“If you want to succeed in your life, remember this phrase: That past does not equal the future. Because you failed yesterday; or all day today; or a moment ago; or for the last six months; the last sixteen years; or the last fifty years of life, doesn’t mean anything… All that matters is: What are you going to do, right now?”

By Anthony Robbins

Hello World

Togean, 2017

Mataku tertuju kepada sebuah dompet ukuran sedang dengan tulisan “Togean” di depan ruang makan Fadhila Cottage. Ruang makan itu terbuat dari kayu dengan tatanan meja sederhana nan luas, didepannya hamparan laut dan pasir putih. Aku mendekat ke dompet tersebut dan ada yang janggal dari dompet itu, bukan karena warna genjreng merahnya namun kepada bahannya, bahannya bukan dari kain. Belum sempat aku mengamati lebih lanjut, seorang Bapak menghampiriku

Ini dompet dari hasil daur ulang sampah plastik, 
begitu kata si Bapak

Lalu aku mengamati poster disudut lain dari ruang tamu, ternyata sebuah organisasi nirlaba dari Perancis bernama Everto membantu masyarakat Togean untuk mengolah limbah plastik menjadi bahan yang berguna.

Kalau berniat, nanti saya bawakan ke Katupat untuk melihat langsung pengolahannya,
kata si Bapak memberi tawaran

Tentu saja aku sangat antusias dengan saran si Bapak karena aku sangat kagum dengan orang-orang yang bisa mengolah sampah menjadi bahan yang berguna apalagi bisa sampai dijual.

Bahkan aku IRI dengan orang-orang yang berperan dalam menjaga lingkungan meski itu dari hal kecil!

Togean (Sumber: Wira Nurmansyah)

Bak gayung bersambut, ternyata kesempatan melihat pengolahan sampah dapat terwujud disaat kunjungan terakhir kami di Kepulauan Togean. Setelah puas diving di Reff 1 Kepualau Togean, tak jauh dari California kami kembali ke Pulau Katupat.

Perahu kami pun bersandar di dermaga sederhana di Pulau Katupat. Turun dari perahu, seperti biasa karang terlihat jelas dari jembatan memanjakan mata kami. Menelusuri jembatan dari kayu, kami pun berjalan ke sebuah rumah. Meski udara panas namun kami tetap semangat untuk melihat aksi warga Togean menjaga lingkungan.

Pak Saiful tourguide kami langsung memanggil ibu-ibu lokal untuk memperlihatkan kepada kami bagaimana caranya mengolah limbah plastik menjadi barang yang berguna.

Dengan cekatan ibu-ibu tersebut memasukkan tali plastik ke dalam jarum lalu dijahit dengan teliti sesuai dengan produk yang diinginkan. Lamanya pekerjaanya pun tergantung besar kecilnya produk. Kalau tas ukuran kecil pengerjaannya bisa 1 minggu, untuk gantungan kunci bisa sehari. Harga untuk produknya pun bervariasi mulai dari harga Rp25,000 hingga ratusan ribu tergantung tingkat kesulitan dan waktu pengerjaan.

Tahun lalu kami menjadi juara 3 lomba pengolahan limbah Piala Presiden,
 begitu kata Pak Saiful
Kita memiliki komunitas dan memungut sampah
lalu di daur ulang menjadi produk berguna, lanjutnya

Aku yang senang melihat hasil karya ibu-ibu penduduk asli Pulau Katupat, Togean pun ikut membeli dompet kecil dengan harga Rp25.000 dan gantungan kunci berbentuk cabai Rp25.000. Temanku Vely memborong topi pantai dengan harga Rp50.000 sementara si Dan, Hello Mister langsung membeli dompet terbuat dari plastik kopi memborong 4 buah dompet Rp200.000.

Hasil Olahan Sampah di Pulau Katupat

Aku sungguh sangat beruntung karena dapat melihat langsung demo proses pembuatan daur ulang sampah. Dibawah organisasi Everto, masyarakat Togean diberdayakan untuk menjaga lingkungan, sehingga sampah dari plastik akan di ubah menjadi produk yang berguna seperti topi, dompet, mainan kunci hingga tas.

Bahkan bahannya dari sampah plastik!!

Masyarakat Kepualaun Togean mengambil sampah plastik yang ada kemudian dibersihkan lalu diayam menjadi produk berguna. Hasil dari produknya dipajang di berbagai Cottage sekitar Togean misalnya di Fadhila Cottege karena Pulau Katupat persisi di depan Fadhila Cottege.

Selain mendapat keahlian baru dalam mengolah sampah, masyarakat Kepulauan Togean dapat menambah penghasilan dari karya tersebut. Lumayan untuk mendapat penghasilan tambahan apalagi produk tersebut dijual untuk wisatawan, walau kebanyakan pengunjung Togean adalah wisatawan mancanegara seperti Perancis.

Mengolah Sampah Plastik (Sumber Photo: Wira Nurmansyah)

Tahukah kamu berapa lama penguraian dari berbagai sampah jika dibuang sembarangan di laut?

-Tissu toilet terurai 2-4 minggu

-Koran dan majalah terurai 6 minggu

-Sisa apel, dos karton, karton jus terurai 1-5 bulan

-Tali kaoas, foto-foto, bungkusan korek api terurai 3-14 bulan

-Tripleks, punting rokok, pakaian  terurai 1-3 tahun

-Kayu yang dicat terurai 13 tahun

-Kaleng kemasan gabus terurai 50 tahun

-Pelampung gabus terurai 80 tahun

-Alumanium, baterai terurai 200 tahun

-Popok, tas kresek, botol plastic terurai 400-450 tahun

-Jarring ikan, pukat, tali pancing nion terurai 600 tahun

-Botol kaca terurai tak dapat ditentukan

Melihat fakta betapa susah dan lamanya sampah terurai terus apa kita masih berani buang sampah sembarangan?

Hasil pengolahan sampah plastik (Sumber Photo Wira Nurmansyah)

Masyarakat terpencil di Kepaualaun Togean, Sulawesi Tengah saja bisa memanfaatkan sampah plastik dan turut berpartisipasi dalam mengolah sampah menjadi produk yang berguna, masa kita yang membuang sampah pada tempatnya saja tidak bisa.

Kan malu!!

Masa kalah sama ibu-ibu. 😉

Meski kunjungan ke Togean tanpa memiliki signal Hp namun berkunjung ke Togean merupakan pengalaman berharga bagiku. Di Togean, aku mendapat pembelajaran untuk lebih sadar akan lingkungan, dan lebih menjaga kelestriannya, karena kalau bukan kita yang menjaga lingkungan, siapa lagi?

Alamat Pulau Katupat

Balaesang Tj, Donggala

Kepulauan Togean

Sulawesi Tengah

Siapa yang sudah pernah mendaur ulang sampah?

Salam

Winny

Advertisements

Posted by Winny Marlina

Indonesian, Travel Blogger and Engineer

34 Comments

  1. Ini namanya jalan-jalan dapet banyak : otak segar, pengetahuan dapet 😉

    Reply

  2. Wah harga kerajinanannya lumayan mahal meskipun terbuat dari sampah. Ya lumayanlah buat meningkatkan kesejahteraan penduduk sekitar 😀

    Reply

    1. tapi hasilnya bagus shiq

      Reply

  3. Assalaamualaikum wr.wb, Winny…

    Hasil kraf tangan mereka sangat halus dan cantik. Siapa menyangka ia dari sampah plastik. Sangat kreatif dan inovatif. Salut ya atas usaha murni mereka. Mengkagumkan.

    Salam manis dari Sarikei, Sarawak. 🙂

    Reply

    1. waalaikum salam kak Siti, benar sangat kreatif dan inovatif dan patut dicoba

      Reply

  4. Saudaraku orang Sulawasi dulu malah suka buat tas dari bahan kardus 😀

    Reply

    1. kreatif banget, seru diajarin begitu

      Reply

  5. Keren bgt programnya.. niatan dr dulu bikin pengolahan sampah hanya berhenti sampai menumpuk sampah di rumah aja yg akhirnya dibuang juga. Sigh… Semoga makin berkembang program2 kayak gini di tempat lain

    Reply

    1. aku juga pengen belajar lebih jauh pengolahan sampah ini, dan semoga makin banyak program begini di Indonesia

      Reply

  6. aku juga iri.. tatkala melihat tatanan foto yang sesekali memperlihatkan laut togean.. hmmm…

    Reply

    1. aku juga iri kak karena gak pernah ke Aceh 😀

      Reply

      1. lha?? iri sama siapa? sama aku? aku ini emang udah hidupnya di aceh huhuhu

  7. Keren banget usahanya ya Win! Sampah diolah menjadi sesuatu yang berguna!! Sampah di laut adalah satu permasalahan besar sekarang ini. Profesorku pernah snorkeling di Bali dan dia komplain dengan banyaknya sampah yang terapung di lautnya >.<

    Reply

    1. memang sampah ini udah harus mulai diolah dan harus ada kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan apalagi ke laut

      Reply

  8. Kreatif banget ya mereka, gk nyaka klo hasilny sbgus itu melihat bhan dsar yg d gunkan😳

    Reply

    1. memanfaatkan sampah plastik lagi ya

      Reply

  9. Di Lombok, hanya beberapa komunitas saja yang melakukan ini. Asik sekali kalau sudah dilakukan satu warga 😃

    Reply

    1. kalau ada di setiap daerah komunitas seperti ini keren ya ical

      Reply

      1. Di Mataram yang kutahu ada dua komunitas yang sukses bikin tradisi daur sampah gini, Kak. Mereka akfif kampanye dan bikin pelatihan. Murid-murid di sekolahku hukuman-hukumannya ndak jauh dari daur sampah.

        Tapi belum menjadi tradisi warga. Hanya komunitas kecil jejaring saja.

      2. menarik, tulis ical 🙂

      3. Insya Allah, nanti saya cerita 😃

  10. Kreatif banget kak win. Dan bisa jadi oleh2 souvenir sepulang dr Togean 😀

    Reply

    1. iya jadi oleh-oleh semoga makin banyak komunitas begini di Indonesia ya

      Reply

  11. lost in science May 28, 2017 at 3:58 pm

    jernih banget lautnya.. xD. Semoga Teluk Jakarta bisa sejernih ini lagi..

    Reply

  12. Menarik bgt nih Win. Jd dpt oleh2?

    Reply

    1. dapat feb oleh-oleh dompet dari daur ulang sampah

      Reply

  13. […] 2. Daur ulang sampah plastik menjadi produk berguna di Togean […]

    Reply

  14. kerennn .. seharusnya diaplikasikan/ditirudi tempat2 lain di Indonesia …
    banyak banget yang nyampah .. apalagi sampah plastik

    Reply

    1. semoga makin banyak yang perduli dengan lingkungan

      Reply

  15. wah,,, sangat perlu ditiru oleh masyarakat di seluruh indonesia 🙂

    Reply

  16. […] Baca juga bagaimana cara mengolah sampah jadi uang […]

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s