Hello World!

Jakarta, Desember 2017

"De, dirimu butuh ke Psikolog deh soalnya bang curiga 
dengan moodmu yang suka berubah-ubah", begitu kata Bang Dvd kepadaku.

Itulah asal muasal aku mengunjungi Psikolog karena berkat saran Bang Dvd. Walau sebenarnya aku sempat menanyakan kepada beberapa teman dekatku apakah sifatku sampai segitu gilanya sehingga perlu pertolongan Psikolog. Anehnya berbeda dengan pendapat Bang Dvd, teman-teman yang benar-benar mengenalku justru tidak menyarankan ke Psikolog.

“Ih ngapain Inang ke Psikolog ngabisin uang aja, 
sini samaku aja uangnya terus curhatnya amaku”, begitu kata Ayu

“Iya Win, ngapain ke Psikolog mending ngaji aja”, Lina menambahkan

Lain lagi pendapat si boru Sarta

“Butet ngapain ke Psikolog, dirimu baik aja, 
emang dasar cowok itu aja yang gak cocok amamu. 
Atau cowoknya kali yang perlu ke Psikolog, 
kayak mau lepas tanggung jawab aja”

Tidak hanya Sarta, temanku yang juga S1 di Psikolog juga tidak menyarankan ke Psikolog

“Wii buat apa ke Psikolog, dirimu itu Manager loh. 
Kalau dirimu ada masalah kejiwaan gak mungkin dirimu lulus tes kerjaan.
Lagian yah dirimu gak cocok sama cowok itu kali karena 
dirimu itu easy going, independent, gajinya lumayan, 
jadi mungkin itu cowok sengaja banget biar dirimu kelihatan menyedihkan”, 
begitu kata Bang Peterus

Sayangnya saran teman-temanku tidak aku dengarkan. Ibarat minta saran namun masuk telinga kiri terus gak jelas keluarnya kemana, disitu aku merasa bersalah kepada teman-temanku ini. Malahan aku memutuskan konsultasi ke Psikolog. Karena mungkin saja pendapat  Bang Dvd kalau aku butuh Psikiater benar adanya. Siapa tahu teman-teman dekatku ini saking sayangnya kepada sehingga tidak menyadari ketidaknormalanku. Akhirnya penuh pertimbangan yang cukup lama aku memutuskan untuk memberanikan diri ke Psikolog.

Bang Dvd menyarankan ke Psikolog karena membaca pengalaman Bang Efener (Blogger) yang menceritakan kisah istrinya yang juga pernah konsultasi ke Psikolog. Kalau kata Bang Dvd aku memiliki tanda-tanda ketidak stabilan jiwa yaitu moody walau dibalik moody ku itu aku orangnya ceria dan pintar sehingga dia ingin menolong jiwaku dari sisi padangannya. Kemudian akupun mencaritahu ke Bang Eferner dimana konsultasi dengan Psikolog yang murah di Jakarta karena rata-rata harga konsultasi dengan Psikolog di Jakarta itu diatas Rp500.000 an. Tapi aku tidak ke RS tempat bang Efener karena masalah waktu serta dari harga lebih mahal. Akhirnya aku bercerita kepada teman sekos Fiska tentang niatku ingin ke Psikolog kemudian dia menyarankan ke Sanatorium Dharmawangsa, Jakarta Selatan.

Jujur, butuh waktu lama bagiku untuk niat konsultasi ke Psikolog karena memang aku merasa aku baik-baik saja meski aku orangnya agak moody alias ngambekan. Tapi biasanya aku ngambek itu ke orang-orang yang aku sayang saja. Kepada yang bukan terdekat aku malahan cuwek. Aku ke Psikolog sebenarnya karena penasaran juga dengan sifatku yang agak aneh apalagi aku merasa karena sifat moody ku yang berlebih acap kali mempengaruhi hubunganku dengan seseorang khususnya orang terkasih. Selain itu aku ingin menjawab kecurigaan Bang Dvd terhadap diriku apakah benar aku segitu tidak normalnya sehingga mungkin saja aku memerlukan Psikiater.

“De daripada uangmu habis jalan-jalan mending dirimu 
ke Psikolog supaya jiwamu stabil.
Kalau jalan-jalan dirimu senang tapi senangnya sesaat, 
kan ini demi masa depanmu juga”, katanya

Terus karena saking cintanya ama ini orang akupun lalu ke Psikolog. Kalau yang nyaranin hanya bisa nyaranin saja. Terus orang yang menyaranin ke Psikolog justru belum ke Psikolog. Tapi aku positive thingking aja, kali aja dia benar bahwa ketidaknormalanku itu butuh pertolongan dini.

Pertama kali aku ke Psikolog itu tanggal 21 Desember 2017, aku memutuskan berobat ke Sanatorium Dharmawangsa sendirian dengan biaya sendiri bahkan buat jadwal ketemu Dokterpun sendiri. Untuk sekali konsultasi dengan Psikolog di Sanatorium Dharmawangsa, Jakarta Selatan biayanya Rp390.000 dengan rincian jasa medis Rp350.000 dan administrasi Rp40.000. Sanatorium Dharmawangsa merupakan rumah sakit khusus yang menangani pasien-pasien dengan masalah kejiwaan.

Saat pertama kali ke Sanatorium Dharmawangsa aku melihat banyak pasien. Dalam hati waktu itu “ternyata banyak juga orang stress di Jakarta”. Dan aku salah satunya.

Saat berada di Sanatorium Dharmawangsa ketika bertemu dengan Dokternya si Dokter bertanya

“Apa yang bisa saya bantu?”

Lalu aku menjawab dengan polos “Dok, saya disuruh abang saya kesini karena dia curiga kalau saya butuh Psikolog atau mungkin Psikiater”.

Akhirnya Dokter tersebut menyuruh ku untuk ikut tes MMPI untuk mengetahui kepribadianku lebih dalam. Tes MMPI  (Minnesota Multiphasic Personality Inventory) merupakan tes untuk melihat gambaran tentangdimensi kepribadian. Dalam tes MMPI ada 567 pertanyaan dan 1 lembar jawaban dengan 2 pilihan (+) dan (-).

Setelah konsultasi pertama dengan membayar Rp390.000 kemudian aku ikut tes MMPI pada pertemuan kedua tanggal 26 Desember 2017 dengan membayar Rp490.000. Saat di hari H menjawab soal MMPI itu aku diberikan waktu 2 jam dengan melingkar salah satu tanda (+) atau (-). Kemudian dalam tes MMPI beberapa pertanyaan banyak yang berulang. Dokter yang menanganiku memberikanku kertas jawaban dan pensil untuk menjawab pertanyaan MMPI itu untuk melihat aku termusuk golongan pasien yang mana.

Apakah pasien?

  1. Pasien depresi
  2. Histeria, yaitu individu yang menunjukkan masalah fisik tanpa adanya sebab fisik
  3. Penyimpangan terkait psikopati, yaitu individu yang nakal, kriminal atau antisosial
  4. Paranoid, yaitu individu yang menunjukkan simtom
  5. Psychasthenics, yaitu individu dengan gangguan yang memiliki ciri penyangkalan yang brelebihan dan ketakutan yang tidak rasional
  6. Skizofrenia, yaitu individu dengan gangguan psikotik seperti halusinasi dan masalah berpikir (seperti penalaran yang tidak logis)
  7. Hipomania, yaitu individu dengan gangguan yang memiliki ciri hiperaktivitas dan mudah marah.
  8. Hipokondriasis

Contoh Soal MMPI yang aku jawab itu sebagai berikut

1.Aku suka majalah teknik

-2.Nafsu makanku baik

+3.Aku bangun dengan rasa nyaman setiap pagi

+4.Aku mengira aku dapat menyukai pekerjaan perpustakaan

-5.Aku mudah terbangun oleh suara berisik

+6.Ayahku (almarhum ayahku) adalah seorang yang baik

+7.Aku senang membaca berita kejahatan di surat kabar

+8.Tangan dan kakiku terasa cukup hangat

+9.Kehidupanku sehari-hari penuh dengan hal-hal yang menarik

+10.Aku sanggup bekerja sebagaimana biasanya.

+11.Aku merasa seolah-olah ada yang menyumbat di tenggorokanku

+12.Kehidupan seksku cukup memuaskan

-13.Seseorang harus berusaha memahami mimpinya sebagai petunjuk/perintah baginya.

-14.Aku senang cerita detektif/cerita misterius.

+15.Aku bekerja dalam ketegangan yang sangat besar.

-16.Sekali-sekali aku berpikir tentang hal buruk yang perlu diutarakan.

-17.Aku yakin bahwa hidup ini tidak adil.

-18.Aku terganggu oleh serangan mual-mual dan muntah-muntah.

+19.Bila aku melamar pekerjaan baru,aku tahu siapa yang perlu dihubungi terlebih dahulu.

-20.Aku jarang sekali terganggu sembelit

+21.Aku pernah ingin sekali lari dari rumah.

-22.Aku merasa tidak seorangpun mengerti diriku

-23.Kadang-kadang aku tertawa dan menangis tanpa dapat dikendalikan

-24.Ada kalanya aku dirasuki roh jahat

-25.Aku ingin menjadi penyanyi

-26.Aku merasa lebih baik tutup mulut bila dalam kesulitan

-27.Prinsipku adalah berusaha membalas orang yang telah berbuat salah kepadaku

-28.Aku terganggu penyakit maag beberapa kali seminggu

-29.Ada kalanya aku merasa ingin mengumpat/mencaci maki

-30.Aku bermimpi buruk beberapa malam sekali.

-31.Aku merasa sukar memusatkan perhatian pada suatu pekerjaan.

-32.Aku pernah mengalami hal-hal aneh dan tidak masuk akal.

+33.Aku jarang merisaukan kesehatanku.

34.Aku belum pernah mengalami kesulitan karena kelakuan seksku.

35.Dalam suatu masa tertentu ketika aku muda aku pernah melakukan pencurian kecil-kecilan.

-36.Aku batuk-batuk hampir setiap waktu.

-37.Kadang kala aku ingin membanting barang-barang

-38.Aku pernah mengalami tidak dapat mengurus sesuatu selama berbulan-bulan karena tidak dapat memulainya.

-39.Aku sering merasa seluruh kepalaku sakit.

-40.Tidurku sering terganggu dan terbangun-bangun.

-41.Aku selalu tidak mengatakan yang benar

-42.Bila orang-orang tidak menghalangi,aku akan lebih sukses

-43.Sekarang aku lebih mampu mengambil keputusan dibanding dahulu

+44.Sekali atau lebih dalam seminggu tiba-tiba aku merasa panas tanpa sebab yang jelas.

-45.Kesehatanku kurang lebih sama baiknya dengan kawan-kawanku

+46.Bila aku berpapasan dengan teman lamaku,aku lebih suka menghindar

  1. Aku hampir tidak pernah merasa terganggu rasa nyeri pada jantung dan dada.
  2. Aku lebih suka duduk dan melamun daripada melakukan pekerjaan
  3. Aku adalah orang yang mudah bergaul.
  4. Aku sering harus menerima perintah dari orang yang lebih bodoh dari diriku.
  5. Aku tidak selalu mandi setiap hari
  6. Aku belum menjalani hidup ini secara benar
  7. Beberapa tuhbuhku sering terasa panas, kesemutan atau seperti ada yang merayap.
  8. Keluargaku tidak senang kepada pekerjaan yang aku pilih.
  9. Kadang-kadang aku tetap berpegang kepada pendirianku, sehingga orang lain merasa tidak sabar.
  10. Aku berharap mudah-mudahan suatu saat aku akan bahagia seperti halnya orang lain.
  11. Aku hampir tidak pernah merasa sakit di tengkukku.
  12. Aku kira banyak orang yang suka membesarkan kemalangan mereka untuk memperoleh simpati dan pertolongan dari orang lain.
  13. Aku sering terganggu oleh rasa tidak enak di ulu hati.
  14. Pada saat aku berkumpul dengan banyak orang, aku terganggu oleh pembicaraan mereka tentang hal-hal yang sangat aneh.

Selesai tes MMPI, lalu Dokter memeriksa hasil tesku. Alhamdulillah hasil tes ku aku tidak perlu ke Psikiater. Dokter lalu memberikan kurva tentang tesku dan hasilnya aku memiliki kecemasan atau paranoid tinggi. Dokter sempat penasaran apa sebenarnya kecemasanku itu.

Kamu kalau ketemu orang suka Paranoid gitu ya?” begitu tanya Dokter

Padahal sebenarnya paranoidku itu bukan ketemu orang. Karena kalau ketemu orang aku Paranoid gak mungkinlah aku survive jalan-jalan sendiri dibelahan dunia atau nginap di rumah orang yang baru aku kenal di jalan. Justru aku tidak pernah buruk sangka terhadap orang apalagi orang baru. Kalau kesel ama orang mah sering hehehe… Yang ada paranoidku itu adalah aku takut tidak memiliki uang.

Parah kan?

Namun setelah aku melepaskan pekerjaan di swasta dan mengabdi kepada Negara aku sudah berdamai dengan diri sendiri khususnya mengenai uang. Jadi sebandinga uang yang didapatkan dengan tanggung jawab pekerjaan itu. Aku tidak separanoid yang dulu takut tidak punya uang. Tapi kecemasan terbesarku terhadap uang itu tidak pernah aku beritahukan kepada Dokter tesebut.

Menurutku tidak ada salahnya seseorang ke Psikolog karena setiap orang tentu punya masalah sendiri. Ada kalanya kita dihadapkan terhadap masalah yang membuat kita stress atau tidak bisa menampungnya sehingga butuh seseorang yang mendengarkannya. Mungkin masalah yang dihadapi segitu beratnya sehingga mempengaruhi jiwa seseorang tapi kita tidak boleh menilai seseorang itu gila. Kalau sesorang pernah ke Psikolog belum tentu dia gila loh. Mungkin dia butuh seseorang yang mendengarkan masalahnya karena masalah kejiwaan itu sangat krusial. Bahkan saking krusialnya masalah kejiwaan, banyak orang yang mengakhiri hidupnya atau melampiaskan masalahnya ke hal-hal yang merugikan diri sendiri. Kalaupun misalnya ada orang yang butuh Psikiater, kita tidak boleh mencemooh, malahan kita harus mendukung seseorang itu baik dari segi perhatian atau mendengarkan atau mencari solusi permasalahannya. Orang-orang yang memiliki masalah berat dalam hidupnya baik itu masalah keluarga, keuangan, sekolah, kerjaan, atau masalah cinta atau masalah lainnya membutuhkan perhatian. Kita tidak boleh juga menyudutkan apalagi hanya “sekedar ngasih saran” tapi tidak memberikan support. Atau bahasa kasarnya “ngomong doang”. Karena kita tidak pernah tahu apa yang sudah dialaminya, daripada menghakimi lebih baik kita empati kepadanya.

Di saat aku mengalami krisis jiwa dimana mungkin saat itu aku butuh seseorang mendengarkanku. Karena saat itu adalah masa dimana titik balik kehidupanku. Kala itu aku memiliki masalah komplek yaitu masalah kerjaan iya, masalah keluarga iya dan percintaan juga iya. Untuk masalah kerjaan kala itu terjadi karena aku baru pindah dari kerjaan yang lama dengan membayar sejumlah uang padahal kalau aja aku sedikit sabar nunggu 6 bulan lagi juga aku tidak perlu membayar uang. Kemudian di tempat baru aku merasa bodoh sekali dan tidak bisa mengerjakan kerjaan karena berbeda dengan pekerjaan ku sebelumnya. Aku harus adaptasi kerjaan yang membuatku harus belajar keras sehingga membuatku stress berat kemudian dibawah sadarku, aku cemas tidak diperpanjang di kerjaan baruku. Kan gak lucu yah resign dari perusahaan lama dengan membayar sejumlah uang yang lumayan eh di tempat baru probotion aja gak lulus. Belum lagi masalah keluarga dan masalah percintaan. Saat itu aku  memiliki krisis percintaan dimana apakah aku meminta maaf kepada mantan yang  merupakan teman sekantor yang menjalin hubungan dengannya 4 tahun tapi kami putus hanya gara-gara masalah “nikah” atau membuka lembaran baru lagi. Kemudian aku membuka hati dengan cinta pertama eh yang ternyata kami tidak cocok dari segi karakter yang membuatku semakin stress dan tertekan. Sampai dalam hati, “Ya Tuhan apa segitu hopeless nya aku sehingga sering kali percintaanku kandas di tengah jalan”. Aku merasa gagal dalam percintaan meski kata orang aku sukses di pekerjaan. Bahkan menemukan orang yang cocok itu susah sekali. Kalaupun ketemu eh gak jodoh. Namun aku menyadari satu hal yang namanya “tidak jodoh yah tidak jodoh”. Lalu aku memaafkan diriku sendiri. Aku mulai berkaca untuk memperbaiki diri sendiri.

Namun seiring berjalannya waktu, semua itu ada masanya loh. Memang benar istilah “time will heal everything”. Gak heran Tuhan membuat manusia memiliki “sifat lupa” agar ketika kita memiliki kesedihan maka kita akan lupa rasa terhadap rasa sakit itu seiring berjalannya waktu meski beberapa kasus tidak sepenuhnya pulih.

Saat aku bermasalah 3 bulan di pekerjaan baru karena masalah penyesuaian kerjaan, ternyata di diawal-awal saja aku tidak bisa mengerjakan pekerjaanku. Justru di pekerjaan baru aku mengalami proses “naik kelas” dalam hidupku. Kalau di kantor lama itu aku memiliki anak buah, maka di kantor baru meski jabatan Manager, Alhamdulillah tidak punya anak buah yang ada aku jadi anak buahnya. Namun setelah aku mengalami pahitnya masa selama 3 bulan dimana biasanya dirimu bisa mengerjakan pekerjaan dengan gampang tiba-tiba tidak bisa dan dirimu merupakan tipikal orang yang ambisius maka sekita serasa hidupmu berhenti disitu.  Lalu di bulan keempat berbuah manis, aku justru mulai bisa mengerjakan pekerjaanku. Dan teman-teman di tempat baru justru baik sekali bahkan aku jadi karyawan tetap meski ekpektasi mereka jauh lebih besar dari kenyataan. Hingga akhirnya takdir berkata lain bahwa aku hanya bisa bersama mereka 9 bulan saja. Meski hanya 9 bulan, namun aku banyak belajar hal terutama ketika aku berada di level bawah. Mungkin itu cara Tuhan untuk menyuruhku tetap belajar dan rendah hati.

Sama halnya ke Psikolog aku tidak pernah menyesali konsultasi ke Psikolog meski awalnya aku ignore. Yang aku sesali sih biayanya itu “mahal”!. Padahal kalau jalan-jalan habis berapa gak pernah nyesal loh.  Yah setidaknya aku 4 x ke Psiklog. Yang ke tiga kali tanggal 6 Januari 2018 dan keempat kali itu 17 Februari 2018. Setelah itu aku tidak pernah ke Psikolog lagi.

Terus kenapa begitu jauh jedanya dari januari ke februari?

Karena saat ketiga kali aku ke Psikolog aku konsultasi tentang masalah percintaan si Psikolog bilang gini “Kamu Istiharoh saja”. Nah disitu aku malas, mending aku ke Uztad aja sekalian. Toh teman-temanku juga nyuruh Istiharoh, meski jawaban si Dokter itu baik dan benar. Entah kenapalah jiwa kecil ini menolak.

Padahal saat aku bilang ke mamaku gini. “mak aku ke Psikolog”.

Mamaku langsung berkata “Astagfirullah, emang apa masalahmu mending konsultasi samaku saja. Kalau masalah pekerjaan nanti juga bisa sendiri”. Begitu katanya waktu  itu.

Lalu keempat kali bersama si abang karena dia merasa waktu itu aku sudah lama tidak ke Psikolog lagi. Bedanya saat keempat kali, si abang langsung berbicara dengan Psikolog dari sudut pandang dia mengenai diriku, apa saja yang menjadi konsennya. Di kali keempat konsultasi dengan Psikolog itu kami bertiga di dalam ruangan, ada aku, abang itu dan si Dokter dan mereka seolah menyudutkan diriku (ini dari segi pandanganku yah). Terakhir aku berhenti karena satu hal, masalah persepsi jalan-jalan yang menurutku tidak relevan denganku.

“Kamu ke Eropa 1 bulan memang tidak merasa tidak punya tanggung jawab?”, tanya Dokter tersebut lalu si abang itu mengiyakan.

Disini aku tidak suka karena toh bosku saja mengizinkan aku unpaid leave selama 1 bulan yang artinya bosku saja tidak keberatan lalu kenapa mereka yang keberatan? Toh uang-uangku yang aku pake dan aku tidak merugikan orang lain loh!. Terus masalah tanggung jawab, justru bosku izinin artinya sudah ada yang mengerjakan pekerjaanku itu.

Kemudian dari situ aku berhenti untuk konsultasi ke Psikolog. Hanya gara-gara masalah “persepsi jalan-jalan yang berbeda”.

Dari 4x ke Psikolog aku menyadari satu hal bahwa “I cannot pleased anyone”.

Dan satu lagi “if you love someone, you have to love whole pie not one slice”.

Jadi kalau ada orang yang mencintaimu, dia tidak akan menuntutmu menjadi orang lain apalagi lepas tangan terhadap kekuranganmu. Kalau seseorang itu membuat dirimu jadi buruk maka orang tersebut tidak baik untukmu. Tapi kalau seseorang memberikan efek baik bagimu, maka pertahankan orang itu apalagi orang yang berusaha menjadi lebih baik”.

Dan satu lagi, pengalaman ke Psikolog membuatku semakin banyak untuk berkaca diri dan mendekatkan diri kepada Allah karena Allah memberikan cobaan itu sesuai dengan kemampuan kita. Percayalah semua masalah itu ada solusinya dan semua itu akan indah pada waktunya!

Yang terakhir,“be yourself and love you self and don’t waste your time with wrong person

Salam

Winny

 

Advertisements

Posted by Winny Marlina

Indonesian, Travel Blogger and Engineer

44 Comments

  1. pertama, kalau dekat aku ingin peluk kamu sebagai bentuk supportku sama kamu winny. sempat aku bertanya kamu kemana karena lama jarang update kan.

    kedua, mengenai psikolog sepertinya memang hasilnya kurang memuaskan ya. apalagi soal unpaid leave itu.

    tapi aku kurang suka ketika orang sedang depresi lalu ada yang judge kalau kita kurang ibadah. semoga saja problematika hidup kita jauh lebih baik dan balance.

    Reply

    1. Makasih ko. Emang ada titik berat dalam hidup tapi pada masanya akan lewat juga

      Reply

  2. Hi Kak Winny, thanks udah sharing pengalamannya. Baru kemarin aku ambil tes MMPI di RS Marzoeki Mahdi, ini RS khusus psikiatri di Kota Bogor. Biayanya 389 rb sudah termasuk konsultasi dengan psikiater. Kenapa langsung ke psikiater? Karena aku merasa selalu sediiiihh banget seperti depresi dan kadang histeris (sampai nangis dan teriak) kalau menjelang haid, padahal di keseharianku ga ada masalah berarti. Setelah baca2, ini seperti gejala PMDD (Premenstrual Dysphoric Disorder) yg terjadi karena ketidakseimbangan hormon. Jadi obatnya memang bukan curhat. Tapi hasil tesku menunjukkan aku baik2 saja, meski dokter bilang hasilnya cenderung tidak konsisten, karena jujur sih pas ngisinya ada beberapa soal yg aku jawab bukan sesuai kata hati aku. Dan karena saat tes aku sedang hamil, dokter bilang mungkin ya karena aku sedang tidak dalam keadaan ‘low’ seperti saat menjelang haid, makanya hasilnya baik2 saja. Tapi dokter khawatir aku akan mengalami baby blues setelah melahirkan nanti, jadi butuh konsultasi lebih lanjut kalau ada keluhan.
    Jadi kesimpulanku, kita ke psikolog atau psikiater itu ya bukan berarti kita sedang ada masalah berat. Karena seperti halnya fisik, kesehatan mental juga perlu diperiksa. Di Indonesia kesadaran memeriksakan diri ini masih rendah, makanya banyak yg baru ketahuan masalah kejiwaan ketika sudah parah.
    Oiya pengalaman temenku yg stres kerja, dia konsultasi ke psikolog lewat aplikasi berbayar. Sekian sharing dariku 🙂

    Reply

    1. Bener banget mba. Aku udh gk ke psikolog lagi sih mba karena sejak memutuskan tdk berhubungan dgn si abang itu hidupku lebih mendingan. Kalau mba gmn stelah lahiran?

      Reply

  3. Saya dulu pernah interview kerja, eh disela-sela itu, mbak-mbak interviewernya minta saya agar kelak ke psikolog saja, karena ada sesuatu hal yang sepertinya harus dibenerin dari ‘diri’ saya.

    Tapi sampai sekarang, saya belum sekalipun ke psikolog :’)

    Reply

  4. Yang paling sulit dalam kehidupan bukan tidak ada yang mau mengerti, justru ketika dirimu sendiri tidak memahami diri sendiri.
    Dan ada sebuah titik di mana dirimu tidak lagi peduli apakah ada cahaya di ujung terowongan atau tidak. Karena dirimu sudah terlalu muak dengan terowongan itu.
    Dan ingatlah satu hal, kepedihan yang dirasakan hari ini akan terasa indah dan manis saat mengingatnya di suatu hari nanti.

    Mencoba menjadi bijak😁

    Reply

    1. Iya benar juga jadi ada trauma membuka hati

      Reply

      1. Siapapun itu pasti pernah mengalami trauma. Ada yang ringan, ada yang sedang, ada yang berat, dan ada juga yang mengira sedang trauma, padahal sedang lebay saja.(tetapi diriku paling suka yang terakhir sih 😁)

        Trauma bisa terjadi dalam waktu yang singkat bahkan sampai bertahun-tahun sesudah peristiwa menyakitkan itu terjadi. Trauma bisa dikatakan sebagai penyebab ketidakmampuan untuk percaya kepada diri sendiri maupun orang lain.

        Namun hal tersebut bisa di rubah sesuai dengan niat dan yakin untuk berobah. (tapi jangan berobah jadi satria baja hitam ya 😁)

        Nah disini aku mencoba menjelaskan bahwa trauma bisa merugikan orang lain dan juga diri sendiri, kalau merugikan orang lain sih biasanya kita ngak peduli masa bodoh aja karena kita beranggapan siapa dia siapa kita.

        Mohon maaf jika ada salah kata, namanya juga mencoba memberikan masukan, dan apabila ada yang kurang mohon ditambahkan 😁

        #mencoba_memberikan_masukan
        Eaa eaa eaaaa

      2. Lucu ada juga merasa trauma haha

  5. Aku bukannya menjelekkan yang ke Psikolog gitu. Aku percaya tiap orang masalahnya beda-beda dan mungkin memang ada yang harus ke Psikolog. Kalau aku udah stress biasanya ya aku baca-baca ayat suci, cari ayat yang menjadi penguat. Dan alhamdulillah sejauh ini bisa teratasi.
    Sayangnya cara seperti itu nggak berlaku buat semua orang.
    Semoga mendapat yang terbaik, Kak Win

    Reply

    1. Iya sama sih aku juga Psikolog yg pertama itu kurang cocok. Sekerang udh gk perlu ke Psikolog lagi apalagi sejak menghilangkan semua orang2 toxic dalam hidupku. Aku kembali ke winny dulu yang ceria dan bahagia😁 alah jadi puisi haha

      Reply

  6. Cukup sering masalah kesehatan mental ini disepelekan ya Win, padahal zaman sekarang ini sama pentingnya dengan kesehatan fisik (karena pekerjaan zaman sekarang umumnya memeras otak, yang mana artinya mental, kan). Jadi ya tidak ada salahnya juga pergi ke psikolog jadi kalau ada tanda-tanda kenapa-kenapa bisa segera ditangani dengan benar dan profesional, sebelum terjerumus menjadi lebih runyam kan.

    Walau … itu akhirnya memang pengalamannya nggak mengenakkan ya; kok malah dipojokkan begitu.

    Reply

    1. Untungnya masa kritis stress itu dah lewat Zilko jadi udh gk ke Psikolog lagi lagian emang gak cocok ama Psikolognya juga. Soalnya kalau masalah jalan-jalan itu kan hobi jadi selagi tidak merugikan diri dan orang lain menurutku baik-baik aja

      Reply

  7. Sebagai orang biologi, aku support winny ke psikolog, mungkin psikolog yg kamu temui nggak cocok, cari psikolog lain. Kalau butuh teman cerita wa saja, nggak usah sungkan, aku juga butuh temen curhat kok, apalagi tinggal sendirian di Yogya

    Reply

    1. Tapi aku udh gak ke Psikolog lagi kak karena duh uangnya tu berat..lagian udh gak sestress masa-masa itu. Udah lewat juga tpi kapan-kapan aku wa kakak ya buat curhat2 hahah

      Reply

  8. Psikolog sama psikiater itu beda loh. Psikolog itu bukan dokter gelarnya dan tidak bisa resepin obat. Psikiater itu salah satu spesialisasi bidang kedokteran, jadi orangnya ada gelar dr. Winny ke yg mana?

    Reply

    1. Psikolog loh kak itu judul ama isinya aja ke Psikolog.

      Reply

      1. Hoo gitu… soalnya manggilnya dokter. mahal jg ya ke psikolog… mgkn hampir sama dengan tarif ke psikiater

      2. Iya kak mahal. Di Sanatorium itu emang dipanggil Dokter. Aku jg baru tahu kalau Psikolog itu bukan Dokter

  9. Melisa Sianipar October 16, 2018 at 9:36 am

    Jawaban mamak paling mantap. Sini konsultasi samaku aja. Kalau kerjaan nanti juga bisa. Asiiik banget.
    Persepsi jalan2 itu juga agak gak setuju sih win. Seolah2 kita jalan2 tanpa memikirkan pertimbangan2, situasi2 disekitar kita. 💪💪💪 ganbatte kudasai winny san.

    Reply

    1. Mungkin mereka kurang piknik mel 😁😁😁

      Reply

  10. Aku selalu penasaran dengan psikolog — pengin coba, sekedar menemui karakter aku seperti apa sih, atau adakah yang salah. hehehe, cuma kadang bingung jugaaa sih, nanti sampai sana mo ngomong apa.

    Terima kasih sudah Sharing Winny … 🙂

    Reply

    1. Aku malahan penasaran tes MMPI lgi mw lht sama gk hasilnya atau gk. Tp mahal

      Reply

  11. Jarang ada yang bercerita segamblang ini tentang pengalaman ke psikolog. Kalau yang kutahu ada berbagai metode yang di terapkan dan tergantung tipe klien. Kalau model mbak lebih cocok metode yang kliennya dipandu untuk menemukan memecahkan masalahnya sendiri, menurutku, lho ya. Karena mba kelihatan punya potensi itu. Bukan tipe yang di kasih tahu harus apa.

    Reply

    1. Soalnya udah gak beban lagi kak. Selain itu aku makin banyak belajar menerima banyak hal malahan aku anggap proses pendewasaan

      Reply

  12. Semangat mba Winny.. Tetap ceria tetap be your self.. 🙂

    Reply

  13. Semangat Win! Jalani hidup dengan penuh bahagia. Senang sudah turut berbagi, dengan demikian ada banyak orang akan sadar dan awas.

    Reply

    1. iya kak makasih kak. Tapi udah aku hilangkan sih kak penyebab aku stress berat itu

      Reply

  14. semoga kak Winny diberi yang terbaik yah. aku abis google tes MMPI online gratis tapi gak nemu. Jadi pengen coba juga.

    Reply

  15. Mbak Winny, semangaaat! Semoga semua-muanya lancar-lancar.

    Reply

  16. Hallo kak! Salam kenal dari aku yg pernah ngalamin hal yang sama 🙂
    Cuma sampai sekarang aku masih belum ke psikolog, justru yg ada pengen kuliah lg ambil psikologi aja biar bisa ngadepin diri sendiri haha

    Reply

    1. Mantap kali mba.. aku semua gegara cinta, untung udah sayar

      Reply

  17. dengan cerita ini jadi sedikit tahu tentang perubahan dirimu (padahal ga kenal2, hanya sekilas) hahaha, tapi ini jadi pengalaman yang menarik, persepsi orang saat ke psikolog memang dikira gila dll padahal mah bisa juga karena banyak masalah dan butuh orang yang ahli. semoga menjadi manusia yang lebih baik lagi dari hari ke hari ya…salam

    Reply

    1. Betul banget kak biar tahu gimana mengatasi masalah karena pada dasarnya setiap manusia pasti punya masalah

      Reply

      1. Tapi lumayan kak sekali tes 500rb

      2. ah iya….lumayan juga sih

  18. Salam kenal

    Wah, soal cinta ya…
    udah ngak kehitung berapa kali saia jatuh cinta tapi gak pernah berani ngomong karena emang belum waktunya. Dan ngak kehitung berapa kali lihat si dia yang berganti dengan si dia yang lain hilang begitu saja karena raga tak mampu berkata. Heduh malah jadi curhat nih 😀

    btw kunjungin blog saya mbk sekedar baca baca tentang patah hati, artikel yang ditulis pas lihat si doi bersama yang lain.

    Reply

  19. kok aku pengen coba juga yaaaa 😀

    Reply

    1. Hahah boleh juga buat iseng-iseng

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.