Backpackeran ke Pulau Siberut, Mentawai

Mentawai, 6 Desember 2018

“Dul, liburan kemana?”, tanya Arif kepadaku

“Aku sih pengen Mentawai”, kataku

“Dimana itu Mentawai?”, tanyanya

“Di Sumatera Barat”, jawabku

Eh dari percakapan basa-basi via IG dengan Arif, eh dia beli tiket dong dari Bandung ke Sumatera Barat demi ke Mentawai dan mengajak Andre, teman sekantornya. Arif adalah salah satu follower IG ku yang ingin jalan-jalan denganku karena melihat postingan photo jalan-jalanku, kami kenal sekitar 2 tahun lalu saat aku di Jakarta dan dia datang dari Semarang ke Jakarta buat jumpa dan baru kali ini bisa jalan bareng.

Rencana ke Mentawai itu memang sudah aku buat dari 3 bulan dan selalu ada di Profile Instagram @winnymarlina. Sebenarnya aku ingin jalan-jalan ke Mentawai dengan temanku Maulina. Tapi apa daya, menunggu Maulina sama kayak menunggu jodoh gak jelas kapan datangnya. Tapi aku maklum soalnya Maulina juga lagi ada pengeluaran yang penting sehingga jalan-jalan ke Sumatera Barat khususnya ke Mentawai belum terwujud. Semoga suatu saat bisa jalan dengan Maulina lagi. Oh ya Maulina ini adalah sahabatku yang aku kenal sewaktu bekerja di L’oreal Indonesia.

Mentawai

Kami berangkat ke Mentawai Bulan Desember 2018 meski keinginan ke Pulau Mentawai sejak September 2018.  Dan untuk ke Mentawai aku tidak ada persiapan sama sekali. Biasanya aku buat rencana perjalanan tapi ini tidak karena kesibukanku yang tidak jelas, “tidak jelas” alias sok sibuk saja. Sebelumnya aku sudah nanya-nanya juga tentang cara ke Mentawai dari Padang baik itu dari hasil telusuran Google maupun  tanya orang yang sudah pernah ke Mentawai, salah satunya Donal. Aku juga mengajak Eka buat jalan bareng ke Mentawai, tapi Eka tidak niat (padahal dia dulu yang paling semangat ngajakin ke Mentawai, katanya sebelum jadi turistik banget).

Mentawai adalah salah satu Pulau yang berada di Sumatera Barat yang terkenal dengan ombak gedenya sehingga surganya bagi peselancar atau surfing. Ibu Kota Kabupaten Kepulauan Mentawai itu Tuapejat di Pulau Sipora, ingat Mentawai terdiri dari ratusan Pulau kecil dan 4 Pulau besar. Khusus Pulau dengan penduduk yang banyak yaitu Pulau Siberut (yang terdiri dari beberapa daerah yaitu Siberut Selatan, Tengah dan Utara), kemudian ada Pulau Sipora, Pulau Pagai Utara dan Pulau Pagai Selatan.

Sebelum memutuskan ke Mentawai, harus tahu dulu apa sih tujuan ke Mentawai. Karena Pulau ini masih “terbatas” dari segi transport maka harus tahu mau ngapain di Mentawai. Gunanya untuk memutuskan ke Pulau kemana di Mentawai karena beda Pulau beda tujuan. Kalau ke Mentawai ingin bertemu dengan Suku Pedalaman Mentawai yang disebut Sikerei maka perginya ke Pulau Siberut itupun ke Siberut Selatan ya, jangan kaya kami ke Sikabaluan (ada juga Sikerei disini tapi sayangnya kami tidak menjelajah lebih jauh). Kalau ke Mentawai ingin lihat pantai dengan pasir putih maka tujuannya ialah Pulau Sipora atau kalau di jadwal kapal biasanya ke Tuapejat atau Sikakap (Pulau Sikakap ini dekat dengan Bengkulu).

Kalau tujuannya ingin surfing ketemu dengan bule-bule seluruh dunia yang suka berselancar maka tujuan kamu itu harus ke Sikakap atau ke Tuapejat di Pulau Sipora. Nah karena aku ingin sekali ketemu dengan suku asli Mentawai yang disebut Sikerei maka tujuan kami ke  Pulau Siberut.

Kalau tidak tahu tujuan ngapain di Mentawai bisa nyasar karena jika ke Mentawai jadwalnya itu tricky banget, makanya kalau salah Pulau maka bisa berpengaruh terhadap kapal yang akan ditumpangi. Bisa juga ke Mentawai pagi terus sorenya balik ke Padang tapi sayang ongkos dan capek badan. Maka pintar-pintarlah menyusun rencana perjalanan.

Peta Sikabalaun dan Siberut Selatan

Terus gimana sih cara ke Mentawai?

How to get to Mentawai?

Cara ke Mentawai itu bisa dengan 2 pilihan

1.Dengan Kapal Lambat

Sebelum berangkat ke Mentawai dengan kapal lambat, jadwal harus di check karena setiap kapal memiliki jam keberangkatan yang berbeda. Biasanya kapal lambat berangkat sore hari. Kapal lambat maksudnya kapal ASDP dengan muatan besar dengan lama perjalanan Padang-Mentawai 10-13 jam tergantung Pulau mana yang akan dikunjungi. Bagi yang ingin backpackeran maka alternative dengan kapal laut ini bisa jadi pilihan karena harga tiket sangat murah tapi siap-siap mabuk laut saking lamanya di laut.  Untuk kapal laut ini dilayani oleh ASDP yaitu KMP Ambu dan KMP Gambolo. Kedua kapal ini memiliki rute yang berbeda. Di dalam Kapal kelasnya juga beda yaitu mulai dari Ekonomi, hingga kelas Eksekutif. Jika ingin memilih dengan kapal lambat, maka pelabuhan penyeberangan ke Mentawai itu dari Pelabuhan Penyeberangan Teluk Bungus. Pelabuhan Penyeberangan Teluk Bungus ini berada di Jalan Raya Padang Pariaman, KM 16, Padang (sekitar 1 jam dari Kota Padang kearah Teluk Bayur).  Artinya jika ingin naik kapal lambat, maka perlu mencari cara ke Teluk Bungus. Tapi jangan khawatir bisa dengan Ojek Online.

Untuk jadwal Kapal ke Mentawai dengan ASPD bulan Desember 2018 

jadwal kapal ke mentawai desember 2018

Waktu kami ke Mentawai tepatnya di hari Rabu yang ada jadwal kapal itu dengan KMP Ambu dengan rute Padang-Sikabaluan. Harga tiket ekonomi Rp92.000 tapi kami memilih kelas VIP Rp128.000 yang bisa tidur. Tidurnya seperti kasur asrama yang bertingkat. Berangkat jam 7.30 malam (padahal di jadwal jam 6 sore) kemudian sampai di Sikabaluan jam 7 pagi.

2. Dengan Kapal Cepat

Mentawai Fast

Kalau kapal lambat butuh 10-13 jam perjalanan dari Padang ke Mentawai, maka dengan kapal cepat hanya 3-4 jam dari Padang ke Pulau Mentawai. Tapi jadwal untuk kapal cepat itu dari Padang pagi hari setiap jam 06.00- 07.00 pagi sementara dari Mentawai ke Padang itu jadwal keberangkatan kapal itu di sore hari. Kapal yang melayani kapal cepat bernama Mentawai Fast dengan harga tiket Rp253.000 (tergantung Pulau yang dituju). Kami menggunakan kapal cepat Mentawai Fast saat pulang ke Padang dari Pulau Siberut. Dari Siberut jam 2.30 siang dan sampai di Padang jam 6 sore. Bagi yang ingin ke Mentawai dengan Mentawai Fast maka harus ada di Padang sebelum jam 6 pagi. Pelabuhan penyeberangan kapal cepat dari Padang dari Pelabuhan Muaro (dekat dengan Jembatan Siti Nurbaya) yang berada di kawasan Kota Tua Padang.

Untuk jadwal Kapal ke Mentawai dengan Mentawai Fast bulan Desember 2018   

jadwal mentawai fast

Khusus traveller yang tinggal diluar Padang jika ingin ke Mentawai  seperti temanku Arif dan Andre maka caranya dengan flight Jakarta-Padang (CGK-PDG) karena mereka dari Bandung. Terus dari Bandara Internasional Minangkabau di Padang untuk ke Kota Padang bisa dengan 3 cara yaitu:

1.Dengan Kereta

Bandara Internasional Minangkabau di Padang memiliki kereta dari Bandara ke Kota Padang dengan harga tiket Rp 10.000. Namun jadwal kereta juga ada jam-jamnya. Lama perjalanan dari Padang ke Bandara dan sebaliknya dengan kereta sekitar 45 menit.

Untuk jadwal kereta dari Padang ke Bandara Minangkabau dan sebaliknya jadwalnya ialah:

Sumber : Info Sumbar net

Jadwal kereta dari BIM ke Padang

Sumber: Info Sumbar net

2.Dengan Damri

Kalau ingin ke Pusat Kota Padang atau ke Pantai Taplau maka yang paling dekat dengan Damri. Harga Damri ke kota Padang atau Padang ke Bandara Rp22.000. Lama perjalanan dari Padang ke Bandara dan sebaliknya dengan Damri sekitar 30 menit hingga 1 jam.

  • Rute :
    Bandara Minangkabau -> Simpang Duku -> Lubuk Buaya -> Basko Grand Mall / Basko Hotel -> Ulak Karang -> Hotel Pangeran Beach -> Jl. Ir.H.Juanda ->
    Jl.Veteran -> Plaza Andalas -> Jl. Diponegoro -> Hotel Inna Muara -> Hotel Bumi Minangkabau -> Jl.Niaga/Pondok -> Imam Bonjol/Pasar Raya
  • Waktu Operasional : 04.30 WIB s/d 18.00 WIB ( Berangkat setiap 1 jam)*** Sumber: Busbandara

3. Dengan Taxi/Mobil Online

Tarif dengan taxi atau mobile online variatif tapi bisa sekitar Rp100.000 an tergantung nego. Lama perjalanan 1 jam kalau tidak macet untuk sampai ke Kota Padang. Khusus Arif dan Andre menyewa mobil dari Bandara ke Kota Padang terus ke Bungus itu Rp375.000.

Rumah Sikerei

Transportasi di Pulau Mentawai

Jujur saja, transportasi di Mentawai ini masih terbatas, maklum masih pedalaman dan kalau kata Arif kalau ke Mentawai itu nunggu 10 tahun lagi karena bukan seperti di Bali atau Lombok ynag aksesnya mudah. Berdasarkan pengalamana beberapa hari di Mentawai maka transportasi ada 3 yaitu:

1. Ojek

Waktu kami di Sikabaluan maka yang aku lihat dari dermaga itu ojek sehingga bisa menggunakan jasa ojek. Keseharian juga bisa menyewa ojek misalnya jika ingin mengunjungi satu Dusun ke Dusun lainnya. Tapi kami tidak gunakan ojek karena kami tidak jadi trekking ke hutan dan tidak pergi ke Dusun Kababuttui. Waktu aku tanya kepada warga khususnya di Siberut Selatan, sewa motor sehari di Mentawai itu Rp150.000. Kalau bisa nawar sih harga sewa bisa Rp100.000 (lumayan mahal ya).

2. Becak

Sewaktu di Siberut Selatan dari Dermaga ke Muara kami kena biaya Rp25.000 perorang dengan jarak sekitar hanya 5 km saja. Padahal kata Donald yang pernah KKN di Siberut biasanya itu Rp15.000. Tapi karena Andre dan Arif orangnya loyal ketulungan sehingga kami anggap sedekah saja.

3. Kapal antar Pulau

Kami sewaktu salah Pulau ke Sikabaluan maka untuk ke Siberut Selatan harus naik kapal antar Pulau yang jadwalnya tidak tiap hari. Beruntungnya pas kami sampai di Sikabaluan jam 7 pagi, jam 8 paginya ada jadwal kapal antar Pulau ke Siberut dengan lama perjalanan 5 jam dengan ongkos Sikabaluan-Siberut Rp20.000. Sebenarnya tujuan kapal antar Pulau ini ke Tuapeijat tapi kami turunnya di Siberut.

Bagi teman-teman misalnya ingin keliling Pulau di Mentawai bisa menyewa kapal dengan harga sewa perhari itu Rp1.500.000-Rp5.000.000 tergantung nego dengan kapasitas 10 orang. Waktu di Mentawai kami ditawari Rp1.500.000 keliling Pulau tapi karena cuma bertiga akhirnya kami tidak jadi sewa kapal dan say  good bye dengan pantai putih. Yang kasihan Andre dan Arif karena sudah bawa baju pantai ala-ala Hawai eh ketemunya malahan pantai dengan sampah. Iya jadi di Siberut itu sampahnya banyak, bahkan aku lihat masyarakat sekitar Pantai buang sampahnya ke laut (ini pengalaman di Siberut Selatan) terus aku miris melihatanya.

Mentawai

Penginapan di Mentawai

Selama di Siberut Selatan kami menginap di AA Muara dengan harga penginapan Rp50.000/malam. Di Siberut Selatan banyak penginapan kok dan harganya cukup terjangkau. Fasilitas sih seadanya sesuai dengan harga, ada kipas angin, kasur dan kamar mandi di luar. Tempat penginapan kami ini dibelakangnya langsung pantai, sayang pantainya jorok penuh sampah. Kalua di Sipora dan Sikakap banyak resort dan harganya standard bule.

Penginapan di Siberut

Cerita penginapan ini lucu karena si ibu kasihan lihat aku sehingga kamar yang harusnya sewa semalam Rp150.000 jadinya aku di kasih kamar khusus Rp50.000 sendirian, karena dalam trip ini aku sendirian cewek.

Yang dilakukan di Siberut

Kurang afdol rasanya kalau tidak trekking ke hutan. Aku ke Siberut sebenarnya selain melihat Suku Sikerei serta trekking ke hutan belantara, maka aku ingin sekali ke Taman Nasional Siberut. Kalau hanya di Kota Siberut Selatan paling bisa melihat rumah penduduk yang masih sederhana, rumahnya dari kayu dan mirip sederhana. Aku sangat salut dengan warga yang bisa hidup dengan sangat sederhana, gak mikir tentang perabotan apalagi listrik. Rumah Penduduk di Dusun Mailepet beda dengan rumah penduduk di Muara, di Mailepet lebih sederhana dibandingkan dengan Muara.

Pantai Maileppet

Rincian Biaya Backpackeran di Mentawai

Biaya hari pertama di Padang, 5 Desember 2018

15.00-16.00 Dari Muaro, Kota Tua Padang ke Pelabuhan Bungus

Arif dan Andre sewa mobil dari Bandara Rp375.000. Aku cuma nebeng dengan mereka ke Bungus

16.00-18.00 Beli tiket kapal Ampu kelas VIP Rp218.000 kalau ingin kelas VVIP Rp300.000.

18.00-19.30 Di kapal menunggu kapal jalan

19.30-07.00 Perjalanan kapal Ampu dari Teluk Bungus ke Pulau Sikabaluan

Biaya hari kedua di Sikabaluan, 6 Desember 2018

07.00-08.00 Sampai di Sikabaluan, makan pagi

08.00-13.00 Perjalanan dari Sikabaluan-Siberut dengan biaya Rp20.000

13.00-14.00 Naik becak dari Dermaga ke Desa Muara di Siberut Selatan Rp75.000/3 orang

14.00-15.00 Mencari penginapan

15.00-20.00 Di penginapan AA Rp50.000/malam

20.00-21.00 Makam malam Rp20.000/orang

Siberut Selatan

Biaya hari ketiga di Siberut Selatan, 7 Desember 2018

08.00-12.00 Explore Pantai Siberut, makan pagi

12.00-14.00 Istirahat

14.00-17.00 Ke rumah Sikerei di Desa Muntei beli roti Rp150.000, sewa becak Rp200.000/3 orang

17.00-18.00 Balik ke penginapan

18.00-19.00 Ke Posyandu di Siberut, pake wifi gratisan

19.00-20.00 Makan malam Rp40.000/3 orang

Biaya hari keempat di Siberut Selatan, 8 Desember 2018

08.00-09.00 Makan pagi Rp20.000

09.00-12.00 Nyantai di penginapan

12.00-14.00 Ke Dermaga Mailepet buat wifi gratis Rp75.000/3 orang dengan becak

14.00-14.30 Jalan kaki ke Pelabuhan laut Mailepet bayar Mentawai Fast Rp253.000/orang

14.30-18.00 Perjalanan Siberut Selatan ke Muaro Padang

Siberut, Mentawai

Pengalaman selama di Mentawai

  1. Seumur-umur baru pertama kali merasakan di laut selama 15 jam, gara-gara salah Pulau. Sebenarnya tidak salah Pulau juga hanya karena Arif dan Andre harus balik ke Jawa sana sehingga kami menyesuaikan dengan jadwal kapal yang ada. Jadwal yang ada hari Sabtu dari Siberut sehingga mau tidak mau kami harus ke Siberut. Bahlan Arif merasa kalau Sikabaluan jauh lebuh bagus daripada Siberut Selatan. Aku sendiri harus merasakan 15 jam di laut itu, dan serasa mabuk laut, padahal aku paling tidak tahan dengan laut, benar-benar membuatku sakit. Alhamdulillah pas 15 jam di laut itu meksi pusing namun aku sehat dan bisa beradaptasi. Alhasil selama di Siberut Selatan itu kerjaanku hanya tidur saja.
  2. Tinggal 3 hari di SIberut Selatan seperti berada di masa Indonesia zaman bahelak karena rumah penduduk yang sederhana, jauh dari perkotaan, bahkan signal telekomunikais masih terbatas. Di Sikabaluan saja tidak ada Bank loh, masih mendingan di Siberut Selatan. Lalu di Siberut Selatan ada wifi gratisan yang dipakai sejuta umat meski jaringannya lemot. Masih mendingan lah ya!! Yang keren lagi dari Siberut Selatan masyarakatnya yang hidup harmonis baik Kristiani maupun Islam, padahal beda agam tapi tentram. Penduduk Muslim di Siberut Selatan kebanyakan di Muara dan kalau Kristiani di Desa Mailepet.
  3. Bertemu dengan Suku Pedalaman Mentawai

Bersama Sikerei

Suku Pedalaman Mentawai bernama Sikerei. Sikerei artinya dukun karena suku asli Mentawai bisa mengobati orang sakit serta Sikerei diagungkan untuk memimpin acara adat jika da kegiatan kebudayaan atau acara adat di Mentawai. Sikerei ini bertebaran di Kepulauan Mentawai khususnya di Siberut. Bahkan Sikerei ahli dalam berburu. Uniknya tato tertua itu dari Sikerei di Sikabaluan.

Tujuanku ke Mentawai memang ingin berjumpa dengan Sikerei karena jujur saja, kalau ke Pantai aku kurang suka, aku bukan anak pantai.  Aku yang pernah tinggal di Kupang, NTT selama 10 bulan cukup membuatku puas dengan pantai indah. Jadi standard Pantai ku itu tinggi kawan, jadi jika aku ingin ke suatu tempat yang pasti aku mencari yang tidak ada di tempat lain seperti Sikerei hanya ada di Mentawai.

Aku sangat senang karena aku bertemu dengan Sikerei meski kami tidak trekking ke hutan karena keterbatasan waktu. Setidaknya ketemu juga Sikerei di Desa Muntei (daripada nggak sama sekali). Aku mah anaknya mudah bahagia!! Ketemu Sikerei saja senang.

  1. Sikabaluan itu memiliki Pantai yang lumayan bersih jika dibandingkan dengan Siberut Selatan. Penduduknya juga sangat sedikit tapi kalau ingin merasakan sensasi berbaur dengan alam, maka cocok ke Sikabaluan.

Sikabaluan

Tips ke Mentawai

  1. Pastikan tujuan ke Mentawai itu mau apa agar tidak salah Pulau. Waktu itu karena aku dengan polosnya menganggap yang penting masih satu Pulau, “sama-sama Siberut” maka bisalah dari Sikabaluan ke Siberut Selatan dengan jalur darat. Iya bisa dengan jalur darat tapi melalui hutan-hutan, sungai-sungai yang akses jalannya belum memadai. Bahkan saat di kapal lambat, kami bertemu dengan orang yang kerjanya sedang membuka jalan di Sikabaluan. Saking lamanya pembangunan di Pulau Siberut. Saat di Siberut aku merasa “oh gini rupanya hidup di pedalaman”.
  2. Pulau Sipora dan Sikakap merupakan tujuan umum para bule-bule sehingga harga menginap di resort pun standard bule. Bagi yang ingin menyewa kapal bagusnya ke Mentawai itu ramai-ramai sekitar 8-10 orang agar hemat di biaya transportasi.
  3. Rajin-rajin melihat jadwal kapal. Karena masih terbatas di transportasi sehingga jika ingin jalan antar pulau di Mentawai harus tahu jadwal kapal kalau tidka bisa seminggu kemudian ke Padang. Memang enaknya di Mentawai itu lama sekitar 2 mingguan agar terasa sensasi berada di Pulau yang tentram, jauh dari perkotaan dengan kehidupan yang masih sederhana. Perlu juga ke Mentawai agar belajar bersyukur, bersyukur dengan rezeki yang kita miliki.
  4. Cara bertemu dengan Suku Pedalaman Mentawai. Jika ingin bertemu dengan suku pedalaman Mentawai atau Sikerei bisa datang ke rumahnya atau disebut dengan “uma”. Kalau ke rumah Suku Sikerei maka bawalah rokok, roti dan uang seikhlasnya. Jika tidak ingin mengeluarkan uang maka Suku Sikerei bisa dilihat pas upacara kegiatan atau saat mengobati orang yang sakit. Atau bisa juga saat Mentawai Festival yang diadakan Kementrian Pariwisata karena saat festival semua Sikerei dari berbagai suku datang, puas-puas dah berphoto dengan Sikerei. Tapi jika ingin bertemu dengan Sikerei di Dusun Kababuttui, Sikerei Selatan harus dengan tourguide dan harus dibooking jauh-jauh hari. Karena Suku Sikerei ini harus dikasih jadwal kalau tidak mereka akan berburu atau ke ladang mereka. Jadi tourguide yang akan membuat temu janji sehari sebelum kedatangan. Kan gak lucu, udah trekking ke hutan 7 jam eh Sikereinya gak ada atau kalau ada tidak memakai pakaian tradisionalnya. Khusus Sikerei di Siberut Selatan, rata-rata sudah memakai baju tapi ada juga kalau masuk ke Dusun atau pelosok beberapa Sikerei tidak memakai baju.

    Arif, Sikerei, Aku dan Andre di Desa Muntei

  5. Tidak disarankan pergi tanpa rencana yang jelas ke Mentawai. Kalau mau backpackeran ke Mentawai bisa iya bisa tidak. Karena sebackpacker-backapckerannya kami toh biaya kesana mahal juga menurutku. Sehingga biar tidak salah dan puas di Mentawai maka harus membuat rencana yang jelas apakah ingin surfing, trekking ke hutan, atau hanya lihat pantai atau lihat Sikerei. Karena kalau salah Pulau bisa kecewa. Terus kalau kamu anak gaul yang tidak bisa hidup tanpa internet maka jangan ke Mentawai. Ada sih wifi tapi lama sekaai dan itupun wifi gratisan, kalau beli harganya Rp100.000 untuk 1 Giga, mate kan?. Yang lucu kami harus jalan ke Posyandu di Siberut Selatan demi bisa menggunakan wifi, Andre dan Arif segitu bahagianya menemukan wifi gratisan dengan berbaur bersama warga lokal demi mendapatkan wifi. Dari penginapan kami sengaja banget ke Posyandu bukan untuk berobat hanya untuk mengecek jika da yang menghubungi.
  6. Telokomunikasi yang ada di Siberut itu yang bisa telkomsel tapi jangan harap bisa menggunakan internet, satu-satunya dengan memanfaatkan wifi gratisan yang bisa di dapatkan di Pelabuhan Mailepet, Posyandu di Sibertu Selatan. Lucu kalau lihat ramai-ramai anak remajanya demi menggunakan internet.
  7. Kalau pulang hari bisa kok ke Mentawai tinggal mix antara kapal cepat dan kapal lambat. Aku paling suka dengan kapal cepat karena waktu tempuhnya cepat meski kalau naik kapal lambat ada kelas eksekutif yang bisa tiduran.
  8. Beda kelas ekonomi dengan kelas eksekutif di kapal lambat itu, kalau di kelas ekonomi duduk maka di eksekutif bisa tiduran. Tapi eknomi bangkunya bagus kok cuma kalau tahan duduk tidur selama 10 jam lumayan menghemat ongkos.

Rumah Suku Sikerei

Begitulah pengalaman backpackeran ke Pulau Siberut, Mentawai dengan dua teman yang lumayan loyal karena suka traktir aku makan :D. Aku senang, akhirnya aku bisa ke Mentawai! Yah paling tidak, aku belum ke Hawai, maka Aloha Mentawai!

Salam

Winny

Posted by Winny Marlina

Indonesian, Travel Blogger and Engineer

25 Comments

  1. Si kuntul dimana
    Wkwkkwkwk
    Sinyal susah nya

    Reply

  2. Kemarin ada ajakan teman ke sini pas di Padang, sementara aku tangguhkan karena sudah ada rencana ke kota yang lain.
    Dicatat semua mengeluaran, artinya sudah tahu kisaran kalau ingin main ke sana 🙂

    Reply

    1. Bagusnya ke Mentawai 2 mingguan kak

      Reply

  3. Wow 15 jam di laut!!! Mentawai masih tergolong cukup alami ya Win, masih bagus!! Tapi sisi lainnya apa-apa masih terbatas dan seadanya ya.

    Reply

    1. iya Zilko disana masyarakatnya hidu sederhana sekali, bensin juga mahal, biaya makan lumayan mahak bila dibandingkan Padang

      Reply

  4. Gallant Tsany Abdillah December 15, 2018 at 7:03 pm

    Waduuh lama banget itu di laut, padahal kayaknya deket situ aja. Jadi tantangan utamanya bahkan satu pulau bisa jadi susah ya aksesnya. Hmm. Menarik ini kak Win.

    Reply

    1. iya satu pulau belum tentu akses ke desa lain. kalau penyuka tantangan bolehlah ke Mentawai

      Reply

  5. mahal dan jauh, tp kayaknya bakal tidak terlupakan seumur hidup 🙂

    Reply

  6. wah, winny keren udah ke mentawai aja…
    sejujurnya aku nggak begitu minat dengan mentawai, aku lebih penasaran sama sabang 😀

    Reply

    1. Sabang bagus Susie tapi peginya jangan pas musim hujan

      Reply

  7. Lengkap bangeeeet. Cocok jadi acuan buat yang mau ke sana.
    Aku dulu tertarik, tapi agak berkurang sekarang karena katanya mereka komersil banget >.<
    Hmm tatonya nampak menarik.

    Reply

    1. Aksesnya agak susah sih Om

      Reply

      1. Iya. Tapi aku penasaran sama tatonya 😀 Secara pecinta tato tapi ya gak bisa tatoan. (lebih tepatnya belum berani menghadapi respon netijen dan keluarga hehehe)

      2. Jangan tato Om kan gak boleh merubah yang diberikan oleh Allah

  8. Wah udah sampai ke Mentawai, Win. Mana harus merasakan 15 jam di laut. Tapi, pengalaman petualangan di masing2 daerah itu ga bisa dituker ya. Sayang banget kalau pantai penuh sampah ini. Pantai Sumbar rata2 kekurangannya yg satu ini 😦

    Reply

    1. ia kak sayang bagus pantainya tapi banyak sampahnya

      Reply

  9. Terima kasih sudah berbagi pengalaman backpacker ini, Mbak. Walaupun entah kapan ke sana, setidaknya tahu gambarannya. Mungkin akan lebih baik jika setidaknya 1-2 minggu ya eksplor Mentawai 😀

    Reply

    1. harus 1 minggu kalau mau kesana

      Reply

  10. Jadi kalo aku ke sumatera barat diajak liburan backpackeran ke mentawai ya win. Okesip.

    Reply

    1. siap Bob ditunggu ke Padang 🙂

      Reply

  11. Pingin Banget ke Mentawai, selain pantai juga suku asli sana. kakak beruntung deh. Aku tertarik Ke mentawai setelah lihat foto foto kecenya richarh kyle sama jedar, heheh

    Reply

  12. Seru banget & lengkap tulisannya, mbak!
    Serasa ikut membayangkan suasana yg “nggak ada teknologi”. Bayanganku di sana masih kaya rumah nenekku dulu yg di tengah hutan wkwkwkkw… 😀

    Btw dari area penginapan ke pelabuhan berapa lama tempuhnya mbak?

    Reply

    1. Kalau jalan kaki sekitar 30 menit kak. Kalau dipinggirnya luamyan modern kak tapi masuk ke pedalaman baru seperti zaman dulu

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.