matras hingga sepatu di Cibodas. Bahkan makanan juga mudah, tinggal beli. Pokoknya camping kondusif sekali bagi pemula. Apalagi ya udara dan pemandangan sekitarnya itu luar biasa. Pantas saja orang suka ke area Bogor karena menghirup udara segar. 

Untuk camping sendiri sangat seru karena aku ditemani bocah-bocah lucu, Aila dan Akhar. Namun pas malam hari udaranya cukup dingin sehingga harus membawa jaket tebal dan selimut tebal. 

Yang lucu keluarga kak Ridwan bawa perlengkapan lengkap mulai dari bantal sampai selimut, begitu juga keluarga kak Wisnu. Benar-benar persiapannya mantap!

Cibodas

Sayangnya camping kami sebentar sekali padahal lumayan seru. 

Jadi pagi harinya setelah sarapan kami langsung persiapan. Khusus yang masak itu Kak Wilia dengan cekatan. Baru bangun eh kak Wisnu udah ngasih makan ke tenda kami. Mba Febbi dan aku langsung pangling. Aku merasa pemalas sekali, memang udara dingin itu paling asik makan dan tidur.

Hari kedua Camping

Di hari kedua, kegiatan kami adalah trekking menuju air terjun. Ternyata air terjun yang kami datangi itu satu kawasan dengan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Intinya kalau mau ke Gunung Gede bisa lewat Cibodas.

Gunung Gede

Ada beberapa wisata yang bisa dilakukan di area Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Menariknya di papan pengumuman terdapat jarak tempuh untuk masing-masing tempat wisata. Bahkan ketika kami ke loket pembelian karcis masuk Taman Nasional Gunung Gede setelah melewati anak tangga yang menanjak, di loket kak Wisnu sempat bertanya mau ke air terjun yang dekat atau air terjun yang jauh. Untuk air terjun yang jauh akan mendapatkan dua spot wisata yaitu telaga biru dan air terjun Cibeureum. Tiket masuk air terjun Cibeureum Rp18.500 dan jika ingin ke air terjun Ciwalen biayanya Rp40.000 dan melewati canopytrail. Namun akhirnya kami memilih ke air terjun yang jauh setelah keluarga kak Ridwan memberikan saran ke air terjun jauh.

Loket Wisata Taman Nasional Pangrango

Maka perjalanan treking kamipun dimulai. Kami berangkat sekitar jam 9 pagi. Jalanannya lumayan menanjak namun ada jalanan setapak dari batu sehingga mudah untuk diikuti. Yang paling aku suka adalah udaranya yang bersih. 

Serasa menyatu dengan alam!

Selama menanjak kami ada kalanya istirahat. Sesekali mengumpulkan tenaga karena rutenya lumayan jauh. Pada hari itu kebetulan pengunjung lumayan banyak karena pas kami treking sering berjumpa dengan orang. Bahkan beberapa membawa tas gede, kelihatan hendak camping ke Gunung. Disitu aku salut dengan anak Gunung yang memiliki fisik yang tangguh bahkan membawa tas segede begitu.

Telaga biru
Butuh waktu sekitar 2 jam agar sampai ke Telaga Biru, sayang pas sampai kesana warnanya hijau bukan biru. Namun tetap indah untuk dipandang mata.

Dari telaga biru kami butuh berjalan lagi sampai melewati jembatan batu yang beberapa berlubang, kiri kanan dengan pemandangan hutan dan pepohonan. Yah ibarat cuci mata dengan keindahan alam! Barulah sekitar jam 1 siang kami sampai di Air Terjun Cibeureum.

Jalan menuju air terjun
Oh ya kami juga sempat lupa membawa makanan saat trekking ke Air terjun. Untungnya ada Bapak yang jualan makanan berupa gorengan serta minuman di area air terjun dan sebelum air terjun. Khusus minuman agak mahal karena harganya Rp10.000 padahal biasa beli Rp3000 namun wajar karena jauh berjalan ke hutan demi jualan air minum dalam kemasan.

Air terjun Cibeureum cukup menarik karena ada dua air terjun yang saling berdekatan. Dan diujungnya lagi ada satu dalam satu kawasan jadi ada 3 air terjun. Namun karena kelihatan jelas adalah 2 air terjun sehingga sering disebut air terjun kembar. Menariknya di lokasi air terjun tersedia toilet, Musolla dan penjual makanan serta tong sampah. Jadi lumayan lengkap fasilitasnya meski pas perjalanan kami masih melihat banyak sampah yang dibuang sembarangan. 

Sayangnya kami tidak lama-lama di air terjun hanya sekitar 1 jam saja karena kami hendak pulang. Lucunya pas pulang hanya membutuhkan waktu 2 jam saja padahal pas naik 4 jam eh di lokasi 1 jam saja. Walau demikian piknik singkat trip bareng kedua keluarga ini cukup seru.

Pas kami sampai di tempat semula itu jam 4 sore dan hujan turun deras. Dan tebak jam berapa aku sampai di Jakarta?

Jam 11 malam 😰

Air Terjun Cibeureum

Tips Kemah Cibodas dan mendaki

1. Area Cibodas cukup lengkap peralatan kemahnya jadi yang tidak memiliki peralatan kemah bisa menyewa di area perkemahan Cibodas

2. Untuk cara ke Cibodas Golf dengan menuju ke arah Puncak Bogor kalau dari bogor bisa ke Barangnisiang terus bisa dengan angkot warna kuning ke arah Cibodas, ingat lokasinya adalah bekas Golf jadi Bumi perkemahan Cibodas.

3. Bawa jaket tebal karena pas malam hari sangat dingin

4. Bawa sepatu dan makanan serta minuman saat trekking

5. Terdapat tempat mandi di perkemahan Cibodas jadi bisa mandi juga

6. Kalau bisa pas kemah jangan sendiri karena lebih seru beramai-ramai

Salam 

Winny

Iklan

Uji Nyali di Gunung Parang Via Ferrata


The fear we do not face become our limits By Unknown

Hello World!

Surakarta, Agustus 2017

Salah satu ketakutan terbesar dalam hidupku adalah ketinggian. Kalau misalnya jalan-jalan yang berhubungan dengan ketinggian pastilah membuat nyaliku ciut. Itulah sebabnya aku jarang ikut mendaki pegunungan atau olahraga yang berbau ketinggian. Walau ada juga pengalaman beberapa naik gunung tapi dipastikan yang mendaki ekstrim bukanlah aku. Jangankan mimpi mendaki seperi Gunung Rinjani, naik lift di mall aja kalau terbuat dari kaca saja membuat jantungku deg deg syerr. Bahkan meski tiap hari ke kantor dengan ketinggian lantai sampai 40 ke 50an tetap tak bisa menghilangkan ketakutan akan ketinggian. 

Tapi entah kenapa ketika temanku Melisa dan Susanto mengajakku untuk mendaki Gunung Parang aku iyakan. Awalnya kami hendak trip weekend ke Pulau Seribu dengan Ines dan Ebeth tapi karena keduanya tidak bisa akhirnya ajakan Santo ke Gunung Parang dengan photo cakep membuatku ingin ikut. Tanpa basa basi Melisa pun langsung membayar DP open trip hasil nyari di Instagram di menit-menit kepergian.

Sampai hari H aku belum tahu kalau ke Gunung Parang di Purwakarta untuk mendaki Gunung. Di benakku adalah mendaki Gunung seperti layaknya Gunung Galunggung dengan tangga atau sekelas Gunung Papandayan. Karena kedua gunung ini pernah aku kunjungi maka dibenakku Gunung Parang tak jauh-jauh dari keduanya. 

Titik kumpul kami di Semanggi dengan bantuan Melisa mencarikan open trip sehari dengan harga Rp350.000. Aku sempat telat datang jam 6:30an padahal ngumpul di itin harusnya jam 6 sudah berangkat. Santo sendiri yang paling cepat datang sementara Melisa paling telat datang. Padahal dia yang bookingin buat kami berdua. Akhirnya baru jam 8an juga kami berangkat menuju Purwakarta dengan elf. 

Selama perjalanan kami bertiga banyak ngegosip sampai kami tertidur. Sesampai di Purwakarta jam 11 dengan cuaca yang cerah. 

Ini kedua kali aku melewati jalan ini, kata Santo kepada kami

Elf pun diparkirkan dan kami keluar menuju tempat dimulai pendakian kami. Dari kejauhan aku melihat Gunung Parang dan dalam hati dimana letak tangganya. Perasaan seperti bukit terjal. Hingga sampai di sebuah tempat istirahat barulah aku sebenarnya tujuan kami mendaki melalui tangga besi. Bukan tangga semen, jadi via verrata itu dari Bahasa Italia yang berarti iron ladder alias tangga besi. Dalam hatiku “mate”.

Boro-boro naik gunung, ketinggian aja gakut. 

Piye iki?

Karena udah terlanjur akhirnya aku ikutan. Di base camp kami makan siang bersama peserta lainnya. Disini juga aku dan Melisa berkenalan dengan teman Santo dari trip Rinjani “Ditt” dan “Bu Jenny”. 

Bu Jenny malah mengajak kami mendaki 350 meter padahal kami hanya mendaki 150 meter. Eh langsung diiyakan dengan tambahan 100rb padahal aku sebenarnya gak yakin bisa naik apa ngak. Yang penting ikut-ikut saja. 

Bu Jenny sampai kegirangan ketika kami mengiyakan ikut sampai ketinggian 350 meter.

 Jam 1 barulah kami memulai mendaki. Sebelumnya kami sudah dipasangkan pelindung diri berupa helm dan alat untuk mendaki. Pas memakainya pun dibantu oleh pemandu kami. Memakainya aku merasa seperti abang-abang yang sedang membersihkan gedung tinggi. 

Karena kami berlima adalah kelompok mendaki 350m kamilah di depan lalu rombongan yang mungkin berkisar 15 ke 2an orang. Beramai-ramai dari basecamp kami melewati hutan bambu mendaki ke tempat pendakian awal kami.

Sebelum mendaki kami berdoa dan diberikan pengarahan tentang cara mendaki dan menggunakan alat mendaki. 

Tiba untuk mendaki, pemandu kami di depan lalu diikuti Bu Jen, Ditt, Melisa, Santo lalu aku. 

Dalam hati “Oh Tuhan apa yang aku lakukan”. Aku mendaki dengan alat mendaki! Pas naik tanganku gemetar tak karuan kakiku juga ikutan gemetar. Padahal baru dua tiga anak tangga besi yang aku lalui. Aku hampir turun saking gemetarannya namun dengan hati-hati aku melanjutkan mendaki berlahan.

Rute mendaki via ferrata cukup menantang, kadang miring ke kiri kadang miring ke kanan. Aku sebenarnya heran ada apa denganku kenapa senekat ini. Bukankah aku takut ketinggian?

Tekatku pun aku kuatkan dengan melanjutkan mendaki. Pas diatas angin berhembus dengan kencangnya yang membuatku semakin gemetar. Rasa panas matahari hilang dengan rasa motivasiku sampai ke atas. 

Ayoo boo pasti kamu bisa, begitu kata Santo

Ayo Win kamu bisa, kata Melisa menyemangati.

 

Dengan usaha ekstra akhirnya aku sampai di ketinggian 150meter via ferrata. Tapi aku tidak jadi mendaki ke 350 meter karena aku khawatir akan turunnya.

“Teman-teman sorry gue gk jd ke atas ya”. Aku sampai disini saja kataku!

Akhirnya keempat temanku mendaki keatas hingga 350 meter sementara aku duduk manis santai di Gua di Gunung Parang, Purwakarta. 

Beberapa orang dari peserta berlewatan hingga mereka meninggalkan aku yang masih duduk manis di dalam Gua. Bahkan sempat ngobrol dengan beberapa peserta di atas Gua. Yang pasti ini adalah pengalaman pertamaku mendaki Gunung dengan tangga besi sementara aku takut ketinggian.

Gila aku serasa berada di acara fear factor, kataku sambil ketawa tak jelas

Hampir 2 jam aku berada di Gua hingga temanku Santo dan Melisa serta Dit dan Bu Jenny kembali lagi.

Bersantai di Gua Gunung Parang membuatku lupa akan ketakutan. Apalagi pemandangan dari atas itu sangat spektakuler. Danau Jatiluhur terlihat jelas serta perumahan penduduk. Aku masih tak menyangka aku bisa manaklukkan rasa takutku.

Winny, kau keren aku fans begitu kata Melisa senyum-senyum

Padahal si Melisa gak tahu saja sebenarnya aku takut banget. Bahkan 2 jam berdiam diri di Gua menunggu mereka turun saking takutnya turun. 

Hehhehe😀

Untuk turun tak kalah ektrimnya. 

Pakai tali!!!

Seolah seperti spiderman atau cicak. Mungkin naik bisa mudah tapi pas turun justru membuatku 100x ketakutan. Disinilah aku belajar percaya akan tali dan orang yang memegangnya.

Pas turun aku membaca Alfatihah keras-keras karena berjalan diatas gunung dengan posisi seperti tidur serta bergantung pada tali tidaklah mudah. 

Disinilah aku benar-benar belajar banyak hal untuk mensyukuri hidup serta melawan rasa takut itu sendiri.

Mel tadi pas turun gampang, kan? Kataku

Iya Win turun lebih gampang dari mendaki! Kata Melisa

Sama kayak hidup Mel turun itu lebih gampang, kataku pada Melisa

Begitulah obrolan kami setelah beranjak dari kaki Gunung Parang. Waktu sudah magrib dan pengalaman mendaki pertamaku Alhamdulillah hanya memberikan bekas lembab di lutut. Tapi aku senang karena aku bisa uji nyali serta belajar mengobati rasa takut itu sendiri.

Tips mendaki Gunung Parang

1. Membawa sarung tangan

2. Membawa sunblok, kacamata, kelengkapan mendaki

3. Memakai pakaian dan sepatu mendaki yang nyaman

4. Bagi pemula sebaiknya dengan pemandu

Alamat Gunung Parang

Purwakarta, Jawa Barat

Salam

Winny

9 Hal yang bisa dilakukan di Pekalongan dan Kabupaten Batang


“Impossible is not a fact… it’s an opinion. What’s impossible only remains so until someone finds a way to do what others are sure can’t be done.”

By Anthony Robbins

Hello World

Pekalongan, Mei 2017

Pekalongan dan Batang merupakan nama daerah di Jawa Tengah yang patut dikunjungi karena kedua tempat ini memiliki tempat menarik loh, mulai dari museum hingga alam. Bahkan aku tidak pernah menyangka kalau berkunjung ke Pekalongan dan Batang bisa menjelajah tempat baru serta yang paling penting “antimainstream“. Apalagi jarak Jakarta ke Pekalongan tak begitu jauh dan mudah untuk diakses, sehingga pas liburan tiba maka Pekalongan dan Batang bisa menjadi pilihan untuk dikunjungi.

Bagi yang ingin berkunjung kedua tempat di Jawa Tengah ini maka paling tidak ada 9 Hal yang bisa dilakukan di Pekalongan dan Kabupaten Batang (berdasarkan pengalaman jalan-jalan ke Pekalongan dan Batang)

1. Belajar Membatik di Komunitas Pembatik Rifaiyah, Kabupaten Batang

Belajar Membatik (Sumber Photo Wira Nurmansyah)

Untuk pertama kalinya dalam hidupku mencoba membatik dan itupun aku lakukan di Kabupaten Batang. Dengan membatik aku jadi belajar tentang “proses” dan mengambil hikmah bahwa kesabaran dan ketelitian dalam membatik sangat penting. Dengan belajar membatik maka sebenarnya kita ikut berpartisipasi dalam menjaga warisan leluluhur kita, apalagi dengan belajar membatik bisa menambah talenta kita sendiri.

Jadi sambil liburan sambil menambah ilmu!

Kan lumayan kalau misalnya kita pamer ke orang luar sambil berkata ” i can show you how to make Batik“.

Kalau ada yang nanya “what is Batik“, maka jangankan menjelaskan defenisi Batik, ngebatik aja bisa!

Kan jadi bangga tuh!

Iya ngak?

Jadi sesekali belajar membatik itu perlu untuk membuktikan rasa cinta terhadap Indonesia dari hal kecil dengan bangga akan peninggalan Indonesia berupa Batik! Kan ada kata pepatah “tak kenal maka tak sayang”, maka kenalilah Batik Indonesia 🙂

Baca juga pengalaman membatikku

2. Mendapat Informasi tentang Batik di Museum Batik Pekalongan

Museum Batik, Pekalongan

Kalau di Kabupaten Batang bisa belajar membatik dengan motif Batik Rifaiyah Batang, maka di Pekalongan bisa belajar membatik khas Pekalongan sekaligus menambah wawasan tentang Batik. Dengan mengunjungi Museum Batik Pekalongan maka dijamin menambah wawasan tentang Batik mulai dari proses pembuatan Batik, alat dan bahan sampai koleksi berbagai Batik dari berbagai daerah di Indonesia.

Aku sendiri mendapat pengalaman berharga dengan mnegunjungi Museum Batik Pekalongan  karena lebih tahu tentang Batik itu sendiri serta koleksi batiknya itu lucu-lucu dan warnanya juga menarik.

Mengunjungi Batik Museum Pekalongan ibarat kata jalan-jalan sambil belajar.

Kapan lagi mengisi waktu liburan yang bermanfaat?

Jadi gak ada salahnya ke Museum!

Lokasi Museum Batik Pekalongan

Jl. Jatayu No. 1, Kota Pekalongan
Jawa Tengah

Harga Tiket Museum Batik Pekalongan

Dewasa Rp5.000, Anak-anak Rp2.000,  Mancanegara Rp10.000

Jadwal Buka Museum Batik Pekalongan

Setiap hari jam 08:00 – 15:00 termasuk hari minggu dan besar

Tutup tahun baru, 17 Agustus, Lebaran Idul Fitri, Lebaran Idul Adha dan tahun baru islam

Baca juga perjalananku ke Museum Batik Pekalongan

3. Bermain Pantai di Pekalongan

Pekalongan

Pekalongan juga memiliki pilihan Pantai loh sehingga selain dapat Pegunungan, Curug maka bisa juga bermain di Pantai. Sayangnya waktu aku ke Pantai di Pekalongan hari sudah senja sehingga pupus harapan untuk melihat matahari terbenam. Bahkan ajakan dari seorang Bapak untuk melihat Lumba-lumba pun sirna karena keterbatasan waktu. Tapi semoga di lain kesempatan dapat menjelajah Pantai-pantai yang ada di Pekalongan.

Oh ya salah satu nama Pantai di Pekalongan adalah Pantai Pasir Kencana.

4. Kuliner di Pekalongan

Kuliner Pekalongan

Pekalongan dan Batang memiliki makanan khas tersendiri, sehingga kalau tidak mencoba kuliner khas daerah tersebut pas sudah di tempat rasanya ada yang hambar. Untuk makanan khas Pekalongan yang paling aku suka adalah tauto Pekalongan, semacam soto namun dengan rasa tauco. Kuahnya enak sehingga lahap pas makan! Selain itu bisa juga mencoba nasi Megono, kuliner khas Pekalongan.

Sudah pernah kuliner di Pekalongan?

5. Mencoba Teh Pagilaran di Kabupaten Batang

Berbagai jenis Teh Pagilaran, Batang

Pernah melihat proses langsung pembuatan teh di pabriknya? Kalau aku sih pernah 2x, sekali di Bogor dan kedua di Pagilaran,  Kabupaten Batang. Tidak hanya melihat proses pembuatan teh, di Pagilaran bisa juga Agrowisata mulai dari melihat kebuh teH sampai mencoba teh di Pagilaran. Teman-teman bisa juga menginap di area Agrowisata Pagilaran. Bagi yang ingin memanjakan mata dengan warna hijau-hijau maka ke Pagilaran menjadi salah satu daftar untuk dikunjungi di Batang.

Di Pagilaran aku belajar banyak tentang teh dari Pakarnya sambil icip-icip teh mana yang sesuai dengan selera setelah melihat proses produksi teh. Pelajaran dari berkunjung ke Pagilaran yang aku dapatkan adalah bagaimana mengetahui tingkat pewarna dalam teh khususnya teh yang sudah dikantong kecil. Caranya dengan menyiram teh dengan air dingin, kalau tehnya mengeluarkan warna maka pewarnanya itu banyak.  Lalu jika ingin memanaskan teh jangan pada suhu 100 derajat Celcius. Ilmu ini bisa dipraktekkan dalam memilih teh 🙂

Alamat Agrowisata PT. Pagilaran

Kantor Bagian Agrowisata Pagilaran

Kec. Baldo, Kabupaten Batang

Jawa Tengah

6. Mencoba Minuman Lawas Masa Kecil, Limun Oriental

Minuman Limun (Sumber Photo: Wira Nurmansyah)

Untuk yang belum tahu limun, minuman yang sempat hits di era 70-90’an maka tidak ada salahnya mengunjungi Pekalongan tepatnya di Pabrik limun Oriental Pekalongan, tak jauh dari Museum Batik Pekalongan.

Selain dapat ilmu proses membuat limun, maka bisa icip langsung limun di tempat dengan harga Rp3000 saja tanpa botol. Variasi minumannya juga banyak jadi bisa bereksperimen rasa apa yang dirimu suka.

Aku sendiri paling suka rasa Mocca, dan tenang,…..gulanya pakai gula alami kok sehingga tidak membuat haus.

Jam Buka Pabrik Limun Pekalongam

Sabtu-Kamis: Jam 09.00-16:00

Jumat tutup

Alamat Pabrik Limun Pekalongan

Jl. Rajawali Timur No. 10

Panjang Wetan

Pekalongan Jawa Tengah

Baca juga terkenang dengan minum djadoel

7. Menyatu dengan Alam di Petungkriyono

Curug Bajing

Bagi yang suka alam dan ingin memanjakan diri dengan Air terjun/Curug hingga Sungai maka kawasan Petungkriyono menjadi pilihan. Paling tidak dalam satu kawasan Petungkriyono banyak pilihan wisatanya antara lain Curug Bajing, Curug Muncar, Curug Lawe, Curug Sibedug, Curug Telu dan Kedung Pitu, Curug Jepang, kebun strawberry sampai river tubing di Sungai Welo. Tidak hanya itu jika beruntung bisa melihat langsung binatang langka, Oa Jawa di Petungkriyono.

Aku sendiri sangat suka mengunjungi Petongkriyono karena bak berada di Amazone, hutan belantara dengan pemandangan indahnya. Sepanjang perjalanan ke Petungkriyono membuatku adem bahkan sepanjang perjalanan dari Pekalongan mudah mendapatkan spot photo cakep mulai dari air terjun, sungai sampai persawahan.

Lokasi Curug Bajing

Dusun Kambangan Desa Tlogopakis,

Kecamatan Petungkriyono

Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah

Harga tiket masuk ke Curug Bajing

Hari biasa dan hari libur Rp4000

Hari Libur Nasional Rp6000

Baca juga perjalanan ke Curug Bajing

8. Spot Photo Selfie Terbaik dengan Hutan Pinus

Hutan Pinus Petungkriyono

Bagi yang suka photo khususnya kamu si “Instagram mania” maka kudu banget dijadwalin ke Pekalongan dan Batang karena salah satu tempat photogenic itu berada di Kembang langit. Di kembang langit ada hutan pinus serta sudah dibuat khusus tempat untuk photo-photo. Bahkan hutan pinus ada payung lucu-lucu. Sayangnya karena hujan kami tidak sempat photo dengan payung ala Hutan pinus.

Selain di kembang langit, di daerah Petungkriyono juga terdapat hutan pinus.

Siap-siap serasa Bella-Edward jika berada di hutan pinus.

Gak nyangka yah ada hutan pinus di Batang!

9. Belanja Batik Murah di Pasar Setono Pekalongan

Pasar Batik Setono Pekalongan

Pernah kalap belanja gak?

Aku kalap belanja di Pasar Batik Setono, Pekalongan. Bukan apa-apa pas berkunjung ke Setono, lihat batik berwarna-warna dengan harga yang bisa ditawar pula membuatku beli Batik banyak sekali.

Disini keluar aura kewanitaanku 100% karena “suka shopping” hihi 😀

Di Setono memiliki banyak jenis Batik, dan harganya murah-murah lagi, bahkan ada Batik yang harganya Rp20,000 saja, asalkan pintar menawar!

Murah kan? Gimana gak kalap coba?

Saking kalapnya akulah orang terakhir ditunggu pas pulang saking asiknya belanja dari satu toko ke toko lainnya di Setono, Pekalongan. Walau habis uang namun aku bahagia, bahagia memborong Batik 🙂

Alamat Pasar Batik Setono Pekalongan

Karangmalang

Pekalongan

Jawa Tengah

Ternyata Pekalongan dan Kabupaten memiliki tempat wisata yang menarik untuk dikunjungi bukan?

Nah yang berminat ingin ke Pekalongan caranya mudah kok bisa melalui via bus, kereta maupun pesawat. Waktu keberangkatan kami melalui pesawat dan pulangnya melalui kereta.

Bagi yang ingin ke Pekalongan dengan pesawat bisa melalui Semarang dan tak usah khawatir karena cari tiket pesawat murah sekarang ini mudah kok.

Jangan lupa mengunjungi Pekalongan ya dan beli tiketmu sekarang dan berjalan-jalanlah 😉

Salam

Winny

Pengalaman Belajar Membatik di Batang


New friends may be poems but old friends are alphabets. Don’t forget the alphabets because you will need them to read the poems.

By William Shakespeare

Batik Batang

Hello World!

Batang, 2017

Tak pernah sedikitpun terlintas dalam pikiranku untuk mencoba yang namanya membatik hingga ada kesempatan belajar membatik di Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Tentu saja pelajaran membatik ini menjadi pengalaman pertamaku, dulu pernah melihat workshop membatik di Museum Mandiri Kota Tua tanpa mencoba ngebatik. Waktu itu lebih mengenal aneka Batik dari berbagai daerah. Siapa sangka aku mendapatkan kesempatan untuk membatik di Batang bersama teman-teman Blogger dan rombongan Dinas Pariwisata. Kami mengunjungi Komunitas Batik Rifaiyah di Kabupaten Batang yang tak jauh dari Pekalongan untuk belajar membatik secara langsung. Tentu saja tingkat keseruan membatik dengan tangan sendiri dapat memacu Hormon Dopamin.

Beruntung karena aku jadi lebih tahu bagaimana proses membatik!

Membatik di Kabupaten Batang

Tentang Batik Rifaiyah

Batik Rifaiyah merupakan Batik Pesisir memiliki kekhasan terutama dalam hal motif, dimana Batik Rifaiyah memiliki motif tumbuhan dan jarang menggunakan motif hewan maupun manusia. Sama halnya dengan kekhasan Batik di Indonesia, Batik Rifaiyah mengandung filospoi tersendiri serta pembatik Batang memegang teguh ajaran Islam karena memang mayoritas pembatik Batang adalah Muslim. Bahkan nama Batik Kabupaten Batang diambil dari nama Guru Besar Pondok Pesantren Batang, KH. Ahmad “Rifa’i”. Batik Rifaiyah yang merupakan gabungan Batik Klasik Solo dan Jogja memiliki 24 motif dasar yaitu , ila ili, gemblong sairis, dapel, nyah pratin,   pelo ati, kotak kitir, banji, sigar kupat, lancur, tambal, kawung ndog, kawung jenggot, dlorong, materos satrioromo gendong, jeruk no’i, keongan, krokotan, liris, klasem, kluwungan, jamblang, gendaghan dan wagean. Salah satu Batik Batang yang terkenal adalah Batik “Tiga Negeri yanga harganya paling murah sekitar 800ribua sampai 20 juta.

Sungguh harga yang cukup fantastis, namun melihat langsung lamanya membatik yang bisa mencapai 1 tahun dengan tingkat kerumitan seperti wajar saja. Belum lagi dalam pengerjaannya tergantung dari kegiatan si Pembatik. Kalau kata Bu Uting Batik Batang itu adalah “Batik Sambilan”, “sambil momong anak”, sambil masak”.

Membatik

Belajar Membatik di Kabupaten Batang

Kegiatan belajar membatik kami diajari oleh Ibu Uting. Ibu Uting ini adalah salah satu pembatik dari Komunitas Batik Rifaiyah, Kabupaten Batang. Beliau sudah belajar membatik dari orang tuanya sejak umur 10 tahun.

Sehingga kami belajar membatik dari sang ahli!!

Beliau sudah mendapat kabar tentang kedatangan kami jauh hari untuk kegiatan belajar membatik darinya. Kami disambut baik oleh Ibu Uting meskipun kami sempat tiba agak terlambat dari janji yang disepakati. Ibu Uting telah mempersiapkan alat-alat dan bahan membatik bagi kami hal ini terlihat jelas ketika si Ibu datang saat kami menunggu beliau. Tempat membatik kami di depan teras rumah Ibu Uting.

Membatik

Di depan teras rumah Ibu Uting sudah ada bangku kecil, kain yang sudah di pola dan yang belum diberi pola dengan pensil serta sudah ada kompor dan kuali kecil untuk memanaskan lilin (malam) dan canting.

Secara sederhana cara membatik ialah pertama mengambil lilin (malam) dengan menggunakan canting halus dari bambu yang sudah dipanaskan terlbeih dahulu diatas kompor lalu setalah panas lilin dimasukkan ke canting sambil ditiup kemudian lilin tersebut diukir pelan-pelan ke kain sesuai dengan motif yang ada. Menurut pendapat Bu Uting craa memanaskan lilin itu yang paling bagus adalah dengan bahan bakar minyak tanah. Sehingga terjawab sudah kenapa harga batik bisa mahal. Karena memanaskan lilin nya dengan minyak tanah. Nah lalu apa itu lilin (malam)? Itu adalah bahan untuk pembuatan batik.

Yudha sedang konsen membatik

Kesan pertamaku dalam membatik adalah “susah” karena aku bukan anak yang terlahir dengan bakat menggambar. Jadi pas membatik aku diberikan kain putih polos sehingga aku leluasa menggambar apa saja di kain tersebut namun yah mau gimana otakku dominan kiri sih. Sehingga gambar yang aku buat di kain katun putih itu ngasal. Padahal Ibu Unting sudah menyiapkan motif di kain putih tinggal mengikuti pola tersebut. Namun jangan salah, yang sudah ada motifnya saja tinggal mengikuti pola susahnya minta ampun apalagi yang tidak ada pola sama sekali, alhasil gambarku itu “berliku-liku” seperti percintaanku hihihhi 😀

Leoni dengan cermat membatik

Yang tak habis pikir adalah bagaimana Ibu Uting dengan piawai membatik, sungguh membuat iri.

Beliau tidak perlu mmebuat pola di kain itu dengan pensil, tangannya langsung piawai dalm menggambar dan hasilnya bagus. Memang bagi pembatik Batang motif itu sudah ada dipikiran mereka sementara karena kami masih proses belajar sehingga motifnya dicetak pensil dulu baru kami tinggal taruh lilin (malam). Namun jangan anggap remeh, karena beberapa kali meniup canting (alat untuk lilin) kadang malah kena ke tangan dan lumayan panas. Sebab lilin harus dipanaskan, terus kadang cantingnya meluber kemana-mana alhasil motif gambarku “ababil” alias “entah apa-apa” haha 😀

Aku, Wira dan Bu Yanti membatik (sok serius)
Bu kalau ada kontes calon menantu harus bisa membatik, 
saya gagal, begitu kataku ketika asik membatik.

Terus si Ibu berkata aku pasti bisa kalau tinggal di Batang minimal 6 bulan dan setiap hari membatik!

Jujur saja, tidak pernah terpikir olehku betapa membuat sebuah Batik itu membutuhkan kesabaran, keuletan, ketelitian yang cukup tinggi. Yah perjumpaan dengan Bu Uting mengingatkanku kembali akan pelajaran berharga dalam hidup terutama saat belajar membatik untuk “bersabar”.

Karena kesabaran adalah kunci utama dalam hidup 🙂

Ekspresi senang dalam membatik (Sumber photo: Wira Nurmansyah)

Ada yang lucu saat pengalaman membatik kami. Jadi karena hasil Bati Yudha yang kurang memuaskan, sehingga dia menyuruh Bu Uting memahat namanya di salah satu karya Bu Uting.  Temanku Yudha, sampai niat banget pencitraan dengan memakai hasil batik Bu Uting tapi seolah-olah miliknya karena punyanya gagal total. Kelakuannya ini sungguh membuat senyum kami merekah.

Dari belajar membatik dengan Bu Uting membuka mataku bahwa sebenarnya Indonesia mewariskan budaya yang sangat luhur yaitu “Batik” karena dengan membatik belajar yang namanya ketekunan dan kesabaran.

Hal yang sudah jarang dalam hidup!

Kami yang ngikutin pola saja kewalahan bahkan lilinnya sering jatuh eh si Ibu Uting malah santai dan hasilnya keren. Tak habis pikir bagiku keuletan dari para pembatik Bayang. Bayangkan saja para pembatik Batang ini membatik itu tergantung kesibukan masing-masing dan belajarnya pun otodidak namun hasilnya bagus sekali.

Menariknya bagi pembatik Rifaiyah, membatik tidak hanya sekedar memenuhi kebutuhan sandang pangan saja tapi juga sudah berkembang menjadi mata pencaharian. Permintaan konsumennya bahkan sampai ke Luar Negeri, wajar “homemade” itu memang special.

Dan terakhir, please jangan diketawin hasil karya membatikku dengan penuh cinta!

Hasil Karya Batik Winny

Pelajaran yang saya petik dengan belajar membatik di Komunitas Batik Batang Rifaiyah selain proses membati, saya belajar tentang menahan emosi dan teliti.

Nah kalau ingin belajar manajemen emosi maka silahkan membatik dan datangi Kabupaten Batang di Jawa Tengah dan ukur sendiri tingkat kesabaranmu!

Ada yang sudah pernah belajar membatik?

Salam

Winny

Mengenang Masa kecil di Pabrik Limun Oriental


Love is an irresistible desire to be irresistibly desired.

Robert Frost

Hello World

Pekalongan, Mei 2017

Siang begitu terik di Kota Pekalongan kala kami meninggalkan Museum Batik. Dari Museum Batik kami beranjak menuju Pabrik minuman bersoda, tak jauh sekitar 50 km kearah Lapas Pekalongan. Sesampai di Lapas Pekalongan, di depannya terdapat sebuah rumah dengan gaya Vintage ala Tionghoa-Belanda. Di depan pagarnya terdapat Logo Nyonya berwarna biru sedang menggenggam minuman dengan latar belakang kuning dengan tulisan “Oriental”.

Tak lama-lama buatku untuk memasuki rumah tersebut. Di depan pintu rumah lagi-lagi ada tulisan “Oriental Cap Nyonya”.

Yah kami memasuki sebuah rumah yang sekaligus pabrik pembuatan limun

Iya Limun!!

Hayooo siapa yang tahu Limun?

Limun merupakan minuman dengan soda ringan. Bedanya dengan minuman soda zaman sekarang yang sering kita minum adalah di gulanya. Untuk Limun Oriental menggunakan gula asli sehingga manisnya pas dan tidak membuat haus.

Nah pas di Pekalongan ternyata ada sebuah pabrik yang masih menjual Limun. Alhasil pas masuk dan lihat segelas minuman celoteh pertamaku adalah “WOW LIMUN”.

Kalau yang tahu Limun dipastikan kamu adalah anak generasi 80’ 90’ karena memang ingat Limun, ingat masa kecil dimana masih polos-polosnya. Bahkan dulu waktu kecil suka banget beli Limun, bisa tuh minum 3x sehari. Ujung-ujungnya uang jajan habis buat minum doang. Alasannya klise, belinya karena warnanya warna warni dan rasanya juga enak.

Buatku mencoba limun di usia sekarang ibarat kata mengenang MASA Indah pas masih BOCAH hihi 😀

Kapan lagi mendapat kesempatan untuk icip minuman kesukaan masa kecil. Aku sendiri tidak menyangka kalau Pekalongan masih memiliki pabrik limun.

Aku malah tahunya Pabrik Limun Cap Badak, nah loh ketahuan kan Bataknya hihi 🙂

Lain Sumatera, lain Jawa, kalau di Siantar ada Cap Badak maka di Pekalongan ada Cap Oriental.

Jadi mengunjungi pabrik LIMUN di Pekalongan menjadi pengalaman tersendiri!

Nyicip Limun (Sumber Photo Wira Nurmansyah)

Pabrik limun Pekalongan sudah ada sejak 1910 dengan merk dagang Oriental Cap Nyonya.  Tidak hanya memproduksi limun, pabrik Oriental pernah juga memproduksi rokok Cap Della hingga tahun 70-an serta kopi dan teh cap Kapal.  Sayangnya untuk area pemasaran masih terbatas.

Yang menarik dari mengunjugi Pabrik Limun di Pekalongan adalah kesempatan untuk melihat langsung proses pembuatan limun serta melihat sejarah tentang limun Oriental di Pekalongan. Tidak hanya itu, aku sempat melihat logo Oriental dari waktu ke waktu di dinding rumah yang sekaligus Pabrik limun di Pekalongan. Logo ini menjadi bukti perubahan yang ada di Limun Oriental. Walau permintaan Limun tidak seperti era 80′ 90′ an namun aku terpana saja masih ada limun sejak sekarang. Bukannya apa-apa, tahu sendiri sekarang ini susahnya mencari Limun apalagi di supermarket ternama jarang yang menjual produk Indonesia padahal rasanya tidak kalah dengan produk luar, khususnya berbicara tentang limun ya!

Logo Oriental dari waktu ke waktu

Menariknya Limun Oriental ini sudah ada jauh sebelum Indonesia Merdeka artinya minuman ini sudah lebih dari seabad. Keunikan dari pembuatan Limun Pekalongan dari prosesnya yang masih mempertahankan cara dan resep dari leluhur Njoo Giok Lien dari tahun 1923.

Di dalam pabrik kami juga melihat langsung proses pembuatan limun mulai dari pembersihan gelas hingga gelas ditutup dengan tutup botol. Prosesnya memang sederhana namun seru mengamati langsung proses pembuatan Limun.

Jalan-jalan sambil dapat ilmu proses produksi limun!

Satu lagi yang menarik dari Pabrik ini adalah tingkat loyalitas dari karyawan, waktu itu aku sempat berbicara dengan seorang kakek yang sudah bekerja di Pabrik ini lebih dari 30 tahun! Hebat kan?

Salutnya!!

Selesai melihat proses pembuatan Limun maka kami pun  kembali  ke sebuah ruangan untuk mencoba minum Limun.

Limun Oriental

Di ruang yang memiliki perabot vintage mulai dari kursi, telepon tua, mesin tik hingga timbangan tua itulah kami icip-icip berbagai variasi dari Limun Oriental. Jangan tanya rasa apa yang kami coba, hampir semua rasa kami icip, namanya juga penjelajah rasa 🙂

Yah minuman yang dibuat dari racikan asam citrun dan kabondioksida ini memang memiliki rasa variatif mulai dari rasa nanas, moka, jeruk, sirsak, framboze, leci, anggur, dan air soda.

Namun kami hanya mencoba 5 rasa limun dan rasa yang paling aku suka adalah Rasa Mocca. Rsa mocca dengan warna cokelat gelap!

Walau tanpa es namun rasanya enak!

Manisnya pun pas!

Untuk harganya juga masih ramah di kantong. Harga satu botol minuman beserta botolnya Rp7000 saja namun jika ingin minum di tempat cukup membayar Rp3000 saja. Tidak hanya limun, di kedai sekaligus rumah dan pabrik Limun juga menjual kacang. Tapi itu serunya minum limun, bahkan saking senangnya dengan Limun rasa Mocca, Mbak Kristin membelikanku satu botol Oriental untuk dibawa pulang.

Iya dibawa pulang, niat benar kan aku bawa botol minuman dari Pekalongan sampai ke Ciwandan. Habis untuk mendapatkan minuman Oriental ini susah, jarang ditemukan, alhasil pas nemu bawa satu ke rumah.

Terus bahagia sekali, kapan lagi mengenang masa kecil?

Bisa dikatakan mengunjungi Pabrik Limun Oriental seperti mendapatkan durian runtuh, dapat jalan-jalannya dapat juga informasinya.

Nah buat teman-teman yang lagi butuh piknik dan ingin mengenang masa kecil maka tidak ada salahnya mengunjungi Pabrik Limun Oriental di Pekalongan.

Mencoba minum Limun sambil bersantai!

Karena kenangan manis itu tak lekang oleh waktu 🙂

 

Jam Buka Pabrik Limun Pekalongam

Sabtu-Kamis: Jam 09.00-16:00

Jumat tutup

Alamat Pabrik Limun Pekalongan

Jl. Rajawali Timur No. 10

Panjang Wetan

Pekalongan Jawa Tengah

Hayoo kapan terakhir kali kamu minum Limun?

Ada yang tidak tahu Limun?

Salam

Winny

 

Mencintai Batik di Museum Batik Pekalongan


Pekalongan Batik Museum has an important role in obtaining UNESCO’s certificate for Indonesia Batik as World intangible cultural heritage, as well as the collection of Pekalongan being one of the UNESCO Creative Cities network for craft and folk art. Pekalongan Batik Museum was inaugurated on july 12, 2006 by 6th President of Indonesia, Susilo Bambang Yudhono. This museum also has received Unesco certificate as an institution that conserving Batik culture through various training programs, especially for the students

By Museum Batik Pekalongan

Hello World!

Pekalongan, 2017

Tak lengkap rasanya jika ke Pekalongan tanpa mengunjungi Museum Batik karena Kota Pekalongan sangat identik dengan Batik, bahkan keberadaaan Batik Indonesia sudah terkenal diseluruh dunia. Sehingga ketika mendapat kesempatan mengunjungi Museum Batik merupakan suatu kehormatan bagiku. Kapan lagi coba bisa melihat kolksi Batik Indonesia jadi pas ke Pekalongan wajib hukumnya untuk mengunjungi Museum Batik.

Museum Batik Pekalongan cukup menarik untuk dikunjungi karena dari segi bangunan merupakan peninggalan Zaman Belanda sehingga dipastikan merupakan gedung tua yang dulunya sebagai Kantor keuangan pabrik gula. Museum Batik juga menyediakan informasi kepada pengunjung untuk menambah wawasan tentang Batik  dari berbagai daerah di Indonesia. Tidak hanya itu, akses ke Museum Batik pun cukuplah mudah karena berada persis disamping sebuah Masjid sehingga bagi yang pecinta wisata Heritage, Museum Batik harus masuk daftar kunjungan terus siap-siap napak tilas tentang warisan Indonesia, “batik”.

Aku sendiri merupakan salah satu orang yang suka dengan heritage jadi pas diajak jalan-jalan ke Museum aku sangat senang sekali apalagi melihat langsung pembuatan Batik, merupakan kesempatan langka bagiku. Yah aku merasa beruntung dapat mengunjungi Museum Batik di Pekalongan bersama teman-teman Blogger dan Dinas Pariwisata.

Museum Batik Pekalongan

Apa yang bisa dilakukan di Museum Batik Pekalongan ?

Di Museum Batik Pekalongan terdapat koleksi kain batik tradisional hingga kontemporer dari berbagai daerah Indonesia, bisa belajar membatik terus hasil batiknya bisa dibawa pulang. Selain itu Museum Batik Pekalongan bisa menjadi pusat penelitian mengenai batik.

Di Museum Batik ini aku banyak sekali belajar tentang Batik dan membuatku semakin jatuh cinta dengan Batik, kebanggaan Indonesia. Bahkan saking bangganya aku dengan Batik, setiap kali ngasih hadiah ke teman-temanku khusunya teman-teman yang berada di luar Negeri pasti aku kasih Batik.

Winny, why do you always give Batik as a gift to everyone?,
itulah pertanyaan Thimo kepadaku

Because Batik is identity of Indonesia, begitu jawabku
Hasil Batik Pengunjung di Museum Batik Pekalongan

Tentang Museum Batik Pekalongan

Museum Batik di Pekalongan sudah berdiri sejak tahun 1906 dan seiring waktu fungsinya berubah beberapa kali mulai dari Balai Kota hingga komplek perkantoran dan berakhir menjadi Museum Batik tahun 2006.

Saat aku dan rombongan mengunjungi Museum Batik kami diajak ke Ruang Pamer 1 yang beisi peralatan pembuatan Batik dan koleksi Batik.Pembuatan Batik itu sendiri menurutku ribet dan perlu kesabaran tingkat tinggi. Bahkan setelah belajar membatik di Batang sehari sebelum ke Museum Batik membuatku sadar betapa proses membuat Batik itu cukup menyita waktu. Sehingga semakin ribet motif dan makin banyak warnanya maka makin lamalah prosesnya. Jadi pas ke Museum Batik Pekalongan membuatku bangga menjadi orang Indonesia karena orang dulu mewariskan Batik, Mahakarya yang cukup menguji kesabaran.

Jadi yang ingin tahu seberapa dalam tingkat kesabarannya, maka membatiklah! 😉

Di Rung pamer 1 aku mengatahui kalau bahan batik pun beraneka ragam, dan begitu juga peralatan pembuatan Batik. Alat-alat pembuatan Batik seperti canting  dengan berbagai ukuran dan fungsi seperti canting kecil untuk motif kecil dan canting besar untuk motif besar serta tinta yang digunakan dalam pembuatan Batik disebut malam dan pewarna Batik mulai dari pewarna alami hingga kimia. Di Ruang Pamer 1 berisi koleksi Batik dari berbagai daerah dan motifnya lucu-lucu.

Puas dari Ruang pamer 1 kami pun masuk ke dalam ruang yang berisi koleksi Batik dari berbagai Nusantara mulai dari Batik Tasikmalaya, Cirebon, Banten, Garut, Solo, Yogyakarta hingga Baik Papuda dan Kalimantan. Coraknya dan warnanya juga kece sehingga lebih mengenal variasi dari Batik. Setelah itu kami pun ke Ruang yang berisi koleksi Batik Pekalongan mulai dari tahun 1900 hingga sekarang. Disinilah aku mengetahui sejarah Batik Pekalongan.

Membatik di Museum Batik Pekalongan

Pada dasarnya Batik Pekalongan terdiri dari 2 jenis yaitu Batik tradional (tahun 1900-1980an) dan Batik Modern (1990an-sekarang). Perbedaan antara Batik tradisonal Pekalongan dengan modern terdapat pada motif Batik itu sendiri. Kalau batik tradisonal itu khasnya pada ornament utama dan pengisi motif utama, misalnya motif utamanya berupa tumbuhan sedangakan untuk batik modern motifnya sudah bercampur dari berbagai motif dan tidak tumbuhan tok.

Oh ya satu hal yang mencuri perhatianku ketika melihat photo orang Belanda zaman dulu dengan Batik.

Menurutku itu klasik karena orang Belanda aja pakai Batik.

Bahan membatik

Selain bisa melihat koleksi Batik di Museum Pekalongan, bisa juga menonton film sejarah Batik di Ruang audio Visual dan jika ingin tahu gimana proses pembuatan Batik maka bisa belajar membuat Batik di Ruang Worksop.

Untuk membuat batikpun ada dua jenisnya yaitu Batik Cap di ruang workshop pertama dan ruang kedua untuk batik tulis. Proses pembuatan Batik Cap lebih singkat daripada batik tulis, kalau batik tulis menggunakan tangan sampai akhir dalam pengerjaannya serta motifnya rumit. Batik cap dalam mengisi ornament utama tidak harus detil dan menggunakan canting cap. Canting sendiri adalah alat untuk menaruh lilin (malam) pada kain putih.

Sayangnya karena keterbatasan waktu kami tidak sempat membuat batik lagi di Museum Batik Pekalongan. Namun lumayan sih senang karena sudah pernah belajar ngebatik. Terus hikmah dari perjalanan ke Museum Pekalongan adalah bagaimana melatih kesabaran. Karena dalam proses pembuatan Batik itu waktunya lama bahkan ada yang sampai 1 tahun pengerjaan. Bayangkan dong 1 tahun, benar-benar belajar kesabaran. Patut bangga dengan ketekunan orang Indonesia!

Batik di Museum Batik Pekalongan

Kalau sudah pernah membatik dijamin bakalan jatuh cinta dan lebih menyayangi Batik karena untuk membuat Batik itu butuh serangkaian proses mulai dari membuat motif pada kain kemudian melekatkan lilin (malam) sesuai motif dengan canting hingga menghilangkan lilin dalam kain. Aku sendiri yang masih proses melekatkan lilin dari wadah penampung zat yang dipanaskan dengan kompor kecil atau disebut klerekan harus hati-hati sekali sehingga pas melihta Batik makin rumit polanya maka membuatku makin sayang.

Kadang memang dalam hidup baru menyadari sesuatu berharga jika sudah mengalami prosesnya, ternyata proses itu adalah pembelajaran. Pembalajaran untuk menghargai hasil kerja orang lain!

Sehingga mulai dari sekarang kita harus lebih mencintai Batik Indonesia!

Museum Batik Pekalongan

Harga Tiket Museum Batik Pekalongan

Dewasa Rp5.000

Anak-anak Rp2.000

 Mancanegara Rp10.000

Jadwal Buka Museum Batik Pekalongan

Setiap hari jam 08:00 – 15:00 termasuk hari minggu dan besar

Tutup tahun baru, 17 Agustus, Lebaran Idul Fitri, Lebaran Idul Adha dan tahun baru islam

Museum Batik Pekalongan

Fasilitas Museum Batik Pekalongan

Tiga ruang pamer, ruang audio visual, pelatihan batik, perpustakaan, ruang data, ruang simpan dan konservasi, aula, kedai, internet gratis, tempat penitipan, area parker, toilet.

Museum Batik Pekalongan

Lokasi Museum Batik Pekalongan

Jl. Jatayu No. 1

Kota Pekalongan
Jawa Tengah

Jadi bagi yang ingin mendapatkan informasi mengenai sejarah Batik khususnya Batik Pekalongan berupa tulis maupun cap serta proses pembuatannya maka mengunjungi Museum Batik Pekalongan itu wajib hukumnya.

Koleksi Batik Museum Pekalongan
Koleksi Batik Pekalongan

Sudah pernah ke Museum Batik?

Yuk ke museum Batik Pekalongan dan kenali Batik Indonesia lebih dalam!

Salam

Winny

Indahnya Curug Bajing di Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan


If you’re not making mistakes, you’re not experimenting. You’re not trying new approaches. You’re not going anywhere. They key thing is to make sure that you learn from the mistakes.

By Unknown

Hello World!

Pekalongan, 2017

Apa yang ada di benakmu ketika mendengar Pekalongan?

Pasti Batik bukan?

Memang Pakalongan itu identuk banget dengan Batik. Padahal Pekalongan itu tidak melulu Batik loh! Bahkan Pekalongan memiliki banyak potensi wisata alam yang masih banyak belum di ketahui oleh orang wisatawan. Pekalongan yang masuk ke dalam UNESCO Creative Network memiliki banyak tujuan wisata yang masih alami yang tak boleh untuk dilewati.  Salah satu wisata yang patut dikunjungi di Pekalongan adalah kawasan Petungkriyono di Kabupaten Pekalongan.

Curug Bajing Pekalongan

Pertama kali mengunjungi kawasan  Petungkriyono sempat membuatku tak percaya ada tempat indah dan segar di Pekalongan, karena wisata yang alam Petungkriyono begitu alami, hijau dan memanjakan mata.

Siapa sangka kalau Pekalongan yang identik dengan Batik memiliki keindahan alam yang ciamik!!

Beruntungnya aku bisa menjelajah dan mengunjungi wisata alami Pekalongan bersama Bu DR. Marlinda, S.E., M.Si, teman-teman Blogger termasuk Wira Nurmansyah, Leoni dan artis Instagram Yudha beserta teman media, Kak Kristin dan Kementrian Pariwisata. Bahkan dalam kunjungan ke Pekalongan kami disambut baik oleh Bapak Bupati Pekalonga, H Asip Kholbini, S.H., M.Si dan Dinas Pariwisata Pekalongan.

Kunjungan kami adalah menelusuri daerah kawasan Petungkriyono di Kabupaten Pekalongan.

Terus apa yang menarik dari kawasan Petungkriyono di Kabupaten Pekalongan?

Kawasan Petungkriyono di Kabupaten Pekalongan merupakan kawasan hutan tempat Oa Jawa berada salah satu hewan langka sekaligus dilindungi. Tidak hanya itu kawasan Petungkriyono memiliki banyak sekali air terjun/Curug yang bisa di kunjungi sehingga sangat cocok bagi pecinta Curug atau sekedar bersantai baik sendiri maupun dengan keluarga. Tempatnya juga bersih serta Curugnya masih alami.

Dalam satu kawasan Petungkriyono memiliki beberapa pilihan wisata terdiri dari Curug Bajing, Curug Muncar, Curug Lawe, Curug Sibedug, Curug Telu dan Kedung Pitu, Curug Jepang, kebun strawberry sampai river tubing di Sungai Welo dan masih banyak lagi pilihan wisata menarik di Petung Kriyono.

Sayangnya karena keterbatasan waktu kami hanya bisa mengunjungi Sibedug dan Curug Bajing. Padahal kami ingin juga ke Curug Muncar dan Jurug Lawe namun memang harus diagendakan untuk kembali lagi ke Pekalongan.

Curug Bajing Petungkriyono

Perjalanan kami dimulai dari Semarang menuju ke Petungkriyono. Perjalaan yang cukup memakan waktu, paling tidak kami yang sampai di Bandara jam 7 pagi sampai di Pekalongan baru jam 10 pagi kemudian dilanjutkan perjalanan ke Petungkriyono. Petungkriyono ini merupakan daerah Pegunungan dengan ketinggian antara 600-2100 meter dari atas permukaan laut sehingga tidak heran disebut sebagai Negeri diatas Awan.

Negeri diatas awan karena berada di ketinggian, bahkan kawasan Petungkriyono sebagian wilayahnya merupakan dataran tinggi Pegunungan Serayu Selatan dan disebelah Selatannya merupakan Kawasan Dataran Tinggi Dieng. Tak heran jika dalam perjalanan kami melewati pemandangan hutan yang rupawan.

Hutan Pinus Pekalongan

Dalam perjalanan secara rombongan, ternyata rombongan Bapak dari Dinas Pekalongan beruntung dapat melihat Oa Jawa pas menuju ke Curug Bajing sementara kami tidak melihat si hewan langka ini karena memang kami fokus kepada pemandangan hutan sepanjang jalan. Kami sudah terlalu asik dengan pemandangan sungai, sawah, dan sebagainya dari kaca mobil kami sehingga lihat persawahan, hutan saja sudah membuat kami puas.

Sudah lama aku tidak bermain dengan alam, karena melihat keindahan alam sungguh membuat hati tentram. Aku menyadari memang bermain ke alam dapat mengobati rasa galau dan gundah gelana sehingga bagi orang-orang  khususnya yang mudah stress, lelah di kantor, jemu dengan rutinitas serta bosan akan sesuatu maka dianjurkan untuk sering-sering ke alam. Karena selain obatnya murah juga dapat menambah kecintaan terhadap Indonesia. Belum lagi biayanya cukup murah.

Bagi yang ke Jakarta yang ingin liburan pas Sabtu-minggu bisa tuh ke Pekalongan karena mudah diakses dari Jakarta dijamin pikiran akan fresh karena memang masih banyak potensi wisata Pekalongan yang dapat dijelajah serta tempat kece bagi pecinta foto.

Curug Sibedug

Kenapa aku begitu suka Curug Bajing karena perjalanannya itu menarik. Untuk menuju ke Curug Bajing mobil yang membawa kami harus melewati jalanan kecil dan menanjak yang sisi kanan-kirinya jurang dan jika berpapasan dengan mobil lain maka harus berhenti sebentar sehingga mesti hati-hati dalam berkendara.

Namun pemandangan hutannya sangat memukau loh!

Bahkan berkat pemandangan apik hutan membuat kami agak lupa rasanya di dalam mobil yang melewati jalanan agak rusak ke Petungkriyono. Sepanjang jalan aku, Leoni dan Yudha menikmati pemandangan sekitar kami mulai dari persawahan, hutan pinus sampai Sungai bersih.

Belum sampai ke tujuan wisata Curug Bajing, Kabupaten Pekalongan kami berhenti di Curug Sibedug, di Kayupuring. Keunikan dari Curug Sibedug pada lokasinya, terletak ditepi jalan sehingga terlihat jelas ketika melewati mobil.

Pak berhenti, kata kami kompak kepada Pak Supir

Padahal tujuan kami belum sampai tapi sudah singgah saja di Curug yang bernama Sibedug. Akhirnya karena cantiknya Curug Sibedug, kamipun singgah sebentar di Curug Sibedug lalu melanjutkan perjalanan kami ke Curug Bajing.

Curug Sibedug

Sesampai di Curug Bajing, mobil kami pun parkir. Lama perjalanan kami hampir sejam sehingga sampai di warung dekat Curug Bajing kami langsung makan siang dengan lauk berupa nasi Merah, Ikan bawal, sambal terasi, tumis teri tauco, tempe, kerupuk dan mendoan serta jahe hangat. Di warung ini pula kami disuguhkan Kopi khas pekalongan dengan aksi si abang yang membuat kopi.

Bang Kopi pake susu, begitu celotehku

Dengan cekatan si Babang membuat kopi susu sambil minum di warung yang mirip Gazebo itu, sambil mengisi perut yang sudah lapar demi persiapan ke Curug Bajing yang berada di belakang warung.

Jalan-jalan ke Pekalongan itu refreshing banget!!

Setelah kenyang barulah kami berjalan menuju ke Curug Bajing. Akses ke Curug Bajing tidak begitu sulit dari warung karena jalannya sudah bagus yang susah hanyalah menuju ke Curug Bajingnya. Jaraknya pun tak jauh hanya berkisar 300 meter saja,  trekkingnya hanya 15-25 menit saja sehingga mudah menuju ke Curug Bajing.

Tidak hanya itu Curug Bajing memiliki tempat spot bagi si tukang selfie karena ada Pohon Selfie sampai spot foto berbentuk hati. Namun saya lebih suka spot photo kayu biasa dengan latar belakang air terjun Bajing karena lebih alami. Yang menarik lagi dari Curug Bajing terdapat tempat sampah, hingga toilet dan Musholla serta cukup mudah untuk mandapatkan makanan dan kawasannya masih bersih.

Curug Bajing sendiri cukup tinggi karena awalnya aku mengira kecil ternyata  lumaya. Curugnya juga cakep karena masih alami dengan tebing serta pohon. Nama Curug sendiri diambil dari nama Bukit dibelakangnya “Bajing”.

Aku membayangkan mandi di Curug Bajing pastilah segar karena sisa kiri kanannya masih hutan, dan udaranya pun bersih sekali. Tapi sudahlah itu hanya angan-anganku saja!

Sayangnya pas kami berjalan mendekati ke Curug Bajing hujan turun deras sehingga belum sampai di Curug Bajing kami harus kembali, baru juga di jembatan, maklum takut air. Akhirnya malah mengambil langkah seribu kembali ke warung!

Curug Bajing

Lokasi Curug Bajing

Dusun Kambangan Desa Tlogopakis,

Kecamatan Petungkriyono

Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah

Harga tiket masuk ke Curug Bajing

Hari biasa dan hari libur Rp4000

Hari Libur Nasional Rp6000

Cara Akses ke Curug Bajing

Untuk transportasi umum bisa turun di Terminal Desa Doro lalu naik doplak namanya Anggun Paris dengan harga Rp100.000 (paketan termasuk tiket masuk dan makan siang), bagi yang wisata rombongan sebaiknya menyewa mobil dan bisa sharing cost.

Ada yang sudah ke Curug Bajing, kawasan PetungKriyono Kabupaten Pekalongan?

Yang ngaku pecinta Curug belum sah kalau belum ke Pekalongan!

Yuk ke Pekalongan 😉

Salam

Winny

 

Perjalanan Panjang ke Curug Kembar dan Ciajeng di Banten


It’s ironic, but until you can free those final monsters within the jungle of yourself, your life, your soul is up for grabs

By Rona Barrett

Curug Ciajeng
Curug Ciajeng

Hello World!

Carita Pandeglang, 19 Februari 2017

Sudah lama rasanya tidak menelusuri hutan serta merasakan sejuknya air terjun. Terakhir kalinya ketika masih zaman kuliah bersama teman-teman KOSTUTI alias Kosong Tujuh Teknik Industi USU kalau tidak salah tahun 2009-an ke Air Terjun Dwi Warna dimana harus berjalan kaki selama 3 jam untuk sampai ke Curug/air terjun menelusuri hutan dan capeknya tiada tara setara dengan warna birunya yang mempesona.

Bak dapat durian runtuh, ajakan Curug pun datang dari teman-teman baru di Ciwandan, tepatnya dari Aries dan sodara-sodaranya yang bernama Geng “Gedang Gelem”.

"Mbok, ikut Curug tah? Ke Ciajeng?, kata Aries

Ikut, jam berapa?, jawabku

Minggu jam 9, jawab Aries

Ok, Ikut ya!, jawabku

Harusnya janji ke Curug pas Pemilu namun karena teman-teman seperti Yani dan Ojung tidak bisa ikut akhirnya diundar di minggua. Alasan pengajakan mereka ke Curug karena kata Yani cocoknya itu aku ke adventure dan alam-alam sehingga menantang. Padahal aku mah “pejalan murah”, murah diajak kemanapun asalkan tempatnya belum pernah aku kunjungi 😀

Jalan ke Curug
Jalan ke Curug

Jam 9 kami pun memulai perjalanan menuju ke Carita dari Ciwandan. Perjalanan naik motor dengan 3 motor, aku dibonceng Aries, Ahmad dengan Ojung dan Faqih dengan Ima.

Tiga kereta dengan 3 motor berbarengan!

Sudah lama tidak touring sehingga bergabung bersama mereka seakan umur masih muda saja 🙂

Sebelum berangkat kami pun membeli bekal, seperti biasa “Nasi Padang” adalah teman kami dengan mengumpulkan Rp20.000 perorang sudah dapat nasi dengan daging. Kemudian Ojung sempat juga membeli minuman dan roti untuk dimakan pas di Curug, barulah kami memulai ekpedisi perjalanan ke Curug. Kebetulan Ojung sudah pernah ke Curug Kembar dan Curug Ciajeng atau Ciajeung sebelumnya sehingga dialah pemandu kami.

Untuk akses ke Curug Kembar dan Curug Ciajeng atau Ciajeung Banten dari Ciwandan ke Carita jalanan masih lumayan bagus namun pas masuk ke dalam Gang di Carita dengan tanda persawahan luas yang memanjakan mata, jalananya sudah mulai jelek. Ternyata jalanan yang kami lalu jelek itu tidak seberapa karena perjalanan mulai dari Gang Carita menuju ke Curug dipastikan jelek semua, jalanan bebatuan yang siap menghantam motor hingga jalanan berlubang nan batuan semua. Intinya dalam perjalanan ke Curug 95% jalannya rusak parah!!

Tempat Parkir ke Curug
Tempat Parkir ke Curug

Jalan yang jelek sungguh ekstrim, acap kali harus berpegangan erat dengan motor mulai dari menaiki perbukitan sampai menurunin perbukitan terus menaiki perbukitan lagi. Kadang kala rasanya hampir jatuh dari motor, unutng pegangan erat. Yang lucu sepanjang jalan kami melewati dua tiga pesta pernikahan. Hampir saja kami mampir untuk makan. Terus ada satu jalan menanjak yang membuat kami para penumpang yang dibonceng harus turun dan jalan kaki seperti Ima, aku dan Ahmad menaiki perbukitan yang siap membuat mandi keringat.

Aries, Ojung dan Faqih harus sekuat tenaga meng-gas motor mereka dalam menanjak di area yang jalannya super ekstrim jelek!

Dalam perjalanan ketika kami menunggu mereka menaiki motor, banyak penduduk lokal yang menyapa kami.

Mau ke Curug kah?, tanya si ibu yang menyapa kami

Iya Bu, masih jauh kah Bu?, tanya kami

Masih, Ibu saja tidak pernah ke Curug, sahut si Ibu.

Sungguh warga lokal sangat ramah kepada kami yang menunggu sambil beristirahat, paling tidak kerumunan ibu-ibu berbicara kepada kami walau hanya tegur sapa sepintas, dan meraka tahu betul kalau tujuan kami ke Curug.

Makan gorengan dulu, kata Faqih

Horee ayoo, seru kami

Nah pas tiba-tiba melahap gorengan lewatlan Abang Bakso tusuk yang kemudian dengan sigap aku memanggil untuk membelinya.

Bang Rp4000 saja baksonya, kataku

Sambil disorakin karena beli sedikit,

Tante uangnya sedikit, jawabku nyegir hihi :D
Tiket Masuk ke Curug
Tiket Masuk ke Curug

Setelah beristirahat, akhirnya kami melanjutkan perjalanan kami karena tujuan kami masih jauh. Memang cuaca sewaktu kedatangan kami agak mendung sehingga jalanan licin namun dengan perjuangan berat akhirnya kami sampai di Desa Cinoyong, tempat Curug Kembar dan Ciajeng berada. Mungkin sudah 4 jam berlalu dan bersiap untuk jalan kaki!

Dari area parkiran, setelah melewati tempat pesta pernikahan disekitar situ tampak warga lokal mendatangi kami. Untuk tiket masuk ke Curug Rp5000/orang namun belum termasuk tiket parkir motor Rp10.000.

Tiket resminya mana? tanyaku

Ini, kata warga lokalnya sambil memberikan karcis

Terus tiket parkirnya mana, tanyaku agak bingung

"alaahhhh", teriak mereka dengan kompak!

Bingung karena aku mengira Rp10,000 termasuk tiket masuk dan parkir ternyata beda dan pas aku menanyakan itu aku ditarik kompakan oleh kelima teman tripku ini

Eee, ayoo, tarik mereka!

Maklum sebagai orang yang sudah terbiasa jalan-jalan, tiket resmi itu penting sekali dan paling malas kalau bertemu dengan orang yang ngaku-ngaku penjaga suatu tempat wisata namun tidak berkontribusi dalam wisata tersebut alias masuk ke kantongnya  saja. Semoga pikiran negativeku ini tidak benar!

Jalan ke Curug Kembar dan Ciajeung Banten
Jalan ke Curug Kembar dan Ciajeung Banten

Dari tempat parkir, ternyata kami harus berjalan sekitar 1-1,5 jam dengan kaki. Padahal dari Ciwandan kami jam 9 sampai di parkiran Desa Cinoyong sudah jam 11:30, dan dari pintu menuju ke Curug Kembar dan Ciajeng kami harus berjalan kaki lagi.

Beramai-ramai berjalan, keringat sudah bercucuran padahal perjalanan baru dimulai. Wajar duduk jadi dibonceng hampir 2,5 jam benar-benar membuat tepos belum lagi jalan kaki dengan jalan yang licin.

Duh salah pakai sepatu ke Curug karena warnya putih, si putih jadi korban!

Untuk menuju ke Curug lumayan seru walau cukup mengurus tenaga. Perjalanan kurang lebih 2 jam hambir mmebuat ngos-ngosan apalagi aku yang sudah lama tidak trekking.

Disini umur ternyata tidak bohong!

Tante sudah jompo ini, kataku kepada mereka

Sambil ditertawai mereka!

Ayoo, semangat jalan, kataku menyemangati diri dan teman-teman!
Perjalanan ke Curug
Perjalanan ke Curug

Pemandangan dalam perjalanan ke Curug Kembar dan Ciajeng sangat indah mulai dari persawahan, perbukitan serta masuk ke hutan. Udara hutan sangat segar serta pepohonan rindang, jalanan setapak yang licin menambah daya tarik ke Curug Kembar dan Curug Ciajeng yang merupakan wisata alam tersembunyi di Desa Cinoyong, Banten.

Tidak sia-sia perjalanan kami dari Kampung Jaha, Desa Cinayong, Carita Padeglang

Sesampai di Curug jam setengah satu, hujan pun turun, akhirnya  kamipun berteduh di dalam pondok yang ada dekat Curug sekalian makan bekal yang telah kami bawa.

"Makan yuk, udah jam setengah satu dan lapar", kata Ahmad

Lalu kami berenam pun duduk melingkar sambil makan siang.

Tiba-tiba pas makan, “bruk” suara kayu pondok kelihatan tidak bisa menahan berat kami. Hingga akhirnya aku pindah ke depan atas suruhan Aries. Selang saat aku pindah kemudian kami menyuruh Ahmad mengambil tongsis untuk berphoto hal yang tak diiinginkan pun terjadi.

"Brakkk, tempat duduk kami patah dan pondok nyungsep ke bawah"

Alhasil aku pindah dan teman lain masih melanjutkan makan siang.

Curug Kembar dan Ciajeung Banten
Curug Kembar dan Ciajeung Banten

Hal yang aku sangat kagumi dari Curug Kembar dan Curug Ciajeng karena adanya tempat sampah yang sediakan masyarakat lokal sehingga kebersihan Curug tetap terawat.

Hal ini patut diapresiasi  dan semoga kedepannya curug Kembar dan Curug Ciajeng tetap alami dan bersih.

Untuk jarang kedua Curug cukup berdekatan satu sama lain, kalau Curug Kembar berada di bawah maka Curug Ciajeng keatasnya lagi. Artinya kami dari pondokan harus berjalan lagi keatas Curug Ciajeng sekitar 15 menit melewati jalanan sempit dengan pemandangan air jernih di sisi kirinya.

"Yuk ke Curug Ciajeng", ajak Ojul kepada kami

Padahal masih geremis namun kami berenam berjalan menuju ke Curug Ciajeng.

 

Curug Kembar dan Ciajeung Banten
Tong Sampah di Curug Ciajeng dan Kembar, Banten

Curug Ciajeng cukup indah menurutku karena air terjunnya dari bebatuan yang tinggi, disekelilingnya pepohonan hijau sehingga serasa berada di Amazone (padahal belum pernah ke Amazone).

Debit airnya juga lumayan deras, sayangnya untuk mandi di Ciajeng tidak begitu bisa karena dibawahnya tidak bergitu luas. Kebanyakan pengunjung hanya berphoto saja dan mandi di Curug Kembar.

Kami hanya 30 menit saja di Curug Ciajeng dan berada dibawahnya cukup membuat basah.

Ah sudah lama tidak ke Air terjun!

Dan yang paling aku heran itu, meski berada di area hutan, namun Alhamdulillah kami tidak menemukan hewan yang berbahaya, paling aku bertemu ular itupun di sawah pas pulangnya dan bukan di area hutan. Kami hanya mendengar beberapa suara burung ketika berjalan dari Curug Ciajeng ke Curug Kembar.

Namun walau begitu sayangnya pas di perjalanan aku melihat adanya penebangan hutan karena kayu-kayunya diangkut dalam mobil dan tentu saja aku tidak tahu penebangan itu sudah ada izinnya atau tidak karena sayang sekali jika hutan selebat dan seindah ini harus ditebang, mengingat indahnya Curug di dalam hutan tersebut!

Curug Kembar dan Ciajeung Banten
Jalan ke Curug  Ciajeung Banten

Dari Curug Ciajeng kamipun menuju ke Curug Kembar. Beruntungnya pas menuju ke Curug Kembar hujan sudah mulai reda, namun tetap jalanan merah yang kami lalui licin. Kami juga harus menuruni jalan untuk sampai ke Curug Kembar dengan hati-hati.

Sama dengan namanya maka Curug Kembar ini terdari dari dua, tingginya memang tidak begitu setinggi Curug Ciajeng dari Bukit bebatuan namun sangat cocok untuk mandi. Disinilah kelima teman perjalananku ini mandi, sementara aku dari jauh cukup puas melihat mereka mandi sambil menahan dingin air, tentu saja air terjun ini membuat mereka menggigil. Karena aku melihat ekpresi menahan dingin dari mereka.

"Mandi teh, sini", teriak mereka

"Ah tidak, aku memandangi saja", kataku
Curug Ciajeung Banten
Curug Ciajeung Banten

Setelah kelima teman puas mandi, akhirnya kami memutuskan untuk pulang karena jam sudah menunjukkan jam 3 sore.  Temanku mengganti pakaian dekat area Curug Ciajeng dan Kembar karena terdapat tempat penggantian baju di dekat pondok milik warga setempat sekaliguas penjaga Curug. Si Bapak yang berjualan disekitar area Curug sangat rajin dalam membakar sampah yang ada.

Saat menunggu Ima, Faqih, Ojul, Aries dan Ahmad ganti baju, aku memesan jahe hangat dari pondok si Bapak warga lokal. Harganya cukup murah Rp4000/gelas.

Aku memilih duduk di bebatuan dekat Curug sambil minum segelas jahe hangat, dan menikmati hidup!

Ah Indonesia memang terlalu indah!

Beruntungnya bisa dibawa ke tempat yang penuh tantangan dan perjalanan jauh terbayar dengan pemandangan Curug yang mampu membius mata.

Say good bye dengan kegalauan! 😀

Curug Ciajeung Banten
Curug Ciajeung Banten

Setalah semua teman sudah siap sedia akhirnya kami pun melanjutkan pulang karena kami tahu betul perjalanan kami masih panjang. Meski di Curug kami hanya bersantai selama kurang lebih 2,5 jam sementara jalan kaki 3 jam serta jalan dengan motor 5,5 jam namun cukup puas.

Kalau kata Ojung, ini baru benar-benar petualangan!!

Curug Ciajeung Banten
Curug Ciajeung Banten

Tidak ada salahnya berteman dengan siapapun karena dari teman-teman baru inilah aku jadi tahu tempat baru!

Akhirnya kami pun pulang dari Curug Ciajeng dan Kembar dengan membawa kenangan tentang alam Indonesia nan rupawan

"Mbok rempong ya!"
Curug Kembar Banten
Curug Kembar Banten

Biaya Pengeluaran ke Curug Ciajeng dan Curug Kembar, Padeglang Banten

-Parkir motor Rp10.000

-Tiket masuk Rp5.000

-Nasi Padang Rp20,000

-Jahe Panas Rp4000

Total pengeluaran Rp59,000

Cukup murah kan?

Curug Kembar Banten
Curug Kembar Banten

Tips Perjalanan ke Curug Ciajeng dan Kembar

1. Mobil tidak begitu direkomendasikan ke Curug karena jalannya yang super jelek sehingga motor adalah pilihan terbaik dan kalau bisa motornya jangan matic karena areanya yang terjal dan jalan yang berlubang

2. Cara akses ke Curug Kembar dan Ciajeng dari Jalan Raya Padarincang Serang, Pasauran Calung namun bisa juga dari Bengras Kaoyang karena lokasi Curug berada di Gunung Ci Ajeng Kampung Jaha, Desa Cinoyong, Carita Padeglang, Banten

3. Terdapat penjual makanan di Curug beruapa minuman hangat dan mie sehingga yang tidak membawa makanan jangan khawatir karena ada penjual makanan

4. Sebaiknya memakai sepatu atau sandal gunung karena trekking jalannya lumayan ekstrim apalagi pas musim hujan. Jaket hujan dan tongkat trekking boleh juga dibawa

5. Membawa pemandu yang mengetahui jalan akses ke Curug biar tidak nyasar

Curug Kembar dan Ciajeung Banten
Curug Kembar dan Ciajeung Banten

Tiket Masuk ke Curug Kembar dan Curug Ciajeng/Ciajeung

Rp5000/orang

Parkir motor: Rp10.000

Alamat Curug Kembar dan Curug Ciajeng/Ciajeung

Desa Cinoyong

Kecamatan Carita

Kabupaten Pandeglang

Provinsi Banten

Jalan Curug Kembar dan Ciajeung Banten
Jalan Curug Kembar dan Ciajeung Banten

PS: ini hasil sepatu setelah pulang dari Curug Kembar dan Ciajeng.

Sepatu
Sepatuku

Ada yang sudah pernah ke Curug Ciajeng dan Kembar, Banten?

Salam

Winny

Cerita Horor Perjalanan


You gain strength, courage, and confidence by every experience in which you really stop to look fear in the face. You are able to say to yourself, ‘I lived through this horror. I can take the next thing that comes along.

By Eleanor Roosevelt

solo

Hello World!

Ciwandan, 14 Februari 2017

Jujur saja aku tipe penakut. Bahkan banyak yang tidak percaya kalau aku sebenarnya penakut terlebih yang berhubungan dengan yang namanya makhluk halus. Bukan apa-apa, aku tidak pernah membayangkan makhluk-makhluk yang kasat mata itu. Banhkan nonton film horor saja ogah!

"Masa sih dirimu penakut, Win? Gak meyakinkan kata teman

"Jangan bilang warna kesuakaanmu merah jambu juga? 
lanjutnya sambil nyengir

"Iya, jawabku

"Wkakakkakakaka, kagak cocok deh samamu dengan pink, 
sambil tertawa terpingkal-pingkal.

Haloooo, apakah aku kelihatan setangguh itu makanya tidak ada takut-takutnya?

Aku penakut loh!

Namun apa boleh buat ternyata dari beberapa perjalanan sempat memiliki pengalaman horor, horornya dikarena aku membawa teman yang ternyata memiliki indera keenam. Terus dengan polos si kawan itu menceritakan apa yang dilihatnya. Menakutkannya justru cerita teman melihat yang tak terlihat olehku terakhir aku membayangkannya, asli ke toilet saja aku tidak berani, harus ditemani.

Nah dari sekian banyak perjalanan, paling tidak ada 4 pengalaman yang pernah aku alami dengan gaib-gaiban!

4 Daftar pengamalam horor saat perjalanan

1. Dielus Kepala oleh Makhluk halus di Solo

Kejadiannya pas aku, Reza, Sarta, Gladies, Desti dan teman bule asal Swiss “Cecil” menginap di salah satu penginapan di Solo. Alasan pemilihan penginapan itu karena baca di blog teman blogger terus dari gambar kelihatan bagus. Eh siapa sangka sampai disana “zonk”. Kami tiba tengah malam, terus teman yang kami bawa salah satunya indigo alias yang memiliki penglihatan yang tak biasa. Pas masuk ke dalam penginapan, nuansa Jawa nya terkenal sekali, si teman sudah mulai pucat pasi. Kemudian hawa-hawa tak enak juga kami rasakan kemudian kami dituntun menuju ke kamar yang hendak kami tempati.

Dari pintu masuk hingga ke kamar yang kami tuju, kami melewati lorong dan disamping lorong itu terdapat 3 gambar anak kecil di dinding kemudian aku berseru “Gila serem amat ini photo, sambil mengambil photo yang ditengah dari 3 gambar tersebut”. “Jepret” kemudian berjalan lagi menuju ke kamar yang hendak kami tempati yang berada di bawah. Pas ditunjukkan kamar bawah, si kawan yang punya mata tak biasa “gemetaran” dan tidak mau menginap di kamar itu, alhasil melihat reaksi si kawan ini kami semua jadi ketakutan sehingga awalnya kami memesan dua kamar malah memesan satu kamar saja itupun si Reza satu-satunya cowok jadi ikut sekamar dengan kami bertiga. Sementara Cecil geleng-geleng dengan tahayul yang kami percayain bahkan si Cecil berani tidur sendiri.

surakarta

Pas saatnya tidur aku sulit sekali tidur kalau dalam bahasa Bataknya Padangsidempuan “busa-base”, terus saat aku melihat temanku di pada nyenyak aku malahan merasa iri.

Wiii mereka tidur nyenyak sementara aku tidak bisa tidur, dalam hatiku

Terus melihat ruangan takut sendiri, hanya ada cahaya dari toilet karena lampu dimatikan padahal dalam hati udah baca ayat-ayat supaya tidur tapi tetap tidurnya tidak nyenyak. Alhasil akupun tidur ayam!

Hingga keesokan harinya pas di pagi hari

"Wei, kalian tidurnya nyenyak banget, aku gak bisa tidur", kataku

"Aku juga gak bisa tidur kok", kata Sarta

Aku juga, kata Gladies dan Reza

Perasaan kalian nyenyak, tidurnya kataku

Tau gak Win, semalam dirimu dielus-elus, kata Desi

Yang sontok membuat wajahku jadi pucat dan teman yang lain pada kepo.

Dielus gimana maksudnya, tanya Reza dengan semangat

Iya dielus, kepalamu disandarin kepahanya terus dielus-elus, kata Desti

Dirimu sih bandel ngambil photo di tengah itu, kata Desti

Mendengar itu bulu kudukku langsung merinding dan photo di camera langsung di hapus.

Yuk cabut check out dari sini kataku dengan penuh ketakutan!

2. Uji Nyali di Lawang Sewu

lawang-sewu

Eh kalau kita ke Semarang ke Lawang Sewu yuk 
kan sering tuh jadi tempat shooting lain dunia lah, 
Uk-Uk lah dan masih banyak lagi

Tapi kalau bisa malam ajalah kita ke Lawang Sewunya biar seru!!

Waktu itu aku, Sarta, Andisu, Irwan, Desti dan Nirwan sengaja berkunjung ke Lawang Sewu jam 9 malam (9 malam!!!!)

Kaminya emang kurang kerjaan udah jelas membawa satu teman memiliki indera keenam, alhasil sepanjang tour malam Lawang Sewu ketakutan kami malahan melihat pucat pasi teman kami. Apalagi saat melihat terowongan dibawah Irwan gemetaran melihat ada yang lewat. Untungnya aku tidak melihat yang dilihatnya!

Kemudian pas dipojokan ke arah lantai 3 kalau tidak salah, aku, Sarta, dan Andisu serta Nirwan dan Irwan hendak menaiki tangga ke arah kamar kosong nan gelap sementara dari bawah Desti pucat sekali.

Aku kalau ke atas gak ikut ya, kata Desti

Sarta kemudian yang melihat kepucatan yang tak biasa langsung turun dari tangga. Sementara aku, Andisu dan Irwan berhenti sejenak hingga kami mengurungkan niat ke lantai 3 dan dengan beribu langkah cepat-cepat meninggalkan Lawang Sewu.

Apa sih yang kau lihat di lantai 3 itu?,
tanya teman-teman penasaran

Banyak yang disitu paling banyak, jawabnya

Ternyata mengunjungi Lawang Sewu pas malam hari bukanlah pilihan tepat terlebih ketika membawa teman yang bisa melihat alam gaib.

3. Kunti lewat di Goa Ngalau Indah Payakumbuh

goa-ngalau-indah

Perjalanan ngebet ingin mengunjungi semua tempat wisata di Payakumbuh dalam waktu singkat bukanlah pilihan yang tepat. Waktu trip ke Sumatera Barat pertama kali, aku ditemani Nyakmat ke Goa Ngalau Indah di Payakumbuh. Salahnya kami adalah jadwal kedatangan kami waktu itu pas sore hari. Udah tahu sore namun kami tetap bela-belain naik ke atas Bukit demi ke Goa Ngalau Indah.

Pak, masih bisa masuk ke dalam Goa?, tanyaku

Bisa Mbak, tapi sudah sedikit pengunjungnya 
karena sudah mau maghrib, kata petugas

Namun saking penasarannya akhirnya aku dan Nyakmat berjalan menuju ke depan pintu masuk Ngalau Indah. Belum juga masuk kedalam Goa, masih di depan pintunya saja aku melihat Nyakmat terdiam kaku berhenti dengan muka pucat sambil melihat kosong ke dalam Goa seolah sedang terhipnotis. Sementara aku melihat ke arah pandangannya tidak ada siapa-siapa.

"Win, nakkon be daboo masuk ita tu bagasan, kata Nyakmat"

(Win, tidak usah kita masuk kedalam ya)

 Asi?, tanyaku
"Adong uida nalewat nabottar disi, kata Nyakmat"

(Kenapa? Ada aku lihat warna putih disitu)

Akhirnya mendengar itu aku berlari dan Nyakmat juga berlari, menjauh dari tempat itu dan buru-buru pulang.

4. Suasana Mistis di Candi Cetho Karang Anyar

candi-cetho

Salahkan saja jadwal kedatangan kami karena kami tiba pas magrib di Candi Cetho. Kenapa kami baru tiba di Karang Anyar baru sore dikarenakan waktu trip keliling wisata Solo bersama  Reza, Sarta, Gladies, Desti dan Cecil jatuhnya jalan sesingkat mungkin daftar wisata sebanyak mungkin. Tanpa kapok seperti biasa membawa teman yang lagi-lagi bisa melihat dan pas kami memasuki ujung Candi aura mistis membuat merinding. Mungkin walau tidak bisa melihat, namun asli berada di Candi Cetho pas menjelang maghrib membuat bulu kuduk berdiri. Belum lagi pas si kawan lagi-lagi melerai untuk tidak ke ujung Candi.

Kalau mau kesana, kalian saja ya, aku tidak ikut

Alhasil mendengar itu kami tidak berani melanjutkan perjalanan ke jalan ujung Candi dan meninggalkan tempat dengan seribu langkah karena kami tahu betul teman kami ini diberikan penglihatan yang kami tidak bisa lihat.

Ah timing kami tidak tepat ke Candi Cetho, padahal Candi Cetho cukup mengagumkan, mungkin lain kali harus datang pada siang hari.

Begitulah 4 cerita horor di 4 tempat berbeda yang pernah aku alami, dan rata-rata yang membuat horor adalah si kawan karena ketakutannya justru membuat kami takut apalagi pas melihat reaksi pucat si kawan karena si kawan ini melihat yang tidak bisa dilihat mata kami, si mata biasa.

Ada yang punya cerita horor pas perjalanan?

Salam

Winny