Backpacker-an ke Way Kambas dan Pantai Sari Ringgung Lampung


“It’s in those quiet little towns, at the edge of the world, that you will find the salt of the earth people who make you feel right at home”
By Aaron Lauritsen

Hello World!

Lampung, April 2018

"Win, libur 3 hari kemana?", tanya kak Nella via Whatsapp
"Gak kemana-mana kak tapi kalau pengen soh ke Way Kambas", 
jawabku
"Ayo Win, ntar kakak ajak Kak Fitri", jawabnya dengan semangat

Bak gayung bersambut akhirnya ajakanku untuk traveling ke Taman Nasional Way Kambas diterima dengan antusias. Bukan kenapa-kenapa sudah beberapa teman yang hendak aku ajak ke Way Kambas jawabannya selalu “Way Kambas mah jauh dari Jakarta”, ada juga yang bilang “ngapain ke Way Kambas”. Intinya pas ngajak orang lain susahnya minta ampun. Pas ngajakin Kak Nella “ayu-ayu” aja. Makanya impian ke Way Kambas setelah wacana lama baru tercapai, untung jadi nyata, kalau jadi mimpi selamanya itu rasanya “sakit kak”!

Di Kapal Penyeberangan Merak-Bekauheni

Selain Kak Nella dan Kak Fitri, aku juga mengajak Kak Ito. Saat mengajak Kak Ito pertanyaan yang dia tanyakan adalah “apa yang bisa dilihat di Way Kambas?”,

“Kenapa mesti jauh-jauh ke Way Kambas kalau hanya untuk melihat Gajah, kan bisa lihat di Ragunan”, katanya.

Terus aku menjawab karena Way Kambas ada di Buku RPUL kak dan caranya ke Way Kambas itu loh “adventure banget”. Eh tanpa pikir panjang si Kak Ito ikut juga rupanya meski alasanku tak memuaskan.

Sebelum memutuskan ke Way Kambas kami sempat memiliki Drama. Dramanya adalah jadwal kepergian yang awalnya kami hendak berangkat Jumat jam 10 malam sepulang kerja malah tidak jadi karena Kak Fitri rumahnya jauh di Depok dan tak akan terkejar ke Terminal Bis Kampung Rambutan Jakarta. Akhirnya kami malah berangkat hari Jumatnya jam 10 Pagi dari Slipi Jaya setelah pake acara lari-lari karena menunggu Kak Ito. Untung Kak Ito kedatangannya pas banget kedatangan bis Kak Nella dan Kak Fitri dari Kampung Rambutan, karena kami berjanji naik di Slipi Jaya. Toh lewat juga dari Slipi Jaya jika mau ke Merak. Satu pesanku kepada Kak Nella pas Hari-H agar naik bisnya “Primajasa” saja. Maklum sebagai warga yang pernah tinggal di Ciwandan, moda transportasi dari Jakarta ke Merak itu sudah khatam hehehe 😀

Way Kambas

Gokilnya, kami ke Way Kambas itu tanpa rincian perjalanan atau itinerary. Aku hanya sekedar membaca dari pengalaman orang bagaimana cara dari Jakarta ke Way Kambas.

Ada 2 versi cara ke Way Kambas dari Jakarta

  1. Rute Bakauheni-Rajabasa-Metro-Way Kambas
  2. Rute Bakauheni-Way Jepara-Way Kambas

Aku coba ubek-ubek Google Map ternyata Taman Nasional Way Kambas tempat penangkaran Gajah berada di Lampung Timur, jaraknya hanya 2,5 jam saja dari Bakauheni. Ingat ini hanya jarak di peta karena pada kenyataanya jauh kali! Itulah kenyataan itu kadang tak semulus teori. Nah kalau kami mau mencoba jalur Metro bisa-bisa saja tapi harus mutar-mutar dulu. Jujur kami tidak begitu yakin mau naik apa karena pada dasarnya kami hanya go show aja. Akhirnya kami memutuskan jika sudah sampai Bekauheni. Untungnya hasil riset dari pengalaman orang kami mendapat kontak Pak Pal, salah satu penjaga Way Kambas yang memberi rekomendasi untuk ke arah Lampung Timur. Caranya langsung sewa travel ke Way Jepara, harganya Rp70.000 katanya tapi Alhamdulillah kami anak solehah jadi dapat harga travelnya Rp55.000 saja 😂

Memang kekuatan 4 cewek itu 3 boru Regar itu dapat membuat harga mahal jadi murah. Terus jalan-jalan kami seru!

Bayangkan memutuskan jalan kemana aja dalam sekejab terus ngeteng dan jalan ke tempat tujuan, just simple like that! Tanpa rencana tapi jadiio☺

Taman Nasional Way Kambas

Kalau dipikir-pikir ya kami berempat termasuk wanita super karena pergi ke daerah yang katanya banyak begal eh tak disangka aman-aman saja. Padahal kami berempat wanita loh. Belum lagi ada pengalaman pas sepeda motor yang aku tumpangi kempes di perkampungan ke arah Way Kambas. Untung kempesnya pas di perkampungan coba pas di hutannya bisa berabe. Pas ban kempes ada Kak Fitri yang menemani. Karena jika ingin menginap di Way Kambas harus koordinasi dengan orang Way Kambas sebab malam hari hewan liar dari hutan sering berkeliaraan, namanya juga hutan ya. Makanya masuk ke Way Kambas malam hari harus dengan orang lokal jangan barbar main masuk aja. Masih hutan, banyak hewannya!

Walau perjalan ke Way Kambas cukup jauh tapi aku senang aja sekaligus ada rasa prihatin juga dengan gajah-gajah. Senang karena melihat gajah hidup di alam bebas dan sekaligus gemes lihat Gajahnya. Prihatin karena gajah-gajah yang dijinakkan dikirim ke Kebun Binatang. Terus hal yang kurang aku suka saat melihat Gajah beratraksi, serius lucu tapi kok aku kasihan dengan gajahnya.

Overall ke Way Kambas itu menyenangkan karena bisa melihat Rumah Sakit Gajah, melihat tulang belulang Gajah asli serta Gajah-gajah jinak yang katanya berjumlah 60an hidup di alam bebas. Bonusnya aku juga bisa menikmati Pantai dengan pasir putih dan air laut bening sekaliii di Pasir Sari Ringgung.

I’m totally happy!

Masjid Terapung, Bandar Lampung

Kesan saat ngebolang bersama kakak-kakak bak gado-gado. Ada masa dimana kami sama-sama merasakan gimana naik bis himpit-himpitan dari Jakarta ke Merak. Bahkan aku dan Kak Ito sempat duduk di bangku tempel hingga akhirnya dapat bangku yang nyaman untuk diduduki. Terus pas didalam kapal penyebarangan dari Merak ke Bakauheni Lampung, pertama kali bagi kami menyeberang pas hari masih cerah jadi lautnya kelihatan padahal ya kami kebanyakan itu tidur berselonjoran dengan santai tanpa duka di lantai kapal selama di perjalanan Merak-Bakauheni. Nah yang bikin gondok alias jengkel ketika menunggu travel dari Bakauheni ke Way Jepara, 1 jam sodar-sodara. Tapi kasihan juga karena si abang nya cuma sekali dapat sewa dalam sehari jadi wajar menunggu hingga penumpang penuh. Terus pas malamnya kami melewati hutan belantara tapi paginya terobati dengan melihat tingkah lucu Gajah di alam bebas. 

Perjalanan kami tidak sampai disitu, kami juga punya pengalaman ketika gagal menginap di depan Pantai Sari Ringgung dengan polosnya beranggapan ada penginapan murah. Udah malamnya sudah eh keesokan harinya juga susah. Susahnya pas sudah di dalam Pantai  Sari Ringgung mau keluar eh gak ada mobil kemudian kami jalan kaki meski lamgir mau mendung eh malah ketemu Bapak baik hati dan beliau memberikan tumpangan sampai ke Kota Bandar Lampung yang berjarak 25km itu. Kami nebeng dong di mobil Bapak yang sedang lewat pas di Pantai Sari Ringgung. Serta aku masih ingat betul dengan wajah ceria Kak Ito dan Kak Nella saat snorkling even ya trip Way Kambas-Pantai Sari Ringgung kami ini tergolong “habis waktu di jalan” plus “gak backpacker amat karena itungannyan lumayan nguras kantong”. Tapi justru disitu keseruanya, keseruaan 4 cewek cantik yang masih single tapi sangat menikmati hidup untuk melihat keindahan alam Indonesia.

Seru kan gaya backpackeran kami?

Pantai Sari Ringgung

Tips Way Kambas dan Pantai Sari Ringgung

1.Jika ingin keliling Wisata Lampung dengan rombongan, sebaiknya menyewa mobil saja karena jatuhnya jauh lebuh hemat daripada jalan dengan gonta ganti transportasi umum.

2. Menginap di Way Kambas seru sekali karena bisa melihat gajah dimandikan dan merasakan sensasi nginap di hutan. Harga sewa menginap di dalam Way Kambasnya itu Rp300.000/malam bisa masuk 4 orang dan bisa menghubungi Pak Pal (081369094913) yang merupakan penjaga dari Way Kambas. Bagi yang ingin hemat, bisa kok pulang hari dari Way Kambas. Khusus dari Jakarta bisa melakukan perjalanan dari Jakarta pas malam hari, kalau melakukan perjalanan pagi hari maka terpaksa menginap di Way Kambas. Ingat tidak ada lagi Damri langsung ke Way Kambas, cara ke Way Kambas hanya dengan ojek, mobil pribadi atau bis sewaan.

3. Penginapan di Pantai Sari Ringgung cukup mahal antara Rp500.000-Rp3.000.000 sehingga saranku sebaiknya nginap di Kota Bandar Lampung kemudian pagi harinya ke Pantai Sari Ringgung. Kalau ke Sari ringgung sebaiknya menyewa mobil jika beramai-ramai tapi kalau sendiri bisa menyewa sepeda motor karena tidak ada bis langsung ke Pantai Sari Ringgung.

4. Sewa kapal demi ke Pantai Pasir Timbul Sari Ringgung wajib hukumnya karena worth it banget. Sewa kapal selama 3 jam dengan muatan maksimal 10 orang Rp230.00-Rp300.000 dan bisa ke Pantai Timbul, pantainya timbul di tengah lautan dengan jembatan kece. Untuk sewa kapal bisa menghubungi Pak Tang No Hp (085383539980), orangnya rekomended baik dan jago ngambil photo. Bisa juga sewa alat snorkeling ama si Bapak.

Empat Cewek Cantik Jomblo

Rincian Pengeluaran Perjalanan ke Way Kambas dan Pantai Sari Ringgung

Hari 1, 30 Maret 2018

10:00-13:00 Perjalanan dari Slipi Jaya Jakarta ke Pelabuhan Merak Rp35.000. makan oncom Rp5000 dan makan Gado-gado di Serang Rp10.000

13:00-14:00 Makan siang di Pelabuhan Merak Rp25.000 (makanan Padang tapi rasa standar)

14:00-17:00 Perjalanan dari Pelabuhan Merak ke Pelabuhan Bakauheni Rp15.000 dengan ferri + Rp10.000 untuk ruang tunggu AC di kapal

17:00-18:00 Menunggu travel ke Pasar Way Jepara

18:00-20:00 Perjalanan dengan travel dari Pelabuhan Bakauheni ke Pasar Way Jepara Rp55.000

20:00-21:00 Perjalanan dari Pasar Way Jepara ke Taman Nasional Way Kambas Rp50.000 dengan gojek. Beli makan malam sate di Pasar Jepara Rp25.000 (sate Madura tapi tidak rekomemended)

21:00-08:00 Istirahat di Pengianpan di Taman Nasional Way Kambas semalam Rp300.000/3 orang

Kak Nella di depan Masjid Terapung

Hari ke 2, 31 Maret 2018

08:00-09:00 Melihat Gajah mandi di Taman Nasional Way Kambas

09:00-12:00 Keliling Taman Nasional Way Kambas, melihat atraksi Gajah, mengunjungi Rumah Sakit Gahah dan keliling Taman Nasional Way Kambas. Pamitan ke Pak Pal Rp100.000/4 orang uang tips

12:00-13:00 Makan siang di Warung , makan gado-gado Rp10.000, minum kelapa Rp10.000

13:00-13:30 Perjalanan dari Way Kambas ke Terminal Damri tujuan Bandar Lampung dengan Gojek Rp50.000.

13:30-14:30 Makan pempek Rp10.000 di dekat tempat tunggu Damri (Damrinya mirip dengan Busway)

14:30-17:00 Perjalanan menuju Bandar Lampung

17:00-17:30 Istirahat dan sholat di terminal Damri

17:30-19:30 Ke Pantai Sari Ringgung, mencari penginapan namun gagal karena tidak ada penginapan murah di Pantai Sari Ringgung Bandar Lampung dengan Gocar Rp170.000 pulang pergi/4 orang

19:30-20:30 Makan malam di Pasar dekat Hotel Sriwijaya, makan seafood Rp215.000/ 4 orang. 20:30-20:30-08:00 Menginap di Hotel Sriwijaya Bandar Lampung Rp300.000/4 orang

Kak Fitri di Pantai Sari Ringgung

Hari ke 3, 1 April 2018

08:00-09:00 Persiapan, sarapan dan check out dari hotel

09:00-10:00 Ke Pantai Sari Ringgung dengan Go-Car Rp50.000/4 orang

10:00-17:00 Keliling Pantai Sari Ringgung, sewa kapal ke Pantai Pasir Timbul Rp230.000/8 orang

17:00-18:00 Nebeng dari Pantai Sari Ringgung ke Bakso Soni VI

18:00:19:00 Makan Bakso Soni VI Rp15.000 (Baksonya “B” aja).

19:00-20:00 Dari Bandar Lampung ke Pelabuhan Bakauheni Rp270.000/4 orang

20:00-22:00 Dari Bekauheni ke Merak naik kapal Rp15.000 + Rp15.000 (bantal dan ruangan AC)

22:00-03:00 Merak ke Jakarta Rp40.000 naik bis

Salam

Winny

Iklan