Pengalaman perjalanan ke Borobudur untuk melihat perayaan waisak merupakan pengalaman yang paling gila dan penuh perjuangan. Suka duka bercampur kebodohan bercampur disini, tapi berubuah menjadi sebuah perjalan wisata yang menyenangkan.
Aku yang menemani Yessi sahabatku yang ingin ikut beribadah untuk hari Raya Waisak harus rela menunggu lama demi sebuah bus yang mengantarkan kami menuju ke Magelang. Lama nian kami menunggu bus untuk menuju ke Terminal Bus, eeh malah kami kena tipu-tipu oleh kenek bus. Kebodohan kami ialah karena menyakan harga tiket bus, alhasil malah dimahalkan. Yang semula harganya cuma RP2000 menjadi Rp5000/org. Kami sebenarnya tidak masalah kalau memberikan uang tapi “kesan menipu” sangat tidak sedap ditambah kami harus berdiri lama karena busnya yang padat. Penderitaan tidak samapi disitu, menunggu di terminal yang lama dan kami sudah terbuai di dalam bus ketika perjalanan menuju Magelang dan tiba-tiba si kenek menyuruh semua penumpang pindah ke bus yang lain. Padahal lagi PW juga!! Ah… beginilah nasib harga bus murah Rp8000. Kami ditumpuk kayak ikan sarden, kasihan melihat si Yessi..
Karena kami buta akan daerah Borobudur maka kami menanyakan supir untuk diberhentikan di Borobudur dan kamipun diberhentikan di Kawasan Wisata Borobudur. Malanganya ke Borobudur ternyata 30 km dari pintu kawasan Borobudur. Dan tukang ojek memberikan biaya yang sangat mahal pada kami sebesar Rp50.000 untuk kami berdua. Alhasil aku ngambek dan tidak mau malah mengajak Yessi jalan kaki padahal jaraknya 30 km dan malam pula!! Ampun!!!!!
Paling kasihan si Yessi ini, udah capek malah hidup kami gak jelas juga.., Tapi alhasil kami minta bantuan orang setempat dan kami beliau bersedia mengantar kami ke Borobudur dan mencari penginapan dengan harga Rp20000 saja. Awalnya kami kira motornya ada dua eeh ternyata cuma satu,. Aku, Yessi dan Pak Ojek ke Borobudur naik satu motor alias Bonceng tiga,.,. Mantap!! Hahahahah :D.. ampun DJ!!..
Kalau membayangkan bonceng tiga, aku jadi tertawa sendiri. Apalagi saat itu malam tapi syukurnya si Pak Ojek baik mencarikan kami tempat menginap di rumah penduduk yang disekitar Candi Mendut karena detik-detik Waisak berada di Candi Mendut..
Harga kamar di rumah penduduk itu termasuk mahal menurutku dengan tapi karena Acara Waisak super padata begitu, yah mau tak mau jadi mau, yang penting ada tempat berteduh!! Itulah malam yang kami habiskan demi perjuangan melihat Waisak dan untuk Yessi demi mengikuti ibadah Wisak (salut :D)
Setelah makan malam yang kemudian ke tempat penginapan untuk istirahat karena ingin mengetahui Perayaan Waisak 25 Mei 2013.
….
25 Mei 2013
Aku dan Yessi bangun siang sekitar jam 08.30 WIB padahal acara Waisak dimulai jam 09.00 di Candi Mendut. Dengan buru-buru akhirnya aku dan Yessi bersiap menuju ke Candi Mendut tapi meskipunagak telat kami tetap sarapan.. Rasa lapar mengalahkan segalanya :D…
Sebelum lanjut sebaiknya ada info yang menarik yaitu susunan Acara Waisak.
Susunan Acara Waisak 25 Mei 2013 sebagai berikut:
Waktu | Acara |
09.00-10.00 WIB | Lokasi: Cabdi mendut, Persiapan |
10.00-12.00 WIB | Ritual dan dilanjutkan dengan detik-detik Waisak |
12.00-13.30 WIB | Makan siang dan Persiapan Prosesi |
13.30-16.00 WIB | Lokasi Cnadi Mendut ke Candi Borobudur, Prosesi dari Cndi Mendut ke Candi Borobudur |
16.00-18.00 WIB | Lokasi: Candi Borobudur, Ritual Tenda masing-masing majelis/ pengerahan umat dari tenda majelis ke panggung utamaCeremonial di Panggung Utama |
18.00-19.00 WIB | Ceremonial di Panggung Utama dilanjutkan Pradaksina dan Pelepasan Lampion |
Sumber: Situs Walubi

Acara tersebut aku dapatkan dari Fotographer sebenarnya saat si Yessi lagi ibadah tapi dia dapatnya dari situs Walubi juga. Nah ketika kami sampai di Candi Mendut acara sudah dimulai dan begitu banyak orang yang datang. Bahkan aku dan Yessi tidak mendapatkan kartu Peserta karena habis. Dan untuk masuk pun harus sempit-sempitan. Akhirnya si Yessi ikutan ibadah sementara aku mengambil photo acara tersebut dan mengamati sekeliling.

Para Biksu dan bikhu dan bikuhuni telah berbaris di sebelah kiri dan kanan sementara bagian depan diisi oleh Patung Buddha tepat di belakangnya Candi Mendut.
Tema Waisak 2013 ialah “ Dengan semangat Waisak Perayaan Waisak sebenarnya Waisak Kita Tingkatkan Kesadaran Untuk Terus Berbuat Kebajikan’. Sedangkan Sub temanya adalah ‘Sucikan Pikiran, Tingkatkan Kebajikan, Kehidupan menjadi Harmonis’.
Perayaan Waisak untuk perayaan tiga peristiwa dalam agama Buddha yaitu untuk memperingati kelahiran Pangeran Sidharta, pencapaian kebuddhaan serta wafatnya Sang Buddha Gautama. Sebelum detik-detik Waisak maka umat Budhha mendengar sambutan dan kemudian dilanjutkan doa.

Pada saat mengikuti Perayaan Wisak banyak jurnalis, fotographer hingga stasiun TV ikut andil.
Nah, ada hal yang menarik saat melihat Perayaan Waisak ini bagiku yaitu ketika aku melihat penyiar yang membacakan berita seputar acara Waisak. Pengalaman pertama melihat langsung orang shooting hahahah :D.. Aku baru tahu kalau pembawa acara saat memiliki hair style yang mengurusnya tiap menit, baik dari segi make up maupun rambut. Tidak boleh ada keringat sedikitpun bahkan Biksu yang jadi narasumberpun dibedakin,. Wouw!! Pantes saja di Tv kelihatan cantik heheheh 😀 rupanya satu. “make it perfect”
Setelah melihat shooting berita, akhirnya aku mengelilingi Candi Mendut dan mengambil beberapa photo.

Nah saat aku mengamati Candi Mendut sekitar jam 11 an, rupanya banyak ornag yang heboh dan seprti mengikuti seeorang. Rupanya yang diikuit ialah Biksu yang mengelilingi Candi Mendut dan masuk ke Candi Mendut untuk melakukuan ritual untuk detik-deyi Waisak. Hingga detik-detik Waisak yang ditunggu tiba. Detik-detik Waisak berlangsung jam 11.24.39 WIB tepat pada saat bulan sempurna (Sabtu, 25 Mei 2013). Setelah detik-detik Waisak selesai dan maka para biksu menyiramkan air suci kepada semua umat yang datang.

Setelah penyiraman air suci, maka acara di Candi Mendut selesai dan dilanjutkan ke Candi Borobudur. Para umat pun meninggalkan tempat, ada yang berdoa, ada yang mengambil photo. Hebohnya ialah para sun gokong yang datang sehingga pengunjung berbebut photo. Disekitar Candi Mendut banyak sekali wisatawan baik lokal maupun mancanegara yang melihat langsung acara Waisak.

Aku sendiri terpana dengan kumpulan lilin yang menghiasi panggung utama Candi mendut yang berisi tulisan-tulisan dan warnanya yang merah, indah menurutku,.. Katanya lilin tersebut berisi wishes yang berisi doa dan harapan saat Waisak.

Setelah puas mengamati, aku dan Yessi melihat orang heboh berphoto dengan Biksu di depan Candi Mendut Magelang., Tak mau kalah heboh kamipun minta photo bareng dengan Biksu tersebut. Meski si Yessi shock melihat Biksu mau berphoto, aku juga tidak tahu kenapa. Tapi yah kami akhirnya ikut-ikutan photo juga dengan bantuan blogger yang entah siapa namanya yang kami minta bantuan “tolong ambil photo kami dengan Biksu, Terimakasih” 😀

Puas berphoto, aku dan Yessi mencari makan untuk persiapan ke Candi Borubudur. Makan siang kami cukup mahal dan tidak enak, tapi alhasil kami makan juga karena tidak ada pilihan lain. Setelah makan siang kamipun ikut ngantri untuk jalan kaki dengan rombongan menuju Borobudur. Jarak Candi Mendut ke Borobudur ialah 3 km dan kami harus jalan kaki menuju Borobudur tersebut. Jarak 3 km seakan 10 km bagi kami karena teriknya matahari dan ramainya jalanan yang membuatnya semakin tidak kondusif. Tapi.. kami melihat cowok cakep makanya si Yessi senyum-senyum meski jalan kaki, karena ada cowok macho di depan kami yang jalan kaki ke Borobudur juga. ahhaha 😀

Sesampai di Borobudur, kami hampir tidak boleh masuk karena tidak memiliki kartu Peserta Waisak. Untungnya muka Yessi yang oriental, dan merupakan umat maka kami dibolehkan masuk candi Borobur secara gratis. Hal ini cuma berlaku saat perayaan Waisak saja. Normalnya biaya masuk ke Candi Borobudur seharga Rp30.000. Lumayan juga sih gratis karena perjalanan panjang 3km yang melelahkan 😀

Memasuki Candi Borobudur, aku sangat terpukau dengan keindahan dan arsitek maha karya Candi Borobudur. Situs masterpiece!! Begitu banyak orang yang datang melihat Candi Borobudur hingga desak-desakan. Tidak heran, karena tempat wisata yang menarik di Magelang salah satunya ialah Candi Boorbudur, eits bukan hanya menarik tapi merupakan tempat wisata yang wajib dikunjungi di Jawa Tengah dan harus dilihat dalam hidup 😀

Setelah itu aku dan Yessi terpisah karena dia mau ikutan beribadah sementara aku menikmati setiap relief dari Candi Borobudur. Candi Borobudur yang merupakan salah satu situs bangunan tertua yang diakui oleh Unesco yang begitu menakjubkan. Terdapat ribuan candi seperti rangkaian dan terdapat patung Buddha juga dan dibelakang Candi Borobudur terdapat pemandangan pegunungan yang asri dan indah.

Satu hal yang tidak boleh dilakukan di Borobudur ialah jangan duduk di Candi dan tidak boleh menyentuh di dalam candi. Tapi orang sekitar masih juga melakukannya. Terus terang aku juga melakukannya tapi setelah penjaga bilang tidak boleh, akupun berhenti melakukannya.

Banyak kisah sebernarnya di balik Candi Boorbudur. Tapi satu hal yang membuatku terpana ialah pada ukiran disekeliling Candi yang berbeda dari satu lantai ke lantai yang lain.

Aku yang menitari Candi Borobudur tidak terasa malampun tiba dan aku terpencar dengan Yessi. Sementara hujan gerimis mulai datang. Aku seakan anak ayam yang kehilangan induk. Akhirnya aku berbaur dan berkenalan dengan mahasiswa UGM yang hobi photo hingga aku bertemu dengan Yessi tanpa sengaja -> Mujur 😀
Setelah itu kami berkumpuld i depan Borobudur yang telah ada tikar dan banyak banget pesertanya, tapi kebanyakan pengunjung daripada umat menurutku.
Aku dan Yessi hujan-hujanan karena kami tidak membawa payung. Seharusnya acara mulai paling lama jam 7 malam tapi entah kenapa acara belum mulai. Padahal dingin karena hujan tak kunjung reda ditambah rasa lapar. Sampai akhirnya kami tahu kenapa acara belum mulai ketika pembawa acara berkata seperti ini “Maaf, acara belum dapat kami mulai karena masih menunggu kedatangan Menteri Agama, Suryadarma Ali” dan Gubernur Jawa Tengah! Sontak semua pengunjung berteriak “huuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu”. Ironis melihat pejabat ini, datangnya telat, jam karetnya parah padahal biksu dan mejelis-majelis telah datang lebih awal dan sudah dari tadi berkumpul di panggung peralatan.

Mirisnya ketika Gubernur memberikan pidato atau kata sambutan malah diisi dengan “kampanye”, aduh dasar pejabat gak punya malu, masa hari orang lagi merayakan ibadah bukannya mengucapkan “maaf, saya telat datang, atau selamat Waisak”, eeh malah mengumbar agar jangan salah pilih. Jujur saya malu mendengarnya, dimana martabat para pejabat ini? tidak tahukah mereka rakyat bermandikan hujan demi menunggu kedatangan mereka selama 1 jam? Ah… gambaran kecil alangkah lucunya negeri ini”
Karena hujan yang tak kunjung reda, akhirnya aku mengajak Yessi untuk pulang. Ada perasaan bersalah sebenarnya karena Yessi ingin melihat Lampion, tapi karena kondisi cuaca yang tidak mengizinkan, akhirnya kamipun pulang…
To be Continued..
huhuhuhu…
saya malah gak ke sana…
penuh dengan cerita Bg Ryan,, suka duka bercampur satu ahha
iya… dari kemarin sih teman ajak.
‘gak ke Borobudur pas Waisak?’ saya cuma jawab: gak ah, rame.
tapi lihat foto dan baca pengalamanmu, jadi pengen bangettt
iya sih bg Ryan rame bgt yg kasihan umat Buddha gk bs beribdah dengan tenang karena keramaian
ya sebenarnya sih resiko mereka juga. di Jakarta aja Vihara sudah penuh, apalagi kalau di sana. 🙂
ah Br Ryan ni 😀
sayang ga dapet surat jalan dari ibu kapolda 😦
kenapa tidak boleh?
also visit
ok 🙂
nampaknya harus ada pemikiran ulang tentang pemisahan acara ritual ibadah Waisaknya dan perayaan hari rayanya, agar saudara kita ummat Budha dapat menjalankan ibadahnya lebih hening dan khusuk tanpa terganggu kasak-kusuk wisatawan yang njepret kamera seenaknya dan tingkah lain yang kurang menghormati prosesi ibadah suci mereka….
setuju,.. tahun depan semoga dipisah ya
jangan lupa kunjungi dieng culture festival agustus nanti 🙂
kapan? bagi infonya 🙂