Edisi Mudik keliling Padangsidempuan


“There’s no way to know what makes one thing happen and not another. What leads to what. What destroys what. What causes what to flourish or die or take another course.”
― Cheryl Strayed―

Hello World

Padang Sidempuan, 20 Juli 2015

Ada yang berbeda untuk Lebaran tahun ini dibandingkan dengan Lebaran tahun-tahun sebelumnya karena pas mudik Lebaran teman-teman SMPku datang kerumah terus mengajak touring ke Pintu Langit, Padangsidempuan. Mereka ialah Nisfi, Nyakmat dan Marwan. Awalnya sih aku penasaran dengan Air terjun yang ada di Padangsidempuan, secara aku tahunya objek wisata Padangsidempuan, Sumatera Utara dan sekitarnya cuma ada Air terjun Napa, Aek Sijornih, Simarsayang dan jujur saja kampungku minim objek wisata tapi kaya akan budaya dan kuliner enak dan murah. Apalagi yang terkenal dari kampungku Padangsidempuan itu ialah salaknya, tapi please jangan disingkat Padang karena Padang itu ada si Sumatera Barat sedangkan Padangsidempuan itu di Sumatera Utara. Kalau orang Padangsidempuan sering menyingkat dengan pasid, atau psp. hehehhe 🙂

Sayangnya karena kesorean teman-temanku datang alhasil gagal deh melihat Air Terjun yang rupanya berada di Pintu Langit, Padangsidempuan. Oh ya pintu langit itu juga nama sebuah daerah di Padangsidempuan, kampungku 🙂

Gara-gara si Nyakmat alias Rahmat Dongoran nih yang memberitahukan ada air terjun di Padangsidempuan jadinya aku penasaran eeh mereka datang sore tapi tak apalah karena walau tidak sampai ke air terjun tapi mereka membawaku ke pintu langit untuk melihat kebun strawberry dan taman anggrek. Awalnya aku agak kaget dan pensaran bagaimana kebun strawberry di Padangsidempuan apakah mirip dengan kebun strawberry di Bandung.

Jam 2 siang teman-temanku datang ke rumah lengkap dengan motor lalu dengan senang hati aku diculik mereka untuk keliling Padangsidempuan dari ujung ke ujung, dari kampung ke kampung. Nah untuk melewati pintu langit mereka melalui jalur Simarsayang yang membuatku agak kaget sih soalnya aku tidak pernah melewatinya. Sepanjang perjalanan banyak sekali pemandangan khas pedesaan yang sangat aku sukai, mulai dari batang asli buah salak yang berduri itu terus hingga ke hamparan persawahan yang indah. Lucunya pas di Simarsayang melewati kebun salak aku mengatakan “wow parsalakan” artinya nama tempat untuk kebun salak yang bukan disitu yang kontan membuat temanku si Marwan ketawa secara Parsalakan dimana kami dimana.

Terus pas menemukan spot bagus kami berhenti terus ambil tongsis berphoto bak masih anak SMP, hahahahah lupa umur! Maklum kami semua saling mengenal sejak SMP dan bahkan kami berempat agak jarang berjumpa mungkin bisa dihitung berapa tahun sekali, terus muncul maka plong jalan-jalanlah, kayak reuni kecil walau orangnya sedikit tapi seru!

 

Perjalanan touring keliling Padangsidempuan hingga ke Pintu langit hampir 1 jam, hingga sampailah kami ke Pintu langit. Untuk masuk ke dalam kebun strawberry satu orang dipungut biaya Rp2500 sayagnya strawberrynya itu tidak ada yang berbuah dan menurutku agak kecil untuk ukuran kebun strawberry malahan aku tertarik dengan koleksi anggreknya yang rupanya dibeli di Bandung. Lumayan banyak koleksi anggreknya cuma aku tidak tahu persis nama-nama anggreknya pokoknya tahunya anggrek aja. Waktu kedatatangan kami paling tidak ada 4 jenis anggrek yang berbunga dengan warna yang berbeda-beda dan cukup menarik untuk memandanginya. Kami di taman anggrek pintu langit cukup singkat mengingat hari juga sudah sore yaitu jam 5 dan kami itu lebih banyak menghabiskan waktu di jalan tapi disitu letak keseruannya.

anggrek
Anggrek

Puas melihat anggrek dan gagal memetik strawberry akhirnya aku mengajak temanku untuk makan Soup Tomyam Muslim di Padangsidempuan karena rekomendasi dari si Ilham waktu kami melakukan trip ke Candi Bahal. Untungnya temanku mau soalnya si Nisfi harus pulang sebelum maghrib padahal waktu makan sudah agak maghrib. Untuk harga tom yam memang lumayan mahal untuk Standar Padangsidempuan tapi untuk standar Jakarta sih biasa. Tapi aku lumayan suka karena pedasnya itu luar biasa, memang Padangsidempuan itu jagoannya sambel dah 😀

Kalau ingat makan tomyam jadi ingat teman geng Kamseupay di Hatyai waktu makan tomyam tapi lumayanlah untuk sekedar tahu. Nah untuk saranku kalau mau mencoba kuliner Padangsidempuan itu sebaiknya yang tradisional seperti lontong, pecal, sate dan sebagainya karena harganya jauh lebih relatif murah yaitu Rp5000-Rp15000 (paling mahal Rp15000 itupun untuk sate). Untuk tomyam seafood yang kami coba Rp45000 seporsi tapi ukurannya lumayan besar sih jadi lumayan puaslah.

Tomyam Muslim
Tomyam Muslim

Sehabis makan tomyam, kami berempat lagi-lagi melakukan aksi gila yaitu dengan makan durian di depan Plaza Anugrah Cemerlang (Mallnya Padangsidempuan, mallnya kecil). Padahal si Nisfi udah buru-buru pengen pulang takut dimarahin neneknya. Eeh kami malah sempat aja tuh makan durian pake acara nawar pula. Untuk yang nawar itu si Nyakmat jagonnya. Untuk 3 buah durian seharga Rp50.000, sayangnya satu buah durian kami tidak terlalu enak dan dua buah lainnya enak banget!

Liburan ke Padang Sidempuan, kampungku kali ini benar-benar seru bertemu dengan teman SMP, jalan bareng, kulineran bareng terus bercanda tawa. Setulah perjalanan kami ini, membuatku feeling a home emang udah home sih sebenarnya ehheheh 😀

Ah jadi rindu kampungku!

kALA

Kalau mau mencoba sensasi durian murah, makan enak dan murah, menelusri pegunungan dan persawahan serta dipastikan semua masyarakat lokalnya berbahasa Batak Padangsidempuan maka bolehlah dicoba sensasi trip ke Padangsidempuan, cuma 8-12 jam dari Medan 😉

Salam

Winny

Iklan

69 tanggapan untuk “Edisi Mudik keliling Padangsidempuan

  1. Anggreknya keren banget Win, mereka tampak segar dan sangat cantik, kayaknya jenisnya juga banyak macam dan bukan tidak mungkin di sana juga ada anggrek yang endemik ya :hehe. Dan duriannya banyak sekali, bikin ngiler meski saya pastinya tidak akan kuat kalau disuruh makan sebanyak itu :haha. Ah, buat foto-foto di anggrek itu pasti seru banget, sehingga saya semoga ada kesempatan buat tandang ke sana dan foto anggreknya! :hehe.

  2. Permisi, numpang baca postingan disini

    Wah, saya suka banget sama duriannya 😀
    Kalau durian di Jawa yang beredar kebanyakan jenis durian pertuk, durian montong.

    Terima kasih, salam 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s