Keliling London Pada Malam Hari


Look at a stone cutter hammering away at his rock, perhaps a hundred times without as much as a crack showing in it. Yet at the hundred-and-first blow it will split in two, and I know it was not the last blow that did it, but all that had gone before.

By Jacob A. Riis

Hello World

London, April 2017

Sebenarnya masih lanjutan cerita Backpackeran di London dengan 2 Pondsterling. Gara-gara mencari ATM BN* di London tepatjya di 30 King Street London kemudian harus ke Oxford Street buat ngambil titipan Yuki akhirnya tak sengaja menemukan alternatif hemat untuk jalan-jalan di London dengan sepeda. Menyewa sepedapun harus pakai Kartu kredit padahal aku tidak punya, akhirnya minjam punya orang. Ide minjam sepeda pun gegara melihat orang lokal dengan gampangnya mengambil sepeda kemudian bayar terus jalan deh. Akhirnya aku ikut-ikutan, maklum naik kereta di London minimal jarak yang dekat saja bisa kena 3 Ponds. Naik bis merah ala London pun mahal juga minimal 2, 5 Ponds juga kan lama-lama bisa merobek kantongku yang hanya memiliki uang terbatas. Padahal sengaja mencari ATM di London berangan-angan bisa mengambi uang hasil gaji sebelum unpaid. Ternyata angan-angan tak seindah realita, udah jauh-jauh mengayuh sepeda demi mengambil uang eeh Banknya tutup. Alhasil mau tak mau pulang dengan rasa kecewa. Plusnya aku melihat sisi London dengan bersepeda, bak tahu jalan padahal hanya mengandalkan peta London. Naik sepedanya pun ta tanggung-tangung full seharian, mulai dari pagi hingga malam hari.

Big Ben London

Tantangan saat bersepeda keliling London adalah salah kostum dimana aku saat berada di Eropa musim semi alhasil membuatku kedinginan meski sudah bawa jaket. Maklum aku adalah anak tropis, belum lagi saat sepatuku rusak sehingga pas mengayuh sepeda udahlah dingin, rusak pula sepatu menjadi tantangan tersendiri. Keseruannya aku bisa hemat keliling London sepuasnya.

Setelah puas seharian keliling wisata London mulai dari Istana Buckigham hingga London Eye, akhirnya malam hari ada beberapa tempat yang aku kunjungi, diantaranya:

1. St Paul Cathedral, London

St Paul Catedhral London
Mengunjungi St. Paul Catedhral London tidak sengaja karena kebelet. Pas lewat melihat bangunan super mewah nan kece. Akhirnya ya sudah sekalian mampir, bangunannya gede sendiri dengan bulatan besar. Kemudian sepeda diparkir di tempat sepeda kemudian jalan kaki menuju ke Southwark Bridge.

2. Southwark Bridge

London

Menelusuri Southwark Bridge merupakan kesan tak terlupakan. Karena aku berjalan di jembatan yang bentuknya melengkung dengan latar belakang bangunan tinggi khas LONDON. Bahkan aku sudah berada di atas Sungai Thames London yang menarik. Bukan hanya itu pencahyaan London di malam hari tak kalah menariknya. Warna warni, meski udara begitu dingin. Ada kalanya saat aku mengitari Jmebatan Southwark teringat perjalanan di Tokyo, Jepang teringat akan Oeba kemudian bangunan tingginya malah aku mengingat akan Singapura namun ini berbeda. Ini London dengan kesan “Bristih akses nan sexy”.

3. Jalan dipinggir River Thames

London

Setelah lewat dari jembatan kemudian aku menelusuri jalan sepanjang Thames River. Melihat apa yang dilakukan warga London pada malam hari.  Banyak restauran dan tempat minum, atau sekedar tempat nongkrong di sepanjang jalann Thames. Para pemudanya mereka hang out sambil mendengarkan musik. Aku sendiri bak orang asing melihat kiri kanan sambil berjalan dan hanya menikmati suasana saja. Kemudian puas sekitar itu mencari sepeda lagi dengan menggunakan kata sandi yang telah aku dapatkan tadi pagi. Lalu kembali mangayuh sepeda keliling London pada malam hari.

4. Ke China Town London

London

Setelah sepeda aku kayuh, aku melewati jalanan menuju ke tempat penginapan. Lucunya tanpa diduga malah nyasar ke suatu Pecinan London. Asli aku menemukan China Town ala London dimana suatu daerah itu serasa berada di Beijing daripada di London. Bedanya adalah ada box telephone merah yang merupakan iconic London yang khas. Di China Town ini banayk berkumpul orang Asia dan mayoritas makanannya memang dari China bahkan jalanan pun dirias dengan lentera merah sehingga kental China terasa banget. Aku berjalan disepanjang jalan ini juga menarik yah bisa dikatakan aku bukan satu-satunya orang ASIA yang terdampar di London pada malam hari meski mungkin saja satu-satunya orang Indonesia di tempat itu.

5. Harry potter London

London

Tak hanya pecinan saja yang aku dapatkan ketika melakukan ngewes alias bersepedahan di London pada malam hari. Jadi tak sengaja pas di perjalanan pulang, pandanganku tertuju pada sebuah bangunan dengan TULISAN HARRY POTTER. Sebagai fans fanatik tentu aku ingin sekali masuk, namun karena bayar akhirnya aku cukup puas berphoto di depan aulanya. Kan itung-itung bonus! Itulah sebenarnya enaknya melakukan perjalanan impulsif, tanpa rincian perjalanan hanya mengikuti kaki mengayuh sepeda eh ketemu deh masrkasnya si Harry ūüėÄ

Sayang misi ketemua Daniel Radcliffenya gak kesampaian, apalagi ketemua Pangeran Harry, akhirnya malah ketemu bangunan Harry Potter, lumayan lah ya ūüôā

6. London Eye

London Eye

Untuk menuju London Eye memang aku sangat niatin. Bahkan meski sudah mengunjungi pada siang hari, aku balik lagi di malam hari. Alasannya sederhana “penasaran” bagaimana London Eye di malam hari. Meski tidak sanggup bayar naik ke London Eye paling tidak aku cukup puas melihat London Eye dari depan diseberang. Menuju ke London eye pun susah sauah gampang, bahkan ada momen salah gang karena mencari titik seberang persis di depannya itu susah. Namun bersyukurnya dengan usaha akhirnya bisa menemukan titik untuk melihat London eye dari depan. Bahkan berphoto dengan latar belakangnya cukup membahagiakan.

Sederhana sekali ya rasa bahagianya ūüėÄ

7. Winchester Palace

London
London

Untuk Wichester Palace jujur suatu kebetulan. Tidak masuk ke dalam wisata kunjungan namun murni jalan-jalan di London kemudian eh nemu. Baca di papan informasi ternyata sebuah istana dulunya, akhirnya aku merasa amazed. Kadang memang perjalanan yang dianggap impulsif lebih menarik karena banyak kejutan yang menanti.

8. Big Ben dan Telephone Merah London

Terakhir keliling London di malam hari dengan sepeda aku kembali ke area Big Ben. Sama dengan alasan London Eye karena belum move on dengan iconic London. Anehnya pada malam hari Big Ben tidak seramai ketika hari siang karena pas siang boro-boro photo sendiri di depan Big Ben yang ada photo dengan kerumunan orang saking banyaknya antri. Kalau malam hari memang masih ramai tapi masih kondusif untuk berphoto. Bahkan jalanan sudah sepi padahal waktu itu masih jam 9 malam.

Setelah puas keliling London pada malam hari, akhirnya aku memutuskan balik ke penginapan dengan beberapa kali nyasar dan hampir beberapa kali ketabrak. Alhamdulillah aku dapat menaklukkan London dengan sepeda hanya 2  Pondsterling, melirik tempat-tempat dan sisi lain London dari pagi sampai malam. Seru? Lumayan seru dan dibalik itu aku harus menahan rasa sakit dari sepatu rusak dan dingiinya London karena salah kostum. Tapi aku cukup beruntung karena meski kere namun masih elit dapat mengunjungi Kota yang katanya mahal.

Salam

Winny

Iklan

Jadi Penjaga Rumah di Edinburgh


When you’re different, sometimes you don’t see the millions of people who accept you for what you are. All you notice is the person who doesn’t.”

By Jodi Picoult

Hello World!

Edinburgh, April 2017

"Win, ada Mitha di Edinburgh coba hubungi dia, dia blogger juga,
kata Fascha kepadaku" 

Yah ketika aku melukan trip satu bulan di Eropa dengan impulsif aku mengunjungi Edinburgh, itupun saran dari teman mengingat kesukaanku dengan Kota “antik”. Sebelumnya Edinburgh bukan dalam list¬†daftar kunjungan terutama perjalanan di United Kingdom. Yang aku tahu adalah aku terobsesi mengunjungi London sampai bela-belain mengeluarkan uang hampir 5 juta hanya untuk VISA INGGRIS saja. Meski London tidak sesuai dengan ekpektasiku namun berada di Edinburgh dapat mengobati harga Visa yang luar biasa amazing itu.

Edinburgh
Edinburgh
Edinburgh

Kota Edinburgh sendiri cukup menarik untuk dikunjungi karena Kotanya BAK berada di dalam cerita HARRY POTTER, penuh dengan bangunan tua, kastil sehingga kesannya berada di kita super antik bahkan jalanannya saja dari batu yang mungkin umurnya ratusan tahun. Dari segi budaya juga Edinburgh tak kalah menarik, memiliki khas SCOTLANDIA. Tak heran banyak wisatawan mengunjungi Edinbugh.

Aku sendiri berada di Edinburgh lebih lama daripada di London, dua hari aku menginap di RB n B dan rumah hostku lumayan dekat dengan pusat OLD TOWN EDINBURGH, sehingga kemana-mana aku jalan kaki. Anehnya meski jalan kaki sendirian aku tidak nyasar, karena aku hanya mengikuti jalanan. Trik menghemat biaya hidup di Edinburgh pun lumayan klasik. Karena banyak sekali penasaran bagaimana aku bisa survive dengan 6000 Euro dan 300 Dollar di Eropa selama 1 bulan terus makan apa selama disana terutama di Edinburgh yang waktu itu Ponds lumayan mahal. Selama di Edinburgh aku memasak beras yang berasanya aku beli di Lidl Paris.  Terus lauknya apa? Aku bawa abon kering dari Indonesia kemudian sisanya beli sayur dan telur. Apa itu Lidl? Semacam supermarket di Eropa dan harganya cukup murah dan aku paling suka mengunjunginya karena banyak diskonan juga. Di Edinburgh sendiri aku tidak sengaja mendapatkan LIDL kemudian langsung belanja makanana disana sebelum mencari penginapan gratis dengan Couchsurfing.

Edinburgh

Dengan Couchsurfing aku mendapatkan host yang rumahnya tak jauh dari Holyrood Rd. Karena memang penginapan hanya 2 hari saja di Edinburgh dengan RB n B walau rumah host RB n B ku ini paling enak, kemana-mana tinggal ngesot namun demi penghematan akhirnya aku memutuskan menggunakan CS di Edinburgh. Beruntungnya ada yang menerima requestnya dan memberikan alamatnya.

Pas penginapan habis di RB N B aku pun pamitan dengan hostku. Kebetulan dia sedang memperbaiki dapurnya karena ada satu kejadian tempat pencuci piringnya tersumbat sehingga harus dibenerin. Kemudian dengan tas seberat 15 kg akupun keliling sendirian sebelum ke rumah hostku yang sudah janjian jam 12 siang. Tujuanku adalah menuju Scottish National Gallery ke arah Barat dari rumah host RB n B ku. Sebelumnya aku mencari tempat ngeprint tiketku ke German karena besok harinya aku akan ke Bremen dari Edinburgh. Mencari tempat ngeprint di Edinburgh tidak sulit, malahan dekat dengan rumah hostku. Alasan aku memprint tiket pesawatku karena khawatir harus ada prinan tiket yang ternyata menunjukkan tiket dari HP bisa juga.

Dengan mengangkat tas 15 kg warnaa merah itu akupun masuk ke¬†Scottish National Gallery. Tas gedeku aku titip dan tas kecil harus di pegang di tangan, tidak boleh dipakai ketika masuk ke dalam. Saat membawa tas gedeku kemana-mana aku berkata dalam hati ” what a strong girl”, karena siapa ayng tahu dibalik photo cakep dan kesan elegen di Eropa aku itu menggembel.

But im survived!

Edinburgh

Di dalam Scottish National Gallery berisi lukisan yang dipajang di dinding dari beberapa karya seni seniman ternama. Namun karena aku kurang paham dengan dunia seni akhirnya aku hanya mengamari isi dari Galeri Scotlandia itu yang dindingnya dominan merah. Menariknya masuk ke dalam Scottish National Gallery itu gratis tanpa dipungut biaya. Namun karena aku sudah puas melihat ribuan koleksi di Museum Louvre sehingga saat di Scottish National Gallery aku merasa biasa saja meski demikian cukup menarik masuk ke dalamnya.

Setelah puas keliling dan melihat isi dari¬†Scottish National Gallery, akupun keluar dan mengambil tas 15 kg ku menuju ke Holy rood Road. Semua itu aku lakukan dengan berjalanan kaki! Lagian liburan di Eropa dan UK itu memang tidaklah buru-buru seperti perjalanan yang biasanya aku lakukan, tanpa itinerary dan mengikuti dimana kaki ini melangkah. Di Eropa inilah benar-benar perjalanan yang aku nikmati tanpa beban serta tanpa harus muluk-muluk kesini kesitu, yah aku tidak terlalu berambisi untuk mengunjungi semua tempat dalam waku tertentu. Disini aku lebih menggunakan logika dan relax, kalau tempat itu aku suka maka aku akan lama-lama kemudian dimana negara yang menampung maka kesitulah tujuanku. Pernah dalam hati selama di Eropa “gila ngapain sih aku kesini?”.

Edinburgh

Akhirnya setelah bergejolak dengan diri sendiri aku menyadari satu hal bahwa aku sudah cukup mengenal diriku sendiri. Kemudian aku kembali mencari tempat hostku yang rupanya penuh tantangan sendiri. Sehari sebelumnya aku sudah pernah melakukan hal sama “mencari rumah host” yang berakhir aku tidak menemukannnya dan malah menikmati Holyrood sambil mengintip istana itu dari luar. Di hari kedua pun sama, hasilnya nihil! Untungnya KOTA EDINBURGH itu kota WIFI, dimana sepanjang OLD TOWN nya itu ada WIFI sehingga diriku bisa ngobrol dengan dengan hostku serta mencari lokasinya dengan maps. Akhirnya aku nyasar ke sebuah taman dan untungnya ada seseorang yang kebetulan tinggal searah dengan tujuanku sehingga aku mengikutinya dan mendapatkan rumah hostku yang berada di lantai 2.

Setelah bertemu dengan hostku ternyata dia ada urusan dan menyuruhku membukakan pintu dengan tamunya yang ternyata dari RB N B. Disini aku merasa segan karena orang nginap bayar aku malah gratisan. Memang sih dia ngasih kamar yang hanya aku sendiri di kamar itu namun tidak memberikan kunci rumahnya. Padahal aku sudah janjian dengan Kak Mitha di Andrew Square.

"Winny, if they come please show their room, kata hostku"

Akhhirnya gegara itu akupun menghubungi kak Mitha

"Kak, maaf kayaknya aku gk bisa ketemu Kakak, 
hostku gak ngasih kunci rumahnya kataku"

"Jadi penjaga rumah kau dek hahaha, kata si Kakak dengan bercanda"

"Gimanalah kak beginilah kak nasib numpang kak"

Padahal aku pengen sekali ke berjumpa kak Mitha di Edimbugh namun takut pas bisa pergi eh gak bisa masuk akhirnya aku pun menjadi “penjaga rumah di Edinburgh” di sisa terakhirku di Old Town Edinburgh.

Edinburgh
Edinburgh
Edinburgh
Edinburgh

Begitulah hari terakhir di Edinbugh yang harusnya bisa bertemu dengan Kak Mitha di Andrew Square atau setidaknya mengunjungi Elephan house malah hanya berkurung di kamar di rumah orang. Disini kadang tidak enak tinggal di CS, untungnya kemaren-kemaren sudah puas keliling Edinburgh.

Dalam hatiku “sabar Win, just another day to move”!

Edinburgh

Edinburgh, 3 April 2017

08:00-09:00 Belanja makanan supermarket Lidl tepatnya di Nicolson Street £5,16

09:00-10:00 Keliling Andrew Square

10:00-12:00 Istirahat kembali ke penginapan

12:00-18:00 Keliling ke Holyrood Rd, Scottish Parliament, Palace of Holyroodhouse

18:00-22:00  Kembali ke penginapan dan istirahat

Tempat wisata yang didatangi pada hari-11 di Eropa

Andrew Square, Holyrood Rd, Scottish Parliament, dan Palace of Holyroodhouse

Total biaya pengeluaran pada hari-11 di Eropa = £5,16

Edinburgh, 4 April 2017

08:00-09:00 Print tiket pesawat £0,2 padahal bisa pakai HP untuk menunjukin tiket

09:00-10:00 ke Scottish National Gallery

10:00-12:00 Mencari rumah host di Edinburg ke 35 Easter Road, pakai nyasar

12:00-22:00 Di rumah Cs sampai malam

Tempat wisata yang didatangi pada hari-12 di Eropa
Scottish National Gallery

Total biaya pengeluaran pada hari-12 di Eropa = £0,2

Edinburgh, 5 April 2017

08:00-09:00 Persiapan ke Bremen

09:00-10:00 Jalan kaki dari Easter Road ke terminal Bus

10:00-12:00 Naik bus ke Bandara Edinburgh £4,5

12:00-17:00 Perjalanan Edinburgh-Bremen dengan pesawat

17:00-18:00 Dijemput host Bremen naik tram 2,75 Euro

18:00-19:00 Makan wat pho, mie khas Vietnam 8 Euro

19:00-22:00 Keliling Kota Bremen pada malam hari

22:00-07:00 Kembali ke penginapan dan istirahat

Tempat wisata yang didatangi pada hari-13 di Eropa:

Old Town Bremen, dermaga hingga menelusuri Legenda Bremen

Total Biaya pada hari-13 di Eropa = £4,5 + 2,75 Euro + 8 Euro = £4,5 + 10,75 Euro

Edinburgh

Baca juga: Itinerary TRIP EROPA dan UK sebulan

Salam

Winny

Gratis Masuk ke British Museum di London


The British Museum opened to the public on 15 January 1759 . It was first housed in a seventeenth-century mansion, Montagu House, in Bloomsbury on the site of today’s building

By British Museum Org

Hello World

London, April 2017

Langit di London begitu cerah ketika aku mengunjungi UK kala itu. Meski cuaca terlihat cerah namun suhu udara di London cukup membuatku kedinginan, antara 10 Derajat ke 15 Derajat Celcius. Memang kedatangan ke Inggris merupakan “ter-aji mumpung” yang pernah aku lakukan dalam hidup. Mumpung melakukan trip Eropa selama 1 bulan, jadi sekalian saja ke Inggris, sampai dibela-belain loh mengurus VISA PRIOROTAS KE UK.

Baca juga cara mengurus VISA UK

Hal ini aku lakukan karena aku merasa “toh Inggris itu di Eropa juga, ya sekalian aja deh mampir”. Belum lagi dari kecil itu aku sangat ingin sekali ke LONDON, bisa dibilang “fans beratnya Inggris”. Alasannya sih sederhana karena aku merasa “AKSEN BRITISH ITU SEXY”. Walau sesampai di London betapa aku mengetahui kalau mata uangnya tidak sesexy aksennya.

British Museum

Untuk mensiasati cara hemat jalan-jalan di Inggris, akhirnya dengan memutar otak aku mencari wisata di London yang gratis. Untungnya setelah 1 Hari ludes 100 dollar dalam sekejap, akhirnya aku menemukan alternatif lain cara hemat keliling London yaitu dengan “bersepeda”.

Baca juga Cara hemat ke London

Untungnya di London, rata-rata Museum itu gratis tis tis. Alhasil aku yang penyuka Museum langsung senyum sendiri, senyum bahagia. Karena meski dibalik ke mahalan KOTA LONDON, aku ternyata bisa survive dengan biaya minim. Salah satu trik hemat jalan-jalan di London, yah memasuki wisata gratisnya seperti Museum.

Dengan bermodalkan sepeda pinjaman selama 24 jam hanya 2 Pondsterling serta peta gratisan yang aku dapatkan di Bandara Inggris, maka aku menuju ke British Museum.

British Museum
Untuk menuju ke British Museum sebenarnya susah-susah gampang. Susahnya karena dengan bermodalkan peta dan petunjuk arah menjadi tantangan tersendiri bagiku. Gampangnya ialah karena adanya petunjuk yang jelas sehingga memudahkan menuju ke British Museum.
Sesampai di British Museum, sepeda pinjaman pun diparkirkan, karena nantinya masih bisa dipakai. Kemudian menuju di depan British Museum, nuansanya agak berbeda. Bukan seperti museum namun seperti bangunan tua. Kalau misalnya sekilas saja, mungkin tidak diketahui kalau itu Museum.
Uniknya pengunjung di Museum British lumayan banyak, bahkan beberapa pengunjung nongkrong sambil duduk santai di depan Museum.
Sebelum masuk ke museum, depan¬†British Museum banyak sekali penjual souvenir ala Inggris seperti gantungan kunci, baju sampai prangko. Dan harganya sebelas dua belas dengan harga yang ada di Oxford Street! Terus jangan tanya aku beli atau tidak, karena dibandingkan beli gantungan kunci yang ada tulisan “LONDON”, meski aku ingin aku malah memilih membeli “kacang” di depan¬†British Museum. Maklum, 1 Ponds sangat berarti di London apalagi gaya pejalan sepertiku yang nekat ke Eropa sebulan dengan uang seadanya “600 Euro saja”.
Baca juga perjalanan di Eropa selama 1 bulan
British Museum
Memasuki British Museum penjagaanya lumayan ketat. Tas dimasukkan ke dalam x-ray serta melewati pengaman. Hal ini wajar untuk keamanan. Akupun ikut antri dan mengikuti prosedur yang ada. Lewat dari penjagaan kemudian akupun masuk ke dalam British Museum.
Koleksi di dalam British Museum memang tidak seperti di Louvre Museum Paris namun di dalam¬†British Museum aku lebih puas terutama dengan peninggalan Mesir. Bahkan mumi di¬†British Museum lebih banyak koleksinya jika dibandingkan dengan Louvre. Namun kalau secara pribadi memang aku jauh lebih menyukai Louvre. Namun tetap¬†British Museum menarik juga apalagi gratis hehehhe ūüėÄ
Baca juga Louvre Paris
British Museum
Di dalam British Museum memiliki fasilitas yang lumayan lengkap mulai dari beli oleh-oleh, makanan hingga toilet. Bahkan setelah melewati pintu masuk yang pertama kali bertemu dengan Reading Room dengan bangunan bundar di tenagh ruangan yang memiliki langit-langit tinggi.
Cukup unik menurutku dengan gaya bangunan itu. Kemudian masuk ke dalam ruangan juga tak kalah seru mulai dari koleksi dari Mesir sampai yang Iran aja ada bahkan zaman perang dulu aja ada.
Gimana gak menarik coba?
British Museum
Dari semua yang aku lihat di dalam¬†British Museum, yang membuatku benar-benar “takjub” adalah tentang Mumi. Seakan aku berada di Mesir tapi rasa Inggris. Di¬†British Museum ini aku jauh lebih mengerti tentang proses pemumian bahkan muminya itu banyak sekali.
Selain koleksi mumi, di dalam British Museum cukup lengkap mulai dari Rosetta Stone, Assyrian Lion Hunt reliefs,  dan Parthenon sculptures yang terletak di Ground Floor, kemudian ada Lewis Chessmen, Oxus Treasure, Royal Game of Ur, Mummy of Katebet dan Samurai armour di Upper Floor dan ada  Kings of Ife di lantai paling bawah (lower floor).
Dari 3 lantai itu yang paling aku suka adalah GF alias Ground Floor karena aku bisa melihat¬†Ramesses. Terus pas lihat koleski itu dalam hati “Ya Tuhan semoga suatu saat bisa ke Mesir” ūüôā
Kali-kali aja suatu saat bisa menginjakkan kaki ke Mesir dan bertemu dengan Piramida.
British Museum
British Museum
British Museum
British Museum
Meski mengunjungi Bristih Museum lumayan singkat, hanya 3 jam saja namun aku cukup puas karena siapa sangka aku melihat koleksi museum yang luar biasa. Bahkan sampai sekarang yang membuatku bertanya-tanya, ‘itu gimana caranya¬†Bristih Museum mengambil mumi-mumi itu sampai izinnya segala?”
Mungkin ini pertanyaan diri sendiri yang selalu takjub dengan museum berserta koleksinya, tanpa mengenal dimanapun itu.
“Mak anakmu jauh-jauh ke London mampirnya di Museum”! ūüėÄ
British Museum

Cara Menuju ke British Museum London 

1. Dengan Bus pilihan rutenya yaitu: 10, 14, 24, 29, 73, 134, 390 berhenti di Northbound on Tottenham Court Road,
southbound on Gower Street, kemudian dengan bus 1, 7, 8, 19, 25, 38, 55, 98, 242 berhenti di New Oxford Street dan bis no 59, 68, X68, 91, 168, 188 dan berhenti di Southampton Row.

2. Dengan Tube maka stasiun alternatif yaitu: Goodge Street/Northern Line, Russell Square/Piccadilly Line, Tottenham Court Road/Central Line, dan Holborn, Central Line/Piccadilly Line. Yang paling dekat adalah dari stasiun Tottenham Court Road atau dari Holborn sekitar 500 meter dengan jalan kaki.

British Museum
Jadwal Buka British Museum
10:00-17:30 Waktu London
Harga Tiket Masuk ke British Museum
Gratis
Alamat British Museum
Great Russell St
Bloomsbury
London WC1B 3DG
United Kingdom

Salam

Winny