Mingalabar Yangoon, Myanmar


I wash my hands of those who imagine chattering to be knowledge, silence to be ignorance, and affection to be art

By Kahlin Gibran

Yangoon

Hello World!

Maret, 2017

Pertama kali menggunakan pesawat Jetstar dari Bandara Changi, Singapore langsung ke Bandara Internasional Yangoon, setelah semalaman aku, Melisa dan Ade harus menginap di Bandara dengan AC super dingin, setidaknya bangku di Changi adalah saksi awal kegembelan kami demi menghemat pundi-pundi pengeluaran. Tidak ada yang spesial dari atas pesawat ketika melihat Yangoon, karena kami awalnya mengira dari atas akan melihat hamparan Candi. Ternyata tidak, dari atas kelihatan tandus.

Dengan tas backpack tanpa bagasi kami bertiga keluar dari Bandara menuju Imigrasi Myanmar, berharap ada turis lain untuk berbagi taxi dengan kami. Tapi tentu saja itu mustahil karena rute kami berbeda, kami ingin langsung ke Stasiun Terminal terdekat untuk membeli tiket bus ke Inle, pilihannya adalah dengan Taxi, jalan kaki atau bus. Untuk proses imigrasi Myanmar tidaklah terlalu ribet, bahkan petugas Imigrasi Myanmar enggan untuk sekedar menanyakan “where to stay in Myanmar“. Ada gunanya juga tidak terlalu ditanya karena mempersingkat waktu kami.

Waktu juga sudah menunjukkan jam 10 pagi, aku dan Melisa mencari tempat penukaran uang yang cukup mudah ditemukan di Bandara. Rate penukaran antara satu counter ke counter lain tidak terlalu berbeda paling beda 1 Kyat saja hingga akhirnya kami tukar uang 100 Dollar. Kurs $1 = 1364 saat kami tukarkan eh pas keluar sedikit dari mesin scanner bagasi di luar ternyata kursnya jauh lebih dihargai mahal 1 Kyat, terus kami nyesal nukar di dalam gara-gara beda 1 KS padahal milih nukar uang di dalam lamanya minta ampun, dasar pejalan fakir hahah 😀

Uang Myanmar

Setelah uang ada, kami PD keluar kemudian sudah banyak Bapak-bapak di luar mengerumuni kami bak semut bertemu gula.

Where are you going, sir? begitu tanya mereka
(dalam hati "sir"???)

Akhirnya kami memilih salah satu bapak taxi dan bertanya

How much to bus station?

8000 Kyat, jawabnya

No, 5000 Kyat is ok, kataku

Padahal harga 8000 Kyat itu memang ke tengah Kota namun karena tidak mau ribet dan ingin membeli tiket bus ke Inle, akhirnya pas si Bapak mau 5000 Kyat kami iyakan. Memang ilmu negoisasi dalam perjalanan amat sangat penting! Di dalam taxi kami begitu banyak ngoceh mulai dari harga semua serba 5000 KS hingga dimana bisa membeli Longyi untuk si Ade.

Yangoon International Airport

Yang menarik dari Bapak Supir Taxi kami sangat baik hati. Sesampai di Terminal Bus Aung Mingalar, Yangoon itu jam 12 dan artinya kami masih sempat jika ingin ke tempat wisata yang sudah kami buat seperti Sule Pagoda namun si Bapak mengatakan tidak keburu. Si Bapak juga dengan baik hati mencarikan kami tiket bus ke Inle karena tulisan di Myanmar itu kan gak terbaca karena pakai Aksara mirip cacing. Lucunya kami sampai mutar lebih dari 5x stasiun Bus Aung Mingalar yang cukup luas karena ada pasar juga di terminal ini.

Sir, where can we take food but please no pig? kata Ade
Makanan  aLA Warteg Myanmar

Karena sudah malas jalan kemana-mana, akhirnya kami lebih memilih untuk makan di terminal. Warungnya semacam Warteg atau bisa juga Warung Padang di Indonesia terus kami dihidangkan makanan tinggal pilih terus akan ditaruh di piring. Pilihannya warung dekat terminal, sebenarnya di warung ada jual B2 namun karena Melisa tahu persis sehingga kami aman untuk makan siang. Makan siang kami pilih adalah telur dan dikasih sayuran yang super banyak. Untung aku dan Ade bukan tipikal makan susah karena kalau tidak dipastikan kami tidak makan kalau jijikan. Melisalah yang berperan penting dalam memilih makanan kami karena dia tahu persis mana yang B2 mana tidak.

Setelah puas makan siang, tiket pun sudah ditangan maka kamipun iseng mencari tempat wisata Yangoon dekat Bus, tentu saja perhatian kami tertuju kepada sebuah Pagoda yang kami jumpain di tengah jalan menuju Terminal bus. Jangan ditanya teriknya mentari pas jam 12 itu, seolah kami tidak perduli dengan sengatan matahari, paling tidak kami tidak perlu menenteng tas kami kemana-mana karena tas sudah dititipkan di tempat bus yang akan naiki ke Inle.

Hati kami tenang karenatiket bus pun sudah di tangan karena PR sekali melihat tulisan cacing Myanmar dan semua kembali berkar taxi driver sehingga jalan kakipun meski padas seolah lupa.

Tujuan kami ialah Swe Taw Myat (Budddha Tooth relic Pagoda), yang lucu kami tidak tahu kalau Pagoda yang kami datangi itu adalah tiruan wisata di Myanmar.

Tiket di terminal

Masuk ke dalam Pagoda, sandal dan kaos kaki harus dibuka dan ditaruh di luar. Jangan sampai kelupaan karena jika memakai sandal atau sepatu atau hanya kaos kaki tok maka bisa heboh sesentaro penghuni Pagoda karena diangaap tidak menghormati Pagoda. Jadi siap-siap berpanas dan berterik ria kalau lantai Pagodanya panas sekali. Saat di Pagoda ada kejadian bule makai sandal di area Pagoda, terus direpetinlah/dimarahin dia oleh Petugas Pagoda, terus yang lucu saat si Bapak curhat ke kami dengan Bahasa Myanmar seolah kami mengerti apa yang dia bicarakan. Aku, Melisa dan Ade pura-pura ngerti dan sok asik aja dengan si Bapak, kasihan karena beliau curhat.

Nyeker

Pas keluar dari Pagoda sandal si Melisa masih ada, tapi kedua kali masuk lagi ke Pagoda gara-gara si Ade melihat minatur batu gantung.

Eh itu batu gantung kok tadi kita lihat ya kata Ade

Balik lagi yuk, katanya

Akhirnya kayak orang kurang kerjaan balik lagi kami dan baru “ngeh” setelah dua kali ke Pagoda yang sama kalau itu minatur wisata wajib visitnya Myanmar.

Nah pas kedua kalinya keluar Pagoda disitulah hilang sandal yang aku pinjam dari Melisa. Sandal Ade dan Melisa sih aman, nah sandal yang aku pinjam di tempat ibadah pula apa gak rasanya sial, mana jalanan panas نعوذ بالله من ذلك!

Spontan Ade dan Melisa ngecengin

Nya, jalan kaki lah kau di panas-panas ini, kata mereka

Akhirnya dengan bekal kaos kaki aku berjalan nyeker dari Pagoda ke Stasiun melalui jalanan mulai dari tanah, beraspal hingga trotoar. Melisa dan Ade lah teman dalam mencari sandal di Yangoon!

Any slipper, tanyaku

Dan mencarinya susah susah gampang hingga akhirnya ketemua

Nya, jangan lupa beli dua jangan gak tau diri sandal orang dipinjam diilangin, kata Ade mengingatkan

I buy two for these slipper, how much are they?

4400 KS, jawab si penjual terminal

Akhirnya hari pertamaku di Myanmar begitu berkesan karena adegan sandal hilang, selamat inggal 4400 KS, untung harganya gak jeti-jeti, kalau gak mabok darat dah daku 🙂

Rincian Pengeluaran Yangoon, Myanmar Hari Pertama

Menukar uang dari USD ke Myanmar Kyat  100 USD = 136,400 KS ($1 = 1364 Myanmar Kyat)

Taxi dari Yangoon International Airport ke Aung Mingalar Highway Bus Station 5000 KS/3 orang

Membeli Tanaka di Aung Mingalar Highway Bus Station, Yangoon 800 KS

Makan siang di Aung Mingalar Highway Bus Station, Yangoon 6200 KS/3 orang

Membeli sandal 2 buah di Aung Mingalar Highway Bus Station, Yangoon 4400 KS

Bus Malam Yangoon-Inle 15,000 MYK/orang Makan malam 850 KS/3 orang

Total Pengeluaran hari pertama di Myanmar

1700 KS + 2000 KS + 15,000 KS + 4,400 KS +  300 KS

= 23,400 KS

Tempat wisata yang dikunjungi di Yangoon

Swe Taw Myat (Budddha Tooth relic Pagoda)  

Salam

Winny

Iklan

45 tanggapan untuk “Mingalabar Yangoon, Myanmar

  1. Ternyata di myanmar ada juga maling sandal ha ha ha….. Kira in adanya di indonesia saja yang begituan.

    Ngomong2 myanmar juga dikunjungi. Nanti lama2 semua negara di asia akan selesai dikunjungi nih pada akhirnya.

  2. Tempat makan seperti warteg atau masakan padang memang selalu jadi alternatif makan saat berkunjung ke suatu tempat, karena biasanya harga yang terjangkau..hhe

  3. Aku suka omongan kak Ade ini “Nya, jangan lupa beli dua jangan gak tau diri sandal orang dipinjam diilangin, kata Ade mengingatkan.”
    Mungkin kalo aku jadi kak ade, aku ngomongnya sambil sedikit ngece kali yak. wkwkwkw

  4. Nya sandalnya ane ikhlas padahal nya. Hahaha. Bapak mana si bapak taxi baik hati. Penjaga pagoda yang lucu sampe2 ganti topik mulu. Berasa kita sama2 ngerti. Padahal kitanya cuma nyebut mingalabar, Jezuba, yes, no. Bapaknya terus lanjut cerita. Asik ya.

  5. Mbak maaf nih out of the topic,tapi saya mau nanya mbak pernah belum ke Maldives ? Atau justru sedang ada rencana kesana dalam waktu dekat ini mbak ?

  6. kayaknya kalau travelling backpackeran mesti sama orang yang agak cerewet2 gitu ya … dan biasa tawar2-an gaya di mangdu atau tanabang …. kalau ga begitu bisa kebobolan … dari turis backpackeran jadi turis gelandangan 😀

  7. Emang rame ya klo si pejalan udah brcerita, bahkan trkesan detil, wkwk…tp keren2…traveller sejati emang gitu.

    Btw, gmn sih dg si bule yg curhat k kalian pke bhs Myanmar itu smntra klian gak pham mksudnya tp klian pura2 ngerti dan asyik aja, pnasaran sy liat gmna reaksinya si bule itu ya,😁😁

    Oya, skrg masih on trip or dah tenang di Indonesia lg mbak Winny?

  8. Assalaamu’alaikum wr.wb, Winny….

    Semangat melihat Winny mengelilingi dunia membuat saya ingin melakukannya juga. Kini Yangoon jadi taklukan dan pemandangan di Yangoon masih menuju pembangunan. Apakah sukar mencari makanan halal di sana, Win ?

    Selamat dalam perjalanannya dan salam dari Sarikei, Sarawak. 🙂

  9. Wah, seru perjalanannya nih. Win, sendalnya dan kaos kaki harus ditinggal ya? Kan bisa dibungkus pake kresek masuk dalam tas tuh win biar nggak hilang. Btw, asyik juga ya bahasa saling tak ngerti tapinya kok kayak faham gitu ya.. hehehe, boleh dicoba nih dolan kesini

  10. wish list banget ini Yangoon.. pingin banget.. Tapi ilmu tawar menawar saya payah tingkat dewa.. atau mungkin harus bareng temen yang pinter nawar kali ya.. hehehe.. Btw , salam kenal mba…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s