Liburan singkat ke Kampung Naga dan Situ Gede Tasikmalaya


“I knew the second I met you that there was something about you I needed. Turns out it wasn’t something about you at all. It was just you.”

Beautiful Disaster by Jamie McGuire–

Kampung Naga Tasikmalaya
Aku dan Tim di Kampung Naga Tasikmalaya

Hello World

Tasikmalaya, Agustus 2015

Selesai mendaki dari Gunung Galunggung maka kami berlima beserta pak supir angkot makan siang di Saung Singa Parna yang berlokasi Jl Bojong Koneng. Tempat makan siang yang kami pilih lumayan cakep dari luar berupa pondok sehingga terkesan sejuk. Selain itu ada kolam ikan terus duduk lesehan di dalam pondok yang mengingatkanku akan pengalaman jalana-jalan ke Bandung sama Santo waktu dulu sekitar tahun 2011an. Lalu kamipun melihat menu terus memilih makanan khas Tasikmalaya berupa nasi timbel. Sarta sempat kaget melihat harga di buku menu karena harganya cukup bersahabat yaitu Rp18.000 untuk satu porsi nasi timbel lengkap. Nasi timbel sendiri sebenarnya nasi di dalam pelepah pisang kemudian pake ayam goreng, tahu dan tempe dan khasnya ialah terdapat kelapa goreng di dalam makanannya. Untuk biaya makan kami berenam (Aku, Sarta, Santo, Melisa, Indra dan pak supir) Rp161000 plus jus. Lumayan murah ya terus makanannya enak dan dimakan pas setelah capek mendaki di Galunggung!

makanan khas tasikmalaya
Nasi Timbel makanan khas tasikmalaya

Setelah makan maka kamipun diantar Pak Supir ke Kampung Naga Tasikmlaya. Nah saat di kampung Naga ada seorang bapak yang menawarkan jasa tour guide dengan uang seikhlasnya. Tapi anehnya uang seikhlasnya itu dipatok Rp75000. Kami kira awalnya tidak apa kalau tidak ada tour guide karena banyak baca pengalaman orang ketika mengunjungi kampung Naga tidak menyebutkan kalau hendak ke Kampung Naga wajib adanya tour guide. Terus lucunya si bapak itu mengatakan kalau tidak pakai tour guide juga tidak apa-apa. Awalnya kami ok-ok saja pake tour guide tapi males ketika seikhlasnya eeh dipatok. Terus kami bertanya apakah boleh masuk tanpa tourguide dan si bapak malah tiba-tiba menyuruh kami pergi dengan temannya. Lalu dengan halus kami menolak untuk tidak menggunakan jasa tour guide. Geram atau apa si bapak esmosi terus menyuruhku untuk tidak membawa camera kedalam kampung Naga dengan alasan ada tempat yang boleh diphoto dan ada yang tidak. Terus berdebat kusir yang gak jelas hingga ada kata “Kalian tidak diundang ke Kampung Naga, pulang saja, kampung naga bukan tempat wisata”.

Aku lalu menatap temanku dengan perasaan entah berantah. Kebayang lah ya diusir ama orang gak jelas hanya karena kita menolak di tour guide tin. Dalam hatiku yah nasib banget sih perjalanan ke Kampung Naga, sakitnya tuh di kepala…

Pengunjung kecewa!

Kampung Naga
Kampung Naga

Aku ambil segi positivenya aja mungkin kami pas datang kesini pas kurang beruntung aja. Untungnya teman-temanku baik dan pengertian dan memang bukan tipikal penyuka adat budayaan jadi ketika si bapak dengan angkuhnya mengusir kami, maka kamipun pergi saja walau jujur saja Bete banget. Bukan apa-apa kebanyakan blogger yang pernah aku baca mulus-mulus aja masuknya pas giliran kami kayak kena junk. Tapi yasudahlah belum rezeki aja!

Terus aku pun godaain Sarta “capek-capek ke Kampung Naga padahal di Sumut banyak juga tu kampung terus kita diusir lagi”. Terus Sarta bilang iyasih tapi ke Sumut mahal di ongkos!

Begitulah jadinya pengalaman kami diusir dari Kampung Naga karena tidak mau menggunakan jasa si Bapak.

Dengan kaki seribu maka kamipun meninggalkan kampung Naga lalu kami berlima diam di dalam angkot, si supir angkot ngoceh dengan Bahasa Sunda tapi kami sudah tidak meladeni. Hanya Indra saja yang meladeni si supir angkot kami. Terakhir supir angkotnya membawa kami ke Situ Gede!

Kampung Naga Tasik
Bapak yang mengusir kami di Kampung Naga Tasik

Sesampai di Situ Gede lagi-lagi kami kecewa karena airnya menyusut jadi perjalanan yang kami lakukan tak seindah yang kami bayangkan. Paling tidak di Galunggung lumayan menyenangkan! Terus untuk mengobati kebetean akhirnya kami berlimapun minum kelapa muda seharga Rp6000 sambil memandangi Situ Gede dalam musim kemarau. Mimun kelapa di Situ Gede itu lumayan mengobati kekecewaan loh!

Nah setelah itu kamipun memutuskan untuk pulang saja dan kembali ke Jakarta karena jam sudah menunjukkan jam 4 sore. Dari Situ Gede kami diantar ke pool/terminal bus Budiman yang ternyata lokasinya dekat. Merasa dibodoh-bodohin dan tidak puas alhasil awalnya hendak memberikan Rp300.000 jadinya hanya Rp250.000 karena si pak supir juga tidak ikhlas banget dalam mengantar kami karena jawabannya selalu jauh padahal sebenarya tidak jauh bahkan wisata yang hendak yang kami kunjungi berakhir ke hal yang tidak menyenangkan. Awalnya si supir tidak mau hasus memberikan uang tambahan Rp20000 lagi tapi karena uang kami tidak ada lagi terus ATM rusak pula maka si supir pun pulang dengan muka kusut. Soalnya kami kehabisan uang!

Puncak kelucuan ialah ketika berada di pool bus Budiman jadi uang kami pas doang karena teman-temanku juga bawa uang sesuai itenary yaitu pas Rp250.000 pas jadinya ketikapulang kami mengumpulkan uang receh untuk bayar ongkos kami berlima hahahaha 😀

Alhasil kami kumpul uang untuk ongkos pulang hingga akhirnya bus kami datang yang awalnya bus executive jadinya naik businis terus ada kembalian Rp5000 dan mendapatkan uang Rp5000 itu senang sekali saking tidak ada uang di tangan kami hahahah 😀

Oh ya aku, Sarta dan Melisa bahkan mandi di toilet yang ada di pool Bus Budiman. Toiletnya bersih jadi nyaman saja untuk mandi. Lumayan mandi karena dari pagi tidak mandi jadi kami memanfaatkan fasilitas dan tidak lupa membayar Rp2000 dari hasil sisa uang Rp5000.

Lalu kamipun saling ketawa karena keadaan kami yang susah. Kocak sih ada uang tapi tidak bisa diambil. Terakhir Santo ngoceh “Gak rugi Win jalan samamu” hahaha 😀

Overall perjalanan kami ke Tasikmlaya campur aduk senang, kecewa lucu gembel dan yang paling penting kebersamaan! Liburan singkat one day Tour Tasikmalaya pun berakhir dengan lucu-lucu.

Situ Gede
Situ Gede

Tips perjalanan ke Tasikmalaya ala backpacker

  1. Kalau mencari tukang angkot jangan  mau ambil tukang angkot yang ngikutin serta kelihatan banget ngebet dari awal karena biasanya angkot seperti itu berakhir kepada ketidakpuasaan. Kalau hendak sewa menyewa harus jelas serta sebaiknya sewa mobil saja kalau ramai-ramai atau menggunakan angkutan umum biasa.
  2. Kalau hendak ke Kampung Naga wajib menggunkaan jasa tourguide dan jangan sekali menolak tourgudie mereka langsung iyakan saja daripada nasibnya sama kayak kami diusir serta siapkan uang seikhlasnya minimal Rp50.000
  3. Untuk ke Situ Gede tidak direkomedasikan ketika musim kemarau karena pada waktu kedatangan kami airnya tidak ada kemudian persis seperti rawa yang tidak terawat
  4. Makanan di Tasikmalaya lumayan enak dan harganya cukup terjangkau jadi penyuka lalap-lapan maka akan senang di Tasikmalaya
  5. Kalau hendak ke Galunggung kalau dari terminal Indihang naik angkot dengan biaya perjalanan Rp10.000-Rp15000 sekali jalan terus dialnjutkan dengan naik ojek dari kaki Gunung Galunggung tepat didepan anak tangga menuju Kawah Galunggug dengan ongkos ojek Rp25.000 pulang pergi.

Ada yang pernah diusir dari Kampung Naga selain group kami?

Salam

Winny

Iklan

33 tanggapan untuk “Liburan singkat ke Kampung Naga dan Situ Gede Tasikmalaya

  1. Wah saya jadi kasihan kok bisa diusir begitu saja. Jadi perjalanannya sia-sia donk. Sudah jauh jauh eh malah kecewa. Pasti rasanya ga enak ya? Sedang sial. Mungkin kurang beramal he he he

  2. Memangnya Kampung Naga ini terkenal dengan apanya sih Mbak? Saya agak menyayangkan ulah oknum masyarakat yang seperti itu, malah tidak welcome dan kesannya memaksa banget untuk pakai tour guide. Yang ada pengunjung malah ogah ke sananya. Tidak sapta pesona banget, kalau kata orang :hehe. Yah yang penting Galunggungnya keren, Mbak :hehe. Dan kalian memang akan terkenal jadi traveler yang hemat banget, salut!

  3. Mending ada yang standard in harga deh, daripada seikhlasnya, tapi malak. Ini juga salah satu problematika pariwisata indonesia, serba nggak jelas. Jadi mau dipromosiin kayak apapun, kalau ada oknum yang kayak gini ya bakal rusak deh 😐

      1. Sebenernya bisa tinggal masuk aja. Tapi ya ada beberapa pantangan, misalnya hari-hari tertentu ga boleh masuk terus ada bangunan yg ga boleh difoto, ada barang yg ga boleh dibawa, dan ini ya butuh si guide tadi.
        Ngasih seikhlasnya tadi ya minimal 50 rebu sih. Kalau mau gratis harus kenal warlok di sana sih.
        Ngomong2 soal kampung adat Sunda, di Bandung Selatan juga ada loh. 😎

  4. Yaampyun itu Bapak. Mematikan potensi wisata banget sih. Baru kali ini gw baca kr Kampung Naga harus pakai guide dan orang diusir Wyn. Makasih ya ceritanya..

  5. Beneran kamu diusir, atau memang salah paham saja nih?

    Waktu aku ke sana ramah-ramah semua koq orangnya. Memang di Kampung naga itu harus pakai guide, karena disitu banyak tempat-tempat yang mereka sakralkan dan harus diberi penjelasan tertentu. Benar ini bukan desa wisata yang nggak bisa didatangi begitu saja, karena setiap orang yang datang semestinya mendapat edukasi tentang budaya dan wilayah. Guide ini pun ada paguyubannya yang mereka dididik untuk bisa memberikan penjelasan yang benar untuk pengunjung yang datang tentang desa mereka. Bagaimanapun, ini adalah tempat bertinggal mereka dan kehidupan sehari-harinya.

    Banyak banget cerita yang bisa didapat dari guide ini, dia bisa bercerita luar kepala sepanjang sekitar 2-4 jam aku keliling, bahkan dijamu di rumahnya juga.
    bisa dibaca koq di : http://tindaktandukarsitek.com/2013/10/15/kampung-naga-dalam-uraian-uriya/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s