Pengalaman Belajar Membatik di Batang


New friends may be poems but old friends are alphabets. Don’t forget the alphabets because you will need them to read the poems.

By William Shakespeare

Batik Batang

Hello World!

Batang, 2017

Tak pernah sedikitpun terlintas dalam pikiranku untuk mencoba yang namanya membatik hingga ada kesempatan belajar membatik di Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Tentu saja pelajaran membatik ini menjadi pengalaman pertamaku, dulu pernah melihat workshop membatik di Museum Mandiri Kota Tua tanpa mencoba ngebatik. Waktu itu lebih mengenal aneka Batik dari berbagai daerah. Siapa sangka aku mendapatkan kesempatan untuk membatik di Batang bersama teman-teman Blogger dan rombongan Dinas Pariwisata. Kami mengunjungi Komunitas Batik Rifaiyah di Kabupaten Batang yang tak jauh dari Pekalongan untuk belajar membatik secara langsung. Tentu saja tingkat keseruan membatik dengan tangan sendiri dapat memacu Hormon Dopamin.

Beruntung karena aku jadi lebih tahu bagaimana proses membatik!

Membatik di Kabupaten Batang

Tentang Batik Rifaiyah

Batik Rifaiyah merupakan Batik Pesisir memiliki kekhasan terutama dalam hal motif, dimana Batik Rifaiyah memiliki motif tumbuhan dan jarang menggunakan motif hewan maupun manusia. Sama halnya dengan kekhasan Batik di Indonesia, Batik Rifaiyah mengandung filospoi tersendiri serta pembatik Batang memegang teguh ajaran Islam karena memang mayoritas pembatik Batang adalah Muslim. Bahkan nama Batik Kabupaten Batang diambil dari nama Guru Besar Pondok Pesantren Batang, KH. Ahmad “Rifa’i”. Batik Rifaiyah yang merupakan gabungan Batik Klasik Solo dan Jogja memiliki 24 motif dasar yaitu , ila ili, gemblong sairis, dapel, nyah pratin,   pelo ati, kotak kitir, banji, sigar kupat, lancur, tambal, kawung ndog, kawung jenggot, dlorong, materos satrioromo gendong, jeruk no’i, keongan, krokotan, liris, klasem, kluwungan, jamblang, gendaghan dan wagean. Salah satu Batik Batang yang terkenal adalah Batik “Tiga Negeri yanga harganya paling murah sekitar 800ribua sampai 20 juta.

Sungguh harga yang cukup fantastis, namun melihat langsung lamanya membatik yang bisa mencapai 1 tahun dengan tingkat kerumitan seperti wajar saja. Belum lagi dalam pengerjaannya tergantung dari kegiatan si Pembatik. Kalau kata Bu Uting Batik Batang itu adalah “Batik Sambilan”, “sambil momong anak”, sambil masak”.

Membatik

Belajar Membatik di Kabupaten Batang

Kegiatan belajar membatik kami diajari oleh Ibu Uting. Ibu Uting ini adalah salah satu pembatik dari Komunitas Batik Rifaiyah, Kabupaten Batang. Beliau sudah belajar membatik dari orang tuanya sejak umur 10 tahun.

Sehingga kami belajar membatik dari sang ahli!!

Beliau sudah mendapat kabar tentang kedatangan kami jauh hari untuk kegiatan belajar membatik darinya. Kami disambut baik oleh Ibu Uting meskipun kami sempat tiba agak terlambat dari janji yang disepakati. Ibu Uting telah mempersiapkan alat-alat dan bahan membatik bagi kami hal ini terlihat jelas ketika si Ibu datang saat kami menunggu beliau. Tempat membatik kami di depan teras rumah Ibu Uting.

Membatik

Di depan teras rumah Ibu Uting sudah ada bangku kecil, kain yang sudah di pola dan yang belum diberi pola dengan pensil serta sudah ada kompor dan kuali kecil untuk memanaskan lilin (malam) dan canting.

Secara sederhana cara membatik ialah pertama mengambil lilin (malam) dengan menggunakan canting halus dari bambu yang sudah dipanaskan terlbeih dahulu diatas kompor lalu setalah panas lilin dimasukkan ke canting sambil ditiup kemudian lilin tersebut diukir pelan-pelan ke kain sesuai dengan motif yang ada. Menurut pendapat Bu Uting craa memanaskan lilin itu yang paling bagus adalah dengan bahan bakar minyak tanah. Sehingga terjawab sudah kenapa harga batik bisa mahal. Karena memanaskan lilin nya dengan minyak tanah. Nah lalu apa itu lilin (malam)? Itu adalah bahan untuk pembuatan batik.

Yudha sedang konsen membatik

Kesan pertamaku dalam membatik adalah “susah” karena aku bukan anak yang terlahir dengan bakat menggambar. Jadi pas membatik aku diberikan kain putih polos sehingga aku leluasa menggambar apa saja di kain tersebut namun yah mau gimana otakku dominan kiri sih. Sehingga gambar yang aku buat di kain katun putih itu ngasal. Padahal Ibu Unting sudah menyiapkan motif di kain putih tinggal mengikuti pola tersebut. Namun jangan salah, yang sudah ada motifnya saja tinggal mengikuti pola susahnya minta ampun apalagi yang tidak ada pola sama sekali, alhasil gambarku itu “berliku-liku” seperti percintaanku hihihhi 😀

Leoni dengan cermat membatik

Yang tak habis pikir adalah bagaimana Ibu Uting dengan piawai membatik, sungguh membuat iri.

Beliau tidak perlu mmebuat pola di kain itu dengan pensil, tangannya langsung piawai dalm menggambar dan hasilnya bagus. Memang bagi pembatik Batang motif itu sudah ada dipikiran mereka sementara karena kami masih proses belajar sehingga motifnya dicetak pensil dulu baru kami tinggal taruh lilin (malam). Namun jangan anggap remeh, karena beberapa kali meniup canting (alat untuk lilin) kadang malah kena ke tangan dan lumayan panas. Sebab lilin harus dipanaskan, terus kadang cantingnya meluber kemana-mana alhasil motif gambarku “ababil” alias “entah apa-apa” haha 😀

Aku, Wira dan Bu Yanti membatik (sok serius)
Bu kalau ada kontes calon menantu harus bisa membatik, 
saya gagal, begitu kataku ketika asik membatik.

Terus si Ibu berkata aku pasti bisa kalau tinggal di Batang minimal 6 bulan dan setiap hari membatik!

Jujur saja, tidak pernah terpikir olehku betapa membuat sebuah Batik itu membutuhkan kesabaran, keuletan, ketelitian yang cukup tinggi. Yah perjumpaan dengan Bu Uting mengingatkanku kembali akan pelajaran berharga dalam hidup terutama saat belajar membatik untuk “bersabar”.

Karena kesabaran adalah kunci utama dalam hidup 🙂

Ekspresi senang dalam membatik (Sumber photo: Wira Nurmansyah)

Ada yang lucu saat pengalaman membatik kami. Jadi karena hasil Bati Yudha yang kurang memuaskan, sehingga dia menyuruh Bu Uting memahat namanya di salah satu karya Bu Uting.  Temanku Yudha, sampai niat banget pencitraan dengan memakai hasil batik Bu Uting tapi seolah-olah miliknya karena punyanya gagal total. Kelakuannya ini sungguh membuat senyum kami merekah.

Dari belajar membatik dengan Bu Uting membuka mataku bahwa sebenarnya Indonesia mewariskan budaya yang sangat luhur yaitu “Batik” karena dengan membatik belajar yang namanya ketekunan dan kesabaran.

Hal yang sudah jarang dalam hidup!

Kami yang ngikutin pola saja kewalahan bahkan lilinnya sering jatuh eh si Ibu Uting malah santai dan hasilnya keren. Tak habis pikir bagiku keuletan dari para pembatik Bayang. Bayangkan saja para pembatik Batang ini membatik itu tergantung kesibukan masing-masing dan belajarnya pun otodidak namun hasilnya bagus sekali.

Menariknya bagi pembatik Rifaiyah, membatik tidak hanya sekedar memenuhi kebutuhan sandang pangan saja tapi juga sudah berkembang menjadi mata pencaharian. Permintaan konsumennya bahkan sampai ke Luar Negeri, wajar “homemade” itu memang special.

Dan terakhir, please jangan diketawin hasil karya membatikku dengan penuh cinta!

Hasil Karya Batik Winny

Pelajaran yang saya petik dengan belajar membatik di Komunitas Batik Batang Rifaiyah selain proses membati, saya belajar tentang menahan emosi dan teliti.

Nah kalau ingin belajar manajemen emosi maka silahkan membatik dan datangi Kabupaten Batang di Jawa Tengah dan ukur sendiri tingkat kesabaranmu!

Ada yang sudah pernah belajar membatik?

Salam

Winny

Iklan

34 tanggapan untuk “Pengalaman Belajar Membatik di Batang

  1. udah keliatan bentuknya itu Win..
    lihat batik rifaiyah waktu di museum Pekalongan, nggak nyangka Winny belajar langsung di Batang..
    haduuuh kepengen ikut deh..
    kk pernah belajar membatik di Museum Tekstil, pilihnya motif yang gede.., supaya cepat selesai, seukuran saputangan

  2. Susah ya ternyata, ngikutin pola aja masih kesulitan.. Mungkin butuh tangan yang tidak mudah gemetaran.. Yg stabil buat ngikutin pola dan mbatik ya

  3. Wah keren! Aku pingin belajar membatik euy, tapi ga ada temennya hahaha. Eh buset bs sampe setaun baru jadi yah, krn manual labor banget dan harus telaten banget gitu, pantesan aja ya batik itu mahal.

  4. Batik khususnya batik tulis memang butuu ketelitian dan kesabaran kak, makanya harganya juga agak mahal.
    Setimpal sih dengan detil motifnya yg rumit.

    Beda sm baju2 batik yg dijual murah, itu sih bukan batik tapi kain bermotif batik tapi di print bukan di
    Batik 😁

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s