Hello World!
Malaysia, 2018

Pertama kali ke Melaka tahun 2013 via Singapura  ala solo traveling. Dan aku tidak menyangka akan kembali lagi ke Melaka di tahun 2019 pas 6 tahun berlalu sejak kunjungan pertama ke Melaka. Masih ingat betul waktu pertama kali ke Melaka, aku ketinggalan bis dari terminal Melaka tepat di depanku saat mau ke Singapura sehingga membayar tiket lagi. Alhasil kenangan ke Melaka itu membekas sekali, membekas ketinggalan bis di depan mata. Itu dodolnya gak ketolongan banget. Selain itu waktu pertama kali ke Melaka aku berkenalan dengan dua cowok di Melaka tapi keduanya bukan penduduk asli Melaka, satu dari China dan satu dari India. Yang dari China, aku kenal di penginapan dan satu lagi dari CS. Keduanya menemani keliling sekitar kawasan Red Square Melaka hingga sekitar Melaka River. Yang lucu keduanya itu tidak saling suka sehingga tidak nyaman jalan berdua dengan mereka, tapi waktu itu aku merasa seperti putri kayangan dengan dua bodyguard hahah :). Padahal yah waktu itu gaya jalan-jalannya kere yaitu ala backpacker. Boleh budget minim, tapi masih ada dua dayang-dayang yang menemani 😛

Nah khusus yang perjalanan kedua ke Melaka itu aku beruntung karena melakukan trip dengan Antoine dan orang tua. Berbeda dengan trip pertama untuk cara ke Melaka, trip kedua Melaka kami dari Bandara Kuala Lumpur 2 dengan harga tiket bis 24 RM/orang dengan lama perjalanan Bandara KLIA 2 ke Melaka kurang lebih 3 jam. Bis yang kami naikipun sangat nyaman dan ada pijit-pijitnya di bangku bis. Asli aku kayak orang kampung pas tahu ada mesin pijit ototmatis di bisnya, gak salah sih bayar mahal. Namun yah itu saat menunggu bis lama telat sampai 1,5 jam. Lalu kami sampai di Melaka jam 6 sore dan langsung sewa Grab ke Kota Melaka. Kalau dulu aku niak bis, ini tinggal pesan naik Grab sampe deh di penginanapan. Meski sedih saat drivernya mengatakan kalau aku anak pungut dari keluarga Antoine karena kulitnya gelat.

Di Melaka, kami menginap di river One residence, lumayan dengan dengan kawasan Req Square Melaka bahkan dari balkon penginapan kelihatan langsung Sungai Melaka.  Untuk makan malam kami makan di Wild Coriander Cafe, persis di dekat penginapan dan rasa karinya enak sekali. Nah kami berada di Melaka selama 2 hari, 1 malam.

Saat kunjungan keduaku ke Melaka selama 2 hari, 1 malam hal yang kami lakukan yaitu:

1. Mencoba kuliner Melaka

Saat kunjungan pertama ala backpacker sehemat mungkin maka kunjungan kedua keren karena kami makan di restoran yang belum aku coba saat kunjungan pertama. Wild Coriander Cafe merupakan cafe pertama yang kami coba dan sangat rekomendasi dengan kari cuminya yang nikmat. Setelah itu kami berjalan menelusuri Sungai Melaka pada malam hari lalu mencoba Rock Cafe Melaka. Untuk di Rock Cafe Melaka aku hanya duduk saja karena sudah kenyang. Aku mengira awalnya pertama kali memgunjungi Rock Cafe ternyata yang kedua setelah Rock Cafe di Jakarta. Restoran yang tak kalah enaknya ialah Geographer Cafe Melaka dan aku mencoba pizza di Cafe ini. Saat di Geographer Cafe Melaka sempat baper melihat pasangan yang super romantis makan bersama. Selain itu aku juga mencoba Laksa di dekat museum Baba Nyonya Heritage. Kari dan Laksa adalah dua menu yang patut dicoba di Melaka, rasanya makjus.

2. Melaka Heritage City Tour

Saat kunjunganku pertama ke Melaka, aku sudah mengunjungi area red square yang disebut juga sebagai Dutch Square yang menjadi ikoniknya Melaka karena dindingnya dari bata dan gaya bangunan Eropa klasik. Di kawasan ini ada Christ Church Melaka yang berdiri sejak tahun 1753, ada Stadthuys beralih fungsi menjadi Museum Sejarah dan Etnografi yang dulunya sebagai kantor gubernur pada masa penjajahan Belanda, Victoria Fountain di depan gereja, Menara Jam Tan Beng Swee (clock tower), dan miniatur kincir angin (windmill) Belanda. Aku juga mengunjungi St, Paul Hill dan Church. Nah pada kunjungan kedua ke Melaka aku juga mengunjungi tempat ini tapi yang Christ Church kami sampai masuk kedalam. Bedanya untuk wisata yang area ikonik Melaka ini kami kunjungi di siang hari. Rata-rata kami mengunjunginya dengan berjalan kaki, karena wisata Melaka bisa dilakukan dengan jalan kaki. Bagi yang malas bisa menggunakan becak ala Melaka dengan hiasan seperti Hello Kitty, Doraemon dan sebagainya.

3. Mengunjungi Museum di Melaka

Kalau kunjungan pertama aku tidak masuk kedalam Museum di Melaka maka kunjungan kedua aku mengunjungi beberapa museum. Kunjungan pertama tidak mengunjungi museum karena terbatas pada biaya. Untuk kunjungan kedua aku, Antoine, Isebelle dan Thierry mengunjungi Baba dan Nyonya Heritage Museum. Sebenarnya aku tidak terlalu tertarik dengan museum ini karena harga masuknya saja Rp79.000 an tapi karena ikut saja akhirnya aku nikmatin saja. Baba dan Nyonya Heritage Museum Melaka ini menceritakan bagaimana sejarah China datang ke Melaka dan ketika tour  di dalam Museum tidak boleh diphoto kecuali area depan saja. Di Museum Babab dan Nyonya berisi tentang sejarah Baba Nyonya di Melaka dan kesemunya ada di dalam brosur yang diberikan. Sayangnya aku tidak terlalu tertarik karena menurutku biasa saja.

Kami juga mengunjungi Muzium Samudera di hari kedua dengan harga tiket yang lumayan mahal juga. Tapi bedanya dulu melihat kapal Melaka dari luar saja pas kunjungan kedua baru bisa melihat isi dalamnya yang menarik karena aku bisa melihat miniatur kapal di dalamnya.

Untuk Melaka Sultanate Palace Museum kami tidak mengunjunginya karena hanya replika saja dan biaya masuk ke dalam buat turis sebesar 5 RM. Biaya masuk ke dalam Melaka Maritime Museum untuk turis 10 RM, biaya masuk Melaka History and Ethnography Museum untuk turis 10 RM, dan biaya masuk kedalam Melaka Art Gallery 3 RM. Kami hanya mengunjungi 2 museum saja dan itu dalam sehari.

3. Mengunjungi Pecinan Melaka

Melaka memang terkenal dengan Pecinannya. Aku paling suka berjalan dan melihat bangunan jadulnya. Bagi yang suka Pecinan maka Melaka bisa menjadi pilihan. Kedatangan kami pas Februari tepat berdekatan dengan perayaan Imlek sehingga dekorasi Chiness nya kental banget, mulai dari lampion hingga bangunan dengan nuansa warna merah. Bahkan bagi yang suka masakan Chiness mudah banget di dapat di Melaka.

4. Ikut River Melaka Cruise

Aku tidak pernah menyangka akan ikut merasakan River Cruise nya Melaka karena biayanya yang lumayan mahal. Tiket untuk River Cruise itu 30 RM, dengan lama 45 menit keliling 9 km dengan kapal. Kami menaiki River Crusie Melaka di hari kedua dari Muara Jetty dekat dengan pintu Museum Maritim dan adanya replika Kapal Portugis. Kalau kunjungan pertama cuma bisa lihat orang naik kapal sambil mengitari Sungai Malaka, maka kunjungan kedua aku bisa merasakan naik kapal. Menariknya dari Kapal terlihat jelas perubahan dari Melaka mulai dari art street yang dulu di tahun 2013 belum ada, maka sekarang Melaka full dengan art street di dinding rumah penduduknya. Bahkan dengan River Cruise ini kami juga sempat melihat perkampungan dengan perumahan mini ala Melayu yang unik dan baru aku lihat. Kapal yang kami naikai akan kembali ke tempat awal kami menaiknya. Bagi yang ingin dapat “feel” Melaka naya maka kalau ada uang berlebih, cobalah River Cruise Melaka itu worth it banget.

5. Wisata Religi Melaka

Melaka itu multi culture karena banyak sekali peninggalan Belanda, Portugis bahkan Inggris di Melaka. Tak heran banyak wisata religi mulai dari Masjid, Klenteng hingga Gereja. Nah saat kunjungan pertama aku mengunjungi masjid, melihat gereja, klenteng tapi dari luar saja. Nah kunjungan kedua aku melihat Masjdi Kampung Hulu dan masuk kedalam Gereja Christ dan Gereja Portugis di Melaka. Uniknya itu terlihat bahwa tempat ibadah ini umurnya sudah tua alias dari zaman bahelak mulai dari lantai dan tanda yang ada di dalam bangunan. Buat yang pertama kali ke Melaka, maka 2 hari cukup untuk keliling Melaka tapi kalau ingin menjelajah lebih puas maka butuh 3 hari sampai 1 minggu.

6. Belanja Oleh-oleh di Jonker Street Melaka

Jonker Street adalah salah satu pusat belanja baik oleh-oleh maupun makanan yang ada di Melaka. Tak hanya di Jonker Street tapi bisa juga belanja disekitar area Red Square Melaka. Untuk souvenir harganya bervariatif begitu juga makanan. Sayangnya kunjungan kedua aku tidak membeli oleh-oleh maupun souvenir karena kunjungan pertama itu aku sudah heboh dalam membeli gantungan kunci ala Melaka. Kunjungan kedua lebih menikmati Melaka dan melihat hal lain yang belum aku lihat sebelumnya.

7. Mengunjungi  Night Market Melaka

Tahun 2013 belum ada namanya Night Market Melaka (waktu itu sudah atau tidak atau mungkin aku kurang jelajah saja) tapi pas kunjungan kedua ada. Kami tahu ada Night market dari Ibu yang punya penginapan dimana kami menginap. Aku senang sekali karena bisa cuci mata meski terlalu ramai. Untuk Night Market Melaka ini mirip seperti Pasar malam atau jualan malam dan dimulai dari Jonker Street. Jualan bervariasi mulai dari makanan hingga pakaian. Kami berempat melihat dari ujung ke ujung meski kami tidak membeli apapun, ujungnya kami malah makan di Geographer Cafe Melaka. Oh ya Night Market Melaka cukup ramai dan mirip seperti pasar Asia pada umumnya.

8. Berburu tempat Instagramable dengan Jalan kaki keliling Melaka

A Famosa Melaka

Jalan kaki keliling Melaka merupakan pilihan yang tepat meski itu panas sekali. Menariknya di kunjungan kedua aku menemukan banyak spot photo alias titik photo instagramable banget apalagi sekarang banyak art street di Melaka dan warna rumah masyarakat di cat semenarik mungkin. Kami saja berjalan kaki mulai dari pagi hingga sore, keren kan? Padahal kalau ingat panasnya, duh bukan aku banget. Aku kuat sih jalan tapi tidak saat panas.

Di kunjungan kedua ini meski aku katakan pada Antoine bahwa Melaka “B” aja alias biasa tapi pada kenyataannya aku tetap mendapatkan kejutan, kejutan dari makanan, tempat yang belum pernah aku kunjungi meski sudah pernah kesana dan yang terakhir mengubah persepsiku yang bosanan ke suatu tempat yang sudah pernah dikunjungin menjadi “tidak ada salahnya mengunjungi tempat yang sama ” apalagi bersama keluarga.

Lokasi

Salam
Winny

Advertisements

Posted by Winny Marlina

Indonesian, Travel Blogger and Engineer

10 Comments

  1. ya beda dooong kan kali ini kunjungannya sama orang-orang spesiyaaaal 😀

    Reply

    1. Iya juga makanya lebih asik 😀

      Reply

  2. Pas banget nemu tulisan ini! Aku ada rencana pengin ke Malaysia dankebetulan belum pernah main ke Melaka. Semoga bisa ngelakuin hal-hal di atas. Thank you informasinya! 😀

    Reply

  3. JAHAD BANGET DIBILANG ANAK PUNGUT, YA TUHAN. Nggak ada foto kamu sama Antoine sekeluarga, kak?
    Aku suka pecinan dan sungai, jadi kunjungan ke pecinan sama Sungai Melaka nggak akan kulewatkan 😀

    Reply

  4. Mengunjungi Malaka ini bikin kita bertanya-tanya, gimana caranya pemerintah setempat menjaga dan memelihara bangunan-bangunan tua yang jumlahnya seabrek itu. Apakah ada insentif khusus untuk biaya pemeliharaanya, kaya biaya ngecat atau renovasi rutin gitu.

    Reply

  5. diselat malaka di ujung sumatera, pengen nginep di pinggir rivernya itu..

    Reply

  6. Aku udah 3 kali ke Malaka dan selalu kangen balik lagi ke sana. Kota favku di Malaysia sejauh ini.

    Reply

    1. Aku baru dua kali Om. Kunjungan kedua yang paling seru

      Reply

  7. Jadi pengin balik jalan ke Melaka lg.. night market itu tiap jumat malam aja klo ga salah win..

    Reply

    1. Aku baru tahu night market di melaka

      Reply

Leave a Reply to Sintia Astarina Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.