Hello World!

Pariaman, 25 September 2018

"Siapa disini yang tidak pernah mengunjungi pabrik?" 
begitu pertanyaanku kepada Mahasiswa Campus 2 UNAND Payakumbuh. 

"Tidak pernah kak, makanya bawa kami kak", begitu jawab mereka

Sebagai alumni anak Teknik, aku sangat prihatin kepada adik-adik yang sedang menempuh pendidikan di Semester 7 tapi tidak pernah sekalipun mengunjungi pabrik. Artinya mereka sebentar lagi sudah tamat kuliah. Padahal pabrik besar seperti Semen Padang ada di Sumatera Barat. Akhirnya aku pun mengajak mereka mengunjungi Semen Padang di Padang, Sumatera Barat. Maklum sebagai orang yang pernah bekerja di Industri Semen selama 5 tahun 6 bulan, rasanya ada ikatan batin yang kuat dengan pabrik semen. Apalagi dulu sewaktu aku jadi mahasiswa mengunjungi pabrik ke pabrik itu sudah biasa. Kami mengunjungi pabrik itu dari satu pabrik ke pabrik lain mulai dari pabrik minuman, makaan, hingga minyak dan sebagainya.  Makanya pas mengetahui mahasiswa belum pernah mengunjungi pabrik rasanya gemes. Yang paling gemes lagi saat diajak semua pada sok semangat eh pas hari H yang ikut Alhamdulillah 16 orang saja dari 59 mahasiswa. Disitu aku merasa gemes tapi yasudahlah 😛

Study tour kami dimulai dari jam 6 pagi dari Payakumbuh lalu sampai di Padang jam 10 pagi. Di Semen Padang, kami mendapatkan informasi mengenai proses semen. Sayang kami tidak bisa melihat peralatannya. Melihat mereka antusias memberi pertanyaan itu membuat bangga, beberapa bahkan pertanyaannya lucu-lucu.

Barulah sekitar jam 2 siang setelah mengunjungi Pabrik Semen Padang kami jalan-jalan ke Pariaman karena sayang mobilnya telah di sewa selama 24 jam.

"Kak setelah ke Semen kita kemana?" tanya Indah kepadaku
"Ke Pariaman yuk kak", ajaknya

Aku sebagai manusia yang iya-iyaan sih ikut-ikut saja. Yang penting mereka senang :D.

Yang ikut tour terdiri dari Indah, Hesti, Inong, Zaki, Maulana, Teja, Bima, Nefri, Vika, Zilda, Inggrid, Lisa, Citra, Cintia, Firman. Yang ikut ini memang dari mereka sendiri yang mau karena tidak ada paksaan.

Bersama Anak Unand Campus 2 Payakumbuh di Pariaman

Perjalanan ke Pariaman begitu berliku. Saking likunya aku terbangun karena jalanan yang aduhai jelek. Mungkin jalanan ke Pariman merupakan jalanan terjelek yang pernah aku lalui di Sumatera Barat. Karena di benakku jalanan di Sumatera Barat merupakan provinsi dengan akses jalanan umum yang bagus kecuali ke Pariaman.

Teringat akan liburan ke Pariaman, aku teringat akan perjalanan 8 tahun lalu. Ketika aku memutuskan trip seorang diri ke Sumatera Barat selama 7 hari. Salah satu tempat yang aku kunjungi di Sumatera Barat waktu itu Pariaman bersama Nia dan adiknya. Kami bertiga naik kereta api kala itu, terus menikmati Pantai dengan makan nasi Lapau sambil menikmati Pantai. Rasanya itu tentram sekali. Eh siapa sangka setelah 8 tahun berlalu, aku memiliki kesempatan mengunjungi Pariaman kembali bersama adik-adik semester 7 mahasiswa Campus 2 Unand, Payakumubuh. Entah itu kebetulan atau memang Pariaman ingin kukunjungi 🙂

Kalau dipikir-pikir aku adalah manusia yang malas ke tempat yang sama. Seperti ke Pariaman karena sudah pernah sebenarnya anti ke tempat yang sama dua kali. Tapi karena bersama mahasiswa aku ikut saja. Siapa tahu ada yang berbeda. Benar saja, 8 tahun kembali lagi ke Pariaman sudah banyak perbedaan. Tempatnya yang lumayan bagus dan banyak pedagang. Parimana yang aku kunjungi sekarang sudah banyak yang berubah ke arah lebih baik, yang tetap sama adalah kapal yang ada di bibir Pantai.

Menariknya kami menikmati senja di Pariaman. Senja yang menurutku tidak akan sama. Bahkan dulu waktu ke Pariaman, aku tidak sempat melihat sunset di Pariama.  Pantai Pariaman tetap apik dan bagus. Tahu sendiri standar ke Pantaianku cukup tinggi, karena pernah tinggal di Kupang, NTT selama 10 bulan dimana warna lautnya biru dengan hamparan pasir putih. Pantai Pariaman lumayan bagus, tak sia-sialah datang untuk kedua kalinya.  Apalagi yang aku suka itu saat di Pariaman ketika mencoba jajanana khas Sumatera Barat.

Makanan khas Sumatera Barat yang aku coba di Pariaman adalah Langkitang dan Sala Lauak. Langkitang merupakan makanan dari cucut lalu dimasak dengan kuah bumbu yang enak. Harga satu porsi Rp5.000. Yang lucu cara makannya harus dihisap. Warna cangkangnya hitam, mirip seperti keong kecil. Waktu aku mencoba makanannya rasanya enak, padahal aku bukan penggemar keong-keongan. Tapi bumbunya itu nikmat sekali, saking enaknya aku tambuh 3 x loh.

Lain halnya dengan Sala Lauak, seperti bakwan tapi ukurannya kecil terbuat dari ikan. Aku kurang suka dengan Sala Lauak. Di Pantai Pariaman lagi-lagi aku kulineran, sama seperti 8 tahun lalu. Kalau 8 tahun lalu makan nasi, kali ini ngemil makanan khasnya. Terus kami juga memesan jus sambil menikmati pemandangan pantai. Benar-benar menikmati momen di Pariaman, jauh dari kata bosan.

Kalau aku memilih duduk sambil menikmati kulineran dengan pemandangan pantai, lain lagi yang dilakukan adik-adik mahasiswa ini. Sebagian ada yang duduk sambil menikmati pantai, sebagian ada yang berphoto, sebagian ada yang main pasir, sebagian ada yang keliling dan sebagian lagi ada yang mencari cangkang kerang. Gara-gara Zilda dan Cintia yang mendapatkan cangkang kerang warna ungu alhasil aku ikut-ikutan mencari cangkang kerang juga. Melihat tingkah laku mereka menikmati liburan mereka, aku serasa lupa umur loh.

Tak hanya itu biaya yang kami keluarkan untuk bis juga tergolong murah hanya Rp75.000/ orang dari Payakumbuh ke Padang dan sampai ke Pariaman.

Pariaman

Matahari tenggelam di Pariaman juga tak kalah mantapnya. Bulat dan warnya itu cantik! Serasa semua beban hidup itu tenggelam bersama matahari. Momen melihat sunset di Pantai Pariaman tak boleh dilewatkan jika berada di Sumatera Barat.

Kalau aku kembali ke Pariaman lagi untuk ketiga kalinya, dipastikan aku mau lagi apalagi makan langkitangnya dengan pemandangan pantai, benar-benar nikmat.

Ada yang sudah pernah ke Pariaman?

Salam

Winny

Advertisements

Posted by Winny Marlina

Indonesian, Travel Blogger and Engineer

13 Comments

  1. Terima kasih ya Win, sdh bimbing adik2 mhsw kunjungan ke pabrik, pastinya jadi bekal berharga buat mereka. Bonus piknik Pariaman pula. Salam

    Reply

    1. Iya kak mereka senang banget aku juga senang melihatnya

      Reply

  2. Saya belum kak.
    Lho itu jadinya lebih ke tour pribadi ya? Bukan acara kampus? Kalau dari kampus kan biasanya wajib.

    Reply

    1. Tour pribadi, tapi tetap suratnya dari kampus buat izin kunjungan

      Reply

  3. Saya ke Pantai Arta Pariaman 31 tahun lalu, hehe… Lama banget. Pasti sudah banyak berobah.

    Ah, pengen lagi kesana.

    Reply

    1. buset lama sekali ya uda.. baliak payii ka pariaman na 😀

      Reply

  4. Akuuu belum pernah sampe Pariaman. Hehe.
    Sala lauak aku pun gak suka. Kalo kakak ipar sajikan, aku makan 1 hanya untuk basa-basi. Langkitang aku belum pernah coba, kayaknya di Padang gak ada ya, Winny?

    Reply

  5. katanyaLangkitang ada di Padang kak tapi aku juga gak pernah nemu.

    Reply

  6. Winny lewat di ketaping ya?? jalannya emang jelek sih lagi diperbaiki. hehehe,..

    Aku pengin main ke hutan bakau di Pariaman. tapi nggak ada akses kendaraan umumnya … 😦

    Reply

    1. iya lewat situ eka. aku belum pernah ke bakau pariaman, kalau dirimu kesana aku ikut ya

      Reply

  7. pantai di sumatera barat emang bagus yach. dan masih bersih.

    sekarang winny pindah kesini kah? maaf aku sudah lama nga update kabarmu.

    Reply

    1. Aku pindah ke Payakumbuh kak :D,..
      Pantai di Sumatera Barat bersih-bersih kak

      Reply

  8. pernah mau naik kereta ke pariaman kehabisan tiket terus hehehe

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.