Sejam jalan-jalan di Taman Nasional Baluran


A dream does not become reality through magic, it takes sweat determination and hardwork

-Colin Powell-

Taman Nasional Baluran
Taman Nasional Baluran

Hello World!

Baluran, Mei 2015

Jam menunjukkan jam 2 siang ketika Pak Hery, supir angkot Banyuwangi yang tiba-tiba jadi langganan kami menjemput kami di rest area Jambu tempat dimana mobil belerang menurunkan kami berenam. Ada dilema bagi kami berempat antara pergi atau tidak ke Baluran karena kemungkinan tidak akan sempat mengunjungi Taman Nasional Baluran padahal Bang Dendi dan Bang Novrizal akan balik ke Surabaya jam 9 malam. Sementara 4 teman yang baru kami berkenalan memastikan tidak akan terkejar karena jam tutup pembelian tiket jam 4 sore.

Alhasil dengan bantuan Pak Heri maka kami menuju terminal dan mencari angkot yang mau membawa kami ke Baluran. Dari jadwal perjalanan yang telah aku buat maka kami seharusnya bisa Trekking Bekol – Bama. Alhasil Pak Heri menawarkan mencari angkot alias angkutan umum seharga Rp300.000 sampai ke Baluran. Sebelumnya kami telah ditawari harga sewa mobil seharga Rp900.000 seharian dari Paltuding hingga ke Baluran dan Pantai Merah tapi karena menurut kami kemahalan, alhasil kami rela menghabiskan waktu 4 jam menunggu mobil belerang. Mahal dan murah emang relatif sih!

Gunung Ijen
Penambang Belerang di Kaki Gunung Ijen

Dengan bantuan Pak Hery maka kami mendapatkan supir angkot yang mau membawa kami ke Baluran mengejar sisa waktu yang 4 jam. Nah saat masuk kami memastikan kalau si Bapak mau membawa kami masuk ke dalam Taman Nasional Baluran, bukan hanya diantar sampai ke depan pintu depan Gerbang Baluran saja. Karena harga Rp300.000 kami patok hingga sampai ke Stasiun Karang Asem.

“Pak, sampai ke dalam Baluran kan?” tanyaku?

si bapak lalu berkata “masuk saja, nanti kita bicarakan”!

Nah saat masuk ke dalam kami masih bergabung dengan penumpang lain terus Bang Novrizal memastikan lagi. “sampai Bekol kan Pak”, lalu si Bapak mengiyakan.

Lalu dengan perasaan plong kami menuju Baluran dari terminal yang diantar Pak Heri. Kami lalu memberikan uang angkutan umum dari Rest Area Jambu ke terminal Rp25.000/orang kepada Pak Heri.

Tiket Masuk ke Taman Nasional Baluran
Tiket Masuk ke Taman Nasional Baluran

Kami menikmati pemandangan perjalanan. Apalagi waktu melewati pelabuhan Ketapang gilanya si Melisa kumat “aaaaaa Baliii, begitu katanya”.

Yaudah sih Mel, langsung aja jadikan, kataku menggodanya!

Sesampai di Taman Nasional Baluran maka jam 4 kurang dan aku langsung berlari keluar mobil angkot untuk membeli tiket. Harga tiket masuk baluran + mobil = Rp10.00/orang + Rp15.000/mobil. Lama perjalanan dari terminal dari Baluran kurang lebih 1 jam dan menurut kami tidak terlalu jauh sebenarnya karena jalanan bagus. Tapi pas melewati pintu gerbang Baluran, maka jalanannya yah ampun jelek! Tapi sebenarnya belum sebanding dengan jalanan jika ke kampungku di Padangsidempuan, tapi memang mobil yang cocok masuk ke dalam Baluran sebaiknya mobil type jeap atau mobil khusus abrod.

Kami mengikuti gaya mobil, sesekali kepala kebentur keatap mobil. Cobaan dah demi Taman Nasional Baluran terus waktu mulai gelap. Kurang lebih 45 menit rasanya hingga sampai ke Bekol tempat dimana tengkorang rusa yang membuatku penasaran dari tahun ke tahun. Saking lamanya lupa sejak kapan lihat di blog teman tentang Baluran, yang membautku penasaran.

Baluran National Park
Baluran National Park

Simple sih yang membuatku penasaran untuk melakukan trip ke Baluran karena imej Baluran sebagain litte Africanya Indonesia. Apalagi pas google photo-photonya Baluran yang keluar gunung dengan pohon serta ilalang eksotis. Tapi pas sampai di Baluran apakah karena timing kedatangan sore atau karena kami disana sebentar tapi pas nyampe di Baluran, Oh O, that’s it! cuma itu saja!

Mungkin karena aku pernah tinggal di Kupang yang notabenenya eksotis sepanjang tahun jadi waktu melihat Baluran only that, sedikit kecewa sih tapi kecewanya gak terlalu banget juga sih, karena pemandangan Taman Nasional Baluran lumayan Ok kok. Bahkan kera dan rusa mudah dilihat berkeliaran terus pohon-pohonnya unik.

Baluran National Park, located in district of Situbondo, East Java Indonesia consists predominantly of open savannahs, where wildlife roam free. Baluran discovered by A.H.Loredeboer in 1937 and you could watch grazing, the large Java water buffaloes, small Java mouse deer, peacocks strutting about displaying their colorful plumage, eagles flying overhead and macaques fishing for crabs with their tails. Here also are many typical Java trees like the Java tamarind and the pecan nut trees.

(Resource: Indonesian Travel website wonderful Indonesia)

Baluran
Baluran

Sampai di Bekol aku mengamati pemandangan. Kera-kerea berkeliaran bebas di padang savannah kemudian latar belakang Gunung terus pohonnya tumbuh satu-satu. Duh aku rindu Kupang ahhahah 😀

Walau sudah agak sore, lumayanlah akhirnya kami bisa berhasil sampai di Baluran. Lalu di Bekol kami hanya 20 menit saja terus kami meminta ke si Bapak untuk mengantar ke Pantai Bama karena di papan informasi dikatakan hanya 3 Km saja terus kami merasa nanggung tidak ke Bama. Bang Novri yang paling penasaran dengan Pantai Bama kalau aku tidak terlalu karena standar nilai pantaiku tinggi hehehe 🙂

Kamipun mengajak si Bapak ke Bama karena perjanjian awal kami hanya 1 jam di Baluran. Nah jaraknya lumayan dekat tapi karena jalannya yang jelek sehingga terasa jauh. Sepanjang perjalanan dari Bekol ke Pantai Bama maka akan melihat rusa liar dan beberapa pohon eksotis mirip seperti di film Madagaskar.

Oh ya untuk informasi Bekol dan Bama masih dalam area Taman Nasional Baluran. Untuk Bekol yang bisa dilihat ialah padang savan serta tengkorak rusa serta kere hidup berkeliaran. Sedangkan di Bama berupa pantai dan orang suka mendirikan tenda disini.

Baluran Banyuwangi
Kami di Bekol Taman Nasional Baluran Banyuwangi

Waktu kami sampai di Bama kami melihat banyak sekali anak sekolahan yang datang berkemah. Waktu kami datang waktu sudah agak gelap menuju magrib padahal waktu masih jam 6 sore. Alhasil kami melihat pantainya yang agak sedikit kotor lalu pemandangannya yang gimana gitu terus langsung deh kami dengan kaki seribu meninggalkan Pantai Bama, paling tidak cerita perjalanan tentang Bekol dan Bama tidak membuat penasaran lagi karena sudah meninggalkan jejak.
Oh ya satu tips perjalanan Baluran jika ingin melakukan travelling ke Baluran Kalau mau ke Baluran dari gerbang utama biasanya dipatok Rp50.000 sekali jalan dengan motor karena jarak kedalam lumayan jauh serta jalanan yang kurang. Jadi jika ingin masuk ke dalam sebaiknya sih menyewa mobil saja.

Karena hari sudah gelap maka kamipun sesaat saja di Bama lalu kembali ke Stasiun Karang Asem. Tapi sebelum ke Stasiun kami mengajak makan malam bersama bapaknya. Kami lalu mencoba makanan khas Banyuwangi yaitu rujak Soto di salah satu warung. Untuk harga rujak soto Rp37000 +Rp5000 (sopir). Rasa rujak sotonya untukku sih aneh mungkin karena aku penyuka pedas 😀

Waktu ketika kami makan malam jam 7:30 malam lalu kami ke stasiun Karang Asem. Nah sampai di Karang Asem Bang Dendi memberikan uang sewa angkot sebesar Rp300.000. Nah saat uang diberikan awalnya si Bang Novri dan Bang Dendi hendak memberikan Rp250.000 karena kasihan jadinya Rp300.000. Karena jaraknya tidak sejauh yang dibayangkan bahkan ketika kami melihat penumpang lain dari terminal hingga ke depan pintu gerbang Baluran cuma bayar Rp5000 saja.

Ketika bang Dendi memberikan uang kepada supir angkot, rupanya dia hitung. Terus langsung si bapak marah-marah tidak terima bahkan minta Rp200.000 lagi karena dia menganggap untuk membawa kami ke Baluran itu seharga Rp500.000.

Gila!

Disinilah ‘disaster’ terjadi, adu mulut adu argumen!

Bekol Baluran
Bekol Baluran

“Uangnya kurang, kan saya sudah antar kalian ke Bama seharusnya kalian mengerti karena perjanjian di awal hanya sampai di pintu gerbang”, kata si Bapak. Maksudnya dari terminal Banyuwangi hingga ke pintu Gerbang Baluran untuk kami berempat Rp150.000 untuk sekali jalan.

“Lah bukannya Bapak sudah setuju untuk kami sampai di Bekol dengan harga segitu? kataku. Lagian kami tidak punya uang lagi Pak, perjanjian diawal kan tidak seperti itu. Kami tidak merasa enak, bapak juga tidak enak”, kataku.

Terus si Bapak bilang, “yah saya kira kalian sudah mengerti saat ke Bama, lagipula bensin saya kan banyak terpakai” kata si Bapak.

“Kami kira bapak mengerti kalau kami maunya harga sekian sampai ke Bama” kataku. Kemudian teman-temanku ikut menimpali lalu si Bapak tetap ngotot kami harus menambahin uang minyaknya hingga ke Bama.

Lalu aku mengatakan kepada si Bapak “pak kami kan sudah mengajak bapak makan juga, kami juga membolehkan bapak menaiki sewa lain walau kata bapak mobil kami sewa terus kami kan hanya sebentar terus kami mengira bapak mengerti kami”.

Puncak kemarahan si Bapak yang paling gila ketika si Bang Novrizal menantang si Bapak untuk menghitung berapa kilometer dengan jarak yang dihabiskan serta bensin. “Atau kita hitung berapa bensin dengan km”, kata Bang Novrizal. Langsung si Bapak naik pitam dan marah-marah terus meninggalkan kami.

Bama
Bama

Kami jadi pusat perhatian karena adu mulut dengan si bapak supir. Kami berempat langsung menuju ke dalam stasiun.

Saling memandang!

Salam 

Weeny Traveller

Iklan

40 tanggapan untuk “Sejam jalan-jalan di Taman Nasional Baluran

  1. foto pertamanya itu seperti yang pernah saya lihat dalam bentuk wallpaper kalau googling.

    jangan2 foto itu terinspirasi dari suasana alam foto di atas

  2. Baluran ud beda ya, dulu pas kesana di savana nya, rumput2 ilalangnya masi lumayan tinggi2. Jd gak kaya lapangan bola doank. Hihi. Sunset di sana juga keren sih.

  3. Assalaamu’alaikum wr.wb, mbak Winny….

    liburan yang diakhiri dengan kemarahan bisa mendatangkan rasa tidak nyaman ya. Mungkin ini menjadikan pekerjaan itu tidak ikhlas dan kita rasa kurang selesa. Mudahan tidak akan berlaku lagi dan sebaiknya bawa uang yang cukup agar liburannya diakhiri dengan hati yang puas dan bahagia. Pengalaman yang tentunya tidak bisa dilupakan, ya Winny.

    Salam manis dari Sarikei, Sarawak.

  4. Adu mulut dengan supir angkutan itu nampaknya bisa terjadi dimanapun yah. Sayapun beberapa kali adu mulut dengan supir angkutan mulai dari tukang ojek sampai tukang becak. Alasannya selalu sama, minta tambah bayaran…

  5. selalu ada biaya yg gk masuk akal kalau wisata d indonesia, aku sering ketemu dgn oknum oknun yg melambungkan harga sampai tidak wajar, mungkin dikira semua wisatawan dr luar kota itu liburan utk mnghabiskan bnyak uang, kadang kadang pungli sana sini sblm sampai pintu gerbang atau membeli tiket masuk, di tambah para pedagang setempat kalau jualan pada nyerobot semua nya nawarin dagangan merka , kayak seorg fans ketemu idola nya utk minta tandatangan …. tp agak sedikit memelas dan memaksa. 😦

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s