Perjuangan Plesiran ke Kerajaan Kutai di Tenggarong Kalimantan Timur


“You’ll learn, as you get older, that rules are made to be broken. Be bold enough to live life on your terms, and never, ever apologize for it. Go against the grain, refuse to conform, take the road less traveled instead of the well-beaten path. Laugh in the face of adversity, and leap before you look. Dance as though EVERYBODY is watching. March to the beat of your own drummer. And stubbornly refuse to fit in.” – Mandy Hale

Kutai heritage
Kutai Heritage

 

Hello World!

Plesiran ke Kalimantan Timur belum tuntas, karena belum apdol rasanya kalau travelling ke Tenggarong belum masuk ke dalam catatan perjalanan Kalimantan Timur apalagi kalau bukan untuk menjelajah setiap potensi wisata di Kalimantan Timur.

17 Mei 2014

Hari ke 3 di Kalimantan Timur, ketika aku harus menempuh perjalanan hampir 4 jam dari Bontang ke Samarinda dengan bus yang memiliki sauna gratis. Entah bagaimana caranya aku ke Tenggarong demi melihat saksi bisu sejarah kerajaan Kutai di Indonesia. Entah kenapa adrenalinku akan heritage luar biasa, mungkin karena aku Engineer old fashinoned kali ya! Entahlah yang pasti aku sendirian di dalam bus memikirkan tentang bagiamana menaklukkan SAMARINDA.

Keterlambatan berangkat dari Bontang di jam 2 siang berefek akan waktu tibaku di Samarinda jam 6 sore belum lagi pengetahuan tentang Samarinda yang kosong melompong. Alhasil biaya bus dari Bontang ke Stasiun Samarinda sebesar Rp30.000 harus ditambah Rp10.000 menuju ke pasar pagi Samarinda, tempat ku menginap yang katanya sarang penyamun Samarinda! Karena tidak tahu jalan ya sudah tanya pak supir angkot untuk mencariku penginapan yang akhirnya malah merekomendasikan ke tempat entah berantah.

Biaya penginapan semalam di Pasar pagi Samarinda sebesar Rp150.000 yang kamarnya penuh nuansa horror, kalau tidak terjepit aku pasti tidak mau tidur ditempat menyuramkan dengan harga mahal tapi low quality! Bahkan hotel Samarinda lebih parah jeleknya dibandingkan dengan Bontang.

Untungnya dari Pasar Pagi Samarinda dekat dengan Mall Mesra Indah yang memiliki fasilitas wifi, meski mallnya kecil serta di sekitarnya terdapat Soto Banjar yang enak yang mengingatkanku akan rasa soto di Kampung halamanku, Padangsidempuan. Harga Soto Banjar dengan es jeruk Rp20.000. Begitulah permulaan demi ke Museum Mulawarman Tenggarong, sisa Kerajaan Kutai Indonesia.

Okey tidak ada pilihan aku terpaksa tidur untuk memulai ekspedisi perjalanan ke Kutai di Tenggarong.

MUSEUM MULAWARMAN, IAM COMING!!

gerbang raja
Gerbang Raja

Samarinda, 18 Mey 2014

Aku bangun telat sekali sekitar jam 9 pagi dan antara pergi atau tidak ke Museum Mulawarman di Tenggarong Kalimantan Timur, kira-kira 2 jam perjalanan dari Samarinda. Untuk menuju ke Tenggarong rasanya susah sekali bukan susah karena tidak ada transportasi tapi susah menanyakan penduduk setempat yang tidak begitu ramah dengan turis. Banyangkan aku yang turis lokal saja susah berkomunikasi bagaimana dengan turis mancanegara, apa gak stres itu?

Jadi dari Pasar Pagi Samarinda aku menaiki taxi (berupa angkutan umum, di Kalimantan disebut Taxi) berwarna hijau No. A1 menuju ke Jembatan Sungai Mahakam. Lalu pas pojok jembatan penyebarangan Sungai Mahakam Samarinda, aku tidak ada ide bagaimana caranya ke Tenggarong dan jawaban penduduknya ngaco banget sehingga aku memutuskan untuk berjalan kaki menuju arah lain ke seberang karena katanya dari seberang Sungai Mahakamlah terdapat taxi menuju Tenggarong. Aku berjalan kaki sepanjang jembatan Sungai Mahakam bak artis gagal hingga dilihatin orang sekitar aku hanya cuwek bebek saja. Sampai akhirnya aku sampai di ujung dan menemukan angkutan yang membawaku ke Tenggarong. Lama perjalanan Samarinda ke Tenggarong dengan angkutan umum 2 jam dengan kondisi jalanan yang rusak dan jelek. Untuk biaya transportasi  Samarinda ke Tenggarong Rp20.000.

Kerajaan Kutai
Kerajaan Kutai

Sesampai di Tenggarong waktu menunjukkan jam 12 siang seakan matahari itu tersenyum indah! Ah teriknya! Selain itu aku harus naik ojek lagi seharga Rp15000 ke Museum Mulawarman. Duh bener-bener perjuangan hanya demi ke Museum euy!!

Sesampai di Gerbang Raja, aku sangat terpukau dengan Museum Mulawarman. Pintunya putih tak kalah jauh dengan Istana Buckingham walau dia imut ditambah dengan icon unik mirip dengan naga. Entahlah..

Aku terpukau dengan Keraton Kesultanan Kutai Kartanegara. Pemandangan spekatakuler dengan kombinasi putih, biru dan emas cukup menghilangkan lelahku ke Tenggarong demi Museum Mulawarman

keraton kesultanan kutai kartanegara
Keraton Kesultanan Kutai Kartanegara

Tiket masuk ke dalam Museum Mulawarman Kalimantan Timur untuk dewasa seharag Rp3500 dan untuk turis mancanegara tiket masuk Rp5000. Tiket masuk ke dalam Museum Mulawarman Kalimantan Timur untuk pelajar/anak-anak seharag Rp1500. Jam kunjungan Museum Mulawarman Senin sampai Kamis dan Sabtu Minggu jam 09.00-16.00. Sedangkan untuk hari Jumat, Museum tutup.

Bangunan Keraton Kutai Kartanegara terletak di Ibukota Kabupaten Kutai Kartanegara (Tenggarong), Keraton peninggalan Kerajaan Kutai Kartanegara ini sekarang beralih fungsi menjadi Museum Mulawarman, didirikan pada tahun 1932 oleh Pemerintah Belanda yang menyerahkan Keraton kepada Sultan Adji Muhammad Parikesit pada tahun 1935. Bahan bangunannya didominasi oleh beton mulai dari ruang bawah tanah, lantai, dinding, penyekat hingga atap. Di halaman depan Museum terdapat duplikat Patung Lembu Swana yang merupakan lambang Kerajaan Kutai Kartanegara. Arsitektur dari museum ini mengadopsi dari arsitektur tradisional Suku Dayak yang ada di Kutai. (Referensi:Kutaikartanegarakab)

Keunikan dari Museum Mulawarman pada deretan kata yang ada di icon Museum Mulawarman : “Bermahkota bukannya Raja, berbelalai, bergading lainnya gajah. Bersayap bukannya burung, berisisk lainnya ikan. Bertaji bukannya ayam. Binatang apakah ini?

kutai kartanegara kalimantan timur
Kutai Kartanegara Kalimantan Timur

The Mulawarman Museum is a museum in Tenggarong, Kalimantan Timur Indonesia which located near the Mahakam River in a former palace, constructed by the Dutch during the 1930s that was once the power base where 19 sultans reigned. The museum contains historical statues and antiquities, period furnishings.

Memasuki Museum Mulawarman, aku telah disambut dengan singgasana yang merupakan tempat duduk Raja dan Permaisuri dengan gaya Eropa oleh ir. Vnder Luber tahun 1935. Warnanya didominasi dengan warna biru dengan emas. Pertama kali melihat singgasana Raja di Museum Mulawarman akupun teringat akan Istana Maimun di Medan 🙂

Museum Mulawarman

Museum Mulawarman

Di dalam Museum Mulawarman ersimpan benda-benda yang mempunyai nilai sejarah/seni yang tinggi yang pernah digunakan oleh Kesultanan. Yang paling membuatku terpesona adalah mata uang republik Indonesia mulai dari 1 Rupiah serta Arca Hindu dan tiruan Prasasti Yupa ynag merupakan bukti tertulis pertama tentang aksara Pallawa dalam bahasa Sanskerta. Padahal aslinya ada di Museum Nasional Jakarta tapi sebagai tempat dimana Kerajaan Kutai dimulai atmosfernya beda sekali!

Mulawarman adalah anak Aswawarman dan cucu Kundungga.

Kundungga adalah pembesar dari Kerajaan Campa (Kamboja) yang datang ke Indonesia.  (Wikipedia)

Tak jauh dari Museum Mulawaman terdapat sebuah dermaga kecil. Aku paling suka dengan Tenggarong, kotanya indah dan mistis 😀

Pengalaman yang tidak terlupakan saat di Museum Mulawarman ketika para bikers mengajakku berphoto rame-rame di depan Museum yan design dan warnanya begitu kusuka. Aku diperlakuan seperti bule lokal 🙂

kutai kalimantan timur
Kutai Kalimantan Timur

Catatan perjalanan tentang Samarinda

1. Biaya transportasi ke Museum Mulawarman lebih mahal dibandingkan dengan tiket masuknya

2. Komunikasi dengan orang Kalimantan agak susah

3. Bagi yang tidak suka Museum tidak disarankan ke Tenggarong

4. Sungai Mahalam masih ditemukan disepanjang Samarinda hingga ke Tenggarong

5. Objek wisata lainnya yang ada di Tenggarong adalah Pulau Kemala

 

Salam 

winnyalna

 

 

 

 

 

 

 

 

Weeny Traveller

 

 

Iklan

10 tanggapan untuk “Perjuangan Plesiran ke Kerajaan Kutai di Tenggarong Kalimantan Timur

  1. Sayang, jembatan Tenggarongnya sudah gak ada….
    Lebih asyik liat patung lembuswana dari perahu ketingting di sungai Mahakam, pasti bakal lebih terasa aura mistisnya… 🙂
    Jadi kangen sama Kaltim 😀

  2. Sedikit koreksi. Foto yang di atasitu bukan Gerbang Raja.
    Gerbang Raja itu bukan bangunan, tapi slogan yang artinya GERakan PemBANGunan RAkyat SeJAhtera… :mrgreen:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s