Pesona Puri Klungkung Bali


The Klungkung Palace, officially Puri Agung Semarapura, is a historical building complex situated in Semarapura , the capital of the Klungkung. The palace (puri) was erected at the end of the 17th century, but largely destroyed during the Dutch colonial conquest in 1908. Today the basic remains of the palace are the court of justice, the Kertha Gosa Pavilion, and the main gate that bears the date Saka 1622 (AD 1700). Within the old palace compound is also a floating pavilion, the Bale Kembang. The descendants of the rajas that once ruled Klungkung today live in Puri Agung, a residence to the west of the old palace, which was built after 1929

By Wikipedia

Hello World

Bali, 2017

Siang itu kami menuju ke Semarapura, tak jauh dari Tugu Monumen Klungkung aku melihat iringan penduduk Bali menghantarkan jasad seseorang ke kubur.

“Pak, itu tidak ngaben kah? Tanyaku kepada Pak Bobi guide kami selama di Bali”
“Tidak, jawabnya”

Jujur baru kali ini aku melihat iring-iringan Bali seperti itu.

“Tunggu disini ya, Bapak mau coba lihat 
apakah Purinya boleh masuk”, lanjutnya

Kemudian akupun duduk menunggu di depan Kertha Gosa dengan Kebaya Bali warna kuning. Memang rencana kami napak tilas di Puri Klungkung, saksi bisu dari Kerajaan Klungkung Bali ingin memakai Batik khas Bali seolah kami adalah Raja dan Ratu pada masa Klungkung. Aku dan Rere dengan Batik warna kuning, Leoni dengan kebaya orange, Rasti dengan Kebaya Hijau dan Nicho dengan baju hitam lengkap dengan topi bali yang khas. Memakai Kebaya Bali di area Puri klungkung serasa jadi Ratu dah. Apalagi latarnya yang cocok, seakan berada pada masa Dalem Waturenggong di abad 14-17 dimana Kerajaan KLUNGKUNG meraih masa kejayaannya waktu itu.

Puri Klungkung merupakan peninggalan Kerajaan Klungkung Bali. Puri sendiri berasal dari Bahasa Sanskerta yang berarti benteng, istana, atau tempat persemayan Raja. Kerajaan Klungkung dulunya terdiri dari kerajaan-kerajaan kecil kemudian menjadi menjadi swapraja (berjumlah delapan buah) atau disebut kabupaten. Kerajaan pecahan Klungkung diantaranya Kerajaan Badung, Kerajaan Bangli; Kerajaan Buleleng, Kerajaan Gianyar, Kerajaan Karangasem, Kerajaan Klungkung; Kerajaan Tabanan.

Dari dulu Kerajaan Klungkung memiliki raja antara lain:

  1. Dewa Agung Jambe I (1686-1722)
  2. Dewa Agung Gede (1722-1736)
  3. Dewa Agung Made (1736-1760)
  4. Dewa Agung Sakti (1760-1790)
  5. Dewa Agung Putra I Kasamba (1790-1809)
  6. Dewa Agung Panji
  7. Dewa Agung Putra
  8. Dewa Agung Putra I
  9. Gusti Ayu Karang (1809-1814)
  10. Dewa Agung Putra II (1814-1851)
  11. Dewa Agung Istri Kania (1814-1856)
  12. Dewa Agung Putra III (1851-1903)
  13. Dewa Agung Jambe II (1903-1908)
  14. Interregnum (1908-1929)
  15. Dewa Agung Oka Geg (1929-1965)
  16. Interregnum (1965-1998)
  17. Dewa Agung Cokorda Gede Agung (1998-)
  18. Dewa Agung Cokorda Gede Agung Semaraputra (2010-Sekarang)

Kerajaan Kulungkung ini sangat erat kaitannya dengan Perang Puputan tanggal 18 April 1908. Perang Puputan artinya perang hingga titik darah penghabisan. Pada masa itu baik wanita juga ikut berperang dalam perang Puputan, sayangnya pada perang Puputan kerajaan klungkung kalah dari Belanda.

Hingga kini sisa dari Kerajaan Klungkung Bali yang masih bisa dikunjugi adalah Kertha Gosa, Pemedal Agung, dan Puri Agung Klungkung. Dan ketiga tempat ini kami kunjungi sebagai napak tilas dari Kerajaan Klungkung.

"Win, Pak Bobbi mana? tanya teman-temanku menghampiri"

"Tadi kesana nyari informasi, jawabku"

Kemudian beramai-ramai kami masuk ke dalam Kertha Gosa. Pada saat kami masuk ke dalam Kertha Gosa kami tidak dipungut biaya. Kerta Ghosa disangga oleh tiang-tiang kayu berukir Bali berjumlah dua puluh tiang kayu. Di Kertha Gosa juga terdapat Kursi dengan pegangan tangannya berbentuk naga yang merupakan tempat duduk untuk pendeta Brahmana sementara kursi satu lagi untuk raja.

Kemudian di depan pintu gerbang terdapat sebuah BALE KAMBANG, sebagai tempat penjamuan makan untuk ramu kerajaan atau sekedar tempat istirahat Raja pada masa itu. Bale ini juga dulunya di Masa kerajaan klungkung menjadi tempar peradilan jika terjadi persengketaan. Bale Kambang atau disebut juga Taman Gili bangunan berbentuk mirip kura-kura dengan kolam ditengahnya. Untuk menuju Bale kambang terdapat jembatan yang ketika menuju jembatan terdapat gerbang berbentuk Gapura bernama Candi Bentar. 

Untuk Bale Kambang ini aku sangat suka karena kolamnya dengan bangunan ditengahnya itu klasik. Bahkan Bale Kambang dalam filospi Hindu memiliki arti dengan keberadaan Gunung Mahameru yang dikelilingi pegunungan dan lautan. Berada di Bale Kambang dengan ukiran khas ukirannya sangat bagus sekali 🙂

Selain Bale Kambang, di depan Kertha Gosa juga ada sebuah museum. Museum yang berada di samping Kertha Gosa adalah peninggalan zaman dulu serta sejarah tentang Kerajaan di Bali. Bahkan photo Raja Klunglung juga ada di museum ini. Menariknya lagi di museum ada buku berbahasa Belanda serta uang koin mirip mata uang China. Menurut penjelasan Pak Bobi kalau dulu Raja KLUNGKUNG pernah menikah dengan Gadis China sehingga ada akulturasi Bali dengan China khususnya mata uangnya.

Setelah puas melihat Musuem kami melanjutkan jalan kaki ke Puri Agung Klungkung. Puri Agung Klungkung merupakan cagar Budaya menarik di Bali karena memiliki makna khusus yaitu sebagai tempat persemayaman raja. Sehingga Puri Agung Klungkung merupakan Puri bangunan dan tempat suci.

Hal menarik dari Puri klungkung adalah di Puri ini terdapat photo Raja Klungkung zaman dulu dan sekarang. Bahkan ada satu alarm alami berbunyi jika ada bahaya. Untuk Puri sendiri cukup bersih dan luas. Ada satu lukisan yang membuat perhatianku tertuju yaitu pada lukisan perang GADIS BALI dengan PENJAJAH.

"Pak kenapa wanita juga berperang?", tanyaku
"Karena perang puputan tidak mengenal wanita dan anak-anak,
perang itu sampai tuntas", jawab Pak Bobi kepadaku.

 

Sumber Photo (Ate Malem)

Tiket masuk ke Puri Agung Klungkung

Gratis

Tiket masuk ke Kerta Gosa & Taman Gili

Dewasa Rp. 12.000/Orang

Anak-anak Rp. 6.000/Anak

Lokasi Puri Klungkung Bali

Jl. Untung Surapati, Semarapura Tengah

Kec. Klungkung, Kabupaten Klungkung

Bali

*Perjalanan ini adalah undangan dari Kementerian Pariwisata untuk program Pesona Indonesia bersama Nicko, Ratri, Rere, dan Leoni.

Baca juga

1. Suluban

2. GWK

3. Puri Lukisan

4. Bali Pulina

Salam

Winny

Iklan

Pesona Garuda Wisnu Kencana Bali


GWK Cultural Park offers a lavish Indonesian cultural heritage for years to come with the upcoming monumental Garuda Wisnu Kencana Statue as the Indonesian Icon of civilization, the number one cultural icon in Bali. Garuda Wisnu Kencana statue is the symbol of God Vishnu riding the great Garuda as his trusted companion.

By GWK BALI

Hello World

Bali 2017

GWK atau Garuda Wisnu Kencana merupakan salah satu tempat wisata wajib yang harus dikunjungi selama di Bali. GWK Bali merupakan symbol untuk Dewa Wisnu. Sebenarnya GWK ini dirancang lengkap dengan Patung Garuda agung sebagai pendampingnya yang menjadi monument terbesar di dunia dengan patung adalah 120m, terdiri dari 24 segmen dan dibentuk dengan 754 modul terbuat dari tembaga dan kuningan dilapisi asam patina.Sayangnya patung GWK ini belum selesai.

Pertama kali ke GWK tahun 2010 dan aku sangat suka dengan GWK karena GWK aku dapat menyaksikan pertunjukan tarian khas Bali. Tidak hanya itu, di GWK juga terdapat taman lotus yang aku suka. Taman lotus atau lotus Pond merupakan taman dengan pilar kapur dengan pemandangan kece. Entah kenapa aku selalu suka Lotus Pond di GWK ini, taman dengan latar belakang batu kapur. Di depan taman Lotus juga terdapat Patung Garuda setinggi 18 meter.

Nah untuk ke Lotus Pond, pengunjung diperbolehkan memakai pakaian bebas namun saat berada di area menuju ke Wisnu Plaza, pengunjung wajib memakai pakaian sopan. Namun tenang bagi yang kebetulan memakai pakaian yang menunjukkan lutut tidak perlu khawatir, karena sarung untuk menutup lutut disediakan untuk menghormati area patung Wisnu. Nah untuk sampai area Wisnu Plaza maka harus menaik anak tangga dengan pemandangan taman. Dari anak tangga, terlihat jelas Patung Wisnu berdiri tegak yang menjadi kesukaan orang untuk photo.

Sesampai di area Wisnu Plaza, terdapat pemandangan Bali dari atas. Pemandangan Bali dari Wisnu Plaza sangat indah. Disampung Patung Wisnu Plaza, terdapat Parahyangan Somaka Giri. Parahyangan Somaka Giri memiliki mata air yang diyakini dapat menyembukan penyakit.

Lihat, kalau ada di tempat pemujaan Pura pasti ada kura-kura, 
kata Pak Bobi menjelaskan kepada kami. 
Untuk Parahyangan Somaka Giri ini memiliki mata air yang suci, 
padahal disini tidak mungkin ada air namun bisa ada air. 
Kata si Bapak menjelaskan lagi

Kemudian aku pun memperhatikan Parahyangan Somaka Giri sehingga tak heran beberapa pengunjung banyak mengambil airnya.

Setelah puas keluar dari area Parahyangan Somaka Giri aku menuju kearah belakang tempat miniatur Wisnu Kencana dengan Garudanya. Dari kejauhan terlihat bahwa proyek ini sedang dilakukan dan diharapkan selesai secepatnya. Menikmati Bali dari GWK serasa adem, karena lokasinya tinggi jadi terlihat jelas pemandangan Bali.

Puas dari Patung Wisnu dan kami turun di Taman Lotus yang aku suka, eh hujan turun. Akhirnya kami beramai-ramai menuju pintu keluar. Ternyata meski sudah keluar kami masih bisa menggunakan tiket kami untuk masuk lagi. Namun kami memilih masuk ke amphitheater sambal menunggu hujan reda. Amphitheatre di GWK ibarat panggung untuk menonton pertunjukan tarian khas Bali yang sudah ada jadwalnya. Bahkan tari kecak bisa ditonton di Amphitheatre.

Yang lucu saat kami hendak ke Amphitheatre, kami menggunakan poster sebagai pelindung kami, beramai-ramai seperti ular tangga. Jadi teringat masa kecil 😀

Sesampai di dalam Amphitheatre yang ruangannya cukup besar yang bisa menampung sekitar 800 orang, dengan bentuk melengkung dan tersusun berunduk, kami memilih tempat duduk paling depan sebelum acara pertunjukan dimulai. Pada saat kedatangan kami, pertunjukan di Amphitheatre adalah pertunjukan Garuda Wisnu Ballet. Meski tanpa AC, Amphitheatre cukup sejuk dengan ruangan terbuka serta suara dari tarian juga terlihat jelas. Meski sudah dua kali ke GWK, namun tetap aku sangat suka melihat pertunjukan tarian, apalagi pertunjukan tarian khas Bali. Menariknya setelah pertunjukan selesai, pengunjung boleh loh berphoto dengan penarinya. Aku paling semangat berphoto dengan penarinya karena cakep aja gitu pakaiannya. Tradisional dan kece! Jadi bangga melihat keanekaragaman Budaya Indonesia dan yang paling aku salut dengan orang Bali betapa mereka melestarikan budayanya dengan baik.

Untuk pertunjukan apa saha di Amphitheatre selama seharian, maka jadwal dan pertunjukan dapat dilihat di depan pintu Amphitheatre. Jadi tak heran kalau GWK ini dapat melihat pertunjukan menarik khas Bali.

Khusus pengunjung muslim di area GWK juga terdapat musholla lengkap dengan mukenah sehingga tidak perlu khawatir kalau pas jalan-jalan di GWK ketinggalan sholat. Karena waktu itu aku juga sempat sholat di musholla GWK yang letaknya di balik tempat souvenir untuk membeli oleh-oleh khas Bali.

Selain itu, fasilitas lainnya yang ada di GWK adalah tempat makan dan tempat membeli souvenir. Oh ya bedanya dari kunjungan 2010 yang lalu, sekarang ke GWK pengunjung harus menaiki bukit sambil melewati pertokoan yang menjual oleh-oleh khas Bali. Seru juga saat melihat oleh-oleh khas Bali untuk orang-orang tercinta.

Sumber Photo (Atemalem)

Jadwal Buka GWK Bali

Jam 08:00 – 22:00 WITA

Tiket Masuk GWK Bali

Untuk dewasa Rp70.000

Anak-anak Rp60.000

Turis Mancangara Rp100.000

Lokasi GWK Bali

Garuda Wisnu Kencana Cultural Park

Jl. Raya Uluwatu, Ungasan, Kuta Sel., Kabupaten Badung, Bali

Salam

Winny

Menikmati Kopi dengan Latar Belakang Persawahan di Bali Pulina


Words will be just words until you bring them to life

By Unknown

Hello World!

Bali 2017

Tak jauh dari Ubud sekitar 8 km terdapat kebun agrowisata kopi dan cokelat khas Bali bernama Bali Pulina. Agro wisata ini menawarkan tempat untuk bersantai sambil belajar mengenal alam. Yah belajar terutama proses pembuatan kopi luak dengan suasana khas pedesaan. Agro wisata Bali Pulina itu berada di daerah Gianyar Bali.

Kami sampai di  Bali Pulina siang hari. Setelah memarkirkan mobil, Pak Juned membagikan tiket masuk kepadaku, Leoni, Rere, Rasti dan Nicho kemudian kami berjalan masuk ke dalam Bali Pulina. Pak Bobbi dan Pak Agung menyusl kami.

Belum juga melangkah jauh, kami melihat kandang si penghasil kopi Luwak yang terkenal sedang tidur di kandangnya. Luwak yang lain di kandang sebelah malah sedang bersantai di kandangnya.  Lucunya di Bali Pulina inilah aku sadar kalau Luwak itu nama lainnya Musang. Terus musang ini mengingatkanku akan masa kecil di kampung, dimana kalau ada Musang dianggap hama pada masa itu sehingga sering diburu. Siapa sangka musang alias luwak ini menghasilkan kopi berkualitas tinggi. Musang yang berada di dalam kandang memang sengaja dipelihara oleh pemilik karena musang ini menghasilkan kopi. Bahkan kopi hasil luwak ini ditampung dalam wadah untuk diproses.

"Tahu gak sih, dulu di kampungku orang paling benci ama Musang
padahal Musang ini menghasilkan kopi terbaik, lanjutku

"Mungkin dulu orang tidak tahu kalau Musang ini
 menghasilkan kopi terbaik, kata Nicho"

Meninggalkan musang dalam kandangnya, kamipun berjalan kembali melewati pepohonan mulai dari pohon cokelat hingga pohon lengkeng. Untuk pertama kalinya aku melihat pohon lengkeng dan itupun di Bali Pulina. Jadi aku sangat antusias melihat pohon lengkeng untuk pertama kalinya 🙂

Tempat Membeli Tiket  Masuk ke Bali Pulina
Bali Pulina

Setelah mewalati pepohonan kami berhenti pada tempat yang mirip dapur zaman dulu yang didepannya terdapat sebuah jemuran kopi. Kopi di keringkan dalam meja yang berbentuk persegi panjang. Kemudian saat kami berada di area proses belajar pembuatan kopi, beberapa Mba-mba yang bekerja di Bali Pulina berada kalau-kalau kami hendak butuh penjelasan tentang proses pembuatan kopi luwak secara tradisional. Walaupun ujung-ujungnya Pak Bobilah yang banyak sekali menjelaskan kepada kami tentang tempat wisata yang kami kunjungi selama di Bali.

"Jadi ini kopi yang diambil adalah biji dalamnya, kata Pak Bobi kepada kami
 menjelaskan proses penjemuran kopi yang lamanya bisa tiga hari,
biji ini dikupas kemudian dikeringankan, lanjutnya". 

Bali Pulina memang memberikan pengetahuan kepada turis untuk melihat langsung proses pembuatan kopi mulai dari hewa penghasil kopi luwak yang dapat dilihat di kandangnya kemudian tempat pengeringan kopi, pemasakan hingga biji kopi ditumbuk menjadi kopi halus. Tidak hanya itu, alat-alat tradisional pembuatan kopi pun ada seperti lesung untuk menumbuk kopi menjadi halus hingga sekdar wadah dari bambu. Semua peralatan tradsional itu berada pada sebuah tempat yang mirip dapur. Bahkan rempah-rempahpun ada di dapur itu!

Benar-benar Bali Pulina mengingatkanku akan kampung halaman. Uniknya kebanyakan yang datang ke Bali Pulina adalah turis mancanegara dan mereka sangat tertarik melihat proses pembuatan kopi di Bali Pulina secara tradisional apalagi melihat peralatan zaman dahulu. Wajar sih karena di Negara tidak ada, jangankan di negaranya, di Indonesia saja sudah mulai jarang peralatan zaman dulu. Kalau aku sih tahu karena aku lahir di pedesaan dengan peralatan sederhana (jadi ketahuan umurnya hehe :D)

Proses Pembuatan Kopi di Bali Pulina
Peralatan Masak Zaman Dulu
Rempah-rempah di Bali Pulina

Setelah mengetahui proses pembuatan kopi luwak secara tradisonal kami pun melanjutkan perjalanan menuju ke rice terrace view tempat untuk mencoba Kopi khas Bali.  Sepanjang jalan ke teras, aku memandangi suasana perkebunan yang hijau membuatku lagi-lagi terkenang akan kampung halaman di Padangsidempuan. Aku teringat akan kebun nenekku di belakang rumah. Mulai dari nenas, kopi, hingga cokelat ada di Bali Pulina. Sehingga berada di Bali Pulina membuatku sedikit merasa seperti di “rumah”.

Tempat ini benar-benar hijau dan penuh pepohonan serta cocok untuk mencari inspirasi sehingga tak heran banyak sekali turis ke Agro wisata Bali Pulina. Membuatku betah berlama-lama!

Petunjuk jalan di Bali Pulina
Musang alias Luwak

Setelah sampai di area teras, kami langsung disambut dengan pemandangan yang luar biasa berupa pemandangan persawahan khas Bali. Teras Bali Pulina terbuat dari kayu dengan meja serta kursi untuk menikmati aneka kopi dengan latar belakang pemandangan segar di mata “pepohonan hijau dan persawahan khas Bali”.

Pemandangan di terrace view Bali Pulina benar-benar instagramable banget. Belum lagi tempatnya lumayan tenang, sehingga cocok untuk bersantai. Kalau mau menulis buku kayaknya cocok di Bali Pulina saking tentramnya lokasi ini. Terus saking cantiknya pemandangan di depan kami, akhirnya kami malah sibuk mengambil photo hingga akhirnya setelah capek barulah kami duduk untuk mencoba kopi di Bali Pulina.

Memang untuk masuk ke dalam Bali Pulina harga tiketnya agak lumayan mahal namun cukup sesuai dengan fasilitas yang didapatkan karena selain belajar mengenai proses pembuatan kopi, harga sudah termasuk 1 gelas kopi dengan pilihan sesuai selera lengkap dengan gorengan.

Bali Pulina
Bali Pulina

Setelah lengkap, kamipun duduk manis beramai-ramai di meja yang mirp dengan lapangan dari kayu beserta pemandangan indah. Baru ini aku menemukan tempat ngopi cantik dengan nuansa alam itupun di Bali Pulima. Selang 5 menit  kami duduk, karyawan Bali Pulina datang dengan ramahnya menghampiri kami.

"Kami akan memberikan tester minuman untuk dicoba kemudian 
bisa dipilih minuman apa yang disukai setelah mencoba tester minuman,
kata Mba menawarkan minuman kepada kami"

Tanpa pikir panjang kami sambut tawaran si Mba lalu si Mba pergi meninggalkan kami. Tak lama kemudian, si Mba datang membawa tester kopi untuk kami coba. Tester kopi yang dihidangkan berjumlah 8 yang berada dalam gelas kecil berwarna putih. Awalnya kami mengira bahwa satu orang akan mendapatkan masing-masing 8 tester minuman yang akan dicoba ternyata 8 tester itu untuk kami berenam. Akhirnya kami sharing untuk icip minuman yang kami suka. Minuman yang disajikan tidak hanya kopi ada juga teh hingga ginseng. Minuman tester yang disajikan terdiri dari lemon tea, ginger tea, ginger coffe, ginseng coffe, coco coffe, vanila coffe, chocolate coffe, dan pure Bali coffe. Selain kedelapan minuman itu, pengunjung juga bisa memesan luwak kopi karena luwak kopi tidak termasuk dalam tester.

Dari 8 tester minuman yang dihidangakan aku sempat galau antara lemon tea, nginger tea, vanilla coffe atau chocolate coffe. Namun ketika mendengar tawaran kopi luwak dan dalam benakkan betapa mahalnya itu kopi luwak sempat terbesit ingin memesan kopi luwak juga. Namun karena pas aku mencoba kopi Bali dan rasanya pahit “khas Kopi banget”, akhirnya aku membatalkan memesan kopi luwak dan malah memesan kopi cokelat. Sontak teman-temanku ngeledek sambil tertawa dan berkata “dasar anak sachet”. hahaha 😀

Yah minuman yang aku pesan seperti kopi susu biasa, jadi udah jauh-jauh ke Bali Pulina terkenal sebagai tempat nongkrong kopi elit eh ujung-ujungnya aku mesan kopi rasa yang ada di warung-warung. Sontak teman-temanku keluar hasrat untuk meledek. hihi 🙂

Habis aku bukan anak pecinta kopi sih, untung dibilang anak sachet daripada dibilang anak micin eh ;D

 

Pilihan Kopi di Bali Pulina
Menu Makan di Bali Pulina (Photo: Nicho)
Tester Kopi di Bali Pulina
Gorengan Pisang di Bali Pulina

Setelah kami menentukan minuman apa yang kami mau, kemudian pesanan kami pun datang lengkap dengan gorengan pisang serta lupis.  Gorengan lumayan enak, manisnya pas dan renyah. Walau makanan yang kami dapatkan sederhana namun rasanya begitu nikmat sekali apalagi dengan pemandangan indah di depan. Pengen betah berlama-lama di Bali Pulina, pengen ngambil laptop terus tinggal beberapa waktu di Bali Pulina sambil mencari inspirasi. Yah kali aja pulang-pulang dari Bali Pulina bisa menghasilkan karya Buku (ini masih ngayal sih gegara terbawa suasana pedesaan yang asri).

Walau waktu bersantai kami cukup singkat, namun aku merasa cukup fresh di Bali Pulina karena tempat ini merupakan tempat nongkrong kopi dengan pemandangan kece lengkap dengan canda tawa dengan teman-teman. Bahagia itu ternyata sederhana, sesederhana rebutan tester kopi bersama mereka 😀

Kopi Rasa Vanila di Bali Pulina

Setelah puas icip semua minuman tester, akhirnya kamipun meninggalkan Bali Pulima. Sebelum pulang, Rere dan Rasti sempat membeli kopi di Toko Bali Pulina yang menyediakan oleh-oleh kopi dari berbagai rasa terutama kopi khas Bali. Sayangnya aku tidak mampir dan tidak juga membeli kopi untuk dibawa pulang karena bingung mau kasih ke siapa. Kasih ke Mama, mamaku jauh, kasih ke Ade, Adeku juga jauh, kasih si abang, si abangnya lagi ngambek akhirnya ya tidak jadi beli malah langsung ke mobil.

Oh ya selain fasilitas warung yang hanya menjual kopi, dan gorengan serta pemandangan alam yang kece maka di Puri Pulina juga terdapat toilet yang memadai dan ada juga payung yang disedikan jika hujan turun. Lumayan lengkap dan cocok bagi yang ingin sekedar menghilang sesaat untuk mencari jati diri  atau sekedar refreshing untuk mengisi liburan 🙂

Toko Kopi di Bali Pulina  (Photo Rere)
Toko Kopi di Bali Pulina  (Photo Rere)

Harga Tiket Masuk Bali Pulina

Rp100.000/orang termasuk free tester minuman dengan 8 rasa dan pilihan 1 gelas kopi serta dua pisang goreng dan lupis.

Lokasi Bali Pulina

Desa Banjar Pujung Kelod,

Tegalalang, Gianyar, Bali

Salam

Winny

Pesona Pantai Suluban Bali dari Pasir Putih, Karang dan Selancar


There are many paths but only one journey

By Naomi Judd

Hello World!

Bali, 2017

"Agenda kita hari ini adalah Pantai Blue Point atau disebut Pantai Suluban, 
begitu, kata Guide kami Pak Bobby menjelaskan tujuan wisata kami di Bali"

"Pantai Suluban sering disebut Pantai Blue Point 
karena berasal dari nama resort bernama Blue Point, lanjutnya"

Tak terasa sambil mendengarkan penjelasan Pak Bobby, kami sudah sampai di depan parkiran dekat Pantai Suluban. Pak Agung yang setia mengantar kami lalu mengintruksikan untuk turun dari mobil yang berisi aku, Rere, Rasti, Leoni dan Pak Bobby. Sementara di mobil satunya ada Pak Juned dan Nicho yang juga sudah keluar dari mobil. Untuk menuju ke Pantai Suluban kami harus berjalan mengikuti jalan melewati pertokoan, warung serta anak tangga. Belum juga jauh dari tempat parkir, aku sudah terkesan dengan dinding dengan tulisan dan hiasan yang menurutku “vintage” dan “istagramable” banget. Entah kenapa berjalan melewati gang kecil sambil ada dinding-dinding lucu serasa berada di Eropa namun versi yang lebih baik.

Atau ini hanya Deja Vu saja!

Yang pasti pemandangan dinding warna-warni kemudian di sisi lain dibatasi pagar dengan pemandangan lautan luas benar-benar indah. Bali memang ibarat magnet sehingga tak heran Bali menjadi tempat wisata favorite.

"Kak photoin disamping dinding lucu ini, kataku tanpa melewatkan spot photo" 

Padahal belum juga sampai di Pantai Suluban, di depan Gang saja cakep gimana udah di Pantainya yah?

Mungkin saja semua titik diminta photo hehe 😀

Jalanan menuju Pantai Suluban

Dengan semangat ’45 aku melanjutkan jalan kaki bersama teman-temanku menuju Pantai. Sepanjang perjalanan dengan jalan kaki aku lumayan tergoda dengan souvenir ala Bali di toko-toko souvenir terutama yang tak tahan itu adalah godaan untuk membeli dress pantai Bali. Untung godaan khilap shopping masih bisa aku kendalikan karena pemandangan Pantai Suluban dari atas menyita perhatianku. Warnanya terdiri dari dua warna berupa tosca dan kebiruan serta terlihat jelas karangnya dan tak kalah kerennya adalah pasirnya bersih. Padahal sebelum ke Pantai Suluban cuaca tidaklah bersahabat karena cuaca yang mendung seperti hatiku, namun kami cukup beruntung karena kami sampai di Pantai Suluban Bali langit mulai cerah.

Puas melihat Pantai Suluban dari sebuah tempat yang mirip gazebo, kami lalu melanjutkan berjalan lagi hingga kami melihat tulisan “PANTAI SULUBAN” di dekat batu karang. Tulisannya sangat besar sekali  dengan terhubung jembatan yang sekaligus anak tangga menuju Pantai Suluban.

Sesuai dengan namanya Pantai Suluban berasal dari Bahasa Bali “Mesulub” yang berarti melewati sesuatu dari atas kepala manusia. Maksudnya untuk sampai ke Pantai Suluban kami harus menuruni anak tangga serta Pantainya tersembunyi diantara “Karang-karang besar”. Tapi tenang saja pas melewatinya tidak perlu acara nunduk kepala 🙂

Pantai Suluban ini mengingatkanku dengan Pantai Kupang yang pantainya rata-rata memiliki bebatuan Karang. Namun Pantai Suluban Bali khasnya ialah pas turun dari anak tangga hamparan pasir sudah menyambut lengkap dengan pemandangan dua warna lautnya. Anehnya semakin aku perhatikan mirip juga dengan “Sawarna dengan bebatuan gedenya”, ah Pantai Suluban ini ibarat perpaduan beberapa pantai kece di Indonesia menjadi satu.

Pantai Suluban, Uluwatu Bali

Keluar dari bebatuan karang maka kami berjalan ke arah Pantai. Di pasir dekat Pantai, turis-turis mancanegara sudah mengembangkan kainnya di pasir sambil tidur-tiduran. Seolah mereka tidak ada beban hidup, dan benar-benar menikmati liburannya di Bali. Hal ini wajar saja dengan kondisi Pantai yang tenang, jauh dari bising serta pantai bersih lagi maka tidur di pantai itu merupakan pilihan yan tepat.

Disini aku merasa salah kostum dimana orang berpakaian pantai aku malah berpakain rapi dengan celana panjang dan baju panjang seperti mengaji namun daripada gosong gak apalah salah kostum, habis aku lupa bawa sunblock. Ingin rasanya mandi di Pantai Suluban namun aku cukup tahu diri yang tidak bisa berenang sehingga aku lebih memilih untuk menikmati suasa Pantai Suluban sambil memandangi kebahagiaan pengunjung yang berada di Pantai Suluban. Ternyata melihat orang lain bahagia itu cukup membuat hati bahagia juga 🙂

Melewati karang besar dengan hamparan pantai bersih kemudian di depannya lautan luas, keunikan Pantai Suluban tidak hanya disitu. Ada karang lain lagi menuju ke Pantai sebelahnya dengan hamparan karang yang lebih banyak lagi. Dengan hati-hati aku melewati karang yang mirip batu besar itu sambil melewati jalanan kecil. Sesampai di Karang sebelahnya lagi-lagi perhatianku teralihkan dengan hewan kecil berjalan dari karang.

"Kepiting, ah lucunya", kataku dengan senangnya 
seperti anak kecil baru mendapatkan uang

Reaksiku melihat kepiting disekeliling karang di Pantai Suluban langsung membuat teman-temanku tertawa. Padahal bukan pertama kali aku melihat kepiting hidup, hanya saja sudah lama tidak melihat kepiting di Pantai.

Pantai Suluban, Uluwatu Bali
Pantai Suluban, Uluwatu Bali
Pantai Suluban, Uluwatu Bali
Pantai Suluban, Uluwatu Bali

Selesai melihat kepiting lucu-lucu akhirnya aku duduk disamping karang sambil mengamati sekitarku. Entah kenapa aku lebih suka mengamati sekitar sambil duduk manis di karang bersama Pak Juned, Pak Agung dan Pak Bobbi. Dari pengamatan di Pantai Suluban aku melihat kalau Pantai Suluban ini sangat disukai para perselancar. Untuk ombak di Pantai Suluban lumayan berombak sehingga tak heran banyak sekali peselacar dari berbagai negara berlatih di Pantai Suluban. Apalagi pas yang berselancar itu abang-abang dengan badan atletis, duh bak cuci mata hahah 😀

Untungnya Ade imannya kuat jadi tak tergoda dengan abang-abang berselancar, hanya tergoda belajar berselancar namun cukup tahu diri bahwa Ade “tidak bisa berenang” 😀

Yang berselancar di Pantai Suluban tidak hanya dewasa, bahkan remaja pun banya, bahkan mulai dari seorang diri sampai rombongan. Ternyata Pantai Suluban ini memiliki keunikan yang tidak hanya dari pantai yang bersih, tidak juga hanya pada karangnya namun tempat yang cocok untuk surfing. Jadi yang mungkin ingin belajar berselancar atau ingin punya gebetan peselancar maka sering-seringlah ke Pantai Suluban, minimal gak dapat abang-abang berselancar bisa dapat papan selancarnya hehe 😀

Berselancar di Pantai Blue Point (Photo: Leonita)
Pantai Suluban (Sumber Photo: Atemalem/Rere)
Pantai Suluban, Uluwatu Bali
Pantai Suluban (Sumber Photo: Nicko)
Pantai Suluban (Sumber Photo: Nicko)

Untuk yang ingin menginap di Pantai Suluban bisa juga karena ada resort di atas karang yang langsung dengan pemandangan laut. Atau sekedar ingin mandi di kolam renang dengan pemandangan lautan luas juga bisa atau mau makan romantis di cafe diatas karang juga ada. Tinggal pilih, semua serba ada di area Pantai Suluban dan cocok juga untuk pilihan honeymoon atau sekedar liburan untuk menghilangkan penat dari rutinitas kerja Senin-Jumat.

Meski aku ke Pantai Suluban tidak berenang, tidak juga belajar berselancar namun menikmati suasa Pantai Suluban bersama teman-temanku membuatku bahagia.

Ah ternyata Bali masih tetap cantik dan mempesona!

Video Karya: Nicko Silfido

Harga Tiket Masuk ke Pantai Suluban/Blue Point

Gratis, bayar Rp5000 untuk parkir

Cara Akses ke Pantai Suluban/Blue Point

Bali sebenarnya memiliki Trans Bali untuk transportasi umum namun sayangnya rutenya masih terbatas dan memang kebanyakan turis jika berada di Bali sering menyewa kendaraan bisa berupa sepeda motor maupun mobil. Jika seorang diri atau berdua saja sebaiknya menyewa motor dengan kisaran sewa perhari Rp75.000-Rp100.000 namun jika dalam rombongan sebaiknya dengan menyewa mobil. Tujuannya ke Uluwati dekat dengan Pantai Padang-Padang, Bali.

Alamat Pantai Suluban/Blue Point

Jl. Labuansait – Uluwatu,

Pecatu, Kuta Selatan, Pecatu,

Kuta Sel., Kabupaten Badung, Bali

Salam

Winny

Museum Puri Lukisan Ubud, Museum Seni Rupa Tertua di Pulau Dewata


The Museum Puri Lukisan is the oldest art museum in Ubud, Bali. Its mission is to preserve, develop, and document modern-traditional Balinese art. The museum is home to the finest collection of modern traditional Balinese painting and wood carving on the island, spanning from the pre war (1930-1945) to the post war (1945-present) era. The collection includes important examples of all of the artistic styles in Bali including Sanur, Batuan, Ubud, Young Artist and Keliki School.

(Resource: Museum Puri Lukisan)

Bali, 2017

Pulau Dewata memang memiliki banyak wisata yang tak habis untuk dijelajah sehingga tak heran jika turis Mancanegara maupun domestik senang berlibur ke Bali. Wisata Bali pun beragam mulai dari wisata Pantai, Gunung, Budaya, bahkan Seni. Bisa dibilang Pesona Bali selalu memiliki aneka wisata yang memanjakan pengunjungnya. Tinggal pilih mau kemana selama di Bali mau ke Gunung, Danau, atau sekedar melihat pertunjukan tari Bali dengan pakaian adatnya yang khas.

Salah satu tempat yang menjadi tempat favorite turis mancanegara untuk dikunjungi adalah Ubud. Ubud terkenal dengan persawahan indah serta terasseringnya yang menawan, sampai-sampai sering dibuat lokasi shooting film luar maupun film Indonesia misalnya film Hollywood “Eat Pray Love “.

Pesona Ubud itu sangat unik karena aktifitas keseharian masyarakat Ubud tidak bisa lepas dengan unsur kesenian dan budaya lokal sehingga di Ubud banyak sekali galeri seni, serta antraksi pementasan musik dan tarian. Bahkan popularitas Ubud sudah mendunia dan dikenal turis mancanegara sejak tahun 1930.

Museum Puri Lukisan Ubud

Salah satu tempat untuk melihat hasil karya seni Bali ada di Museum Puri Lukisan. Museum Puri Lukisan berada di Kabupaten Gianyar Bali dan menjadi tempat yang tepat untuk mengenal Seni Lukis Bali. Museum Puri Lukisan lokasinya sangat dekat dengan Puri Ubud dan Pasar Seni Ubud. Jadi teman-teman kebetulan sedang main-main atau liburan di Ubud dan ingin melihat Museum maka mampirlah ke Museum Puri Lukisan.

Uniknya Museum Puri Lukisan Ubud merupakan museum tertua yang ada di Bali sejak tahun 1936 namun baru didirikan tahun 1953. Museum Puri Lukisan sangat cocok bagi penyuka seni lukis tradisional Bali serta ukiran kayu karena musem Puri Lukisan memiliki karya seni lukis Bali traditional dan modern, serta seni ukir dan ukiran kayu.

Dari sejarah Museum Puri Lukisan digagas oleh seniman Rudolf Bonet, Ubud Tjokorda Gde Sukawati dan saudaranya Tjokorda Gde Raka Sukawati serta I Gusti Nyoman Lempad. Mereka  memiliki keinginan untuk melestarikan karya seni bernilai tinggi sehingga tahun 1936 mereka menggagas sebuah organisasi yang bernama ” Pitha Maha ”. Sayangnya organisasinya tidak berjalan sehingga tahun 1953 mulailah adanya Museum Puri Lukisan yang design dari Rudolf Bonner. Kemudian tahun 1954 Perdana menteri Indonesia Ali Sastroamidjojo meletakkan batu pertama untuk Museum Puri Lukisan dengan Tjokorda Gde Agung Sukawati sebagai direktur Museum dan Rudolf Bonner sebagai kuratornya. Kemudian Menteri Pendidikan dan Budaya Indonesia, Muhamad Yamin meresmikan Museum Puri Lukisan tanggal 31 Januari 1956.

Museum Puri Lukisan Ubud
"Pak, apa makna hitam putih di depan pintu Gapura", 
tanyaku kepada Pak Bobby, guide kami selama di Bali.

"Lihat jumlah kotak hitam dan putih sama artinya baik dan buruk itu harus seimbang 
karena itu tidak terlepas dari hidup", jelas Bapaknya kepada kami.

Sarung di gapura dengan nuansa kotak-kotak hitam putih mencuri perhatianku sebelum melangkah jauh ke dalam area Museum Puri Lukisan yang berbentuk segi empat. Pak Juned sudah membagikan tiket masuk Museum Puri Lukisan kepadaku, Leoni, Rere dan Rasti. Dengan bekal tiket itulah kami berjalan melewati pintu gapura yang khas Bali banget berjalan menaiki tangga menuju Bangunan Utara. Disekliling Museum Puri Lukisan begitu asri dengan pepohonan serta kesan asri dari hijaunya rerumputan.

Museum Puri Lukisan memiliki 4 bangunan yang bisa dikunjungi yaitu

1. East Building sebagai Wayang Galeri yang berisi Koleksi Lukisan Wayang

2. North Building sebagai Pitamaha Galeri yang berisi lukisan modern-tradisional Bali sebelum perang  (1930-1945) serta koleksi karya I Gusti Nyoman Lempad

3. West Building sebagai Ida Bagus Galeri berisi lukisan modern-tradisional Bali setelah perang dunia (1945-sampai sekarang)

4. South Building sebagai Founder Galeri dimana berisi sejarah museum dan tempat exhibition sementara.

Museum Puri Lukisan Ubud

Karya-karya seni di dalam Museum Puri Lukisan sendiri isinya menarik mulai dari koleksi lukis Bali mulai dari modern maupun tradisonal hingga karya seni ukir. Kerennya lukisan dari zaman Pita Maha masih ada di dalam Museum Puri Lukisan. Disinilah aku merasa kagum dengan museum karena mampu menyimpan barang-barang yang sudah ada sejak zaman dulu dan tetap awet hingga bisa dinikmati hingga sekarang. Ibaratanya tempat “kenangan yang kekal”. Padahal manusia belum tentu sanggup menampung kenangan, paling bisa menampung kenangan indah dan buruk selebihnya bisa lupa. Kalau museum berbeda, mampu menyimpan kenangan dari masa ke masa 😀

Ukiran pintu di tiap gedung Museum Puri Lukisan pun unik dan berbeda tiap gedung baik yang di Gedung Barat, Timur, Utara maupun Selatan. Untuk karya-karya lukisan dipajang di dinding lengkap dengan sejarah pelukis. Untuk karya seni berupa ukiran beberapa disusun rapi dalam lemari dan beberapa dipajang. Entah mengapa berada di dalam Museum Puri Lukisan mengingatkanku Museum Louvre dalam area Printing. Dalam hatiku “jauh-jauh melihat lukisan di Paris padahal di Indonesia juga ada”. Bedanya dalam Museum Puri Lukisan ini memang lukisannya benar-benar menunjukkan budaya Bali, mulai dari kehidupan sehari-hari, para penari Bali atau sekedar gambar kehidupan hewan. Benar-benar cinta Budaya sendiri dan disini aku merasa bangga dengan orang Bali yang menghargai Budaya dan seninya.

Menarik bukan?

Terus apakah aku mengerti makna dari lukisan-lukisan yang ada di Museum Puri Lukisan?

Jujur aku tidak mengerti, namun meski tidak paham betul dengan dunia seni namun dari lukisan-lukisan yang ada di Museum Puri Lukisan dapat memberi petunjuka bagiku untuk paham akan dunia seni. Yah setidaknya meski tidak tahu makna dari lukisan, aku cukup mengerti mengapa banyak sekali turis Mancanegara mengunjungi Museum Puri Lukisan karena Museum Puri Lukisan itu memiliki ciri khas “Bali”. Seolah berkata “ini loh karya seni Bali” dan berada dalam Museum seperti berada pada exhibiton kelas dunia. Pencahayaan lampunya juga soft dengan warna keemasan sehingga kesan elegan pada Museum.

Museum Puri Lukisan Ubud
Museum Puri Lukisan Ubud
Museum Puri Lukisan Ubud
Museum Puri Lukisan Ubud
Museum Puri Lukisan Ubud

Jadwal Buka Museum Puri Lukisan Ubud, Bali

Setiap hari jam 09.00-17:00 WITA dan tutap pas Nyepi.

Harga tiket masuk ke Museum Puri Lukisan Ubud, Bali

Rp85.000 untuk turis Domestik

No Kontak dan Email Museum Puri Lukisan Ubud

Phone: (0361) 971159

Fax: (0361) 975136

Email: info@museumpurilukisan.com

Cara ke Museum Puri Lukisan dari Bandara Ngurah Rai Bali

Jl. Airport Ngurah Rai menuju arah jalan Nusa Dua – Bandara Ngurah rai – Benoa Toll Road/Mandara Toll Road-Jl.Raya Pelabuhan Beno – Jl.By Pass Ngurah Rai – Jl.Raya Batubulan – Jl.A.A Gede Rai – Jl.Raya Ubud – Lokasi Museum Puri Lukisan

Lokasi Museum Puri Lukisan Ubud, Bali

Jalan Raya Ubud PO BOX 215

Ubud Gianyar Bali

Sebagai yang tidak terlalu mengenal dunia kesenian namun sangat menyukai museum, maka buatku mengunjungi Museum Puri Lukisan merupakan pengalaman menakjubkan. Jujur aku merasa senang dapat mengunjungi museum tertua di Bali. Menurutku Museum Puri Lukisan bisa menjadi wisata alternatif Bali selain Pantai. Para Bule itu saja bela-belain ke Ubud demi mengunjungi Museum Puri Lukisan, masa kita kalah?

Salam

Winny

Menjelajah Edinburgh, Scotlandia


The wrong one will find you in peace and leave you in pieces, but the right one will find you in pieces and lead you to peace

By Unknown

Edinburgh

Hello World!

Edinburgh, April 2017

Betapa menyenangkannya bisa berbaur dengan warga local Edinburgh untuk menikmati sore hari. Setidaknya aku  “ginjang pat” alias “panjang kaki” kata mamakku melakukan perjalanan dari Kota kecil bernama “Padangsidimpuan” sampai di sebuah Kota yang mirip di cerita Dongeng bernama “Edinburgh”. Antara percaya tak percaya, aku membuat mimpiku menjadi kenyataan, menginjakkan kaki di UNITED KINGDOM. Jangan tanya seberapa banyak uang yang aku bawa, karena aku melakukan trip selama di Eropa hanyalah modal nekat dan sedikit keberanian. Cukup berani pergi ke Edinburgh walau entah apa yang aku ingin dilihat di Edinburgh. Namun yang pasti saat di Edinburgh aku merasa seperti berada di negeri Dongeng dengan nuansa Istana Tua yang dapat menghipnotis setiap pengunjungnya.

Edinburgh membuat betah untuk berlama-lama tinggal!

Sore itu bersama 3 teman di Edinburgh kami trekking ke Calton Hill melalui jalanan pintas melalui lorong rumah dari gang kecil dengan lantai semen tua, kalau aku sendiri jalan mungkin tidak tahu jalan pintas itu, hanya orang local saja mengetahuinya. Bersama-sama kami menaiki anak tangga yang cukup mengurus tenaga, padahal tangga itu mungkin hanya sekitar 20-50an anak tangga tapi membuatku merasa jompo. Hal ini karena aku paling belakang, sesekali aku merasa ngos-ngosan saat menanjak dan adakalanya aku berhenti dan tertinggal langkah dari 3 teman bersamaku. Namun rasa lelah melewati anak tangga terbayar ketika berada di Puncak Calton Hill, karena pemandangan Edinburgh luar biasa sore itu.

Calton Hill

Dari Puncak  Calton Hill, senja terlihat jelas dan Kota Edinburgh sore itu begitu elegan. Aku merasakan ketengangan dengan memandangi sunset dari Calton Hill dengan pemanndagan kota serta jam tua Edinburgh. Padahal baru saja beberapa saat lalu sebelum ke Calton Hill, kami sempat ke Edinburgh Castle. Sebuah istana yang besar terbuat dari bebatuan berada di ketingggian sehingga terlihat jelas dari beberapa penjuru Edinburgh bahkan memiliki meriam yang kata teman asli Edinburgh, meriam itu sering dinyalakan. Namun sayang, kami tidak sempat masuk ke dalam Edinburgh Castle karena kami sampai sudahlah agak sore, sekitar jam 4 sore sehingga kami memilih memandangi dari luar saja. Barulah dari Edinburgh Castle kami mencari cafe untuk nongkrong disekitar Grass market. Nongkrong ala bule dengan diriku yang rakyat jelata. Lucunya pas ketiga temanku nongkrong minumnya minum bir, aku sendiri yang minum cola, karena tidak jus di tempat nonkrongan kami. Yaiyalah secara di Inggris, dan disini aku merasa aneh sendiri. Teman-temanku ketawa sih atas pemilihan cola itu namun mereka tetap menghargai diriku yang seorang Muslim dan tidak minum alkohol. Bersama mereka, aku cerita tentang perjalanan serta merasakan seperti orang lokal. Begini rasanya nongkrong di negeri orang dengan orang baru, merupakan tempat nongkrong terjauh yang pernah aku jalani  😀

Edinburgh Castle

Setelah dari Grass market, aku diajak mengelilingi Kota Edinburgh dan kebetulan pas di EdinburGh ada shooting film Avenger, sayang gak ketemu abang Chris Evan hiks.

Nah pas jalan menuju Calton Hill, aku melihat pria Skotandia memakai pakaian tradisional Scotlandia yang menyerupai rok disebut sebagai Tartan. Biasanya pria Scotlandia memakai pakaian yang mirip rok saat upacara atau acara tertentu, namun pria yang aku jumpai itu adalah seniman jalanan. Dengan pakaian khas Scotlandia serta alat musik khas Scotlandia bernama Bagpipe, alat musik dengan cara ditiup tapi bukan seruling karena Bagpipe hanya memiliki satu tabung saja.

"Hey, may i ask stupid question?, tanyaku"
"Do they wear underwear when wear skirt?,

Lalu mereka tertawa terpingkal mendengar pertanyaan bodohku. Sambil menjawab “off course”.

Seniman jalanan dengan roknya serta alat musiknya dan suara musik yang dimainkannya membuatku suka dengan Edinburgh.  Memang budaya baru sungguh menarik untuk dipelajari dan aku sangat bersyukur karena Tuhan memberiku kesempatan untuk melihat dunia yang luas ini serta bertemu orang dengan latar belakang berbeda. Melihat sisi dunia 🙂

Museum Edinburgh
"Winny, take this bottle and pretend you drank it"

Entah Ide apa yang menyuruhku memegang bekas botol minuman mereka. Ide itu cukup lucu karena dengan botol dengan design tengkorak malah berphoto denganku di Calton Hill sambil menikmati senja. Senja pertama di Edinburgh.

Hari pertama di Edinburgh sudah membuatku jatuh cinta dengan Kota ini! Sampai-sampai tersirat mimpi lain, mimpi untuk bisa melanjutkan kuliah di Kota Edinburgh. Apalagi melihat Universitas, banyak makanan halal serta mudahnya mendapatkan masjid di Edinburgh membuatku senang di Kota ini. Bahkan jalan kaki sendirian menyasarkan diri di Edinburgh saja aku senang. Apalagi harga makanan di Edinburgh sedikit rasional dibandingkan London serta bangunan tua Edinburgh lebih menarik dari London. Entahlah yang pasti aku yang dulunya maniak dan fans berat London menjadi fans berat Kota Edinburgh.

Edinburgh

Untuk mensiasati cara bertahan hidup di Edinburgh dengan uang terbatas adalah dengan belanja di supermarket. Aku membeli roti dan buah di supermarket Lidl tepatnya di Nicolson Street seharga £5,16. Makanan ini cukup untuk makanku seharian kemudian karena menggunakan RB N B aku bisa memasakan nasi di rumah hostku. Jadi pas makan nasi aku begitu bahagia, maklum makan roti setiap hari bukanlah aku banget.

Namun masih harga di Edinburgh tetap masuk akal bila dibandingkan dengan London. Tidak hanya itu, Kota Edinburgh memiliki tempat wisata yang lumayan banyak. Aku saja 4 hari di Edinburgh belum khatam untuk wisatanya saking banyaknya. Padahal Old Town Edinburgh saja lumayan banyak dilihat misalnya Galeri Scotlandia, Museum of Scotlandia, Holyrood Rd, Scottish Parliament hingga ke Palace of Holyroodhouse.

Khusus ke Holyrood aku melihat bukit indah ala Scotlandia dan ingin rasanya naik ke bukit itu karena dibalik pemandangan itu ada  St Margaret’s Loch, Dunsapie Loch, dan Duddingston Loch. Sepertinya aku harus balik ke Scotlandia kali aja ketemu Naga di Scotlandia 😀

Biaya Pengeluaran Trip Edinburgh, 3 April 2017

08:00-09:00 Belanja makanan supermarket Lidl tepatnya di Nicolson Street £5,16

09:00-10:00 Keliling Andrew Square

10:00-12:00 Istirahat kembali ke penginapan

12:00-18:00 Keliling ke Holyrood Rd, Scottish Parliament, Palace of Holyroodhouse

18:00-22:00  Kembali ke penginapan dan istirahat

Tempat wisata yang didatangi pada hari-11 di Eropa

Andrew Square, Holyrood Rd, Scottish Parliament, dan Palace of Holyroodhouse

Total biaya pengeluaran pada hari-11 di Eropa = £5,16

Baca juga Pengalaman Trip di Eropa 1 bulan 

Salam
Winny