Menelusuri Jejak Islam di Phristina, Kosovo


“The purpose of life is to live it, to taste experience to the utmost, to reach out eagerly and without fear for newer and richer experience.”
― Eleanor Roosevelt

Hello World!

Phristina, 14 April 2017

Perjalanan darat Budapest-Phristina membuatku serasa Deja Vu karena perjalanannya mirip-mirip  perjalanan darat  pas pulang kampong dari Medan-Padangsidimpuan, hanya saja bedanya aku 3x di Imigrasi  “Budapest terus Serbia lalu Kosovo”. Yah lumayan nambah-nambah 3 cap Imigrasi di passport. Menariknya meski sendirian di mobil yang mirip mini bus itu, aku santai saja. Dan sungguh aku tak menyangka aku sampai di Phristina, Kosovo. Karena Negara ini aku tahu dari zaman kuliah, waktu itu masih ababil dan berkenalan orang sana. Bahkan aku sempat cubit pipi sendiri saat tiba Kosovo, meyakinkan diri bahwa aku menginjakkan kaki di KOSOVO bukan mimpi. Demi Kosovo aku ikhlas merelakan perjalanan ke Irlandia dan Marocco, karena sudah penasaran dari lama.

Yang lucu saat melihat reaksi orang Eropa ketika mengetahui niatku ke Kosovo, “are you sure?”, is not a conflict area?, Mereka tak percaya gitu seorang cewek sendirian dari INDONESIA ke KOSOVO. Jangankan mereka, aku aja sampai sekarang tidak percaya bisa telah sampai ke Kosovo.

Aku sampai jam 8 pagi di Kosovo, hostku bernama Shend dengan baju tidurnya dalam keadaan “setengah sadar”, menjemput di terminal. Seorang penumpang yang sebis denganku kelihatan kecewa mengetahui aku sudah dijemput, karena dia berharap aku ikut ke rumahnya, katanya mau dijadikan istri. Padahal dia tidak bisa berbahasa Inggris begitu juga Bahasa Inggrisku yang pas-pasan. Tapi aku menganggap itu “hiburan perjalanan belaka”, toh disitulah seni dari perjalanan. Kapan lagi bertemu dengan orang-orang baru dengan pemikiran unik di perjalanan dan anggap saja lucu-lucuan.

Aku kemudian pamit kepada penumpang lainnya, kemudian mengikuti hostku. Untungnya rumahnya tidak terlalu jauh dari terminal.

Kosovo

Kemudian tahu tidak apa kesan pertamaku tentang Kosovo?

“Oh ternyata Kosovo itu banyak pegunungan, serasa tidak berada di Eropa”.

Maklum setelah 3 minggu keliling Eropa, agak membosankan melihat bangunan tua. Namun saat berada di Kosovo pemandangannya sedikit berbeda, aku bisa melihat pegunungan dan entah kenapa aku merasa Phristina ibukota Negara Kosovo mirip seperti di Indonesia. Mengunjungi Kosovo ibarat cuci mata setelah keliling Eropa.

Jarak tempat tinggal hostku dari terminal hanya 10 menit jalan kaki. Di penginapan hostku dia memiliki tamu dari Inggris, kemudian aku tidur di ruang tamunya. Karena hostku harus bekerja, maka dia tidak bisa menemaniku keliling Kota Phristina. Untungnya aku punya host bernama Visari yang tidak bisa memberi tumpangan namun bisa mengajak keliling Kota, nah si Visari inilah yang berjanji mentraktir makan ikan jika aku ke Kosovo.

Host Shend ke kantor, aku pun dijemput Visari. Benar saja dia kemudian mengajak ngopi cantik di Phristina. Pas sampai di café, semua mata tertuju padaku. Mungkin karena wajahku yang berbeda dari mereka, bisa juga karena jarang turis datang ke Kosovo. Menikmati kopi dengan roti di pagi hari bersama teman baru di Negara yang aku tidak perlu khawatir untuk makan sungguh membuat rasa lega. Seperti aku memiliki pagi yang menentramkan dan sedikit “fancy”, apalagi gretongan makan happy deh 😀

Ngopi Cantik di Kosovo

Berbicara tentang Visari, dia adalah teman yang baik hati. Dia banyak membantuku selama di Kosovo. Yang lucu saat sarapan pagi dia nunjukin peta dunia dan berkata “Crazy Winny, I can not believe you come here, from Indonesia to KOSOVO”. Why do u come to Kosovo, Winny? Indonesia is paradise”, katanya dengan bersemangat. Memang si Visari memiliki banyak teman dari Indonesia meski belum pernah berjumpa. Dia juga tahu banyak dengan Indonesia. Mimpinya suatu saat bisa ke Indonesia.

Aku pun penasaran “paradise” yang mana di Indonesia yang dia lihat. Kemudian dia menunjukakn Video “Raja Ampat”. Terus aku seolah menelan ludah serasa “gejblek”, ini mah paradise benaran, aku aja kayak sanggup ke Raja Ampat. Disitu aku merasa sedih, sanggup ke Kosovo gak sanggup ke Raja Ampat!

Visari juga menceritakan tentang kehidupan di Kosovo. Kosovo yang menyatakan kemerdekaan dari Serbia secara sepihak tahun 17 Februari 2008, mayoritas penduduknya adalah Muslim dan sebagian kecil Kristen Ortodok Serbia. Menariknya Negara ini pernah diduduki oleh Kerajaan Ottoman di tahun 1389 dan merupakan masa keemasan Islam di Kosovo. Tak heran jika mayoritas penduduk Kosovo yang berasal dari etnis Albania, Serbia, dan Turki mayoritas Muslim karena Islam telah hadir di Kosovo sejak tahun keempat kalender Hijriah.

Karena kebetulan kedatanganku ke Kosovo pas hari Jumat, maka Visari pergi ke Masjid untuk sholat Jumat. Sementara aku menunggu di sekitar Kosovo Square. Asli pas jalan sendirian terus melihat Masjid yang mirip Masjid-masjid di Turkey membuatku senang. Belum lagi mendengar azan, “Masyaallah” aku sungguh rindu. Langsung rasanya jiwa ini mendapatkan makanan, jiwa ini lapar ternyata. Maklum selama di Eropa Barat dan Timur serta Inggris aku tidak mendengarkan azan namun tetap ada beberapa Masjid yang aku kunjungi seperti di Perancis, Inggris, Belgia dan Edinburgh. Namun di Phristan Kosovo aku mendengar azan dan melihat orang sholat Jumat rasanya itu terharu. Sederhana sekali senangnya kan?

Hanya satu yang aku tidak tahan di Kosovo, antusias orang saat melihat diriku. Pas jalan semua orang mengamati dengan penuh heran, aku tiba-tiba serasa artis. Belum orang Kosovo suka menyapa “Hi Mister”, kepadaku. Sumpah mendengar “Hi Mister” itu rasanya mau tertawa, tapi kalau tertawa sendiri dikira gila.

Di Kosovo, aku menelusuri jejak Islam dari Kerajaan Ottoman, setidaknya hubungan antara Negara Kosovo dan Turkey itu sangat baik, buktinya untuk mengurus VISA KOSOVO itu bisa di Istanbul Turkey, dan orang Kosovo bebas visa masuk ke Turkey bergitu pula orang Turkey bebas visa ke Kosovo.

Senangnya di Kosovo “aku bisa bebas makan enak di KOSOVO”, halal dan murah. Udah segitu aja aku sudah bersyukur, dan tidak sia-sia ke Kosovo.

Phristina, Kosovo

Rincian Pengeluaran Biaya Trip Phristina, Kosovo

08:00-09:00 dijemput host bernama Shend di terminal Kosovo.

09:00-10:00 istirahat

10:00-12:00 Jalan dengan teman bernama Visari.

12:00-14:00 Jalan ke Masjid. Beli tiket bus ke Italy 50 Euro

14:00-15:00 Ditraktir makan di restaurant California oleh Visari

15:00-18:00 Ke Batllava Lake dan diajak minum teh bersama Visari

19:00-20:00 Menunggu host pulang kerja, kemudian keliling Square Kosovo terus ke toilet 0,2 Euro

20:00-21:00 Bertemu Shend di depan Bioskop Pristina kemudian minum teh dengan host 2 Euro

21:00-23:00 ditraktir minum jus di Club Jazz oleh Shend

Tempat wisata yang didatangi pada hari-22 di Eropa:

Batllava Lake, Kosovo Square, Bank of Kosovo, Keliling Phristina

Salam

Winny

Iklan

Mengenal Suku Sasak di Desa Sade, Lombok NUSA TENGGARA BARAT


  “There is no passion to be found playing small–in settling for a life that is less than the one you are capable of living.”

By Nelson Mandela

Hello World

Lombok, Maret 2018

Pertama kali menginjakkan kaki di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat tahun 2010 bersama temanku Susanto, William dan Surya. Waktu itu belum ada Bandara Internasional Lombok, masih dalam tahap pengerjaan. Paling tidak 8 tahun yang lalu aku sudah menginjakkan kaki di Nusa Tenggara Barat meski itu hanya sekedar lewat untuk menyebrang dari Bali ke Gili Trawangan begitu juga sebaliknya dari Gili Trawangan ke Bali. Sejak itu tidak pernah terpikir olehku untuk mengijakkan kaki lagi di Pulau Lombok sampai akhirnya aku melakukan bisnis trip ke Kota Mataram, ibu kota Nusa Tenggara Barat.

Kalau ada kesempatan ke Mataram, salah satu wisata Lombok yang ingin aku kunjungi adalah perkampungan Suku Sasak. Waktu itu entah kenapa pertama kali ke Pulau Lombok, tidak tahu kalau ada Desa menarik bernama Desa Sade di Lombok. Tahunya malahan sekitar tahun 2012 dari membaca blog orang, tahunya ada Desa Budaya dekat Bandara Lombok. Wajar jika aku tidak tahu, toh waktu ke Lombok pertama kalinya juga belum ada bandara. Sejak itu ada keinginan dalam hati “jika aku ada kesempatan ke Lombok lagi, aku ingin melihat Desa Adat Suku Sasak”. Alhamdulillah ada kesempatan kedua ke Lombok.

Desa Sade

Menariknya lagi, sahabatku Maulina dan Ayu datang ke Lombok. Memang kami bertiga sudah lama merencanakan berlibur bertiga ke Lombok jauh sebelum keduanya resign dari kantor tempatku bekerja sekarang. Rupanya malah terjadi bertepatan pas aku dinas ke Mataram. Nah pas liburan, aku dan Maulina menuju Desa Sade, salah satu Desa Adat yang ada di Lombok. Lokasinya memang benar, tak jauh dari Bandara Lombok. Kami berdua menuju Desa Sade dengan Go Gar. Untungnya pariwisata Lombok sudah maju sehingga transportasi umum lengkap mulai dari taxi hingga Go Gar. Kami berdua memilih naik Go Gar, dan tinggal pilih Desa Sade terus langsung diantar ke tujuan. Nah selain Desa Sade, ternyata ada juga Desa Adat di Lombok bernama Desa Ende. Kedua Desa ini kami kunjungin, namun pas bersama Maulina kami langsung ke Desa Sade.

Sesampai di Desa Sade, aku dan Maulina pertama kali menuju ke tulisan “SADE VILLAGE”. Depannya dengan rumah tradisional dan pepohonan, sehingga Maulina yang aslinya tidak suka photo, malah mau diphoto padahal Maulina masih membawa koper loh. Alhasil kopernya di geret kemana-mana hahah 😀

Setelah dari depan tulisan Sade Village kami lalu masuk ke dalam Desa Sade. Beberapa warga Suku Sasak sudah menunggu di depan Gang, menjadi guide dadakan. Aku dan Maulina masuk ke dalam sambil minitipkan tas kami. Sebelum masuk kedalam Desa Sade, kami diwajibkan membayar ‘DONASI’ yang terserah alias seiklasnya tapi dipatok. Di patok disini maksudnya ditulis jumlah donasi dalam buku tamu kemudian tertera berapa dikasih tamu itu seolah patokannya itu. Misal daftar tamu terakhir mengisi donasi Rp25000 maka tamu itulah menjadi patokan donasi masuk. Tidak ada karcis, maupun tiket masuk, namun biayanya berupa donasi.

Desa Sade

Setelah membayar donasi, kami berdua melanjutkan perjalanan. Rumahnya dari jerami kemudian tradisional serta pakaian tenun dan kain tenun sudah dipajang sampai kain tenun juga. Yang membuat Desa Sade menarik adalah perkampungan Sasak yang masih mempertahankan budaya dan adatnya. Di Desa Sade bisa melihat langsung ibu-ibu menenun kemudian kerajinannya bisa dijual untuk oleh-oleh bagi pendatang. Menariknya di Desa Sade bisa mengenal Suku Sasak, serta adanya pertunjukan bela diri dari masyarakat.

Aku dan Maulina berdua saja keliling Desa Sade, hingga ada satu Bapak yang menghampiri kami. Beliau bercerita tentang Desa Sade dan tempat yang sering dikunjungi wisatawan ke Desa Sade, salah satunya adalah Pohon Cinta.

Desa Sade

Aku dan Maulina malahan lebih tertarik kepada berburu kain tenun khas Lombok. Namun pas di depan harganya 300ribu sehingga kami segan untuk menawar. Si Bapak berjanji membawa kami ke tempat jualannya yang jauh lebih murah. Dan benar saja pas kami dibawa ke tempat jualan si bapak harganya lumayan terjangkau sehingga aku kilaf dan belanja baju dan kain Lombok dengan harga yang ramah di kantong.

Tak sia-sia ke Desa Sade, dapat kain tenun dapat baju tenun khas Lombok 🙂

Desa Sade

Tidak hanya itu saja, sepanjang jalan mengitari Desa Sade, kami belajar banyak hal dan melihat kehidupan warga di DESA SADE. Ada satu nenek yang berjualan kain, entah kenapa si nenek ini mengingatkanku dengan Almarhum nenekku. Sehingga pas melihat si Nenek, rasanya pengen peluk.

Menurut si Bapak, nenek ini sudah berumur hampir 90an. Kebetulan pas kami lewat memang si nenek sendirian di rumah, cuma aku tidak berani bertanya apakah si nenek memang hidup sendirian atau tidak. Yang pasti di depan rumah si nenek terdapat gelang yang dijual hanya Rp5000 sampai Rp35000. Tentu saja aku dan Maulina langsung membeli gelang si nenek, sebagai kenang-kenangan.

Desa Sade

Di Desa Sade juga terdapat masjid yang bentuknya unik, mirip bentuknya seperti rumah Sasak. Kami sempat mengunjungi masjid. Dan untuk pohon cinta sendiri berada di pertengahan Desa Sade. Pohon cinta ini berupa pohon tanpa daun yang sekelilingnya tersusun batu melingkar. Tapi bukan itu yang menarik dari Desa Sade, dari gaya rumahnya, bentuknya serta kesan alami. Bahkan masyarakat Desa Sade memiliki rumah yang depannya terlihat lebih rendah yang memiliki makna agar tamu merunduk saat masuk ke dalam rumah untuk menghormati tuan rumah. Menariknya lagi, rumah Desa Sade dipel dengan kotoran kerbau, namun pas masuk tidak ada bau kotoran kerbau sama sekali.

Keren kan?

Desa Sade

Meski perjalananku termasuk singkat di Desa Sade, namun banyak hal yang aku pelajari. Belajar tentang mencintai Budaya sendiri serta melihat kehidupan suku Sasak. Trip Suku Sade juga merupakan trip perdana dengan sahabatku, si Maulina!

Kapan lagi coba teman menghampiri pas di bilang “aku di Mataram, mau kesini gak?” terus beli tiket dari Jakarta langsung menghampiri ke Mataram. That’s her, what an amazing friend 🙂

Desa Sade

Alamat Desa Sade

Desa Rembitan, Pujut

Lombok Tengah

Nusa Tenggara Barat

Salam

Winny

 

Cara ke Kosovo Via Darat Melalui Budapest, Hungaria


 Keep in mind that the feelings of incompetence will gradually pass. The creative power that you can bring to the table because of your willingness to change can be invaluable. It might even lead you to start a paradigm shift of your own.

By Barbara

Hello World!

Phristina, 14 April 2017

Walau penuh drama, akhirnya aku bertemu dengan orang travel yang akan membawaku ke Kosovo melalui Budapest. Untuk harga travel ke Kosovo via darat 50 Euro dan yang membooking adalah teman hostku di Kosovo bernama Shend. Travel yang dimaksud disini semacam mini bus, mirip-mirip dengan bis mini yang sering aku gunakan jika pulang kampung dari Medan ke Padangsidimpuan atau sebaliknya. Selain ke Kosovo, pengalaman menaiki mobil semacam ini juga pernah aku lakukan ketika melakukan trip dari Kupang ke Timor Leste. Ada yang menarik dari perjalanan Kosovo via Budapest yaitu aku bak artis di dalam bus yang berisi 4 orang Kosovo dan kesemuanya adalah lelaki. Yang paling lucu saat si Bapak pengemudi bercerita bagaimana susahnya mencariku sampai 2x. Menariknya penumpang di jemput ke tempat oleh si pengemudi, terus orang-orang di dalam heboh melihat diriku yang seorang diri di dalam bus. Dari segi wajah, jelas aku beda sendiri “Indonesia banget”, muka petak terus kulit langsat, rambut ikal sepanjang bahu. Ada dua penumpang yang mewancarai ku sepanjang jalan karena mereka terheran-heran ada cewek sendirian ke Kosovo. Yang satu persis di sampingku, tidak bisa bahasa Inggris yang satunya lagi di samping supir yang fasih bahasa Inggris. Oh ya bus hanya berisi 6 saja, aku, supir dan 4 orang Kosovo. Aku duduk dibelakang supir dengan seorang yang sangat antusias ingin ngobrol denganku bahkan diajak ke rumahnya, padahal dia gak bisa bahasa Inggris sama sekali. Akhirnya yang di depan yang menerjemahkan. Ibaratnya aku jadi artis dadakan.

"What are you doing to Kosovo?", tanya pria di samping supir
"I wanna eat fish", jawabku santai

Sontak mereka tertawa dan terheran-heran. Iyee heran, karena siapa coba jauh-jauh dari Indonesia demi makan ikan hehe 😀

Sederhana sih karena aku punya host di Kosovo yang pamer ikan di resturan kemudian berjanji bakalan ngajak makan di tempat dia makan kalau aku ke Kosovo. Akhirnya itu jadi alasan ke Kosovo 😀 hhihi

Sepanjang jalan aku diwawancarai habis dengan begitu banyak pertanyaan termasuk dimana aku akan tinggal. Dengan ramah aku menjawab, menariknya perjalanan Budapest-Kosovo jadi lucu. Karena jujur saja, aku sudah terbiasa merasa artis ketika jalan-jalan sendiri (catet: perasaaan ngartis doang), misalnya waktu di Iran nyasar sendiri kemudian pas di India juga. Nah di Kosovo, orang-orangnya amat sangat ramah sekaliii. Mungkin karena jarang kali ya turis kesana apalagi kalau mereka tahu dari Indonesia, walau mereka belum tentu tahu dimana itu Indonesia. Disinilah jadi tugasku sebagai warga negara Indonesia yang sangat mencintai Indonesia dengan suka rela membagikan mata uang Indonesia kepada mereka, supaya mereka lebih tahu Indonesia 🙂

Tentu saja dengan jalan keliling Eropa serta singgah ke salah satu negara Balkan berupa Kosovo sudah menjadi impianku sejak kuliah. Why Kosovo? begitu bertanyaan orang berulang-ulang ketika aku menanyai setiap orang yang aku jumpain di Eropa bagaimana caranya ke Kosovo via darat. Hingga akhirnya pertanyaan itu aku jawab sendiri. Pernah juga sempat nanya kepada Kak Febi, Blogger empatmusim mengenai Visa Kosovo dan bagaimana cara masuk ke Kosovo.  Ternyata jika kita memegang Visa Multi entry Eropa maka kita bisa masuk ke Kosovo gratis. Kalau mau ngurus Visa Kosovo sangat ribet apalagi untuk Warga Indonesia karena belum ada hubungan bilateral dengan Indonesia sehingga mengurus Visa Kosovo itu di ISTANBUL, TURKEY. Sebelum memutuskan ke Kosovo aku juga sempat mengirim email kepada Kedutaan Kosovo mengenai status kebenaran jika ke Kosovo bisa masuk asalkan ada visa multi entri Schengen, dan jawabannya mmeuaskan “bisa”. Perjalanan ke Kosovo penuh dengan tantangan, sampai-sampai aku rela mengobarkan ke Irlandia meski sudah memiliki Visa dan say goodbye kepada Maroco walau visa gratis demi ke Kosovo. Karena paling tidak, aku ingin mengunjungi Kosovo setidaknya sekali dalam seumur hidupku.

Lalu kenapa sebegitu specialnya Kosovo?

Karena cerita cinta khayalan di Kosovo ;D

Perjalanan Kosovo melalui Budapest dimulai jam 5 sore, dan sempat berhenti di tempat-tempat tertentu. Sebelas dua belas kayak jalan dari Medan ke Sidimpuan yang beberapa tempat berhenti. Mini bis ini pun sempat berhneti di bom bensin agar penumpang yang ingin ke kamar mandi ke kamar mandi. Bom Bensin tempat kami beristirahat dipastikan masih di Hungaria karena aku sempat membeli makanan dengan sisa uang yang aku miliki, habis 470 ft untuk makanan. Aku juga sempat ke toilet hingga mereka menjemputku karena takut aku nyasar. Asli para penumpang begitu perhatian, apalagi cewek sendiri pula. Kemudian kami melanjutkan perjalanan ke Kosovo.

Hal yang aku suka jika via darat adalah aku dapat melihat pemandangan sekitarku. Bayangkan berapa banyak Kota yang aku lalui melalui darat. Bahkan pemadangan rumput saja indah! Tentu saja lebay, tapi menikmati pemandangan sekitar itu rasanya nikmat, sebanding dengan nikmat uang yang habis 😀

Sepanjang jalan aku melihat rumah di Eropa terutama Eropa Tengah hingga ke Area Balkan. Kami sampai di Serbia tepatnya di Belgrade itu kalau tidak salah jam 1 malam, antriannya panjang sekali. Barang harus dibawa di Imigrasi untuk diperiksa. Dan Passport kami sering dikumpul untuk di check kemudian di bagikan kepada kami. Menariknya hanya passportku yang lain sendiri. Aku begitu mencolok dalam Kantor Imigrasi. Tak terkecuali di Kantor Imigrasi Belgarde, Serbia.

Petugas Imigrasi betapa terheran-heran dengan kehadiran diriku. Kemudian membolak-balik Passportku sampai berkali-kali kemudian wajahnya menunjukkan wajah terkesan melihat passportku sambil ditanya-tanya ngapain dan mau kemana. Terus aku jawab santai ke Kosovo for holiday!

Tatapan dari beberapa orang sangat kontras bagiku, mungkin ini yang dirasakan orang bule kalau sedang liburan ke Indonesia. Tatapan heran, dan penasaran. Hal ini wajar karena “berbeda”, toh perbedaan itu memiliki magnet tersendiri. Alhamdulillah, proses imigrasi lancar jaya dan aku mendapatkan cap Serbia di passportku. Ini namanya menyelam sambil minum air, niat ke Kosovo malah dapat cap Serbia di passport haha 😀

Phristina, Kosovo

Yang lucu saat aku kebelet pipis dan nanya dimana toilet ke petugas wawancara di Imigrasi. Untung mereka menunjukkan Toilet di luar dan langsung terasa adem anyem. Bukan kebelet gegara pertanyaannya, kebelet karena udara di Serbia waktu itu sangat dingin dan hari juga masih dini hari. Untungnya proses Imigrasi lancar, sehingga aku masuk ke dalam bus yang sudah menunggu tak jauh dari Kantor Imigrasi sambil menunggu penumpang lainnya. Kemudian setelah semua berkumpul kami pun melanjutkan perjalanan.

Selain berhenti di Belgrade, Serbia, Bis kami juga berhenti di Imigrasi Kosovo dan lagi-lagi aku harus melakukan proses Imigrasi seperti biasa. Proses Imigrasi lancar dan seperti di Serbia, di Imigrasi Kosovo juga aku seperti magnet bagi mereka. Kemudian setelah proses imigrasi selesai bis berjalan dan hingga sekitar jam 5 subuh bis berhenti di sebuah warung kopi, karena supir hendak minum kopi begitu juga penumpang lainnya. Aku pun keluar sambil mengamati kehidupan orang Kosovo. Mereka nonton bola sambil minum kopi. Anehnya kondisi semacam ini membuatku merasa Deja Vu. Ah mungkin saja karena hal demikian pernah aku alami ketika misalnya pulang kampung ke Sidimpuan, melihat Bapak-bapak minum kopi sambil nonton bola.

Entahlah…

Paling tidak, aku bisa tidur di daam bis perjalan via Darat ke Kosovo. Aku sampai di Kosovo tepatnya di Kota Prishtina, Ibukota Kosovo jam 7 pagi di terminal Kosovo. Dari Budapest berangkat jam 5 sore dan nyampe di Kosovo jam 7 pagi, fix sama lamanya kayak perjalanan Pekanbaru-Padangsidimpuan. Tapi kali ini tidak pulang kampung ke rumah mama tapi pulang ke kampung orang. Dan hostku sudah menjemptku dengan pakaian tidurnya.

Kosovo

Rincian Biaya Pengeluaran Kosovo

08:00-09:00 dijemput host bernama Shend di terminal Kosovo.

09:00-10:00 istirahat

10:00-12:00 Jalan dengan teman Cs lain bernama Visari.

12:00-14:00 Jalan ke Masjid. Terus ditemani Visari ke Bank Kosovo demi mencari Valon Lepaja kemudian beli tiket bus ke Italy 50 Euro

14:00-15:00 Ditraktir makan di restaurant California oleh Visari

15:00-18:00 Ke Batllava Lake dan diajak minum teh bersama Visari

19:00-20:00 Menunggu host pulang kerja, kemudian keliling Square Kosovo terus ke toilet 0,2 Euro

20:00-21:00 Bertemu Shend di depan Bioskop Pristina kemudian minum teh dengan host 2 Euro

21:00-23:00 ditraktir minum jus di Club Jazz oleh Shend

Tempat wisata yang didatangi pada hari-22 di Eropa:

Batllava Lake, Kosovo Square, Bank of Kosovo, keliling Phristina

Biaya pengeluaran pada hari-22 di Eropa: 0,2 Euro + 2 Euro = 2,2 Euro

Salam

Winny