Hello World!

Sumatera Barat, November 2019

Salah satu teman suami dari Perancis berkunjung ke Sumatera Barat demi mengunjungi kami. Teman suami bernama Celia, kebetulan dia sedang berada di Malaysia, dan mengetahui kami tinggal di Payakumbuh, dia langsung beli tiket ke Indonesia.

Awalnya aku dan suami sempat kebingungan mau membawa Celia kemana di daerah Payakumbuh dan Lima Puluh Kota. Akhirnya suami pun menyarankan mengunjungi Lembah Harau di Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat. Memang dari sekian tempat wisata yang telah kami kunjungi di Sumatera Barat, Lembah Harau yang menjadi salah satu wisata favourite suami. Ketika pertama kali liburan ke Harau tahun 2018, dia terpukau “kok ada tempat seindah ini” bahkan suami heran bagaimana bebatuan yang berbentuk tebing saling menyatu membentuk kawasan yang indah.

Air Terjun Robo

Air Terjun Robo

Ketakjuban suami melihat Harau memang sama seperti yang aku rasakan ketika pertama kali mengunjungi Harau di tahun 2010. Waktu itu belum banyak perumahan di Lembah Harau, tiket masuk pun gratis dan masih jauh dari sentuhan manusia. Dan aku tidak pernah terbayang akan tinggal di Sumatera Barat ini, tidak pernah. Namun rezeki membawa ke Ranah Minang. Dan anehnya aku tidak pernah bosan mengunjungi Lembah Harau, meski aku tipikal orang yang bosan ketika mengunjungi suatu tempat hingga dua kali.

Air Terjun Robo

Treking ke Air Terjun Robo

Berbeda dengan Lembah Harau, tempat wisata andalan Lima Puluh Kota ini selalu memiliki objek wisata baru dan kebanyakan rata-rata ialah “Sarasah” atau dalam Bahasa Indonesia “air terjun”. Saking luasnya Harau, walaupun beberapa kami mengunjungi Harau dipastkan akan menemukan tempat wisata baru. Yang membuatku penasaran sebenarnya air terjun yang ada di Harau yang dulu sewaktu trekking ke Ngalau 1000 dengan Pak Wan, dari atas kami melihat air terjun yang tinggi mirip seperti Air Terjun Sipiso-piso di Sumatera Utara. Waktu itu, aku hendak membawa Mertua tapi sayang Pak Wak tidak bisa ketika kami datang sehingga kami dan Mertua jadinya ke Sarasah Murai.

Ide membawa Celia ke Air terjun yang belum aku kunjungin pun disambut suami. Lalu kami mengajak Deni dan Ali untuk touring dengan motor demi ke air terjun. Jarak Payaumbuh ke Lembah Harau sekitar 45 menit dan kami berangkat sekitar jam 9 pagi. Di dalam perjalanan, kami telah membeli bekal makanan karena ketika trekking ke air terjun yang ada di Harau, sangat sulit mendapatkan makanan, karena rata-rata air terjun berada di lebatnya hutan. Sekitar jam 11 kami sampai di tempat Pak Wan, yang tempatnya paling pelosok dari Harau, saking pelosoknya jangan harap ada jaringan telephone disana. Pas kami tiba di tempat Pak Wan, kami belum beruntung. Pak Wan sedang memiliki kegiatan bersama Mahasiswa dan baru selesai jam 3 sore. Wah lagi-lagi kami gagal ke air terjun yang sama. Ini yang kedua kali gagal. Pak Wan tidak merekomendasikan jalan sendiri ke air terjun itu karena tempatnya hanya orang yang tertentu yang tahu serta karena tidak ada signal telephone. Untuk sampai ke air terjun itupun perlu waktu 2 jam trekking memasuki hutan. Namun karena tidak mau rugi, akhirnya kami menanyakan jalan ke air terjun. Maklum masuk ke Lembah Harau biaya retribusi daerah Rp5000/orang. Akhirnya kami nekat saja tetap mengunjungi air terjun tersebut sesuai dengan petunjuk jalan dari Pak Wan.

Kami sempat salah jalan ketika mencari air terjun, hingga akhirnya kami menemukan jalan yang benar dengan bertanya dengan penduduk sekitar. Nah pas hendak ke air terjun, kami bertemu dengan seorang Bapak yang merupakan warga local dan aku menanyakan kesediaan si Bapak menemani kami dalam mencari air terjun yang hendak kami kunjungin. Beruntungnya kami, si Bapak mau menemani kami. Aku memang tipikal yang hendak memasuki hutan tidak mau sembarangan, setidaknya ada orang yang menemani.. Ide mengajak si Bapak disetujui oleh semua anggota karena kami “lebih aman” jika ada guide masuk ke dalam hutan.

Trekking ke air terjun

Trekking ke air terjun

Kami pun memarkir motor kami di tempat yang aman, di dekat tiang listrik paling ujung di Harau. Lalu kami berjalan menuju air terjun. Jaraknya lumayan jauh dan masuk ke dalam hutan. Karena cuaca yang sedang musim hujan, sehingga trekking ke air terjun sangat licin dan penuh tantangan. Mulai dari mendaki hingga menurun serta harus hati-hati, salah-salah bisa jatuh ke jurang. Beruntungnya kami bertemu si Bapak, kalau tidak, kami bisa nyasar di hutan.

Air Terjun Robo

Air Terjun Robo

Setelah 45 menit berjalan, akhirnya kami menemukan air terjun yang airnya sangat jernih sekali. Namun tingkatannya memang tidak tinggi, bukan yang aku lihat dari atas Ngalau 1000 tapi kejernihan airnya memukau. Kami sempat istirahat di air terjun pertama yang kami jumpai, dibawah jalur pipa air berwarna biru. Lalu kami melanjutkan air terjun kedua, yang lebih jauh jaraknya dari air terjun pertama.

Air Terjun Robo

Air Terjun Robo

Namun karena cuaca hujan, airnya berwarna cokelat dan tidak layak untuk mandi. Akhirnya kami kembali ke air terjun pertama untuk makan siang. Aku, suamiku, Celia, Deni dan Ali serta Pak Guide makan siang bersama di air terjun. Lalu setelah itu si misua langsung mandi di air terjun. Nah setelah makan, ternyata ada satu lagi air terjun yang dekat dengan air terjun yang kami kunjungi yaitu air terjun ketiga yang merupakan air terjun dua sisi. Air terjun ini ditengahnya ada seperti lubang yang mengalir dari sisi kiri dan kanan. Ali, dan Denni jadinya ikutan mandi. Suamiku yang paling gak tahan, langsung mandi. Sementara aku dan Celia hanya melihat tingkah mereka saja. Memang sejak tinggal di Sumatera Barat ini aku banyak mengunjungi wisata alam terutama air terjun karena disini air terjunnya bagus dan bersih. Tidak sia-sia kami ke Harau, ternyata Harau ini memiliki banyak potensi wisata yang masih butuh waktu untuk menjelajahinya.

Air Terjun Robo

Air Terjun Robo

Setelah puas dari air terjun, kami pun kembali. Perjalanan pulang lebih cepat dari perjalanan saat datang dan kami sangat senang trekking ke air terjun, meski kaki rasanya berat.

Salam

Winny

Posted by Winny Marlina

Indonesian, Travel Blogger and Engineer

5 Comments

  1. Senang kalau menemukan tempat-tempat yg masih sepi alami. Bebas nggak banyak saingan memfoto ya

    Reply

    1. Betul kak, terus masih alami

      Reply

      1. Wahh sayang banget mbak kami yang orang asli Payakumbuh aja belum pernah kesana. Jadi malu. Hehehe

        Salam kenal dari kami Travel Blogger Ibadah Mimpi

  2. Air terjunnya bagus Win.
    Kalau musim kemarau airnya kecil mungkin ya.

    Reply

    1. Iya kak. Kalau gak salah Kak Alris asli Minang kan ya?

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.