Loving you is like killing myself daily . . .
but still i do with the hope that may
be after death you will be mine .”
By Shivangi Lavaniya

Pasir Timbul Pantai Sari Ringgung

Hello World!

Bandar Lampung, 31 Maret 2018

"Win, kita harus ke Pantai ya", kata Kak Nella dan Kak Ito kepadaku

Jujur saja aku tidak ada ide mengenai tempat wisata Pantai di Lampung, paling yang aku tahu Teluk Kiluan, kalau gak ya Pantai di Gunung Krakatau, itupun aku belum pernah kesana. Lewat Lampung saja juga karena pengalaman naik bis dari Jakarta ke kampungku Padangsidimpuan. Bukan hanya itu, aku baru tahu juga kalau Lampung itu terbagi atas beberapa Daerah seperti Kabupaten Lampung Timur, Lampung Tengah, Lampung Utara, Lampung Selatan, Lampung Barat dan Kota Bandar Lampung dan sebagainya. Ya iyalah namanya juga Provinsi, maka sebelum memutuskan wisata yang hendak dikunjungi maka harus tahu dulu tujuan wisatanya kemana.

Karena hari pertama kami jalan-jalan ke Way Kambas akhirnya kami memutuskan untuk menjelajah wisata Pantai Bandar Lampung saja. Karena lebih dekat ke Pelabuhan Bekauheni sehingga kami main-mainnya disekitar Bandar Lampung. Aku bingung hendak kemana di Bandar Lampung memutuskan untuk mengirim pertanyaan melalui twitter.

"Ke way kambas bs 2 hari gk @suci_rifani kak @eviindrawanto? Bagusnya jalur dari metro
atau dari rajabasa? Wisata pantai rekomwnded dekat kota di lampung apa kak @Travelerien?"

Pertanyaanku dijawab oleh Pak Ain Musalin.

"Deket dari Bandar Lampung, ada Pantai Sari Ringgung: ada mesjid terapung tengah laut..
Juga ada pasir timbulnya".

Pantai Sari Ringgung

Untungnya aku mengikuti nasehat Pak Mush untuk mengunjungi Pantai Sari Ringgung, selain pantai ada Masjid Terapun. Ide travelling ke Pantai Sari Ringgung disambut baik oleh Kak Fitri, Kak Ito dan Kak Nella. Maka kami dari Way Kambas akan langsung ke Pantai Sari Ringgung, artinya kami menginap di Bandar Lampung. Dari Way Kambas kami naik Damri, Damri di Lampung mirip trans Jakarta dengan harga bis Rp35.000. Kami dari terminal Damri Way Kambas jam 3 sore dan sampai di Bandar Lampung jam 5 sorean.

Sesampai di terminal Damri Bandar Lampung, kami sholat dulu di Musholla barulah kami memakai Gocar ke Pantai Sari Ringgung. Rencana kami langsung ke Pantai Sari Ringgung, karena niat kami hendak mencari penginapan disekitaran Pantai, artinya kami belum mendapatkan penginapan sama sekali. Aku sempat mencari penginapan dan yang paling dekat itu jaraknya 12 km dari Pantai Sari Ringgung, jarak Pantai Sari Ringgung dari Kota Bandar Lampung sekitaran 20km.

Kami sampai di Pantai Sari Ringgung itu sekitar jam 7 malam, dan jaraknya cukup jauh dari Kota Bandar Lampung. Kemudian betapa kagetnya karena harga penginapan di Pantai Sari Ringgung itu Rp1.500.000/malam. Terus si Bapak driver Go Car mencoba menanyakan si Bapak penjaga dimana penginapan murah dekat Pantai eh Bapaknya malah menyuruh kami tidur di pendopo dekat Pantai. Eh gila, dikirain kami apaan ya, kami itu 4 cewek loh masa di suruh nginap di pendopo dekat Pantai, kalau datang pasang laut yang ada kami terbawa air luat kali, atau tiba-tiba bangun udah di Tengah Laut! Kami sampai geleng-geleng kepala mendengar ide dari si Bapak penjaga gerbang. Yang tak habis piker adalah ada juga wisatawatan nginap di Pondok, untungnya ya mereka cowok. Ya ia kali nginap di sana, bisa-bisa kami kedinginan. Nah si Bapak itu lalu menawarkan penginapan di rumahnya dengan harga Rp600.000/malam untuk berempat. Waktu itu Kak Nella dan Kak Ito yang melihat kondisi kamar yang kata mereka tidak kondusif. Akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke Kota saja dan mencari penginapan di sekitar Bandar Lampung dengan Go Car yang sama dengan harga Rp170.000 pulang pergi.

Pantai Sari Ringgung

Sekitar jam 8 an, kami diantar Pak driver di Pasar malam. Kami berempat memutuskan untuk makan seafood, kebetulan lapar juga. Nah pas menuggu seafood datang, aku dan Kak Nella mencari penginapan disekitaran Pasar. Itupun hasil dari nanya penjual makanan di Pasar. Karena kami belum mendapatkan penginapan. Beruntungnya kami di sekitar pasar ada Hotel bernama Sriwijaya dengan kamar kelas 1 nya Rp300.000/4 orang. Lalu setelah kami membayar uang hotel, kami membayar uang Go Car dan mengambil tas kami. Kak Ito dan Kak Fitri lah menunggu sampai seafood.

Pas aku dan Kak Nella datang, makanan kami juga belum datang tapi Alhamdulillah satu momok masalah udah terselesaikan dengan mendapatkan penginapan. Jadi kami bisa makan dengan lega. Nah pas saat makan, disamping kami ada dua orang yang sedang Pedekate, lalu kami ajak bicara. Kami sempat curcol mengenai pengalaman kami gagal mendapat penginapan di sekitaran Pantai Sari Ringgung. Nah cowoknya bilang kalauPantai Sari Ringgung tidak terlalu bagus mirip Pantai Anyer katanya. Gara-gara pendapat cowok itu kami jadinya agak ragu keesokan harinya apakah ke Pantai Sari Ringgung. Tapi tidak terlalu kami pikirkan karena kami sudah lapar, dan seafood yang kami makan enak sekali meski seafood yang kami makan seharusnya itu milik pasangan tersebut. Untuk harga seafood Rp170.000/4 orang, cukup murah sehingga 1 jam menunggu terbayayarlah. Setelah kenyang kami berjalan menuju ke penginapan.

Sesampai di penginapan kami diskusi apakah akan ke Pantai Sari Ringgung atau tidak. Akhirnya kami memutuskan tetap ke Pantai Sari Ringgung, toh kami sudah kesana juga maka tak ada salahnya kembali kesana lagi.

Kak Fitri di Pantai Sari Ringgung

Keesokan harinya kami packing dan siap-siap check out dari hotel setelah mendapatkan sarapan roti dan teh manis. Cara kami ke Pantai Sari Ringgung  itu dengan Go Car Rp50.000 sampai di dalam Pantai Sari Ringgung. Kami sampai ke Pantai Sari Ringgung sekitar jam 10 karena perjalanan dari Kota Bandar Lampung sekitar 45 menit-1 jam. Dan kami membawa tas kami kemana-mana termasuk ke dalam Pantai Sari Ringgung . Untuk tiket masuk ke Pantai Sari Ringgung Rp50.000/4 orang. Dari kejauhan kami sudah melihat Masjid Terapung, membuatku kagum dengan masjid yang berada di tengah laut. Keputusan ke Pantai Sari Ringgung benar-benar keputusan yang tepat.

Karena kami ke Pantai Sari Ringgung  pas hari Minggu, Pantai Sari Ringgung cendol banget saking banyaknya pengunjung. Karena sudah agak siang, kami memutuskan makan dulu. Aku dan Kak Nella makan bareng, Kak Ito dan Kak Fitri barengan di warung sebelah. Saat kami makan, Pak Tang menawarkan sewa perahu Rp230.000 sekaligus menunjukkan photo Pasir Timbul. Sewa kapal bisa muat 10 orang, lalu kami berusaha mencari orang lain yang mungkin mau ikut dengan kami, kan lumayan hemat kalau pembaginya banyak. Kami menunggu di Dermaga sambil photo-photo eh Ibu dari Palembang bersama anaknya mengajak sewa kapal dengan kami. Itu namanya pucuk dicinta, ulang tiba :D. Akhirnya kami iyakan, lumayan nambah 4 orang.

Kami berdelapan kemudian naik perahu dari Dermaga menuju ke Pantai Timbul di Pantai Pasir Sari Ringgung. Karena kalau main ari di tepi pantai Cendol banget. Lagian Kak Nella dan Kak Ito ingin snorkeling, serta bisa menyewa alat snorkeling dengan Pak Tang. Pak Tang pemilik perahu orangnya baik sekali, ngambil photo kami bagus-bagus dan sabaran. Kami juga tidak perlu membayar tiket masuk ke dalam Pasir Timbul karena sudah termasuk dengan sewa kapal. Nah saat menuju ke Pasir Timbul, kami melewati Masjid Terapung. Jadi benar-benar Masjidnya berada di tengah Laut. Masjid ini diperuntukkan bagi Nelayan untuk beribadah jika sedang melaut, benar-benar keren ya!

Masjid Terapung di Pantai Sari Ringgung

Saat kami sampai di Pantai Timbul, kami melewati jembatan kayu kemudian terlihat hamparan pasir di tengah-tengah laut. Mirip Pasir Gosong di Karimun Jawa, terus airnya  bening. Kami terkagum-kagum loh. Kami tak menyangka Pantai Sari Ringgung cakep dan airnya bening, padahal kan kami sempat galau pergi atau tidak karena pendapat cowok yang kami jumpai. Syukur banget kami bukan tipikal orang yang menyerah, kami harus melihat sendiri. Karena kan pendapat orang itu gak harus dimakan mentah-mentah, harus dibuktikan.

Main di Pasir Timbul Pantai Sari Ringgung benar-benar puas, sampai kami lupa kalau itu panas banget. Lucunya aku sempat mengambil segenggam pasir Pantai Sari Ringgung loh dibawa pulang saking gemesnya dengan pasirnya putih. Setelah itu barulah kami dibawa ke Tegal Mas ama Bapak Tang karena Kak Nella dan Kak Ito mau main snorkeling. Aku dan Kak Fitri tidak ikut snorkeling malah menunggu di dalam kapal beserta Ibu yang ikut rombongan kami. Sekitar jam 3 baru kami kembali ke tepi.

Oh ya bagi yang mau menyewa kapal menuju Pasir Timbul bisa menghubungi Pak Tang No telepon 085383539980, muatan kapal bisa 10 orang dengan harga sewa kapal Rp230.00-Rp300.000.

Kami kembali ke tepi Pantai Sari Ringgung sekitar jam 4. Kami sholat dan bersiap-siap mencari cara keluar dari Pantai Sari Ringgung menuju ke Terminal. Saat pulang sempat bergejolak karena kami kesulitan mendapatkan Gocar. Memang kebanyakan orang jika ke Pantai Sari Ringgung itu menyewa mobil. Kalau dihitung-hitung jauh lebih murah. Sempat kepikiran Kak Ito dan Kak Nella keluar mencari travel langsung ke Bekauheni, ada yang menawarkan Rp600.000.  Kak Nella juga sempat menelpon Bapak Driver kami semalam, beliau mau tapi bayar Rp170.000 diantar sampai terminal Damri. Setengah putus asa kami berempat jalan kaki, padahal kalau jalan kaki menuju jalan raya itu jauh sekali. Eh pas di tengah jalan, ada Bapak baik hati memberikan tumpangan kepada kami. Memang rezeki anak solehah, kami mendapat tumpangan gratis sampai ke Kota Bandar Lampung. Pas naik ke dalam mobil, hujan turun deras sekali.

Aku, Kak Nella, Kak Fitri dan Kak Ito di Pasir Timbul Pantai Sari Ringgun

Kami baru turun di Bakso Soni VI karena penasaran dengan rasanya. Ternyata rasanya “B” aja loh. Barulah dari Bakso Soni kami cus naik Go Car langsung ke Pelabuhan Bekauheni dengan membayar Rp270.000/4 orang.

Kalau dipikir-pikir ya kami berempat itu ada-ada aja ya, jalan dari Way Kambas ujungnya ke Pantai Sari Ringgung. Tapi justru disitu keseruannya, 4 cewek tangguh berkelana. Dapat Taman Nasional dan dapat Pantai. Kurang nikmat apa coba? Banyak juga pembelajaran yang aku dapatkan selama perjalanan salah satunya belajar untuk tidak menyerah.

Rincian Biaya Perjalanan ke Pantai Sari Ringgung, Bandar Lampung

Hari ke 2, 31 Maret 2018

 

13:30-14:30 Makan pempek Rp10.000 di dekat tempat tunggu Damri (Damrinya mirip dengan Busway)

14:30-17:00 Perjalanan menuju Bandar Lampung dengan Damri Rp35.000

17:00-17:30 Istirahat dan sholat di terminal Damri

17:30-19:30 Ke Pantai Sari Ringgung, mencari penginapan namun gagal karena tidak ada penginapan murah di Pantai Sari Ringgung Bandar Lampung dengan Gocar Rp170.000 pulang pergi/4 orang

19:30-20:30 Makan malam di Pasar dekat Hotel Sriwijaya, makan seafood Rp215.000/ 4 orang.

20:30-20:30-08:00 Menginap di Hotel Sriwijaya Bandar Lampung Rp300.000/4 orang

Kak Nella di depan Masjid Terapung, Bandar Lampung

Hari ke 3, 1 April 2018

08:00-09:00 Persiapan, sarapan dan check out dari hotel

09:00-10:00 Ke Pantai Sari Ringgung dengan Go-Car Rp50.000/4 orang

10:00-17:00 Keliling Pantai Sari Ringgung, sewa kapal ke Pantai Pasir Timbul Rp230.000/8 orang

17:00-18:00 Nebeng dari Pantai Sari Ringgung ke Bakso Soni VI

18:00:19:00 Makan Bakso Soni VI Rp15.000 (Baksonya “B” aja).

19:00-20:00 Dari Bandar Lampung ke Pelabuhan Bakauheni Rp270.000/4 orang

20:00-22:00 Dari Bekauheni ke Merak naik kapal Rp15.000 + Rp15.000 (bantal dan ruangan AC)

22:00-03:00 Merak ke Jakarta Rp40.000 naik bis

PS:

Kak Nella, Kak Ito dan Kak Fitri masih jomblo loh, kali aja lagi nyari istri hehe 🙂

Salam

Winny

Salam

Winny

 

Advertisements

Posted by Winny Marlina

Indonesian, Travel Blogger and Engineer

6 Comments

  1. poto no 1 dan 2 kok sepi, dan bagus banget, kayak di lombok >>>>tapi kok poto nomor 3 : rame banget gitu ya, nggak yaman kalo main ke pantai banyak orang

    Reply

    1. yang nomor 3 itu di tepi kak, cendol banget
      yang nomor 1 dan 2 harus naik kapal kesananya

      Reply

      1. oo pantes kok yang sepi itu indah banget, cool dan blue pasir putih

  2. Kalo di Gunungkidul, alternatif banget lho itu tinggal di pondokan di pantai. Terbuka emang. Tapi asik juga kok. Kapan-kapan cobain. Asal bawa peralatan tempur kayak sleeping bag dan sebagainya sih. Minimal ada sarung lah. Hahaha
    Nggak nyobain salat di masjid terapungnya, Kak?

    Reply

    1. Jadi pengen ke Gunung Kidul

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.