Nyasar Naik Kereta di Jakarta


You’ll be fine. Feeling unsure and lost is part of your path. Don’t avoid it. See what those feelings are showing you and use it. Take a deep breath. You’ll be okay. Even if you don’t feel okay all the time. By Louis C.K.

484px-Merdeka_Square_Monas_02

Hello World!

Jakarta, 29 Januari 2017

Coret untuk kata traveller  karena meski sudah pernah tinggal di Jakarta selama 4 tahun bukan jaminan kalau aku telah khatam Jakarta dengan baik terutama transportasinya. Karena di penghujung akhir Bulan Januari aku malah mengalami hal yang memalukan terutama dalam hal Nyasar di Jakarta. Iya aku nyasar di Ibukota terus nyasarnya naik KRL pula, kurang tercoreng apa coba aku sebagai orang yang suka jalan-jalan dan udah kemana-mana tapi di tempat tinggal sendiri malah nyasar!!

"Mel, aku ke tempatmu jam 11 ya dari Kuningan, kita mau jumpa dimana?,
tanyaku kepada Melisa

"Jumpa di stasiun Tangerang aja Win, aku pulang Gereja jam segitu,"
jawab Melisa

Akhirnya karena saking asiknya Nonton streaming film Hacksaw Ridge tentang Tentara Amerika yang tidak pakai senjata saat perang di HPnya Mbak Ninik, ujung-ujungnya aku baru berangkat dari Kuningan sekitar jam 11.30 siang. Langsung kemudian aku naik Gojek menuju Stasiun Tanah Abang.

Mel, kalau dari Stasiun Tanah Abang tidak perlu turun kereta lagi kan ya? 
tanyaku kepada Melisa

Tapi entah kenapa Melisa tidak juga membalas whatsappku. Karena aku sebenarnya sangsi apakah transfer kereta lagi atau tidak karena sudah lama sekali aku tidak menggunakan KRL Jabodetabek, terakhir kali menggunakan KRL Jabodetabek di akhir Desember itupun ke Serpong dengan naik kereta dari Stasiun Tanah Abang juga. Namun waktu itu aku ingat betul sekali naik kereta Arah Serpong tanpa transit.

Terakhir kali ke Tangerang itu di Tahun 2015 bersama Rinta, Defi dan Indra. Waktu itu kami trip wisata Tangerang seharian bisa dibaca kisahnya disini. Namun waktu itu aku tentu saja tidak sendiri sehingga tidak nyasar ke Tangerangnya.

Peta Rute KRL Jabodetabek (Sumber jakartabytrain)

Karena belum ada balasan Melisa apakah harus transit atau tidak, akhirnya dari Stasiun Tanah Abang aku menanyakan kepada petugas arah ke Tangerang yaitu di Peron 2 Stasiun Tanah Abang. Walaupun hari minggu namun ternyata stasiun Tanah Abang itu ramai!! Nah pas masuk kedalam kereta aku sempat curiga karena pas sampai di Stasiun DURI, penumpang yang banyak itu pada turun mulai dari Emak-emak yang bawa barang sampai Emak-emak yang bawa Anak berbondong-bondong turun sampai kereta sepi. Sementara aku duduk manis tanpa mengikuti langkah mereka.

"Win turunnya di Batu Ceper aja kita mainnya ke Tangcity aja, 
begitu arahan Melisa yang aku ingat dari 1 jam lalu

"Nanti naik angkot Ijo sekali aja, ongkosnya paling Rp3000, lanjutnya

Ok aku harus turun di Batu Ceper itu lah batinku di dalam kereta yang sudah PW. Tenang dan santai sambil menikmati sekeliling. Sesampai di Stasiun berikutnya Muara Angke aku masih santai dan merasa kalau Stasiun Batu Ceper mungkin masih jauh.

Next stop Kampung Bandan station, dari speaker KRL

Disini aku mulai curiga, ini ke Tangerang kenapa malah mutar-mutar Jakarta ya?  Ah tapi kan ini ke baru saja lewat Muara Angke harusnya itu arah ke Tangerang dalam hatiku. Ah mungkin rutenya mutarin Jakarta dulu kali baru ke Tangerang dalam hatiku sambil menenangkan rasa curiga dihati hingga aku memastikan menanyakan kepada Melisa.

"Mel, ini kalau ke Stasiun Batu Ceper harus mutar-mutar Jakarta dulu ya?
tanyaku via Whatsapp

Namun belum ada juga balasan dari Melisa. Aku mulai khawatir karena melihat jam satu namun kok tidak sampai-sampai. Sementara stasiun Angke sudah lewat, stasiun Kampung Bandan sudah lewat bahkan Kemayoran juga lewat.  Waduh, sudah tidak benar ini batinku hingga akhirnya aku melihat peta Rute KRL JABODETABEK di atas dan kemudian menanyakan kepada Mas-Mas yang duduk disampingku

"Mas kalau ke Tangerang masih lama ya? tanyaku

"Waduh Mbak harusnya tadi turunnya di Duri, 
ini bakalan mutar sampai Bogor loh", katanya

Mak mati dalam hatiku!! PANTAS saja tidak sampai-sampai bahkan sampai aku tuntas mendengarkan cerita Mas-mas ini dengan temannya tentang film yang nyuri waktu berjudul “intime” tamat aku dengar malah aku gak sampai-sampai ke Tangerang.

"Gini aja Mbak, Mbak turun di Jatinegara aja kemudian transit ke Manggarai 
lalu balik lagi ke Duri", katanya

Terus mukaku pucat pasi karena aku harus segera ke Tangerang, kasihan temanku yang sudah menunggu.

"Atau Mbak tetap naik Kereta ini nanti pasti balik lagi ke Duri 
tapi lama bisa 30 menit sampai 1 jam katanya

Kemudian temannya berkata

"Nanti mbaknya nyasar lagi kasihan", katanya

Maklum dengan Tas Gede Merahku terus kelihatan banget bebannya segede Gaban menimbulkan iba bahkan aku merasa kelihatan banget kalau aku bukan Orang Jakarta dan siapa yang bakalan percaya kalau nyasar begini sudah pernah tinggal 4 tahun di Jakarta!

"Yaudah Mbak, turun di Jatinegara aja biar cepat, sarannya

Akhirnya aku mengikuti saran si Mas-mas dan turun di Stasiun Jatinegara kemudian transit di Stasiun Manggarai. Di Stasiun Manggarai ada seorang Mas lain yang mungkin dia melihat aku agak bengong-bengong dan berusaha menolongku.

"Mbak ikutin saya saja saya nanti turunnya di Stasiun Tanah Abang, 
"Mbak turun di Stasiun Duri, katanya

Sambil berlari-lari di Stasiun Manggarai menaiki kereta yang menuju Duri. Sesampai di stasiun Tanah Abang si Mas tadi memberikan kode “1 stasiun lagi” sambil melambaikan tangannya dan disambut terimakasihku dari dalam Kereta.

Kemudian akupun mengirim whatsapp ke Melisa

"Mel, aku nyasar di Stasiun Jatinegara, ini sudah balik lagi ke Stasiun Duri,
masih jadi ketemu di Tangcit?", tanyaku
"Hahahahaha Sorry Win, aku baru baca whatsapp, kok bisalah nyasar kau!"

Kita jadinya ketemu di Bale Kota aja turun di Stasiun Tanah Tinggi karena di Tangcit gak ada tempat duduk, aku ama Ebeth ini.

"Mel, aku juga malu ini nyasar di Jakarta naik kereta pula, balasku"

Salam

Winny

Iklan

63 tanggapan untuk “Nyasar Naik Kereta di Jakarta

  1. Wah diajak muter” sama kereta ya win,aku aja tiap hari naik kereta masih males klo harus transit” dulu dan suka bingung klo mau ke tangerang juga karena harus transit itu..btw untung kamu gak kebawa sampai bogor win,hehehehe

  2. Wah, bisa nyasar juga ya? Apalagi saya mbak, yang notebene bukan asli Jakarta.

    Tahun 2015 lalu saya ngalami hal yang agak sial. Bukan nyasar sih, tapi saya dikerjain dan hampir ditipu oleh sang sopir taksi (with argo system).

    Waktu itu, sebelum saya sampai ke tempat mangkalnya taksi-taksi, saya diantar oleh seorang teman saya (yang mana saya juga mginep di rumahnya) menggunakan sepeda motor kesana.

    Arah tujuan saya sebenarnya adalah dari daerah Tangerang menuju ke arah Grogol di Jakarta, maklum waktu itu adalah kali pertama saya ke Jakarta. Sesampainya di tempat mangkalnya taksi2 tersebut, singkatnya, sayapun naik salah satu taksi, gak tahusopirnya apa asli orang Jakarta atau darimana.

    Waktu saya udah di taksi dan mulai jalan, ntah setelah 1 km atau berapa, sepertinya saya dibawa muter-muter gitu, argonyapun nambah terus kan. Untungnya ada teman saya yang pakai sepeda motor tadi, yang awalnya saya juga tidak tahu kalau dia juga membuntuti taksi yang saya tumpangi itu dari arah belakang (kebetulan kami tetap saling kontak via sms, dan katanya dia curiga dengan gelagat si sopir sedari awal). Oya, teman saya itu gak bisa antar saya ketempat tujuan saya, selain jauh juga karena dia harus segera ke masuk kantornya.

    Syukurlah, taksi tsb disalip oleh teman saya itu dan disuruh stop. Sayapun keluar dari taksi, dan si sopirpun kena marah luar biasa. Karena udah gak jujur terhadap penumpang, sayapun tidak bayar itu ongkosnya. Ada rasa gak enak juga, tapi biarin ahh…. Dan, taksi itupun berlalu.

    Akhirnya, oleh teman saya itu, saya disuruh ambil alternatif lain, yakni saya harus naik angkot (karena sayapun trauma dengan taksi) untuk menuju kesana, katanya diapun bentar lagi mau sampai ke kantornya. Malangnya lagi, ternyata angkot itu gak bisa bawa saya sampai tujuan, ntah saya lupa sampai dimana saat saya saat itu. Jadi, saya harus transit lagi. Bagian konyolnya lagi, saya harus naik ojek. Untunglah si tukang ojek itu (bapak2 yg udah agak tua) gak berbuat macam2 pada saya, akhirnya sayapun sampai di tempat tujuan.

    Kebayang gak, saya harus ikut angkot lalu ojek? Waktu itu saya benar-benar merasa bodoh dan konyol. Makanya kalau saya ke Jakarta lagi, saya tidak mau naik taksi lagi, trauma saya, hehe….

  3. kalau belum pernah pakai rute ini memang wajar sih kalau nyasar..
    kl kk tiap sebentar liatin rute yang di atap itu dan cari duduknya yang bisa keliatan nama stasiun

  4. Masnya juga agak lebay itu. Sampai di Jatinegara semua penumpang pasti pada turun, nggak sampai ke Bogor juga, kalau ke Bogor kan putar balik lagi dianya, haha. Tapi nggak apa-apalah ya Win, hitung-hitung jalan-jalan, ada pula bahan buat cerita. Dari Tanah Abang kembali ke Tanah Abang, jackpot banget bisa ikut rute loopline. Tapi lesson learned: jangan biarin Winny naik KRL sendirian, haha. Apalagi kalau salah jalur yang ke Serpong, bisa-bisa sampai Maja atau Rangkasbitung nantinya, wkwk. (bercanda kok).

  5. Ahaha, koq sama Winny…Cinta jg prnah nyasar pas naik commuter line, wktu itu lg ktduran sih krn kecapean hbis jln2. Harusnya turun di stasiun Cawang tp malah kelewat 10 stasiun sampe stasiun Depok.

    Tp seru sih Winny, krn pengalaman kesasar bkin qt keingetan trs dan bkin otak insya Allah kapok, ga bakalan kejadian lagi. Haha 😂

  6. saya juga pernah nyasar mbak, itu masih lumayan nyasar pake krl, saya dulu nyasar pake kendaraan pribadi, tujuan kemana (seharusnya cuma 30 menit) nyampai dimana (sekitar 2 jam). pengalaman sadis memang kalau bab nyasar

  7. Klo mbak winny jadi saya bakal sering nyasar. Soalnya saya buta arah. Jalan bentar aja di daerah sendiri kadang bingung sendiri mana barat, timur, utara dan selatan wua ha ha….. Makanya saya gak cocok jadi traveller. Mesti ada yg nemenin biar gak nyasar.

  8. Hihi, tapi seru kan nyasarnya 🙂 Aku juga pernah nyasar, naik angkot, dan malam pula, di sekitar TB Simatupang doang sih. Akhirnya turun dan naik taksi aja 😀

  9. Sebenarnya kalau nyasar naik kereta maah ga aparah Win. Masih bisa terkendali dan ongkosnya ga besar. Aku pernah nyasar di Jakarta pakai motor, haha. Cari arah Cawang kok malah ke Tanah Abang hihihi…. Dulu mah belom ngeblog 😛

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s