Menikmati Pasar Tradisional dan Candi di Inle, Myanmar


“You will never find time for anything. You must make it.”

By Charles Buxton. M

Hello World

Myanmar, Februari 2017

Setelah puas melihat aksi Nelayan di Inle, kapal kami melanjutkan perjalanan menuju ke Pasar Tradisonal di Inle. Sepanjang perjalanan aku mengamati rumah apung yang ada di Danau Inle, Myanmar. Dalam hatiku “serasa di Kalimantan”. Dalam perjalanan, sesekali perahu kami berpapasan dengan turis di perahu, kadang kala perahu harus berhenti karena jalanan yang sempit. Kadang satu perahu harus mengalah agar bisa lewat. Sudah lama rasanya tidak menikmati pemandangan Danau yang berbeda. Bahkan saking menikmati berada di perahu kecil, sempat membuatku mengantuk, alhasil kutarik selimut yang disediakan guide kami untuk menutup kepalaku dari panasnya matahari. Pilihan menyewa perahu seharian demi wisata Inle memang merupakan pilihan yang tepat apalagi harga sewa seharian untuk kami bertiga lumayan murah. Yah itulah kadang gunanya jalan-jalan dengan teman karena bisa sharing cost.

Sesampai di Pasar Tradisional Inle, kapal kecil kamipun merapat. Dari kejauhan sudah terlihat di Puncak Bukit sebuah Pagoda dengan warnanya yang tak biasa, perpaduan antara kuning, putih dan cokelat. Waran kuningnya seperti emas sehingga ketika pantulan cahaya mengenainya membuat mata silau. Tempat pemberhentian kami bernama Taung Toe untuk melihat pasar dan Candi.

Ketika keluar dari perahu maka kami melihat jelas pasar tradisonal yang menjual berbagai hal. Yang terlintas dalam pikiranku teringat akan Indonesia. Karena waktu masih pagi saat kedatangan kami, maka di Taung Toe inilah kami langsung mencari makanan khas Myanmar. Alhasil setelah melewati jalanan setapak kecil dengan sisi kanannya Danau, kami berhenti di sebuah warung yang menjual aneka gorengan. Yang lucu gorengan yang kami beli itu bernama “Cireng” alias aci di goreng.

Aku, Melisa dan Ade pun memilih makanan sambil minum di warung berbaur dengan warga lokal. Saat makan anjing pemilik berkeliaran yang sempat membuatku takut, takut dijilat. Untuk sarapan ala gorengan Myanmur pun cukup murah hanya 2300 KS/3 orang. Barulah setelah kenyang kamipun melanjutkan perjalanan menuju ke Puncak Candi sambil melewati pasar tradisional.

Saat di Pasar tradisonal Taung Toe, aku sempat ngiler lihat mie namun apa daya karena mengejar waktu kami tidak berhenti. Kami malah berhenti saat membeli sarung khas Myanmar bernama “Longyi”.  Saat membeli Longyi, beberapa anak Myanmar mendekati kami, penasaran dengan kami. Padahal dari segi wajah, wajah kami mirip dengan mereka, bedanya kami tidak memakai thanaka alias bedak dingin.

Berada di Pasar tradisional Taung Toe menarik karena melihat aktivitas masyarakat lokal sehari-hari. Sehingga naik ke puncak CANDI juga menarik. Di atas bukit, banyak sekali Candi. Inilah candi warna-warni yang pernah aku kunjungi. Yang lucu saat kami berada di bagian Candi berwarna kuning, disini kami berbaur dengan turis asal Italy. Mereka kaget ketika Ade mengatakan kalau cameranya bisa mengambil photo 60 gambar dalam 1 menit. Bahkan saat kami berpose sesuka hati dengan Candi sempat membuat kami jadi bahan tontonan. Mungkin dia heran dengan tingkah narsis kami yang tingkat akut.

Saat di Candi juga kami masuk kedalam, seperti biasa sandal dan kaos kaki harus dilepas saat memasauki kawasan Candi di Myanmar. Di dalam Candi terdapat patung Buddha dan di dalam candi kecil di luar juga terdapat Candi lengkap dengant informasi dalam tulisan Myanmar yang tidak bisa kami baca. Memang informasinya minim namun terobati dengan pemandangan dibelakangnya.

Sayangnya perjalanan Candi di Taung Toe singkat namun seru, seru saat pengambilan photo. Bahkan pose ala-ala kami banyak sekali mulai dari photo ala Yoga, ala galau sampai ala Myanmar.

You just have 1 hour in this market, 
begitu kata guide kami dengan menunjukkan angka 1 di tangannya

Namun jangan tanya berapa lama kami di Pasar Taung Toe karena saat pulang kami harus buru-buru kembali ke kapal kami karena kami masih harus mencari wanita berleher panjang di Inle.

Rincian Pengeluaran Inle, Myanmar Hari Kedua

Bayar uang masuk ke Inle, Myanmar USD 10/orang

Naik tuk-tuk ke Muhi House 3000 KS/3 orang

Sewa Boat seharian Boat Tour Special Big Tour sunrise to sunset sightseeing Inle 30,000 KS/3 orang

Sarapan gorengan di Pasar Inle 2300 KS/3 orang

Makan siang di Inle 8000 KS/ 3 orang Tips boat 1700 KS/ 3 orang

Tips ke Nelayan Inle 5000 KS/3 orang

Tiket Bus malam dari Inle ke Bagan 18,000 KS/orang

Total Pengeluaran hari kedua di Myanmar

$10 + 1000 KS + 10,000 KS + 760 KS + 570 KS +  1600KS + 18,000 KS = $10 dan 31,930 KS

= 13640 KS + 31930 KS

= 45,570 KS

Tempat wisata yang dikunjungi di Inle, Myanmar

Sunrise melihat fisherman lengkap dengan gayanya yang unik, Taung Toe untuk melihat Market (Pagoda), In Paw Khon untuk melihat Silk and lotus weaving, Nampan untuk melihat Floating Village, Tobbaco and making boat, Phaung Daw OO Pagoda untuk melihat Buddha Image, Shwe in Den Pagoda untuk makan siang, Ywa Mah untuk melihat Long Neck Women Golad and Silver Umbrella, Kaylar (fisherman Village) dan tomato garden, Maing Thauk dan Nga Phe Chaung Monestery. 

Salam

Winny

Iklan

27 tanggapan untuk “Menikmati Pasar Tradisional dan Candi di Inle, Myanmar

  1. Waktu ke inle lake aku Terlewatkan mengunjungi pasar tradisional ini. Melihat foto-fotonya Winny dan candi yang kuning keemasan itu, bikin pengen datang ke sana lagi. Jadinya cantik banget

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s