Hello World!

Padang, Maret 2020 

Sebelum ada pengumuman dari Pemerintah mengenai kasus Corona di Indonesia dan membatasi diri dari kerumunan (self distancing) maka jalan-jalan terakhir bersama suami ialah ke Batu Busuk atau Bahasa Minangnya Batu Busuak di Padang. Itupun sebenarnya tidak ada rencana melakukan traveling, kebetulan aku ada training di Padang sehingga suamiku tiba-tiba menjadi suami waspada dengan ikut denganku karena dia khawatir kondisiku yang sedang berbadan dua.  Awalnya dia tidak setuju untuk ikut pelatihan, namun kahirnya diizinkan dengan syarat dia ikut, takut terjadi apa-apa di jalan.

Nah pas ke Padang akupun menginformasikan kepada Arum dan Tio (dua adikan dari kampungku, Arum dari Padangsidimpuan, Tio dari Binanga). Lalu Arum mengajak ke Batu Busuk, tempat indah di Padang. Lokasinya pun dekat dengan kampus UNAND, Limau Manis. Meski sedikit ragu dengan tawarannya, Arum memberikan dua pilihan,oertama dengan jalan kaki tapi butuh waktu treking sekitra 2 jam dari UNAND atau naik Gocar sekitar 15 menit saja. Lalu aku memilih opsi kedua dengan naik Gocar.

“Kak on maligi, jeges Batu Busuak i, maligi pedesaan”, kata Arum

(Kak ini lihat dan memberikan link tentang Batu Busuk. bagus tempatnya dan bisa melihat pedesaan).

Karena ajakan Arum akupun mengajak suami ke Batu Busuk. Padahal pas ajakan itu aku sudah balik ke bawah, maklum jarak Padang Kota ke Unand naik angkot alias angkutan umum sekitar 45 menit. Pada saat aku mengajak suami ke Batu Busuk jam 4 sore dia agak malas karena cuaca di Padang sungguh panas sekali. Lagian kami sudah PW di hotel dengan suami, baru saja jam 2 istirahat terus jam 4 pergi lagi. Tapi karena lihat Sungai Biru di Batu Busuk dari membaca pengalaman orang akhirnya aku membujuk suami dan diapun setuju.

Kami janjian jam lima sore di UNAND, Arum yang duluan datang kemudian kami menunggu Tio. Setelah Tio datang, lalu kami memesan Go Car dengan biaya Rp15.000 dari UNAND. Tio membawa sepeda motor dan mengikuti kami dari belakang. Jarak dari UNAND ke Sungai Batu Busuk tidaklah terlalu juah. Namun saat kami memesan Gocar GPS yang kami masukkan salah sehingga kami harus menambah Rp10.000 lagi sehingga biaya Go Car untuk kami bertiga Rp25.000 dari UNAND (sama kayak harga bis dari Padang-Payakumbuh :D). Agak mahal tapi karena tidak mau repot akhirnya kami Ok saja.

Mobil yang kami tumpangin hanya sampai di Pabrik PLTA Semen Padang, dari tempat ini suami dan Arum terpaksa jalan kaki sekitra 15-20 menit. Sementara aku dibonceng Tio sampai ke jembatan. Untuk parkir hanya membayar Rp2.000 tapi kalau jalan kaki gratis. Makanya suami dan Arum tidak bayar.

Sesampai di jembatan, aku dan Tio menunggu suami dan Arum. Setelah itu kami turun bersama ke bawah Sungai Batu Busuk. Pas pertama melihat Sungai Batu Busuk aku langsung takjub karena warna airnya itu biru padahal kami disana jam 5 sore loh. Tidak kebayang kalau jam 1 siang dan terkena matahari, dipastikan lebih biru lagi.

 

Sayangnya pas kedatangan kami di hari Jumat, jadi tidak ada penjual gorengan seperti yang Arum katakan. Kami juga tidak membawa makanan, sehingga hanya bisa mandi air saja. Kalau piknik di Sungai ini rasanya seru sekali, udaranya segar, airnya pun jernih. Aku tak menyangka ada tempat seindah ini di Padang, dekat kampus lagi.

Menariknya area ini memang sudah disulap jadi tempat wisata dan tempat berkemah bahkan tempat arung jeram. Ah kalau tidak lagi musim Corona, pengen rasanya balik ke Padang terus main arung jera, eits tapi belum bisa juga deng harus nunggu brojolan dulu hehe 🙂

Saat turun, aku dan Tio malah asik bermain air. Sementara Arum dan Suami mandi di Sungai, padahal suami tidak bawa baju. Akupun ingin mandi juga namun karena malas basah-basah pulang akhirnya cukup percikan kaki ke air saja sudah bahagia.

Saat kami di Sungai Batu Busuk, pengunjung lokal lumayan banyak namun masih kondusif untuk dikunjungi. Tio yang baru pertama kali ke Sungai Batu Busuk merasa tempatnya indah. Kami sangat berterimakasih kepada Arum, karena kalau bukan dia, kami mungkin tidak tahu tempat seindah ini.

 

Sayangnya kami datang terlalu sore sehingga tidak bisa menjelajah wilayah Sungai Batu Busuk lebih dalam. Mungkin kalau jalan kaki dari UNAND bakalan lebih seru lagi karena melewati hutan. Namun walau demikian, jalan-jalan sore kami lumayan asik. Suami sampai buka baju dan mandi, bahkan mandinya lama.

Melihat orang mandi itu rasanya pengen mandi juga tapi aku dan Tio cukup puas main air. Untuk warna biru dari Sungai Batu Busuk kemungkinan dari Ganggang karena jauh dari jembatan ini dengan aliran yang sama maka airnya tidak biru. Hanya area di dekat jembatan yang memiliki air biru sampai ke persawahan. Tapi ini hanya menurutku saja ya kenapa bisa airnya biru. Untuk air di Sungai Batu Busuk tidak terlalu dingin, tidak seperti di Batang Tabik, Payakumbuh yang sangat dikit. Tapi warna air Sungai Batu Busuk bagus.

Jegesan sian Aek Sijornih kak, kata Arum

(Lebih cantik dari Air Jernih di Padangsidimpuan) dan akupun mangaminin ini.

Di Sungai Batu Busuk juga terdapat ikan larangan. Jumlah ikan di Sungai Batu Busuk ini banyak namun tidak ada yang berani mengambilnya.

Sekitar jam 6 sore, kamipun pulang dari Sungai Batu Busuk. Sore yang menyengakan, namun jangan tanya kenapa namanya “Busuk”, karena aku juga tidak tahu.

Harga Tiket Masuk ke Sungai Batu Busuk: Gratis

Parkir Rp2.000/motor

Lokasi Sungai Batu Busuk

Jl. Koto Tuo, Kelurahan Lambuang Bukik

Kecamatan Pauh (Dekat Universitas Andalas)

Padang, Sumatera Barat

Salam
Winny

Posted by Winny Marlina

Indonesian, Travel Blogger and Engineer

8 Comments

  1. Hai Winny

    Apa kabar?

    Ben

    Reply

    1. Hi Ben
      Kabar saya baik, how are u? Are you still living in Darwin?

      Reply

  2. Wow, sungainya luas dan panjang ya mbak, airnya juga jernih bikin pengen nyebur…
    Entah kenapa saya selalu suka lihat sungai yang beginian

    Reply

    1. saya takjubnya dengan warna airnya biru, next kalau Corona udah hilang pengen balik kesana lagi

      Reply

  3. Sungainya bening ya. Saya teringat masa kecil dulu, suka mandi di sungai, hehe…

    Reply

  4. aku pernah ke batu busuak tapi nggak mandi di sini, lanjut terus ngelewatin jembatan irigasi buatan belanda sampai ke pertemuan 2 sungai.. yg lokasi ininya malah kelewat, dulu nggak ngeh 😀

    -Traveler Paruh Waktu

    Reply

    1. aku penasaran dengan 2 pertenuan sungai

      Reply

      1. Lumayan jauh trekkingnya, tapi jalanannya mudah sih.. ntar nunggu babynya lahir dan gedean dikit win 😁

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.