Nikmatnya Kuliner Es krim kelapa Thailand di Wat Hat Yai Nai Temple of the reclining Buddha


Life is about change, sometimes it is painful, sometimes it is beautiful, but most of the time it is both (unknown)

Wat Hat Yai Nai Temple of The Reclining Buddha
Wat Hat Yai Nai Temple of The Reclining Buddha

Hello World!

Hatyai, 28 Februari 2015

Hari bersinar dengan teriknya dalam edisi  trip Hatyai kami seakan berkata selamat datang di perbatasan Thailand Selatan. Rasa panas dari luar sedikit teredam oleh dinginnya AC dari mobil yang kami sewa seharian dalam mengelilingi semua objek wisata Hatyai ala backpacker gagal. Kegagalannya bukan karena timnya adalah kamseupay yang terdiri dari Ade, Ilham Reza, Sarah dan Sarta tapi memang kami harus mengeluarkan uang sedikit lebih besar untuk sewa mobil dibandingkan harus berpanas-panas ria dengan tuk-tuk, ditambah lagi kami ke Hatyai untuk liburan bukan untuk menyusahkan diri. Paling tidak itulah persepsi di benak kami untuk melegakan diri sendiri akibat uang Bhat pas-pasan yang ada.

Chang Puak Cam Hatyai
Chang Puak Cam Hatyai

Liburan di Hatyai kami memilihpaket one day tour yang bisa keliling semua objek wisata Hatyai dalam sehari karena waktu kami terbatas tapi maunya banyak! Harus bisa mengunjungi semua objek wisata Hatyai dalam sehari sehingga pilihannya harus dengan tour. Masih ingat diingatan ketika India Singapura yang reseh lalu berubah baik kepada kami sepanjang perjalanan Penang-Hatyai menanyakan berapa hari kami akan menginap di Hatyai lalu dengan satu suara berkata “one day, sir”.

“aha, you just want to fill your passport so that you can show that to people you have been in everywhere”, katanya kepada kami yang langsung kami bilang “no, no.. we want to discover Hatyai’s tourism in oneday to see Sleeping Buddha”. Terakhir dia mengucap “what the f*** with that, lalu kami mengganggap hanya gurauan dari orang tau”.

Setelah puas dari tujuan wisata pertama kami di standing Buddha, bapak Thailand yang tidak tahu namanya membawa kami kepada tujuan wisata keduakedua yaitu Wat Hat Yai Nai Temple dimana the reclining Buddha Hatyai berada.

Sebelum ke sleeping Buddha Hatyai kami telah berhenti di Chang Puak Camp Hatyai, sebuh penangkaran Gajah Thailand bagi pecinta pertunjukan Gajah Thailand tapi karena harus membayar tiket masuk lagi sehingga kami tidak jadi masuk dan hanya numpag eksis saja dengan mengabadikan photo. Habisnya “no money, ingat Bhat sedikit”!

Tuk tuk versi Taxi
Tuk tuk versi Taxi

Setelah dari tempat Gajah Thailand, tourguide kami membawa kami ke sleeping Buddha Hatyai yang awalnya aku kira versi jelek walau Sarah sudah mengatakan indah berkali-kali. Kalau diingat-ingat lucu juga ketika berargumen untuk tempat yang belum dikunjungi. Maklum aku sudah melihat sleeping Buddha di Wat pho sehingga ekpektasiku besar terhadap sleeping Buddha Hatyai.

Awal ke Sleeping buddha karena di  Chang Puak Camp kami melihat poster wisata Hatyai di dalam sebuah tuk-tuk. lalu aku menunjukkan kepada tour guide untuk membawa kami kesana karena di dalam paket kami tidak ada patung buddha tidur ini. Untungnya ada tuk-tuk berposter wisata Hatyai kalau tidak mungkin kami tidak akan mengunjungi patung Buddha tidur Hatyai.

Oh ya buat yang mau hemat dan tahan panas, menyewa tuk-tuk seharian akan jauh lebih murah daripada menyewa 2000 Bhat seharian dengan taxi. Memang benar ilmu ekonomi itu, harga sebanding dengan kualitas (harusnya ;))

Buru-buru kami masuk ke dalam taxi gede menuju ke Sleeping buddha…

Semua jalan kami serahkan kepada pak tourguide sementara kami menikmati pemandangan Hatyai sambil sesekali bercanda hingga sampai di sebuah Danau Hatyai yang masih dalam kawasan sleeping buddha berada. Menikmati pemandangan Danau Hatyai membuat suasana liburan terasa sekali apalagi dari kejauhan sleping Buddha sudah kelihatan dan tentu saja pendapat Sarah benar mengenai Buddha Tidur Hatyai itu indah terbuat dari warna emas.

hatyai
Danau Hatyai

Jam telah menunjukkan pukul 1 siang sesampainya kami di Sleeping Buddha Hatyai. Awal kami masuk ke dalam area temple tidak ada orang.

“Tumben ya orang tidak ada”, begitu kataku. Eeh tak lama aku berceloteh rombongan wisatawan asing datang sehingga berebut berphoto dengan sleeping buddha. Ngantri bok untuk photo! Sampai Reza berkata “tuh kan Win, elu sih bilang sepi terakhir ramai orang”, celotehnya!

Tapi… bukan kamseupay namanya kalau tidak langsung bernarsis ria padahal matahari berada di atas kepala. Terik matahari lewat dah apalagi orang!

Sleeping Buddha Hatyai lumayan besar dan hampir mirip dengan sleeping Buddha di Wat Pho Bangkok bedanya di Hatyai, sleeping buddhanya berada di area terbuka sementara di area Hatyai berada dilapangan terbuka. Perbedaan lainnya kalau masuk ke dalam sleeping Buddha Wat Pho harus membayar tiket masuk sebesar 100 Bhat kalau tidak salah beserta minuman gratis maka masuk ke dalamsleeping Buddha di Hatyai tidak perlu bayar alias gratis. Aku memandangi sekitar dan ada tempat ibadah berisi patung seperti biksu berjajar dan jika ingin meramal bisa dilakukan di dalam ruang yang ada biksu dekat dengan sleeping buddha Hatyai.

Tapi Aku, Sarah, Ilham dam Ade lebih memilih untuk mencari sudut pengambilan photo terbaik dengan sleeping buddha sementara Reza dan Sarta menghilang.

The Reclining Buddha
The Reclining Buddha

Saat aku, Ade, Ilham dan Sarah asyik-asyiknya berphoto dengan sleeping Buddha Hatyai, tiba-tiba Reza dan Sarta datang sambil menunjukkan tangan mereka berisi es krim kelapa Thailand. Es krim kelapa Thailand adalah salah satu kuliner khas dari Thailand berupa es krim di dalam batok kelapa lengkap dengan kelapa muda serta tambahan toping lainnya. es krim ini sebenarnya ada di acara festival makanan di Grand Indonesia saat aku dan Sarta menghadirinya serta di Sarta membeli dengan harga Rp30.000 lalu aku mengatakan ke Sarta kalau di Bangkok harganya jauh lebih murah. Dan tiada disangka akhirnya Sarta mencoba juga es krim kelapa langsung di Thailand.

Sontak dia berkata. “Win, es krimnya enak banget murah lagi”, kata Sarta. Tentu saja lebih murah karena harga es krim tersebut 40 Bhat serta kelihatan nikmat sekali rasanya dimakan saat panas matahari.

 

Karena rumput tetangga selalu hijau…..

Akhirnya Aku, Ade, Ilham dan Sarah ikut-ikutan untuk mencicipi es krim kelapa Thailand. Tanpa pikir panjang kami ke tempat abang es krim berada. Lucunya saat kami menawar harga es krim kelapa Thailand seharga 30 Bhat saja karena kami ada empat orang.

“Sir, please give us discount becuase we are four person, please please!, kataku sehingga akhirnya rayuan mautpun berhasil sehingga si Bapak memberikan diskon 5 Bhat. Yup harga es krim krim kelapa Thailand kami 35 Baht, lebih murah daripada Sarta dan Reza lalu dengan kompak kami mengatakan “kap kun kap” hahaha 😀

Si Bapak wajahnya berseri melihat kekompakan kami, Kami berempat hanya senyum-senyum saja mengamati abang penjual es krim dengan lihainya menyediakan es krim untuk kami.

Nikmat sekali Es krim kelapa Thailand di Wat Hat Yai Nai Temple of the reclining Buddha, sampai si Reza berceloth “gila ya Win, aku awalnya yang menolak ke Hatyai malah paling senang di Hatyai”.

Bisa dibilang Wat Hat Yai Nai Temple mampu menghilangkan kepenatan kami apalagi es krimnya euy sedap sehingga edisi trip mengaku backpacker Malaysia-Hatyai dalam 5 hari menyenangkan.

Puas dengan es krim, akhirnya kami ingin berphoto bersama tapi tidak mungkin ramai-ramai karena aku tidak membawa tripodku hingga akhirnya dengan segala kegilaanku menyuruh wisatawan lain untuk mengambil photo kami. Orang yang mengambil photo kami ramai-ramai di depan sleeping buddha Hatyai ialah orang Thailand yang agak u know… a bit melambai…..

Tapi masa bodoh lah ya yang penting kan tujuan kami tercapai yaitu photo bersama kami di depan patung Sleeping Buddha!

Puas berphoto kami pun menuju ke dermaga yang tak jauh dari Sleeping buddha yang akhirnya aku memutuskan untuk tidak ikut dan memilih duduk manis berteduh karena panas sekali apalagi aku salah kostum banget, rok pendek dengan lengan pendek! Mama…. gosong dah kulitku di dalam bathinku.

Teman yang lain pergi aku malah mencoba peruntungan untuk mencari wifi, kali-kali aja ada wifi di sleeping Buddha walau tindakanku merupakan tindakan trial error manatau untung-untungan. Eh siapa sangka ‘cling wifi ada, internetnya kencang di area ini padahal jauh loh entah dimana”…

Akhirnya aku memberitahukan si Reza begitu juga teman yang lain karena si Reza lah si tukang uring-uringan wifi, yang penting ada internet baginya. Jadi memberitahukannya ada wifi di temple ini ibaratnya memberikan permen kepada anak kecil yang ingin sekali permen ahhahah 😀

Alhasil kami semua sibuk berinternet ria di depan sleeping Buddha Hatyai dengan berteduhkan pepohonan. Untungnya ya ada kursi sehingga kami bisa bersantai ria sambil sebentar beraksi untuk ngehits di dunia maya. ‘duh kerjaan yang aneh bukan?”

Wifi di Wat Hat Yai Nai Temple of The Reclining Buddha
Wifi di Wat Hat Yai Nai Temple of The Reclining Buddha

Wifi di tempat wisata kayaknya harus kita contoh di Indonesia ya biar wisatawan lebih betah berlama-lama. Padahal kalau dipikir-pikir wisata patung Buddha hanya patung saja loh teman cuma tak terbayang ada fasilitas wifi disini. Mengejutkanku secara pribadi…

Yang paling antusias senang dengan wifi tak diragukan lagi si Reza, si pemberi gelar geng kamseupay 😉

Tiga puluh menit berlalu akhirnya kami memutuskan melanjutkan perjalan berikutnya karena perut juga sudah mulai keroncongan…

Sir, please bring us to take a lunch”, kataku.. 

Ok we go there..

 

To be continue..

Salam

Weeny Traveller

Iklan

23 tanggapan untuk “Nikmatnya Kuliner Es krim kelapa Thailand di Wat Hat Yai Nai Temple of the reclining Buddha

      1. hm,,kayaknya gak deh,semisal tinggal di hotel aja klo mau nyari wifi harus turun ke loby dulu,gak bisa di pake di kamarnya,untuk bbrp hotel ya,gak tau deh klo t4 wisatanya win 🙂

  1. Wifi tu segalanya!!! Haha. Klo gak ada itu gak eksis kita dimana2 😝😝😝😝. Yg paling parah tragedi wifi colongan di hotel haha

  2. Iya, patungnya gigantis banget. Sama yang di Wat Pho lebih besar mana Win? :hehe.
    Sama banget, kadang kita ke tempat wisata cuma buat foto-foto supaya ada bukti :hihi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s