Hello World!

Sabang, 29 Juli 2018

Pagi hari aku dan adikku telah bersiap untuk menjelajah Sabang di hari terakhir. Bisa dibilang perjalanan Sabang kami ini merupakan perjalanan tercepat, maklum hanya 2 hari 1 malam, tidak puas. Namun karena adikku harus bekerja, sehingga walau sebentar kami benar-benar mencoba memaksimalkannya. Setidaknya jika ingin puas di Sabang harus minimal 4 hari.

Kami langsung check out dari penginapan dan menitipkan tas kami. Pagi-pagi aku sudah mengajak adikku untuk menuju ke Menara yang menarik perhatianku.

Ki, keta le tu Menara najegesan uligin, kataku
(Ki, yuk ke Menara cantik aku lihat)

Awalnya adikku tidak terlalu antusias. Namun karena aku meminta diantar ke Menara berwarna Putih akhirnya dia dengan setengah hati mengantarku ke Menara. Pas menuju Menara ternyata jalannya aduhai membingungkan. Cara masuknya dari samping sebuah tank dari Pertamina. Namun kami sungguh beruntung ke Menara ini, karena adikku langsung kagum. Pemandangan laut, suasana pagi dengan mendungnya serta menara nya sendiri seperti berada di Luar Negeri. Cakepnya itu kebangetan!

"Nasepan do rupana kan kak", begitu kata adikku
(Mantap ya kak)

Menara Sabang

Setelah dari Menara, aku dan adikku langsung mencari sarapan pagi. Lalu kami makan nasi gurih di dekat penginapan. Untuk sarapan berdua di pagi itu Rp40.000. Saat kami sarapan, hujan deras padahal waktu menunjukkan jam 9 pagi, Kami hendak meninggalkan Sabang sekitar jam 12 an, menyeberang ke Banda Aceh. Tapi jam 9 saja sudah hujan dengan senang hati menunjukkan kekuasannya. Aku dan adikku tentu menikmati sarapan kami. Bahkan kami sampai tambah makan dengan pindah ke warung sebelahnya. Kali ini aku makan mie Aceh, iya lagi-lagi aku puas makan mie Aceh selama di Sabang dan Banda Aceh. Adikku hanya makan martabak saja. Setelah kenyang barulah kami menghampiri salah satu teman blogger yang kebetulan berada di Sabang.

Kami janjian di dekat Monumen KM 0, padahal hujan lagi deras-derasnya. Sampe-sampe adikku gondok sendiri ketika kami mencari teman blogger itu.

“Nasemangatan ko kan?”, begitu kata adikku
(semangat sekali).

Iya aku dan adikku amat sangat berbeda sekali. Jika aku pergi entah kemana maka aku memiliki teman tidak seperti adikku yang memiliki teman terbatas. Sehingga adikku pusing betapa banyaknya temanku. Bahkan baru kenal aja bisa jadi teman hehhe 😀

Setelah bertemu maka kami bertiga menuju ke Sumur Tiga. Sumur Tiga adalah salah satu destinasi wisata di Sabang. Karena destinasi kami bakalan jauh dari Kota Sabang, alhasil adikku mengambil kembali tas kami lalu kami bertiga menuju ke Sumur Tiga.

Dalam perjalanan ke Sumur Tiga dari Kota Sabang itu memiliki jalanan yang lumayan bagus. Dan tidak sulit untuk menemukan Sumur Tiga. Menariknya masuk kedalam Pantai Sumur Tiga tidak bayar alias gratis. Ada tempat ayunan ala-ala di Sumur Tiga serta perpaduan warna-warni. Kami tidak bisa berenang, kami hanya mainan ayunan.

"Wi natagian kan marayun, masa kecil hurang bahagia", kataku
(Seru sekali main ayunan, masa kecil kurang bahagia)

Adikku hanya bisa senyum-senyum saat kami berayun dengan latar belakang Sumur Tiga. Tajir ya, main ayunan aja jauh-jauh ke Sabang 😀

Dari Sumur Tiga, lalu kami bertiga menuju ke Situs Lubang Jepang. Pemandangan ke Situs Jepang tak kalah indahnya juga. Degradasi birunya kelihatan padahal saat itu mendung. Sebenarnya kami hendak mencari situs Jepang Anoi Hitam, namun di tengah jalan ketemu situs Jepang merupakan kemujuran yang tak tereklakan.

Aku baru tahu kalau ternyata di Sabang ini dulunya merupakan pertahanan Jepang sehingga tak heran banyak sekali situs Jepang bertaburan di Sabang. Salah satu Situs Jepang yang kami jumpai di antara perjalanan dari Sumur Tiga ke Anoi Hitam, bertemu dengan situs ini. Situs ini memiliki sebuah pertahanan, sayang sudah dicoret-coret pengunjung.

Dari situs Jepang kami menuju ke Benteng Jepang di Anoi Hitam. Yang lucu pas sampai di Anoi Itam, tiba-tiba teman blogger kami mendapat pesan dimana mengurus Sertifikat km 0 Sabang sehingga kami balik lagi ke Kota Sabang. Untung jadwal perjalanan kami fleksibel sehingga kami leluasa kembali ke Kota Sabang.

Setelah mendapat Sertifikat KM 0 Sabang akhirnya kami kembali lagi dengan rute yang sama menuju ke Benteng Jepang di Anoi Itam.

Pemandangan di Situs Jepang

Setelah menempuh sekitar 12 km dari Kota Sabang, akhirnya kami sampai di Benteng Jepang Anoi Itam. Lokasi Benteng Jepang, Anoi Itam di sisi timur Sabang yang dulunya merupakan penyimpanan senjata Jepang.

Benteng Jepang Anoi Itam di Sabang di bangun antara tahun 1942-1945. Jepang datang ke Pulau Weh tanggal 12 Maret 1942.  Jepang kemudian menggali terowongan bawah tanah di sepanjang pantai sebagai benteng pertahanan, sehingg tak heran banyak peninggalan Situs Jepang di Pulau Weh.

Untuk menuju Benteng Jepang Anoi Itam di Sabang, kami harus melalui anak tangga. Tidak ada biaya masuk ke dalam Benteng Jepang Anoi Itam. Hal yang aku suka ketika mendaki ke Benteng Jepang Anoi Itam, jalannya unik dengan pemandangan kayu di dalam bangunan.

"Tahu gak ini pohon di atas batu mirip di Angkor Wat", kataku

Benteng Jepang Anoi Itam

Memang melihat pohon tumbuh di bebatuan, mengingatkanku akan Kamboja lebih tepatnya Ta Prohm, Kawasan Angkor Wat. Bedanya di Ta Prohm, pohonnya lebih dramatis kalau di Sabang lebih kecil.

Pas sampai di puncak Benteng Jepang, kami melihat sebuah ruangan dengan meriam sepanjang 3 meter. Bangunan usang ini dulunya sebagai pengintai musuh dari atas bukit. Tapi seriusan deh pas melihat pemandangan di Benteng Anoi Itam itu indahnya tak terkatakan. Hamparan laut dari Bukit, padahal mendung tapi begitu mempesona. Ingin rasanya lama-lama di Benteng Anoi Itam. Tapi karena mengejar pulang, akhirnya kami hanya sebentar lalu meneruskan ke Pelabuhan untuk menuju ke Banda Aceh.

Situs Jepang Anoi Itam

Rincian Pengeluaran di Sabang

09:00-10:00 Sarapan nasi gurih Rp40.000/2 orang, makan mie aceh Rp28.000

10:00-11:00 ke Sumur Tiga, ke Lubang Jepang, beli sertifikat KM 0 Rp40.000/ 2orang

11:00-12:00 ke Lubang Jepang

12:00-14:00 Makan Mie Aceh Rp27.000, kapal cepat Sabang-Banda Aceh Rp160.000

14:00-15:00 Sabang ke Banda Aceh

15:00-16:00 Pelabuhan ke Museum Tsunami Rp35.000

16:00-17:00 ke Terminal Bis Banda Aceh-Medan Rp460.000/ 2 orang

17:00-20:00 Dari Terminal ke ke Coffe Lauser, bertemu dengan Kak Yudi, Dicko dan Wulan (blogger Aceh). Minum Kopi Rp40.000

20:00-21:00 Ke terminal Bis Banda Aceh

21:00-09:00 Perjalanan Banda Aceh- Medan dengan Bis

Total Biaya pengeluaran di hari ketiga Sabang dan Banda Aceh: 763.000 / 2 orang

Tempat wisata yang dikunjungi di Banda Aceh dan Sabang: Lubang Jepang, Pantai Sumur Tiga, Tugu km 0, Museum Tsunami

Salam

Winny

Advertisements

Posted by Winny Marlina

Indonesian, Travel Blogger and Engineer

13 Comments

  1. ternyata jepang “mangkal” juga di Sabang ..

    Reply

    1. iya aku juga baru setelah ke Sabang

      Reply

  2. Orang kaya banget nih, naik ayunan aja sampe ke Sabang. Hahaha~

    Reply

  3. Win, kesana kemarinya naik apaa?

    Reply

  4. Someday mau ke sini juga. Belum pernah sekalipun nginjak tanah Sumatra kak. 🙂

    Reply

  5. wah menarik banget nih bisa keliling wisata sabang dalam sehari, bisa dicoba nanti kalau saya mau ke aceh 🙂

    Reply

  6. lobang jepang sekarang mulai dipugar, dan pemugarannya nggak keren pake banget kak! hiks

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.