Melirik “Kuda Lumping” Budaya Nenek Moyang Indonesia


Hello World!!

Pernah dengar lirik lagu Iwan Fals “Kuda Lumping”?

“Kuda Lumping nasibnya nungging, mencari makan terpuntang-panting. Aku juga dianggap sinting. Sebenarnya siapa yang sinting. Mulutnya berbusa, nasibnya berbusa. Tradisi berbusa, tradisi amblas”

Kuda Lumping
Kuda Lumping

Lucu juga sih lirik lagu iwan Fals ini karena sadar tidak sadar kuda lumping memiliki daya tarik tersendiri dan bisa menarik minat siapapun yang melihatnya. Selain terkenal dengan kemistisan dari Kuda Lumping, antraksi kuda Lumping ternyata membuat kesan “penasaran”!

Kuda Lumping tak pernah pupus untuk ditonton karena ada kata “mistis” di setiap antraksinya. Biasanya para penari kuda lumping kerasukan makanya bisa memakan batok kelapa atau bahkan berjalan di atas pecahan gelas tanpa merasa sakit sekalipun!! Bahkan ada yang makan kaca, ada yang tahan dicambuk hingga ada yang tahan akan panasnya api.

Ironisnya Kuda lumping pada zaman sekarang sudah mulai pudar ditelan kecanggihan teknologi. Jarang sekali antraksi ditemukan di Kota Besar bahkan kami yang tak sengaja melihat antraksi Kuda Lumping saat berada di Taman Leuser, pedesaan yang asri dan tentram. Padahal kesenian Kuda lumping merupakan budaya bangsa, sisa peninggalan nenek moyang Indonesia yang cukup murah dan bisa menghibur masyrakat.

Kuda Lumping
Kuda Lumping

Untuk menambah pengetahuan umum, kuda lumping terkenal dengan sebutan dalam Jawa “Jaran kepang” yang dalam bahasa Inggrisnya “Flat Horse” (Sumber: Wikipedia, red), merupakan pertunjukan tarian tradisional Jawa yang memakai pasukan berkuda. Kuda tersebut berasal dari anyaman atau bambu hias dengan cat warna-warni dan dibuat semenarik mungkin. Hal yang membuat kuda lumping berbeda terletak pada keekstriman dalam penampilan yaitu menari dengan kondisi tampil berbeda.

Ciri khas dari kuda Lumping pada penabuh gendang atau gamelan dengan pawang yang memimpin pertunjukan. Dari tarian kuda lumping terdapat kemenyan dengan bau yang khas dengan asap serta suara musik yang nyentrik dan tentu saja mengundang perhatian penonton yang tanpa aba-aba sudah berbaris rapi di pinggir di lapangan terbuka.

Kesenian Indonesia
Kesenian Indonesia

Sama halnya dengan kami yang penasaran dengan suara musik dari Kuda Lumping beserta para penari yang sudah siap sedia dalam melakukan antraksinya. Sahabatku Surya dan seorang teman kami “Friso”, bule asal Belanda yang hobi keliling dunia begitu antusias ketika melihat pertunjukan Kuda Lumping. Saat melakukan tracking ke Taman Leuser untuk hunting orang hutan, diperjalanan kami berhenti karena melihat attraksi Kuda Lumping, peninggalan warisan nenek Moyang.

Surya saja langsung berpose narsis dan minta di photo sedangkan Friso lebih kepada photo penari kuda Lumping. Lihat saja antraksi Surya yang tak kalah heboh dengan Kuda Lumping 😉

Kuda Lumping
Kuda Lumping

Terlepas dari konotasi negative dari padangan orang mengenai Kuda Lumping, ada yang mengatakan pemujaan roh, pemujaan setan atau musyrik ataupun keterlibatan makhlus gaib didalamnya, Kuda Lumping tetap ciri khas peninggalan Nenek Moyang, budaya bangsa dan kesenian tradisional yang tetap memberikan hiburan bagi masyarakat.Kalau bukan kita yang menghargai Budaya Kuda Lumping, maka peninggalan budaya tradisional bisa luput dari masa!!

Pertunjukan Kuda lumping
Pertunjukan Kuda lumping

 

Culture of the mind must be subservient to the heartMahatma Gandhi –

Iklan

5 tanggapan untuk “Melirik “Kuda Lumping” Budaya Nenek Moyang Indonesia

      1. Mungkin kemasannya yang bisa diperbaiki lagi ya… kalah sama tarian “Dance”… padahal tarian Kuda Lumping ini kalau dilakukann dengan benar sangat enerjik … mulai tarian opening sampai atraksinya… belum lagi adegan tari fighting antara prajurit sama barongan/ celengan kalau di koreografi silat ala Iko & Yayan (The Raid) akan sangat seru kan silat juga bagian dari budaya nasional… masalahnya juga pemain cenderung sudah bosan juga belum selesai tarian sudah “kelenjotan” duluan dengan fenomena “Ndadi/kesurupan”…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s