Perjalanan Pulang


Those we love and lose are always connected by heartstrings into infinity

By Terri Guillemets

danau toba

 

Hello World!

Bayah, 10 Februari 2016

Jam 10 malam ketika hujan turun dengan derasnya seolah sedang bersedih sementara aku sedang berada di Bayah yang kebetulan hari ini ulang tahun si daboo. Entah kenapa dalam perjalanan dinas ini aku lupa membawa charger hp seperti biasa tapi karena berpikir tidak akan ada orang yang mencariku maka aku tidak membeli charger baru walau aku lumayan jauh dari Jakarta.

Satu hari sebelum perjalanan entah kenapa aku menyakan kepada ibuku mengenai baju yang aku kirim kepada nenekku. Lalu ibuku mengatakan kalau nenekku kondisinya sudah mulai memburuk. Dengan cemas aku menanyakan apakah aku harus pulang ke Padangsidempuan. Tapi ibuku menghiburku untuk tidak pulang menunggu berita selanjutnya mengingat betapa jauhnya aku dari kampung halaman.

Malangnya hpku mati total keesokan harinya hingga pada tanggal 11 Februari jam 9 malam ketika aku mecharger handphoneku barulah aku mendapatkan sebuah sms dari ibuku dan adikku berisi “nenek telah meninggal dunia”.

Inna lillahi wa inna ilayhi raji’un

 إِنَّا للهِ وَإِنَّـا إِلَيْهِ رَاجِعونَ‎

“Surely we belong to Allah and to Him shall we return”

Sontak aku menangis dan mengutuk kenapa aku tidak membawa chrager hpku dan aku berada jauh dari rumah. Untuk pertama kalinya aku tidak suka jauh dari kampung halamanku, aku kehilangan orang terkasihku. Aku kehilangan sosok yang telah merawatku dan adikku selama 15 tahun  mulai dari aku umur 3 tahun hingga tamat SMA. Mungkin bagi sebagian orang kehilangan nenek biasa saja, tapi tidak buatku. Nenekku itu sosok yang hebat yang mengajariku akan kemandirian. Nenekku yang meninggal usianya 94 tahun dan sudah mengalami strok selama 5 tahun karena meninggalnya anak lelaki tertuanya. Walau lumpuh nenekku masih bisa berbicara, makan sendiri, duduk dan tidur hanya saja tidak bisa berdiri.

Sewaktu kecil aku bersama nenekku, beliau sangat tangguh. Meskipun semua anak nenekku rata-rata pegawai negeri, tapi nenekku tidak pernah meminta uang kepada anaknya yang ada nenekku memberikan uang kepada anak bahkan cucunya. Termasuk aku dan adikku yang paling beruntung memiliki sosok nenek yang berhati mulia sedunia. Dulu ketika aku tidak memiliki uang kesekolah nenekku yang memberikan uang padahal beliau dalam kesehariannya berkebun dan uang dari hasil sawahnya serta uang pensiunan yang tak sebarapa dari almarhum kakekku. Tapi nenekku tidak pernah menyusahkan orang malahan orang yang menyusahkan dia. Nenekku tidak pernah merepotkan orang, sosok yang mandiri dan sederhana.

Aku sendiri paling bersedih setelah adikku tentunya karena beliau belum melihatku menikah dan janji untuk membawanya Umroh juga belum terlaksana. Yang paling sedih lagi, aku jauh sekali dari kampung halaman, aku berada di Pulau Jawa ketika beliau meninggal. Tanpa sempat untuk mengucapkan terimakasih atas pengorbanan dan jasanya kepadaku. Begini rupanya rasanya kehilangan orang yang disayang, sedih yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

Rabu malam jam 10 nenekku menghembuskan nafas terakirnya dan aku baru tahu jam 9 malam di hari kamisnya ketika dia dikubur jam 4 sore dan aku berada di BAYAH, 6-8 jam perjalanan dari Jakarta. Malam itu juga aku tidak mungkin menyuruh Pak Supir untuk mengantarkanku ke Jakarta, terpaksa aku menunggu keesokan harinya ke Jakarta. Untungnya daboo yang berhati malaikat telah membelikan tiketku pulang. Karena jujur saja, uangku tidak ada lagi berhubung baru saja membayar uang kuliah, tukar ke rupee dan lainnya. Untuk pertama kalinya juga aku menyesal tidak memiliki uang chas karena jika ada sesuatu hal sangat penting. Akibat parno kehilangan uang tabungan bulan novermber 2014 lalu membuatku tidak suka menyimpan uang banyak lebih kepada investasi akibatnya pas ada butuh investasi tidak bisa ditarik. Maka aku bersyukur memiliki daboo yang baik hati, paling tidak aku bisa bertemu dengan nenekku walau hanya makam saja. Aku sungguh merasa bersalah!

Jakarta, 12 Februari 2016

Barulah pagi harinya jam 7 pagi aku berangkat dari Bayah ke Jakarta dan sampai ke Jakarta jam 2 siang sementara pesawatku ke Kuala Namu jam 8 malam. Aku sempat berkemas di kosan mengambil barang seperlunya, menuju ke Bandara Halim Perdana Kusuma dengan batik air. Saat itu hujan turun deras dan aku ke Bandara dengan Gojek, seakan alam turut berduka. Sedihnya lagi sampai di Bandara Kuala Namu jam 22.30 malam dan naifnya aku mengira aku bisa ke Padangsidempuan.

Aku mencoba menghibur hati dengan menggoogle “cara ke Padangsidempuan dari Kuala Namu”, “jam 11 malam ke Padangsidempuan dari Medan”, “transportasi dari Medan ke Padangsidempuan jam 11 malam”, hasilnya membawaku kepada tulisanya pengalaman 72 jam dengan ALS yang sontak membuatku nyengir pada diri sendiri membuat tulisan yang tidak mutu. Aku sebenarnya tahu kalau keberangkatan paling lambat ke Padangsidempuan itu jam 9 malam syukur-syukur jam 10 malam dari Jalan Sisingamangaraja, Medan. Tapi naif dan ingin bertemu dengan nenekku yang telah tiada membuatku bodoh! Alhasil aku mencoba menanyakan kepada seorang yang menawarkan jasanya Rp150.000 ke kampung lalang karena katanya masih ada ke Padangsidempuan. Tentu saja aku tahu si kawan hendak membodohiku alhasik aku naik DAMRI dari Bandara Kuala Namu ke Medan. Jam 12 malam barulah sampai ke Medan dan terpaksa aku menginap di Medan untuk melakukan perjalanan ke Padangsidempuan keesokan harinya.

Medan, 13 Februari 2016

bandara kuala namu
Bandara Kualanamu

Jam 7 pagi aku sudah terbangun dari tidur ayam yang tidak bisa tidur. Jam 3 pagi tadi baru bisa tidur setelah menginap di rumah sepupuku lalu aku diantar ke travel menuju ke Padangsidempuan. Awalnya hendak pergi dengan travel Taxi Kita yang melayani rute Medan-Padangsidempuan, tapi karena berangkatnya jam 10 pagi akhirnya aku memilih dengan Simpati yang berada satu kawasan juga di Jl. Sisingamngaraja Medan, tempat membeli tiket ke Padangsidempuan. Jadwal keberangkatan ke Padangsidempuan dari Medan mulai dari jam 8 pagi , 9 pagi, 2 siang, 8 malam dan 9 malam jika dengan taxi alias mobil yang mirip L300 dengan lama perjalanan Medan-Padangsidempuan 10-12 jam perjalanan. Aku berangkat dari Medan ke Padangsidempuan dari jam 9 pagi namun sampai di Padangsidempuan jam 8 malam dengan harga tiket Medan ke Padangsidempuan Rp150.000. Hanya ada 8 orang penumpang saja dalam mobil. Hingga akhirnya jam 8 malam ketika sampai ke kampung banyak sekali orang yang mengaji dan untuk pertama kali aku ikut tahlilan.

Padangsidempuan, 14 Februari 2016

Kuburan nenekku
Kuburan nenekku

Setelah 6 jam perjalanan darat Bayah-Jakarta, dengan pesawat udara Jakarta-Kualanamu selama 2,5 jam, lalu 1 jam dengan Damri dari Bandara Kualanamu ke Medan lalu dari Medan-Padangsidempuan dengan perjalanan darat selama 12 jam maka yang aku lihat hanyalah kuburan nenekku. Kuburannya masih baru tanpa ada batu nisan, hanya ada batu, kalau orang tidak tahu tidak akan tahu siapa yang berada disana. Hatiku luluh lantah, tidak ada kata yang menggambarkan penyeselan terdalam. Tapi aku tidak boleh larut dalam kesedihan karena setiap yang bernyawa akan kembali kepada Ilahi. Mungkin memang sudah waktunya nenekku harus diambil dariku. Kini yang aku bisa lakukan hanya berdoa kepada Yang Kuasa semoga nenekku dihindari dari siksa Kubur. Yang pasti saat nenekku meninggal, beliau sempat mengucapkan dua kalimat syahadat! Dan aku sebagai cucu yang dibesarkannya merasa kehilangan sekali tapi dia akan tetap di hatiku karena aku sangat mencintai Nenekku!

Nenek yang menginspirasi dan menjadi panutanku!

Salam

Winny

 

 

Iklan

63 tanggapan untuk “Perjalanan Pulang

  1. Walau keinginann nenek melihat cucunya yg pelancong duduk dipelaminan belum kesampaian, yakin nenek pasti bangga pada cucunya ini.
    Semoga beliau diberikan tempat istirahat yang terbaik di rumah-Nya.

  2. Innalillahi wa innailaihi rojiun.
    Turut berduka ya Winny.. Semoga nenek mendapat tempat terbaik di sisi Alloh & keluarga yang ditinggalkan, termasuk Winny, selalu diberikan keiklhasan & kekuatan. Aamiin.

      1. Sedih banget. Tapi kalau beliau sudah mendapatkan akhir yang baik (menyebut nama Allah ketika berpulang) kita patut bersyukur dan jangan lupa sering-sering mengirim doa supaya menjadi amal baginya disana, Insya Allah. 🙂

  3. Turut berduka cita mba Win. Jadi inget nenek 😦 minggu lalu ketemu dan nyuruh aku cepetan nikah sama punya anak sebelum beliau meninggal 😦

    Lah….. Ku sedih.

    Jodoh mana jodoh.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s