Pesona Puri Klungkung Bali


The Klungkung Palace, officially Puri Agung Semarapura, is a historical building complex situated in Semarapura , the capital of the Klungkung. The palace (puri) was erected at the end of the 17th century, but largely destroyed during the Dutch colonial conquest in 1908. Today the basic remains of the palace are the court of justice, the Kertha Gosa Pavilion, and the main gate that bears the date Saka 1622 (AD 1700). Within the old palace compound is also a floating pavilion, the Bale Kembang. The descendants of the rajas that once ruled Klungkung today live in Puri Agung, a residence to the west of the old palace, which was built after 1929

By Wikipedia

Hello World

Bali, 2017

Siang itu kami menuju ke Semarapura, tak jauh dari Tugu Monumen Klungkung aku melihat iringan penduduk Bali menghantarkan jasad seseorang ke kubur.

“Pak, itu tidak ngaben kah? Tanyaku kepada Pak Bobi guide kami selama di Bali”
“Tidak, jawabnya”

Jujur baru kali ini aku melihat iring-iringan Bali seperti itu.

“Tunggu disini ya, Bapak mau coba lihat 
apakah Purinya boleh masuk”, lanjutnya

Kemudian akupun duduk menunggu di depan Kertha Gosa dengan Kebaya Bali warna kuning. Memang rencana kami napak tilas di Puri Klungkung, saksi bisu dari Kerajaan Klungkung Bali ingin memakai Batik khas Bali seolah kami adalah Raja dan Ratu pada masa Klungkung. Aku dan Rere dengan Batik warna kuning, Leoni dengan kebaya orange, Rasti dengan Kebaya Hijau dan Nicho dengan baju hitam lengkap dengan topi bali yang khas. Memakai Kebaya Bali di area Puri klungkung serasa jadi Ratu dah. Apalagi latarnya yang cocok, seakan berada pada masa Dalem Waturenggong di abad 14-17 dimana Kerajaan KLUNGKUNG meraih masa kejayaannya waktu itu.

Puri Klungkung merupakan peninggalan Kerajaan Klungkung Bali. Puri sendiri berasal dari Bahasa Sanskerta yang berarti benteng, istana, atau tempat persemayan Raja. Kerajaan Klungkung dulunya terdiri dari kerajaan-kerajaan kecil kemudian menjadi menjadi swapraja (berjumlah delapan buah) atau disebut kabupaten. Kerajaan pecahan Klungkung diantaranya Kerajaan Badung, Kerajaan Bangli; Kerajaan Buleleng, Kerajaan Gianyar, Kerajaan Karangasem, Kerajaan Klungkung; Kerajaan Tabanan.

Dari dulu Kerajaan Klungkung memiliki raja antara lain:

  1. Dewa Agung Jambe I (1686-1722)
  2. Dewa Agung Gede (1722-1736)
  3. Dewa Agung Made (1736-1760)
  4. Dewa Agung Sakti (1760-1790)
  5. Dewa Agung Putra I Kasamba (1790-1809)
  6. Dewa Agung Panji
  7. Dewa Agung Putra
  8. Dewa Agung Putra I
  9. Gusti Ayu Karang (1809-1814)
  10. Dewa Agung Putra II (1814-1851)
  11. Dewa Agung Istri Kania (1814-1856)
  12. Dewa Agung Putra III (1851-1903)
  13. Dewa Agung Jambe II (1903-1908)
  14. Interregnum (1908-1929)
  15. Dewa Agung Oka Geg (1929-1965)
  16. Interregnum (1965-1998)
  17. Dewa Agung Cokorda Gede Agung (1998-)
  18. Dewa Agung Cokorda Gede Agung Semaraputra (2010-Sekarang)

Kerajaan Kulungkung ini sangat erat kaitannya dengan Perang Puputan tanggal 18 April 1908. Perang Puputan artinya perang hingga titik darah penghabisan. Pada masa itu baik wanita juga ikut berperang dalam perang Puputan, sayangnya pada perang Puputan kerajaan klungkung kalah dari Belanda.

Hingga kini sisa dari Kerajaan Klungkung Bali yang masih bisa dikunjugi adalah Kertha Gosa, Pemedal Agung, dan Puri Agung Klungkung. Dan ketiga tempat ini kami kunjungi sebagai napak tilas dari Kerajaan Klungkung.

"Win, Pak Bobbi mana? tanya teman-temanku menghampiri"

"Tadi kesana nyari informasi, jawabku"

Kemudian beramai-ramai kami masuk ke dalam Kertha Gosa. Pada saat kami masuk ke dalam Kertha Gosa kami tidak dipungut biaya. Kerta Ghosa disangga oleh tiang-tiang kayu berukir Bali berjumlah dua puluh tiang kayu. Di Kertha Gosa juga terdapat Kursi dengan pegangan tangannya berbentuk naga yang merupakan tempat duduk untuk pendeta Brahmana sementara kursi satu lagi untuk raja.

Kemudian di depan pintu gerbang terdapat sebuah BALE KAMBANG, sebagai tempat penjamuan makan untuk ramu kerajaan atau sekedar tempat istirahat Raja pada masa itu. Bale ini juga dulunya di Masa kerajaan klungkung menjadi tempar peradilan jika terjadi persengketaan. Bale Kambang atau disebut juga Taman Gili bangunan berbentuk mirip kura-kura dengan kolam ditengahnya. Untuk menuju Bale kambang terdapat jembatan yang ketika menuju jembatan terdapat gerbang berbentuk Gapura bernama Candi Bentar. 

Untuk Bale Kambang ini aku sangat suka karena kolamnya dengan bangunan ditengahnya itu klasik. Bahkan Bale Kambang dalam filospi Hindu memiliki arti dengan keberadaan Gunung Mahameru yang dikelilingi pegunungan dan lautan. Berada di Bale Kambang dengan ukiran khas ukirannya sangat bagus sekali 🙂

Selain Bale Kambang, di depan Kertha Gosa juga ada sebuah museum. Museum yang berada di samping Kertha Gosa adalah peninggalan zaman dulu serta sejarah tentang Kerajaan di Bali. Bahkan photo Raja Klunglung juga ada di museum ini. Menariknya lagi di museum ada buku berbahasa Belanda serta uang koin mirip mata uang China. Menurut penjelasan Pak Bobi kalau dulu Raja KLUNGKUNG pernah menikah dengan Gadis China sehingga ada akulturasi Bali dengan China khususnya mata uangnya.

Setelah puas melihat Musuem kami melanjutkan jalan kaki ke Puri Agung Klungkung. Puri Agung Klungkung merupakan cagar Budaya menarik di Bali karena memiliki makna khusus yaitu sebagai tempat persemayaman raja. Sehingga Puri Agung Klungkung merupakan Puri bangunan dan tempat suci.

Hal menarik dari Puri klungkung adalah di Puri ini terdapat photo Raja Klungkung zaman dulu dan sekarang. Bahkan ada satu alarm alami berbunyi jika ada bahaya. Untuk Puri sendiri cukup bersih dan luas. Ada satu lukisan yang membuat perhatianku tertuju yaitu pada lukisan perang GADIS BALI dengan PENJAJAH.

"Pak kenapa wanita juga berperang?", tanyaku
"Karena perang puputan tidak mengenal wanita dan anak-anak,
perang itu sampai tuntas", jawab Pak Bobi kepadaku.

 

Sumber Photo (Ate Malem)

Tiket masuk ke Puri Agung Klungkung

Gratis

Tiket masuk ke Kerta Gosa & Taman Gili

Dewasa Rp. 12.000/Orang

Anak-anak Rp. 6.000/Anak

Lokasi Puri Klungkung Bali

Jl. Untung Surapati, Semarapura Tengah

Kec. Klungkung, Kabupaten Klungkung

Bali

*Perjalanan ini adalah undangan dari Kementerian Pariwisata untuk program Pesona Indonesia bersama Nicko, Ratri, Rere, dan Leoni.

Baca juga

1. Suluban

2. GWK

3. Puri Lukisan

4. Bali Pulina

Salam

Winny

Iklan

Pesona Garuda Wisnu Kencana Bali


GWK Cultural Park offers a lavish Indonesian cultural heritage for years to come with the upcoming monumental Garuda Wisnu Kencana Statue as the Indonesian Icon of civilization, the number one cultural icon in Bali. Garuda Wisnu Kencana statue is the symbol of God Vishnu riding the great Garuda as his trusted companion.

By GWK BALI

Hello World

Bali 2017

GWK atau Garuda Wisnu Kencana merupakan salah satu tempat wisata wajib yang harus dikunjungi selama di Bali. GWK Bali merupakan symbol untuk Dewa Wisnu. Sebenarnya GWK ini dirancang lengkap dengan Patung Garuda agung sebagai pendampingnya yang menjadi monument terbesar di dunia dengan patung adalah 120m, terdiri dari 24 segmen dan dibentuk dengan 754 modul terbuat dari tembaga dan kuningan dilapisi asam patina.Sayangnya patung GWK ini belum selesai.

Pertama kali ke GWK tahun 2010 dan aku sangat suka dengan GWK karena GWK aku dapat menyaksikan pertunjukan tarian khas Bali. Tidak hanya itu, di GWK juga terdapat taman lotus yang aku suka. Taman lotus atau lotus Pond merupakan taman dengan pilar kapur dengan pemandangan kece. Entah kenapa aku selalu suka Lotus Pond di GWK ini, taman dengan latar belakang batu kapur. Di depan taman Lotus juga terdapat Patung Garuda setinggi 18 meter.

Nah untuk ke Lotus Pond, pengunjung diperbolehkan memakai pakaian bebas namun saat berada di area menuju ke Wisnu Plaza, pengunjung wajib memakai pakaian sopan. Namun tenang bagi yang kebetulan memakai pakaian yang menunjukkan lutut tidak perlu khawatir, karena sarung untuk menutup lutut disediakan untuk menghormati area patung Wisnu. Nah untuk sampai area Wisnu Plaza maka harus menaik anak tangga dengan pemandangan taman. Dari anak tangga, terlihat jelas Patung Wisnu berdiri tegak yang menjadi kesukaan orang untuk photo.

Sesampai di area Wisnu Plaza, terdapat pemandangan Bali dari atas. Pemandangan Bali dari Wisnu Plaza sangat indah. Disampung Patung Wisnu Plaza, terdapat Parahyangan Somaka Giri. Parahyangan Somaka Giri memiliki mata air yang diyakini dapat menyembukan penyakit.

Lihat, kalau ada di tempat pemujaan Pura pasti ada kura-kura, 
kata Pak Bobi menjelaskan kepada kami. 
Untuk Parahyangan Somaka Giri ini memiliki mata air yang suci, 
padahal disini tidak mungkin ada air namun bisa ada air. 
Kata si Bapak menjelaskan lagi

Kemudian aku pun memperhatikan Parahyangan Somaka Giri sehingga tak heran beberapa pengunjung banyak mengambil airnya.

Setelah puas keluar dari area Parahyangan Somaka Giri aku menuju kearah belakang tempat miniatur Wisnu Kencana dengan Garudanya. Dari kejauhan terlihat bahwa proyek ini sedang dilakukan dan diharapkan selesai secepatnya. Menikmati Bali dari GWK serasa adem, karena lokasinya tinggi jadi terlihat jelas pemandangan Bali.

Puas dari Patung Wisnu dan kami turun di Taman Lotus yang aku suka, eh hujan turun. Akhirnya kami beramai-ramai menuju pintu keluar. Ternyata meski sudah keluar kami masih bisa menggunakan tiket kami untuk masuk lagi. Namun kami memilih masuk ke amphitheater sambal menunggu hujan reda. Amphitheatre di GWK ibarat panggung untuk menonton pertunjukan tarian khas Bali yang sudah ada jadwalnya. Bahkan tari kecak bisa ditonton di Amphitheatre.

Yang lucu saat kami hendak ke Amphitheatre, kami menggunakan poster sebagai pelindung kami, beramai-ramai seperti ular tangga. Jadi teringat masa kecil 😀

Sesampai di dalam Amphitheatre yang ruangannya cukup besar yang bisa menampung sekitar 800 orang, dengan bentuk melengkung dan tersusun berunduk, kami memilih tempat duduk paling depan sebelum acara pertunjukan dimulai. Pada saat kedatangan kami, pertunjukan di Amphitheatre adalah pertunjukan Garuda Wisnu Ballet. Meski tanpa AC, Amphitheatre cukup sejuk dengan ruangan terbuka serta suara dari tarian juga terlihat jelas. Meski sudah dua kali ke GWK, namun tetap aku sangat suka melihat pertunjukan tarian, apalagi pertunjukan tarian khas Bali. Menariknya setelah pertunjukan selesai, pengunjung boleh loh berphoto dengan penarinya. Aku paling semangat berphoto dengan penarinya karena cakep aja gitu pakaiannya. Tradisional dan kece! Jadi bangga melihat keanekaragaman Budaya Indonesia dan yang paling aku salut dengan orang Bali betapa mereka melestarikan budayanya dengan baik.

Untuk pertunjukan apa saha di Amphitheatre selama seharian, maka jadwal dan pertunjukan dapat dilihat di depan pintu Amphitheatre. Jadi tak heran kalau GWK ini dapat melihat pertunjukan menarik khas Bali.

Khusus pengunjung muslim di area GWK juga terdapat musholla lengkap dengan mukenah sehingga tidak perlu khawatir kalau pas jalan-jalan di GWK ketinggalan sholat. Karena waktu itu aku juga sempat sholat di musholla GWK yang letaknya di balik tempat souvenir untuk membeli oleh-oleh khas Bali.

Selain itu, fasilitas lainnya yang ada di GWK adalah tempat makan dan tempat membeli souvenir. Oh ya bedanya dari kunjungan 2010 yang lalu, sekarang ke GWK pengunjung harus menaiki bukit sambil melewati pertokoan yang menjual oleh-oleh khas Bali. Seru juga saat melihat oleh-oleh khas Bali untuk orang-orang tercinta.

Sumber Photo (Atemalem)

Jadwal Buka GWK Bali

Jam 08:00 – 22:00 WITA

Tiket Masuk GWK Bali

Untuk dewasa Rp70.000

Anak-anak Rp60.000

Turis Mancangara Rp100.000

Lokasi GWK Bali

Garuda Wisnu Kencana Cultural Park

Jl. Raya Uluwatu, Ungasan, Kuta Sel., Kabupaten Badung, Bali

Salam

Winny

Menikmati Kopi dengan Latar Belakang Persawahan di Bali Pulina


Words will be just words until you bring them to life

By Unknown

Hello World!

Bali 2017

Tak jauh dari Ubud sekitar 8 km terdapat kebun agrowisata kopi dan cokelat khas Bali bernama Bali Pulina. Agro wisata ini menawarkan tempat untuk bersantai sambil belajar mengenal alam. Yah belajar terutama proses pembuatan kopi luak dengan suasana khas pedesaan. Agro wisata Bali Pulina itu berada di daerah Gianyar Bali.

Kami sampai di  Bali Pulina siang hari. Setelah memarkirkan mobil, Pak Juned membagikan tiket masuk kepadaku, Leoni, Rere, Rasti dan Nicho kemudian kami berjalan masuk ke dalam Bali Pulina. Pak Bobbi dan Pak Agung menyusl kami.

Belum juga melangkah jauh, kami melihat kandang si penghasil kopi Luwak yang terkenal sedang tidur di kandangnya. Luwak yang lain di kandang sebelah malah sedang bersantai di kandangnya.  Lucunya di Bali Pulina inilah aku sadar kalau Luwak itu nama lainnya Musang. Terus musang ini mengingatkanku akan masa kecil di kampung, dimana kalau ada Musang dianggap hama pada masa itu sehingga sering diburu. Siapa sangka musang alias luwak ini menghasilkan kopi berkualitas tinggi. Musang yang berada di dalam kandang memang sengaja dipelihara oleh pemilik karena musang ini menghasilkan kopi. Bahkan kopi hasil luwak ini ditampung dalam wadah untuk diproses.

"Tahu gak sih, dulu di kampungku orang paling benci ama Musang
padahal Musang ini menghasilkan kopi terbaik, lanjutku

"Mungkin dulu orang tidak tahu kalau Musang ini
 menghasilkan kopi terbaik, kata Nicho"

Meninggalkan musang dalam kandangnya, kamipun berjalan kembali melewati pepohonan mulai dari pohon cokelat hingga pohon lengkeng. Untuk pertama kalinya aku melihat pohon lengkeng dan itupun di Bali Pulina. Jadi aku sangat antusias melihat pohon lengkeng untuk pertama kalinya 🙂

Tempat Membeli Tiket  Masuk ke Bali Pulina
Bali Pulina

Setelah mewalati pepohonan kami berhenti pada tempat yang mirip dapur zaman dulu yang didepannya terdapat sebuah jemuran kopi. Kopi di keringkan dalam meja yang berbentuk persegi panjang. Kemudian saat kami berada di area proses belajar pembuatan kopi, beberapa Mba-mba yang bekerja di Bali Pulina berada kalau-kalau kami hendak butuh penjelasan tentang proses pembuatan kopi luwak secara tradisional. Walaupun ujung-ujungnya Pak Bobilah yang banyak sekali menjelaskan kepada kami tentang tempat wisata yang kami kunjungi selama di Bali.

"Jadi ini kopi yang diambil adalah biji dalamnya, kata Pak Bobi kepada kami
 menjelaskan proses penjemuran kopi yang lamanya bisa tiga hari,
biji ini dikupas kemudian dikeringankan, lanjutnya". 

Bali Pulina memang memberikan pengetahuan kepada turis untuk melihat langsung proses pembuatan kopi mulai dari hewa penghasil kopi luwak yang dapat dilihat di kandangnya kemudian tempat pengeringan kopi, pemasakan hingga biji kopi ditumbuk menjadi kopi halus. Tidak hanya itu, alat-alat tradisional pembuatan kopi pun ada seperti lesung untuk menumbuk kopi menjadi halus hingga sekdar wadah dari bambu. Semua peralatan tradsional itu berada pada sebuah tempat yang mirip dapur. Bahkan rempah-rempahpun ada di dapur itu!

Benar-benar Bali Pulina mengingatkanku akan kampung halaman. Uniknya kebanyakan yang datang ke Bali Pulina adalah turis mancanegara dan mereka sangat tertarik melihat proses pembuatan kopi di Bali Pulina secara tradisional apalagi melihat peralatan zaman dahulu. Wajar sih karena di Negara tidak ada, jangankan di negaranya, di Indonesia saja sudah mulai jarang peralatan zaman dulu. Kalau aku sih tahu karena aku lahir di pedesaan dengan peralatan sederhana (jadi ketahuan umurnya hehe :D)

Proses Pembuatan Kopi di Bali Pulina
Peralatan Masak Zaman Dulu
Rempah-rempah di Bali Pulina

Setelah mengetahui proses pembuatan kopi luwak secara tradisonal kami pun melanjutkan perjalanan menuju ke rice terrace view tempat untuk mencoba Kopi khas Bali.  Sepanjang jalan ke teras, aku memandangi suasana perkebunan yang hijau membuatku lagi-lagi terkenang akan kampung halaman di Padangsidempuan. Aku teringat akan kebun nenekku di belakang rumah. Mulai dari nenas, kopi, hingga cokelat ada di Bali Pulina. Sehingga berada di Bali Pulina membuatku sedikit merasa seperti di “rumah”.

Tempat ini benar-benar hijau dan penuh pepohonan serta cocok untuk mencari inspirasi sehingga tak heran banyak sekali turis ke Agro wisata Bali Pulina. Membuatku betah berlama-lama!

Petunjuk jalan di Bali Pulina
Musang alias Luwak

Setelah sampai di area teras, kami langsung disambut dengan pemandangan yang luar biasa berupa pemandangan persawahan khas Bali. Teras Bali Pulina terbuat dari kayu dengan meja serta kursi untuk menikmati aneka kopi dengan latar belakang pemandangan segar di mata “pepohonan hijau dan persawahan khas Bali”.

Pemandangan di terrace view Bali Pulina benar-benar instagramable banget. Belum lagi tempatnya lumayan tenang, sehingga cocok untuk bersantai. Kalau mau menulis buku kayaknya cocok di Bali Pulina saking tentramnya lokasi ini. Terus saking cantiknya pemandangan di depan kami, akhirnya kami malah sibuk mengambil photo hingga akhirnya setelah capek barulah kami duduk untuk mencoba kopi di Bali Pulina.

Memang untuk masuk ke dalam Bali Pulina harga tiketnya agak lumayan mahal namun cukup sesuai dengan fasilitas yang didapatkan karena selain belajar mengenai proses pembuatan kopi, harga sudah termasuk 1 gelas kopi dengan pilihan sesuai selera lengkap dengan gorengan.

Bali Pulina
Bali Pulina

Setelah lengkap, kamipun duduk manis beramai-ramai di meja yang mirp dengan lapangan dari kayu beserta pemandangan indah. Baru ini aku menemukan tempat ngopi cantik dengan nuansa alam itupun di Bali Pulima. Selang 5 menit  kami duduk, karyawan Bali Pulina datang dengan ramahnya menghampiri kami.

"Kami akan memberikan tester minuman untuk dicoba kemudian 
bisa dipilih minuman apa yang disukai setelah mencoba tester minuman,
kata Mba menawarkan minuman kepada kami"

Tanpa pikir panjang kami sambut tawaran si Mba lalu si Mba pergi meninggalkan kami. Tak lama kemudian, si Mba datang membawa tester kopi untuk kami coba. Tester kopi yang dihidangkan berjumlah 8 yang berada dalam gelas kecil berwarna putih. Awalnya kami mengira bahwa satu orang akan mendapatkan masing-masing 8 tester minuman yang akan dicoba ternyata 8 tester itu untuk kami berenam. Akhirnya kami sharing untuk icip minuman yang kami suka. Minuman yang disajikan tidak hanya kopi ada juga teh hingga ginseng. Minuman tester yang disajikan terdiri dari lemon tea, ginger tea, ginger coffe, ginseng coffe, coco coffe, vanila coffe, chocolate coffe, dan pure Bali coffe. Selain kedelapan minuman itu, pengunjung juga bisa memesan luwak kopi karena luwak kopi tidak termasuk dalam tester.

Dari 8 tester minuman yang dihidangakan aku sempat galau antara lemon tea, nginger tea, vanilla coffe atau chocolate coffe. Namun ketika mendengar tawaran kopi luwak dan dalam benakkan betapa mahalnya itu kopi luwak sempat terbesit ingin memesan kopi luwak juga. Namun karena pas aku mencoba kopi Bali dan rasanya pahit “khas Kopi banget”, akhirnya aku membatalkan memesan kopi luwak dan malah memesan kopi cokelat. Sontak teman-temanku ngeledek sambil tertawa dan berkata “dasar anak sachet”. hahaha 😀

Yah minuman yang aku pesan seperti kopi susu biasa, jadi udah jauh-jauh ke Bali Pulina terkenal sebagai tempat nongkrong kopi elit eh ujung-ujungnya aku mesan kopi rasa yang ada di warung-warung. Sontak teman-temanku keluar hasrat untuk meledek. hihi 🙂

Habis aku bukan anak pecinta kopi sih, untung dibilang anak sachet daripada dibilang anak micin eh ;D

 

Pilihan Kopi di Bali Pulina
Menu Makan di Bali Pulina (Photo: Nicho)
Tester Kopi di Bali Pulina
Gorengan Pisang di Bali Pulina

Setelah kami menentukan minuman apa yang kami mau, kemudian pesanan kami pun datang lengkap dengan gorengan pisang serta lupis.  Gorengan lumayan enak, manisnya pas dan renyah. Walau makanan yang kami dapatkan sederhana namun rasanya begitu nikmat sekali apalagi dengan pemandangan indah di depan. Pengen betah berlama-lama di Bali Pulina, pengen ngambil laptop terus tinggal beberapa waktu di Bali Pulina sambil mencari inspirasi. Yah kali aja pulang-pulang dari Bali Pulina bisa menghasilkan karya Buku (ini masih ngayal sih gegara terbawa suasana pedesaan yang asri).

Walau waktu bersantai kami cukup singkat, namun aku merasa cukup fresh di Bali Pulina karena tempat ini merupakan tempat nongkrong kopi dengan pemandangan kece lengkap dengan canda tawa dengan teman-teman. Bahagia itu ternyata sederhana, sesederhana rebutan tester kopi bersama mereka 😀

Kopi Rasa Vanila di Bali Pulina

Setelah puas icip semua minuman tester, akhirnya kamipun meninggalkan Bali Pulima. Sebelum pulang, Rere dan Rasti sempat membeli kopi di Toko Bali Pulina yang menyediakan oleh-oleh kopi dari berbagai rasa terutama kopi khas Bali. Sayangnya aku tidak mampir dan tidak juga membeli kopi untuk dibawa pulang karena bingung mau kasih ke siapa. Kasih ke Mama, mamaku jauh, kasih ke Ade, Adeku juga jauh, kasih si abang, si abangnya lagi ngambek akhirnya ya tidak jadi beli malah langsung ke mobil.

Oh ya selain fasilitas warung yang hanya menjual kopi, dan gorengan serta pemandangan alam yang kece maka di Puri Pulina juga terdapat toilet yang memadai dan ada juga payung yang disedikan jika hujan turun. Lumayan lengkap dan cocok bagi yang ingin sekedar menghilang sesaat untuk mencari jati diri  atau sekedar refreshing untuk mengisi liburan 🙂

Toko Kopi di Bali Pulina  (Photo Rere)
Toko Kopi di Bali Pulina  (Photo Rere)

Harga Tiket Masuk Bali Pulina

Rp100.000/orang termasuk free tester minuman dengan 8 rasa dan pilihan 1 gelas kopi serta dua pisang goreng dan lupis.

Lokasi Bali Pulina

Desa Banjar Pujung Kelod,

Tegalalang, Gianyar, Bali

Salam

Winny

Pesona Pantai Suluban Bali dari Pasir Putih, Karang dan Selancar


There are many paths but only one journey

By Naomi Judd

Hello World!

Bali, 2017

"Agenda kita hari ini adalah Pantai Blue Point atau disebut Pantai Suluban, 
begitu, kata Guide kami Pak Bobby menjelaskan tujuan wisata kami di Bali"

"Pantai Suluban sering disebut Pantai Blue Point 
karena berasal dari nama resort bernama Blue Point, lanjutnya"

Tak terasa sambil mendengarkan penjelasan Pak Bobby, kami sudah sampai di depan parkiran dekat Pantai Suluban. Pak Agung yang setia mengantar kami lalu mengintruksikan untuk turun dari mobil yang berisi aku, Rere, Rasti, Leoni dan Pak Bobby. Sementara di mobil satunya ada Pak Juned dan Nicho yang juga sudah keluar dari mobil. Untuk menuju ke Pantai Suluban kami harus berjalan mengikuti jalan melewati pertokoan, warung serta anak tangga. Belum juga jauh dari tempat parkir, aku sudah terkesan dengan dinding dengan tulisan dan hiasan yang menurutku “vintage” dan “istagramable” banget. Entah kenapa berjalan melewati gang kecil sambil ada dinding-dinding lucu serasa berada di Eropa namun versi yang lebih baik.

Atau ini hanya Deja Vu saja!

Yang pasti pemandangan dinding warna-warni kemudian di sisi lain dibatasi pagar dengan pemandangan lautan luas benar-benar indah. Bali memang ibarat magnet sehingga tak heran Bali menjadi tempat wisata favorite.

"Kak photoin disamping dinding lucu ini, kataku tanpa melewatkan spot photo" 

Padahal belum juga sampai di Pantai Suluban, di depan Gang saja cakep gimana udah di Pantainya yah?

Mungkin saja semua titik diminta photo hehe 😀

Jalanan menuju Pantai Suluban

Dengan semangat ’45 aku melanjutkan jalan kaki bersama teman-temanku menuju Pantai. Sepanjang perjalanan dengan jalan kaki aku lumayan tergoda dengan souvenir ala Bali di toko-toko souvenir terutama yang tak tahan itu adalah godaan untuk membeli dress pantai Bali. Untung godaan khilap shopping masih bisa aku kendalikan karena pemandangan Pantai Suluban dari atas menyita perhatianku. Warnanya terdiri dari dua warna berupa tosca dan kebiruan serta terlihat jelas karangnya dan tak kalah kerennya adalah pasirnya bersih. Padahal sebelum ke Pantai Suluban cuaca tidaklah bersahabat karena cuaca yang mendung seperti hatiku, namun kami cukup beruntung karena kami sampai di Pantai Suluban Bali langit mulai cerah.

Puas melihat Pantai Suluban dari sebuah tempat yang mirip gazebo, kami lalu melanjutkan berjalan lagi hingga kami melihat tulisan “PANTAI SULUBAN” di dekat batu karang. Tulisannya sangat besar sekali  dengan terhubung jembatan yang sekaligus anak tangga menuju Pantai Suluban.

Sesuai dengan namanya Pantai Suluban berasal dari Bahasa Bali “Mesulub” yang berarti melewati sesuatu dari atas kepala manusia. Maksudnya untuk sampai ke Pantai Suluban kami harus menuruni anak tangga serta Pantainya tersembunyi diantara “Karang-karang besar”. Tapi tenang saja pas melewatinya tidak perlu acara nunduk kepala 🙂

Pantai Suluban ini mengingatkanku dengan Pantai Kupang yang pantainya rata-rata memiliki bebatuan Karang. Namun Pantai Suluban Bali khasnya ialah pas turun dari anak tangga hamparan pasir sudah menyambut lengkap dengan pemandangan dua warna lautnya. Anehnya semakin aku perhatikan mirip juga dengan “Sawarna dengan bebatuan gedenya”, ah Pantai Suluban ini ibarat perpaduan beberapa pantai kece di Indonesia menjadi satu.

Pantai Suluban, Uluwatu Bali

Keluar dari bebatuan karang maka kami berjalan ke arah Pantai. Di pasir dekat Pantai, turis-turis mancanegara sudah mengembangkan kainnya di pasir sambil tidur-tiduran. Seolah mereka tidak ada beban hidup, dan benar-benar menikmati liburannya di Bali. Hal ini wajar saja dengan kondisi Pantai yang tenang, jauh dari bising serta pantai bersih lagi maka tidur di pantai itu merupakan pilihan yan tepat.

Disini aku merasa salah kostum dimana orang berpakaian pantai aku malah berpakain rapi dengan celana panjang dan baju panjang seperti mengaji namun daripada gosong gak apalah salah kostum, habis aku lupa bawa sunblock. Ingin rasanya mandi di Pantai Suluban namun aku cukup tahu diri yang tidak bisa berenang sehingga aku lebih memilih untuk menikmati suasa Pantai Suluban sambil memandangi kebahagiaan pengunjung yang berada di Pantai Suluban. Ternyata melihat orang lain bahagia itu cukup membuat hati bahagia juga 🙂

Melewati karang besar dengan hamparan pantai bersih kemudian di depannya lautan luas, keunikan Pantai Suluban tidak hanya disitu. Ada karang lain lagi menuju ke Pantai sebelahnya dengan hamparan karang yang lebih banyak lagi. Dengan hati-hati aku melewati karang yang mirip batu besar itu sambil melewati jalanan kecil. Sesampai di Karang sebelahnya lagi-lagi perhatianku teralihkan dengan hewan kecil berjalan dari karang.

"Kepiting, ah lucunya", kataku dengan senangnya 
seperti anak kecil baru mendapatkan uang

Reaksiku melihat kepiting disekeliling karang di Pantai Suluban langsung membuat teman-temanku tertawa. Padahal bukan pertama kali aku melihat kepiting hidup, hanya saja sudah lama tidak melihat kepiting di Pantai.

Pantai Suluban, Uluwatu Bali
Pantai Suluban, Uluwatu Bali
Pantai Suluban, Uluwatu Bali
Pantai Suluban, Uluwatu Bali

Selesai melihat kepiting lucu-lucu akhirnya aku duduk disamping karang sambil mengamati sekitarku. Entah kenapa aku lebih suka mengamati sekitar sambil duduk manis di karang bersama Pak Juned, Pak Agung dan Pak Bobbi. Dari pengamatan di Pantai Suluban aku melihat kalau Pantai Suluban ini sangat disukai para perselancar. Untuk ombak di Pantai Suluban lumayan berombak sehingga tak heran banyak sekali peselacar dari berbagai negara berlatih di Pantai Suluban. Apalagi pas yang berselancar itu abang-abang dengan badan atletis, duh bak cuci mata hahah 😀

Untungnya Ade imannya kuat jadi tak tergoda dengan abang-abang berselancar, hanya tergoda belajar berselancar namun cukup tahu diri bahwa Ade “tidak bisa berenang” 😀

Yang berselancar di Pantai Suluban tidak hanya dewasa, bahkan remaja pun banya, bahkan mulai dari seorang diri sampai rombongan. Ternyata Pantai Suluban ini memiliki keunikan yang tidak hanya dari pantai yang bersih, tidak juga hanya pada karangnya namun tempat yang cocok untuk surfing. Jadi yang mungkin ingin belajar berselancar atau ingin punya gebetan peselancar maka sering-seringlah ke Pantai Suluban, minimal gak dapat abang-abang berselancar bisa dapat papan selancarnya hehe 😀

Berselancar di Pantai Blue Point (Photo: Leonita)
Pantai Suluban (Sumber Photo: Atemalem/Rere)
Pantai Suluban, Uluwatu Bali
Pantai Suluban (Sumber Photo: Nicko)
Pantai Suluban (Sumber Photo: Nicko)

Untuk yang ingin menginap di Pantai Suluban bisa juga karena ada resort di atas karang yang langsung dengan pemandangan laut. Atau sekedar ingin mandi di kolam renang dengan pemandangan lautan luas juga bisa atau mau makan romantis di cafe diatas karang juga ada. Tinggal pilih, semua serba ada di area Pantai Suluban dan cocok juga untuk pilihan honeymoon atau sekedar liburan untuk menghilangkan penat dari rutinitas kerja Senin-Jumat.

Meski aku ke Pantai Suluban tidak berenang, tidak juga belajar berselancar namun menikmati suasa Pantai Suluban bersama teman-temanku membuatku bahagia.

Ah ternyata Bali masih tetap cantik dan mempesona!

Video Karya: Nicko Silfido

Harga Tiket Masuk ke Pantai Suluban/Blue Point

Gratis, bayar Rp5000 untuk parkir

Cara Akses ke Pantai Suluban/Blue Point

Bali sebenarnya memiliki Trans Bali untuk transportasi umum namun sayangnya rutenya masih terbatas dan memang kebanyakan turis jika berada di Bali sering menyewa kendaraan bisa berupa sepeda motor maupun mobil. Jika seorang diri atau berdua saja sebaiknya menyewa motor dengan kisaran sewa perhari Rp75.000-Rp100.000 namun jika dalam rombongan sebaiknya dengan menyewa mobil. Tujuannya ke Uluwati dekat dengan Pantai Padang-Padang, Bali.

Alamat Pantai Suluban/Blue Point

Jl. Labuansait – Uluwatu,

Pecatu, Kuta Selatan, Pecatu,

Kuta Sel., Kabupaten Badung, Bali

Salam

Winny

Museum Puri Lukisan Ubud, Museum Seni Rupa Tertua di Pulau Dewata


The Museum Puri Lukisan is the oldest art museum in Ubud, Bali. Its mission is to preserve, develop, and document modern-traditional Balinese art. The museum is home to the finest collection of modern traditional Balinese painting and wood carving on the island, spanning from the pre war (1930-1945) to the post war (1945-present) era. The collection includes important examples of all of the artistic styles in Bali including Sanur, Batuan, Ubud, Young Artist and Keliki School.

(Resource: Museum Puri Lukisan)

Bali, 2017

Pulau Dewata memang memiliki banyak wisata yang tak habis untuk dijelajah sehingga tak heran jika turis Mancanegara maupun domestik senang berlibur ke Bali. Wisata Bali pun beragam mulai dari wisata Pantai, Gunung, Budaya, bahkan Seni. Bisa dibilang Pesona Bali selalu memiliki aneka wisata yang memanjakan pengunjungnya. Tinggal pilih mau kemana selama di Bali mau ke Gunung, Danau, atau sekedar melihat pertunjukan tari Bali dengan pakaian adatnya yang khas.

Salah satu tempat yang menjadi tempat favorite turis mancanegara untuk dikunjungi adalah Ubud. Ubud terkenal dengan persawahan indah serta terasseringnya yang menawan, sampai-sampai sering dibuat lokasi shooting film luar maupun film Indonesia misalnya film Hollywood “Eat Pray Love “.

Pesona Ubud itu sangat unik karena aktifitas keseharian masyarakat Ubud tidak bisa lepas dengan unsur kesenian dan budaya lokal sehingga di Ubud banyak sekali galeri seni, serta antraksi pementasan musik dan tarian. Bahkan popularitas Ubud sudah mendunia dan dikenal turis mancanegara sejak tahun 1930.

Museum Puri Lukisan Ubud

Salah satu tempat untuk melihat hasil karya seni Bali ada di Museum Puri Lukisan. Museum Puri Lukisan berada di Kabupaten Gianyar Bali dan menjadi tempat yang tepat untuk mengenal Seni Lukis Bali. Museum Puri Lukisan lokasinya sangat dekat dengan Puri Ubud dan Pasar Seni Ubud. Jadi teman-teman kebetulan sedang main-main atau liburan di Ubud dan ingin melihat Museum maka mampirlah ke Museum Puri Lukisan.

Uniknya Museum Puri Lukisan Ubud merupakan museum tertua yang ada di Bali sejak tahun 1936 namun baru didirikan tahun 1953. Museum Puri Lukisan sangat cocok bagi penyuka seni lukis tradisional Bali serta ukiran kayu karena musem Puri Lukisan memiliki karya seni lukis Bali traditional dan modern, serta seni ukir dan ukiran kayu.

Dari sejarah Museum Puri Lukisan digagas oleh seniman Rudolf Bonet, Ubud Tjokorda Gde Sukawati dan saudaranya Tjokorda Gde Raka Sukawati serta I Gusti Nyoman Lempad. Mereka  memiliki keinginan untuk melestarikan karya seni bernilai tinggi sehingga tahun 1936 mereka menggagas sebuah organisasi yang bernama ” Pitha Maha ”. Sayangnya organisasinya tidak berjalan sehingga tahun 1953 mulailah adanya Museum Puri Lukisan yang design dari Rudolf Bonner. Kemudian tahun 1954 Perdana menteri Indonesia Ali Sastroamidjojo meletakkan batu pertama untuk Museum Puri Lukisan dengan Tjokorda Gde Agung Sukawati sebagai direktur Museum dan Rudolf Bonner sebagai kuratornya. Kemudian Menteri Pendidikan dan Budaya Indonesia, Muhamad Yamin meresmikan Museum Puri Lukisan tanggal 31 Januari 1956.

Museum Puri Lukisan Ubud
"Pak, apa makna hitam putih di depan pintu Gapura", 
tanyaku kepada Pak Bobby, guide kami selama di Bali.

"Lihat jumlah kotak hitam dan putih sama artinya baik dan buruk itu harus seimbang 
karena itu tidak terlepas dari hidup", jelas Bapaknya kepada kami.

Sarung di gapura dengan nuansa kotak-kotak hitam putih mencuri perhatianku sebelum melangkah jauh ke dalam area Museum Puri Lukisan yang berbentuk segi empat. Pak Juned sudah membagikan tiket masuk Museum Puri Lukisan kepadaku, Leoni, Rere dan Rasti. Dengan bekal tiket itulah kami berjalan melewati pintu gapura yang khas Bali banget berjalan menaiki tangga menuju Bangunan Utara. Disekliling Museum Puri Lukisan begitu asri dengan pepohonan serta kesan asri dari hijaunya rerumputan.

Museum Puri Lukisan memiliki 4 bangunan yang bisa dikunjungi yaitu

1. East Building sebagai Wayang Galeri yang berisi Koleksi Lukisan Wayang

2. North Building sebagai Pitamaha Galeri yang berisi lukisan modern-tradisional Bali sebelum perang  (1930-1945) serta koleksi karya I Gusti Nyoman Lempad

3. West Building sebagai Ida Bagus Galeri berisi lukisan modern-tradisional Bali setelah perang dunia (1945-sampai sekarang)

4. South Building sebagai Founder Galeri dimana berisi sejarah museum dan tempat exhibition sementara.

Museum Puri Lukisan Ubud

Karya-karya seni di dalam Museum Puri Lukisan sendiri isinya menarik mulai dari koleksi lukis Bali mulai dari modern maupun tradisonal hingga karya seni ukir. Kerennya lukisan dari zaman Pita Maha masih ada di dalam Museum Puri Lukisan. Disinilah aku merasa kagum dengan museum karena mampu menyimpan barang-barang yang sudah ada sejak zaman dulu dan tetap awet hingga bisa dinikmati hingga sekarang. Ibaratanya tempat “kenangan yang kekal”. Padahal manusia belum tentu sanggup menampung kenangan, paling bisa menampung kenangan indah dan buruk selebihnya bisa lupa. Kalau museum berbeda, mampu menyimpan kenangan dari masa ke masa 😀

Ukiran pintu di tiap gedung Museum Puri Lukisan pun unik dan berbeda tiap gedung baik yang di Gedung Barat, Timur, Utara maupun Selatan. Untuk karya-karya lukisan dipajang di dinding lengkap dengan sejarah pelukis. Untuk karya seni berupa ukiran beberapa disusun rapi dalam lemari dan beberapa dipajang. Entah mengapa berada di dalam Museum Puri Lukisan mengingatkanku Museum Louvre dalam area Printing. Dalam hatiku “jauh-jauh melihat lukisan di Paris padahal di Indonesia juga ada”. Bedanya dalam Museum Puri Lukisan ini memang lukisannya benar-benar menunjukkan budaya Bali, mulai dari kehidupan sehari-hari, para penari Bali atau sekedar gambar kehidupan hewan. Benar-benar cinta Budaya sendiri dan disini aku merasa bangga dengan orang Bali yang menghargai Budaya dan seninya.

Menarik bukan?

Terus apakah aku mengerti makna dari lukisan-lukisan yang ada di Museum Puri Lukisan?

Jujur aku tidak mengerti, namun meski tidak paham betul dengan dunia seni namun dari lukisan-lukisan yang ada di Museum Puri Lukisan dapat memberi petunjuka bagiku untuk paham akan dunia seni. Yah setidaknya meski tidak tahu makna dari lukisan, aku cukup mengerti mengapa banyak sekali turis Mancanegara mengunjungi Museum Puri Lukisan karena Museum Puri Lukisan itu memiliki ciri khas “Bali”. Seolah berkata “ini loh karya seni Bali” dan berada dalam Museum seperti berada pada exhibiton kelas dunia. Pencahayaan lampunya juga soft dengan warna keemasan sehingga kesan elegan pada Museum.

Museum Puri Lukisan Ubud
Museum Puri Lukisan Ubud
Museum Puri Lukisan Ubud
Museum Puri Lukisan Ubud
Museum Puri Lukisan Ubud

Jadwal Buka Museum Puri Lukisan Ubud, Bali

Setiap hari jam 09.00-17:00 WITA dan tutap pas Nyepi.

Harga tiket masuk ke Museum Puri Lukisan Ubud, Bali

Rp85.000 untuk turis Domestik

No Kontak dan Email Museum Puri Lukisan Ubud

Phone: (0361) 971159

Fax: (0361) 975136

Email: info@museumpurilukisan.com

Cara ke Museum Puri Lukisan dari Bandara Ngurah Rai Bali

Jl. Airport Ngurah Rai menuju arah jalan Nusa Dua – Bandara Ngurah rai – Benoa Toll Road/Mandara Toll Road-Jl.Raya Pelabuhan Beno – Jl.By Pass Ngurah Rai – Jl.Raya Batubulan – Jl.A.A Gede Rai – Jl.Raya Ubud – Lokasi Museum Puri Lukisan

Lokasi Museum Puri Lukisan Ubud, Bali

Jalan Raya Ubud PO BOX 215

Ubud Gianyar Bali

Sebagai yang tidak terlalu mengenal dunia kesenian namun sangat menyukai museum, maka buatku mengunjungi Museum Puri Lukisan merupakan pengalaman menakjubkan. Jujur aku merasa senang dapat mengunjungi museum tertua di Bali. Menurutku Museum Puri Lukisan bisa menjadi wisata alternatif Bali selain Pantai. Para Bule itu saja bela-belain ke Ubud demi mengunjungi Museum Puri Lukisan, masa kita kalah?

Salam

Winny

Akhir perjalanan Bali


There are some people who will never see you as being good enough. That is their short-coming not yours. Be merciful enough to yourself to cut them out of your life

(Dr. Steve Maraboli)

Pantai Kuta Bali
Pantai Kuta Bali

Hello World!

‎August ‎16, ‎2011

Every hello has goodbye, mungkin cocok buat perjalanan terakhir kami di Bali. Setelah perjalanan panjang dimulai dari Medan lalu ke Bandung hingga ke Surabaya kemudian ke Bali diteruskan ke Gili Trawangan berakhir ke Bali lagi maka edisi plesiran wisata Bali pun berakhir.

Aku, Santo, Surya dan William pun memulai packing karena kami ingin mengitari Pantai Kuta Bali untuk terakhir kali. Tidak banyak yang bisa kami kunjungi selama di Bali hanya beberapa wisata andalan Bali seperti Tanah Lot, Tampak Siring, New Kuta Beach, Pantai Benoa, Pasar Tradisional Sukawati hingga Pantai Kuta.

Pantai Kuta
Pantai Kuta

Karena hari terakhir di Bali maka kami memutuskan untuk mengelilingi sekitar Kuta saja. Kami kembali ke Pantai Kuta dan kali ini kami datang di siang hari. Ternyata di pantai Kuta Bali ada sisi lain berupa tempat penangkaran penyu yang membuatku berdecak kagum. Kami baru tahu tempat penangkaran tidak sengaja setelah ke Pantai Kuta untuk kedua kalinya.

Dari pintu utama Pantai kami melihat papan dengan tulisan “Selamat datang di Pantai Kuta”. Kamipun buru-buru masuk. Saat kedatangan kami maka pemandangan bule berjemur adalah hal lumrah di Pantai Kuta. Ada juga rombongan bule yang duduk di pasir pantai Kuta lengkap dengan papan selancarnya berbaris, begitu mencolok!

Di sisi lain aku melihat penduduk lokal yang sedang memijat bule. Hal ini juga lumrah di Pantai Bali “jasa pijat” untuk wisatawan yang hendak bersantai.

Lalu kami pun tidak mau larut dengan suasana pantai sehingga kami pun berjalan kearah sebaliknya dari arah pertama kali di Kuta ke arah Timur sehingga kami pun menemukan penangkaran penyu.

Pengalaman lucu saat di penangkaran Penyu di Pantai Kuta Bali ketika melihat dua bocah bule imut yang saat aku photo langsung senyum sambil mengancungkan dua tangan tanda “peace”. Lucu hahah 😀

Bule imut di Bali
Bule imut di Pantai Kuta Bali

Setelah itu kamipun mengamati telur penyu dengan seksama. Penyu-penyu kecil diletakkan di dalam baskom merah. Penyu-penyu mungil tersebut berenang kesana kemari begitu imut hingga aku tidak heran perhatian pengunjung  tersita pada penangkaran penyu ini.

Aku dan Suryalah yang sangat antusias melihat penangkaran penyu. Selain penyu kecil, kami juga melihat sarang telur penyu berbentuk lingkaran berisi telur penyu di dalam pasir.

Oh ya ada juga patung penyu besar di Pantai Kuta Bali loh! Jika beruntung bisa melihat penyu menetas langsung. Sayangnya kami tidak sempat melihat penyu menetas karena bukan pada masanya ditambah karena kami harus buru-buru demi oleh-oleh Bali.

Oleh-oleh khas Bali hasil belanjaan di Sukowati ternyata belum cukup ya! Baca juga Pengalaman saat berbelanja di Pasar Sukowati

Oleh-oleh khas Bali
Oleh-oleh khas Bali

Sebelum berburu Souvenir Bali, kami berphoto di papan selancar gede dengan tulisan Hard Rock Hotel Bali . Karena ketiga temanku antusias ingin berphoto, mau tidak mau aku juga ikut-ikutan. Itulah keseruan jalan-jalan “hal kecil bisa sangat membahagiakan ketika dilakukan bersama” meskipun hanya sekedar berphoto. Paling tidak, kami bisa numpang eksis di Hard Rock Bali walau hanya photo iconnya saja 😀

Setelah puas bernarsis ria (kebiasaan orang Indonesia saat travelling ialah kebanyakan photo), lalu kami singgah ke Hawaii Bali tempat berburu oleh-oleh khas Bali. Well mau tidak mau aku juga membeli beberapa gantungan kunci dengan tulisan Bali yang aku suka.

Saranku jika ingin belanja khas Bali lebih baik ke Hawaii paling tidak harganya tidak di mark up seperti di Sukowati serta kualitasnya yang sesuai dengan harga.

Remember, Price is equal with quality 😉

Kami di hard rock bali
Kami di hard rock bali

Dari berburu Souvenir khas Bali temanku Santo dan William malah belanja sepatu di WBF (World Brand Factory) Kuta Bali. Kalau aku malah memilih tetap di mobil takut tidak bisa menahan hasrat untuk belanja hahahah 😀

Puas belanja kami pun kembali ke tempat penginapan untuk mengambil barang untuk check out.

Kesan yang tidak terlupakan selama berada di Bali saat aku menyeret koperku sepanjang jalan Poppies I hingga ke Monumen Bom Bali. Sama seperti saat pertama kali sampai di Bali, ketika itu malam hari dan hujan serta tengah malam, luntang lantung mencari tempat penginapan maka pulangpun harus mendorong koper yang berisi barang yang banyak. Beginilah kalau menjadi wanita rempong hehe 😛

Pelajaran berharga ketika hendak melakukan travelling ialah untuk membawa barang seperlunya saja karena aku orangnya agak heboh jadi saat hendak mengunjungi suatu tempat rasanya semua baju hendak dibawa lalu menyesal karena tidak semua terpakai. Alhasil hanya memenuhi koper saja! Sekarang aku hanya membawa barang seadanya cukup!

Di Monumen Bom Bali
Aku di Monumen Bom Bali

Sesampai di Tugu Bom Bali, rasa lelah baru terasa. Tapi anehnya jika dibandingkan dengan lelah maka rasa bahagia jauh lebih banyak. Aku hanya menaruh barangku di lantai dekat Tugu Monumen sambil menunggu taxi yang akan membawa kami ke Bandaran Ngurah Rai Bali untuk pulang ke Medan..

Good bye Bali…

-Catatan Perjalanan Bali end-

Salam

Weeny Traveller

Sunset Pantai Kuta Bali


Every great dream begins with a dreamer. Always remember, you have within you the strength, the patience, and the passion to reach for the stars to change the world.

-Harriet Tubman-

Sunset Kuta
Sunset Kuta

Hello World!

‎August ‎15, ‎2011

Dari tempat kami menginap di Poppies I Bali maka aku, Santo, Surya dan William berjalan kaki ke Pantai Kuta. Kenapa kami memilih berkunjung ke Pantai Kuta Bali karena memang lokasi pantai yang dekat dengan penginapan. Selain itu Pantai Kuta Bali memiliki sunset yang Indah!

Tips perjalanan Bali khususnya untuk yang hendak berencana melakukan travelling ke Bali jangan khawatir untuk mencari penginapan di Bali karena di Bali banyak penginapan murah, salah satunya di area Poppies baik Poppies I maupun Poppies II, karena kedua area Poppies merupakan tempat berkumpulnya para backpacker baik lokal maupun mancanegara dengan harga penginapan murah. Harga penginapan di area Poppies Bali mulai dari harga Rp150.000/malam (harga tahun 2011).

William, Santo, Surya di Pantai Kuta Bali
William, Santo, Surya di Pantai Kuta Bali

Saat kami sampai di Pantai yang terkenal sentaro dunia “pantai Kuta Bali” begitu kagetnya aku dengan ramainya para wisatawan, mirip pasar bok! Banyak bule yang berjemur!

Tujuan utama kami mengunjungi Pantai Kuta untuk berburu sunset Pantai Kuta Bali yang katanya Indah!

Untuk warna pantai Kuta berwarna cokelat butek, dengan pasir besinya yang menarik perhatianku. Hal yang aku suka di Pantai Kuta ialah ketika melihat siluet diri memantul di pasir serta sunsetnya orange tenggelam penuh di pantai yang menunjukkan bahwa bumi bulat. Well, dimanapun tempatnya sunset itu identik sama ya 😉

Pantai Kuta
Pantai Kuta

Hal yang tidak aku suka dari Pantai Kuta ialah ramainya pengunjung serta warna air lautnya yang sudah mulai terkontaminasi. Tempat yang terlalu turistik itu memang kurang menarik bagiku!

Temanku Santo, Surya dan William sempat duduk di pantai sambil menikmati suasana pantai yang menenangkan hingga mereka memutuskan untuk berjalan disekitar bibir pantai meninggalkanku yang sedang bernarsis ria sendiri seperti orang gila di Pantai Kuta Bali tanpa memperdulikan orang lain hahaha..

Aku di Pantai Kuta
Aku di Pantai Kuta

Kalau ingat pengalaman jalan-jalan di Bali tepatnya berselfie ria di Pantai Kuta jadi tersenyum sendiri karena waktu itu masih alay. Saking kasihannya melihat diriku berphoto sendiri akhirnya ada dua bule yang sepasang kekasih menawarkan untuk memphotoku 😀

Aku sempat juga loh meminjam papan selancar bule demi photo, pura-puranya sedang berselancar di pantai Kuta, sayangnya bajuku tidak matching hahaha.. Ya iyalah aku salah custom ke pantai dimana semua orang berbiki ria malah aku berpakaian suka-suka hati 😀

Pantai Kuta Bali
Pantai Kuta Bali

Oh ya sebenarnya aku heran juga kenapa banyak sekali turis suka ke Pantai Kuta Bali, tapi satu hal yang aku ketahui mereka biasanya datang sore hari sambil membawa tikar mereka berupa kain dibentangkan di pantai sambil tidur atau membaca atau refreshing dan sebagian lagi akan melakukan surfing dengan papan selancarnya.

Saat suset yang ditunggu telah mulai  tenggelam di ufuk Barat maka kami kembali ke penginapan untuk memulai tujuan perjalanan berikutnya.

 

Salam

Weeny Traveller

“Tanah Lot” wisata Bali favoritku


When you have a dream that you can’t let go of, trust your instincts and pursue it. But remember: Real dreams take work, They take patience, and sometimes they require you to dig down very deep. Be sure you’re willing to do that. ~Harvey Mackay-

Tanah Lot Bali
Tanah Lot Bali

Hello World!

Bali, 12 Agustus 2011

Selalu ada cerita tentang obyek wisata terkenal Bali dengan segala keindahannya. Begitu juga dengan cerita perjalananku, Santo, Surya dan William yang melakukan perjalanan hemat ke Bali dengan cara backpacker. Dari sekian banyak tempat wisata yang wajib dikunjungi di Bali maka objek wisata favoritku yang mungkin juga objek wisata favorit wisatawan lainnya ialah “Tanah Lot”.

Tanah Lot sebuah objek wisata di Bali yang menawarkan keindahan alam saat matahari terbenam. Keunikan Pura Tanah Lot ialah tempatnya yang terletak di tengah laut kira-kira 300 meter dari bibir pantai, terdapat juga batu karang yang di tengahnya terdapat gua besar. (Wonderfull Indonesia)

tanah lot bali
Tanah Lot Bali

Dengan motor sewaan serta peta Bali maka aku dan tiga temanku mengunjungi Tanah Lot. Waktu itu sudah agak sore dan memang tujuan utama kami ialah berburu sunset Tanah Lot yang terkenal dengan keindahannya. Untuk lokasi Tanah Lot bearda di di Desa Beraban, Kec. Kediri, Kab Tabanan Bali.

Memasuki Tanah Lot maka kami memasuki sebuah art shop untuk membeli oleh-oleh khas Bali. Pasar tradisional inilah yang mengawali perjalanan kami di Tanah Lot. Di art shop Tanah Lot aku juga melihat seorang bocah yang menawarkan jasa photo dengan ular phyton yang besar. Pemandangan di pasar oleh-oleh Bali yang menarik perhatianku tertuju pada banyaknya jasa pembuatan tato. Si Surya hampir saja ikut-ikutan untuk bertato walau akhirnya tidak jadi.

Tanah Lot is a rock formation off the Indonesian island of Bali, one of the most popular places of interest in Bali. It is home to the pilgrimage temple Pura Tanah Lot, a popular tourist and cultural icon for photography and general exoticism. It located on the coast of West Bali.  (Wikipedia)

Tempat membeli voucher di Tanah Lot Bali
Tempat membeli souvenir di Tanah Lot Bali

Melewati pasar kerajinan tradisional maka sosok Pura yang berada di batu besar yang dikelilingi oleh laut yaitu “Pura Tanah Lot” sudah kelihatan dari jauh. Gapura khas Bali juga sudah menyambut kedatangan kami sehingga dengan semangat ’45 maka kami pun menjejakkan kaki melewati sebuah taman yang tertara rapi kemudian terdapat gapura lagi hingga kami melewati jalan setapak berupa batuan dan pasir gelap.

Oh ya kalimat yang menarik saat di Tanah Lot ketika melihat slogan yang berisi “Follow this way To Tanah lot temple art market”!

Pura Tanah Lot
Pura Tanah Lot

Sesampai di Pura Tanah Lot maka pemandangan kami tertuju pada keramain di bawah Pura. Ternyata yang menyita banyak perhatian pengunjung ialah Holy spring yang berisi ular-ular yang dipercayai sebagai ular suci. Nah aku dan Surya mencoba air diusap ke muka dan diminum, tapi waktu itu aku ke Bali pas puasa Ramadhan maka aku tidak meminum airnya hanya mengusap muka. Ular yang ada di dalam holy spring berupa ular hitam belang biru yang jinak. Kemudian setelah mengusap muka maka pendeta Hindu memberiku bunga untuk ditaruh di telinga serta beras ke dahi. Jadilah aku seperti wanita Bali hehehhe 😀

Kurang mantap rasanya kalau tidak mencoba ala Bali. Setelah itu kami memberikan uang seikhlasnya. Pengalaman lucu saat di Tanah Lot ketika hendak memberikan donasi malah melirik isi kotak uang berisi uang dari mancanegara, buset tajir dah hasil donasi 😛

Holy Spring Tanah Lot
Holy Spring Tanah Lot

Setelah mencari tahu hal menarik di Tanah lot tepatnya berada di Holy spring akhirnya kami mengelilingi Pura sambil berphoto. Hal yang aku suka dari Tanah Lot ialah hamparan batu karang serta lautnya yang biru. Untuk yang menarik perhatian tentu saja Pura Tanah Lot yang eksotis.

Disekitar karang di Tanah Lot aku melihta bule-bule mencari kerang entah mau diapakan tapi mereka kelihatan asyik mencari kerang di dalam karang yang berisi air laut.

Tidak lama-lama di Tanah Lot maka kami pun keluar untuk berjalan ke arah lain dari tanah lot. Kemudian kami melihat tempat peribadatan umat Hindu yang bersih. Kami hanya mengintip dari luar saja sambil menatap dari kejauhan.

Kata Tanah Lot terdiri dari kata “Tanah” yang diartikan sebagai batu karang, “Lot”atau “Lod” berarti laut. Jadi Tanah Lot dimaksudkan yaitu tanah yang ada di tengah laut. Pura Tanah Lot didirikan pada abad ke-15 oleh Pedanda (pendeta) Hindu bernama Bawu Rawuh atau Danghyang Nirartha yang berasal dari Kerajaan Majapahit. Danhyang Niratha dalam perjalanannya untuk menyebarkan agama Hindu dari tanah Jawa pada abad ke-16. (Wonderfull indonesia)

Tanah Lot
Tempat ibadah umat Hindu di Tanah Lot

Beranjak dari tempat ibadah umat Hindu di Tanah Lot maka bak seorang turis kami pun mengikuti turis lainnya yang kebanyakan ialah turis mancangera. Rupanya kami ke ujung karang, tempat terbaik untuk melihat sunset di Tanah Lot. Memang salah satu daya tarik dari Tanah Lot terletak di sunsetnya yang menawan.

Saat menunggu sunset di Tanah Lot sambil duduk manis di jalan trotoar, aku berbicara dengan oma dari Belanda lengkap dengan cucu-cucunya yang imut sehingga aku langsung minta photo buat kenang-kenangan. Karena penyakit tidak tahan melihat anak kecil imut hehehe 😀

Inilah salah satu momen yang aku sukai saat di Tanah Lot Bali yaitu tersenyum bahagia, karena bahagia itu simple “menikmati hidup dan selalu bersyukur serta tersenyum  ❤

 tanah lot
Tanah Lot

Lain yang aku lakukan maka lain pula yang dilakukan temanku Surya. Dengan menyuruhku untuk meminta phot0 dengan turis asal Afrika maka aku pun harus meminta photo turis Afrika berphoto dengannya bak artis. Tapi walau begitu seru juga.

Tanah lot meruapakan salah satu tempat terbaik di Bali

wisata favorit Bali
Wisata favorit Bali

Menunggu sunset di Tanah Lot merupakan momen terkeren saat berada di Bali karena kami tidak hanya sendiri dalam menunggu sunset tapi dengan turis dari berbagai mancenagara lainnya yang tidak kami kenal dengan tujuan yang sama.

Identik dengan sunset dimanapun objek wisatanya tapi satu hal keunikan dari sunset di Tanah Lot yang kami rasakan yaitu “kegembiraan”

Sunset Tanah Lot
Sunset Tanah Lot

Panduan Wisata Tanah Lot Bali

1. Salah satu tempat rekomendasi objek wisata di Bali ialah Tanah Lot. Selain itu masih banyak objek wisata menarik Bali yang terkenal dan indah seperti Ubud, Uluwatu, Pantai Sanur, Pantai Kuta dan sebagainya

2. Untuk masuk ke dalam Tanah Lot maka dikenakan biaya masuk

3. Sebelum melakukan touring ke Tanah Lot sebaiknya disusun jadwal perjalanan.

4. Saat memasuki Tanah Lot sebaiknya berpakaian sopan

5. Di sekitar Tanah Lot terdapat toko souvenir untuk berburu kerajinan tangan lokal untuk oleh-oleh Bali seperti baju, sandal, topi, lukisan dan sebagainya.

6. Saat terbaik untuk melihat Pura Tanah lot saat sunrise dan sunset.

7. Saat air laut surut maka pengunjung bisa berjalan kaki dari bibir pantai ke Pura tanah lot yang berada di atas bukit.

Salam

Weeny Traveller

Liburan di New Kuta Beach Bali


Risk, take them.

Mistakes, do not be afraid to make them.

Love, fall for it.

Life is too short to tether oneself to the illusory safety of mediocrity.

No poison kills more slowly or painfully than regret (unknown)

new kuta beach
New kuta beach (kiri ke kanan: Surya, aku dan Santo)

Hello World!

10 Agustus 2011

Selalu ada cerita tentang Bali, tempat wisata impian hampir semua orang. Begitu juga dengan perjalanan kami, salahnya satunya liburan di New Kuta Beach Bali kami di tahun 2011 silam. Pantai New Kuta Bali berbeda dengan pantai Kuta Bali yang sudah dikenal hampir semua orang karena dari segi lokasi memang berbeda serta dari segi pemandangannya.

Aku, Santo, Surya dan William melakukan touring Bali ala gembel demi menjelajah setiap  sudut objek wisata Bali. Tujuan wisata Bali kami tentu saja salah satunya pantai Kuta baru Bali. Transportasi kami ke Pantai Kuta Baru kala itu dengan motor sewaan dari tempat penginapan.

Pantai Kuta Baru
Pantai Kuta Baru

Dari GWK Bali kami melanjutkan perjalanan ke Pantai Kuta Baru atau nama bekennya Pantai Kuta Baru sebelum ke Uluwatu. Tujuan utama kami ke pantai Kuta Baru ialah  berburu sunset New Kuta Beach karena karena New Kuta Beach/pantai Kuta Baru merupakan salah satu tempat wisata yang direkomendasi sesama traveler untuk dikunjungi saat di Bali.

kuta beach cafe
Kuta Beach Cafe

Memasuki Pantai Kuta Baru, perhatian kami tertuju pada cafe disekitar pantai Kuta Baru untuk menikmati senja serta aliran air membentuk kolam disekitarnya bukit serta pasir putih. Kami sangta menikamti momen di Pantai Kuta Baru saat sore hari. Kenapa tidak? Pantai Kuta Baru memiliki pantai yang berish dan warna pasir putih berbeda dengan Pantai Kuta walau terkenal tapi warna pasirnya agak butek “cokelata kehitaman”. Satu lagi, jauh dari kata turistik!

pantai kuta baru bali
Pantai Kuta Baru Bali

Hal menarik dari Pantai Kuta Baru terletak pada karang besar disepanjang pantai sehingga pas sunset aura “keeksotisan” pantai menjadi sangat keren.

Saat kunjungan kami di Pantai Kuta Baru banyak sekali bule dan wisatawan mancanegara yang berjemur sambil menunggu momen sunset. Kebayakan yang di lakukan oleh turis ialah berselanjar karena ombaknya yang tinggi. Pengnjung biasanya naik ke karang saat sunset sudah mulai. Entah kenapa mereka naik ke atas bukit hanya saja para pengunjung memanjat bukit dan karang sambil membawa papan selancarnya yang membuatku penasaran.

Kesan pertama melihat pantai Kuta Baru Bali memang menarik perhatian karena nuansanya yang cozy apalagi saat sunsetnya membuatku betah melihatnya lama-lama.

Karang pantai kuta baru
Karang pantai kuta baru

Oh ya untuk pengalaman unik ku saat di Pantai Kuta Baru Bali ialah ketika semua pengunjung berbiki ria maka aku sendiri yang aneh dari yang lain sehingga jatuh ke nyentrik karena memakai jaket serta hotpants pendek di pantai.

Saat di Pantai Kuta Baru aku masih ingat coleteh lucu dari Santo yang mengatakan “muak aku dengan BH” hahahahah 😀 gila banget dah komentar si Santo yang membuatku, Surya dan William terkekeh gila. Sekarang aja jika aku mengingatnya aku malah tersenyum sendiri.

kuta baru bali
Pantai Kuta Baru Bali

Liburan di Pantai Kuta Baru Bali memang singkat bagi kami karena hanya untuk melihat sunset nya saja. Tapi walau demikian kami jatuh cinta dengan Pantai Kuta Baru dengan pasirnya yang bersih serta karangnya yang mengagumkan.

Btw gara-gara keasyikan di Pantai Kuta Baru kami malah sampai di Uluwatu malam hari serta melewatkan pesona Uluwatu yang terkenal. Jika aku kembali lagi ke Bali, aku ingin sekali ke Uluwatu karena merupakan objek wisata Bali impianku.

Oneday I hope…

Sunset New Kuta Beach
Aku dengan Sunset New Kuta Beach

Tips perjalanan Pantai Kuta Baru

  1. Pantai Kuta Baru/New Kuta Baru cocok untuk penyuka berselancar dan penikmat photography
  2. Sebaiknya ke Pantai Kuta Baru saat jam 3 sore sehingga ada waktu bersantai sambil menunggu sunset indahnya
  3. Untuk menuju ke Pantai Kuta Baru bisa menggunakan transportasi mobil atau motor. Untuk harga sewa motor di Bali perhari diluar bensin Rp35000 (tahun 2011) serta KTP dan uang sebagai jaminan.
  4. Disepanjang pantai banyak sekali jasa pijat dari warga lokal Bali yang umurnya paruh baya sehingga jika lelah bisa menikmati pijat
sunset kuta baru
Surya dengan Sunset Kuta Baru

Salam

 

Weeny Traveller