Hello World!

Payakumbuh, November 2019

Tidak sia-sia kami mengajak Ali untuk membawa Celia teman suami yang berkunjung ke Payakumbuh karena Ali tahu betul wisata menarik di Payakumbuh, Sumatera Barat. Jika hari pertama kami trekking ke Air Terjun Robo di Lembah Harau, maka hari kedua kami ke Padang Mangateh. Hanya setengah hari saja kami di Padang Mangateh, dan kami pun makan siang di Payakumbuh. Setelah makan siang kami rencana hendak touring dengan sepeda motor ke Singkarak atau Danau Maninjau. Tapi ketika Celia tahu membutuhkan waktu 2-3 jam ke Danau tersebut, dia tidak setuju dengan ide kami. Kamipun bingung mau bawa kemana Celia.

Kayu Kolek

Akhirnya Ali memberikan ide ke Wisata Kayu Kolek karena dia tahu Celia sangat suka dengan alam atau pemandangan terutama landscape. Aku belum pernah mendengar Wisata Kayu Kolek meski sudah tahun kedua di Sumatera Barat ini. Kata Ali dia mengetahuinya dari Instagram serta bisa melihat Kota Payakumbuh dari ketinggian serta lokasinya tidak jauh dari Payakumbuh.

Bak gayung bersambut, ide Ali  kami iyakan dan langsung naik sepeda motor menuju wisata Kayu Kolek. Hanya sekitar 30 menit saja kami sudah sampai di bawah kaki Gunung dengan pemandangan yang epic, persawahan yang menakjubkan.

Winny, I find Payakumbuh as stunning as Ubud”, kata Celia.

Memang Celia sudah pernah ke Bali serta ke Ubud sehingga ketika dia melihat pemandangan Sumatera Barat yang masih kaya dengan persawahan dan menurutnya seindah Ubud memang aku setuju. Aku juga pernah ke Ubud, dan takjub dengan terasering Ubud yang mendunia. Tapi terasering Payakumbuh dan Lima Puluh Kota di Sumatera Barat tak kalah indahnya loh. Ketika kami masih dibawah kaki bukit, kami berhenti saking indahnya persawahan yang kami lihat. Persawahan serta pegunungan, warna sawahnya pun mulai dari hijau sampai kuning.

Saking indahnya, Celia turun dari sepeda motor dan jalan kaki serta betah berlama-lama demi menikmati momen persawahan. Bukan hanya Celia saja, misua juga takjub dan merasa kalau ternyata Payakumbuh menjanjikan sebagai tempat wisata menarik karena dia terkejut ternyata banyak wisata alam yang tersembunyi di Payakumbuh.

Kayu Kolek

Setelah puas memandang persawahan, kamipun mulai mendaki dengan sepeda motor ke wisata Kayu Kolek. Lokasi wisata Kayu Kolek memang berada di ketinggian sehingga jalannya mendaki ditambah jalannya belum semua aspal. Sehari sebelum kedatangan kami, hujan turun, jadi tak heran jalanannya licin. Apalagi motor yang kami bawa itu metic. Aku sampai cemas ketika misua mengemudikan sepeda motor. Pokoknya perjuangan sekali ke wisata Kayu Kolek kalau dengan motor metic. Sesekali aku harus turun, takut jatuh 🙂

Dengan perjuangan panjang, kamipun sampai di Puncak wisata Kayu Kolek. Benar saja, wisata Kayu Kolek merupakan termpat terbaik melihat Kota Payakumbuh dan Lima Puluh Kota dari atas. Rangkaian pegunungan terlihat jelas terutama Bukit Barisan serta persawahan. Area wisata Kayu Kolek pun sudah bagus, penuh dengan wisata lainnya. Harusnya kami masuk ke wisata Kayu Kolek membayar tiket Rp5.000 tapi karena kami datangnya sore hari sehingga gratis. Sayangnya tidak ada tempat penatapan alias ngopi/teh cantik dari wisata Kayu Kolek. Kami berempat duduk sambil menikmati pemandangan yang ada di depan kami. Memang tidak banyak yang dilakukan di wisata Kayu Kolek, kalaupun ada trekking ke Gunung. Tentu saja, trekking tersebut tidak kami lakukan karena waktu sudah sore. Kalau tidak, mungkin misua dan Celia mendaki Gunung yang ada di dekat wisata Kayu Kolek.

Kebanyakan wisatawan yang datang ke wisata Kayu Kolek itu hanya selfie alias narsis saja, hanya sebagain yang benar-benar menikmati pemandangan. Kami menghabiskan 1 jam di wisata Kayu Kolek, hanya sekedar ngobrol dan melihat pemandangan baru kemudian kami turun.

Nah pas turun, kami sempat mampir di warung terdekat yang memiliki pemandangan persawahan yang indah. Kami mampir di warung tersebut sambil minum teh dan menikmati Lemang. Lemang adalah makanan yang terbuat dari ketan. Celia lumayan suka dengan Lemang yang dia makan apalagi pemandangan persawahan. Dari warung ini terlihat jelas, gundukan dan teras persawahan. Kata Celia kalau dia bisa kebawah sawah, pasti dia akan turun. Di warung inilah kami berempat bersantai sambil cerita-cerita. Hanya sekedar melihat keindahan alam saja, rasanya beban hidup hilang heheh 🙂

https://www.instagram.com/p/B5ezWBaDCVr1iN_ITe_GaSMk9n_erLrn_tvAeU0/

https://www.instagram.com/p/B5ezWBaDCVr1iN_ITe_GaSMk9n_erLrn_tvAeU0/

I think Celia enjoyed it, kata misua

Syukurlah dia suka karena kan kalau orang Indonesia apalagi orang kampung sepertiku udah terbiasa melihat persawahan jadi lihat sawah yah biasa saja. Yang tidak biasa itu kalau sawahnya itu terdiri dari tumpukan.

Dan benar saja dengan pendapat misua, tiba-tiba Celia berterimakasih kepadaku ketika kami nongkrong di warung yang sederhana di dekat Kayu Kolek.

“Thanks Winny to bring me here, its amazing view, the ricefield full of colours”, kata Celia

Kayu Kolek

Ali sempat penasaran dan memberikan pertanyaan yang mengelitik bagiku karena dia heran kenapa dua Bule ini begitu sukanya dengan persawahan dan pegunungan.

“Kak nadong lana saba di Eropa (Kak emang tidak ada persawahan di Eropa?)”, tanya Ali

“Adong tai jarang, gohokan gandum (ada tapi jarang kebanyakan Gandum)”, kataku

Kayu Kolek

Setelah puas berbicang kamipun pulang. Biaya yang kami keluarkan di warung dengan dua teh tawar, satu teh manis dan satu air hangat serta 4 buah Lemang hanya Rp20.000 dan cukup untuk berempat. Kalau kata misua “cheap” dan aku senyum karena meski dengan biaya murah tapi pemandangan yang kami dapatkan kerennya luar biasa. Dan yang paling penting, Celia yang sudah jauh-jauh datang mengunjungi kami puas. Bukankah menjamu tamu itu merupakan keharusan 🙂

Salam

Winny

Posted by Winny Marlina

Indonesian, Travel Blogger and Engineer

5 Comments

  1. Wah, aku pun juga suka banget ke tempat-tempat seperti ini kak. Berarti perlu bawa kopi sendiri di dalam termos nih, hehe. Coba bikin kedai kopi di situ, kak 😀

    Btw, kenapa kata sebut untuk suami harus “misua” sih 😀

    Reply

    1. Iya bisa jadi ide bisnis ini 🙂
      Aku suka manggil misua aja karena lebih so sweet 🙂

      Reply

      1. Definisi “sweet” memang relatif ya. Sukses buat ide bisnisnya 😀

  2. baru tau ada kayu kolek yg cakep di payakumbuh, senen depan aku mau ke bukit sama payakumbuh tok 🙂

    Reply

  3. Masih rindang sekali ya persawahan di pulau sumatera sana. Ga kayak di jawa sini, sawahnya makin kesini makin terjajah jadi cluster. Lama=lama juga habis nih, hiks.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.