Backpacker ke Vatican, Negara Terkecil di Dunia


Love yourself first and everything else falls into line

By Unknown

Hello World

Vatican, April 2017

Sebelum melakukan trip 1 bulan di Eropa, baca juga pengalaman trip 1 bulan di Eropa, jujur aku tidak mengira kalau Vatican berada di Italia dan merupakan sebuah negara. Dalam bayanganku Vatican hanyalah sebuah Kota yang dibenakku jika Natal dipastikan akan selalu tayang di stasiun TV dengan Paus yang melambaikan tangan lengkap dengan jubah putihnya berlatar Gereja megah Vatican. Bahkan Vatican bukan tujuan utamaku ke Eropa namun saat berada di Italia barulah aku sadar kalau Vatican itu berada dalam wilayah Roma, Italia. Jadi mumpung di Italia yah sekalian ke Vatican.

Vatican sendiri merupakan negara terkecil di dunia dengan luasan hanya sekitaran 0,44 km pesegi dengan populasi penduduk 850 warga negara artinya populasi penduduk paling sedikit di dunia. Untuk bentuk negaranya berupa Monarki dengan kepala negara Uskup Agung Roma yang merangkap sebagai pemimpin umat Katolik sedunia.

Vatikan, yang sepenuhnya berada di dalam wilayah kota Roma, merupakan negara terkecil di dunia dengan luas hanya 0,44 kilometer persegi. Bahkan sejak 11 Februari 1929 Vatican sudah menjadi negara independen.

Untunglah saat berada di Roma aku memiliki kesempatan mengunjungi Vatican, sehingga tidak sia-sia aku menghabiskan sisa perjalanan Erapa itu paling lama di Italia.

Untuk menuju ke Vatican, negara suci umat Katolik sangatlah mudah terutama jika sudah berada di Roma. Waktu itu aku  turun di Metro Ottaviano dengan sekali perjalanan biaya Metro sekitar 1,3 Euro, jika 1 hour pass 3 Euro dan 24 hour pass 7 Euro (kalau tidak salah, habis lupa). Namun bagi yang lama di Roma dan ingin menjelajah semua wisata Roma maka sangat aku sarankan untuk membeli Roma Pass sehingga puas keliling Roma serta menggunakan transportasinya. Bicara transportasi di Italia itu cukup mudah loh, semua ada mulai dari Metro, kereta hingga bus.  Mempelajarinya pun mudah tinggal lihat di peta transportasi di Roma.

Peta Transportasi Roma (Sumber: Romemap360)

Keberangkatan ke Vatican pun tergol0ng cukup pagi karena dipastikan ramai pengunjung serta antusias turis. Walau sebelumnya tidak kepikiran kalau yang mendatangi Vatican itu antriannya “panjang”. Jam 8 sudah berangkat dari penginapan dari Coloseum, Roma kemudian naik Metro ke Vatican. Tujuan seharian memang menjelajah Vatican, karena kapan lagi mengunjungi negara paling kecil di dunia.

Sesampai di Metro Ottaviano, tempat berhentian jika ingin mengunjungi Vatican maka sedikit berjalan kaki menuju ke Vatican.  Jalan kaki dari Metro Ottaviano cukup asik karena banyak penjual souvenir yang murah meriah sehingga tak terasa jalan kaki. Petunjuk arahnya juga mudah, lihat saja turis kemana dan tinggal ikuti saja.

Sesampai di Vatican, betapa kagetnya aku  karena antrian untuk masuk ke dalam Vatican itu panjang pakai banget “panjannggggggg sekaliiiiiiii”. Belum cuaca yang terik tapi dingin, maklum saat kedatangan ke Eropa musim semi jadi meski kelihatan panas namun cuaca bisa 12 sampai 15 derajat Celcius. Asli melihat antrian super panjang rasa malas untuk masuk ke dalam Vatican pun mulai menyusut.

Dalam hatiku ngapain juga antri lama-lama untuk melihat sebuah Gereja, serius ini adalah kekonyolan yang pernah aku lakukan dalam hidupku. Bahkan dari pertama kali sampai jam 9 pagi baru bisa masuk ke dalam gereja Vatican itu baru jam 12 siang, artinya sudah antri 3 jam. Untuk masuk ke dalam Gereja Vatican tidak dipungut biaya alias gratis tapi kalau mau cepat masuk tanpa ngantri maka harus bayar extra.  Aku sih ogah untuk membayar, mending ngantri walau dalam hati mendumel .

What is the good things that i can see inside the Vatican Church? tanyaku
That's the biggest and beautiful Church in the world, kata hostku
Trust me you will not regret once you enter it, katanya penuh semangat
Antrian Panjang ke dalam Vatican

Setelah 3 jam antri di St. Peter Square berbentuk zig-zag melebih zig-zag ular tangga, akhirnya tercium juga hawa-hawa pintu masuk ke dalam Gereja Vatican. Pengunjung harus melewati penjagaan yang ketat terutama tas dan badan melewati scanner. Barulah jika body detector tidak mengeluarkan bunyi yang mencurigakan dan petugas merasa pendatang aman maka diperbolehkan masuk ke dalam Gereja yang katanya terluas di dunia.

Masuk ke dalam Gereja, isinya seperti Gereja pada umumnya di Eropa, bedanya di Gereja Vatican terdapat karya Michael Angelo yang fenemonal “Sistine Chappel”. Tapi karena harus bayar lagi untuk melihat Sistine Chappel Vatican, jadi aku agak ogah untuk masuk, aku kan pecinta “hratisan”. Disinilah aku merasa aku itu turis kere tingkat dewa. Begitulah memang kalau tidak terlalu antusias, kalau antias semahal apapun pasti dibayar. Lagian karena aku sudah melihat lukisan di Louvre membuatku antusiasku dengan seni berkurang, toh sudah puas di Louvre, Paris.

Melihat mukaku datar saat masuk membuat kekecewaan bagi teman perjalananku. Serius bagiku mengunjungi Vatican itu sungguh sangat biasa sekali (terus dillempar sandal karena kata-kata ini).

Padahal Sistine Chappel Vatican atau disebut Cappella Magna, berasal dari Pope Sixtus IV tahun 1477 dan 1480. Namun karena cintaku pada Euro jauh lebih tinggi akhirnya ya sudahlah…

Pintu masuk Gereja Vatican

Di dalam Basilica St. Peter Vatican, ada satu hal mencuri perhatianku yaitu ketika pengunjung antri untuk menyentuh kaki dari patung  St. Peter di dalam  Basilica, bahkan warna emas dari patung sudah memudar saking banyaknya yang menyentuhnya. Konon St. Peter dan beberapa pemimpin kristen makamnya berada di dalam Vatican. Untuk benar atau tidaknya aku kurang tahu, tapi saat melihat isi dalam Gereja memang ada tanda-tanda makam di Vatican.

Di dalam Basilica St. Peter di Vatican terdapat ruang-ruang untuk umat Katolik yang ingin beribadah tapi bagi pengunjung tidak boleh mengambil photo saat orang beribadah di dalam Basilica St. Peter di Vatican.

Keunikan lain dari Vatican adalah petugas penjaga Vatican dengan seragam yang unik berada di luar Basilica. Di dalam Vatican juga terdapat beberapa tentara yang bertugas menjaga keamanan Vatican. Sayangnya aku tidak melihat Pope alias Paus, padahal keren juga bisa melihat Paus secara langsung, kan selama ini lihatnya di TV doang. Kalau ingin lihat Paus harusnya datang pas perayaan besar keagamaan tapi dipastikan ramai sekali 🙂

Di dalam Basilica of St. Peter in the Vatican
Basilica of St. Peter in the Vatican

Hal menarik lain yang tak kalah populer dari senyum manis Monalisa di Perancis, adalah ‘Pietà’, St Peters, Rome (1499–1500) yang merupakan karya dari Michelangelo Buonarroti sejak periode Renaisans (Renaissance). Peita ini ditempatkan pada sebuah ruangan kecil dengan pembatas kaca sehingga terlihat jelas dari luar, ukurannya pun kecil saja. Sehingga pengunjung akan melihatnya dari luar. Aku sempat harus bersabar sambil nyempil-nyempil diantara pengunjung lainnya. Untungnya pengunjung Vatican kondusif sehingga tidak ada adegan jambak-jambakan apalagi marah-marah, rata-rata tenang dan sabar menunggu antrian.

Come here, you should see Pieta, the Virgin and Christ, 
The Rome Pieta is an emotionally charged incarnation of a mother cradling
her lifeless son, katanya dengan semangat

Padahal seriusan kalau tidak dikasih tunjuk aku tidak tahu kalau Pieta ini sepopuler dengan Monalisa. Hal ini wajar karena Michelangelo dan Leonardo da Vinci masih dalam satu periode yang sama. Pantas saja banyak sekali pengunjung ke Basilica St. Peter di Vatican serta paling banyak antri di depan Pieta. Bahkan pengunjung rela berpanas-panas, antri demi masuk kedalam Vatican. Memang kebanyakan tujuan turis ke Vatican ialah beribadah. Sementara aku tujuannya ialah menambah daftar negara yang dikunjungi dalam bucket listku hehe 😀

Pietà

Rincian Pengeluaran di Vatican

08:00-09:00 Menuju Vatican Keliling Vatican

09:00-10:00 Antri sampai 3 jam demi masuk ke Vatican

10:00-12:00 Keliling Vatican dan melihat karya Michael Angelo

12:00-13:00 Makan Tonnarelli 11, 5 Euro

13:00- 14:00 Makan es krim dekat Vatican

14:00-18:00 Makan di Janta 20,25 Euro

18:00-20:00 Kembali ke penginapan

Biaya yang dikeluarkan di Vatican = 11, 5 Euro + 20,25 Euro = 31,75 Euro

Pemandangan dari luar Basilica of St. Peter in the Vatican

Selain melihat karya besar Michaelangelo, kegiatan di Vatican yang tidak boleh dilewatkan adalah mencoba es krim ala Italia yang super terkenal atau sering disebut “Gelato” tak jauh dari Vatican melalui pintu keluar tinggal lurus aja. Gelato di Vatican meruapakan gelato terenak yang pernah aku coba. Rekomended banget!

Menikmati Gelato dapat mengobati rasa capek setelah antian panjang masuk kedalam Basilica walau setelah itu amandelku pun kumat 🙂

Salam

Winny

Iklan

31 tanggapan untuk “Backpacker ke Vatican, Negara Terkecil di Dunia

  1. Hehehe, menurutku Basilika Santo Petrus di Vatikan itu gereja yang paling indah sedunia Win 🙂 . Dalamnya terasa grandeur banget, apalagi dengan skalanya yang raksasa itu. Dan masuk Sistine Chapel itu untukku worth it banget dengan harga tiketnya. Museum Vatikan tempat kapelnya berada juga keren banget, salah satu museum yang paling aku sukai 🙂 .

  2. Dulu saya juga pernah ke Vatikan Mbak, tapi kayaknya niat saya untuk masuk gak sekuat itu 😂

  3. Kamu mending meski kurang berminat tapi masuk juga kan.. Aku dan suami padahal udah punya tiket ekspres (yg ternyata antri juga meski tak separah yg biasa), akhirnya mundur teratur dan cuma foto-foto di luar.. Emang pada dasarnya minat ke situ kurang kuat sih😄

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s