Inle Lake dan Nelayan Myanmar


Focus on the journey, not the destination.

Joy is found not in finishing an activity but in doing it.

By Greg Anderson

Sunrise Inle Lake

Myanmar, Februari 2017

Hello World!

Perjalanan Yangoon-Inle dengan bus dimulai sore itu ketika Ade duduk disamping penduduk lokal Burma yang senang mengajaknya ngobrol seolah Ade mengerti Bahasanya sementara aku dan Melisa asik bersolek ria dengan thanaka (bedak dingin). Penggunaan thanaka di wajah sengaja kami buat agar membaur dengan warga lokal berharap dianggap sebagai warga lokal. Bus yang kami tumpangi lumayan bagus dari segi fasilitas dan harga tiket bus sebesar 15,000 MYK/orang, dengan harga segitu kami diberikan bantal, selimut, minuman serta stop kontak untuk mengisi baterai handphone kami. Sebelum berangkat, kami sudah ditandai dengan “turis” di daftar list penumpang dalam bus karena memang sebelumnya saat membeli tiket bus kami menyerahkan passpor sebagai identitas. Sepintas wajah kami hampir sama dengan warga lokal yang membedakan hanyalah kami tidak mengerti Bahasa Myanmar. Tidak hanya itu, penumpang dalam bus juga sadar betul kami turis karena percakapan kami dalam Bahasa Indonesia, yang tidak dimengerti mereka.

Dalam perjalanan menuju Inle, aku memilih menikmati pemandangan dari kaca mengamati aktivitas warga lokal serta menikmati senja di kala itu, sementara Melisa dan Ade mungkin saja tidur. Yang ku perhatikan dari warga lokal Myanmar adalah pemakaian bedak dingin di wajahnya baik laki-laki maupun perempuan dan itu biasa bahkan di jalanan dan tempat umum, mungkin sudah menjadi ciri khas orang Myanmar atau memang rahasia cantik alami atau sekedar menghalangi dari sinar matahari, entahlah!

Tidak lama aku menikmati pemandangan sepanjang perjalanan Yangoon-Inle hingga aku pun tertidur sampai dimana bus kami berhenti dan kami terbangun. Yah bus yang kami tumpangi berhenti untuk istirahat, tentu saja dalam pemberhentian dimanfaatkan penumpang untuk ke kamar mandi atau juga makan malam. Kami memilih untuk makan dan memilih tempat duduk paling ujung dalam restauran. Dalam restauran ini kami menjadi pusat perhatian bukan karena wajah kami yang mirip warga lokal namun lebih kepada Bahasa Inggris yang kami gunakan untuk memesan makanan karena memang dalam restoran itu hanya satu orang saja yang bisa berbahasa Inggris, itupun setelah dipanggil dari sebelah.  Setelah selesai memesan lalu dengan santai kami menunggu pesanan kami datang.

“Nya, gue ya takutnya pas sehari-hari saja diajak ngobrol pake Bahasa Myanmar karena dianggap orang lokal eh pas di tempat wisatanya aja kita dikenali orang asing. Gue sih masih berharap kita dianggap warga lokal biar tidak bayar uang masuk ke Inle”, kata Ade

Setelah percakapan kami bertiga yang berharap dapat tiket masuk gratis ke Inle dan perut sudah diisi karena selesai makan malam dalam pemberhentian bus kami, maka semua penumpang termasuk kami kembali naik ke dalam bus untuk melanjutkan perjalanan.

Memang kami sengaja dalam melakukan perjalanan malam dari Yangoon ke Inle, selain menghemat biaya penginapan serta keterbatasan waktu namun ingin memaksimalkan tempat wisata, kami juga ingin sampai di Inle sebelum fajar karena kami ingin melihat Sunrise dengan Nelayan Myanmar dengan gayanya yang iconic. Tujuan kami pun tercapai karena jam 4 pagi kami sudah sampai di Inle, namun sebelum memasuki Inle petugas Myanmar membangunkan kami untuk membayar uang masuk ke dalam Inle. Awalnya aku berpikir bahwa uang masuk itu dalam wisata Inlenya, namun aku salah ternyata bayarnya pas masuk ke dalam Kotanya alias TIKET MASUK KOTA. Paling tidak di Myanmar jika ingin masuk dua Kota yaitu Bagan dan Inle harus membayar uang masuk dengan tarif yang berbeda. Untuk harga masuk ke dalam Inle kami harus membayar $10/orang dan bisa dibayar dengan Dollar atau juga dengan mata uang Myanmar “Myanmar Kyat”. Waktu itu kami membayar dengan uang Dollar.

Setelah selesai pembayaran yang hanya kami bertiga saja karena yang lain orang lokal, akhirnya kami masuk ke dalam Inle dan turun dari bus. Udara dingin langsung menusuk tulang kami, karena pakaian kami yang ala kadarnya yang tidak bersahabat dengan udara sekitar.

Menurut kami Inle itu seperti Sibolangit, dan tujuan kami ke rumah Mr. Muh Kyi House karena disanalah kami menyewa boat seharian untuk menjelajah Danau Inle, Myanmar. Beberapa warga lokal menawarkan jasa dengan transportasi yang mirip becak/tuk-tuk namun berbeda atau mungkin lebih mirip mobil pick up dengan modifikasi. Si Bapak itu menawarkan harga 3000 MYK/3 orang ke rumah Mr. Muhi dengan tuk-tuk miliknya.

Jadi gimana kita naik tuk-tuk saja atau jalan kaki, 
tanya Ade kepadaku dan Melisa

Aku sih terserah, jalan kaki ayo naik tuk-tuk ayo, jawabku

Aku juga terserah, jawab Melisa
Cuma 3000 Kyat aja, Rp10.000 doang, kata Ade

Yaudah kita naik tuk-tuk saja, lanjut Ade

Awalnya ada ide untuk jalan kaki karena dianggap dekat namun setelah dipikir ulang karena 1000 Kyat perorang itu murah serta kami juga tidak tahu lokasinya dimana akhirnya kami memilih untuk naik tuk-tuk. Dan ternyata pilihan itu tepat karena dinginnya udara Inle benar-benar menusuk tulang sampai aku dan Melisa memakai selimut yang ada di dalam. Tak heran kenapa warga lokal memakai selimut karena saking dinginnya udara di Inle. Memasuki Inle ini mengingatkan kami dengan Danau Toba atau Brastagi atau bisa juga Sidikalang, karena dinginnya dan juga suasanya.

Bah, mirip di Sumatera Utara pula ini Myanmar, kata Melisa 
serta anggukkan setuju dariku dan Ade

Jam 4 pagi pulalah kami mengetok pintu rumah Mr. Muh Kyi. Sebenarnya Mr. Muh Kyi sudah meninggal dunia namun istrinya tetap memakai nama itu karena almarhum suaminyalah yang membuka jasa tour di Inle serta Ibu Muh Kyi bersedia dibangunkan di pagi buta berkat balas membalas email dengan Ade. Tentu informasi ini berkat usaha Ade yang super rajin dan membuat rincian perjalanan yang menakjubkan. Berkatnyalah kami tidak luntang-lantung di Inle subuh itu. Dan Mrs. Muh Kyi membolehkan kami masuk. Disinilah kami menyewa boat seharian keliling Inle dengan harga sewa Boat Tour Special Big Tour sunrise to sunset sightseeing Inle 30,000 MYK/3 orang karena awalnya kami hendak melihat sunset di Danau Inle, kalau hanya setengah hari harganya jauh lebih murah. Tidak hanya itu kami juga membeli tiket bus kami ke Bagan dari Inle untuk jam 8 setelah puas dari Inle.

Setelah proses pembayaran, akhirnya dua bocah membawa kami ke dermaga untuk memulai tour Inle kami karena memang kami ingin mengejar sunrise dengan penampilan para Nelayan Myanmar. Di Dermaga, kami menaiki kapal dengan fasilitas life jacket dan selimut. Setelah selesai kami pun memulai perjalanan menelusuri Inle Lake seharian dengan perahu.

Lalu apa yang membuat kami segitu ngototnya ingin melihat Nelayan di Myanmar?

Jadi Inle Lake yang terletak di Township Nyaungshwe Kabupaten Shan State, Burma ini merupakan kawasan Danau air tawar yang luas dan memiliki beberapa attraksi utama yang menarik wisatawan, salah satunya aksi dari Nelayan Myanmar.  Nelayan Myanmar ini memiliki cara mendayung yang unik dan tidak ditemukan ditempat lainnya yaitu mendayung perahunya dengan satu kaki dengan posisi berdiri satu kaki di kapalnya sementara kaki lain di sisi dayung sedangkan tangannya memegang jala. Gaya tersebut memang sengaja dilakukan karena banyaknya tumbuh-tumbuhan air yang ada di Danau Inle sehingga Nelayan harus melakukan posisi miring di dalam perahunya. Gaya para nelayan inilah yang menjadi tujuan utama kami berburu sunrise di Danau Inle.

Dan beruntungnya kami ketika sampai di Inle kami dapat melihat attraksi Nelayan Myanmar, saat kami dekati si Bapak malah beraksi dengan senyum diwajahnya. Terlihat jelas mereka sudah terbiasa dengan kedatangan orang asing, seolah paham betul apa yang kami mau dan kami lihat. Bahkan tidak hanya itu, Nelayan lainnya juga beraksi di depan kami.  Akhirnya ada dua Nelayan Myanmar yang mendatangi perahu kami. Bahkan kami bisa berphoto dengan dua nelayan Myanmar sekaligus dengan piawainya menjaga keseimbangan badan mereka di perahu. Bahkan aku sangat salut bagaimana Nelayan Myanmar bisa bergaya miring did alam perahu dengan satu kaki di ujung perahu dan kaki lainnya di jaringanya serta satu tangan dengan dayung ke dalam Danau tangan lainnya menggenggam jaring.

Nya, aku senang akhirnya bisa melihat langsung Nelayan, kata Ade
Gak sia-sia awak ke Inle, kata Melisa

Karena dua Nelayan yang baik hati membolehkan kami melihat atraksinya akhirnya kami memberikan tips kepada mereka. Yah perjalanan Inle kami baru saja dimulai dengan dibuka dengan performance Nelayan Burma. Sungguh pagi yang menyenangkan!

Rincian Pengeluaran Inle, Myanmar Hari Kedua

Bayar uang masuk ke Inle, Myanmar USD 10/orang

Naik tuk-tuk ke Muhi House 3000 MYK/3 orang

Sewa Boat seharian Boat Tour Special Big Tour sunrise to sunset sightseeing Inle 30,000 MYK/3 orang

Sarapan gorengan di Pasar Inle 2300 MYK/3 orang

Makan siang di Inle 8000 MYK/ 3 orang

Tips boat 1700 MYK/ 3 orang

Tips ke Nelayan Inle 5000 MYK/3 orang

Tiket Bus malam dari Inle ke Bagan 18,000/orang

Total Pengeluaran hari kedua di Myanmar

Tempat wisata yang dikunjungi di Inle, Myanmar

Sunrise melihat fisherman, Taung Toe untuk melihat Market (Pagoda), In Paw Khon untuk melihat Silk and lotus weaving, Nampan untuk melihat Floating Village, Tobbaco and making boat, Phaung Daw OO Pagoda untuk melihat Buddha Image, Shwe in Den Pagoda untuk makan siang, Ywa Mah untuk melihat Long Neck Women Golad and Silver Umbrella, Kaylar (fisherman Village) dan tomato garden, Maing Thauk dan Nga Phe Chaung Monestery.

Salam

Winny

Iklan

41 tanggapan untuk “Inle Lake dan Nelayan Myanmar

  1. Sebelum baca ini pas liat gambar di atas masih mikir. itu orang nari atau ngapaian ya kok kompak gitu hahahahhaha.
    Oya mbak, bedak dinginnya itu terbuat dari semacam beras kah yang ditumbuk sendiri dan berwarna agak kuning? Kalau iya berarti sama kayak di tempat-tempat pantai lainnya, muda-mudi memakai bedak tersebut agar terhindar dari panas matahari, jadi rasanya kulit wajah itu dingin dan seperti pake masker 😀

  2. Assalaamu’alaikum wr.wb, Winny….

    Pemandangan danaunya indah. tambah lagi aksi sang nelayan yang unik dan mengkagumkan. pasti mereka sudah mempelajari gaya menangkap ikan seperti ini sejak kecil ya sehingga sudah jadi biasa. Satu obejk wisata yang menarik di Myanmar. Pengalaman yang sangat menarik Win.

    Salam manis dari Sarikei, Sarawak. 🙂

  3. keren banget sih nelayan itu … kayaknya ide ini harus di tiru oleh nelayan2 di Indonesia, lumayankan menaikan income nelayan … hmmm .. butuh koreografer untuk membuat gaya yang keren dan orisinil … 🙂

  4. Wew, lucuk, tadinya kukira atraksi nelayan itu spesial ditunjukin ke kamu aja, kak, ternyata memang budayanya begitu di Inle. Oya, kemarin aku sempat ngobrol bareng kak Satya Winnie di Jogja, ia cerita banyak tentang Batak dan kamu, hahaha.

  5. Keren ya nelayan nya. Unik caranya nangkap ikan, nggak jatuh ya ikan atau orangnya jika posisi begitu..? Nggak capek gitu ya? Tapi liatnya asyik ya win ^_^ kek akrobat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s