Hello World!

Harau, 13 April 2019

“Kak udah pernah ke Sarasah Donat belum?”, tanya Isna padaku

“Belum, yuk kesana tapi jangan PHP ya,” kataku kepadanya

Itulah percakapan singkat diantara kami saat acara kuliah umum di kampus. Tak hanya Isna, ada juga Dian, Markus, Yudhi dan Narinsyah.

"Betul ya kesana kita", kataku memastikan sekali lagi
"iya, betul kak", janji mereka

Dari percakapan itu kami berencana mengunjungi Sarasah Donat di Harau. Percakapan kami itu di hari Jumat dan  tanpa berpikir panjang, kami berangkat tepat keesokan harinya. Aku juga sempat mengajak Henny untuk traveling bersamaku ke Sarasah Donat.

Henny ini ialah teman yang aku kenal saat Diklat, orangnya suka jalan-jalan sama sepertiku dan kebetulan kami tinggal di daerah yang sama, jadinya kalau aku jalan aku ajaklah dia. Orangnya mau an juga sama kayak aku, pantang diajak ke alam hehehe 🙂

Sarasah Donat dalam Bahasa Minang artinya Air Terjun Donat. Disebut Donat karena bentuknya seperti Donat, air terjunnya mengalir di tengah batuan dengan membentuk bulatan persis seperti Donat. Aku tidak tahu mengenai air terjun ini sampai adik-adik ini memberitahukanku.

Aku sempat terkesan karena ternyata banyak sekali wisata alam di Payakumbuh dan sekitarnya, rata-rata wisata alamnya itu masih alami dan jarang diketahui oleh turis, terutama turis lokal. Biasanya kalau orang liburan ke Payakumbuh dan Lima Puluh Kota pasti tahunya hanya Lembah Harau saja, padahal banyak sekali wisata alam disekitar Harau  yang belum terjamah terutama air terjun. Wisatanya yang tidak begitu diketahui aslinya cakep banget 🙂

Sarasah Donat

Anehnya saat usiaku masih 20an aku sangat suka dengan wisata museum, wisata heritage atau sekedar jalan-jalan di Kota Besar namun setelah umur memasuki 30an eh hobiku malah ke  alam, aku suka trekking bahkan berkemah. Padahal dulu waktu tinggal di Jakarta, aku mah ogah diajak hiking eh setelah tinggal di Sumatera Barat, aku malah  ketagihan main ke alam.

Mungkin karena semesta mendukung kali ya!

Karena Sumatera Barat itu memang masih alami banget mulai dari banyaknya pepohonan, hutan dan udaranya bersih bahkan tidak ada bangunan pencakar langit seperti di Jakarta. Disini aku merasa bersyukur bahwa Tuhan memberikanku begitu banyak pengalaman di dalam hidup, salah satunya bisa bertemu dengan orang lain dan keluar dari zona nyamanku. Aku termasuk manusia yang beruntung mengenai itu 🙂

Pemandangan ke Sarasah Donat

Sejak tinggal di Sumatera Barat, aku semakin doyan ke alam, jadi kalau di ajak ke alam rasanya sulit menolaknya. Padahal baru saja dari Ngalau 1000,eh di bulan yang sama main ke Sarasah Donat.

Sarasah Donat ini dari Payakumbuh tidak terlalu jauh, hanya sekitar 30-45 menit dengan motor. Kami berangkat dari Payakumbuh jam 13.30 bersama Markus, Dian, Isna, David dan Narinsyah. Belajar dari pengalaman trekking ke Ngalau 1000, kali ini kami mempersiapkan bekal makanan meski aku sudah makan siang sebelumnya. Kami membeli bekal kami di Tanjung Pati, dekat Harau. Menariknya harga nasi bungkus itu murah di Tanjung Pati yaitu Rp7000 saja dan rasanya enak.

Kami sampai di Sarasah Donat sekitar jam 14:30, agak sore memang kedatangan kami. Maklum yang menjadi guide kami harus ikut pembekalan KKN dulu, jadinya baru berangkat jam 2 siang padahal rencananya jam 11 siang 😀

Harau

Untungnya akses menuju ke Sarasah Donat cukup mudah dan dekat, jadi meski sudah sore masih sempat untuk trekking. Yang paling aku suka itu ketika ke Sarasah Donat tidak perlu membayar alias gratis. Lokasi dari Sarasah Donat ini tidak sampai ke Lembah Harau tapi masih di Harau, masuk ke dalam Gang dengan petunjuk seadanya dengan tulisan “Sarasah Donat”. Dari Gang ke dalam air terjun itu sekitar 10 menit dengan sepeda motor kemudian saat di tempat parkir, kami langsung melihat air terjun.

Saat kedatangan kami, kami melihat beberapa anak kecil mandi di air terjun. Aku iri melihat anak kecil ini, hidupnya tanpa beban!

“Kak kita bisa lanjut?”, tanya Markus kepadaku 
yang terpana melihat tingkah laku bocah yang mandi di air terjun

Sarasah Donat

Ternyata air terjun itu tidak hanya sampai disitu, untuk menuju Sarasah Donat itu perlu trekking lagi, jadi kalau mau melihat air terjun  mengalir di sebuah Goa, kami harus melalui tangga dari besi. Disinilah letak tantangan menuju ke Sarasah Donat. Tangga yang kami naiki itu vertical dan lumayan membuat tangan gemetar saat menaikinya. Apalagi diriku yang takut ketinggian, untungnya aku pernah melawan rasa takut saat di Purwakarta ketika naik Gunung via verata. Henny juga ternyata takut ketinggian, begitu juga Narisnyah. Isna, David, Markus dan Dian mah santai saat trekking. Maklum mereka anak petualang sih 🙂

Pas naik tangga besi untuk menuju ke Sarasah Donat ini hatiku tetap gemetar apalagi pas naik tangga, asli jantung rasanya deg-degan!!

Trekking ke Sarasah Donat memang tidak sejauh saat ke Ngalau 1000, tapi ternyata cukup menguras keringat karena harus melalui tangga vertical dari besi, itulah yang membuat treknya susah. Untuk jarak dari air terjun di parkiran ke air terjun yang mengalir di Goa itu kami perlu jalan kaki lagi sekitar 30-45 menit. Kami juga sempat nyasar mengenai arah ke Sarasah Donat karena tempatnya itu melewati kebun, dedaunan liar serta jalan sempit yang sebelahnya itu merupakan jurang. Markus sempat salah jalan, udah benar jalannya ragu eh terus kembali ke jalan itu lagi. Isna dan Markus pernah ke Sarasah Donat ini di tahun 2017.

Menariknya trekking ke Sarasah Donat ini menyenangkan karena udaranya bersih.  Saat trekking ke Sarasah Donat, aku sempat heran dengan Isna, Narinsyah, Dian, David dan Markus yang memakai sandal, sedangkan aku dan Henny memakai sepatu, ternyata trekkingnya memang melewati air dan jalanan yang lumayan becek makanya mereka memakai sandal agar praktis. Kalau ke Sarasah Donat sebaiknya memakai sandal gunung agar lebih fleksibel. Aku yang memakai sepatu harus buka pasang sepatu ketika melewati aliran air. Next time kalau ke Sarasahg Donat aku mau memakai sandal gunung saja 🙂

Sarasah Donat

Sarasah Donat ini berada di sebuah Goa yang Goa ini terdiri dari bebatuan besar. Kemudian di tengah bebatuan ini ada lubang yang mengalir air. Sampai di Sarasah Donat ini kami langsung duduk di pasir dan makan sore. Dian dan Markus yang niat banget, mereka berdua ini manjat ke atas. Kalau kami malah asik piknik 😀

Sayangnya pas melihat batu di Sarasah Donat ini sudah dicoret-coret, disini aku merasa sedih ketika tangan nakal merusak alam. Coretan ini merusakan kealamian bebatuan di Sarasah Donat. Jadi buat pembaca, tolong kalau mengunjungi alam “tangannya di kondisikan” agar tetap menjaga ke alamian alam.

Kami hanya 1 jam saja di Sarsah Donat lalu kami pulang. Tidak banyak yang kami dilakukan di Sarasah Donat tapi airnya jernih dan bersih, kalau membawa baju ganti aku ingin sekali mandi di Sarasah Donat. Terus saat menuju ke Sarasah Donat ini aku terbayang akan perjalanan ke Laos, jauh-jauh ke Luang Prabang eh cantiknya juga sama seperti di Harau.

Tips ke Sarasah Donat ini sebaiknya trekking dari pagi hari, jangan seperti kami yang datangnya sore, kalau datang lebih pagi pasti lebih cakep pemandangannya. Dan anehnya pas kami kesana tidak begitu ada orang, hanya kami saja yang main di air terjun ini.

Sarasah Donat

Oh ya yang paling aku suka dari air terjun ini saat basah-basahan di air terjunnya, rasanya keringat yang berjalan 45 menit tadi terbayar. Debit airnya juga epik dibalut dengan pepohonan!

Jam 5 sore kami meninggalkan Sarasah Donat dan melalui tangga besi vertical itu. Ini merupakan piknik dan trekking tercepat  namun rasanya seru!

“Win, aku lagi mikir gimana turunnya ini”, kata Henny

Trekking ke Sarasah Donat

Benar saja,  saat turun jauh lebih sulit daripada saat naik. Namun saat pulang jauh terasa lebih dekat dan pas melewati tangga kamipun ngesot hingga sampai ke parkiran.  Kecuali Dian yang melewati tangga vertical itu santai persis seperti makan kerupuk. Ya ialah dia kan Bolang, jadi yang seperti itu sudah mainannya.

Trekking ke Sarasah Donat

Hujan pun turun saat kami sampai ke parkiran dan kami harus melewati air hujan. Sungguh suatu perjalanan yang menyenangkan ke Air Terjun Donat, air terjun yang mirip Donat!

PS: Kalau liburan ke Sumatera Barat, jangan lupa kontak aku ya 🙂

Salam

Winny

Advertisements

Posted by Winny Marlina

Indonesian, Travel Blogger and Engineer

2 Comments

  1. Hai! Baru tau kalau ada wisata yg namanya donat. In syaa Alloh bermanfaat sekali

    Reply

    1. Tempatnya memang jarang dikunjungi kak

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.