Hello World!

Panyabungan, 1 Juli 2018

Kehemani ho tu Sampuraga so diligi ho aik milas i”, kata mamaku
(Pergi saja ke Sampuraga biar melihat air panas)

Maklum saja mamaku sedih dengan kondisiku yang memprihatinkan. Hari ini tepat dimana seseorang melangsungkan pernikahannya. Sementara aku masih menatap nasib yang tak pasti, padahal buat apa berputus asa apalagi berharap terhadap manusia yang telah menentukan pilihannya sendiri (curcol deh…)

Untungnya Bang Toni mau menemani ke Sampuraga bersama keponakanku Nisa. Sebenarnya sudah lama aku tahu Sampuraga tapi karena tempatnya yang jauh di Panyabungan serta tidak ada transportasi yang memadai jadinya keinginan untuk mengunjungi Sampuraga tidak pernah kesampaian. Bahkan seingatku aku pernah mengajak temanku Ilham traveling ke Sampuraga tapi apa daya tak jadi. Alhamdulillah di momen pas Lebaran, keinginan jalan-jalan ke Sampuraga dapat terwujud dengan Bang Toni dan Nisa.

Kami berangkat dari Padangsidimpuan jam 12 siang, sedikit lama memang jika menuju ke Sampuraga yang berada di Panyabungan. Kami sempat makan siang terus menuju ke Mandailing, Sumatera Utara, kami benar-benar berangkat jam 2 siang. Jaraknya lumayan jauh dari Padangsidimpuan, belum lagi kami tidak tahu dimana tepatnya lokasi Sampuraga. Dengan sedikit nyasar barulah kami sampai di Sampuraga sekitar jam 4 sore. Kami nyasar sampai ke sekolah Pesantren Purba padahal lokasi Sampuraga tidak sampai ke Purba.

Ketika kami memasuki Sampuraga, areanya tidak meyakinkan. Dari jalan sekitar 5 km, hanya papan seadanya sebagai petunjuk jalan. Beberapa kali kami menanyakan lokasi Sampuraga. Hingga akhirnya kami sampai juga kesebuah tempat yang mirip kebun.  Saat memasuki tempat dimana kolam air panas Sampuraga berada, seorang Bapak langsung berkata kepada kami, “uang masuk seikhkasnya”. Kemudian aku bertanya “sadia?” (berapa) yang kemudian si Bapak menjawab Rp15.0000 laku aku tawar Rp10.0000. Terus aku menyesal tidak menawar Rp5000 sehingga keponakanku Nisa mendumel, “Wiii ete songon umakku” (Tante kayak mamaku).

Uang masuk ke Sampuraga sebenarnya tidak ada karena memang bukan wisata umum yang dikelola oleh Pemda. Sampuragadimiliki perorangan, milik masyarakat lokal. Ciri khas Sampuraga itu air mendidih dalam satu kolam yang dipagari. Yang menarik dari Sampuraga justru legenda dari Sampuraga itu sendiri. Legenda tentang seorang anak yang malu terhadap ibunya dan tidak mengakui ibunya karena dia miskin. Saat pesta pernikahan sang anak, sang ibu datang namun anak tersebut malu mengakui sehingga ibunya sakit hati dan sehingga keluarlah air panas tersebut. Maka kisah anak yang tidak mengakui ibunya disebut Sampuraga.

Kalau dalam masyarakat Mandailing dan Angkola akan mengatakan kepada anaknya begini, “ulang ko songon Sampuraga da” (jangan seperti Sampuraga) ketika sang anak melawan orang tua. Yah sebelas dua belas kisah legenda di daerah lain seperti kalau di Sumatera Barat ada kisah Malin Kundang, maka di Sumatera Utara ada kisah si Sampuraga.

Sampuraga

Menariknya meski legenda, saat kedatangan kami di area Sampuraga itu terdapat 3 tempat yang dipagari di dalamnya berisi tanah yang mengeluarkan air panas. Baunya mirip Sulfur, serta sepanjang ke kolam utama kami juga melihat aliran panas di dekat Sungai. Area Sampuraga juga alamnya tak kalah indahnya, kami melihat sapi, bangau serta aliran sungai dan mata air panas. Sayangnya kesadaran masyarakat masih minim, sampah bertebaran dimana-mana, malahan lebih banyak sampahnya sehingga membuatku sebel dengan orang yang minta uang retribusi masuk tapi tidak berkontribusi dalam menjaga Sampuraga. Tulisan dilarang membuang sampah pun tidak berlaku, hanya sekedar papan pengumuman saja.

Nisa di Sampuraga

Meski Sampuraga tidak seindah yang aku bayangkan, tapi aku cukup senang berada di Sampuraga. Aku suka dengan alamnya, yang aku tidak suka adalah sampahnya. Apalagi kakak sepupuku mengatakan, “Wuih ngapain ke Sampuraga itu kan hanya hutan-hutannya”. Ternyata hutan-hutan itu lumayan cakep. Sebenarnya daripada dibilang hutan lebih tepatnya kebun karena banyaknya tumbuhan disekitar Sampuraga.

“Gari ita oban kan telur i de anso ita robus dison”, kata Bang Toni
 (Seandainya kita bawa telur terus kita rebus disini)

“Wii, naias ia da uda”, kata Nisa
(Gak bersih itu Uda)

Sampuraga

Oh ya pas kami di Sampuraga, Bang Toni sempat berpikiran untuk membawa telur dan merebus kedalam kolam Sampuraga. Namun kami tidak lakukan karena kami tidak menemukan telur. Kami malahan memandangi kolam utama Sampuraga yang hanya dibatasi dengan pagar kayu seadanya. Persis ditengah kolam, air tersebut berbau belerang dengan air yang mendidih. Saat kami menikmati kolam Sampuraga kemudian beberapa ibu membawa kacang dengan tongkat kayu ditangannya. Ternyata ibu-ibu warga local yang datang ke Sampuraga ingin memasak kacangnya di dalam kolam Sampuraga.

Seorang ibu masuk ke pinggir kolam Sampuraga dan mencelupkan kacang tersebut. Kami pun mengamati ibu tersebut. Aku sungguh takjub dengan tingkah laku sang ibu. Karena begitu banyak tempat yang aku kunjungi khususnya kolam air panas dengan khas Sulfhur tapi belum pernah aku melihat orang masak kacang langsung begitu. Ibu itu menunggu sekitar 30 menit agar kacang tersebut masak. Kami kemudian mengamati percobaan ibu tersebut. Percobaan itu tentu saja berhasil.

Sampuraga

Namun kami tentu tidak menunggu sampai kacang si ibu masak karena kami hendak menjelajah area lain dari Sampuraga. Tepatnya tempat yang berupa pesta ada ketika Sampuraga menikah. Terdapat bangunan usang di area Sampuraga. Area yang bergitu luas itu berisi tentang kisah zaman dulu seolah kejadian itu nyata. Aku sendiri tidak yakin apakah itu kisah nyata, namun yang pasti harus memetik pelajaran berharga dari Legenda itu untuk tidak durhaka terhadap orang tau apalagi sampai malu mengakui orang tua. Yang kalau orang tuanya lupa ama anaknya lain cerita…

Liburan di Sampuraga membuat angin segar bagiku untuk menatap kedepan karena menatap hidup itu melelahkan apalagi meratapi yang sudah pergi.. Karena kebahagian kita sendiri yang menciptakannya.

Aku dan Nisa di Sampuraga

Lokasi Sampuraga

Jalan Aek Godang No.16, Saba Jior,  Desa Sirambas

Panyabungan,  Kabupaten Mandailing Natal

Sumatera Utara

Salam

Winny

Advertisements

Posted by Winny Marlina

Indonesian, Travel Blogger and Engineer

10 Comments

  1. Jadi nama tempat Sampuraga ini diambil dari nama orangnya (yg namanya Sampuraga) itu ya, Kak Win.
    Menarik sih.
    Gapapa, Kak Win, nanti juga ketemu jodohnya. Ihik.

    Reply

    1. iya benar nama si Sampuraga

      Reply

  2. “Menatap nasib yang tak pasti” siapa bilang? Aku termasuk yang membuktikan jodoh terbaik datang tanpa diduga. Alih – alih menghitung kesedihanmu, bisakah menghitung kesenanganmu? Itu yang aku yakini tiap merasa sedih.

    Sampuraga kalo di Jawa kayak Ciater gitu ya. Aku rasanya sudah lamaaaa gak wisata ke kolam air panas.

    Reply

    1. Aku juga akan terapin untuk menghitung kesenangan. Makasih kak Frany

      Reply

  3. Tola do mangido WA mu kak.. adong got u sapai.. adong rencana ku got mangeksplore abola ita an dabo.. 😁

    Reply

    1. Tola tapi krm ma sian emailku da winmarch24@gmail.com naron ubalas pe sian i

      Reply

  4. Aku suka sekali baca tulisannya Winny, gara2 kapan hari nyasar di tips ke Instanbul jadi baca2 tulisan yg lainnya juga. Btw, aku juga prihatin objek wisata yang ditarik retribusi tapi sampahnya berserakan dimana2.

    Reply

    1. mari kita jadi turis yang menjaga lingkungan.
      Makasih Joana

      Reply

  5. pernah dengar sampuraga di buku bahasa indonesia SD 🙂

    Reply

    1. aku jadi penasaran buku SD nya

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.