Hello World!

Mentawai, Desember 2018

Jam 1 siang aku sudah sampai di Taplau, Padang. Dua temanku Arif dan Andre sudah tiba dan nongkrong manja di Cafe Carambi, dekat Jembatan Siti Nurbaya. Demi menghampiri mereka, aku jalan kaki dari Taplau ke Karambia Café. Padahal waktu itu panasnya kebangetan. Namun karena bayar Rp15ribu dengan Ojek, aku belain jalan kaki. Ogah mengeluarkan uang Rp15rb dengan jarak sedekat itu pikirku, padahal dengan tas segede terasa juga capeknya apalagi pas terik!.

Sesampai di Café Carambia, keringatan bercuuran. Saat jalan kaki entah kenapa banyak sekali orang menatapku dengan tatapan aneh, maklum budaya jalan kaki belum mendarah daging di ranah Minang. Akupun ketemu dua temanku lalu kemudian Eka menghampiri. Sekitar jam 3 baru kami meninggalkan Café Carambia menuju ke Pelabuhan Bungus.

Andre dan Arif sudah menyewa mobil sehingga kami diantar sampai ke Pelabuhan Bungus dengan aman. Karena Andre dan Arif tidak ingin menginap di Padang karena jadwal tiba pesawat mereka jam 10 pagi, sementara jadwal kapal cepat jam 7 pagi sehingga kami naik kapal lambat dengan rute seadanya. Rute kapal lambat hari Rabu kebetulan yang ada ke Pulau Sikabaluan dan berangkat jam 5.30 sore. Dalam hatiku itu mah satu Pulau Siberut juga, jadi bisa jelajah satu Pulau seperti Sabang atau Pulau Lombok dengan sepeda motor. Segitu polosnya pemikiranku padahal kenyataannya, ‘duh pahit!!!

Sikabaluan

Dengan tujuan ke Sikabaluan, akhirnya kami membeli tiket Kapal bernama Ampu dengan harga tiket VIP Rp218.000. Awalnya hendak membeli tiket ekonomi seharga Rp95.000 tapi karena lama perjalanan yang 10 jam di laut akhirnya kami membeli yang eksekutif. Agar kami bisa istirahat sepanjang jalan menuju ke Mentawai dari Padang.

“Apa beda kelas ekomoni dan eksekutif, Pak?”, tanyaku

“Kalau Ekonomi hanya duduk, eksekutif bisa tiduran”, jawabnya

Akhirnya kami membeli tiket yang eksekutif saja biar bisa rebahan.

Kapal dari Sikabaluan ke Siberut

Setelah membeli tiket, kami sempat bersantai di ruang tunggu di pelabuhan barulah jam 5 kami naik ke kapal. Di dalam kapal, ternyata yang duudk cukup nyaman loh, cuma gak tahan juga kalau tidru sambil tiduran selama 10 jam. Lama kami menunggu di kapal agar berangkat, eh tahunya kapalnya baru jalan jam 7.30 malam.

“Kapan ini kapalnya jalan?”, tanya Arif

Padahal Andre dan Arif bahkan aku udah mondar-mandir kapal buat killing the time. Entah berapa kali kami mutar kapal, lapalnya telat karena banyak muatan, kalau tidak maka akan on time.

Nah di kapal ini kamarnya seperti asrama, bertingkat! Tapi aku tidak bisa tidur sama sekali. Pas aku lihat orang-orang tidur, aku benar-benar iri. Kok bisa mereka tidur nyenyak sedangkan aku menahan diri agar tidak mabuk laut. Memang kelemahanku itu di laut kakak!!

Arif Andre di Sikabluan

Kapal yang kami tumpangi juga bisa mandi, aku dan Andre mandi di kapal. Meski awalnya ruangan eksekutif itu panas, pas kapal jalan ternyata dingin karena AC nya berfungsi.

Kami sampai di Sikabaluan jam 7 pagi. Belum kapal bersandar orang-orang heran ngapain kami ke Sikalabaluan karena penduduknya sedikit, bukan tempat turis. Biasanya turis akan pergi ke Tuapejat atau Sikakap atau Siberut bukan ke Sikabaluan. Mereka gak tahu saja kami ngasal milih rute yang penting ke Mentawai.

Sikabaluan

"Saya kira karena masih satu Pulau Siberut bisa keliling Pulau", kataku

“Disini mah masih hutan, jalan juga masih sedikit, 
ini saja kami yang pegang proyek pembukaan jalannya”, 
kata seorang penumpang kapal .

Asli mendengar perkataan salah satu penumpang di kapal membuatku pucat pasi. Serasa dunia runtuh! Terlebih aku merasa bersalah kepada Arif dan Andre, mereka jauh-jauh dari Bandung sana untuk aku buat nyasar berjamaah. Asli jadinya salah Pulau. Meski akhirnya kami menyadari kalau Sikabaluan itu lebih indah daripada Siberut Selatan.

Di Sikabaluan

Yang lucu si Arif, dia bilang Pulau Sikabaluan itu dengan sebutan sesuka hatinya. Dia menyebut Sikabaluan dengan “Sikrerek”. Gokil ya?

Nah kami sampai di Pulau Sikabaluan jam 7 pagi.

“Kebetulan ini Rabu ada kapal ke Tuapejat terus singgah di Siberut, 
kalian bisa naik kapal antar Pulau jadi 
kalian punya waktu 1 jam di Sikabaluan ini”, 
kata salah satu penumpang.

Sikabaluan

Asli kami kayak kurang persiapan ke Mentawai. Kami disuruh keliling Pulau 1 jam terus naik kapal antar Pulau ke Siberut Selatan karena di Siberut Selatan jadwal perahu ke Padang itu ada untuk hari Sabtu. Kalau tidak jadwal kapal seminggu kemudian. Karena Andre dan Arif balik ke Bandung di hari Sabtu sehingga bagaimana caranya kami harus ke Siberut Selatan.

Alhasil kami bertiga langsung keluar dari kapal dan mencari tempat makan lalu keliling Sikabaluan. Kami sempat minum teh hangat di warung dekat Pelabuhan Sikabaluan hingga akhirnya kami memutuskan untuk menitip tas kami lalu kami sedikit melihat-lihat Sikabaluan.

Kesan pertamaku terhadap Sikalabalun itu amat terpencil. Di Sikabaluan tidak ada Bank, jadi kalau mau main-main ke Sikabalun bawa uang yang banyak. Terus pas kami jalan kaki dari Dermaga ke rumah penduduk, itu rumahnya sederhan dari kayu. Bahkan sekitar Kampung banyak sekali Mangroove. Sayangnya banyak sampah di sekitar Mangrove yang membuatku prihatin.

Sikabaluan

Dalam perjalanan, Arif dengan instingnya membawa kami ke sebuah Pantai yang bersih banget. Untuk sampai ke Pantai ini kami harus melewati jalanan becek serta rerumputan. Mereka bahkan tega meninggalkanku di belakang. Memang insting Bolang amat dasyat, akhirnya berkat Arief kami bisa merasakan Pantai bersih ala Mentawai. Padahal waktu menunjukkan jam 7.30 pagi kami malah asik menikmati pantai walau sekejab. Karena kapal berangkat jam 8 pagi dan 30 menit lagi kami harus sudah berada di pelabuhan lagi.

Aku menatap nun jauh di Pantai, semakin cantik, sayangnya kami harus kembali ke Dermaga, kami hanya punya waktu di Sikabaluan hanya 1 jam saja.

Sikabaluan

Dengan terburu-buru kami kembali ke Pelabuhan untuk pindah ke Pulau yang sama tapi beda daerah, karena itu tidak bisa dilalui dengan via darat. Sesampai di Dermaga, kami masih ada waktu 15 menit. lumayan untuk beli makan dan tiket. Andre memesan makanan dibungkus untuk kami makan sementara aku dan Arif menanyakan cara membeli tiket.

Pas di dekat kapal betapa kagetnya aku karena Babi juga diangkut di dalam kapal.

"Gila ini mah kapal seperti ikan Sarden!!"

Akhirnya sang petugas kapal mengatakan beli tiket di dalam kapal lalu kami kembali ke warung tempat menitipkan barang sekaligus mengajak Andre untuk berangkat.

Kami bertiga pun naik kapal bersamapuluhan atau bahkan ratusan orang yang naik kapal. Saking ramenya kami bertiga naik ke lantai paling atas kapal dan jauh-jauh dari Babi dan ternak lainnya. Bayangkan dong satu kapal ama hewan ternak!! Pas di atas kami menggembel dengan tidur seadanya di lantai. Aku dan Andre paling pelor alias asal lihat lantai langsung tergeletak tidur. Dan kami butuh 5 jam lagi ke Pulau Siberut Selatan yang notabenenya masih satu Pulau cuma beda daerah aja. Misalnya aku di Jakarta yang miash satu Pulau dengan Banten cuma karena ke Banten gak bisa lewat darat akhirnya niak kapal lah, ribet gak tuh? Terus jadwal kapal antar Pulau juga tidak tiap hari loh! Sehingga kami beruntung bisa langsung menyeberang dengan Kapal antar pulau.

Saat di Kapal antar Pulau

Selama 5 jam di kapal antar Pulau, kami menikmati dengan cara kami sendiri. Kami bertiga juga menyempatkan untuk makan pagi dari nasi bungkus yang kami pesan dari Sikabaluan. Masih terlihat jelas betapa Andre dan Arif kecewa terlebih tidak ada signal. Bahkan si Arif di telponan mulu loh!

“Aduh Boss, saya lagi di pulau ini, sinyal ada kadang ngak”, katanya

Terus aku ngekeh mendengarnya karena bagiku ada signal atau tidak sama saja. Toh aku bisa hidup tanpa internet.

Sikabaluan

Untuk ongkos kapal antar Pulau dari Sikabaluan ke Siberut Selatan itu Rp20.000 dengan lama perjalanan 5 jam. Ongkos dibayar di dalam kapal.

"Buset kita penumpang gelap, 
kalau kapal ada apa kita bertiga gak ada d list penumpang", katanya

Mereka yang bekerja di Dishub pasti lebih tahu tentang itu. Dan aku baru menyadari betapa berisikonya menjadi penumpang gelap dalam sebuah kapal. Bukannya apa-apa, kalau ada apa-apa dalam perjalanan, yang rugi kan kami juga.

Sikabaluan

Asli ini pertama kalinya aku beli tiket tanpa di dalam daftar. Terus aku sudah di kapal selama 15 jam, rekor terlama di laut!! Sungguh aku bukanlah penggemar moda transportasi laut, dan aku ingin cepat ke daratan. Saking gak kuatnya, aku malahan tidur sepanjang Sikabaluan ke Siberut Selatan.

Jam 1 siang kami sampai di Siberut Selatan, setelah 15 jam perjalanan dan aku berharap setidaknya bisa bertemu SIKEREI di Siberut Selatan.

Perjalanan kami baru saja dimulai

Sikabaluan

Biaya hari pertama di Padang, 5 Desember 2018

15.00-16.00 Dari Muaro, Kota Tua Padang ke Pelabuhan Bungus

Arif dan Andre sewa mobil dari Bandara Rp375.000. Aku cuma nebeng dengan mereka ke Bungus

16.00-18.00 Beli tiket kapal Ampu kelas VIP Rp218.000 kalau ingin kelas VVIP Rp300.000.

18.00-19.30 Di kapal menunggu kapal jalan

19.30-07.00 Perjalanan kapal Ampu dari Teluk Bungus ke Pulau Sikabaluan

Mentawai

Biaya hari kedua di Sikabaluan, 6 Desember 2018

07.00-08.00 Sampai di Sikabaluan, makan pagi

08.00-13.00 Perjalanan dari Sikabaluan-Siberut dengan biaya Rp20.000

13.00-14.00 Naik becak dari Dermaga ke Desa Muara di Siberut Selatan Rp75.000/3 orang

14.00-15.00 Mencari penginapan

15.00-20.00 Di penginapan AA Rp50.000/malam

20.00-21.00 Makam malam Rp20.000/orang

Salam

Winny

Advertisements

Posted by Winny Marlina

Indonesian, Travel Blogger and Engineer

15 Comments

  1. Ya ampun aku belom pernah naik kapal selama itu. Gimana rasanya yaa 😅

    Reply

    1. Rasanya mabuk kak apalagi saya tidak tahan dengan laut

      Reply

  2. Wkwkwkw emang sih yang unik itu satu pulau tapi buat ke sana masih harus naik kapal. Dan lamanya nggak cuma 30 menit atau 1 jam. Tapi berjam-jam. Kayaknya aku bakal mabok juga. Hahahah

    Reply

    1. Kalau kapal cepat bisa 30 menit loh

      Reply

  3. tiket ke padang sekarang mahal

    Reply

  4. Foto maem di kapal mengingatkanku saat naik kapal ASDP ahhahaha.
    Makan cari tempat kosong 🙂

    Reply

    1. seru tapi ya kan, agak-agak gembel sih

      Reply

  5. Mengikuti Winny tour de mentawai. Terima kasih ya Win.

    Reply

  6. Masih terlihat asri ya kak tempatnya..
    Bener kalau ndak biasa naik kapal, 15 jam itu bisa membuat rindu pada daratan

    Reply

    1. Asri dan masih terisolasi, belum banyak penduduknya

      Reply

  7. YA Alllah, mabok laut diriku jika naik kapal selama itu.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.