Catatan Perjalanan Hari Pertama Beijing “Forbidden City dan Tiananmen Square”

Tianmen Square

And let not your hand be tied (like a miser) to your neck, nor stretch it forth to its utmost reach (like a spendthrift)

[al-Isra’ 17:29]

forbidden city china
Forbidden City China

Hello World!

Beijing, 5 Juni 2015

Waktu menunjukkan jam 2 pagi waktu China ketika sampai di Beijing Capital International Airport. Proses imigrasi tidak sulit sehingga memudahkan awal perjalanan trip ke Beijing. Rencananya ingin menggunakan bus malam tapi kemudian membatalkannya karena rasa ngantuk yang tak tertahankan. Akhirnya mencari gretongan tempat duduk empuk kemudian tidur di ruang tunggu bandara menunggu sampai jam 7 pagi, jadwal dimana bus pertama beroperasi. Untungnya penginapan murah di Beijing telah dibooking jauh-jauh hari seharga 50 Yuan berupa kamar dormitory. Penginapan murah di Beijing bernama Feel inn hostel yang beralamat di Ciqiku Hutong 2 dekat dengan Tiananmen Square serta forbidden city.

Jika dilihat dari rute bus Beijing seharusnya tempat yang paling dekat dengan penginapan itu berada di Beijing Hotel International, jadi memutuskan untuk menuju kesana. Keluar dari bandara maka mencari tempat pembelian tiket bus maka nemulah di bagian keluar. Cukup mudah menemukan tanda “bus atau sekedar kata airport express” dipintu keluar. Sayangnya jam operasi airport express cuma sampai jam 11 malam terus harganya 25 Yuan. Jika aku ingin ke Tiananmen East tempat penginapan berada maka aku harus membayar tiket busway lagi seharga 3 Yuan. Jadi aku lebih memilih naik bus saja turun di Beijing International Hotel yang searah dengan Beijing Railway Station.

Sayangnya karena kendala perjalanan di China ialah lagi-lagi Bahasa, maka saat aku membeli tiket ke dekat dengan tujuan Forbidden city mengalami kesulitan sehingga harus menunjukkan gambar di peta yang telah aku ambil di bandara.  Agak perjuangan memang untuk mendapatkan tiket bus dari Bandara Beijing ke Beijing International Hotel dengan harga bus ke Beijing Railway station seharga 24 Yuan. Untuk menuju ke Forbidden area dari bandara Beijing maka bisa menggunakan bus dengan Nomor antrian 3. Waktu kedangatangan ke Beijing kebetulan cuaca dingin dipagi hari maka ketika menunggu bus 10 menit saja terasa sekali. Lalu bus datang dan menunjukkan tiket yang sudah dibeli yang pasti hendak ke Beijing Hotel International karena rute itulah yang paling dekat dengan area Forbidden city. Eeh saking gak ngertinya tentang Bahasanya akhirnya malah nyasar ke Beijing railway station.

bus bandara beijing
Bus Bandara Beijing semacam DAMRI

Akhirnya mau tidak mau, maka harus berjalan kaki mulai dari Beijing railway station ke area Hutong. Bayangkan baru nyampe di China tidak tahu petunjuk, orang-orangnya tidak bisa berbahasa Inggris malah mencari jalan sendiri dengan modal HP. Kalau dibayangkan jalannya jauh sekali lumayan lah 1 jam perjalanan untuk sampai ke feel inn hostel yang lebih dekat dengan stasiun Tiananmen East station. Untungnya di hp sudah dibuat map offline sehingga itulah yang menjadi panduan arah menuju ke penginapan.

Berangkat dari Bandara Beijing kira-kira jam 6 pagi dan baru sampai di penginapan jam 9 pagi. Keringat pun bercucuran karena bawanku banyak sekali. Ah menyesal membawa baju terlalu banyak, syukurnya aku bisa melewatinya. Sesampai di Hutong maka dipenginapan aku menunjukkan passport dan booking lalu menunggu sampai jam 12. Saking lapernya jadinya makan di restuaran yang ada di penginapan. Menu pilihan untuk sarapan pagi setelah perjalanan jauh ialah Sarapan pagi pancake cokelat 20 Yuan. Harganya lumayan membuat menangis merah jambu soalnya itu sarapan Rp40.000 cuma pancake saja tapi saking lapernya dihajar dah! Lagian yang itulah makanan yang halal di Beijing untuk pertama kalinya.

Overall aku suka dengan penginapannya karena ada wifi, ada minuman walau bau kalau pas dingin, terus penjaganya ramahnya minta ampun walau toiletnya kadang muncul tentara kuning.

Penginapan murah di Beijing
Penginapan murah di Beijing

Setelah check in, bayar penginapan seharga 50 Yuan semalam maka mandi cantik untuk menghilangkan keringat. Istirahat sebentar lalu tujuan wisata di hari pertama di Beijing ialah Forbidden city dan Tiananmen Square yang sangat populer di Beijing. Kedua tempat ini cukup dekat dengan penginapan kurang lebih jalan kaki 15 menit saja. Hanya saja cuaca di Beijing itu panas banget sehingga aku selalu membawa topi dan payung.

Kesan pertama mengenai China ialah betapa ketatnya keamanan disana. Untuk masuk ke dalam Beijing Subway harus melewati metal detector terus tas juga harus dilepas kalau ada minuman disuruh minum. Begitu juga saat menuju ke Tiananmen Square yang antriannya panjang sekali, kayak mau minta sembako gratis. Terus lirik ke kanan ke kiri, tidak ada orang Indonesia yang ada hanya beberapa bule sesekali kebanyakan ialah penduduk lokal. Ngantri itu hanya untuk masuk ke depan Tiananmen doang loh.

Oh ya catatan perjalanan mengenai Tiananmen dan Forbidden City sebenarnya dalam satu lokasi. Tiananmen itu satu kawasan dengan Forbidden city. Karena luas banget akhirnya tidak jadi masuk ke dalam Forbidden city soalnya bangunanannya itu-itu melulu plus karena harga tiketnya mahal amat seharga 60 Yuan. Terus luasnya yah ampun bikin tepok jidat bisa kakiku naik betis dah akhirnya yaudah cukup melihat sampai batas gratis sudah membuat rasa penasaran hilang.

Tianmen Square
Tiananmen Square

The Forbidden city is a permanent fixture on any beijing bucket list. Its so busy on weekend and huge, daunting, difficult to navigate but its also China’s largest and best preserved site of historic buildings. Forbidden city is no misnomer, purportedly 980 buildings over 1.5 square kilometres. Make sure you go through the imposing hall of supreme harmony, the 600 year old structure is the largest in the complex.

How to go to Forbidden city: walk to Tiananmen Square and take line 1 subway Tiananmen east station..

Aku di depan gerbang forbidden city beijing
Aku di depan gerbang forbidden city beijing

Oke tidak mau lama-lama di Forbidden city dan Tiananmen Square terus menuju ke Temple of heaven. Cara akses ke Temple of heaven berhenti di stasiun Tiantandongmen terus berjalan kaki. Nah di stasiun subway Beijing di Tiantandongmen dekat dengan Pearl Market, tempat untuk berburu oleh-oleh souvenir khas Beijing.

Dari Tiananmen east station maka langsung menuju ke stasiun Tiantandongmen di jalur line 5. Karena Tiananmen east station berada di jalur 1 maka berhenti di stasiun Dongdan lalu ikutin petunjuk ke jalur 5 lalu behenti di stasiun Tiantandongmen. Aku juga membeli Yikatong semacam kartu e-money kayak buat busway atau kereta. Harga kartu Yikatongnya seharga 20 Yuan isinya terserah sesuai dengan keperluan. Diawal aku isi 30 Yuan saja supanya tidak pusing mikirannya. Kalau tidak mau membeli kartu Yikatong bisa pake kartu sekali pake, jadi tinggal pilih rute kemana bayar di vending machine. Cuma karena aku orangnya tidak mau ribet yaudah aku beli Yikatongnya sekalian. Harga menaiki Beijing subway tergantung jarak dan line, kalau satu line biasanya 2 Yuan saja, tapi kalau sudah pindah line bisa kena 3-5 Yuan tergantung jarak.  Sementara untuk harga tiket bus Beijing semacam bus kayak di Kyoto maka harganya 1-2 Yuan.

Sesampai di stasiun maka berjalan ke temple of heaven. Seperti biasa ngantri untuk membeli tiket masuk ke dalam temple of heaven. Harga tiket masuk kedalam temple of heaven 35 Yuan. Jujur saja aku bingung apa yang membuatnya menarik, karena menurutku biasa saja, mungkin karena dari segi usia atau bentuknya.

The 600 year old temple of heaven symbolises the greatness of Chinese civilisation during the Ming (1368-1644) and Qing (1644-1912) dynasties and is a UNESCO WORLD HERITAGE SITE.

temple of heaven beijing
temple of heaven beijing

Saat memasuki temple of heaven maka aku disambut dengan koridor yang panjang sekali dengan ukiran yang unik. Tamannya bersih dan tertata rapi serta kuilnya ada di dalam kuil.

Satu pelajaran yang aku dapatkan di hari pertama perjalanan Beijing, China yaitu rata-rata objek wisata Beijing itu luas-luas sehingga siap-siap saja untuk berjalan jauh. Bahkan di temple of heaven berjalan mengitarinya hanya luar saja bisa sampai 1 jam, itupun tidak semua hanya yang umum saja soalnya banyak dan luas.

Nah saat di temple of heaven ada toko souvenir yang menjual boneka panda tapi hati-hati untuk menanyakan harganya karena dianggap beli terus siap-siap berperang sengit dalam tawar-menawar. Cuma aku tidak rekomendasikan untuk membeli oleh-oleh di tempat wisata China karena dipastikan harganya jauh lebih mahal kecuali ingin sekali membelinya.

Hari pertama di Beijing cukup lelah tapi menyenangkan karena aku bisa menjawab rasa penasaran dengan Forbidden city yang dulunya lihat di film dan shock dengan luasnya area wisatanya. Alhamdulillah aku telah menginjakkan kaki di negeri Panda 😀

Rincian biaya pengeluaran hari pertama Beijing, 5 Juni 2015

  • Tiket Bus dari Beijing Capital International Airport ke Beijing railway station (bus No. 3) seharga 24 Yuan
  • Penginapan semalam seharga 50 Yuan
  • Sarapan pagi pancake cokelat 20 Yuan
  • Jajan buah berupa apel dan pisang 10 Yuan
  • Membeli Yikatong (20 Yuan harga kartu Yikatong dan 30 Yuan debit kartu) seharga 50 Yuan
  • Harga tiket masuk kedalam temple of heaven 35 Yuan

Total pengeluaran di hari pertama trip to China sebesar 189 Yuan

Terakhir

“SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH PUASA RAMADHAN BAGI UMAT MUSLIM”

Salam

Winny

Iklan

35 tanggapan untuk “Catatan Perjalanan Hari Pertama Beijing “Forbidden City dan Tiananmen Square”

  1. Kayaknya kendala kalau ke China memang ada di bahasa ya Win, hehehe. Dua kali ke China aku selalu bareng orang yang lancar bahasa Mandarinnya, jadi gak masalah deh, hahaha 😛 .

      1. Tp lumayan panas ya?. Waduhh makanya sejak denger cerita teman yg dari sana, sampe nggak bisa makan ngingat toilet disana, jd mikir lg dehh kesana. Mungkin gegara padat pemukiman kali ya.

  2. Wuiih dirimu sudah menapak Tiongkok Win, mangstab lah travelblogger ketjeh satu ini :)). Uwaa ke Tiananmen, lapangan yang terkenal dengan massacre-nya yang sangat-sangat sadis dan membekas di benak rakyat serta otoritas Tiongkok. Saya penasaran deh dengan Forbidden City, di dalamnya itu istana atau apa, ya? Terus Temple of Heaven itu tempat ibadahkah? Bentuknya kayak stupa gitu. Ah, semoga suatu hari bisa ke sana :)).

    Kalau Tiongkok, dari yang saya baca di beberapa postingan, dramanya selalu itu ya Win, bahasa yang tidak dimengerti kedua belah pihak sama tentara kuning yang muncul di tempat buang hajat :huhu. Apa di sana kekurangan air sampai tak ada yang mau repot menyiram toilet, ya?

    1. kalau menurutku malahan temple heaven nya biasa aja Gara. tapi forbidden citynya lumayan menarik cuma luasnya minta ampun harus siap-siap jalan kaki…kayaknya kebanyakan orang sehiangga toiletnya kurang diperhatikan

  3. Ntar kalo aku kesampean ke China masih galau juga nih ikut tur full yg dari Indonesia apa ngebolang sendiri aja kayak waktu ke negara-negara lain ya.. Kendala bahasa dan tulisan ini mah.. Tapi kayaknya pede aja ya ngebolang sendiri..

  4. Beijing.
    Hmmm..belum pernah kesana sih, hehehe…
    Btw, deatil banget kak postingannya 😀
    Bolehlah jadi rekomen kalo ntar kapan2 ke Beijing 😀

  5. Salaman kagum dulu dengan Winny, ngebolang di negara dengan bahasa yang khas. Foto temple of heaven nya bagus banget Win, birunya menguar indah.
    Banyak yang bisa dieksplor di seputar Hutong ya, perkampungan tradisional dan masjid nan dou ya.
    salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s